<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PERLAWANAN RAKYAT JAWA by thea dini</title>
      <link>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-14 10:19:20 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-08 13:17:57 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Sekilas Pandang Rakyat Jawa</title>
         <author>theadini945</author>
         <link>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296089902</link>
         <description><![CDATA[<div>Perang Jawa dari tahun 1741 sampai 1743 adalah konflik bersenjata antara gabungan tentara Tionghoa dengan Jawa melawan pemerintah kolonial Belanda yang meletus di Jawa tengah dan timur. Belanda berhasil memenangkan perang ini, yang mengakibatkan jatuhnya Kesultanan Mataram dan secara tidak langsung mengakibatkan berdirinya Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://2.bp.blogspot.com/-ZpPW6axJKDc/V0XXAuI2ItI/AAAAAAAAGyo/xxjANaMFlDs2C4H_dvKddhsFXwtDR9yWwCLcB/s1600/tarekat%2Bzaman%2Bbelanda.JPG" />
         <pubDate>2022-09-14 10:23:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296089902</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Latar Belakang Rakyat Jawa</title>
         <author>theadini945</author>
         <link>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296091402</link>
         <description><![CDATA[<div>Setelah tentara Belanda membantai 10.000 orang Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta), beberapa ribu orang pasukan Tionghoa dari Batavia yang selamat yang dipimpin oleh Khe Pandjang pergi ke Semarang. Meskipun telah diperingati bahwa pemberontakan akan segera meletus, kepala militer Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Bartholomeus Visscher mengabaikan nasihat yang masuk dan tidak menyiapkan bala bantuan. Seiring perkembangan situasi, keraton Pakubuwono II, Sunan Mataram, memilih mendukung orang Tionghoa untuk sementara waktu sambil berpura-pura membantu Belanda. Setelah korban pertama berjatuhan pada 1 Februari 1741 di Pati, para pemberontak Tionghoa menyebar ke seluruh Jawa tengah. Orang Jawa turut membantu orang Tionghoa sembari berpura-pura bertempur melawan mereka agar orang Belanda mengira didukung orang Jawa. Tipu daya ini menjadi semakin jelas dan tentara Tionghoa terus mendekati Semarang, alhasil Visscher menjadi tidak stabil secara mental.<br>Setelah merebut Rembang, Tanjung, dan Jepara, tentara gabungan mengepung Semarang pada Juni 1741. Visscher kemudian memerintahkan untuk menghabisi semua orang Tionghoa di Jawa. Pangeran Cakraningrat IV dari Maduramenawarkan bantuan, dan dari Madura ke arah barat ia membantai semua orang Tionghoa yang dapat ditemui dan memadamkan pemberontakan di Jawa timur.<br>Pada akhir tahun 1741, pengepungan Semarang berhasil dipatahkan setelah tentara Pakubuwono II melarikan diri karena tentara Belanda, dengan bala bantuan mereka, memiliki senjata api yang lebih unggul. Kampanye militer Belanda selama tahun 1742 memaksa Pakubuwono II untuk menyerah dan beralih keberpihakan; namun beberapa pangeran Jawa ingin meneruskan perang, sehingga pada 6 April Pakubuwono II tidak diakui oleh para pemberontak dan keponakannya, Raden Mas Garendi, dipilih sebagai penggantinya.<br>Begitu Belanda berhasil merebut kembali semua kota di pantai utara Jawa, para pemberontak menyerang ibu kota Pakubuwono II di Kartosuro, sehingga dia terpaksa melarikan diri bersama keluarganya. Cakraningrat IV merebut kembali kota tersebut pada Desember 1742, dan pada awal 1743 pemberontak Tionghoa terakhir telah menyerah. Setelah perang ini berakhir, Belanda semakin menancapkan kekuasaan yang lebih besar di Jawa melalui perjanjian dengan Pakubuwono II.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://4.bp.blogspot.com/-fWPsV78bXbo/Wrnh9gStbiI/AAAAAAAACMU/0vp3ZxWYg5M8MXr9DSziDwoOhg8mB6zTwCLcBGAs/s1600/Perlawanan%2BRakyat%2BBanten%2BTerhadap%2BVOC%2B%2528Belanda%2529.jpg" />
         <pubDate>2022-09-14 10:24:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296091402</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalannya Perlawanan Rakyat Jawa</title>
         <author>theadini945</author>
         <link>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296092357</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertempuran buka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat direbut pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik didirikan dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong kepentingan perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu didirikan di hutan-hutan dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir memperagakan pekerjaan keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi area, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat didirikan melewati penguasaan informasi.<br>Serangan-serangan agung rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan memperagakan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dsb-nya merupakan "musuh yang tak tampak", melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka memperagakan usaha di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan babak keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu di mana suatu wilayah yang tidak terlalu lapang seperti Jawa Tengah dan beberapa Jawa timur diamankan oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua cara yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik cara perang buka (open warfare), maupun cara perang gerilya (guerrilla warfare) yang dilaksanakan melewati taktik hit and run dan penghadangan (Surpressing). Perang ini bukan merupakan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang menggunakan bermacam siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melewati insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) di mana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://2.bp.blogspot.com/-bI98_yth5sk/WNEFgfSwXsI/AAAAAAAAAAQ/Ajr6Qo70gNsL2Y5vShcMu_BmtUz_p8N7wCLcB/s1600/Perlawanan%2BRakyat%2BMakassar%2B%2528Gowa%2529%2Bterhadap%2BVOC%2B%25281616-1667%2529.jpg" />
         <pubDate>2022-09-14 10:25:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296092357</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akhir Perlawanan Rakyat Jawa</title>
         <author>theadini945</author>
         <link>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296093613</link>
         <description><![CDATA[<div>Akhir perlawanan Pangeran Diponegoro adalah ketika dia ditangkap pada tahun 1830 oleh Belanda, yang awalnya menjanjikan perundingan namun kemudian mengingkari janji tersebut. Pangeran Diponegoro kemudian dibuang ke Sulawesi &nbsp;<br>&nbsp;dengan diberlakukannya tipu daya yang dilakukan Belanda dalam mempersempit gerak Diponegoro</div>]]></description>
         <enclosure url="http://3.bp.blogspot.com/-jQSMnVvkXXs/VflWsElDABI/AAAAAAAAAAg/AgzOm5VMcD0/s1600/Houtman%2BDatang.jpg" />
         <pubDate>2022-09-14 10:26:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/theadini945/kr3xpdoacef16u8g/wish/2296093613</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
