<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>IPS-02 KEARIFAN LOKAL KI HADJAR DEWANTARA by Sinyamin Sinyamin</title>
      <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-11-25 12:27:15 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-01-08 00:49:32 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>baris atas ini untuk identitas</title>
         <author>sinyamin091</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2397951973</link>
         <description><![CDATA[<div>1. klik (+) di kanan bawah<br>2. Tulis nama, NIM, Asal Sekolah di kolom&nbsp; atas jawaban Anda<br>3. Tulis jawaban di kolom ke-2 (bawah), untuk semua jawaban.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-25 12:51:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2397951973</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Naskah Soal</title>
         <author>sinyamin091</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2397952914</link>
         <description><![CDATA[<div>Petunjuk :<br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baca dan Jawablah pertanyaan dalam lembar ini dengan cermat</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Tuliskan Jawaban dan Opini Anda dalam draf (boleh MS-Word, atau sejenisnya), kemudian copykan dalam “Padlet” dengan link yang dikirim oleh Instruktur.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baris pertama Padlet : identitas Mahasiswa</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baris kedua Padlet : Jawaban Mahasiswa terhadap tugas</div><div>5.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Rapikan naskah anda sebelum di update (share)<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>Naskah Soal :<br><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>--- Selamat Mengerjakan, Semoga Allah Ridlo ---</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-25 12:52:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2397952914</guid>
      </item>
      <item>
         <title>YOYOK SUBROTO - 223174915508 - SMP NEGERI 5 MALANG </title>
         <author>zaprinakap</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2401411683</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Nilai luhur budaya yang ada di daerah saya wilayah madiun adalah kesopanan dan kedisiplinan dalam berbudaya dalam kontek pencak silat. Mayoritas penduduk madiun mengikuti organisasi pencak silat dengan kekuatan budaya disiplin yang tinggi karena dalam ajaran pencak silat diajarkan kedisiplinan yang tinggi. Banyak siswa / pelajar Madiun yang menerapkan pola disiplin sekolah&nbsp; dengan datang tepat waktu mengikuti kegaiatan sekolah yang rutin hal tersebut sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntut anak anak untuk berbuat baik serta taat. Guru juga sebagai pendidik yang mencontoh kan siswa nya untuk datang tepat waktu</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Penjelasan tersebut diatas sangat sesuai dengan Dasar-dasar Pemikiran KHD menggunakan sistem among dan menjunjung tinggi nilai gotong-royong berbuat baik kepada sesame manusia. kodrat zaman anak pada masa usia pendidikan menengah pertama sering sekali anak tidak mengikuti auran, akan tetapi dengan pengelolaan sistem yang baik serta penerapan kedisiplinan maka akan menjadikan anak tertib dan taat<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 06:07:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2401411683</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FEBTY ANDINI DWI ROSITA - 223174915506 - SMP BSS MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403352798</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <br></strong>Sosio cultural merupakan proses penanaman cara hidup untuk menghormati dan mentoleransi terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah saya Kabupaten Trenggalek dan relevan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu Tradisi Nyadran Dam Bagong. Tradisi Nyadran Dam Bagong merupakan sebuah tradisi kearifan lokal Kabupaten Trenggalek yang dilaksanakan untuk membersihkan area sumber air di sekitar Dam Bagong. Tradisi ini dilakukan setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini digelar sebagai wujud syukur atas hasil panen yang diterima oleh para petani. Selain itu tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa Adipati Menak Sopal yang telah membangun sarana pengairan Dam Bagong untuk meningkatkan hasil pertanian di Kabupaten Trenggalek.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong> <strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat<br></strong>Tradisi Nyadran Dam Bagong dapat dikaitkan dengan konsep kekuatan kodrat Ki Hadjar Dewantara yaitu kodrat alam. Kodrat alam ini berkaitan dengan sifat dan lingkungan tempat tinggal peserta didik. Tradisi Nyadran Dam Bagong memiliki banyak nilai dan pesan yang dapat diajarkan kepada peserta didik. Pesan moral yang terkandung dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong yaitu peserta didik dicontohkan untuk memiliki kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan gotong royong. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama yang dilakukan masyarakat dalam menjaga kebersihan air di Dam Bagong supaya air tetap melimpah dan mampu mengairi sawah di sekitarnya. Selain itu, melalui tradisi ini peserta didik juga diajarkan memiliki jiwa sosial yang tinggi sehingga mampu berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Serangkaian acara dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong ini meliputi tadarusan, memandikan kerbau, pertunjukan wayang kulit, penyembelihan kerbau, tahlilan, ruwatan, pertunjukan jaranan, pembukaan acara nyadran, pelemparan kepala kerbau ke dalam dam, dan makan bersama. Dari serangkaian acara di atas, peserta didik diajarkan untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat sekitar agar memudahkan penyelenggaraan tradisi dan dapat berjalan dengan baik. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini juga dapat dikonstektualkan dengan nilai-nilai luhur kearifan lokal daerah untuk menjadi penguat karakter peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang berbudi pekerti luhur. Harapannya dengan menjadi makhluk yang berbudi pekerti luhur maka peserta didik dapat tumbuh dan berkembang secara seimbang dalam menghadapi kodrat alam maupun kodrat zaman.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 10:51:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403352798</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CINDY SEPTIANA CHOIRUNNISA- 223174915517-SMPN 09 MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403414138</link>
         <description><![CDATA[<div><br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Nilai luhur budaya yang ada di daerah saya di wilayah Malang adalah gotong royong dalam berbagai macam kegiatan. Salah satunya adalah tradisi Gugur Gunung. Gugur gunung merupakan kegiatan gotong royong membersihkan pemakaman umum dan tempat ibadah. Warga yang dipimpin oleh ketua RT masing-masing akan bahu membahu membersihkan area pinggiran makam, jalanan menuju makam, dan tentunya makam-makan leluhurnya dan tempat ibadah di daerah masing-masing. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap menjelang masuknya bulan Ramadhan. Pada intinya, kegiatan ini lebih mengarah ke kegiatan membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal.<br><br></div><div><br>&nbsp;<br><br></div><div><br>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Tradisi Gugur Gunung selaras dengan dasar-dasar pemikiran KHD yaitu pelestarian budaya asli Indonesia yaitu gototng royong yang dapat dilihat dari kegiatan gugur gunung yang dilaksanakan oleh sekumpulan anggota masyarakat dan saling bahu membahu dalam membersihkan lingkungan tempat tinggal. Dalam budaya gotong royong, terdapat pada konsep kekuatan kodrat alam yang di cetuskan oleh KHD. Selain nilai gotong royong, dalam budaya gugur gunung ini, peserta didik juga dapat belajar mengenai pentingnya menjaga kebersihan dimana hal ini juga selaras dengan konsep pemikiran KHD mengenai kodrat alam dimana peserta didik tinggal. Tradisi gugur gunung yang dilaksanakan di kelurahan penarukan juga mengajarkan mengenai makna persatuan karena kegiatan yang sudah membudaya ini pastinya di laksanakan beramai-ramai bersama warga setempat.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 11:51:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403414138</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Riko Febrianto - 223174915543-SMPN 09 MALANG</title>
         <author>cuji8888</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403610289</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Sosio-cultural yang ada di daerah saya yakni adanya upacara adat dalam rangka bersih Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare. Di desa tersebut terdapat upacara adat yang menarik dan diadakan setiap tahun yang tepatnya pada hari jum’at pahing bulan suro (pada kalender Jawa). Upacara adat tersebut dikenal dengan upacara adat Leang-Leong. Leang-Leong sendiri dulunya merupakan sepasang penganting kembar yang bernama Sukoco dan Sukaci, yang dinikahkah oleh pendiri Desa Arjowilangun pada masa lampau yakni Eyang Demang Mertawijaya karena mendapat amanah dari Eyang Jugo, agar Desa Arjowilangun tetap gemah rimpah lohjinawi. Nilai sosio-cultural atau nilai-nilai luhur budaya yang terdapat pada acara tersebut yakni keterlibatan seluruh warga masyarakat dalam rangkaian acara tesebut, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang terlibat dalam rangkaian kegiatan. Adapun rangkaian kegiatannya yakni acara nampak tilas desa yang terdiri dari 7 pepunden yang ada di desa, kemudian kirap kemanten yang diarak keliling desa yang diselingi dengan hiburan rakyat seperti jaran degling, jaran jodet, besudan, truntung, dan beberapa tari-tarian umum lainnya, kirab pusaka, hingga pembacaan sejarah desa untuk mengenang bagaimana desa tersebut terbentuk. Maka dapat disimpulkan dari nilai-nilai luhur dari upacara adat di desa ini tetap dipertahankan dalam konteks regenerasi setiap tahunnya. Menjadikan warisan turun temurun yang dilakukan untuk melestarikan kearifan lokal yang ada di desa tersebut.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Sesuai dengan dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang berhubungan dengan kekuatan kodrat peserta didik sebagai manusia dan anggota masyarakat, dalam kegiatan tersebut terdapat unsur menuntun. Menuntun yang dimaksud adalah untuk tidak melupakan kearifan lokal dan sejarah berdirinya desa tersebut. Tujuannya tidak lain yakni agar kearifan lokal tetap dilestarikan di era gempuran modernisasi yang menuntut anak-anak atau siswa dalam melalui kodrat zamannya. Sehingga kearifan lokal ini dapat terus dilestarikan dari generasi ke generasi.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 14:16:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403610289</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Izzah Sofiyah-223174915537-SMPN 09 KOTA MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403648190</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Pilihlah salah satu kekuatan konteks sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Sosio-cultural yang ada di kecamatan Turen, Malang dan sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu tradisi “Slametan” atau juga disebut dengan “Kenduri”. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi dari agama islam dengan agama nenek moyang dahulu. Sesuai dengan nama tradisinya, “Slametan” memiliki makna meminta keselamatan dan perlindungan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Harapannya Tuhan memberikan keselamatan pada waktu yang dianggap penting atau sakral. Waktu penting tersebut dapat berupa awal menempati rumah baru, peringatan kematian seseorang sesuai penanggalan jawa, pernikahan, kehamilan atau momen-momen yang dianggap penting dan membutuhkan keselamatan. Tradisi ini dipimpin oleh pemuka agama yang ada disekitar lingkungan rumah. Diawali dengan pembacaan doa, lalu beberapa ritual sesuai dengan hajatnya dan diakhiri dengan makan bersama. Contohnya ketika tradisi slametan dilakukan untuk kehamilan ibu di usia kandungan 3 bulan, maka setelah pembacaan doa para jamaah slametan meniupkan doa ke perut ibu hamil tersebut.&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pada tradisi ini banyak memuat nilai-nilai luhur budaya seperti, mempererat persaudaraan dan kerukunan antar tetangga, saling tolong menolong, menciptakan empati yang tinggi dan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. <br>2. <strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong>Tradisi “Slametan” dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara memiliki keterkaitan yaitu pada kekuatan kodrat alam peserta didik. Kodrat alam merupakan kondisi peserta didik sejak lahir yang dipengaruhi oleh lingkungannnya, sehingga kodrat alam dapat membentuk karakter peserta didik. Pada tradisi “Slametan”, peserta didik ditanamkan sikap saling rukun antar sesama manusia. Di dalam tradisi ini memiliki makna manusia merupakan makhluk sosial, yang tentunya saling membutuhkan. Sehingga jika ada satu tetangga yang memiliki hajat penting, maka tetangga lain harus memiliki empati untuk membantu bagaimana hajat tersebut bisa berjalan dengan lancar. Selain itu, sikap gotong royong dan saling menolong juga muncul dalam tradisi ini. Di akhir “Slametan” terdapat acara makan bersama dengan semua orang yang mengikuti tradisi tersebut, sehingga membutuhkan makanan dan tenaga untuk menyiapkannya. Disini sikap tolong menolong yang sangat tampak, karena ibu-ibu yang notabennya tetangga saling bahu-membahu menyiapkan makanan. Dan jika tidak dapat hadir untuk membantu, terkadang menyumbang bahan makanan pokok. Terlihat dari nilai-nilai yang termuat dari tradisi ini, “Slametan” dapat digunakan sebagai media pembentukan kodrat alam peserta didik yang nantinya menciptakan karakter baik.</div><div>&nbsp;<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 14:38:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403648190</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muspita Devi-223174915507-SMPN 09 MALANG</title>
         <author>muspita65</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403685285</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Nilai luhur budaya yang ada di daerah saya Kabupaten Blitar yang sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah tradisi upacara siraman gong kyai pradah. Dalam tradisi siraman gong kyai pradah terdapat berbagai kegiatan budaya diantaranya, memandikan benda pusaka berupa gong, ziarah makam leluhur, stand/galeri hasil produk masyarakat lokal, serta pertunjukan seni dan budaya. Upacara siraman yang berupa gong ini masih tetap dilaksanakan secara turun temurun pada tanggal 1 Syawal bertepatan dengan hari raya Idul Fitri dan tanggal 12 Robiul Awal bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan mencari keberkahan.<br>2. Konteks pemikiran Ki Hajar Dewantara yang relevan dengan budaya siraman gong kyai pradah adalah Pendidikan karakter peserta didik. Pendidikan karakter disini bertujuan untuk membentuk individu dengan moral yang sempurna untuk kehidupan mereka sendiri. Tradisi siraman gong kyai pradah memiliki nilai-nilai luhur yang bisa ditanamkan pada Pendidikan karakter peserta didik diantaranya; religius, dapat ditemukan dalam kegiatan ziarah atau mendoakan makam leluhur jika diterapkan di kelas ketika pembelajaran yaitu memberi salam serta selalu berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran. Gotong royong, dalam prosesi siraman masyarakat bekerja sama agar kegiatan berjalan dengan lancar. Penerapan dalam kelas yaitu melaksanakan piket kelas secara bersama. Toleransi, dalam kegiatan tersebut semua warga mengikuti siraman tanpa membedakan kedudukan dalam masyarakat. Mereka saling menghargai meskipun terdapat perbedaan. Dalam penerapan di kelas yaitu sikap menerima dan menghargai ketika hasil karya siswa beragam. Kreatif, dimana dalam kegiatan siraman disajikan sebuah pameran hasil produk dan adanya pertunjukan kesenian masyarakat setempat. dalam penerapan pembelajaran siswa dapat menghasilkan sebuah produk kreatif sesuai dengan materi yang diajarkan. Tradisi siraman gong kyai pradah merupakan kekayaan yang dimiliki masyarakat sehingga perlu dilestarikan agar tetap bertahan sesuai perkembangan zaman.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 14:59:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2403685285</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dita Famela Aisyiyah- 223174915520- SMP Brawijaya Smart School</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404455254</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</div><div>Nilai luhur budaya yang ada didaerah saya adalah tradisi Suroan Gunung Kawi tradisi tersebut dilakukan dengan tujuan menyampaikan rasa syukur warga setempat kepada tuhan. Tradisi ritual satu Suro yang masih sering dilakukan masyarakat Gunung Kawi, Kabupaten Malang biasa&nbsp; dilakukan pada malam 1 Muharam atau dalam kalender Jawa dikenal sebagai bulan Suro. ritual satu Suro di Gunung Kawi ini dilakukan dengan cara melakukan kirab budaya yang atraktif. Kirab tersebut diikuti warga setempat yang berjumlah sekitar 15 rombongan, di mana tiap kelompok berisi warga satu RW.</div><div>Yang menarik dari pelaksanaan kirab satu Suroan ini adalah keberadaan akulturasi budaya. Kirab itu menyajikan aneka tarian tradisional, pakaian adat, barongsai, hadrah, dan tontonan menarik lainnya. Seperti yang diketahui, barongsai adalah salah satu produk budaya masyarakat Tionghoa, sedangkan hadrah identik dengan hal-hal berbau Islami.</div><div>Selain itu, penamaan ritual ini sendiri pun kurang lebih diambil dari perhitungan kalender Jawa. Jadi, setidaknya kita dapat melihat adanya tiga budaya yang berakulturasi menjadi satu dalam ritual satu Suroan ini.</div><div>Puncak ritual ini ditutup dengan iring-iringan pembawa replika patung buto atau yang lebih dikenal dengan sebutan ogoh-ogoh. Replika patung buto dengan ukuran cukup besar itu nantinya akan dibakar dengan disaksikan oleh banyak orang. Pembakaran replika patung buto ini dilakukan sebagai simbol pembakaran nafsu angkara murka yang dimiliki manusia.</div><div>&nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</div><div>&nbsp;</div><div>Tradisi “Suroan Gunung Kawi ” dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara memiliki keterkaitan yaitu pada kekuatan kodrat alam peserta didik. Kodrat alam merupakan kondisi peserta didik sejak lahir yang dipengaruhi oleh lingkungannnya, sehingga kodrat alam dapat membentuk karakter peserta didik. Pada tradisi “Suroan Gunung kawi”, peserta didik ditanamkan sikap saling rukun antar sesama manusia. Saling membentuk sikap sosial yang baik mampu berbaur dengan budaya lain agar tercipta kerukunan. Selain itu, sikap gotong royong dan saling menolong juga muncul dalam tradisi ini. Sikap saling bekerjasama akan dapat terbentuk pada tradisi ini jadi dapat menumbuhkan karakter terhadap peserta didik.</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 01:48:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404455254</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DWI NOVITA ANGGRAINI-223174915545</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404530005</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;</div><div>-Sosiokultural didefinisikan sebagai gagasan-gagasan, kebiasaan, keterampilan, seni, dan alat yang memberi ciri pada sekelompok orang tertentu pada waktu tertentu. Sosiokultural sebuah system dari pola-pola terpadu yang mengatur perilaku manusia. Indonesia memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Salah potensi kultural yang ada di daerah mojokerto yakni <em>ruwat </em>desa. <em>Ruwat </em>&nbsp;desa dilaksanakan setahun sekali menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.&nbsp;<br><br></div><div>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br><br></div><div>-KHD menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman<strong>.</strong> Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Salah potensi kultural yang ada di daerah mojokerto yakni <em>ruwat </em>desa. <em>Ruwat </em>&nbsp;desa dilaksanakan setahun sekali menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur pada Tuhan yang Maha Esa. Dari tradisi ini dapat diimplementasikan pada pemikiran KHD di sekolah yakni sebelum dan sesudah&nbsp; proses pembelajaran peserta didik berdoa terlebih dahulu untuk menunjukkan&nbsp; rasa syukur kepada Tuhan&nbsp; Yang Maha Esa. Segala sesuatu yang ada dan dapatkan harus dijaga dan dilestestarikan.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 02:59:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404530005</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Palupi Hapsari 223174915552-SMP Brawijaya Smart School</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404834304</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kekuatan Kontek Sosio-Cultural (Nilai-Nilai Luhur Budaya) di Daerah Kota Reog Ponorogo dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.<br></strong><br></div><div><strong>&nbsp;<br></strong><br></div><div><strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara<br></strong><br></div><div>Suatu hal yang luar biasa untuk bangsa Indonesia khususnya Ponorogo kota di ujung selatan bagian timur Jawa ini mempunyai kesenian yang mendunia. Kesenian reog yang mendunia karena dikagumi oleh banyak kalangan. Kekaguman atas nilai estetika seni yang tinggi sehingga banyak daerah di sekitarnya juga tertaik dengan kesenian ini. Suatu yang membanggakan tentunya kota saya yang kecil mungil tersembunyi ini mempunyai warisan budaya Reog yang mendunia. Ditengah banyak kota lain yang sibuk dan bingung mencari icon untuk kotanya kita terlebih dahulu diberi oleh leluhur kita sebuah kebudayaan yang begitu membanggakan. Leluhur yang hidup jauh lebih dahulu dari kita. Para leluhur wong Ponorogo mempunyai kreatifitas yang bisa dinikmati, tetap abadi sampai saat ini. Dengan kreatifitas dan daya fikir yang luar biasa, baik dari kemampuan, gerakan yang mempesona cerita ada didalamnya, harmonisasi nada yang khas dan juga bentuk yang luar biasa indah. Di daerah Ponorogo ini selalu mengedepankan sikap gotong royong guyub rukun antar masyarakatnya. Sikap tersebut sudah ditanamkan sejak nenek moyang sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Ponorogo sendiri. Nilai-nilai luhur selalu diprioritaskan di Kota Reog ini, Kota yang kental dengan kesenian dan nilai-nilai luhur yang tetap dijunjung tinggi oleh masyarakatnya hingga saat ini. Seperti semboyang Kota Ponorogo <strong><em>“ Manunggale Cipto Roso Karso Agawe Rahayuningi Bumi Reog ”</em></strong>, yang bermakna bahwa masyarakat Ponorogo Menyatunyakan semangat penciptaan, rasa, dan keinginan untuk mewujudkan Bumi Reog ini lestari.<br><br></div><div><strong>Kesesuaian Tersebut Berdasarkan Dasar-Dasar Pemikiran KHD, Yang Dapat Dipergunakan Untuk Diskripsikan Menebalkan Konteks Diri Siswa (Kekuatan Kodrat) Sebagai Manusia Dan Anggota Masyarakat.<br></strong><br></div><div>Kekuatan Kontek Sosio-Cultural (Nilai-Nilai Luhur Budaya) di Daerah Kota Reog Ponorogo dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah pada penananam Budaya Asli Ponorogo dalam dunia pendidikan, upaya pemerintah dalam melestarikan budaya reog dan bagaimana budaya reog itu diajarkan disekolah. Berbagai cara dilakukan agar kelestarian Reog tetap terjaga. Seperti yang dilakukan di rumah maupun di sekolah. Sekolah merupakan salah satu tempat atau media yang baik dalam menerapkan strategi-strategi untuk menumbuhkan kecintaan kesenian Reog itu. Melalui pendidikan di sekolah membantu menumbuhkan, mendewasakan dan mengembangkan berbagai macam potensi yang dalam diri manusia seperti kemampuan akademis, talenta kemampuan fisik, relasional, atau daya seni. Mayoritas sekolah di Ponorogo mamiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan kesenian Reog. Seperti adanya ekstrakulikuler Reog, pegelaran reog setiap satu bulan sekali di sekolahan, memakai baju panoragan (khas Ponorogo) pada hari-hari besar, festival reog mini yang diperuntukkan bagi pelajar. Hal-hal tersebut sangat relevan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara dimana, pendidikan nasional saat ini tedak terlepas dari adanya perubahan global dengan masuk nya kebudayaan luar dengan cepat, walaupun terdapat pengaruh global yang cepat, pendidikan nasional tidak akan kehilangan jati dirinya untuk dapat menumbuhkan nilai-nilai kebudayaan pada generasi muda saat ini. Sikap cinta budaya Indonesia, sikap gotong royong, dan ramah merupakan cerminan pendidikan nasional yang sebenarnya. Kesungguhan sekolah dalam menumbuhkan kecintaan terhadap kesenian Reog mewujudkan pendidikan nasional yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada. Penanaman nilai-nilai kebudayaan pada era global saat ini sangat penting diwujudkan, sehingga generasi muda akan lebih peka terhadap nilai-nilai luhur yang dijadikan sebagai fondasi utama pembentukan karakter sebagai bangsa Indonesia.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 08:55:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404834304</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Winda Fajriana- 223174915513- SMP Negeri 1 Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404862262</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong><br>•Salah satu kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah saya (Magetan) adalah ada suatu kegiatan tahunan yaitu bernama kegiatan larung/ labuh sesaji. Larung /labuh sesaji ini biasanya di adakan setiap satu tahun sekali. Larung Sesaji merupakan salah satu contoh ritual yang ada di desa Sarangan kota Magetan yang dilakukan setahun sekali pada bulan Ruwah Jum’at Pon. Dalam ritual ini tumpeng Gono Bahu setinggi 2,5 meter diarak kemudian dilarungkan ke telaga Sarangan. Hal ini menjadi salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kepada tuhan. Kebudayaan Larung Sesaji mempunyai makna dan nilai- nilai kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat yang melakukannya. Nilai- nilai kearifan lokal dalam upacara Larung Sesaji adalah diantaranya ada nilai religi, nilai kekerabatan (kekeluargaan), nilai syukur, nilai rendah hati, nilai keindahan, dan nilai simbolik.<br><strong>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong><br>•Implementasi dari beberapa nilai kearifan lokal atau nilai luhur tersebut yang bisa dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat yang bisa diambil sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantoro adalah nilai kekerabatan (kekeluargaan). Yaitu nilai kekerabatan/ kekeluargaan atau kebersamaan ini bisa mengahsilkan sikap kerja sama yang tertanamkan dalam diri siswa yang mana hal tersebut nantinya bisa diterapkan dalam proses belajar siswa ketika siswa diharuskan berkolaborasi dan bekerja sama dengan teman-temannya. Dengan memiliki dan tertanamnya nilai kekerabatan ini, nantinya siswa telah memilki sifat dasar yang baik saat bekerja sama dengan temannya, baik itu dalam kerja sama kelompok saat belajar, kerja sama dalam membangun suasana kelas yang nyaman atau yang lainnya. Sehingga dari sini terciptalah suasan kelas yang rukun dari diri siswa sehingga karakter sosial kerja sama dan kerukunan pada siswa bisa tertanamkan.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 09:25:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404862262</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad chusaini alfin 223174915509 SMP Brawijaya Smart School</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404863600</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Tema yang akan saya ambil mengenai Sosio-culture dari daerah saya tepatnya di Dsn. Kedondong Ds. Ampel Kec. Balongpanggang Kab. Gresik adalah <em>“Sedekah Bumi”</em> Upacara Sedekah Bumi merupakan salah satu upacara adat berupa prosesi seserahan hasil bumi dari masyarakat kepada alam yang dilakukan di bulan apit pada penanggalan Jawa. Upacara ini biasanya ditandai dengan pesta rakyat dan kenduren yang diadakan di balai desa atau di lahan pertanian maupun tempat-tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat desa. Upacara ini sudah berlangsung turun termurun dari nenek moyang kita, dan berkembang di Pulau Jawa, terutama di wilayah yang kuat akan budaya agraris seperti yang ada pada masyarakat Demak.<br><br></div><div>Melalui tradisi ini warga berharap agar diberi banyak limpahan rezeki dan dijauhkan dari bahaya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Sedekah bumi atau apitan juga dilakukan untuk mempererat persaudaraan antar warga. Selain itu sedekah bumi juga bertujuan meneruskan atau melestarikan budaya Jawa. Di desa desa yang ada di Kabupaten Demak, setiap tahunnya biasa mengadakan kegiatan tradisional tersebut dengan hiburan wayang kulit siang dan malam.<br><br></div><div>Sedekah bumi jika dirumuskan mengandung unsur kenikmatan atas rasa syukur yang diberikan dari alam atau hasil bumi. Selain itu sedekah bumi juga memberikan toleransi antar warga desa dengan kebersamaan dan bergotong royong dengan mempersembahkan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan sosio-culture<br><br></div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat<br></strong><br></div><div>Pada tradisi Sedekah bumi bisa direlevansi pada gagasan KHD yaitu Pendidikan kebudyaan yang dimana tradisi tersebut memberikan penjabaran kesosialan bermasyarakat, yang didalamnya banyak sekali indicator yang bisa diambil hikmahnya. Seperti kolaborasi dalam mengsukseskan sebuah acara, pengembangan Pendidikan harus selaras dengan nilai budaya untuk memperkuat dinamika Pendidikan sebagai penguat bangsa. Ki Hajar Dewantara berpendapat jika misi Pendidikan nilai budaya masyarakat timur lebih cocok digunakan. Maka taman siswa dibuat dengan pendekatan momong, among, dan ngemong. Dengan kita menanamkan nilai dari sedekah bumi, yaitu rasa syukur kepada tuhan dan bergotong royong maka diharapkan peserta didik juga bisa menanamkan di dalam dirinya mengenai kebersamaan, saling membantu, dan rasa syukur untuk membentuk kepribadian peserta didik menjadi lebih baik</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 09:26:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404863600</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pangestu Gusti Putri  (NIM 223174915542)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404919080</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Filosofi Pendidikan<br></strong>Kesesuaian nilai Sosio-Kultural bangsa Indonesia dengan “Pemikiran Ki Hadjar Dewantara”<br>&nbsp;<br>&nbsp;</div><div><strong>Sosio-cultural (Nilai-Nilai Luhur Budaya) di daerah Pasuruan</strong><br>&nbsp;<br>&nbsp;</div><div>Bertempat pada daerah tempat tinggal saya di kabupaten Pasuruan. Pasuruan merupakan salah satu wilayah yang dikenal sebagai kota santri, dengan karakter masyarakatnya yang kental akan nuansa islaminya seperti kegiatan para pelajar yang banyak memiliki ketertarikan pada pendidikan di pondok pesantren, selain itu aktivitas tradisi hadrah yang banyak berkembang diberbagai wilayah Pasuruan sehingga setiap minggunya di masing-masing wilayah selalu ada kegiatan rutin hadrah putra maupun putri. Kesenian Hadrah merupakan bentuk kesenian yang bertujuan untuk menambah rasa kecintaan umat muslim kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada Nabi Muhammad SAW. Bentuk kecintaan terhadap Tuhan merupakan bentuk nilai-nilai religus yang berkembang dimasyarakat sesuai dengan ajaran agama islam.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Selain nilai religius yang kental tumbuh dalam aktivitas sehari-hari oleh warga Pasuruan, di wilayah pasuruan juga memiliki penduduk mayoritas dari masyarakat Jawa dan Madura. Sehingga nilai-nilai sosial budaya yang muncul juga beragam, namun juga memiliki nilai budaya yang tidak jauh berbeda, seperti budaya santun yang amat dijunjung baik masyarakat Jawa maupun masyarakat Madura. Yang saya pahami, di daerah Pasuruan dapat menilai karakter baik-buruknya individu melalui sikap santunnya terhadap orang lain. Apabila individu tersebut dapat bersikap santun, maka ia akan dihargai oleh masyarakat. Sikap santun menjadi salah satu tolak ukur masyarakat untuk damai dalam bersosial.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Kesesuaian pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk menebalkan konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Nilai-nilai yang tumbuh di daerah saya ini selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan. dimana sebagai seorang guru, bukan hanya mengajar , melainkan kita juga harus mendidik siswa sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Salah satu nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia ialah tercermin pada Pancasila. Kegiatan warga Pasuruan yang saya sebutkan merupakan bentuk dari implementasi nilai pada sila pertama dan sila kedua yakni nilai religious dan nilai-nilai kemanusiaan yang bermasyarakat.</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara memiliki tujuan agar pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dapat menuntun anak untuk tumbuh mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang seutuhnya. Dimana dasar pemikiran tersebut dilandasi oleh lima asas atau yang disebut sebagai Panca Dharma yakni, (1) Asas Kodrat Alam , (2) Asas Kemerdekaan, (3) Asas Kebudayaan, (4) Asas Kebangsaan dan (5) Asas kemanusiaan. Korelasi antara budaya warga Pasuruan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang dapat menebalkan konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat yakni terletak pada Asas Kodrat alam dan Asas kemanusiaan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Siswa atau peserta didik, sebagai manusia yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat dipisahkan dengan alam, dimana setiap hal yang terjadi, siswa harus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan alam yang terus-menerus terjadi karena atas kuasa-Nya. Sehingga sebagai manusia, siswa haruslah memiliki pedoman nilai agama dalam dirinya, agar tetap dekat dan menjadi manusia yang penuh syukur. Selain itu, sebagai anggota masyarakat, siswa harus mampu menghargai sesamanya, memiliki rasa peduli terhadap sesame tanpa membeda-bedakan. Bersikap santun dan bijak dimanapun siswa itu berada, sebagai wujud bahwasannya peserta didik merupakan individu yang tetap memegang teguh nilai-nilai budayanya.</div><div>&nbsp;</div><div>Sebagai seorang guru, tugas dan tanggungjawab bukan hanya sekedar memberi materi, namun juga memberikan didikan kepada siswa agar mereka bisa memahami bagaimana kodrat mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat. Sehingga nantinya, guru dapat menciptakan generasi yang unggul dengan tetap memegang teguh nilai moral bangsa.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 10:20:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2404919080</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ASTIN NUR AFIANI_223174915551_SMP LAB. UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2405062631</link>
         <description><![CDATA[<div>1. <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cuktural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah anda, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong><br>Larungan Telaga Ngebel merupakan acara rutin yang digelar masyarakat Ponorogo sebagai ungkapan rasa syukur dan pertanda tanggal 1 suro atau 1 Muharram di Objek Wisata Telaga Ngebel Ponorogo. Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati area telaga untuk menyaksikan prosesi larungan ini, tidak hanya dari Ponorogo , banyak juga wisatawan dari luar daerah maupun luar negeri. Hal ini terlihat dengan padatnya kendaraan roda dua maupun roda empat, mulai pintu masuk hingga sampai di area dermaga telaga. Acara ini selain sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Ponorogo atas rejeki dan hasil panen selama satu tahun, juga merupakan salah satu cara melestarikan budaya dan tradisi yang dituangkan dalam bentuk simbol larungan.<br>Acara Larungan di awali dengan tarian pembuka, dilanjutkan membawa lima buceng, di antaranya buceng agung atau buceng utama yang terbuat dari beras merah, buceng sedekah bumi dan buceng purak yang berisi hasil bumi seperti sayur dan buah. Sebelum dilarung, buceng-buceng tersebut dikirab mengelilingi Telaga Ngebel menggunakan puluhan kendaraan jenis jip dan puluhan kapal motor yang berada di telaga Ngebel Selanjutnya, buceng agung dibawa menggunakan rakit dan dilarung secara langsung oleh Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni di tengah Telaga Ngebel. Sedangkan empat buceng lain yang berisi hasil bumi seperti buah dan sayur di-purak menjadi rebutan masyarakat.<br>2. <strong>Deskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan dasar-dasar pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat. </strong><br>Budaya larungan ini relevan dengan konteks pemikiran Ki Hajar Dewantara dimana budaya ini mengajarkan kepada siswa untuk selalu mengingat bahwa apa yang kita punya harus kita syukuri dengan cara berbagi atau bersedekah. Momen ini penting bagi penanaman karakter yang positif bagi siswa karena siswa diajarkan&nbsp; untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas segala keberkahan, rejeki, dan keselamatan.&nbsp; Dengan berbagi maka akan tertanam dalam diri siswa untuk saling mengasihi terhadap sesama. Selain itu budaya larungan ini juga mengajarkan siswa untuk mempunyai jiwa gotong royong saling menguatkan budaya antar sesama. Budaya larungan ini juga dimeriahkan oleh tarian-tarian yang salah satunya yaitu dengan tarian Reog Ponorogo, disini siswa juga belajar dalam pelestarian budaya reog yang ditunjukkan dengan ikut memerankan tarian reog seperti bujang ganong, Jathilan dll.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 12:43:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2405062631</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Achmad Zainollah-223174915523-SMPN 11 Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2405536955</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;</strong></div><div><br>Madura yang terkenal kental akan tradisinya memiliki banyak sekali tradisi-tradisi yang masih dilestarikan dan dijaga sampai pada saat ini,namun salah satu tradisi yang saya pilih ialah tradisi <em>rokat tase’</em>, yang mana <em>rokat tase’</em> merupakan upacara yang biasa dilakukan oleh warga pesesir pantai yang notabennya bekerja sebagai nelayan dengan tujuan untuk memohon perlindungan kepada sang maha pemilik alam yaitu Allah Swt dari berbagai bahaya yang biasa terjadi di lautan dan sebagai wujud syukur hasil laut yang diperoleh warga sekita. <em>Rokat tase’ </em>biasa dilakukan setiap tahun pada tanggal sebelas bulan suro. Tradisi <em>rokat tase’ </em>juga biasanya dilakukan selama tiga hari dengan berbagai macam tahapan yang salah satunya yaitu khatmil qur’an, istighasah, upacara rokat tase’ dan pengajian akbar sehingga dalam rokat tase’ juga memiliki nilai-nilai keislaman sehingga tidak menjadikan rokat tase’ sebagai suatu tradisi yang dilarang oleh agama.<br><br></div><div><strong><br>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br></strong><br></div><div><br>&nbsp;Hal ini sesuai dengan konteks daerah di Madura (Pamekasan) dimana salah satu prisnip Rokat Tase’ merupakan bentuk kearifan lokal dengan cara mengembangkan, memberdayakan, mengoptimalkan serta mengelola potensi lokal.<br><br></div><div><br>Rokat Tase’ ini merupakan gerakan pendidikan karakter guna menumbuhkan kesadaran hidup ekologis, dalam menjaga, merawat dan peduli lingkungan. Kegiatan Rokat Tase’ ini dapat dikatakan sebagai pendidikan karakter karena dalam pelaksanaannya melibatkan pikiran, perasaan, jiwa dan raga. Hal tersebut juga sesuai dengan pemikiran ki hajar dewantara, karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak yang dapat menimbulkan tenaga.<br><br></div><div><br>Pembelajaran Rokat tase’ banyak dilakukan di dalam kelas dengan media yang menarik dan melibatkan interaksi aktif antar peserta didik sehingga dalam pelaksanaannya tumbuh suasana belajar yang menyenangkan. Adanya kegiatan Rokat Tase’ ini mampu mendukung siswa dalam mengembangkan kemampuan dan kreatifitas dalam mengolah hasil laut. Selain itu para siswa juga dapat berekspresi serta melakukan penelitian sederhana dalam menghasilkan produk hasil laut yang bermanfaat dan mensyukuri atas pemberian dari Tuhan.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 17:55:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2405536955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AGUNG WIDIYANTO SANTOSO - 223174915522 -SMPN 5 Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406028222</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara. <br><br></strong>saya berasal dari madura yang memiliki beragam nilai-nilai luhur budaya yang sudah melekat dan sudah ada dari zaman dulu di tengah-tengah masyarakat khususnya di kabupaten pamekasan. Di pamekasan terdapat sebuah budaya yang masih ada sampai sekarang yaitu tanean lanjhang. tanean lanjhang ini adalah sebuah budaya yang dimana masyakarakat di desa itu membangun rumah secara berhadapan antara keluarga atau kerabat. hal itu memilki fungsi dan makna untuk menjaga persaudaraan dan juga untuk meningkatkan solidaritas antara sesama keluarga.&nbsp; hal tersebut sangat sesuai dengan pemikiran ki hadjar dewantara dimana kita harus saling menjaga satu sama lain dan harus bergotong royong dalam berbagai hal.<strong><br><br>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br><br></strong>Kesesuaikan pemikiran ki hadjar dewantara dengan nilai budaya ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada siswa agar mereka menjadi seorang anak bangsa yang harus bersatu, saling menghargai satu sama lain, saling bergotong royong dalam menghadapi sesuatu. Budaya tersebut selaras dengan kodrat alam dan kodrat zaman dari siswa untuk terus dilestarikan dengan cara harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka tau nilai luhur dari bangsanya sendiri yang mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-02 02:26:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406028222</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nunung Nurlaili_223174915514_SMP Lab UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406077242</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Filosofi Pendidikan Indonesia<br></strong><br></div><div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Pilihlah salah satu kontek kekuatan sosio-culutral (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah anda, yang sesuai dengan pemikiran KI Hajar Dewantara!</strong></div><div>Pada malam 1 Suro setiap tahunnya, masyarakat kecamatan&nbsp; Kesamben Kabupaten Blitar melakukan tradisi yang disebut dengan napak tilas. Napak tilas adalah tradisi budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Tradisi ini dilakukan di Kabupaten Blitar tepatnya di Desa Jugo Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar. Setiap amlam 1 Suro, masyarakat Kesamben melakukan napaktilas yang dimulai dari Pesanggarahan Eyang&nbsp; Jugo di desa&nbsp; Jugo kecamatan Kesamben hingga Pesarehan Eyang Jugo di Gunung Kawi. Jarak kurang lebih 40 kilometer akan ditempuh dengan berjalan kaki.Kegiatan ini diikuti tidak hanya oleh masyarakat kecamatan Kesamben saja, tetapi juga masyarakat di luar kecamatan Kesamben dengan berbagai kalangan usia.</div><div>Di sepanjang perjalanan, masyarakat yang rumahnya berada di rute napak tilas menyediakan berbagai makanan di depan rumah. Seperti gorengan, kacang rebus, teh ,dan lain sebagainya. Makanan yang disesiakan boleh di ambil dan di makan secara bebas oleh peserta napak tilas. Di perjalanan, masyarakat peserta napak tilas juga saling menolong jika ada yang membutuhkan bantuan. Seperti air minum atau bantuan medis.</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Deskripsikan&nbsp; kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-Dasar pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa ( kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong></div><div>Melalui tradisi napak tilas kita dapat mengambil relevansi dengan pemikiran KHD yaitu pendidikan harus memperhatikan kodrat alam dimana anak tinggal. Dalam tradisi napak tilas dengan menempuh jarak 40 kilometer, peserta didik dapat mengambil pelajaran bahwa dalam pendidikan dibutuhkan perjuangan dan pantang menyerah untuk&nbsp; mencapai kesuksesan. Dalam perjalanan mencapai kesuksesan tersebut, kita dapat saling bergotong royong memberi bantuan agar dapat mencapai tujuan bersama-sama. Tradisi napak tilas dapat menumbuhkan sikap saling peduli sebagai sesama masyarakat.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1903999905/b8020fe5365546e5767a19ec5a1b311b/padlet_2_Nunung_Nurlaili.pdf" />
         <pubDate>2022-12-02 03:12:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406077242</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LINA VINKA KHARIMAH – 223174915544 – SMPN 09 MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406117991</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong></div><div>Sosio-cultural yang ada di Kabupaten Pasuruan, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah tradisi “Kasada” atau biasa disebut “Upacara Kasada”. Tradisi ini diadakan pada hari ke-14, 15, 16 pada bulan 10 (kalender Jawa) atau disebut bulan Kasada. Upacara akan dimulai saat purnama muncul, dimulai tengah malam hingga menjelang dini hari. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh Suku Tengger. Upacara ini menjadi salah satu momen persembahan pada leluhur atau Hyang Widhi. Hal ini bertujuan agar masyarakat terhindar dari musibah dan bisa mendapatkan keselamatan serta keberkahan. Menurut masyarakat Tengger makna lain dari tradisi upacara ini adalah untuk penghargaan pada alam, karena Suku Tengger sangat menjaga kebersihan alam dan wilayah Bromo yang indah. Bagi Suku Tengger, Bromo dianggap sebagai pusat dari dunia. Anggapan ini diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan, masyarakat Tengger memiliki aturan pembangunan rumah dan sanggar untuk menghadap kearah bromo. Proses pelaksanaan upacara Kasada ini dimulai dengan berjalan secara beriringan menuju kawah gunung. Sambil berjalan, Suku Tengger membawa sesajen lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo. Masyarakat membawa beragam hasil tani maupun ternak menggunakan tempat yang disebut Ongkek. Tempat ini memang dibuat khusus untuk Upacara Kasada. Nantinya hasil ternak maupun tani ini akan dilemparkan kekawah Bromo sebagai bagian dari persembahan dan bentuk rasa syukur masyarakat atas segala rejeki yang didapatkan.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Deskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan dasar-dasar pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat</strong></div><div>Tradisi ini relevan dengan konteks pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu dalam tradisi ini mengajarkan kepada peserta didik untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala keberkahan, keselamatan, dan rejeki yang diperoleh. Dalam tradisi ini penting penanaman karakter yang positif bagi peserta didik, dimana peserta didik diajarkan untuk selalu mengingat dan bersyukur atas karunia Tuhan. Dan juga penanaman karakter mengenai pentingnya menjaga alam, yang sesuai dengan anggapan suku Tengger yang mejaga kebersihan alam.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1904775304/516e046e4690c6e2a5612ebc9f27d212/LINA_VINKA_KHARIMAH_nilai_budaya_luhur_pasuruan.pdf" />
         <pubDate>2022-12-02 04:01:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406117991</guid>
      </item>
      <item>
         <title>JANUAR RAMADHANI HERDIANZA - 223174915518 - SMP LAB UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406208785</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara<br></strong>Nilai budaya yang ada di desa saya tepatnya di daerah Tangkilsari&nbsp; adalah tradisi "Megengan" atau&nbsp; salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini sering pula disebut sebagai ritual mapag atau menjemput awal bulan puasa. Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul bersama, makan bersama, hingga membaca zikir dan tahlil untuk arwah keluarga yang telah wafat. Harapan supaya umat Islam mendapat bimbingan sehingga mudah dan lapang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Acaranya biasanya habis magrib maupun setelah isya dimulai dengan zikir bersama, membaca tahlil untuk para leluhur, istighasah dan istighfar bersama. Selanjutnya selamatan, makan bersama dengan makanan berupa berkat yang disajikan. Kemudian jamaah bermaaf-maafan dan dianjurkan setelahnya ziarah ke makam kerabat masing-masing untuk mendo’akan agar para almarhum mendapat ampunan Allah. Adapun yang biasanya ada di dalam berkat itu adalah kue apem, itu katanya dari kata bahasa Arab yaitu “Afwan” yang berarti maaf. Makanan ini sebagai isyarat agar umat Islam saling memaafkan. Dalam memasuki bulan Ramadhan akan lapang dada apabila sudah tidak ada kesalahan antar sesama. Sangat elok sebelum meraih maghfirah ampunan Allah lebih dahulu memperoleh kemaafan dari orang sekitar. Memberi dan meminta maaf termasuk tuntunan agama. Tanpa beban kesalahan dengan orang lain biasanya ibadah mudah terlaksana dan do’a cepat terkabulkan.<br><strong><br>Kesesuian berdasarkan dasar-dasar pemikiran KHD yang digunakan untuk menebalkan konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br></strong>Kesesuaian pemikiran KHD terhadap nilai budaya ini adalah memberikan pemahaman kepada peserta didik agar menjadi anak yang saling menghargai satu sama lain, saling membantu, saling bergotong-royong dan rasa syukur kepada Allah yang masih diberi umur bisa menemui bulan suci Ramadhan. Menurut KHD pelestarian budaya indonesia dapat dibangun salah satunya dengan gotong royong yang berbuat baik kepada sesama, saling menghargai apapun yang dibawa oleh setiap warga dan membuat peserta didik menanamkan jiwa gotong royong bersama-sama melestarikan budaya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-02 05:48:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406208785</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ikrima Nida Kencana Wati - 223174915535 - SMPN 1 Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406262453</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><em>1. Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara. </em></strong><br><br></div><div>Salah satu kekuatan kontek sosio kultural yang ada di daerah saya yakni budaya Grebeg Pancasila di kota Blitar. Grebeg Pancasila merupakan sebuah tradisi budaya asli dari kota Blitar untuk memberingati hari lahirnya Pancasila dimana dalam pelaksanaan Grebeg Pancasila setiap tanggal 1 Juni dilaksanakan oleh seniman-seniaman Blitar dengan mengadakan Kirab Gulungan Limo atau sebuah arak-arakan Gunungan Limo. Gunungan Limo ini menandakan sebagai symbol gambaran lima dasar Pancasila&nbsp; Sebagai sebuah proses komunikasi, Grebeg Pancasila memuat serangkaian informasi yang didemonstrasikan sedemikian rupa untuk ditonton khalayak ramai selanjutnya menjadi tuntunan hidup. Tahapan dalam pelaksanaan Tradisi Grebeg Pancasila terdiri dari lima tahapan, yakni: Bedholan Grebeg, Tirakatan, Upacara Budaya, Kirab Gunungan Limo, dan Kenduri Pancasila<br><br></div><div>Ritus Bedholan Grebeg atau Bedhol Pusaka Nagari adalah prosesi pertama pada pelaksanaan Grebeg Pancasila di Kota Blitar yang dilaksanakan tanggal 31 Mei malam di rumah dinas Walikota Blitar. Prosesi tersebut bertujuan untuk mengambil pusaka nagari dari rumah dinas ke kantor dinas Walikota Blitar, dimana sebelumnya pusaka nagari tersebut telah dileremkan semalaman dan selanjutnya akan diarak bersama Gunungan Lima pada tanggal 1 Juni menuju Makam Bung Karno. Pusaka nagari diarak oleh Bregodo Siji dan Bregodo Enem yang menggunakan pakaian tradisional Majapahit yaitu beskap lengkap; Bregodo Patang Puluh Lima yang menggunakan pakaian prajurit majapahit; dan Prajurit Trisakti. Pelaksanaan prosesi ini, selain menggunakan pakaian daerah juga menggunakan bahasa Jawa sebagai wujud pelestarian budaya daerah di Indonesia. Pada prosesi ini dilakukan arak – arakan lima pusaka yaitu bendera merah putih, teks Pancasila, lambang burung garuda, teks pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan foto Bung Karno. Hal tersebut mencerminkan adanya nilai Nasionalisme didalamnya. Nasionalisme merupakan sebuah paham untuk mencintai bangsa dan negaranya sendiri. Nasionalisme juga bisa dianggap suatu sikap masyarakat yang memiliki budaya, wilayah, cita–cita dan tujuan yang sama. Hal tersebut menumbuhkan rasa adanya kesetiaan masyarakat yang mendalam kepada bangsanya sendiri. Sehingga, pada prosesi Bedhol Pusaka Nagari ini merupakan wujud kesetiaan dan kecintaan masyarakat di Kota Blitar terhadap bangsa dan negara Indonesia. Selain itu, nilai gotong royong pada prosesi ini tidak dapat dilupakan. Hal ini tercermin dari adanya kerjasama antar pelaku kegiatan. Pada prosesi Bedhol Pusaka Nagari, arak-arakan dilakukan oleh Bregodo Siji, Bregodo Enem, Bregodo Patang Puluh Lima, dan Prajurit Trisakti. Dimana didalamnya masyarakat di Kota Blitar saling bekerja bersama-sama dan bahu membahu agar kegiatan berjalan dengan lancar, yang menandakan adanya nilai gotong royong dan Persatuan didalamnya. Urutan prosesi ini sebenarnya menyiratkan sebuah makna yang bertentangan antara keinginan ideal dan kenyataan yang terjadi. Keinginannya adalah Pancasila bisa hidup ditengah masyarakat berbangsa dan bernegara.<br><br></div><div><strong><em>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</em></strong><br><br></div><div>Ki Hajar Dewantara memberikan pemikirannya tentang Dasar-dasar Pendidikan. Menurut KHD, Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Dari kebudayaan Grebeg Pancasila diatas dapat diketahui bahwasanya hal tersebut sangat berguna untuk menebalkan konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat. Dengan nilai-nilai luhur budaya yang terkandung didalam Grebeg Pancasila diantaranya saling bekerja bersama-sama dan bahu membahu yang menandakan adanya nilai gotong royong dan Persatuan didalamnya. Selain itu dapat memberika nilai nilai luhur yang mencerminkan nilai Nasionalisme dengan memiliki kesadaran untuk memberikan aspirasinya agar Negara Indonesia bisa lebih baik dan lebih maju. Pada kirab Gunungan Lima tercermin nilai Gotong Royong dimana pada persiapan pembuatan Gunungan Lima dilakukan secara bergotong royong, nilai Gotong royong tersebut juga menunjukkan adanya solidaritas sesama untuk mencapai keinginan bersama tanpa memikirkan keuntungan diri sendiri, melainkan mempertimbangkan keuntungan dan kebahagiaan bersama. Tergambar jelas disini bahwa adanya Tradisi Grebeg Pancasila memberikan pengaruh baik konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-02 07:01:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406262453</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Latif Rinaldi Atkan S.A-223174915518-SMPN 5 MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406346787</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.<br><br>Beberapaa ( comunnal social value) </strong>Nilai budaya kebersamaan yang ada di desa saya tepatnya di&nbsp; Desa Campurejo Kec. Rengel Kab. Tuban adalah tradisi "Megengan/maleman" atau&nbsp; salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini berlangsung turun temurun karena juga dipengaruhi semua masyarakat desa berlatar belakang Agama Islam. Tradisi ini sering pula disebut sebagai ritual mapag atau menjemput awal bulan puasa. Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul bersama, makan bersama, hingga membaca zikir dan tahlil untuk arwah keluarga yang telah wafat. Harapan supaya umat Islam mendapat bimbingan sehingga mudah dan lapang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Acaranya biasanya setelah magrib maupun setelah isya dimulai dengan zikir bersama, membaca tahlil, tahmid dan takbir untuk para leluhur, istighasah dan istighfar bersama. Selanjutnya selamatan, makan bersama dengan makanan berupa berkat yang disajikan. Kemudian jamaah bermaaf-maafan dan dianjurkan setelahnya ziarah ke makam kerabat masing-masing untuk mendo’akan agar para almarhum mendapat ampunan Allah. Adapun yang biasanya ada di dalam berkat itu adalah kue apem, itu katanya dari kata bahasa Arab yaitu “Afwan” yang berarti maaf. Makanan ini sebagai isyarat agar umat Islam saling memaafkan. Nilai kultural masyarakat yang sudah menjadi kebiasaan ini memiliki kaitan erat dengan budaya masyarakat Indonesia umumnya, yaitu tolong menolong, saling menghormati dan gotong royong.  <br><strong><br>Kesesuian berdasarkan dasar-dasar pemikiran KHD yang digunakan untuk menebalkan konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br></strong>Kesesuaian pemikiran KHD terhadap nilai budaya ini adalah memberikan pemahaman kepada peserta didik agar menjadi anak yang saling menghargai satu sama lain, saling membantu, saling bergotong-royong dan rasa syukur kepada Allah yang masih diberi umur bisa menemui bulan suci Ramadhan. Menurut KHD pelestarian budaya indonesia dapat dibangun salah satunya dengan gotong royong yang berbuat baik kepada sesama, saling menghargai apapun yang dibawa oleh setiap warga dan membuat peserta didik menanamkan jiwa gotong royong bersama-sama melestarikan budaya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-02 08:38:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2406346787</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ega Ode Ariyanti – 223174915536 – SMP Brawijaya Smart School</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407232063</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</div><div>Adanya grebeg suro merupakan hal yang rutin dilakukan setiap tahun di desa tempat saya tinggal, yaitu Desa Saptorenggo, Pakis, Kab. Malang. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya grebeg suro kali ini dibarengi dengan pembukaan festival Tirtomoyo yang merupakan tetangga sebelah desa. Acara tersebut juga dihadiri oleh Bupati Malang.</div><div>Diadakannya grebeg suro sendiri adalah dalam rangka bersih desa yang kemudian dilanjutkan dengan karnaval kirab budaya yang cukup ramai. Warga Desa Saptorenggo sendiri juga mempunyai ritual khusus yaitu mengunjungi makam Desa Saptorenggo untuk melakukan kegiatan bersih desa. Bersama-sama warga berbondong-bondong sekitar jam 10 malam untuk melakukan kegiatan tersebut. Yang unik adalah di gang masuk makam dipasang janur sebagai tanda ada kegiatan grebeg suro.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Deskripsikan kesesuain tersebut berdasarkan dasar-dasar pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia anggota masyarakat.</div><div>Sesuai dengan pemikiran KHD, yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk menebalkan konteks diri peserta didik adalah menuntun. Dalam hal ini peserta didik dapat dituntun untuk bersatu dengan masyarakat dalam mengikuti kegiatan grebeg suro. Dituntun untuk bergotong royong, mengenal budaya grebeg suro dari dekat, dan berbaur dengan masyarakat dengan baik melalui karnaval kirab budaya. Sehingga dari hal-hal kecil seperti itu konteks diri pada peserta didik secara perlahan dapat berkembang dengan baik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-02 23:48:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407232063</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RIMA WIDYASTUTI-223174915502-SMPN 1 MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407398631</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong></div><div>Nilai luhur budaya yang ada di daerah saya yang sesuai dengan pemikiran KHD adalah kesenian tari Thengul. Tari thengul merupakan transformasi dari penyajian wayang kedalam sebuah tarian. Dalam tarian ini biasanya dipentaskan oleh penari secara berkelompok dengan gerakan, ekspresi dan kostum yang menyerupai wayang thengul. Tari thengul ini merupakan tarian kreasi yang diciptakan selain untuk seni, juga sebagai wujud apresiasi dan upaya untuk mengangkat kembali kesenian wayang thengul yang hampir tenggelam seiring dengan perkembangan jaman. Kesenian tari thengul ini membuat masyarakat Bojonegoro pada masa sekarang tidak hanya memiliki kesenian Wayang Thengul yang diperankan oleh boneka-boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh dalang saja. Akan tetapi masyarakat Bojonegoro juga memiliki sebuah kesenian tari yang bersumber dari kesenian Wayang Thengul tersebut dan tidak lagi diperankan oleh boneka kayu, akan tetapi diperankan oleh manusia yang dituangkan melalui sebuah gerak-gerak dan menjadi sebuah karya tari yang berasal dari budaya daerah setempat yaitu tari Thengul Bojonegoro.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong></div><div>Kesesuaian pemikiran KHD dengan kesenian tari Thengul dari daerah Bojonegoro adalah bahwa “dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21). Pemikiran KHD ini sesuai dengan sejarah dari tari Thengul sendiri yang merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh warga Bojonegoro untuk mengangkat kembali kesenian wayang Thengul yang mulai dilupakan oleh masyarakat dengan bentuk yang berbeda dan lebih disukai yaitu dengan diangkat menjadi sebuah kesenian tari. Sehingga kesenian tari Thengul ini dapat dilestarikan oleh generasi muda tanpa meninggalkan kesenian sebelumnya yaitu wayang Thengul.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-03 08:43:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407398631</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Fathurrijal aziz 223174915550 SMP Lab UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407475582</link>
         <description><![CDATA[<div>1.	Kirab Pusaka adalah salah satu rangkaian acara Grebeg Suro yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya di Ponorogo. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati tahun baru Islam yang jatuh pada tanggal 1 Muharram. Secara historis, kirab pusaka merupakan sebuah simbol perpindahan pusat kota Ponorogo yang dulunya berada di daerah Setono dan sekarang pusat kota Ponorogo berpindah di kota tengah, berdekatan dengan alun-alun kota Ponorogo. Di alun-alun ini pula yang menjadi pusat perayaan dari Grebeg Suro, yang termasuk adalah tujuan akhir dari pawai Kirab Pusaka. Di alun-alun kota Ponorogo inilah yang menjadi tempat dilaksanakannya pagelaran Festival Nasional Reog Ponorogo, termasuk perayaan malam puncaknya yang dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram.<br>pelaksanannya di masa sekarang, kirab pusaka dilaksanakan dengan iring-iringan pawai yang diikuti oleh sekolah-sekolah dan seluruh lapisan masyarakat. Hal ini merupakan acara tahunan yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat Ponorogo. Seluruh masyarakat berdatangan ke kota, ke jalan yang dilalui oleh iring-iringan pawai. Bahkan warga dari wilayah pedesaan juga berdatangan hanya untuk bisa menyaksikan pawai kirab pusaka ini.<br><br>2.	pendidikan dan kebudayaan merupakan suatu hal yang saling berintegrasi. Pendidikan selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kebudayaan. Karena salah satu fungsi pendidikan merupakan proses mentransfer kebudayaan dan sebagai cerminan kebudayaan.&nbsp;<br>Seperti halnya dengan kebudayaan kirab pusaka di Ponorogo. Budaya kirab pusaka ini relevan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara karena dalam budaya kirab pusaka itu acaranya adalah sebuah pawai yang mengelilingi jalan yang sudah di tetapkan perkelompok (lembaga)&nbsp; dan kendaraan tersebut dihias sebagus dan sekreatif mungkin. Hal ini Sesuai dengan prinsip pemikiran KHD yaitu memberi kebebasan untuk menghias sekreatif mungkin. Selain itu juga dapat mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan budaya dan kebangsaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-03 12:27:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407475582</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mohtar Rosyid_223174915524 _SMP Laboratorium UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407476838</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilainilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara</strong>.</div><div>&nbsp;</div><div>Salah satu nilai luhur budaya yang ada di daerah saya (pamekasan) yang relevan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah Bhuppa’-Bhabbu’, Ghuru-Rato. Isitilah bhuppa’-bhabbu’-ghuru-rato adalah kebiasaan orang-orang Madura khususnya di pamekasan dalam menghormati figure-figur yang ada dalam istilah tersebut seperti ayah-ibu (orangtua) dan Guru-pemerintah (ulil amri).&nbsp; Nilai luhur budaya ini adalah bentuk dari kepatuhan masyarakat Madura khususnya pamekasan pada figure-figur tersebut ketika ada dalam suatu perkumpulan&nbsp; atau suatu keadaan. Disamping kepatuhan yang terjadi masayarakat Madura juga menghormati dan mengahrgai figure-figur tersebut dengan sangat, bahkan dalam masyarakat Madura identic dengan istilah&nbsp; “adab lebih tinga dari pada ilmu” istilah ini dimaksudka bahwa semakin tinggi ilmu yang mereka dapatkan mereka akan lebih patuh lagi terhdap figure-figur tersebut.<br><br></div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Relevansi nilai luhur budaya bhuppa’-bhabbu’-ghuru-rato ini dengan pemikiran Ki Hajar Dewwantara adalah menghargai dan menghormati . artinya nilai luhur budaya ini mengajarkan pada peserta didik untuk selalu menghormati orang-orang yang memberikan kita ilmu dan pengalaman meskipun sedikit sehingga menjadikannya pribadi yang lebih baik lagi. kemudian nilai luhur budaya ini juga mengajarkan peserta didik menjadi pribadi yang patuh kepada orang tua dan guru serta pemerintah yang menjabat .<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-03 12:29:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407476838</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FATWA CHULAIDAR RASYIDI- 223174915525- SMPN 9 MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407553660</link>
         <description><![CDATA[<div>Nilai luhur dari tempat tinggal saya yaitu kabupaten sumenep adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari warga sumenep menganut nilai Bhuppa’ Bhâbbhu’ Ghuru Rato (Bapak ibu guru ratu atau pemimpin). Nilai kearifan lokal yang terkandung dari Bhuppa’ Bhâbbhu’ Ghuru Rato adalah bahwa dalam hidup harus patuh dan hormat kepada bapak, ibu, guru dan para pemimpin. Nilai ini sudah ditanamkan sejak dini terutama di lembaga sekolah. Salah satu contohnya di sekolah adalah dalam proses pembelajaran dalam berkomunikasi dengan guru harus menggunakan bahasa yang sopan dan bahasa yang halus. Serta, patuh terhadap arahan dari guru setiap pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, siswa sudah memiliki bekal untuk mengaplikasannya di lingkungan masyarakat untuk selalu berkata sopan dan berbahasa yang halus dalam melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari terutama kepada bapak, ibu, guru dan pemimpin di lingkungan tempat tinggalnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-03 15:23:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407553660</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MOH HABIBUL MUBIN - 223174915528 - SMP BRAWIJAYA SMART SCHOOL</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407787425</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Nilai luhur budaya yang terdapat di daerah saya tepatnya di kabupaten bojonegoro dan masih ada sampai sekarang dengan seiring berkembangnya zaman adalah gotong royong. Adapaun satu contoh gotong royong yang masih ada sampai sekarang adalah gotong royong naikan atap genteng atau pengecoran atap rumah. Dimana perilaku gotong royong tersebut tentu saja dapat menjadi asset bangsa jika tetap dipelihara oleh masyarakat pedesaan karena merupakan sebuah manifestasi budaya yang telah ada dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat. Kegiatan gotong royong naikan atap genteng atau pengecoran atap rumah di lakukan di setiap rukun tetangga (RT) masing - masing, dimana ketika ada warga yang membangun rumah dan ketika proses menaikan genteng, warga khususnya rukun tetangga akan datang dan bahu – membahu membantu menaikan atap genteng. Gotong royong naikan atap genteng ini merupakan adat istiadat berupa tolong menolong antara warga desa. Melalui aktivitas gotong royong ini tercipta rasa kebersamaan dan hubungan emosional antarwarga, keakraban dan saling mengenal satu sama lain.<br>2. Keberadaan gotong royong tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Secara turun temurun gotong royong menjadi warisan budaya leluhur yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat pedesaan sekaligus merupakan kepribadian bangsa Indonesia. Budaya gotong royong ini terdapat pada konsep kodrat alam yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara serta menjadi tauladan yang baik bagi peserta didik dengan memanfaatkan nilai budaya daerah saya yaitu bergotong royong. Dengan memanfaatkan nilai bergotong royong peserta didik diharapkan bisa menanamkan rasa saling kebersamaan, saling membantu sesama manusia dan anggota masyarakat, serta membentuk kepribadian peserta didik menjadi lebih baik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-04 03:37:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2407787425</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KAMALIA-223174915538-SMPN 01 MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2409352950</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pilihlah salah satu kekuatan Konteks sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah anda, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.<br>kearifan lokal dari daerah Malang sendiri adalah hal-hal yang dipelajari di Kampung budaya Polowijen dimana termasuk kampung tematik yang menjadi ciri khasnya adalah wayang topeng Malangan. Wayang topeng Malangan merupakan seni tradisi berupa ikon Malang dan telah diterapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional. Wayang topeng Malangan buan sekedar seni pertunjukan melainkan juga menjadi generator suatu dusun untuk membentuk sifat guyub dan gotong royong. Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui gotong royong untuk mewujudkan murid merdeka dan berjiwa pancasila yaitu murid yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia, kreatif, bergotong royong, bernalar kritis, mandiri berkebinekaan global dan memiliki kebebasan dalam belajar.<br><br>2. Deskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (sesuai kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.&nbsp;<br>Nilai edukasi, sebagai salah satu peran generasi muda untuk memecahkan masalah yang ada lingkungan sekitarnya. banyak dari peserta didik menganggap budaya Indonesia terkesan kuno dan tidak kekinian  karena adanya budaya barat yang masuk ke Indonesia. Peserta didik adalah generasi milenial dimana generasi ini yang akan dihadapi pendidik, pendidik harus mengintegrasikan nilai-nilai budaya sebagai bentuk kearifan lokal yang dibangun untuk merubah image peserta didik sesuai dengan kodrat yang dimiliki terhadap kebudayaan Indonesia. Peserta didik diarahkan merubah arah kebudayaan Indonesia melalui pelestarian kebudayaan yang ditumbuhkan dalam pembelajaran karena menurut pemikiran KHD dalam pendidikan tidak lepas dari culture (kebudayaannya)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-05 15:53:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/m4kwqw61dnv47cv5/wish/2409352950</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
