<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Naskah Drama Arloji by Muchammad Yazid</title>
      <link>https://padlet.com/muchammadyazid2/hjkrqfqwhi20ajw7</link>
      <description>Karya P.Hariyanto</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-05-05 15:22:45 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-02-23 18:36:12 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Naskah Drama</title>
         <author>muchammadyazid2</author>
         <link>https://padlet.com/muchammadyazid2/hjkrqfqwhi20ajw7/wish/552465542</link>
         <description><![CDATA[<div>Naskah drama adalah sebuah teks yang berisikan dialog dengan gambaran karakter-karakter tokoh di dalamnya, berfungsi sebagai naskah sastra (untuk dibaca) atau naskah untuk dipentaskan. Kata drama sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti tindakan. <br><br>Berikut ini akan disajikan salah satu contoh naskah drama karya P.Hariyanto dan diharapkan kalian mampu untuk menentukan jumlah dialog dan notasi yang terdapat pada naskah drama tersebut<br><br>Selamat mengerjakan.<br><br><strong>ARLOJI</strong><br>Karangan P. Hariyanto<br><br><strong>PARA PELAKU</strong><br>Jidul : Anak laki-laki berumur 15 tahun<br>Pak Pikun : Pembantu rumah tangga berumur sekitar 40 tahun<br>Ibu : Nyonya rumah berumur sekitar 42 tahun<br>Tritis : Gadis berusia 18 tahun<br><br>KISAH INI TERJADI DI SEBUAH KAMAR DEPAN KELUARGA YANG CUKUP <br>TERPANDANG. TERDAPAT BERBAGAI PERLENGKAPAN YANG LAZIM DI KAMAR <br>TAMU SEMACAM ITU, NAMUN YANG TERPENTING IALAH SEPERANGKAT MEJA <br>DAN KURSI TAMU. PADA KIRA-KIRA PUKUL 09.00 DRAMA INI TERJADI.<br>DENGAN PENUH KERIANGAN, SI JIDUL MEMBERSIHKAN MEJA DAN KURSI-<br>KURSI. KEPALANYA MELENGGUT-LENGGUT, PANTATNYA BERGIDAL-GIDUL <br>SEIRAMA DENGAN MUSIK DANGDUT YANG TERDENGAR MERIAH. JIDUL <br>TERKEJUT KETIKA MUSIK MENDADAK BERHENTI.<br><br><strong>PAK PIKUN</strong> (muncul, langsung menuju ke arah Jidul)<br>Ayo! Mana! Berikan kembali padaku! Ayo! Mana!<br><br><strong>JIDUL</strong> (ber-ah-uh, sambil memberikan isyarat yang menyatakan ketidakmengertiannya)<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Jangan berlagak pilon! Siapa lagi kalau bukan kamu yang mengambilnya? Ayo, Jidul, <br>kamu sembunyikan di mana, heh?<br><br><strong>JIDUL</strong> (ber-ah-uh, semakin bingung dan takut)<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Dasar maling! Belum sampai sebulan di sini kamu sudah kambuh lagi, ya? Dasar nggak<br>tahu diri! Ayo, kembalikan kepadaku! Mana, heh?<br><br><strong>JIDUL</strong> (meringkuk diam)<br><br><strong>PAK PIKUN</strong> (semakin keras suaranya)<br>Jidul! Kamu mau kembalikan apa tidak? Mau insaf apa tidak? Apa mau kupanggilkan <br>orang-orang sekampung untuk mencincangmu, heh? Kamu mau dipukuli seperti dulu<br>lagi? Ayo, mana?<br><br><strong>IBU</strong> (Muncul tergesa-gesa)<br>Eh, ada apa Pak Pikun? Ada apa dengan Jidul?<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Anak ini memang tidak pantas dikasihani, Bu. Dia mencuri lagi, Bu!<br><br><strong>IBU</strong><br>Mencuri? (tertegun). Kamu mencuri, Jidul?<br><br><strong>JIDUL</strong> (ber-ah-uh sambil menggoyang-goyangkan kepala dan tangannya)<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Mungkir, ya? Padahal jelas, Bu! Tadi saya mandi. Setelah itu, arloji saya tertinggal di <br>kamar mandi. Lalu dia masuk, entah mengapa. Lalu tidak ada lagi arloji saya, Bu.<br><br><strong>IBU</strong><br>O, arloji Pak Pikun hilang, begitu?<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Bukan hilang, Bu! Jelas dicurinya! Ayo, ngaku saja! Kamu ngaku saja, Jidul!<br><br><strong>JIDUL</strong> (ber-ah-uh mencoba menjelaskan ketidaktahuannya)<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Masih mungkir? Minta kupukul?<br><br><strong>IBU</strong><br>Sabar, Pak Pikun! Sabar!<br><strong><br>PAK PIKUN</strong><br>Maaf, Bu. Ini biar saya urus sendiri! Kamu baru mau ngaku kalau dipukul, ya? Sini! (Mau <br>memukul si Jidul).<br><br><strong>SI JIDUL</strong> (Meloncat, lari keluar dikejar oleh Pak Pikun)<br><br><strong>IBU</strong><br>Sabar dulu Pak Pikun! Diperiksa dulu! (mendesah sendiri) Ya, ampun! Orang sudah tua<br>kok gegabah, tidak sabaran begitu.<br><br><strong>TRITIS</strong> (Muncul membawa buku dan alat tulis).<br>Uh! Pagi-pagi sudah mencuri. Nganggu orang belajar saja!<br><br><strong>IBU</strong><br>Belum jelas, Tritis!<br><br><strong>TRITIS</strong><br>Ah, ibu sih suka membela si Jidul! Siapa lagi kalau bukan dia yang mengambil arloji Pak <br>Pikun? Apa ibu lupa? Dia kan dulu ketahuan mencuri ayam kita, ketahuan, mau dipukuli <br>orang kampung malah kemudian dibela ayah dan ditampung di rumah kita. Keenakan<br>dia, maka kini mencuri lagi!<br><br><strong>IBU</strong><br>Ya, memang, dulu pernah mencuri. Itu karena ia kelaparan. Tetapi, belum tentu<br>sekarang dia mengambil arloji Pak Pikun, Tritis!<br><br><strong>TRITIS</strong><br>Kalau bukan si Jidul, apa ibu atau aku yang mengambil arloji itu, ibu? (Tertawa).<br><br><strong>IBU</strong> (Menemukan ide).<br>Ah! Mungkin masih ada di kamar mandi, Tritis! Atau mungkin di dekat jemuran. Pak <br>Pikunkan pelupa. Mari kita coba mencarinya! (Bersama Tritis melangkah ke kiri akan<br>keluar, tetapi kemudian terhenti)<br>Terdengar suara ribut. Si Jidul kembali meloncat masuk dari kanan. Maunya berlari, <br>tetapi tersandung sesuatu. Ia jatuh terguling mengejutkan Ibu dan Tritis. Dan sebelum<br>sempat bangkit, Pak Pikun sudah keburu masuk pula dan menangkapnya dengan<br>geram.<br><br><strong>PAK PIKUN</strong> (sambil mengacung-acungkan penggada besar, tangan kirinya tetap<br>mencengkeram leher kaus si Jidul).<br>Mau, lari ke mana lagi, heh? Kupukul kamu sekarang!<br><br><strong>IBU</strong><br>Sabar, Pak! Tunggu dulu!<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Tunggu apa lagi, Bu! Anak nggak benar ini harus saya ajar biar kapok. (Akan <br>memukulkan penggadanya).<br><br><strong>IBU</strong><br>Tunggu dulu! Siapa tahu, Jidul benar tidak mencuri dan Pak Pikun yang tidak benar<br>menaruh arlojinya!<br><br><strong>PAK PIKUN</strong><br>Tak mungkin, Bu! Saya yakin, si Brengsek ini pencurinya. Kamu harus mampus (akan<br>memukulkan penggadanya).<br><br><strong>TRITIS</strong> (Melihat tangan Pak Pikun)<br>Eh, lihat! Arlojinya kan itu! Di pergelangan tangan kananmu, Pak Pikun. Lihat! (Tertawa<br>ngakak).<br><br><strong>IBU</strong><br>O, iya! Betul! Dasar Pak Pikun ya Pikun! (Tertawa geli).<br><br>PAK PIKUN TERTEGUN MEMANDANG PERGELANGAN TANGANNYA YANG <br>KANAN. DILEPASKANNYA SI JIDUL. DIAMAT-AMATINYA ARLOJI ITU. <br>PENGGADANYA SUDAH DIJATUHKAN. DENGAN SANGAT MALU, IA BERJALAN KE <br>LUAR TERTEGUN-TEGUN, DIIRINGI GELAK TAWA IBU DAN TRITIS. SEMENTARA <br>ITU, SI JIDUL PUN TERTAWA-TAWA PULA DENGAN CARANYA SENDIRI YANG <br>SPESIFIK<br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-05-05 15:38:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/muchammadyazid2/hjkrqfqwhi20ajw7/wish/552465542</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>muchammadyazid2</author>
         <link>https://padlet.com/muchammadyazid2/hjkrqfqwhi20ajw7/wish/553929440</link>
         <description><![CDATA[<div>Untuk lebih jelasnya mengenai Drama Arloji, simak video berikut ini.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/ZKccJFO3858" />
         <pubDate>2020-05-06 07:18:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/muchammadyazid2/hjkrqfqwhi20ajw7/wish/553929440</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
