<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Daftar Bacaan: HASIL ANALISIS UNSUR BATIN PUISI by evi sulistiana</title>
      <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7</link>
      <description>Kelas 5 - Tingkat Kemampuan: Intermediate</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-02-27 01:55:22 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-02-27 16:38:07 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok 1</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849969</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Rasa cinta, harapan, dan kerinduan sosok Ibu terhadap anaknya.</strong></p><p><strong>Rasa Cinta:</strong></p><p><em>Pergi ke dunia luas anakku, sayang.// Pergi ke hidup bebas!// Selama angin masih angin buritan // Dan matahari pagi menyinar daun-daunan// Di hutan dan padang hijau</em></p><p><strong>Harapan dan kerinduan:</strong></p><p><em>kembali pulang, anakku sayang// Kembali ke balik malam!// Jika kapalmu telah rapat ke tepi// Kita akan bercerita// “Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”</em></p><p><strong>Perasaan : Perasaan penyair yang tergambar dari penggalan puisi di bawah ini mengungkapkan rasa haru dan harapan orang tua kepada sang anak untuk memiliki banyak wawasan, pengetahuan, dan pengalaman yang harus dicari selama masih muda.</strong></p><p><em>Pergi &nbsp;ke laut lepas anakku sayang// Pergi ke alam bebas// Selama hari belum petang// Dan warna senja belum kemerah-merahan// Menutup pintu waktu lampau</em></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>Sikap penyair ditunjukan adalah mengungkapkan perasaan cinta, harapan, dan kerinduan. Sehingga, nada yang tergambarkan oleh pembaca setelah membaca puisi ini yaitu bangga, sedih sekaligus haru.</strong></p><p><em>Pergi ke dunia luas anakku, sayang.// Pergi ke hidup bebas!// Selama angin masih angin buritan// Dan matahari pagi menyinar daun-daunan// Di hutan dan padang hijau</em></p><p><strong>Pesan/Amanat: </strong></p><p>Orang tua yang ingin melihat anaknya sukses &nbsp;memiliki karier yang bagus sehingga membebaskan anaknya untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman sebanyak mungkin. Oleh karena itu, Seorang anak harus dapat membanggakan dan mendoakan orang tua. Orang tua mengharapkan anaknya menjadi seseorang yang tangguh, kuat, serta berwawasan luas. Orang tua akan tetap menjadi rumah bagi anak-anaknya. Sudah sepatutnya seorang anak berbakti kepada mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/0720f22f9389be1eec407453ff3c1f69/mini_magick20190123_23912_10d7d50.png" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849976</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Semangat perjuangan (patriotisme) untuk memperoleh keadilan dan semangat untuk melanjutkan perjuangan.</strong></p><p><em>Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa// Prosesi pemakaman ke pemakaman// Mereka berkata// Semuanya berkata// Lanjutkan perjuangan</em></p><p><strong>Perasaan : </strong></p><p><strong>mengungkapkan perasaan sedihnya melihat keadaan bangsanya yang carut-marut (keji, kotor). Rasa marah, benci dan kesal dengan adanya ketidakadilan pemerintah dan rasa jengkel atas aspirasi yang tidak didengarkan</strong></p><p><em>Sebuah sugai membatasi kita</em></p><p><em>Di bawah terik matahari Jakarta</em></p><p><em>Antara kebebasan dan sepasang</em></p><p><em>Berlapis senjata dan sangkur baja</em></p><p><em>Akan mundurkah kita sekarang</em></p><p><em>Seraya mengucapkan “Selamat tinggal perjuangan”</em></p><p><em>…</em></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>Penyair menyampaikan puisi dengan nada mengggurui, mendikte dengan nada sombong. Sikap yang muncul adalah semangat melanjutkan perjuangan demi memperoleh keadilan.</strong></p><p><em>…</em></p><p><em>Mereka berkata</em></p><p><em>Semuanya berkata</em></p><p><em>Lanjutkan perjuangan.</em></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>keberanian dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan mampu melawan ketidakadilan. Gugur dalam berjuang itu lebih mulia daripada gugur karena menyerah.</strong></p><p><em>Sebuah jaket berlumuran darah (bait 1)</em></p><p><em>…</em></p><p><em>Menunjduk bendera setengah tiang (bait 2)</em></p><p><em>Lanjutkan perjuangan (bait 3)</em></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/68ed737725b39a49c099135f4b05c9c7/1708002108.webp" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849983</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Perubahan kehidupan rakyat pesisir pantai dan harapan rakyat terhadap pemerintah untuk dapat mengembalikan hidup mereka seperti dahulu, hidup bahagia di pesisir pantai tanpa ada yang pergi kota.</strong></p><p><em>Rasa laut telah berubah kupunya wajah</em></p><p><em>Juga disinari matari lain.</em></p><p><em>…</em></p><p><em>Lebih banyak lagi ketika berada di antara</em></p><p><em>Yang mengharap dan yang melepas</em></p><p><strong>Perasaan : </strong></p><p><strong>perasaan sedih, kesepian, ketidakpastian akibat kebingungan atas perubahan dan keterpisahan dari lingkungan dan individu di sekitarnya.</strong></p><p><em>Air mengalir tukar warna, kapal-kapal</em></p><p><em>…</em></p><p><em>Yang mengharap dan yang melepas</em></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>suasana yang kelam, dingin, senyap akibat dampak modernisasi dan perkembangan teknologi dengan menunjukan suasana sehari-hari yang dirasakan di tempat itu.</strong></p><p><em>Kelenggangan tinggal tetap saja</em></p><p><em>Lebih banyak lengang aku di kelok-kelok jalan;</em></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>puisi tersebut berisi tentang penyesalan tokoh “aku” yang tidak dapat menikmati keindahan rakyat pesisir pantai dahulu sebelum terjadinya perubahan modernisasi dan perkembangan teknologi.</strong></p><p><em>Telinga kiri masih terpaling</em></p><p><em>Ditarik santai yang sebentar-sebentar</em></p><p><em><br></em></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/1c1977b77eb0a7d8dbe76b67d87269bc/07ee6fbf2ddf7f9540c3165d84939335.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849983</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849995</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema :</strong></p><p><strong> Perasaan duka cita, empati, transformasi, dan harapan. Perjalanan emosional dari rasa sakit yang mendalam menjadi pembebasan dan semangat baru melalui kehadiran seseorang yang memberikan dukungan.</strong></p><p><em>Dukamu adalah dukaku</em></p><p><em>Air matamu adalah air mataku</em></p><p><strong>Perasaan : </strong></p><p><strong>Perasaan yang tergambar dalam puisi ini adalah rasa dukacita seseorang yang dicintai menjadi milik penyair dan rasa berbagi beban masalah satu sama lain.</strong></p><p><em>Meruntuhkan segala penjara rasa</em></p><p><em>Membebaskan aku dari derita ini</em></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>menimbulkan sikap yang saling mempengaruhi dan memberikan pelajaran pada pembaca bahwa perasaan dapat saling mempengaruhi dan saling mendukung.</strong></p><p><em>Kesedihan abadimu</em></p><p><em>Membuat bahagiamu sirna</em></p><p><em>…</em></p><p><em>Biar dukamu itu adalah dukaku</em></p><p><em>Tindakanku biarkan ia menjadi pemusnahku!</em></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>puisi ini memiliki pesan yang mendalam tentang saling berbagi dengan orang yang kita cintai, setiap penderitaan orang lain seolah-olah terjadi padanya. Sehingga, puisi menekankan rasa empati akan sesama.</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/2d074769d76a619a5351a5d9d6b1b108/ChNJaVxUYAAchhf.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896849995</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850003</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Pemaknaan diri (interpretasi diri) sehingga makna puisi ini mengespresikan tentang realitas kehidupan terdapat banyak sudut pandang atau cara pandang yang beragam.</strong></p><p><em>Kau bilang aku burung?// Kepada sungai, ladang, dan batu.</em></p><p><em>Aku selembar daun terakhir</em></p><p><strong>Perasaan : </strong></p><p><strong>perasaan kerinduan, kesepian, dan keinginan untuk diterima atau dimengerti sehingga penyair meminta ulang untuk ditafsirkan kembali.</strong></p><p><em>Aku tidak suka membayangkan// keindahan kelebat diriku// yang memimpikan tanah// tidak mempercayai janji api yang akan// menerjemahkanku ke dalam bahasa abu//</em></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>nada atau sikap dalam puisi ini adalah lembut, intim dan penuh dengan kerendahan hati serta kerinduan untuk dapat diterima dan dimengerti oleh orang-orang disekitarnya.</strong></p><p><em>Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir// agar suara angin yang meninabobokan// ranting itu padam// tolong tafsirkan aku sebagai hasrat// untuk bisa lebih lama bersamamu// tolong ciptakan makna bagiku// apa saja…</em></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah untuk lebih menghargai dan memahami keberadaan dan perasaan orang lain, serta untuk membangun rasa empati terhadap orang sekitar agar tercipta hubungan yang lebih bermakna.</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/d1c9bb0a1b7bcb7be7a910c185ec5763/FUYoK8qakAIPlKC.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850003</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 6</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850017</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Dalam puisi ini sesungguhnya lawan bicara pada aku lirik bukanlah seorang manusia, tetapi antara Chairil Anwar dengan gejolak yang ada dipikirannya mengenai pandangan hidupnya:</strong></p><p><strong>[<em>Lalu kita sama termangu</em>], [<em>Saling bertanya: apakah ini?</em>], [<em>Cinta? Kita berdua tak mengerti</em>], [<em>Sehari kita bersama. Tak hampir menghampiri</em>]. Kemudian ia menemukan jawabannya atas kegelisahannya [<em>Ah! Hatiku yang tak mau memberi</em>], [<em>mampus kau dikoyak-koyak sepi</em>]. Walaupun ia tahu dirinya akan merasa menderita, pilihannya adalah berjuang untuk merdeka, yaitu merdeka bagi dirinya sendiri. Maka, tema yang terkandung dalam puisi Sia-sia adalah kedukaan dan kemanusiaan, yakni masa pemilihan tentang prinsip hidup.kedukaan dan kemanusiaan, yakni masa pemilihan tentang prinsip hidup.</strong></p><p><br></p><p><strong>Perasaan : </strong></p><p><strong>perasaan yang terkandung dalam puisi Sia-sia adalah emosi yang menyayat jiwa.</strong></p><p><em>[Membawa kembang berkarang</em>], [<em>Sehari kita bersama. Tak hampir menghampiri] </em>dan <em>[Ah! Hatiku yang tak mau memberi]</em>, <em>[Mampus kau dikoyak-koyak sepi]</em>. Makna dari tiap larik ini menjelaskan bahwa Chairil sedang bercerita tentang seorang perempuan yang diibaratkan atau dituliskannya lewat ibarat benda-benda. Seperti “<em>bunga mawar dan melati putih</em>” . Namun, hal itu terlalu menyayat hati sehingga <strong>penyair memilih sepi dan membiarkan cinta sejati sia-sia karena ia memiliki sebuah prinsip hidup untuk selalu bergerak.</strong></p><p><br></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>Nada pada puisi Sia-sia bernada sedih, putus asa, dan muram. Puisi ini Chairil ekspresikan dengan cara puisi yang tidak berbelit-belit, apa adanya (lugas) sekadar menceritakan sesuatu kepada pembaca, yaitu tentang pandangan hidup seorang seniman</strong></p><p><br></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>Chairil pada puisi Sia-sia ini, ia berpesan bahwa seorang manusia yang telah memiliki pandangan hidup atas dirinya sendiri, seberat apapun bebannya seseorang harus tetap bisa mempertanggungjawabkan pilihannya. Sebab menurut Chairil hidup ialah hidup, bukan sekadar berkata-kata.</strong></p><p><strong><br></strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/176a1ed6c027e7af1007eded6b8854e3/db3e5d851c86d96c290205aa499cb51c.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850017</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 7</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850024</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Kematian. Penyair menjelaskan perasaan ketidakpastian dan kematian yang datang tiba-tiba.</strong></p><p><em>Mati.</em></p><p><em>…</em></p><p><em>Berbaring tak sedar</em></p><p><em>Seperti kapal pecah di dasar lautan.</em></p><p><br/></p><p><strong>Perasaan : </strong></p><p><strong>perasaan penyair tercermin dalam kegelisahan dan ketidakpuasan penyair terhadap kondisi dunia dan keadaan sekitarnya yang menciptakan ketidakstabilan dan ketidakpastian hidup.</strong></p><p><em>Dunia badai dan topan</em></p><p><br/></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>Nada melankolis, introspeksi, serta penuh dengan kegelapan dan kesepian. Sehingga sikap yang ditunjukan penyair menggambarkan refleksi diri dan keputusasaan. Nada puisi ini cenderung suram dan introspektif diri sehingag menciptakan suasana yang menggetarkan jiwa pembacanya.</strong></p><p><em>Jadi ke mana</em></p><p><em>Untuk damai dan reda?</em></p><p><em>Mati.</em></p><p><br/></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah untuk mengajak pembaca untuk merenungkan/refleksi diri tentang hidup dan tujuan hidupnya.</strong></p><p><strong><br></strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/6b9a0b7804b8e687df2a3ad8f32b33bc/1704330881__1_.webp" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850024</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 8</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850037</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : </strong></p><p><strong>Tema sosial karena menceritakan kehidupan sosial penyair yang kemungkinan besar berusaha dalam menghadapi orang lain.</strong></p><p><em>Aku hendak berbicara</em></p><p><em>Suaraku hilang, tenaga terbang</em></p><p><em>Sudah! Tidak jadi apa-apa!</em></p><p><em>Ini dunia enggan disapa, ambil peduli!</em></p><p><br/></p><p><strong>Perasaan :</strong></p><p><strong> perasaan penyair yang berusaha sabar dalam menghadapi hidup, ia tidak memperdulikan apapun yang orang katakan tentang dirinya. Ia lebih baik diam dan tidak berkomentar.</strong></p><p><em>Dihantam suara bertalu-talu</em></p><p><em>Di sebelahnya api dan abu</em></p><p><br/></p><p><strong>Nada/Sikap : </strong></p><p><strong>menggunakan nada lugas untuk mengemukakan pengalamannya, tidak bersikap menggurui.</strong></p><p><em>Kuulangi yang dulu kembali</em></p><p><em>Sambil bertutup telinga, berpicing mata</em></p><p><em>Menunggu reda yang mesti tiba.</em></p><p><br/></p><p><strong>Amanat/Pesan : </strong></p><p><strong>pesan yang ditujukan penyair adalah tentang sifat sabar dalam mengahadapi masalah karena itu semua akan berlalu.</strong></p><p><strong><br></strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/52d289bcbdf5e43b20875b760c0f876f/e434df4f93c5883b4f7dbde799c6033e.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850037</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 9</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850046</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : Perasaan kesepian, kekosongan, dan pencaria makna hidup dalam sebuah rumah yang sunyi.</strong></p><p><em>Aku tersesat tak dapat jalan</em></p><p><em>Kemah kudirikan ketika senjakala</em></p><p><em>Dipagi terbang entah kemana</em></p><p><br/></p><p><strong>Perasaan : perasaan kesepian, kekosongan, kegelisahan dan kecemasan dalam kehidupan penyair yang merasakan keseian yang mendalam di rumah yang sunyi, merasa terjebak dalam kehampaan yang mencekam. Hal ini bermaksud pada, penyair tidak dapat menentukan arah hidup yang diinginkan.</strong></p><p><em>Kulari dari gedong lebar halaman</em></p><p><em>Aku tersesat tak dapat jalan.</em></p><p><br/></p><p><strong>Nada/Sikap : Nada yang terlukiskan adalah nuansa kesepian, kekosongan, dan kehampaan yang dominan. Puisi ini menciptakan suasana yang suram batin penyair. Nada yang tercermin adalah kehampaan dan terisolasi, mengundang empati dan refleksi pada pembaca tentang kesepian yang mungkin pernah mereka rasakan dalam hidup mereka sendiri.</strong></p><p><em>Aku tidak lagi meraih petang</em></p><p><em>Biar berleleran kata manis madu</em></p><p><em>Jika menagih yang satu</em></p><p><br/></p><p><strong>Amanat/Pesan : mengajak pembaca untuk merenungkan keberadaan manusia, perasaan kesepian, dan kekosongan dengan keberanian, dan mencari makna yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri. Sehingga, puisi ini mengajak pembaca untuk lebih memahami makna hidupnya sendiri.</strong></p><p><strong><br></strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/776788b0c690153e025ac8445ad2109d/a248981f7f1b0d346370fd1027dd20f0.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850046</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 10</title>
         <author>evisulist09</author>
         <link>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850055</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tema : Ruang kebersamaan antara dua individu yang mencintai satu sama lain. Taman melambangkan kesederhanaan hidup berdua (cukup) menjadi tempat untuk pulang.</strong></p><p><em>Taman punya kita berdua</em></p><p><em>Tak lebar luas, kecil saja</em></p><p><em>Satu tak kehilangan lain dalamnya.</em></p><p><em>Bagaikau dan aku cukuplah.</em></p><p><em>…</em></p><p><strong>Kesederhanaan dalam menjalani hidup namun sudah bisa hidup bahagia</strong></p><p><em>Kembangnya tak berpuluh warna</em></p><p><em>Rumputnya tak berbanding permadani</em></p><p><em>Penuh surya taman kita</em></p><p><br/></p><p><strong>Perasaan : penyair menginginkan hidup yang sederhana memiliki hubungan yang harmonis. Rasa syukur memiliki satu sama lain.</strong></p><p><em>Dalam taman punya kita berdua</em></p><p><em>Kau kumbang, aku kumbang</em></p><p><em>Aku kumbang, kau kumbang.</em></p><p><br/></p><p><strong>Nada/Sikap : dengan penggunaan bahasa yang lugas, pembaca dapat merasakan sebuah kesederhanaan dalam ruang perasaan yang halus namun menggetarkan jiwa</strong></p><p><em>Kecil, penuh surya taman kita</em></p><p><em>Tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia</em></p><p><br/></p><p><strong>Amanat/Pesan : jika ingin bahagia tidak harus memiliki rumah mewah. &nbsp;Meskipun dengan kehidupan yang sederhana asalkan disitu disertai dengan kasih sayang maka sudah cukup untuk menciptakan kehidupan yang membahagiakan. &nbsp;Cukup sesuatu yang sederhana tetapi saling memiliki dan melengkapi, pasti bahagia.</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2349982241/bcb5a328ba1a70c41dbe13397ab14b81/1_rhwENF99fqg2q9mNCPXy8g.jpg" />
         <pubDate>2024-02-27 01:55:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/evisulist09/li0r57aq123s8eb7/wish/2896850055</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
