<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>01. REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA by Si nyamin</title>
      <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub</link>
      <description>PPG IPS PRAJAB TAHAP 1 SEMESTER GANJIL 2022/2023 KELAS 01 - MENGUBAH PARADIGMA PEMBELAJARAN</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-11-07 13:23:59 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-11-27 13:31:53 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Petunjuk mengerjakan : (Nama, NIM, Asal Sekolah)</title>
         <author>nyaminsi</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2373074732</link>
         <description><![CDATA[<div>1. klik (+) di kanan bawah<br>2. Tulis nama, NIM, Asal Sekolah di kolom&nbsp; atas jawaban Anda<br>3. Tulis jawaban di kolom ke-2 (bawah), untuk semua jawaban.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-07 13:37:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2373074732</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawablah Pertanyaan berikut dalam kegiatan asinkronus</title>
         <author>nyaminsi</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2373109481</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD.</div><div>2.Bagaimana perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang pernah saya lakukan?</div><div>3.Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman</em>? &nbsp;</div><div>4.Bagaimanakah pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>yang pernah Anda lakukan?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-07 13:56:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2373109481</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sri Nuzulia NIM.(223174915510), UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author>nyaminsi</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2375729370</link>
         <description><![CDATA[<div>JAWAB</div><div>&nbsp;</div><div>1. Setelah mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya mengubah pola pikir. Anak didik bukanlah robot yang harus menurut. Saya memberikan tuntunan kepada anak&nbsp;</div><div>didik dengan lebih sabar dan ikhlas. Tidak memberikan hukuman yang tidak mendidik. Memberikan pembelajaran menyenangkan dengan mencoba berbagai model pembelajaran.</div><div>&nbsp;</div><div>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat terkait dengan konteks sosial budaya di daerah saya adalah terjad</div><div>inya pertukaran kebudayaan antar satu tempat dengan lainnya.&nbsp;</div><div>Pertukaran kebudayaan ini bukan berarti merubah atau menghilangkan kebudaayan&nbsp;</div><div>tersebut namun hal ini akan semakin menguatkan jati diri bangsa.</div><div><br>3.Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak akan lahir dari kodrat alam (potensi, bakat, kemampuan) yang berbeda-beda satu sama lain sehingga sebagai seorang guru kita diharapkan mampu membantu, memotivasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Sedangkan kodrat zaman lebih kepada bagaimana seorang gu</div><div>ru mampu membimbing anak memasuki abad 21, untuk itu seorang pendidik harus melek tehnologi serta memiliki keterampilan abad 21 dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.</div><div>&nbsp;</div><div>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak"&nbsp;</div><div>dengan peran saya sebagai pendidik adalah ketika saya melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. guru melaksanakan pembelajaran dengan&nbsp;</div><div>mempertimbangkan karakteristik masing-masing siswa yang akan melaksanakan&nbsp;</div><div>proses belajar dengan memberi kesempatan siswa untuk mengemukakan pendapat.&nbsp; Kemudian memberi kebebasan membangun sendiri pengetahuannya, tidak selalu mengikuti keinginan gurunya.</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-08 21:30:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2375729370</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mohammad Alvin Muzakki, 223174915554, UM Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2376322405</link>
         <description><![CDATA[<ol><li>Setelah saya mempelajari tentang filosopi Pendidikan Indonesia saya merasakan bahwa kita sebagai peserta didik tidaklah benar jika kita menganggap seorang anak itu seperti kertas putih yang tidak punya kemampuan apa – apa dan kita hanya menuntut anak sesuai denga napa yang kita harapkan, tetapi setiap anak mempunyai kemampuan special sendiri – sendiri dan kita sebagai pendidik bertugas untuk membuat kemampuan tersebut menjadi lebih baik dan bisa di kuasai peserta didik tersebut atau bisa dikatakan kita bertugas menebalkan garis mereka agar menjadi garis yang lebih tebal dan berwarna. Jadi bisa di katakana kita harus mengajar peserta didik yang sesuai dengan kemampuan, karateristik, minat dan gaya belajar mereka sendiri yang tetap mengedepankan kebutuhan peserta didik sendiri.</li><li>Perwujudan menununtun menurut saya jika diwujudkan dalam pendidikan anak yang relevan dengan konteks sosial budaya di daerah<strong> </strong>&nbsp;Kita harus bisa berusaha mempengaruhi karakter pada masing- masing dari peserta didik. Dalam membentuk karakter pesertadidik kita harus menunjukkan keteladanan, dan memberi contoh yang baik kepada peserta didik. Misalnya seorang guru yang mendidik muridnya harus menunjukkan contoh yang baik ketika berbicara, menyampaikan materi, bersosialisasi, bertoleransi, menghargai orang sekitar, memperkenalkan budaya yang ada pada daerah tersebut dan lain sebagainya. Pendidikan tersebut akan membentuk pribadi anak menjadi manusia yang paham mengenai budaya yang ada didaerahnya, menjadi pribadi yang&nbsp; baik suka menolong dan membantu sesama, serta bisa berguna bagi masyarakat sekitar, bangsa, dan juga negara.</li><li>Jika di lihat dari perkataan Ki Hadjar Dewantara yang menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Sehingga pendidik seharusnya mendidik anak dengan cara yang sesuai tuntutan alam dan zamannya sendiri dengan sesuai kebutuhannya. Kodrat alam merupakan kodrat yang berhubungan dengan lingkungan sekitar anak. Sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan perkembangan masa tersebut. Kodrat alam mencakup pada pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia. Sedangkan kodrat zaman pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21. Pendidik dapat menyesuaikan tuntunan kepada peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Selain itu, memahami karakter peserta didik yang berbeda-beda.</li><li>Menghamba kepada anak artinya kita melayani kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran sesuai dengan bakat dan kekuatannya masing-masing, jadi yang saya lakukan dengan cara mengajar sesuai dengan bakat dan karateristik peserta didik masing – masing, hal itu bisa di ketahui dengan test sumatif untuk mengetahui kemampuannya dan dari situ kita sebagai pendidik bisa membuat pengajaran yang sesusai dengan kebutuhan peserta didik sendiri – sendiri.<br><br></li></ol><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-09 07:01:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2376322405</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuril Dina Ahasyim (223174915529) Universitas Negeri Malang</title>
         <author>nurildina83</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2378100840</link>
         <description><![CDATA[<div>1. filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara membawa perubahan pemikiran saya sebagai seorang pendidik. sebelumnya pandangan terhadap peserta didik adalah belajar untuk menambah pengetahuan. setelah mempelajari topik ini pandangan saya adalah anak dilahirkan di dunia seperti selembar kertas putih yang sudah terisi tulisan penuh, tetapi tulisannya nampak buram dan tidak jelas. sebagai pendidik adalah tugas kita untuk menebalkannya.&nbsp;<br>2. proses "menuntun" yang dilakukan oleh pendidik sebagai pamong adalah proses memberikan arahan yang sesuai dengan kodrat yang dimiliki masing-masing.&nbsp; menuntun&nbsp; dilakukan dengan mengarahkan peserta didik sesuai dengan kodrat dibarengi dengan tuntunan sehingga arti "kebebasan" tidak diartikan sebebas-bebasnya, tidak menerima semua bentuk perubahan secara mentah agar arti "kebebasan" tidak menjadi bumerang bagi peserta didik, dengan membebaskan tanpa tuntunan ditakutkan adalah perolehan belajar melenceng dari nilai nilai sosial budaya di masyarakat.&nbsp;<br>3. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”. dalam mendidik Ki Hajar Dewantara menekankan agar sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. kodrat zaman berarti bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan masanya, pembelajaran pada tahun 2006 akan berbeda dengan pemnelajaran pada masa sekarang, dimana sekarang informasi begitu luas dan mudah tersebar hal ini lah kodrat zaman dalam pembelajaran perlu diterapkan agar pembelajaran yang didapat aktual. selain itu, kodrat alam harus dipertimbangkan, karena berhubungan dengan lingkungan dimana berada. pembelajaran yang tidak disesuaikan dengan kodrat alamnya akan menjadikan pembelajaran tidak tepat sasaran dan tidak bermakna. konten dan isi harus disesuaikan dengan nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat.<br>4. Pendidikan yang memerdekakan yang berpihak kepada murid adalah pendidikan dimana rangkain Proses Pembelajaran maupun pengajarannya selalu dapat membawa perubahan positif, yang dimana proses pendidikannya sendiri dilakukan secara humanis dan selalu berpihak kepada Murid sesuai pertimbangan akan keberadaan seorang murid sesuai keadaan pada Kodrat Zamannya dan Kodrat Alam. Seorang guru harus mampu menuntut dan mengembangkan potensi para murid dengan berlandaskan keberpihakan kepada murid, serta harus mampu mengakomodir kebutuhan dan perbedaan belajar masing-masing murid dalam mengekplorasi segala potensi murid. sebagai pendidik peran kita adalah memfasilitasi, dalam proses tersebut haruslah semua proses pembelajaran mempertimbangkan kondisi murid dengan harapan proses pembelajaran terlahsana dengan senang, nyaman, bermakna dan tanpa paksaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-10 06:20:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2378100840</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Santi Dwi Retno Eko Putro, NIM 223174915519, PPG Prajab IPS 01 Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2380360840</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>&nbsp;<br></strong><br></div><div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Sebagai guru, apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara?</strong></div><div>Konsep pemikiran KHD terkait pendidikan mulai dari “ing ngarso sung tulodho, ing masya mangun karsa, tut wuri handayani”, kodrat alam dan kodrat zaman, asas tri-kon, prinsip perubahan dna budi pekerti, dan yang lainnya sanagt menginspirasi saya untuk sangat menginspirasi dan menambah wawasan saya terkait konsep pendidikan yang seharusnya. Selain itu, melalui pemikiran KHD membangkitkan semangat saya untuk segera melakukan perubahan kearah yang lebih baik melalui pengembangan diri, dan peningkatan kompetensi, serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama di lingkungan sekolah.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan?&nbsp;</strong></div><div>Konsep pemikiran KHD ‘menuntun’ yaitu anak diberi suatu kebebasan dalam belajar namun guru atau pendiidk berperan sebagai ‘pamong’ dalam memberikan arahan dan tuntunan. Hal tersebut dilakukan agar peserta didik tidak kehilangan arah yang akan membahayakan dirinya. Guru sebagai seorang ‘pamong’ dapat memberikan sebuah tuntunan agar seorang peserta didik dapat menemukan kemerdekaan versi dirinya dalam belajar dengan tetap mengedepankan perilaku mulia, sikap, dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?&nbsp;</strong></div><div>KHD memiliki sebuah pemikiran bahwa dasar pendiidkan anak berhubungan dnegan kodrat alam dan kodrat zamnnya. Kodrat alam berkaitan dengan “bentuk” dan “sifat” lingkungan tempat anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan kekuatan, potensi, atau keadaan diri yang berubah secara dinamis sesuai dengan kondisi sosial, budaya masyarakat, atau perkembangan zaman. Ki Hajar Dewantara hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Selain itu, KHD juga menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Pendiidkan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman agar anak tersebut memiliki kemerdekaan belajar, keselamatan, dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang individu maupun anggota masyarakat.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Pemikiran KHD bahwa “pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak berarti seorang guru harus bisa ‘mengenali’ anak tersebut. Kegiatan mengenali yang dimaksud disini yaitu guru harus bisa mengetahui karakteristik anak muali dari gaya belajarnya, situasi sosial emosionalnya, hingga pendekatan-pendekatan yang bisa dilakukan. Langkah yang pernah saya lakukan yaitu tidak menempatkan diri saya sepenuhnya menjadi guru namun lebih sebagai teman si anak. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pendekatan sosial-emosional melalui mendengarkan keluh kesah, harapan, dan keinginan anak.&nbsp; Contoh nyata yang pernah saya lakukan ketika masih menjadi guru tidak tetap di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Malang yaitu sebelum memulai proses pembelajaran, saya tidak langsung menyampaikan materi pembelajaran namun melakukan kegiatan sharing, bertukar pendapat, bercurah pikiran tentang kondisi anak. Setelah itu, saya memberikan motivasi yang meyakinkan mereka terkait dnegan permaslaahan yang mereka alami.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-11 15:49:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2380360840</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Imam Bagus Mahadi (223174915635), Universitas Negeri Malang.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2380868819</link>
         <description><![CDATA[<ol><li>Saya merasa paradigma saya terhadap dunia pendidikan berubah. Perubahan tersebut adalah jika sebelumnya saya menganggap dunia pendidikan adalah dunia yang monoton dan membosankan. Namun, semakin kemari saya lebih memahami bahwa seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, pendidikan dapat menjadi lebih menarik dan bebas untuk dikreasikan sesuai dengan tingkat kreativitas kita sebagai gurunya, tidak statis dan membosankan, serta disesuaikan dengan tahap perkembangan siswanya.<em> </em>Hal tersebut sesuai dengan filosofi pendidikan yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara di sekitar satu abad&nbsp; silam. Bahwa pendidikan adalah memerdekakan siswa, bukan malah membelenggunya.&nbsp;</li><li>Saya meskipun belum pernah memiliki pengalaman mengajar secara formal di institusi pendidikan, namun kegiatan ‘menuntun’ tentu pernah saya lakukan. Contoh sederhananya ketika saya memberikan teladan yang baik untuk dua adik saya yang masih duduk di jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Atas. Teladan baik dalam hal norma-norma kesopanan, menghargai orang lain, dan banyak lagi. Contoh tersebut masuk dalam kriteria ‘menuntun’, sebagaimana halnya kita sebagai guru dalam menuntun siswa di sekolah. Menuntun berarti mengarahkan atau membimbing sesuai dengan bekal yang telah dibawa oleh siswa tersebut agar dapat mencapai tujuannya.&nbsp;</li><li>Ki Hadjar Dewantara memberikan penekanan bagi para pendidik untuk mendidik siswa sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Kodrat alam dalam pendidikan berarti dalam memberikan pembelajaran kepada siswa harus mempertimbangkan lingkungan sosial dan budaya yang berlaku di tempat tersebut agar pembelajaran yang diberikan dapat tepat sasaran dan benar-benar bermakna bagi peserta didik tersebut. Sedangkan kodrat zaman dalam pendidikan berarti pembelajaran yang diberikan harus bersinggungan dengan fenomena-fenomena aktual yang terjadi di sekitar lingkungan keseharian dan lingkungan belajar siswa, serta mengikuti perkembangan zamannya. Pendidikan Indonesia perlu untuk mempertimbangkan kedua poin tersebut tidak lain untuk keperluan memberikan pembelajaran yang benar-benar dapat merasuk kedalam diri siswa.&nbsp;</li><li>Pendidikan yang berhamba pada anak berarti pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga pembelajaran di dalamnya menjadi pembawa perubahan-perubahan positif dalam diri anak. Sebagai guru perlu untuk meninjau kesiapan belajar siswa untuk dapat memberikan pembelajaran yang tepat sasaran. Peninjauan kesiapan belajar tersebut bermuara pada guru yang kemudian akan dapat mengakomodir dan membimbing perkembangan potensi-potensi dalam diri siswanya. Guru di abad ini diarahkan untuk berperan lebih sebagai fasilitator untuk siswanya dalam belajar. Sebagai fasilitator berarti guru menjadikan proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan nyaman.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-12 07:54:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2380868819</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Asma Kumalasari, NIM 223174915548, PPG Prajab IPS 01 Universitas Negeri malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381204457</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Sebagai guru apa yang anda rasakan setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara?</strong><br>Ki Hajar Dewantara membedakan kata pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan tujuan pendidikan. Menurut KHD, pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau faedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan, pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, saya merasa bahwa sebagai guru kita tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik tetapi lebih dari itu kita juga harus dapat menuntun mereka dengan segala potensi yang dimilikinya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan dan menjadi manusia yang berbudi luhur dan berbudaya dalam arti seluas-luasnya. Setiap peserta didik memiliki kekuatan-kekuatan yang memerlukan tuntunan orang dewasa. Kita tidak bisa mengubah kodrat peserta didik, yang bisa kita lakukan adalah menuntun mereka supaya mereka terlindungi dari pengaruh-pengaruh yang dapat menghambat bahkan melemahkan tumbuhnya potensi atau kekuatan dirinya.<br><br><strong>2. Bagaimana perwujudan "menuntun" yang pernah Anda lakukan?</strong><br>Saya pernah mengajar mengaji di TPA tempat tinggal saya. Saya juga pernah melatih PMR-Madya di salah satu MTs di Singosari Malang. Saya melatih anak-anak yang mempunyai minat dan bakat dalam hal kepalangmerahan. Materinya meliputi pertolongan pertama, donor darah, kesehatan remaja dan siaga bencana. Selain melakukan latihan rutin setiap seminggu sekali, kami juga memfasilitasi mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai macam acara di kampus untuk PMR seperti, latihan gabungan dan kompetisi. Mengajar di bimbingan belajar hingga lembaga sekolah. Kemudian, saya pernah melatih MC untuk acara purnawiyata di sekolah tempat saya mengajar. <br><br><strong>3. Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong><br>Karena Indonesia merupakan pulau yang sangat luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Peserta didik yang berada di Indonesia Barat berbeda dengan peserta didik yang ada di Indonesia Timur maupun tengah. Lingkungan mereka tumbuh sangat mempengaruhi karakteristik peserta didik tersebut. Kodrat alam Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan dan musim kemarau) serta bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup. Selain itu, KHD juga menegaskan bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan zamannya. Kenapa? karena cara belajar dan interaksi peserta didik Abad ke-21 sangat berbeda dengan para peserta didik pada pertengahan dan akhir abad ke-20. Sekarang semua serba digital dan bersandar pada teknologi. Pengaruh kebudayaan luar juga sangat kental. Maka sebagai guru kita perlu memperhatikan dua hal tersebut yaitu kodrat alam dan kodrat zaman.<br><br><strong>4. Bagaimanakah pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" yang pernah Anda lakukan?</strong><br>Menghamba pada anak dimaknai sebagai rasa penghargaan guru terhadap siswa sebagai manusia yang memiliki kodrat bawaan dari sang pencipta dan juga terlahir dari zaman yang dinamis<strong>. </strong>Yang pernah saya lakukan yaitu memfasilitasi peserta didik untuk membuat peta konsep sesuai dengan kreativitas dan kemampuannya untuk merangkum materi pelajaran. Saya membebaskan mereka untuk mencari materi pelajaran dari berbagai sumber yaitu buku dan internet. Saya mencoba menerapkan tidak hanya satu metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-12 20:35:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381204457</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sherly Indah Tri Kurnia S. (223174915537) Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381247109</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Sebagai guru, apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara?</strong></div><div><strong>Jawab:</strong></div><div>Sebagai guru yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu mendapat pengetahuan baru mengenai pemikiran – pemikiran KHD yang membangun serta membawa perubahan bagi pendidikan di Indonesia. Berikut beberapa pemikiran KHD yang <em>pertama </em>pendidikan dan pengajaran merupakan sebuah usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia. Artinya untuk membentuk dan menciptakan kehidupan yang jauh lebih baik pendidikan menjadi salah satu peran penting. <em>Kedua </em>pendidikan adalah tempat persamaian benih-benih kebudyaan dalam masyarakat. Artinya pendidikan merupakan tempat tumbuhnya sebuah kebudayaan dalam kehidupan. <em>Ketiga </em>pengajaran bertujuan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak. Artinya hal tersebut bertujuan untuk mengantarkan peserta didik dengan selamat serta mencapai kebahagiaan. <em>Keempat </em>pendidikan harus terbuka terhadap segala perubahan. Artinya pendidikan bersifat lentur dimana dapat menerima sebuah perubahan kea rah positif di era perkembangan zaman saat ini. <em>Kelima</em> pendidikan berkaitan dengan kodrat alam dan zaman. Kodrat alam diartikan sebagai asal lingkungan tempat tinggal peserta didik. Sedangkan kodrat zaman dapat diartikan sebagai perubahan yang terjadi dengan diukur dalam segi waktu. <em>Keenam </em>pendidikan budi pekerti yang berarti menekankan pada karakter peserta didik.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah anda lakukan?</strong></div><div><strong>Jawab:</strong></div><div>Perwujudan ‘menuntun’ merupakan segala kodrat yang terdapat pada peserta didik. Hal tersebut bertujuan untuk membimbing peserta didik mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Berdasarkan hal tersebut kata menuntun dapat diartikan bahwa guru harus dapat mengantarkan serta melayani peserta didik dengan karakteristik yang berbeda namun harus tetap semua berpusat pada kebutuhan peserta didik. Meskipun dalam kurikulum merdeka peserta didik diberi kebebasan namun tetap guru memiliki peran penting untuk mengarahkan serta membimbing peserta didik supaya tidak mengambil langkah yang tidak sesuai. Konteks bebas disini bukan dilepas tanpa pengawasan namun tetap dalam pengawasan dan dibimbing. &nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div><strong>Jawab:</strong></div><div>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam dapat diartikan sebagai asal tempat tinggal, budaya, maupun kondisi geografisnya. Kodrat alam menekankan pada karakter yang dimiliki anak sejak lahir. Sehingga atas dasar tersebut guru memiliki tuntutan untuk menjadi contoh serta teladan yang baik bagi peserta didik. Disisi lain untuk kodrat zaman berarti bahwa pendidikan harus dapat menyesuaikan perubahan dari waktu ke waktu. Seorang pendidik memiliki tuntutan untuk menambah pengetahuan berdasarkan perkembangan zaman sehingga mampu menyesuaikan diri dengan peserta didiknya. Dalam konteks pembelajaran guru membuat sebuah model serta media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.&nbsp; Berdasarkan keterangan di atas hal tersebut menjadi latar belakang perlunya mempertimbangkan kodrat alam dan zaman. &nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div><strong>Jawab:</strong></div><div>Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak memiliki arti bahwa pendidikan harus mampu berpusat berpikir pada peserta didik serta mampu memanusiakan serta memerdekan. Setiap peserta didik memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda – beda. Sehingga dalam proses pembelajaran guru harus mampu menciptakan suasa yang menyenangkan serta dapat memenuhi kebutuhan peserta didik yang berbeda. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu peserta diberi kebebasan untuk mengeksplor atau mengembangkan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat membentuk potensi diri peserta didik.&nbsp;</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-12 22:57:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381247109</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nasihatul Mila (223174915501) Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381350124</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD?</strong></div><div>Saya perlahan lebih paham hakikat dari pendidikan itu sendiri lewat filosofi Ki Hajar Dewantara. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat menjunjung tinggi pendidikan budi pekerti, pendidikan yang humanis yang menghargai kebebasan dan kemerdekaan anak, yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya setempat, menjunjung tinggi rasa kebangsaan, nasionalisme, dan semangat patriotisme.</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan?</strong></div><div>Di dalam melakukan pembelajaran, ketika murid-murid saya kurang paham mengenai materi yang bisa dibilang kompleks dan abstrak, saya biasanya memberi stimulus kepada mereka berupa contoh nyata yang lebih sederhana dan dekat dengan murid. Misalnya, mengenai materi globalisasi, saya akan memberi contoh penggunaan smartphone, internet, media sosial yang di mana hal-hal tersebut sangat dekat dengan murid, lalu kita bisa mengaitkan hal-hal tersebut dengan materi yang akan dipelajari.</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan </strong><strong><em>kodrat alam </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>kodrat zaman?</em></strong></div><div>Karena yang dimaksud dengan kodrat alam itu sendiri merupakan kekuatan, potensi, keadaan diri yang secara alamiah melekat pada diri individu, dalam hal ini perlu sekali kita sebagai pendidik memperhatikan kodrat alam yang sudah dimiliki oleh setiap individu (peserta didik), karena pada kenyataannya setiap peserta didik mempunyai karakteristik dan keunikan tersendiri yang perlu dikembangkan. Di samping itu, kodrat zaman yang merupakan kekuatan, potensi, keadaan diri yang berubah secara dinamis sesuai kondisi sosial budaya masyarakat dan perkembangan zaman juga patut untuk diperhatikan, setiap masa mempunyai perbedaan, kita harus bisa menyikapi segala hal dengan memperhatikan perkembangan zaman, dengan begitu kodrat alam dan kodrat zaman dapat berjalan beriringan.</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “</strong><strong><em>Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak</em></strong><strong>” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Sesuai dengan nasehat yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara “Didiklah anak-anak kita dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya”. Di mana dalam nasehat tersebut jelas, kita sebagai pendidik harus bisa mendidik peserta didik sesuai dengan alam (bakat) nya. Dalam hal ini, saya pernah memberi tugas menganalisis sebuah gambar tentang materi globalisasi, di mana pada saat itu saya membebaskan mereka untuk mendemonstrasikan tugas mereka dengan produk seperti apa, ada yang membuat rangkuman, ada yang membuat poster, dan ada yang membuat mind mapping.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 05:15:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381350124</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kuntari Hardianti (223174915515), Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381417694</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Sebagai guru, apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara?</strong></div><div>Jawab:</div><div>Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan KHD, saya menyadari bahwa teori tabularasa itu sudah tidak relevan lagi. Karena setiap individu anak sejak lahir sebenarnya sudah memiliki bakat dari turunan gen kedua orang tuanya. Namun, bakat itu masih ibarat tulisan samar pada selembar kertas. Sehingga peran seorang guru dan juga orang tua adalah menuntun anak, mengarahkan dan membantunya untuk menebalkan tulisan tersebut, membantu anak untuk mengasah bakatnya. Sebagai seorang guru, saya juga menyadari bahwa setiap anak ini berbeda, mereka unik dengan kelebihan dan bakatnya masing-masing. Guru tidak boleh memaksakan semua anak harus bisa mengusai materi tertentu. Sehingga guru perlu menyiapkan pembelajaran yang berpihak kepada siswa seperti menggunakan pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan dengan karaktersitik siswa.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimana perwujudan “menuntun” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Jawab:</div><div>Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan ketika saya mengajar di SMPN 1 Kesamben. Pertama, ketika saya menjadi wali kelas, ada beberapa anak yang jarang masuk sekolah dan tidak bersemangat saat di kelas. Saya mencoba melakukan pendekatan secara emosional. Mengajaknya bicara apa yang dia rasakan selama di sekolah, apa yang dia inginkan,&nbsp; aktifitas apa yang biasa dia lakukan. Dan saya mencoba untuk memberi semangat dan dukungan kepada anak ini. Sehingga anak ini di kemudian hari mau masuk ke sekolah dan mengikuti pembelajaran.</div><div>Kedua, ketika saya mengetahui salah satu siswa saya pandai dalam membuat fideografi. Saya menawarkan anak tersebut untuk bergabung dalam ekstrakuriler jurnalistik, karena dalam ekstrakurikuler ini banyak kegiatan terkait fideografi, disini anak tersebut dapat mengasah skillnya. Anak tersebut akhirnya bergabung dan sekarang dipercaya untuk membuat banyak projek video dari sekolah.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div>Jawab:</div><div>Karena pendidikan di Indonesia harus terus bergerak dan berubah sesuai dengan tuntutan zamannya. Namun, pergerakan atau perubahan tersebut harus disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan alam dengan tempat tinggal manusia, seperti karakteristik orang yang tinggal di wilayah dataran rendah dengan dataran tinggi itu berbeda sifat dan karakternya, begitupun dengan yang wilayahnya 4 musim dengan yang 2 musim, karakterya juga berbeda. Kodrat zaman, berarti walaupun alamnya sama, namun zamannya bebeda dari tahun ke tahun dan memiliki tantangannya masing-masing. Tantangan kita pada zaman ini adalah bagaimana menghadapi zaman revolusi industry 4.0. Jadi pergerakan atau perubahan dalam dunia pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, yaitu mengikuti perkembangan zaman namun tetap memegang nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Jawab:</div><div>Sebagaimana pemikiran KHD tentang pendidikan yang “berhamba” atau berpihak pada anak maksudnya adalah pendidikan yang berpusat pada anak dan guru melayani siswa. Pendidikan yang berpihak kepada siswa yaitu kegiatan pembelajaran yang disesuikan dengan kebutuhan siswa. Guru juga memberi keleluasaan kepada siswa untuk dapat menggali informasi atau ilmu pengetahuan dari berbagai sumber yang siswa sukai, namun tetap dengan bimbingan dan arahan guru agar terarah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 09:03:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381417694</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Camelia Analisa Putri (223174915505) UNIVERSITAS NEGERI MALANG </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381512833</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD?</strong><br>Saya merasa lebih open minded untuk memperbaiki pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pemikiran KHD yang menganggap bahawa peserta didik itu bukan kertas kosong, tapi kertas yang sudah ada isinya yaitu kodrat alam. Maka kita sebagai guru hanya bertugas menebalinya. Pembelajaran dulu dan sekarang sangat berbeda. Kita sebagai guru harus berupaya meng-<em>upgrade </em>ilmu yang kita miliki sesuai dengan kodrat zaman. Agar ada pembelajaran bermakna yang dirasakan peserta didik karena konstektual. <br><strong>2. Bagaimana perwujudan "menuntun" yang pernah saya lakukan?</strong><br>Tugas guru adalah menjadi pengajar dan pendidik. Dua tugas yang harus dilaksanakan secara beriringan. Guru hanya bertugas menuntun siswa, yaitu dengan memberi contoh, memberi motivasi, dan memberi semangat. Misalnya dalam pembelajaran ada apersepsi dan motivasi yang bisa dikaitkan dengan materi yang sedang dipelajari. Contoh lain ketika ada sampah yan berserakan, kita bersama siswa membereskannya. jadi tidak hanya menyuruh tapi juga memberi contoh langsung. <br><strong>3. Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong><br>Agar kedua kodrat berjalan beriringan dan seimbang. Masing-masing individu mempunyai atau mengalami kedua kodrat tersebut. Yang harus ditempatkan sesuai porsinya. Kodrat alam adalah potensi atau karakter yang sudah dimiliki setiap individu sejak lahir. Sedangkan kodrat zaman yaitu kemampuan individu untuk beradaptasi dengan linkungan masyarakat atau sosial. <br><strong>4. Bagaimanakah pemikiran KHD mengenai " Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak " yang pernah anda lakukan? </strong><br>Pendidikan yang menghamba pada anak&nbsp; menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi untuk membangun <em>habit</em> anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahuan, suka dan senang membaca. Pembelajaran yang seperti ini sekaligus dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan di era mendatang seperti kreativitas, inovatif, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, daya nalar yang tinggi, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim, serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan. yang pernah saya lakukan ketika OSN IPS kita sebagai guru memfasilitasi anak untuk belajar sesuai dengan caranya, kita hanya mendampingi dan mengarahkan anak untuk &nbsp; belajar kisi-kisi terkait OSN. Contoh lain misalnya dalam tugas kelompok, kita memberikan anak pilihan untuk mengerjakan tugas kelompok sesuai kreativitas mereka dengan tema yang ditentukan berupa video, poster, gambar, mind mapping, canva, ppt, tulisan, dan lain-lain.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 12:38:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381512833</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syahrun Nazulal Quro&#39;in, 223174915521, Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381529183</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki hadjar Dewantara?</strong><br>Setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD ada beberapa hal yang dapat saya ambil pelajaran: <br>a. Betapa pentingnya peran seorang Guru, karena untuk mencapai kebudayaan yang kita mimpikan, peradaban yang kita cita-citakan pendidikan adalah pondasinya.<br>b. Sebelum mempelajari filosofi KHD saya berfikir bahwa jika sekolah maka materi atau ilmu pengetahuan semua berasal dari guru, sedangkan setelah mempelajari filosofi KHD saya sadar bahwa untuk menjadi manusia merdeka, maka saya harus dapat bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir maupun batin dan tidak bergantung pada orang lain. Murid yang merdeka adalah mereka yang mengenal diri dan berdaya menentukan tujuan belajar yang relevan dan kontekstual terhadap diri dan lingkungannya.<br>c. Dalam Pemikirannya KHD menyebutkan "Pendidik menuntun tumbuh/hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuh kekuatan kodrat anak". hal ini membuat saya sadar bahwa tidak benar bahwa anak dianalogikan sebagai kertas putih (tidak memiliki kemampuan apa-apa) akan tetapi semua anak memiliki modal awal dan tugas kita sebagai seorang pendidik adalah menuntun agar kemampuan anak bisa berkembang lebih baik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.<br><br><strong>2. Bagaimana Perwujudan "menutun" yang pernah saya lakukan</strong><br>Contoh perwudjudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah Di sekolah saya mengajar terdapat anak yang suka bermain game. dan kecenderungannya suka ngomong kasar karena terbiasa saat bermain game. setelah saya amati lebih lanjut ternyata anak ini juga mempunyai ketertarikan dengan IT (komputer). hal yang sering saya lakukan kepada anak ini adalah menegur saat dia menggunakan omongan yang tidak baik atau kasar, menghukum serta memberi contoh berbicara dengan baik dapan. untuk kecenderungannya menyukai IT saya merekomendasikan dia untuk mengikuti ekstrakulikuler IT yang baru dibentuk oleh sekolah. dan ternyata hal ini berhasil selama satu semester perkembangan IT anak ini meningkat pesat dan bahkan oleh guru ektra IT dia ditunjuk sebagi mentor. Ditengah kesibukannya saya juga tetap mengingatkan agar dia tidak lupa dalam menjaga sholat 5 waktu.<br><br><strong>3. Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br></strong>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan Kodrat alam karena agar penerus bangsa indonesia (peserta didik) tidak kehilangan ciri khas atau nilai-nilai luhur bangsa. karena kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada. Selain itu dengan memperhatikan kodrat alam maka dita dapat memaksimalkan potensi peserta didik. selain kodrat alam maka harus memperhatikan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini&nbsp; menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21. hal ini harus&nbsp; dilakukan sebagai bekal kepada peserta didik untuk membekali mereka dimasa yang akan datang.<br><strong><br>4. Bagaimana Pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" yang pernah anda lakukan?<br></strong>Pendidikan yang berpihak kepada anak berarti mendidik sesuai kodratnya artinya setiap peserta didik memiliki kekuatan sendiri-sendiri. contoh yang pernah saya lakukan sebagai wujud pendidikan yang berpihak pada anak adalah memulai pembelajaran dengan melakukan asesmen diagnosis sehingga faham kemampuan awal atau pemahaman awal siswa. setelah itu melakukan pembelajaran sebagaimana biasanya, akan tetapi dalam penilaian saya lebih menekankan pada proses, sejauh mana usaha anak dalam meningkatkan pengetahuan dari pengatahuan awalnya.<br>contoh berikutnya adalah setiap anak memiliki gaya belajar sendiri-sendiri yang biasa kita kenal (Visual, Auditory dan kinestetik) pada pembelajaran interaksi sosial pada tugas terakhis saya memberi kebebasan mereka untuk mengemukakan hasil belajar mereka sesuai denga apa yang mereka inginkan bisa dalm bentuk PPT, Vidio dll</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 13:10:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381529183</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lintang Atika Tifani, 223174915530, Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381607318</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Sebagai Guru, Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara ?</strong></div><div>Jawab :</div><div>Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara memberikan wawasan yang lebih terbuka dan peka terhadap perkembangan zaman. Berdasar filosofi tersebut, kita dapat mengetahui bahwasanya Pendidikan pada masa kolonial jauh berbeda dengan Pendidikan masa sekarang. Pendidikan pada masa kolonial tidak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses belajarnya, sebaliknya peserta didik cenderung pasif. Perjalanan Pendidikan sejak masa itu senantiasa berkembang, harapan yang terkandung dalam filosofi tersebut sangat mulia. Peserta didik diharapkan mampu mencapai suatu perubahan sehingga dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Oleh sebab itu seorang guru hendaknya memiliki kemampuan dalam mengajar dengan memegang semboyan&nbsp; ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Jawab :</div><div>Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan sebagai seorang tenaga pendidik yakni berupaya memberikan motivasi belajar peserta didik melalui pendekatan emosional. Pada jenjang SMA/MA dikelas 12, peserta didik cenderung memiliki kebimbangan dalam hal menentukan tujuan setelah menyelesaikan Pendidikan di bangku sekolah. Sehingga pada saat itu saya mencoba untuk memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksikan minat dan cita-cita yang mereka inginkan. Setelahnya saya membantu peserta didik dengan memberi fasilitas berupa informasi perguruan tinggi maupun ragam profesi yang berhubungan dengan minat peserta didik dengan menyisipkan motivasi untuk dapat terus belajar dimanapun tempatnya.&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong>&nbsp;</div><div>Jawab :</div><div>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dikarenakan kedua hal tersebut sangat berpengaruh bagi perkembangan Pendidikan di Indonesia. Kodrat alam itu sendiri dapat diartikan sebagai karakteristik peserta didik yang didapatkan sejak ia lahir. Kodrat alam tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya peserta didik itu berasal. Sedangkan kodrat zaman merupakan perubahan waktu dari masa ke masa. Kedua hal tersebut diperlukan dalam Pendidikan karena hendaknya Pendidikan tersebut dapat memberikan wawasan bagi peserta didik sesuai dengan kebutuhan di masa sekarang dan selaras dengan budaya yang ada pada lingkungan ia tinggal.</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Jawab :</div><div>Pendidikan yang berpihak kepada anak yang pernah saya lakukan ialah mencoba memberikan variasi media dalam proses pembelajaran. Karena berdasar gaya belajar peserta didik pada umumnya dalam satu kelompok belajar memiliki beragam gaya belajar. Sehingga saya berusaha untuk memberikan proses belajar yang menarik bagi seluruh peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajarnya.</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 15:15:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381607318</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MOHAMMAD NAUFAL ZABIDI (223174915503) UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381608825</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; <strong>Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filofosi pendidikan Ki Hajar Dewantara?</strong></div><div>Saya mendapatkan ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya mengenai filosofi pendidikan indonesia yang berpijak pada tokoh Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau merupakan sosok teladan yang sangat inspiratif tentang hakikat pendidikan Indonesia dengan memerdekaan manusia sebagai pondasi untuk perubahan bangsa. Saya meyakini dengan ilmu yang dapatkan pada mata kuliah ini akan bermanfaat untuk masyarakat dan negara. Serta nilai keteladan yang telah diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara mengenai karakter, jujur dan bertanggung jawab dalam mengambil posisi strategis untuk pendidikan di Indonesia harus kita wujudkan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia. Saya termotivasi mengikuti mata kuliah ini sebagai bekal untuk menjadi seorang guru yang professional melalui PPG Prajabatan. Guru merupakan profesi yang sangat mulia, yang dipercaya sebagai masinis dalam perubahan bangsa dan turut serta dalam memajukan sumber daya manusia.</div><div><strong>2.</strong> <strong>Bagaimana Perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan?</strong></div><div>Saya merasakan pengalaman yang sangat bermakna tentang perwujudan “<strong>menuntun</strong>” saat saya menjadi guru di SMP Darul Ulum Waru. Hal yang saya lakukan ialah saya harus memberikan pembelajaran yang bermakna kepada peserta didik dan memberikan ruang kebebasan berpikir kepada peserta didik untuk melatih keterampilan bertanya. Bertanya merupakan indikator dalam berpikir kritis, saya juga membangun iklim pembelajaran yang mendidik dengan mengupayakan sistem menuntun dalam proses pendidikan anak yaitu memberi tuntunan dan arahan dengan tujuan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya ketika secara bebas mengeksplorasi lebih banyak pengetahuan serta mengembangkan bakat dan minatnya. Hal ini sangat relevan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.</div><div><strong>3. Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div>Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Kodrat alam merupakan kondisi anak sejak lahir yang dipengaruhi kultur budaya dan lingkungan tempat anak berada dan kodrat zaman adalah perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu sehinga anak berhak mendapatkan pendidikan dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya sendiri. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti</div><div><strong>4. Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan?</strong></div><div>Menghamba kepada peserta didik bisa dikatakan dengan memahami dan memenuhi segala kebutuhan peserta didik dalam konteks pembelajaran agar pembelajaran yang tersaji dapat berpusat kepada peserta didik. Saya pernah menjadi guru di SMP Darul Ulum Waru yang saya lakukan ialah memfasilitasi mereka untuk berpikir secara akademik dan ilmiah tentang apa saja yang pernah ia rasakan selama kehidupan berlangsung serta menyesuaikan karakteristek peserta didik. Jika, ada peserta didik yang kurang konsentrasi dalam belajar berlangsung hal yang saya lakukan dengan menggunakan pendekatan individual (evaluasi diri) untuk mengetahui kesiapan belajar dan bertanya apa yang membuatnya kurangnya bahagia selama kegiatan berlangsung. Sehingga sebagai guru harus membuat siswa lebih bergairah untuk memberikan stimulus dan kreativitas dalam materi pembelajaran berlangsung. Selain itu, hal yang saya lakukan yaitu tidak adanya diskriminasi antar siswa. Saya selalu percaya bahwa setiap anak akan jenius pada waktunya. Label siswa yang “malas, bodoh, dan jail” itu saya tidak pernah mengucapkannya. Berpijak pada pandangan KH Maimun Zubair “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah”. Oleh sebab itu, saya selalu berpikir optimis, positif dan berpihak kepada peserta didik dengan asumsi dari Ki Hajar Dewantara yakni “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak”.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 15:18:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381608825</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ALVIN NURMA HIDA (223174915504) UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author>alvinnurmahida</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381613737</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Kegiatan dari membaca pemikiran dari Ki Hajar Dewantara membuat saya memahami betul bagaimana seharusnya saya menjadi seorang pendidik. Karena dengan kesadaran diri saya menjadi pendidik maka saya akan betul-betul melaksanakan proses Pendidikan yang bermanfaat bagi peserta didik. Beberapa pemikiran Ki Hajar Dewantara membuat saya sadar bahwa setiap peserta didik mempunyai kodratnya masing-masing. Ki Hajar Dewantara mendefinisikan Pendidikan sebagai “tuntunan” yaitu tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid. Kita sebagai pendidik tidak dapat memaksakan atau mengubah kodrat setiap peserta didik. Yang bisa kita lakukan adalah menuntun jalannya kodrat peserta didik, supaya mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, supaya mereka bisa menemukan jati diri mereka, dan agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakan<br><br></div><div>2. Kegiatan menuntun peserta didik yang pernah saya lakukan adalah ketika saya diberi tanggungjawab dalam menjadi pengajar BTQ disekolah saya. Karena pada dasarnya latarbelakang siswa SMP didaerah saya ketika sudah memasuki masa remaja, mereka enggan untuk tetap mengikuti sekolah TPQ ditempatnya, sehingga rata-rata siswa saya sudah berhenti belajar mengaji. Sehingga ini menjadi tugas kami sebagai pendidik yang diberi kepercayaan lebih untuk bisa memberikan pendidikan kepada siswa disekolah kami terutama dalam Pendidikan BTQ ini. Proses saya dan teman-teman menuntun peserta didik adalah melakukan tes membaca dan menulis Al-Quran. Dari hasil tes, kemudian kami petakan menjadi 8 kelas dengan pembagian kelas belum mahir, sampai kelas mahir. Kemudian tugas kami adalah mengajari siswa sesuai dengan jenjang kelasnya. Jika siswa berada dalam kelas belum mahir, maka kami harus mengajarinya dari nol sampai benar-benar siswa tersebut memiliki progress yang lebih baik dari sebelumnya. Harapan kami sebagai pendidik, ketika siswa lulus nanti mereka sudah berada pada progress yang mahir dan bisa menjadikan membaca Al-Quran menjadi kebiasaan siswa sehari-hari meskipun dilakukan dirumah.<br><br></div><div>3. Dengan adanya pengetahuan tentang kodrat alam dan kodrat zaman. Guru bisa memiliki arahan dalam menuntun peserta didik menuju kemandirian dalam proses belajar. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk pribadi yang lebih mandiri dengan harapan peserta didik bisa menjadi seorang yang mandiri tidak bergantung pada orang lain, menjadi peserta didik yang mampu mengatur dirinya sendiri. Sehingga ketika peserta didik dihadapkan dengan berbagai permasalahan, peserta didik mampu mengatasi permasalahan hidupnya sendiri tanpa harus membawa orang lain masuk ke dalam permasalahannya.&nbsp;<br><br></div><div>Kodrat zaman memberikan pemahaman ide dan gagasan bagi kita untuk bisa memperhatikan peserta didik melalui pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pada saat ini peserta didik ditekankan kepada kemampuan untuk memiliki ketrampilan abad 21. Dalam mencapai ketrampilan abad 21 guru harus menekankan proses pembelajaran dengan melibatkan unsur berpikir tingkat tinggi, kemudian melibatkan teknologi sebagai sumber belajar yang efektif yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperluas network dan meningkatkan wawasan global peserta didik.<br><br></div><div>4. Menurut KHD pendidikan adalah memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. pada implementasi kurikulum merdeka, peserta didik diharapkan menjadi manusia yang merdeka yaitu manusia yang lahir batinnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Merdeka juga dimaksudkan sebagai peserta didik yang memiliki kebebasan dalam menggali dan menumbuh kembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan harapan masing-masing peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler menjadi alternatif peserta didik sebagai tempat pengembangan diri yang sesuai dengan potensinya, jika peserta didik menyukai tarian, maka peserta didik diperbolehkan untuk mengikuti ekstrakurikuler tari, jika peserta didik sangat tertarik dengan pelajaran IPS, maka peserta didik diperbolehkan untuk mengikuti bimbingan olimpiade IPS. Semua pilihan ada pada bakat dan minat peserta didik, sekolah hanya memberikan wadah untuk menampung dan memfasilitasi segala potensi yang dimiliki peserta didik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 15:25:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381613737</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RAFI IQBAL RAHMATULLOH (223174915532) Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381625166</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; Mempelajari filosofi Ki Hajar Dewantara membuat saya menjadi lebih percaya bahwa setiap manusia memiliki karakteristik yang unik. Setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda satu sama lain. Guru perlu mengidentifikasi karakteristik peserta didik supaya bisa menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik. Hal ini sejalan dengan perkataan Ki Hajar Dewantara yang menganalogikan guru sebagai petani, yang harus merawat jagung menggunakan pupuk jagung supaya dapat berkembang dengan maksimal. Pandangan tersebut membuat saya ter motivasi untuk menghadirkan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan pembelajaran yang akan saya lakukan.&nbsp;<br><br>2. Setiap peserta didik memiliki potensi untuk melakukan sesuatu. Tugas guru adalah menuntun peserta didik supaya berani dan ter motivasi untuk mengembangkan potensi tersebut sehingga menjadi manusia yang merdeka. Berdasarkan penjelesan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menuntun adalah proses guru dalam membantu peserta didik mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah membantu adik saya dalam mengembangkan potensi sebagai penulis. Saya melihat adik saya mempunyai kemampuan menulis yang baik. Hal ini dilihat dari kemampuan dia dalam merangkai struktur kalimat yang tergolong cukup sistematis untuk anak berusia 14 tahun. Berangkat dari situ, saya mengarahkan adik saya untuk terbiasa menulis jurnal harian dengan harapan supaya dia semakin terbiasa menyusun struktur kalimat yang baik. Saya juga membiasakan dia untuk terbiasa membaca buku yang dia sukai dan membahas bersama dengan saya.<br><br>3. Ki Hajar Dewantara memandang bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang untuk. Keduanya diperlukan selama proses pendidikan supaya dapat membentuk peserta didik yang memiliki budi pekerti yang sesuai dengan cita-cita bangsa. Menurut saya konsep kebudayaan yang dimaksud merupakan bagian dari kodrat alam. Berdasarkan modul mata kuliah filosofi pendidikan, kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan dimana peserta didik berada. Kodrat alam meliputi konteks lokal sosial budaya. Kodrat alam perlu dipertimbangkan supaya kegiatan pembelajaran mengandung unsur pendidikan dan kebudayaan sehingga dapat membentuk peserta didik yang memiliki budi pekerti yang luhur. Kodrat zaman merupakan konsekuensi dari perubahan yang tidak pernah berhenti. Kodrat zaman berkaitan dengan kompetensi-kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk menghadapi perkembangan IPTEK. Guru perlu mempertimbangkan kodrat zaman supaya dapat menghadirkan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan pada zaman tertentu (kalau sekarang abad 21).<br><br>4. Berhamba kepada anak berati guru harus membimbing peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik disertai dengan cinta dan kasih sayang. Hal yang pernah saya lakukan adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dalam aspek proses. Hal ini saya lakukan karena terjadi perbedaan kesiapan belajar peserta didik. Peserta didik yang memiliki kesiapan belajar yang kurang akan mendapat bimbingan yang intensif dan sebaliknya. Melalui diferensiasi proses saya berharap dapat membimbing peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 15:42:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381625166</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mochammad Yusron Habibi (223174915539)UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381657558</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara ?</div><div>Jawaban : Setelah mempelajari mata kuliah filosofi pendidikan yang saya rasakan adalah sebagai pelayan pendidikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat cocok untuk diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Bahwa sesungguhnya siswa bukan lagi kertas kosong, namun dalam diri siswa sudah terbentuk coretan tipis tentang pengetahuan dan karakternya yaitu kodrat alam sehingga dianjutkan tugas bagi guru untuk menebali coretan dikertas tersebut sebagai pendidik. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sangat nyata dengan kondisi manusia yang berada di Indonesia dengan mempunyai beragam karakter yang disebabkan oleh faktor alam. Bagi saya dari pemikiran Ki Hajar Dewantara harus menjadi bahan acuan dalam dunia pendidikan di Indonesia.&nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan ?</div><div>Jawaban : Tugas sebagai seorang guru adalah mendidik dan menuntun. Perwujudan ini telah saya lakukan dalam penelitian skripsi saya pada jenjang strata 1 yang mengarah pada motivasi belajar siswa. Dari penelitian itu saya belajar bahwa motivasi sangat penting bagi siswa. Selain itu motivasi menjadi peran utama dalam melakukan kegiatan bagi seseorang. Dari motivasi tersebut dapat memberikan suntikan semangat dalam diri manusia. Dari empat siswa yang saya teliti, mereka memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk meningkatnkan belajarnya. Begitu pula seorang guru juga tak luput juga menjadi salah satu motivator penting bagi para siswa. &nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengapa pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman ?</div><div>Jawaban : Karena siswa bukan lagi kertas kosong mereka mempunyai garis tipis yaitu meliputi karakter dan pengetahuan yaitu kodrat alam, sehingga dalam pendidikan mereka harus mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kodrat alamnya seperti guru harus memahami karakter peserta didiknya dalam melakukan pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Pendidikan juga harus memperhatikan kodrat zaman. Pendidikan pada era abad 20 dan abad 21 sangat berbeda&nbsp; begitu juga dengan karakter siswa. Pendidikan harus memperhatikan perkembangan zaman untuk dapat diterapkan dan membantu dalam dunia pendidikan.&nbsp; &nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba ? (berpihak)” yang pernah anda lakukan ?&nbsp;</div><div>Jawaban : Tugas guru pada pendidikan paradigma baru ini adalah menjadi fasilitator untuk siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pada pembelajaran siswa harus berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Rancangan belajar yang dibuat guru harus sesuai dengan karakter dan gaya belajar peserta didik. Sehingga akan menimbulkan motivasi belajar bagi para peserta didik. &nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 16:30:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381657558</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama	: Patrick Glenn,                                           NIM	: 223174915540,                                        Asal	: Universitas Negeri Malang  </title>
         <author>patrickglenn2020</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381664090</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Sebagai guru apa yang anda rasakan setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara?</strong></div><div>Setelah saya mempelajari Filosofi Pendidikan Indonesia KHD, saya menjadi semakin termotivasi dan bersemangat menjadi dalam mengemban tugas sebagai seorang pendidik.Seperti yang dijelaskan KHD kita sebagai seorang pendidik harus bisa memerdekakan murid dengan cara membimbing anak tersebut. KHD mengungkapkan “Pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak; menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”. Dengan demikian tugas seorang pendidik adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki siswanya, karena siswa bukanlah sebuah kertas kosong melainkan kertas yang sudah ada isinya, ketika kita bisa menjadi seorang pendidik yang berkompeten dengan cara memberikan dorongan semangat dan contoh, maka peserta didik akan mendapat kemerdekaannya dan pembelajaran yang didapatkan akan bermanfaat baik bagi kehidupanya maupun nusa dan bangsa.</div><div><br><strong>2. Bagaimana perwujudan “menuntun” yang pernah anda lakukan?</strong></div><div>Perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan hampir sejalan konsep KHD yakni memberikan kebebasan namun pendidik sebagai pamong tetap memberi tuntunan agar anak tidak kehilangan arah. Contoh perwujudan yang saya lakukan adalah ketika saya mengajar di sekolah. Saya baru mengajar kurang lebih baru 3 bulan, contohnya ketika saya mengajar materi ASEAN saya membebaskan murid murid untuk mencari sumber bacaan dan materi dari mana saja mengenai ASEAN. yang terjadi anak mendapat sangat beragam informasi informasi mengenai hal tersebut lebih daripada buku paket yang mereka punya, namun disini saya juga tetap menjalankan tugas saya sebagai seorang pamong yang mengawasi peserta didiknya dalam menyaring berbagai informasi yang ada. Karena tidak semua sumber yang ada memuat informasi yang benar. Saya juga berkeliling ke setiap murid didalam kelas untuk tetap memberikan arahan terkait pembelajaran yang ada hal ini penting dilakukan oleh pendidik agar anak tidak kehilangan arah.<br>&nbsp;<br><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div>Dalam proses pendidikan seorang pendidik perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Kodrat alam berorientasi pada kemampuan dan potensi yang dimiliki seorang individu sejak lahir dimana setiap individu berbeda satu dengan lainya. Kodrat zaman berorientasi pada perubahan sistem cara atau tatanan zaman, dimana makin lama perubahan perubahan&nbsp; yang terjadi semakin cepat. Seorang pendidik harus bisa membantu peserta didiknya untuk megembagkan dan memaksimalkan kodrat alam (potensi) serta diimbangi dengan pengetahuan yang bisa mendidik peserta didik terhadap perubahan zaman yang begitu cepat. Hal ini diperlukan agar peserta dapat berkembang dan mengamalkan apa yang sudah ia pelajari.&nbsp;<br><br></div><div><strong>4. Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak yang pernah anda lakukan?</strong></div><div>Pendidikan yang “berhamba” (berpihak) pada murid merupakan suatu hal yang perlu dilakukan oleh seorang penyidik. Ketika pembelajaran dilakukan dengan berpihak pada peserta didik, pembelajaran akan lebih efektif karena setiap peserta didik memiliki potensi dan gaya belajarnya masing masing. Contoh yang pernah saya terapkan adalah ketika pembelajaran saya membebaskan peserta didik untuk mencari sumber belajar tambahan diluradari buku, bisa berupa artikel video maupun hal hal lainya. Dengan begitu anak akan lebih aktif untuk mencari materi materi ajar sesuai dengan gaya belajar mereka,namun di sisi pendidik juga harus tetap melakukan pengawasan.</div><div><br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-13 16:38:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381664090</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ELVIANA FEBRIANTI                           (223174915511)                                         UNIVERSITAS NEGERI MALANG         </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381987315</link>
         <description><![CDATA[<div>1. <strong>Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD ?</strong></div><div>Jawab:&nbsp;</div><div>Setelah saya mempelajari tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, saya menjadi paham makna yang sebenernya tentang pengajaran dan pendidikan. Pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan, serta juga memberikan keterampilan kecakapan kepada anak-anak yang keduanya dapat memberikan manfaat bagi anak-anak baik secara lahir maupun batin. Sedangkan, Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, sebagai manusia, dan sebagai masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Ki Hadjar Dewantara telah mengungkapkan betapa pentingnya pendidikan. Pendidikan merupakan kunci untuk membangun sebuah bangsa. Didalam pendidikan ada proses belajar yang menentukan hasil dari tujuan pendidikan, maka dari itu Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan bahwa belajar harus sesuai dengan cipta, rasa, dan karsa. Untuk menciptakan proses belajar yang baik, maka harus ada perencanaan pembelajaran. Sebagai seorang pendidik kita juga berkewajiban mengembangkan peserta didik sesuai dengan karakter peserta didik dan karakter lingkungan budaya setempat. Tujuannya agar peserta didik dapat menguasai diri sendiri. Dengan demikian, saya termotivasi untuk terus memahami tentang konsep pembelajaran Ki Hajar dewantara yang nantinya dapat saya jadikan bekal sebagai seorang pendidik. Karena sebagai pendidik harus mampu menjadi model dan teladan bagi anak didiknya.<br><strong>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah saya lakukan ?</strong></div><div>Jawab:&nbsp;</div><div>Makna “menuntun” bagi saya adalah memberikan arahan dan bimbingan agar pertumbuhan dan hidupnya dapat bertambah baik budi pekertinya yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Sebagai seorang pendidik dalam hal ini harus bertindak sebagai ‘pamong’ dimana diharapkan mampu memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan berusaha mempengaruhi karakter pada peserta didik. Agar karakter peserta didik terbentuk, harus ditunjukkan keteladanan, dan memberi contoh yang baik kepada peserta didik yang sifatnya nyata. Sebagai contoh di sekolah saya tempat saya mengajar ada budaya terkait bebas sampah plastik, dimana ada larangan tidak boleh ada sampah plastik. Dalam budaya menuntun agar peserta didik melaksanakan yaitu dengan cara sebagai seorang guru juga memberikan contoh dengan tidak menggunakan sampah plastik, setiap sampah harus dibawa pulang oleh masing-masing peserta didik maupun gurunya. <br><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan </strong><strong><em>kodrat alam </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>kodrat zaman</em></strong><strong>? &nbsp;</strong></div><div>Jawab:<br>Pendidikan anak perlu memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam dalam hal ini yaitu berhubungan dengan lingkungan tempat tinggal seorang anak dimana ia dibesarkan dan diberikan banyak pembelajaran oleh sekitarnya. Misalnya konteks lokal sosial budaya peserta didik di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan peserta didik di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur. Sedangkan kodrat zaman yaitu dilihat dari tuntutan seorang anak pada setiap zaman. Misalnya pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21. Semakin maju suatu zaman, maka semakin besar juga tuntuan mereka untuk menguasai banyak keterampilan untuk membekali diri mereka di kehidupan selanjutnya. Karakteristik pengajaran setiap zaman selalu mengalami perbedaan, sehingga pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kodrat alam berupa kearifan lokal sosial budaya Indonesia dan muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia.<br><strong>4. Bagaimanakah pemikiran KHD </strong><strong><em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em></strong><strong>yang pernah Anda lakukan ?</strong></div><div>Jawab:&nbsp;</div><div>Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita untuk menghamba pada anak dalam artian menjadikan anak sebagai pusat belajar dalam kata-katanya "Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak,&nbsp; bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak". Saya sebagai pendidik selalu mendidik anak dengan penuh rasa hormat dan menjadikan pendidikan itu berpusat pada anak, apa yang saya lakukan harus memberi ruang kepada anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, bakat, minat dan gaya belajarnya dengan tidak memaksakan kehedaknya. Memberikan kebebasan anak didik untuk mengeksplor pengetahuan sesuai dengan bakat dan kreativitas mereka. Menerapkan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan terus memotivasi mereka dalam pembelajaran dan memberikan pembelajaran yang bermakna dengan merdeka belajar.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 01:04:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2381987315</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ahmad ismail sa&#39;addullah (223174915531) Universitas Negeri Malang </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382034550</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki hadjar Dewantara?</div><div>Perasaan saya setelah mempelajari filosofi pendidikan ki hadjar dewantara adalah saya lebih tahu tentang tujuan manusia menjadi merdeka melalui pendidikan yang selama ini menurut saya adalah tempat yang terdoktrin untuk mencetak manusia yang hanya memikirkan pekerjaan dan mencari uang dan tidak ada usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan dan yang ada malah pendidikan yang terbelenggu untuk menemukan kodrat siswa yang sebenarnya. &nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana Perwujudan "menutun" yang pernah saya lakukan</div><div>Menuntun menurut saya adalah memberikan contoh didepan kemudian membarengi usahanya dan mensupport dari belakang. Saya pernah melakukannya ketika melatih adik adik untuk mengikuti lomba pramuka nasional dengan terus memberikan support dan dorongan serta bagaimana menjadi pribadi yang dapat memotivasi agar meraih kemenangan.&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</div><div>Sangat perlu sekali dengan mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena sejak kecil manusia tidak akan lepas dari lingkungan tempat dia lahir dan orang orang yang sukses tidak akan lupa bagaimana dia tumbuh dan membangun pengatahuan dan mental sejak dia kecil sampai dewasa maka dari itu pendidikan yang bagus ialah dengan menciptakan lingkungan belajar yang dapat mempengaruhi itu sebagai hal yang menyenangkan bukan sebagai hal yang membosankan sedangkan kodrat zaman adalah bagaimana pendidikan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut manusia untuk lebih berikir kreatif dan kritis.&nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimanakah pemikiran KHD mengenai " Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak " yang pernah anda lakukan?</div><div>Pendidikan yang berhamba pada anak ialah dengan menemukan minat dan bakat yang ada pada anak dengan nanti dengan bakat dan minatnya kita dapat memenuhi kebutuhannya untuk merkembang dan juga memberikan modal pada anak untuk dapat tumbuh menjadi manusia yang merdeka.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 01:41:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382034550</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Ardika Fateh Hukama (223174915516) Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382173662</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara saya lebih mampu memahami dasar pendidikan bapak ki hajar dewantara dengan baik sehingga saya bisa mengawali atau memulai dari diri saya sebagai guru yang merdeka yang nantinya mampu menuntun, memberikan kontribusi dan manfaat kepada peserta didik.&nbsp;<br>2. Konteks pendidikan saat ini dalam proses ‘menuntun’, peserta didik diberi kebebasan namun pendidik berperan sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar peserta didik dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.</div><div>Salah satu yang pernah saya lakukan dalam proses menuntun peserta didik adalah dengan menempatkan diri saya sebagai fasilitator dalam pembelajaran peserta didik.&nbsp;<br>3. Karena dalam diri peserta didik terdapat kodrat alam yang memang sudah ada sejak lahir yang mana seorang guru hanya mampu menuntunnya bukan merubahnya, anak di ibaratkan kertas yang sudah bertuliskan, tugas guru adalah mempertebal tulisan atau laku yang baik dan menyamarkan tulisan atau laku yang kurang baik.</div><div>Mengenai kodrat zaman, memang sangat penting dan harus diperhatikan karena KHD mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 (kreatif, kolaboratif, berfikir kritis dan komunikatif)&nbsp;<br>4. Proses Pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara Sesuai dengan pemikiran KHD yang menyebutkan bahwa guru menghamba pada murid.&nbsp; Dalam hal ini, sebagai guru untuk mengakomodir kebutuhan, mengenali karakterisrik siswa itu sendiri, mengenal gaya belajar dan situasi sosial emosional siswa, langkah awal yang selalu saya lakukan yaitu melakukan pendekatan dengan siswa, mendekati dengan cara mengadakan komunikasi internal. dalam hal ini saya tidak menempatkan jabatan saya sebagai guru, namun lebih sebagai teman dari siswa itu sendiri, yang siap mendengarkan keinginan dan harapan siswa dari situasi pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta memberi motivasi yang sangat berguna untuk menghapus segala ketakutan-ketakutannya dalam belajar.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 03:33:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382173662</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lira Trisnaning Beta (223174915547) Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382239925</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara?</div><div>Jawaban : Setelah mempelajari materi filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara saya memahami bagaimana menjadi pendidik yang baik adalah yang dapat memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik dalam belajar. Sebagai guru tidak hanya aspek kognitif saja yang ditekankan, melainkan pembentukan karakter peseta didik juga menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Sehingga anak mendapatkan manfaat secara lahir dan batin. se Dalam pendidikan terdapat kegiatan yang disebut belajar, dimana belajar adalah sebuah proses seseorang mendapatkan hal baru dalam hidupnya, sebagai seorang guru yang mendidik peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya memberikan yang terbaik, baik dalam hal materi maupun tingkah laku. Guru merupakan model bagi peserta didik, dimana segala hal yang dilakukan oleh guru akan digugu dan ditiru.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan?</div><div>Jawaban : Perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan selama mengajar adalah memberi kebebasan kepada peserta didik namun tetap dalam pengawasan. Pada saat memasuki materi Globalisasi saya memberikan penugasan kepada peserta didik saya untuk menganalisis bagaimana dampak globalisasi dalam berbagai bidang, kemudian saya memberi kebebasan kepada peserta didik saya dalam menuliskan hasil diskusinya, boleh digambarkan dalam bentuk poster, boleh dalam bentuk <em>mindmapping</em>, atau dalam bentuk rangkuman yang menarik. Sehingga selama kegiatan pembelajaran guru hanya mendampingi dan membimbing peserta didik yang memiliki kesulitan dalam pembelajaran, selain itu dengan menggunakan metode seperti ini, peserta didik dapat menuliskan pemikiran mereka sesuai dengan minat belajarnya masing-masing. &nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</div><div>Jawab : Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sift dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Kodrat alam merupakan kondisi anak sejak lahir yang dipengaruhi kultur budaya dan lingkungan tempt anak berada dan kodrat zaman adalah perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu sehinga anak berhak mendapatkan pendidikan dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya sendiri. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternyamasing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat jeleknya. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba? (berpihak)” yang pernah anda lakukan?</div><div>Jawab : Proses Pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara Sesuai dengan pemikiran KHD yang menyebutkan bahwa guru menghamba pada murid.&nbsp; Dalam hal ini, sebagai guru untuk mengakomodir kebutuhan, mengenali karakterisrik siswa itu sendiri, mengenal gaya belajar dan situasi sosial emosional siswa, langkah awal yang selalu saya lakukan yaitu melakukan pendekatan dengan siswa, mendekati dengan cara mengadakan komunikasi internal. dalam hal ini saya tidak menempatkan jabatan saya sebagai guru, namun lebih sebagai teman dari siswa itu sendiri, yang siap mendengarkan keinginan dan harapan siswa dari situasi pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta memberi motivasi yang sangat berguna untuk menghapus segala ketakutan-ketakutannya dalam belajar.</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 04:40:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382239925</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anida Hasniah Habieb 223174915512 Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382247473</link>
         <description><![CDATA[<div>1. apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara?<br>Setelah mempelajari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara saya mampu mempelajari dasar-dasar pendidikan arti dari pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan memberikan dampak yang besar bagi bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia bisa memperoleh pendidikan dengan bebas. Dengan semboyan Ki Hajar dewantara ‘’ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’’ diharapkan seorang guru memberi contoh ketika di depan, memberi semangat ketika ditengah, dan memberi dorongan kepada peserta didik ketika berada di belakang.. Perjalanan pendidikan di Indonesia terus berkembang dengan adanya perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik membuat pembelajaran lebih bermakna.Dengan mempelajari filosofi pendidikan Indonesia saya&nbsp; mengerti bahwa setiap peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, serta mempunyai kebutuhan peserta dalam belajar juga berbeda-beda. Setelah saya mempelajari filosofi pendidikan ini saya mempunyai bekal dan ilmu yang bisa saya terapkan ketika saya mengajar agar kebutuhan pserta didik akan ilmu pengetahuan terpenuhi dan pembelajaran yang saya lakukan lebih bermakna.<br>2. bagaimana perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan?<br>Perwujudan menunang pernah saya lakukan yaitu ketika saya mengajar di SMP Progresif Baitul Atieq . hal yang saya lakukan yaitu memberikan pembelajaran yang bermakna kepada pesert didik. Memberikan ketrampilan peserta didik untuk berfikir kritis dalam pembelajaran. Membangun kondisi pembelajaran yang menyenangkan sehingga pembelajaran di kelas lebih bermakna, hal ini sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menjelaskan pendidikan adalah menuntun kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.<br>3.	Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br>Jawab : Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sift dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Kodrat alam merupakan kondisi anak sejak lahir yang dipengaruhi kultur budaya dan lingkungan tempt anak berada dan kodrat zaman adalah perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu sehinga anak berhak mendapatkan pendidikan dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya sendiri. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternyamasing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat jeleknya. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti.<br>4.  Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba? (berpihak)” yang pernah anda lakukan?</div><div>Jawab : Proses Pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara Sesuai dengan pemikiran KHD yang menyebutkan bahwa guru menghamba pada murid.&nbsp; Dalam hal ini, sebagai guru untuk mengakomodir kebutuhan, mengenali karakterisrik siswa itu sendiri, mengenal gaya belajar dan situasi sosial emosional siswa, langkah awal yang selalu saya lakukan yaitu melakukan pendekatan dengan siswa, mendekati dengan cara mengadakan komunikasi internal. dalam hal ini saya tidak menempatkan jabatan saya sebagai guru, namun lebih sebagai teman dari siswa itu sendiri, yang siap mendengarkan keinginan dan harapan siswa dari situasi pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta memberi motivasi yang sangat berguna untuk menghapus segala ketakutan-ketakutannya dalam belajar.<br><br></div><div><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 04:47:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382247473</guid>
      </item>
      <item>
         <title>REFLEKSI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA                               Nama: Sugita Ayu Armadani      NIM: 223174915534                  Kelas: PPG Prajabatan IPS 01     </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382549084</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara?&nbsp;<br><br></div><div>Setelah mempelajari filosofi pendidikan saya mengetahui tujuan awal pendidikan Indonesia dengan mempelajari dasar-dasar pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Bagaimana peserta didik dituntun untuk berkembang sesuai dengan kodratnya untuk mencapai kemerdekaan dan keselamatan sebagai individu atau anggota masyarakat. Kodrat yang dimaksud yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Namun kembali lagi dengan juga mempertimbangkan budi peserti peserta didik dengan menggunakan sistem among. Sistem yang menekankan pada proses pembelajaran yang dikenal Ing ngarso sung tulodo, Ing Madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani. Ing ngarso sung tulodo Di depan memberi teladan yaitu guru memahami secara utuh tentang apa yang dapat dibantu kepada murid, menjadi teladan dalam budi pekerti dan tingkah laku. Ing Madya mangun karsa, di tengah membangun kehendak yaitu guru diharap mampu membangkitkan semangat, berswakarsa dan berkreasi bersama murid dengan membangun dialog, sebagai narasumber dan penuntun, Tut Wuri Handayani, dibelakang memberi dorongan yaitu guru tidak sekedar memberikan motivasi, tetapi juga memberikan saran dan rekomendasi dari hasil pengamatanya, agar murid mampu mengekplorasi daya cipta, rasa, karsa dan karyanya.&nbsp;<br>2. Bagaimana perwujudan menuntun yang pernah saya dilakukan?&nbsp;<br><br></div><div>Anak diberikan kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Saya sebagai seorang “pamong” dapat memberikan tuntunan agar peserta didik yang saya ampu dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.&nbsp;<br><br></div><div>3. Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?&nbsp;<br><br></div><div>Dalam menuntun laku dan pertumbuhan peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan zaman mengibaratkan pendidik sebagai seorang petani, Jika&nbsp;<br><br></div><div>KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama” KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut:</div><div>&nbsp;<br><br></div><div>“Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)<br><br></div><div>KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini&nbsp; menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya peserta didik di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan peserta didik di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Mengenai Pendidikan dengan perspektif global, KHD mengingatkan bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia. Kekuatan sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman dalam mendidik.</div><div>&nbsp;</div><div>KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda dengan para peserta didik pertengahan dan akhir abad ke-20. Kodrat alam Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan dan musim kemarau) serta bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup. Demikian pula dengan zaman yang terus berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik menuntun para murid.<br><br></div><div>4. Bagaimana pemikiran KHD “pendidikan yang berhamba”? yang pernah Anda lakukan?&nbsp;<br><br></div><div>Memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik atau dengan kata lain segala kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai dengan kebutuhan peserta didik (student center). Guru mengakomodir segala kebutuhan, karakteristik, gaya belajar, kemampuan kognitif, sampai dengan situasi emosional peserta didik dengan mengenal peserta didik. Mengenal peserta didik dapat dilakukan dengan matrik, observasi langsung dan tidak langsung. Pendekatan lain sebagai bentuk penghambaan atau memberikan pembelajaran sesuai dengan peserta didik yaitu guru harus siap sedia menerima keinginan dan harapan peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran guna memberikan ruang peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya sebagai manusia yang merdeka dan selamat.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 09:01:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2382549084</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zainul Mustofa. 223174915500. Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2383006627</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD?</strong></div><div>Saya perlahan lebih paham hakikat dari pendidikan itu sendiri lewat filosofi Ki Hajar Dewantara. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat menjunjung tinggi pendidikan budi pekerti, pendidikan yang humanis yang menghargai kebebasan dan kemerdekaan anak, yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya setempat, menjunjung tinggi rasa kebangsaan, nasionalisme, dan semangat patriotisme.</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan?</strong></div><div>Saya dalam proses ‘menuntun’, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lain. Oleh sebab itu, tuntutan seorang guru mampu mengelola dirinya untuk hidup bersama dengan orang lain (menjadi manusia dan anggota masyarakat).</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan </strong><strong><em>kodrat alam </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>kodrat zaman?</em></strong></div><div>Karena yang dimaksud dengan kodrat alam itu sendiri merupakan kekuatan, potensi, keadaan diri yang secara alamiah melekat pada diri individu, dalam hal ini perlu sekali kita sebagai pendidik memperhatikan kodrat alam yang sudah dimiliki oleh setiap individu (peserta didik), karena pada kenyataannya setiap peserta didik mempunyai karakteristik dan keunikan tersendiri yang perlu dikembangkan. Di samping itu, kodrat zaman yang merupakan kekuatan, potensi, keadaan diri yang berubah secara dinamis sesuai kondisi sosial budaya masyarakat dan perkembangan zaman juga patut untuk diperhatikan, setiap masa mempunyai perbedaan, kita harus bisa menyikapi segala hal dengan memperhatikan perkembangan zaman, dengan begitu kodrat alam dan kodrat zaman dapat berjalan beriringan.</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “</strong><strong><em>Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak</em></strong><strong>” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Sesuai dengan nasehat yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara “Didiklah anak-anak kita dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya”. Di mana dalam nasehat tersebut jelas, kita sebagai pendidik harus bisa mendidik peserta didik sesuai dengan alam (bakat) nya. Dalam hal ini, saya pernah memberi tugas menganalisis sebuah gambar tentang materi ekonomi kreatif, di mana pada saat itu saya membebaskan mereka untuk mendemonstrasikan tugas mereka dengan produk seperti apa, ada yang membuat rangkuman, ada yang membuat poster, dan ada yang membuat mind mapping.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 14:39:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2383006627</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alfiyan Nur Fuad (223174915553) Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2384273828</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; Sebagai seorang guru, Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara?<br><br></div><div>Sesuatu yang saya peroleh dari proses pembelajaran dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini membuat saya semakin memahami bagaimana pemikiran KHD tentang Pendidikan juga tujuan Pendidikan nasional. Hal ini tentunya juga membuat saya semakin mendalami peran profesi saya sebagai pendidik. Dari materi ini saya setidaknya menjadi tahu bagaimana seharusnya seorang pendidik itu memahami peserta didiknya, bagaimana seharusnya pendidik itu memberikan proses pembelajaran yang baik untuk peserta didiknya, bagaimana seharusnya pendidik itu memfasilitasi dan menuntun peserta didik nya dengan kodrat dan potensi yang ia miliki. Dari materi ini, sebagai seorang pendidik seharusnya dapat mengantarkan peserta didiknya untuk mencapai puncak keselamatan dan kebahagiaan peserta didiknya untuk bekal hidupnya dimasa yang akan datang. Selain itu pendidik seharusnya lebih peka terhadap kebutuhan peserta didknya baik didalam kelas maupun diluar kelas. Dari segi teori pemikiran KHD ini memang sangat mengesankan bagi saya bagaimana seharunya menjadi seorang pendidik itu, namun dalam segi praktiknya mungkin akan sulit, namun setidaknya dari materi ini saya menjadi tahu apa yang seharunya dilakukan dan saya akan selalu berusaha untuk mengimplementasikannya.<br><br></div><div>2.&nbsp; &nbsp; Bagaimana perwujudan “menuntun” yang pernah anda lakukan?<br><br></div><div>Menuntun dalam proses Pendidikan anak yaitu memberi tuntunan dan arahan dengan tujuan agar anak tidak kehilangan arah dan mengambil keputusan yang salah pada saat anak mengeksplorasi dirinya dengan pengetahuan serta mengembangkan bakat dan minatnya. Adapun Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Perwujudan “menuntun” yang pernah saya lakukan adalah Ketika saya menjadi seorang guru di salah satu madrasah diniah di lingkungan saya Ketika murid belajar dan menemukan bacaan yang tidak sesuia dengan kaidah saya berusaha untuk membenarkan dengan mengajarinya secara pelan-pelan dan saya berusaha mencari cara bagaimana murid memahami apa yang sampaikan dengan tanpa membentak ataupun hal-hal yang membuat murid menjadi takut sampai pada akhirnya murid bisa mengucapkan sesuai kaidah yang benar.<br><br></div><div>3.&nbsp; &nbsp; Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br><br></div><div>Menurut KHD Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Kodrat alam merupakan kondisi anak sejak lahir yang dipengaruhi kultur budaya dan lingkungan tempat anak berada sehingga penting mengetahui bagaimana kultur sosial budaya tempat anak tumbuh karena kodrat anak akan terbentuk oleh kultur sosial budaya lingkungan tempat ia hidup, sehingga dalam pengembangan potensinya nanti dapat selaras dengan sosial budaya lingkungan sekitarnya.&nbsp;<br><br></div><div>Sedangkan kodrat zaman adalah perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu pengembangan potensi peserta didik juga harus memperhatikan perkembangan zaman karena peserta didik akan hidup di zaman mereka bukan di zaman sekarang atau zaman lampau. Pada saat ini peserta didik akan hidup dizaman abad 21 sehingga mereka harus dibekali dengan keterampilan-keterampilan abad 21 dengan memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan dan menjadikan mereka pribadi yang berwawasan global.<br><br></div><div>4.&nbsp; &nbsp; Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) kepada anak” yang pernah anda lakukan?<br><br></div><div>Pendidikan yang berhamba (berpihak) kepada anak berarti sebagai pendidik hendaknya membina, mengarahkan, membimbing serta memberikan contoh peserta didik dengan pola asah asih dan asuh untuk mengembangkan potensi sesuai kodrat yang peserta didik miliki. Pendidikan yang berpihak kepada peserta didik yang pernah saya lakukan adalah saya berusaha dengan kemampuan saya untuk menghadirkan pemebelajaran yang memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengeksplorasi dirinya dengan menghadirkan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik. pembelajaran yang menghadirkan permainan-permainan yang dapat merangsang respon peserta didik untuk berkembang sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan terbebani dengan materi pembelajaran.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 06:34:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2384273828</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FilsafatNama : Afan Nur Mubarok Kelas : IPS-01 NIm   : 223174915549</title>
         <author>afannurmubarok</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2384442015</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Sebagai Guru, Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara?<br><br></div><div>Setelah mempelajari pemikiran KHD memperoleh panganga baru terkait Pendidikan. Pendidikan yang pada awalnya diterapkan sebagai <em>transferknoeledge </em>menjadi Pendidikan yang membebaskan siswa. Pendidikan harus mementinggkan aspek naluriah siswa diaman siswa dilihat punya kemampuan dan keunkan sendiri sehingga harus dibimbing bagaimana mencapai potensi maksimal.&nbsp;<br><br></div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan?<br><br></div><div>Menuntun merupakan Langkah dimana seseorang mengarahkan individu guna mendapatkan capian tertentu. Menuntun bisa dilakukan dengan brbagai hal seperti melakukan pembelajran yang mengembangkan potensi sisiwa merupakan salah satu contohnya namun dalam pemikiran KHD sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dengan tetap mengedepankan sikap, perilaku dan karakter yang mencerminkan sebagai seorang peserta didik dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan yang dimilikinya.<br><br></div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br><br></div><div>Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama” . Kedua kodrat ini berkaitan dengan dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan peserta didik. pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad 21 dengan melihat kodrat anak indonesia sesungguhnya. Ki Hajar Dewantara mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ki Hajar Dewantara menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.<br><br></div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?<br><br></div><div>Pendidkan berhamba yang mempunyai kemiripan dengan ini bisa dilihat dari kurikulumnya. Kurikulum merdeka mempunyai pembelajran yang mendukung siswa untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan potensinya secara penuh. Dalam kurikulum ini guru berperan sebagai pendamping dan siswa sebagi pembelajar yang mandiri. Selai itu dalam penilaian perkembangan atau prestasi anak mengguanakan tiga jenis yaitu <em>asessmen for learning</em>, <em>asessmen of learning</em> dan <em>assessment as learning</em>. Dari Ketika penilaian tersebut memungkinkan seorang pendidik lebih memahami siswa secara individu. Bagi seorang pendidik menggunakan kurikulum ini bisa sejalan dengan pemikiran KHD.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 08:49:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2384442015</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Riki Nur Hidayat (223174915546) UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2392462127</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki hadjar Dewantara?</div><div>Perasaan saya setelah mempelajari filosofi pendidikan ki hadjar dewantara adalah saya lebih tahu tentang tujuan manusia menjadi merdeka melalui pendidikan yang selama ini menurut saya adalah tempat yang terdoktrin untuk mencetak manusia yang hanya memikirkan pekerjaan dan mencari uang dan tidak ada usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan dan yang ada malah pendidikan yang terbelenggu untuk menemukan kodrat siswa yang sebenarnya. &nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana Perwujudan "menutun" yang pernah saya lakukan</div><div>Menuntun menurut saya adalah memberikan contoh didepan kemudian membarengi usahanya dan mensupport dari belakang. Saya pernah melakukannya ketika melatih adik adik untuk mengikuti lomba pramuka nasional dengan terus memberikan support dan dorongan serta bagaimana menjadi pribadi yang dapat memotivasi agar meraih kemenangan.&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</div><div>Sangat perlu sekali dengan mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena sejak kecil manusia tidak akan lepas dari lingkungan tempat dia lahir dan orang orang yang sukses tidak akan lupa bagaimana dia tumbuh dan membangun pengatahuan dan mental sejak dia kecil sampai dewasa maka dari itu pendidikan yang bagus ialah dengan menciptakan lingkungan belajar yang dapat mempengaruhi itu sebagai hal yang menyenangkan bukan sebagai hal yang membosankan sedangkan kodrat zaman adalah bagaimana pendidikan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut manusia untuk lebih berikir kreatif dan kritis.&nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimanakah pemikiran KHD mengenai " Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak " yang pernah anda lakukan?</div><div>Pendidikan yang berhamba pada anak ialah dengan menemukan minat dan bakat yang ada pada anak dengan nanti dengan bakat dan minatnya kita dapat memenuhi kebutuhannya untuk merkembang dan juga memberikan modal pada anak untuk dapat tumbuh menjadi manusia yang merdeka.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-21 11:32:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/igoy3xd5jb3wbhub/wish/2392462127</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
