<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PEDAS-nya Jepang by Maimon Herawati</title>
      <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091</link>
      <description>Menulis meninggalkan jejak pada peradaban</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-19 06:54:07 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2021-09-20 12:52:12 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4da.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Mendapat kesempatan belajar ke Jepang menjadi titik balik bagiku. Sebelumnya, aku adalah orang yang tidak pernah memikirkan jati diriku sebagai seorang Muslimah. Tetapi, karena muslim adalah minoritas di Jepang, aku sering mendapat pertanyaan seputar islam, yang membuatku belajar tentang agamaku sendiri. Alhamdulillah…	Awalnya aku datang dengan beasiswa D3 Mext dengan niat setelah D3 aku akan melanjutkan S1. Namun qadarullah, IPK-ku kurang memenuhi syarat untuk melanjutkan beasiswa Mext sehingga aku harus mencari beasiswa lain. Alhamdulillah, berbekal kemampuan Bahasa Jepang, aku bisa mendapatkan beasiswa dari Rotary club. 	Beasiswa Rotary club memberi kewajiban untuk mengikuti kegiatan meeting setiap sebulan sekali dengan para anggota Rotary club. Kebetulan aku bergabung dengan Nishio Rotary club yang saat itu baru pertama kali menjadi host untuk mahasiswa penerima beasiswa sepertiku. Mengetahui aku seorang Muslimah, mereka repot-repot memesankan bento halal untukku. Alhamdulillah aku jadi berkesempatan untuk berbicara tentang islam dan Indonesia di hadapan mereka. Salah satu kenangan yang paling ku ingat yaitu kami bisa menanam 50 pohon sakuran pada bulan Maret 2019.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751354502</link>
         <description><![CDATA[<div>Penulis: Nanda Aulia</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:22:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751354502</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jepang, negara yang dikenal sebagai tempat untuk banyaknya inovasi teknologi dan Namun dibalik kemajuan yang tampak oleh mata, sebenarnya ada sisi kemanusiaan yang seringkali terluput oleh perhatian. Penduduk di Jepang kebanyakan beragama atheis atau tidak memiliki agama, walaupun dalam praktiknya mereka mempercayai ajaran Shinto. Budaya di Jepang pun dikenal sebagai homogeny, atau ingin segala hal seragam dan akan asing pada suatu perbedaan. Inilah titik awal yang saya rasakan menjadi seorang muslimah dengan jilbab yang jelas menampakkan identitas.Kala itu, tahun 2015 adalah tahun pertama ku mendarat di Jepang. Aku yang saat itu berstatus sebagai pelajar dan harus pergi ke kampus pada pgi hari mengikatkan tali sepatu ku. Angina berhembus sepoi-sepoi dan udara saat itu terasa sejuk. Aku melangkahkan kaki dengan ringan menuju stasiun untuk mengejar kereta yang 10 menit laig tiba. “Tidak apa-apa,” Pikirku. “Masih ada waktu untuk sampai tepat waktu.”Masuk ke dalam kereta kuperhatikan cukup banyak penumpang karena sedang jam sibuk untuk pergi bekerja. Namun di tengah keramaian, tidak ada yang mau berdiri dekat dengan ku. Sebagai seorang yang baru dan belum familiar dengan kebiasaan orang Jepang, aku merasa ini adalah hal aneh. Ada pula beberapa pasang mata yang melirik diam-diam kea rah ku. Aku pun bertanya ke[ada suami ku yang memang satu kampus dan kita berangkat bersama.“A, ada yang aneh gak sih sama penampilanku? Kenapa kok pada ngelihat kayak giut?”“Tidak ada yang melihat mu kok, hanya perasaaan kamu aja.”Tapi kukuperhatikan diam-diam ada beberapa pasang mata yang melihat jilbab ku. Mungkin mereka masih merasa asing dengan baju yang kupakai. Atau merasa penasaran. “Ah sudahlah tidak perlu dipikirkan&gt;” Begitu kesimpulanku.a</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751354578</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:22:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751354578</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ashrirs</author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751362911</link>
         <description><![CDATA[<div>Makanan halal salah satu tantangan terbesar sebagai musim di Jepang. Jepang entah bagaimana ceritanya seakan belum pernah mengenal Islam. Maksudnya, asing sekali dengan hal-hal berbau Islam. Termasuk makanan halal. Kebanyakan makanan halal yang dijumpai di Jepang adalah hasil impor dari negara lain. Kalau pun produk restoran, hampir pasti restoran itu dikelola orang asing. Tentang sejarah apakah Jepang sebenarnya pernah bersinggungan dengan Islam, hal itu perlu ditelaah lebih dalam lagi.</div><div>Karena jumlahnya yang bukan mayoritas, maka makanan orang muslim di Jepang pun termasuk jarang dijumpai. Saat ini lebih mudah tentu dibanding bertahun-tahun lalu. Namun, belum dapat mengubah kenyataan bahwa muslim tidak bisa sewakru-waktu mampir di kedai pinggir jalan untuk mencari makanan halal.Bagi penghobi kuliner, hal ini bisa menjadi salah satu sumber kedukaan.</div><div>Hal kedua yang dapat menjadi kedukaan bahi seorang muslim adalah di Jepang jarang dijumpai masjid. Ada masjid pun, alsuara azannya tidak bisa berkumandang sampai luar bangunan masjid. Walaupun suara azan dapat didengarkan ketika gawai diatur sedemikian rupa untuk mengingatkan waktu salat, tetap saja suaranya berbeda jika dibandingkan dengan mendengarnya langsung. Gema azan menjadi salah satu yang dirindukan oleh muslim di Jepang.</div><div>Satu lagi hal yang bisa membuat seorang muslim di Jepang merasa kesepiqn, yaitu tidak adanya perayaan pada hari-hari besar Islam. Semuanya biasa saja di luar rumah. Suatu tantangan untuk menyemarakkannya did alam rumah. Bagi beberapa keluarga, hal ini turut berkontribusi menurunkan kepercayaan diri mereka untuk mendidik anaknya mengenal Islam.</div><div>Selain tiga ha ldi atas, menjadi muslim di Jepang kadang juga menimbulkan sepercik kegembiraan. Yang paling jelas adalah ketika bertemu saudara-saudari sesama muslim. Beda bahasa pun tak masalah, semuanya mengucapkan assalamu’alaikum yang sama. Bertemu mereka akan selalu menghibur hati yang kesepian. Sebelum pandemi, seorang muslim bisa pergi mencari masjid agar menemukan hiburan. Setelah pandemi, mungkin memang saatnya tiap-tiap hati yang kesepian kembali mencari hiburan lewat kalam Allah, lewat doa yang beruntai-untai, kembali kepada Allah.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:31:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751362911</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364509</link>
         <description><![CDATA[<div>Jepang adalaha negara dengan seribu mimpi. Seiapa yang tidak tahu dengan jepang? Sebagai orang Indonesia tentu saya tahu Jepang, kenapa? Karena Jepang adalah salah tau “saudara imur dari Asia”bagi bnegara kita Idnnesia. Yang slogannya mungkin terngiang2 oleh rakyat Indonesia di tahun sebelum kemerdekaan. Teatapi nasib berkata lain saudara itu lah yang menjajah negeri kita tercinta, tapi kemerdekaan kita juga tidak akan , apabila laksamana maedatidakameminjamkan rumah beliau untuk jadi tempat untuk dijadikan tempat penyusunan draf proklamasi kemerdekaan Indonesia. Allha memang punya jalan yang tak disanfgka-sangka dalam memberikan hadiah perjuanagkan kepada rakayat Indonesia.<br><br></div><div>Makin menariknya sekarang Jeapgn buakanlah negara yang dianggap sebagai musuh bagi Indonesia, walaupun ada cerita pahit selama ini dibelajkangnya. Begitu juga saya yang menganggap negeri Ini akan memeberikan sumber cahaya ilmu bagi saya , banyak hal yang akan bisa digali disni ayng mungkin suatu saat bisa berguna bagi bangsa Indonesia. Dengan cita-cita itulah saya memberanikan diri untuk mendaftarkan beasiswa dan alhadmdulillah saya bis diterima sebagai salah satu pelajar di kampus di Jepang. Berniat juga untuk slelu menanmaniu suami yang juga menmpuh studi disnis. Tetapi mang betul lah kata orang dulu, bahwa mencari ilmu itu tidak bisa didapatkan dengan kemudahan. Semua yanitu perlu usaha dan pengorbanan. Jepang fdengan negara terkenal kerja kerasnya, telah mengubah sososk sesorang yang menjalani hidup dengan bisa memebagi watu dean hal yang lain karena rasanya studi bisa dikesamojngkan juga dengan hal-hal lain. Itulah saya, menjadi orang yang serba sibuk, sehungga aktivitas termasuk untuk berkeitana dajwah pun di kesamongkan. Manis rasanya ilmu yang sayad patkan, tapi sbenrnya pahit sayaat saya mnninggalkan semua aktivitas kawan-kawan lain yang bisa pergi lke berabagai acara pengajian lesana dan kemari. Saat rasa nya ilmu itu sudah saya dapatm saya ingin sekali ini saaat saya berbagi hal lain dalam hidup saya termasuk berdkawah di Jepang. KArena setelah saya renungi bnyak sekali orang JEpang sendiri yang merkea begitu maksimal di dunia ini tetapi tanpa tau tujuan akhir mereka kemana dan berakhir dengan rasa putus asa, dan parahnya mereka melarikan diri dari hake hal-hal kemaskiartan dan bisa samapi ,meninggalkan dunia ini dengan cara yang tidak benar. Saya harap masih ada asa disaba untuk JEpang agar mereka bisa mengal tentang adanya Tuhan dibalik kehidupan dan rodada hidup di dunia ini.&nbsp; Selain itu saya ingin melihat generasi kedua Islam yang lahir diJepang untuk bisa mewarnai Jepang, jangan sampai mereka terwarnai seluruhnya oeleh kehidupan Jepang. Jangan sampai merekea kehilangan Iman yang sudah mereka miliki. Alhamdulillah saya msudah melihat ada banyak perkembangan dan kesadaran diri dari berbagai pihak untuk terus mencegah lunturnya iman dari generasi Islam di Jepang. Dan insya . Dan mungkin walapunun kontribusi saya hanay setetes air di lautan untuk generasi Islam di Jepang, saya hrapkan itu bisa menjadi amalan saya yang byang bisa menerangi saya nanti di akhirat kelk.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:32:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364509</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suka Duka Menjadi Muslim di Jepang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364638</link>
         <description><![CDATA[<div>Jepang selalu jadi negara idola banyak orang, setidaknya itu yang saya lihat di teman-teman sejawat. Negara yang khas dengan bunga sakuranya, di elukan dengan kebersihan kota nya, pastinya semua orang banyak yang bermimpi bisa ke Jepang atau menetap disini. Sedangkan saya memulai perjalanan hidup di Jepang bukan dari sebuah mimpi yang kuat sehingga begitu keras berusaha untuk bisa ada disini.&nbsp;<br><br>Menemani suami jadi alasan saya untuk tetap menjalani hidup sebagaimana layaknya orang lain, dan&nbsp; dan itu di Jepang sejak 2017 lalu. Betul kata orang-orang, negeri ini indah sekali, bersih nya luar biasa, orang-orangnya juga sangat seragam untuk tidak sampai mengganggu org lain. Tapi ditengah keindahan dan kenyamanan yang disunguhkan mata, ada juga sukanya. Apalagi untuk seorang muslim. Beberapa hal yang menjadi tantangan hidup sebagai muslimah khususnya selama ini di Jepang, pertama kesulitan mendapatkan makanan halal yang kita mau. Bukan berarti tidak ada toko halal, hanya saja jika dibandinngkan dengan kehidupan di Indonesia, pastinya ini jauh berbeda. Beberapa bahan makanan juga mesti diikutkan PO dulu untuk bisa dimiliki. Kedua, karena saya pengalaman melahirkan di Jepang, pastinya ada hal-hal yang sulit di atur. Misalnya memastikan dokter kandungan yang memeriksa ruti tiap bulan nya bukan dokter laki-laki. Beberapa kali mendapati diri konsultasi dengan dokter laki-laki, dan itu tidak bisa ditolak selain juga karena jadwal dokter yang mungkin bisa berubah tanpa kita ketahui. Klimaks nya adalah saat hari H melahirkan, qadarullah juga dibantu oleh dokter laki-laki, meskipun beberapa dokter lainnya perempuan. Itu pengalman yang sulit dilupakan sebetulnya. Tapi bukan cara orang Jepang alau bukan ada pemberitahuan atau agreement sbelemnya terkait kondisi penting seperti melahirkan. Sebelumnya dari pihak rumah sakit sudah memberikan sebundel lembaran yang salah satunya bersedia untuk diperiksa oleh dokter manapun, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi sudah dengan kesadaran penuh, bagi saya atau mungkin muslimah lainnya sadar akan kondisi tersebut. Selama suami mengetahui dan faham dengan kondisi yang ada, bismillah.. Meski mengalami kondisi yang sulit di beberapa hal sebagai seorang muslimah disini, tapi ada satu yang menguntungkan berada disini. Kami yang seorang muslim bisa langsung pergi haji di tahun yang sama mensaat mendaftar.&nbsp;<br><br>Alhamdulillah, saya dan suami berkesempatan haji di tahun 2019 lalu. Sebelum pandemic datang dan pihak Saudi menutup pintu. Momen ini menjadi peristiwa bahagia kami dan jadi satu yang akan kami simpan dan juga kami syukuri mesti menetap di negara minoritas muslim. Maha Baik Allah, di tengah tantangan yang ada, masih banyak karunia yang bisa kami nikmati.<br><br>Athifah<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:32:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364638</guid>
      </item>
      <item>
         <title>azmie</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364671</link>
         <description><![CDATA[<div>Saat ini Allah menakdirkan saya tinggal di Jepang yang merupakan negara minoritas muslim. Tidak disangsikan lagi、Jepang adalah negara maju dengan segala kelebihannya yang diketahui banyak orang. Namun terasa ada yang kurang disini. Kerinduan suara adzan tiap kali datang solat lima waktu, saling tegur sapa ketika bertemu tetangga, dan para pedagang keliling yang menjajakan dagangannya ke rumah-rumah. Aaaah, rindu sekali rasanya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Sesuatu yang dirasakan berbeda adalah saat kita bepergian, lalu tiba waktu solat. Sulit sekali ditemukan masjid, apalagi musolla. Maka pertama kali dalam hidup ini merasakan solat di taman, parkiran mobil, tempat mencoba baju di toko baju, dan lain-lain. Makin merasakan bumi ini luas. Segala tempat asalkan bersih dari najis, tidak menggangu orang umum, maka lakukanlah solat disitu. Satu hal juga yang dulu jarang saya lakukan saat di tanah air adalah berwudhu sebelum pergi. Saya berusaha menjaga wudhu selagi pergi, bukan tanpa alasan, yaitu agar mudah saat solat datang tanpa harus mencari tempat wudhu. Kalau teman-teman pernah mengunjungi Jepang, akan mengetahui betapa bersihnya toilet-toilet di Jepang. Jadi akan sangat tidak enak jika berwudhu di toilet umum, lalu kita membuat basah westafel karena bekas wudhu kita.</div><div>&nbsp;</div><div>Mencari makanan halal di Jepang saat ini jauh lebih mudah menurut saya yang telah tinggal selama tujuh tahun disini. Dahulu jikalau belanja daging halal, bumbu-bumbu Indonesia harus melalui toko online, namun sekarang bisa ditemui di toko milik Jepang, walaupun belum banyak, namun ini sangat membantu sekali. Buat saya sebagai ibu yang mengatur keuangan keluarga sangat membantu agar belanja terkontrol. Pada saat belanja online saya harus mencapai sekian yen (satuan mata uang jepang) agar bebas ongkos kirim. Sedangkan kalau belanja di toko langsung, saya cukup belanja seperlunya, menghemat pengeluaran. Satu kelebihan juga jika mengerti Bahasa jepang, walaupun tidak ada logo halal, namun Ketika membaca daftar kandungan makanan bisa dikonsumsi, maka termasuk <em>muslim friendlyI. </em>Jadi belajar Bahasa jepang menjadi salah satu pencapaian saya saat memilih tinggal di jepang. Warga jepang tidak banyak yang bisa berbahsa inggris, apalagi Bahasa Indonesia, jadi kalau mau bertahan hidup dan Bahagia, slah satu kuncinya belajar Bahasa jepang.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:32:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364671</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>cheftea994</author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364730</link>
         <description><![CDATA[<div>Suka Duka Menjadi Muslim di Jepang&nbsp;</div><div><br></div><div>Belanja bulananna menajdi kegiatan menyenangkan yang ditunggu setiap bulan. Terlebih lagi jika belanja hal-hal yang disukai. Wanita erat sekali hubungannya dengan belanja. Belum lagi kita sering mendengar istilah bahwa wanita itu hobbi belanja. KIta juga kerap melihat gambar-gambar lucu yang membandingkan cara wanita belanja dengan cara laki-laki ketika belanja, dimana saat belanja wanita cendrung menghabiskan banyak waktu dibandingkan laki-laki. Nyatanya, mungkin tidak ju</div><div>Nyatanya? Mungkin memang demikian. Terlebih lagi saat dengan kondisi saya saat ini. Berbelanja dengan kondisi normal ditempat. Normal cukup menghabiskan bnyak waktu apalgi dsisni, di jepang dengan negara minoritas muslim sungguh menghabiskan bnayak waktu dan menguras energi. Kok bisa? Kamu terlalu melebih-lebihkan! Tapi memang begitu adanya. Pernah suatu hari, saya datang ke supermarket hanya untuk membeli beberapa keperluan, bukan belanja bulananan yang yang biasanya memanang membeli banyak barang namun waktu yang saya habiskan hampir satu jam. Kenap bisa demikian? Karena sebelum pergi saya lupa mengecek/ mencari informasi dulu tentang barang yang akan saya beli. Pada kondisi orang biasa, belanja yangtingal ambil saja. Tapi kita tidak bisa sembarangan saat belanja di jepang. Apalagi jika terkait belanja makanana. Alih-laih bermanfaat, jika tidak cermat akan datang mudarat. Saat itu waktu saya habis untuk membuka internet dan mencari tau apakah barang makanan yanga telah saya pilih ini nisa dikonsumsi muslim atau tidak. Apakah barang ini mengandung bahan haram atau tidak. Semua kekhawatira mbercampur menjadi satu membuat saya semakin gugup. Ditambah koneksi internet sya dan memori hanphonyang kurang baik dan konmemori handphone yang sudah hampir penuh membuat saya tidakぇぅあさ運つか untuk searching. Bukan hanya itu, tatapan pengunjung lain serta karyawan toko yang sesekali melewati saya juga jadi penyumbang kekahawatiran tersebut. Setelah satu jam erjuangan, hanya beberapa barang yang bisa saaya. Awa pulang. Dtentu saja hal tersebut kurang memuaskan. Jika kita tinggal dikota besar mungkin akan mudah menemukan toko yang menjuak. Barang-barang yang ramah musim tapi tetap saja untuk berjaga-jaga kita perlu mencari dulu informasi terkait. Brang atau bahan makanan yang akan kita makana.&nbsp;</div><div><br><br></div><div>&nbsp;Pernah juga saat ituu, saya dengan pedenya membeli sebuah barang yang seingat saya tidak apa-apa unuk dikonsumsi muslim, namun sesampainya dirumah, seorang teman atas izin Allah mengirimi saya pesan yang isisnya adalah informasi bahwa barang yang selama inisya pikir bisa dikonsisi muslim tarnyata statusnya haram. Usust punya usust ternyata tada perubahan pada prises pembuatan produk tersebut dan yang menyakitnpadahal sebelumnya produk itu bisa dikonsusmisi ushal yangmenyakitkannya adalah saya tidak tau sejak kapan produk itu berubah statusnya menjadi haram. Penting sekali untuk. Mengecek kembali prosuk2 yang akan kitabeli sebelum belanja dikarenakan proses pembuatan yang mungkin bisa berubah. Tet sajdibalik semua kesulitan yaadi, tentu saja menjadikan kita lebih teliti dalam belanja dan menggunakan barang/produk.Hingga hari ini, bahkan saat akan memebeli deterjen atau sampo, sabun pun saya selalu menengecek bahan dan komposisinya terlenih dahulu, saya juga mengecek nya di internet. Namnampaknya ribet sekali, namun disitulah kebahagiaannya. Hal yamungkin tidak bisa dirasakan oleh teman-teman lain yang bukan musim. Karena kebiasaaan t hal ini juga akan menjaga diri kita dari yang subhat dan tentunya yang haram.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:32:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364730</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>minukid303</author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364766</link>
         <description><![CDATA[<div>Tema : suka duka menjadi muslimah di jepang&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Ketika di jepang, saya merasa bahwa menjadi muslim akan berbeda, apa yang berbeda. Cara pandang orang jepang itu sendiri terhadap kita. Juga cara kita menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka.&nbsp;</strong></div><div><strong>Pada saat saya bekerja sebagai penerjemah di sebuah sekolah dasar, saya harus menjelaskan kepada murid2 tentang pakaian berbeda yang saya gunakan. Lalu menjelaskan tentang makanan yang bisa dimakan oleh seorang muslim. Juga waktu-waktu kita wajib beribadah.&nbsp;</strong></div><div><strong>Pada saat saya bekerja ataupun bermain dengan teman jepang, pastikan waktunya. Apakah pada saat itu akita akan melalui &nbsp;satu waktu sholat? Jika iya, kita bersiap untuk meminta ijin terlebih dahulu, lalu memperkirakan tempat dimana kita bisa solat, apakah dipojokan taman tanpa msekat, atau meminjam sebuat ruangan atau sudut ruangan untuk kita pakai sholat. Kita harus pintar juga memanfaatkan waktu kapan kita akan meminta ijin untuk menunaikan sholat tersebut. Ada rasa canggung kadang ketika pertama kita bememinta ijin, takut membuat mereka repot atau takut dianggap ih agamamu kok ribet banget dih. Alhamdulillahdengan bismillah saya bisa memalui saat2 seperti ini. Dan sampai sekarang tidak ada dan jangnan sampai ada yang mnecemooh ibadah sholat ini.&nbsp;</strong></div><div><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Selain sholat makanan juga harus kita perhatikan, adakalanya ketika bersama oorang jepang, mereka menyuguhi makanann atau mengajak kita makan di sebuah restoran. Saya lebih memilih mengikuti saja kemana mereka akan mengajak kita makan, jika makan diluar. Disana lalu kita menjelaskan makanan apa yang bis akita makan. Alhamdulillah walau kadang hanya sekedar makan salad atau minum the, masih ada yang bisa saya telan. Saya berpirinsip tidak mau merepotkan mereka dengan mencari restoran yang halal atau muslim friendly. Kecuali jika ada yang sudah tau tentang makalan halal ini, maka saya akan menjelaskan, bisasanya mereka akan membantu. Alhamdulillah sampai sekarang mereka menghargai sekali prinsip kita ini. Yang jadi masalah adalah ketika ada dua orang muslim, misal saya dan kawan yang berbeda pandangan dalam memilih makann halal. Nah ini harus disiapkan trik-trik lanjutan supaya tidak terkesan bahwa islam itu kok ga standar, atau tidak menimbulkan kesan menyalai teman yang berbeda prinsip tersebut.&nbsp;</strong></div><div><strong>Mengenai pakaianpun kadang sering merasa duh kok ga nyambung yah, diajak maun ke sungai saya tetep pake baju panjang2 gini, yaa tetap pedse aja deh rahasianya.&nbsp;</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Sebagai seorang ibupun kita harus memberikan CONTOH KEPADA ANAK2 KITA, BAGAIMANA MENJADI SEORANG MUSLIM/MUSLIMAH, KBIASAKAN MEREKA TAMPIL PERCAYA DIRI DENGAN PERBEDAAN YANG ADA. DAN ALHAMDULILLAH JIKA KITA SUDAH MEMNANAMPAN KEPERCAYAAN DIRI PADA ANAK, TEMAN2NYA AKAN TERBIASA JUGA.&nbsp;</strong></div><div><strong>MUNGKIN ITU ADALAH SEKILAS TENTANG PENGALAMAN SAYA MEHIDUP DI JEPANG SEBAGAI MUSLIM. ALHAMULILLAH SAMPAI SEKARANG BELUM ADA YANG MEMBULY SAYA ANAK-ANAK DAN KELUARGA, DAN SAYA SANGAT MERASAKAN ORANG JEPANG JUGA MENGHORMATI PERBEDAAN ITU, MUNGKIN BKARENA KAMI INI ADALAH ORANG ASINMG. WALUPUN DUKANYA SAYA JUGA SERING MERASA TEMAN2 SESAMA IBU2 WALI MURID TIDAK MENGIKUT SERTAKAN SAYA KE ACARA2 PENTING, PADAHAL ADA KEINGINAN JUGA UNTUK LEBIH BANYAK TERLIBAT. TAPI SAYA BERPIKIRAN POSITIF SAJA, MUNGKIN KEMAMPUAN SAYA JUGA BELUM BISA SAMPAI KESANA.&nbsp;</strong></div><div><strong>SEMOGA ANAK-ANAK SAYAPUN BISA SURVIVE DAN ISTIKOMAH MENJADI MUSLIM DAN BERPRESTASI DI NEGERI JEPANG INI.&nbsp;</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:32:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751364766</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Selaksa kalbu di negeri sakura.</title>
         <author>fkwqbpnv9b</author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751365542</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>&nbsp;</div><div>Pikirku, menjadi muslim di negeri ini akan banyak kesulitan yang ditemui. Akan panjang perjalanan yang dilalui. Akan banyak godaan yang dihadapi. Sudah yang sulit-sulit saja yang terpatri. Setahun, dua tahun. Dan akhirnya sampai sekarang sudah tahun ke-8, banyak sekali hal-hal manis yang dirasakan sebagai muslim di sini. Mencari makanan halal, tidak sesulit yang dibayangkan. Karena sejatinya yang halal itu lebih banyak kalau kita mau berkreasi. Memasakmsendiri misalnya. Hal yang dulunya sangat jarang akunkerjakan. Anggaopana tidak akan pernah bisa makan daging sapi, kambing,, ikan lele, ikan gurame, semua terbantahkan. Bahkan daging rusa halal pun bisa ditemukan. Betapa bersyukurnya, Allah selalu memberi jalan bagi hambaNya yang mau meneguhkan iman. Menjadi muslin di negeri sakura, bisa dijadikan suka ataupun duka. Itu semua adalah pilihan. Mana yang mau kita pilih.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pertanyaan mengusik lainnya ketika menjadi muslim adalah tempat beribadah. Alhamdulillah,sejak tinggal dimOsaka, lanjut di Kyoto, dan sekarang Tsukuba. Selalu mendapatkan tempat tinggal yang dekat dengan Masjid. Bukan hanya itu, bahkan gedung laboratorium pun ada mushola dyang khusus disediakan kampus.&nbsp; Sekarang ini, di tempat-tempat umum pun sudah mulai banyak disediakan tempat sholat. Jadi, tidak ada alasan kita menyulitkan diri sendiri atau mencari alasan untuk meninggalkan ibadah dikala Allah sudah sangat memberikan banyak kemudahan dan hadiah bagi kita di negeri ini sebagai minoritas.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Kalau mau dicari-cari dari sekian banyak tumpukan nikmat, mungkin ada seutas duka yang pernah mampir dikala menjalani kehidupan sebagai muslim di Jepng. Tetapi rasa-rasanya, duka itu sudah tertimbun tertutupi dengan nikmat dan kemudahan yang makin berta bah-tambah.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Awalnya…</div><div>Terpatri ragu,</div><div>Tercetus sangsi,</div><div>Bisakah””</div><div>Mudahkah</div><div>Ternyata,</div><div>Semburat asa mulai menyapa</div><div>Lama- lama menjadi lautan suka</div><div>Menemani kalbuku yang nelangsa</div><div>Menanti siraman Ilahi&nbsp; yang melegakan hati</div><div>Sungguh,</div><div>Ini hadiah</div><div>Yang begitu berarti</div><div>Bagiku</div><div>Kuharap pula bagimun</div><div>Lama-lama</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:33:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751365542</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751365676</link>
         <description><![CDATA[<div>Betapa bersyukurnya saya diberikan kesempatan untuk bisa tinggal di negara maju, apalagi&nbsp; memiliki empat musim seperti di Jepang. Setiap pergantian musim memiliki perasaan yang berbeda dan meninggalkan kenangan yang penuh makna. Setiap musim yang saya lalui bersama keluarga menambah daftar pengalaman hidup yang belum pernah saya&nbsp; rasakan sebelumnya.</div><div>&nbsp;</div><div>Namun dibalik semua pengalaman seru yang saya dapatkan selama tinggal di Jepang, terdapat banyak tantangan pula. Sebagai seorang muslim ternyata ada banyak tantangan yang harus dijalani agar tetap bisa bertahan. Saya tinggal bersama suami yang sedang menjalani studi doctoral dengan tiga orang anak yang dua diantaranya bersekolah di sekolah negeri Jepang. Ternyata tidak mudah menjalani hari dengan nilai dan budaya yang jauh berbeda dari tanah air.</div><div>&nbsp;</div><div>Dalam tradisi anak sekolah di Jepang, ada kegiatan makan bersama setiap harinya yang makanannya disediakan oleh pihak sekolah. Tentu kita tahu bahwa kandungan bahan yang digunakan dalam masakan tersebut umumnya tidak halal dikonsumsi sehingga saya harus menyiapkan bekal setiap hari dengan daftar menu yang sama dari sekolah. Setiap pagi membuat bekal untuk dua anak dengan menu yang berbeda tidak lah mudah karena mereka juga harus sampai ke sekolah tepat waktu, sedangkan saya tidak bisa memulai menyiapkan masakan terlalu pagi karena khawatir mengganggu tetangga jika suara yang saya timbulkan terdengar. Umumnya masyarakat Jepang memulai aktivitas setalah jam 7 pagi, jadi saya harus berjuang menyiapkan bekal dengan cepat setiap harinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:33:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751365676</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suka duka menjadi muslimah di JepangAwalnya, saya dan orang tua merasa khawatir apabila harus melanjutkan studi ke negri yang berbeda budaya, Bahasa, bahkan keberagaman agama.Tapi, semua kekhawatiran itu sedikit demi sedikit memudar saat aku berada di Negri Sakura ini selama sebulan.Lalu, lanjut ke bulan-bulan berikutnya, semua khawatiranya mulai menghilang.Toleransi. Mungkinini adalah kata yang tepat untuk para penduduk negri ini, aku belum pernah mengalami bullyan atau hal-hal yang membuat ku takut. Hanya saja, terkadang aku merasa rishi saat berada di tempat umum seperti supermarket, stasiun, dan di jalan, ada beberapa orang yang memandangku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mungkin kjarena aku menggunakan ppakaian yang tidak biasa dari mereka. Aku tidak menghiraukan tatapan itu. Terkadang aku berpura-pura melihat kea rah alain tau bahkan menatap kembali tatapan itu.Hal yang terkadang membuatku hamper stress adalah saat aku merasa sulit menemukan makan halal. Kenapa? Karena penduduk negri ini sangat minoritas yang beragama islam. Lantas, bagaimana cara agar mudah menemukan makanan halal?Tapi, alhamdulillah, sejak tahun berikutnya, mulailah beberapa restoran dan produk-produk Jepang yang care  akan kebutuhan umat muslim yang tinggal di Jepang. Lalu, kebingungan lain nya adalah saat sudah masuk waktu shalat. Tidak seprti di Indonesia, yang memiliki bangunan masjid yang dapat dijumpai dimana-mana. Di sini, kami harus naik bis atau kereta apabila masjid yang ada di kota kami terletak jauh dari tempat tinggal kami.Tapi, karena shalat itu adalah kewajiban,  maka benda yang tidak pernah terlupa oleh kami seorang muslim adlah sajadah. Iya, jika sudah ada sajadah maka insya Allah bisa shalat dimana-mana, tapi tentunya jauh dari keramaian. Terkadang di loronng, di pojokan ruangan, di jalan yang tidak banyak orang, dan lain-lain. Aldilla</title>
         <author>aldilla90</author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751365724</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:34:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751365724</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suka Duka Menjadi Seorang Muslim di Jepang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751368144</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya adalah seorang ibu yang tinggal di Jepang, yang merupakan negara Muslim minoritas. Saya tinggal bersama suami dan seorang anak. Awal tinggal di Jepang, saya merasa khawatir akan didiskriminasi oleh warga setempat. Tetapi setelah dijalani, perasaan itu ternyata tidaklah benar. Orang Jepang yang ada di lingkungan saya, bisa menerima kami. Kami merasa sangat senang.<br><br></div><div>Ada hal yang membuat saya merasa sedih, yaitu suasana keislaman yang begitu dirindukan.Suara adzan yang hanya terdengar di gawai, pengajian-pengajian yang hanya bisa dihtung dalam dengan jari dalam sebulan, sekolah agama untuk anakpun tidak ada. Akan tetapi itu dulu sebelum pandemi. Saat ini, ketika pandemi, Alhamdulillah banyak kajian-kajian online yang diikuti, anak kami pun bisa mengikuti sekolah keislaman melalui online.<br><br></div><div>Saya juga sangat merindukan makanan-makanan halal yang dijual ditoko-toko sepeti diindonesia. Di sini sangat sedikit sekali makanan halal yang dijual di supermarket. Ketika menemukan makanan berlogo halal, senangnya bukan main.<br><br></div><div>Saat ini anak saya sedang menempuh pendidikan SD kelas 2 di Jepang. Kami berusaha untuk menjalankan kehidupan sesuai syartiat Islam. Menggunakan baju tertutup, dan hijab. Begitu juga dengan anak saya yang menggunakan pakaian Islami ke sekolahnya. Pada awal kami akan menyekolahkannya, banyak sekali yang harus kami jelaskan kepada pihak sekolah. Pakaian, makanan, interaksi dengan lawan jenis, shalat, dan lain sebaigainya. Rumit? Tetu saja. Akan tetapi, itu kami lakukan agar kamitetap menjunjung syartiat Islam dengan sebaik-baiknya.<br><br></div><div>Semoga kami tetap bisa istiqomah dalam menjalankan ini, dan delalu mendapat hidayath dari Allah, agar tidak keluar dari jalur yang seharusnya.<br><br></div><div>_Nyimas Evi_<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:36:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751368144</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751368711</link>
         <description><![CDATA[<div>SUKA DUKA MENJADI MUSLIMAH DI JEPANG</div><div>&nbsp;</div><div>Tinggal dinegara minoritas seperti Jepang bukanlah sesuatu yang mudah, bagi seorang muslim/muslimah , salah satu tantangan adalah ketika&nbsp; berada di luar dan waktu shalat tiba, tidak mudah menjumpai masjid ataupun prayer room, jumlah masjid/mushollah bisa dikatakan hanya dibawah 10 persen dibanding dengan jumlah masjid yang ada di Indonesia.</div><div>&nbsp;</div><div>Berada diluar, jauh dari rumah tentu cukup membuat bingung mencari tempat wudhu dan tempat shalat. salah satu yang menjadi pilihan untuk berwudhu adalah wastafel toilet yang ada di kombini, mal-mal atau superper market. tidak mudah untuk sekedar wudhu di toilet umum yang terlihat banyak&nbsp; banyak orang.&nbsp; Biasanya harus menunggu kondisi sepi dahulu kemudian berwudhu, namun hal yang paling ribet adalah ketika harus membasuh kaki diatas wastafel yang mau tidak mau harus mengangkat kaki. Cukup membuat kikuk ketika tiba-tiba ada orang jepang yang masuk atau memperhatikan aktifitas kita..</div><div>&nbsp;</div><div>selain tempat wudhu, mencari tempat shalat yang nyaman juga merupakan hal yang cukup memeras otak., namun disinilah letak iman kita diuji , apakah kita tetap mau menjalankan kewajiban ataukah mengabaikan karena factor keadaan.</div><div>&nbsp;</div><div>Dan yang cukup membuat tidak nyaman adalah ketika bepergian seorang diri, karena tidak ada teman berfikir untuk mencari lokasi yang nyaman untuk shalat, , shalat ditempat umum ujiannya adalah dilihatit banyak orang&nbsp; dan tentu ketika belum terbiasa kekhusyuan akan terganggu.</div><div>&nbsp;</div><div>Bumi ini adalah bumi Allah disetiap incinya, maka peeriharalah ketaatan dimanapun dan kapanpun.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 08:37:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751368711</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suka duka menjadi muslim di Jepang  “Bunda, mau agar yang itu!” Kata Salman anakku yang merengek minta dibelikan jajanan cemilan. “Ya, tapi tertulisa ada alkoholnya nak, jangan ya..” Sahutku. Beginilah kami jika berbelanja di Supermaket. Begitu banyak makanan mulai dari roti, cemilan, mie instan, dan lainnya yang tidak bisa kami nikmati karena kami muslim yang tinggal di negara Jepang. Tinggal di Jepang menjadi tantangan untuk saya dan keluarga sebagai muslim. Banyak suka dan duka yang kami rasakan. Sukanya adalah kami bisa menikmati lingkungan yang bersih, jarang sekali kami menemukan sampah di jalan, sungai perkotaan yang bersih, fasilitas yang canggih dan mudah, transportasi yang cepat, dan berbagai musim serta keindahan bunga sakura yang tidak kami temukan di Indonesia. Tapi ada banyak juga dukanya, seringkali jika menggunakan kerudung di musim panas, orang Jepang akan melirik kepada saya. Saya juga pernah berjalan ke stasiun kereta dengan menggunakan jilbab panjang bewarna abu-abu, lalu ada seorang kakek Jepang yang menegur saya dan meminta saya untuk melepaskan jilbab, karena katanya bahaya sekali menggunakan baju seperti itu, karena bisa membuat dehidrasi dan orang yang melihatnya pun jadi kepanasan, semenjak itu saat musim panas saya mengusahakan untuk mengenakan kerudung yang bewarna cerah agar tidak terlihat terlalu panas. Dukanya yang lain adalah kami harus bisa mendidik anak untuk bangga menjadi muslim walaupun dia satu-satunya muslim di kelasnya. Anak saya tidak bisa mengonsumsi makanan catering seperti teman-temannya di sekolah, dia salat dan melaksanakan puasa Ramadan seorang diri di kelasnya.</title>
         <author>sitisarahpurnamasari</author>
         <link>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751457691</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-19 10:07:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maimonhuk/le7i7aa9gwoio091/wish/1751457691</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
