<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>batu bersurat terengganu  by NURUL SYAFIQAH</title>
      <link>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2017-11-25 04:22:17 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-11-18 00:01:44 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>hubung kait dengan undang- undang syariah</title>
         <author>193275</author>
         <link>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210000738</link>
         <description><![CDATA[<div>Islam juga memainkan peranan yang besar dalam sistem pemerintahan Melayu di Terengganu. Dari beberapa fakta sejarah yang ditemui, dapatlah ditegaskan bahawa Terengganu juga merupakan antara negeri-negeri di Tanah Melayu yang telah pun menerima Islam selewat-lewatnya pada abad ke-13 Masihi. Di atas Batu Bersurat Terengganu, terdapat bukti bahawa hukum Islam mengenai kesalahan berzina dilaksanakan di negeri itu sejak tahun 1303 Masihi lagi. Oleh itu, ternyatalah bahawa undang-undang Islam telah terlaksana di negeri tersebut, malah terbukti betapa pentingnya peranan Terengganu sebagai kawasan pengaruh Islam ketika itu. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui catatan Batu Bersurat mengenai hukum jenayah dan mu‛amalah Islam, seperti menerangkan kesalahan orang-orang yang mencuri, berzina dan perkara-perkara yang berhubung dengan hutang piutang.</div><div> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/233505144/f928ece3147aa3261f7c6343527b5f01/mss23.jpg" />
         <pubDate>2017-11-25 05:01:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210000738</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah perkembangan Islam di Nusantara</title>
         <author>193275</author>
         <link>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210001121</link>
         <description><![CDATA[<div>I. Peranan saudagar muslim dalam penyebaran agama Islam<br><br></div><div>Penyebaran Islam di Indonesia tidak terlepas dari peran saudagar muslim, ulama dan mubaligh melalui proses perdagangan, hubungan sosial dan pendidikan. Para ulama Jawa terkenal dengan sebutan “Wali 9”. Beberapa sejarawan menyebutkan, bahwa awal masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7, ada pula pendapat lain yang menyatakan pada abad 13. Agama Islam dibawa dan dikembangkan oleh para saudagar muslim dari Gujarat, Arab, dan Persia.<br>Agama ini diterima di Indonesia tidak hanya kalangan bangsawan tetapi juga tokoh masyarakat kepla suku dan para uleebalang (ketua adat). Agama Islam disebarkan dimulai dari daerah pesisir hingga ke daerah yang terletak di daerah terpencil (pedalaman).<br><br></div><div>Peranan walisongo dan ulama dalam penyebaran agama Islam<br><br></div><div>Penyebaran Islam di Pulau Jawa di koordinir oleh wali-wali melalui organisasi/dewan dakwah wali songo yang beranggotakan sembilan wali. Wali adalah seorang yang berkepribadian baik, dekat dengan Allah, mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pendapat lain wali adalah orang yang selalu dijaga oleh Allah dan senantiasa berbakti kepadaNya.<br>Pengembangan agama Islam di Jawa oleh wali 9 dilakukan sejak abad 14-16 M. Para wali 9 tersebut tidak hanya sebagai juru da’i tetapi juga berpengaruh besar dalam pemerintahan oleh karenanya mendapatkan gelar Sunan (Suguhanan, Junjungan), yaitu :<br><br></div><div>1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) Berasal dari wilayah Maghribi (Afrika Utra). Dia selama 20 tahun berada di Gresik mencetak kader, oleh karenanya dikenal sebagai sunan Gresik. Dialah yang dikenal sebagai pelopor penyebaran Islam pertama di Jawa.<br>2. Sunan Ampel (Maulana Rahmatullah). Permulaan dakwahnya dimulai dipesantren yang didirikannya di Ampel Denta (dekat Surabaya). Sunan Ampel juga dianggap sebagai penerus cita-cita dan perjuangan sunan Gresik.<br>3. Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim). Sunan ini berupaya menyesuaikan dakwahnya dalam hal pewayangan dan musik gamelan. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimat Syahadat (syahadatain atau sekaten).<br>4. Sunan Drajat (Maulana Syarifudin). Wali ini dikenal sebagai wali yang berjiwa dan sosial tinggi . Wali ini hidup pada masa kerajaan Mojopahit runtuh dan rakyat dalam krisis yang memprihatinkan. Dia juga menggunakan seni sebagai media dakwahnya, yaitu pangkur sebagai alat seni lipfak.<br>5. Sunan Giri (Maulana Umar Said). Aslinya bernama Raden Paku merupakan seorang wali yang menyebarkan agama Islam dengan menitik beratkan pada bidang pendidikan agama Islam.<br>6. Sunan Kalijaga (Maulana Muhammad Syahid). Wali ini dikenal sebagai budayawan dan seniman. Wali ini berdakwah dengan cara berkelana. Sarana dakwahnya adalah wayang kalif yang memuat nilai-nilai keislaman. Lagu yang diciptakannya adalah dandanggula.<br>7. Sunan Muria (Maulana Umar Said). Wali ini terkenal pendiam tapi fatwahnya sangat tajam, oleh karena itu dia dikenal sebagi seorang sufi, bahkan guru tasawuf. Dia juga menyukai seni nuasa keislaman. Dia juga menciptakan lagu sinom dan kinanti.<br>8. Sunan Kudus (Maulana Ja’far Shadiq). Wali ini mendapat gelar waliyul alim (orang yang luas ilmunya). Karena memiliki ilmu tauhid dan fikih. Oleh karenanya dikenal sebagai sunan Kudus. Dia membangun masjid di Kudus yang disebut Menara Kudus.<br>9. Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah). Wali ini menyebutkan Islam di Cirebon Jawa Barat. Ia cucu Raja Pejajaran yang lahir di Makkah – setelah dewasa menggantikan pamannya sebagai raja dan berhasil menjadikan Cirebon sebagai kerajaan Islam pertama di Jabar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-11-25 05:15:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210001121</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hubungan dan jalinan diplomatik dengan negara sekitar.</title>
         <author>193275</author>
         <link>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210001225</link>
         <description><![CDATA[<div>Hubungan perdagangan dan politik yang dijalin oleh Sultan Melaka, Parameswara dengan Maharaja Cina, Yung Lo pada 28 Oktober 1403 merupakan perhubungan dengan negara luar pertama pernah dibuat oleh seorang sultan di Tanah Melayu.  Laksamana Yin Ching yang diutuskan oleh Maharaja Yung Lo dari Dinasti Ming menjadi pengutus yang bertanggungjawab membuat persetujuan dagangan dua hala itu. Catatan sejarah menyebut, Parameswara (Sultan Iskandar Shah) merasa perlu menjalinkan persahabatan dengan negeri China yang terkenal dengan kuasa besarnya bagi mengelakkan negeri Melaka dari serangan neger-negeri yang berhampiran. |   |  Sultan Melaka sendiri telah meminta Negeri China menjadi penaungnya. Oleh itu, Melaka aman dari sebarang ancaman, terutama Siam. Perkahwinan Sultan Mansur Shah dengan Puteri Hang Li Po merupakan perkahwinan campur di negeri Melaka. Ia telah melahirkan suku kaum yang ada pada hari ini dikenali sebagai Baba Melaka yang kebanyakannya beragama Islam.  </div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/228985248/8236811494c801fb5ed6a1fddfc61919/1.jpg" />
         <pubDate>2017-11-25 05:18:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210001225</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Batu Bersurat Terengganu</title>
         <author>193275</author>
         <link>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210001266</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Batu Bersurat Terengganu dianggarkan berusia 700 tahun dengan ukiran paling tua dan ber</strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Tulisan_Jawi"><strong>tulisan Jawi</strong></a><strong> pertama ditemui di </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Malaysia"><strong>Malaysia</strong></a><strong> membuktikan Islam telah tiba ke </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Terengganu"><strong>Terengganu</strong></a><strong> pada 1303 Sebelum Masihi. Penemuan oleh </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Sayid_Husin_bin_Ghulam_al-Bokhari&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Sayid Husin bin Ghulam al-Bokhari</strong></a><strong> di tebing Sungai Tersat (Sungai Tara), Kampung Buluh di </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Kuala_Berang"><strong>Kuala Berang</strong></a><strong>, menjadi bukti dan teks pada batu mengesahkan agama </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Islam"><strong>Islam</strong></a><strong> sudah bertapak dan menjadi anutan masyarakat dan pemerintah di Terengganu.</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padletuploads.blob.core.windows.net/prod/228985248/2b4cbcca5638af458bb2d6ec55cb7a74/1.jpg" />
         <pubDate>2017-11-25 05:19:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/193275/io7vg1la6huo/wish/210001266</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
