<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Weekly Reflectives 3F w2 by Yudho Hartono</title>
      <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2</link>
      <description>berikan opini dan pengalaman kalian terkait materi minggu ini tambahkan juga foto yang langsung kalian ambil sendiri
</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-21 01:42:38 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-14 22:11:02 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Nicholas Hugo Tjokro (Hugo) 13122010028</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1756778004</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada minggu ini di kelas Consumer Journey kami membahas loyalty loop. Loyalty loop membicarakan bagaimana konsumen selalu dalam keadaan galau ketika awal membeli atau memiliki intensi untuk membeli barang, maka mereka pada fase ini akan mempertimbangkan barang mana yang mau dibeli dengan mempertimbangkan brand A,B,C, dan mengevaluasi perbedaannya. Tetapi Orang yang sudah ada di dalam loyalty loop (brand dengan bonding tinggi) tidak perlu melewati tahap consider dan evaluate lagi.</div><div><br>Saya tentunya seperti smeua orang memiliki pengalaman dalam bidang ini, sebuah contoh yang akan saya berikan adalah ketika saya membeli Laptop baru. pada saat itu saya berada di loyalty loop tanpa bond dengan perusahaan komputer apapun. maka saya melewati tahap consider dan evaluate, apa yang saya inginkan dari sebuah laptop. karena brand laptop begitu banyak, tahap consider saya menjadi sulit untuk mempertimbangkan dari semua brand laptop, maka saya mulai pergi ke arah v<em>alue</em> yang saya inginkan dari sebuah laptop. berdasarkan pernyataan <em>"price is what you pay, value is what you get. in other words, from the individual's perspective&nbsp; value is a much richer, more dynamic concept than cost, involving human behavior and emotions. value is a perceived benefit", </em>berdasarkan pernyataan tersebut behavior saya sebagai seorang pelajar yang bermain game komputer pada waktu luangnya, memilih untuk mencari laptop dengan GPU (Graphics processing unit) sebagai <em>perceived benefit</em> yang akan saya cari sebagai konsumen.<br><br>Pada akhirnya saya memilih Asus ROG pada entry level. tetapi mengapa demikian? Pada saat itu saya memilih entry level karena saya masih merupakan konsumen yang sensitif terhadap harga. dan selanjutnya apabila di jelaskan melalui konsep yang kita bahas pada minggu ke-2, sebuah brand harus konsisten untuk kemudian konsumen membuat persepsi dari sebuah brand itu. karena seperti yang kita ketahui asus merupakan sebuah brand komputer tetapi kemudian juga masuk ke dalam market gaming dalam brand ROG. pada saat itu pandangan sebuah brand Asus ROG bagi saya sebagai sebuah brand gaming yang cukup ternama sehingga persepsi kualitas dari laptop tersebut bagi saya akan cukup baik. <br><br>Tetapi, mengapa Asus ROG menjadi sebuah brand yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baik bagi saya ketika, seperti yang dibahas pada minggu ke-2, sebuah brand yang tidak konsisten tidaklah baik?&nbsp; Menurut saya ini adalah faktor dari penerapan sub-brand."A sub-brand is <strong>a brand within a brand</strong>. A sub-brand uses a unique name for a product and service that can develop its own brand. Sub-brands have their own customer expectations and personalities that are different from the parent brand. Sub-brands can be a powerful tool for marketers because of these effects." hal ini sering kita lihat pada sebuah brand yang sangat sukses meskipun menarget berbagai macam segmen berbeda yaitu xiaomi. Sebagai contoh, Xiaomi menggunakan Sub-brand berbeda untuk budget line mereka yaitu "Redmi" yang berbeda daripruduct line utamanya yaitu "mi". Dengan Penerapan sub-brand ini, perusahaan seperti xiaomi dan asus dapat membangun persepsi, brand image yang berbeda untuk setiap sub-brandnya yang menargetkan pasar (pembeli) yang berbeda<br><br>menurut saya secara keseluruhan Minggu ke-2 dari Consumer Journey memberikan insight yang sangat baik dan menarik dengan membahas sebuah tahap membeli yang mungkin beberapa dari kita lakukan setiap hari tetapi belum pernah menganalisanya dari sisi produsen.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344331503/5352985ac93b44fc50546673a2581b35/20210921_180115.jpg" />
         <pubDate>2021-09-21 11:08:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1756778004</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elysia Arista 13122010025</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1757222339</link>
         <description><![CDATA[<div>Produk face wash yang saya gunakan sehari-harinya adalah produk dari Cetaphil. Saya sudah menggunakan produk ini sejak SMA dan melakukan re-purchase beberapa kali. Semenjak saya menggunakan produk ini, saya tidak pernah berpikiran untuk mengganti sabun cuci muka saya. Begitu produk ini hampir habis, saya akan melakukan re-purchase karena saya merasa sudah cocok menggunakan sabun ini. Dari pernyataan tersebut, saya masuk dalam loyalty loop produk Cetaphil. Menurut saya, value yang disajikan oleh produk ini adalah gentle dan ringan di wajah. Pertama kali saya mengetahui produk ini adalah melalui teman saya yang menggunakannya. Kebetulan pada saat itu saya sedang mengalami masalah pada kulit wajah, dan teman saya merekomendasikan produk ini. Setelah itu, saya melihat review di youtube dari beberapa beauty vlogger. Saya melihat kebanyakan yang menggunakan produk ini adalah remaja. Berdasarkan market strategicnya, produk Cetaphil mensegmentasi dan menargetkan pasarnya dalam golongan remaja yang memiliki kulit sensitive. Diferensiasi produk ini dari produk lain menurut review dan pengalaman saya adalah produk ini sangat ringan di wajah dan tidak menimbulkan efek kesat setelah mencuci muka. Berdasarkan price-based positioning, produk ini memposisikan dirinya dalam upper middle class. Harga yang ditawarkan produk ini cukup tinggi dibandingkan dengan produk face wash lainnya yang di jual di drugstore. Tetapi, sering kali Cetaphil mengadakan promo berupa potongan harga. Hal tersebut juga masuk dalam market tactical dari Cetaphil. Dari sisi placement, produk Cetaphil dijual di e-commerce dan juga drugstore (seperti guardian, watsons, dll) sehingga mudah dijangkau oleh konsumennya terutama remaja. Penempatan ini sudah sesuai dengan segmen market yang ditargetkan oleh Cetaphil yaitu remaja.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344333378/367fa35118fa702b257c15a472277b80/09EA73CB_6ABE_4EB3_AAA9_D221EE9CB8D4.jpg" />
         <pubDate>2021-09-21 13:50:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1757222339</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Shanon Eden Ariella 13122010081</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1757790508</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam kelas <em>Consumer Journey</em> minggu ini, salah satu pembahasannya adalah mengenai <em>loyalty loop</em> dimana perjalanan dimulai dari <em>consider </em>dan <em>evaluate</em> yaitu menimbang-nimbang kelebihan dan kekurangan sebuah <em>brand</em> barang/jasa baru muncullah tahap pembelian dan jika <em>brand</em> tersebut tepat persepsinya di panca indera konsumen, maka akan terjadi <em>bonding</em> yang baik sehingga konsumen menjadi "berlangganan" dengan <em>brand</em> tersebut. Namun, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya tentang sebaliknya yakni tentang sebuah <em>loop </em>yang tidak menghasilkan tahap <em>bonding</em> yang baik dengan saya sebagai konsumen. <br><br><em>Brand</em> yang saya ingin ceritakan adalah <em>brand </em>jasa pengiriman. Hal ini dimulai dengan tentunya sebelum terjadi <em>bonding</em> antara saya sebagai konsumen dengan sebuah <em>service brand</em>, saya mengalami <em>consideration</em> dengan saingannya yaitu saya menimbang antara jasa pengiriman JNE dan TIKI. Saya pernah mencoba kedua jasa pengiriman tersebut namun saya mengalami hal kurang enak dengan salah satu jasa pengiriman yakni TIKI yang berakibat fatal karena posisi saya sebagai penjual dimana saat saya berjualan sebuah produk dan hendak mengirimkan ke konsumen saya yang saat itu menggunakan layanan TIKI, paket yang saya kirimkan dikomplain oleh konsumen saya karena bungkus kertas paketnya terobek dan plastiknya sudah dalam keadaan terbuka (tidak ter<em>seal</em> dengan baik) padahal saat dikirim dalam keadaan mulus. Bagi saya hal tersebut menurunkan <em>value</em> dari jasa TIKI yang membuat <em>identitiy</em> TIKI di persepsi saya kurang baik. Hal tersebut membuat trauma tersendiri bagi saya sehingga di benak saya menciptakan sebuah <em>loop</em> akan jasa TIKI yang seharusnya <em>consider, evaluate, buy, enjoy, advocate, bond </em>tetapi <em>enjoy, advocate, </em>dan <em>bond</em> nya tidak dapat saya alami dan malahan berubah menjadi trauma, <em>negative word of mouth,</em> dan tidak dapat mem-<em>bond</em> dengan jasa TIKI. <br><br>Hal ini membuat di <em>loop </em>selanjutnya saat saya memerlukan sebuah jasa pengiriman, saya memilih JNE tanpa harus <em>consider</em> TIKI lagi karena untuk saya TIKI sudah dilenyapkan dari <em>loop </em>saya sedangkan selama saya menggunakan jasa pengiriman dengan JNE tidak pernah bermasalah. Oleh sebab peristiwa tersebut, saya tempatkan JNE sebagai <em>loop</em> dengan <em>highest bonding</em> yang membuat saya berlangganan JNE sebagai setiap ingin melakukan pengiriman atau menerima kiriman barang. <br><br>Melalui kejadian ini saya menyadari bahwa sebuah kesalahan dapat menurunkan <em>identity</em> sebuah <em>brand</em> dan dapat berakibat fatal yaitu memutus rantai <em>bonding</em> dengan seorang konsumen dan jika hal tersebut menyebalkan hati konsumen dan konsumen tersebut menceritakan kepada orang banyak, dapat berakibat lebih fatal lagi yakni <em>advocacy</em> <em>brand</em> tersebut bukannya positif namun menjadi negatif dan buruknya dapat menarik teman-teman konsumen tersebut untuk tidak menggunakan <em>brand </em>tersebut dan perusahaan dapat kehilangan bukan hanya <em>loyalty loop</em> dari seorang konsumen namun dapat juga kehilangan konsumen baru yang meng-<em>consider</em> TIKI sebagai salah satu alternatif.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1064709314/d69f634645d929e878036128d23c7106/WhatsApp_Image_2021_09_21_at_23_31_39.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-21 16:32:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1757790508</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Julio Antono - 13122010044</title>
         <author>julioantono1014</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759135098</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam kelas consumer journey pertemuan ke -2, salah satu hal yang menjadi fokus utamanya adalah loyalty loop yaitu dalam seorang konsumen membeli barang ada tahapan - tahapan yang harus dilalui sebelum akhirnya membeli dan setia terhadap suatu produk. Untuk menjelaskan ini saya akan mengambil contoh dari pengalaman pribadi saya dalam membeli sebuah produk sabun wajah yaitu Pond's Men white boost. Pada tahap pertama yaitu consider dan evaluate, jadi pada tahap ini saya berpikir manakan produk yang akan cocok terhadap wajah saya, hal yang saya pertimbangkan saat memilih brand ini ada pada bacaan di produknya yaitu whitening anti -dark spot facial scrub dan dapat menghilangkan noda hitam dan cerahkan wajah seketika, karena pada waktu itu wajah saya lumayan kotor karena aktivitas saya yang sering berada di luar ruangan dan saya juga suka bermain futsal di siang hari. Tahap berikutnya yaitu buy, saya membeli produk ini di alfamart, kemudian tahap berikutnya enjoy, pada tahap ini saya merasa nyaman dan cocok dalam menggunakan produk ini dan wajah saya menjadi jauh lebih bersih juga setekah menggunakan facial scrub dari pond's men. Kemudian advocate, pada tahap ini juga saya kembali merekomendasikan produk ini kepada beberapa teman saya, setelah itu tahap berikutnya yaitu bond, karena sudah cocok dan nyaman dengan brand ini akhirnya saya memiliki ikatan terhadap brand ini yaitu ikatan kecocokan facial scrubnya dengan wajah saya yang pada akhirnya hal ini berulang kembali ke proses buy dan saya jadi tidak perlu melakukan tahap consider dan evaluate lagi. Inilah yang disebut dengan loyalty loop pada sebuah produk yang dimana pada intinya adalah menghilangkan tahap consider and evaluate dalam membeli suatu produk yang sudah pernah dibeli sebelumnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344351505/5288949ad9b72c77d1a111fa83de2e82/S__15622146.jpg" />
         <pubDate>2021-09-22 05:57:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759135098</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kent Nelsen 13122010034</title>
         <author>kentnelsen19</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759209037</link>
         <description><![CDATA[<div>Materi minggu ini bagi saya sangat menambah wawasan dan memberikan hal baru bagi saya. Saya menjadi tahu bahwa dalam membeli produk atau jasa, konsumer akan melalui consumer journey.Dalam materi kali ini, ada yang disebut sebagai loyalty loop di mana ada proses konsumen dalam menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan. Dalam pengalaman saya sendiri, saya juga merasakan sesuai dengan teori yang diajarkan. Dalam pengalaman saya, saya menggunakan smartphone dengan brand samsung, lebih tepatnya produk smartphone samsung s10+. Namun saya tidak begitu menikmati fitur-fitur yang ada pada smartphone ini karena tidak seperti yang saya bayangkan, smartphone ini tidak bisa mencapai ekspektasi saya saat membelinya. Lalu saya melihat adanya produk dari brand lain yang saat diiklankan, mungkin bisa sesuai dengan keinginan saya. Sekarang saya berada di tahap mempertimbangkan ulang untuk menggantinya dengan brand lain dengan harapan bisa memenuhi harapan saya dari produk tersebut. Brand dari produk tersebut adalah Asus ROG. Saya pribadi menggunakan smartphone kebanyakan untuk bermain game dan menurut saya, saya adalah target pasar dari smartphone ROG itu sendiri. Dengan disesuaikannya STDPB tersebut, saya menjadi lebih mungkin untuk membeli produk dari brand Asus ROG. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1359139574/7119fd36ca16d55ef933f48657ab587d/947612.jpg" />
         <pubDate>2021-09-22 06:45:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759209037</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cinta Richita - 13122010064</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759229011</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya memilih produk "parfum" untuk di sharingkan dan direfleksikan setelah mengikuti kelas CJ week 2, "loyalty loop".<br><br>Parfum adalah salah satu hal terpenting bagi para wanita. Sebelum membeli parfum ini, saya sudah menonton, membaca review2 tentang produk tersebut, karena tidak mau salah beli dan harganya tidak terlalu murah juga.&nbsp;<br>Produk tersebut di claim sebagai produk yang bersifat clasic/abadi dari brand yang bersangkutan. Kemudian setelah membaca review, menonton video tentang product details, banyak yang meng-claim bahwa wangi dari parfum ini sangat tahan lama dan bahkan masih stay baunya jika orangnya sudah jalan/pergi (sangat sesuai dengan kriteria parfum yang saya sedang cari)<br>Kemudian setelah memutuskan untuk beli, ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa bau nya sangat khas, dan tahan lama. Sekarang saya sudah tidak begitu mau ganti parfum karena baunya sudah jadi ciri khas. Dan sekarang saya sudah re-purchase botol ke 3.&nbsp;<br>berdasarkan pengalaman saya, dapat disimpulkan bahwa saya telah menerapkan proses loyalty loop dalam memilih dan membeli barang (mencari, membaca review, melihat pros n cons nya, dan pada akhirnya membeli).</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344339171/f229c7187557b0efe6813c1aa638df30/image0__3_.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-22 06:56:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759229011</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dustin Marvel 13122010059</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759475703</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kesempatan kali ini, saya Dustin Marvel ingin membagikan pengalaman singkat mengenai apa yang saya pelajari pada Week 2 Consumer Journey. Saya mempelajari banyak hal dan mendapatkan ilmu-ilmu yang kelak nantinya berguna. Salah satu hal yang saya ingat dan pelajari kemarin yakni “Loyalty Loop”.</div><div><br></div><div>Loyalty Loop ini sendiri menjelaskan proses seorang <em>customer</em> dari awal mula ingin membeli sebuah barang atau produk sampai akhirnya sudah nyaman dengan produk itu dan akhirnya membelinya terus menerus. Proses diawali dengan tahap “Consider and Evaluate” dimana <em>customer</em> akan memikirkan dan mempertimbangka&nbsp; apakah dirinya akan membeli barang atau produk tersebut, lalu akan mengevaluasi apakah sebenarnya dirinya membutuhkan barang itu, apakah barang ini sesuai dengan keperluannya, dan apa sajakah kelebihan dan kekurangannya dari membeli barang atau produk tersebut. Barang atau produk disini bisa berupa barang fisik maupun jasa yang disediakan sebuah <em>Brand</em>. Sampailah ke tahap pembelian dimana bisa dikatakan bahwa <em>customer</em> akhirnya menyepakati dan setuju untuk membeli barang atau produk tersebut. Nah apa hubungannya dengan “Loyalty Loop” ini? <em>Loyalty</em> sendiri mengartikan loyalitas atau solidaritas dan <em>Loop</em> sendiri menjelaskan sebuah proses yang berulang-ulang. Bisa disimpulkan bahwa <em>Loyalty Loop</em> ialah sebuah loyalitas atau solidaritas dari seorang <em>customer</em> dalam membeli sebuah produk atau barang dengan membelinya secara berulang-ulang kali untuk kebutuhannya. Apabila terlihat seorang <em>customer</em> membeli ulang sebuah barang atau produk ataupun sering membelinya, hal ini menunjukkan bahwa <em>customer</em> tersebut sudah mencapai level kenyamanan&nbsp; yang tinggi terhadap suatu brand, bisa dikatakan sudah memiliki level <em>bond</em> atau afinitas yang tinggi sehingga menyebabkan terjadinya pembelian atau transaksi terhadap produk atau barang tersebut secara berkala.</div><div><br></div><div>Saya ingin membagikan pengalaman singkat mengenai produk obat jerawat “Erha Clinics”. Dari semua obat jerawat yang ada dan dijual, saya hanya memilih satu yakni milik “Erha Clinics”. Mengapa demikian? Karena saya sudah nyaman dengan produk tersebut dan produk tersebut sudah terbukti secara nyata benar berguna untuk mengobati dan meringankan jerawat yang ada. Pada awalnya muka saya yang jerawatan membeli obat dari seluruh macam produk yang ada tidak berhasil dan malahan tambah parah, tetapi ketika menggunakan produk “Erha Clinics” ini jerawat saya bisa cepat hilang dan jarang timbul jerawat lagi berkat bantuan juga dari <em>Facial Treatment</em> yang disediakan oleh “Erha Clinics” ini. Disini terbukti bahwa terjadi “Loyalty Loop” antara saya dengan produk obat jerawat&nbsp; dari “Erha Clinics”. Bisa dikatakan bahwa saya sudah menjadi <em>Loyal Customer</em> dari “Erha Clinics” ini dengan rutin membeli obat jerawatnya, melakukan konsul, dan treatment-treatment lainnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1361844784/3168863a2f9f54a435746e5712168a3e/6D2190D2_EF9E_48EA_B15B_D05C283F0A39.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-22 09:05:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1759475703</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Machiko Delicia - 13122010199</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1760355475</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas Consumer Journey di minggu ke 2, kami mempelajari tentang banyak hal mengenai Consumer Journey Framework. Yang paling utama dalam topik minggu ke 2 ini adalah Loyalty Loop. Loyalty Loop adalah model perilaku konsumen yang menunjukkan bagaimana pelanggan potensial dan pelanggan saat ini memutuskan apa yang akan dibeli dan mengembangkan loyalitas terhadap merek tertentu. Akan tetapi, di weekly reflection ini saya akan menjelaskan mengenai sub-topik lain yang sudah dijelaskan di Consumer Journey minggu ke 2. Salah satu topik yang dibicarakan adalah Marketing Miix atau 4P yang dimana memiliki kepanjangan dari Product, Price, Promo and Place. Definisi dari Marketing Mix sendiri adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mengejar tujuan pemasarannya di pasar sasaran dan membangun brand image. Produk mengacu pada barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan. Idealnya, sebuah produk harus memenuhi permintaan konsumen yang ada. Atau sebuah produk mungkin begitu menarik sehingga konsumen percaya bahwa mereka perlu memilikinya dan itu menciptakan permintaan baru. Agar sukses, pemasar perlu memahami siklus hidup suatu produk, dan eksekutif bisnis perlu memiliki rencana untuk menangani produk di setiap tahap siklus produk tersebut. Harga adalah biaya yang harus dibayar konsumen untuk suatu produk. Pemasar harus menghubungkan harga dengan nilai nyata dan nilai yang dirasakan produk. Selanjutnya adalah Place, ketika sebuah perusahaan membuat keputusan mengenai tempat, mereka mencoba menentukan di mana mereka harus menjual produk dan bagaimana mengirimkan produk ke pasar. Promosi meliputi periklanan, hubungan masyarakat, dan strategi promosi.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Nenek saya adalah seseorang yang sangat menyukai barang branded, beliau begitu pemilih dengan brand yang dibeli. Suatu saat saya melihat lemari pakaian nya yang hamper penuh dengan Brand ZARA. Saya pun penasaran dan bertanya kepada nenek saya mengapa beliau memilih untuk membeli Brand ZARA dari pada Brand mahal lain nya. Lalu beliau pun bilang bahwa ZARA merupakan salah satu Brand yang cukup dipandang. Saya pun akhirnya menyadari mengapa banyak orang berpikir ZARA adalah barang yang termasuk “branded” padahal sebenarnya kurang lebih saja dengan Brand seperti Mango, atau Bershka. Produk dari Brand Apparel yang bernama Zara selalu meletakan toko-toko di dalam Mal yang memiliki brand mahal, bersebelahan dengan toko luxury brand, membuat toko mereka terlihat mewah, serta promotion yang Brand Zara lakukan adalah dengan memiliki Fashion Show mereka sendiri. Hal ini membuat para konsumen berpikir dan melihat bahwa Brand Zara memiliki kualitas yang setara dengan Luxury Brand lainnya dengan harga yang affordable dan kurang lebih dengan Brand lainnya seperti Mango.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1251329522/451ffabda9a27abbbbdf19f1ee668b0b/Screen_Shot_2021_09_22_at_10_10_11_PM.png" />
         <pubDate>2021-09-22 15:10:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1760355475</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cherill Chandra- 13122010053</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1762486995</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada minggu kedua perkuliahan CJ, saya belajar mengenai <em>brand consistency</em> hingga <em>loyalty loop</em> konsumen. <em>Loyalty loop </em>mendefinisikan bagaimana tahapan konsumen dalam membeli suatu barang dan pada akhirnya<em> output</em> yang dihasilkan adalah melakukan <em>re-purchase</em> atau tidak. Loop sendiri didefinisikan ke dalam beberapa tahapan dari awal pertama konsumen membeli <em>(purchase)</em> produk maupun jasa; hingga ke tahapan <em>enjoy, advocate, bond, consider</em>, dan <em>evaluate.&nbsp;</em></div><div><br></div><div>Setelah mengikuti kuliah ini, saya akhirnya menyadari bahwa&nbsp; saya pernah dan terjebak dalam <em>loyalty</em> <em>loop </em>ini.</div><div><br></div><div>Saya terjebak dalam<em> loyalty loop</em> untuk produk sunscreen wajah merek Bioré (UV Water Essence Aqua Rich). Saya sendiri sudah menggunakan produk ini sejak SMA. Awalnya, ketika SMA saya ingin memiliki ritual skincare. Setelah menonton berbagai macam video <em>beauty vlogger</em>, semua rata-rata menyarankan bahwa sunscreen adalah step terpenting untuk merawat kulit.&nbsp;</div><div>Saat itu, banyak yang merekomendasikan Bioré varian aqua rich ini karena berbasis air sehingga tidak 'berat' di wajah kita. Produk ini juga dulu&nbsp; <em>trending </em>dan <em>recommended.</em></div><div><br></div><div>Saya pun tertarik dan mencoba membeli satu tube kemudian menggunakannya setiap hari ketika beraktivitas. Saya pun jadi suka dan merasa ini benar-benar recommended sunscreen. Wajah saya jadi lembab, serta tetap terproteksi dari sinar matahari. Akhirnya, saya pun memutuskan bahwa Bioré Aqua Rich ini akan menjadi <em>daily sunscreen.</em></div><div>Ketika habis, saya pun bergegas membeli produk yang sama. Akhirnya tanpa disadari saya sudah <em>re-purchase</em> sekitar 4 tubes lebih. Bioré UV ini juga telah menjadi <em>top of mind saya</em> dalam <em>brand sunscreen </em>wajah, ketika ditanya teman, saya akan tetap merekomendasikan merek sunscreen ini.&nbsp;<br><br></div><div>Berkat b<em>rand consistency </em>dari Bioré (strategi marketing yang bagus sampai banyak yang 'meracuni'&nbsp; melalui pendekatan sosial media), konsistensi lainnya dapat dilihat dari tekstur produk yang tidak pernah berubah dan aroma yang sama dalam setiap produksinya, mengakibatkan banyak juga yang menjadi loyal consumer. <br>Sehingga, <em>brand consistency</em> juga menjadi faktor penting dalam <em>loyalty loop</em> konsumen, serta menjadi <em>value</em> penting yang ditawarkan brand itu sendiri.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344330644/63745c92a5175c01f06f5cb7cfd9d0d4/IMG_1764.HEIC" />
         <pubDate>2021-09-23 09:19:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1762486995</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Timothy Haryono - 13122010002</title>
         <author>timothyharyono</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1763135964</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas week ke-2 Consumer Journey, saya belajar mengenai bagaimana cara kita untuk membuat consumen dapat setia menggunakan produk kita atau yang kita namakan dengan "Loyalty Loop". Loyalty Loop adalah dimana konsumen akan membeli produk tersebut terus menerus dengan step dari Pembelian awal konsumen, kemudian Enjoy untuk menggunakna produk tersebut, Advocate ke pada barang /jasa yang digunakan, Bond, consider dan yang terakhir evaluate. Loyalty Loop sendiri akan berputar pembelian tanpa ke bagian Consider dan Evaluate untuk membeli suatu barang. Pembelajaran CJ minggu ke 2 merupakan hal yang sangat memberi saya insight baru dimana tanpa disadari saya juga telah terlelap dalam loyalty loop sebuah brand.<br><br>Ternyata saya terjebak dalam loyalty loop pada sebuah produk elektronik / gadget yaitu "Apple". Saya sendiri sudah menggunakan produk Apple sejak SMP dimana awalnya saya melihat sebuah produk apple sebagai barang yang mewah dan elegant, pada saat itu saya mencari tahu lebih dalam lagi mengenai produk-produk apple seperti iphone, ipad, macbook, ipod. produk apple pertama saya adalah iphone 4 dimana saat itu merupakan iphone yang cukup bagus pada masanya nah setelah itu saat keluar iphone 5s saya ingin berganti handphone ke iphone 5s tanpa pikir panjang saya langsung membelinya karena saya tahu bahwa user experience yang diberikan apple sangatlah mudah dan enak untuk dipakai. Tanpa disadari seiring berjalannya waktu mulai muncul iphone dari seri 6 7 8 dan X terus menerus dan saya selalu memutuskan untuk mengganti hp saya ke produk apple ini yaitu dari seri 4 ke 5s kemudian ke 6+ kemudian ke X. produk apple sudah menjadi top of my mind untuk kebutuh gadget karena seperti laptop pun saya menggunakan produk apple sebagai daily driver saya untuk berkuliah dan mengerjakan tugas.&nbsp;<br><br>Hal yang membuat saya tetap menggunakan apple adalah mereka memiliki konsistensi dalam quality dimana produk mereka merupakan produk yang dapat dibilang memiliki desain yang elegant, mewah, serta memiliki ketahanan yang sangat baik dan dapat digunakan secara jangka panjang. selain itu apple juga memberikan support kepada handphone tipe lama yang membuat saya takjub dimana apple tetap memberikan update-update terbaru ke device yang sudah dapat dibialng cukup tua. Menurut saya yang mmebuat saya tetap dalam teori CJ adalah Brand Consistency serta Quality dari suatu produk yang saya dapatkan ketika membeli suatu barang / jasa. Dapat dikatakan bahwa saya merupakan Loyal Customer dari Produk "Apple" karena saya hampir tidak pernah berpaling dari produk apple ke merek lainnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344314359/352e8d039796cb046a5c6684ce63a96c/IMG_0188.JPG" />
         <pubDate>2021-09-23 14:14:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1763135964</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aldo Pandowo 13122010102</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1763179016</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas kedua perkuliahan Consumer Journey saya belajar mengenai "The Mc&nbsp;<br>kinsey Loyalty Loop"<br><br>Dalam proses loyalty loop seorang konsumen biasanya melakukan konsiderasi apabila dia melihat bahwa sebuah produk/jasa itu menarik atau dibutuhi (Consider). Lalu, setelah menyadar bahwa&nbsp; dia tertarik/perlu produk itu, seorang konsumen akan mengevaluasi (evaluate) produk tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membelinya (buy).&nbsp;<br><br>Kosumen yang telah memeli pun akhitrnya memakai produk tersebut dan merasa "enjoy" dia merasa bahwa wah produk ini bagus juga dan harganya worth. Dari sini, dia mukai menceritakan kepada teman-teman dekat dan saudara tercinta yang mereka peduli tetang pengalaman mereka memakai barang tersebut (Advocate). Mereka pun akhirnya merasakan "bond" dengan produk tersebut sehingga tidak perlu "consider dan evalaluate" lagi untuk melakukan next purchase karena sudah percaya dan nyaman dengan produk itu.&nbsp;<br><br>Pada awal pandemic saya dan keluarga saya baru mulai mencari masker untuk keaman dari virus covid-19. Saya dan keluarga pada walnya selalu menggunakan masker kain, namun ada berita yang menyatakan bahwa masker kain tidak sepenuhnya aman. Dari situ kami sadar bahwa kita butuh masker yang hanya sekali pakai" Di sinilah kita bertemu dengan merek softies pada saat itu di online. Lalu ayah melakukan pembeliaan masker tersebut via online berberapa pack untruk di pakai keluarga. Kita semua merasa bahwa masker ini berkesan bersih dari packaging biru aqua dan putih higenis, namun namanya juga yang berkelas "Softies" membuat kita merasa sedikit brainwash bahwa merek ini lembut di pakai, tapi emang beneran nyaman sih pakai maskernya ini.  Saya berharap Softies bisa konsisten dengan kualitas produknya(brand consistency) karena saat ini saya sudah tidak perlu menghabiskan waktu untuk memilih masker lagi karena jika membutuhkan masker=&gt; jawabanya sudah Softies :)</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1364701897/829127932e1be07772753b26c143ad84/154126.jpg" />
         <pubDate>2021-09-23 14:28:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1763179016</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Evans Benjamin - 13122010164</title>
         <author>evansbenj7</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1763201717</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada Kelas Consumer Journey di minggu ke 2, saya mempelajari banyak sekali ilmu baru mengenai Consumer Journey. Salah satu ilmunya adalah Loyalty loop yang berarti ada suatu proses konsumen dalam menggunakan suatu produk atau jasa yang ditawarkan yaitu customer dari awal ingin membeli suatu barang hingga akhirnya sudah nyaman dengan produk tersebut teori ini juga sangat nyambung dengan pengalaman pribadi awalnya saya suka dengan brand gucci. Suatu brand yang termasuk barang branded namun setelah saya memakai barang tersebut saya merasa tingkat kepuasan saya terhadap brand gucci tersebut berkurang. Lalu setelah itu saya melihat salah satu saingan brand gucci yaitu Louis Vuitton. Melihat dari sosial media, keluarga, dan review mengenai Louis vuitton brand tersebut memiliki material yang sangat mahal dan kuat selain itu juga produknya rata - rata handmade dengan berkualitas tinggi selain itu juga brand tersebut sudah menjadi salah satu icon barang branded di dunia hal ini membuat saya berpikir bahwa brand louis vuitton ini sangat worth it untuk dibeli selain itu juga menaikan image tersendiri ketika kita memakai produk tersebut secara tidak langsung saya menjadi customer yang loyal terhadap brand Louis Vuitton ini dimana saya membeli tas, sepatu, dompet, dan lain - lain hal ini terjadinya loyalty loop terhadap saya sendiri. Selain itu juga Louis Vuitton memiliki konsistensi dalam kualitas produk mereka  karena mereka memiliki design dan material yang elegant, mewah, handmade, dan awet karena rata - rata menggunakan kulit asli sehingga dapat tahan lama. Hal ini juga menunjukan adanya Brand Consistency yaitu kualitas dari suatu produk yang kita dapatkan ketika membeli suatu produk atau jasa juga secara tidak langsung saya sudah menjadi customer loyal Louis Vuitton, sudah tercuci otak karena saya hampir tidak pernah berpaling kepada produk atau brand lainnya selain Louis Vuitton </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344346088/31b23f6d86d5670614b0a7a158569d4a/louis_vuitton_grand_sac_monogram_eclipse_canvas_bags__M44733_PM2_Front_view.jpg" />
         <pubDate>2021-09-23 14:35:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1763201717</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andrew Prananda Putra - 13122010160</title>
         <author>andrewputraa</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1764552327</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada minggu ke-2 perkuliahan Consumer Journey, Saya mempelajari banyak hal yang telah di ajarkan oleh Bapak Yudo tentang <em>brand consistency</em> hingga <em>loyalty loop </em>pada konsumen. Loyalty Loop adalah proses <em>customer</em> yang diawali dengan rasa ingin untuk membeli sebuah bproduk sampai akhirnya sudah nyaman dengan produk itu dan pada akhirnya proses pembelian itu dilakukan secara berurlang-ulang.&nbsp;</div><div><br></div><div>Proses Loyalty Loop diawali dengan step pertama yaitu&nbsp; “Consider and Evaluate” yang berarti <em>customer</em> akan mempertimbangkan&nbsp; apakah dia akan membeli produk tersebut, selanjutnya dia akan melakukan proses evaluasi mengenai apakah dia benar-benar membutuhkan produk tersebut secara mendalam (Kelebihan dan kekurangan, kegunaan, dll yang mendalam). Step selanjutnya setelah melakukan evaluasi maka sampai di tahap pembelian yang merupakan customer akan melakukan aksi yaitu berupa membeli produk tersebut. <em>Loyalty Loop</em> ialah sebuah loyalitas konsumen ketika membeli&nbsp; produk atau jasa yang terjadi secara berulang-ulang demi memenuhi kebutuhannya hingga ke tahapan <em>enjoy, advocate, bond, consider</em>, dan <em>evaluate.</em></div><div><br></div><div>Saya ingin menceritakan experiences saya dengan salah satu <em>holy grail</em> saya. Saya bukan tipe yang menggunakan parfume awalnya, namun ketika saya melihat om saya dan wanginya tercium dari jarak 2-3 meter membuat saya sangat menginginkan untuk memakai parfume agar seperti om saya. Saya melihat berbagai review di youtube mengenai top parfume scent of all time yang membuat saya membeli parfume dengan brand bvlgari, namun saya tidak puas dengan hasilnya karena menurut saya cepat hilang dan wangi hanya 1-3 jam. Lambat laut saya stop pembelian parfume tersebut dan saya diberikan parfume oleh ibu saya yaitu TERRE D’Hermes, pada awalnya saya bingung dan saya anggap parfume ini sama saja dan cuman memiliki perbedaan brand produksi, namun ketika saya pertama kali memakai parfume ini banyak sekali orang yang memberikan compliment bahwa wangi saya sangat tercium dari jauh dan memberikan sebuah personal identity bagi saya. Sejak saat itu sampai sekarang saya selalu melakukan <em>re-purchase</em> terhadap parfume TERRE D’hermes. disini membutikan bahwa terjadi konsep “Loyalty Loop” pada saya dengan parfume TERRE D’hermes ini.&nbsp; Saya akan selalu memakai parfume ini dan tidak ada niat untuk mengganti produk ini dengan produk lain karena saya sangat membutuhkan produk ini sepanjang hari saya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344348116/59087b54017e4bf7aa55a90860b2a289/IMG_6886.JPG" />
         <pubDate>2021-09-24 01:59:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1764552327</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Delphine Aurelia Darmadi - 13122010106</title>
         <author>delphineaurelia</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1764878927</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas Consumer Journey di minggu ke-2 ini, ada beberapa pembelajaran baru yang saya dapatkan. Saya belajar mengenai <strong><em>Brand Consistency</em></strong> hingga <strong><em>Loyalty Loop</em></strong> konsumen, bagaimana kita dapat membuat konsumen melakukan <em>repeat purchase</em> dan akhirnya setia dan <em>“in sync”</em> dengan produk kita.</div><div>&nbsp;</div><div><em>Loyalty Loop</em> adalah konsep yang menggambarkan bagaimana konsumen memutuskan apa yang mereka beli, dan kemudian terus melakukan <em>repeat purchase</em> terhadap produk tersebut. Sebagai konsumen tidak jarang ketika kita melakukan pembelian dan kemudian kita memberi tahu orang lain misalnya ke teman-teman kita, keluarga kita, dan lain-lain mengenai pendapat dan pengalaman kita menggunakan sebuah produk yang menurut kita bagus, tetapi di samping itu, kita sebagai konsumen juga terus akan melakukan evaluasi kembali apakah kita harus tetap setia dengan <em>brand</em> ini. Hal ini didorong oleh salah satu faktor misalnya karena banyaknya <em>brand-brand</em> lain bermunculan yang juga menawarkan value yang lebih baik.</div><div>&nbsp;</div><div>Di dalam proses <em>Loyalty Loop</em> ada beberapa tahapan mulai dari awal pertama konsumen melakukan pembelian <em>(purchase)</em> produk maupun jasa, hingga ke tahapan <strong><em>enjoy, advocate, bond, consider, </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>evaluate</em></strong><strong>.</strong> Tahapan ini dimulai dari konsumen melakukan pembelian, kemudian merasa <em>enjoy</em> menggunakan produk tersebut, kemudian mulai menceritakan atau me-<em>review </em>produk yang digunakan kepada teman-teman, keluarga, dan lain-lain <em>(advocate).</em> Baru setelah itu mereka pun merasakan <em>“bond”</em> dengan produk tersebut. Namun biasanya bagi mereka yang sudah merasakan <em>“bond”</em> dengan produk tersebut, mereka tidak perlu melalui tahapan <em>consider</em> dan <em>evaluate </em>lagi ketika melakukan pembelian selanjutnya karena mereka sudah percaya, cocok, dan merasa nyaman menggunakan produk tersebut.</div><div>&nbsp;</div><div>Setelah mengikuti sesi perkuliahan ini, saya menyadari bahwa diri saya terjebak dalam konsep <em>Loyalty Loop</em>. Saya terjebak dalam <em>Loyalty Loop</em> pada sebuah produk <em>skincare </em>yaitu <strong>BIODERMA Sensibio H2O Micellar Water. </strong>BIODERMA merupakan produk yang banyak sekali digunakan oleh orang-orang karena keahliannya yang unik dengan menempatkan biologi kepada pelayanan dermatologi. BIODERMA selalu memahami apa yang menjadi kebutuhan konsumennya dan memiliki toleransi yang lebih baik untuk setiap jenis dan kondisi kulit. Saya pribadi sudah menggunakan produk ini sejak saya SMA. Saat itu saya sedang mencari produk yang dapat membersihkan wajah saya secara mendalam untuk mengangkat kotoran-kotoran yang ada di wajah akibat penggunaan <em>makeup</em>. Sebelum saya melakukan pembelian terhadap produk BIODERMA Sensibio ini, saya menonton terlebih dahulu video-video review dari berbagai <em>beauty vlogger</em>. Hampir semua <em>beauty vlogger</em> merekomendasikan produk ini karena kemampuannya yang ampuh dalam membersihkan wajah secara menyeluruh dan mendalam. Tidak hanya itu, teman-teman saya juga merekomendasikan produk BIODERMA ini kepada saya. Hal ini membuat saya semakin yakin untuk mencoba produk ini. Karena baru ingin mencoba, botol pertama yang saya beli berukuran kecil (tidak terlalu besar). Saya menggunakannya setiap hari setelah beraktivitas. Setelah 1 bulan pemakaian, saya merasa cocok menggunakan produk ini. Produk ini mampu membersihkan kotoran dengan tuntas. Sisa-sisa <em>makeup,</em> termasuk <em>mascara</em> yang <em>waterproof</em>, dapat terangkat secara sempurna. Selain itu, <em>micellar water</em> ini juga mampu menghidrasi kulit saya dan yang terpenting produk ini cocok digunakan di kulit saya yang sensitif karena tidak mengandung <em>fragrance</em> dan <em>alcohol. </em>Sejak menggunakan BIODERMA ini juga jerawat di kulit saya lebih jarang muncul. Ketika botol pertama habis, saya segera membeli botol selanjutnya dengan size besar dan terus melakukan <em>repeat purchase</em> hingga saat ini. BIODERMA Sensibio ini telah <em>menjadi top of mind </em>saya dalam produk <em>skincare </em>terutama untuk <em>makeup remover </em>atau pembersih wajah.</div><div>&nbsp;</div><div>Berkat <em>brand consistency</em> dari BIODERMA misalnya tekstur produk yang tidak pernah berubah dan aroma yang sama dalam setiap produksinya dan <em>ingredients</em> yang digunakannya membuat BIODERMA menjadi produk yang terus digunakan oleh banyak orang hingga saat ini. Hal ini dapat disimpulkan bahwa <em>brand consistency</em> menjadi <em>value</em> penting dan dapat mempengaruhi <em>loyalty loop</em> konsumen.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344346349/f66c98880102908a9818eb628404d1c6/IMG_3429.jpg" />
         <pubDate>2021-09-24 04:56:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1764878927</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andru yeo-13122010018</title>
         <author>andruyeo08</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1765032568</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas Consumer Journey minggu ke-2 saya mempelajari banyak hal yang baru mulai dari pembelajaran tentang <strong><em>Brand consistency</em></strong> hingga <strong><em>loyalty loop.Loyalty Loop</em></strong><strong> </strong>merupakan proses dimana konsumen memakai atau menggunakan sebuah produk maupun jasa hingga merasa nyaman dengan produk maupun jasa tersebut dan akan melakukan pembelian terus menerus dan berulang-ulang kali. proses ini dimulai dari tahap <strong><em>" Consider and Evaluate" </em></strong>yaitu customer akan memikirkan dan mempertimbangkan apakah dirinya membutuhkan barang tersebut, maka customer tersebut akan melakukan proses evaluasi dimana dia akan mencari tau apakah dia benar-benar membutuhkan produk tersebut dibandingkan dengan brand-brand lainnya.<br><br>Dengan pembahasan perkuliahan yang membahas tentang <strong><em>Loyalty loop</em></strong> menyadarkan saya bahwa saya sendiri juga terjebak dalam konsep <strong><em>loyalty loop </em></strong>ini. Dikarenakan tipe rambut saya yang sedikit sulit diatur membuat saya harus mencari produk-produk yang dapat membantu saya&nbsp; untuk membuat rambut saya mudah diatur, awalnya saya menggunakan beberapa pomade rambut yang memang membantu memperbaiki masalah rambut yang berantakan,namun pomade yang saya gunakan memiliki efek samping dimana pomade dapat luntur ketika terkena keringat dan menjadi sangat berminyak dan menyebabkan muka yang berminyak dan menjadi faktor munculnya jerawat. banyak produk-produk yang disarankan oleh orang-orang mulai dari hair powder yang harganya termasuk mahal namun tidak tahan lama,lalu ada juga gel rambut yang membantu mengeraskan rambut namun tidak membantu karena memiliki efek samping membuat rambut menjadi kering,hingga saya menemukan<strong> GATSBY Side Blow </strong>yang bertipe bold yang berbentuk seperti WAX yang tidak mudah luntur,membuat rambut menjadi lebih bervolume,tahan lama dan tidak begitu berminyak,dan memiliki harga yang terkesan murah yaitu saya hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 30 ribu untuk memiliki produk ini dan penggunaaan yang cukup yang dapat digunakan lebih dari 1 bulan ,produk Gatsby ini sangat mudah untuk dicuci sehingga produk ini sangat cocok dengan saya. Sejak itu saya selalu menggunakannya mulai dari SMA kelas 1 hingga sekarang dan tidak pernah mengganti produk lain karena sudah sangat cocok dengan saya dan menambah rasa percaya diri saya karena rambut saya yang menjadi tidak mudah berantakan dikarenakan produk dari Gatsby ini.<br>Menurut saya pembelajaran consumer Journey week ke-2 ini memberikan pengalaman baru bagi saya dan menyadarkan saya tentang tahap pembelian suatu barang yang sebelumnya tidak saya sadari.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344346357/e8654fea0aef47553642081ab0a33243/gatsby.jpg" />
         <pubDate>2021-09-24 06:55:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1765032568</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1765353663</link>
         <description><![CDATA[<div>pada pertemuan kedua, mata kuliah Consumer Journey, kami mendapatkan insight baru dari brand consistency sebuah istilah yakni Loyalty Loop. Loyalty loop sendiri merupakan sebuah proses yang dilakukan customer ketika harus membeli dan memilih suatu barang dan merasa bimbang dalam menentukan pilihan’nya, hingga pada akhirnya dapat memutuskan untuk memilih sebuah brand atau produknya untuk mereka gunakan kembali. dan setelah memilikinya dalam jangka waktu tertentu customer dapat memberikan evaluasi dan reputasi terhadap produk dan brand yang ia pilih apakah sesuai ekspektasi atau tidak. hal tersebut tentunya akan berpengaruh bagi konsumen itu sendiri untuk memilih produk atau brand selanjutnya kembali apakah akan lanjut atau beralih ke yang lain.</div><div>Loyalty Loop yang saya alami jatoh kepada brand samsung watch wearable, yaitu samsung GEAR S3 Frontier dan samsung Fit2 jadi beberapa tahun yang lalu saya mencoba beralih ke smartwatch dan akhirnya saya mencoba menggunakan produk samsung gear watch S3, karena memang smartphone yang saya gunakan bermerk samsung dan cukup memuaskan. pengalaman saya menggunakan watch itu sangat baik bahkan melebihi ekspektasi saya, karena yang tadi saya bilang kebetulan saya juga menggunakan hp samsung sehingga banyak fitur yang ter intergrated dengan hp saya, untuk tampilan watchnya sendiri juga saya suka dan mudah serta nyaman untuk digunakan. banyak aplikasi di hp saya yang bisa diaccess seperti spotify, samsung health, hingga outlook bisa diaccess dari dari watch. kemudian menjawab chatting dan menerima telpon secara langsung. sampai disuatu ketika saya harus memiliki satu wearable watch lagi untuk saya gunakan sehari’ terutama menghitung jam tidur saya, karena samsung gear tersebut ukurannya cukup besar dan berat sehingga kurang nyaman untuk dipakai sehari-hari. Karena pengalaman saya menggunakan wearable dan brand dari samsung cukup puas, akhirnya saya tidak berpikir panjang untuk memilih samsung fit 2 dan terbukti memuaskan kembali. walaupun ada beberapa pilihan lagi dari berbagai merk seperti xiaomi, yakni mi band. karena harga keduanya juga tidak terlalu beda jauh akhirnya saya memilih samsung kembali.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1364725156/83accee5ebf5bbe125e430d9369139ad/20210924_171938.jpg" />
         <pubDate>2021-09-24 10:31:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1765353663</guid>
      </item>
      <item>
         <title>( WR 2 ) Michelle Reika 13122010045</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767012736</link>
         <description><![CDATA[<div>Di zaman sekarang banyak wanita maupun pria yang mementingkan penampilannya khususnya wajah. Karena hal pertama yang dilihat pada saat bertemu dengan orang lain adalah wajah. Skincare adalah salah satu cara untuk membantu wajah agar lebih sehat. Laneige, Brand asal korea yang sudah sangat terkenal dimana-mana. Banyak influencer-influencer yang memakai produk teesebut dan tak jarang komentar dari influencer-influencer tersebut sangatlah positif. Ada juga teman saya yang memakai produk tersebut dan membuahkan hasil yang memuaskan. Hal tersebut mendorong keinginan saya untuk membeli produk tersebut, Akan tetapi saya takut untuk membelinya karena saya tidak tau apakah itu cocok untuk kulit wajah saya dan juga harganya yang tergolong tidak murah. Maka dari itu, saya pun bertanya-bertanya kepada teman-teman saya yang memakai produk tersebut seperti apakah ada efek sampingnya dll. Selain bertanya kepada teman tentu saja saya juga mencari review-review tentang brand tersebut melalui youtube. Dan saya pun membulatkan nekat saya untuk membeli produk tersebut dan hingga saat ini saya pun sudah membeli 4x produk tersebut karena benar apa kata orang-orang dan juga reviewer di youtube. Saya merasa bahwa saya sudah menjalankan <strong>Loyalty loops </strong>karena saya dalam memilih dan juga membeli suatu produk.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1362447594/0d96f1e712c0ce01fd140edc84619d84/image.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 06:31:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767012736</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jessica Thalia - 13122010040</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767018640</link>
         <description><![CDATA[<div>Di kelas Consumer Journey week 2, saya belajar mengenai Brand Consistency hingga Loyalty Loop. Dalam proses Loyalty Loop, konsumen akan melihat apakah produk/jasa tersebut dibutuhkannya (Consider) lalu mencari informasi lebih banyak (Evaluate) sebelum akhirnya membelinya. Setelah konsumen Enjoy menggunakan produk/jasa tersebut, timbullah Bond antara konsumen dan brand sehingga konsumen akan mengajak orang lain (Advocate) dan menjadi “langganan”. Dapat dikatakan kalo Loyalty Loop merupakan proses dimana konsumen menentukan apa yang dibeli dan kemudian menjadi loyal customer.&nbsp;</div><div><br><br></div><div>Saya menyadari bahwa saya sendiri terjebak dalam Loyalty Loop pada produk athleisure yaitu Alo Yoga. Pada awal saya mulai hidup sehat dan berolahraga, saya tidak terlalu memperhatikan brand dan kualitas baju olahraga tetapi seiring berjalannya waktu, saya merasa kok baju olahraga saya kurang nyaman dan kurang menyerap keringat. Lalu saya mulai mencari-cari brand baju olahraga yang nyaman dan ketemu dengan Alo Yoga. Sebelum membeli brand tersebut saya juga mencari tahu terlebih dahulu apakah brand Alo Yoga bagus atau tidak. Terus saya melihat kalo banyak juga selebriti yang menggunakannya dan review dari Youtube juga bagus-bagus. Akhirnya saya juga coba membelinya dan memang bajunya tidak mengecewakan. Produk dari Alo Yoga terbukti sangat bagus, nyaman dipakai saat berolahraga dan baju-baju dari Alo Yoga juga bukan cuma untuk olahraga tapi bisa juga untuk casual wear. Bahan Alo Yoga juga menyerap keringat dan tebal sehingga tidak transparan. Sejak itu, saya selalu membeli perlengkapan olahraga dari Alo Yoga, mulai dari yoga mat, topi, leggings, baju, dll. Yang membuat saya terus mendukung dan membeli dari Alo Yoga adalah kualitas barangnya yang sangat bagus dan juga menawarkan berbagai pilihan produk dan warna jadi sangat lengkap. Alo Yoga menjadi top of mind saya ketika membeli athleisure dan saya tidak pernah membeli produk athleisure lain selain Alo Yoga.&nbsp;</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344346651/26b3f15337cd10ac2aba2ce13c6c4cb2/unnamed.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 06:41:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767018640</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Azzara Fitria Kusumawardhanie - 13122010110 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767113397</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas Consumer Journey week 2, banyak hal baru yang telah saya dapatkan salah satunya adalah loyalty loop. Loyalty Loop merupakan proses seseorang untuk membeli suatu barang yang melewati berbagai proses sebelum membeli produk dan loyal dengan produk yang dibeli, kemudian sampai ditahap dapat membeli produk tersebut berulang kali.&nbsp;<br><br>Tahap pertama diawali dengan konsumen memutuskan untuk membeli produk yang dipilih, dengan cara mempertimbangkan dahulu kegunaan dan kebutuhan produk yang akan dipilih. Setelah membeli produk tersebut konsumen akan berada di tahap enjoy atau menikmati produk tersebut. Kemudian setelah tahap enjoy konsumen akan menikmati hasilnya dan memberitahukan orang terdekatnya tentang produk yang sudah dipakai atau biasa disebut me-review tahap ini dinamakan advocate.&nbsp; Kemudian konsumen akan melewati tahap bond yaitu tahap dimana konsumen sudah nyaman dengan produk yang dipakai bisa karena produk itu berpengaruh baik untuk konsumen dan banyak faktor lainnya. Namun, kebanyakan konsumen jika sudah melewati tahap bond sudah tidak melewati tahap consider and evaluate karena sudah percaya dengan produk yang sudah dibeli.<br><br>Saya akan menceritakan pengalaman saya ketika menggunakan rangkaian produk skincare dari somethinc. Beberapa bulan belakangan ini saya mencoba produk skincare dari somethinc. Kenapa saya bisa membeli rangkaian skincare dari somethinc? Karena kakak saya yang merekomendasi saya tentang produk skincare ini, dan saya juga melihat perkembangan wajah kakak saya sebelum dan setelah menggunukan produk skincare dari somethinc. Jadi saya mencoba rangkaian ini yaitu, Toner dan Serum dari somethinc. Dan sebelum saya menggunakan produk ini kondisi wajah saya sangat tidak baik, banyak jerawat, bruntusan, kemudian wajah saya kusam, dan bertekstur, namun setelah 3 bulan saya rutin menggunakan rangkaian ini, wajah saya langsung berubah menjadi lebih baik. Yang tadinya kulit saya kusam, sudah lebih cerah, sudah tidak bruntusan dan jerawat tidak separah sebelum saya menggunakan produk skincare dari somethinc ini. Karena produk ini sudah membuat kondisi kulit saya lebih baik, jadi saya akan repurchase produk ini kembali, saya juga merekomendasikan produk ini ke teman-teman saya, karena memang sudah terbukti bagus di wajah saya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1359130178/a5b410f9ea9f37fcf9e6ddfde6d7de18/5AD0FD0B_4D0E_470D_86C9_6A9DA7091A3A.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-25 08:59:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767113397</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vincent Jonny Handoyo - 13122010134</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767141261</link>
         <description><![CDATA[<div>Materi minggu kedua dari matkul Consumer Insight adalah Loyalty Loop. Loyalty Loop menggambarkan bagaimana seorang konsumen memutuskan barang apa yang ingin dibeli dan hal apa yang akan dilakukan setelah membeli barang tersebut. Loyalty Loop akan dianggap berhasil oleh suatu brand jika konsumen membeli kembali barang lain dalam satu brand tersebut.&nbsp;<br><br></div><div>Ada pengalaman menarik yang pernah terjadi pada awal tahun 2021 dimana saya ingin mengganti hp Samsung saya. Saat itu saya disarankan oleh cece saya untuk mengganti brand dari Samsung menjadi Apple. Saat itu saya memang yakin ingin mengganti hp saya menjadi ios karena saya belum pernah coba menggunakan ios. Awalnya saya kira saya sudah lepas dari loyalty loop dari Samsung. Tetapi, loyalty loop dari brand Samsung sangat melekat kepada saya. Saya tidak jadi menggunakan hp Apple karena beberapa alasan yaitu saya belum siap pindah ke ios karena sudah terbisasa menggunakan android, saya juga belum mengerti cara memindahkan data-data dari hp Samsung ke apple. Selain itu, saya juga mempertimbangkan harga dari hp yang ingin dibeli. Menurut saya hp Samsung lebih worth it daripada apple karena spesifikasi yang diberikan oleh Samsung cukup tinggi dan bisa dibilang lebih murah dari pada apple.<br><br></div><div>Saya baru menyadari saya terjebak dalam loyalty loop setelah saya mengikuti kelas consumer journey minggu ke-2. Menurut saya, brand Samsung telah berhasil membuat saya terjebak di loyalty loopnya karena sampai sekarang, saya tidak berniat sama sekali untuk mengubah android menjadi ios. Bahkan saya juga merekomendasikan atau melakukan Advocate kepada teman-teman saya untuk menggunakan produk Samsung. Dengan design yang bagus, spesifikasi yang tinggi, dan juga harga yang terjangkau Samsung bisa menjadi pilihan bagi orang-orang yang mempertimbangkan harga dan kualitas. Ternyata tanpa kita sadari, saat kita berada di loyalty loop dari suatu brand, brand tersebut mendapatkan marketing gratis dari para penggunanya. Karena itu penting bagi suatu brand memberikan kualitas terbaik mereka agar tercipa loyalty loop pada konsumen.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1064707376/8dc74678cd6743f40f47d481e86777eb/20210925_144114.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 09:37:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767141261</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Madelaine Karina Chandra - 13122010061</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767337101</link>
         <description><![CDATA[<div>pada week kedua consumer journey, kami mempelajari materi baru yaitu Loyalty Loop, dimana konsumen selalu berulang kali membeli kembali barang/jasa yang telah ditawarkan. Dalam artian bahwa konsumen sudah berlangganan dengan brand tersebut dan dianggap "Loyal" dan tidak akan beralih ke brand pesaing. Saya, sebagai konsumen tentunya memiliki brand-brand andalan saya yang saya selalu melakukan repurchase, namun dalam tugas ini saya memilih Shopee sebagai brand andalan saya. Sebagai buyer dan juga sebagai seller, saya lebih memilih untuk menggunakan Shopee sebagai e-commerce pilihan. Meski menurut saya UI yang ditawarkan shopee masih kalah jauh dibanding kompetitornya Tokopedia, saya merasa bahwa lebih mudah untuk mencari barang yang ingin dibeli dan juga menjual barang yang ingin dijual melalui Shopee. Mungkin faktor marketplace juga, dimana memang pasar saya lebih ramai di Shopee dibandingkan Tokopedia, tetapi selain itu salah satu faktor terbesar saya memilih berjual-beli di shopee adalah minimnya biaya admin, dimana waktu awal saya memilih untuk berjualan saya menggunakan Tokopedia dan saya merasa cukup dirugikan dengan biaya admin sebesar 10k/item sementara di Shopee biaya adminnya hanyalah 0 rupiah . Satu faktor unggul shopee lainnya adalah fitur splitpayment (melalui shopee pay) dan shopeepaylater yang bisa digunakan untuk melakukan cicilan dengan cara aman. Oleh sebab itu saya merasa memiliki loyalty loop dalam menggunakan e-commerce shopee baik sebagai buyer maupun seller. Dan akan terus menggunakan shopee untuk bertransaksi meski Shopee masih banyak sekali kekurangannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344335272/e152d1f6fa9b063f9bc8b60173ca0a4f/574088.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 13:30:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767337101</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hector Leonardi 13122010137</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767349820</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada pertemuan Consumer Journey meeting ke 2, saya mempelajari banyak sekali hal-hal baru. Saya mempelajari bahwa sebagai seorang marketer, kita harus mengetahui betul mengenai Consumer Journey. Consumer Journey merupakan proses dimana konsumen mulai mengenal brand tersebut (Awareness) lalu mempelajari lebih jauh tentang brand&nbsp; (Considerate) dan mengevaluasi dan membandingan dengan competitor (Evaluate) Sampai akhirnya konsumen melakukan purchase (Conversion/buy). Tidak berhenti sampai disana setelah konsumen melakukan purchase selanjutnnya konsumen dapat menjadi kecewa dan akhirnya tidak membeli lagi (Churn Customer) atau konsumen menikmati produk &amp; jasa yang ia beli dan merekomendasi ke teman-temannya hal ini juga dinamakan sebagai Advocate dan Bond ketika konsumen sudah melakukan pembelian ulang (Retention). Sebagai seorang marketer, hal yang menjadi fokus tujuaan adalah bagaimana konsumen dapat memasuki dalam Loyalty Loop dimana konsumen melewati tahap considerate &amp; evalute dan langsung pada retention.</div><div><br></div><div>Hal ini juga saya rasakan pada kehiduapan sehari hari saya. Sebagai contoh, saya sempat memasuki pada tahap Loyalty Loop dimana saya merupakan die hard fans dari adidas ketika berhubungan dengan sepatu lari. Saya mulai mengenal brand Adidas (awareness) dari banyak sekali platform dan channel seperti youtube, tv dan social media. Ketika itu saya sempat membanding bandingkan brand ketika ingin membeli sebuah sepatu lari. Pada saat itu saya membandingkan dengan puma dan juga Nike. Saya memilih untuk Adidas karena unique selling proposition (diferiensasi) dari sepatu lari Adidas sangat cocok dengan value yang saya cari ketika memilih untuk membeli sepatu lari (Ultraboost). Diferensiasi sepatu Adidas khususnya Ultraboost adalah karena sepatu adidas dikenal mempunyai kredibilitas dengan sepatu yang ringan dan juga convinient. Selain itu bahan dasar dari adidas ultraboost adalah bahan cotton dimana bahan itu merupakan bahan yang ringan dan juga nyaman. Untuk advertising adidas menurut saya sudah sangat tertarget dan juga personalized. Sedikit cerita, saya sempat mengunjungi website adidas untuk mencari lebih dalam mengenai produk sepatu Ultraboost namun pada hari itu saya memutuskan untuk tidak membeli karena ingin membanding-bandingkan terhadap brand lain. Namun menariknya semenjak hari itu, iklan adidas berupa display ads selalu mengikuti saya ketika saya berkunjung dalam beberapa blog ataupun artikel pada sebuah website. Hal ini membuat saya semakin ingat terhadap brand adidas dan memperbanyak touchpoint. Selain itu saya sempat mendapatkan banyak sekali voucher &amp; promotion dari email yang dikirimkan oleh adidas, hal ini membuat saya menimbulkan sense of urgency dan ketertarikan. Terakhir hal yang membuat saya membeli produk Ultraboost adalah ketika saya sedang pergi dalam sebuah mall dimana dalam mall tersebut terdapat toko adidas (Place) dan akhirnnya saya membeli produk tersebut. Menurut saya placement dari adidas sudah konsisten dimana menargetkan pada segmentasi masyarakat menengah keatas.&nbsp; Terakhir hal yang membuat saya melakukan retensi (Beli ulang) adalah Manifestasi strategi antara STDP dan 4 P yang konsisten dan unique selling propostiion yang cocok dengan value yang cari. Selain itu dari Customer Relation Management yaitu email marketing yang mebuat saya menimbulkan sense of urgency dari promo-promo yang ditawarkan sehingga melakukan retensi.&nbsp; &nbsp;&nbsp;</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344366069/79037a1a321891680aac264f6a5a579c/Adidas.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 13:42:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767349820</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tamara Rosa - 13122010079</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767468604</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada minggu kedua kelas Consumer Journey, saya belajar beberapa pembelajaran baru yang berkaitan dengan topik <em>Brand Consistency </em>dan <em>Loyalty Loop </em>pada konsumen dengan tujuan mendorong konsumen untuk melakukan pembelian ulang terhadap suatu merek sehingga konsumen dapat menjadi pelanggan setia terhadap produk dari merek tertentu.&nbsp;</div><div><br></div><div>Secara garis besar, <em>Loyalty Loop </em>membahas suatu konsep yang menggambarkan alur pemikiran konsumen dan <em>potential customer</em> dalam memilih suatu merek dan memutuskan untuk tetap setia terhadap merek tersebut. Terdapat empat tahapan yang dilalui konsumen; <em>enjoy, advocate, bond, consider and evaluate. </em>Konsep ini sangat penting untuk mengevaluasi tingkat kepuasan konsumen terhadap suatu produk dari merek tertentu menurut keputusan mereka dalam mengkonsumsi merek yang sama berulang - ulang kali.</div><div><br></div><div>Setelah membahas mengenai konsep ini, saya pun menyadari bahwa saya sendiri terjebak dalam <em>Loyalty Loop</em> hingga saat ini.&nbsp;</div><div><br></div><div>Saya terjebak dalam <em>Loyalty Loop </em>untuk produk tabir surya; LANEIGE AIR LIGHT SUN STICK. Saya sudah menggunakan produk ini sejak SMA dan tidak pernah berganti ke merek <em>sunscreen </em>lain. Sejak SMA, saya sudah mulai terobsesi dengan skincare. Karena saya juga memiliki banyak hobi <em>outdoors, </em>saya pun sangat sering diingatkan untuk terus menggunakan sunscreen. Saya pun awalnya membeli sunscreen merek lain. Namun, setelah beberapa kali pemakaian, saya merasa kandungannya membuat muka saya jerawatan dan rasanya yang lengket saat digunakan membuat tidak nyaman, apalagi belum terbiasa menggunakan sunscreen.&nbsp;</div><div><br></div><div>Akhirnya saya pun sempat melihat review mengenai produk sun stick Laneige dan mencobanya. Hingga sekarang, saya masih terus menggunakan produk yang sama karena kandungannya sangat cocok dengan tipe kulit dan memenuhi kriteria yang saya cari dari produk sunscreen; ringan, mudah diaplikasi, tidak ada bekas putih - putih, tidak lengket, dan tidak membuat saya jerawatan.</div><div><br></div><div>Berkat <em>Brand Consistency </em>yang dimiliki oleh Laneige dalam memproduksi sunscreen yang memenuhi kebutuhan kulit, saya pun akhirnya terjebak di dalam <em>Loyalty Loop</em>. Lantas, saya menyimpulkan bahwa <em>brand consistency </em>merupakan hal yang sangat penting dalam menjebak konsumen kedalam <em>Loyalty Loop.</em></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1103384215/42c0ae89f0675ce6c25111a444bb8290/S__42827847.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 15:21:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767468604</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Christofer Brandon Tandani_13122010100</title>
         <author>christoferbrandon13</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767493032</link>
         <description><![CDATA[<div>Di week ke-2 COnsumer Journey kemarin, Pak Yudo membawakan materi tentang <em>Loyality Loop</em>. <em>Loyality Loop </em>ini berbicara tetang kesetiaan konsumen terhadap suatu brand, setelah mereka melewati proses-proses seperti, pengenalan dengan brand tersebut kemudian mereka mencari tahu info-info tentang brand tersebut sampai mereka memilih untuk membeli brand tersebut, setelah dia membeli brand tersebut dia akan mereview barang tersebut dan dia tentukan apakah barang tersebut sesuai dengan ekspetasinya atau tidak. Jika ekspetasi si konsumen terpenuhi dan dia puas, dai akan memutuskan untuk membelinya lagi dan disana terjadi <em>Loyality Loop.</em><br><br>Saya ingin menceritakan tentang salah satu pengalaman saya yang melewati proses-proses tadi sebelum menjadi seorang konsumen yang setia dengan raket badminton produksi dari Toalson. Jadi disaat itu, saya tertarik untuk bermain badminton dikarenakan adanya pandemi ini yang membuat saya tidak bisa melakukan olahraga yang terlalu melakukan kontak dengan orang lain, jadi saya memilih badminton. Sebelum nya saya menggunakan raket yang sudah lama saya miliki yang merk nya pun tidak jelas, setelah saya bermain mulai serius selama beberapa bulan, saya merasakan bahwa raket-raket milik teman saya jauh lebih enak dari yang saya miliki. Setelah saya menyadari itu, saya pun berfikir untuk membeli raket badminton baru. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari info-info di internet mengenai raket-raket tersebut dan mencoba beberapa tipe raket yang teman saya miliki, disini saya baru sadar bahwa, saya sedang masuk kedalam fase&nbsp;<em>consider and evaluate</em> yang akan mengantarkan saya ke tahapan selanjutnya, yaitu keputusan untuk membeli. Setelah melewati tahap&nbsp;<em>consider and evaluate&nbsp;</em>saya memutuskan untuk membeli raket badminton merk Toalson tipe TI Max Power Axe karena tipe dan merk tersebutlah yang paling cocok dengan gaya permainan saya dan pas dengan budget yang saya siapkan. Setelah beberapa bulan pemakaian, saya sangat puas dengan pembelian saya dan jika ada teman saya menanyakan tentang raket badminton, saya selalu menyuruh mereka untuk mencoba raket yang saya miliki. Sekarang saya berencana membeli raket yang memiliki tipe yang kurang lebih sama dengan raket saya saat ini dan merk Toalson menjadi pilihan pertama karena saya merasa sangat cocok dengan produk tersebut atau bisa di bilang dengan&nbsp;<em>bond.&nbsp;<br><br></em>Setelah melewati week-2 ini saya menyadari bahwa saya melewati&nbsp;<em>Loyality Loop&nbsp;</em>yang ada di materi perkuliahan kemarin. Saya menyadarinya sendiri bahwa saat kita sudah masuk ke fase&nbsp;<em>bond&nbsp;</em>kita tidak perlu melewati fase&nbsp;<em>consider and evaluating&nbsp;</em>lagi.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344349098/1dbedf88da759bd4fffc849ccd5277b5/20210925_213022__2_.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 15:45:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767493032</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Angelina Stefany Kurniawan - 13122010087</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767504710</link>
         <description><![CDATA[<div>Ada kebiasaan menarik saya dalam berbelanja yang bisa dikaitkan dengan materi Consumer Journey pertemuan ke 2. Dalam satu tahun belakangan, produk yang paling sering saya beli adalah produk-produk skincare. Dari berbagai produk yang ada saya paling sering membeli serum. Serum belum tentu cocok digunakan setiap orang. Sebagai contoh serum merk A bisa saja berfungsi dengan baik di kulit orang lain namun membuat kulit saya berjerawat. Oleh karena itu, para pengguna atau konsumen dari skincare biasanya tidak hanya memperhatikan review atau ulasan dari orang yang sudah menggunakannya namun juga harus melihat dari experience penggunaan secara langsung.&nbsp;<br><br>Masuk ke dalam pembahasan produk yang saya beli, produk ini terkenal dengan brandingnya sebagai produk skincare yang gentle dan cocok untuk kulit sensitif. Produk ini bernama Madagascar Centella Ampoule dari SKIN1004 yang memang memiliki target pasar konsumen menengah ke atas yang berkulit sensitif dan memiliki market share yang cukup besar. Di mata konsumen brand ini telah memiliki image yang sangat positif ditambah dengan ulasan-ulasan dari influencer di youtube maupun instagram yang selalu memberikan respon yang baik.&nbsp;<br><br>Setelah membahas bahwa experience secara langsung sangat penting untuk produk skincare dan bahwa brand image dari SKIN1004 Madagascar Centella Ampoule juga sangat positif di kalangan pecinta skincare, maka saya akan mengaitkan kebiasaan saya dalam membeli produk ini secara berulang dengan Loyalty Loop. Berdasarkan pengalaman, awalnya saya mencari produk yang bisa mengurangi masalah pada kulit dan menemukan beberapa opsi produk. Fase ini sesuai dengan konsep "Consider". Setelah itu dari semua opsi yang ada, saya berusaha melihat reviewnya dari website, youtube, shopee, dan lain-lain. Saya mencari produk yang sesuai dengan preferensi dan paling sedikit review negatifnya. Tahap ini bisa dikaitkan dengan "Evaluate". Tahap selanjutnya adalah "Buy". Setelah menemukan review-review produk SKIN1004 Madagascar Centella Ampoule saya memutuskan membelinya karena mendapatkan respon sangat positif dari konsumen. Walaupun tergolong mahal tapi saya tetap membelinya karena lebih baik mahal dan bekerja dengan baik dari pada murah namun tidak berfungsi apa-apa atau malah merusak kulit. Setelah menggunakan produk tersebut saya benar-benar mendapatkan experience yang positif dan merasakan sendiri dampak dari produk yang berarti ini adalah tahap/fase "Enjoy". Karena produk ini bekerja dengan baik, sata juga sering merekomendasikannya ke teman-teman yang juga suka memakai skincare dan ternyata mereka juga mengetahui bahwa produk ini terkenal bagus (bisa dikaitkan dengan Advocate).&nbsp; Hal yang menurut saya bisa dikaitkan dengan point terakhir yaitu Bond adalah saya suka mencoba produk-produk skincare baru lainnya, namun produk ini akan selalu ada di skincare routine saya atau menjadi "go to skincare" saya saat tidak cocok dengan skin care lain yang sedang dicoba.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1343539134/53b40fa769779bd4e333a10d1e11f4b6/629234.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 15:55:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767504710</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marco Darmawan 13122010170</title>
         <author>marcomc380</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767545929</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada Week ke 2 Consumer Journey saya mempelajari mengenai Loyalty loop itu adalah situasi dimana konsumen sudah nyaman dengan produk yang perndah digunakanya sehingga konsumen ingin menggunakanya terus menerus. Barang yang saya pilih adalah parfum.Sebelum Menggunakan produk ini saya sudah mencari tau seperti apa produk ini dan saya merasa ketika saya menggunakanya saya cocok dengan produk ini .Kemudian setelah saya mencari cai kelebihan dari produk parfum yang saya gunakan , menonton banyak reviewer yang mengatakan bahwa parfum ini bisa bertahan hingga 8-10 jam bahkan masih wangi dari parfum ini akan tetap awet meskipun sudah digunakan untuk jalan jalan setelah membaca hal itu saya pun memutuskan untuk mencoba produk tersebut dan setelah saya gunakan saya merasa cocok dan sudah re purchase ke 2 x .<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344343484/fb6492b5a95916c1289dffa4d2c614f7/56300.jpg" />
         <pubDate>2021-09-25 16:34:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767545929</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cittadevi hartaty s - 13122010205</title>
         <author>cittadevihs</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767690240</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kelas consumer journey minggu lalu saya mempelajari banyak hal baru yang menarik, salah satunya adalah loyalty loop. Loyalty loop adalah sifat loyal atau setia konsumen terhadap suatu brand, dimana konsumen telah merasa nyaman dengan brand tersebut dan terus menerus membelinya kembali. Di dalam proses loyalty loop terdapat beberapa tahapan, dimulai dengan konsumen yang mempertimbangkan dan mencari tahu keunggulan dan kegunaan dari suatu produk, lalu konsumen memutuskan untuk membeli produknya dan mencobanya. Setelah itu, konsumen masuk ketahap enjoy dimana consumen sudah dapat merasakan manfaat dari produk tersebut dan konsumen mulai menceritakan dan merekomendasikan produk tersebut kepada orang orang di sekitarnya yang merupakan tahapan advocate. Setelah itu konsumen mulai merasakan bond dengan produknya, dimana konsumen sudah merasa nyaman dengan produk tersebut. Setelah melewati tahapan tersebut, ketika konsumen melakukan pembelian ulang, biasanya konsumen akan melewati tahapan consider dan evaluate karena mereka sudah merasa percaya terhadap produk tersebut.&nbsp;</div><div><br></div><div>Setelah mempelajari hal tersebut, saya menyadari bahwa saya telah terjebak didalam loyalty loop kepada produk facial wash Kiehls calendula deep cleansing. Dari seluruh rangkaian skin care kiehls, calendula merupakan salah satu produk best seller mereka dengan claim cocok untuk digunakan pada kulit sensitif, dapat mengurang kemerahan dan jerawat pada muka. Awalnya saya mengetahui produk facial wash ini melalui sebuah iklan di social media, lalu saya mencoba mencari tahu mengenai produk tersebut dengan melihat review orang orang, menonton youtube dan membaca artikel mengenai produk tersebut. Kebanyakan dari review review yang ada mengatakan hal yang positif mengenai produk tersebut, sehingga saya memutuskan untuk membelinya. Setelah pemakaian 1 bulan, sesuai claim dari produk tersebut, saya dapat merasakan kulit saya jauh lebih membaik dari sebelumnya, dimana kemerahan dan jerawat di muka saya menjadi lebih mereda. Setelah menghabiskan botol pertama, saya langsung membeli botol selajutnya dan terus melakukan repeat order sampai dengan sekarang. Walaupun ada banyak facial wash yang bagus diluaran, saya sudah merasa cocok dengan facial wash dari kiehls ini, sehingga tidak membuat saya ingin mencoba facial wash yang lain. Selain itu, Jika saya melihat teman ataupun saudara yang memiliki masalah kulit wajah yang sama dengan saya, saya pasti akan memberikan rekomendasi kepada mereka untuk mencoba facial wash calendula dari Kiehls. Karena kualitas bagus yang di berikan oleh facial wash dari kiehls, membuat saya menjadi terus menerus menggunakan produk tersebut dan tidak berpaling ke produk yang lain.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1080604600/16f0ebe1c5f7408fa801698697da6147/IMG_0483.JPG" />
         <pubDate>2021-09-25 19:07:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767690240</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Shany Poernama - 13122010130</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767996992</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada pertemuan kedua kelas consumer journey bersama Pak Yudo, kami membahas mengenai Loyalty Loop. singkatnya Loyalty Loop adalah konsep layanan pelanggan yang menggambarkan bagaimana pelanggan memilih apa yang ingin mereka beli dan kemudian kembali ke perusahaan itu di masa depan. Dengan ini saya sadar bahwa selama ini saya termasuk ke Loyalty Loop terhadap brand Nivea ini. Kenapa? karena singkat cerita saya memiliki kulit yang cukup kering oleh karena itu saya harus memilih lotion yang tepat untuk dapat memenuhi kebutuhan kulit saya. Sebelum saya mencoba lotion Nivea saya mencoba lotion brand lain yang termasuk menurut saya cukup sulit ditemukan di Jakarta pada saat itu dan untuk harga juga lumayan mahal. Yang berakhir membuat saya mau tidak mau mencari brand alternatif lain, lalu ibu saya merekomendasikan lotion Nivea namun pada saat itu saya mencoba varian yang lainnya, dan menurut saya dari awetnya harus dari lotion ini cukup worth to buy banget. Lalu saya mencoba lotion Nivea yang varian foto diatas dari pertama kali pemakaian saya sudah bisa merasakan perubahan yang cukup signiffikan pada kulit saya. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk bertahan menggunakan lotion Nivea tersebut sejak SD hinga sekarang saya masih menggunakan lotion Nivea tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344348083/9735d2d70cf905d02f1c06df9864c980/S__1785859.jpg" />
         <pubDate>2021-09-26 02:49:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1767996992</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>delbertdjie1706</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1768033992</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada pertemuan kedua pada perkuliahan Consumer Journey saya belajar tentang Mckensey Loyalty Loop.<br>Loyalty Loop saya artikan konsep layanan pelanggan yang menggambarkan bagaimana konsumen memutuskan apa yang mereka beli, dan kemudian terus melakukan pembelian dari perusahaan/produk tertentu lagi di masa depan. Model tersebut mengakui bahwa, dalam kehidupan nyata, begitu orang melakukan pembelian, mereka memberi tahu orang lain apa yang mereka pikirkan tentang produk tersebut, tetapi terus-menerus mengevaluasi kembali apakah mereka harus tetap berpegang pada merek itu.<br><br>Dan loyalty loop itu terjadi pada diri saya pada saat ingin membeli sepatu bola. Dalam pemikiran saya merek nike adalah barang yan g cocok untuk saya dimana saat saya bermain bola dgn tmn2 saya menyarankan mereka membeli merek dan tipe yang sama untuk mendapatkan kualitas yang baik sehingga performa bermain meningkat.<br>Setelah itu, saya mencoba merek lain namun tetap untuk yang cocok dengan kaki saya adalah nike. Hal itu membuat saya terus membeli dan menggunakan produk sepatu bola Nike</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344319242/e5af16fa2eae374bf11ba6d1226fecbe/jasdjasd.jpg" />
         <pubDate>2021-09-26 03:44:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1768033992</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vincent Christianto 13122010152</title>
         <author>vincentchrr</author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1768655679</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada pertemuan kedua Consumer Journey, saya belajar mengenai loyalty loop. Saya mempelajari jika konsumen ketika memiliki trust dan loyalty terhadap suatu produk, maka konsumen tanpa pikir panjang akan membeli produk terbaru dari brand tersebut.<br><br>Hal tersebut saya rasakan, ketika saya ingin membeli sepatu sepeda merk SHIMANO, saya pernah membeli sepatu shimano dengan tipe RC-07. Saya merasakan nyaman ketika bersepeda dan awet. seri tertinggi pada Shimano adalah tipe RC-09. Ketika Shimano merilis tipe RC-09 tahun 2021, saya secara otomotasis langsung membeli tanpa membandingkan dengan brand kompetitor lain.  Saya juga membeli RC-09 karena dipakai oleh beberap atlet pro international, sehingga untuk kualitas dan teknologi tidak perlu diragukan kembali. Ketika saya mencoba saya merasakan semua inovasi dari teknologinya benar-benar membuat saya nyaman, saya rasa ketika shimano meriilis varian sepatu dengan tipe high ednnya, saya akan membeli lagi dan bahkan merekomendasikannya kepada teman-teman saya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1344349480/ecccabc2a9987aed505092051f36f0a4/Screen_Shot_2021_09_26_at_20_44_31.png" />
         <pubDate>2021-09-26 14:06:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1768655679</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Shanon Chu - 13122010136</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1769188282</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada sesi pelajaran Consumer Journey kedua&nbsp; minggu ini, saya belajar banyak tentang tahap yang dilewati seorang konsumen ketika membeli produk/jasa. Salah satu tolak ukurnya merupakan "loyalty loop" yang menggambarkan proses konsumen dari tahap "consider", melakukan research dan cari review orang lain, ke tahap "evaluate" dimana konsumen mengevaluasi data dari research sebelumnya sebelum memutuskan untuk membeli, kemudian tahap membeli dan apabila barang/ jasa sesuai atau melebihi ekspektasi konsumen, maka ia akan ke tahap "enjoy" karena puas dengan barang/jasa yang dibeli. Apabila konsumen puas, maka ia akan lanjut ke tahap "advocate", dimana konsumen akan merekomendasikan produk kita ke orang lain dan menjadi advokasi produk brand kita secara gratis. Hal ini lah yang kita inginkan karena apabila konsumen sudah sampai tahap ini, ia akan memiliki "bond" atau hubungan dengan brand kita dimana ia akan menjadi customer loyal dan percaya dengan brand dan produk kita, dan melakukan re-purchase.<br><br>Tanpa saya sadari, ternyata saya sudah masuk dalam loyalty loop salah satu produk makanan penutup youghurt YOFORIA yang sempat viral pada Tiktok tahun lalu. Pada awalnya, saya tidak terlalu suka makanan youghurt kemasan di supermarket karena menurut saya rasanya terlalu tawar dan tidak fresh seperti frozen youghurt retail yang langsung dimakan. Namun pada masa itu, promosi marketing YOFORIA sedang marak-maraknya, dengan mengirimkan berbagai Tiktoker, yang beberapa adalah teman-teman saya sendiri, berbagai macam varian rasa youghurt untuk di review. Dengan berbagai review di Tiktok yang mengatakan YOFORIA sangat enak, saya mulai merasa penasaran dan tertarik. Oleh karena promosi yang besar-beasaran di sosial media, brand awareness saya akan merek youghurt baru YOFORIA sudah tertanam di otak saya, sehingga ketika saya berkunjung ke supermarket dan melihat produk YOFORIA, saya merasa penasaran untuk mencoba dan memutuskan untuk membeli. Setelah saya coba, saya sangat menyukai rasanya yang tidak seperti youghurt kemasan pada umumnya dengan toppingnya&nbsp; yang renyah sehingga semakin enak dan&nbsp; tidak tawar. Setelah puas dengan youghurt YOFORIA, saya mulai merekomendasikan produk YOFORIA ke teman-teman saya ketika sedang dalam topik perbincangan. Kemudian ketika pergi ke supermarket lagi, kini saya membeli lebih banyak produk YOFORIA karena ingin mencoba rasa topping-topping yang lain. Hal ini pun berlanjut secara terus menerus. <br><br>Namun, produk yang bagus saja tidak cukup untuk menghasilkan loyalty loop konsumen. Faktor-faktor lain seperti ke-4 P dalam marketing mix yang juga dibahas Pak Yudo,&nbsp; yakni Product, Price, Promotion, Place, dimana menurut Pak Yudo, merupakan hal-hal paling penting untuk diperhatikan agar memiliki value yang sejalan supaya bisnis dapat laku. <br><br>Harga YOFORIA yang tidak mahal juga menjadi faktor besar dalam ketertarikan daya dan keputusan saya untuk akhirnya mencoba merek youghurt baru yang tidak biasanya saya beli. Karena harganya hanya sekitar 12 ribu rupiah saja, juga sesuai dengan budget target marketnya yaitu anak muda yang masih sekolah/ kuliah. Hal ini juga memudahkan tahap <em>consider</em> dan <em>evaluating </em>konsumen untuk memutuskan membeli.<br><br>Kemudian, Promotion yang dilakukan YOFORIA juga tepat sasaran, menggunakan platform Tiktok saat sedang banyak-banyak nya pengguna dalam kala pandemi, dengan target market anak muda yang menggunakan Tiktok, menjadi outlet yang tepat untuk reach banyak dari calon konsumennya. <br>Tambah lagi, saat saya ke supermarket kedua kalinya YOFORIA terdapat produk yang bundling 3 rasa/ Beli 2 Gratis 1 sehingga lebih murah dan menarik saya untuk membeli lebi banyak untuk stock di rumah. <br><br>Place atau tempat yang menyediakan produk YOFORIA juga cukup mudah diraih dan <em>accessible</em>, terdapat di berbagai supermarket besar, maupun mini market. Dengan hal ini, YOFORIA dapat memaksimalkan Online to Offline nya. <em>Brand awareness</em> yang sudah dikembangkannya secara online, dapat diteruskan ke pembelian offline karena produknya yang accessible dan tersedia dimana-mana, memudahkan dan menarik konsumen baru, maupun lama untuk membeli.<br><br>Maka secara keseluruhan dapat saya konklusikan bahwa "loyalty loop" pada sebuah brand dihasilkan oleh Brand Value yang ditawarkan produsen melalui Produk yang memuaskan (Providing the Value), harga yang sesuai, Promosi yang tepat (Communicating the Value), dan tempat/ Place yang sesuai dan mudah di jangkau konsumen. <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1369742771/9385c1804e0be3f64c5f65fd7ae19429/IMG_2414_Original.PNG" />
         <pubDate>2021-09-26 20:23:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1769188282</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Amanda Elissa-13122010146</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1769674705</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam sesi kedua Consumer Journey saya belajar mengenai banyak hal dan yang paling dapat saya terapkan di kehidupan saya sehari-hari adalah mengenai loyalty loop. <br>Sebagai manusia terutama wanita, pasti sangat ingin memiliki wajah yang mulus dan cerah tanpa masalah. Tetapi untuk mencapai kulit seperti itu dibutuhkan usaha untuk mencari skincare yang cocok di kulit kita dan sesuai dengan kebutuhan kulitnya. Dalam pembelian skincare ini saya menerapkan loyalty loop dimana pada tahap pertama saya mencari tau mengenai produk skin angel ini di internet, youtube vlogger bahkan bertanya kepada teman-teman yang memakainya yang dinamakan tahap <strong>consider</strong>. Lalu tahap kedua saya melakukan tahap <strong>evaluate</strong> yang artinya saya mengkaji, mengevaluasi data-data atau informasi yang telah saya dapat di tahap consider, dengan evaluasi yang ada saya dapat memutuskan untuk membeli atau tidak. Lalu selanjutnya tahap <strong>buy</strong> dan saya akan merasakan bagaimana proses kulit wajah saya setelah memakai skin angel ini. Jika dirasa cocok dan kulit saya menjadi lebih bagus, saya akan masuk ke tahap <strong>enjoy</strong> dimana saya senang dan puas setelah memakai produk tersebut. Setelah itu saya masuk ke tahap <strong>advocate</strong> yang mana saya sebagai konsumen merekomendasikan teman mengenai brand skincare ini dan jika sudah seperti itu, konsumen akan masuk ke tahap <strong>bond</strong> yaitu hubungan antara brand dengan konsumen yang mana konsumen sudah nyaman dan menjadi percaya apapun product yang dikeluarkan oleh brand ini.<br>Klaim produk ini diutamakan untuk konsumen dengan kondisi kulit seperti saya yang sensitif dan kering. Dan dengan saya cocok saat memakai product ini, saya percaya berarti mereka benar-benar membuat klaim yang benar ampuh dengan ingredients yang sangat bagus. Saat memakai skincare dan sudah cocok, kita akan malas untuk mengganti produk tersebut selama belum ada alasan yang mengganggu. Disini saya terjebak dalam loyalty loop karena saya melakukan semua tahap yang ada saat membeli skinangel ini. Sampai sekarang saya sudah membeli botol kedua karena dirasa cocok dan tidak mau berganti produk lagi. Sekarang saya juga percaya bahwa semua produk mereka bagus dan saya mencoba semua produknya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1370120169/f06871254431f9ac8848e252741608f6/1CF1D213_0C05_4A47_A9A8_A1EF85AAA409.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-27 02:08:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yudhohartono1/reflektif3fw2/wish/1769674705</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
