<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perlawanan Sebelum dan Sesudah Abad 19 by Adinda nurliana</title>
      <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-26 00:59:23 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-08-28 11:46:07 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Minangkabau terhadap Pemerintah Kolonial Belanda</title>
         <author>adindadinda05465</author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556320300</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tahap Pertama (1803–1821)</strong><br>Perang awalnya merupakan konflik internal antara Kaum Padri (ulama pembaru Islam) melawan Kaum Adat (pemimpin tradisional Minangkabau). Kaum Padri ingin menegakkan ajaran Islam secara murni dengan menghapus praktik adat yang dianggap bertentangan dengan syariat, sedangkan Kaum Adat berusaha mempertahankan tradisi lama. Pada tahap ini, Belanda belum ikut campur.</p><p><strong>Tahap Kedua (1821–1833)</strong><br>Kaum Adat yang terdesak kemudian meminta bantuan Belanda. Belanda masuk ke Sumatra Barat dan berpihak pada Kaum Adat untuk mengalahkan Kaum Padri. Sejak saat itu, perang berubah menjadi konflik antara Padri melawan Belanda + Adat. Belanda memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas kekuasaan dan memperkuat kedudukannya di Minangkabau.</p><p><strong>Tahap Ketiga (1833–1837)</strong><br>Setelah melihat ancaman Belanda semakin nyata, Kaum Adat dan Kaum Padri akhirnya bersatu melawan Belanda. Pada tahap ini, perang dipimpin oleh tokoh-tokoh penting seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh, dan Haji Miskin. Perlawanan dilakukan dengan strategi gerilya dan bertahan di benteng-benteng. Namun, Belanda terus menambah pasukan dan memperkuat pertahanan. Pada tahun 1837, benteng Bonjol berhasil direbut dan Imam Bonjol ditangkap, diasingkan, lalu wafat di Manado.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 02:17:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556320300</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Banten terhadap VOC</title>
         <author>adindadinda05465</author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556322487</link>
         <description><![CDATA[<p>Perlawanan Kerajaan Banten terhadap VOC berlangsung pada abad ke-17 ketika Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa (1651–1682). Pada masa itu, Banten merupakan salah satu kerajaan Islam terkuat di Nusantara, terkenal sebagai pusat perdagangan lada yang ramai dengan kedatangan pedagang dari Arab, India, Cina, Inggris, dan bangsa Eropa lainnya. Namun, VOC berusaha memonopoli perdagangan lada di Banten agar dapat menguasai pasar internasional. Tindakan ini ditolak oleh Sultan Ageng karena merugikan rakyat dan mengancam kedaulatan ekonomi kerajaan.</p><p>Sebagai upaya melawan tekanan VOC, Sultan Ageng Tirtayasa memperkuat angkatan laut dan pertahanan Banten, membangun benteng-benteng strategis, serta menjalin aliansi dengan pihak lain yang menentang VOC, seperti Kerajaan Makassar, pedagang Inggris, dan Perancis. Ia juga mengembangkan ekonomi rakyat dengan membuka lahan pertanian baru agar Banten tidak bergantung sepenuhnya pada perdagangan lada. Strategi ini membuat posisi Banten cukup kuat dalam menghadapi tekanan VOC.</p><p>Namun, VOC menggunakan politik adu domba untuk melemahkan Banten. Putra Sultan Ageng, yaitu Sultan Haji, berselisih dengan ayahnya dan meminta bantuan VOC untuk merebut kekuasaan. VOC segera mendukung Sultan Haji dengan memberikan senjata dan pasukan. Perselisihan keluarga ini berubah menjadi perang saudara, di mana pasukan Sultan Ageng berhadapan dengan Sultan Haji yang dibantu VOC.</p><p>Perang memuncak pada tahun 1682, ketika VOC bersama Sultan Haji berhasil menyerang pusat kekuasaan Sultan Ageng. Akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap, dipenjarakan, dan wafat dalam tahanan VOC. Sejak saat itu, kekuatan politik Banten semakin lemah, kerajaan kehilangan kedaulatan, dan VOC semakin memperkuat dominasinya di wilayah barat Nusantara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 02:18:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556322487</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Diponegoro</title>
         <author>adindadinda05465</author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556328942</link>
         <description><![CDATA[<p>Perang Diponegoro merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Jawa melawan kolonial Belanda. Perang ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengkubuwono III dari Yogyakarta, yang dikenal sebagai tokoh religius dan dekat dengan rakyat kecil.</p><p>Latar belakang perang berawal dari campur tangan Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta, beban pajak yang semakin berat bagi rakyat, serta pembangunan jalan yang melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin. Hal itu menimbulkan kemarahan Diponegoro dan rakyat, sehingga pada tahun 1825 pecah perlawanan bersenjata.</p><p>Jalannya perang berlangsung selama lima tahun dan meluas ke berbagai wilayah Jawa, mulai dari Yogyakarta, Kedu, Bagelen, Banyumas, Pacitan, Kediri, hingga Madiun. Pangeran Diponegoro menggunakan strategi perang gerilya dengan memanfaatkan dukungan luas rakyat, bangsawan, dan ulama. Perlawanan ini membuat Belanda kewalahan, hingga mereka membangun lebih dari 160 benteng pertahanan untuk menekan gerakan rakyat.</p><p>Akhir perang<strong> </strong>terjadi pada tahun 1830 ketika Belanda dengan tipu muslihat mengundang Pangeran Diponegoro ke Magelang untuk berunding. Dalam pertemuan itu, Diponegoro justru ditangkap dan kemudian diasingkan ke Makassar hingga wafat pada tahun 1855.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 02:21:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556328942</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Pangeran Mangkubumi &amp; Raden Mas Said terhadap VOC</title>
         <author>adindadinda05465</author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556331594</link>
         <description><![CDATA[<p>Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said terjadi pada pertengahan abad ke-18 di Jawa Tengah. Latar belakangnya berawal dari campur tangan VOC dalam urusan politik Kerajaan Mataram. Pangeran Mangkubumi, yang merupakan adik Pakubuwono II, merasa kecewa karena haknya atas tanah yang dijanjikan Belanda tidak dipenuhi. Sementara itu, Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) juga kecewa karena kedudukannya direndahkan di istana, padahal ia berasal dari garis keturunan bangsawan.</p><p>Kekecewaan tersebut mendorong keduanya bersatu melawan VOC dan raja Mataram yang dianggap terlalu tunduk pada Belanda. Dalam perlawanan ini, Pangeran Mangkubumi berperan sebagai pemimpin politik yang menggalang dukungan rakyat, sedangkan Raden Mas Said terkenal dengan strategi perang gerilya yang membuat VOC kewalahan. Perlawanan berlangsung lama, sekitar tahun 1742–1755, dan menyebar ke berbagai daerah di Jawa Tengah.</p><p>Akhirnya, karena tidak mampu sepenuhnya mengalahkan pasukan Mangkubumi dan Mas Said, VOC memilih jalan damai. Pada tahun 1755, ditandatangani Perjanjian Giyanti, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Namun, Raden Mas Said menolak isi perjanjian tersebut dan terus melanjutkan perlawanan. Baru pada tahun 1757, melalui Perjanjian Salatiga, ia berdamai dengan VOC dan diberi kedudukan sebagai Adipati Mangkunegara I di Surakarta.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 02:23:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3556331594</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Bali</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558403916</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama anggota Kelompok:</p><p>1. MICHEL NUR FEBRIYANTI (22)</p><p>2. RASYIFA ARCHERYCA RAHMAT ANANDA (31)</p><p>3. SITI NUR UTAMI (35)</p><p><br/></p><p>Perlawanan Rakyat Bali</p><p>1846: Belanda kirim 1.700 pasukan (ekspedisi I) → gagal menaklukkan Bali.</p><p>1848: Ekspedisi II, disambut perlawanan Kerajaan Buleleng &amp; Karangasem di bawah I Gusti Ktut Jelantik di Benteng Jagaraga → Belanda gagal lagi (dikenal sebagai Perang Jagaraga I)</p><p>1849: Ekspedisi III dengan 4.177 pasukan. Serangan dari darat &amp; laut pada 15–16 April → Benteng Jagaraga jatuh (dikenal sebagai Perang Jagaraga II).</p><p>Setelah itu rakyat Bali tetap melawan:</p><p>1858: I Nyoman Gempol menyerang Belanda → gagal.</p><p>1868: Ida Made Rai memimpin perlawanan → gagal.</p><p>1905: Seluruh Bali akhirnya dikuasai Belanda → perjuangan rakyat Bali berakhir.</p><p><br/></p><p>Dampak perlawanan rakyat Bali:</p><p>1. Banyak korban jiwa dari pihak rakyat Bali maupun Belanda.</p><p>2. Benteng Jagaraga berhasil direbut Belanda (tanda melemahnya pertahanan Bali).</p><p>3. Perlawanan rakyat tetap berlangsung tapi selalu gagal.</p><p>4. Akhirnya, seluruh Bali jatuh ke tangan Belanda tahun 1905 → berakhirnya kedaulatan kerajaan-kerajaan Bali.</p><p><br/></p><p>Latar belakang perlawanan rakyat Bali:</p><p>1. Belanda ingin menaklukkan Bali untuk memperluas kekuasaan dan menguasai perdagangan.</p><p>2. Belanda menentang tradisi tawan karang (hak raja Bali mengambil barang dari kapal asing yang karam di pantai).</p><p>3. Rakyat dan raja-raja Bali menolak campur tangan Belanda dalam urusan adat dan kedaulatan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 07:59:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558403916</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Aceh melawan pemerintah kolonial Belanda</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558413275</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama anggota : </p><ol><li><p>Katharina Evelyn Ernestine/14</p></li><li><p>Mufida Zahrani/23</p></li><li><p>Nabila Agistina Syahruni/26</p></li></ol><p><br/></p><p>Pada tanggal 14 April 1873, pasukan kolonial Belanda yang dipimpin J.H.R. Kohler menyerang Masjid Baiturrahman namun serangan tersebut gagal dan Kohler tewas. Belanda tidak menyerah dan mengirim 8.000 pasukan tambahan yang dipimpin oleh J. Van Swieten.</p><p>​Pada 15 Januari 1874, Istana Kerajaan Aceh berhasil dikuasai oleh Belanda, namun Sultan Mahmud Syah berhasil melarikan diri ke Pagar Aye. Setelah Sultan Mahmud Syah meninggal pada tahun 1874, posisinya digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Daud Syah, yang dinobatkan pada tahun 1884.</p><p>​Karena perlawanan rakyat Aceh yang terus berlanjut, Belanda mengutus Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam, untuk mencari cara mengalahkan Aceh. Menyamar sebagai ulama Turki bernama Abdul Gafar, ia merekomendasikan politik "adu domba" (devide et impera). Politik ini bertujuan untuk memecah belah kaum ulama dan bangsawan Aceh. Menurut Hurgronje, kaum ulama yang mengobarkan semangat jihad harus dilawan secara militer, sementara kaum bangsawan dapat dibujuk dengan kekuasaan dan jabatan.</p><p>​Saran tersebut dimanfaatkan oleh Teuku Umar, yang pada Agustus 1893 berpura-pura bergabung dengan Belanda. Setelah diangkat sebagai panglima perang Belanda, Teuku Umar membelot dan kembali ke pasukan Aceh dengan membawa senjata lengkap dari Belanda. Hal ini memicu kemarahan Belanda, yang kemudian memerintahkan J.B. van Heutz untuk mengejar Teuku Umar. Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh.</p><p>​Untuk mengakhiri perlawanan yang masih sengit, Belanda menggunakan cara licik. Pada tanggal 6 September 1903, Panglima Polim menyerah setelah keluarganya ditahan. Hal serupa juga menimpa Sultan Muhammad Daud Syah. Perlawanan Aceh secara resmi berakhir setelah penandatanganan Plakat Pendek pada tahun 1904. Plakat tersebut menyatakan Aceh mengakui kedaulatan Belanda, tidak boleh menjalin hubungan dengan bangsa lain selain Belanda, dan harus mematuhi perintah dan peraturan Belanda.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:08:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558413275</guid>
      </item>
      <item>
         <title>perlawanan rakyat batak terhadap pemerintah belanda</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558413877</link>
         <description><![CDATA[<p>Alasan untuk melindungi zending merupakan alasan yang dibuat-buat oleh Belanda. Alasan yang sebenarnya dari Belanda adalah untuk menguasai tanah-tanah Batak. Pasukan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapten Schelten menuju Bahal Batu. Rakyat Batak yang dipimpin oleh Raja Si Singamangaraja XII melakukan perlawanan di Bahal Batu. Dalam menghadapi serangan dari kolonial Belanda, pasukan Si Singamangaraja XII menggunakan benteng alam yang terdapat di Dataran Tinggi Toba dan Silindung. Selain benteng alam pasukan Si Singamangaraja juga membuat benteng buatan yang diletakkan di perkampungan. Setiap kelompok kampung dibentuk empat persegi dengan pagar keliling terbuat dari tanah dan batu. Di luar tembok ditanami bambu berduri dan di sebelah luarnya lagi dibuat selokan keliling yang cukup dalam. Pintu masuk dibuat hanya beberapa buah dengan ukuran sempit. Pasukan Si Singamangaraja XII yang terdesak mulai bergerak menuju ke Huta Puong. Di daerah ini pasukan Si Singamangaraja melakukan perlawanan terhadap ekspedisi pasukan kolonial Belanda. Tapi pada tanggal 4 September 1899 Huta Puong dapat dikuasai oleh pasukan kolonial Belanda sehingga pasukan SI Singamangaraja XII harus bergerak ke Pakpak dan Dairi. Pasukan Belanda di bawah pimpinnan van Daden melakukan stratergi sapu bersih terhadap kantong-kantong pertahanan dari Aceh sampai tanah Gayo termasuk yang ada di tanah Batak. Pada tahun 1907 di bawah pimpinan Hans Christoffel memfokuskan untuk menangkap Si Singamangaraja XII. Pertahanan Si Singamangaraja XII berhasil dikepung rapat di daerah segitiga Barus Sidikalang dan Singkel. Walaupun sudah dikepung, Raja Si Singamangaraja XII belum dapat ditangkap, dan akhirnya Belanda menggunakan siasat liciknya yakni menangkap istri dari Raja Si Singamangaraja XII (Boru Sagala). Dalam keadaan yang terdesak secara psikologis, Raja Si Singamangaraja tetap bertahan di tempat persembunyiannya di Aik Sibulbulon, daerah Dairi. Belanda yang mengetahui tempat persembunyiannya langsung melakukan serangan. Dalam keadaan terdesak Raja Si Singamangaraja XII tidak mau menyerah dan melakukan perlawanan, dan akhirnya Raja Si Singamangaraja tertembak mati beserta ketiga anaknya, pada tanggal 17 Juni 1907.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:08:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558413877</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558413913</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama anggota</p><p>Achmad Maulana Zulfa/01</p><p>Andreas Langlang B.R.N /03</p><p>Pramahestya Siharta.M/29</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Penjelasan perlwanan Sultan Agung terhadap VOC</p><p><br/></p><p>Pada abad ke-17 terjadi perebutan kekuasaan antara Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung dan VOC yang dipimpin J.P. Coen. Sultan Agung bercita-cita menyatukan Jawa, sementara VOC ingin memonopoli perdagangan rempah. Hal ini memicu konflik besar.</p><p><br/></p><p>Mataram menyerang Batavia dua kali, yaitu tahun 1628 dan 1629. Serangan pertama dipimpin Tumenggung Baureksa, namun gagal karena kalah senjata dan kekurangan logistik; Tumenggung Baureksa gugur. Pada serangan kedua, Mataram memperkuat armada perang dan logistik, tetapi VOC berhasil membakar lumbung beras Mataram. Meskipun pasukan Mataram berhasil menghancurkan benteng Holandia dan mengepung benteng Bommel, mereka tetap gagal menaklukkannya karena kekurangan logistik.</p><p><br/></p><p>Sultan Agung wafat pada tahun 1645, sehingga cita-cita menaklukkan VOC pun sirna.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:08:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558413913</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Orang-Orang Cina Berontak</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558414234</link>
         <description><![CDATA[<p>Anggota: </p><p>• Ervira Surya Dewi (8)</p><p>• Nur Aini Azizah (27)</p><p>• Salsahbela Feronica (34)</p><p><br/></p><p>kronologi: Pemerintah VOC di Batavia mewajibkan orang Tionghoa memiliki surat izin bermukim dengan biaya mahal. Kebijakan ini menimbulkan kekecewaan hingga banyak orang Tionghoa melarikan diri ke luar kota. Pada tahun 1740 terjadi kebakaran di Batavia, dan VOC menuduh orang Tionghoa sebagai pelakunya. Akibatnya, VOC melakukan pembantaian besar-besaran terhadap orang Tionghoa di Batavia. Mereka yang selamat melanjutkan perlawanan di luar kota, dipimpin oleh Oey Panko (Khe Panjang/Ki Sapanjang), yang mendapat dukungan dari bupati-bupati dan bahkan Sunan Pakubuwana II.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:09:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558414234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Aceh terhadap Portugis</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558414674</link>
         <description><![CDATA[<p>Anggota Kelompok:</p><ol><li><p>Aisha Nady/2</p></li><li><p>Ria Rahma/32</p></li><li><p>Risna Amalia/33</p></li></ol><p><br/></p><p>Perlawanan Aceh terhadap Portugis</p><p>A. Latar Masalah</p><p>Portugis merasa tersaingi dengan pelabuhan Aceh </p><p><br/></p><p>B. Kronologi</p><p>Pada tahun 1523, Portugis melancarkak serangan ke Aceh dipimpin oleh Henrigues dan menyusul pada tahun 1524 oleh Desauza. Semua serangan itu gagal kemudian portugis menggunakan siasat lain yaitu mengganggu kapal dagang Aceh. Tahun 1525 kapal dagang Aceh ditenggelamkan oleh portugis di laut merah. Tindakan itu menyulut amarah kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh merencanakan serangan balasan namun, tetap belum bisa mengalahkan bangsa Portugis.</p><p><br/></p><p>Pada masa pemerintahan Iskandar Muda berusaha melipatgandakan kekuatan pasukannya. Tahun 1629 Iskandar Muda melancarkan serangan ke Malaka namun, serangan kali ini tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:09:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558414674</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis dan VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558414779</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama anggota kelompok:</p><ol><li><p>Bangga cipta(06) </p></li><li><p>Hazzel Radhitya A(13) </p></li><li><p>Ramadhani Iboy Prayoga(30)</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bangsa Portugis ikut campur dalam urusan kerajaan. Hal inilah yang memicu kemarahan Sultan Hairun. la meminta kepada semua kerajaan yang bersekutu dengan Ternate untuk melakukan boikot dan perlawanan terhadap Portugis. Pada tanggal 28 Febuari 1570, Sultan Hairu bersama rombongan pergi ke benteng untuk berunding. Namun setelah perundingan selesai, beliau bersama rombongan dibunuh oleh Portugis di dalam benteng.</p><p>Tindakan yang dilakukan oleh bangsa Portugis tersebut membuat Sultan Baabullah (anak Sultan Hairun) marah besar. la menggantikan ayahnya melawan bangsa Portugis. la memerintahkan kepada rakyat dan pasukannya untuk meblokir jalan masuk dan keluar benteng Sao Paulo. Selama lima tahun, orang-orang Portugis yang ada di benteng tidak bisa masuk dan keluar. Apabila tetap keluar maka akan diserang oleh pasukan dan rakyat Ternate. Pada tahun 1575 Portugis menyerah kepada Sultan Baabullah. Orang-orang Portugis tidak dihukum mati melainkan diusir untuk pergi dari Maluku, dan akhirnya bangsa Portugis pergi ke Ambon.</p><p>Gambar ilustrasi Sultan Baabullah Sumber <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://historia.id">https://historia.id</a></p><p>Pada tahun 1635-1646 rakyat Hitu yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukbesi mengangkat senjata. Melihat aksi perlawanan rakyat Hitu, rakyat Ambon ikut melakukan perlawanan terhadap Belanda yang dipimpin oleh Saidi, pada tahun 1650. Segala macam perlawanan tersebut berhasil dikendalikan oleh VOC. Akan tetapi pada tahun 1780, muncul perlawnaan dari rakyat Maluku yang dipimpin oleh Raja Nuku. Dalam melakukan peridalawanannya, Sultan Nuku mendapatkan bantuan dari Raja Ampat dan orang-orang Gamrange dari Halmahera serta tentara Inggris. Akibat serangan dan bantuan yang begitu banyak membuat VOC harus mengakui kedaulatan Kerajaan Tidore sampai Sultan Nuku meninggal dunia. Sultan Nuku meninggal pada tahun 1805.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:09:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558414779</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Ambon Melawan Pemerintah Kolonial Belanda</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558415273</link>
         <description><![CDATA[<p>Perlawanan Rakyat Ambon Melawan Pemerintah Koolonial Belanda pada 15 Mei 1817 dan mengepung Bentenga Dumestede Keesokan harinya rakyat berhasil Perlawanan rakyat Maluku diawali dengan membakar perahu Pos di Porto (pat berhan menguasai benteng dan menembak mati Residen Maluku. Van De Berg. Pada 14 Mel 1817, Pattimura mulai memimpin perlawanan kepada Belanda, terutama di Porto, Belanda kesulitan, akhimya Belanda meminta bantuan darn Ambon. Dikirimian pasukan sebanyak 200 orang pada Juli 1817. Untuk kedua kalinya Belanda datang ke Saparua dan berhasil menguasai Benteng Duurstede pada Agustus 1817. Pada Oktober 1817, Belanda berkeinginan untuk segera menyelesaikan perang. Untuk itulah pada bulan tersebut Belarida mengerahkan pasukannya secara besar-besaran.</p><p>Serangan Belanda tersebut, menyebabkan pasukan Pattimura saat perang maluku semakin terdesak. Banyak daerah yang jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpinnya juga banyak yang tertangkap yaitu Rhebok, Thomas Pattiwael, Pattimura, Raja Tiow, Lukas Latumahina, dan Johanes Mattulessi. Pattimura sendiri akhirnya tertangkap di Siri Seri yang kemudian dibawa ke Saparua. Belanda membujuk Pattimura untuk diajak kerja sama, namun Pattimura menolak. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di depan benteng Victoria Ambon. Dalam Perang Maluku dikenal pula pahlawan wanita, Christina Martha Tiahahu dan sering dijuluki Mutiara dari Timur, yang ikut berjuang melawan Belanda sekalipun usia yang masih muda (17 tahun) dan wafat 1 Januari 1818 dalam pengasingan (pembuangan) di Pulau Jawa.</p><p><br/></p><p>Pada perlawanan rakyat Maluku ini juga memberikan berbagai akibat. Salah satunya adalah banyaknya pejuang dan rakyat Maluku yang gugur. Bahkan beberapa di antara mereka juga ditangkap dan disiksa terlebih dahulu, sebelum akhirnya meninggal dunia di tangan penjajah. Akibat lainnya adalah para rakyat Saparua dihukum berat karena dianggap telah membantu pemberontakan. Selain itu, monopoli rempah-rempah juga diberlakukan kembali oleh pemerintah Belanda.</p><p><br/></p><p>Fathin Nabila Balqis (09)</p><p>Nurul Ngizza (28)</p><p>Viola Dwimentari (36)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:10:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558415273</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Riau Terhadap VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558415405</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama Kelompok : </p><p>Anugraheni (5), Fidela (11), Fajar (25)</p><p><br></p><p><br></p><p> Kronologi Perang Rakyat Riau vs VOC</p><p>1. Latar Belakang (Awal Abad ke-18)</p><p>VOC (Belanda) semakin memperluas kekuasaan di wilayah Nusantara, termasuk di Kepulauan Riau.</p><p>Mereka ingin menguasai perdagangan timah, rempah, dan jalur strategis Selat Malaka.</p><p>Sultan dan rakyat Riau menolak dominasi VOC karena dianggap merugikan dan mengekang kedaulatan kerajaan.</p><p>2. VOC Menyusup ke Riau (1710-an)</p><p>VOC mulai menekan kerajaan Johor-Riau dengan perjanjian-perjanjian yang berat sebelah.</p><p>Tahun 1717, terjadi pemberontakan besar di Johor yang juga didukung rakyat Riau, dipimpin Raja Kecil (yang mengaku keturunan Sultan Mahmud Syah II Johor).</p><p>3. Perlawanan di Bawah Raja Kecil (1717–1722)</p><p>Raja Kecil merebut takhta Johor-Riau dan mendapatkan dukungan rakyat Riau untuk melawan VOC.</p><p>VOC tidak tinggal diam, mereka membantu pihak lawan Raja Kecil (Bugis dan beberapa bangsawan Johor).</p><p>Pertempuran berlangsung sengit, namun posisi Raja Kecil semakin melemah setelah Bugis masuk ke dalam kekuasaan.</p><p>4. Puncak Perlawanan Rakyat Riau (1780-an)</p><p>Setelah beberapa dekade, rakyat Riau kembali bangkit melawan dominasi VOC.</p><p>Tahun 1782–1784, VOC mencoba menduduki Pulau Penyengat dan pusat kerajaan Riau.</p><p>Rakyat Riau bersama pejuang Bugis di bawah Raja Haji Fisabilillah melakukan perlawanan gigih.</p><p>5. Pertempuran Laut Riau (1784</p><p>Puncaknya terjadi di Teluk Riau (1784).</p><p>Armada VOC diserang secara besar-besaran oleh gabungan pasukan Riau, Bugis, dan Melayu.</p><p>Pertempuran ini menjadi salah satu kekalahan terbesar VOC di laut.</p><p>Raja Haji gugur sebagai syuhada, namun semangat rakyat Riau semakin berkobar.</p><p>6. Akhir Perlawanan</p><p>Setelah gugurnya Raja Haji (1784), VOC memperkuat kedudukan di wilayah Malaka dan berusaha mengikat perjanjian baru dengan kerajaan Johor-Riau.</p><p>Meskipun secara politik VOC masih berpengaruh, rakyat Riau terus menunjukkan sikap anti-penjajahan.</p><p>Perang ini dikenang sebagai simbol keberanian rakyat Riau dalam mempertahankan kedaulatan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:10:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558415405</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Gowa terhadap VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558418324</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama Kelompok:</p><ul><li><p>Fatiha (10)</p></li><li><p>Laili (17)</p></li><li><p>Shidqi (24)</p></li></ul><p>1. <strong>Awal Persaingan Dagang</strong></p><p>Kerajaan Gowa (di Makassar) memiliki pelabuhan Somba Opu yang sangat strategis. VOC ingin menguasai perdagangan di sana agar monopoli rempah-rempah terjamin.</p><p><br/></p><p>2. <strong>Blokade Dagang oleh VOC (1634)</strong></p><p>VOC mencoba melemahkan Gowa dengan memblokade pelabuhan Somba Opu. Upaya ini gagal karena Gowa tetap kuat dan perdagangan tetap berjalan.</p><p><br/></p><p>3. <strong>Sultan Hasanuddin Melawan VOC</strong></p><p>Sultan Hasanuddin menyadari niat buruk VOC. Beliau mempersiapkan perlawanan dengan:</p><p>- Membangun benteng-benteng di sepanjang pantai.</p><p>- Mengajak sekutu-sekutu Gowa untuk bergabung melawan VOC.</p><p><br/></p><p>4. <strong>Siasat VOC: Devide et Impera</strong></p><p>VOC khawatir dengan kekuatan Gowa. VOC menggunakan politik adu domba (devide et impera). Mereka menjalin kerja sama dengan Aru Palaka, pangeran Bugis dari Bone yang memang punya dendam pada Gowa.</p><p><br/></p><p>5. <strong>Serangan Besar VOC (1667)</strong></p><p>Gubernur Jenderal VOC, Maetsuyker, memutuskan untuk menyerang Gowa. VOC mengirim ekspedisi:</p><p>- 21 kapal,</p><p>- 600 tentara VOC,</p><p>- Orang Ambon di bawah Jonker van Manipa,</p><p>- Orang Bugis di bawah Aru Palaka.</p><p><br/></p><p>6. <strong>Perang Gowa Meletus (7 Juli 1667)</strong></p><p>- Pasukan VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman.</p><p>- Pasukan gabungan menyerang Gowa dari berbagai penjuru.</p><p>- Awalnya pasukan Sultan Hasanuddin mampu menahan serangan.</p><p>- Namun karena VOC memiliki persenjataan modern dan dukungan Aru Palaka, pertahanan Gowa mulai melemah.</p><p><br/></p><p>7. <strong>Jatuhnya Benteng Barombang</strong></p><p>- Pasukan Aru Palaka berhasil merebut Benteng Barombang, salah satu pertahanan penting Gowa. Hal ini menandai kemenangan VOC atas Gowa.</p><p><br/></p><p>8. <strong>Perjanjian Bongaya (18 November 1667)</strong></p><p>- Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya. Isi perjanjian sangat merugikan Gowa karena memberi keuntungan besar bagi VOC.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:13:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558418324</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Tondano</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558419587</link>
         <description><![CDATA[<p>Anggota kelompok: </p><p>Cantika firza nayla c. (07) </p><p>Khilda munaya (16) </p><p>Maulia Karima Bestari (21) </p><p><br/></p><p>Kronologi perang Tondano: </p><p> Perang tondano terjadi dua kali. Orang2 Spanyol berdagang di Minahasa "Tondano" Sulawesi Utara. Hubungan dagang berjalan lancar sampai abad ke-17, VOC mulai datang dan menyingkirkan pedagang Spanyol. VOC jg memaksa orang-orang Minahasa untuk menjual berasnya. akhirnya Tondano mundur ke manado. VOC menganggap Spanyol sudah pergi. </p><p>Perang Tondano ke Dua terjadi ketika memasuki abad ke-19 (masa pemerintahan Kolonial Belanda. Dilatarbelakangi oleh kebijakan gubernur Jenderal Daendels. Orang Minahasa tidak setuju dengan program Daendels. salah seorang pemimpin ukung lonto menegaskan rakyat Minahasa melawan koloni Belanda</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:14:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558419587</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Banjar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558420411</link>
         <description><![CDATA[<p>Perang Banjar adalah perlawanan rakyat Kalimantan Selatan terhadap intervensi Belanda yang berawal dari penolakan pengangkatan Sultan Tamjidillah II oleh Belanda pada 1857. Dipimpin oleh Pangeran Antasari, perlawanan dimulai pada 28 April 1859 dengan serangan ke pos-pos Belanda di Martapura. Lalu Belanda melampiaskan kemarahan dengan melepaskan Pangeran Tamjidillah sebagai raja.Kemudian terjadi perang yang menyebar ke beberapa daerah di Kalimantan. Perang ini berakhir pada 1905 setelah kematian Pangeran Antasari pada 1862 dan melemahnya perlawanan, menandai kekalahan Kesultanan Banjar.</p><p><br/></p><p>Anggota Kelompok:</p><p>Anifah Fianita H.S (4)</p><p>Hasna Anisya Maharani (12)</p><p>Khiara Almaghfira (15)</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 08:15:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/adindanurliana2022/lf53gyj3lqzmo3bk/wish/3558420411</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
