<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Mitigasi Kebencanaan - XI by Ninik Yustina Sari</title>
      <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-08-13 00:48:04 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-07-02 05:18:48 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Banjir Terjang 15 Kelurahan di Balikpapan Kaltim, 1 Orang Luka</title>
         <author>ninikyustin</author>
         <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073850187</link>
         <description><![CDATA[<p>Bencana banjir dan tanah longsor menerjang Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Banjir menerjang 15 kelurahan di enam kecamatan di Kota Balikpapan.</p><p>"Banjir melanda 15 kelurahan yang tersebar di enam kecamatan, yakni Balikpapan Utara, Barat, Kota, Timur, Selatan, dan Tengah, " kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan pers tertulisnya, Sabtu (10/8/2024).</p><p>&nbsp;</p><p>Abdul mengatakan bencana tanah longsor juga dilaporkan terjadi di empat kelurahan yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Balikpapan Kota, Tengah, dan Selatan. Satu orang mengalami luka-luka akibat bencana ini.</p><p>&nbsp;</p><p>"Saat ini, satu orang dilaporkan mengalami patah kaki akibat bencana ini, namun data terkait korban lain dan kerugian material masih dalam pendataan," imbuhnya.</p><p>&nbsp;</p><p>BPBD Kota Balikpapan saat ini tengah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan lebih lanjut. Abdul menyebut banjir masih setinggi 20 sampai 50 cm.</p><p>&nbsp;</p><p>"BPBD Kota Balikpapan segera melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut," ujarnya.</p><p>&nbsp;</p><p>"Hingga saat ini, beberapa upaya telah dilakukan untuk memitigasi dampak, namun air banjir di sebagian besar wilayah terdampak masih belum surut dengan tinggi muka air (TMA) mencapai 20-50 cm," imbuhnya.</p><p>&nbsp;</p><p>Abdul mengungkap kondisi terkini di lokasi masih memprihatinkan. Banyak rumah dan fasilitas umum terendam banjir.</p><p>&nbsp;</p><p>"Kondisi Terkini meski cuaca mulai membaik, kondisi di lapangan masih memprihatinkan. Banyak rumah dan fasilitas umum terendam air, namun akses komunikasi publik masih berjalan lancar," ujar Abdul.</p><p>&nbsp;</p><p>Tim gabungan sudah turun ke lokasi untuk membantu proses evakuasi. Pembersihan pascabanjir dan longsor juga sudah mulai dilakukan.</p><p>&nbsp;</p><p>BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi banjir susulan. BNPB meminta masyarakat mengamankan barang-barang penting ke tempat yang aman.</p><p>&nbsp;</p><p>"Siapkan tas siaga bencana, dan pastikan jalur evakuasi bebas dari hambatan. Terus pantau informasi cuaca terbaru dan ikuti petunjuk dari BPBD setempat," kata Abdul.</p><p><br></p><p>Diskusikan pertanyaan berikut ini dan tuliskan hasil diskusi di bawahnya!</p><ol><li><p>Apa pendapatmu terkait dengan peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana tersebut?</p></li><li><p>Apa saja kendala utama dalam implementasi mitigasi bencana di daerah tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana upaya pemulihan pasca-bencana dapat dirancang untuk memperbaiki kerusakan dan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap peristiwa tersebut di masa depan?</p></li></ol><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2622182495/cc56c614ce0300bf4fef563460ad5662/Banjir.png" />
         <pubDate>2024-08-13 03:21:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073850187</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tanah Longsor Subang, Dua Warga Meninggal dan 80 Orang Lainnya Mengungsi</title>
         <author>ninikyustin</author>
         <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073872394</link>
         <description><![CDATA[<p>Laporan terkini yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (8/1) pukul 17.00 WIB menyatakan dua orang warga meninggal dunia dalam peristiwa tanah longsor yang terjadi di Kampung Cipondok, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (7/1) sore lalu.</p><p>&nbsp;</p><p>Sementara itu, sebanyak 11 orang yang mengalami luka-luka sudah kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan perawatan di puskesmas setempat.</p><p>&nbsp;</p><p>Sebanyak 80 jiwa terpaksa mengungsi di Majelis Taklim Bantar Panjang. Para pengungsi terdiri dari 52 orang dewasa, 21 anak-anak, 5 balita, 1 ibu hamil, dan 1 lansia.</p><p>&nbsp;</p><p>Kejadian tanah longsor ini menimbulkan kerugian materil menurut hasil kaji cepat sementara meliputi lima warung milik warga terdampak, 40 rumah terancam pergerakan tanah, tiga jalur kolam ikan dan dua hektar sawah tertimbun material longsor.</p><p>&nbsp;</p><p>Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Subang, TNI, Polri, PMI, Dinas Sosial dan unsur lainnya telah mendirikan posko darurat sebagai pos komando dan mengatur strategi, koordinasi dalam upaya penanganan darurat.</p><p>&nbsp;</p><p>Bantuan bagi warga terdampak berupa logistik dan peralatan telah diserahkan, termasuk kebutuhan dasar di posko pengungsi. Adapun kebutuhan yang mendesak antara lain matras, air minum, selimut dan makanan siap saji.</p><p>&nbsp;</p><p>Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimalogi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Subang dan sekitarnya hingga Selasa (9/1).</p><p>&nbsp;</p><p>BNPB mengimbau kepada masyarakat agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi risiko bencana. Apabila terjadi hujan deras dalam periode lebih dari satu jam dan jarak pandang kurang dari 100 meter, maka masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar kawasan lereng tebing maupun di bawah bukit diimbau untuk mengevakuasi diri secara mandiri untuk sementara.</p><p><br/></p><p>Diskusikan pertanyaan berikut ini dan tuliskan hasil diskusi di bawahnya!</p><ol><li><p>Apa pendapatmu terkait dengan peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana tersebut?</p></li><li><p>Apa saja kendala utama dalam implementasi mitigasi bencana di daerah tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana upaya pemulihan pasca-bencana dapat dirancang untuk memperbaiki kerusakan dan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap peristiwa tersebut di masa depan?</p></li></ol><p>&nbsp;</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2622182495/44e6a8500825fb0a4130171a1964e7ea/Tanah_Longsor.jpg" />
         <pubDate>2024-08-13 03:49:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073872394</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sederet Daerah Ini Perlu Waspada Kekeringan Meteorologis pada Awal Agustus 2024</title>
         <author>ninikyustin</author>
         <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073879026</link>
         <description><![CDATA[<p>Sekarang ini separuh wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyampaikan puncak musim kemarau 2024 terjadi pada Juli-Agustus.</p><p>Musim kemarau dapat menimbulkan kekeringan meteorologis, kebakaran hutan lahan, kurangnya air bersih, juga gagal panen.</p><p>&nbsp;</p><p>Kekeringan meteorologis adalah kekeringan yang disebabkan tingkat curah hujan suatu daerah di bawah normal, seperti dikutip dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB.</p><p>&nbsp;</p><p>Maka dari itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada dan melakukan antisipasi seperti menghemat air, menampung air hujan, penghijauan, hingga pergerakan waduk agar dapat menampung air lebih banyak.</p><p>&nbsp;</p><p>Dikutip dari unggahan media sosial resmi BMKG, berikut ini daftar wilayah dengan potensi kekeringan meteorologis dengan kategori Awas, Siaga, dan Waspada:</p><p>&nbsp;</p><p>Awas: Beberapa kabupaten di Jawa Timur, NTB, dan NTT</p><p>Siaga: Beberapa kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT</p><p>Waspada: Beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB.</p><p>&nbsp;</p><p>Antisipasi Hadapi Kekeringan/Karhutla</p><p>BMKG mengimbau sederet hal ini untuk mengantisipasi kekeringan/kebakaran hutan dan lahan (karhutla):</p><p>&nbsp;</p><ul><li><p>Tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat</p></li><li><p>Tidak membuka lahan pertanian/perkebunan dengan cara membakar</p></li><li><p>Tidak meninggalkan api di hutan dan lahan</p></li><li><p>Menempatkan lilin/obat nyamuk/lampu minyak di tempat yang aman</p></li><li><p>Tidak menyalakan kompor/sejenisnya ketika meninggalkan rumah dan ketika tidur/istirahat</p></li><li><p>Menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) di gedung perkantoran dan permukiman, serta menyediakan fasilitas pemadam kebakaran darurat seperti bak air, ember, karung goni, dan lainnya yang bisa digunakan ketika terjadi kebakaran</p></li><li><p>Melakukan perbaikan/penggantian instalasi listrik yang tidak layak pakai untuk menghindari arus pendek.</p></li></ul><p><br/></p><p>Diskusikan pertanyaan berikut ini dan tuliskan hasil diskusi di bawahnya!</p><ol><li><p>Apa pendapatmu terkait dengan peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana tersebut?</p></li><li><p>Apa saja kendala utama dalam implementasi mitigasi bencana di daerah tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana upaya pemulihan pasca-bencana dapat dirancang untuk memperbaiki kerusakan dan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap peristiwa tersebut di masa depan?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2622182495/b353cb16e283838af13d22920c4f7ecc/Kekeringan.png" />
         <pubDate>2024-08-13 03:56:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073879026</guid>
      </item>
      <item>
         <title>17 Desa di Lumajang Alami Krisis Air Bersih</title>
         <author>ninikyustin</author>
         <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073880579</link>
         <description><![CDATA[<p>Musim kemarau terjadi di Lumajang. Akibatnya, 17 desa yang berada di tujuh kecamatan di Lumajang mengalami krisis air bersih.</p><p>Ketujuh kecamatan yang mengalami krisis air bersih tersebut, yakni Kecamatan Tempeh, Gucialit, Padang, Kedung Jajang, Klakah, Randu Agung dan Ranuyoso.</p><p>&nbsp;</p><p>Salah satu desa yang mengalami krisis air bersih, yakni Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang.</p><p>&nbsp;</p><p>Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga mengandalkan bantuan dari pemerintah. Bahkan, untuk mandi, warga terpaksa menakar air agar hemat.</p><p>&nbsp;</p><p>Sedangkan untuk mencuci pakaian, warga terpaksa harus mencuci di sungai untuk menghemat air.</p><p>&nbsp;</p><p>"Kalau musim kemarau seperti sekarang warga kesulitan air, untuk mandi ya harus ditakar biar hemat " ujar salah satu warga, Suliana, Senin (5/8/2024).</p><p>&nbsp;</p><p>Menurut BPBD Lumajang, kondisi kekeringan di tahun ini meluas jika dibandingkan dengan tahun 2023, di mana tahun lalu, jumlah wilayah yang dilanda kekeringan hanya enam kecamatan saja. Namun, tahun ini menjadi tujuh kecamatan.</p><p>&nbsp;</p><p>"Untuk wilayah yang mengalami kekeringan tahun ini, ada peningkatan menjadi tujuh kecamatan, untuk tahun sebelumnya hanya enam kecamatan," ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi Cahyono kepada detikJatim, Senin (5/8/2024).</p><p>&nbsp;</p><p>Untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga, petugas BPBD Lumajang telah mengerahkan empat mobil tangki dengan kapasitas masing masing 5.000 liter untuk melakukan dropping air bersih.</p><p><br/></p><p>Diskusikan pertanyaan berikut ini dan tuliskan hasil diskusi di bawahnya!</p><ol><li><p>Apa pendapatmu terkait dengan peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana tersebut?</p></li><li><p>Apa saja kendala utama dalam implementasi mitigasi bencana di daerah tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana upaya pemulihan pasca-bencana dapat dirancang untuk memperbaiki kerusakan dan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap peristiwa tersebut di masa depan?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2622182495/d3280b12004fd624bc708b40f4517dbb/Krisis_air_bersih.png" />
         <pubDate>2024-08-13 03:58:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073880579</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kebakaran Hebat Lahan Jati di Wates Kulon Progo Sempat Ancam Rusunawa
 
</title>
         <author>ninikyustin</author>
         <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073882448</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebakaran melanda lahan jati seluas 5.000 meter persegi di Dusun Gunung Gempal, Kalurahan Giripeni, Wates, Kabupaten Kulon Progo. Api merembet cepat hingga sempat mengancam bangunan Rusun Sederhana Sewa (Rusunawa) Giripeni dan Kantor Balai Besar Veteriner (BBvet) Wates di dekatnya.</p><p>Kebakaran ini dilaporkan tadi sekitar pukul 11.30 WIB. Hingga pukul 12.50 WIB, nyala api sudah berangsur padam, tapi masih dilakukan upaya pendinginan oleh tim gabungan Damkar Kulon Progo, Polres Kulon Progo, TRC BPBD, PMI, dan relawan.</p><p>&nbsp;</p><p>"Awalnya laporan warga ada sumber api yang kemudian membesar dari arah selatan ke utara," kata Lurah Giripeni, Iswanto Adi Saputro saat ditemui di lokasi, Rabu (7/8/2024) siang.</p><p>&nbsp;</p><p>Adi mengatakan semula api yang muncul masih kecil. Lalu api kian membesar hingga merembet mendekati permukiman, kantor BBVet, dan Rusunawa Giripeni.</p><p>&nbsp;</p><p>"Totalnya ada 5.000 meter yang terbakar, dan ini tadi ngancam rumah terdekat, terus juga kantor BBVet yang ada di utara lokasi dan bangunan Rusunawa Giripeni di sisi barat. Bahkan tadi sempat masuk area Rusunawa juga," ujar dia.</p><p>Adi menyebut penyebab kebakaran ini masih diselidiki Polres Kulon Progo.</p><p>&nbsp;</p><p>"Sebelumnya di sini memang sudah pernah, bahkan tiga kali. Pertama karena pembakaran sampah, kedua karena ada yang buang puntung rokok sembarangan," ucap dia.</p><p>&nbsp;</p><p>Sementara itu Koordinator Personel Damkar Kulon Progo, Purwaka mengatakan informasi sementara menyebut kebakaran itu imbas pembakaran sampah.</p><p>&nbsp;</p><p>"Dugaan sementara karena ada yang bakar sampah," kata dia.</p><p>&nbsp;</p><p>Purwaka mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di musim kemarau.</p><p>&nbsp;</p><p>"Tentu kita harus waspada, apabila ada yang bakar sampah wajib diawasi. Apalagi di saat ini kan angin sedang kencang," ujarnya.</p><p><br/></p><p>Diskusikan pertanyaan berikut ini dan tuliskan hasil diskusi di bawahnya!</p><ol><li><p>Apa pendapatmu terkait dengan peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana tersebut?</p></li><li><p>Apa saja kendala utama dalam implementasi mitigasi bencana di daerah tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana upaya pemulihan pasca-bencana dapat dirancang untuk memperbaiki kerusakan dan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap peristiwa tersebut di masa depan?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2622182495/dc7e6ddd6b808a96673e79d59441b8ab/Kebakaran.png" />
         <pubDate>2024-08-13 04:01:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3073882448</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sederet Daerah Ini Perlu Waspada Kekeringan Meteorologis pada Awal Agustus 2024</title>
         <author>ninikyustin</author>
         <link>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3077149998</link>
         <description><![CDATA[<p>Sekarang ini separuh wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyampaikan puncak musim kemarau 2024 terjadi pada Juli-Agustus.</p><p>Musim kemarau dapat menimbulkan kekeringan meteorologis, kebakaran hutan lahan, kurangnya air bersih, juga gagal panen.</p><p> </p><p>Kekeringan meteorologis adalah kekeringan yang disebabkan tingkat curah hujan suatu daerah di bawah normal, seperti dikutip dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB.</p><p> </p><p>Maka dari itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada dan melakukan antisipasi seperti menghemat air, menampung air hujan, penghijauan, hingga pergerakan waduk agar dapat menampung air lebih banyak.</p><p> </p><p>Dikutip dari unggahan media sosial resmi BMKG, berikut ini daftar wilayah dengan potensi kekeringan meteorologis dengan kategori Awas, Siaga, dan Waspada:</p><p> </p><p>Awas: Beberapa kabupaten di Jawa Timur, NTB, dan NTT</p><p>Siaga: Beberapa kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT</p><p>Waspada: Beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB.</p><p> </p><p>Antisipasi Hadapi Kekeringan/Karhutla</p><p>BMKG mengimbau sederet hal ini untuk mengantisipasi kekeringan/kebakaran hutan dan lahan (karhutla):</p><p> </p><ul><li><p>Tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat</p></li><li><p>Tidak membuka lahan pertanian/perkebunan dengan cara membakar</p></li><li><p>Tidak meninggalkan api di hutan dan lahan</p></li><li><p>Menempatkan lilin/obat nyamuk/lampu minyak di tempat yang aman</p></li><li><p>Tidak menyalakan kompor/sejenisnya ketika meninggalkan rumah dan ketika tidur/istirahat</p></li><li><p>Menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) di gedung perkantoran dan permukiman, serta menyediakan fasilitas pemadam kebakaran darurat seperti bak air, ember, karung goni, dan lainnya yang bisa digunakan ketika terjadi kebakaran</p></li><li><p>Melakukan perbaikan/penggantian instalasi listrik yang tidak layak pakai untuk menghindari arus pendek.</p></li></ul><p><br></p><p>Diskusikan pertanyaan berikut ini dan tuliskan hasil diskusi di bawahnya!</p><ol><li><p>Apa pendapatmu terkait dengan peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peristiwa tersebut?</p></li><li><p>Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana tersebut?</p></li><li><p>Apa saja kendala utama dalam implementasi mitigasi bencana di daerah tersebut?</p></li><li><p>Bagaimana upaya pemulihan pasca-bencana dapat dirancang untuk memperbaiki kerusakan dan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap peristiwa tersebut di masa depan?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2622182495/b353cb16e283838af13d22920c4f7ecc/Kekeringan.png" />
         <pubDate>2024-08-16 00:16:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ninikyustin/lfvy9x0ynyptsogo/wish/3077149998</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
