<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Para Raja yang Berkorban Untuk Bangsa by 24. Mutimmatul Mukarromah</title>
      <link>https://padlet.com/mutimmatulmukarromah8/hokovray765edwlc</link>
      <description>Nama : Mutimmatul M.
Kelas : XII-A2
Absen : 24</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-08-10 08:34:48 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2021-08-10 08:58:28 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>1. Sultan Hamengku Buwono IX </title>
         <author>mutimmatulmukarromah8</author>
         <link>https://padlet.com/mutimmatulmukarromah8/hokovray765edwlc/wish/1673898840</link>
         <description><![CDATA[<div>Sri Sultan Hamengkubuwono IX diangkat menjadi Raja Yogyakarta pada tahun 1940. Beliau menunjukkan rasa nasionalismenya terhadap Indonesia dengan pernyataan beliau bahwa Yogyakarta merupakan bagian dari Republik Indonesia setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan mengirimkan telegram pada tanggal 19 Agustus 1945 yang berisi ucapan selamat kepada Soekarno Hatta atas pembentukan Republik Indonesia dan terpilihnya Soekarno Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. Pada tanggal 20 Agustus, melalui telegram kembali, Sultan dengan tegas menyatakan berdiri di belakang Presiden dan Wakil Presiden terpilih.<br><br>Akhirnya pada tanggal 5 September 1945, Sultan Hamengku Buwono IX memberikan amanat bahwa :</div><ul><li>Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia</li><li>Segala kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengku Buwono IX</li><li>Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah RI bersifat langsung dan Sultan Hamengkubuwono IX bertanggung jawab kepada Presiden RI</li></ul><div><br>Bukti lainnya bahwa Sri Hamengkubuwono IX bersikap nasionalisme :</div><ul><li>Sultan Hamengkubuwono IX memberikan fasilitas dalam menjalankan pemerintahan bagi anggota pemerintahan RI yang baru yaitu dengan merelakan daerah Yogyakarta sebagai ibukota RI dan markas TKR.</li><li>Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan perlindungan dan bantuan logistik bagi TNI dalam peperangan untuk mendapatkan kemerdekaan.</li><li>Sultan Hamengkubuwono IX menolak tawaran dari Belanda untuk dijadikan sebagai raja di seluruh Jawa pada saat berlangsungnya agresi militer Belanda yang ke-2.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-08-10 08:35:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mutimmatulmukarromah8/hokovray765edwlc/wish/1673898840</guid>
      </item>
      <item>
         <title>2. Sultan Syarif Kasim II</title>
         <author>mutimmatulmukarromah8</author>
         <link>https://padlet.com/mutimmatulmukarromah8/hokovray765edwlc/wish/1673909247</link>
         <description><![CDATA[<div>Sultan Syarif Kasim II dinobatkan sebagai Raja Siak Indrapura pada tahun 1915 ketika masih berusia 21 tahun. Raja Sultan Syarif Kasim II memiliki sikap bahwa Kerajaan Siak memiliki kedudukan yang sama dengan Belanda sehingga kebijakan-kebijakannya banyak bertentangan dengan keinginan Belanda. Hal ini membuktikan bahwa Sultan Syarif Kasim II merupakan tokoh raja yang mencintai Indonesia dan rela berkorban dengan cara menentang Belanda.&nbsp;<br><br>Bukti lainnya, antara lain:</div><ul><li>Sultan Syarif Kasim II memberikan ucapan selamat kepada Soekarno Hatta saat mendengar berita Republik Indonesia telah merdeka dan juga memberikan13 juta gulden untuk membantu perjuangan Republik Indonesia sebagai bentuk dukungan dan kesetiaan kepada pemerintah RI.</li><li>Ia juga membentuk Barisan Pemuda Republik, Komite Nasional Indonesia, dan Tentara Keamanan Rakyat atau TKR yang berada di Siak. Sultan Syarif Kasim II bahkan segera mengibarkan bendera Merah Putih dikerajaannya dan melakukan rapat umum di istana negara untuk mengajak para raja lain di Sumatera Timur untuk bergabung dengan RI.</li><li>Sultan Syarif Kasim II memberikan suplai bahan makanan bagi para laskar TKR&nbsp; saat revolusi kemerdekaan.</li><li>Sultan Syarif Kasim II menyerahkan 30% harta kekayaannya berupa emas untuk Presiden Soekarno demi kepentingan perjuangan di Yogyakarta.</li><li>Sultan Syarif Kasim II menolak bujukan dari Gubernur Jenderal de facto Hindia Belanda yaitu Van Mook untuk dijadikan sebagai "Sultan Boneka" bagi pemerintahan Belanda.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-08-10 08:51:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/mutimmatulmukarromah8/hokovray765edwlc/wish/1673909247</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
