<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kliping Fakta Pangan  by Keysha Bhuvana</title>
      <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx</link>
      <description>Prakarya - Keysha </description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-03-27 06:50:17 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-03-10 04:24:15 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>SAGU</title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366810793</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kebutuhan Masyarakat Terhadap Sumber Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Sagu termasuk ke dalam bahan pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Di Indonesia sendiri beras dan gandum masih menjadi makanan pokok hingga saat ini. Produksi sagu di Indonesia terhitung sangat besar karena hampir 90% sagu ada di Indonesia. Sagu telah menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia di bagian Timur seperti Papua. Sagu juga banyak tumbuh di daerah timur. Kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri terhadao sagu ialah sebagai sumber dan bahan baku makanan dan juga dimanfaatkan sebagai berbagai bahan baku industri. Sagu juga dimanfaatkan untuk menjadi dextrin&nbsp; yang dimanfaatkan dalam industri kayu, kosmetik, farmasi, pestisida. Protein sel tunggal juga dapat dihasilkan oleh sagu untuk industri&nbsp; makanan. Sagu masih belum menjadi bahan pangan pokok yang dominan digunakan masyarakat sebagai pangan sehari-hari. Kini sagu masih menjadi bahan pangan alternative serta pelengkap berbagai makanan.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Kemampuan Dan Upaya Memenuhi Kebutuhan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Indonesia memiliki lahan sagu terbesar. Tanaman sagu di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, karena lebih dari 85% total area sagu dunia berada di Indonesia terutama di Papua dan Papua Barat. Tanaman sagu banyak di Indonesia karena sesuai dengan iklimnya yaitu iklim tropis. Per hektar dapat memanen atau menghasilkan 20-40 ton sagu, sedangkan dalam 12 hektar lahan padi hanya dapat menghasilkan 30 ton padi hasil panen. Kebun sagu dengan luasan 1 juta hektar memberi makan 200 juta jiwa, jika dalam 5 juta hektar sagu dapat memberi makan&nbsp; 1 milyar jiwa. Sagu dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan di dunia yang berjumlah 868 juta jiwa yang dilaporkan oleh FAO. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia kaya akan sagu. Sagu bisa menjadi makanan pokok di beberapa tahun depan. Karena sagu merupakan tanaman tropis yang sesuai tumbuh di Indonesia. Selain itu kadar karbohidrat dan gizi dalam sagu juga menjadi pertimbangannya untuk menjadi bahan pangan pokok di kemudian hari. Pemerintah juga terus memfokuskan lahan sagu agar mengalami perkembangan dan tingkat produksi yang baik serta kian naik. Karena diperkirakan beberapa waktu ke depan akan terjadi langkanya bahan pangan pokok masyarakat Indonesia, sehingga sagu bisa menggantikan peran bahan pangan pokok di masa yang akan datang dengan tingkat produksi yang tinggi setiap tahunnya. &nbsp;<br><br></div><div><strong>Hasil Olahan Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Di Indonesia sendiri sagu belum menjadi bahan pangan pokok yang dimanfaatkan sehari-hari. Namun, hasil olahan pangan dari sagu juga cukup banyak seperti bubur sagu, kue, papeda, dan bahan dasar industri. Makanan berbahan dasar sagu sendir memiliki cita rasa yang enak dan tekstur yang menarik sehingga menarik perhatian masyarakat untuk memakannya. Sagu masih menjadi makanan pengganti atau bahkan bahan dasar makanan pendamping mayoritas masyarakat Indonesia. Namun berbeda dengan masyarakat Indonesia di bagian Timur seperti Papua dan Papua Barat. Disana sagu telah menjadi makanan pokok sejak zaman dahulu, karena tidak dipungkiri lahan sagu terbesar juga ada di Pulau Papua.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Refleksi Atau Kesimpulan Pribadi<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Sebagian besar lahan sagu ada di Indonesia. Sagu berpotensi menjadi bahan pangan pokok karena memiliki kadar gizi dan karbohidrat yang cukup. Sagu dapat menghasilkan hasil panen jauh lebih banyak dari beras atau padi. Tepatnya di Indonesia bagian timur seperti Papua dan Papua Barat, sagu menjadi makanan pokok karena disana terdapat lahan sagu terbesar. Sagu juga berpotensi menjadi penambah devisa negara ketika bisa di ekspor keluar negeri. Walau begitu produksi sagu harus tetap dikontrol untuk menjaga kestabilan produksi sagu di Indonesia. Harus rutin dilakukan penyuluhan mengenai bertani sagu. Jika Indonesia berhasil menjadi negara dengan pemilik lahan sagu yang terbesar dan berkualitas maka dapat memberi peluang Indonesia untuk menjadi pengekspor utama sagu di pasar dunia dengan begitu devisa negara akan bertambah. <br><br><strong>Sumber</strong><br>https://faperta.ipb.ac.id/buletin/2019/04/12/potensi-dan-produksi-sagu-di-indonesia/<br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=4541<br>https://ekonomi.bisnis.com/read/20201011/99/1303492/sagu-bisa-jadi-solusi-kedaulatan-pangan-indonesia<br>file:///C:/Users/Hp/Downloads/214-Produksi-Sagu.pdf <br><br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1085379625/fd2d0c8fa9de3ebbe4c7097115db84fc/large_sagu_sebagai_pilihan_makanan_padat_untuk_bayi_96cca4f657e72f1b7a1e15b59b412b46.jpg" />
         <pubDate>2021-03-30 05:35:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366810793</guid>
      </item>
      <item>
         <title>JAGUNG</title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366812272</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kebutuhan Masyarakat Terhadap Sumber Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan berupa jagung sampai saat ini tercukupi di Indonesia. Bahkan hasil produksi jagung di Indonesia surplus hingga bisa melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Kebutuhan jagung di Indonesia sendiri meliputi bahan pangan pokok pengganti beras serta sebagai pakan untuk ternak. Jagung di Indonesia juga dapat diolah menjadi berbagai bahan makanan dan masakan. Dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK, terdiri dari: pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK.<br><br></div><div><strong>Kemampuan Dan Upaya Memenuhi Kebutuhan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Budidaya jagung di Indonesia bisa dikatakan berhasil karena hasil produksi sampai surplus dan juga bisa ekspor ke negara lain seperti Filipina dan Malaysia. Walaupun terkadang terjadi kenaikan harfga jagung, tetapi hal tersebut bukan berarti menurunnya produksi jagung, karena terkadang angka permintaan yang tidak merata di setiap daerahnya. Upaya pemerintah sendiri untuk tetap mempertahankan produksi jagung agar tetap surplus dan ekspor ke luar negeri sudah banyak. Bahkan untuk mendorong produksi pertanian di wilayah Lampung, Kementan bekerjasama dengan PBNU memberikan bantuan berupa benih jagung untuk Kabupaten Pringsewu sebanyak 45 ton untuk 3.006 hektare yang nilainya mencapai Rp1,9 miliar. Kementan pun memberikan bantuan untuk Kabupaten Pringsewu berupa padi gogo untuk 1.050 hektare, sepuluh unit traktor 2 roda, sepuluh unit pompa air, dan lima unit cultivator. Ada sekitar sepuluh daerah utama penghasil jagung yang tersebar di seluruh Indonesia. Daerah tersebut meliputi :</div><div>·Provinsi Jawa Timur, dengan luas panen 1,19 juta ha menghasilkan 5,37 juta ton jagung.&nbsp;</div><div>·Provinsi Jawa Tengah dengan luas panen 614,3 ribu ha menghasilkan 3,18 juta ton jagung.&nbsp;</div><div>·Provinsi Lampung dengan luas panen 474,9 ribu ha menghasilkan 2,83 juta ton jagung.</div><div>·Provinsi Sumatera Utara dengan luas panen 350,6 ribu ha menghasilkan 1,83 juta ton.&nbsp;</div><div>·Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas panen 377,7 ribu menghasilkan 1,82 juta ton jagung.&nbsp;</div><div>·Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas panen 283 ribu ha menghasilkan 1,66 juta ton jagung.</div><div>·Provinsi Jawa Barat dengan luas panen 206,7 ribu ha menghasilkan 1,34 juta ton jagung.&nbsp;</div><div>·Provinsi Sulawesi Utara dengan luas panen 235,5 ribu ha menghasilkan 0,92 juta ton jagung.&nbsp;</div><div>·Provinsi Gorontalo dengan luas panen 212,5 ribu ha menghasilkan 0,91 juta ton jagung.&nbsp;</div><div>·Provinsi Sumatera Selatan dengan luas panen 137 ribu ha menghasilkan jagung mencapai 0,80 juta ton.<br><br></div><div><strong>Hasil Olahan Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Di Indonesia selain sebagai bahan pangan pokok pengganti beras, jagung juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Jagung bisa diolah sebagai campuran sayuran yang biasanya berupa sop atau oseng buncis. Selain itu jagung juga bisa diolah menjadi makanan manis seperti kue, pudding, bahkan brownis dengan cita rasa yang khas. Hasil olahan jagung sangat beragam sehingga menarik perhatian masyarakat untuk mengolah jagung. Harga jagung juga terhitung normal dan terkendali karena produksi nasional tinggi.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Refleksi Atau Kesimpulan Pribadi<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Jagung menjadi tanaman yang termasuk bahan pangan pokok di Indonesia. Produksi jagung di Indonesia dapat dikatakan tinggi setiap tahunnya. Karena ketersediaan jagung melebihi kebutuhan nasional jagung. Walau begitu produksi jagung harus tetap dijaga dan dikembangkan supaya tetap bisa ekspor ke negara lain agar mendapatkan keuntungan yang jauh lebih tinggi pula. Pemerintah harus tetap mengontrol produksi jagung di Indonesia agar tetap bertambah setiap tahunnya. Pemerintah atau berbagai organisais pertanian juga harus rutin melakukan penyuluhan kepada petani jagung agar tetap menjaga hasil produksi jagungnya. Produksi jagung yang kian melimpah juga bisa menambah devisa negara melalui ekspor jagung. <br><br><strong>Sumber</strong><br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=3395#:~:text=Sementara%20dari%20sisi%20kebutuhan%2C%20berdasarkan,4%2C76%20juta%20ton%20PK.<br>https://ekonomi.bisnis.com/read/20190218/99/890308/kebutuhan-jagung-tahun-ini-naik-1151-juta-ton<br>https://pertanian.pontianakkota.go.id/artikel/47-mengenal-jagung-di-indonesia.html<br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=3357<br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=4639<br>https://bisnis.tempo.co/read/1227247/kebutuhan-tinggi-tahun-ini-indonesia-tetap-impor-jagung/full&amp;view=ok<br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=3932<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1085379625/3e6ba909e1f346c32f78826a3823fd7c/jagung_mentah_1.jpg" />
         <pubDate>2021-03-30 05:36:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366812272</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KEDELAI</title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366815623</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kebutuhan Masyarakat Terhadap Sumber Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Masyarakat Indonesia memang tidak menjadikan kedelai sebagai bahan pangan utama. Namun, peningkatan kebutuhan konsumsi kedelai di masyarakat Indonesia dapat dilihat dari berbagai pertimbangan seperti bertambahnya populasi penduduk, peningkatan pendapatan per kapita, kesadaran masyarakat akan gizi makanan. Rata-rata kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 2,8 juta ton per tahun. Indonesia sebenarnya pernah mengalami swasembada kedelai pada tahun 1992. Saat itu produksi kedelai dalam negeri mencapai 1,8 juta ton. Kedelai sendiri merupakan jenis polong-polongan yang banyak digunakan sebagai berbagai bahan dasar makanan.&nbsp; Di Indonesia sendiri kedelai biasa diolah menjadi tempe, tahu, susu kedelai, tepung kedelai, dan kecap. Hasil pangan tersebut biasa menjadi bahan masakan juga sebagai lauk favorit di Indonesia. Karena selain harga yang cukup terjangkau, rasa nya enak dan bisa diolah menjadi berbagai macam makanan.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Kemampuan Dan Upaya Memenuhi Kebutuhan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Budidaya kedelai di Indonesia masih sangat minimal. Kedelai sendiri merupakan tanaman sub-tropis sehingga jika ditanam di iklim tropis seperti Indonesia hasil nya tidak maksimal. Keterbatasan lahan di Indonesia juga menjadi dalah satu penyebab minimnya budidaya kedelai di Indonesia. Seperti yang dikatakan Gatot Irianto pada diskusi Bakpia (Bincang Asik Pertanian Indonesia) di Gedung PIA Kementerian Pertanian Jakarta "Keterbatasan lahan masih menjadi kendala utama untuk memenuhi kebutuhan kacang&nbsp; kedelai dalam negeri dan mewujudkan swasembada kedelai". Lahan yang cocok untuk ditanami kacang kedelai di Indonesia memang jumlahnya terbatas. Hal itu karena lahan kedelai harus memiliki kadar pH netral dengan kedalaman minimal 20 sentimeter. Diluar itu banyak petani kedelai yang menggilir tanamannya menjadi tanaman utama seperti gandum dan jagung yang lebih laku di pasaran dan sesuai dengan iklim di Indonesia. Bahkan kedelai yang ditanam di Amerika memiliki produktivitas 5 ton per hektare, sedangkan di Indonesia hanya mampu 1,3 ton - 1,5 ton per hektarnya sehingga dianggap tidak menguntungkan bagi petani. Dari pernyataan tersebut maka diperlukan upaya pendampingan dari pemerintah kepada petani kedelai mengenai iklim dan daya jual kedelai di pasar nasional.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Hasil Olahan Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Kedelai termasuk bahan polong-polongan yang kerap digunakan menjadi bahan dasar berbagai macam makanan.&nbsp; Di Indonesia sendiri makanan yang berbahan dasar kedelai sering digunakan sebagai lauk atau campuran sayur. Olahan kedelai yang ada di Indonesia meliputi tahu, tempe, susu kedelai, tepung kedelai, dan kecap. Konsumsi kedelai kian meningkat seiring pertambahan penduduk dan kesadaran masyarakan mengenai gizi. Kedelai juga memiliki gizi seimbang yang baik untuk kesehatan tubuh.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Refleksi Atau Kesimpulan Pribadi<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Kedelai di Indonesia bahkan hampir bisa dikatakan langka karena ketersediaannya tidak sesuai dengan kebutuhan nasional. Dilihat dari kenyataan tersebut tentu menjadi teguran untuk para pemerintah dan pelaku pertanian keledai untuk terus meningkatkan produksi kedelai di Indonesia agar tidak menjadi ketergantungan impor kedelai. Minimnya kesadaran petani akan tanaman kedelai disebabkan karena dari sudut pandang mereka, kedelai bukanlah bahan pangan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, sehingga banyak sekali petani yang mengganti lahan yang awalnya untuk menanam kedelai diubah menjadi lahan untuk menanam padi, jagung, atau gandum yang banyak diminati masyarakat dan iklim nya sesuai dengan Indonesia. Sedangkan kedelai sendiri adalah tanaman sub-tropis sehingga hasilnya kurang maksimal. Dari pernyataan tersebut diharapkan pemerintah lebih menggerakkan masyarakat terutama petani untuk menanam kedelai dengan disertai penyuluhan dan pendampingan kepada petani kedelai agar mendapatkan laba dengan kualitas kedelai yang baik. Pemerintah juga harus menyediakan berbagai alat pendamping produksi kedelai untuk menunjang kebutuhan lahan petani kedelai. <br><br><strong>Sumber</strong><br>https://ekonomi.bisnis.com/read/20210105/12/1338923/kedelai-langka-pemerintah-harus-fokus-pada-peningkatan-produktivitas<br>https://nasional.kontan.co.id/news/kementan-perkirakan-impor-kedelai-untuk-tahu-tempe-capai-26-juta-ton-di-2021<br>https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73016<br>https://pospapua.com/produksi-kedelai-indonesia-menurun-sereal-dunia/<br>https://www.suarakarya.id/detail/84914/Swasembada-Kedelai-Terhadang-Banyak-Masalah<br>https://surabaya.bisnis.com/read/20210105/532/1339005/penggalakan-budi-daya-kedelai-perlu-kembali-dilakukan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1085379625/4910f4ded7ee552d2833646e96d7d438/8_manfaat_kacang_kedelai_bagi_tubuh_bantu_atasi_diabetes_hingga_sehatkan_tulang.jpg" />
         <pubDate>2021-03-30 05:38:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366815623</guid>
      </item>
      <item>
         <title>GANDUM </title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366818841</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kebutuhan Masyarakat Terhadap Sumber Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Dahulu sebelum masa modernisasi sebagian besar masyarakat Indonesia hampir setiap harinya mengonsumsi nasi. &nbsp; Namun, di masa ini masyarakat Indonesia mulai banyak yang mengonsumsi makanan pengganti nasi. Makanan pengganti nasi yang dimaksud kali ini adalah berbagai jenis roti dan mi instan. Hingga tren anak muda sekarang untuk mengonsumsi mi instan dengan berbagai macam merk dan varian rasa yang unik dan menarik. Bahkan <em>World Instant Noodles Association</em> (WINA) menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia, di bawah China dalam konsumsi mi instan. Konsumsi mi instan Indonesia mencapai 12.62 milyar bungkus (tahun 2017). Angka konsumsi tersebut diprediksi akan naik setiap tahunnya, karena seperti kita ketahui selain cara memasak yang mudah mi instan juga memiliki rasa yang enak. Makanan tersebut memiliki bahan dasar berupa gandum. Dengan meningkatnya angka konsumsi masyarakat terhadap roti dan mi instan maka dipastikan pabrik makanan tersebut mengalami peningkatan produksi sehingga beriringan dengan peningkatan kebutuhan gandum di Indonesia. Minimalnya budidaya gandum di Indonesia karena masalah tidak sesuainya iklim, maka sampai saat ini Indonesia masih bergantung dengan impor gandum dari negara lain.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Kemampuan Dan Upaya Memenuhi Kebutuhan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp; Ditandai dengan meningkatnya pola konsumsi masyarakat terhadap roti dan gandum mengakibatkan angka kebutuhan gandum di Indonesia terus meningkat. Sedangkan angka budidaya gandum di Indonesia masih sangat kecil untuk mencukupi kebutuhan gandum nasional. Menurut pendapat Kepala Subdirektorat Jagung dan Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Andi Muhammad Saleh minimalnya budidaya pengembangan gandum di Indonesia sebenarnya diakibatkan oleh terbatasnya ketersediaan&nbsp; galur-galur gandum yang cocok ditanam di Indonesia, sesuai dengan karakteristik masing-masing lahan di Indonesia. Sehingga menurut Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Bambang Sugiharto menyatakan untuk memenuhi kebutuhan gandum ini diperlukan penyediaan varietas yang mempunyai sifat unggul dan beragam. Ketersediaan plasma nutfah yang memiliki variasi yang besar merupakan sumber gen yang mendukung pembentukan varietas baru yang berdaya hasil tinggi, tahan hama penyakit, umur genjah dan sifat lainnya. Dalam pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa minimalnya budidaya gandum di Indonesia juga karena perbedaan faktor iklim dan keadaan tanah. Diluar pernyataan tersebut pemerintah bahkan pemerintah daerah tertentu juga mengupayakan pembudidayaan tanaman gandum di Indonesia agar Indonesia tidak terus menerus bergantung kepada negara lain. Sejak tahun 2018, Indonesia telah menjadi negara pengimpor gandum terbanyak didunia dengan jumlah 10.096.299 juta ton. Ini merupakan 6,1 % dari jumlah total impor dunia (BPS,2019). Indonesia lebih banyak mengimpor gandum&nbsp; dari Australia karena jarak yang dekat sehingga gandum akan cepat sampai dengan ekspedisi yang singkat. Namun,yang dikhawatirkan jika Indonesia terus menerus bergantung pada negara lain, maka ketika tiba-tiba terjadi konflik atau perselisihan paham, Indonesia akan kesulitan mendapat gandum sehingga mengganggu keadaan ekonomi produsen (yang berkaitan dengan gandum) di Indonesia.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Hasil Olahan Pangan<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Gandum sendiri merupakan bahan pangan sereal yang jumlahnya terbesar dalam penyediaan pangan pokok warga dunia. Hal tersebut karena tanaman serealia ini merupakan biji-bijian yang&nbsp; bisa diolah menjadi berbagai macam makanan yang sedap. Selain itu daya simpan gandum lebih tahan lama dibandingkan bahan pangan dari beras. Di Indonesia sendiri gandum lebih banyak diolah sebagai roti, mi instan, biskuit, dan cookies. Hasil olahan pangan dari gandum tersebut juga merupakan tren yang sedang ada di kalangan masyarakat. Sehingga banyak masyarakat yang ingin mencoba makanan dari gandum tersebut. Apalagi mi instan yang dapat diolah dengan mudah serta memiliki cita rasa yang khas dan enak dengan berbagai macam rasanya. Sehingga tidak dipungkiri masyarakat saat ini sering memakan mi instan.<br><br></div><div><strong>Refleksi Atau Kesimpulan Pribadi<br></strong><br></div><div>®&nbsp; &nbsp; &nbsp;Melihat pola konsumsi masyarakat Indonesia yang dominan mengonsumsi gandum di era sekarang ini tentu membuat beberapa pihak seperti para petani&nbsp; gandum mengalami keuntungan tinggi. Pola konsumsi gandum yang kian meningkat tentu mengakibatkan kurangnya stok gandum di Indonesia. Pabrik-pabrik besar yang membutuhkan bahan dasar gandum tentu memilih mengimpor dari negara lain. Ketergantungan impor gandum yang berkepanjangan dikhawatirkan akan merugikan. Selain dari nilai nominal yang jauh lebih tinggi, jika Indonesia secara terus-menerus mengandalkan impor gandum di Australia maka jika terjadi sebuah konflik maka pasar Indonesia akan kacau. Apalagi ada pernyataan bahwa kualitas gandum dari Australia lebih unggul dan bagus. Hal seperti itu pernah terjadi ketika hubungan diplomatik Indonesia dan Australia memburuk dan Australia menyetop ekspor daging sapi ke Indonesia sehingga pasar Indonesia sangat kacau pada masa itu dengan kenaikan harga yang tinggi. Hal itu tentu sangat dikhawatirkan pada gandum. Jika hal seperti itu sampai terjadi maka pola ekonomi apalagi produsen gandum akan sangat dirugikan. Sehingga pemerintah atau bahkan masyarakat Indonesia harus mulai menyadari mengenai pentingnya memulai produksi bahan pangan pokok. Pemerintah harus terus menggalakkan ajakan bahkan penyuluhan rutin kepada petani gandum mengenai bertani gandum serta menyiapkan berbagai alat pertanian di daerah penanaman. Selain itu, gandum yang merupakan tanaman sub-tropis diperlukan jenis varietas baru yang sesuai untuk ditanam di iklim tropis seperti Indonesia agar kualitasnya tetap unggul. Pemerintah daerah juga harus memperhatikan kesesuaian iklim daerah nya untuk ditanami gandum sesuai atau tidak. Dengan mengembangkan produksi gandum di Indonesia secara konsisten maka pasti Indonesia sanggup mencukupi kebutuhan gandum di Indonesia atau bahkan setidaknya bisa mengurangi angka impor gandum dari luar.<br><br><strong>Sumber</strong> &nbsp;<br>http://news.unair.ac.id/2020/07/16/ketergantungan-indonesia-terhadap-gandum-impor-australia/#:~:text=Sejak%202018%2C%20Indonesia%20menjadi%20negara,dunia%20(BPS%2C2019).&amp;text=Diperkirakan%20Indonesia%20akan%20membutuhkan%20sekitar,2020%20(USDA%2C%202019).<br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=3963<br>http://seafast.ipb.ac.id/kebijakan-tarif-bea-masuk-impor-gandum-untuk-mendukung-ketahanan-pangan-indonesia/<br>https://www.radarcirebon.com/2021/03/20/dewan-soroti-naiknya-impor-gandum/<br>http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1011-budidaya-gandum-di-indonesia<br>https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3269877/ladang-gandum-di-tosari-yang-kini-diburu-wisatawan<br>https://dispertan.bantenprov.go.id/lama/read/artikel/1239/Konsumsi-Gandum-di-Indonesia-Terus-Meningkat.html<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1085379625/7145c657cff8b5297b97c61658c59d15/d78f654c_999e_47e1_b20c_fa77e10046b3_43.jpeg" />
         <pubDate>2021-03-30 05:40:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1366818841</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KESIMPULAN UMUM</title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1370580874</link>
         <description><![CDATA[<div>Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia merupakan negara yang asri dengan berbagai flora dan faunanya. Indonesia juga memiliki bahan pangan yang beragam. Masyarakat Indonesia bisa memanfaatkannya sebagai makanan sehari-hari. Dari berbagai sumber daya alam itu masyarakat mendapat berbagai pekerjaan salah satunya petani. Petani menanam dan merawat berbagai jenis tanaman dan bahan pangan pokok seperti padi, gandum, kedelai, jagung, sagu, umbi-umbian, sayuran, dan buah-buahan. Namun, ternyata kekayaan sumber daya alam tersebut belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia atau kebutuhan secara nasional. Sehingga yang perlu dilakukan pemerintah tak lain dengan cara mengimpor bahan pangan dari negara lain. Seperti halnya kebutuhan gandum dan kedelai di Indonesia. Dengan kebutuhan yang tinggi, produksi hasil negara sendiri belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Dengan melakukan impor, kebutuhan masyarakat Indonesia bisa terpenuhi. Namun, melakukan impor tidak selalu menjadi solusi terbaik. Impor yang terus dilakukan akan menimbulkan ketergantungan impor. Jika sampai mengalami ketergantungan, maka suatu negara akan terus bergantung ketersediaan pangannya dari negara pengekspor. Terkadang pemerintah mencari cara mudahnya dengan mengimpor, namun sebaiknya diseimbangkan dengan meningkatkan produksi dan kualitas pangan di dalam negeri. Selain itu jika terus menerus melakukan impor, produksi dan pengusaha dalam negeri juga bisa terganggu dengan menurunnya konsumen karena kualitas impor yang lebih baik. Petan harusi terus memperhatikan kualitas pangan dari lahannya. Diluar itu pemerintah juga harus terus memberi dukungan berupa modal, perlengkapan alat pertanian, serta penyuluhan kepada para petani. Karena dikhawatirkan bila terjadi konflik dengan negara pengekspor dan perdagangan internasional dari suatu komoditi pangan akan terhentikan dan Indonesia bisa kekurangan pangan. Bahkan rantai ekonomi akan kacau karena produsen kekurangan bahan baku dari komoditi yang ada di negara pengekspor hingga produsen mengalami kerugian yang signifikan. Serta mulai saat ini Indonesia harus mulai menjadi negara yang mandiri dengan mengembangkan segala sumber daya alam dalam negeri untuk menjaga keberlangsungan rantai ekonomi. Serta masyarakat harus pintar-pintar mencari usaha dengan bahan baku yang ada di Indonesia agar bisa terus berkembang secara tidak langsung juga dapat memberikan lapangan pekerjaan baru dan mengurangi angka pengangguran.&nbsp;<br><br>Hal lain yang sebenarnya merupakan penyebab besar pula mengenai kurangnya pasokan bahan pangan pokok di Indonesia. Di era modernisasi teknologi ini semakin banyak orang mencari pekerjaan selain hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan juga menjaga image. Anak muda yang cenderung mencari pekerjaan swasta dan tidak tertarik dalam bidang pertanian membuat Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris yang subur terancam kehilangan mimpinya mewujudkan kedaulatan pangan di masa mendatang. Berdasarkan data BPS, dalam kurun 10 tahun (2003-2013), jumlah rumah tangga petani berkurang sebanyak 5 juta. Hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan keadaan pertanian di Indonesia. Oleh Bung Karno "Petani" dibuat sebagai kepanjangan dari Penjaga Tatanan Negara Indonesia. Dari kepanjangannya telah jelas berarti bahwa pekerjaan sebagai seorang petani sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Petani yang dianggap sebagai pekerjaan yang kotor, miskin, tua, bahkan tidak jelas pendapatannya. Padahal hal itu sangat salah. Seorang petani bertanggung jawab besar mengenai kesediaan pangan di Indonesia sehingga kita harus menghargainya. Image semacam itu harus diubah dan mulai membangun pola pikir bahwa seorang petani adalah pekerjaan yang sangat berjasa serta petani muda bisa menjadi pekerjaan yang keren, menguntungkan banyak pihak, serta berpenghasilan tinggi. Anak muda zaman sekarang harus mulai diberi wawasan mengenai pentingnya pertanian di pangan nasional. Pekerjaan di bidang hortikultura (budidaya tanaman kebun) juga sangat bermanfaat untuk masa depan Indonesia dalam masalah pangan nasional. <br><br>Sebagai siswa kita juga bisa berpartisipasi untuk mengembangkan produksi pangan Indonesia dengan terus belajar dan menambah wawasan mengenai pertanian dan bahan pangan Indonesia.&nbsp;Serta terus menghargai seorang petani serta jangan sampai memandang suatu pekerjaan itu buruk. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 04:42:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1370580874</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BAHAN PANGAN DI INDONESIA</title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1370713459</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Pengertian<br></strong>Bahan pangan sendiri adalah bahan yang telah dipastikan aman dan dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. <br><br><strong>Keadaan Bahan Pangan Di Indonesia<br></strong>Penduduk bumi yang kian hari kian bertambah namun bumi tetap tak berubah. Hal itu tentu membuat kebutuhan bahan pangan naik. Lahan pertanian yang dibutuhkan juga semakin banyak. Indonesia sendiri mulai mewaspadai langkanya bahan pangan di masa yang akan mendatang. Menyikapi persoalan pangan itu, Kementerian Pertanian pun sudah menyiapkan empat strategi untuk memaksimalkan produksi sektor pertanian. Pertama, melakukan ekstensifikasi pada lahan rawa. Kedua, mempersiapkan pangan lokal sebagai subsitusi makanan pokok yang selama ini mengandalkan beras. Ketiga, membentuk lumbung pangan di tiap wilayah, mulai dari desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi. Terakhir, membuat <em>food estate</em> di beberapa tempat dengan modern <em>farming</em>. Berbagai rencana telah dipikirkan untuk mengatur ketersediaan bahan pangan di Indonesia apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti ini. Indonesia masih melakukan impor bahan pangan dari berbagai negara karena ketersediaannya tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, pemerintah juga terus mengembangkan produksi bahan pangan di Indonesia agar kian membaik dan kian banyak hasil panennya. Sebagai warga negara kita juga harus memahami keadaan pangan di negeri sendiri.&nbsp; Pemerintah harus selalu memperhatikan ketersediaan pangan agar Indonesia tidak akan mengalami krisis pangan. Pemerintah dianggap perlu untuk memetakan potensi-potensi pertanian yang ada, melakukan stabilisasi harga pangan, melakukan konsolidasi terkait lahan pertanian, dan juga membuat regulasi-regulasi yang berkaitan dengan permasalahan pangan yang ada. Masyarakat juga bisa mendirikan berbagai jenis usaha baru dengan kreatif dan berkreasi sesuai dengan situasi yang ada untuk menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. <br><br><strong>Sumber <br></strong>https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/mengawal-ketersediaan-pangan-nasional&nbsp;<br>https://www.umy.ac.id/ketahanan-pangan-indonesia-di-masa-pandemi.html<br>https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&amp;act=view&amp;id=2257<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 05:56:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1370713459</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PRODUKSI PANGAN DI INDONESIA</title>
         <author>kazaibhuvanakey</author>
         <link>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1370840654</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Persebaran Di Indonesia</strong><br>GANDUM</div><div>Ø&nbsp; Ladang Gandum di Tosari</div><div>-&gt; Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, terdapat ladang gandum seluas 4 hektare. Selain menghasilkan hasil panen gandum yang berkualitas, lading gandum ini juga diburu wisatawan untuk berfoto. Di lahan itu, ada tanaman gandum yang masih muda dan ada pula yang sudah tua, sehingga menambah keindahan lahan. Hasil panen gandum itu kemudian dicek oleh salah satu laboratorium dan ternyata memenuhi standart. Bahkan tanah di Tosari kadar keasaman dan suhunya hampir sama dengan yang ada di Australia.&nbsp;</div><div>Ø&nbsp; Ladang Budidaya Gandum di NTT dan Papua</div><div>-&gt; Dikembangkannya lading budidaya gandum di Indonesia bagian Timur seperti NTT dan Papua adalah untuk memenuhi kebutuhan gandum di Indonesia. Prospek pertanaman gandum cukup baik karena beberapa wilayah di Indonesia cocok untuk pengembangan gandum mulai dari dataran tinggi sampai sedang, pada daerah tertentu, seperti NTT dan sebagian Papua yang memiliki iklim mikro yang cocok untuk pertanaman gandum.&nbsp;<br><br></div><div>KEDELAI</div><div>Ø&nbsp; Ladang kedelai tersebar di seluruh Indonesia. Sentra produksi kedelai di Indonesia menyebar di 6 provinsi, diurut berdasarkan yang tertinggi produksi kedelainya adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan. Rata-rata produktivitas kedelai nasional adalah 1,60 ton/ha, dan terdapat 6 provinsi yang mempunyai produktivitas di atas rata-rata nasional yaitu Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Barat.&nbsp; Tabel 1 adalah urutan 10 provinsi berdasarkan luas panen tertinggi.&nbsp;<br><br></div><div>JAGUNG&nbsp;</div><div>Ø&nbsp; Sentra produksi jagung di Indonesia berada di 10 provinsi berdasarkan luas panen dan produksinya yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Jawa Barat. Berdasarkan data BPS 2016 luas areal tanam tertinggi berada di Provinsi Jawa Timur. Di Indonesia komoditas jagung ditentukan oleh perkembangan sistem komoditas jagung dunia, baik produksi dan konsumsi maupun evolusi kelembagaan. Pasar jagung dalam negeri ternyata terintegrasi cukup kuat dengan pasar internasional, yang antara lain terjadi melalui kemitraan sektor swasta dan petani dalam memproduksi jagung hibdrida.<br><br></div><div>SAGU</div><div>Ø&nbsp; Ladang Sagu Di Indonesia Timur</div><div>-&gt; Ladang sagu terbesar ada di Indonesia Timur yaitu Papua dan Papua Barat. Bahkan&nbsp; luas lahan sagu di Papua yang mencapai 5,2 juta ha, potensi tepung sagu yang bisa dihasilkan bisa mencapai 15,6 juta ton tepung sagu per tahun. Flach (1983) memperkirakan luas hutan sagu di Papua mencapai 980.000 ha dan kebun sagu 14.000 ha, yang tersebar pada beberapa daerah, yaitu Salawati, Teminabuan, Bintuni, Mimika, Merauke, Wasior, Serui, Waropen, Membramo, Sarmi, dan Sentan.&nbsp;</div><div>Ø&nbsp; Selain Di Papua</div><div>-&gt; Selain di Papua budidaya sagu juga ada di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, dan Kepulauan Mentawai. Memang, mayoritas pohon sagu ada di Papua dengan luasan lahan 1,20 juta hektare (ha).<br><br></div><div><strong>Sumber</strong><br>https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3269877/ladang-gandum-di-tosari-yang-kini-diburu-wisatawan<br>https://indonesia.go.id/ragam/komoditas/ekonomi/keunikan-pertanian-di-papua<br>https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/pangan/9893-Melongok-Budidaya-Gandum-di-NTT-dan-Papua<br>http://inaagrimap.litbang.pertanian.go.id/index.php/sentra-produksi/tanaman-pangan/kedelai<br>http://inaagrimap.litbang.pertanian.go.id/index.php/sentra-produksi/tanaman-pangan/jagung<br>https://www.beritasatu.com/ekonomi/338227/selain-di-papua-pohon-sagu-juga-ada-di-enam-daerah-ini</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 06:58:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kazaibhuvanakey/lpq5do9wzwj52isx/wish/1370840654</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
