<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>9A KEARIFAN LOKAL INDONESIA by Efri Yendi</title>
      <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-02 10:38:20 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-08 04:21:41 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>kelompok Z : hhhh, aaaa, iiii</title>
         <author>efriyendi22</author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565906368</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>1. Daerah : Bengkulu</p><p><br/></p><p>2. Sejarah : Sejarah Tabot Bengkulu <strong><mark>berasal dari tradisi Syiah India yang dibawa ke Bengkulu oleh pekerja pembangunan Benteng Malborough pada abad ke-18, yang bertujuan untuk mengenang kematian Husein bin Ali di Karbala</mark></strong>. Tradisi yang awalnya bersifat keagamaan ini kemudian mengalami akulturasi dan berkembang menjadi festival budaya etnis yang kuat, dengan berbagai ritual dan pertunjukan, serta menjadi daya tarik wisata penting di Bengkulu</p><p><br/></p><p>3. Makna : Makna Tabot di Bengkulu adalah <strong><mark>sebuah tradisi dan festival yang menggabungkan unsur keagamaan dan kebudayaan, bertujuan untuk mengenang syahidnya Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, di Padang Karbala, serta sebagai tolak bala (bencana) dan perayaan tahun baru Islam</mark></strong></p><p><br/></p><p><strong><mark>4.</mark>10 hari pertama bulan Muharram, yaitu dari tanggal 1 hingga 10 Muharram</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/2576575845/2b572fa80758ec565ad8e0b39e07a532/Tabot_Bengkulu.webp" />
         <pubDate>2025-09-03 01:28:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565906368</guid>
      </item>
      <item>
         <title>kelompok5:carissa,lusiana,petros,juniar,nasri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565924905</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>daerah</strong>: jawa</p><p><br></p><p><strong>sejarah</strong>: Sejarah tradisi Nyadran merupakan hasil akulturasi antara kepercayaan Hindu-Buddha dan ajaran Islam di Jawa, dimulai dari ritual Shraddha di masa Hindu-Buddha yang kemudian diadaptasi dan diisi dengan nilai-nilai Islam oleh Walisongo</p><p><br></p><p><strong>makna</strong>: penghormatan dan doa bagi leluhur, pengingat kematian, perwujudan syukur kepada Tuhan, serta sarana penguatan silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.</p><p><br></p><p><strong>waktu</strong>: bulan Sya'ban (dalam kalender Hijriyah) atau bulan Ruwah (dalam kalender Jawa)</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4303783153/e0677be0a879a7641cf7736676171305/IMG_1421.jpeg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:37:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565924905</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama kelompok 6 : Yudistira, Birren, al adiat, khaaliq, ika </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565927323</link>
         <description><![CDATA[<p> </p><p>Daerah: </p><p>Melayu, khususnya Riau dan Kepulauan Riau. </p><p><br></p><p>Sejarah: </p><p>Sejarah tepung tawar berakar pada tradisi dinamisme dan animisme yang kemudian dipengaruhi oleh tradisi Hindu, lalu disesuaikan dengan ajaran Islam di masyarakat Melayu. Awalnya ritual ini bertujuan menolak malapetaka, lalu berkembang menjadi ritual syukur atas pencapaian seperti pernikahan atau rumah baru, bahkan menjadi media penyelesaian konflik di Palembang. </p><p>Asal-Usul dan Pengaruh Awal</p><p>Kepercayaan Dinamisme dan Animisme:</p><p>Tradisi tepung tawar awalnya dilakukan oleh masyarakat yang masih menganut kepercayaan dinamisme dan animisme di kawasan Riau sejak zaman dahulu. </p><ul><li><p><strong>Adaptasi Islam:</strong></p><p>Setelah Islam masuk dan menyebar, tradisi ini disesuaikan agar selaras dengan syariat Islam. Pemahaman Islam dan doa menjadi bagian penting dalam ritual ini.&nbsp;</p></li></ul><p><strong>Perkembangan dalam Masyarakat Melayu</strong></p><ul><li><p><strong>Warisan Raja-Raja:</strong></p><p>Tepung tawar menjadi warisan tradisi dari raja-raja Melayu, yang mengandung ungkapan doa dan rasa syukur.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Media Doa dan Syukur:</strong></p><p>Ritual ini menjadi cara untuk mendoakan keselamatan, keberkahan, dan menghalau marabahaya bagi individu atau benda.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Simbolisme:</strong></p><p>Upacara ini menggunakan berbagai simbol seperti beras kuning, bertih, bunga rampai, dan daun-daunan yang memiliki makna tertentu.</p></li></ul><p><br></p><p>Makna :</p><p>Makna tepuk tepung tawar adalah sebuah ritual adat masyarakat Melayu untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan ungkapan syukur serta doa restu dari hadirin untuk orang yang sedang merayakan peristiwa penting dalam hidupnya, seperti pernikahan, kelahiran, atau khitanan. Ritual ini juga berfungsi sebagai penolak bala atau marabahaya dan simbol harapan untuk kebaikan, kemurahan rezeki, kesucian, dan keharuman nama. </p><p>Setiap bahan yang digunakan dalam tepuk tepung tawar memiliki makna tersendiri: </p><p>Beras Kunyit: Melambangkan kemurahan rezeki, nikmat, dan kesuburan. </p><p>Beras Putih: Melambangkan kesucian dan kebersihan diri. </p><p>Air Mawar: Melambangkan keharuman nama, menjaga marwah, harkat, dan martabat pribadi, keluarga, serta masyarakat. </p><p>Bunga Rampai/Bunga Padat: Melambangkan hidup yang penuh kasih sayang, keharuman nama, dan semerbak. </p><p>Daun Sirih/Berem: Melambangkan pengingat bahwa adat bukan hanya tradisi, tapi juga nilai yang menuntun langkah pengabdian. </p><p>Tujuan dan Filosofi Tepuk Tepung Tawar</p><p>Doa dan Restu: Memberikan doa dan restu dari keluarga, tokoh masyarakat, dan ulama untuk yang bersangkutan. </p><p>Penolak Bala: Menolak segala marabahaya, bala, dan gangguan yang mungkin datang. </p><p>Ungkapan Syukur: Menunjukkan rasa syukur atas amanah, rezeki, atau terkabulnya keinginan. </p><p>Keberkahan: Memohon keberkahan dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. </p><p>Nilai Sosial: Mempererat tali silaturahmi, kekeluargaan, dan nilai sosial dalam masyarakat. </p><p><br></p><p>waktu : </p><p>Adat tepung tawar dilakukan pada berbagai peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Melayu, seperti pernikahan, khitanan, kelahiran bayi, syukuran rumah baru, penyembuhan dari sakit, dan penyambutan tamu kehormatan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4303793691/29b3104aa1db61a559e13567a21010b5/f05ee84e84a82362b847edfb421d5df2.jpg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:38:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565927323</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4: zahra, vebry,radit, frans, galivah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565932103</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Daerah: </p><p>Nusa Tenggara Timur</p><p><br/></p><p>2.Sejarah:</p><p>Ritual <strong>Koke Bale</strong> berasal dari kepercayaan leluhur masyarakat Flores, NTT, yang meyakini rumah bukan sekadar tempat tinggal tetapi juga ruang sakral tempat roh leluhur bersemayam. Upacara ini dilakukan sejak zaman dahulu untuk memohon restu leluhur ketika mendirikan rumah baru, sekaligus menolak bala. Seiring masuknya agama-agama besar, Koke Bale tetap dilestarikan dan dipadukan dengan doa agama, sehingga hingga kini tradisi ini masih dijalankan sebagai simbol penghormatan leluhur, persaudaraan, dan identitas budaya.</p><p><br/></p><p><strong>3.Makna Koke Bale:</strong></p><ul><li><p><em>Koke</em> berarti mendirikan/menaikkan,</p></li><li><p><em>Bale</em> berarti rumah.<br>Jadi, <strong>Koke Bale</strong> adalah ritual adat untuk mendirikan rumah baru atau rumah adat, yang diyakini sebagai simbol persatuan keluarga dan hubungan dengan leluhur.</p></li></ul><p>4.Waktu:</p><p>setiap tahun, namun tanggal pastinya tergantung pada kesepakatan dalam rapat persiapan adat yang dipimpin oleh Uo Mata, yang menentukan jadwal dan durasi upacara ganjil, yaitu lima, tujuh, atau sembilan hari, setelah ritual pembersihan dan pembukaan bubungan rumah adat.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4303804598/4c96120b200c9b10709425d53d24c5ad/EbedCDNNtt6.jpg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:41:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565932103</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2: Olivia, Mifthahul, Zaskia, Aditya, Fajri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565932773</link>
         <description><![CDATA[<p>Sasi adalah sistem kearifan lokal berupa tradisi adat untuk melarang pemanfaatan sumber daya alam tertentu (darat, laut, atau sungai) dalam jangka waktu tertentu, yang bertujuan menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem agar dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi mendatang. </p><p><br></p><p>Daerah: Tradisi ini masih dipegang teguh masyarakat di wilayah Maluku dan Papua</p><p><br></p><p>Makna: Makna upacara adat Sasi, baik Sasi laut maupun Tanam Sasi di Papua, adalah pelestarian sumber daya alam dan pemeliharaan tata krama masyarakat melalui pembatasan waktu pengambilan hasil alam secara kolektif. Selain itu, Sasi berfungsi untuk menciptakan keadilan dalam pembagian hasil, mencegah konflik, dan menjadi pengingat kewajiban masyarakat untuk hidup selaras dengan alam. </p><p><br></p><p>Waktu: Waktu pelaksanaan upacara adat Sasi tidak memiliki waktu tetap karena sangat bergantung pada wilayah dan kesepakatan masyarakat adat setempat, seperti di Maluku yang bisa pada bulan September atau Oktober untuk panen, dan di Raja Ampat yang bisa pada bulan Maret atau Oktober-November setelah wilayah ditutup selama setahun. Waktu pelaksanaan ini akan diumumkan oleh "kewang" atau penjaga adat kepada masyarakat sebelum panen. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4303854594/0f2a1e42d1b52e531b45115ff8c47cf8/images.jpeg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:42:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565932773</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok : Lwisa, Maria, Azka, Lulu</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565935450</link>
         <description><![CDATA[<p>Sistem Subak</p><p><br></p><p>Daerah : Bali </p><p><br></p><p>Sejarah : Subak di Bali dimulai sekitar abad ke-9 Masehi, ditunjukkan dengan adanya kata "huma" (sawah) pada Prasasti Sukawana (882 M). Kata "subak" itu sendiri pertama kali muncul dalam Prasasti Pandak Bandung (1072 M).</p><p><br></p><p>Makna : sistem organisasi masyarakat adat dan pengelolaan irigasi sawah tradisional di Bali yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Sistem ini tidak hanya mengatur pembagian air secara terperinci dari mata air gunung ke sawah-sawah, tetapi juga merupakan manifestasi filosofi Hindu Bali, Tri Hita Karana, yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan sesamanya, manusia dan alam, serta manusia dan Tuhan</p><p><br></p><p>Waktu Pelaksanaan : menjelang pengolahan tanah, Nyaeb/Mecaru untuk mencegah hama, dan Ngusaba menjelang panen.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4303770394/9556b68b013895ab60977dc3f013afa4/IMG_20250903_083756.jpg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:43:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565935450</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama kelompok 8 : nabila, amin, andre, dika</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565937114</link>
         <description><![CDATA[<p>daerah : nias</p><p>sejarah : </p><p>Sejarah Lompat Batu Nias berawal dari tradisi perang dan perlindungan diri masyarakat Nias kuno, di mana para pemuda harus melompati benteng setinggi 2 meter untuk membuktikan keberanian dan ketangguhan fisik mereka sebagai syarat menjadi prajurit. Seiring waktu, tradisi yang dikenal sebagai Fahombo atau Hombo Batu ini berevolusi menjadi ritual inisiasi kedewasaan bagi pemuda, menandakan kesiapan mereka untuk menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab dan simbol kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat, serta berkembang menjadi atraksi budaya dan bagian dari festival tradisional Nias. </p><p><br></p><p><br></p><p>makna : </p><p>Makna lompat batu Nias (Fahombo atau Hombo Batu) adalah simbol kedewasaan, keberanian, dan ketangkasan bagi seorang pemuda Nias, yang awalnya merupakan bagian dari persiapan perang dan sekarang berkembang menjadi atraksi budaya dan ujian status sosial. Pemuda yang berhasil melompati batu tinggi dianggap matang secara fisik dan sosial, berhak menjalankan kewajiban sebagai pria dewasa, dan menjadi kebanggaan keluarga serta komunitasnya. </p><p><br></p><p>waktu pelaksanaan : </p><p>Lompat Batu Nias (Fahombo) dilakukan ketika seorang anak laki-laki telah mencapai kedewasaan dan dianggap siap untuk menjadi pria dewasa, biasanya sekitar usia 10 tahun atau lebih, setelah menjalani latihan intensif sejak usia 7 tahun. Ritual ini bertujuan sebagai upacara kedewasaan dan simbol keberanian, serta pada zaman dahulu juga menjadi persiapan fisik untuk perang. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/9d/Lompat_Batu_Nias_2.jpg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:44:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565937114</guid>
      </item>
      <item>
         <title>kelompok 1: ayu, Riska, Dimas, Azwar, alparandi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565937162</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><br/></p><p>1. daerah : sumatra barat</p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. sejarah : tabuik merupakan festival tahunan di masyarakat pariaman, udah ada pada tahun 19M, tabuik di ambil dari bahasa arab yang makna nya peti kayu, setiap tahun masyarakat pariaman membuat tiruan burok yang tengah mengusung tabut di punggungnya berbentuk menara belasan meter dan di kenal sebagai tabuik, secara harfiah tabuik artinya peti mati atau keranda yang di hiasi bunga bunga dan dekorasi lain yang warna warni, Tabuik terdiri dari dua macam yakni tabuik subarang dan tabuik pasha keduanya memiliki daerah yang berbeda wilayah pasar di anggap sebagai daerah asal mulai tradisi tabuik, sedangkan tabuik subarang berasal dari daerah subarang atau sebrang yakni wilayah sisi utara sungai atau daerah yang di sebut kampung jawa</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Makna: secara simbolik tabuik menggambarkan kebesaran Tuhan yang membawa terbang jenazah Husein ke langit dengan burok karena meninggal mengenaskan dalam perangkar bala sejak 1982 </p><p>4. Waktu: tradisi tabuik pada tanggal 1 Muharram namun puncak acara tidak lagi pada tanggal 10 Muharram, puncak acara dapat dilakukan pada tanggal 10 sampai 15 Muharram yang disesuaikan dengan akhir pekan</p>]]></description>
         <enclosure url="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/Festival_Tabuik_di_Pariaman.jpg" />
         <pubDate>2025-09-03 01:44:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3565937162</guid>
      </item>
      <item>
         <title>kelompok 3: Siti, Soleha, Nadia, Arvegio, Gabriel</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3567120410</link>
         <description><![CDATA[<p>sejarah: serentaun adalah upacara adat masyarakat sunda yang dilakukan setiap tahunnya upacara ini berlangsung hikmat dan semarak di berbagai desa adat sunda di mana salah satunya adalah kampung budaya sindangbarang desa pasir ori kecamatan tamansari kabupaten bogor, istilah berasal dari kata bahasa sunda seren yang artinya serah atau seserahan dan taun yang berarti tahun jadi serentaun bermakna serah terima tahun lalu yang tahun akan datang sebagai pengganti dalam konteks kehidupan transisi masyarakat baladang sunda serentaun merupakan wahana untuk bersyukur kepada tuhan yang maha esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini kegiatan adat serentaun tahun ini budaya sindang barang ini berlangsung selama beberapa hari, menjadi 5 hari</p><p>hari pertama:upacara adat/upacara ritual</p><p>hari kedua:dibagi para ulun itu istilahnya menjahit</p><p>hari ketiga:hari jumat mengambil air cikukulu 7 mata air diiringi oleh angklung gubrak sore nya mengadakan upacara mundai,mundai itu pelepasan ikan di sungai itu malam nya tausiah,menyatukan 7 mata air </p><p>hari keenam: hari sabtu ada sedekah kue.</p><p>upacara mencuci alat ani dan ada program mudik.</p><p><br/></p><p>makna: Makna Seren Taun Sunda adalah <strong><mark>upacara rasa syukur tahunan masyarakat Sunda terhadap Tuhan atas hasil panen yang melimpah dan permohonan untuk panen yang lebih baik di tahun mendatang</mark></strong>. Selain rasa syukur, tradisi ini juga memiliki makna filosofis, mempererat hubungan sosial dan silaturahmi antarwarga, serta sebagai bentuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.</p><p><br/></p><p>waktu:&nbsp;Waktu pelaksanaan upacara Seren Taun adalah pada tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda, yang merupakan bulan terakhir dan menandai pergantian tahun. Rangkaian upacara ini umumnya berlangsung selama beberapa hari, dari sekitar tanggal 18 hingga 22 Rayagung, dengan acara puncak pada tanggal 22 Rayagung.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4307484422/a393a52f04e20167cebb0d29b921011d/IMG_0019.jpeg" />
         <pubDate>2025-09-03 14:50:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/efriyendi22/ld68n32upuo8swpq/wish/3567120410</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
