<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Cerpen by Arviga Febriana</title>
      <link>https://padlet.com/vigazfl/lkhfisihppopqotb</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-11-12 09:10:49 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-11-12 10:18:35 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Korbanku Untuk Masa Depanku</title>
         <author>vigazfl</author>
         <link>https://padlet.com/vigazfl/lkhfisihppopqotb/wish/2786037532</link>
         <description><![CDATA[<p>Di suatu malam, aku hendak berpikir bagiamana masa depan ku nanti. Aku yang tidak begitu yakin dengan apa yang diriku miliki. Dengan hati yang ber-abu-abu, pikiranku dipenuhi labirin yang membingungkan dan menyesatkan.<br> Mengakhiri malam yang kalut, aku memilih mengerjakan tugas sekolahku yang jumlahnya bagai pasir di gurun. Fokusku teralihkan ketika aku melihat poster atlet basket di kamarku. Impian terbesarku bisa menjadi atlet basket yang akan membawa Indonesiaku ke mata dunia. Namun di sisi lain, potensiku belum cukup untuk itu. Ditambah dengan dilerainya aku dengan pilihan masa depanku.<br> Semakin tumbuhnya diriku menjadi dewasa, semakin banyak juga hal-hal yang harus aku pikirkan. Hal mana yang harus aku korbankan dan mana yang harus aku pertahankan.<br> Di suatu pagi, aku bergegas menuju sekolah. Belum sempat masuk ke dalam kelas, aku bertemu dengan temanku, Keira. <br>"Gimana pertandingan kemarin? Clubmu menang?" aku bertanya padanya.<br>"Sesuai prediksi, menang juara 1. Bukan beruntung tapi bukan tak jago, partaiku cukup mudah di awal pertandingan hahahaha.." jawab Keira menjelaskan.<br>"Syukur deh, aku turut senang atas kemenanganmu. Sejujurnya aku iri padamu, bisa mengejar impianmu dengan hati penuh, tidak ada abu-abumya." tutur aku sambil merangkul Keira.<br> Kami berdua berjalan melewati selasar untuk menuju kelas. <br> Sesampainya di kelas, bel masuk berbunyi. Tak lama disusul oleh guru mata pelajaran Biologi. Entah ada angin apa, tiba-tiba guru itu menghampiriku dengan antusias.<br>"Hei Zely, hebat banget kamu! Hasil tes eliminasi olimpiade sainsmu bagus sekali! Jadi sekolah tidak ada ragunya untuk mengirimmu untuk mengikuti olimpiade nasional ini." ucap guruku.<br>"Wahh.. Alhamdulillah pak. Saya senang sekali dapat kabar ini dari bapak. Terimakasih banyak pak!" ucapku berterimakasih padanya.<br> Ternyata, sedari tadi teman-teman kelasku mendengarkan perbincangan tadi, mereka memberi apresiasi berupa tepukan kedua belah tangan padaku. Hatiku senang, antusias sekali untuk mengikuti olimpiade ini.<br><br>***<br><br> Tepat pukul 15.00, bel pulang sekolah berbunyi. Segerombolan murid bergegas menuju tangga, tak sabar ingin meninggalkan gedung sekolah. Berbeda denganku, aku harus mengikuti ekskul basket di sekolah. Aku mengajak Keira untuk mengganti pakaian bersama.<br> Aku memasuki lapangan untuk latihan. Lemparan dan tangkapan tidak ada hentinya ku lihat dan ku lakukan. Hingga tak terasa, latihan pun berakhir. Pelatihku meminta seluruh pemain berkumpul di tengah lapangan untuk mengadakan evaluasi latihan seperti biasanya. Namun, kali ini beliau mengangkat pembahasan lain.<br>"Baik semuanya, terimakasih untuk latihan hari ini. Usaha kalian tidak saya abaikan selama ini, hingga saya memutuskan untuk membawa kalian ke pertandingan antar sekolah se-DKI. Jakarta. Pertandingan ini bertepatan di tanggal 4 Februari nanti. Segala persiapan latihan termasuk latihan fisik akan kita laksanakan demi kemenangan nanti. Saya mohon kerjasama kalian untuk tim sekolah kita." jelas pelatihku.<br> Aku terdiam. Melirik Keira yang ada di sebelahku. Aku menatapnya sedih. Keira paham arti dari tatapanku. Tanggal yang tadi disebutkan oleh pelatihku merupakan tanggal dimana hari olimpiade nasionalku dilaksanakan juga. Pikiranku berlarian menghampiri cabang-cabangnya. Dengan pikiran sedemikian itu, aku bergegas pulang karena hari sudah larut.<br> Setelah sampai di rumah, aku melempar asal tas ku ke tempat tidur. Kini, aku menduduki kursi belajarku sambil menatap poster itu kembali. Berseling menatap itu, aku membuka buku modul untuk pelatihan olimpiade. Bimbang sekali hatiku, entah apa yang akan aku pilih untuk aku lakukan di tanggal 4 Februari nanti. Di tengah obrolanku dengan diriku, ibuku memasuki kamarku. Tanpa berpikir panjang, aku segera menceritakan kejadian hari ini kepada ibuku, dari titik awal hingga akhir.<br>"Kakak, ibu gak pernah nuntut kakak buat ikuti apa yang ibu bilang. Tapi ibu punya pemikiran yang siapa tahu kakak bisa pertimbangkan dari pemikiran ini. Kamu sudah kelas 12, olimpiade ini gak ada 2 kali dalam setahun. Tetapi, pertandingan basket itu bisa ada kapan saja, kamu bisa mengikutinya nanti jika ada pertandingan lain." tutur ibuku dengan lembut.<br> Aku kagum dengan isi pikiran ibu. Semua yang ia katakan memiliki kebenaran yang pasti. Hingga akhitnya aku mengikuti semua pemikiran ibu. Aku memilih untuk memperjuangkan kemenangan di olimpiade sains nasional nanti. Di titik ini, tidak ada rasa malas dan bingung lagi untuk mencapai hal itu. Aku semakin giat belajar dan berlatih untuk olimpiade, dengan tidak melupakan dukunganku untuk tim basket di sekolahku.<br><br>***<br><br> Hari yang dinantipun tiba. Aku berada di tempat olimpiade sains nasional, sudah siap untuk bertarung melawan soal-soal yang akan aku hadapi. Satu demi satu ku jawab sesuai dengan apa yang sudah aku latih. Semangatku masih berapi-api, tidak ingin mengecewakan pengorbanan diriku ini.<br> Selesainya aku mengerjakan soal, aku keluar dari ruang tes itu. Aku membuka gadget, dan mendapat kabar yang sangat baik dari Keira. Tim sekolahku berhasil memasuki babak final di pertandingan basket. Aku jelas turut senang, tak sabar ingin memberi dukungan lebih.<br><br>***<br><br> Satu minggu berlalu, hari pengumuman pemenang olimpiade tiba. Aku membuka laptop dan mengarahkannya pada halaman email. Senang, sedih, keduanya tercampur aduk ketika melihat namaku berada tepat di tengah sertifikan penghargaan sebagai juara 1 olimpiade sains nasional. Aku berlari ke kamar ibuku, segera memberitahunya tentang kemenanganku.<br> Hari itu merupakan hari yang sangat indah. Kemenanganku dibarengi dengan kemenangan tim basket sekolahku di pertandingan itu. Di sini, aku mendapat banyak sekali pelaran. Setiap hal tidak bisa diambil semuanya. Mengorbankan satu hal bukan berarti melepaskan hal tersebut dengan kekalahan. Namun dengan mempertahankan salah satunya, kita menjadi lebih hebat untuk menaklukannya.<br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-12 10:17:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vigazfl/lkhfisihppopqotb/wish/2786037532</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
