<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Psst by Nelly Arifyani</title>
      <link>https://padlet.com/nellyarifyani/ltk1z9bzzfwplkof</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-15 04:48:19 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-09-15 04:55:03 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Pribadi yang Agung</title>
         <author>nellyarifyani</author>
         <link>https://padlet.com/nellyarifyani/ltk1z9bzzfwplkof/wish/2297597280</link>
         <description><![CDATA[<div>Membaca kalimat&nbsp; “kita kemudian baru sadar bahwa diri kita ini sebenarnya dua. Yang satu mungkin kita dapat sebut&nbsp; pribadi yang tidak memuaskan, dan yang satunya lagi pribadi agung dan cantik yang kita anggap bagian integral dari kita..”&nbsp; membawa saya ke pemahaman bagaimana kita ‘berkomunikasi’ dengan diri sendiri, yang selama ini berjalan natural dalam keseharian.&nbsp;<br><br>Entah itu dalam proses sederhana membuat sebuah keputusan, ataukah dalam proses yang lebih dalam seperti perenungan – perenungan diri. Biasanya sebelum mengutarakan kepada orang lain tentang keputusan kita, dalam memutuskan sesuatupun kita melalui proses pertimbangan dalam diri sendiri, apakah begini, ataukah begitu, mana yang lebih baik, mana yang terbaik, dan factor pertimbangan lainnya. Bahkan tak jarang diri yang ‘dua’ ini bertarung seolah (sering dijadikan lelucon )merepresentasikan suara malaikat dan suara setan.<br><br>Dua pribadi ini menurut saya adalah wujud Yin dan Yang bagi keseimbangan jiwa. Representasi pribadi yang agung dan cantik dengan pribadi yang tidak memuaskan membuat manusia menjadi utuh. Keduanya mengolah karsa diri, itulah mengapa kita (dari lahir) mempunyai potensi menjadi baik ataupun menjadi jahat, tergantung bagaimana kita membiasakan diri, mengolah kendali atas keduanya, mana yang lebih dominan, mana yang lebih ‘didengarkan’ dan mana yang lebih sering ‘dilatih’.&nbsp;<br><br>Kemudian menyusuri kalimat berikutnya yang menarik bahwa “..Kita tidak menyadari bahwa jiwa manusia itu agung, indah, dan berharga tanpa batas. Ini sebagian karena agama kebanyakan mengajarkan sikap merendahkan diri dan menahan diri..”<br><br>Jika kita renungkan lebih jauh, sebenarnya sejak awal kehidupan, saat kita mulai mengenal lingkungan sekitar, dan bahkan sebelum kita mengenal agama, kita dikelilingi, dididik, dilatih untuk menahan diri dan kemudian ketika kita mulai mengenal agama, kita dilatih merendahkan diri dengan tunduk terhadap perintah – perintahNya.&nbsp;<br><br>Namun, apa yang membuat kita tidak mampu menyadari keagungan, keindahan dan berharganya jiwa? Sampai dimana kepatuhan ini menjadi momok yang melukai keagungan jiwa manusia itu sendiri? bagaimana caranya membagi peran jiwa ketika berhadapan dengan Tuhan dengan ketika berhadapan dengan manusia dan alam semesta? Apakah memang menyatu dan tak terpisahkan? Dapatkan dilatih untuk menemukan batas – batasnya?<br><br>Seperti perumpamaan sebuah negara yang bergantung pada pemerintahannya, apabila jiwa manusia merupakan entitas yang luas dan tak dapat diukur, mungkinkah kita hanya mampu bermain pada potensi dan kondisi saja?&nbsp;<br><br>Negara lebih penting, namun tidak dapat berkembang tanpa pemerintahan, apakah pemerintahan bagi jiwa adalah potensi dan kondisi yang kemudian akan mengolah karsa dan menjadi penentu apakah kebajikan ataukah kemungkaran yang menjadi keputusan si jiwa dari sang manusia ini?&nbsp;<br><br>Seperti layaknya pemerintahan yang baik dan buruk berdampak bagi sebuah negara dan tentu saja bangsa yang menghuninya.<br><br>Jakarta, 15 September 2022, 11:53</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1806556283/63b09b91e5989285e0b3df9f678e5a8b/IMG_20210526_150538_241.jpg" />
         <pubDate>2022-09-15 04:55:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nellyarifyani/ltk1z9bzzfwplkof/wish/2297597280</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
