<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Cerita Kampung Adat by 18_105_Fiqri Taufiq R</title>
      <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9</link>
      <description>Dibuat sepenuhnya dengan kreativitas</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-10-30 09:12:40 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-05-31 23:35:22 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Nama Kampung Adat</title>
         <author>fiqri18002</author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1855318988</link>
         <description><![CDATA[<div>Deskripsi<br>Oleh : Fiqri Taufiq RIzaldi - Universitas Padjadjaran<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-30 09:39:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1855318988</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kampung adat suku kajang ammatoa </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1856339287</link>
         <description><![CDATA[<div><br><strong>Suku Kajang</strong> merupakan salah satu suku tradisional, yang terletak di <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bulukumba">Kabupaten Bulukumba</a>, <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan">Sulawesi Selatan</a>. Letaknya sekitar 200 km arah timur <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Makassar">Kota Makassar</a>. Daerah Kajang terbagi dalam 8 desa, dan 6 dusun. Kajang di bagi dua secara geografis, yaitu Kajang dalam (mereka disebut <em>tau kajang</em>) dan Kajang luar (orang-orang yang berdiam di sekitar suku Kajang yang relatif modern, mereka disebut <em>tau lembang</em>).<br><br><br>Daerah kajang luar adalah daerah yang sudah bisa menerima peradaban teknologi seperti listrik, berbeda halnya dengan kajang dalam yang tidak dapat menerima peradaban, itulah sebabnya di daerah kajang dalam tidak ada listrik bukan hanya itu apabila kita ingin masuk ke daerah kawasan Ammatoa (Kajang dalam) yang tidak diperbolehkan memakai sandal hal ini dikarenakan oleh sandal yang dibuat dari teknologi modern.<br><br></div><div><br>Bukan hanya itu bentuk rumah kajang dalam dan Kajang luar sangat berbeda. Di Kajang luar dapur dan tempat buang airnya terletak di bagian belakang rumah sama halnya dengan rumah-rumah pada umumnya, tidak seperti dengan kajang dalam (kawasan <em>Ammatoa</em>) yang menempatkan dapur dan tempat buang airnya didepan.<br><br></div><div><br>Hal ini dikarenakan pada zaman perang prajurit kajang sering masuk ke rumah penduduk untuk mencari makan itulah sebabnya dapur dan tempat buang air kecilnya ditempatkan didepan rumah bukan hanya itu agar prajurit juga tidak melihat anak dari pemilik rumah karena prajurit beranggapan apapun yamg berada di dalam rumah itu adalah miliknya.<br><br><br></div><div>Sebagian besar Suku Kajang memeluk agama <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a>. Meskipun demikian, mereka juga mempraktikkan sebuah kepercayaan adat yang disebut dengan <em>Patuntung</em>. <em>Patuntung</em> diartikan sebagai mencari sumber kebenaran. Hal itu menyiratkan bahwa apabila manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran, maka mereka harus menyandarkan diri pada tiga pilar, yaitu <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tuhan">Tuhan</a>, tanah, dan nenek moyang. Keyakinan kepada <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tuhan">Tuhan</a> adalah kepercayaan yang paling mendasar dalam kepercayaan <em>patuntung</em>. Suku Kajang percaya bahwa <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tuhan">Tuhan</a> adalah pencipta dari segala sesuatu, Mahakekal, Mahamengetahui. Mahaperkasa, dan Mahakuasa.</div><div><br><strong><br>- Adat istiadat dalam bertutur kata.</strong></div><div>Mereka percaya bahwa mereka diciptakan untuk saling menghargai antarsesama sekaligus antar masyarakat yang hidup di tempat berlainan. Bagi mereka, adalah sebuah pantangan besar untuk berbicara kasar dan akan dicela oleh Suku Kajang yang lain apabila berbicara dengan bertolak pinggang. Mereka dituntun untuk berbicara dengan tangan dilipat di dada sambil membungkukkan badan dan menggulung sarung. <br><br><br><strong><br>- Adat istiadat dalam berpakaian.</strong></div><div>Suku Kajang pantang untuk mengenakan pakaian selain berwarna <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hitam">hitam</a> dan <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Putih">putih</a>. Warna tersebut menurut <em>pasang</em> yang mereka percayai mengandung arti kesederhanaan. Sarung hitam yang dikenakan laki-laki merupakan buatan mereka sendiri yang dilakukan dengan menenun, kemudian direndam ke dalam larutan yang terbuat dari daun tarum yang menyebabkannya menjadi hitam pekat. Pakaian <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Perempuan">perempuan</a> pun terdiri dari sarung dan baju <em>bodo</em> yang berwarna hitam pekat.<br><br>Oleh: Murdaya Syeila Putri <br>Universitas Muhammadiyah Makassar </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1367881775/e95328f3208f8a3a6a98926c5d3e1cca/download.jpeg" />
         <pubDate>2021-10-31 08:18:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1856339287</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KAMPUNG ADAT MASYARAKAT SUKU TORAJA(DESA KAMBIRA TANA TORAJA )</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1864350228</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Passiliran, Pohon Bagi Rahim Para Bayi</strong></div><div><strong>(Masyarakat Penganut Aluk todolo atau Kepercayaan terhadap leluhur )</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja di Sulawesi Selatan memiliki keunikan tersendiri dalam upacara pemakaman jenazah. Jenazah orang dewasa biasanya dimakamkan di goa, batu, atau tebing dengan dibuat lubang untuk menempatkan peti jenazah. Lantas bagaimana jika yang meninggal masih bayi?</div><div>Kuburan bayi tersebut salah satunya bisa ditemukan di Kambira, Kabupaten Tana Toraja.</div><div>&nbsp;</div><div>Pohon itu menjulang tinggi di antara rumpun-rumpun bambu yang teduh. Batangnya yang gigantik dan kulit kayunya yang tua menandakan pohon ini sudah berumur. Namanya pohon tarra yang buahnya mirip sukun. Dalam tubuh pohon inilah bayi-bayi dari Desa Kambira, Tana Toraja, dimakamkan.Masyarakat Toraja memang punya tradisi unik dalam pemakaman. Sejak zamandahulu, pemakaman menjadi satu hal penting dan dilakukan dengan banyak ritual. Bahkan upacara-upacara pemakaman orang Toraja bisa menelan biaya yang sangat mahal.</div><div>Perayaan akan kematian telah menjadi tradisi yang dilestarikan orang Toraja.</div><div>&nbsp;</div><div>Kematian seseorang dianggap sebagai kesempatan terakhir untuk berbuat sesuatu. Hidup orang Toraja menjadi berarti jika kematian dan proses pemakamannya baik.“Upacara pemakaman merupakan pusat kehidupan kebanyakan orang Toraja dan merupakan jawaban atas kematian.Upacara pemakaman itu dikenal dengan istilah rambu solo dengan makam atau liang yang dibuat dengan memahat dinding tebing. Namun, masih ada bentuk pemakaman lain yang jarang disorot dan tak kalah unik, yakni passiliran atau tradisi penguburan bayi di dalam batang pohon di Desa Kambira.</div><div>&nbsp;</div><div>Desa Kambira terletak di Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibukota Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di tempat inilah pohon tarra tumbuh dan menjadi tempat memakamkan bayi. Hanya bayi yang meninggal dunia ketika belum tumbuh gigi yang dikuburkan di sini.</div><div>Dalam passiliran, bayi yang belum memiliki gigi dianggap masih suci. Bagi orang Kambira, menguburkan bayi di dalam pohon tarra ibarat mengembalikan bayi tersebut ke dalam rahim ibunya. Terselip harapan, mengembalikan bayi ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian.Jenazah bayi diletakkan dalam posisi berdiri dengan anggapan bayi juga akan tumbuh di dalam pohon. Sementara pohon tarra dipilih sebagai kuburan bayi karena jenis pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu.</div><div>&nbsp;</div><div>Pohon tarra yang menjadi kuburan bayi ini memiliki diameter 80-100 centimeter. Batangnya dilubangi sedemikian rupa agar jenazah bayi bisa dimasukkan dalam posisi berdiri. Jenazah bayi ditempatkan menghadap ke arah tempat tinggal keluarganya yang berduka. Lubang tersebut kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau.Posisi lubang penempatan jenazah bayi di pohon disesuaikan dengan strata sosialnya. Semakin tinggi posisi lubang menandakan semakin tinggi juga kasta keluarganya. Cara pemakaman seperti ini hanya dilakukan orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur).</div><div>Upacara pemakamannya dilakukan dengan sangat sederhana. Bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan apapun, sama seperti bayi yang masih berada di rahim ibunya.Ketika proses pemakaman hingga sekira setahun, sang ibu tak diperbolehkan melihatnya karena dipercaya bisa mengurangi kemungkinan sang ibu mendapatkan bayi sehat lagi di masa mendatang.</div><div>&nbsp;</div><div>Setelah puluhan tahun, lubang pada pohon tarra akan tertutup sendiri dan jenazah-jenazah bayi itu akan tetap bersemayam di sana. Dari jauh, pohon ini terlihat seperti penuh dengan tambalan-tambalan berbentuk kotak berwarna hitam. Meski dilubangi untuk dijadikan makam, pohon tarra hidup dengan baik selayaknya pohon biasa. Pohon tarra juga tak boleh ditebang agar tak memutus kelanjutan hidup atau perjalanan si bayi menuju alam baka. Di Toraja, selain takut kehilangan, ada juga rasa takut mati di waktu yang salah. Dengan mengubur bayi di pohon hidup, bayi akan menyatu dengan pohon dan rahim kedua ini akan memungkinkan tumbuh menjadi keras; simbol kesempurnaan.</div><div>“Ketika pohon itu mati, kematian tepat waktu telah dicapai,” jelas mereka.</div><div>Passiliran hanya berlaku untuk bayi yang belum memiliki gigi. Menurut Toke Hoppenbrouwers dkk, jika bayi yang meninggal sudah memiliki gigi, ia dimakamkan di kuburan batu, bukan di pohon. Anak itu dibungkus dengan pakaian putih; tanpa peti mati.Janin akibat keguguran juga dimakamkan di kuburan batu. Dua telur ditempatkan di tangan atau ketiaknya; melambangkan bayi yang hilang. Hal ini dilakukan untuk mencegahnya menjadi roh jahat yang mengembara mencari bayi ibu lain. Jika karena aborsi, sel janin ditempatkan di batok kelapa yang kosong atau wadah lain yang dikubur.</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Namun dalam perkembangannya saat ini, passiliran hanya dikenal sebagai kuburan bayi di atas pohon kayu.Cara menguburkan bayi seperti ini sudah lama tidak dilaksanakan lagi. Namun, pohon tarra masih tetap tegak berdiri dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.Desa Kambira bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau bemo dari Makale atau Rantepao. Lokasi pekuburan ini dikelola masyarakat setempat.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>YELMA PUTRI&nbsp;</strong></div><div><strong>UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO</strong></div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1325957229/9ed16bd4f12a0c31bc9fdbc02ce9234c/baby_grave.jpeg" />
         <pubDate>2021-11-03 11:46:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1864350228</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kampung Adat di Gorontalo (Desa Bubohu)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1869624627</link>
         <description><![CDATA[<div>￼Di Gorontalo terdapat satu tempat yang menawarkan pengalaman rohani, terkenal dengan sebutan Desa Bubohu, atau juga dikenal dengan nama Desa Bongo. Desa adat ini terletak di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Desa Bubohu merupakan sebuah desa adat berjarak sekitar 35 kilometer dari Bandara Jalaludin, Gorontalo. Desa Adat Bubohu telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Religius oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo karena pesona dari wisata budaya yang tersimpan baik di desa ini.&nbsp;<br><br>Desa adat ini juga merupakan sebuah pesantren alam dimana di dalamnya terdapat para santri yang tengah menimba ilmu agama Islam. Selain mempelajari agama Islam, Desa Adat Bubohu juga merupakan tempat belajar untuk mengenal lebih jauh sejarah dari Kerajaan Gorontalo. Maa Taduwolo, sebuah tempat di dalam lingkungan desa adat ini menyimpan berbagai macam sumber yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Gorontalo.&nbsp;<br><br>Ketika menyambangi Desa Adat Bubohu, pengunjung akan disambut oleh kumpulan fosil kayu di depan pintu masuk desa yang berbaris rapi di atas permukaan tanah. Di dalam lingkungan pesantren alam Bubohu, terdapat satu pemandangan khas yaitu barisan gubuk khas Gorontalo yang disebut Wambohe berjajar rapi di lingkungan pesantren.&nbsp;<br><br>Selain Wombohe, di dalam lingkungan pesantren juga terdapat beberapa bangunan kayu yang bentuknya menyerupai Toyopo atau wadah yang biasa digunakan masyarakat Bungo untuk menyimpan kue saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain itu, jauh di atas puncak bukit, namun masih masuk daerah Desa Bubohu, terdapat juga sebuah mesjid yang diberi nama Masjid Walima Emas.<br><br>Oleh : Zainun Yunus<br>Universitas Negeri Gorontalo</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1441088935/20aa23e5952817b456d8ba2940e18328/2D4FEE0D_9865_41D7_BE20_68FDF3DAF423.jpeg" />
         <pubDate>2021-11-05 10:19:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1869624627</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desa Tenganan Pegringsingan Bali</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1870089270</link>
         <description><![CDATA[<div>Pulau Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang menjadi gerbang wisatawan dunia. Budaya yang dimiliki pulau ini menjadi salah satu daya tarik yang cukup diminati oleh wisatawan baik asing maupun domestik. Salah satu budaya <a href="https://travelingyuk.com/pelabuhan-banyuwangi-bali-ditutup/272988/">Bali</a> yang menjadi daya tarik wisatawan yaitu adanya Desa Tenganan Pegrisingan.Tenganan merupakan salah satu Desa Bali Aga yang memiliki arti bahwa masyarakat desa tersebut memiliki pedoman pada peraturan dan adat istiadat peninggalan leluhur. Bentuk balai pertemuan, rumah dan pura yang dibangun masih terjaga karena desa ini mempertahankan budaya dan adat istiadat secara turun-temurun. Bentuk dari rumah dan bahan yang digunakan, rata-rata sama antar rumah satu dengan yang lainnya.Desa Tenganan merupakan salah satu desa tradisional yang berada di bagian Timur Pulau Bali, lebih tepatnya di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Selain bentuk rumah dan bangunannya yang masih tradisional, Teman Traveler juga dapat melihat aktivitas warga desa sehari-hari serta dapat berbelanja kerajinan tangan dari warga desa yang khas dan unik. Kerajinan tangan itu cukup bervariasi <em>lho</em>, mulai dari anyaman bambu, lukisan tangan, ukiran dan terdapat <a href="https://travelingyuk.com/tenun-nusa-tenggara-timur/250011/">Kain Tenun</a> Gringsing yang cukup terkenal dikalangan Mancanegara.<br><br></div><div>Untuk membuat hasil kerajinan ini, warga Desa Tenganan masih menggunakan cara tradisional yang diwariskan oleh leluhur mereka. Selain itu, Desa ini juga memiliki tradisi adat yang masih tetap diterapkan dan diyaniki sampai sekarang. Salah satu tradisi adat yang cukup dinantikan wisatawan adalah Perang Pandan.<br>Keunikan pada Kain Gringsing terletak pada cara pembuatannya yang menggunakan alat tenun atau tidak menggunakan mesin. Tidak hanya itu, teknik yang digunakan juga cukup khas yaitu tenun ikat ganda atau dobel ikat. Teknik ini membutuhkan keahlian dan waktu yang cukup lama untuk membuat satu helai kain tenun atau Kain Gringsing ini. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu helai Kain Tenun ini kurang lebih 2,5 hingga 5 tahun tergantung pada tingkat kesulitan yang dimiliki kain. Teknik yang digunakan di Desa Tenganan ini merupakan satu-satunya teknik di Indonesia. Jadi tidak heran jika Kain Gringsing dibanderol dengan harga yang cukup mahal.<br><br></div><div>Harga yang ditawarkan bisa mencapai ratusan juta rupiah <em>lho</em>! Bagi warga Desa Tenganan kain ini memiliki arti menjauhkan seseorang dari penyakit atau menangkal pengaruh negatif. Kain ini juga digunakan oleh warga Desa Tenganan untuk berbagai upacara keagamaan dan upacara adat. Teman Traveler dapat menemukan Kain Gringsing di dalam Desa Tenganan dan <em>art shop</em> yang terletak di pintu masuk menuju desa ini.<br>Ada lagi <em>nih</em> hal yang cukup unik dari Desa Tenganan yaitu Tradisi Perang Pandan atau <em>Mekare-kare</em> (<em>Megeret Pandan</em>). Tradisi yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang unik dan cukup populer serta cukup dinantikan oleh wisatawan. Tradisi Perang Pandan dilakukan oleh pemuda warga desa dengan cara saling menyerang menggunakan daun pandan yang berduri dan tameng berupa anyaman dari rotan. Luka pada punggung akibat sayatan dari daun pandan akan diberi obat tradisional dari bahan umbi-umbian.<br><br></div><div>Tradisi ini dilakukan untuk melatih mental dan fisik warga desa. <em>Mekare-kare</em> sendiri merupakan puncak dari prosesi upacara adat Desa Tenganan Pegringsingan atau biasa disebut <em>Usaba Sambah</em> oleh masyarakat lokal.Tradisi Perang Pandan dilakukan dengan diiringi musik Gamelan Seloding yang merupakan alat musik khusus dimainkan saat acara tertentu saja dan orang yang memainkannya harus disucikan terlebih dahulu.<br><br>OLEH: NI LUH EKA SETIAWATI<br>UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA</div><div><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1384051731/34c3fbaea721c2681ce5c1183c13aff0/desa_tenganan_1024x1022.jpg" />
         <pubDate>2021-11-05 14:23:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1870089270</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kampung Adat Wapulaka (Buton, Sulawesi Tenggara)</title>
         <author>asmianiwaode020119</author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1871310819</link>
         <description><![CDATA[<div>Kampung Adat Wapulaka berada dibagian selatan Pulau Buton, tepatnya berada di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Terdiri dari 3 desa,&nbsp; yaitu Desa Bahari,&nbsp; Desa Bahari 2 dan Desa Bahari 3. Konon penamaan kampung ini berasal dari kata bahasa Wolio “waa” berarti api dan “polaka” berarti terbang.<br><br>Walaupun secara administrasi ketiga desa ini terpisah, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat ketiga desa ini tidak bisa terpisahkan, mereka sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan sikap toleransi antar sesama, maka tak heran dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu melakukan kegiatan secara bersama-sama. kampung Wapulaka ini patut diteladani, bagaimana tidak, peraturan hukum adatnya masih menjadi pedoman warga hingga saat ini. Hukum adat menjadi aturan sosial kemasyarakatan yang masih&nbsp; berlaku sampai saat ini. Bagi warga yang terbukti melanggar aturan sosial ini akan dikenakan denda dari perangkat adat setempat. Keberaadaan aturan sosial ini penting karena mampu membentengi warga dan seluruh masyarakat adat Wapulaka agar terhindar dari hal-hal tertercela yang dapat merusak tatanan kehidupan dan nama baik daerah mereka.<br>Berada di pesisir pantai, perkampungan yang bersih dengan rumah-rumah yang tertata rapi, dan suasana pedesaan yang asri,&nbsp; Wapulaka terkenal dengan masyarakatnya yang ramah, baik dan hangat terhadap tamu yang mengunjungi perkampungan mereka. Sapaan lembut dan senyum manis masyarakatnya mengirim sinyal penerimaan dan penghormatan yang tulus kepada siapapun yang datang mengunjungi kampung mereka.<br><br></div><div>Kampong adat Wapulaka ini memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang mempesona, sehingga menjadikan Wapulaka sebagai destinasi favorit yang paling banyak dipilih untuk dikunjungi ketika berlibur oleh masyarakat Buton Selatan dan para wisatawan dari daerah lain,&nbsp; terutama pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, pengunjung sangat ramai.<br><br></div><div>Hal menarik lainnya, Wapulaka memiliki spot wisata yang instagramable, yakni pantai Ratu Empat. Di pantai ini terdapat batu berjejer berbentuk payung, tak jarang para wisatawan menjadikan spot batu payung ini sebagai tempat mengabadikan momen indah mereka ketika mengunjunginya. Selain itu, pengunjung juga dapat menjajal sensasi menaiki seribu tangga warna-warni yang ada di sana.<br><br></div><div>Wapulaka mampu mencuri hati wisatawan dengan kegiatan budayanya, yakni pesta adat Riapa. Pesta kampung Riapa&nbsp; merupakan kegiatan prosesi ritual adat budaya yang dilaksanakan secara turun temurun untuk mempertahankan warisan leluhur dan nilai-nilai budaya Wapulaka. Kebudayaan ini menjadi kekayaan identitas yang terus dilestarikan hingga kini oleh masyarakatnya.<br><br></div><div>Pelaksanaan pesta adat Riapa menjadi kegiatan budaya tahunan yang paling meriah dan banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat Buton Selatan, terutama bagi warga Wapulaka sendiri. FIlosofi nilai ritual adat ini adalah untuk menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan persaudaraan antar sesama warga. Karena saat pesta kampung ini berlangsung seluruh warga perantau yang tersebar di seluruh Indonesia wajib pulang kampung untuk mengikuti kegiatan ritual adat ini.<br><br></div><div>Selain acara prosesi adat, pesta kampung Wapulaka ini juga dimeriahkan dengan pagelaran seni, karnaval budaya dan permainan tradisional khas masyarakat setempat. Seluruh peserta pagelaran seni, karnaval budaya ini wajib mengenakan pakaian dengan sentuhan adat Buton.<br>&nbsp;<br>&nbsp;Untuk menuju kampung adat Wapulaka, kalian dapat menempuh jalur darat dari Kota Baubau melalui jalan poros Rongi atau jalur Batauga menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak sekitar 55 km, ditempuh selama 90 menit. Bagi wisatawan yang tidak memiliki kendaraan sendiri dapat menggunakan angkutan umum yang banyak tersedia di terminal pasar Wameo, Kota Baubau.<br><br><strong>WA ODE ASMIANI_UNIVERSITAS HALU OLEO</strong></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1325988439/0ebc87ecfef15dd3211b4380c7a8ec2c/Wapulaka_2.jpg" />
         <pubDate>2021-11-06 08:36:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1871310819</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kampung Adat Loksado (Kalimantan Selatan)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1871384712</link>
         <description><![CDATA[<div>Di sekitaran daerah pegunungan Meratus, kita akan menemui kawasan dayak meratus atau urang bukit. Orang-orang dari Suku Dayak Meratus memiliki kebudayaan dan kepercayaan sendiri yang dikenal dengan nama Balian. Kepercayaan Balian sendiri bersifat lisan dan tidak ditemukan adanya buku atau kitab tertentu yang menunjukan atau mengatur pengikutnya untuk menjalankan kepercayaan tersebut. Kepercayaan orang-orang Meratus dapat dikatakan sebagai kepercayaan masyarakat “Huma” yang terkait dengan penghormatan terhadap “padi” secara sakral dan diwujudkan bentuk berbagai upacara ritual. Mereka juga memiliki kepercayaan terhadap arwah nenek moyang (Datu-Nini), arwah yang masih gentayangan di sekitar tempat tinggal (Pidara), roh para penguasa yang berjasa (Kariau) serta roh alam (hutan, ladang, pohon, sungai, hewan).<br><br>Nama : Nur Azizatul Ulya<br>Universitas Lambung Mangkurat</div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.youtube.com/watch?v=MDBcdrKNqws" />
         <pubDate>2021-11-06 10:22:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1871384712</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desa Budaya Pampang, Kalimantan Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1934983858</link>
         <description><![CDATA[<div>Kalimantan Timur tidak hanya mendunia dengan wisata baharinya, namun kearifan budaya Suku Dayak juga memiliki daya magis bagi wisatawan untuk menghabiskan waktu di salah satu provinsi di Kalimantan ini. Wisata budaya yang&nbsp; menjadi sorotan publik adalah budaya tarian adat suku Dayak yang berpusat di Desa Dayak Pampang Samarinda.</div><div>Desa ini sekian lama menjadi obyek wisata terutama bagi mereka yang menyukai wisata budaya sekaligus mengenal seni daerah suku Dayak.&nbsp;<br><br>Desa Budaya Pampang terletak di pinggir Kota samarinda tepatnya 23 kilometer dari Pusat Kota Samarinda. Desa Adat Pampang sangat dekat dari Bandara APT Pranoto Samarinda.<br><br>Setiap Hari minggu siang, Desa Adat Pampang menampilkan Pentas Seni berupa atraksi Seni Tari tradisional Khas Suku Dayak Kenyah. Acara pentas Seni ini selalu ramai didatangi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tidak lengkap jika datang ke Kota Samarinda, tapi belum mengunjungi Desa Adat Pampang.<br><br>Berada di dekat desa terdapat sungai Pampang dapat diakses 1,5 jam dari Lamin Utama Desa Pampang. Sungai alami yang memiliki 3 air terjun dan banyak mata air serta kolam alam yang cukup besar. Sungai Pampang diapit Tebing yang indah dan bagus untuk foto. Selain itu kita masih bisa menjumpai pohon berakar banir yang cukup besar.<br><br>Hutan yang mengapit sungai masih alami dan membentuk kanopi yang membuat cahaya matahari tidak sampai ke dasar hutan. Beberapa tempat di sekitar tebing terasa seperti twilight zone karena cahaya matahari terhalang tebing yang tinggi. Bunyi berbagai jenis hewan menghiasi hutan. Banyak hewan liar seperti berang berang, monyet, serangga yang bisa dijadikan objek foto.<br><br>Menyusuri Sungai Pampang sambil berjalan kaki menyusuri tepi sungai bahkan berendam di aliran sungai sangat menyenangkan. Jalur tracking cukup mudah dan ramah untuk wisata keluarga segala umur. Akhir dari jalur penjelajahan, kita bisa menikmati keindahan air terjun dan berenang di kolam alam di bawah air terjun. Jangan lupa membawa bekal piknik dan bawa kembali sampahnya ke tempat sampah.<br>Hari Sabtu kalian bisa menjelajah Sungai Pampang dan air terjunnya yang Eksotis sehari penuh. di Homestay yang di kelola oleh Pokdarwis Pampang, disana bisa berbaur dengan kegiatan sehari-hari masyarakat Pampang yang rukun dan suka bergotong royong. di depan Lamin Adat ada pengeras Suara utuk menandai aktivitas yang akan dilakukan Warga secara bersama sama. Kita juga bisa belajar menganyam manik-manik khas Suku Dayak.<br><br>Untuk kegiatan di hari minggu. Hari Minggu, bagi yang beragama Kristen bisa ikut menghadiri kebaktian di Gereja Desa yang bentuknya unik dan penuh Ukiran Khas Suku Dayak. Setelah itu bisa melihat persiapan acara Pentas Seni yang rutin diadakan di Lamin Pemung Tawai untuk para wisatawan yang datang.<br><br>Desa Budaya Pampang mempunyai Pesona Adat dan Alam yang sayang kalian lewatkan saat berkunjung ke Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. inilah Objek Wisata Budaya Suku Dayak yang paling terdekat di Ibukota Negara yang baru (IKN)<br><br>SEKAR RAHAYU UNIVERSITAS MULAWARMAN</div>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/_3thE6TZ5vI" />
         <pubDate>2021-12-08 02:54:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fiqri18002/k06eut51dswtozs9/wish/1934983858</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
