<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Farmasi Kelautan: Kasus 1 by hertiani hertiani</title>
      <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke</link>
      <description>Peneliti dari UGM menemukan senyawa aktif Agelasin D yg potensial sbg antibiotik potensial dari spons laut Indonesia, Agelas sp. Tahapan apa yg perlu dilakukan peneliti tersebut sehingga senyawa yg diisolasinya bisa digunakan sbg antimikroba baru? Apakah pertanyaan yang sesuai untuk tahapan tersebut?</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-10-04 07:11:47 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-12-14 16:04:39 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Agelasin D: Isolasi, Identifikasi struktur kimia dan uji in vitro antimikroba</title>
         <author>hertiani</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2325165185</link>
         <description><![CDATA[<div>Agelasine D sudah dapat diisolasi dan diketahui struktur kimianya, serta memiliki MIC yang kecil terhadap bakteri standar Gram Positif</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-04 07:15:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2325165185</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji In Vivo Agelasine D</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2343058446</link>
         <description><![CDATA[<div>Agelasine D diuji potensinya pada sampel hidup berupa hewan uji mencit yang sudah diinfeksi bakteri gram positif.<br><br>Kelompok 8<br>Acala, Aulianna, Erika, Ismail, Nadya</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-17 12:07:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2343058446</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Klinis Fase I</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2345432817</link>
         <description><![CDATA[<div>Uji klinis fase I merupakan penelitian awal untuk uji coba obat baru (Investigation New Drug; IND) pada manusia untuk mengetahui aspek keamanan, farmakokinetik dan farmakodinamik obat, dengan menggunakan subjek manusia sehat. Penelitian ini dilakukan untuk menilai efek samping terkait dengan dosis. Senyawa Agelasine D diuji pada sukarelawan sehat 25-50 orang untuk mengetahui<br>apakah sifat yang diamati pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia.&nbsp;<br><br>Kelompok 1<br>Deby Widya Fitri Tanjung, Vivi Anita Sari, Idelia Septi, Raymond Yehezkiel Tambun, Khusniya Niken Safitri</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-18 16:06:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2345432817</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji In Vitro Agelasine D</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2345986665</link>
         <description><![CDATA[<div>Agelasine D dapat diuji potensinya menggunakan beberapa cara seperti uji difusi (cakram, sumuran) dan uji dilusi.&nbsp;Dari pengujian tersebut, akan didapatkan data berupa kadar hambat minimum dan kadar bakterisidal minimum.<br><br>Kelompok 7<br>Nisrina Rona Roihana, Annisa Aulia Rahmah, Naufal Ahmad Fauzy, Siti Nur Annisa, Afnan Syifa' Muhammad	</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-18 23:03:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2345986665</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Toksisitas akut In Vivo </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2346701259</link>
         <description><![CDATA[<div>Agelasine D diuji toksisitasnya pada hewan coba (minimal dua spesis mamalia) untuk menentukan tingkat ketoksikannya. Agelasine diberikan pada hewan uji dengan dosis tunggal atau berulang dan diamati apakah dosis yang diberikan menyebabkan kematian terhadap 50% hewan coba dalam jangka waktu 24 jam setelah pemberian.&nbsp; Hewan coba yang masih hidup selama 14 hari selanjutnya, dikorbankan untuk dilakukan pengamatan ada tidaknya kerusakan pada organ vital.&nbsp;<br>Kelompok 14<br>Aurora Early M. , Laurentia Puspita D. , Nadia Nur I. , Narendra Krisna, Widha Nur Y. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-19 09:32:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2346701259</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Klinis Fase 2</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2350170906</link>
         <description><![CDATA[<div>Tujuan dari uji klinis fase 2 adalah mengetahui dan menganalisis efikasi serta efek samping dari Agelasin D sebagai agen antibiotik. Uji klinis fase 2 Agelasin D dilakukan selama 12-24 bulan terhadap &gt;100 partisipan yang menderita penyakit disebabkan mikroba. Hasil dari tahapan ini menunjukkan Agelasin D memiliki efikasi yang baik sebagai agen antibiotik dengan efek samping relatif ringan.&nbsp;<br><br>Kelompok 10:<br>Salsabila Annisa Luthfi, Nona Adelia Talitha Supriyanta, Shabrina Adzhani, Husna Khairunnisa, Riza Monyca Sari</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-21 04:54:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2350170906</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Klinis Fase III</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2351597770</link>
         <description><![CDATA[<div>Agelasine D diuji sekaligus dievaluasi kembali skala efikasinya pada populasi sukarelawan yang lebih besar ( &gt; 1000). Selain itu, pada uji klinis fase 3, dilakukan perhitungan jumlah dosis yang tepat, uji perbandingan dengan obat yang ada (existing treatments), serta dilihat kembali efek samping Agelasine D serta interaksinya dengan obat lain.<br><br>Kelompok 11<br>Alvi Nur Azmi, Vienna Laurencia Ananda, Dinda Astika Sari, Rahadatul Aisy Salsabila, Handerson Ben</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-22 12:03:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2351597770</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Daya Hambat (In Vitro)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352105158</link>
         <description><![CDATA[<div>Tahap ini bersifat eksperimental dimana sampel uji agelasin D dari ekstrak Agelas sp konsentrasi sekitar 5% atau 10% diinokulasikan di medium Mueller Hinton Agar yang sudah diberi sampel bakteri. Ekstrak agelasin D kemudian dimasukkan di dalam cakram yang berdiameter 6 mm. Kertas cakram tersebut diletakkan ke dalam cawan petri yang sudah diatur jaraknya serta sudah ada kontrol positif dan negatif. Kemudian, dibiarkan selama 30 menit dan dimasukkan ke inkubator selama 1x24 jam lalu diamati zona bening yang terbentuk dan diukur zona hambatnya.&nbsp;<br>Pertanyaan : Seberapa potent senyawa yang diamati, dan berapa diameter hambat minimum yang menjadi indikator kepotenan senyawa Agelasin D dari ekstrak Agelas sp?<br><br>&nbsp;Kelompok 2 :&nbsp;<br>Muhammad Falikhul Umam<br>Eka Febriana<br>Erika Padmaningtyas<br>Annisa Nurul Fadina</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 07:14:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352105158</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Toksisitas Subkronis In Vivo </title>
         <author>ditanurfina0303</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352114821</link>
         <description><![CDATA[<div>Senyawa Agelasine D diberikan kepada hewan uji dengan tingkat dosis tertentu secara berulang (setiap hari) dalam kurun waktu 14–90 hari tergantung dari lama waktu pemakaian obat yang akan digunakan di klinik. Hewan uji yang digunakan adalah dua spesies hewan mamalia termasuk nonrodensia (bila memungkinkan). Rute pemberian Agelasine D harus sama dengan yang digunakan di klinik. Selama waktu pemberian sediaan uji, hewan uji harus diamati setiap hari untuk menentukan adanya toksisitas. Pada akhir dari periode uji toksisitas subkronis, semua hewan uji akan dikorbankan dan dilakukan otopsi. Kemudian, dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap organ vitalnya termasuk organ metabolisme dan organ ekskresi. Tujuan dari dilakukannya uji toksisitas subkronis ini adalah untuk mengetahui apakah ada efek toksik setelah pemberian senyawa uji secara berulang dalam jangka waktu tertentu, mempelajari efek kumulatif senyawa uji dalam tubuh, dan mendapatkan informasi dosis yang tidak menimbulkan efek toksik.<br><br>Kelompok 16 : Nashwa Maheswari W, Nirvane Zefanya K, Kezia Carissa P, Dita Nurfina A, Fathika Fadhiella A<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 07:42:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352114821</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengajuan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352129315</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebelum melakukan uji klinik, obat baru yang akan diselidiki (Investigational New Drug) dari industri/peneliti harus mendapatkan persetujuan dari Badan POM berupa Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) yang bertujuan untuk memberikan jaminan terhadap perlindungan hak, keamanan dan kesejahteraan subjek uji klinik sehingga menghasilkan data uji klinik yang kredibel.<br><br>Pertanyaan: Informasi apa saja yang dibutuhkan dalam IND application ini?<br><br>Kelompok 6<br>Angel Febyola, Daru Nakhiila, Nuqya Ashfannada, I Putu Yoga, dan Loh Jennifer</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 08:22:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352129315</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352261325</link>
         <description><![CDATA[<div>Untuk mengembangkan Agelasine D menjadi antiobiotik dibutuhkan berapa tahapan mulai dari uji efektivitas pada tingkat molekul, uji pra klinis, uji klinis, dan pengajuan persetujuan dari lembaga yang berwenang.&nbsp;<br>Uji efektivitas pada tingkat molekul bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai potensi obat, mekanisme, dan interaksi obat dengan zat-zat lain. Setelah itu dilakukan uji pra klinik di laboratorium secara in vitro atau in vivo dengan melibatkan hewan uji untuk mengetahui tingkat toksisitas senyawa agar dosisnya dapat ditentukan.&nbsp;<br>Tahapan ketiga adalah uji klinis menggunakan acuan penelitian terdahulu atau langsung dilakukan pada manusia dengan jumlah populasi tertentu dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Uji klinis biasanya dilakukan hingga fase 3. Tahapan terakhir adalah pengajuan persetujuan yang dilakukan oleh lembaga berwenang seperti FDA dan BPOM.<br><br>Kelompok 9:<br>Annisa Dani, Syahda Aulia, Anna Setya, Syifaul Hamidah, Araya Pangastuti </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 13:01:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352261325</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352262088</link>
         <description><![CDATA[<div>Untuk mengembangkan Agelasine D menjadi antiobiotik dibutuhkan berapa tahapan mulai dari uji efektivitas pada tingkat molekul, uji pra klinis, uji klinis, dan pengajuan persetujuan dari lembaga yang berwenang.&nbsp;<br>Uji efektivitas pada tingkat molekul bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai potensi obat, mekanisme, dan interaksi obat dengan zat-zat lain. Setelah itu dilakukan uji pra klinik di laboratorium secara in vitro atau in vivo dengan melibatkan hewan uji untuk mengetahui tingkat toksisitas senyawa agar dosisnya dapat ditentukan.&nbsp;<br>Tahapan ketiga adalah uji klinis menggunakan acuan penelitian terdahulu atau langsung dilakukan pada manusia dengan jumlah populasi tertentu dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Uji klinis biasanya dilakukan hingga fase 3. Tahapan terakhir adalah pengajuan persetujuan yang dilakukan oleh lembaga berwenang seperti FDA dan BPOM.<br><br>Kelompok 9:<br>Annisa Dani, Syahda Aulia, Anna Setya, Syifaul Hamidah, Araya Pangastuti&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 13:02:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352262088</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengembangan produk antimikroba dengan zat aktif agelasin D</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352269512</link>
         <description><![CDATA[<div>Setelah diketahui potensi senyawa agelasin D sebagai antimikroba secara in vivo dan in vitro, hal selanjutnya yang dilakukan adalah formulasi sediaan obat antimikroba yang mengandung zat aktif agelasin D. Pada proses ini dilakukan riset mengenai jenis sediaan dan komposisi sediaan dengan pertimbangan waktu ADME (absorbsi, distribusi, metabolisme, ekskresi) obat, mekanisme aksi, penentuan dosis, rute pemberian obat, efek samping, dan interaksi dengan obat lain. Setelah terbentuk sediaan obat agelasin D, dapat dilanjutkan ke proses uji klinis.<br><br>Kelompok 4&nbsp;<br>Daffa Yafindalisti, Abed Nego, Daffa M. Tsaqif, Fadiyah Yani, Kayla Nisa A.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 13:15:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352269512</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Toksisitas Kronis  In Vivo</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352305234</link>
         <description><![CDATA[<div>Senyawa aktif agelasin D diuji secara toksisitas kronis pada hewan coba untuk menentukan tingkat ketoksikan dengan memberikan dosis becara berulang dalam kurun waktu sepanjang umur hewan coba.&nbsp; Tujuannya untuk mengetahui profil toksisitas bahan uji (agelasine D)&nbsp; secara berulang dalam jangka panjang. Dikarenakan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan uji toksisitas kronis sangat&nbsp;<br>panjang maka dalam pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan&nbsp; uji klinik. Persyaratan yang berlaku pada pelaksanaan&nbsp; uji toksisitas&nbsp; kronis seperti hewan coba, dosis bahan uji, serta rute pemberian&nbsp; sama dengan persyaratan seperti pada pelaksanaan uji toksisitas&nbsp;<br>subkronis.<br><br>Kelompok 15 :<br>Fakhira Althafia Elfananda, Ghea Rachella Tiffany, Salshabila Khairunnisa, Hanizah Isnaini, Yunita Dian Kusuwa Wardani</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 14:07:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352305234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Uji Aktivitas Antiprotozoal Agelasine D</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352331977</link>
         <description><![CDATA[<div>Tujuan dari uji aktivitas antiprotozoal adalah mengetahui dan menganalisis aktivitas antimikroba senyawa Agelasin D dan analognya terhadap beberapa penyakit tropis yang disebabkan oleh protozoa. Tahapan uji aktivitas antiprotozoal meliputi, test plate production sebagai medium, biological screening test menggunakan metodologi screening standar, antiplasmodial activity, antileishmanial activity, cytotoxicity assay atau uji kadar toksisitas senyawa. Hasil dari tahapan ini menunjukkan bahwa senyawa Agelasin D dan analognya menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap beberapa penyakit tropis yang disebabkan oleh protozoa, seperti penyakit Leishmaniasis dan Chagas.<br><br>Pertanyaan :<br>1. Aktivitas apa yang membuat sponge agelasine D lebih di pilih sebagai anti protozo daripada zat aktif yang dapat diambil di darat?<br>2. Bagaimana profil hasil uji aktivitas antiprotozoal untuk agelasine D dan turunannya?<br><br>Kelompok 12 : Riahdo Wicaksono, M. Luthfan Adani, Adelia Citra P, Dafina Aisya F, Luhur Dian W. S.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 14:43:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352331977</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Isolasi Senyawa Aktif Agelasin D dari Spons Laut (Agelas sp)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352360102</link>
         <description><![CDATA[<div>Untuk mengisolasi senyawa aktif Agelasin D dari spons laut (Agelas sp) dilakukan dengan beberapa metode isolasi, yaitu uji kromatografi lapis tipis (KLT) pada sampel ekstrak kasar sponge menggunakan plat silika dan dielusi dengan heksana:etanol 4:1, visualisasi terhadap uji KLT dilakukan menggunakan UV, serium sulfat, dan Dragendorff serta dilakukan uji antibakteri pada sampel menggunakan metode difusi agar.&nbsp;<br><br>Dengan mempertimbangkan hasil KLT dan uji aktivitas dari sampel, dilakukan fraksinasi menggunakan MPLC (Medium Pressure Liquid). Lalu, dilakukan pemurnian senyawa dengan metode slow evaporation dalam pelarut yang sesuai. Setelah didapatkan kristal, diuji kemurniannya menggunakan KLT dengan perbandingan pelarut yang berbeda dan HPLC. Kemurnian senyawa ditandai dengan adanya noda membulat yang simetris pada plat KLT dan satu puncak spektrum yang simetris pada HPLC. Kemudian, dapat dilakukan kembali uji antibakteri hasil fraksinasi&nbsp;dan&nbsp;pemurnian<br>Pertanyaan :<br>Seberapa banyak (%) senyawa murni yang dapat terisolasi dari ekstrak sampel?<br><br>Kelompok 17&nbsp;<br>Alifia Briliani, Resalifa Yusita, Anzilya Nurul, Dessi Resti, Rifdah 'Afuw</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 15:20:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352360102</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lead Optimization atau optimasi senyawa penuntun</title>
         <author>sheladwiyanti</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352375677</link>
         <description><![CDATA[<div>Tahap ini dapat dilakukan dengan cara memodifikasi struktur senyawa penuntun dari Agelasine D atas dasar pemilihan gugus atau substituen secara rasional dengan tujuan mendapatkan senyawa dengan aktivitas yang lebih tinggi dan mengurangi faktor coba-coba seminimal mungkin sehingga lebih ekonomis. Dalam tahap ini dapat dilakukan 2 metode, yaitu:<br>1. Pendekatan Topliss, yaitu dengan cara memodifikasi struktur pada rantai samping gugus alkil senyawa Agelasine D atau dengan memodifikasi struktur pada cincin aromatik senyawa Agelasine D.<br>2. Metode pencarian Fibonacci, yaitu sebuah metode sederhana, non computer dan pada umumnya digunakan untuk modifikasi molekul pada rantai samping senyawa penuntun dari Agelasine D dalam usaha mendapatkan senyawa dengan aktivitas biologis dalam hal ini Agelasine D sebagai antibiotik yang memiliki efek optimum.<br><br>Pertanyaan :<br>Diantara kedua metode diatas, metode manakah yang paling efektif digunakan untuk mendapatkan senyawa penuntun Agelasine D yang memiliki aktivitas biologis paling tinggi?<br><br>Kelompok 5:<br>1. Fatin Alifa Muzailin<br>2. Evangelita Kalissa<br>3. Alifia Rova Melita<br>4. Azka Radhia Rahmani<br>5. Shela Dwi Yanti</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-23 15:41:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352375677</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 13</title>
         <author>davidrofiudin12</author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352821649</link>
         <description><![CDATA[<div>1. 1. Tahap Pertama, Penyiapan Bahan Baku-&gt; Bahan Baku yang diperlukan utamanya adalah isolasi dari Agelas sp.<br>2. Tahap Dua, Ekstraksi -&gt; Tahapan ekstraksi dibagi menjadi 3 subtahap.&nbsp;<br>A. Subtahap 1, Dilakukan untuk mengetahui waktu optimum<br>B. Subtahap 2, Dilakukan untuk mengetahui rasio bahan/pelarut optimum serta suhu ekstraksi optimum,<br>C. SubTahap 3, dilakukan&nbsp;<br>ekstraksi dengan menggunakan kondisi (waktu, rasio, dan suhu) optimum.&nbsp;<br>Kemudian, dilakukan analisis kadar menggunakan spektrofotometri.<br>3. Tahap tiga, Uji efektivitas -&gt; Dilakukan pembuatan media, perlakuan terhadap kertas cakram, dan pengukuran zona hambat.<br>Pembacaan awal dilakukan setelah 24 jam. Diameter zona hambatan yang terbentuk&nbsp;<br>diukur dengan penggaris untuk menentukan efektivitas antibakteri (Volk dan Wheeler, 1993). Pengukuran&nbsp;<br>zona hambatan dilakukan dengan mengukur diameter daerah jernih. Diameter zona hambat adalah pada&nbsp;<br>diameter yang tidak ditumbuhi bakteri di sekitar kertas cakram dikurangi diameter kertas cakram.&nbsp;<br><br>2. Apakah Tahap kritis dan kesalahan yang sering dilakukan yang dilakukan selama proses identifikasi senyawa antimikroba??<br><br>Nama Anggota Kelompok<br>1. Awara Nindya<br>2. Fransisca Anugerah<br>3. Clara Audria N<br>4. David Rofiudin Arizky<br>5. Thalia Hazar M</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-24 01:59:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352821649</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Evaluasi Aktivitas Antimikroba Agelasine D dengan Metode Difusi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352894639</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Dilakukan <strong>pengambilan dan preparasi sampel</strong> dengan cara Spons (500 gram) dipotong menjadi potongan kecil dan dikeringkan selama 2 hari sebelum digunakan. Spesimen yang sudah kering (49,3 gram) dibasahi dengan 400 mL MeOH 2x, disaring, dan kombinasi/gabungan supernatan dikeringkan sehingga menghasilkan ekstrak kasar. Ditriturasi dengan hexana, diklorometana, metanol, dan H2O.</div><div>2. Ekstrak sampel yang didapatkan diuji aktivitas antimikrobanya dengan metode <strong>Difusi Cakram</strong> dengan cara diserapkan pada kertas cakram dan ditempelkan pada media agar yang telah dihomogenkan dengan bakteri gram positif dan gram negatif, kemudian diinkubasi sampai terlihat zona hambat didaerah sekitar cakram.</div><div><strong>3. Analisis spektroskopi dengan NMR </strong>pada suhu 25 derajat celsius. Data yang dibutuhkan ialah dalam rentang 100-1000 m/z. Analisis dilakukan untuk menentukan sifat fisik dan kimia dari atom atau molekul di dalamnya.</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Pertanyaan yang sesuai:</div><div>- Berapa diameter zona hambat yang dihasilkan antara sampel dengan bakteri gram positif dan gram negatif? Apakah interpretasi hasil tersebut?</div><div>- Bagaimana struktur molekul senyawa antimikroba yang diamati dan bagaimana kemurniannya?</div><div>&nbsp;</div><div>Anggota:</div><div>Tania Audria Sutopo</div><div>Elyda Fauzia Rahma</div><div>Hanifa Diyah Purwaningrum</div><div>Sheren Christanti Hariyanto</div><div>Muhammad Isnan Kusuma</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-24 03:05:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hertiani/iagpb931qjl8bbke/wish/2352894639</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
