<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Exit Slips Sesi 1 - Refleksi Pengantar dan Budaya Sumatra by theresia christy</title>
      <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1</link>
      <description>Klik tanda (+) untuk memberikan jawabanmu diawali dengan namamu</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-03-20 12:53:59 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-05-07 14:10:45 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f4e4.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396611380</link>
         <description><![CDATA[<p>Margaretha Risti Zakarias</p><p>(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:simforianacb@gmail.com">simforianacb@gmail.com</a>)</p><p><br></p><p><strong>Refleksi Pengalaman sebagai Guru dengan Mayoritas Murid Suku Batak</strong></p><p><br></p><p>Mengajar Pendidikan Agama Katolik di SMP Tarakanita 4, di tengah karakter kritis dan semangat debat siswa Batak yang tak kenal kompromi, menjadi tantangan sekaligus berkat tersendiri bagi saya. Saya belajar bahwa iman dan budaya bisa berdialog dengan indah—ketika mereka menghubungkan <em>holong</em> (cinta dalam budaya Batak) dengan kasih Agape, atau ketika mereka mempertanyakan eksistensi Tuhan dalam pengalaman menyakitkan yang mereka alami. Setiap dialog dan interaksi itu menyadarkan saya bahwa tugas terpenting saya adalah menjadi jembatan antara Injil dan kehidupan nyata mereka. Kekerasan kepala mereka berubah menjadi keteguhan iman ketika menyadari bahwa menjadi Katolik tidak berarti meninggalkan identitas pribadi, melainkan memperdalamnya dengan nilai-nilai Injil, dan di situlah saya melihat karya Tuhan yang paling nyata: dalam keberanian mereka mempertanyakan, merenungkan, dan akhirnya menghidupi iman dengan cara mereka yang unik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-05 01:41:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396611380</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396696699</link>
         <description><![CDATA[<p>Afrilia Kristiana</p><p>(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:afriliakristiana@gmail.com">afriliakristiana@gmail.com</a>)</p><p><br/></p><p>Refleksi Pengalaman berkaitan dengan kebudayaan Batak.</p><p><br/></p><p>Saya memiliki salah satu sahabat yang berasal dan Sumatra dan merupakan suku Batak. Banyak sekali hal baru berkaitan dengan kebudayaan batak yang saya pelajari dari sahabat saya. Mulai dari solidaritas yang sangat tinggi. Orang-orang batak sangat memelihara tali persaudaraan antar mereka. Dimanapun dan kemanapun mereka pergi ketika mereka bertemu dengan orang yang memiliki marga yang sama mereka akan mengganggapnya sebagai keluarga dekat mereka dan bersikap seperti keluarga meskipun baru saja bertemu. Ramah tamah, kekompakan dan eratnya tali persaudaraan adalah hal positif yang saya pelajari dari sahabat saya. Kebanyakan orang batak juga memiliki suara yang merdu, ini hal yang seringkali saya kagumi dari mereka. Vokal mereka juga cukup lantang dan tegas. Awalnya saya merasa kurang terbiasa namun ternyata dalam vokal yang lantang dan tegas tersebut mereka juga memiliki hati yang lembut dan memiliki jiwa persahabatan yang sangat erat. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-05 06:00:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396696699</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>erna16</author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396734141</link>
         <description><![CDATA[<p>Erna yulianingsih</p><p>(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:ernayulia1807@gmail.com">ernayulia1807@gmail.com</a>)</p><p><br/></p><p>Refleksi Pengalaman Terkait Kebudayaan Batak</p><p><br/></p><p>Awal saya mengenal suku batak adalah saat kuliah, di mana beberapa teman saya berasal dari suku Batak. Memang awal mula kenal dengan mereka, saya agak kaget dengan intonasi mereka saat berbicara. Menurut saya intonasinya agak keras, tentu hal ini berbeda dengan adat kebiasaan saya sehari-hari sebagai suku jawa yang dengan gaya bicara cenderung lirih dan lembut. Namun demikian lama kelamaan saya menjadi terbiasa. </p><p>Saya mulai mengenal lebih jauh lagi tentang suku Batak yaitu saat 1 kos dengan teman kerja yang berasal dari suku Batak. Banyak hal baik yang dapat saya pelajari dari teman-teman yang bersuku batak seperti: eratnya kekerabatan atau persaudaraan diantara mereka dan adat serta tradisi yang masih sangat dijunjung tinggi oleh mereka. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-05 08:00:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396734141</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396764370</link>
         <description><![CDATA[<p>saya berasal dari provinsi Lampung. lampung terletak di ujung selatan pualu sumatra. Dahulu (bahkan mungkin sampai sekarang), banyak orang mengenal Lampung sebagai orang yang keras, apalagi banyak beredar berita tentang "begal Lampung" yang banyak meresahkan masyarakat Indonesia. Beberapa kali terjadi ketika saya berada di daerah di luar Lampung, saat itu saya dan teman saya sedang naik ojek online dan driver menanyakan daerah asal saya, lalu saya menjawab dari Lampung. Driver ini langsung mengatakan "wah lampung itu terkenal sama begalnya, ya." mendengar itu saya hanya bisa tersenyum dan berpikir mungkin itu sudah menjadi citra buruk untuk Lampung. Namun, dari waktu ke waktu saya juga meliahat ada banyak perubahan yang terjadi karena ada banyak interaksi antar masyarakat pendatang dari berbagai budaya, sekarang ini saya dapat melihat orang asli Lampung juga sudah banyak berubah tidak lagi menunjukkan sikap keras kepada orang-orang pendatang/dari budaya lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-05 09:17:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3396764370</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>abednego1717</author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3397271807</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Abed Nego Joko Sutrisno</strong></p><p><br/></p><p><strong>Refleksi</strong></p><p><strong>Pengalaman Berinteraksi dengan Rekan-rekan Guru yang Berasal dari Suku Batak (Sumatera)</strong></p><p><br/></p><p>Pertama kali saya mengajar di Sekolah Kristen Tunas Harapan di kota Bogor dan mulai mengenal rekan-rekan guru, saya agak terkejut, terutama dengan rekan-rekan guru yang berasal dari suku Batak. Mulai dari nada bicara yang tegas, cara berbicara yang <em>to the point</em>, dan tidak banyak basa-basi, membuat saya yang berasal dari suku Jawa cukup mengalami <em>culture shock</em>.</p><p>Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai membiasakan diri dan beradaptasi. Menurut saya, dalam kehidupan kita harus saling menghormati dan menghargai setiap perbedaan. Yang penting adalah kemampuan untuk memposisikan diri sesuai dengan situasi dan kondisi, termasuk dalam bersikap atau berbicara dengan tegas.</p><p>Dari pengamatan saya, rekan-rekan guru dari suku Batak ternyata memiliki banyak kelebihan, di antaranya: rasa persaudaraan yang masih erat (terutama jika marganya sama), kekompakan, rata-rata memiliki kemampuan bernyanyi, serta cara bicara yang jelas dan lugas.</p><p><strong>Horas!</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-06 08:19:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3397271807</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3398493925</link>
         <description><![CDATA[<p>I. Melani Nababan</p><p>Pengalaman Mengikuti Pertandingan Futsal Putri Antar Pemuda Batak.</p><p>Pada tahun 2017 Saya dan tim gereja dimana Saya beribadah berkesempatan mengikuti pertandingan futsal putra dan putri antar pemuda batak yaitu NABAJA CUP, NABAJA merupakan akronim dari Naposo (Pemuda) BA- Batak dan JA- Jabodetabek. Sebuah pertandingan olahraga futsal yang diadakan antar pemuda gereja, perkumpulan marga atau panguyuban/perkumpulan pemuda yang masih keturunan Batak yang dibuktikan melalui surat keanggotaan gereja, KTP/KK, surat baptis atau identitas lain yang membuktikan bahwa peserta yang mengikuti adalah keturunan/berdarah batak.</p><p>Hal yang saya dapat simpulkan lewat mengikuti pertandingan tersebut mengenai suku batak dalam sudut pandang saya adalah berikut ini :</p><ol><li><p>Pemuda Batak/ suku batak senang berkompetisi dan mengaktualisasi diri. Saya bisa merasakan bagaimana situasi yang tidak mau kalah terjadi dilapangan dan persiapan-persiapan yang dilakukan supaya bisa memberikan yang terbaik,seolah ingin berkata "SERI AJA NGGAK MAU, APALAGI KALAH" beberapa tim bahkan menyiapkan rombongan supporter yang besar/banyak dan heboh guna mendukung timnya. </p></li><li><p> Pemuda Batak / Suku batak senang berkumpul didalam komunitas dan masih menjaga tradisi/adat. Peserta dalam kompetisi tersebut mencapai hampir 100 tim dari berbagai gereja, marga dan komunitas adat, Saya masih merasakan bahwa kebiasaan/tradisi mencari marga terdekat, berkumpul dengan sesama suku batak yang memiliki asal kampung yang sama atau memiliki kesamaan tertentu masih kental dan ini sangat indah, karena dengan demikian adat istiadat yang diwariskan oleh generasi sebelumnya masih terjaga dan identitas sebagai orang batak itu tidak hilang.</p></li><li><p>Pemuda Batak/ Suku batak mudah terprovokasi dan mudah tersulut emosinya, setidaknya ini dalam sudut pandang saya saat itu. Hal menarik sebagai bukti adalah ketika tim Saya memasuki final dan munculah desas desus yang mencurigai saya saat itu sebagai peserta palsu alias bukan batak, Saya dicurigai sebagai orang NTT karena kulit Saya yang cenderung gelap dan rambut Saya yang keriting bergelombang. Saya ingin tertawa sebetulnya dengan tuduhan ini dan ingin rasanya Saya membawa Ompung/Nenek Saya untuk bersaksi bahwa saya 100% Batak.  Alih-alih mencari tahu kebenarannya, tim lawan malah mencari masa yaitu tim yg sudah tim saya kalahkan untuk memboikot Saya, Saya memahami karena jiwa kompetitif yang kuat, tim lain mencoba mencari kelemahan tim saya dan menyasar Saya yang saat itu adalah top scorer/ pencetak gol terbanyak sementara.</p></li></ol><p><br/></p><p>Demikianlah secuplik pengalaman Saya yang menggambarkan keunikan yang sepaket kelebihan dan kekurangan suku Batak, suku Saya sendiri.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-07 08:16:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3398493925</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3399047678</link>
         <description><![CDATA[<p>Debora Titi Hapsari</p><p><br></p><p>Refleksi Jelajah Lintas Indonesia (Budaya Sumatera)</p><p>"Saya Jawa rasa Batak"  </p><p>Tuhan menciptakan setiap anak - anaknya unik dan berharga. Saya pun bersyukur Tuhan ciptakan saya dengan tampilan yang seperti ini. Saya memiliki tulang pipi yang menonjol seperti orang suku Batak. Sehingga sering di gereja, di mall, di tempat makan ada orang menyapa saya Boru apa Kakak ? Marga apa Kakak ? Serta saya berada di lingkup pertemanan dan juga komunitas sekarang ini paling banyak  adalah guru dari suku Batak. </p><p>Namun saya merasa nyaman dan merasa cocok berteman dengan sebagian besar mereka berasal dari suku Batak (Sumatera).  </p><p><br></p><p>Dari rekan - rekan saya dari suku Batak saya belajar satu hal yang sangat baik dan akhirnya saya terapkan dalam keluarga saya yaitu budaya  "Mandok Hata" dalam bahasa Batak berarti "menyampaikan kata - kata di depan keluarga , terutama saat malam pergantian tahun baru untuk menyampaikan ucapan syukur, permohonan maaf, terima kasih atau harapan untuk tahun yang akan datang.</p><p>Itu hal baik yang akhirnya saya yang keluarga besar saya Jawa sudah hamir 5 tahun ini melakukan hal tersebut dan saya menjadi MC / Pemandunya hehehe. Sungguh itu saya lakukan karena saya punya persahabatan dengan rekan - rekan suku Batak yang saya yakini itu baik untuk saling mendoakan dan memaafkan dan saling mendukung dalam doa dan apaun bentuknya. Refleksi saya ini saya tutup dengan kalimat "Dengan kita mau membuka diri dan mau belajar dari budaya suku lain maka Indonesia akan semakin indah ini wujud menjaga Bhineka Tunggal Ika"  Tuhan memberkati kita semua. </p><p>Horas ! </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-07 15:18:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3399047678</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rinaghedy19</author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3400644849</link>
         <description><![CDATA[<p>Desy Rina S Ghedy</p><p>(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:missghedy93@gmail.com">missghedy93@gmail.com</a>) </p><p>Saya mengenal lebih dekat suku Batak saat pertama kali saya tinggal di asrama pada jaman kuliah S1. Waktu itu saya sekamar dengan seorang teman Batak Karo bernama Sella selama satu tahun. Awalnya, saya sedikit canggung karena belum terlalu mengenal budaya Batak. Namun, Sella sangat supel dan cepat akrab. Dia sering berbagi cerita tentang kampung halamannya, tradisi <em>merdang merdem</em> (pesta panen), dan pentingnya <em>rakut</em> (hubungan kekerabatan).</p><p>Salah satu hal yang saya kagumi dari budaya Batak yang tercermin pada Sella adalah solidaritas dan rasa kekeluargaan yang kuat. Dia sangat peduli pada teman-temannya dan selalu siap membantu. Kami sering belajar bersama, dan dia tak segan menjelaskan materi yang sulit dengan sabar. Selain itu, Sella memiliki semangat juang dan ambisi yang tinggi dalam meraih cita-citanya. Dia sangat disiplin dan pekerja keras.</p><p>Namun, terkadang saya merasa cara bicara Sella yang blak-blakan dan intonasi yang tegas bisa disalahartikan sebagai marah atau tidak ramah, padahal sebenarnya tidak demikian. Ini mungkin menjadi kekurangan dalam hal komunikasi awal dengan orang yang belum terbiasa. Selain itu, terkadang aturan adat yang kuat dalam budayanya, meskipun baik untuk menjaga tradisi, bisa terasa kaku bagi orang yang memiliki latar belakang budaya yang lebih fleksibel.</p><p>Meskipun ada perbedaan, saya belajar banyak dari Sella tentang ketegasan, loyalitas, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga dan teman. Pengalaman ini memperkaya pandangan saya tentang keberagaman budaya di Indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-08 12:06:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3400644849</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3405638339</link>
         <description><![CDATA[<p>Eklesia Khesywani Gea</p><p><br/></p><p>Pengalaman memiliki teman dan rekan kerja orang Batak.</p><p><br/></p><p>Saya secara pribadi berasal dari Sumatera yang satu provinsi dengan orang-orang dari suku Batak, tetapi saya baru sedikit bisa mengenal tentang suku batak dari teman-teman saat kuliah dan juga rekan-rekan kerja saat ini. Saya kagum sekali dengan rasa kekeluargaan yang mereka miliki di mana ternyata orang batak di perantauan itu sangat banyak dan mereka memiliki biasanya berkumpul contohnya seperti acara "arisan 1 marga", saya tidak tahu persis namanya. Namun, di sana mereka akan berkumpul di satu tempat dan itu rutin dilakukan. Selain itu, saya juga kagum dengan teman dan rekan dari suku Batak karena dapat menghafal silsilah keluarga dan marga-marganya sehingga mereka dapat memanggil orang tersebut dengan panggilan yang tepat contohnya Boru, dll. </p><p><br/></p><p>Pembelajaran pada Minggu 1 ini juga semakin membuka wawasan saya tentang suku Batak tentang pariban yang awalnya saya ternyata memiliki pemahaman yang salah.</p><p><br/></p><p>Terima kasih</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 04:26:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3405638339</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>brigitavina00</author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3405946970</link>
         <description><![CDATA[<p>Brigita Vina Pertiwi</p><p>(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:brigitavina00@gmail.com">brigitavina00@gmail.com</a>)</p><p><br/></p><p>Refleksi pengalaman pribadi sehubungan dengan interaksi dengan aspek budaya Sumatra (Batak). </p><p><br/></p><p>Sharing pengalaman saya dalam keluarga, saya tiga bersaudara, kebetulan kakak perempuan saya menikah dengan orang suku Batak asli Jambi.  Ketika mendengar "suku Batak" spontan yang muncul dipikiran saya "Orang Batak memang <strong>ekspresif </strong>dalam berbicara (intonasi tinggi adalah ciri bahasa Batak), tetapi tidak selalu berarti marah. Ini lebih ke gaya komunikasi yang tegas dan terbuka".  Pernikahan antara suku Jawa dan Batak saya kira kakak ipar saya memliki gaya berbicara yang keras, tapi ternyata justru kebalikannya, kakak saya yang sering kali gaya berbicaranya yang keras. Hal tersebut membuka konsep pemikiran saya bahwa tidak selalu orang suku Batak berbicara keras. Tentu ada faktor lain yang mempengaruhi misalnya pengalaman merantau atau bekerja di lingkungan multikultural. Kakak ipar saya sudah lama merantau di Jawa dan bahkan sampai sekarang menetap di Jawa. Pengalaman dinamika dalam keluarga pun menjadi simbol bahwa adanya <em>Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan. Jawa dan Batak adalah bukti bahwa perbedaan adalah anugerah yang memperkaya dan melengkapi. </em></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 08:27:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3405946970</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3406036238</link>
         <description><![CDATA[<p>Teresia Pujayanti</p><p><br/></p><p>Sharing pengalaman yang pernah saya alami terkait budaya di Suku Batak khususnya Pernikahan. Terjadi dengan rekan saya yang cukup dekat. Teman saya adalah anak pertama yang mempunyai etos kerja yang sangat tinggi dan menjadi contoh bagi adik-adikknya. Yang paling berkesan adalah ketika dia menjalin hubungan dengan lelaki dari luar negeri seorang bule dari Negara Jerman. Awal mula tentunya ini sangat ditentang habis oleh keluarganya tetapi karena teman saya dan calon suaminya sudah bersungguh-sungguh dan menjalin hubungan yang cukup serius akhirnya mereka dapat menikah dengan berbagai adat istiadat Batak yang tentunya ini juga memerlukan waktu yang cukup panjang dan biaya, apalagi pasangannya berasal dari Negara Jerman yang tidak setiap saat dapat ke Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan tradisi Batak sungguh sangat-sangat dihormati oleh teman saya ini dan juga keluarganya sehingga apapun tantangannya apapun halangannya mereka tetap mempertahankan tradisi Batak yaitu dengan pernikahan adat (ulos) kemudian membeli marga sehingga pernikahan mereka juga sah secara adat Batak. Yang sangat memudahkan adalah pasangannya dari Negara Jerman ini adalah seorang Kristiani sehingga sudah sehati secara Iman sudah tidak berbeda.  Yang terpenting adalah mentoleransi budaya antara Batak dan dari luar negeri agar tetap dapat hidup secara harmoni. Saat ini mereka telah dikaruniai seorang putri yang berusia 1 tahun. Terima kasih</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-11 10:06:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3406036238</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>annamikaila13</author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3410488172</link>
         <description><![CDATA[<p>Refleksi jelajah Indonesia</p><p><br/></p><p>Sebagai seseorang yang bersuku bangsa betawi, saya banyak memiliki teman dengan berbagai suku bangsa yang lain terutama karena saya lahir dan besar di Jakarta sebelum menikah..</p><p>Salah satunya memiliki teman yang bersuku bangsa batak, yang menurut saya karakternya memang sudah memiliki ciri khas tersendiri.</p><p>Tapi hal tersebut tidak menjadi halangan untuk kita untuk dapat berteman dengan siapapun, apapun suku bangsanya...</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-15 08:13:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3410488172</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3440039701</link>
         <description><![CDATA[<p>Arif Sutikno</p><p><br/></p><p>Saya sudah minimal 2x mendapat kesempatan untuk mempertunjukkan budaya Sumatra lewat event ICE di UPH COLLEGE. Lewat acara tersebut, saya semakin mengenal budaya Sumatra secara umum, filosofi dari suku-suku utama seperti Batak dan Nias serta daerah-daerah lainnya. Saya membaca dan mendengar cerita bahwa pada Suku Batak, tali kekeluargaan sangatlah kuat. Mereka yang semarga akan tetap saling bantu dan berkumpul di tengah-tengah perantauan. Benar-benar seperti definisi "clan" yang ada di film. Hal ini sebenarnya sangat mengagumkan, karena budaya saling tolong menolong ini semakin hilang khususnya di jaman modern ini. Lewat sesi ini saya belajar banyak hal baik dari budaya lain yang dapat diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Penting untuk mengenal budaya supaya kita semakin berwawasan luas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-05-07 14:10:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/terechristy/l5wr4iipzb5mycf1/wish/3440039701</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
