<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Paramaters for herbal standardization by hertiani hertiani</title>
      <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy</link>
      <description>Can you differentiate the specific and non-specific parameters for herbal quality assurance?</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-11-03 22:43:06 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-02-19 04:49:13 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Organoleptik</title>
         <author>putuwedadharma</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866060918</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi saya Putu Weda Dharma Putra (19/438768/FA/12090) izin menjawab salah satu parameter spesifik dalam standrisasi herbal adalah organoleptik yang mana merupakan cara pengujian yang menggunakan indera-indera manusia sebagai alat utama dalam standarisasi suatu produk</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 00:13:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866060918</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Susut Pengeringan &amp; Bobot Jenis</title>
         <author>qhifanizhaqila</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866135014</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi bu saya Qhifani Zhaqila (19/440738/FA/12115) izin menjawab salah dua parameter non spesifik dalam standarisasi herbal adalah pengujian susut pengeringan dan pengujian bobot jenis. Susut pengeringan berhubungan dengan kandungan air dalam suatu bahan alam atau simplisia. Prinsip dari pengujian susut pengeringan sendiri adalah mengukur sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105 derajat celcius selama 30 menit atau sampai berat konstan yang dinyatakan dalam persen. Penetapan susut pengeringan bertujuan untuk memberikan gambaran rentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan. Selain itu parameter non spesifik lainnya adalah bobot jenis. Bobot jenis terkait dengan kontaminasi atau kemurnian ekstrak. Tujuan dari penentuan bobot jenis adalah untuk memberikan gambaran besarnya massa per satuan volume sebagai parameter khusus ekstrak cair sampai ekstrak pekat yang masih dapat dituang. Bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan kontaminasi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 00:52:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866135014</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Extractives materials in specific solvents</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866144170</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Natasya Azzura D. (19/438764/FA/12086), izin memberikan pendapat. Parameter ini dapat diketahui dengan cara melarutkan ekstrak dengan pelarut tertentu (alkohol, air dan juga pelarut organik lainnya) untuk ditentukan jumlah solut yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara gravimetri. Paramater ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan. Untuk cara lebih jelasnya, akan saya sambung di kolom komentar. Itu saya pendapat dari saya. Mohon koreksinya jika ada kekrangan . terima kasih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 00:56:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866144170</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Cemaran Logam Berat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866226729</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Rizky Adhitya Dwi Kurniawan (19/441579/FA/12196) izin berpendapat terkait Parameter Non Spesifik. Salah satu parameter non spesifik adalah cemaran logam berat, seperti As<sup>3+</sup>, Bi<sup>3+</sup>, Hg<sup>2+</sup>, Cd<sup>2+</sup>, Sn<sup>2+</sup>, Sn<sup>4+</sup>, Sb<sup>3+</sup>, Pb<sup>2+</sup>, dan Cu<sup>2+</sup>. Logam berat itu sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk unsur-unsur transisi yang mempunyai massa jenis atom lebih besar dari 6 g/cm<sup>3</sup>. Jika kadarnya melebihi batas, hal ini tentunya akan menimbulkan efek berbahaya (toksik) bagi kesehatan. Pada parameter non spesifik cemaran logam berat terdapat 4 metode terkait dengan pengujian ada tidaknya cemaran logam berat. <em>Metode I</em> adalah untuk zat yang pada kondisi penetapan memberikan larutan yang jernih dan tidak berwarna dengan penambahan ion sulfida; <em>Metode II</em> adalah untuk zat yang pada kondisi penetapan memberikan larutan yang jernih dan tidak berwarna dengan penambahan tioasetamida; <em>Metode III</em> adalah untuk zat yang dengan metode I tidak menghasilkan larutan jernih dan tidak berwarna, atau adanya gangguan pengendapan logam oleh ion sulfida; dan <em>Metode IV</em> adalah untuk zat yang dengan metode I dan III yang tidak dapat ditetapkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 01:35:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866226729</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kadar Abu</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866247583</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Regita Anggraeni (19/438770/FA/12092), izin menjawab salah satu parameter non spesifik dalam standardisasi herbal yaitu kadar abu. Penentuan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak guna mengetahui kemurnian ekstrak. Berdasarkan jurnal yang saya baca, kadar abu hendaknya mempunyai nilai kecil karena parameter ini menunjukkan adanya cemaran logam berat yang tahan pada suhu tinggi. Prinsip penentuan kadar abu yaitu ekstrak dipanaskan hingga senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sampai hanya tersisa unsur mineral dan anorganik saja sedangkan untuk penetapan kadar abu yang tidak larut asam dimaksudkan untuk mengevaluasi ekstrak terhadap kontaminasi bahan-bahan yang mengandung silika seperti tanah dan pasir.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 01:44:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866247583</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kadar Air</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866248652</link>
         <description><![CDATA[<div>Perkenalkan saya Rizal Golant Nugroho (19/438772/FA/12094), salah satu parameter non spesifik adalah Kandungan Air. Adanya air dalam ekstrak dapat menjadi tempat pertumbuhan mikroba, meningkatkan resiko kontaminasi senyawa-senyawa berbahaya, serta menjadi katalis bagi enzim-enzim yang mampu bereaksi dengan senyawa dalam ekstrak. Kadar air dapat ditentukan melalui beberapa metode antara lain secara gravimetri, titimetri (Karl-Fischer), dan Destilasi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 01:45:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866248652</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mold Count</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866261969</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya, Danar Adi Sasongko (19/439929/FA/12107), izin memberikan pendapat, salah satu parameter non spesifik dalam standarusasi herbal adalah mold count, mold atau kapang merupakan salah satu jamur yang dapat menyebabkan perubahan warna, kehilangan bobot, dan kontaminasi mikotoksin, uji mold count dapat dianalisis dengan metode pour plate dengan menghitung angka kapang khamir</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 01:50:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866261969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Residu Pestisida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866298834</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi Bu, saya Yulita Kirana Dewi (19/440740/FA/12117), izin menyampaikan pendapat mengenai salah satu parameter non spesifik dalam standarisasi herbal yaitu residu pestisida. Hal ini dilakukan dengan menentukan kandungan sisa pestisida yang mungkin saja pernah ditambahkan atau mengkontaminasi pada bahan simplisia pembuatan ekstrak. Parameter ini bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung pestisida melebihi nilai yang ditetapkan karena berbahaya/toksik bagi kesehatan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 02:07:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866298834</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Identitas Ekstrak</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866388675</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Bayu Anggoro (19/444873/FA/12231)<br>Izin berpendapat. Parameter spesifik lainnya yiatu&nbsp; identitas ekstrak meliputi deskripsi tata nama tumbuhan, nama lain tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan (daun, akar, biji, dan lainlain) dan nama Indonesia tumbuhan.&nbsp;<br><br>Hal ini sangat penting dalam standarisasi herbal. Identitas simplisia merupakan karakteristik secara spesifik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 02:47:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866388675</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kadar Antrakuinon Total</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866394936</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi, Bu Triana dan teman-teman. Saya, Nissi Esli (19/438765/FA/12087) izin berpendapat mengenai salah satu parameter spesifik, yaitu kadar total golongan kandungan kimia, yaitu antrakuinon.&nbsp;<br>Antrakuinon dapat berasal dari akar kelembak yang dapat berguna sebagai obat konstipasi. Antrakuinon dapat diekstraksi secara maserasi dengan air panas, lalu ditambahkan benzena sehingga terbentuk lapisan air dan benzena. Lapisan air dapat ditambahkan FeCl3 5% dan HCL lalu direfluks selama 10 menit, kemudian ditambahkan benzena lagi. Lapisan benzena diuapkan kemudian residu ditambahkan KOH 5% dalam metanol. KOH dapat bereaksi dengan antrakuinon menyebabkan perubahan warna dari coklat menjadi merah sehingga sering dijadikan bahan untuk uji mikrokimiawi. Setelah itu dibaca absorbansinya pada 515 nm.&nbsp;Terima kasih<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 02:50:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866394936</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kandungan kimia ekstrak</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866403975</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi, saya Firda Aulia Prabaswara (19/441536/FA/12153) izin menjawab salah satu parameter spesifik yaitu uji kandungan kimia ekstrak. Kadar kandungan kimia yang dihitung dapat berupa kadar total golongan senyawa kimia atau kadar senyawa tertentu. Pengujian dengan teknik kromatografi memberikan informasi terkait identitas senyawa yang terkandung dalam bahan tanaman baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengujian ini juga penting pada tanaman yang mengandung berbagai macam zat aktif. Kromatogram dapat diperoleh secara TLC, HPLC, atau GC.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 02:55:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866403975</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866415606</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi,Ibu. Saya Diah Dinar Tridanti (19/444882/FA/12240) izin menambahkan gambar alat dan proses terkait parameter susut pengeringan</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1438935265/3746bd60881bb59e9a909dcde8f9df88/48D62B94_74B5_48D1_8AA7_8F7259A900F8.jpeg" />
         <pubDate>2021-11-04 03:01:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866415606</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penetapan Bobot Jenis</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866417723</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat siang Bu, saya Dhella Angelina Nurjanah (19/444881/FA/12239) mencoba untuk menjawab bahwa salah satu hal yang termasuk parameter non spesifik dalam standarisasi herbal adalah Penetapan Bobot Jenis. Penentuan bobot jenis ini bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan kimia yang terlarut pada suatu ekstrak (Depkes RI, 2000). Penentuan bobot jenis ekstrak dilakukan dengan menggunakan piknometer. Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak telah diencerkan, yaitu 5% menggunakan etanol 70% sebagai pelarut atau bisa juga ekstrak yang diencerkan dengan pelarut lain.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 03:02:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866417723</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rumus Perhitungan Kadar Abu Total</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866435424</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat siang Ibu, Regita, dan Vhelsy, saya Surya Assyifa Tjahjanaputri (19/440739/FA/12116), izin menambahkan rumus perhitungan untuk menghitung kadar abu total. Berikut saya lampirkan foto rumus perhitungan yang saya dapatkan. Terima kasih.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426240366/4e8bb100760c21a5652ebd6a3f63947a/WhatsApp_Image_2021_11_04_at_10_04_42.jpeg" />
         <pubDate>2021-11-04 03:11:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866435424</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rumus Perhitungan Kadar Abu Tak Larut Asam</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866436061</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi Ibu, saya Siti Nashwa Heryatman (19/438776/FA/12098) izin menambahkan rumus perhitungan abu tak larut asam pada gambar berikut. Terimakasih bu.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1438948257/f2cc7259346b2addbf51466dee29b6ef/WhatsApp_Image_2021_11_04_at_10_05_05_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-11-04 03:11:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866436061</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cemaran logam berat</title>
         <author>coretanerka</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866495508</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi ibu Triana dan teman teman. Saya Fadhilah Rachmawati K (19/441528/FA/12145) dari B2019 izin menambahkan informasi terkait parameter non spesifik pada standarisasi herbal yaitu cemaran herbal seperti yang telah disampaikan oleh Rizky Dwi K. Sesuai Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan No 13 tahun 2014 batas cemaran logam berat dalam obat herbal adalah sebesar 0,3 mg/Kg untuk kadmium (Cd) dan 10 mg/Kg untuk timbal (Pb). Dikutip dari jurnal penelitian lain bahwa syarat yang ditetapkan oleh SNI dan BPOM yaitu sebesar 0,3 ppm untuk Cd, 0,05 ppm untuk Hg, 10 ppm untuk Pb dan 40 ppm untuk Sn (Herly, 2015).<br><br>Herly, L. (2015). Analisis kandungan logam As, Cd, dan Pb dalam minyak sumbawa A, B, C, D. Jurnal Ilmiah Mahasiswa. 4 (1), 1-14.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 03:42:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866495508</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sisa Pelarut</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866579754</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Salsabila Yusfita (19/444934/FA/12292) izin menjawab. Salah satu contoh parameter non spesifik adalah sisa pelarut. Prinsip dari parameter sisa pelarut adalah menentukan kandungan sisa pelarut tertentu (yang memang ditambahkan) yang secara umum dilakukan dengan kromatografi gas (Depkes RI, 2000). Tujuan dari parameter sisa pelarut adalah memberikan jaminan bahwa selama proses tidak meninggalkan sisa pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada (Depkes RI, 2000). Parameter sisa pelarut bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu destilasi (penetapan kadar etanol) dan kromatografi gas-cair. Terima kasih.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 04:38:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866579754</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Profil Kromatogram </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866596210</link>
         <description><![CDATA[<div>Imania Afidatus Syaifabila (19/441547/FA/12164). Pengujian profil kromatogram menggunakan KLT dengan cara&nbsp;ekstrak etanol simplisia ditotolkan pada lempeng silica, selanjutnya dielusi dengan fase gerak yang cocok dengan perbandingan tertentu. Hasil penampakan noda dapat dilihat melalui lampu UV 254 nm, 366 nm dan juga dapat menggunakan pereaksi semprot&nbsp; H2SO4 kemudian dihitung nilai Rf (Depkes, 1989).&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 04:50:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866596210</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Saya Fauzian Sekar Indrasyah (19/444892/FA/12250) </title>
         <author>fauziansekar</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866597942</link>
         <description><![CDATA[<div>Parameter spesifik dalam standarisasi herbal yaitu seperti kelarutan herbal, kandungan senyawa aktif pada herbal, kualitas herbal yang mana akan memengaruhi hasil produksi produk obat atau lainnya </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 04:51:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866597942</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pola Kromatogram Kandungan Kimia  Ekstrak</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866609275</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Naufaldy Yumna Ganinda (19/441566/FA/12183) terkait dengan polar kromatogram senyawa kandungan kimia ekstrak dimana pada suatu ekstrak tertentu memiliki bermacam-macam senyawa seperti minyak atsiri, kurkumin, flavanoid, dll. setiap senyawa yang berbeda memiliki kromatogram yang berbeda sehingga memerlukan marker untuk mengetahui senyawa tersebut. Kromatogram identik dengan waktu retensi  atau Rf dimana apabila suatu senyawa memiliki waktu retensi  atau Rf yang mirip dengan marker, kemungkinan besar senyawa tersebut memiliki struktur yang sama. hal ini perlu menjadi perhatian terkait bagaimana kita mengidentifikasi senyawa apa saja yang terkandung dalam ekstrak tersebut dan senyawa apa yang ingin diisolasi. Memberikan gambaran senyawa apa saja yang terkandung didalam suatu ekstrak tertentu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 04:59:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866609275</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kadar Abu Tidak Larut Asam</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866612149</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Siska Purnama Sari (19/444937/FA/12295) izin menjawab salah satu parameter non spesifik yaitu penetapan kadar abu tidak larut asam. Penetapan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar abu yang diperoleh dari faktor eksternal, berasal dari pengotor dari pasir atau tanah. Kadar abu tidak larut asam dimaksudkan untuk mengevaluasi ekstrak dari kontaminasi tanah dan pasir.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:01:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866612149</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Metode yang digunakan untuk Parameter Kadar Air</title>
         <author>christopherfilando</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866614571</link>
         <description><![CDATA[<div>selamat siang Bu, saya Christopher Filando (19/444877/FA/12235) izin memberi pendapat mengenai metode untuk parameter kadar air dapat digunakan destilasi toluen dengan cara:<br>•Jenuhkan toluen dengan air, kocok, diamkan dan buang lapisan airnya</div><div>•Sebanyak 10 g ekstrak masukkan ke dalam labu alas bulat dan tambahkan toluen yg telah jenuh air</div><div>•Labu dipanaskan selama 100 menit, setelah toluen&nbsp;</div><div>mendidih, penyulingan diatur 2 tetes/detik, lalu 4 tetes/detik. Setelah semua toluen mendidih, dilanjutkan pemanasan selama 5 menit. Kemudian, dinginkan tabung sampai temperatur kamar.&nbsp;</div><div>•Setelah air dan toluen memisah sempurna, volume air dibaca dan dihitung kadar air dalam persen thd berat ekstrak awal. Replikasi 3 kali</div><div>•kemudian dihutung persen kadar air dengan rumus<br>%kadar air : (V/W) x 100%</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:03:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866614571</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syahrul Meidika Indrawan (19/444939/FA/12297)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866616566</link>
         <description><![CDATA[<div>Parameter spesifik dalam suatu bahan alam adalah senyawa terlarut dalam pelarut tertentu. hal tersebut menjelaskan bahwa melarutkan simplisia dengan pelarut tertentu misalnya air dan alkohol yang mana untuk mengetahui jumlah senyawa kandungan yang terlarut secara gravimetri. Untuk mengetahui atau memberikan gambaran awal sifat senyawa kandungan bahan alam.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:04:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866616566</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Parameter Cemaran Aflatoxin</title>
         <author>ardriangilang</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866624373</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Ardrian Gilang Pradesta (19/438737/FA/12059) dari kelas A-2019 izin menambahkan mengenai parameter cemaran, yaitu parameter cemaran aflatoxin. Parameter cemaran aflatoksin merupakan parameter yang menetukan adanya aflatoksin dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tujuan dari parameter ini adalah memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung cemaran jamur melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan aflotoksin yang berbahaya bagi kesehatan.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:10:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866624373</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Susut Pengeringan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866626981</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Siska Purnama Sari (19/444937/FA/12295) izin menjawab salah satu parameter non spesifik yaitu susut pengeringan. Parameter susut pengeringan&nbsp;adalah pengukuran sisa ekstrak setelah&nbsp;dilakukan pengeringan pada suhu 105oC&nbsp;selama 30 menit atau sampai berat konstan&nbsp;yang dinyatakan sebagai nilai persen. Dalam&nbsp;hal khusus (jika bahan tidak mengandung&nbsp;minyak menguap/atsiri dan sisa pelarut&nbsp;organik menguap) identik dengan kadar air.&nbsp;Nilai susut pengeringan sama dengan nilai&nbsp;<br>rentang kadar air yang diperbolehkan terkait&nbsp;dengan kemurnian dan kontaminasi.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:12:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866626981</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Makroskopis dan Mikroskopis</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866640709</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Nabila Az-Zahra Firdaus (19/444917/FA/12275) dari kelas C 2019 ijin berpendapat.<br><br>Uji Makroskopik dan Mikroskopis diperlukan untuk penetapan identitas dan tingkat kemurnian bahan tersebut, dan harus dilakukan sebelum pengujian lebih lanjut dilakukan.<br><br>Bila memungkinkan, spesimen otentik dari bahan yang bersangkutan dan sampel kualitas farmakope harus tersedia sebagai referensi. Pengamatan visual merupakan cara paling sederhana dan tercepat untuk menetapkan identitas, kemurnian, dan, mungkin, kualitas. Apabila suatu sampel ditemukan berbeda nyata dalam hal warna, konsistensi, bau atau rasa dari spesifikasi, maka dianggap tidak memenuhi persyaratan.<br><br>Selain itu, pemeriksaan mikroskopis bahan tanaman obat sangat diperlukan untuk mengidentifikasi bahan yang rusak atau bubuk; spesimen mungkin harus diperlakukan dengan regent kimia. Pemeriksaan dengan mikroskop saja tidak selalu dapat memberikan identifikasi yang lengkap, meskipun, bila digunakan dalam kaitannya dengan metode analisis lainnya, seringkali dapat memberikan bukti pendukung yang sangat berharga.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:21:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866640709</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kontaminasi Mikroba</title>
         <author>auliaayua08</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866643177</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat siang Ibu, saya Aulia Ayu Asyifa (19/444870/FA/12228) izin menyampaikan parameter nonspeifik dari standarisasi herbal yaitu Kontaminasi Mikroba. Suatu produk bahan alam tidak diperbolehkan mengandung cemaran patogen, seperti&nbsp; <em>Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Clostridia sp., Shigella sp., dan Salmonella sp. </em>Uji cemaran mikroba dilakakukan dengan pengujian ALT dan AKK. Pada Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 12 tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, obat herbal disyaratkan:</div><ul><li>&nbsp;Angka Lempeng Total : ≤ 104 koloni/g</li><li>Angka Kapang Khamir : ≤ 103 koloni/g</li><li>Eschericia coli : negatif/g&nbsp;</li><li>Salmonella spp : negatif/g&nbsp;</li><li>Shigella spp : negatif/g&nbsp;</li><li>Pseudomonas aeruginosa : negatif/g</li><li>Staphylococcus aureus : negatif/g&nbsp;</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 05:23:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1866643177</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alat Piknometer</title>
         <author>lawiningrumm</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1867112476</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Listia Ayu Winingrum (19/441552/FA/12169) izin menambahkan gambar alat piknometer tekait penetapan bobot jenis. Piknometer adalah alat yang biasa digunakan untuk pengukuran nilai bobot jenis atau densitas dari suatu fluida. Piknometer terbuat dari bahan kaca dan berbentuk seperti botol parfum. Piknometer terdiri dari 3 bagian, yaitu:<br>1. Tutup piknometer, berfungsi untuk mempertahankan suhu di dalam piknometer<br>2. Lubang piknometer, berfungsi untuk tempat masuk keluarnya sampel<br>3. Tabung atau gelas ukur, berfungsi untuk mengukur volume cairan yang dimasukan dalam piknometer<br><br>Adapun cara menggunakan piknometer sebagai berikut:<br>1. Alat piknometer ada yang bervolume 25 ml dan 50 ml, sehingga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan volume sampel yang digunakan<br>2. Dilakukan penimbangan piknometer dalam keadaan kosong<br>3. Dimasukkan sampel cairan ke dalam piknometer yang ingin diukur massa jenisnya<br>4. Pastikan volume sampel cairan sudah pas kemudian piknometer ditutup<br>5. Ditimbang piknometer yang sudah berisi sampel cairan<br>6. Dihitung massa fluida/sampel cairan yang dimasukkan dengan cara mengurangkan massa pikno berisi sampel cairan dengan massa pikno yang kosong.<br>7. Setelah diperoleh data massa dan volume fluida, kemudian dapat ditentukan masssa jenis (ρ) fluida dengan persamaan: <br>rho (ρ) = m/V<br>keterangan:<br>ρ = g/cm<sup>3</sup><br>m =&nbsp;(massa piknomoeter + fluida) - (massa pikno kosong) (gram)<br>V : volume fluida (cm<sup>3</sup>)<br>8. Membersihkan dan mengeringkan piknometer setelah dipakai.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426353898/262e21623f0f16c9aee2b68cd2bf67b7/IMG_20211104_171532.jpg" />
         <pubDate>2021-11-04 10:47:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1867112476</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syarat standar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1867824973</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Rikka Nur Azizah (19/444932/FA/12290) izin menambahkan terkait batas nilai kadar abu yang disyaratkan oleh Depkes dalam Farmakope Herbal Indonesia, untuk parameter kadar abu total harus tidak lebih dari 16,6%, kemudian batas kadar abu tidak larut asam adalah tidak boleh lebih dari 0,7%.</div><div>Tambahan lagi terkait kadar abu tidak larut asam, parameter ini juga penting dalam uji makanan. Fungsinya adalah mengetahui <em>digestibility </em>(tingkat absorpsi) dalam saluran cerna dari kandungan bahan apabila dikonsumsi secara per oral.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-04 15:52:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1867824973</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Kandungan Kimia Simplisia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1870163341</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Jefriyanto (19/438755/FA/12077), izin menambahkan dalam parameter spesifik termasuk juga uji kandungan kimia simplisia.&nbsp; Uji kandungan kimia ekstrak meliputi pola kromatogram dan kandungan kimia tertentu. Pola kromatogram bertujuan untuk memberikan gambaran awal profil kromatografi suatu senyawa (komposisi kandungan kimia) dengan dibandingkan dengan senyawa baku atau standar. Sedangkan kadar kandungan kimia tertentu dapat berupa senyawa aktif yang bertanggung jawab dalam memberikan efek farmakologis, senyawa identitas yaitu senyawa yang khas, unik, eksklusif, yang terdapat pada tumbuhan obat tertentu, senyawa major yaitu senyawa yang paling banyak secara kuantitatif dalam tumbuhan dan senyawa aktual yaitu senyawa apapun yang terdapat dalam bahan yang dianalisis.&nbsp;<br>&nbsp;<br>Misalnya dari jurnal yang saya dapat yang diteliti oleh (Rustam, 2018) menganalisis parameter spesifik kandungan dalam biji kemiri menggunakan sistem KLT.&nbsp; Profil kromatografi lapis tipis dari simplisia inti biji kemiri dibuat dengan membandingkan larutan uji simplisia dengan baku skopoletin. Baku skopoletin dan simplisia dari daerah Luwu, Maros, dan Sinjai ditotol dalam satu lempeng silica gel GF254 dan dielusi dengan eluen heksan:etil:asam asetat glasial dengan perbandingan 3 : 6,5 : 0,5 mL. Bercak yang muncul pada ketiga sampel dari tiga daerah yang berbeda sejajar dan memiliki nilai Rf yang sama dengan bercak yang muncul pada baku skopoletin yaitu 0,6. Metode visualisasi yang digunakan yaitu pada sinar tampak atau visible dan sinar UV.&nbsp; Dari profil KLT simplisia inti biji kemiri, bercak yang muncul pada pengamatan di bawah UV 366 berwarna biru, hal ini sejalan dengan pustaka yang mengatakan bahwa penampakan skopoletin di bawah UV 366 yaitu bercak berwarna biru (gambar tertera di atas).&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1427877896/bbffaae22fbc5b764dd7a0e26e75dfa3/Screenshot_2021_11_05_215248.png" />
         <pubDate>2021-11-05 14:54:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1870163341</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cemaran Mikroba meliputi : Angka Lempeng Total (ALT) dan Identifikasi Mikroba Patogen</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1870190397</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Jefriyanto (19/438755/FA/12077), izin menambahkan dari cara menentukan ALT dan identifikasi mikroba patogen dalam parameter non spesifik dari jurnal yang saya dapatkan, sebagai berikut :<br>&nbsp;a.) Uji angka lempeng total <br>Cara kerja : Sebanyak 500 mg ekstrak dimasukkan secara aseptik ke dalam tabung dan ditambah 4,5 mL larutan NaCl 0,9 % steril (pengenceran 10 kali) campur homogen, selanjutnya dilakukan pengenceran 1 : 10, 1 : 100, 1 : 1000, 1 : 10000 dengan NaCl 0,9 % steril. Diambil 100 µl tuangkan pada media Mueller Hinton untuk masing-masing pengenceran. Kemudian ratakan dengan spreader berulang-ulang hingga cairan merata pada petri. Diinkubasi pada suhu 37°C selama 18-24 jam. Dihitung jumlah koloni bakteri pada masing-masing petri pada berbagai pengenceran. <br><br>b.) Identifikasi Mikroba Patogen <br>Cara kerja : Sedikit ekstrak ditambah NaCl 0,9% steril kemudian dihomogenkan dengan stomacher (230 rpm 30 detik), sebanyak satu ml diinokulasikan ke dalam media penyubur (EC Broth untuk Escherichia coli, RappaportVassiliadis Broth untuk Salmonela sp., Geolity untuk Staphylococcus aureus) dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Kemudian digoreskan pada media selektif (TBX agar untuk Escherichia coli, Salmonella Shigella agar untuk Salmonela sp., Baird Parker agar untuk Staphylococcus aureus). Diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam, lihat pertumbuhan koloni bakteri bandingkan dengan kontrol. <br><br>Pada jurnal tersebut melakukan standarisasi terhadap&nbsp; Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (<em>Averrhoa bilimbi</em> L.) oleh (Zainab, dkk., 2016).&nbsp; Menurut hasil jurnal tersebut,&nbsp; uji angka lempeng total merupakan metode kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba pada suatu sampel. Metode yang digunakan adalah metode cawan sebar, didapatkan hasil jumlah bakteri &lt;10 CFU/ml. Hasil pengamatan uji angka lempeng total. Pada identifikasi S. aureus digunakan media Baird Parker adanya koloni S. aureus&nbsp; ditandai dengan koloni warna hitam seperti pada kontrol positif sedangkan untuk sampel ekstrak tidak ditemukan koloni warna hitam seperti yang ditunjukkan pada gambar 4 (di atas) artinya tidak terdapat bakteri patogen dan jumlah cemaran bakteri &lt;10 CFU/g  sehingga&nbsp; memenuhi persyaratan berdasarkan Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1427877896/8a1fcd696f24f66209f872f85149d24f/Screenshot_2021_11_05_220357.png" />
         <pubDate>2021-11-05 15:05:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1870190397</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kadar total golongan kandungan kimia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1871213337</link>
         <description><![CDATA[<div>saya Hendrik Purnama (18/429556/FA/11821), izin menambahkan parameter spesifik yang diperlukan untuk standarisasi herbal adalah kadar total golongan kandungan kimia yang tergantung pada jenis simplisia yang digunakan pula. Ada simplisia yang golongan kandungan senyawa marker nya adalah golongan minyak atsiri, ada yang merupakan golongan flavonoid, ada juga yang senyawa marker nya merupakan golongan tanin, antrakuinon maupun alkaloid.&nbsp;<br>tidak selalu satu tanaman memiliki semua jenis golongan senyawa kimia dan tidak selalu satu tanaman hanya memiliki satu jenis golongan senyawa kimia.&nbsp;<br>Namun, pada umumnya memang dipilih hanya satu atau dua senyawa penanda/marker saja, seperti untuk pembuatan perbandingan kromatogram dengan senyawa bakunya.<br><br>Mungkin teman-teman yang lain dapat menambahkan metode perhitungan kadar flavonoid total, kadar tanin total, kadar fenol dan tanin total, kadar tanin terkondensasi, kadar antrakuinon total seperti yang sudah dituliskan oleh Nissi dan Efraim, dan kadar alkaloid total</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-06 05:25:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1871213337</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mold Count (Uji Kapang Khamir)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1872184229</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya, Fasya Yasmin Az Zahra Kuntoro (19/441532/FA/12149) dari Kelas B 2019 izin menambahkan mengenai Mold Count atau Uji kapang Khamir. Angka Kapang/Khamir menunjukkan adanya cemaran kapang/khamir dalam sediaan yang diperiksa setelah cuplikan diinokulasi pada media lempeng yang sesuai dan diinkubasi pada suhu 20-25 C, diamati mulai hari ketiga sampai hari kelima (Depkes RI, 2000). Untuk menghasilkan simplisia yang berkualitas baik, maka proses pemanenan dan pembuatannya harus dikontrol dengan baik mengikuti cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Angka kapang atau khamir dapat digunakan sebagai petunjuk sampai tingkat berapa bulan dalam pembuatan obat tradisional tersebut melaksanakan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Semakin kecil AKK bagi setiap produk jamu yang dihasilkan menunjukkan semakin tinggi nilai penerapan CPOTB dalam proses pembuatan jamu tersebut. Persyaratan AKK bagi sediaan berbentuk rajangan dan serbuk berdasarkan Kepmenkes No. 661/Menkes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional (Anonim, 1994) adalah tidak lebih dari 10 koloni/gram, sedangkan persyaratan jumlah AKK untuk sediaan ekstrak berdasarkan monografi ekstrak tumbuhan Indonesia (ANonim, 2004) adalah tidak lebih dari 10 koloni/gram.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426356535/4a21a979b6fe89671be772111dffe4fd/71IWqvx_nPL__AC_SL1500_.jpg" />
         <pubDate>2021-11-07 02:42:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1872184229</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kadar Tanin Terkondensasi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1874447651</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Nasekha Anggita A ( 19/438763/FA/12085 ) izin menambahkan terkait kadar tanin yg akan diidentifikasi. Disebutkan di atas bahwa kadar tanin yg diidentifikasi adalah tanin total dan tanin terkondensasi. Mengapa ada 2 jenis dan dispesifikasikan menjadi tanin terkondensasi karena sejatinya ada 2 jenis tanin yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Tanin yang mudah terhidrolisis merupakan polimer gallic dan ellagic acid yang berikatan ester dengan sebuah molekul gula, sedangkan tanin terkondensasi merupakan polimer senyawa flavonoid dengan ikatan karbon-karbon berupa cathecin dan gallocathecin (Patra dan Saxena, 2010). Diketahui, tanin terkondensasi memiliki efek toksik yang lebih rendah dibandingkan dengan tanin terhidrolisis (Beauchemin et al., 2008) sehingga jika sudah terkonfirmasi bahwa tanin adalah tanin terkondensasi maka dipastikan toksisitasnya lebih rendah.&nbsp; Identifikasi kandungan tanin dapat dilakukan dengan KLT untuk menentukan jenis tanin yg terkandung dalam ekstrak.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-08 08:11:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1874447651</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rumus Perhitungan Susut Pengeringan</title>
         <author>vincentfa1</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1875066154</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Vincent (19/441597/FA/12214), ijin menambahkan rumus perhitungan analisis parameter non spesifik berupa susut pengeringan, terimakasih.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426364929/97f98a49bd549f3eb893e376cee84882/rumus_susut_pengeringan.JPG" />
         <pubDate>2021-11-08 13:45:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1875066154</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rumus dan Contoh Perhitungan Koloni Kapang Khamir</title>
         <author>vincentfa1</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1875099629</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Vincent (19/441597/FA/12214), izin menambahkan rumus perhitungan koloni kapang khamir, terimakasih</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426364929/d0eb835be9566164b89730a620d9ba89/rumus_AKK.JPG" />
         <pubDate>2021-11-08 13:55:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1875099629</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cemaran Logam Berat: Penyebab dan Penanggulangannya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1876898083</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Asriia Zahra Rosa (19/441513/FA/12130) dari kelas A izin menambahkan.&nbsp;<br>Logam berat terbagi atas 2 kelompok yaitu logam berat yang bersifat sangat beracun (toksik) , yaitu Arsen (As), Merkuri (Hg), Timbal (Pb),Cadmium (Cd) dan Chromium (Cr) dan logam esensial yang juga dapatmenjadi racun apabila dikonsumsi secara berlebihan, antara&nbsp; lain Tembaga(Cu), Besi (Fe), Zink (Zn) dan Selenium (Se). Namun, jika terkandung dalam obat herbal yang dikonsumsi secara rutin, maka bisa terjadi penumpukan logam berat dalam tubuh selama bertahun-tahun. Adanya cemaran logam berat ini dapat terjadi karena efek lingkungan yang rusak yaitu dari tanah, air dan udara. Misalnya, penggunaan pupuk kimia, pestisida, herbisida, dan input pertanian lain berbahan kimia sintetis. Dalam hal ini, untuk pengendaliannya dapat dilakukan dengan penerapan GAP (Good Agriculture Practices, konversi lahan menuju organik, dan&nbsp; pengendalian penggunaan bahan kimia sintetis.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 02:01:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1876898083</guid>
      </item>
      <item>
         <title>parameter non spesifik</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1877492759</link>
         <description><![CDATA[<div>Devinda Dyah (19/444880/FA/12238) izin menambahkan parameter non spesifik dalam standarisasi ekstrak..&nbsp; Parameter non spesifik meliputi susut pengeringan, kadar air, kadar abu, cemaran logam. <br><br><strong>a. Susut pengeringan</strong><br>Prinsip dari pengujian susut pengeringan adalah mengukur sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105°C selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan dalam nilai persen dan harus memuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu dibawah 10%.<br><strong>b. Kadar air</strong><br>Pengujian kadar air digunakan untuk mengukur kandungan air yang berada di dalam ekstrak dengan tujuan memberikan batasan minimal atau rentang besarnya kandungan air dalam suatu ekstrak dan harus memuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu dibawah 10%.<br><strong>c. Kadar abu</strong><br>Pengujian kadar abu bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuk ekstrak, dipanaskan dalam temperatur yang menyebabkan senyawa organik beserta turunannya terdestruksi dan menguap, sehingga meninggalkan unsur mineral dan anorganik saja dan harus memuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu dibawah 9%.<br><strong>d. Cemaran logam<br></strong>Pengujian cemaran logam berat dalam penelitian ini meliputi pengujian logam berat timbal (Pb), kadmium (Cd), Raksa (Hg), dan arsen (As) dimana pengujian ini menggunakan alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Persyaratan yang harus dipenuhi adalah dibawah 10 pada logam Pb dan As serta dibawah 0.3 pada logam Cd dan Hg.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 07:19:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1877492759</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penetapan Kadar Abu Total</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1878341278</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama : Anas Ardiana Wati&nbsp;<br>NIM : (19/438734/FA/12056)<br>Kelas A 2019<br>Saya izin menjelaskan salah satu parameter non spesifik yaitu penetapan kadar abu total. Penetapan kadar abu total dilakukan untuk mengetahui jumlah bahan anorganik atau mineral yang tersisa setelah proses pengabuan. Hal ini dikarenakan sifat fisik bahan atau ekstrak dapat dipengaruhi oleh adanya kadar senyawa anorganik atau mineral yang terdapat pada ekstrak.&nbsp;<br>Berikut metode cara kerja penetapan kadar abu total :&nbsp;<br>1. Sebanyak 2 sampai 3 g bahan uji yang telah dihaluskan ditimbang saksama dan dimasukkan ke dalam krus silikat yang telah dipijar dan ditara<br>2. Dipijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, didinginkan dan ditimbang<br>3. Untuk arang yang tidak dapat dihilangkan, air panas ditambahkan, diaduk, disaring melalui kertas saring bebas abu.&nbsp;<br>4. Kertas saring beserta sisa penyaringan&nbsp;<br>dipijarkan dalam krus yang sama.&nbsp;<br>5. Filtrat dimasukkan ke dalam krus, diuapkan dan dipijarkan hingga bobot tetap.&nbsp;<br>6. Kadar abu total dihitung terhadap berat bahan uji.&nbsp;<br><br>Kadar abu total dapat dihitung dengan rumus :&nbsp;<br>Kadar abu total (%) = (Berat abu total x 100%) / Berat bahan uji<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-09 14:07:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1878341278</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Parameter spesifik</title>
         <author>carolinelieanto</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1879869776</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat pagi saya Caroline Lieanto (19/441516/FA/12133) izin memberikan pendapat. Parameter spesifik bersifat khas untuk ekstrak tertentu. Contohnya:<br>Parameter identitas ekstrak yang meliputi :<br>- deskripsi tata nama (nama ekstrak, nama latin tumbuhan, bagian yang digunakan)<br>- Senyawa identitas merupakan senyawa tertentu yang menjadi petunjuk atau marker spesifik dengan metode tertentu<br><br>Parameter organoleptis ekstrak yang meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa<br><br>Senyawa yang terlarut dalam pelarut tertentu<br><br>Kandungan kimia ekstrak yang meliputi:<br>- Pola kromatogram<br>- Kadar total golongan kandungan kimia<br>- Kadar kandungan kimia tertentu</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 01:05:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1879869776</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Parameter nonspesifik</title>
         <author>carolinelieanto</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1879886386</link>
         <description><![CDATA[<div>Perkenalkan Saya Caroline Lieanto (19/441516/FA/12133) izin berpendapat.<br>Parameter standarisasi nonspesifik terdiri dari kandungan air, residu pelarut, parameter kontaminan, kadar abu, dll.<br><br>Kandungan air.<br>Seperti yang kita ketahui air merupakan media yang digunakan untuk tumbuhnya mikroba dan sebagai media berlangsungnya proses-proses enzimatis sehingga kandungan air harus diatur sedemikian rupa. Air juga dapat bertanggung jawab dalam kerusakan produk bahkan kontaminasi senyawa berbahaya. Air juga merupakan media bagi enzim untuk mengkatalisis perubahan senyawa.<br><br>Beberapa metode yang bisa digunakan untuk menganalisis : <strong>Susut pengeringan</strong> (sederhana, mudah dilakukan, tidak membutuhkan peralatan yang rumit, cukup reliable untuk mengetahui kandungan air di dalam suatu ekstrak) bisa dilakukan secara manual yaitu dengan botol timbang melakukan penimbangan ekstrak lalu dipanaskan pada suhu 105C karena air menguap di suhu 100C&nbsp; sehingga suhunya harus diatas itu agar memastikan air sudah menguap sehigga bisa menghitung selisih antara sebelum dan sesudah pemanasan. Prinsip susut pengeringan adalah kita melakukan penimbangan ekstrak sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Yang penting disini adalah bahwa ekstrak yang sudah kita panaskan lalu kita timbang itu adalah selisih antara penimbangan pertama dan selanjutnya&nbsp; itu tidak lebih dari 0,25%, bila terpenuhi maka dianggap sudah mencapai bobot tetap.&nbsp;<br>Alat lain yang lebih simpel: moisture balance.&nbsp; Tinggal memasukkan ekstrak yang akan kita ujikan, alat akan otomatis menimbang setelah dia melakukan pemanasan. Tapi prinsipnya sama.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 01:13:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1879886386</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ukuran Partikel</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880385220</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Duto Wicaksono (19/441524/FA/12141) izin berpendapat mengenai salah satu parameter spesifik standarisasi ekstrak yaitu ukuran partikel.<br>Ukuran partikel merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil rendemen ekstrak. Operasi ekstraksi solid-liquid akan berlangsung dengan baik apabila diameter partikel diperkecil. Pengecilan ukuran ini akan memperluas permukaan kontak. Begitu pula hambatan difusinya menjadi kecil sehingga laju difusi bertambah. Pengaruh ukuran partikel terhadap hasil rendemen suatu ekstrak juga telah dibuktikan oleh Heath dan Reineccius (1986), semakin kecil ukuran bahan yang digunakan maka semakin luas bidang kontak antara bahan dengan pelarut dan semakin besar kecepatan mencapai kesetimbangan system. Jaringan bahan atau simplisia dapat mempengaruhi efektivitas ekstraksi. Ukuran bahan yang sesuai akan menjadikan proses ekstraksi berlangsung dengan cepat sehingga tidak memakan waktu yang lama.&nbsp;<br>Ukuran partikel juga menentukan tebal lapisan batas yaitu jarak yang ditempuh dari tempat bersentuhannya langsung dengan pelarut dan zat aktif. Semakin kecil ukuran partikel maka tebal lapisan batas atau jarak antara senyawa menuju pelarut juga akan semakin kecil. Karena jarak yang ditempuh semakin kecil, maka senyawa yang terkandung dalam sampel juga akan lebih cepat keluar sehingga akan semakin banyak senyawa yang terambil.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 05:11:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880385220</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gravimetri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880435366</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat siang Bu Triana dan teman-teman sekalian, perkenalkan saya Syifa Safira Ramadani (19/441593/FA/12210) dari kelas B 2019 izin menambahkan penjelasan metode Gravimetri yang digunakan dalam analisis awal penentuan parameter spesifik pada standarisasi herbal yakni terlarutnya senyawa dalam pelarut tertentu. Analisis Gravimetri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yakni proses pengisolasian dan penimbangan unsur atau senyawa dalam kondisi semurni mungkin. Metode ini didasarkan pada stokiometri reaksi pengendapan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426265618/9a14b1508621beb402bd215ce36abda5/Capture_5.jpg" />
         <pubDate>2021-11-10 05:46:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880435366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fungsi Penentuan Kadar Abu</title>
         <author>smellanita</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880489048</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Sandra Mellanita (19/441586/FA/12203) izin menambahkan terkait fungsi dari penentuan kadar abu. Penentuan kadar abu ini berfungsi untuk mengetahui kandungan komponen yang tidak menguap saat pembakaran atau pemijaran senyawa organik. Selain itu&nbsp; untuk dapat memberikan gambaran kansungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Sebaiknya kadar abu yang diperoleh itu nilainya kecil karena parameter ini juga dapat menunjukkan ada atau tidaknya cemaran logam berat yang tahan terhadap suhu tingii (Isnawati dan Awrifin, 2006). Sehingga dapat dikatakan semakin kecil kadar abu suatu bahan maka kemurniannya semakin tinggi. Jika kadar abu suatu bahan melebihi batas maka dapat terjadi rekasi enzimatik dan adanya cemaran mikroba.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 06:24:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880489048</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cara Penentuan Abu Total </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880491928</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat siang Ibu, saya Jesica Teo (19/439931/FA/12109) izin menambahkan mengenai cara penentuan kadar abu total. Penentuan abu total dapat dilakukan dalam 2 cara, yaitu pengabuan langsung/pengabuan kering dan pengabuan tidak langsung/pengabuan basah. Pengabuan kering dapat dilakukan untuk penentuan total abu, abu larut, tidak larut air, dan tidak larut asam yang biasanya digunakan untuk menganalisis Ca, P, dan Fe. Prinsip pengabuan kering adalah penentuan kadar abu dengan mengkondisikan semua zat organik pada suhu tinggi dan sisa hasil pembakarannya ditimbang. Sedangkan, pengabuan basah digunakan untuk digesti sampel dalam penentuan <em>trace element</em> dan logam beracun. Prinsip pengabuan basah adalah penambahan reagen kimia tertentu ke dalam bahan sebelum dilakukan pengabuan</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 06:26:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880491928</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prosedur Penetapan Kadar Abu Total</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880525652</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Fauziah Ramadhani (19/438750/FA/12072) izin menambahkan prosedur penetapan kadar abu total.<br><br>&nbsp;1 g ekstrak ditimbang dan dimasukkan dalam krus silikat yang sebelumnya telah dipijarkan dan ditimbang. Kemudian ekstrak dipijar dengan menggunakan tanur secara perlahan-lahan hingga arang habis. Kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga bobot tetap (Depkes RI, 2000).&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 06:50:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880525652</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>tamasa_rahma</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880548020</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Rahma Aqisfi Novyani (19/441572/FA/12189) ingin menambahkan informasi mengenai contoh mesin yang dapat digunakan untuk memperkecil ukuran yaitu mesin Disk Mill. Mesin Disk Mill ini merupakan mesin pengecil ukuran yang mempunyai kemampuan menghasilkan bahan yang halus. Disk mill memiliki dua piringan yang dipasangkan pada sebuah shaft. Kedua piringan tersebut akan berputar secara bersamaan dengan arah berlawanan sehingga akan dapat menghancurkan bahan yang digiling. Pada bagian piringan ini terdapat tonjolan-tonjolan yang berfungsi untuk menjepit bahan. Mesin ini merupakan mesin yang memiliki tipe gaya dengan penekanan. Selama proses, bahan akan mengalami gesekan diantara kedua piringan sehingga ukurannya menjadi lebih kecil dan halus sampai dapat keluar melalui mesh (AEL, 1976). Contohnya, mesin Disk Mill dapat digunakan dalam proses pembuatan tepung ubi jalar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1426365198/a808454d99c1256c057b3f4df4c536b6/Mesin_Disk_Mill_png.jpg" />
         <pubDate>2021-11-10 07:05:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880548020</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Parameter susut pengeringan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880599183</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat siang, saya Danendra Rahadeva Agastya (19/441519/FA/12136) izin menjawab salah satu parameter non spesifik untuk penentuan standarisasi sampel herba salah satunya adalah parameter susut pengeringan. Tujuan dari susut pengeringan adalah agar memberikan batasan maksimal atau rentang mengenai besarnya senyawa yang hilang pada saat proses pengeringan. Pada parameter susut pengeringan digunakan prinsip pengukuran menurut Farmakope IV yaitu sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105 derajat celcius selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan dalam nilai persen. Perhitungan parameter susut pengeringan yaitu berat sebelum pemanasan dikurangi dengan berat akhir kemudian dibagi dengan berat sebelum pemanasan dan dikalikan 100% lalu didapatkan persentase susut pengeringan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 07:36:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880599183</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sisa Pelarut Organik</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880689969</link>
         <description><![CDATA[<div>Selamat sore Ibu, perkenalkan saya Dhea Ayu Putri Arsyi (19/439930/FA/12108) dari kelas A, izin menambahkan jawaban Devinda mengenai parameter non spesifik juga masih ada yaitu, sisa pelarut organik salah satunya adalah etanol.&nbsp; Tujuan dari penetapan sisa pelarut organik adalah untuk mengetahui sisa pelarut etanol setelah pengeringan. Etanol dijadikan sebagai pelarut karena memiliki toksisitas yang lebih rendah dibanding dengan pelarut lain seperti methanol, kloroform, heksan, dll (Saifuddin, 2011). Bahan alam yang aman dan berkualitas harus dipastikan di dalamnya tidak terdapat sisa pelarut organik. Tujuan dari penentuan <strong>sisa pelarut</strong> adalah memberikan jaminan bahwa selama proses tidak meninggalkan <strong>sisa pelarut</strong> (Depkes RI, 2000).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 08:27:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880689969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Parameter non spesifik dan spesifik</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880992306</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Ajeng Fadilla D (19/441504/FA/12121), Izin berpendapat bu, Untuk mendapatkan ekstrak berkualitas, Standarisasi ekstrak dilakukan dengan dua parameter yaitu parameter spesifik dan non-spesifik. Penetapan parameter spesifik yaitu organoleptik (bentuk, bau, rasa dan warna), ekstrak larut air, ekstrak larut etanol dan kandungan senyawa fitokimia. Penetapan parameter non-spesifik yaitu susut pengeringan, cemaran mikroba, kadar abu, kadar abu yang tidak larut dalam asam, dan cemaran logam berat Pb dan Cd.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 11:23:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1880992306</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penentuan Kadar Air dan Cemaran Logam Berat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1881502992</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Janice Emanuella F.S. (19/444901/FA/12259) dari kelas C izin menambahkan parameter standarisasi parameter non spesifik, yaitu penentuan kadar air dengan cara sebanyak 10 g ekstrak ditimbang seksama dalam wadah yang telah ditara. Ekstrak dikeringkan dalam suhu 105OC selama 5 jam dan ditimbang. Dilanjutkan pengeringan dan ditimbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara 2 penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%. Kemudian, penentuan cemaran logam berat dengan cara sebanyak 0,5 g contoh ekstrak dimasukan kedalam labu destruksi, ditambahkan 5 mL HNO3 dan 0,5 mL HClO4. Dibiarkan semalam dan keesokan harinya di destruksi diatas <em>block digest. </em>Mula-mula pada suhu 150OC selama 150 menit sampai uap kuning habis. Kemudian suhu dinaikan kembali menjadi 170OC selama 1 jam, dan ditingkatkan lagi menjadi 200OC sampai uap putih. Didinginkan, diencerkan dengan air suling dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas dan dikocok serta dibiarkan semalam (Depkes RI, 2000). &nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 14:49:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1881502992</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penentuan Kadar Abu</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1881507263</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Alfiana Dayanti (19/444865/FA/12223) izin menambahkan, dari literatur yang saya peroleh&nbsp;untuk menentukan kadar abu adalah sebanyak 2 g ekstrak ditimbang seksama dan dimasukkan kedalam krus silikat dan diratakan, dipijarkan perlahan hingga arang habis, didinginkan dan ditimbang. Jika arang tidak dapat dihilangkan, ditambahkan air panas. Disaring dengan kertas saring bebas abu. Sisa kertas dan kertas saring dipijarkan dalam krus yang sama, filtrate dimasukkan kedalam krus dan diuapkan. Dipijarkan hingga bobot tetap. Kadar abu ditimbang dan dihitung terhadap bahan yang dikeringkan di udara (Depkes RI, 2000).&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 14:51:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1881507263</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1881680899</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya Dwitya Nurlistyo Devi dari B-2019<br>19/441525/FA/12142<br><br>Standardisasi ekstrak merupakan serangkaian parameter yang dibutuhkan sehingga ekstrak persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan persyaratan yang&nbsp; berlaku. Ekstrak terstandar berarti konsistensi kandungan senyawa aktif dari setiap batch yang diproduksi dapat dipertahankan, dan juga dapat mempertahankan pemekatan kandungan senyawa aktif pada ekstrak sehingga dapat mengurangi secara signifikan volume permakaian per dosis, sementara dosis yang diinginkan terpenuhi, serta ekstrak yang diketahui kadar senyawa aktifnya ini dapat dipergunakan sebagai bahan pembuatan formula lain secara mudah seperti sediaan cair , kapsul, tablet, dsb. Parameter yang ditetapkan yaitu parameter non spesifik, spesifik dan uji kandungan kimia. Parameter non spesifik meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, susut pengeringan dan bobot jenis. Parameter spesifik meliputi organoleptik, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol. Sedangkan untuk uji kandungan kimia ekstrak dilakukan dengan cara kromatografi lapis tipis (KLT).</div><div>1.Parameter Non Spesifik&nbsp;</div><div>&nbsp;a)Susut Pengeringan&nbsp;</div><div>b. Penetapan Bobot Jenis</div><div>c. Penetapan Kadar Air (Cara Destilasi)</div><div>d. Penetapan Kadar Abu Total</div><div>e. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam</div><div>&nbsp;</div><div>2. Parameter spesifik Penetapan parameter spesifik yang dilakukan menurut Depkes RI (2000) adalah sebagai berikut :&nbsp;</div><div>a. Organoleptik Ekstrak: Pemeriksaan organoleptik ekstrak dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekhususan bentuk, warna, bau dan rasa dari ekstrak yang diuji.&nbsp;</div><div>b. Penetapan Kadar Sari Larut Air</div><div>c. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-11-10 15:44:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/lm5s6z6k37ylyfqy/wish/1881680899</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
