<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>1305 KM by Nini Asmara Puji</title>
      <link>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu</link>
      <description>My enemy is distance</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-08-05 05:46:29 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-06-28 12:33:53 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f422.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>(1) SI KURA-KURA NINJA</title>
         <author>asmarapuji_</author>
         <link>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3072170154</link>
         <description><![CDATA[<p>Hello guysss... </p><p>Mau ngenalin salah satu laki-laki spesial yang ada di hidupku, namanya Muhammad Farhan Firdaus dan orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Farhan atau Faank, aneh bukan. Tapi aku lebih suka memanggilnya KETUA wkwkw... Kenapa ketua, karena dia adalah mantan ketua kelompok ASOKA ketika kami mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Aceh. Yapp... kami bertemu dan kenal melalui program PMM yang diselenggarakan oleh KEMENDIKBUD.  </p><p>Hmmm... mau cerita apa ya? kayaknya mau gosipin beliau aja deh ya wkwkw... jadi guys dulu pertama kali kita ketemu itu waktu pertemuan pertama kelompok asoka di tugu kopelma darussalam banda aceh. Awal ngeliat beliau sih nggk yang gimana-gimana ya, kayakk "Ohhh ini ketuanya" gitu doang. Soalnya aku tu sebenarnya masuk kelompok Roja tapi karena dari pusat gabut jadinya diubah lagi semuanya, yaudah deh pindahlah aku ke kelompok Asoka yang dimana sebelumnya udah ngebentuk kepengurusan sama halnya dengan kelompok-kelompok yang lain.</p><p>Oke lanjut, aku teringat dengan pesan pertamanya kala itu, bunyinya...</p><p><br/></p><p><em>Permisi</em></p><p><em>Save yah </em></p><p><em>Farhan atau Faang </em></p><p><em>dari sukabumi</em></p><p><em>Nama pangilannya siapa, dan dari mana ?</em></p><p><em>Mohon kerjasamanya untuk menjadi kelompok yang selalu kompak dan sukses selalu.</em></p><p><em>Asoka menyala 🔥</em></p><p><br/></p><p>Wkwkw begitu formal bukan, seketika waktu itu aku nyeletuk "Dihh ni ketua formal bener, sok asik aja nggk sih harusnya sesama anggota kelompok" kataku waktu itu. Tapi setelah beberapa bulan satu kelompok bersama ternyata beliau tidak seperti yang dibayangkan. Ternyata beliau bisa menyesuaikan dirinya dalam berbagai suasana dan keadaan, yang dimana kadang tengil, suka bercanda dan ngeselin tapi diwaktu tertentu beliau bisa menjadi sosok ketua yang bijaksana yang dimana dia benar² memposisikan dirinya layaknya seorang ketua. Jujur aku banyak mengikuti organisasi atau kepanitiaan, tapi untuk pertama kalinya aku ketemu dengan seorang ketua yang benar² bisa dan paham bagaimana layaknya seorang ketua itu. Kadang sering kali aku perhatikan setiap modul nusantara, hal kecil seperti makan saja ia mendahulukan semua anggota dibandingkan dirinya sendiri, mungkin orang-orang menganggap nya itu hal biasa pada seorang ketua, tapi menurutku hal kecil seperti itu he managed to do it every time. Kadang aku selalu kasian sama dia yang selalu mengedepankan semua orang tapi lupa dengan dirinya sendiri. Bahkan pernah suatu saat waktu di aceh dia sakit, dan bisa² nya orang sebaik dia di abaikan begitu saja oleh beberapa orang, dan itu aku benar-benar sedih melihatnya. Tidak hanya itu, dia juga sosok ketua yang sangat baik dan bahkan terlalu baik menurut ku. Hebatnya lagi diberbagai situasi ia bisa memposisikan dirinya sebagai penengah, dan benar-benar sosok orang yang menurut ku paling sabar. Tapi entah kenapa dari banyaknya riuh di kepalanya yang banyak orang tidak tahu sekalipun mungkin, aku tidak pernah melihat wajah murung ataupun kesedihan darinya. Senyumnya yang khas itu tidak pernah meninggalkan wajahnya, walaupun kami tahu ada banyak keluh kesah yang mungkin tidak pernah mau dia cerita dengan siapapun. </p><p>Jadi pahamkan kenapa seorang Nini Asmara yang sulit sekali suka sama orang bisa buka hati untuk manusia satu ini. Yaaa walaupun kadang orangnya ngeselin, tapi nggak papa deh, setidaknya kehadirannya sudah cukup menjadi cahaya yang menuntun kehangatan di hidupku dikala aku sendiri berusaha memadamkan lilin kehidupanku (ishh alay nyaa). </p><p>Dan aku harap beliau akan selau ada disetiap detik dan setiap aspek dalam hidupku kedepannya, karena satu dunia harus tahu kalau beliau itu spesial dan sangat berharga di hidupku, sekarang, besok dan selamanya...</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2345445893/8e23ca002695577f65fd61d0022b3bbb/WhatsApp_Image_2025_01_12_at_21_04_08_83086d3b.jpg" />
         <pubDate>2024-08-10 15:56:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3072170154</guid>
      </item>
      <item>
         <title>(2) REVIEW 6 BULAN LDR</title>
         <author>asmarapuji_</author>
         <link>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3265164757</link>
         <description><![CDATA[<p>Ini mau ngasih rating berapa ya bingung, soalnya rasanya tu kayak nanonano alias berbagai rasa, ada senangnya dan juga ada sedihnya. Tapi sebenarnya bukan tentang itu semua, tapi tentang apa yang bisa di ambil pelajaran dari semua ini dan bagaimana caranya menyikapi keadaan ini dengan tenang. Salah satu temanku hampir setiap ketemu atau setiap chatingan selalu nanya "kamu sama dia masih kah" dan tentu saja aku jawab sesuai fakta. "Kok bisa" tanya nya lagi,  mendengar pertanyaan itu refleks ingatan ku selalu berputar tentang bagaimana selama ini aku menjalani hari-hari yang berat untuk bertahan, bukan bertahan dengan orangnya, tapi bertahan dengan keadaannya. Mungkin kalau aku jawab kami bertahan karena komunikasi yang rutin itu tentu saja bohong, sebab kami adalah 2 manusia dengan berbagai hal yang ingin selalu di coba dan banyak mencoba sesuatu sehingga mungkin komunikasi kami sebatas "kalau sempat". Apakah itu memberatkan kami, tentu saja iya, terutama aku sebagai wanita yang kadang menanggapi semuanya dengan perasaan. Benar, disini aku yang paling banyak ngeluhnya, aku yang paling banyak ragunya, dah aku yang paling banyak takutnya mungkin. </p><p><br></p><p>Katanya, dia selalu menyibukkan diri agar tidak terlalu kepikiran dengan keadaan kami saat ini. Dan begitupun denganku, berbagai hal aku lakukan agar hari-hari ku tidak habis hanya untuk memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya aku khawatirkan. Tapi aku salah, ku kira kesibukan itu akan mengalihkan semuanya, tapi ketika aku lelah dengan semuanya justru aku sedih harus menerima fakta bahwa rumah tempatku pulang untuk menceritakan hari-hari ku nyatanya berada jauh dariku. Mungkin aku bisa menceritakan semuanya, tapi bagaimana kalau aku katakan bahwa berbicara dengannya mungkin akan menjadi obat dari semua hari-hari panjang dan melelahkan, itu baru berbicara, bagaimana kalau orangnya ada di samping ku, hmm... Sepertinya aku dan lelah akan asing kali ya wkwkwk.</p><p><br></p><p>Disaat aku sedang ribet (rindu berat) banyak hal yang aku lakukan supaya aku bisa merayakan rindu ini dengan bahagia bukan dengan kesedihan terus. Pertama adalah dengan pergi ke alam atau pantai sendirian ditemani tas biru kesayangan ku (pemberian dia) yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi. Kadang disana aku sambil makan-makan atau sekedar mendengarkan musik yang ketika diputar lagu yang rilet dengan per LDR-an ini aku yang sedih hahahaa... Tapi itu tidak mempan, beda cerita kalau tiba-tiba lewat sepasang orang yang sedang duduk atau jalan berdua dengan pacarnya, pasti detik itu juga aku akan mengangkat kaki dari tempat itu, daripada kepikiran kan. Selain itu kalau aku lagi malas keluar pasti aku bakal diem dikamar sambil gambar foto kami atau foto dia kalo akunya lagi mood tapi, kadang juga aku masak sesuatu yang enak seolah-olah aku memasak untuknya, hahaha gila sekali. Apalagi ya, ooo iya kadang juga aku menulis sesuatu tentangnya seperti halnya yang ku tulis sekarang ini.</p><p><br></p><p>Kadang aku merasa takdir ini seringkali tidak adil. Aku yang pertama kali merasakan yang namanya pacaran malah langsung LDR. "Dong apa bedanya" pikir ku dulu. Dan tentu saja berbeda, bahkan sangat berbeda. Jika kesendirian ku dulu hanya berwarna hitam putih, mungkin sekarang bisa di definisikan sangatlah berwarna. Aku keinget dulu pokoknya nggak bakal pacaran kalau belum menginjak umur 20 tahun, dan maunya sekali aja pacarannya bersama orang yang aku suka dan juga menyukaiku, tapi ahhh sayang sekali aku lupa rekues jarak, dulu mana sempat kepikiran bakal sama Aa' sunda berkumis tipis yang tengil dan juga ngeselin itu. Hmmm untung sayang ya..</p><p><br></p><p>Tapi-tapi, btw ini ketemunya kapan ya, masak kami hanya ketemu di Aceh cuma 5 bulan tapi LDR nya udah 6 bulan, dong kelamaan LDR nya inimah. Terus untuk waktu yang lama ini aku kuat nggak ya, terus dia juga disana kuat nggak ya, bagaimana kalau kami cape, atau mungkin aku atau dia aja. Tapi aku kayaknya engga bakal, toh juga kalau cape tinggal disemangati dan dibujuk pasti kuat lagi. Tapi kan dengar-dengar kalau cowo udah cape bakal susah ya hmmm, semoga dia tetap kuat deh dengan keadaan ini terutama kuat ngadepin akunya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2345445893/af324883c1a860c5ca7874e78465927f/IMG_20240531_WA0049.jpg" />
         <pubDate>2024-12-17 16:34:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3265164757</guid>
      </item>
      <item>
         <title>(3) BADAI PASTI BERLALU</title>
         <author>asmarapuji_</author>
         <link>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3265215800</link>
         <description><![CDATA[<p>Dulu aku sering bertanya-tanya kenapa sulit sekali aku menemukan cinta yang setara itu, sebab aku selalu berada di salah satu nya entah aku yang menyukai atau disukai tapi tidak pernah berjalan beriringan. Hingga suatu ketika di pulau paling barat indonesia yaitu Aceh, aku menemukan seseorang yang sekarang menjadi manusia favoritku, pertemuan yang hanya 5 bulan itu cukup membuatnya berarti bagiku, seseorang yang membuatku merasa dicintai dan mencintai dengan tulus, walau akhirnya kami harus berpisah oleh jarak, tapi darinya semua jawabanku terjawab sudah, bahwa cinta yang setara itu ada, hanya saja kita harus melewati jarak dan waktu untuk menemukannya.</p><p><br></p><p>Dan untuk dia manusia favoritku yang jauh disana, aku tidak pernah sedikitpun merasa menyesal mencitaimu. Sebab, salah satu bagian takdir hidupku yang paling aku sukai adalah saat aku menyadari kalau aku jatuh cinta kepadamu. Jika rindu adalah musuh terbesar, maka biarkan aku mencoba menjadi teman baiknya, biarkan rindu itu melukaiku sampai ia sadar bahwa aku adalah teman baiknya yang akan selau sabar menghadapinya. Kau tahu? aku bahkan tidak pernah tahu sejak kapan aku menaruh kita dalam separuh hidupku. Lucunya lagi, kau tidak pernah mengizinkan pikiranku untuk istirahat, bahkan saat aku tertidur kamu datang dalam bentuk mimpi. Padahal jauh sebelum aku mengenalmu, aku hanyalah sekumpulan badai yang tak bisa ditaklukan dan juga tak ada yang mampu untuk menenangkannya. Namun sepertinya aku salah, pada kamu aku paham arti "BADAI PASTI BERLALU"....</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2345445893/6d8dfe1e5de120194691b7187f636280/WhatsApp_Image_2025_01_12_at_21_40_15_08f06726.jpg" />
         <pubDate>2024-12-17 17:17:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3265215800</guid>
      </item>
      <item>
         <title>(4) DISTANCE IS PAIN</title>
         <author>asmarapuji_</author>
         <link>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3720168785</link>
         <description><![CDATA[<p>Tahu ga? Part paling menyakitkan saat ldr, yaitu ketika kita tidak tahu kapan bisa bertemu lagi. Mungkin bagi para pejuang LDR itu kedengerannya wajar. Beberapa ada yang sudah tahu akan ketemu beberapa bulan atau tahun lagi, tapi tidak berlaku bagi mereka yang memang dari awal terpisah karena berasal dari tempat dan asal muasal yang tentunya jauh berbeda, seperti beda kota, pulau, bahkan negara. Apalagi jika kendala utamanya adalah keadaan, mungkin orang lain ngeliatnya mudah ya gitu tinggal ketemu aja apa susahnya, toh juga kalau beneran serius pasti bakal diusahakan. Yahh benar diusahakan, tapi lebih tepatnya sedang diusahakan. Tapi satu hal yang pasti setiap proses usaha seseorang itu tidak sama, ada yang cepat dan ada pula yang lama, tapi bukan soal itu, melainkan ada atau tidaknya usaha itu, itu yang penting.</p><p><br></p><p>Tahu part kedua yang paling menyakitkan? Iya, tidak ada momen satupun yang dikenang ketika sudah jauh dan terpisah. Kebanyakan orang ldr mungkin sebelum berpisah akan meluangkan banyak waktu, membuat ribuan momen, dan sejuta pengalaman bersama untuk nantinya dikenang ketika sudah terpisah oleh jarak. Sayangnya, tidak semua punya kesempatan seperti itu, malah beberapa ada yang mulai dekat ketika sudah terpisah jarak, alhasil bukannya meninggalkan kenangan dan momen berharga ketika masih bisa bertemu justru malah meninggalkan sejuta penyesalan karena ketidak adanya momen untuk dikenang.</p><p><br></p><p>Yahhh, itulah yang aku dan dia rasakan sekarang, berawal dari pertemuan singkat yang membuat kami saling mengagumi satu sama lain dalam diam, yang dimana perpisahan lah yang menyadarkan kami bahwa ternyata perasaan kami ada dan nyata, hingga akhirnya dalam jarak yang paling jauh kami mencoba menulis cerita bersama. Tapi sayangnya, semuanya terasa begitu sulit dari apa yang kami bayangkan. Ketika para pejuang ldr bernostalgia tentang bagaimana indahnya cerita mereka saat bersama, kami justru masih larut dalam penyesalan dan sibuk berandai-andai, andai ya kita deketnya dari dulu waktu masih sama-sama, andai kita bisa mengulang waktu, andai dari awal kita jujur tentang perasaan satu sama lain, andai dari dulu kita sering fotoan bareng, dan masih banyak andai-andai lainnya. Hingga suatu ketika disetiap harinya ketika chatingan, telponan atau videocallan, aku ngeliat dia begitu peduli dan penuh akan kasih sayang terhadapmu, tapi aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak punya bayangan sedikitpun seandainya kepedulian dan kasih sayang itu aku rasakan secara langsung kayak gimana ya, nyesek banget bukan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/2345445893/a1d38361797339e8bed3ed489ec49025/image.png" />
         <pubDate>2025-12-12 03:42:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3720168785</guid>
      </item>
      <item>
         <title>(5) 🙌</title>
         <author>asmarapuji_</author>
         <link>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3966536085</link>
         <description><![CDATA[<p>Ku kira dulu jatuh cinta dan dicintai akan sesimpel itu, aku memahami dia dan dia memahami aku. Tapi ternyata aku tidak tahu kalau orang serumit aku akan jatuh cinta segininya. Maksudnya, aku yang terbiasa sendiri, selalu ngerasa kalau aku hanya punya diriku selama ini. Hingga akhirnya seseorang datang lalu untuk pertama kalinya bilang kepadaku "Jangan pernah merasa sendiri apapun itu, repotkan aku, ganggu aku, terus ketika kamu lagi ada masalah libatkan aku apapun resiko nya, ga adil namanya ketika kita bisa tertawa bareng tapi ketika kamu sedih kamu sendirian" Terdengar berlebihan, tapi entah kenapa waktu itu dia berhasil membuktikannya, dia yang selalu ngeyakinin aku, selalu ada buat aku, perhatian kepadaku, dan selalu nanyain tentangku. Hingga akhirnya perlahan aku mulai terbiasa dengan semua itu, semua hari²ku tak ada satupun tanpa dia. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan menginjak 2 tahun, dia sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Ketika aku sedih, bingung, kecewa, cape dll aku selalu mencarinya, hingga hal² kecil sekalipun aku selalu membutuhkan, padahal posisinya jauh beribu kilometer dari tempatku, tapi entah kenapa seakan akan hidupku selalu dikelilingi olehnya. Dan akhirnya aku sadar satu hal, kalau sekarang aku tidak bisa hidup tanpanya. Kabar buruknya aku sadar kalau hidupku sudah bergantung dengannya, bahkan ketika dia telat mengabariku aku ngerasa kalau dia sudah tidak sayang denganku, saat dia ketiduran tanpa mengabariku rasanya dia sudah tidak peduli denganku, bahkan saat dia terlalu sibuk dengan kerjaannya aku ngerasa sudah tidak diprioritaskan lagi. Segitunya? iya segitunya, entahlahh dirikupun tidak menyangka cewek secuek, bodo amat, dan gengsian ini bisa seperti itu saat jatuh cinta. Ada lagi kabar buruknya, karena kebiasaanku itu entah kenapa aku selalu melihatnya dengan rasa kecewa, tidak pernah memahami posisinya, hingga akhirnya aku selalu cape sendiri dengan perasaanku, bahkan menurutku perasaanku ini terlalu merepotkan baginya. Pernah suatu ketika karena perasaanku ini membuatku cape sendiri dan selalu ngerasa kalau aku tidak pernah dipahami dan akhirnya aku memilih untuk mundur (yapp putus), dan karena ngerasa bersalah dia hingga akhirnya mengiyakan. Tapi ternyata itu adalah kesalahan terbesarku, aku baru menyadari satu hal kalau selama ini aku yang kurang memahaminya, dan entah kenapa rasanya sakit sekali, aku meninggalkan tapi aku yang berantakan. Disisi lain dia juga merasakan hal yang sama, dia mencoba kembali memperjuangkanku dengan caranya, dan kami mencoba memperbaiki semuanya kembali. Sekarang aku paham satu hal, mencintai bukan berarti menggenggam terlalu erat, yang ada hal itu akan membuat kita terlalu sakit bukan? Aku sadar kalau aku tidak bisa tanpanya, dan tidak akan bisa meninggalkannya. Tapi mungkin sekarang aku akan mencoba membacanya, memahami maknanya, dan akan lebih banyak mempelajarinya. Terkait aku? Yaa sekarang aku lagi berusaha untuk tidak lagi dititik terlalu memaksakan seseorang untuk selalu ngertiin aku, tidak lagi menjelaskan bagaimana aku harus diperlakukan, bahkan untuk hal² yang kedengerannya terlalu kecil untuk dijelaskan. Aku tidak lagi menjadi penghambat siapapun, dia boleh kamanapun dan ngelakuin apapun yang dia mau, intinya disini aku akan selalu percaya. Kata orang kita harus mengikuti dan mempelajari dengan cara apa seseorang ingin dicintai bukan dengan cara kita. Dan yaa mungkin dengan caraku salah, maka pelan pelan aku akan mulai mempejalari caranya. Walaupun aku juga ingin dicintai dengan caraku, tapi jika dia tetap mau mencintaiku dengan caranya maka aku yang akan belajar menerimanya. Barangkali dari ribuan bentuk cinta di dunia ini, kita kebagian yang mempelajari dan memahami saja, siapa tau kita berhasil kan, tapi kalau tidak semoga dikesempatan lain kita punya kesempatan untuk sama sama belajar. For now, i loved him enough to stop holding on, i let him have the space he wanted, make his own choice, and follow the path he believed waw right for him....</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/2345445893/f8519d752fbc86d465947b36d9bdb825/1000325105.jpg" />
         <pubDate>2026-06-28 12:21:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/asmarapuji_/i9ixlae93k4v6ccu/wish/3966536085</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
