<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perlawanan Rakyat Kalimantan by Hanum Mahya Amara</title>
      <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq</link>
      <description>Perang Banjar atau Perang Kalimantan berlangsung antara 1859 -1906 (menurut sumber Belanda 1859-1863). Konflik dengan Belanda sebenarnya sudah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Kesultanan Banjar. Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan, kekalutan makin bertambah. Pada tahun 1785, Pangeran Nata yang menjadi wali putra mahkota, mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II (1785-1808) dan membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad. Pangeran Amir, satu-satunya pewaris tahta yang selamat, berhasil melarikan diri lalu mengadakan perlawanan dengan dukungan pamannya Gusti Kasim (Arung Turawe), tetapi gagal. Pangeran Amir (kakek Pangeran Antasari) akhirnya tertangkap dan dibuang ke Ceylon (kini Sri Langka).</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-20 15:53:58 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-03-15 01:07:35 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Latar Belakang perlawanan</title>
         <author>hanumamara52</author>
         <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305257781</link>
         <description><![CDATA[<div>Yang melatar belakangi adanya perlawanan rakyat di kalimantan adalah :<br>1.	Monopoli perdagangan Belanda di Kalimantan yang merugikan pedagang pribumi.<br>2.	Intervensi Belanda yang ikut campur dalam urusan keluarga kerajaan.<br>3.	Keinginan Belanda menguasai Kalimantan yang kaya akan hasil tambang, seperti batu bara.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-20 15:59:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305257781</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Awal mulanya perlawanan</title>
         <author>hanumamara52</author>
         <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305266705</link>
         <description><![CDATA[<div>Perlawanan Rakyat Kalimantan berlangsung hampir selama setengah abad. Jenis perlawanannya pun terbagi menjadi dua corak, yakni ofensif (menyerang) dan defensif (bertahan).<br><br>Pertempuran ini berlangsung pada tahun 1859 karena Belanda ikut campur tangan terhadap pengangkatan raja di Kerajaan Banjarmasin. Hal ini pun ditentang oleh masyarakat dan juga bangsawan hingga menyebabkan perselisihan.<br><br>Diketahui, Belanda mengangkat pangeran Tamjidillah menjadi seorang sultan. Padahal, di sisi lain ada pangeran Hidayat yang dinilai lebih berhak namun hanya ditunjuk sebagai Mangkubumi sehingga memicu kemarahan rakyat untuk menyerang.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-20 16:04:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305266705</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tokoh perlawanan Rakyat Kalimantan</title>
         <author>hanumamara52</author>
         <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305271578</link>
         <description><![CDATA[<div>Perlawanan rakyat Kalimantan melawan Belanda dipimpin oleh pangeran Antasari. Ia memimpin pasukan rakyat untuk mengepung benteng Belanda di Martapura dan juga Pangaron.<br><br>Kemudian, ada juga Kyai Demang Loman dan pengikutnya yang bergerak di sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda. Sementara di pos Belanda Istana Martapura, Haji Nasrun juga melakukan penyerangan.<br><br>Pada bulan Agustus 1859, tiga tokoh setempat, Haji Buyasin, Kyai Lang Lang, dan Kyai Demang Loman bersama-sama menyerang benteng Belanda di Tabanio. Sedangkan, pangeran Hidayat tetap mengadakan perlawanan gerilya.<br><br>Sayang, di tahun 1862 pangeran Hidayat ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Cianjur. Sedangkan Pangeran Antasari diketahui meninggal dunia di tahun yang sama.<br><br>Selanjutnya, tokoh kepemimpinan dilanjutkan oleh Gusti Matsaid, Pangeran Mas Natawijaya, Tumenggung Surapati, Tumenggung Naro, Penghulu Rasyid, Gusti Matseman, dan Pangeran Perbatasari dengan melakukan perlawanan gerilya.<br><br>Perlawanan tersebut dilakukan menyebar ke berbagai wilayah guna menyulitkan Belanda. Diketahui, perlawanan itu berlangsung hingga awal abad ke-20 atau tahun 1905.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-20 16:07:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305271578</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Strategi perang (perlawanan) </title>
         <author>hanumamara52</author>
         <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305295377</link>
         <description><![CDATA[<div>Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menggunakan strategi perang gerilya dengan membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun benteng-benteng pertahanan di hutan-hutan. Semangat perlawanan dari persatuan rakyat Banjar dan Dayak diikat dengan relasi kekeluargaan dan kekerabatan melalui ikatan pernikahan. Ikatan tersebut melahirkan status pegustian dan temenggung yang menjadi sarana pemersatu dan solidaritas Banjar-Dayak menghadapi Belanda.[12]<br><br>Pangeran Antasari juga menggalang kerja sama dengan Kesultanan Kutai Kertanegara melalui kerabatnya di Tenggarong. Pangeran Antasari menyurati pangeran-pangeran lainnya dari Kutai seperti Pangeran Nata Kusuma, Pangeran Anom, dan Kerta. Mereka semua adalah mata rantai penyelundupan senjata api dari Kutai ke Tanah Dusun (Banjar). Namun, ketika Perang Banjar dilanjutkan oleh keturunan Pangeran Antasari, Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman tidak merespons positif permintaan bantuan dari Pangeran Perbatasari. Bahkan, Pangeran Perbatasari diserahkan kepada Belanda pada 1885.[12]<br><br>Benteng-benteng pertahanan yang terkenal di hulu dan hilir Teweh:<br><br>•Benteng Gunung Sulit<br>•Benteng Guyu<br>•Benteng Bayan Begok<br>•Benteng Liang Umbung<br>•Benteng Pangin<br>•Benteng Takko, dekat perbatasan Kutai<br>•Benteng Bamunan<br>•Benteng Terumbang<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-20 16:20:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305295377</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akhir perlawanan (perang) </title>
         <author>hanumamara52</author>
         <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305297732</link>
         <description><![CDATA[<div>Setelah Pangeran Hidayatullah tertangkap dan Pangeran Antasari wafat, perjuangan tetap berlanjut yang di pimpin oleh Gusti Mat Seman, Gusti Acil, Gusti Muhammad Arsyad, dan Antung Durrahman. Oleh pemimpin-pemimpin tersebut, rakyat masih bergerilya dengan se-sekali melakukan serangan kepada Belanda sampai awal abad ke-20.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-20 16:21:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305297732</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akibat perang (perlawanan) </title>
         <author>hanumamara52</author>
         <link>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305300481</link>
         <description><![CDATA[<div>•Bidang politik.<br>1. Daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Belanda.<br>2. Dibubarkannya negara Kesultanan Banjar.<br>•Bidang ekonomi<br>1. Dikuasainya tambang batubara dan perkebunan di daerah Kalimantan Selatan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-20 16:23:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hanumamara52/j95i71u2grj6ehq/wish/2305300481</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
