<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>ANALISIS UNSUR INEKS KARYA SASTRA 12 MIPA 3 by Yuli Widayanti</title>
      <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u</link>
      <description>Tulislah Unsur-unsurnya dengan tepat!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-10-14 05:05:12 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2020-10-19 09:29:20 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok 1</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827522827</link>
         <description><![CDATA[<div>Daffa  (03)<br>Alif      (06)<br>Hanif  (14)<br>Ariq    (17)<br>Hilmi  (20)<br><br><strong>Unsur Intrinsik Cerpen Robohnya Surau Kami</strong><br><strong>Tema :</strong> Religi<br><strong>Penokohan : <br></strong>-Kakek: mudah dipengaruhi ,egois,Ajo sidi- mudah memikat dengan kata-katanya,Haji saleh - mementingkan kepentingan sendiri<br>Alur : campuran<br>Latar : Surau,di akhirat,sedih<br>Sudut pandang : sudut pandang orang pertama<br>Amanat : jangan egois,jangan mudah terpengaruhi oleh omongan orang laun<br>Gaya bahasa : bahasa yang digunakan menarik dan mudah di pahami tidak ber belit belit, menggunakan beberapa jenis majas, seperti majas sindiran.<br><br><strong>Unsur Intrinsik Novel Kemarau</strong><br><strong>Tema : </strong>Religi, Kehidupan<br><strong>Penokohan :</strong><br>-Sutan Duano : Bekerja keras, <br>-Haji Tumbijo : Bijak, peduli<br>-Wali Negeri : Bijak<br>-Sutan Caniago : Gegabah, keras kepala<br>-Lembak Tuah : Pasrah, tidak mau berusaha<br>-Rajo Budi : Pasrah, tidak mau berusaha<br>-Acin : Berani,  percaya diri, penurut<br>-Gundam : Pemalu<br>-Saniah : Cemburu, penebar fitnah<br>-Masri : Pemarah<br><strong>Alur :</strong> Maju<br><strong>Latar : <br>-</strong>Waktu : pagi dan sore, siang hari, malam, suatu hari<br>-Tempat : sawah, danau, jalan, rumah, surau<br>-Suasana : gugup, senang, marah dan sedih, sedih, takut, tegang<br><strong>Sudut pandang :</strong> Orang ketiga<br><strong>Amanat : <br></strong>Manusia perlu berusaha untuk mengubah keadaannya dan tidak hanya pasrah pada takdir<br><strong>Gaya bahasa :<br></strong>Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis ini ada beberapa yang menggunakan bahasa daerah minangkabau contohnya "sutan" dan "rajo" .<br><br><strong>Unsur Ekstrinsik Cerpen Robohnya Surau Kami</strong><br><strong>Latar belakang penulis:</strong><br><strong>Nilai-nilai:</strong><br><strong>IPOLEKSOSBUD (1955):<br></strong>-Ideologi : Ideologi terkotak-kotak dalam 3 kubu (Nasakom) <br>-Politik : Pasca kemerdekaan, kondisi politik masih tidak stabil<br>-Ekonomi : Pemerintah sedang menggalakkan pembangunan ekonomi<br>-Sosial : Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan<br>-Budaya : Urbanisasi dan globalisasi belum begitu marak, budaya masyarakat lokal sangat terasa <br><br><strong>Unsur Ekstrinsik Novel Kemarau</strong><br><strong>Latar belakang penulis:</strong><br><strong>Nilai-nilai:</strong><br><strong>IPOLEKSOSBUD :<br></strong>-Ideologi : Ideologi terkotak-kotak dalam 3 kubu (Nasakom) <br>-Politik : Pasca kemerdekaan, kondisi politik masih tidak stabil<br>-Ekonomi : Pemerintah sedang menggalakkan pembangunan ekonomi<br>-Sosial : Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan<br>-Budaya : Urbanisasi dan globalisasi belum begitu marak, budaya masyarakat lokal sangat terasa </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-14 05:08:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827522827</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523006</link>
         <description><![CDATA[<div>Danny (10)<br>Dean (11)<br>Ihab (15)<br>Pradipta (16)<br>Fano (23)<br><br>(A). <strong>Unsur Intrinsik Cerpen Robohnya Surau Kami</strong>:<br>-Tema : Religius<br>-Penokohan : <br>&gt; Ajo sidi :  Suka bercerita, Suka mempengaruhi dan menyindir orang (Antagonis)<br>&gt; Haji shaleh: Tawakkal dan egois terhadap sesama(Tritagonis)<br>&gt; Kakek : Mudah terpengaruh (Protagonis)<br>-Alur : Campuran<br>-Latar : <br>&gt; Tempat : Surau, Makam<br>&gt; Suasana : Sedih, muram, suram<br>&gt; Waktu : Keesokan harinya<br>-Sudut pandang : Orang ketiga<br>-Amanat : Jangan mudah terpengaruh terhadap pembicaraan orang dan maknai setiap kegiatan sebelum melakukannya serta peduli terhadap lingkungan sekitar<br>-Gaya bahasa : Penulis menggunakan bahasa baku namun mudah dipahami terdapat juga beberapa majas salah satunya adalah majas litotes.<br><br>(B). <strong>Unsur Intrinsik Novel Kemarau</strong>:<br>-Tema : Konflik Kehidupan<br>-Penokohan : <br>&gt; Sutan Duano : Baik hati, peduli sesama, tidak mudah menyerah, terpercaya, dan suka menolong<br>&gt; Para petani : Mudah menyerah<br>&gt; Sutan Caniago : Pemarah, dapat dipercaya<br>&gt; Haji Tumbijo : Bijak, sosok teladan<br>&gt; Wali negri : Baik hati, Bijak, Tegas<br>&gt; Lembak Tuah : Mudah menyerah, pasrah<br>&gt; Rajo Bodi : Mudah menyerah, pasrah<br>&gt; Acin : Memiliki rasa ingin tau yang tinggi, Pemberani, Baik hati<br>&gt; Masri : Pendendam dan penurut<br>&gt; Saniah : Suka menuduh,  Cemburu, Licik<br>&gt; Gundam : Pemalu, Mudah terpengaruh<br>&gt; Arni : Penurut<br>&gt; Iyah : Bungkam<br>-Alur : maju<br>-Latar : <br>&gt; Tempat : Sawah, Surau, Kampung, Lepau<br>&gt;Waktu : Musim kemarau yang terjadi, Setiap pagi dan sore,  dan Kamis sore<br>&gt; Suasana : Menegangkan<br>-Sudut Pandang : Orang Ketiga<br>-Amanat : Ketika kita ingin mengubah nasib diri kita maka ubahlah diri kita sendiri<br>-Gaya Bahasa : Menggunakan Bahasa baku yang mudah dipahami dan ada beberapa penggunaan bahasa Daerah Minang<br><br>(C). <strong>Unsur Ekstrinsik Robohnya Surau Kami<br></strong>- Biografi Penulis : Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatra Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis.<br>- Nilai Sosial : Saling membantu sesama ketika kesulitan<br>- Nilai Moral : Sebagai manusia, kita seharusnya menghormati satu sama lain dan tidak menilai orang dari luarnya saja<br>-Nilai Agama : Beribadah memang wajib untuk kita lakukan, namun jangan sampai melupakan nilai-nilai agama yang lainnya.<strong><br></strong><br>(D). <strong>Unsur Ekstrinsik Novel Kemarau<br></strong>- Biografi Penulis : Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatra Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis.<br>- Nilai Sosial : Menghormati pendapat orang lain dan Menghargai pekerjaan orang lain<br>- Nilai Moral : Tidak saling menuduh dan Jangan berperilaku licik kepada sesama</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-14 05:08:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523006</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3 : Dzaki yusuf (12) , Fathan jalu (13), Rizky F.(18), Rakaditya (21),Rafii Narendra (22)</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523188</link>
         <description><![CDATA[<div><br><strong><mark>Analisis Unsur intrinsik Robohnya Surau Kami</mark></strong><br>- <strong>Tema</strong>: Ketuhanan/Religius<br>- <strong>Penokohan</strong>:<br>  &gt; Kakek : Berpikiran pendek, mudah terhasut<br>  &gt; Ajo Sidi : Pembual <br>  &gt; Haji Shaleh : Rajin beribadah<br>  &gt; Tokoh "Aku":  Selalu ingin tahu<br>- <strong>Alur</strong>: Mundur, menceritakan kembali bagaimana kakek bisa meninggal<br>- <strong>Latar</strong>: <br>  &gt; Latar tempat: Kota, Pasar, Surau<br>  &gt; Latar suasana: murung, sedih, kesal<br>  &gt; Latar waktu: Keesokan harinya, Suatu ketika<br>- <strong>Sudut pandang</strong>: Orang pertama<br>- <strong>Amanat</strong>: <br>  &gt; Jangan mudah terhasut oleh perkataan orang lain.<br>  &gt; Jangan dapat dengan mudah untuk direndahkan oleh orang lain<br>- <strong>Gaya bahasa</strong>: <br>   &gt; Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada cerita ini cukup jelas. Penulis banyak menggunakan majas seperti litotes, sinisme, dan banyak menggunakan kata islami<br><br><strong><mark>Analisis Unsur intrinsik Novel "Kemarau"</mark></strong><br>- <strong>Tema</strong>: Usaha seseorang untuk mengubah pola pikir agar hidupnya lebih baik<br>- <strong>Penokohan</strong>: <br>  &gt; Sutan Duano: suka menolong sesama dan sabar<br>  &gt; Sutan Caniago: mudah putus asa<br>  &gt; Lembak Tuah: sombong<br>  &gt; Haji Tumbijo: bijaksana dan pintar<br>  &gt; Wali Negeri: bijaksana<br>  &gt; Gundam: penyayang dan tabah.<br>  &gt; Acin: baik hati dan penurut<br>  &gt; Rajo Bodi: pasrah<br>  &gt; Saniah: pembohong<br>-<strong> Alur</strong>: Alur maju<br>- <strong>Latar</strong>:<br>  &gt; Latar waktu: Waktu pagi, sore, siang, malam, suatu hari<br>  &gt; Latar tempat: Danau, jalan, sawah, surau, rumah<br>  &gt; Latar suasana: sedih, takut, marah<br>- <strong>Sudut pandang</strong>: orang ketiga<br>- <strong>Amanat</strong>: Jika kita ingin memperoleh hasil yang lebih baik kita harus mau berusaha<br>- <strong>Gaya bahasa</strong>: Penulis menggunakan gaya bahasa daerah "Minang" seperti Rajo, Sutan<br><br><strong><mark>Analisis Unsur Ekstrinsik "Robohnya Surau Kami"<br></mark></strong><strong>A. Nilai-nilai</strong><br><strong>1. Nilai Sosial</strong></div><div>Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.<br><strong>2. Nilai Moral<br></strong>Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghinaorang lain tetapi harus saling menghormati.<br><strong>3. Nilai agama <br></strong>Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.<br><strong>5. Nilai Budaya<br></strong>Kita harus memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.<br><br><strong>B. Latar belakang penulis</strong><br>A. A. Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek “Robohnya Surau Kami”. A.A Navis memiliki julukan 'Sang Pencemooh'. Dia banyak ‘mencemooh’ atau mengkritik kondisi sosial masyarakat dalam karya-karyanya. Sebagai laki-laki berdarah Minang, A. A Navis juga banyak memberikan latar belakang masalah sosial masyarakat Minang dalam karya-karyanya, seperti “Surau Kami”, <em>Bianglala </em>(1963), <em>Kemarau </em>(1967), <em>Cerita Rakyat Sumbar </em>(1994), dan masih banyak lagi.<br><br><strong><mark>Analisis Unsur Ekstrinsik Novel "Kemarau"<br></mark></strong><strong>A. Nilai - nilai<br>1. Nilai Sosial</strong></div><div>Kita sebagai makhluk sosial saling membantu sesama</div><div><strong>2. Nilai Moral<br></strong>Kita sebagai manusia tidak boleh mencelakai orang lain<strong><br>3. Nilai Budaya<br></strong>Kita harus memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.<strong><br>4. Nilai Agama<br></strong>Menghormati orang tua<strong><mark><br></mark></strong><strong>B. Latar belakang penulis <br></strong>Haji Ali Akbar Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-14 05:09:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523188</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523539</link>
         <description><![CDATA[<div>musyaffa (09)<br>raihan (02)<br>rafly(01)<br>aldi(05)<br>aqsha(08) <br><strong>Unsur intrinsik</strong><br>Cerpen Robohnya Surau Kami<br>1. Tema : seorang kepala keluarga yang dimana tidak memiliki kemampuan dalam menghidupi keluargnaya<br>2. Penokohan :<br>-kakek : mudah terpengaruh<br>-ajo sidi : pintar menghasut dan mengelabui<br>-haji sale : tak memikirkan orang lain<br>3. Alur/plot : Maju<br>4. Latar : <br>tempat : Kampung<br>waktu : <br>suasana : sedih<br>5. Sudut pandang :  orang ketiga<br>6. Amanat : penulis ingin mengingatkan pembaca yang sering berpuas diri dalam hal ibadah, tetapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri.<br>7. Gaya bahasa :<br>-litotes<br>-asosiasi<br><br>Novel Kemarau<br>1. Tema : kerasnya jalan kehidupan<br>2. Penokohan :<br>Sutan Duano<br>Dia berperan sebagai tokoh protagonis. Sutan Duano adalah orang yang suka menolong sesama, sabar , pintar dan tidak mudah menyerah.<br><br>2. Wali Negeri<br>      Dia adalah seorang pemimpin dikampung, bijaksana, pemeberani dan berfikiran maju.<br> <br>3. Sutan Caniago<br>      Dia seorang petani yang miskin. Sutan caniago memiliki watak yang mudah putus asa.<br> <br>4. Haji Tumbijo<br>      Ia mengenal Sultan Duano dengan baik, dia adalah orang yang bijaksana, baik dan pintar.<br><br>5. Lembak Tuah<br>      Ia juga mempunyai sawah yang luas dan dia memiliki watak sombong.<br><br>6. Acin<br>     Anak yang lugu, pintar, selalu ingin tau, periang, suka menolong, baik hati dan penurut<br><br>7. Gundam<br>      Seorang janda dengan dua anak. Dia memiliki watak yang penyayang dan tabah.<br><br>8. Rajo Bodi<br>      Dia adalah orang yang berpegang pada adat dan berfikiran pendek. Dia memiliki watak yang pasrah , tidak mau berusahan , dan tidak mau merepotkan diri.<br> <br>9. Haji samsiah<br>      Dia adalah orang yang sombong dan suka berbohong.<br><br>10. Saniah<br>       Seorang wanita yang suka membohongi masyarakat ,licik , pendendam dan suka memfitnah.<br>3. Alur :  campuran<br>4. Latar : <br>-tempat : surau, rumah, sawah<br>-waktu : malam, suatu hari, pagi dan sore, suatu hari<br>-suasana : senang, marah, kecewa, sedih, geram, tegang<br>5. Sudut pandang : Orang ketiga<br>6. Amanat :<br>hidup ibarat roda yang berputar, tak selalu diatas, namun juga tak selalu dibawah. takdir tak selalu memberikan cobaan namun juga memberi kenikmatan. manusia hanya bisa bersyukur dan berusaha<br>7. Gaya bahasa : <br>pada novel ini penulis menggunakan majas hiperbola pada kalimat sehingga sawah-sawah dan tanah pun rusak dengan <strong>rekahan sebesar betis </strong>serta menggunakan gaya bahasa rakyat Minangkabau seperti sutan<strong><br><br>Unsur ekstrinsik<br><br>Robohnya surau kami</strong><br><strong>sosial:</strong>kita harus lebih berterimakasih kepada orang yang telah membantu kita,dan kita harus lebih perhatian terhadap orang sekitar kita,karena setiap orang memiliki perbedaan masing-masing dan tidak dapat ditanggapi dengan penanggapan yang sama<br><strong>agama:</strong>walaupun beribadah sepenuh hati kepada tuhan yang maha esa sangat penting kita tetap harus memperhatikan keadaan sekitar,karena haltersebut juga merupakan ibadah walaupun kecil.<br><strong>moral: </strong><br><br><strong>Kemarau</strong><br>1. nilai sosial<br>membantu orang lain, terlihat dari Sutan Duano yang berperan membantu pemulihan ekonomi di desa terebut<br>2. nilai moral<br>menghargai pendapat dan  keinginan orang lain, terlihat dari Sutan Duani yang menghargai keinginan Sutan Caniago untuk pergi ke ibukota. Meski Sutan Duano mengetahui bahwa kota bukan merupakan tempat yang baik dan sudah mengatakannya kepada Sutan Caniago, Sutan Duano tetap menghargai keputusan Sutan Caniago <br>3. nilai agama<br>4. nilai budaya<br><br><strong>Biografi penulis<br></strong>Nama lengkap A.A. Navis adalah Ali Akbar Navis, tetapi sepanjang kariernya ia lebih dikenal dengan namanya yang lebih simpel A.A. Navis. Ia  lahir di Padangpanjang, Sumatera Barat, tanggal 17 November 1924. Ia merupakan anak sulung dari lima belas bersaudara.<br>Navis memulai kariernya sebagai penulis ketika usianya sekitar tiga puluhan. Sebenamya ia sudah mulai aktif menulis sejak tahun 1950. Akan tetapi, kepenulisannya baru diakui sekitar tahun 1955 sejak cerpennya banyak muncul di beberapa majalah, seperti Kisah, Mimbar Indonesia, Budaya, danRoman.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-14 05:09:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523539</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523795</link>
         <description><![CDATA[<div># Ainaka (04)<br># Ammar (07)<br># Ulhaq (19)<br># Didit (24)<br># Irfan (25)<br><br><strong>-</strong><strong><em> Unsur Instrinsik Robohnya Surau Kami</em></strong><br><strong>Tema : </strong><br>&gt; Religius<br><strong>Penokohan :</strong><br>&gt; Kakek : Rajin beribadah,  ikhlas, tapi ketika penyeselan, ketakutan datang  berpikiran pendek dan baik hati<br>&gt; Ajo Sidi : Jahil, ramah, pembuatan bualan, tapi dibalik bualannya ada makna yang tersirat.<br>&gt; Haji Shaleh : Rajin beribadah, mengabdikan dirinya kepada tuhan, tetapi hak itu membuat ia buta setengah mata terhadap hidupnya<br>&gt; "Aku" :  Baik, Dermawan<br>&gt; Istrinya Ajo Sidi : Menurut pada suami dan bisa dipercaya menyampaikan amanat<br>&gt; Istrinya "Aku" : baik<br><strong>Alur :</strong><br>&gt; Alur Campuran<br><strong>Latar :</strong><br>&gt; Kampung<br>&gt; Di Akhirat<br>&gt; Di Neraka<br><strong>Sudut pandang :</strong><br>&gt;  Sudut pandang orang pertama<br><strong>Amanat :</strong><br>&gt; Cerpen ini menjelaskan kita tentang hubungan manusia dengan tuhannya, namun kebanyakan dari mereka tidak memikirkan kesejahteraan keturunannya.<br><strong>Gaya bahasa : </strong><br>&gt; Baku dan menggunakan majas litotes dan sinisme<br><br><strong><em>- Unsur Instrinsik Sinopsis Novel Kemarau</em></strong><br><strong>Tema :<br></strong>&gt; Sosial<strong><br>Penokohan :<br></strong>&gt; Sutan Duano : sabar, pintar suka menolong dan tidak mudah menyerah<br>&gt; Wali Negeri : Pemimpin, bijaksana dan pemberani<br>&gt; Sutan Caniago : Musah putus ada<br>&gt; Haji Tumbijo : Baik dan bijaksana<br>&gt; Lembak Tuah : Sombong<br>&gt; Acin : lugu, selalu ingin tahu dan penurut<br>&gt; Gundam : Penyayang<br>&gt; Rajo Bodi : tidak mau berusaha dan tidak mau merepotkan diri<br>&gt; Haji Samsiah : sombong dan suka berbohong<br>&gt; Saniah : licik dan pembohong<strong><br>Alur :<br></strong>&gt; Alur maju<strong><br>Latar :<br></strong>&gt; Di sawah<br>&gt; Di danau<br>&gt; Di surau<br>&gt; Di rumah<strong><br>Sudut pandang :<br></strong>&gt; Sudut pandang orang ketiga<strong><br>Amanat :<br></strong>&gt; Tujuan hidup bukanlah untuk memilki kemewahan melainkan kedamaian dan seharusnya memperbanyak pahala bukannya dosa<strong><br>Gaya bahasa :<br></strong>&gt; Gaya bahasa mengikuti bahasa daerahnya sendiri yaitu bahasa "Minang"<br><br><strong><em>Unsur Ekstrinsik Novel Kemarau </em></strong>:<br>&gt; <strong>Nilai Sosial   : <br></strong>Kita sebagai makhluk sosial saling membantu sesama<strong><br></strong>&gt; <strong>Nilai Moral    :<br></strong>Kita sebagai manusia tidak boleh mencelakai orang lain<strong><br></strong>&gt; <strong>Nilai agama  : </strong>Menghormati kepada orang yang lebih tua (Orang tua/Orang lain)<br>&gt; <strong>Nilai Budaya : </strong>Kita harus memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.<br><br><strong><em>Unsur Ekstrinsik Robohnya Surau Kami :</em></strong><br><strong>Biografi Penulis :</strong><br><strong>Nama</strong> : Haji Ali Akbar  Navis <br><strong>Tempat Lahir</strong>   : Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust.<br><strong>Tanggal Lahir -  Tanggal Meninggal</strong>: 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatra Barat, 22 Maret 2003.<br><strong>Umur</strong> : 78 tahun<br><br><strong><em>Latar Belakang Penulis :</em></strong><br>Beliau adalah seorang budayawan dan sastrawan yang terkenal di Indonesia. Dia suka menulis dan contoh karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami.<br><br>&gt; <strong>Ideologi :</strong> Ideologi terkotak-kotak dalam 3 kubu (Nasakom).<br>&gt; <strong>Politik :</strong> Pasca kemerdekaan, kondisi politik masih tidak stabil.<br>&gt; <strong>Ekonomi :</strong> Pemerintah sedang menggalakkan pembangunan. ekonomi<br>&gt; <strong>Budaya :</strong> Urbanisasi dan globalisasi belum begitu marak, budaya masyarakat lokal sangat terasa.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-14 05:09:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/k4epzz4jwwrihw6u/wish/827523795</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
