<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Narasi Diskusi Charlotte Mason Vol. 4 Batch 2 by CMid Jakarta</title>
      <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq</link>
      <description>&quot;Ourselves&quot;</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-10 12:15:16 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4d8.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Kesucian</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480351</link>
         <description><![CDATA[<div>Bab IV: Kesucian<br><br>Sejatinya, setiap hasrat tercipta untuk kebaikan manusia. Tanpa rasa lapar, bagaimana bisa punggung manusia dapat berdiri tegak. Melaksanakan banyak kebaikan. Bila haus tiada, mustahil tubuh mampu bertahan lama. Begitu pula syahwat hadir untuk melanggengkan ras manusia. Sedemikian alami hasrat-hasrat tsb., Ibu CM mewanti-wanti agar mereka berposisi sebagai pelayan manusia. Jangan sampai mereka mengambil alih, merebut posisi sebagai tuan. Untuk itu setiap waktu, melatih kesadaran berpikir amat dibutuhkan. Dengan menyuplai ide-ide berharga untuk menumbuhkan pikiran.<br><br>Secara khusus, bab IV membincang panjang lebar menjaga kesucian yang, terkait dengan bagian tubuh tertentu. Senada sengan QS. Al-Isra: 32. Di ayat itu Allah memerintah agar tidak mendekat pada segala perbuatan yang menodai kesucian. Sebagai upaya pencegahan bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya.<br><br>Ibu CM mengidentifikasi perilaku penodaan kesucian. Seperti mencari tahu hal-hal tabu yang belum tiba waktunya. Baik mengghibah tema itu, maupun mengaksesnya dari bacaan porno atau media lainnya. Pak Quraish dalam tafsirnya, Al-Mishbah, menambahkan. Mengkhayalkan hal-hal seksual akan memicu laki-laki dan perempuan untuk mendekati penodaan kesucian.<br><br>Pagar yang sedemikian ketat.&nbsp; Agar manusia terhindar dari salah satu sumber dosa kecemaran. Ibu CM menyebutnya sebagai dosa yang najis dan paling mematikan dari semua dosa. Dibenci banyak orang. Buya Hamka dalam tafsirnya, Al-Azhar, menyisir dampak negatif dari dosa kecemaran (zina). Seperti gadis hamil tanpa suami, legalisasi aborsi (tanpa indikasi medis) di negara maju, jual beli anak hasil hubungan gelap, penyalahgunaan obat pencegah kehamilan dan timbulnya penyakit-penyakit kelamin.<br><br>Bagi muda-mudi yang dimabuk cinta, tentu tidak mudah menjaga kesuciannya. Ibu CM mengingatkan untuk senantiasa menghadirkan Allah dalam benak. Supaya kesucian tetap terjaga. Ibu CM bahkan menobatkan sebagai pahlawan bagi mereka yang mampu menjaga kesucian hingga saatnya tiba. Menikah memunculkan potensi kebahagiaan dan ketenangan. Ketika potensi itu teraih, boleh jadi putra putri yang terlahir dari ikatan halal itu akan menjadi generasi sehat jiwa dan raga.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480351</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kutipan Tennyson (Titin)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480352</link>
         <description><![CDATA[<div>Penghargaan, pengetahuan, dan penguasaan akan diri sendiri merupakan satu satunya jalan untuk mencapai otoritas yang berdaulat (Tennyson).<br><br>Hati ini bergetar hebat saat membaca kutipan dari Tennyson. Tak berguna, rendah diri, frustasi, anggapan bodoh, dan jahat seketika hadir kembali. Aku akrab dengan rasa-rasa itu. Dan bila ditanya, bagaimana rasa-rasa itu bermula, aku tak tahu pasti jawabnya.<br><br>Menjadi manusia itu rumit. Tiba-tiba hilang kendali. Menyusul krisis diri. Asing terhadap diri tak bisa dihindari. Ilâhi Rabbî. Bagaimana mengurai kekusutan ini? Konon, siapa yang mengenal dirinya akan mengenal penciptanya. Apa benar? Mari menjelajah diri. Diri yang mana?<br><br>Diri yang sekarang terbentuk dari pengetahuan dan pengalaman masa lalu. Saat kecil, manusia begitu mudah menyerap apa saja. Dan memberi tafsiran subjektif atas beragam peristiwa yang dialaminya. Kata saintis, _animal brain_ manusia telah matang sejak ia mulai mampu merasa. Ia bertindak berdasar selera pribadi.&nbsp;<br><br>Masalah datang saat manusia mengenal buah pengetahuan. Pertarungan diri lama dan diri baru memasuki babak seru. Ingin bangkit, tapi kok sulit? Semangat, di mana ia tersemat? Cita-cita tinggi, tantangan muncul lebih hebat lagi. Aduh!<br><br>Saatnya menekuni bukunya Dr. Joe Dispenza. Dari buku itu, aku makin paham apa itu tasawuf. Yaitu selalu berterima kasih pada Sang Mahahidup. Meskipun yang dihadapi kesakitan diri. Meskipun yang dinanti tak kunjung menghampiri. Dll. Perjalanan diri itu makin dekat. Bila bahagia selalu lekat.<br><br>Orang-orang yang mampu bahagia tanpa syarat tak pernah mencipta sekat. Dia terhubung dengan banyak pintu kesejahteraan. Senyumnya mengembang. Bicaranya tenang. Langkahnya tak pernah gamang. Kukuh. Teguh. Tak mudah luruh. Bukan dunia yang mengontrolnya. Namun ia yang menjadi tuannya. Ia selalu terhubung dengan kedaulatan dirinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480352</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keindahan</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480353</link>
         <description><![CDATA[<div>27 Februari 2023<br><br>Tak terbayang jika semua adalah sama<br>Semua suara sama<br>Semua pohon sama<br>Semua wajah sama<br>Semua ukuran sama<br>Semua awan sama<br>Semua daratan sama<br>Semua lautan sama<br>Semua hewan sama<br><br>Ketika milyaran manusia tak satupun sama<br>Ketika setiap suara itu berbeda<br>Ketika tiap wilayah berbeda<br>Ketika tiap keindahan itupun berbeda<br><br>Keindahan adalah PERBEDAAN<br>Kesenian adalah Kenikmatan akan perbedaan<br><br>Jika Tuhan menciptakan semua keindahan dan bernilai seni tinggi karena semua berbeda, maka kenapa kita harus menyamakan semua perbedaan dan membuat standard akan keindahan hasil karya tiap mahluknya yang berbeda?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480353</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Imajinasi Ego</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480354</link>
         <description><![CDATA[<div>Imajinasi Diri (Ego)<br><br>Imajinasi memiliki daya kekuatan luar biasa. Seturut imajinasiku, ia mampu mengembangkan gagasan yang ditembakkan padanya. Sebagaimana cara kerja fermipan pada adonan roti. Membesar berlipat-lipat melebihi adonan pertama.<br><br>Ada sebuah kisah. Seorang pemuda diramalkan kaya raya nantinya. Sejak itu, ia berleha-leha. Menikmati gambaran imajinasi yang tumbuh subur di benaknya. Pemuda kaya raya. Ia akan tersinggung, bila diminta bekerja. Imajinasinya mengatakan, orang kaya raya tidak menyabit rumput, demi kekenyangan hewan peliharaannya. Ia dilayani layaknya raja. Setiap yang ia jumpai akan menjura di hadapannya.<br><br>"Mimpi indah, tak ada ruginya, kecuali saat bermimpi orang lupa melakukan dan mengambil tindakan, sementara itu hidup terdiri dari melakukan, dan sama sekali bukan dari bermimpi." (CM, vol. 4)<br><br>Imajinasi yang berpusat pada ego, akan menumbuh suburkan permusuhan diri terhadap orang lain yang tidak menyepakati gambaran kita terhadap diri sendiri. Alih-alih melatihkan kebiasaan baik, diri disibukkan memaki, marah, sedih yang berkepanjangan. Pandangan menyempit. Berpusat pada diri (ego). Lambat laun ego membangun rumah sedemikian megah di dalam diri.<br><br>Sebuah pencerahan dari Ibu CM. Tugas kita, pemilik imajinasi, untuk mengarahkannya sesuai panggilan sejatinya. Yaitu memandang dan menggambarkan banyak hal yang berpusat di luar diri (ego). Pandangan objektif. Tentu saja, suplai utamanya adalah gagasan-gagasan hidup, penggerak diri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Menyulap pertumbuhan diri dan orang lain.<br><br>Ada yang cerewet mendebat. Situ enak, tidak punya inner child. Betul, bahwa inner child sandungan utama bagi pertumbuhan diri. Ibu CM punya tips sederhana untuk mengusir ego. Agar ia tidak menyetir gambaran imajinasi diri terlalu dalam, cukup katakan,<br><br>"Pegang bahu ego, tatap lekat-lekat, tertawai ia atas kekonyolannya." (CM, vol. 4).<br><br>Katanya, orang yang paling cerdas adalah ia yang memiliki selera humor yang tinggi. Kataku, orang tercerdas adalah ia yang mampu menertawakan dirinya sendiri.<br><br>(28 Maret 2023).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pikiran Sadar</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480355</link>
         <description><![CDATA[<div>Dahsyatnya Kesadaran Berpikir<br><br>Manusia, makhluk yang kompleks. Ia mampu melebihi derajat malaikat dan merosot lebih rendah dari derajat hewan. Derajat itu ditentukan pada kemampuan dan kelemahannya dalam mengarahkan potensi baik-buruknya. Contoh potensi setan di pikirannya. Pikiran, selain menumbuhkan akal budi, juga terancam oleh kemalasan.<br><br>Kemalasan melanda ketika pikiran digunakan untuk memperhatikan hal-hal remeh. Seperti bergosip atau membahas peristiwa belaka. Tanpa menyertakan pemikiran mendalam. Kosong gagasan dan tidak mendidik kesadaran.<br><br>Andai pikiran sadar mulai, melakukan keputusan penting demi menumbuhkan akal budi, akan tercipta daya berkekuatan besar untuk mengerjakan sebuah tujuan. Tak peduli serumit dan sebanyak apapun gejolak pikiran-buruk yang menyertainya. Boleh jadi berat di awal. Bak menaiki eskalator menurun, bila tak berupaya ke atas, akan terseret ke bawah dengan sendirinya.<br><br>Mengupayakan hidup berkesadaran, memang tak semudah mengghibahkan teman yang tak sejalan. Butuh energi banyak, apalagi saat baru mulai sadar. Tak dipungkiri kegembiraan menyertai atas capaian penaklukan kemalasan berpikir. Namun, hal itu kemenangan sementara. Kesadaran berpikir akan melemah kembali. Butuh digugah lagi. Dengan menyorotkan atensi pikiran, intensi konsentrasi menguat kembali menuju apa yang hendak dicapai.&nbsp; Kewaspadaan ini bersifat terus menerus.<br><br>Penggoda pikiran sadar lainnya berupa kebiasaan. Manusia secara alami mudah bosan. Kala jenuh melanda, hal itu penanda&nbsp; bahwa benak menganggur. Energi di dalamnya tersumbat. Tidak banyak terpakai. Sebuah kebiasaan lama, yang sering dilalui jalur sama, akan diambil alih pikiran bawah sadar yang tak terkait dengan syaraf dan darah. Sehingga berjalan secara otomatis. Kesadaran menganggur kembali. Butuh pemacu kebiasaan baru. Agar staminanya terjaga. Melakukan tugasnya, yakni memutuskan hal-hal yang menumbuhkan akal budinya.<br><br>Demikian potensi baik-buruk intelektualitas. Benak diberi tugas menggerakkan keputusan penting. Melawan kemalasan dengan hanya pergerakan. Menghadapi kejenuhan dengan mengerjakan kebiasaan baru. Suratan takdir manusia, untuk mengimitasi kreatifitas Sang Pencipta semesta raya. Bukan penikmat yang malas-malasan. Apalagi bermental korban. Duh!<br><br>08-03-2023. Nyonya Ali, satu-satunya Nyonya Ali di CMid-J.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480355</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah-24/01/2023</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480356</link>
         <description><![CDATA[<div>Sejarah merupakan suatu bahasan yang penuh dengan hal-hal menakjubkan sebetulnya, selama ia diceritakan secara hidup. Bukan hanya berisi potongan2 kisah, atau ragam tanggal kelahiran/kematian, tahun terjadinya suatu peristiwa sebelum atau sesudah Masehi atau hal2 serupa yang lebih banyak hanya menyajikan data2 garing yang membosankan bagi pikiran. &nbsp;<br><br>Jika sejarah bisa diceritakan dengan alur yang lebih jelas sambungan-sambungan kisahnya, maka sejarah akan luar biasa menarik untuk disimak, memunculkan antusiasme yang tinggi serta berpeluang menghasilkan insight2 yang akan berguna bagi kehidupan.&nbsp; Bagaimana tidak, sejarah yang diceritakan secara utuh bisa menyajikan pada kita perjalanan umur bumi, kisah&nbsp; hidup orang-orang penting dan bagaimana suatu negara berdiri sekaligus hancur dengan berbagai adegan detil yang memantik ide dalam benak pembacanya. Di sinilah peran intelek bermain. Tentu intelek tidak dapat melakukan sendiri dan harus mengajak serta teman seperjalanannya yaitu imaji.&nbsp;<br><br>Saat membaca kisah2 sejarah yang digambarkan secara runtut, intelek bekerjasama dengan imaji akan dapat memetakan peristiwanya secara jelas dalam benak manusia sehingga seolah-olah mereka sedang benar-benar berada di tempat kejadian. Dengan begitu, antusiasme serta motivasi untuk mencari lebih banyak lagi akan semakin meningkat dan akhirnya membuat manusia tersebut menjadi cukup terasup terkait pergerakan manusia sejak awal kehadirannya di bumi serta juga perkembangan yang terjadi di alam semesta sehingga berpeluang memunculkan ide-ide baru yang bisa jadi merupakan berkat bagi semesta.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480356</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pemerintah Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480357</link>
         <description><![CDATA[<div>Zia-11/10/2022<br><br>Membahas kerajaan jiwa manusia terasa begitu menarik sekaligus mumet. Betapa tidak, Charlotte Mason menggambarkannya dengan begitu menyeluruh tapi dengan menggunakan berbagai permisalan dan metafor yang ajib-ajib, ada2 aja miss Mason. Sampai saat ini aku masih penasaran, siapa sih sebetulnya yang disebut Sang Raja oleh miss Mason? Ruh? Qalb? Atau siapa? Mungkin ini akan terus jadi misteri sampai pembahasan volume 4 ini selesai dibahas seluruhnya. Hmm bukan waktu yang singkat tentu ditengah2 rasa penasaran yang begitu menggebu! Jadi, anggap aja lagi pelatihan kematangan AB yaa….hee<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;<br>Pada bab III ini, miss Mason mengawali ceritanya dengan mengenalkan berbagai bagian dari kerajaan jiwa manusia laiknya suatu sistem pemerintahan yang terstruktur. Tentu maksudnya agar bahasan ini jadi mudah dipahami meski kenyataannya tidak semenyenangkan itu. Dalam kerajaan jiwa manusia, ada lima bagian yang diperkenalkan dari banyak bagian2 lain yang belum saatnya untuk dibahas. Lima bagian ini disebut sebagai para Menteri/pejabat negara. Mereka adalah yang utama dalam rangka mengawali pemahaman terhadap kerajaan luas jiwa manusia. Mereka adalah :<br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Ajun Komisaris Tubuh (yang paling rendah) dan dikenal sebagai Sang Hasrat/hawa nafsu.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pejabat Urusan Pendapatan dan Penerimaan Negara yang dikenal sebagai Sang Keinginan.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pejabat Perbendaharaan Negara yang dikenal sebagai Sang Kasih Sayang.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sekretaris Luar Negeri yang dikenal sebagai Sang Intelektual, beserta para rekannya yaitu :</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kepala bidang Eksplorasi (Imajinasi)</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kepala bidang Seni (Sang Estetika)</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Jaksa Agung (Nalar)</div><div>5.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pejabat Majelis Hati, yang terdiri dari :</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Ketua Mahkamah Agung (Nurani)</div><div>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Perdana Menteri (Kehendak)<br><br></div><div>Terus muncul pertanyaan dalam hati, apa bedanya Hasrat/hawa nafsu dengan keinginan ya? Kalau dari kajian Ghazalian, nafsu itu terdiri dari 2 hal yaitu Ghadab (insting bertahan hidup) dan syahwat (keinginan). Nah, di sini ibu CM justru membedakan antara si hawa nafsu dan si keinginan, menarik meski masih PR 😊.<br><br></div><div>Selanjutnya, para menteri/pejabat ini dikatakan duduk dalam majelis-majelis sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Majelis-majelis ini terbagi menjadi 4 bagian, yaitu :<br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Majelis Tubuh</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Majelis Akal Budi</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Majelis Hati</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Majelis Jiwa<br><br></div><div>Meski digolongkan ke dalam empat majelis, CM mengajak kita semua untuk tidak berpikir per bagian seperti yang pernah ia katakan “tidak ada fakultas-fakultas dalam diri manusia”. Artinya, meski seolah-olah merupakan bagian yang terpisah, tapi kerajaan jiwa manusia bergerak selaras bersama-sama, saling melengkapi satu sama lain. Lalu koordinatornya siapa? Mungkinkah sang otak yang dapat perintah langsung dari Sang Raja? Lalu lagi-lagi pengen nanya, Sang Rajanya siapa? Wallahua’lam&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480357</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rasa Estetika</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480358</link>
         <description><![CDATA[<div>16/05/2023<br>Zia<br><br>Rasa estetika merupakan kemampuan untuk mengagumi dan menyukai keindahan. Tentu saja hal ini sangat diperlukan oleh seseorang, krn Tuhanpun menyukai keindahan. Akan tetapi kadarnya perlu diatur agar sesuai dan pas.&nbsp;<br><br>Jika kadar dr rasa estetika ini berlebih, maka akan berpotensi membawa seseorang terjerumus kedlm eksklusifitas yg byk memandang diri lebih baik dr org lain, membuat batasan tertentu dg orang yg tdk sealiran dengannya, serta cenderung bersingkap angkuh terhadap jelata.<br><br>Orang2 seperti ini bahkan tdk tertarik sama sekali utk berinteraksi dg org lain dr kalangan ekonomi lemah yg mungkin saja tdk punya daya/kesempatan yg longgar untuk melibatkan rasa estetika dlm keseharian mrk. Maka inilah yg disebut eksklusifitas. Manusia perlu waspada terkait hal ini.<br><br>Kesimpulannya, selama seseorang bs menghindari perasaan merasa lbh dr orang lain, serta mampu membawa keindahan ke tempat2 yg membutuhkan secara holistik, maka manusia tdk perlu khawatir dg eksklusifitas.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480358</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jaksa Agung, Nalar</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480360</link>
         <description><![CDATA[<div>31/05/2023<br><br>Nalar merupakan teman dari intelek. Dengan bantuan nalar seseorang cekatan dalam mengait-ngaitkan antara satu info dengan info yang lain sampai akhirnya dapat menarik kesimpulan sebelum melakukan tindakan. Nalar ini sifatnya netral dan pada dasarnya akan berpijak pada gagasan-gagasan yang sudah ada dalam diri seseorang.&nbsp;<br><br>Oleh sebab itu, jika gagasan yang tertanam dalam benak banyaknya adalah gagasan yang merusak (destruktif) maka nalar akan dengan senang hati mendukung gagasan itu dengan berbagai pembenaran yang bisa ia temukan. Dampaknya tentu keburukan bagi diri, sesama dan lingkungan. Begitu juga sebaliknya, saat gagasan yang ada dalam benak banyaknya adalah gagasan yang membangun (konstruktif), maka sang nalar dengan senang hati akan mendukung gagasan tersebut sehingga menjadi suatu tindak nyata yang berpeluang membawa berkah bagi sesama</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480360</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Introduction Ourselves</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480361</link>
         <description><![CDATA[<div>Dengan memiliki pengetahuan akan diri,&nbsp; maka kita dimungkinkan untuk memiliki pengendalian dan penghargaan terhadap diri, saat itu semua dimiliki maka kita akan memiliki kedaulatan atas diri kita sendiri.<br><br>Sistem pendidikan seringkali membuat kita fokus pada segala hal yang bersifat eksternal, segala pengetahuan hanya dikaitkan semata-mata atas nama kemakmuran ekonomi sehingga pendidikan untuk mengenal diri sendiri seringkali terabaikan kalau tak mau dibilang tidak pernah kita peroleh.<br>Kita tumbuh menjadi pribadi yang begitu mudah dikendalikan oleh impuls2 eksternal, mudah merasa terintimidasi dan terjangkiti penyakit FOMO, merasa takut menjadi berbeda dengan orang banyak sehingga kita mengambil.keputusan seringkali semata-mata karena tekanan atau tuntutan kepatutan dari luar, entah dari orang tua, teman sekolah atau lingkungan pergaulan.&nbsp;<br>Begitu mudah kita merasa tidak nyaman saat berbeda dengan yang lain walau menjadi sama dengan yang lain itu sejatinya juga tak nyaman bagi diri.<br><br>Remaja sesuai perkembangan psikologis dan fisiologisnya di usia sekitar akhil baliq juga mengalami banyak turbulensi di dalam dirinta, antara pencarian jati diri dengan keinginan untuk menyesuaikan diri dan menjadi sama dengan lingkungannya, ibaratnya orang mengemudikan kapal tanpa tahu ke mana tujuannya, keadaan diperparah dengan pola pengasuhan yang salah yang kadang diwariskan, seperti perilaku penuh kekerasan, hanya memuji saat anak berprestasi atau menuruti kemauan orang tua membuat anak seringkali merasa tidak berharga dan kemudian mencari pengakuan dari orang lain dengan segala macam cara.<br><br>Pengetahuan akan diri tentunya akan bermanfaat memberi semacam petunjuk&nbsp; dan bimbingan bagi anak remaja dalam melalui masa sulitnya itu dan tentunya ini akan menjadi bekal berharga saat kelak dia juga mengemban tugas sebagai manusia dewasa atau orang tua, untuk menemukan keselerasan hidupnya dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan atas dirinya.<br><br>Narasi oleh Ratna Hayati</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480361</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bab II-intelek (Rasa Keindahan Kita-Balai Simulasi)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480362</link>
         <description><![CDATA[<div>Yeayy hari ini pertemuan luring perdana grup diskusi volume 4.<br><br>Rasanya senang sekali bisa berdiskusi tatap muka bersama teman-teman apalagi tempatnya di alam terbuka dengan tema diskusi yang entah kebetulan atau tidak pas sekali yaitu tentang rasa keindahan.<br>Kita selama ini hidup di tengah keindahan, entah itu keindahan yang disajikan alam semesta maupun keindahan dalam seni, perlu imajinasi serta mata dan telinga yang tajam tentunya untuk bisa menikmatinya, dan dengan rasa keindahan ini kita bisa makin menikmati kesenangan paripurna dari literatur.<br>Membiasakan anak sejak dini main di alam merupakan bagian dari melatih rasa keindahan yang sebetulnya sudah ada secara alamiah pada diri setiap manusia, namun apabila tidak dibiasakan bisa jadi kita akan sedikit sekali merasakan bahwa ada keindahan di alam, mata yang terlatih bisa jadi hanya melihat pohon sebagai pohon, bunga sebagai bunga tanpa bisa memaknai keberadaannya sebagai sesuatu yang luar biasa suatu tanda kebesaran sang Maha Pencipta yang harus disyukuri dan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang sederhana.<br>Ayu menyampaikan bahwa saat main di alam tidak usah banyak berceramah menjelaskan nama2 Tanaman, biarkan saja anak belajar langsung dari sang ibu alam, berelasi langsung dengan alam, bahkan saat mereka duduk melamun itu adalah hal yang baik karena bisa jadi saat itulah mereka sedang bercakap2 dan menikmati keindahan alam dengan caranya sendiri tanpa perantara kita.<br>Ada bahasan juga tentang bahwa orang Atheis sulit menciptakan karya literatur karena tidak mengakui keberadaan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta keindahan, tapi ini juga masih debatable karena nyatanya ada beberapa penulis prosa dan puisi yang mengaku Atheis.<br>Selain dengan main di alam, membiasakan anak dan juga diri sendiri melihat karya seni yang indah juga bisa melatih rasa yang nantinya akan membawa kita bisa menikmati literatur.<br>Seni bisa menyesuaikan dengan konteks tempat tinggal kita, misalnya kita sebagai orang Indonesia bisa menggunakan keragaman budaya kita atau karya2 seniman Indonesia sebagai subyek belajar, baik seni rupa maupun seni musik, walau&nbsp; belajar seni klasik juga tetap perlu juga.<br>Paragraf terakhir membahas jebakan simulasi, bahwa jangan sampai kita terjebak sekedar memproduksi karya semirip mungkin dengan asli tanpa memahami makna di balik keindahan, karena dengan demikian bisa jadi kita tidak benar2 masuk ke dalam keindahan itu sendiri. Pengenalan terhadap keindahan kembali lagi muaranya adalah memantik rasa kagum kita dan mempertebal kecintaan kita pada Sang Maha Kuasa dan bagaimana kita bisa mencintai keindahan itu sendiri dengan menjaganya, menjauhkan dari segala tindakan yang merusak.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2083717884/97ddd544f76f21f9ed60d906ef2de85f/padlet_image_picker_file_cce09049_8c5f_4fd7_90dd_8ba821dfbffb.jpg" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480362</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Intelektual</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480363</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam bahasan kali ini ibu CM menyoroti tentang kebiasaan manusia yang suka hanya berkutat pada hal-hal remeh remeh seputar dirinya sendiri sehingga seringkali melewatkan kekayaan dunia intelektual yang dibahas sebelumnya, terjebak rutinitas membuat kita lupa menyadari betapa kayanya intelektual kita, abai menjelajah ke berbagai kerajaan intelektual seperti sejarah, literatur, seni, keindahan alam karena terlalu sibuk berkutat pada rutinitas harian sehingga tidak mampu lagi memikirkan hal-hal besar. Sesekali memikirkan hal remeh sebetulnya tidak mengapa tapi sayangnya seringkali hal-hal remeh yang justru menguasai hari dan hidup kita. Pernyataan ini lantas memantik diskusi di antara kami, memperbincangkan apa yang dimaksud remeh dan besar? Lantas teman2 berbagi pandangan ada yang menyampaikan bahwa hal remeh itu ketika kita hanya berkutat pada hal2 Yang seputar kesenangan kita sendiri seperti misalnya terus menerus menginginkan snack kekinian dengan harga promo yang banyak memborbardir hari2 kita, atau mungkin baju model terbaru dan kalau aku mengingat hari2ku setahunan yang lalu adalah hobiku mengumpulkan tanaman langka yang menyita sebagian besar waktuku sehingga lupa daratan, ada juga yang berpendapat bahwa mungkin yang dimaksud hal remeh adalah saat kita melakukan sesuatu tanpa tahu pasti apa tujuannya apa maknanya sehingga sekedar menjadi rutinitas tanpa makna yang dilakukan secara mekanis. Sempat terlontar juga fenomena menghabiskan waktu di sosmenld mengamati kasus2 yang viral sehingga tanpa sadar menyita banyak waktu dan perhatian tanpa ada output yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.<br>Sementara yang dimaksud dengan hal-hal besar adalah ketika apa yang kita lakukan ditujukan untuk kemaslahatan orang banyak, atau memiliki tujuan jangka panjang.<br>Lontaran miss Mason sempat mengusik kalbu juga terutama bagi yang saat ini rutinitas kesehariannya adalah seputar urusan rumah tangga saja , mengurus anak-anak apakah berarti ini melakukan hal remeh? Tapi lantas itu ditepis oleh pernyataan bahwa saat kita menyadari benar apa makna dan tujuan dari segala kegiatan kita saat ini, bahwa tugas mendidik anak ini juga bisa memberi kontribusi besar untuk masyarakat maka ini sama sekali bukan sesuatu yang remeh remeh apalagi di sela kesibukan mendampingi anak kita masih menyempatkan diri berdiskusi selama 2 jam seminggu sekali untuk tetap menumbuhkan diri.<br>Dalam bahasan kali ini CM juga memberi beberapa contoh bahwa seringkali pengetahuan ini bisa menjadi tuan yang buruk saat kita menggunakannya sesempit hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan materi atau jabatan. Fenomena orang berlomba mengejar gelar atau beasiswa dan prestasi hanya sekedar untuk memenuhi ego pribadi atau sekedar untuk meraih jabatan tertentu yang ujungnya demi memperkaya diri sendiri alih-alih menggunakannya untuk melayani sesama.<br>Sebuah tamparan keras untukku membuatku harus kembali merenungkan apa tujuan hidupku jangan2 juga masih berkutat di hal-hal remeh itu, walhasil kepalaku terasa berat dan pening, aku pusing, tapi aku lega terus diingatkan akan apa hakikat dan makna setiap pekerjaan yang kulakukan.<br>Tansah eling lan waspada, melakukan segala hal dengan kesadaran bukan asal mengikuti apa yang sudah umum dilakukan di masyarakat.<br><br>Jakarta, 7 Maret 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2083717884/db0144fbeca028add6bec2ef3d147302/padlet_image_picker_file_1fcf78a7_e1fe_4ad8_8f47_57d2e1e35f58.jpg" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480363</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setan-setan Intelektual (7 Maret 2023)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480364</link>
         <description><![CDATA[<div>Judulnya provokatif ya, secara setan ini biasanya ditakuti ternyata intelektual juga ada setannya.<br>Dalam pembahasan hari ini, CM memasukkan kemalasan dan kelambanan sebagai setan intelektual.<br>"Mager" kalau kuistilahkan saat ini, setan yang menggoda setiap hari setiap saat akan memulai aktivitas sejak bangun tidur, kalau boleh memilih rasanya ingin bermalas-malasan saja sambil scrolling medsos. Kegalauan yang sering dirasa saat ingin memulai hal baru yang baik seperti rutin berolahraga, membaca buku, membuat hasta karya, berbagi ilmu, diskusi rutin dengan teman-teman komunitas, rasanya ada saja hal yang membuat terasa berat dilakukan di awal, padahal saat kita menguatkan hati dan niat untuk sekedar memulai maka langkah berikutnya akan terasa ringan, yah sesederhana mulai saja dulu. Seringkali kita memiliki mental block saat akan memulai hal yang baru, pikiran negatif, kekhawatiran dan rasa malas keluar dari zona nyaman seakan membajak dan membuat kita enggan memulai, kita bisa punya 1001 alasan padahal sesungguhnya tanpa sadar setan kelambanan dan kemalasanlag yang mungkin sedang bekerja.<br>Bahasan berikutnya adalah kebiasaan atau rutinitas yang ternyata juga bisa menjadi setan intelektualitas, saat kita terjebak dalam rutinitas harian entah apapun itu kita jadi<br>&nbsp;enggan belajar hal yang baru padahal Tuhan menganugerahi kita dengan kekayaan intelektualitas , asal kita MAU untuk mengaktifkan maka sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin, rutinitas membuat kita malas bereksplorasi, ya sudah merasa cukup dengan yang begitu saja, sudah merasa lelah dan overwhelmed padahal mungkin sebetulnya belum mengerahkan segenap kapasitas yang potensinya Mungkin sudah kita miliki, lagi-lagi mental block yang mendominasi dan membajak menjadi tuan atas pikiran kita.<br>Saat rasa bosan melanda karena kita sudah terlalu rutin dan mekanis mengerjakan sesuatu mungkin kita bisa&nbsp; mengambil waktu untuk merefleksikan kembali tujuan dan melihat kemungkinan prioritas lain yang bisa kita lakukan untuk tetap terus bertumbuh.<br>Saat hadir di pameran Inacraft 2 hari yang lalu intelektualitas ku seakan bertualang dan melihat banyak kemungkinan-kemungkinan yang masih bisa ditambah, tapi ya memang langkah terberat dan tersulit adalah untuk memulainya.<br>Mudah dibilang "mulai saja dulu" tapi begitu sulit dilakukan.<br>Aku juga punya inspirasi lain yaitu dari suster-suster yang melayani di Panti Asuhan Yangs ering kami kunjungi yaitu PA Holy Angel, mereka menampung bayi-bayi yang nyaris digugurkan oleh ibunya karena masalah ekonomi atau krn hamil di luar nikah, tapi dengan berbekal modal dari nol hanya semangat melayani mereka tetap menampung bayi2 ini, mulai dr membantu proses kelahiran, memberi susu ASi (yang ternyata secara ajaib mengalir deras donatur ASI hingga berlebih) sampai rumah kontrakan yang sudah terusir tapi malah bisa membangun tempat baru yang besar karena bantuan donatur, kalau mereka dulu kebanyakan mikir dan enggan memulai mungkin lebih dari 50 anak yang mereka asuh saat ini akan berbeda jalan hidupnya, saat memulai ternyata semesta menunjukkan keajaibannya membuat segala yang tak mungkin menjadi mungkin.<br><br><br>Jakarta, 7 Maret 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2083717884/c0fbe85cc6d1c1a72f651aac36d76aee/padlet_image_picker_file_c71ab5e3_cee8_48c7_96ab_1ca2a5452798.jpg" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480364</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bab 3- Eksplorasi aneka bidang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480365</link>
         <description><![CDATA[<div>Kita tidak boleh diam di satu bidang pikiran<br><br>Bahasan diskusi volume 4 hari ini yang terjadi di sebuah&nbsp; kebun buah sambil makan singkong dan pisang goreng hasil panenan kebun, sang empunya punya pekerjaan di luar bidang pertanian tapi karena luasnya minat maka mengolah kebun sehingga menghasilkanpun bisa dilakukan, hal ini selaras dengan tema diskusi kami hari ini.<br>Sering aku jumpai orang-orang yang saking fokusnya pada satu bidang keilmuan sampai akhirnya larut dan lupa atau mungkin enggan mengeksplorasi bidang lain, padahal Tuhan memberikan anugerah kekayaan intelektual yang begitu kaya.&nbsp;<br>Dalam bacaan dicontohkan seorang ilmuwan yang lantas larut dalam keilmuannya tapi lantas tidak mengenal sejarah, seni, geografi dan bidang lainnya.<br>Orang-orang seperti ini memang mungkin menjadi sangat ahli di satu bidang tersebut tapi lantas rentan menjadi jenuh atau bahkan mungkin bisa stres karena hidupnya hanya berkutat di satu hal yang sama tanpa variasi.<br>Mempelajari banyak bidang membuat kita menjadi kaya dan memiliki perspektif yang luas sehingga seringkali saat akhirnya kita memilih satu bidang untuk difokuskan maka aneka keahlian itu juga bisa menunjang bidang yang menjadi fokus untuk dijalani.<br>Sebagaimana Leonardo da Vinci yang juga dicontohkan selain dikenal sebagai seniman besar dia juga ahli arsitektur, kedokteran, teknik fisika dan kesukaannya pada alam membuat dia banyak mengambil inspirasi karya seninya dari alam.<br>Hal itu membuatnya menjadi pribadi magnanimous tapi tetap rendah hati.<br>Diskusi hari ini semakin memantapkan hati bahwa mengeksplorasi banyak hal dan potensi diri menjadi hal yang penting itu dilakukan walau pada akhirnya kelak kita juga harus bisa memutuskan bidang apa yang ingin lebih difokuskan untuk dijalani sebagai amalan bagi sesama.<br><br>Kebun Buah Jagakarsa , 14 Maret 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2083717884/d4be8f8c8c75a7fd68fa5a1aebcf4763/padlet_image_picker_file_7d7a40d2_aad6_4041_8254_5992e86264b8.jpg" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480365</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bab 4 - Imajinasi Sang Kepala Bagian Eksplorasi</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480366</link>
         <description><![CDATA[<div>Setelah intelek maka bagian lain yang perlu mendapat porsi pembicaraan tentu saja Imajinasi sang Kepala bidang eksplorasi. Betapa besar peran imajinasi dalam banyak bidang, membantu para seniman, arsitek, inventor untuk menciptakan banyak hal-hal yang penuh keindahan dan membuat hidup manusia dari masa ke masa menjadi lebih mudah karena aneka penemuan penting yang diawali dari imajinasi, penulis, sastrawan, penyair hebat dari masa ke masa juga dibantu oleh imajinasi sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa dan bisa kita nikmati sampai saat ini juga dengan menggunakan daya imajinasi yang kita miliki, yang membuat kita bisa menghidupkan gambaran-gambaran keindahan, tempat-tempat yang jauh, situasi yang dialami orang-orang dari berbagai belahan dunia maupun makhluk-makhluk yang tak pernah kita lihat dalam kehidupan nyata dengan bantuan imajinasi seakan hidup di benak kita. Anak-anak juga memiliki imajinasi yang tumbuh di benak mereka, bagaimana dengan gambaran dari bacaan atau cerita yang mereka dengan mereka membayangkan hewan-hewan atau hal-hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, bagaimana bentuk sapi yang mungkin masih salah disebut sebagai dubuk atau hyena karena belum pernah melihat secara langsung hanya mendengar lewat lagu dan cerita.<br><br>Pada bagian bacaan ini aku sendiri merelasikan bahwa salah satu sukacita membaca adalah karena peran imajinasi ini, bagaimana setiap membaca kisah fiksi terutama aku bebas membuat imaji dan gambaran-gambaran sendiri tentang rupa tokoh-tokohnya, bagaimana bajunya, kamarnya, rumahnya dan segala situasi yang digambarkan lewat tulisan di buku yang kubaca, layaknya film yang berputar di otakku di mana aku bisa menjadi casting manajer menentukan seberapa tampan dan cantik sang tokoh utama atau seberapa indah rumah dan istananya , seberapa menyebalkan dan jelek rupa tokoh yang antagonis, yah itu adalah sebuah kesenangan tersendiri dalam kegiatan membaca yang membuatku begitu menikmatinya sejak kecil walau kemudian media televisi dan lantas gawai perlahan namun pasti mulai menggerus dan menggantikan dengan gambaran visual yang sudah ditentukan oleh sang pembuat karya , kenikmatan membaca dan menonton itu sungguh berbeda, seringkali saat sudah membaca buku lantas difilmkan ada rasa tidak puas karena apa yang disajikan di film tidak sesuai dengan apa yang kuimajinasikan saat membaca bukunya, selalu terasa lebih seru yang ada di dalam imajinasi.<br>Imajinasi juga memberikan perbedaan dan keunggulan besar antara manusia dengan mesin atau apa yang saat ini sedang masif berkembang nyaris tanpa kendali yaitu Artificial Intellegent yang konon apabila kita tidak berhari2 maka akan ada banyak yang diambil alih dari manusia oleh AI, mulai dari pelukis,penulis, ilmuwan dan aneka pekerjaan lebih sederhana lainnya, manusia tidak ada yg akan bisa menandingi kecepatan AI dalam menghitung, bahkan pekerjaan dokter serta psikologi saat ini sudah bisa digantikan oleh AI, tinggal menuliskan apa saja symptonnya dan AI akan menggenerate sesuai segala pengetahuan yang sudah sangat mudah diperoleh lewat aneka mesin pencari untuk kemudian menyimpulkan apa penyakitnya, apa obatnya dan bagaimana prosedur perawatannya. Dalam dunia pendidikan bahkan AI sudah bisa membuat sebuah karya ilmiah utuh sendiri, awalnya mungkin manusia merasa senang karena merasa terbantu tanpa sadar kalau perannya sedikit demi sedikit mulai diambil alih.<br>Tapi kita mungkin bisa bernapas lega karena AI sampai saat ini belum bisa bekerja tanpa perintah dari manusia, dan perintah itu membutuhkan daya imajinasi yang hanya dimiliki oleh manusia, sebuah anugerah tak ternilai dari yang Maha Kuasa yang sayangnya semakin tak diasah karena manusia semakin malas untuk mengasahnya, memilih segala yang instan seperti semudah mencari di google daripada membaca, memilih nonton Drakor atau TikTok daripada membaca buku, tanpa sadar imajinasi kita sedang ditumpulkan, kemanusiaan kita sedang dilemahkan oleh kemajuan teknologi, dan semoga saat sadar itu semua belum terlambat.<br><br>Dalam bagian berikutnya CM menyampaikan bahwa imajinasi ini bisa dipupuk dengan semakin banyaknya pengetahuan yang kita miliki maka daya imajinasi tentu akan semakin baik, ibarat sebuah program makin banyak inputnya maka akan bisa bekerja dengan lebih akurat.<br>Contohnya walau belum pernah pergi ke Norwegia sang Penulis Feats on the Fjord bisa menggambarkan dengan detail negeri tersebut, atau Sir Walter Scott dengan tulisan-tulisannya yang begitu mendetail tentang sebuah negeri. Keragaman bacaan bisa memupuk daya imajinasi seseorang, mungkin karena itu tulang punggung utama dalam pendidikan CM adalah buku yang hidup, yang lalu bisa diimajinasikan dengan baik agar bisa kemudian dinarasikan.<br>Jadi dengan banyak membaca kita sedang melatih daya imajinasi kita agar semakin mumpuni.<br><br>Tapi sebagaimana segala hal imajinasi juga memiliki "setannya" yang pertama adalah ego, dengan campur tangan ego seringkali kita membuat imajinasi yang berpusat pada diri sendiri, kita merasa bahwa kita adalah orang paling oke sedunia, kalau zaman sekarang mungkin beken disebut sebagai "star syndrome" apalagi dengan mewabahnya status sebagai selebgram banyak orang yang egonya menjadi besar karena biasa dengan banyakmlike walau secara virtual, merasa perlu untuk diistimewakan oleh masyarakat dan begitu mudah merasa sakit hati saat merasa disepelekan, dalam imajinya dirinya adalah orang yang sudah berbuat banyak bagi masyarakat sehingga harus dihormati, sehingga yang ada malah menimbulkan rasa enggan bagi orang-orang di sekitar untuk berhubungan dengannya karena dia menjadi begitu menuntut perhatian dan penghormatan , tak sadar bahwa dirinya malah menjadi menyebalkan.<br><br>Bahaya yang berikutnya adalah imajinasi tentang dosa yang begitu mudah menyebar apalagi di masa sekarang, begitu banyak kanal berita online yang secara vulgar memberitakan cerita-cerita kejahatan secara "telanjang" sehingga alih-alih membuat waspada malah menimbulkan keresahan dan kepanikan bagi pembaca karena sedemikian detik penggambarannya kadang memualkan dan sialnya mungkin malah jadi inspirasi bagi calon penjahat lainnya untuk meniru pola kejahatan yang sama, maka menghindari atau meminimalisir paparan terhadap berita seperti itu akan sangat baik untuk kesehatan mental kita, sungguh Miss Mason sangat visioner, aku melihat apa yang beliau tulis Ini sedang terjadi di depan mata saat ini bahkan mungkin sedang kualami, betapa tingkat kecemasan meningkat drastis karena paparan berita seperti ini.<br>Seringkali menimbulkan bayangan atau imajinasi kengerian yang menimpa diri sendiri, seperti kecelakaan, penculikan, pemerkosaan, pembunuhan mutilasi segala hal menjadi terbayang seolah2 bagaimana kalau mengalaminya sendiri, dan ini sungguh tidak sehat bagi jiwa dan raga, karena tingkat imunitas menjadi turun drastis, bukankah hati yang gembira adalah obat jadi sebaiknya memang kita mengisi benak dengan banyak hal positif bukan sebaliknya.<br>Bahaya imajinasi berikutnya adalah kecemaran, aku menerjemahkannya sebagai pikiran cabul, ya makanya mIss Mason berulangkali menekankan untuk menghindari segala bacaan cabul apalagi film cabul karena begitu sekali menancap dia akan berbiak dan menimbulkan pikiran-pikiran yang tidak&nbsp; baik .<br><br>Semoga kita bisa menjaga imajinasi kita ya sehingga menjadi berkat untuk sesama.&nbsp;<br><br>Jakarta 4 April 2023<br><br>In frame<br>Salah satu hasil imajinasi Chaca saat 4 tahun, menurut dia ini adalah bis sekolah dengan anak2 bermain balon di dalamnya, imajinasi anak digambarkan serba warna warni dan ceria<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2083717884/040676d22c2ae172d6f8ac7aaa3a6009/padlet_image_picker_file_a47fde5a_3adf_491a_b1da_cabac0999e96.jpg" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negeri Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480367</link>
         <description><![CDATA[<div>Seperti biasa pagi itu Dina terbangun pada pukul 05.00, segera ia bergegas mandi dan sarapan untuk bergegas pergi ke kantor. Di kantor ia bekerja seperti biasa, menanti jam makan siang untuk kemudian berbincang dengan kawan-kawannya. Sore hari saat jam kantor usai, ia akan langsung pulang ke rumah. Terkadang jika sedang bersemangat, ia akan mampir ke pusat olahraga untuk melakukan senam. Atau di hari Jumat ia akan pergi mencari hiburan bersama teman-temannya. Pada akhir pekan, Dina biasa menghabiskan waktu untuk beristirahat atau pergi berlibur. Begitu seterusnya kehidupan Dina.<br><br>Banyak orang menjalani hidup untuk sekadar menghabiskan waktu demi bisa memenuhi kebutuhan biologisnya semata; mencari uang dan menghabiskan uang. Hidup mengalir apa adanya, tak hendak mencari tahu apa yang ada di belakangnya. Yang penting senang.<br><br>Tidak masalah memang menjalani hidup semacam ini, tapi rupanya manusia bukan makhluk tunggal yang hanya terdiri dari biologisnya saja. Di dalam dirinya ada banyak daerah yang perlu dijelajahi agar bisa terkoneksi dengan kehidupan di luar dirinya dengan selaras.<br><br>Untuk apa sebenarnya hidup ini?<br>Siapa saya sebenarnya?<br>Apa yang bisa saya lakukan?<br><br>Pertanyaan demi pertanyaan perlu dilakukan untuk mampu menggali diri. Perjalanan di dalam diri memang tak sesederhana memesan tiket kereta untuk pergi berlibur. Atau menjelajahi kota baru yang sudah ada tour guide-nya. Perjalanan di dalam diri belum ada petanya. Kita bisa saja tersesat di dalamnya. Namun, jika tak pernah dicoba untuk dijelajahi, bagaimana mungkin kita mengenal diri kita sendiri? Kalau diri sendiri saja tidak kenal, bagaimana mungkin mengenal hal lain di luar diri?<br><br>#Ayu</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480367</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negeri Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480368</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Negeri Jiwa Manusia<br></strong><br></div><div>Seperti biasa pagi itu Dina terbangun pada pukul 05.00, segera ia bergegas mandi dan sarapan untuk bergegas pergi ke kantor. Di kantor ia bekerja seperti biasa, menanti jam makan siang untuk kemudian berbincang dengan kawan-kawannya. Sore hari saat jam kantor usai, ia akan langsung pulang ke rumah. Terkadang jika sedang bersemangat, ia akan mampir ke pusat olahraga untuk melakukan senam. Atau di hari Jumat ia akan pergi mencari hiburan bersama teman-temannya. Pada akhir pekan, Dina biasa menghabiskan waktu untuk beristirahat atau pergi berlibur. Begitu seterusnya kehidupan Dina.<br><br>Banyak orang menjalani hidup untuk sekadar menghabiskan waktu demi bisa memenuhi kebutuhan biologisnya semata; mencari uang dan menghabiskan uang. Hidup mengalir apa adanya, tak hendak mencari tahu apa yang ada di belakangnya. Yang penting senang.<br><br>Tidak masalah memang menjalani hidup semacam ini, tapi rupanya manusia bukan makhluk tunggal yang hanya terdiri dari biologisnya saja. Di dalam dirinya ada banyak daerah yang perlu dijelajahi agar bisa terkoneksi dengan kehidupan di luar dirinya dengan selaras.<br><br>Untuk apa sebenarnya hidup ini?<br>Siapa saya sebenarnya?<br>Apa yang bisa saya lakukan?<br><br>Pertanyaan demi pertanyaan perlu dilakukan untuk mampu menggali diri. Perjalanan di dalam diri memang tak sesederhana memesan tiket kereta untuk pergi berlibur. Atau menjelajahi kota baru yang sudah ada tour guide-nya. Perjalanan di dalam diri belum ada petanya. Kita bisa saja tersesat di dalamnya. Namun, jika tak pernah dicoba untuk dijelajahi, bagaimana mungkin kita mengenal diri kita sendiri? Kalau diri sendiri saja tidak kenal, bagaimana mungkin mengenal hal lain di luar diri?<br><br>#Ayu</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480368</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lanjutan Bahaya-bahaya di Negeri jiwa manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480369</link>
         <description><![CDATA[<div>#narasidamba<br>(11 Oktober 2022)<br><br></div><div>Negeri jiwa manusia yang penuh dengan berbagai potensi dan kekayaan juga bisa diserang oleh berbagai bahaya seperti:</div><div>- Wabah, banjir, kelaparan<br>&nbsp;Kait berkait ketika lalai menjaga kebersihan, suatu negeri akan mudah sekali terserang wabah penyakit. Kebiasaan buruk membiarkan banyak hal kotor, berantakan akan membuat kita mudah sekali terserang wabah.</div><div>Berlanjut ke&nbsp; bencana tak terelakkan seperti sungai dan mata air yang meluap bisa menyebabkan banjir. Bisa dikatakan hal ini membuat negri berantakan, banyak kerugian terjadi. Di lain pihak ternyata sapuan banjir turut membawa semua yg kotor bersamanya, menjadikan tanah lebih subur setelahnya.</div><div>Sekali waktu bisa juga hasil tanah tidak mencukupi kebutuhan pangan, walau sudah diusahakan dengan baik, mungkin bencana-bencana tak tak terduga seperti serangan hama, cuaca buruk, bencana alam menggagalkan panen. Kelaparan di negeri benar bisa terjadi. Walau demikian bantuan dari negri lain bisa menjadi pertolongan sebelum masa panen yang akan datang.</div><div>- Bahaya Perselisihan<br>&nbsp;Tak dipungkiri penduduk negeri jiwa manusia ramai sekali. Bukan hal yang aneh jika bahaya perselisihan senantiasa mengintai. Konflik kepentingan antar pihak bisa mengakibatkan pertarungan yang membawa kehancuran. Adanya ketidakpatuhan terhadap pemerintah atau bahkan pemerintah sendiri abai juga terhadap tanggung jawabnya. Tidak bisa tidak kekacauan ini menjadikan berbagai pihak salah mengerjakan perannya, mengurusi hal yang bukan urusannya, urusannya sendiri diterlantarkan, caplok mencaplok ranah kerja. Wis, pokoknya ruwet..😭</div><div>- Bahaya kegelapan<br>&nbsp;Sungguh salah satu bahaya yang mengerikan juga adalah kegelapan. Berada dalam kegelapan rasanya begitu mencekam. Absennya terang membuat kita buta, tak tau ada apa dan siapa di sekitar kita. Hal ini digambarkan awalnya ada kabut yang timbul dari negeri itu sendiri, dibiarkan Makin tebal sampai-sampai tak bisa lagi ditembus cahaya. Ya.. negeri itu sendiri yang membiarkan kabut itu menebal, sampai akhirnya gelap. Tiada harapan, seolah semua sirna, tak tau mau kemana. Petinggi yang bernama Perdana Menteri sungguh sudah lepas tangan, hilanglah negeri itu ditelan kegelapan.&nbsp;<br>&nbsp;Ingin sekali mengaitkan kegelapan ini dengan macam-macam hal yang membuat manusia hilang harapan. Tapi kunciannya ada pada perdana menteri yang ada pada manusia itu sendiri. Begitu ia bangkit dan kembali mengambil alih perannya, selesailah gelap itu. Siapakah dia, tak sabar ingin terus mengikuti cerita Ms Mason..</div><div>Jakarta, 11 Oktober 2022<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480369</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Selfknowledge (sarah)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480370</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Hidup seringkali berjalan mengikuti impuls -impuls agar bisa menyenangkan orang lain,entah itu karena tuntutan orang tua,teman atau masyarakat.Acapkali kita lupa bertanya pada diri sendiri,benarkah yang kita lakukkan? Mengapa kota harus melakukan itu?.<br>Mengenali diri kita yang sebenarnya menjadi hal mutlak agar&nbsp; kita mempunyai kontrol terhadap diri sendiri ,hingga hidup tak hanya mengikuti arus yang mengalir tanpa tahu tujuan sejatinya kita hidup.<br>Ourself begitulah Charlotte Masson menamai volume ke 4 bukunya,karena buku ini ditulis untuk.membantu kita mengenali diri sendiri terutama perubahan-perubahan yang terjadi dimasa remaja.Dimana masa remaja merupakan masa pencarian jati diri,peralihan antara masa kanak nenjadi&nbsp; dewasa.Adalah suatu hal yang wajar ketika masa remaja mengalami banyak&nbsp; guncangan ,dirinya menginginkan melakukan ini itu ,akan tetapi semuanya dianggap salah oleh orang disekitarnya .Hal ini dikarenakan babybrainnya sudah matang namun otak bagian penyeimbangnya untuk berpikir logis dan merasakannya belum matang.&nbsp;<br>Orang tua yang belum selesai dengan dirinya sendiri ,inner childnya belum beres dan anak-anak remaja seringkali merasa tidak mencintai dan menghargai dirinya sendiri karena terlalu baper akan hal-hal yang ada dihidupnya.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480370</guid>
      </item>
      <item>
         <title>setan-setan intelektual (kelambanan,kemalasan dan kebiasaan)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480371</link>
         <description><![CDATA[<div>Di Bab ini ibu CM berbicara tentang setan-setan intelektualitas , kali ini kami membahas tentang kelembaban dan kemalasan. Saat kita membaca buku, mendengarkan presentasi orang-orang inspiratif&nbsp; ataupun berdiskusi benak sadar kita sering mendapatkan ide "mulai sekarang aku akan melakukan ini dan itu" Dengan penuh semangat. Namun itu semua barulah bahan bakar belumlah menjadi tindakan nyata, bahkan untuk memulainyapun sungguh berat dan sulit. Tidak usah jauh-jauh saat bangun tidur diotak sudah terpikir serentetan aktifitas yang ingin kita kerjakan namun beda pikir beda dengan tubuh untuk bangun duduk mengumpulkan energi untuk memulai haripun rasanya berat, lebih enak scro medsos sambil rebahan dari pada mengekseskusi intensi yang sudah ditetapkan sendiri. Padahal jika sudah dimulai tubuh mulai panas energi meningkat rasanya hari cepat berlalu intensi-intensi itupun terpenuhi.&nbsp;<br><br>Yang kedua dibahas soal bahaya kebiasaan, apabila melakukan aktifitas dijalur yang sama terus menerus maka otak akan selalu berada di zona nyaman dimana semuanya dilakukan secara otomatis, ini membahayakan dikondisi otak tidak mendapatkan tantangan maka otak itu akan semakin tumpul, malas berpikir, jika kondisi berlangsung terus menerus hanya jalur-jalur kebiasaan yang sudah ada saja yang terus diaktifkan bisa terjadi penyusutan . Selain itu hidup monoton itu sangat membosankan. Untuk itu otak yang perlu dilakukan adalah mengupgrade kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada itu memperbanyak jalur kebiasan baru yang baik sehingga diri ini senantiasa hidup dan bertumbuh.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480371</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setan-Setan Intelektualitas</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480372</link>
         <description><![CDATA[<div>Kita Tidak Boleh Diam di Satu Bidang Pemikiran<br><br>Orang yang besar adalah dia&nbsp; yang mempunyai keahlian dibidang tertentu dimana itu adalah yang paling menjadi panggilan hidupnya , namun disisi lain&nbsp; dia tidak lupa mempelajari berbagai macam ilmu lain entah itu berhubungan ataupun tidak dengan bidang yang paling ingin ditekuni itu.Karena sejatinya manusia adalah makhluk holistik tidak bisa hidup hanya dari satu aspek kehidupan saja ,begitupun ilmu Tuhan itu sangat luas ,tidak bisa dikotak-kotakkan antara sains,humaniora maupun spiritual.Kesemuanya berhubungan dan saling terkait.<br>&nbsp;<br>Manusia dilahirkan sudah membawa kecenderungannya masing-masing ,tentu saja akan ada satu bidang yang paling menonjol dari setiap individu itu yang menentukan jatidirinya,namun magniminous human adalah&nbsp; sesosok manusia yang berpengetahuan luas dan berbudi luhur.Bisa saja orang itu dikenal sebagai seorang Naturalis,disisi lain juga senang menulis,melukis dan berolahraga.bidang-bidang yang lain ini menjadi penyokong dan pedukung untuk mencapai performa puncak dari bidang yang paling.<br><br>Amatlah menjadi ahli disatu bidang,namun tidaklah kaku hanya mengejar bidang itu saja.dengan memiliki banyak pengetahuan di bidang lain ,maka orang itu akan menjadi lebih bijaksana didalam hidupnya ,mampu melihat sesuatu dari berbagai macam sudut pandang sehingga lebih luwes.<br><br>Depok,15 Maret 2023<br><br>Saroh Priyanti</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480372</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kepala Bidang Eksplorasi,Imajinas</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480373</link>
         <description><![CDATA[<div>Kepala Bidang Eksplorasi,Imajinasi<br><br>Jika dibahas-bahasan sebelumnya disebutkan bahwa imajinasi adalah rekan dari intelwk.Dibab ini akan dibahas lebih dalam apa itu imajinasi.Imajinasi mempunyai kekuatan menghasilkan rangkaian gambar-gambar bagi intelek.Seorang seniman entah itu dia peluki,penyair ,maupun musisi mempunyai daya imajinasi yang yang besar sehingga mampu mengekspresikannya dalam sebuah karya.Begitupun kita ketika mendengarkan lagu,ataupun melihat lukisan &nbsp; kita mengerti apa maksud dari karya itu karena daya imajinasi kita ,Meskipun mungkin daya imajinasi kita ada ditingkatan lebih rendah dari seniman-seniman itu .Anak-anak sangat senang berimajinasi ,daya khayal mereka luar biasa yang biasa terekspresi dalam permainan mereka,kadangkala mereka berekspresi secara aneh kurang masuk akal ,itu karena pengetahuan mereka masih sedikit dan sering mencampuradukkan pengetahuan itu sesuka mereka.<br><br>Daya imajinasi ini akan terus berkembang dan tertata&nbsp; seiring bertambahnya pengetahuan seseorang. Pengetahuan itu didapat dari banyak membaca&nbsp; karena membaca adalah jendela dunia.Bisa saja kita belum pernah mengunjungi suatu tempat ,namun karena pernah membaca informasi tentang tempat itu ,maka imajinasi kita&nbsp; bekerja menciptakan gambaran tentang tempat itu dibenak kita .</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480373</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kita Mempunyai Kendali atas Liarnya Imajinasi</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480374</link>
         <description><![CDATA[<div>Benak manusia memang unik.Saat satu informasi negatif datang, seringkali menggelitik imajinasi untuk menelisik lebih dalam dan&nbsp; memikirkan, bahkan tidak mungkin melakukan hal yang sama. Begitulah manusia sesuatu yang buruk seakan lebih enak dikonsumsi dan dinikmati.&nbsp;<br><br>Charlotte mengamarkan untuk membatasi langkah imajinasi saat membaca berita atau tulisan yang buruk, agar tidak larut dalam kesedihan serta kejengkelan sehingga mempengaruhi kewarasan jiwa. Memberikan sajian informasi beragam menjadi pilihan sebagai penyeimbang. Saat ketakutan dan&nbsp; kecemasan melanda diluar kendali alihkan dengan buku bacaan ataupun memikirkan sesuatu yang lain dari itu.<br><br>Manusia mempunyai kuasa atas pikiran-pikirannya.Apapun yang pernah terjadi dalan hidup ,akan tetap menjadi bagian dari diri kita.Saat emosi datang tentang suatu peristiwa tanpa merasa dipikirkan sejatinya peristiwa itu pernah hadir dimasa lalu kemudian percikannya melintas membuatnya muncul kembali sebagai memori.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480374</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Matematika, Wilayah PegununganNadiyah Fauzi ( 12 Februari 2023) Bicara penggunungan adalah udara, Bicara udara adalah nafas, Bicara nafas adalah hidup, Bicara hidup adalah kehambaan. Matematika bentuk ilmu penghambaan yang sebenarnya. Dimana kepasrahan jika menemui hambatan pasti ada penyelesaian. Jika menemukan masalah sulit terselesaikan maka akan muncul masalah lain yang lebih sulit menunggu untuk diselesaian. Kepastian dalam Matematika seperti halnya kepastian akan kebenaran. Walaupun banyak dengannya orang merasa sesak bergumul dengan balutan angka dan rumus tiada akhir, namun dia adalah kebenaran hakikat yang tak dapat dihindari. Maka nikmatilah, jika tak mampu menikmatinya maka minimal berdamailah dan hadapilah karena dia adalah kepastian yang pasti hadir dalam hidup. Mematimatikakan kehidupan seperti memastikan akan kemahlukan dan kepastian akan ada akhir dari segala kesulitan menuju kepuasan yang hakiki.</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480375</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480375</guid>
      </item>
      <item>
         <title>*Kita Sedang Membuat Sejarah*24 Januari 2023 Tanpa kita sadari hal yang kita lakukan sekarang menjadi sejarah dimasa yang akan datang, begitu pula peristiwa dahulu menjadi sejarah saat ini.Manusia akan banyak belajar dan mengambil hikmah jikalau banyak membaca sejarah. Meskipun sejarah terkadang ditulis dirangkai dan dibingkai atas permintaan sang penguasa, namun ada juga sang anti yang menoreh goresan sejarah sebaliknya.Kita belajar masa kini dan masa depan dengan sejarah, karena apa yang terjadi saat ini hanyalah sebagian potongan kejadian dari masa lalu.Kita tak pernah tau bahwa seorang anak kecil yang dekil berlari kesana kemari, bisa menjadi pemimpin suatu kelompok bahkan bangsa, atau seorang anak yang intelek, gagah, tampan, kelak menjadi orang sukses yang sangat berjasa. Sejarahlah yang akan mencatatnya. Mungkin kita bisa mengukir sejarah dalam kebaikkan masyarakat atau dunia? Semoga...</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480376</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480376</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negeri Jiwa Manusia (Nadiyah, 29/09/22) &quot;Tampaknya tiada lagi yang diresahkan, dan juga tak digelisahkan. Kecuali dihayati, secara syahdu bersama.... selamanya...bersama..selamanya... &quot;Potongan syair dari Godbless dengan suara khas Ahmad Albar akhir-akhir ini sering aku putarkan. Awalnya secara kebetulan karena mau mendengarkan lagi &quot;Kau Kira Aku Rumah&quot;, keluar pula lagu &quot;Huma di atas Bukit&quot; itu di laman Youtube. Seperti halnya rumah yang banyak menceritakan beribu-ribu gambaran dari bentuk, isinya, sampai penghuninya. Maka Miss Mason lebih luas lagi membuat kumpulan ribuan rumah dalam wilayah luas hingga menjadi suatu negeri. Negeri yang diibaratkan sebagai Negeri Jiwa Manusia. Sempat bingung dengan pengandaian ini, tapi terenyuh kagum. Hebatnya Miss Mason membuat pengandaian yang luar biasa komplit. Manusia itu negeri dengan jiwa yang bersemayam didalamnya. Aku mengibaratkan aliran air sebagai darah. Rumah sebagai jaringan tubuh. Pusat kota sebagai organ. Dan semua mahluk dalam negeri seperti pasukan sel yang menjalar di dalam tubuh. Negeri yang kita pimpin, tunggangi, atur, bahkan kita lalaikan adalah tubuh kita sendiri. Yang sebagian kita bisa lihat bentuknya, namun sebagian besar tak terlihat. Yang bisa sebagian kita jaga namun sebagian besar tak dapat sepenuhnya dikendalikan. Memimpin sebuah negeri luar biasa beratnya, ternyata itu harus dilakukan sebagai mahluk bernama manusia. Bukankah manusia adalah khalifah (pemimpin)? Ini juga yang membuat aku baru menyadari makna khalifah yang luas ini. Bukan sebagai pemimpin untuk manusia lain namun memimpin diri sendiri dalam wujud negeri jiwa yang jauh lebih sulit. Ada tanaman liar, ada serangan hama, rangkaian bunga buatan yang ditanamkan untuk keindahan jiwa. Tak mesti yang liar itu merusak atau yang buatan itu bersahabat, karena jiwa sang pemilik yang membuatnya terkadang menjadi sahabat atau musuh dalam diri. Negeri jiwa yang tak selamanya aman, mungkin ada ombak, bahkan tsunami yang menghantam sebagian penghuninya. Namun kekuatan jiwa sebagai pemimpinlah yang mampu menyamankan dan mengamankan negerinya dari serangan musuh luar maupun dari penghianatan yang di dalam negeri jiwa itu sendiri. Akhirnya rangkaian Lagu Syair Kehidupan oleh Godbless membuatku kembali merenungi dan menyambut Negeri Jiwa ku sebagai manusia dalam kehidupan ini:   &quot;Di saat ini, inginku terlena lagi.. terbang tinggi di awan, tinggalkan bumi di sini. Di dalam gelap aku dengarkan...syair lagu kehidupan.&quot;          </title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480377</link>
         <description><![CDATA[<div>Nadiyah Fauzi</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480377</guid>
      </item>
      <item>
         <title>*Keindahan*                                                           Nadiyah Fauzi (27 Februari 2023)               Terbayang jika semua sama                                Semua suara sama                                                  Semua bentuk sama                                               Semua warna sama                                                Semua daratan sama                                             Semua mahluk sama                                              Semua awan sama                                                  Semua sifat sama                                                    Semua cara sama                                                 Dimana keindahan?                                             Dimana seni berada?                                              Bukankah Indah itu jika ada perbedaan?Bukankah Seni itu kenikmatan dalam perbedaan?Lantas jika Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Indah membuat segalanya berbeda, kenapa kita yang tidak tahu dan tak mampu harus membuat semua SAMA?   </title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480378</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480378</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ImajinasiAda asa berbalut angan, Ada mau mendorong keinginan, Ada butuh memaksa pemenuhan, Ada mimpi terbungkus imajinasi. Kala asa, angan, kemauan, dan kebutuhan bermain dalam benak imajinasi. Akankah kita pilih dan batasi? Kala mimpi dalam benak tak berbeda dalam tidur, akankah imajinasi menguasai dunia tak bertapak nan tak pasti? Jika badan bisa bergerak menurut kehendak, mengapa pikiran berjalan jauh tanpa arah hingga lelah membelokkannya. Imajinasi indah dibingkai dalam cita-cita, memantik ide menjadi karya. Bukankah ini berkah? Imajinasi dibungkus indah tentang diri hingga lupa dimana waktu berjalan sia-sia. Bukankah ini dosa? Kutub pikiran mana yang dipilih nan dibingkai menjadi berkah ataupun dosa. Waktu yang akan membuktikan imajinasi surgawi dunia atau akhirat yang mewarnai hidup ini.</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480379</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480379</guid>
      </item>
      <item>
         <title>4 April 2023 </title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480380</link>
         <description><![CDATA[<div>Kecemaran Imajinasi<br><br>Narasi<br><br>Perjamuan yang tiada akhir dari pikiran.<br>Dia berimajinasi merekam dan mengolahnya sampai diluar kendali pikiran itu sendiri.<br><br>Ketika diri tak mampu lagi menetap pada jalur rel yang sama, kereta itu tak layak untuk dikendarai.<br><br>Jiwa yang tercemar dengan jalur rel banyak tanpa terkendali, berseliweran kesana kemari, hingga tak mampu mencegahnya dalam mimpi yang tak diingini atau realiti nyata saat ini.<br><br>Bu guru CM memaparkan hidangan imajinasi dengan kenikmatan dan pencemarannya bak jamuan makanan dengan banyak pilihan namun berdampak.<br><br>Ketika level 10 di Mie Gacoan, membuat imajinasi kenikmatan akan rasa pedas yang menantang jiwa penjelajahku. Memicu adrenalinku dan memaksaku menerima tantangan kenikmatan yang menggoda. Tak ayal lagi...derita kepedihan dari bibir, lidah, tenggorokan, lambung, hingga anus bak terbakar perih meradang. Cukupkah penderitaan itu hanya sampai di situ dan berakhir saat itu?&nbsp;<br><br>Seperti halnya pikiran alam bawah sadar yang tak tahu kapan akan terpanggil, begitu pula jeritan kepedihan lambungku kapan akan berakhir.<br><br>Nikmat membawa sengsara...</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480380</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nalar</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480381</link>
         <description><![CDATA[<div>Nadiyah Fauzi<br>23 Mei 2023<br><br>*Nalar*<br>Jika pikiran bisa mengembara kesana kemari,<br>Tentu kuajak dia menetap dalam pagar sanubari.<br>Jika pikiran bak GPS yang sesuai dengan arah jalan,<br>Tentu kubawa dia menuju kemauanku tanpa bualan.<br><br>Nalarku seperti ilmu sentuhan dari kulit yang meraba,&nbsp; dari lidah yang mengecap, dari mata yang melihat, dari telinga yang mendengar, dan dari hidung yang membauinya. Menyatulah Nalar dan pengalamanku dalam logika berbalut argumentasi dengan data pembenaran, pengiyaan, pengukuhan, bahkan naluri nakal kemenangan membelokan nalar dengan logika sesat yang diputarbalikkan.<br><br>Apakah nalar sesuai dengan kata hati?<br>Akankah nalar menjalar memenuhi keinginan hati?<br>Apakah nalar melogikakan fakta tanpa peduli?<br>Akankah fitrah melindungi nalar tanpa pungli?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480381</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hidup Berkesadaran untuk Melatih Penciuman</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480382</link>
         <description><![CDATA[<div>(Eka Januwati, 6 Desember 2022)<br><br>Ada salah satu aroma yang paling saya ingat. Tentunya selain aroma tanah dan pepohonan yang basah setelah diguyur hujan. Itu adalah aroma kain batik tulis Lasem. Mungkin semua aroma batik tulis serupa. Namun kebetulan yang saya baui kali itu kain batik tulis dari Lasem milik sahabat saya.&nbsp;<br><br>Tanpa saya sadari, aroma itu begitu membekas di hati dan membuat saya sedikit terobsesi dengan Lasem sampai menulis artikel hasil penjelajahan saya ke sana dan menggarap sebuah skenario dengan latar cerita sebuah rumah batik di kecamatan kecil di pesisir utara Jawa itu.&nbsp;</div><div><br></div><div>Saya pernah membaca suatu artikel yang mengatakan bahwa penciuman merupakan indra tertua dan paling dasar. Aroma yang kita hirup akan diproses oleh sistem syaraf pusat yang terkoneksi langsung dengan bagian otak yang menyimpan memori. Karena itu, aroma lebih cepat membangkitkan memori dibandingkan visual dan suara.&nbsp;</div><div><br></div><div>Sayangnya, selama ini penciuman paling banyak kita manfaatkan untuk membaui makanan saja. Yang bahayanya, ia bisa membujuk pengecap untuk menginginkan makanan hanya dengan mencium aromanya. Selain itu, penciuman punya kelemahan besar yaitu malas. Padahal tugasnya sangat penting. Tidak seperti pengecap yang mungkin hanya bekerja 3-4 kali sehari, penciuman bertugas sepanjang waktu karena manusia terus bernapas selama ia masih hidup.&nbsp;</div><div><br></div><div>Penciuman harusnya bekerja mendeteksi bau-bau tidak sedap yang mungkin membahayakan kesehatan atau hidup kita. Penciuman bisa mendeteksi aroma tidak sedap jika kita luput membersihkan rumah, misalnya. Atau peka membaui bau mulut yang tidak sedap yang menjadi tanda banyak gangguan kesehatan tubuh. Namun kemalasan membuat penciuman mengabaikan sinyal-sinyal bahaya kesehatan itu.&nbsp;</div><div><br></div><div>Menurut CM penting bagi kita untuk melatih penciuman agar lebih peka dan tak lagi malas mengerjakan tugasnya. Caranya adalah dengan mengambil waktu sejenak untuk menangkap aroma-aroma di sekitar kita. Kita juga bisa belajar membedakan aroma bunga, pepohonan, bahan makanan, dan jenis-jenis tekstil dengan mata terpejam. Saya jadi menangkap pentingnya melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran dan tak dikendalikan oleh sistem autopilot diri ini.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480382</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengecap, Berguna Asalkan....</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480383</link>
         <description><![CDATA[<div>(Eka Januwati, 29 November 2022)<br><br>Sejak bagian awal, CM kembali mengingatkan, pentingnya kita mengenal pembantu dari ajun komisaris tubuh beserta fungsinya masing-masing adalah untuk memastikan apakah mereka telah mengerjakan tugasnya dengan baik. Dan yang tak kalah terpenting untuk menjaga agar mereka tetap menjadi pelayan, bukan sebaliknya kita yang dikendalikan oleh mereka.&nbsp;</div><div><br></div><div>Pengingat itu kembali menegaskan bahwa raga ini beserta segala pasukannya hanyalah kendaraan bagi manusia dalam menjalankan misi penciptaannya di muka bumi. Sementara nakhoda, supir, pilot, atau masinisnya adalah jiwa yang dalam surat xxx dikatakan telah ada bahkan Sebelum raga ini diciptakan.</div><div><br></div><div>Di sini, CM menyebut pembantu ajun komisaris tubuh ini sebagai sensasi. Selama ini kita mengenalnya sebagai indera. Pertama, kita akan berkenalan dengan Pengecap yang disebut menyenangkan dan berguna. Selain menjadi indikator rasa makanan, pengecap juga ibarat sensor Kesehatan tubuh kita. Ingatkah Anda bagaimana rasa makanan favorit kita yang biasanya begitu lezat, namun saat kita sakit terasa hambar atau pahit.</div><div><br></div><div>Sayangnya peradaban modern yang menghasilkan inovasi, termasuk dalam urusan makanan, yang begitu kompleks, membuat kita lupa pada kelezatan makanan yang orisinal. Manis asli ubi tergantikan oleh ubi yang diolah menjadi isian roti berbentuk ubi. Gurih asli susu digantikan oleh susu kocok aneka rasa yang diberi pemanis dan perasa tambahan.&nbsp;</div><div><br></div><div>Pengecap yang tugas utamanya adalah menjadi salah satu sensor tubuh saat kita sakit, jadi terbuai oleh aneka rasa makanan yang pernah dikecapnya. Alih-alih menjadi pelayan, ia akan menjadi tirani yang menuntut untuk diberikan makanan dengan rasa-rasa yang disukainya saja. Fungsi utama makanan sebagai bahan bakar agar tubuh tetap sehat dan dapat berfungsi dengan baik pun bergeser menjadi pemuas hasrat semata.</div><div><br></div><div>Saya jadi teringat refleksi saya ketika mencari referensi bekal sekolah anak. Betapa banyak resep yang mengulik pengolahan sayur agar anak mau mengonsumsinya. Tak sedikit resep yang begitu manipulatif, menyembunyikan sayur di balik bahan makanan tak sehat dengan cara pengolahan yang mungkin juga akan menurunkan nilai nutrisinya.&nbsp;</div><div><br></div><div>Betapa kita telah begitu bekerja keras untuk memuaskan pengecap, namun mengabaikan esensi dari kegiatan makan dan kehadiran pengecap itu sendiri. Jangan-jangan dalam urusan lainnya pun demikian? Apakah kita terlalu sibuk memuaskan hasrat dan mengabaikan esensi dari setiap urusan di hidup kita?</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480383</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bab III - Pemerintah Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480384</link>
         <description><![CDATA[<div>(Eka Januwati, 11 Oktober 2022)<br><br>Perumpamaan-perumpamaan yang dijelaskan Charlotte Mason mengenai serba-serbi Negeri Jiwa Manusia memang membingungkan. Namun perumpamaan itu bisa membawa kita berimajinasi akan indahnya dan juga rentannya Negeri Jiwa Manusia itu. Jika tidak demikian, setidaknya mengusik dan membuat kita mempertanyakan, oh, ternyata ada sesuatu di dalam diri kita ini ya. Sesuatu yang asing dan ternyata menghadapi pergumulannya sendiri. Sebagaimana raga ini menghadapi beragam tantangannya.</div><div><br></div><div>CM kembali mengingatkan bahwa terlahir sebagai manusia adalah sebuah anugerah besar. Dan betapa kita telah dikaruniai begitu banyak kelebihan, yang dengan kelebihan-kelebihan itu kita memiliki potensi akan kebaikan, kehebatan, kepahlawanan, kebijakan, dan pengetahuan. Kebangkitan dan pertumbuhan jiwa pun membuka kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Jika jiwa yang muda diibaratkan sebagai Benih pohon, tentu kondisi tanah, kecukupan sinar matahari dan air, pemupukan, serta perawatan yang tepat sesuai jenisnya akan menentukan seberapa optimal benih itu bisa tumbuh.</div><div><br></div><div>Sayangnya banyak manusia, dan mungkin juga kita, yang hidup tanpa menyadari anugerah ini. Sepanjang hayat ia hidup dan tumbuh Hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial. Bersekolah untuk bisa membaca dan menulis, berhitung, mengetahui pengetahuan-pengetahuan umum, serta menguasai pelajaran-pelajaran yang dapat membantunya bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi untuk akhirnya mendapat pekerjaan yang terhormat dan mapan. Sehingga tak sedikit manusia yang hidup dalam kemalangan dan kehampaan.</div><div><br></div><div>Agar keberadaan jiwa dapat berfungsi sebagaimana mestinya, kita perlu memahami cara kerja aspek-aspek dalam diri ini, jiwa dan raga. Karena menurut CM, ada sebuah bagian dari diri kita yang memiliki pekerjaan mengelola dan memanfaatkan apa yang ada di diri kita dengan cara terbaik. Bayangkan sebuah pemerintahan yang jabatan-jabatannya diisi oleh orang yang tidak tepat dan tidak bisa saling bekerja sama. Tentu negeri itu akan kacau dan masyarakatnya tidak sejahtera.</div><div><br></div><div>CM menyebutkan daftar pejabat-pejabat pemerintah negeri jiwa manusia ini berdasarkan urutan tertentu yang sepertinya juga mengurutkan tingkat prioritas penataan dan rantai komandonya. Dimulai dari paling bawah ada Ajun Komisaris Tubuh (hawa nafsu/hasrat). Dalam versi Bahasa Inggris ditulis “Appetites", yang berarti "a natural desire to satisfy a bodily need, especially for food". Jadi, pejabat ini bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan ragawi.&nbsp;</div><div><br></div><div>Kemudian ada Pejabat Urusan Pendapatan dan Penerimaan Negara atau Keinginan. Dalam versi Bahasa Inggris ditulis “Desires”, yang berarti “a strong feeling of wanting to have something or wishing for something to happen”. Sepertinya pejabat ini bertanggung jawab atas aspek imateriil atas keinginan, ada kaitannya dengan perasaan dan pikiran. Menariknya, bagian ini dikategorikan sebagai pendapatan.</div><div><br></div><div>Lalu ada Pejabat Perbendaharaan Negara, yaitu Kasih Sayang. Perbendaharaan biasanya mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan aset. Ini berarti CM memandang kasih sayang sebagai aset, sesuatu yang seharusnya kita miliki. Saya jadi teringat nasehat seorang sufi, bahwa setiap manusia itu memiliki karakteristik jiwa yang berbeda-beda yang merepresentasikan asma-Nya. Namun, ada satu asma-Nya yang harus dimiliki oleh setiap jiwa, yaitu rahiim atau kasih.</div><div><br></div><div>Selanjutnya ada Sekretaris Luar Negeri, yaitu Intelektual beserta rekan-rekannya: Kepala Bidang Eksplorasi (Imajinasi) dan Kepala Bidang Seni (Rasa Estetika). Mungkin bagian ini bertanggung jawab atas aktualisasi diri di masyarakat. Menariknya, tidak disebutkan oleh CM mengenai kemampuan akademis atau hard skill.&nbsp;</div><div><br></div><div>Semakin tinggi lagi ada Jaksa Agung, yaitu Nalar, yang mungkin dengan nalar lah kita perlu menilai baik-buruknya suatu pilihan. Lalu posisi puncak ditempati oleh para Pejabat Majelis Hati: Ketua Mahkamah Agung, yaitu Nurani, dan Perdana Menteri, yaitu Kehendak.&nbsp;</div><div><br></div><div>Dalam perspektif tasawuf, keberadaan jiwa bagi manusia adalah pilot, sementara tubuh adalah pesawatnya. Dan instrumen yang penting bagi jiwa adalah hati nurani. Seperti raga, jiwa pun memiliki kehendak. Dikatakan bahwa jiwa yang tumbuh baik akan memiliki kehendak yang selaras dengan kehendak Sang Maha Kuasa.&nbsp;</div><div><br></div><div>Dalam Islam, secara umum kehendak Rabb ini diatur oleh hukum syariah. Namun ada juga kehendak khusus yang Ia sematkan pada setiap insan ciptaannya, yaitu misi hidup. Yang jika diturunkan ke dalam tahapan-tahapan, akan terkait dengan pilihan-pilihan hidup yang haq yang akan membawa kita mendekat ke misi hidup kita.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480384</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bahaya-Bahaya Jiwa Manusia (Bag. 2)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480385</link>
         <description><![CDATA[<div>(Eka Januwati, 4&nbsp;Okt 2022)<br><br>Masih tentang bahaya-bahaya jiwa manusia. Selain dua yang telah dibahas sebelumnya, yaitu bahaya kemalasan dan bahaya api, ada juga bahaya wabah, banjir, dan kelaparan, bahaya perselisihan, dan bahaya kegelapan.&nbsp;</div><div><br>“Terkadang wabah datang berkunjung akibat rumah-rumah kediaman, jalan, dan bangunan-bangunan tambahan tidak dijaga kebersihan dan kesehatannya, saluran-saluran pembuangan juga dibiarkan rusak.” Demikian Charlotte Mason membuka penjelasan pada subjudul bahaya wabah, banjir, dan kelaparan.&nbsp;</div><div><br>Jika meyakini bahwa jiwa adalah diri kita yang sejati dan raga ini adalah kendaraan jiwa itu dalam mencapai misi hidupnya, tentu jiwa dan raga harus bekerja sama agar negeri jiwa terhindar atau bisa menghadapi bahaya-bahaya yang menyerang. Tentu kita ingat ada istilah men sana in corpore sano, dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat.&nbsp;</div><div><br>Bagaimana sebuah jiwa dapat kuat, jika kita tidak menjaga kesehatan raga dengan berolahraga dan makan sehat? Bagaimana sebuah jiwa dapat tumbuh jika kita tidak memberinya makanan pengetahuan dan suntikan energi ilahiah yang kita dapat dari berdoa dan terus membangun koneksi dengan Sang Pencipta?</div><div><br>Bukan tanpa pemikiran mendalam W.R. Supratman menuliskan lirik “bangunlan jiwanya, bangunlah raganya” pada lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bagaimana kita mendidik, melatih, dan menggunakan raga ini akan berpengaruh pada bagaimana jiwa ini tumbuh. Pun sebaliknya. Jiwa dan raga adalah suatu kesatuan utuh yang saling menghidupkan.</div><div><br>Ketika air meluap dan banjir menerjang, jiwa yang kuat akan membantu raga bertahan. Para sufi menganalogikan masalah kehidupan sebagai air yang yang dihadirkan-Nya untuk membersihkan jiwa, tazkiyatun nafs. Semakin kotor sebuah benda, tentu semakin banyak dan deras air yang dibutuhkan untuk membersihkannya bukan?</div><div><br>Apa yang sedang raga dan jiwa kita pupuk mungkin gagal tumbuh. Namun, CM kembali mengatakan, “Meski demikian, Negara-Negara tetangga berbaik hati membantu Jiwa Manusia di masa-masa penuh kesukaran ini; dan panen di tahun berikutnya melimpah ruah.”</div><div><br>Saya jadi teringat nasehat Guru saya yang berulang kali disampaikan, janganlah memisahkan diri dari jamaah, agar jangan seperti domba yang terpisah dari kawanannya sehingga mudah diterkam serigala. Negara-Negara tetangga yang baik Hati ini ibarat teman-teman seperjalanan yang sama-sama sedang mengupayakan pembersihan dan pertumbuhan jiwa. Teman-teman sevisi dan semisi yang tak akan lelah saling mengingatkan dalam kebaikan.&nbsp;</div><div><br>Perselisihan batin pun mungkin akan sering mencuat karena hawa nafsu dan syahwat yang masih belum sejalan atau akal dengan waham yang masih kuat. Ketika kekuatan kehendak masih lemah dan keinginan masih menggebu-gebu. Ketika keinginan tidak selaras dengan kemampuan dan kesempatan yang berujung pada tumbuhnya obsesi.</div><div><br>Yang terakhir adalah bahaya kegelapan. Dalam perspektif agama kegelapan dimaknai sebagai dosa. Jika setiap dosa menghasilkan setitik noda hitam pada qalb, bayangkan berapa banyak titik noda hitam yang telah menyelimuti qalb (hati) ini sepanjang hidup kita. Tak perlu bicara tentang dosa besar, keinginan, dendam, rasa iri dan dengki, buruk sangka, dan perasaan-perasaan negatif lainnya pun dapat menyesaki rongga qalb yang akhirnya menghalangi jalan masuknya cahaya.&nbsp;</div><div><br>Dalam perspektif umum kegelapan bisa dimaknai dengan ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan. Tak heran jika Imam Al-Ghazali membuka kitab Ihya Ulumuddin dengan bab tentang keutamaan ilmu dan belajar. Bahwa makanan hati adalah ilmu dan hikmah. Saya akan mengutip sebuah kisah dari buku Intisari Ihya Ulumuddin.</div><div>	<br><em>Fath al-Mushali berkata. “Bukankah orang yang sakit kalau tidak diberi makan, minum, atau Obat akan mati?”</em></div><div><em>	Mereka menjawab, “Ya, benar.”</em></div><div><em>	“Begitu juga hati manusia. Kalau ia tidak diberi Hikmah dan ilmu selama tiga hari, ia pasti mati.”</em></div><div><br>Namun yang bahaya adalah ketika kita sendiri tidak menyadari bahwa kita terselubung dalam kegelapan. Seperti sepenggal lirik dalam lagu Stay yang dinyanyikan oleh Rihanna.</div><div>	<br><em>Well funny you’re the broken one, but I’m the only one who needed saving</em></div><div><em>Cause when you never see the light it’s hard to know which one of us is caving</em></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480385</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bahaya-Bahaya Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480386</link>
         <description><![CDATA[<div>(Eka Januwati, 27 Sept 2022)<br><br><em>“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita, lemah dan malas, pengecut dan kikir dan terlilit hutang, serta dikuasai musuh.”</em></div><div><br></div><div>Begitu besarnya bahaya malas, sehingga sang Rasul pun mewariskan doa memohon perlindungan-Nya dari rasa malas untuk umatnya. Charlotte Mason menyebutkan beberapa bahaya yang tak hanya dapat mengganggu, namun lebih gawat lagi dapat mengambil alih negeri jiwa manusia dan warga negaranya. Dan kemalasan berada di peringkat pertama.&nbsp;</div><div><br></div><div>Apalah artinya ilmu pengetahuan, keahlian, maupun kesempatan jika kehendak untuk bekerja kalah menghadapi kemalasan? Apalah artinya kejeniusan jika kemudahan untuk mengatasi dan mengerjakan sesuatu justru mengarahkan seseorang kepada fixed mindset, yang kemungkinan besar akan berujung pada kemalasan untuk berupaya lebih keras dari yang dia bisa?</div><div><br></div><div>Dalam buku <em>The Danish Way of Parenting</em> disebutkan bahwa salah satu nilai yang diwariskan dalam budaya pengasuhan anak orang Swedia adalah fokus pada menumbuhkan <em>growth mindset</em>, ketimbang mengelu-elukan kecerdasan anak semata. Dengan kata lain, berupaya untuk menumbuhkan perasaan saya berhasil karena saya berusaha. Kerja keras pada akhirnya akan mengalahkan kecerdasaan bawaan.&nbsp;<br><br></div><div>Pada tahun-tahun pertama saya menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, setelah belasan tahun menjadi pekerja kantoran, saya kesulitan untuk menerima fakta bahwa kini pekerjaan utama saya adalah membersihkan rumah, memasak, dan mengurus anak-anak serta suami SAJA. Kebetulan di saat yang sama ART kami berhenti karena hamil dan kami pun memutuskan untuk tidak menggunakan jasa ART lagi. Padahal suami juga turun tangan melakukan pekerjaan rumah. Tapi tetap saja, rasanya kok berat sekali. Ego saya mengatakan bahwa sebenarnya saya ditakdirkan untuk melakukan hal yang lebih besar. HAH! Sombong sekali ya saya dulu (mungkin sekarang juga masih sih).</div><div><br></div><div>Bertahun-tahun kemudian, setelah lebih banyak menafakuri diri dan suguhan kehidupan dari-Nya, saya akhirnya menyadari. Saya sesungguhnya sedang bersembunyi dari kemalasan di balik topeng ego saya. Argumentasi di kepala mengenai <em>passion</em>, cita-cita, dan sebagainya hanyalah penyangkalan dari rasa malas. Bayangkan betapa tidak bahagianya hidup suami, anak-anak, dan tentunya diri saya sendiri hanya karena saya malas.&nbsp;</div><div><br></div><div>Guru saya pernah bilang, amal sholeh terbaik seseorang adalah yang ada di depan matanya. Sesederhana membuang tisu bekas yang tergeletak di lantai. Jika kita malas atau tidak mampu mengerjakan apa yang ada di depan mata dengan baik, jangan berharap Sang Rabb akan menurunkan amal sholeh yang lebih besar. Lagipula, besar-kecil sebuah amal sholeh di mata kita hanyalah penilaian manusia.&nbsp;</div><div><br></div><div>Ego dan rasa malas adalah bagian dari hawa nafsu manusia. Disukai atau tidak, Sang Pencipta memasang perangkat hawa nafsu dan syahwat di diri kita. Tanpanya, mungkin kita tidak akan memiliki keinginan. Meskipun dengannya kita juga kelimpungan menghadapi berbagai sisi buruk kita. Semua hal di dunia ini memang diciptakan berpasangan-pasangan, demikian pula hawa nafsu dan syahwat kita yang memiliki sisi baik dan juga sisi buruk.&nbsp;</div><div><br></div><div>Semua bergantung bagaimana kita mengendalikannya. Sisi yang mana yang ingin kita tumbuhkan dengan subur. Gagal mengendalikannya berarti meningkatkan risiko kebakaran di Negeri jiwa manusia. Ini bahaya kedua menurut CM. Pemicu kebakaran mungkin datang dari luar, tapi apakah negeri jiwa kita terbuat dari bahan yang mudah terbakar? Tentu kita menginginkan negeri jiwa yang kokoh dan tahan api. Meskipun kita tidak dapat memungkiri betapa rapuhnya jiwa manusia.&nbsp;</div><div><br></div><div>Terlebih lagi CM mengatakan bahwa terkadang kebakaran dimulai dari bawah tanah negeri jiwa manusia itu sendiri. Sepertinya ini terkait dengan luka, trauma, atau urusan diri yang belum terselesaikan. Atau mungkin ada kaitannya dengan sisi diri kita yang kita sendiri belum ketahui. Dalam konsep diri Johari Windows, keterbukaan dan kesadaran akan diri kita bisa dilihat melalui empat bagian jendela: terbuka/ <em>open</em> (kita dan orang lain ketahui), buta/ <em>blind</em> (orang lain ketahui, tapi kita tidak ketahui), tersembunyi/ <em>hidden</em> (kita ketahui, tapi orang lain tidak ketahui), dan tidak dikenal/ <em>unknown</em> (tidak kita maupun orang lain ketahui).</div><div><br></div><div>Jika melihatnya dari perspektif agama, mungkin iblis memiliki peranan untuk meniupkan bara api itu. Sebagaimana janjinya kepada Tuhan bahwa ia akan menggoda manusia dari sisi depan, belakang, kanan, dan kiri. Entah perspektif mana yang kita pilih gunakan untuk memahami ini, satu yang pasti, jiwa manusia memang begitu rapuh. Setidaknya kesadaran akan fakta ini bisa membuat kita lebih waspada dan senantiasa hidup dalam kesadaran penuh.&nbsp;</div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480386</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negeri Jiwa Yang Indah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480387</link>
         <description><![CDATA[<div>(Eka Januwati, 20 Sept 2022)<br><br>Jika jiwa diibaratkan sebuah negeri, yang indah atau buruknya adalah merupakan cerminan jiwa itu sendiri, lalu siapakah yang bertugas menatanya?&nbsp;</div><div><br></div><div>Saya jadi teringat penjabaran struktur insan, bahwa sejatinya manusia terdiri dari tiga unsur: jasad (kendaraan), jiwa (diri kita yang sejati), dan ruh (nyawa yang membuat kita hidup). Jiwa yang berdaya adalah jiwa yang berhasil menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Agar bisa sampai di tahapan itu, hati manusia perlu berada dalam kondisi yang bersih.&nbsp;</div><div><br></div><div>Hati yang bersih akan memberi ruang bagi cahaya Ilahi untuk masuk dan menghidupkan jiwa. Bayangkan sebuah rumah yang dipenuhi barang rongsokan, jendela-jendelanya tertutup dan kaca jendelanya tertutup tebalnya debu. Tak ada sinar matahari maupun udara segar yang mampu menembusnya. Sumpek, pengap, dan tak menggairahkan. Terhadap rumah yang demikian, mungkin kita akan berpendapat, “Rumah yang kehilangan kehidupannya.”</div><div><br></div><div>Sama seperti jasad kita, jiwa pun memiliki perangkat berpikir atau akal yang akan aktif (lagi-lagi) ketika hati bersih. Semakin sering kita mengizinkan jiwa untuk memimpin dengan bantuan hati nurani, akal jiwa pun akan semakin terasah. Pada saatnya nanti, jiwa pun akan kembali menjadi tuan di rumahnya sendiri. Saya merasa, akal jiwa inilah yang akan berperan dalam menata jiwa.</div><div><br></div><div>Sebagaimana ungkapan Plato dalam bukunya The Republic, “Pendidikan adalah seni untuk mengarahkan jiwa ke arah yang tepat, sarana untuk mengeluarkan potensi terbaik yang ada di dalam jiwa, sehingga semua potensi pengetahuan yang dimiliki jiwa dapat mewujud.”</div><div><br></div><div>Di dalam tubuh anak-anak kita, ada jiwa-jiwa yang menanti untuk disadari keberadaannya, dberi haknya untuk hidup, diberi asupan yang akan membuatnya berdaya, hingga akhirnya mampu menata dirinya sendiri agar dapat menjadi negeri jiwa yang indah. Bukan hanya untuknya seorang, tapi juga untuk manusia-manusia di sekitarnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480387</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Matematika, Filosofi dan Literatur</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480388</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Ketika membaca tentang Matematika, yang muncul di pikiran saya adalah, mengapa banyak sekali yang melihat matematika adalah Kawasan yang penuh tantangan dan kesulitan ala ladang ranjau. Seolah jika kita mencoba menyelaminya, yang akan muncul adalah kebuntuan? Benarkah demikian, bagaimana seharusnya kita menaklukan matematika, atau apakah perlu pemilihan diksi menaklukan ini dipilih, jangan – jangan kita memang hanya perlu berdamai dengan matematika, mengenalnya lebih dalam lagi sehingga akan timbul bibit sayang dan suka?&nbsp;<br><br>Matematika merupakan wilayah pegunungan dengan tantangan yang besar, namun pijakan matematika adalah nalar kebenaran, pijakan yang kokoh. Dalam proses memahami matematika, imajinasi ternyata masih perlu sebagai rekan seperjalanan, bahwa hal kokoh yang dapat membantu pijakan kebenaran kita ini juga perlu imajinasi (dulu untuk memahami matematika, biasanya saya memahami soal dengan imajinasi), namun bagaimanapun, nalarlah yang pertama harus benar – benar mengimbangi dan menemani intelektualitas saat mendalami wilayah yang tidak mudah ini.&nbsp; Imajinasi yang bernalar, berbatas pada hukum – hukum logika kebenaran.&nbsp;<br><br>Berbeda dengan matematika yang ‘serba’ pasti, filosofi merupakan wilayah yang juga penuh tantangan, hanya saja pijakannya adalah proses dalam pencarian kebenaran yang bisa jadi menguatkan, mengkoreksi, atau justru meniadakan apa yang sudah ditemukan terlebih dahulu. Wilayah jelajahnya tidak terbatas, intelektualitas bisa mengembara dari satu wilayah yang sudah dikenali dan mampu menemukan hal baru di wilayah tersebut, atau menjelajah ke wilayah yang sama sekali baru dan menemukan hal baru, pun mungkin ketiadaan.&nbsp;<br><br>Namun, filosofi menurut saya memperkaya jiwa. Adanya filosofi membuat kita mampu menyelami misteri kehidupan manusia di dunia ini, filosofi merupakan titik awal lahirnya ilmu pengetahuan, pertanyaan – pertanyaan filosofis yang mendasari penelitian – penelitian tentang diri dan sekitar kita, dan menjadi sumber dari lahirnya banyak ilmu lainnya, baik ilmu pasti maupun ilmu tak pasti, salah satunya matematika.&nbsp;<br><br>Berikutnya adalah literatur, subjek yang sangat menarik untuk dijelajahi oleh sang intelektualitas. Di wilayah literatur, intelektualitas bersahabat erat dengan keindahan. Wilayah jelajah intelektualitas tak terbatas, dan penuh dengan keindahan yang semampu yang dibayangkan oleh imajinasi, sang pemeran besar di wilayah ini. Di wilayah literatur yang kaya dan megah, kita akan mampu bersenang – senang dan menemukan keasikan ketika menyelami wilayah di bawah permukaannya.&nbsp;<br><br>Ijinkan saya mengutip salah satu pernyataan favorit saya tentang lautan lepas oleh Dave Berry – seorang penulis yang memenangkan Pulitzer.&nbsp;<br>“there’s nothing wrong with enjoying looking at the surface of the ocean itself, except that when you finally see what goes on underwater, you realize that you’ve been missing the whole point of the ocean. Staying on the surface all the time is like going to the circus and staring at the outside of the tent”<br><br>Kira – kira seperti itu ketika kita memilih untuk tidak menyelami literatur, hanya permukaan keindahan dunia saja yang mungkin kita nikmati, keseluruhan keindahan ada ketika kita menyelaminya, bermain – main lebih dalam dan menikmati petualangan menarik melalui dirinya.&nbsp;<br><br>Jakarta, 13 Feb 2023<br>-	Nelly -</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480388</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Intelek - Sains &amp; Sejarah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480389</link>
         <description><![CDATA[<div>Jiwa manusia mendapatkan banyak bantuan untuk mengenal dunia yang menyenangkan (ataukah vice versa?). bantuan pertama didapatkan dari sang sekretaris luar negeri yang bernama intelek.&nbsp;<br><br></div><div>Melalui intelektualitas, jiwa manusia mengenal science dan sejarah. Awalnya saya tidak menyadari relasi langsung keduanya kecuali hanya sebagai bagian yang dihubungkan oleh intelek(tualitas).&nbsp;<br><br>Namun, jika kita melihat di awal peradaban ada, ketika manusia mulai mempertanyakan awal mula eksistensinya dan mulai berpikir bagaimana segala yang dia lihat di sekelilingnya bisa ada dan terjadi.&nbsp;<br><br></div><div>Dimulai dengan adanya mitologi – mitologi yang eksis di masa Pra – Socrates, kemudian mendapatkan tentangan dari kaum Sophis dan berlanjut ke masa Socrates yang menyakini adalah penting untuk membangun landasan – landasan yang kuat untuk pengetahuan kita. Dia percaya bahwa landasan ini terletak pada akal manusia. Dari warisan pengertian bahwa orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu, lahirlah filsuf – filsuf penerusnya dengan wacana yang hampir sama ataupun berbeda. &nbsp;<br><br></div><div>Pernyataan para filsuf ini pasti berasal dari perenungan yang dalam, pengamatan terhadap alam sekitar, dan dialetika yang panjang.&nbsp;<br><br>Saya membayangkan Socrates berdiskusi dengan Plato, muridnya, atau Aristotles yang mengungkapkan ketidaksetujuannya ke pandangan sang guru, Plato.&nbsp;<br><br>Hasil dialetika akan mengarahkan sang intelektualitas kembali mencoba mengupas, mendalami, mengamati, dan lahirlah sains yang terus memperbaharui pengetahuan manusia tentang dunia.&nbsp;<br><br></div><div>Dari sains ini, kita mendapatkan pemahaman akan keluasan alam semesta yang tidak pernah habis untuk diamati, ditemukan kembali, terus menerus tak pernah habis. Sumber belajar dan bermain sang jiwa dengan panduan sang intelektualitas.&nbsp;<br><br></div><div>kemudian, ketika sains terbaru ditemukan, maka mitologi, mistisme, sains – sains sebelumnya kemudian akan menjadi sejarah. Menjadi legacy (warisan), saksi terhadap perjalanan waktu hingga sesuatu yang baru tersebut ditemukan, atau dikembangkan.&nbsp;<br><br>Sains dan sejarah bagaikan saudara kandung, sang kakak yang ada lebih dahulu dan sang adik yang datang kemudian, keduanya ada, bisa ada di saat yang sama, karena berbicara sejarah juga berbicara sains yang mendasarinya, peristiwa – peristiwa yang terjadi masa itu yang sebagian besar tentu tidak lepas dari peran pengetahuan dan intelektualitas.&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>Jakarta, 19 Jan 2023<br><br></div><div>-Nelly-<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480389</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diri Kita</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480390</link>
         <description><![CDATA[<div>You don’t have a soul<br>You’re a soul…you have a body<br>-	c.s. lewis –&nbsp;<br><br>ketika kebanyakan tag line yang berseliweran dari nama layanan spa, produk kecantikan tubuh, atau sekedar café mengusung konsep Body &amp; Soul, kesan yang kita dapatkan memang kita adalah ‘si’ body yang mempunyai soul, atau tubuh yang mempunyai akal budi, perasaan, dan jiwa. Si tubuh merupakan rumah bagi eksistensi ketiga entitas tersebut. Sang Tubuh adalah pemilik ketiganya.&nbsp;<br><br>Apabila penyebutan diri kita merupakan penyederhanaan dari komponen Tubuh dengan Akal budi, perasaan dan jiwa. Namun entitas yang kita Imani mempunyai ‘kelangsungan hidup’ lebih lama justru 3 entitas yang dikomandoi oleh sang Jiwa. Ketika tubuh kita sudah terkoyak dimakan waktu, kembali ke tanah, jiwa dengan kenangan, perasaan dan budi masih hidup di ‘alam’ berikutnya. Jadi justru lebih tepat pemilik tubuh adalah sang Jiwa, diri kita adalah Jiwa, yang bersemayam dalam tubuh kasar kita saat ini. &nbsp;<br><br>Meski demikian, saat ini, penyebutan diri cukuplah untuk mewakili keempat elemen yang menyatu, meski masing – masing mempunyai fungsi dan kekuatan yang berbeda.&nbsp;<br><br>Mengulik tentang diri, tidak akan lepas dari peranannya dengan relasi pengetahuan, pengendalian dan penghormatan diri.&nbsp;<br><br>Bahwa pijakan yang perlu kita ambil terlebih dahulu adalah pengetahuan akan diri sebelum kita mampu mengendalikannya dan atau di pijakan selanjutnya yakni penghormatan diri.&nbsp;<br><br>Pengetahuan diri akan menuntun kepada kebenaran diri dan orang lain, yang kemudian akan berlanjut kepada penghormatan diri dan orang lain. Karena sejatinya kebenaran bagi diri adalah juga merupakan kebenaran bagi orang lain, penghormatan bagi diri adalah juga penghormatan bagi orang lain.&nbsp;<br><br>Tiap individu merupakan entitas yang sama.&nbsp;<br><br>Saya yakin banyak dari kita yang sudah familiar dengan statemen : jika kita tak ingin dicubit, jangan cubit orang lain, atau perlakukan orang seperti kita ingin diperlakukan. Diri adalah refleksi relasi dengan entitas diri lain, individu lain, jiwa lain.&nbsp;<br><br>Jadi akal budi, pengetahuan tentang diri akan mampu mengendalikan diri dengan menghormati keberadaan diri dan orang lainnya. Jika kita merasa sakit ketika dicubit, kita tentu mampu mengendalikan diri untuk tidak mencubit orang lain, konsep keseimbangan ini yang seharusnya kita pahami ketika kita mempelajari diri yang terdiri dari komponen sederhana namun sepelik tubuh, akal budi, dan jiwa.&nbsp;<br><br>Sang jiwa paham dirinya dan orang lain sama berharganya, sang akal budi mengerti bahwa dirinya dan orang lain seharusnya saling menghormati, dan sang tubuh kasar mengikutinya dengan tidak melakukan hal yang mengkhianati kedua elemen lainnya. Keseimbangan hukum alam pun ada dalam diri kita, yang seringkali tidak kita sadari dan cenderung kita abaikan.&nbsp;<br><br>Jakarta, 14 Jan 2023<br>Nelly</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480390</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Indra Peraba</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480391</link>
         <description><![CDATA[<div>“Melalui garis batas, kita meraba dunia luar. Melalui garis batas, kita berlindung dari dunia luar.”<br><br></div><div>-&nbsp; &nbsp; &nbsp; Agustinus Wibowo, Indonesian Travel Writer &amp; Photographer - &nbsp;<br><br></div><div>Saya (agak) terjebak dengan banyaknya pertanyaan filosofis ketika menginjak bahasan tentang Indra Peraba, karena faktanya yang berbeda dari ke 4 indra lainnya. Yakni indra yang pertama kali terbentuk dan berkembang di manusia (di usia ke 8 minggu), yang menyebar di seluruh tubuh manusia, kecuali kuku dan gigi dengan sensasi terkuat di bibir dan di ujung jari<br><br></div><div>Tentunya penciptaan ini ada filosofi yang patut kita renungi. Dan saya menemukan sedikit pencerahan ketika menemukan quote tersebut, mencoba membebaskan makna awal dari pembuatnya, saya mengamini bahwa indra peraba adalah alat yang diciptakan Tuhan untuk tubuh kita mampu mengenali sensasi di seluruh tubuh sekaligus sebagai alat berlindung dari dunia (sensasi) luar.&nbsp;<br><br></div><div>Jika dibayangkan, betapa banyaknya syaraf yang bekerja di seluruh kulit untuk merasakan panas, dingin, kasar, halus, dan ribuan sensasi yang mungkin mampu kita identifikasi sekaligus juga menjadi pelindung untuk sensasi – sensasi tersebut ketika intensitasnya naik ke level berpotensi menyakiti tubuh. Ambang batas air dingin, air hangat, air panas dapat kita bedakan level mana yang bisa diterima dan hingga tingkat keberapa kita tolak, masing – masing saya yakin punya ukuran yang berbeda – beda.&nbsp;<br><br></div><div>Kemudian, mengapa yang terkuat ada di mulut dan ada di ujung jari?<br><br>Apakah sensasi bahaya ini kebanyakan ada di 2 ‘pintu’ ini?&nbsp;<br><br>Bagaimana kita berkata, bagaimana kita mengecap, merasa, dan atau melakukan sesuatu lebih aktif di kedua ‘alat’ ini?&nbsp;<br><br>Dibandingkan dengan ‘pintu’ lainnya? Ataukah indra ini merupakan indra yang harus secara langsung mengenai sumber sensasi?&nbsp;<br><br>Jika mata melihat dapat dilakukan dari jarak jauh/dekat tanpa harus bersentuhan langsung, telinga dengan mendengar dari jarak tertentu, hidung mencium dengan jarak tertentu, hanya peraba ini selain pengecap (yang didalamnya ada fungsi syaraf peraba) pulalah yang harus bersentuhan secara langsung. Dengan potensi – potensi marabahaya?&nbsp;<br><br>Ketika indra lain tidak berfungsi, misal dalam sebuah ruangan gelap, dengan suara bising dan aroma yang membingungkan, mungkin indra peraba akan berkerja lebih optimal menjadi penyelamat dan pelindung untuk tubuh kita.&nbsp;<br><br></div><div>Kemudian, melangkah ke tahap selanjutnya, ketika fungsi indra ini terlatih dengan baik, akan menjadi pelayan bagi kita sang tuan, ketika kita ikuti sang pelayan ini, kemudian indra ini akan menjadi kolokan terhadap sensasi dari luar.&nbsp;<br><br>Ketika fungsinya menjadi ‘over protective’? level rangsangan yang tadinya dapat ditolerir oleh sang indra menjadi turun, yang kita istilahkan sang pelayan sudah menjadi tuan, dan alat ini akan menjadi kendali yang tak mungkin dihindarkan.&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>Jakarta 13 Desember 2022<br><br></div><div>-Nelly-&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480391</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Panca Indera (Pengecap)</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480392</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam pemikiran saya, panca indera merupakan alat tempur yang dibekalkan Tuhan kepada manusia selagi manusia ‘dibuat’ dan disempurnakan dalam kandungan. ‘alat’ ini membantu mekanisme manusia bertahan setelah dilahirkan. Dimulai dari indera peraba di usia kehamilan 8 minggu, disusul berturut – turut oleh indera penciuman dan pengecapan di minggu 11 – 15, kemudian indera pendengar di minggu 18 – 20 dan terakhir indera penglihatan di minggu 25.&nbsp;<br><br>Menjadi alat bagi manusia dapat kita bahasakan menjadi pelayan atau alat bantu, kita sebagai tuannya yang mempunyai kuasa untuk menentukan kapan, bagaimana dan seperti apa alat tersebut akan kita gunakan, dan bukan sebaliknya.<br><br>Indera pertama yang dibahas saat ini adalah indera pengecap, sebagai pelayan, indera pengecap melayani kita dengan membantu kita mengidentifikasi rasa, seluruh permukaan pengecap mempunyai fungsi yang sama sekaligus berbeda, yakni merasakan sensasi rasa dengan pembagian asam, manis, asin dan pahit di masing – masing pinggir, ujung dan pangkal lidah, sungguh sebuah alat yang sempurna bukan?&nbsp;<br><br>Namun, bagaimana jika kuasa antara tuan dan pelayannya menjadi terbalik.&nbsp;<br><br>Apabila sang pelayan termanjakan dan mampu mendikte sang tuan yang berubah menjadi pelayannya.&nbsp;<br><br>Mengaturnya untuk berpihak hanya pada rasa yang dia mau, mendiktenya untuk berpihak kepada rasa berlebih yang memanjakan meski tidak sehat, atau melarangnya untuk melatih kemampuan menjejak rasa yang berbeda – beda.&nbsp;<br><br>Sang Tuan yang baru akan menguasai kita sepenuhnya, sedikit demi sedikit hingga kita akhirnya hanya mampu mengalah dan mengikuti kehendaknya.&nbsp;<br><br>Kemudian, sayapun berpikir, apabila pelayan ini bisa berfungsi sebagai alat dan atau pelindung, tentunya juga dapat difungsikan sebagai ‘penyerang’ bukan?&nbsp;<br><br>Bisakah kita menyerang menggunakan panca indera kita?...tentunya bukan penyerang ala super hero yang menggunakan tatapan laser atau teriakan super sonic yang menghancurkan bangunan di sekitarnya.&nbsp;<br><br>Apakah ini bias?&nbsp;<br><br>Apakah fungsi lidah sebagai pengecap tidak boleh kita ‘tumpuk’ dengan fungsi lidah ‘tak bertulang’ yang bisa mengeluarkan kata – kata serangan?&nbsp;<br><br>Apakah itu tidak ada kaitannya dengan fungsi indera?&nbsp;<br><br>Ataukah serangan juga semacam mekanisme perlindungan diri manusia, kembali ke kodrat awal indera sebagai alat ini dihadiahkan oleh sang pencipta?&nbsp;<br><br>Banjarmasin, 7 Des 2022<br>Nelly</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480392</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ajun Komisaris Tubuh : Kegelisahan dan Istirahat</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480393</link>
         <description><![CDATA[<div>Part 1 :<br>#<br>#<br>#<br>Aku adalah kegelisahan<br>Aku adalah temanmu<br>Aku baik untukmu<br>Untukmu terus terpacu<br>Membuatmu menaiki gunung, Menemukan obat untuk virus dan ribuan hal baik lain dalam kehidupan.&nbsp;<br>Aku juga akan terus membuatmu berjuang membuat kehidupan menjadi lebih baik, terus dan terus…<br>Dan hei..aku tak akan membuatmu tenang, tapi adanya aku bagus untukmu, kamu bisa mencapai puncak kehidupan dengan gemilang, cemerlang dan mencapai apa yang kamu impikan. Itu tugasku.&nbsp;<br>Tapi…<br>Jika aku bekerja terlalu banyak, aku akan menjadi setan bagimu<br>Atau….aku akan menguasaimu, menjadi tuanmu, dan aku keras ketika menjadi tuan!<br>Aku bisa memaksamu untuk tidak pernah berhenti<br>Aku bisa membuat kesabaranmu lenyap<br>Aku bisa membuat hidupmu terasa kurang dan kecil<br>Aku bisa membuatmu membuta terhadap banyak hal yang seharusnya kamu syukuri, Cam kan itu!<br>tapiiii…mari, mendekat kesini….<br>Kuberi kau takaran rahasia untuk tetap membuatku sebagai pelayanmu.<br>……………….takaranku sekeping dua keping, kamu bisa tambah dengan sahabatku sang ‘syukur’ …yaaah bisa dua sampai tiga keping mungkin? Jangan lupa&nbsp; tambahkan berkeping keeping sahabatku yang lainnya yang bernama ‘sabar’, dan satu yang sebenarnya akan sangat membantu takaranku seimbang adalah sekeping dua keping saudaraku sang ‘Istirahat’.<br>………………….<br>………………….<br>………………….<br><br><br>Part 2<br>#<br>#<br>#<br>Hai..Hai<br>Aku adalah Istirahat! Tadi sudah dikenalkan oleh saudaraku sang ‘kegelisahan’ kan?<br>Aku adalah abdi yang setia<br>Aku membuatmu tertidur<br>Aku membuatmu sejenak mundur<br>Aku membuatmu mengambil jeda&nbsp;<br>Aku membuatmu bernafas lega<br>Aku yang membuatmu tetap mampu menjalani hari demi hari&nbsp;<br>Kamu tau rasanya setelah aku datang kan?&nbsp;<br>Tapi….pelayanmu ini jangan kau gunakan berlebihan, aku akan menjadi seorang Tiran!<br>Aku akan menghantuimu&nbsp;<br>Aku akan menguasaimu<br>Aku akan membuatmu terongok&nbsp;<br>Aku akan membuatmu terseok<br>Kau takkan tahu, Kau takkan sadar, Kau takkan mampu melepasku..<br>Aaahhhh…aku yakin kau sudah diberi tahu saudaraku, bagaimana agar kami semua tetap menjadi abdimu…<br>Gunakan takaran kami secukupnya dan kami akan tetap menjadi abdi yang setia.&nbsp;<br><br>Jakarta, 9 November 2022<br>-Nelly-</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480393</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ajun Komisaris Tubuh : Rasa Haus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480394</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebelum berbicara tentang Ajun Komisaris Tubuh berupa Rasa Haus ini, benak saya seringkali berpikir tentang keberadaan air di muka Bumi dan seisinya yang diciptakan Tuhan sebagian besar terdiri dari air. Permukaan bumi memiliki 60% – 70% air (kita belum berbicara tentang air di bawah permukaan bumi sendiri atau air yang dihasilkan oleh tumbuhan berubah buah – buahan dan atau hewan berupa susu yang menyehatkan), pun tubuh manusia yang komponen cairannya dikisaran angka yang sama. Air merupakan sumber penghidupan, adanya kehidupan di permukaan bumi ditunjang oleh keberadaan komponen penyusun air yang berlimpah tersedia yakni H2 dan O2.&nbsp;<br><br>Bakal bayi terbentuk dari c(air)an, bayi sejak dikandung hidup dalam air ketuban, setelah dilahirkan, 6 bulan pertama hidup hanya dengan air susu ibu. dan selama hidupnya menurut penelitian tidak dapat bertahan hidup setelah 8 hari tanpa air (minum).&nbsp;<br><br>Demikian besarnya peranan air dalam kehidupan manusia, bahkan filosofi ajaran Tao adalah Air! menurut Lao Tzu kebajika air adalah sifat luwes tak terhingga namun kokoh tanpa tandingan. Penganut Tao kagun dengan cara air mengapungkan benda – benda dan tanpa kekuatan membawanya di saat pasang. &nbsp;<br><br>Meski mampu menyesuaikan diri, air mempunyai kekuatan besar. Dalam arus sungai, air mengikuti pinggiran batu yang tajam, tapi pada akhirnya air akan mengubah batu – batu tajam tersebut menjadi batu – batu kecil yang bundar agar sesuai dengan arus aliran air itu sendiri.&nbsp;<br><br>Air melintasi&nbsp; tapal batas, menerobos dinding pemisah, alirannya yang lembut meluluhkan batu karang dan menghanyutkan banyak hal yang kita sangka kuat dan abadi. Mengikuti analog air, para penganut Tao ini menolak segala penonjolan diri dan persaingan. &nbsp;<br><br>Filosofi yang menurut saya menarik tentang air adalah penelitian Dr Masaru Emoto yang dapat mengabadikan kristal air, air dengan doa – doa, perkataan indah dan baik ketika dikristalkan menjadi bentuk – bentuk yang Indah, sebaliknya ketika diberikan kata – kata kasar bentuknya akan menjadi mengerikan.&nbsp;<br><br>Mekanisme kebutuhan manusia untuk bertahan hidup dengan mendapatkan asupan air ini diatur oleh Ajun Komisaris Tubuh sang Rasa Haus.&nbsp;<br><br>Rasa Haus sesungguhnya sangat sederhana, yang dibutuhkannya adalah air murni yang dingin, dan kitapun biasanya menyukai air dalam campuran bahan lainnya seperti dalam buah – buahan, susu, atau campuran yang dibuat oleh kita sendiri seperti teh atau kopi.&nbsp;<br>Rasa Haus adalah sebuah mekanisme mempertahankan hidup yang luar biasa. Peranannya seolah sangat kecil (tidak segegap gempita rasa bahagia,&nbsp; tidak semenggelegar rasa amarah, tidak sekelam rasa sedih, atau tidak semendesak rasa sakit dan atau lapar) dengan dampak yang sangat besar. Apabila kita kurang terhidrasi, fungsi pikiran dan tubuh akan melambat dan tidak optimal.&nbsp;<br><br>Air juga mempunyai versi lain dengan campuran ethanol menjadi Alkohol (dalam Islam disebut Khamr).&nbsp;<br><br>Sebuah kisah yang disampaikan oleh Ustman bin Affan, ada seorang pria saleh ketika tersandera diberikan pilihan minum khamr, membunuh bayi, atau berzina. Dia memilih minum khamr dan akhirnya dia melakukan 2 kejahatan lainnya yang dia hindari, sesungguhnya dampak dari minum alkohol sangat merusak, baik secara fisik maupun kejiwaan.&nbsp;<br><br>Bukan air yang merusak, namun ethanol (bubuk) yang merupakan bahan penyusun alkohol yang mudah larut menjadikannya sangat mudah menembus membrane tubuh kita. ethanol akan memberikan dopamine terhadap otak manusia yang memberikan rasa tenang dan membajak kemampuan berpikir manusia, kita jadi tidak punya kemampuan untuk menyelaraskan pikiran dengan syaraf lainnya sehingga biasanya orang mabuk karena alkohol akan meracau, destruktif dan hilang kesadaran, hingga meninggal dunia.&nbsp;<br><br>Meski kegunaan alkohol juga besar seperti untuk obat, namun penggunaan tidak pada fungsinya dan konsumsi yang berlebihan pasti akan merusak. sesuatu yang baik ketika digunakan untuk hal yang tidak pada tempatnya, pada fitrahnya akan menghilangkan sifat baik itu sendiri.&nbsp;<br><br>Jakarta, 9 Nov 2022<br>-Nelly-</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480394</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pribadi yang Agung</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480395</link>
         <description><![CDATA[<div>Membaca kalimat&nbsp; “kita kemudian baru sadar bahwa diri kita ini sebenarnya dua. Yang satu mungkin kita dapat sebut&nbsp; pribadi yang tidak memuaskan, dan yang satunya lagi pribadi agung dan cantik yang kita anggap bagian integral dari kita..”&nbsp; membawa saya ke pemahaman bagaimana kita ‘berkomunikasi’ dengan diri sendiri, yang selama ini berjalan natural dalam keseharian.&nbsp;<br><br>Entah itu dalam proses sederhana membuat sebuah keputusan, ataukah dalam proses yang lebih dalam seperti perenungan – perenungan diri. Biasanya sebelum mengutarakan kepada orang lain tentang keputusan kita, dalam memutuskan sesuatupun kita melalui proses pertimbangan dalam diri sendiri, apakah begini, ataukah begitu, mana yang lebih baik, mana yang terbaik, dan faktor pertimbangan lainnya. Bahkan tak jarang diri yang ‘dua’ ini bertarung seolah (sering dijadikan lelucon )merepresentasikan suara malaikat dan suara setan.<br><br>Dua pribadi ini menurut saya adalah wujud yin dan yang bagi keseimbangan jiwa. Representasi pribadi yang agung dan cantik dengan pribadi yang tidak memuaskan membuat manusia menjadi utuh. Keduanya mengolah karsa diri, itulah mengapa kita (dari lahir) mempunyai potensi menjadi baik ataupun menjadi jahat, tergantung bagaimana kita membiasakan diri, mengolah kendali atas keduanya, mana yang lebih dominan, mana yang lebih ‘didengarkan’ dan mana yang lebih sering ‘dilatih’.&nbsp;<br><br>Kemudian menyusuri kalimat berikutnya yang menarik bahwa “..Kita tidak menyadari bahwa jiwa manusia itu agung, indah, dan berharga tanpa batas. Ini sebagian karena agama kebanyakan mengajarkan sikap merendahkan diri dan menahan diri..”<br><br>Jika kita renungkan lebih jauh, sebenarnya sejak awal kehidupan, saat kita mulai mengenal lingkungan sekitar, dan bahkan sebelum kita mengenal agama, kita dikelilingi, dididik, dilatih untuk menahan diri dan kemudian ketika kita mulai mengenal agama, kita dilatih merendahkan diri dengan tunduk terhadap perintah – perintahNya.&nbsp;<br><br>Namun, apa yang membuat kita tidak mampu menyadari keagungan, keindahan dan berharganya jiwa? Sampai dimana kepatuhan ini menjadi momok yang melukai keagungan jiwa manusia itu sendiri? bagaimana caranya membagi peran jiwa ketika berhadapan dengan Tuhan dengan ketika berhadapan dengan manusia dan alam semesta? Apakah memang menyatu dan tak terpisahkan? Dapatkan dilatih untuk menemukan batas – batasnya?<br><br>Seperti perumpamaan sebuah negara yang bergantung pada pemerintahannya, apabila jiwa manusia merupakan entity yang luas dan tak dapat diukur, mungkinkah kita hanya mampu bermain pada potensi dan kondisi saja?&nbsp;<br><br>Negara lebih penting, namun tidak dapat berkembang tanpa pemerintahan, apakah pemerintahan bagi jiwa adalah potensi dan kondisi yang kemudian akan mengolah karsa dan menjadi penentu apakah kebajikan ataukah kemungkaran yang menjadi keputusan si jiwa dari sang manusia ini?&nbsp;<br><br>Seperti layaknya pemerintahan yang baik dan buruk berdampak bagi sebuah negara dan tentu saja bangsa yang menghuninya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480395</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negeri Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480396</link>
         <description><![CDATA[<div>Membaca tentang negeri jiwa manusia serasa menyusuri negeri Alice in wonderland. Pun membuat saya kembali teringat tentang uraian dari buku the Monk who sold his Ferrari oleh Robin Sharma. Dalam salah satu babnya membahas tentang ‘the most extraordinary garden’, hanya saja di buku tersebut, Robin Sharma mengacu kepada pikiran, bukan spesifik ke Jiwa.&nbsp;<br><br>“….in the fable, the garden is symbol for the mind, if you care for your mind, if you nurture it and if you cultivate it just like a fertile, rich garden, it will blossom far beyond your expectations. But if you let the weeds take root, lasting peace of mind and deep inner harmony will always elude you.”<br><br>Bagi saya, kata – kata tersebutpun dapat mewakili negeri jiwa manusia, hanya bedanya ketika kita mendiskusikan tentang jiwa, abstraksi merupakan sebuah tantangan tersendiri.&nbsp;<br><br>“Tanahnya sangat subur, hampir di semua tempat, dan di bagian yang dikelola terdapat padang rumput, ladang-ladang jagung, dan perkebunan dengan beragam buah-buahan…Ada pula lahan liar, berawa-rawa dan sama sekali tidak indah, namun wilayah ini hanya menunggu tangan-tangan baik dan rajin untuk menghidupkannya kembali dan membuatnya menjadi subur, sama seperti bagian negeri yang lain.”<br><br>Kemudian menilik kalimat berikutnya tentang di negeri jiwa ini, kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan Tuhan berkomunikasi dengan kita baik di rumahNya ataupun di tempat biasa, dalam keseharian, tanpa Batasan waktu dan tempat. Tuhan ada, Tuhan berbicara, Tuhan memberikan petunjuk.&nbsp;<br><br>Jiwa kita pada dasarnya hampir semuanya baik, mulia, dan indah dengan tanahnya yang subur, Adapun yang masih liar menunggu untuk kita hidupkan untuk berproses menjadi indah dan mulia. Selain itu banyak potensi lain yang belum kita eksplore dengan maksimal yang sebenarnya apabila kita mampu menemukannya layaknya bahan tambang yang berguna untuk kehidupan manusia setelah di eksplorasi dan di eksploitasi, pun ‘bahan tambang’ di jiwa kita sendiri. Mungkin perumpamaan inipun berlaku sebaliknya seperti bahan tambang yang apabila di ekspoitasi berlebihan juga justru akan merusak? Atau benarkah akan merusak apabila kita temukan potensi baik diri dan kemudian di eksploitasi habis – habisan?&nbsp;<br><br><br>Apapun, para pemilik negeri jiwa inilah yang bertugas menjadi penjaga bagi negeri jiwanya sendiri, dia yang punya kuasa untuk mengembangkan, mengolah, merapikan, mengeksplorasi pun mengekspoitasi agar seindah seharusnya, meski tak terlihat batas – batasnya karena keluasannya. Dan tentunya menjadi penjaga untuk memastikan negeri jiwa dengan tanahnya yang subur dan banyaknya potensi yang tersedia justru akan menjadi kotor, kumuh, dan miskin….sayang sekali bukan?<br><br>Jakarta, 1 Oktober 2022<br>Nelly</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480396</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setan Kemalasan dan Setan Kebiasaan</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480398</link>
         <description><![CDATA[<div>Sekarang….mari kita berbicara tentang setan intelektual.&nbsp;<br>Tidak dinyana, pemikiranpun mempunyai setan – setannya sendiri, saat ini yang sedang kami bahas bersama adalah setan kemalasan dan setan kebiasaan.&nbsp;<br><br>Setan kemalasan menghadang intelektualitas kita untuk bertumbuh, dan mengarahkan intelektualitas kita hanya untuk berpikir tentang hal – hal kecil dalam kehidupan sehari – hari. Kompleksitas biasanya akan membuat intelektualitas kita mandeg dari upaya untuk memahaminya.&nbsp;<br><br>Meski cakupan perkara – perkara kecil bisa diperdebatkan, saya melihat upaya setan kemalasan ini lebih kepada kemampuannya untuk membuai intelektualitas manusia dari fitrahnya sebagai manusia, sebagaimana ungkapan oleh Buya Hamka berikut:&nbsp;<br><br>“Kalau hidup hanya sekedar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, kerbau di sawah juga bekerja”.&nbsp;<br><br>Meski Genus Homo mempunyai kemampuan intelektualitas dibandingkan dengan genus binatang lainnya, manusia masih berdiri di puncak tertinggi intelektualitas diantara sepupu – sepupunya.&nbsp;<br><br>Yang membuat manusia terus melaju memimpin species lainnya di muka bumi ini, sehinga tidak menjadi species yang sekedarnya saja yang ‘terperangkap’ dalam lingkar perkara kecil sehari – hari.&nbsp;<br><br>Saudara dari setan kemalasan adalah setan kebiasaan, kita acap terjebak dalam jumawa telah mempunyai kebiasaan yang teratur dalam waktu yang lama dengan membentengi diri dalam Kawasan zona nyaman. Sesungguhnya setan kemalasan dan setan kebiasaan ini membidik satu hal yang sama, Enggan.&nbsp;<br><br>Untuk setan kebiasaan, menyasar keengganan untuk membukan benteng tadi, jebakan ini menempatkan kita seperti hamster yang berada di roda putar, terus melewati kebiasaan yang sama setiap hari.&nbsp;<br><br>Saya sempat terpikir sebelumnya, mempunyai kebiasaan baik setiap hari adalah hal yang sangat bagus karena hidup terasa berjalan di keteraturan, kemudian berubah menjadi cukup bagus saat menyadari masih perlu melatih diri mengawal kebiasaan ini secara terus menerus, dan saat ini menjadi kurang bagus ketika menyadari bahwa dampak dari kebiasaan ini akan membuat kita terpaku hanya dalam loop kebiasaan yang membutakan kita karena ulah setan kebiasaan ini.&nbsp;<br><br>Pada akhirnya, intelektualitas dapat kita Daulat sebagai fitrah manusia yang seharusnya terus bertumbuh, terus bertambah seperti usia dan kehidupan.&nbsp;<br><br>Membiarkan setan kemalasan dan setan kebiasaan menguasai intelektualitas kita semacam konsepsi kita menyalahi fitrah kehidupan yang mulia ini.&nbsp;<br><br>Jakarta, 9 Maret 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480398</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kita tidak boleh diam di satu bidang pemikiran</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480399</link>
         <description><![CDATA[<div>Zona nyaman yang merupakan representasi setan kebiasaan dapat muncul dari banyak hal, melalui kebiasaan kebiasaan harian yang kita lakukan ataupun dalam konteks pemikiran, kemampuan, ataupun keahlian.&nbsp;<br><br>Sebelum revolusi industri, pekerja biasa melakukan proses produksi dari awal hingga finishing, kemudian setelah revolusi industri, Adam Smith menyimpulkan bahwa&nbsp; produktivitas tenaga kerja dapat ditingkatkan melalui apa yang disebutnya dengan pembagian kerja (division of labour) yang meningkatkan produktivitas menjadi berpuluh kali lipat.&nbsp;<br><br><br>Tiada yang salah dengan teori division of labour tersebut, karena adanya pembagian kerja dapat mendorong spesialisasi di bidang tertentu, jika dasarnya adalah minat dan bakat. Akan tetapi minat dan bakat tidak serta merta datang tanpa wilayah jelajah pemikiran yang beragam. Apabila kita terpasung dalam wilayah pemikiran yang sama dalam waktu yang lama, seyakin apa kita akan minat dan bakat kita?&nbsp;<br><br>Untuk diri sebagai individu, dan diri sebagai orang tua, kita harus mampu membebaskan diri dari belenggu di satu bidang pemikiran ini, kepada diri, kita perlu mulai meraba, membuka mata untuk banyak hal yang dapat kita mulai coba, menambah ilmu baru, pengetahuan baru, pemikiran baru, kebiasaan baru. Pola ini akan diwariskan kepada anak, agar menjadi pembelajar sepanjang hidup seperti bagaimana kita perlihatkan kepada mereka saat ini. Adanya kesempatan mempelajari banyak hal laksana hidangan ide yg melimpah, dan batin serta pikiran diri akan kaya, dan panggilan pengabdian akan kita pilih dengan kematangan.&nbsp;<br><br>Misal, ketika anak kita terbiasa menjadi pembelajar sepanjang hayat, suatu hari ketika dia sudah memilih panggilannya, dia akan mampu gunakan bervariasinya pengalaman hidup dan belajarnya untuk bergaul dengan beragam karakter dari segala lapisan masyarakat. Mampu menghasilkan karya besar, berpikir besar sekaligus berada&nbsp; bersama - sama dan mendampingi para akar rumput, kaum yang sesungguhnya membutuhkan keberadaannya dan memperjuangkannya. Makna magnanimity yang sesungguhnya.<br><br>Jakarta, 14.03.2023</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480399</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nalar</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480400</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya belum sepenuhnya memahami perbedaan nalar dan logika saat menulis ini. Beberapa referensi yang saya tuju menyatakan kurang lebih bahwa nalar adalah proses berpikir secara logis, dari pemahaman tersebut nalar adalah prosesnya sedangkan logika adalah toolsnya.&nbsp;<br><br></div><div>Dari pemahaman awal tersebut, jika tidak melenceng jauh, maka nalar sebagai jaksa agung yang dapat menguasai seluruh pemerintahan dengan hukum atau undang – undang sebagai toolsnya yakni dalam hal ini logika. Proses bernalar ini biasanya menjebak seseorang untuk menggunakan logika – logika sebagai tools untuk mendukung intensinya di awal.&nbsp;<br><br></div><div>Namun kemudian muncul sebuah pertanyaan, konsep mengutamakan logika ini berarti berpikir dengan nalar kah? Jika kemudian nalar menggiring logika diarahkan untuk membenarkan intensi utamanya, artinya nalar juga dapat nyasar tidak hanya dapat dilakukan untuk kebaikan saja bukan? Semua manusia yang mampu berpikir akan mampu menalar, nalar untuk kebaikan dan nalar (pun bisa) untuk keburukan. Jika demikian pembenaran apakah merupakan hasil dari menalar?&nbsp;<br><br></div><div>Daftar pertanyaan ini akan terus berlanjut ketika saya mengkaji lebih dalam, misal (pun) seseorang menggunakan nalarnya untuk panggilan melayani atas nama kebaikan, jika orang tersebut memang memperlihatkan pelayanan kebaikan namun intensi dari pelayanan tersebut adalah untuk menegaskan posisinya menjadi orang baik, berarti nalar juga hanya alat untuk maksud – maksud tersebut, sebagaimana seorang Jaksa Agung yang meskipun mempunyai kekuatan untuk dapat menguasai seluruh negeri, namun secara struktur masih berada dibawah negeri itu sendiri?<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>Jakarta, 26 Mei 2023<br><br></div><div>Nelly<br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nalar yang tidak sempurna</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480401</link>
         <description><![CDATA[<div>وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ<br><br></div><div>“<em>Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan</em>.” (QS al-Isrâ’ [02]: 70)<br><br></div><div>Menilik pada firman Allah tersebut, manusia diciptakan dengan kelebihan yang sempurna atas makhluk lainnya, salah satunya tanpa diragukan lagi adalah adanya akal budi sebagai bentuk yang paling nyata dari kesempurnaan tersebut. karena mahluk lain tidak punya keistimewaan tersebut, binatang hanya diberikan insting yang membuatnya mempunyai kemampuan lebih dibandingkan dengan tumbuhan misalnya. Kira – kita dasar pengetahuan kita selama ini tidak akan lari jauh dari hal tersebut.&nbsp;<br><br></div><div>Kemudian, kita berbicara tentang Nalar, sesuatu yang dipersenjatai oleh logika yang merupakan proses kerja dari akal, senjata sempurna tadi. Seharusnya pun nalar merupakan entitas manusia yang juga bisa dianggap sempurna.&nbsp;<br><br></div><div>Namun, benarkan demikian?<br><br></div><div>Nalar memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses berpikir manusia, dan biasanya kita jadikan mercusuar untuk pertimbangan – pertimbangan yang cukup penting dan genting. Nalar adalah rambu, nalar bagi bayak orang adalah pelita, ketika kegalauan menyerang yang membuat proses memutuskan menjadi sangat berat dilakukan. Namun, bagaimana apabila nalar kedua manusia bertemu? Apakah konsepsi sempurna tadi masih bisa dipertahankan?<br><br></div><div>Dua manusia sama – sama memiliki nalar, sama – sama terbiasa mengacu kembali kepada nalar masing – masing dalam proses berpikirnya. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda, nilai yang tidak sama, dan pengalaman serta kejadian – kejadian yang membuatnya tidak seragam dalam proses menalar dan berpikir. Nalar yang benar untuk satu orang, bisa jadi tidak benar untuk yang lainnya. Benarkah? Apakah benar nalar tergantung dari siapa yang memprosesnya? Sudut pandang dan nilai – nilai si empunya.&nbsp;<br><br></div><div>Jika dianalogikakan, nalar untuk nilai – nilai dasar kemanusiaan, kebaikan, saya yakin ada kesamaan, tidak mungkin melihat bayi tergeletak dijalan, nalar kita tidak menyuruhnya untuk menyelamatkan, atau hanya berlalu begitu saja. Tapi benarkah? Apakah ada kemungkinan ketika berbicara tentang nalar yang tidak sempurna dan berbeda satu dengan lainnya, kemudian nilai kebaikan ini dianggap memang bukan parameter yang harus diperhitungkan dengan percaya diri?<br><br></div><div>Jakarta, 9 Juni 2023<br><br></div><div>-Nelly-<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480401</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nalar dan Gagasan sang Kehendak</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480402</link>
         <description><![CDATA[<div>2 Januari 2023, Pukul 03:30 Jane Doe tidak bisa menahan rasa sakit yang dialami perutnya dari 3 jam sebelumnya.&nbsp;<br><br>Segera dia membangunkan sang anak untuk minta bantuan kepada sepupunya, membawa Jane Doe ke IGD.&nbsp;<br><br>Di IGD setelah disuntikan beberapa dosis tinggi penetral asam lambung dan beberapa suntikan yang dia tidak tahu, akhirnya sakit yang menyiksa seolah lenyap.&nbsp;<br><br>Kenangan akan rasa sakitpun raib, hari – hari Jane Doe Kembali ke keyakinan lamanya bahwa lambungnya baik – baik saja, tidak ada santapan yang dia hindari, jikalaupun ada sedikit melilit, dia akan menganggap itu adalah reaksi asam lambungnya yang kelewat ‘cerewet’.&nbsp;<br><br>Makanan pedas, dengan level yang tidak tanggung – tanggung, dan kopi selalu masuk menjadi gagasan terbaik di hari – harinya. Nalarnya menyambar gagasan bahwa lambungnya pasti akan cukup kuat, bahwa lambungnya sebelumnya hanya ‘ngambek’ sesaat, bahwa semua baik – baik saja.&nbsp;<br><br><br>2 Juni 2023, pukul 04:50, Kembali Jane Doe dilarikan ke IGD, masalahnya sama. Asam lambung yang terlalu tinggi. Gerd yang dia nafikkan keberadaannya kembali menggila dan menunjukkan diri tidak layak untuk dianggap angin lalu, lambungnya berontak, melawan dan menunjukkan ketidakterimaan diperlakukan seenaknya.&nbsp;<br><br>Vonis dokterpun turun, harus di rawat inap, sembari menunggu penyakit penyerta lainnya juga membaik. Di titik ini Jane Doe merasa selama ini nalarnya dia jadikan alat untuk memperkuat kehendaknya.&nbsp;<br><br>Sungguh saya sepakat dengan yang dikatakan Bu CM bahwa nalar akan menyambar gagasan setelah diijinkan masuk oleh sang perdana Menteri, yakni kehendak.&nbsp;<br><br>Ketika kehendak cukup kuat untuk sebuah hal, baik hal baik ataupun hal buruk, nalar akan membuatkan ‘jalan’ yang cukup lapang untuk melakukan gagasan tersebut.&nbsp;<br><br>Membaca nalar merupakan alat untuk memudahkan gagasan yang diijinkan oleh kehendak, benak saya membayangkan kekuasaan negara. Ketika sang perdana menteri mempunyai sebuah gagasan untuk ‘membasmi’ para imigran gelap (misalnya), gagasan tersebut tentu akan diejawantahkan oleh para punggawa negeri yang berada dibawahnya dan menjadi alat untuk melanggengkan kuasanya.&nbsp;<br><br>Dalam diri Jane Doe saat ini, pelanggengan kekuasaan sang kehendak sedang bertarung dari gagasan incumbent dan gagasan baru yang seharusnya&nbsp; menjauhkan Jane Doe dari IGD di masa – masa selanjutnya, minimal untuk urusan lambung di dini hari!<br><br>Jane Doe ini adalah saya!<br><br>Jakarta, 23 Juni 2023<br>Nelly</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480402</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Majelis Akal Budi</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480403</link>
         <description><![CDATA[<div>Diri Kita<br><br>Seringa aku mendengar bahwa masa pencarian jati diri adalah ketika memasuki peralihan remaja ke dewasa. Tapi apa sih makna diri itu sendiri? Secara fisik terlihat jelas dari luar bahkan organ-organ dalamnya juga kita tahu pasti. Tapi ibu CM mengajak untuk minilik hal-hal dalam diri yang tak terlihat, tak bisa disentuh dengan kulit namun bisa dirasakan. Bagian-bagian bak Negeri yang begitu luas namun belum tereksplor, diantaranya akal budi, hati (perasaan) dan jiwa. Meski banyak penafsir yang mendiskripsikan satu per satu makna dari bagian-bagian tersebut pada dasarnya mereka adalah satu kesatuan yang utuh dan saling terhubung.&nbsp; Hanya saja masing-masing kekuatan setiap oranglah yang pada dasarnya berbeda-beda. Sebab setiap pribadi itu unik.&nbsp;<br><br>Dua sisi yang dianggap neraca keseimbangan antara benar dan salah. Kadang kalanya kita tergoda untuk melakukan hal yang dianggap jahat atau tidak bijaksana dalam suatu kondisi tertentu.&nbsp; Meski kita tahu itu tak baik seakan ada kekuatan yang mungkin membuat kita lepas kendali. Itulah mengapa CM menggaris bawahi untuk tahu bagaimana, dimana dan kapan dalam pengendalian diri. Misal suatu ketika kau mendapat perlakuan buruk dari orang yang tak kau kenal sebelumnya, dia dengan sengaja mencuri barang berhargamu. Dan rupanya pencuri itu akhirnya tertangkap. Apa reaksi pertamamu?&nbsp;<br>Kaget dan marah itu wajar, tapi bagaimana kau mengungakapkan rasa kecewa dan marahmu terhadap pencuri. Bisa saja kau langsung mencaci makinya bahkan menganianya pula. Atau kau berusaha lebih menenangkan diri sejenak menilik kenapa sampai dia mencuri? Hidup memang tentang memilih. Dan banyak hal atau pun kejadian-kejadian yang selalu bisa petik pelajarannya.&nbsp;<br>Mencuri bukan perbuatan yang benar, tapi sebagai sesama manusia kita percaya bahwa Tu(h)an Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun. Maka "kasihiah sesamamu seperti kau mengasihi dirimu sendiri". Perbuatannya patut kau benci dan tak perlu dicontoh, maka perbuatan itu layak mendapat hukumannya. Namun bukan berarti kau membenci harus membenci orangnya. Welas asih adalah prinsip kemanusian.&nbsp; Pilihan atas tindakan pengendalian dirimu yang menunjukkan bagaimana kau mengenal bahkan menghormati dirimu sendiri. Bukankah Tu(h)an sangat pula membenci akan kesombongan, lalu apa pula yang patut disombongkan dihadapanNya. Eling lan waspodo (ingat dan selalu waspada) itu pepatah jawa yang mengajarkan kita untuk selalu ingat agar terus mawas diri&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480403</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Negeri Jiwa Manusia</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480404</link>
         <description><![CDATA[<div>Acap kali kebanyakan orang tua memiliki kekhawatiran-kekhawatiran tak ingin menuai hasil yang mengecewakan menghantarkan putra-putrinya memasuki jenjang remaja.&nbsp;<br>Manusia mana yang ingin dikecewakan? Sejatinya tak ada orang yang ingin menyiapkan konsekuensi untuk kecewa. Itu sebab&nbsp; orang tua tak cukup menghantarkan, melainkan menjadi teman bertumbuh, membersamai anak-anak tanpa ada batasan waktu selama masih mampu.&nbsp;<br><br>Memasuki remaja pastilah jiwa anak menghadapi pergumulan tersendiri. Bisa jadi bukan berarti anak itu ingin membantah apalagi membangkang aturan-aturan prinsip. Mereka ingin mencoba hal-hal beda akan rasa ingin tahu atas penasaran gejolak jiwanya.&nbsp;<br><br>Jiwa yang begitu kaya tak hanya tentang memenuhi kebutuhan spiritual, tapi juga memiliki hasrat-hasrat dan keinginan implusif. Negeri jiwa tak lain bagian penting yang tak terpisahkan dari keholistikan pribadi utuh yang menghidupkan (nyawa) manusia. Kekayaannya begitu kompleks nan indah dan berharga bak kebun yang begitu teratur (menentramkan).&nbsp;<br><br>Keteraturan yang tak sekonyong-konyong terbentuk. Metode dan proses panjang menghasilkan jiwa yang mampu dirasakan diri sendiri dan orang lain. Perjuangan yang layak menyandang pahlawan (terkhusus diri sendiri), sebab karakter baru telah nampak. Pikir, kata, dan perbuatan selaras menumbuhkan pribadi yang agung.&nbsp;<br><br>&nbsp;Kehidupan dengan prinsip keseimbang yang tak terelakan. Harapan untuk selalu jadi malaikat, tapi sering kali kita tertampar mendapati diri menjadi iblis. Inilah kecenderungan bawaan dimana manusia tak terlahir 100℅ baik atau 100℅ buruk. Segala kemungkinan bisa terjadi.&nbsp;<br><br>Sama seperti fisik yang kebutuhannya harus terpenuhi. Jiwa juga memiliki kebutuhan pengetahuan, pengalaman, atmosfer, ide-ide hidup, dan terus dilatih untuk mampu menyadari keseimbangan menuju keagungan.&nbsp; Sekali lagi, jiwa itu begitu kaya. Tak ada kemiskinan jiwa mana kala kebutuhan jiwa terpenuhi. Jika masih merasa kurang, maka teruslah cari ilmu pengetahuan untuk memenuhinya. Tuhan menciptakan semesta dengan begitu sempurnanya. Bacalah kitab-kitab suci, alam semesta bahkan fisik manusia terbentuk dengan begitu tersistem nan teratur.&nbsp;<br><br>Berdiskusi, menulis, narasi, dan refleksi adalah jalan menuju kesadaran pengendalian jiwa.&nbsp;<br>Hidup adalah pilihan. Memilih untuk memimpin jiwa sendiri menuju keagungan atau sebaliknya. Pimpinan yang selayaknya untuk didengarkan dalam pengambilan keputusan.&nbsp;<br><br>Jenuh, lelah bahkan jatuh mungkin tak bisa dipungkuri dalam meniti prosesnya. Tak apa, bangkitlah lagi. Mungkin butuh jeda untuk healing. Namun, sama halnya ketika fisik sakit, hidangan apapun mungkin terlihat menggoda tapi bisa jadi lidahmu tak mampu menikmati kelezatannya. Begitu pun dengan jiwa, seindah apapun piranti yang ingin kau jadikan pelepas penatmu, sejatinya kontrol itu tergantung pada rasa terpenuhi atau tidaknya kebutuhan jiwamu.&nbsp;<br><br>Dwie</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480404</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setan-setan Intelektualitas</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480405</link>
         <description><![CDATA[<div>Tentang Setan<br><br>Baru-baru ini aku sering membaca tulisan-tulisan yang seakan sering mengambinghitamkan si Setan. Tapi aku lebih bertanya, kenapa setan itu buruk, kenapa dinamai setan? Lalu apakah wujud setan ini? Apa tujuan setan diciptakan oleh Sang Pencipta?&nbsp;<br><br>Bahkan mungkin aku yang biasa suka bertanya-tanya rasanya ingin memburu segala jawaban yang menurutku tidak begitu adil untuk si Setan. Siapa juga yang mau ditakdirkan untuk menjalani kehidupan si Setan ini?&nbsp;<br><br>Tentu aku pasti juga malas dan enggan jika mendapat tawaran itu. Tapi sang pencipta pasti punya kehendak dan rencanyanya tersendiri. Bukankah Dia yang Maha&nbsp; kuasa.&nbsp;<br><br>Seperti saat di group diskusi diajukan untuk membuat narasi tulis walaupun hadir dengan sukarela tanpa ada paksaan. Tapi kalimat itu justru menurutku juga mengandung makna motivasi yang memaksa.&nbsp; Jelas aku yang tak suka nulis ini itu atau anu ini ogah melakukannya. Namun pada akhirnya detik ini pun aku menggerakkan jemariku dengan mengandalkan jempol kanan dan segenap unek-unek di kepalaku. Seperti ada dorongan coba aja dulu, kebiasaan malas menulis seakan sudah tercipta karena pembiasaan yang kupilih. &nbsp; Jalur yang sudah seperti rel yang biasa roda-roda lalui sehingga melaju mudah begitu saja. Tapi layaknya barang jika sering digunakan akan menemui titik aus. Disini aku butuh untuk perawatan, atau bahkan perlu pergantian rel yang baru.Tentang Setan<br><br>Baru-baru ini aku sering membaca tulisan-tulisan yang seakan sering mengambinghitamkan si Setan. Tapi aku lebih bertanya, kenapa setan itu buruk, kenapa dinamai setan? Lalu apakah wujud setan ini? Apa tujuan setan diciptakan oleh Sang Pencipta?&nbsp;<br><br>Bahkan mungkin aku yang biasa suka bertanya-tanya rasanya ingin memburu segala jawaban yang menurutku tidak begitu adil untuk si Setan. Siapa juga yang mau ditakdirkan untuk menjalani kehidupan si Setan ini?&nbsp;<br><br>Tentu aku pasti juga malas dan enggan jika mendapat tawaran itu. Tapi sang pencipta pasti punya kehendak dan rencanyanya tersendiri. Bukankah Dia yang Maha&nbsp; kuasa.&nbsp;<br><br>Seperti saat di group diskusi diajukan untuk membuat narasi tulis walaupun hadir dengan sukarela tanpa ada paksaan. Tapi kalimat itu justru menurutku juga mengandung makna motivasi yang memaksa.&nbsp; Jelas aku yang tak suka nulis ini itu atau anu ini ogah melakukannya. Namun pada akhirnya detik ini pun aku menggerakkan jemariku dengan mengandalkan jempol kanan dan segenap unek-unek di kepalaku. Seperti ada dorongan coba aja dulu, kebiasaan malas menulis seakan sudah tercipta karena pembiasaan yang kupilih. &nbsp; Jalur yang sudah seperti rel yang biasa roda-roda lalui sehingga melaju mudah begitu saja. Tapi layaknya barang jika sering digunakan akan menemui titik aus. Disini aku butuh untuk perawatan, atau bahkan perlu pergantian rel yang baru.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480405</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kepala Bidang Eksplorisasi, Imaginasi</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480406</link>
         <description><![CDATA[<div>Jangan Berlebihan, Begitupun Tentang Imaginasi...<br><br>Begitu banyak tentang peran si imajinasi yang tadinya seperti senjata pakem yang selalu dibutuhkan dan pastilah penting untuk menelusuri hampir setiap sisi bagian kemampuan mengenal diri sendiri. Khayalan yang mampu menelusup jauh ke tempat entah brantah yang mungkin tak terfikirkan orang lain, tapi diri sendiri begitu berkuasa atas semua hal yang diinginkan untuk diciptakan dalam dunia mimpi. Namun pepatah bilang bahwa mimpi sekedar bunga tidur rasanya kini aku mulai merasa terkulik dengan kalimat itu. Ada benarnya, apapun yang kita ciptakan dalam dunia mimpi, tak begitu saja terjadi cling abakadabra di dunia nyata. Sedang hidup yang sejatinya kita lalui adalah nikmat asli dalam&nbsp; dunia nyata. Cita-cita tanpa tindakan maka hanya menggantung dalam mimpi semu semata. Sodorandan asupan segala macam gagasan, ide-ide bermutu , dan bacaan yang dianggap nomer satu tentulah mengantarkan kita untuk seakan merasakan dan berada dalam dunia penuh imagi yang kita kembangkan sendiri. Tapi rupanya kenyataan hukum universal harus menyeret diri untuk sadar diri agar masih bisa memijak dalam keseimbangan. Benar, kau bisa begah, mual sampai muntah dan akhirnya tak enak badan jika memakan sesuatu klewat batas takaran yang seharusnya. Itu lah sejatinya ego. Ya ego yang memang selalu memihak untuk kesenangan sendiri, seakan tak mau peduli dengan segala yang di luar kendali diri. Mana ada orang yang ingin kalah, mana mungkin ada orang yang mau jadi kacung? Begitulah tabiat manusia yang identik senang ketika menang. Ingin berkuasa untuk jadi istimewa.&nbsp;<br>&nbsp;Hal yang sangat menggelitik adalah tentang bagaimana Ibu CM mengajak kita untuk melihat gambaran diri yang selalu bersanding dengan ego ini untuk sewaktu-waktu dijadikan candaan. Aku sudah sering menertawakan diri sendiri ketika dirundung masalah bertubi-tubi. Tapi justru sesekali menertawakan diri sendiri bisa jafi jurus jitu untuk memeluk diri.. Pukpuk peluk sayang diri yang sampai gini masih bernafas😌</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480406</guid>
      </item>
      <item>
         <title>10 Jan 2023 Lanjutan Panca Indera</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480407</link>
         <description><![CDATA[<div>Indera Peraba<br><br>Kulit sebagai indera peraba bisa memberitahukan kita perbedaan kasar-lembut, panas-dingin, keras-empuk dan seterusnya. Dengan memiliki indera ini, kita bisa terhindar dari panasnya api yang membakar, bisa membelai keluarga kita dengan lembut, dan bisa melahirkan alunan musik yang sedap didengar. Namun jika indera ini kebablasan menjadi tuan atas diri kita, bisa terjadi, baru merasa sakit sedikit,&nbsp; kita bersungut-sungut tanpa henti. Baru sedikit kepanasan, kita sudah tidak mood melakukan apapun. Maka penting bagi kita untuk tidak mengijinkan perasaan yang timbul dari indera yang 1 ini menjadi tuan atas diri kita.<br><br>Indera Penglihatan<br><br>Dengan mata, kita bisa melihat betapa cantiknya dunia ini. Sayang, meski kita bermata, kadang kita tidak betul-betul "melihat". Jika kita tidak bisa mendeskripsikan ruang keluarga di rumah dengan detil, atau tidak bisa menyebutkan nama pohon yg bertunas hijau dan nama burung dengan warna putih di ekornya, maka kita perlu belajar untuk sungguh-sungguh melihat.<br><br>Indera Pendengaran<br>Dengan telinga, kita bisa mendengar banyak hal. Namun jika tidak dilatih, indera yang satu ini bisa-bisa tertidur. Untuk melatihnya, saat di alam terbuka, mulainya mendengar suara gemericik air, suara angin mendesir, suara jangkrik yang khas, maupun suara bermacam-macam burung.&nbsp;<br><br>Dan saat mendengar musik, kita bisa melatih pendengaran kita dengan sungguh-sungguh mendengarkan saat beragam komposer menyampaikan pesannya, karena sesungguhnya satu komposer dengan komposer yang lain menyimpan pesan masing-masing yang unik dan sedap didengar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480407</guid>
      </item>
      <item>
         <title>6 Des 2022</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480408</link>
         <description><![CDATA[<div>Indera penciuman<br><br>Sama halnya dengan indera pengecap, indera penciuman juga memiliki tugas sebagai pelayan tubuh, yaitu untuk mencium aroma dan membedakan antara aroma yang baik dan yang tidak. Dengan kemampuan membedakan inilah, kita dapat terhindar dari bahaya. Contoh, dengan mampu membedakan aroma makanan yang masih baik dan yang sudah busuk, kita akan menghindar dari memakan makanan yang sudah busuk. Contoh lain, dengan mampu mencium aroma kebakaran, kita mampu menghindar dari bahaya kebakaran.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>29 Nov 2022</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480409</link>
         <description><![CDATA[<div>Indera Pengecap<br><br>Ajun komisaris tubuh yang satu ini juga memiliki tugasnya, yaitu agar kita bisa membedakan mana makanan yang sudah busuk dan mana yang masih baik, mana yang kelebihan garam dan mana yang pas. Namun apabila ajun yang satu ini sudah menjadi tuan atas diri kita, celakalah kita! Kita akan memilih-memilih makanan semata-mata dari segi rasa. Kita tidak lagi mengutamakan nutrisi dari makanan yang kita santap, melainkan rasa. Disinilah kerepotan dimulai. Agar indera pengecap tetap pada porsinya yaitu sebagai pelayan bukan sebagai tuan, ada baiknya kita tidak perlu membicarakan makanan mana yang menjadi favorit kita, atau jelly rasa apa yang paling kita sukai atau tidak kita sukai. Kemana pikiran kita berkonsentrasi, kesanalah pikiran bawah sadar kita pergi dan menetap.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480409</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bahaya Banjir, Pemberontakan, Kegelapan</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480410</link>
         <description><![CDATA[<div>Bahaya banjir<br><br>Kadang saat hujan tak henti, sungai meluap, banjirpun datang. Namun adakalanya hal ini membuat tanah yg sempat dibilasnya menjadi makin subur. Saya menganalogikan hal ini dengan permasalahan hidup yang nampak tak menyenangkan saat dihadapi, namun sesungguhnya membuat kita makin kuat setelahnya.<br><br>Bahaya pemberontakan<br><br>Saat terdapat pihak-pihak yang menolak melakukan tugasnya, disinilah kekacauan mulai terjadi. Saya melihat saat setiap kita melakukan tugas kita dengan baik, baik itu sebagai suami istri,anak, orangtua, pekerja,pejabat, pedagang, dan lain-lain, maka disinilah keharmonisan terjadi.<br><br>Bahaya kegelapan<br><br>Saat matahari nampaknya bersembunyi untuk sementara waktu, kadang beberapa penduduk berpikir matahari memang tak pernah ada. Dan saat mereka tak menyadari keberadaan matahari, merekapun tak mampu melihat satu sama lain. Disilah kegelapan menguasai mereka. Mungkin hal ini menggambarkan mereka yang gelap mata, mereka yang memfokuskan diri pada hal-hal yang negatif ketimbang hal-hal yang positif.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480410</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setan-Setan Intelektualitas</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480411</link>
         <description><![CDATA[<div><br>7 Maret 2023<br><br>Intelektualitas juga punya setan-setannya, antara lain:&nbsp;<br>1. Kemalasan. Padahal, sesungguhnya jika kita punya keinginan melakukan sesuatu dengan intelektualitas kita, dan kita mulai saja melakukannya, maka kesananya jalan kita akan makin mudah dan makin mudah lagi.<br>2. Kebiasaan/ "sebatas rutinitas". Saat proses intelektualitas yg kita jalani telah menjadi kebiasaan,ini berpotensi menjadi "sebatas rutinitas", namun tak lagi ada kreativitas tak lagi ada pengembangan diri, tak ada lagi perenungan atas tujuan yg hendak dicapai. Itu yg kita harus hati2.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480411</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lanjutan Setan-Setan Intelektualitas</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480412</link>
         <description><![CDATA[<div><br>14 Maret 2023<br><br>Kita perlu mempelajari banyak hal, mulai dari seni, literatur, alam, manusia, juga pelajari masa lalu dan masa kini. Dengan mengetahui banyak hal dan banyak aspek, maka kesemua ini akan mendukung spesialisasi yang kita pilih. Artinya, ini baik bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang banyak bagi siapa kita berkontribusi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480412</guid>
      </item>
      <item>
         <title>21 Maret 2023</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480413</link>
         <description><![CDATA[<div>Imajinasi<br><br>Setelah berbicara tentang intelektualitas, kali ini kita bicara mengenai kemampuan pikiran bereksplorasi. Eksplorasi disini berarti berimajinasi. Imajinasi sangat erat kaitannya dengan intelektualitas. Semakin sering seseorang membaca, semakin baik kemampuannya dalam berimajinasi. Imajinasi disini artinya menciptakan gambar-gambar di dalam pikiran. Karya-karya seni yang luar biasa merupakan hasil dari kemampuan berimajinasi yang luar biasa dari para seniman.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480413</guid>
      </item>
      <item>
         <title>28 Maret 2023</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480414</link>
         <description><![CDATA[<div>Imajinasi Jangan Membuat Gambaran Diri<br><br>Saat kita gunakan imajinasi untuk menciptakan gambar-gambar diri, hati-hati, salah-salah nanti malah menyentuh ego dan membuat diri ini menjadi orang yamg menyebalkan. Ketimbang membuat gambar-gambar mengenai diri, buatlah gambar-gambar mengenai hal-hal di luar diri, di luar ego, karna sesungguhnya begitu banyak keindahan di luar sana, begitu banyak hal menarik untuk kita pikirkan! Saat membuat gambar memgenai ego, maka yang ada di bayangan kita: "Ibu pilih kasih! Ibu tidak sayang aku!", atau "Keluar rumah itu melelahkan dan merepotkan!" , dst.<br><br>Maka salah satu setan dari imajinasi adalah ego.<br><br>Juga saat kita sudah keenakan bermimpi tanpa mau melakukan apa-apa terkait mimpi kita itu, hal ini juga adalah musuh dari imajinasi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480414</guid>
      </item>
      <item>
         <title>4 April 2023</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480415</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Kecemaran<br><br>Hati-hati saat membaca atau menonton berita atau hal yang negatif.&nbsp; Saat terus-menerus mengkonsumsi hal-hal semacam itu, imajinasi kita akan membentuk gambar-gambar hidup. Saat gambar-gambar itu sudah terbentuk, pikiran kita akan dikuasainya. Saat pikiran dikuasai hal-hal negatif itu, kemungkinan kita melakukan hal-hal negatif terkait hal itupun semakin besar.<br><br>Bagaimana jika imajinasi sudah terlanjur membentuk gambar hidup mengenai hal yg negatif? Kita alihkan pikiran kita ke hal-hal yg lain.Semakin banyak hal lain yg positif kemana kita bisa mengalihkan pikiran kita, semakin kecil pengaruh dari gambar-gambar hidup yg negatif tadi dalam mendominasi hidup kita.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480415</guid>
      </item>
      <item>
         <title>16 Mei 2023</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480416</link>
         <description><![CDATA[<div>Estetika<br><br>Estetika yang diberhalakan juga berdampak tidak baik. Dengan memberhalakan estetika, orang menyangka bahwa kebahagiaan menikmati estetika adalah satu-satunya kebahagiaan. Padahal kita juga bisa mendapat kebahagiaan melalui keberadaan minat yang luas, pelayanan maupun upaya yang kita kerahkan. Kenikmatan justru merupakan level kebahagiaan yang paling rendah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480416</guid>
      </item>
      <item>
         <title>22 Mei 2023 Intelektual</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480417</link>
         <description><![CDATA[<div>Nalar atau intelektual adalah salah satu kekuatan yang Tuhan berikan. Dengan intelektual, kita dapat beroikir dengan logis dan mampu menyelesaikan banyak masalah.<br><br>Namun hati-hati, saat intelektual berubah fungsi dari sebagai pelayan menjadi tuan, nalar dapat menjadi&nbsp; pembenar bahkan atas hal-hal yang seharusnya tidaklah benar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480417</guid>
      </item>
      <item>
         <title>30 Mei 2023</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480418</link>
         <description><![CDATA[<div>Nalar<br><br>Saat mendapat pengetahuan baru, nalar mulai bekerja untuk mengunyah pengetahuan itu. Jika menurut nalar, hal itu masuk akal, maka biasanya kita akan bersedia mengaplikasikan pengetahuan tersebut. Namun kadangkala seseorang akan menguji lebih dalam kebenaran pengetahuan tersebut. Jika melalui penggalian oleh nalarnya, hal itu terbukti kurang tepat, maka ia akan menyempurnakan pengetahuan itu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480418</guid>
      </item>
      <item>
         <title> 6 Juni 2023 Nalar Tidak Sempurna                                      Dua orang bijak dengan kemampuan nalar yang sama cerdas bisa memiliki pendapat yang saling berlawanan.Sesungguhnya nalar merupakan pelayan. Artinya nalar akan mendukung gagasan apapun yg ingin dipertahankan seseorang. Itu sebabnya dalam memutuskan sesuatu, kita tidak bisa hanya mengandalkan nalar.</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480419</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480419</guid>
      </item>
      <item>
         <title>12 Juni</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480420</link>
         <description><![CDATA[<div>Nalar Matematika<br><br>Luar biasanya Matematika, disini kita belajar bahwa ada kebenaran yang mutlak sifatnya. Kebenaran inilah yang tidak bisa dibantah. Disini kemampuan bernalar kita sungguh-sungguh dilatih. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:27:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2636480420</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jaksa Agung, Nalar 1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2641067049</link>
         <description><![CDATA[<div>Nalar Seorang Advokat..&nbsp;<br>Baru membaca kata nalar aku sudah mengembara, apakah aku juga menggunakan nalar untuk menelusuri nalar. Nalar yang sangat dikaitkan dengan intelek, aku fikir akan bisa banyak menerka-nerka, entah bagaimana ketika aku sedang berdiskusi atau ingin bernarasi. Nalar akan memaksaku membawaku untuk berfikir, aku harus menyampaikan apa nanti saat bernarasi? Lalu bagaimana nanti setelah aku menyampaikan pendapat ada yang bertanya? Sudah siap dan adakah ideku untuk menjawabnya? Tentu aku berharap bisa memberikan sumbangsih masukan pemikiran untuk menjamah pemikiran empunya yang bertanya. Jika melihat kenyataan sebuah sidang, tak ada yang tak ingin memenangkan sebuah perkara. Yang jelas kamu harus siap menjelaskan dan siap akan pembelaan dengan bukti-bukti dan saksi. Begitulah, apapun hasilnya aku berharap semua itu selalu didasari dengan prinsip kebenaran.&nbsp;<br><br>Cara Kita Bernalar.&nbsp;<br>Mungkin saja kamu pernah mengalami kebetulan atau keberuntungan saat mampu menjawab sebuah pertanyaan sulit yang mungkin tak kamu duga secara spontan. Atau mampu menyusun rencara dengan waktu berfikir yang singkat dengan mengamati segala kondisi dan kemungkinan yang bisa terjadi.&nbsp;<br>Saat kamu awal mula ingin belajar naik sepeda dengan keinginanmu sendiri. Bermula drai rasa penasaran dan memang ingin bisa mengendarainya, maka si nalar akan menuntunmu bagaimana kamu bisa memulainya untuk mencoba walau nanti sudah pasti kamu tak akan langsung mahir, ketika terjatuh nalar berkata "bangunlah sekarang kamu harus lebih fokus, cobalah lagi dan lagi". Seakan nalar pasti bisa memberi solusi. Ah mungkin kau juga akan berfikir bagaimana saat engkau berbohong? Bagaimana nalarmu bisa bekerja untuk memilih menutupi kebohongan atau ingin menyelesaikan dengan bijak atas dasar apa kamu berbohong, atau aku ingin memgakui dan memperbaiki atas kebohongan itu.&nbsp;<br><br>Nalar Orang Baik..&nbsp;<br>Aku langsung bagaimana masa kini dunia seakan sudah mulai krisis empati. Orang ingin sekali menjadi bijaksana tapi untuk mewujudkannya itu buka hal yang mudah. Lihatlah sang hakim posisis yang selalu disandingkan dengan kebijaksanaan, akan ada berbagai macam sudut pandang dari segala bukti dan saksi untuk memutuskan perkara. Mungkin secara pribadi bisa jadi ia pun tak ingin menghukum sesorang tapi atas nama kepentingan bersama begitulah tugas yang harus diembannya.&nbsp;<br><br>Peran Nalar dalam Pekerjaan-pekerjaan Baik dan Penemuan-penemuan Hebat..&nbsp;<br>Bermula dari naluriah pribadi manusia yang sejatinya sudah memiliki simpati dan selalu penasaran. Sang nalar akan menuntuntu untuk membantu. Tak berhenti di situ, saat kamu menemukan ide untuk menyelesaikan masalah, bisa jadi kamu akan jadi penemu hebat dalam perkara tertentu. Bisa dibayangkan bagaimana awal mula ketika orang di zaman dahulu kala menemukan api, api yang awalnya ia jadikan solusi untuk menghangatkan diri dan memenuhi kebutuhan yang lain, tak nyana itu menginspirasi sekelilingmu dan mulai dikembangkan oleh orang-orang setelahmu karena itu memang hal yang berguna.&nbsp;<br><br>9 Juli 2023....<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-09 11:47:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2641067049</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jaksa Agung, Nalar 2</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2641078446</link>
         <description><![CDATA[<div>Apa yang Dimaksud dengan Akal Sehat?..&nbsp;<br>Alasan adalah dasar mengapa kamu ingin melakukan sesuatu. Tapi akal sehat akan selalu menangkap hal-hal yang memang secara kesepakatan itu sudah seharusnya. Namun begitu pula dengan sebuah perkembangan dan pertumbuhan akan selalu ada observasi yang akan mengajak nalar kita tuk berfikir apakah ini memnag sudah benar atau mungkin perlu sedikit perubahan atau bahkan harus ada perubahan besar. Kesepakatan pula yang menjadi gong akhir bahwa bisa jadi itu benar atau mungkin tidak diperlukan. Lalu jika lawan sehat adalah sakit. Bagamanadengan orang-orang yang seakan tak mau menggerakkan nalarnya?&nbsp;<br><br>Semua yang Kita Gunakan telah Difikirkan oleh Seseorang...&nbsp;<br>Aku teringat jelas saat duduk di bangku kelas 2 SD, aku bertanya kepada guruku, siapa yang menamai semua benda, siapa yang awal mula memberi tahu bahwa itu namanya tembok atau dinding? Tapi rasa penasaranku dijawab ketus oleh guruku, entah karena dia bingung harus menjawab untuk menjelaskan kepadaku yang masih piyik atau memnag kala itu beliau sedang lelah. Dia bilanga bahwa aku terlalu banyak tanya dengan raut yang aku artikan tidak suka dengan pertanyaanku. Bahkanaku tidak boleh mempertanyakan yang aneh-aneh. Aku menjadi merasa beralah sendiri saat itu, tapi tak kupingkiri, apa pertanyaanku salah? Tapi memang aku ingin tahu saat itu. Apaiya Tuhan awal mulanya memeberi tahu langsung kepada manusia yang memang empunya makhluk yang memiliki nalar? Bacaan ini sedikit menyadarkanku aku harus menerima memang bisa jadi ada yang pertama menamainya. Bahkan aku berfikir kenpaa setiap bahasa setiap daerah bisa berbeda-beda. Bukankah dulu ada yang memulai dan menyetujui bersama ketika itu ditetapkan untuk digunakan setelahnya. Aku rasa itu juga tidak sekonyong-konyong mudah begitu saja, bisa jadi ada yang tidak langsung setuju bukan?..&nbsp;<br><br>Orang-orang yang Baik dan Bijaksana sampai pada Kesimpulan yang Berlawanan...&nbsp;<br>&nbsp;Begitulah segala kontroversi akan selalu ada. Sudah pasti orang akan berusaha menjelaskan sedemikian rupa untul meyakinkan lawan bicaranya bahwa penalarannya adalah benar. Tapi meskipun lawanmu akhirnya tidak sependapat maka responmu akan itu pun menjadi tilik balik untuk kamu refleksikan sendiri. Berkaca pada diri sendiri, haruskah aku marah jika mereka tak sama denganmu? Apa alasan kamu marah itu masuk akal? Atau mungkin kamu harus mulai belajar untuk slaing menghargai, menghormati sebgaai wujud tolerensi. Aku ingat akan bacaan kitab suci yang mengajarkan kita untuk meningkalkan perdebatan dengan cara yang baik. Menurutku begitu adanya sebuah kehidupan selalu ada prinsip keseimbangan dan pergiliran di dlaamnya dimana malam tak selamanya malam begitu pun dengan siang. Namun semua dalam naungan kebenaran bagaimana kerja alam semesta sesuai dengan aturan yang Maha Pencipta.&nbsp;<br><br>Nalar tidak Sempurna...&nbsp;<br>Aku menilik bahwa segala sesuatu bisa jadi gagasan yang telah tertuang atas dasar kepentingan pihak-pihak tertentu. Pun dengan kerja nalar ini yang bergerak dengan intelek kita untuk menarik kesimpulan dari sebuah ide dan gagasan. Namun ketika manusia dari lahir sudah menjadi pribadi utuh. Tak mungkin kalian semua memiliki kepentingan yang sama. Secara prinsip kebenaran yang penuh dengan konsekuensi. Lihatlah bagaimana hutan digundulkan untuk jadi pemukiman atau jalan besar. Sebagian tentu akan setuju dengan segala kepentingannya tapi bagi yang menyadari konsekuensi itu juga awal dari bencana.&nbsp;<br><br>9 Juli 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-09 12:23:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2641078446</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jaksa Agung, Nalar 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2641083877</link>
         <description><![CDATA[<div>Anarkis,,,&nbsp;<br>Nalar yang tidak sempurna bisa jadi mengiring kita pada tindak kejahatan yang berpegang pada pembenaran perilaku. Memang bisa jadi cukup tak adil dengan segala aturan yang pemerintah buat untuk menyentuh segala kepentingan dari berbagai kalangan. Mungkin dengan merasa sudah melakukan segala upaya tindakan anarkis merupakan pilihan terakhir untuk dibenarkan. Tapi apakah ini akan benar-benar menyelsaikan masalah? Atau justru hanya menambah masalah baru?&nbsp;<br><br>Nalar dalam Matematika...&nbsp;<br>Sebagian orang menginginkan hal-hal yang pasti-pasti saja. Entah itu dalam urusan karir atau sebuah upaya yang diharapkan minim resiko. Itulah hebatnya matemaika, jika kita menggunakan kacamata matemitika sejatinya segala sesuatu mengajarkan kita untuk bijaksana dalam menimbang, mengukur, menentukan titik, sudut dan hal-hal pasti itu menuntun kita pada cara kerja keseimbangan. Aku memahami itu adalah sebuah kebenaran mutlak yang menjadi aturan bagaimana sistem tata surya bekerja.&nbsp;<br><br>Nalar harus dipergunakan untuk Tujuan Baik...&nbsp;<br>&nbsp;Hidup adalah sebuah pilihan. Nalar yang sebagai pelayan yang membantu menemukan cara untuk mencapai tujuan. Menjadi pilihan dari diri kita sendiri apakah kita akan memilih nalar kita untuk tujuan luhur atau bejat. Aku percaya akan kuasa Tuhan yang menciptakan semua makhluknya dengan tujuan tertentu termasuk manusia adalah untuk melakukan pengabdian kepadanya dengan cara yang arif dan bijaksana. Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bisa bermanfaat dalam pengabdiannya untuk sekitarnya.&nbsp;<br><br>9 Juli 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-09 12:40:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2641083877</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ketenaran dan terkenal karena keburukan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2650124320</link>
         <description><![CDATA[<div>Mendengar judulnya pikiranku langsung mengembara pada orang -orang terkenal entah itu artis,influencer,selebgram ataupun youtuber.Selayaknya orang dikenal karena karya dan dedikasinya dibidang apapun.Namun menjadi terkenal saat ini bukan hanya dari hal-hal positif tapi banyak cara dari sesuatu yg negatif.Asal viral banyak mendapat perhatian publik orang akan terkenal.Begitu banyak dikenal maka pundi-pundi rupiah mengalir,inilah efek menggiurkan tang membuat orang seolah tak peduli akan stigma negatif yang melekat pada dirinya ,menghinakan diri sendiri ,memperburuk citra diripun tak apa asal mendapat pengakuan dan eksistensi dari masyarakat materipun didapat.Orang berlomba-lomba tenar dengan cara apapun .</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-24 08:21:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2650124320</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Unggul</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2657147441</link>
         <description><![CDATA[<div>Now I am become Death, the destroyer of worlds.&nbsp;<br><br></div><div>-&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; J. Robert Oppenheimer, father of the atomic bomb, after witnessing the first test –</div><div>&nbsp;<br><br></div><div>Kata – kata tersebut masih melekat di benak saya hingga sekarang. Awalnya saya pikir dari scenario filmnya, tapi ternyata kata – kata tersebut sebenar – benarnya dikatakan oleh Oppenheimer kala menyaksikan dahsyatnya ledakan uji coba bom atom untuk pertama kalinya.&nbsp;<br><br></div><div>Unggul! Menjadi unggul, paling unggul, terunggul, merupakan kata yang apabila tidak diarahkan dengan hati – hati akan menjadi tuan bagi kehendak yang berbahaya. Ingin menjadi lebih unggul ini pulalah awal mula mengapa bom atom diciptakan, untuk mengungguli Rusia, untuk menunjukkan kekuatan pada Jepang yang sudah kalah.&nbsp;<br><br></div><div>Merasa unggulpun akan menarik kita untuk cenderung mempetunjukkan keunggulan kepada siapapun yang memungkinkan. Dalam konteks film tersebut, menunjukkan kepada dunia dan musuh – musuh Amerika masa itu. Dari tingkatan antar negara merambah ke tingkatan antar scientist, sang Oppenheimer merupakan scientist fisika kuantum unggulan, kembali ke negaranya untuk membuktikan bahwa fisika kuantum, bidang yang masa itu tidak banyak peminatnya adalah unggulan. Pembuktian keunggulan ini yang menyeretnya lebih jauh hingga menerima pinangan untuk memimpin Los Alamos, kota yang dibuat khusus untuk tempat para peneliti menciptakan bom atom.&nbsp;<br><br></div><div>Satu yang juga layak kita renungkan bersama, atas nama keunggulan pula, para ilmuwan ini saling bersaing, saling menjatuhkan, dan menafikkan kemanusiaan.&nbsp;<br><br></div><div>Padahal, banyak kesempatan sang Oppenheimer untuk mengambil jeda dari obsesi dan tugasnya, ketika berdialog dengan Einsten tentang niat dan tugasnya tersebut, dengan dalih Amerika harus membuat bomnya terlebih dahulu jika tidak nanti akan di dahului oleh Rusia, Albert Einsten menjawab sambil tersenyum: “ mungkin, yang perlu kita lakukan hanyalah memberi tahu Rusia bahwa kita tidak akan membuatnya, sehingga merekapun tidak akan membuatnya”, atau penolakan Niels Bohr untuk bergabung dalam project tersebut.&nbsp;<br><br></div><div>Para ilmuwan gaek tersebut telah menapaki jalanan berliku dari ilmu pengetahuan dan konsekuensinya terhadap kemanusiaan, bahwa ilmu pengetahuan, keunggulan, sejatinya menyokong kehidupan, sejatinya mendukung kemanusiaan, bukan sebaliknya. Ada beban berat dalam keunggulan tersebut, beban moral untuk mengabdikannya kepada kemanusiaan. Jika dikhianati, seperti sang Oppenheimer yang meninggal dalam penyesalan yang tak pernah usai.&nbsp;<br><br>Jakarta, 7 Agustus 2023<br>Nelly</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-07 08:59:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2657147441</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keinginan untuk Unggul</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2658917262</link>
         <description><![CDATA[<div>Siapa sejatinya yang tak menginginkan hasrat saty ini. Hampir setiap pribadi secara alamiah ingin lebih daripada yang lain, entah itu dalam prestasi, hal-hal yang dianggap positif atau bahkan adakalanya kita bisa temui ada pribadi bahkan bangga jikalau dirinya dianggap unggul meski itu dalam keburukan.&nbsp;<br><br>Aku terpintas bagaimana dulu saat masih duduk di bangku SMP, ketika ujian semester tiba, teman-temanku yang tadinya kami akrab bisa pagi-pagi sebelum waktu ujian dimulai sudah pasang muka ketus tak ingin bercengkrama. Dan bahkan salah satu mengaku bahwa saat ujian kalian adalah pesaingku yang harus kukalahkan. Secara naluriah tentu aku pun tak ingin kalah, kami berusaha sebisa mungkin mendapat nilai tertinggi, dan mengabaikan pertemanan. Ada rasa kesenangan tersendiri kita kami berhasil dan kekecewaan akan menelusup saat aku aku tak berhasil apalagi jauh dari yang terbaik.&nbsp;<br>&nbsp;Hachhh, untuk mencapai sebuah prestasi bahkan di dalamnya tersimpan banyak kesemrawutan. Berdampak pada diri sendiri juga orang sekitar. Kufikir hal-hal semacam ini yang harus disiapkan mental untuk menatap luas atas reaksi mindset kita.&nbsp;<br><br>Hadiah dan Peringkat,,,,,,&nbsp;<br>&nbsp;Iming-iming yang hampir semuanya tak ada yang menolak. Sudah merasa berusaha keras, maka merasa layak untuk mendapatkan dan meraihnya.&nbsp;<br><br>Bagiku sekilas itu pun wajar sebagai bentuk apresiasi. Namun bagaimana jika kamu tidak berhasil?&nbsp;<br><br>Inilah pentingnya menanamkan sikap sportif dalam kontrol diri. Tak apa jika mungkin ada rasa tidak puas atau kecewa. Tapi sejatinya yang ingin kita apresiasi adalah sejauh mana proses kita telah berusaha, perfect execution. Bahkan upaya ini harus dibarengi dengan kujujuran. Sebab, entah karna sekedar hasrat atau memang penuh dengan tekanan, seseorang bisa saja menapaki segala cara untuk meraih kemenangannya meski penuh kecurangan.&nbsp;<br><br>10 Agustus 2023<br>Dwie<br>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-09 18:49:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2658917262</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasrat  Ingin Berkuasa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2692157711</link>
         <description><![CDATA[<div>Secara alamiah rasanya setiap manusia memiliki keinginan untuk berkuasa.Terasa ada kepuasaan tersendiri saat kita mampu memimpin orang lain.Namun menjadi pemimpin bukanlah sekedar orang lain taat akan perintahmu,menjadi pemimpin berati melayani dengan segenap dedikasi yang dimiliki untuk kemaslahatan umatnya.Saat siap menjadi pemimpin berati siap memberikan waktu,tenaga dan pikiran .Jika hari ini&nbsp; banyak pemimpin yang justru menyengsarakan rakyatnya berarti dalam dirinya tidak ada jiwa kepemimpinan,yang ada hanyalah keinginan berkuasa dan menyenangkan diri sendiri .Mengingatkanku akan pepatah bahwa bngsa ini tidak butuh Politikus akan tetapi Negarawanlah yang dibutuhkan,yaitu orang -orang berilmu yang betul-betul tau dan mau mengabdi kepada masyarakat ,negara,bangsa dan dunia sebahai pengejawantahan pengabdannya kepada Sang Khalik.<br><br>Sama seperti hasrat lainnya ,hasrat menjadi pemimpin selayaknya ditempatkan pada porsi yang tepat,berikanlah kesempatan untuk orang lain untuk memimpin.Regenerasi kepemimpinan adalah  keniscayaan dalam berkomunitas,berorganisasi maupun dalam tangkup kenegaraan.Bahwa biarkanlah  pohon yang tua dan lapuk akan mati pada saatnya tidak perlu dipaksa untuk mati,sejatinya tunas-tunas yang baru akan siap menggantikannya di saat yang tepat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-09-10 13:26:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2692157711</guid>
      </item>
      <item>
         <title>23 Okt 2023</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2758674919</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Hasrat Pengetahuan<br><br>Hasrat ingin tahu ada 2 macam: ingin tahu akan hal-hal yang layak diketahui; dan hal-hal yang tidak layak.<br><br>Jika punya hasrat mengetahui hal2 terkait sejarah, sains, alam, sastra, seni, makanan pikiran dan budi kita akan mendapat nutrisi. Jika kita hanya ingin tahu hal-hal "remeh" seperti kehidupan selebriti, gosip tetangga dll, maka pikiran kita tidak akan mendapat nutrisi dan kita tidak akan mencapai karakter yg luhur dari pengetahuan akan hal2 tsb.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-23 07:42:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2758674919</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bab 8 Pejabat Pendapatan Negara : Keinginan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2784201185</link>
         <description><![CDATA[<p>Kekuatan Pikiran dan Mengatur Pikiran (KA Argo Muria, 10 November 2023)</p><p><br></p><p>Semua orang termasuk anak kecil memiliki kekuatan pikiran, senang belajar dan bisa mencapai tujuannya dengan kekuatan pikirannya tersebut.</p><p>Saat orang memiliki keinginan maka dia akan berupaya salah satunya dengan belajar dan mendapat pengetahuan sesuai dengan tujuannya.</p><p>Hal ini tidak berlaku pada orang yang idiot yang memang memiliki keterbatasan intelektual .Jadi dalam bagian ini ingin ditegaskan bahwa asal kita mau maka kita mampu berupaya mencapai apa yang diinginkan dengan kekuatan pikiran yang sudah Tuhan anugerahkan.</p><p>Manusia juga diberi kemampuan men untuk mengatur pikirannya, menentukan kapan suatu pengetahuan bisa digunakan untuk membantu hidupnya, diibaratkan mengatur sebuah istana tidaklah lebih rumit dibanding mengatur rumah sederhana,  walau tampak lebih rumit dan banyak tapi saat kita mampu mengatur dan menentukan kapan suatu ilmu bisa digunakan kapan tidak itu sudah separuh jalan dari keberhasilan.</p><p>Sehingga artinya tidak ada istilah pengetahuan yang terlalu banyak yang tidak mampu kita tampung, atau malah menjadi beban, manusia ternyata diberi anugerah untuk bisa menampung sebanyak apapun ilmu yang dia inginkan dan diberkati kemampuan untuk mengatur serta menentukan ilmu mana yang akan dipakai dalam menjadi solusi setiap masalah kehidupannya.</p><p>Kalau menurutku pribadi akan menjadi penting manusia punya prioritas dan tahu benar apa yang menjadi tujuan hidupnya sehingga bisa memilah dari sekian banyak pengetahuan yang disediakan semesta maka yang terpenting untuk dipelajari terlebih dahulu.</p><p><br></p><p>In frame : buku yang sedang aku baca di tengah carut marut konflik dan aneka pemberitaan yang sangat sulit dikenali mana yang nyata atau sekedar hoax dan propaganda yang malah membuat masalah semakin keruh dan jauh dari perdamaian.</p><p>Agar bisa memandang lebih jernih dan tidak berat sebelah serta bisa berdiskusi dengan baik bersama anak-anak maka kupilih membaca buku ini.</p><p>Manusia selalu punya cara untuk mendapatkan pengetahuan sesuai dengan kebutuhannya. Sejatinya pengetahuan itu membuat manusia semakin bijak bukan malah membuat jadi beban, bingung atau pusing.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2212735004/ef8d655878d8d26a7229d90bafe82797/IMG20231110083659.jpg" />
         <pubDate>2023-11-10 01:40:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2784201185</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Part 3 - Rumah Hati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2811209886</link>
         <description><![CDATA[<p>Cinta, Cinta Diri dan Perselingkuhan </p><p><br/></p><p>Setiap jiwa yang hadir ke dunia tidak hanya dibekali dengan pikiran dan akal Budi tapi juga dengan hati/perasaan.</p><p>Tugasnya tentu untuk memberi kebahagiaan pada si pemilik hati.</p><p>Salah satu isi dari hati atau perasaan adalah "cinta".</p><p>Cinta diperlengkapi lagi dengan segala komponennya seperti simpati, niat baik, empati, kesadaran, magnanimity, keberanian, rasa syukur, rendah hati dan keceriaan.</p><p>Layaknya batu yang dilempar ke tengah kolam dan membentuk lingkaran-lingkaran di permukaan air demikian juga cinta dimulai dari diri sendiri dari keluarga baru nanti akan tersebar ke sekitar, artinya cinta diperkenalkan oleh keluarga terdekat seperti orang tua, saudara ,dari rumah, anak yang dibesarkan dalam rumah yang penuh cinta dan kasih sayang diharapkan saat semakin besar juga akan bisa mengalirkan atau menyebarkan cinta itu pada sekitar karena tangki cintanya penuh.</p><p>Perwujudan cinta bisa kita lihat dari contoh ibu yang mengasihi anaknya, tentara yang menolong temannya yang terluka saat di medan perang atau perawat yang mencurahkan tenaganya untuk merawat orang sakit.</p><p>Untuk bisa mencintai orang lain tentu kita harus mencintai diri sendiri dengan merawat diri secara fisik maupun mental, menjauhi kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan fisik dan menjauhi hubungan tidak sehat yang merugikan kesehatan mental, tapi jangan lantas kebablasan cinta dirinya menjadi sebuah keegoisan yang meminta orang yang kita cintai atau mencintai kita untuk menuruti segala yang kita mau dan merasa tidak dicintai saat tidak dituruti, cinta yang menuntut dan mengekang kebebasan pasangan atau orang yang kita cinta.</p><p>Sering kita temui perwujudan cinta macam ini, atas nama cinta orang tua memaksa anak untuk mengambil jurusan tertentu, menikah dengan orang pilihannya, dan segala bentuk pemaksaan lainnya yang dilabeli karena "cinta" dan tahu yang terbaik untuk anak. Contoh lain suami/istri yang mengekang pasangannya untuk tidak bekerja atau tidak boleh sekolah tinggi-tinggi,tidak boleh bergaul, memukul karena cemburu pada pasangan, semua dilakukan atas nama cinta dan melindungi. Pada bagian ini Miss Mason hendak mengirim pesan pada anak muda (target pembacanya) untuk tidak terjebak dalam keegoisan dalam cinta atau tidak terjebak dalam hubungan cinta yang tidak sehat seperti itu.</p><p>Bagian selanjutnya Miss Mason juga membahas soal perselingkuhan, bahkan anak remaja pun harus belajar waspada terhadap hubungan cinta berbumbu perselingkuhan begini, beliau mengatakan bahwa orang yang selingkuh sejatinya tidak paham apa itu cinta, hanya bertindak atas dasar nafsu belaka sehingga tidak bisa mengenali tanda cinta yang sesungguhnya, hanya nafsunya saja yang terus diikuti sehingga kemudian tega menyakiti hati orang lain, orang yang mungkin tulus mencintainya. Orang seperti ini kemungkinan akan terus mengulangi perbuatannya itu karena memang dia merasa mencari cinta tapi tak kunjung menemukannya karena tidak paham cinta itu seperti apa, hatinya terus merasa kosong sehingga terus berusaha mencari yang baru.</p><p>Semoga kita dan anak-anak dijauhkan dari hal seperti ini, tapi kalaupun bertemu bisa berani tegas berkata tidak dan menjauh pergi.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2237977588/4d615feecb7f2006d7ae1e50b3972720/Screenshot_2023_12_02_17_06_48_52_680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7.jpg" />
         <pubDate>2023-12-02 10:27:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2811209886</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ekspresi Cinta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2821660122</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Cinta, kata Rasul Yohanes mengandung pelayanan, bukan bualan kata-kata semata. Anak tengahku barangkali memahami benar perkataan Rasul Yohanes itu. Meski ia belum kukenalkan pada sang Rasul. Kata anak tengahku, </p><p><br/></p><p>"Kalau Mama sayang sama aku kenapa Mama mukul dan suka marah-marah?" </p><p><br/></p><p>Jiwa yang masih murni itu tahu bagaimana ekspresi cinta sesungguhnya. Jauh dari amarah. Dekat kepada kasih sayang dan pelayanan.</p><p><br/></p><p>Lebih lanjut, kata Ibu CM ekspresi cinta anak terhadap orangtuanya adalah sebuah kepatuhan. Orangtua kepada anaknya adalah teguran. Aku bertanya-tanya apa penghubung kepatuhan dan teguran. Bukankah kepatuhan menjauhkan keinginan sesaat? Patuh sama dengan mempersembahkan energi. Dan bagi naluri hewani manusia, tentu itu sulit sekali. Butuh pelatihan berulang-ulang.</p><p><br/></p><p>Cinta orangtua-anak mestilah cinta yang aktif. It takes two tango. Bagaimana bisa anak menghadiahkan kepatuhan kepada orangtua yang tidak meneladankan? Agama menasehati, tidak ada kepatuhan bagi orangtua yang mendorong anak melakukan kemaksiatan pada Allah dan RasulNya. Orangtua mengupayakan lingkungan terbaik demi mengenalkan kesejatian cinta. Sehingga mereka akan menggunakan kalimat lemah lembut yang tidak menciderai ego anak. Riak wajah ceria dan memaafkan perilaku keliru anaknya dengan energi cinta yang mendalam. Di sinilah letak cinta sejati. Cinta aktif yang melandaskan pada kebenaran.</p><p><br/></p><p>Memang menanggapi dengan tepat perilaku keliru siapapun, termasuk kesalahan diri, bukanlah perkara mudah. Namun, Ibu CM mendorong kita untuk mengalami persembahan ruhani itu sebagai bentuk pelayanan kepada Sang Mahacinta. Bahwa sang Mahacinta telah menganugerahkan cinta kepada setiap jiwa. Meskipun yang nampak di permukaan adalah perilaku keliru, cinta jualah sang penggerak utama. Teringat puisi Jalaluddin Rumi,</p><p><br/></p><p>"Wahai Tuhanku, jika kasihMu hanya layak bagi yang berhati suci, lalu kemanakah para pendosa mencari perlindungan diri?"</p><p><br/></p><p>Puisi di atas mendorong semua jiwa untuk mengakses kesejatian cinta dari sang Mahacinta.</p><p><br/></p><p>12 Desember 2023.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-11 23:00:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2821660122</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cinta Itu Adalah Memberi (130124)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2847608555</link>
         <description><![CDATA[<p>Bahasan di Vol. 4 saat ini terkait tentang cinta. Cinta menurut ibu CM haruslah cinta dengan kategori sejati karena cinta selain itu akan digolongkan ke dalam cinta yang palsu. Lalu bagaimana sih kategori cinta yang disebut sejati? Ialah cinta yang lebih banyak mengandung energi memberi alih-alih hanya menuntut untuk selalu dipenuhi. </p><p><br></p><p>Ketika seseorang menjalani kehidupan yang keras, maka ia berpotensi merasakan berbagai luka dari pemaknaannya terhadap situasi yang keras (baca: tidak menyenangkan baginya) itu. Sementara, pusat rasa di dalam diri manusia memiliki kodrat hanya menyukai kesenangan, condong pada kemudahan, dan tidak suka bersusah payah atau pun berepot-repot menghadapi kesulitan yang akan banyak menghabiskan energi. Ia juga cenderung menghindari hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan atau situasi yang perlu upaya keras dalam mendapatkannya. </p><p><br></p><p>Berdasarkan inilah manusia jadi mudah sekali memaknai energi tak nyaman (tekanan) yang datang padanya sebagai sesuatu yang sulit diterima, tidak disukai, dilihat sebagai luka, yang secara spontan akan ditolak dan dihindari oleh insting alamiah manusia tersebut dengan cara berpaling dari situasinya, terdorong untuk melawan atau berdiam diri dalam rangka mempertahankan posisi. Akan tetapi, secara kodrati saat suatu energi datang menghampiri, tak seorangpun yang bisa berlari darinya kecuali akan terus didekati sampai keberadaannya diakui. Singkatnya, setiap energi dari tekanan yang memang sudah Tuhan takdirkan pada diri seseorang, akan terus mengejar sampai orang tersebut menyadari, menerima, mengakui dan melewati rasa tidak nyaman yang ditimbulkan tanpa bisa sedikitpun mengabaikan atau mengalihkannya pada orang lain. Setelah itu semua, barulah Ia (energi tekanan) akan mereda dan terlepas dari diri orang tersebut. Lalu bagaimana caranya supaya berhasil melalui tekanan dengan baik? Cinta adalah kunci.</p><p><br></p><p>Dengan cinta, semua ketakstabilan jiwa akan mereda. Cinta dapat menjadi penyeimbang bagi berbagai energi negatif dalam jiwa melalui ion-ion positif yang Ia bawa. Tentu saja hanya Cinta dengan katogori sejati yang bisa melakukan ini dan kembali memulihkan semua perasaan tak stabil dalam diri. Cinta seperti itu identik dengan memberi, karena dengan memberi seseorang jadi merasa berarti.</p><p><br></p><p>Cileungsi, 13 Januari 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-13 12:20:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2847608555</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Simpati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2964311445</link>
         <description><![CDATA[<p>Dia adalah penguasa hati yang sering diperlakukan tidak adil. </p><p>Hah tidak adil bagaimana maksudnya? Seringkali manusia menganggap simpati terwujud dalam pernyataan "ah kasihan sekali kamu" " ikut berdukacita ya", "semoga lekas sehat kembali", ikut prihatin" dan segala pernyataan serupa itu sudah dianggap sebagai keseluruhan dari simpati.</p><p>Yang aku pahami dari bacaan Charlotte Mason mempunyai pandangan bahwa simpati adalah sebuah kemampuan untuk memahami dan mengerti situasi atau perasaan orang lain walau sebelumnya harus melewati penderitaan. Simpati adalah ketika kita mampu memahami apa yang menjadi ketakutan ataupun sumber kebahagiaan orang lain, kata-kata atau tindakan bagaimana yang bisa membuat orang lain sedih atau kecewa sehingga kitapun lantas menjadi lebih lembut hati  dalam bersikap dalam berkata-kata agar tidak menimbulkan penderitaan bagi orang lain.</p><p>Kadang dalam berinteraksi ketika kita mendengar penderitaan orang lain suka muncul perasaan "ah begitu saja kok sedih, ah cengeng kamu, aku lebih menderita darimu" sehingga akhirnya kita sulit memahami bahkan sulit menempatkan sikap yang lembut dan sesuai, kita sering menggunakan ukuran "kita" dalam menilai situasi orang lain sehingga gagal memahaminya, saat itulah simpati tidak berfungsi.</p><p>Bahkan dalam situasi yang menyedihkan sekalipun bagi orang seringkali kita tidak sungguh2 memahami perasaannya walau ada kata-kata penghiburan yang keluar dari mulut.</p><p>Ego memang bisa menjadi hambatan bagi simpati ini untuk muncul, dalam mengasah simpati kita perlu belajar merendahkan diri, mengendalikan ego dan belajar memahami situasi orang lain walau kadang menurut ukuran kita  kondisinya tidak menyedihkan atau sekalipun kita belum pernah mengalami situasinya.</p><p>Puisi, lagu maupun cerita bisa menjadi media untuk menghibur orang dan menyatakan simpati atas penderitaan yang dialami orang lain.</p><p>Bahkan kita juga bisa belajar bersimpati mengasah hati melalui berbagai kisah di bacaan atau puisi atau lagu yang kita dengar tersebut, bahwa ada berbagai kondisi yang dialami manusia, sehingga kita bisa memahami walau tidak mengalami.</p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-04-22 08:06:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2964311445</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kebijaksanaan dalam simpati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2966360156</link>
         <description><![CDATA[<p>Aku cukup sulit mencerna bagian ini, jadi apakah simpati dan kebijaksanaan adalah satu kata yang sama? Atau simpati melahirkan kebijaksanaan, atau ini adalah sebuah level simpati yang tertinggi.</p><p>Tapi dari bacaan ini aku merefleksikan suatu kalimat, yaitu "adil sejak dalam pikiran", betapa menjadi begitu berartinya saat dikaitkan dengan simpati ini.</p><p>Aku pribadi seringkali masih gagal adil sejak dalam pikiran, hasrat untuk menilai orang lain berdasar perspektif ku masih sering mendominasi sehingga akhirnya menjadi sulit untuk bersimpati, untuk memahami sudut pandangnya yang berujung mungkin mimik muka, atau nada atau bahkan kalimat penghakiman yang keluar dengan deras dan kemudian melukai sebuah hati yang rapuh.</p><p>Aku percaya pikiran baik menghasilkan perkataan dan perbuatan yang juga baik  , saat kita sudah adil sejak dalam pikiran maka segalanya akan menjadi netral, kita mungkin menjadi lebih bijak dalam memilih kata dan sikap saat menghadapi orang lain yang adalah born person, yang punya masa lalu, pola asuh, pola pikir,pola hidup yang bisa jadi jauh berbeda dengan kita.</p><p>Mampu memahami bahwa dibalik sebuah sosok atau perilaku pasti ada sesuatu yang mendasari, belajar memahami apa yang dirasakan orang lain walau kita sendiri tidak pernah mengalaminya.</p><p>Saat mampu netral maka telinga kita akan lebih mampu mendengar dengan aktif bukan sekedarnya saja karena sudah punya pemikiran sendiri sehingga apapun yang disampaikan orang lain hanya kita anggap angin lalu. Saat bertemu orang yang mendengarkan kita dengan aktif seringkali kita merasa berharga, lantas mampu mengeluarkan segala uneg2 dan menampilkan diri apa adanya atau bahkan mengeluarkan potensi diri tanpa merasa takut dihakimi.</p><p>Simpati tidak saja ditujukan pada pihak yang sedih tapi juga mungkin pada orang2 yang dalam pandangan umum adalah "penjahat" karena bisa jadi yang mereka butuhkan adalah sebuah simpati, dipahami dimengerti sudut pandangnya, bisa jadi perilaku jahat timbul karena sebuah kebuntuan karena merasa tidak ada yang mau mendengar apalagi menolong. Orang tidak menjadi jahat dalam waktu semalam</p><p>Bahkan soal perang kita juga tidak bisa menghakimi satu pihak atau negara sebagai yang jahat sekalipun dia berstatus sebagai penjajah karena bisa jadi sejarahnya membentuk suatu negara menjadi seperti apa dia saat ini dan keputusan apa yang dibuat dalam rangka mempertahankan keutuhan negaranya.</p><p>Bukan menjadi membenarkan tapi setidaknya bagi diri sendiri kita jadi lebih bisa menerima bahwa ada banyak hal yang tidak sama dengan apa yang kita pikirkan dan itu adalah realita yang semestinya diterima dengan ikhlas bukannya terus disesali yang malah berujung membawa  luka bagi diri sendiri, karena kegagalan memahami pihak lain. Atau sebaliknya menghakimi dan ikut menyudutkan satu pihak tanpa memahaminya sehingga membuat suasana semakin runyam.</p><p><br/></p><p>Sungguh benar yang disampaikan ibu Charlotte Mason bahwa mendengarkan adalah sebuah bentuk pelayanan yang mendasar yang bisa memberi arti besar dalam kehidupan umat manusia.</p><p>Sudahkah aku berupaya untuk senantiasa mendengarkan sepenuh hati? Bukan hanya dengan telinga tapi dengan segenap hati dan pikiranku.</p><p><br/></p><p>Jakarta, 24 April 2024</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-04-23 12:19:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2966360156</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi pertemuan tgl 25 Maret 2024</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2967144542</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>Simpati (Tuas yang mengangkat, Mengeluarkan kebajikan dari dalam diri, dan Simpati yang palsu)</strong></p><p><br/></p><p>Ada sebuah lingkaran malaikat yang akan terbentuk ketika simpati terus menunjukkan rupanya. Mewujud tanpa henti membangkitkan kebajikan-kebajikan dalam diri setiap orang yang menerima maupun memberi. </p><p><br/></p><p>Para pemikir besar, pahlawan, seniman mewujudkannya dalam karya mereka yang mampu menggugah orang yang menikmati karya atau menyaksikan kepahlawanan mereka. Kita menjadi terinpirasi, mata kita tercelik, hati kita tergugah. Kita mendapatkan kekuatan baru, untuk bisa merasakan, memikirkan dan seolah kita turut dalam aksi di dalamnya. Saat itu juga kita merasa diangkat dari keterpurukan kita dan kita mulai merasa bisa kembali tegak, beban menjadi lebih ringan karena ada yang menopang. Kita jadi bersemangat lagi, memiliki harapan baru. </p><p><br/></p><p>Jika para pemikir dan pahlawan tidak menahan-nahan kebaikan, kehebatan, dan keberanian mereka untuk dibagikan kepada siapapun tanpa memandang rendah kapasitas penerimaan seseorang, maka hal itu jugalah yang harus kita upayakan. Yakin bahwa setiap orang akan tergerak atas simpati yang kita tunjukkan. Namun jika kita mengecilkan orang lain, bersikap apatis, menganggap hina dan tidak punya keyakinan bahwa seseorang mampu bangkit dari setiap keburukan, kekejian, ataupun kelemahannya, maka sebenarnya hal itulah yang akan terus kita dapati pada orang itu. Kita justru memperkuat sisi buruk seseorang dari tindakan tidak bersimpati kita padanya. Sampai dia menemukan seseorang yang mampu menunjukkan simpati kepadanya, barulah ia bisa mulai bangkit. Di sisi lain kita sendiripun membentuk kebiasaan buruk pada diri kita untuk berpikiran sempit dan tak berpengharapan.</p><p><br/></p><p>Untuk bisa mendukung orang sedemikian rupa, agar bisa bangkit dari keterpurukannya, kita sendiripun haruslah bisa melihat masalah yang mereka hadapi sebagaimana ia melihatnya. Ketika kita gagal memvalidasi perasaan, emosi, dan kebutuhan seseorang, maka tidak ada juga yang bisa kita tawarkan kepadanya. </p><p>Sebaliknya jika kita menunjukkan simpati, maka kebajikan (kedewasaan, kekuatan, kesiapan, kesabaran, ketekunan dsb) akan mengalir keluar dari dalam diri kita, memampukan kita untuk mendukung dan memulihkan kondisi terpuruk seseorang.</p><p><br/></p><p>Jika simpati yang sesungguhnya berarti mampu melihat kesukaran yang dialami seseorang, kemudian mengangkatnya dari keterpurukan itu dan menopangnya agar bisa bangkit lagi, maka ada pula simpati yang palsu. </p><p>Katakanlah seseorang mampu melihat kesukaran orang lain, tapi dengan cara yang dangkal. Pada kondisi ini, yang memberi maupun yang menerima simpati palsu sama-sama tidak mendapatkan keutamaan simpati itu sendiri, mereka sama-sama merugi. Pemberi simpati palsu ambil gampangnya saja (tidak ada kebajikan yang ia curahkan) sekedar menghibur, mengelus-elus egoisme seseorang dengan turut menyalahkan nasib buruk atau penyebab kemalangannya, yang sebenarnya malah membuat orang yang sedang mengalami kesulitan tersebut terus terpuruk dalam kondisi mengasihani diri, tidak mampu bangkit, apalagi melihat akar masalahnya untuk bisa mengambil solusi yang tepat. </p><p><br/></p><p>Menarasikan bagian ini aku jadi diajak merenungkan ulang tentang apa itu simpati, sejauh apa simpati yang aku pahami dan lakukan selama ini. Aku jadi teringat pula kejadian-kejadian dimana aku merasa tidak bersimpati kemudian bertekad untuk menjadi lebih mawas diri ketika berada pada kondisi mengalami kesukaran maupun ketika melihat kesukaran orang-orang di sekitarku. Pertama-tama pastinya dengan orang-orang terdekat, suami dan anak-anak. Berbekal latihan bersimpati dengan mereka sepertinya akan menjadi cerminan apakah aku bisa bersimpati terhadap orang lain bahkan yang jauh sekalipun. </p><p><br/></p><p>Damba</p><p>24 April 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-04-24 00:30:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2967144542</guid>
      </item>
      <item>
         <title>6 Mei 2024</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2989364428</link>
         <description><![CDATA[<p>Keramahan</p><p><br/></p><p>Perbuatan baik. Keramahan. Hal-hal terpenting dalam karakter seseorang adalah perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan yang nampak sepele dan cepat terlupakan.</p><p>Keramahan yang kita perbuat sudah tentu akan membuat hidup orang di sekitar kita lebih menyenangkan. Keramahan adalah perbuatan-perbuatan baik sederhana yang kita lakukan terhadap orang lain, baik itu berupa tutur kata maupun perbuatan kita. Begitu pula dengan perihal sopan santun. Seringkali kita menganggap hal ini sepele dan tidak kita lakukan. Padahal hal-hal sepele ini akan membuat hidup ini lebih menyenangkan, dan sesungguhnya tidaklah sulit untuk bersikap ramah dan sopan. Hal ini bisa dilakukan siapapun,  apapun status sosialnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-12 14:33:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2989364428</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelembutan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2989765354</link>
         <description><![CDATA[<p>13/05/2024</p><p>Sifat kelembutan adalah suatu sifat yg dimiliki oleh setiap manusia secara alami. Sifat ini bahkan bisa muncul dari seorang anak kecil yg belum terdidik secara intelektual, krn umurnya yg masih sangat muda. Akan tetapi sang anak bisa saja tiba2 terdorong utk berdiri dari kursi yg sedang didudukinya saat melihat ada orang tua yg tidak kebagian tempat duduk, lalu sang anak menyerahkan kursinya pada orang tua itu. Itulah yg disebut kelembutan hati.</p><p><br/></p><p>Akan tetapi, kelembutan hati akan menjadi sulit tergugah jika tidak disertai oleh rasa iba, kebajikan serta simpati. Mereka semua perlu ada secara holistik jika seseorang ingin memiliki rasa kelembutan di dlm hatinya. Hanya saja kenyataannya, hal ini justru makin lama makin berkurang kadarnya dalam diri manusia. Kebanyakan orang  di zaman sekarang seolah lebih didominasi oleh ego masing2 sehingga jadi tertutupi utk sedikit memiliki rasa iba, respek dan terhalang dari bersimpati atau bersikap bajik kepada orang lain. </p><p><br/></p><p>Ini tentu saja merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Dengan tidak tergugahnya kelembutan hati, maka manusia gagal untuk menghargai dan peduli terhadap sesama. Padahal, salah satu cara terbaik utk menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan dalam hati tiap diri adalah saat mrk bisa bersikap saling mengisi dan saling bermanfaat bagi yang lain. Wallahua'lam</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-13 01:14:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2989765354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kesederhanaan Kebaikan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2990718503</link>
         <description><![CDATA[<p>Kalau ada nabi perempuan, nampaknya Ibu CM salah satunya. Hehe bagaimana tidak. Tulisannya terutama di buku Ourselves, sangat idealis. Sebagai manusia yang saat ini sedang berperang dengan potensi-potensi buruk, rasanya sungguh tidak mudah mempraktekkan pandangan-pandangannya. Seperti tema kebaikan. Bagi Ibu CM, berbuat baik itu sederhana. Tidak perlu embel-embel penyertanya. Berbuat baik hanya karena dorongan jiwa, khususnya nurani, tanpa pertimbangan rumit. Misalnya kerumitan memikirkan dampak sebab akibat yang dimunculkan dari perbuatan baik tsb.</p><p><br/></p><p>Alih-alih mengingat dan mencatat, berbuat baik mestinya menjadi perbuatan yang paling lekas dilupakan. Mengapa? Pertama mengingat-ingat kebaikan sama dengan mengundang bencana di kerajaan jiwa, khususnya bagi pemberi. Bencana menjelma dalam harapan. Ingin mendapatkan pengakuan dari penerima. Padahal seringkali harapan tak seindah kenyataan. Kadangkala penerima lebih sibuk dengan egonya dan tidak memunculkan pengakuan yang digadang-gadang pemberi.</p><p><br/></p><p>Di sisi lain, ketika mencermati psikologi penerima kebaikan, adakalanya timbul tidak enak hati. Maka si penerima buru-buru ingin membalas dengan kebaikan pula. Agar rasa tidak enak hati itu terhapus dari jiwanya. Boleh jadi ia akan memaksa diri melakukan tindakan balasan kebaikan serupa.</p><p><br/></p><p>Bencana yang paling menyedihkan jiwa, menurut Ibu CM, adalah pola pikir bahwa pemberi kebaikan merasa berhak mendapat balasan. Lebih jauh, lahir penghakiman tiadanya sopan santun dan ketidaktahuan adat bagi penerima yang tidak membalas kebaikan tsb.</p><p><br/></p><p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan baik pemberi dan penerima sama-sama bukan pemilik kebaikan. Kebaikan merupakan kendaraan pribadi Tuhan untuk menjalankan kemahabijaksanaanNya. Sebuah hadis yang cocok sekali dengan apa yang Ibu CM kutip menyatakan,</p><p><br/></p><p>"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah SWT dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antaranya, seorang yang mengeluarkan suatu sedekah, tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya." (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)</p><p><br/></p><p>Hadis di atas dapat dijadikan panduan yang membentuk pola pikir pemberi kebaikan. Bahwa kebaikan yang diupayakannya, semata-mata hanya karena Tuhan yang memampukannya. Sehingga penerima merasa nyaman. Cukuplah Allah yang mengetahui tujuan rahasia dari sebuah kebaikan, baik bagi penerima maupun pemberi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-13 13:04:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/2990718503</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3 Juni 2024</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3022576548</link>
         <description><![CDATA[<p>Kemurahan Hati</p><p><br/></p><p>Orang murah hati. Ia selalu positif thinking terhadap orang lain. Ia memahami orang lain. Tidak menuntut penghargaan dari orang lain. </p><p>Kebaikan hatinya luar biasa. Ia memiliki empati yang besar terhadap orang lain. Ia memiliki waktu yang pas kapan untuk mengurus diri sendiri dan keluarga, kapan harus mengurus orang lain. </p><p>Kriteria yang sulit. Namun bukan tidak mungkin. Perlu kesadaran dan upaya terus-menerus untuk mampu semakin menuju pada karakter yang satu ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-10 01:37:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3022576548</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tuan Cinta dalam Penantian : Kemurahan Hati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3022890576</link>
         <description><![CDATA[<p>Judulnya menarik ya, Tuan cinta dalam penantian, apa sih yang dinanti oleh murah hati ini? Pemantik seperti apa yang membuat murah hati ini muncul?</p><p>Apa beda murah hati dengan baik hati?</p><p>Kalau menurut Charlotte Mason murah hati itu butuh pengorbanan, butuh penderitaan, kalau kita memberikan sesuatu yang sudah tidak kita perlukan atau sukai lagi ke orang lain itu belum bisa kemurahan hati, tapi sekedar kebaikan hati saja</p><p><br/></p><p>Ah jadi murah hati sepertinya levelnya lebih tinggi ya dibanding baik hati? Jadi apakah hanya orang dengan taraf kematangan jiwa tertentu saja yang bisa bermurah hati? Ternyata jawabannya tidak, semua orang memiliki kemurahan hati, sesuatu di dalam jiwa yang tinggal menunggu saat tepat saja untuk muncul, tidak perlu menunggu jadi  orang berkuitas dewa untuk bisa murah hati, bahkan orang biasa dengan profesi sederhana seperti tukang ledeng, tukang sapu jalanan, tukang bersih bersih toilet juga punya kemurahan hati.</p><p>Seorang perempuan sederhana saat memberikan dirinya untuk mengandung selama 9 bulan membawa beban berat ke sana kemari dan merelakan bentuk tubuh indahnya mengalami perubahan, lalu menyusui, lelah siang malam dengan rewelnya bayi itu mungkin juga wujud kemurahan hati, ada penderitaan dan pengorbanan di dalamnya.</p><p><br/></p><p>Jakarta, 10 Juni 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-10 06:19:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3022890576</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Simpati?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3036295958</link>
         <description><![CDATA[<p>Alkisah, pada sebuah masa belum lama ini, serombongan bus yang beriringan mengular di jalanan sukabumi yang terkenal macet. &nbsp;Di dalam puluhan bus tersebut, sebagian besar hanya terisi separuh, dan bus tersebut menuju ke sebuah tempat pariwisata untuk kegiatan outbond bersama.</p><p>Yang berbeda adalah, rombongan yang mengular tersebut dikawal oleh Voorijder dari aparat setempat. 2 motor Voorijder, 1 mobil Voorijder membuat laju rombongan tersebut lancar tanpa hambatan di sepanjang jalan, karena kebetulan jalanan tidak ada separator, dan tidak pula luas, adanya pengawalan ini memaksa kendaraan dari arah sebaliknya harus menyingkir, harus memaksakan dirinya berbesar hati untuk mengalah kepada rombongan ‘penting’ yang dikawal aparat ini, karena mereka mau outbond di tempat wisata arung Jeram di wilayah tersebut.</p><p>Di antara kendaraan yang menyingkir dan minggir adalah sebuah ambulance (yang mematikan sirinenya), ratusan motor, puluhan atau ratusan mobil, dan beberapa mobil bak terbuka yang terisi orang dewasa dan anak – anak dalam keadaan panas terik tanpa atap.</p><p>Berbicara tentang simpati, kira – kira di belahan bumi tempat kita berpijak, pihak mana yang selama ini lebih banyak di posisi bersimpati? Atau DIPAKSA bersimpati? Rombongan dengan pengawalankah atau pengguna jalan yang terpaksa menyingkir karena perasaan bahwa pengguna jalan lain dengan kawalan mempunya urusan yang lebih penting dan lebih mendesak? Kenapa kira – kira dalam struktur sosial kemasyarakatan kita bisa seperti cerita tersebut ya? Apakah sama dengan yang disebutkan oleh Bu CM bahwa simpati sebenarnya adalah memahami dan mengerti untuk mencapai kebahagiaan, meskipun kadang – kadang harus melewati kesedihan? Memberikan jalan kepada rombongan bus apakah bisa disebut sebagai tindakan heroik? Yang karenanya kita harus memberikan hal terbaik secara cuma-cuma? </p><p><br/></p><p>disisi manakah kita saat ini?</p><p><br/></p><p>Jakarta, 24 Juni 2024</p><p>-Nell-</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-24 09:51:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3036295958</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syukur Mencipta Lingkaran Kebaikan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3047846729</link>
         <description><![CDATA[<p>Narasi materi 8 Juli 2024</p><p><br/></p><p>Rasa syukur melunasi sesuatu (kebaikan) yang dikeluarkan atau diberikan. Alih-alih berkurang, syukur seperti menambahkan kebaikan tsb. Melipatkan gandakan sampai hitungan tak terhingga. </p><p><br/></p><p>Dalam lingkup kebaikan, ada penerima dan pemberi. Baik penerima maupun pemberi, sama-sama membutuhkan syukur sebagai pupuk yang senantiasa menghidupkan kesejahteraan jiwa.</p><p><br/></p><p>Sekilas nampak penerima diuntungkan soal pemberian ini. Namun, pemberi juga sama untungnya. Keuntungannya terletak pada pertumbuhan jiwanya agar keseimbangan jiwa tetap terjaga. Jangan kira pemberi selalu beruntung sehingga tidak membutuhkan apa-apa. Minimal pemberi butuh supaya hadiahnya diterima dengan baik. Sungguh penderitaan tak terkira kala niat baik disalah pahami sedemikian rupa. </p><p><br/></p><p>Pihak penerima juga punya tugas yang tak kalah pentingnya. Yaitu memahami makna apresiasi dan cara kerjanya demi kesehatan jiwa. Apresiasi yang baik akan senantiasa menjaga kesehatan jiwa. Alih-alih merusaknya. Perusakan jiwa terjadi saat apresiasi ditujukan pada pelaku kebaikan. Sehingga mendorong kesan, kalau bukan karena aku (ego), segala hal mustahil berjalan lancar.</p><p><br/></p><p>Berbeda ketika rasa syukur dialamatkan pada kebaikan itu sendiri. Penerima tidak merasa rendah diri akan kebaikan yang diterimanya. Sedangkan pemberi berpikiran bahwa seharusnya demikianlah kebaikan bekerja. Tugas dia sebagai perpanjangan kebaikan tangan Tuhan semata.</p><p><br/></p><p>Pada akhirnya baik penerima maupun pemberi sama-sama memiliki tugas penting. Yaitu menjaga agar kebaikan senantiasa berputar-putar dan tiada ujungnya. Yang abadi hanya kebaikan itu sendiri. Pelaku kebaikan (penerima dan pemberi) dapat diperankan siapa saja. Sepanjang zaman di setiap episode kehidupan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-08 10:46:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3047846729</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alhamdulillah....</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3054634274</link>
         <description><![CDATA[<p>Mau tidak mau, bahasan kali ini membuat saya teringat ayat suci Alquran surat Ibrahim ayat ke 7 tersebut. </p><p><br/></p><p>Selama hidup, saya yakin kita sudah sangat terbiasa menjadikan diksi ini sebagai bentuk ‘menghibur diri’ ditengah kesulitan dan keterpurukan…semacam “mari kita lihat sisi baiknya…oleh karenanya kita harus bersyukur’….atau kemampuan afirmasi diri bahwa adanya suatu musabab hal buruk dikarenakan kita kurang bersyukur.</p><p><br/></p><p>Bersyukur bisa jadi agak sulit untuk diterapkan tatkala kita didatangi bertubi kegagalan, menyakini bahwa diri diambang kekalahan dan kehancuran bukanlah hal yang cukup mendorong pengakuan atas nikmat yang kita terima, Dimana nikmatnya?? &nbsp;Logika akan menuntun kita memilih cara tercepat ini, </p><p><br/></p><p>seperti Bu CM katakana “menggerutu atas sakit dan kesukaran yang timbul seiring berjalannya waktu dalam hidup”.</p><p><br/></p><p>Namun, satu hal yang kita tidak sadari bersama, pada dasarnya logika manusia lebih sering kalah dengan olah rasa yang lebih peka, dan inilah keajaiban umat manusia. </p><p><br/></p><p>Rasa sering menunjukkan sisi terang dalam gelap perjalanan hidup, tak perlu jauh – jauh, di sekeliling kita saja, saat banjir melanda, anak – anak (dan tak sedikit kaum dewasa) justru menganggapnya sebagai ajang mengalihkan kepenatan dengan menggunakan genangan air sebagai media bermain, ketika tersorot kamera media yang mereka perlihatkan bukanlah duka, namun senyum dan tawa...</p><p><br/></p><p>sembari berkomentar “alhamdulillah…kami masih sempat menyelamatkan barang – barang penting sebelum bencana melanda”. </p><p><br/></p><p>Ini satu bagian rasa yang kita sendiripun ketika mengalami juga tidak paham di sebelah mana logika bersembunyi.</p><p><br/></p><p>Ataukah peranan keyakinan? Meyakini bahwa kesulitan adalah bagian dari ujian iman, naik level, naik kelas, pertanda semakin berat cobaan menandakan bahwa kenaikan takwa kita akan semakin tinggi? Bahwa ketika kita lulus dari kesulitan ini, akan ada kemudahan yang membuntuti?</p><p><br/></p><p>Sampai detik ini, saya pribadi masih sering merinding ketika seseorang mengucap “alhamdulillah’ atas kesukaran yang dia lewati, melihat bahwa tak harus berhenti hujan untuk melihat pelangi, namun bagaimana bisa menari saat hujan sedang deras – derasnya mengguyur bumi.</p><p>Alhamdulillah….</p><p>&nbsp;</p><p>Jakarta, 16 Juli 2024</p><p>Nelly</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2548663311/7b4c6062bff1499318a64aa5b5245407/Kandungan_Surat_Ibrahim_Ayat_7_Tentang_Bersyukur_Kepada_Allah_1_1024x576.jpg" />
         <pubDate>2024-07-16 10:43:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3054634274</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berani terbuka; berani menegur; berani mengakui kesalahan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3097420687</link>
         <description><![CDATA[<p>2 Sep2024</p><p><br/></p><p>Berani berterus terang, atau tidak berani. Berani terbuka terhadap orang lain perihal kehidupan kita atau tidak. Itu semua tergantung dari motif di dalam diri. Jika kita tidak berani dikarenakan kita ingin membebani orang lain dengan hal-hal remeh temeh, itu bisa dibenarkan. Namun jika tidak berani dikarenakan kita tidak percaya akan simpati dari orang lain, ini yang menjadi masalah. </p><p>Berani menegur. Menegur jika dilakukan dengan bijak dan sopan akan membawa keuntungan besar bagi yang ditegur, terutama jika teguran ini diberikan seseorang kepada teman sebayanya. Inilah yang disebut persahabatan sejati.</p><p>Berani mengaku salah. Ini tidak mudah, namun bisa dilakukan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-02 00:46:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3097420687</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berani Memaksimalkan Potensi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3101284634</link>
         <description><![CDATA[<p>Narasi tulis sebagai ganti ketidakhadiran diskusi offline tgl 3 September 2024.</p><p><br/></p><p>Jiwa manusia sungguh unik. Berkat keunikan itu, pengalaman yang sama akan membuahkan hasil beda. Sebagai contoh seseorang punya keberanian melangkah namun ia tidak membekali dirinya dengan pengetahuan yang menyamai langkahnya. Berani yang tidak layak diperjuangkan bukan. Suatu saat ia akan menjumpai ujian-ujian. Boleh jadi ia akan lolos dan menjadi pemenang. Boleh jadi ia akan terjerembab dalam kenestapaan yang tidak berujung.  Seseorang yang lain sebaliknya. Ia senang bermanja dengan ketakutan yang ia suburkan sendiri. Memang ketakutan  itu lahir dari pengalaman gagal di masa lalunya. Belum lagi, wajah pendidikan belum mengapresiasi gagal layaknya mengelukan sukses. Sehingga ketidakmampuan itu makin membesar dan menjadi batu sandungan masa kini untuk tampil terampil.</p><p><br/></p><p>Ibu CM sungguh cerdik. Ia menawarkan jalan tengah sebagai jembatan penghubung berkobarnya potensi dan keredupannya. Potensi intelektual akan muncul ke permukaan bila diasah terus menerus. Aku termasuk yang meyakini proses ini bersifat pribadi. Kadangkala tak membutuhkan media lain kecuali kembali pada orisinalitas diri. Diri yang menerima kenyataan baik-buruk jiwanya. Diri yang siap merangkul gagal sekaligus sukses. Ia menerima dan menikmati layaknya indahnya panorama siang dan malam. Seperti saling melengkapinya laki-laki dan perempuan. Sesempurna kerja sama pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Tak ada dikotomi. Tapi saling melengkapi. Label sarjana strata tiga pun tak selalu mampu mengakses orisinalitas diri ini. Siapapun mendapat kesempatan yang sama untuk memunculkan pengetahuan diri. Sehingga diri yang berdaya akan menghantarkan seseorang pada kehidupan yang berjaya. Kata bijak bestari, "Siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya."</p><p><br/></p><p>Ibu CM juga memunculkan istilah kepanikan intelektual. Sebuah kondisi yang membuat nafas jiwa sesak. Seolah terjadi kebakaran luar biasa. Bagaimana tidak, pikiran dilemahkan sedemikian rupa sehingga keterbatasan-keterbatasan yang mencekik jiwa terasa sangat nyata. Seseorang yang kerap memikirkan kondisi terbatasnya, akan  sulit merasakan kehidupan lapang. Ia seolah lupa bahwa nafasnya, pikirannya, nuraninya, hasrat-hasratnya adalah sumber kekayaan yang tak pernah habis untuk digali dan dimaksimalkan. Sehingga keterpurukan selalu menjadi sahabat baiknya. Ia menjadi pribadi yang merasa terus menjadi korban dari keadaan. Sebuah kondisi atau keadaan yang sesungguhnya netral dan sejatinya disiapkan menjadi media percepatan dan kedaulatan diri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:04:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3101284634</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Loyalitas</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3126738067</link>
         <description><![CDATA[<p>Loyalitas </p><p>Loyalitas adalah sebuah karakter yang lahir di dalam diri kita, dari masa ke masa kita mengetahui bahwa manusia bisa memberikan hidupnya demi orang lain terutama pada masa kesatriaan dimana anak muda diminta untuk menunjukkan loyalitasnya pada ksatria yang memimpin saat itu (di Inggris) , bahkan sampai merelakan hidupnya saat berperang demi pasukannya membela kelompoknya, atau seperti Indonesia di saat masa perang kemerdekaan di mana para pemuda mengangkat senjata demi mengusir penjajah dan mengorbankan nyawanya sendiri.</p><p>Mungkin di masa sekarang loyalitas semacam ini sulit dilakukan , di masa orang semakin egois dan hanya memikirkan diri sendiri loyalitas lebih ditujukan pada kepentingan masing-masing individu, selama masih menguntungkanku ya aku akan setia tapi kalau sudah tidak dirasa manfaatnya maka loyalitas siap diserahkan pada pihak lain yang menawarkan keuntungan lebih, hal yang jamak dipertontonkan oleh pelaku politik saat ini , begitu mudah berpindah partai atau kendaraan politik asal nafsu berkuasanya bisa dipenuhi.</p><p>Menjadi negara yang berdaulat seperti Indonesia saat ini sebetulnya bisa menjadi media praktik loyalitas secara nyata bagi generasi muda, apakah mau memberikan kesetiaannya pada negara dan mau melayani dengan keahlian masing-masing demi kedaulatan negara, atau sekedar menjadi oportunis saat negara dirasa tidak memberikan kebutuhannya maka ditinggalkan demi mencari penghidupan yang dirasa lebih baik, demi masa depan yang lebih cerah. Tapi kalau negara (yang diwakili oleh aparatur atau pejabat negaranya) sendiri tidak melindungi rakyatnya dan memberi kepastian hukum layakkah dia mendapatkan loyalitas warganya?atau justru saat melihat penyelewengan oleh aparatur negara itulah maka saatnya kita sebagai generasi muda menunjukkan loyalitas pada negara dengan melakukan sesuatu untuk "menyelamatkan" kedaulatan negeri yang mungki sedang digerogoti oleh para pejabatnya alih meninggalkannya dalam kondisi "sakit".</p><p>Sebuah refleksi untuk kita semua.</p><p>Jakarta, 19 September 2024Loyalitas  Loyalitas adalah sebuah karakter yang lahir di dalam diri kita, dari masa ke masa kita mengetahui bahwa manusia bisa memberikan hidupnya demi orang lain terutama pada masa kesatriaan dimana anak muda diminta untuk menunjukkan loyalitasnya pada ksatria yang memimpin saat itu (di Inggris) , bahkan sampai merelakan hidupnya saat berperang demi pasukannya membela kelompoknya, atau seperti Indonesia di saat masa perang kemerdekaan di mana para pemuda mengangkat senjata demi mengusir penjajah dan mengorbankan nyawanya sendiri. Mungkin di masa sekarang loyalitas semacam ini sulit dilakukan , di masa orang semakin egois dan hanya memikirkan diri sendiri loyalitas lebih ditujukan pada kepentingan masing-masing individu, selama masih menguntungkanku ya aku akan setia tapi kalau sudah tidak dirasa manfaatnya maka loyalitas siap diserahkan pada pihak lain yang menawarkan keuntungan lebih, hal yang jamak dipertontonkan oleh pelaku politik saat ini , begitu mudah berpindah partai atau kendaraan politik asal nafsu berkuasanya bisa dipenuhi. Menjadi negara yang berdaulat seperti Indonesia saat ini sebetulnya bisa menjadi media praktik loyalitas secara nyata bagi generasi muda, apakah mau memberikan kesetiaannya pada negara dan mau melayani dengan keahlian masing-masing demi kedaulatan negara, atau sekedar menjadi oportunis saat negara dirasa tidak memberikan kebutuhannya maka ditinggalkan demi mencari penghidupan yang dirasa lebih baik, demi masa depan yang lebih cerah. Tapi kalau negara (yang diwakili oleh aparatur atau pejabat negaranya) sendiri tidak melindungi rakyatnya dan memberi kepastian hukum layakkah dia mendapatkan loyalitas warganya?atau justru saat melihat penyelewengan oleh aparatur negara itulah maka saatnya kita sebagai generasi muda menunjukkan loyalitas pada negara dengan melakukan sesuatu untuk "menyelamatkan" kedaulatan negeri yang mungki sedang digerogoti oleh para pejabatnya alih meninggalkannya dalam kondisi "sakit". Sebuah refleksi untuk kita semua.  </p><p>Jakarta, 19 September 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-19 02:17:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3126738067</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Loyalitas pada Raja dan Bangsa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3126780268</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Kisah sejarah banyak menuliskan kisah-kisah kesetiaan rakyat pada pemimpinnya, masih terkait bacaan sebelumnya bagaimana saat masa perang rakyat rela mengorbankan nyawanya demi sang raja yang sangat dicintai.</p><p>Tapi apakah semua jenis raja layak mendapat kesetiaan, bagaimana dengan raja yang tamak dan malah menjadi sumber kesengsaraan bagi rakyatnya sendiri, besar kemungkinan pemimpin atau raja yang demikian akan ditinggalkan rakyatnya, bahkan mungkin dihukum mati oleh rakyatnya sendiri seperti yang terjadi pada Raja Louis XVI dan permaisurinya Marie Antoinette yang tewas di pisau guillotine oleh rakyatnya sendiri karena tidak peka terhadap kesengsaraan rakyat dan malah hidup bermewah2 di saat rakyatnya makan roti pun sulit, di sisi lain kita juga melihat tokoh seperti Ratu Victoria yang mendapat kesetiaan penuh dari rakyatnya karena beliau sendiri juga menjadi ratu yang melayani rakyat, membawa rakyat Inggris di era kejayaan dan kemakmuran. Jadi kesetiaan itu juga tidak buta , hanya untuk pimpinan yang layaklah kesetiaan itu pantas diberikan.</p><p>Saat pemimpin sudah mulai melenceng maka kita tidak boleh membabi buta membelanya melainkan tetap bisa bersikap kritis.</p><p>Kesetiaan pada Bangsa</p><p>Selain pada raja atau pemimpin negara kita juga diminta memiliki kesetiaan pada Bangsa, sebagus apapun kondisi negara lain sudah seharusnya kita tidak menjelek-jelekkan bangsa sendiri, seharusnya justru kita terus bertanya apa yang bisa kita perbuat bagi bangsa kita, seperti John F Kennedy mengatakan " Jangan tanyakan apa yang negaramu bisa berikan untukmu, tapi tanyalah apa yang bisa kuberikan untuk negaraku/bangsaku".</p><p>Dalam perjalanan ke Norwegia dan Denmark beberapa bulan yang lalu tak bisa dipungkiri betapa kagumnya aku pada negeri2 jauh tersebut, sempat terlintas keinginan seandainya bisa tinggal di situ, negara yang makmur, pejabat negaranya amanah, ada kepastian hukum untuk warganya, udara yang bersih, pendidikan yang baik, walau di sisi lain pajak yang tinggi , negara yang sepi karena sedikit penduduknya, hanya 3 bulan musim panasnya, selebihnya musim dingin dan gelap, makanannya yang hambar minim bumbu, maka aku tersadar bahwa semua pasti ada sisi baik dan buruknya, sekacau-kacaunya negeriku inilah tanah airku tanahku dilahirkan , tanahku dibesarkan , sekarang yang perlu dipikirkan kalau memang banyak kekurangan di negeri ini maka hal apa yang bisa aku lakukan sebagai sumbangsih, sebagaimana hidup berumah tangga saat menyatakan janji pernikahan kami berjanji untuk setia baik dalam suka maupun duka dalam senang maupun malang, dalam sakit maupun sehat, maka mungkin seperti itu juga hubungan kita sebagai warga bangsa, saat dia sakit maka aku tetap setia dan menjadi bagian dari solusi bukannya malah meninggalkannya, bukankah akan sangat sedih kalau saat kita sakit atau susah malah ditinggal oleh orang2 terkasih seperti pasangan atau anak?</p><p>Sebuah refleksi.</p><p>Jakarta, 19 September 2024Loyalitas pada raja dan bangsa Kisah sejarah banyak menuliskan kisah-kisah kesetiaan rakyat pada pemimpinnya, masih terkait bacaan sebelumnya bagaimana saat masa perang rakyat rela mengorbankan nyawanya demi sang raja yang sangat dicintai. Tapi apakah semua jenis raja layak mendapat kesetiaan, bagaimana dengan raja yang tamak dan malah menjadi sumber kesengsaraan bagi rakyatnya sendiri, besar kemungkinan pemimpin atau raja yang demikian akan ditinggalkan rakyatnya, bahkan mungkin dihukum mati oleh rakyatnya sendiri seperti yang terjadi pada Raja Louis XVI dan permaisurinya Marie Antoinette yang tewas di pisau guillotine oleh rakyatnya sendiri karena tidak peka terhadap kesengsaraan rakyat dan malah hidup bermewah2 di saat rakyatnya makan roti pun sulit, di sisi lain kita juga melihat tokoh seperti Ratu Victoria yang mendapat kesetiaan penuh dari rakyatnya karena beliau sendiri juga menjadi ratu yang melayani rakyat, membawa rakyat Inggris di era kejayaan dan kemakmuran. Jadi kesetiaan itu juga tidak buta , hanya untuk pimpinan yang layaklah kesetiaan itu pantas diberikan. Saat pemimpin sudah mulai melenceng maka kita tidak boleh membabi buta membelanya melainkan tetap bisa bersikap kritis.  Kesetiaan pada Bangsa Selain pada raja atau pemimpin negara kita juga diminta memiliki kesetiaan pada Bangsa, sebagus apapun kondisi negara lain sudah seharusnya kita tidak menjelek-jelekkan bangsa sendiri, seharusnya justru kita terus bertanya apa yang bisa kita perbuat bagi bangsa kita, seperti John F Kennedy mengatakan " Jangan tanyakan apa yang negaramu bisa berikan untukmu, tapi tanyalah apa yang bisa kuberikan untuk negaraku/bangsaku". Dalam perjalanan ke Norwegia dan Denmark beberapa bulan yang lalu tak bisa dipungkiri betapa kagumnya aku pada negeri2 jauh tersebut, sempat terlintas keinginan seandainya bisa tinggal di situ, negara yang makmur, pejabat negaranya amanah, ada kepastian hukum untuk warganya, udara yang bersih, pendidikan yang baik, walau di sisi lain pajak yang tinggi , negara yang sepi karena sedikit penduduknya, hanya 3 bulan musim panasnya, selebihnya musim dingin dan gelap, makanannya yang hambar minim bumbu, maka aku tersadar bahwa semua pasti ada sisi baik dan buruknya, sekacau-kacaunya negeriku inilah tanah airku tanahku dilahirkan , tanahku dibesarkan , sekarang yang perlu dipikirkan kalau memang banyak kekurangan di negeri ini maka hal apa yang bisa aku lakukan sebagai sumbangsih, sebagaimana hidup berumah tangga saat menyatakan janji pernikahan kami berjanji untuk setia baik dalam suka maupun duka dalam senang maupun malang, dalam sakit maupun sehat, maka mungkin seperti itu juga hubungan kita sebagai warga bangsa, saat dia sakit maka aku tetap setia dan menjadi bagian dari solusi bukannya malah meninggalkannya, bukankah akan sangat sedih kalau saat kita sakit atau susah malah ditinggal oleh orang2 terkasih seperti pasangan atau anak?  Sebuah refleksi. Jakarta, 19 September 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-19 02:36:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3126780268</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Opini publik bertanggung jawab atas anarki</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3137493702</link>
         <description><![CDATA[<p>Diskusi Minggu ini sebetulnya menyisakan banyak kegamangan dalam hati, apa sih sebenarnya yang dimaksud Ibu CM kali ini? Kita harus berhati-hati dalam memberikan opini publik agar tidak mempengaruhi orang untuk berbuat anarki? Benar begitukah?</p><p>Di sisi lain aku merenungkan bahwa selama tidak ada keadilan dalam masyarakat maka kedamaian itu sulit dicapai, maka anarki tentu rentan terjadi, rakyat yang terhimpit mudah dihasut untuk memberontak, semut saja kalau diinjak akan menggigit,kucingku saja kalau aku tidak hati2 mengelusnya akan mencakar dan menggigit, maka kalau demikian kenapa kok yang disalahkan kesannya malah opininya? Bukan kondisi ketidak Adilan yang menyebabkan timbulnya berbagai opini tersebut?</p><p>Dalam diskusi sepertinya kami nampak sepakat bahwa jalan damai, melalui diplomasi melalu jalan legal itu lebih baik daripada revolusi yang memakan banyak korban, tapi kalau kupikir2 lagi kondisi anarkis sebetulnya Khan juga buah dari ketidak Adilan dalam jangka panjang, kalau keadilan itu tercapai mau diobok2 seperti apapun kemungkinan besar masyarakat akan tetap kalem, lantas apakah ibu CM inginnya kita diam saja melihat ketidak Adilan yang terjadi demi agar tidak terjadi anarkisme? Padahal seringkali penguasa lalim itu perlu disentil perlu terus dikritisi begitu saja masih pura2 tuli dan baik2 saja, bukankah opini juga sebuah upaya agar tidak sampai terjadi anarki karena perasaan yang terus direpresi tidak boleh dikeluarkan akan berpotensi menimbulkan efek ledakan yang lebih besar saat ada pemicunya walau hal kecil saja.</p><p>Jadi sebenarnya kita disuruh bagaimana ya kalau melihat ketidak Adilan? Disuruh jadi anggota DPR? Atau mengajukan uji materi ke MK?padahal kondisinya lembaga2 hukum pun sering sudah dimanipulasi dan dikangkangi demi syahwat berkuasa.</p><p><br/></p><p>Terus aku kudu piye?</p><p><br/></p><p>Sebuah refleksi sambil menunggu fisioterapi</p><p><br/></p><p>Jakarta, 25 September 2024 </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 07:38:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3137493702</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Opini Publik Bertanggung Jawab Atas Anarki</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3165490054</link>
         <description><![CDATA[<p><em>12 Oktober 2024</em></p><p><br/></p><p>Dalam sub bab kali ini bu CM membahas terkait opini publik yang sadar atau tidak bisa berpotensi besar menggalang massa untuk melakukan tindakan anarkis. Disebutkan bahwa opini publik ini muncul dari loyalitas dan keterhubungan antara manusia satu dengan manusia lain. Aku pikir mungkin ini seperti kepedulian bersama gitu terhadap lingkungan sekitar atau peristiwa2 penting yang terjadi dalam suatu wilayah kekuasaan tertentu seperti negara, atau dengan skop lebih kecil pulau, kota, kelurahan, kecamatan, dan yang terkecil RT/RW. Dalam setiap area ini idealnya setiap orang punya keterhubungan dan loyalitas yang saling menumbuhkan satu sama lain. Dengan begitu mereka bisa saling mempengaruhi dalam lingkaran kebaikan secara bersama-sama dan dapat juga bersikap loyal terhadap lingkaran yang mereka ciptakan sendiri tersebut, lalu lingkaran kebaikan itu pelan2 akan bergerak ke luar ke area yang lebih besar sehingga pada akhirnya mempengaruhi secara lebih global lagi ke tatanan suatu negara. Dengan begitu mungkin perilaku anarkis (yang bersumber dari insting liar) dapat lebih dikendalikan sehingga semua orang bisa tetap fokus ke mencari solusi terbaik alih2 menyalurkan hasrat primitifnya dalam memberikan opini atau pendapat publik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-11 23:58:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3165490054</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Loyalitas Pada Pimpinan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3190008763</link>
         <description><![CDATA[<p>Secara pribadi aku berusaha memahami bagian bahasa soal loyalitas dan juga beberapa waktu lalu kita bahas soal bagaimana cara mengkritik pemerintah,loyalitas pada negara.</p><p>Aku meraba2 bahwa saat menuliskan ini mungkin situasinya CM merasa prihatin ya dengan generasi mudanya yang makin individualis tidak mau bela negara (walau saat itu posisi negaranya adalah imperialis dan kolonialis siapa tahu generasi muda ini juga sebetulnya tidak mau ikut campur karena secara pribadi juga tidak setuju dengan kebijakan negaranya yg menjajah negara lain). Tapi Ibu CM mungkin melihat ini sebagai kondisi yg memprihatinkan dan dipengaruhi oleh paham utilitarian yang semakin mementingkan diri sendiri dan apatis terhadap hal2 di luar diri termasuk mengabdi pada negara.</p><p>Bahasan kali ini soal loyalitas pada pimpinan, aku masih belum yakin apakah yang dimaksud kita harus loyal pada pimpinan begitu? Kalau pimpinannya ga bener gimana dong? </p><p>Tapi dalam konteks lain aku juga sepakat bahwa kalau kita memang tidak sepakat dengan pemimpin kita ya jangan juga jadi duri dalam daging , atau oportunis saja, hanya sekedar bertahan demi urusan perut tapi di belakang menusuk membicarakan yang jelek2 atau curhat di sosmed atau bekerja dengan tidak baik.</p><p>Kalau memang TDK sepakat ya bicara langsung belajar asertif menyampaikan pendapat kalau tetap deadlock ya dengan besar hati tinggalkan saja atau kalau memang tetap butuh ya jalani dengan baik dan mau ga mau ya ikuti cara yang dimau oleh sang pimpinan.</p><p>Hidup memang soal pilihan2 itu dan tidak semua pilihan itu enak, selalu ada konsekuensinya.Secara pribadi aku memahami bagian bahasa soal loyalitas dan juga beberapa waktu lalu kita bahas soal bagaimana cara mengkritik pemerintah,loyalitas pada negara. Aku meraba2 bahwa saat menuliskan ini mungkin situasinya CM merasa prihatin ya dengan generasi mudanya yang makin individualis tidak mau bela negara (walau saat itu posisi negaranya adalah imperialis dan kolonialis siapa tahu generasi muda ini juga sebetulnya tidak mau ikut campur karena secara pribadi juga tidak setuju dengan kebijakan negaranya yg menjajah negara lain). Tapi Ibu CM mungkin melihat ini sebagai kondisi yg memprihatinkan dan dipengaruhi oleh paham utilitarian yang semakin mementingkan diri sendiri dan apatis terhadap hal2 di luar diri termasuk mengabdi pada negara. Bahasan kali ini soal loyalitas pada pimpinan, aku masih belum yakin apakah yang dimaksud kita harus loyal pada pimpinan begitu? Kalau pimpinannya ga bener gimana dong?  Tapi dalam konteks lain aku juga sepakat bahwa kalau kita memang tidak sepakat dengan pemimpin kita ya jangan juga jadi duri dalam daging , atau oportunis saja, hanya sekedar bertahan demi urusan perut tapi di belakang menusuk membicarakan yang jelek2 atau curhat di sosmed atau bekerja dengan tidak baik. Kalau memang TDK sepakat ya bicara langsung belajar asertif menyampaikan pendapat kalau tetap deadlock ya dengan besar hati tinggalkan saja atau kalau memang tetap butuh ya jalani dengan baik dan mau ga mau ya ikuti cara yang dimau oleh sang pimpinan. Hidup memang soal pilihan2 itu dan tidak semua pilihan itu enak, selalu ada konsekuensinya.</p><p>Jangan standar ganda karena itu akan menyiksa diri sendiri dan menyusahkan yang lain juga (misalnya jadi tidak produktif).</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Jakarta, 28 Oktober 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-28 06:21:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3190008763</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Loyal terhadap Prinsip?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3221469573</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Menjadi loyal terhadap diri sendiri bukan perkara gampang, apalagi dengan embel – embel prinsip diri sendiri. </p><p><br/></p><p>Apa iya kita sudah ‘menemukan’ prinsip diri? </p><p><br/></p><p>Benarkah kita cukup mengerti apa yang menjadi prinsip kita?</p><p><br/></p><p>Kedua pertanyaan tersebut adalah <em>starting point </em>sebelum menginjak langkah berikutnya yakni <em>mengembody</em> atau mengejawantahkan prinsip tersebut dalam diri dan hidup kita sehari – hari, baru kemudian kita menyebutnya dengan tingkatan berikutnya yakni loyal terhadapnya.</p><p><br/></p><p>Dengan kondisi murahnya informasi saat ini, mempunyai sesuatu yang dianggap prinsip hidup tidak hanya berarti ‘saya menemukan petikan falsafah bagus di sebuah tabloid elektronik dan rasa–rasanya bagus menjadi prinsip saya’, </p><p><br/></p><p>Namun lebih ke bagaimana kita <em>madep-mantep-netep </em>terhadap prinsip tersebut adalah panggilan jiwa setelah menjalaninya, menggenapinya dengan upaya ketika prinsip tersebut diuji, oleh keadaan, kehidupan, dan utamanya ketetapan hati <em>versus</em> lingkungan tempat kita <em>exist!</em></p><p><br/></p><p>Bukan apa – apa, kebanyakan sebuah prinsip menjadi kita bengkokan atau menjadi lunak ketika kita berhadapan dengan lawan yang memadai, ketika kita berada dalam keadaan dimana kita harus ‘bertarung’ antara mempertahankannya atau melepaskannya. </p><p><br/></p><p>Bahkan hingga di level tertinggi yang bernama IMAN yang berada dalam ekosistem yang bernama AGAMA!</p><p><br/></p><p>Saya kembalikan lagi kepada dua pertanyaan awal di depan, mari kita ganti kata prinsip dengan kata agama. Dan bagaimana jawaban kita? mari kita renungkan bersama.</p><p>&nbsp;</p><p>Jakarta, 18 November 2024</p><p>&nbsp;</p><p>Nelly</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-18 05:17:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3221469573</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kerendahan Hati (18 Nov 2024)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3222403707</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Dari segala dosa yang ada di dunia ini, penyebabnya ada 3 hal:</p><p>1.	Nafsu kedagingan</p><p>2.	Keinginan mata</p><p>3.	Keangkuhan diri</p><p>Dari ketiga ini, yang paling sulit dikendalikan adalah keangkuhan diri. </p><p>Ketika kita bicara nafsu kedagingan, yang berarti hawa nafsu, seperti hasrat untuk makan banyak, hasrat untuk berbuat curang, hasrat untuk mengutamakan emosi dan lain-lain,  hal-hal ini masih bisa dikendalikan apabila sejak kecil kita melatih pengendalian diri. Begitu juga dengan keinginan mata. Hal ini masih dapat dikendalikan apabila sejak muda kita membiasakan untuk mengendalikan keinginan yang berawal dari mata. Namun bicara keangkuhan diri, itu suatu hal yang amat sulit untuk dikendalikan.</p><p>Dalam hal ini, Yesus Kristus memerintahkan kita untuk menjadi rendah hati. Artinya, kita perlu belajar mengenai kerendahan hati dari Yesus Kristus itu sendiri dan dari anak kecil. Mengapa anak kecil? Karena anak kecil amat berbeda dari orang dewasa pada umumnya: anak kecil itu memiliki hati seputih salju. Mereka masih sangat berkiblat pada kebaikan. Jadi belum banyak hasrat yang menggoda mereka untuk memiliki rasa lebih dibanding yang lain,hasrat mana merupakan cikal bakal keangkuhan. Seiring waktu, saat pengetahuan bertambah, saat pengalaman bertambah, disitulah godaan untuk menjadi angkuh semakin besar. Dalam hal ini, iblis tidak tinggal diam. Dia terus mencoba untuk menyentil kita untuk berubah yang dari sebelumnya rendah hati menjadi merasa diri lebih, alhasil menjadi angkuh.</p><p>Hanya dengan refleksi terus-menerus, hanya dengan merenungkan firman Tuhan, bahwa sesungguhnya saat diri merasa lebih, sesungguhnya itu bukan karena kita hebat, melainkan karena Tuhan itu hebat. Dan Tuhan yang menaruhkan segala kelebihan itu dalam diri kita. Hanya dengan merenungkan firman Tuhan, bahwa kita hanyalah ciptaan sementara kesempurnaan hanya milik Tuhan, Sang Pencipta. Disitulah kerendahan hati muncul dan mulai mendominasi pikiran kita. Itu sebabnya refleksi, merenungkan firman Tuhan, menjadi krusial dalam  menjalani hari demi hari, agar kita tetap waspada terhadap tipu muslihat iblis, dan alhasil kita tetap bisa memiliki hati seperti anak kecil, yaitu rendah hati.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-18 15:17:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3222403707</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tambahan Kerendahan Hati:</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3223214312</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Catatan: Mulai kata-kata "Mengapa anak kecil" sampai selesai adalah refleksi saya, bukan bagian dari tulisan CM. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 01:35:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3223214312</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Obat Mujarab Merintangi Pelanggaran Diri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3225727699</link>
         <description><![CDATA[<p>Manusia makhluk yang kompleks. Salah satu kompleksitasnya adalah dia memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun, demi pemenuhan kebutuhan dasar tsb. ada potensi pelanggaran. Seperti terlalu menaruh intensitas pikiran ke dalamnya. Tanpa mempertimbangkan kebutuhan lain.</p><p><br/></p><p>Godaan pelanggaran lainnya bersumber dari mata. Ketika mata tidak ditundukkan pandanganya, hal itu berpotensi liar dan melahirkan pikiran dan khayalan negatif yang memunculkan tindak kejahatan.</p><p><br/></p><p>Namun, sumber pelanggaran diri paling berbahaya menurut Ibu CM adalah kebanggaan. Bangga merupakan dorongan jiwa untuk lekat pada sesuatu. Entah berupa barang, jabatan dan pencapaian. Alih-alih mengambil jarak, sikap bangga mengidentifikasi diri menjadi bagian sumber kebanggaan tsb. Sampai sukar dipisahkan.</p><p><br/></p><p>Hadirnya nafsu lahiriah yang meminta terus dipuaskan, mata yang menuntut pandangan akan keindahan dan kebanggaan bukan tanpa tujuan. Namun, ketiganya menjadi bahan bakar manusia menuju peradaban. Hanya, porsi kecukupan penting sekali sebagai tembok yang menjadi batasan dari bahan bakar dan pelanggaran.</p><p>Sikap sederhana muncul dari rasa rendah hati. Suatu sikap yang konon dimiliki oleh para penghuni surga. </p><p><br/></p><p>Sesungguhnya manusia terlahir dengan bakat rendah hati. Anak-anak merupakan contoh terbaik dari lelaku rendah hati. Mereka belum mengidentifikasi diri dengan pengetahuan dan pengalaman kesehariannya. Lihatlah bagaimana mereka serius memperebutkan sesuatu yang berujung pada perkelahian sengit. Namun, begitu mereka keluar dari area pertandingan, mereka akan akrab kembali. Seperti tak terjadi apa-apa. Orang dewasa gila mana yang mampu berperilaku sekehendak jiwa seperti itu.</p><p><br/></p><p>Begitu pula sumber kebaikan itu sendiri. Allah mahabaik. Dia Mencipta sekaligus Mendidik makhluk-makhlukNya secara pribadi. Sentuhan kasih sayangNya membuat manusia terbuai. Kadangkala kehalusan didikanNya mendorong manusia bertindak sekendak hatinya. Namun, ampunan dan cintaNya menjadi sumber harapan yang terus menyala-nyala.</p><p><br/></p><p>Pamulang, 20 November 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-20 06:57:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3225727699</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kebanggaan Hidup dan Kerendahan Hati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3232694626</link>
         <description><![CDATA[<p>Dari 3 penyebab pelanggaran dalam diri manusia yaitu nafsu lahiriah, nafsu mata dan kebanggaan hidup dinyatakan bahwa kebanggaan hiduplah yang paling mematikan.</p><p>Setelah saya renungkan lebih mendalam mengapa kok kebanggaan diri yang paling mematikan lantas menemukan jawaban bahwa karena kebanggaan diri ini sifatnya halus sekali nyaris tidak nampak sebagai sesuatu yang salah, beda dengan nafsu lahiriah atau mata yang begitu mudah dikenali sebagai suatu pelanggaran, kalau kebanggaan diri kadang mewujud sebagai dampak dari perbuatan2 yang sekilas nampak mulia, misalnya punya peran penting dalam masyarakat, berhasil melalui kesulitan, mempunyai pengetahuan yang banyak karena mungkin termasuk dengan banyak bacaan dan pengetahuan, punya gelar akademik yang tinggi, punya kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Semua hal yang memungkinkan pemiliknya seringkali tidak sadar kalau lantas menjadi sombong karena kebanggaan diri yang berlebih tersebut, memandang dirinya yang paling benar dan yang lain pasti salah, bahwa pendapatnya lah yang Pali sahih sehingga sulit menghargai pendapat yang berbeda, bahkan mungkin secara ekstrim bisa menimbulkan kesewenangan bahkan malapetaka dunia seperti kebanggan diri berlebih yang ditunjukkan oleh Hitler pada masanya, memandang bahwa ras Arya paling berharga di muka bumi.</p><p>Dalam level yang sederhana bisa juga kita atau aku yang sekarang mentahbiskan diri sebagai praktisi CM sebuah metode yang kuanggap adi luhung lantas juga menjadi memiliki kebanggaan diri yang tidak pada tempatnya dan memandang semua yang tidak mengenal atau memakai metode ini dalam mendidik anaknya sebagai "ortu" yang kurang baik, atau sebagai pelaku hidup sustainable lantas menjadi begitu mudah melabeli orang yang belum punya laku hidup demikian.</p><p>Sungguh kita harus berhati-hati dan tetap bisa rendah hati, sebagaimana anak - anak yang menjadi contoh teladan rendah hati, justru karena masih polos dan apa adanya minim pengetahuan mereka malah bisa menjadi pribadi yang rendah hati tidak mudah menghakimi orang lain ataupun menjadi jumawa.</p><p>Jadilah orang berpengetahuan, ber harta, banyak berkarya tapi tetap memiliki sikap seakan tak memiliki apa2 yang senantiasa terbuka terhadap kritik, masukan dan bisa menerima kesulitan hidup dengan penuh syukur dan sukacita karena sadar yang Maha Tahu, Maha Kaya, Maha segalanya adalah Sang Pencipta semata.</p><p><br/></p><p>Jakarta, 25 November 2024</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-25 09:02:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3232694626</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SUKACITA ADALAH KEWAJIBAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3490688719</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam bab ini bu CM menerangkan bahwa hidup tanpa sukacita itu adalah hidup yang muram, maka manusia jadi wajib bersukacita. Kenapa? Karena suka cita akan mendatangkan keceriaan dan kepuasan bantin dalam diri manusia. Meskipun manusia itu sedang berada di situasi yang tidak menyenangkan untuknya, dengan bersukacita Ia jadi mudah untuk ceria Kembali dan berpotensi menemukan solusi terbaik dari situasi yang sedang dialaminya. Sukacita memang perlu ditumbuhkan agar manusia tidak terpaku pada hal-hal remeh yang dianggap menyulitkan dirinya. Terakhir bu CM menyarankan untuk bersukacitalah senantiasa dan bersukacitalah!. Tapi aku masih belum paham tentang apa yang dimaksudkan sebagai "anjing hitam" oleh ibu CM.</p><p><br/></p><p><em>Keadilan yang universal</em></p><p>Di sini bu CM menjelaskan tentang 2 hal yang ada dalam diri manusia, yaitu cinta dan keadilan. Kedua hal ini dibutuhkan oleh manusia, hanya saja kadarnya perlu dikelola. Tidak boleh terlalu banyak dan juga tidak boleh terlalu minim. Hanya kadar yang paslah yang membuat cinta dan keadilan yang ada dalam diri manusia bisa berjalan seimbang dan memberikan manfaat baik bagi manusianya. Oleh sebab itu, butuh pengawasan yang terus menerus bagi keduanya untuk bisa memastikan keseimbangan porsi antara keduanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-06-15 14:57:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3490688719</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3596204652</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PRASANGKA</strong></p><p><strong>22/09/25</strong></p><p><br></p><p>Dalam sub bab ini bu CM menggambarkan prasangka seperti kaca mata merah jambu, kuning jahat, hijau atau hitam. Tergantung bagaimana kita "melihat" situasi yg datang. Artinya terjemahan dari situasi itu akan byk bergantung pada sudut pandang manusianya secara pribadi. Bagaimana kita memaknai situasi sesuai dg cita rasa personal yang tentu dipengaruhi pula oleh pengalaman2 serta pengetahuan yg pernah diterima. Nah, formula seperti ini kurang (klo ga bisa dikatakan tidak) berhasil memetakan suatu situasi secara objektif sesuai dg faktanya. Inilah yg disebut prasangka. Smntr kejernihan pandang senantiasa bergerak dlm cahaya. Cahaya terang yg bisa memetakan suatu situasi dg jelas, clear, objektif, sesuai dg data dan fakta yg ada di lapangan. Dengan begitu, tugas manusia adalah berupaya secara sadar utk terus memiliki kejernihan pandang alih2 terperangkap dalam merah jambunya prasangka. Dengan demikianlah keadilan jadi punya kesempatan untuk mengalir keluar, bebas hambatan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-21 22:07:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3596204652</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rasa Hormat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3606596577</link>
         <description><![CDATA[<p>27 Sept 2025 (diskusi 22 Sept 2025)</p><p><br/></p><p>"Saya akan menghormati karena dia pantas dihormati" atau "Jika mau dihormati maka hormati dulu orang lain" . Kalimat itu sering sekali digaungkan seperti kalimat keadilan dan timbal balik yang murni dalam kemasyarakatan.</p><p><br/></p><p>Adilkah itu?  Layakkah kita mendapat rasa hormat karena terlebih dahulu menghormati? Pantaskah kita menilai "kehormatan" orang lain dengan kaca mata kita sendiri atau karena status sosial tertentu?</p><p><br/></p><p>Dalam tiap mahluk hidup telah dihembuskan ruh illahi. Ruh suci Sang Maha Mulia ada pada tiap diri mahluknya. Kalaulah tiap kita mengingat dan menyadari itu selalu, maka sikap "meminta balasan" akan penghormatan dan mengkadar orang lain untuk sebuah penilaian akan enggan direalisasikan.</p><p><br/></p><p>Menabur, memberi, menjaga, layaknya hal yang terus menerus dijalankan, biarlah Hak Mutlak Sang Khalik untuk menilai dan membalas semuanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-27 05:44:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3606596577</guid>
      </item>
      <item>
         <title>*Pencemar Nama dan Iri Hati.*</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3675197276</link>
         <description><![CDATA[<p>Disini ibu CM mengingatkan untuk menahan diri menjaga lisan agar tidak mudah mengucapkan atau membicarakan keburukan orang lain. Karena ketika membicarakan keburukan orang lain dan itu benar bisa dikatakan itu adalah ghibah ( jika orang uang bersangkutan mendengar pasti akan sakit, ataupun mempengaruhi orang lain untuk membenci orang tersebut), tetapi jika yang dibicarakan itu salah tentu akan menjadi fitnah bagi orang tersebut. Medkipun sebetulnya motif dari seseorang membicarakan keburukan orang lain itu banyak bisa karena rasa iri, atau orang tersebut pernah terluka oleh orang yang dibicarakan atau memang sifat orang itu suka saja membicarakan keburukan orang, tetap bijaklah ketika berbicara dipikirkan terlebih dahulu dampaknya.</p><p><br/></p><p>Mengenai iri sendiri di dalam 10 perintah tuhan jelas di point terakhir ada kalimat jangan iri, dengki atau mengingini yang dimiliki saudaramu, walaupun iri adalah fitrah setiap manusia , sesuatu yang wajar ketika melihat orang lain yang lebih baik, cantik, kaya, pintar pokoknya mengagumkan kita ada rasa ingin seperti itu,  tergantung sikap apa yang selanjutnya kita ambil memotivasi diri untuk lebih baik lagi, ataukah menjadi dengki ingin mencibir ataukah sampai ingin menghilangkan apa yang dimiliki oleh orang lain. Tentu disini ibu CM mengingatkan untuk berbijaksana kembali, agar jangan melampaui batas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-11-10 12:15:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/i9oihcvr36jt9ccq/wish/3675197276</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
