<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Refleksi KHD by Puji Astuti</title>
      <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm</link>
      <description>Silahkan ungkapkan gagasan tentang refleksi KHD</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-05-30 14:19:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-07-01 18:53:12 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4aa.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>1. Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD</title>
         <author>pujiastuti121372</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204737174</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-30 14:22:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204737174</guid>
      </item>
      <item>
         <title>2. Bagaimana Perwujudan Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya</title>
         <author>pujiastuti121372</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204739447</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-30 14:24:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204739447</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman</title>
         <author>pujiastuti121372</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204745721</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-30 14:30:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204745721</guid>
      </item>
      <item>
         <title>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</title>
         <author>pujiastuti121372</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204750892</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-30 14:35:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2204750892</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Riny Herny Yatni (3 )</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205697326</link>
         <description><![CDATA[<div>Indonesia sangat perlu memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Karena Indonesia mempunyai masyarakat yang multikultural dan beragam agama. Sebagai guru, harus pandai memanfaatkan keadaan yg unik di Indonesia. Menuntun itu membutuhkan seni, agar peserta didik merasa nyaman dan bahagia. Sehingga tercapai tujuan membentuk anak yang bahagia dan dapat menyongsong masa depan dengan baik. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:44:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205697326</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nanik Wijayanti. 1. Sebelumnya saya mengajar lebih berpusat pada guru, murid kurang aktif dan berpatokan pada nilai yang harus dicapai murid.  Setelah mempelajari filosofis pemikiran KHD saya tercerahkan untuk mendidik dengan berorientasi pada murid, memahami dan membantu murid untuk mengembangkan potensi dirinya, menghargai keberagaman karakter dan keunikan yang dimiliki setiap anak. Penilaian tidak hanya berdasarkan angka (kecerdasan akademik) tapi juga menilai proses anak dalam belajar dan juga budi pekertinya.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205704192</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:49:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205704192</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhamad Anwar Adrian</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205704384</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya mengajar matematika, pada saat awal mengajar saya bertujuan 70% siswa wajib menguasai materi matematika dengan cara belajar dengan sepenuh hati, setelah mempelajari Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya memahami bahwa siswa memiliki minat yang berbeda, setidaknya siswa memahami materi dasar matematika untuk berpikir kritis, dan berpikir kreatif sehingga dapat berkolaborasi untuk menemukan pemecahan masalah.<br>Dengan demikian, guru dapat membimbing siswa untuk menemukan minat sesuai kodrat sesuai dengan kodrat dan alamnya sebagai manusia sehingga melestarikan peradaban dan kebudayaan yang berlaku.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:49:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205704384</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Veranika SMPN 88 Jakarta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205709006</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengalaman yang saya lakukan terkait refleksi filosofi KHD adalah saya mengajak siswa mencari persamaan dan perbedaan kedua kisah yang memililiki tema yang sama yaitu pahlawan rakyat yang mencuri dari penguasa jahat untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Pembelajaran budi pekerti sekaligus pemikiran kritis yang berusaha saya gali adalah dengan menanyakan "<strong>pendapat</strong>" siswa&nbsp; secara berkelompok apakah yang dilakukan kedua tokoh tersebut dapat dikatakan "<strong>benar atau salah</strong>" dan berikan alasanya. Hali ini dapat mendongkrak <strong>HOTS</strong>, <strong>4C</strong>, <strong>digital literasi</strong>, <strong>skill abad 21</strong>, sekaligus <strong>pendidikan karakter (profil pelajar pancasila)</strong> dan tentunya akan lebih menarik dan menantang dibandingkan sekedar memahami ataupun menterjemahkan teks narasi tersebut. Perlu dihidupkan kembali nilai luhur budaya lokal dalam ranah yang lebih nyata (kontekstual) dengan memberikan <strong>trigger</strong> yang tepat kepada siswa sehingga mereka benar - benar dapat memnambik hikmah dari pembelajaran maupun pendidikan yang mereka terima. Dan pengetahuan pun pada akhirnya lebih aplikatif bukan hanya sekedar teori belaka. Karena target akhir pembelajaran adalah <strong>life-skill </strong>yang mampu mengantarkan siswa menjadi manusia mandiri, tangguh dan merdeka.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1334796704/c07088bfc6e399ab5dea9cee09c2ab52/WhatsApp_Image_2022_05_30_at_8_01_15_AM.jpeg" />
         <pubDate>2022-05-31 07:52:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205709006</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reflesi Pembelajaran terkait Filosofi KHD</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205709237</link>
         <description><![CDATA[<div>Di Era sekarang ini, belajar bukanlah lagi tertuju masalah niali hasil ulangan. belajar adalah upaya untuk mendapatkan tularan ilmu yang bermanfaat bagi anak, agar ia bisa mencapai keselamatan hidup dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Anak haruslah merasa merdeka dalam belajar. Bukan karena masalah tuntutan nilai, namun kebermanfaatan bagi dirinya. Mendidik adalah seperti menanam, tidak perduli seperti apa benihnya, selama benih itu diberi pupuk, disiram dan diberi cahaya matahari yang cukup dan sesuai, maka ia akan tumbuh menjadi tumbuhan yang indah. Guru berdiri di depan untuk memberiakn tuntunan dan arahan terbaiknya, berdiri di tengah untuk membangun kesadaran dan selalu menyemangatinya, dan di belakang untuk selalu memberikan dorongan dan dukungan, agar terbentuklah siswa yang memiliki budi pekerti yang baik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:53:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205709237</guid>
      </item>
      <item>
         <title>JAMALUDDIN HARAHAP</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205709861</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pembelajaran terkait repleksi filosofi KHD :<br>Sebagai guru saya berusaha agar melihat siswa yang berbagi macam perbedaan adalah sebagai sunnatullah yang haru di syukuri apaun adanya siswa itu menjadi kekayaa yang indah untuk dipandang,di jaga,dirawat,dipupuk, dan tetap diarahkan dengan perasaan hati yang bahagia,karena sudah diawali dari panggilan jiwa yang paling dalam.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:53:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205709861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengalaman yang pernah saya lakukan terkait proses pembelajaran untuk merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal diri mereka secara lebih dalam terrkait dengan gaya belajar, bakat minat dengan melakukan tes sederhana tentang gaya belajar dan bakat. Setelah mereka memahami siapa diri mereka lengkap dengan kelebihan dan kekurangan  akan lebih memudahkan saya sebagai guru pembimbing dalam memberikan motivasi dan dorongan agar mereka bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki, sehingga nantinya mereka bisa lebih menyadari dan lebih mandiri, bertanggung jawab serta bisa merencanakan masa depanya yang lebih baik</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205710007</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:53:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205710007</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LAITI YATI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205711040</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengalaman ketika saya menemukan peserta didik saya yang belum dapat membaca ketika&nbsp; kita melakukan PTM terbatas. Saya agak kaget bagaimana keterlambatan tersebut dapat saya kejar dalajmm waktu satu semester. Namun setelah mempelajari pemikiran KHD saya baru memahami bahwa anak mempunyai kodratnya masing-masing, sehingga dalam target pendidikan kita tidak hanya berpaku pada kognitif anak-anak namun pada aspek lain. Saya tersentil dengan pemikiran tersebut. Akhirnya saya mengubah konsep bahwa anak bisa dikembangkan dalam berbagai aspek. Dan guru harus menghamba kepada anak, tanpa adanya pemaksaan konsep yang terbatas.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:54:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205711040</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mustafid (1)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205712293</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebelum mempelajari modul tentang filosofi Pendidikan KHD, saya hanya mengenal taman siswa dan trilogi pendidikannya saja, belum tahu istilah menuntun,menghamba pada anak, sehingga apa yang saya lakukan di kelas belum sesuai dengan filosofi tersebut. Ke depan harus memperbaiki apa yang sudah saya lakukan sehingga sesuai dengan filosofi KHD tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:55:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205712293</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nanik Wijayanti . 2. Menuntun berarti guru membantu anak mengenal potensi dirinya (kekuatan kodrat) dan membantu mengembangkan potensi  itu agar tumbuh maksimal sehingga anak akan dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205714146</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:56:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205714146</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Euis Julaeha (A5-13-A2) SMP Negeri 47 Jakarta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205715111</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Mendidik ibarat bertani, bedanya, menanam membutuhkan waktu yang sebentar untuk dapat membuahkan hasil sedangkan mendidik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menebalkan laku anak dngan kekuatan konteks diri anak sehingga menjadi sebuah karakter yang baik dan tingkah laku menetap pada dirinya dan menjadi manusia seutuhnya yang mandiri. serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:57:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205715111</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fitriah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205715667</link>
         <description><![CDATA[<div>paradigma lama yang saya pahami bahwa pendidikan semua berpusat pada guru, guru menjadi central dalam pembelajaran dan tujuan dalam pembelajaran hanya aspek kognitif yang difokuskan, setelah mempelajari pemikiran KHD saya sebagai pendidik menyadari bahwa selama ini yang saya lakukan banyak kekeliruan, dimana seharusnya pendidikan itu berpusat pada murid, dan muridlah yang berperan aktif dalam pembelajaran. Setiap anak sudah memiki kodrat alam yang sduah dibawa sejak lahir dan tugas kita sebagai guru menebalkan kodrat anak, dalam hal ini tugas guru menuntun, mengarahkan agar  kodrat positif yang dimunculkan. Kita sebagai pelayan terhadap anak didik kita harus melayani dengan ikhlas dan penuh cinta kasih.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:57:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205715667</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Imas Feby Rahmawati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205716245</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp;Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak akan lahir dari kodrat alam (potensi, bakat, kemampuan) yang berbeda-beda satu sama lain sehingga sebagai seorang guru kita diharapkan mampu membantu, memotivasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Sedangkan kodrat zaman lebih kepada bagaimana seorang guru mampu membimbing anak memasuki abad 21, untuk itu seorang pendidik harus melek tehnologi serta memiliki keterampilan abad 21 dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Pengalaman yang pernah saya lakukan terkait proses pembelajaran untuk merepleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal diri mereka secara lebih dalam terkait dengan gaya belajar, bakat minat dengan melakukan tes sederhana tentang gaya belajar dan bakat. Setelah mereka memahami siapa diri mereka lengkap dengan kelebihan dan kekurangan akan lebih memudahkan saya sebagai guru pembimbing dalam memberikan motivasi dan dorongan agar mereka bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki, sehingga nantinya mereka bisa lebih mandiri, bertanggung jawab serta bisa merencana masa depannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:57:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205716245</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LAITI YATI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205717149</link>
         <description><![CDATA[<div>Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu melakukan perawatan dan pemeliharaan. membimbing peserta didik duntuk lebih mengenal budayanya. Mengajak peserta didik untuk lebih mengenal dirinya, gaya belajar yang diminatinya serta bakat dan minatnya. Perwujudan menuntun terkait sosial budaya di daerah saya yaitu terjadinya pertukaran budaya, mengolaborasikan budaya sehingga terlahir sebagai budaya baru dan kreasi baru.  Budaya lama /tradisional serta alat musik serta gerakan akan mendapatkan trai kreasi baru.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:58:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205717149</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Febriari Triswanti</title>
         <author>febriaritriswanti</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205717660</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebelum mengenal filosofi KHD saya beranggapan murid yang baik adalah yang menguasai semua pelajaran dan mendapatkan nilai tinggi dalam setiap penilaian. Setelah mempelajari filosofi KHD maka saya mengetahui bahwa murid tidak harus menguasai semua bidang atau pelajaran karena setiap murid mempunyai latar belakang keluarga, minat&amp;bakat, profil belajar yang berbeda</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:58:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205717660</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suharni</title>
         <author>suharniprayitno</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205717696</link>
         <description><![CDATA[<div>Pendidikan bukanlah merubah kodrat anak, melainkan pendidikan lebih kepada membantu anak didik untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam diri anak untuk lebih bisa mengembangkan dirinya dan meningkatkan kualitas dirinya. Pendidik hanya hendaknya membimbing, mengarahkan dan memotivasi anak agar mereka dapat mengenal diri mereka sesuai dengan bakat dan minat anak.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:58:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205717696</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mujainah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205718426</link>
         <description><![CDATA[<div>Sekolah kami terdapat siswa berkebutuhan khusus. hal ini merupakan tantangan bagi kami untuk menuntun siswa berkebutuhan khusus tersebut agar dapat mencapai keselamtan dan kebahagiaannya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. dengan keterbatasan kami dalam memahami dan menangani siswa berkebutuhan khusus membuat kami kesulitan menuntun mereka yang membutuhkan perhatian dan penanganan secara khusus. dengan keterbatasan pengetahuan yang kami miliki tentang penanganan siswa berkebutuhan khusus kami berusaha semaksimal mungkin dengan kesabaran dan perhatian menuntun mereka untuk memberikan arahan agar mereka mampu menjadi siswa yang mandiri, mampu bersosialisasi dengan teman2nya, sehingga mereka mampu menjadi manusia yang selamat, bahagia, dan memiliki masa depan yang gemilang<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 07:59:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205718426</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rica Agus Budiyanto</title>
         <author>ricaagusbudiyanto</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205719930</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD yaitu pada awalnya saya terlalu berpusat pada materi pelajaran yang justru membuat peserta didik agak kurang antusias dalam menerima pelajaran tapi setelah saya memahami filosofis KHD sebagaimana pendididkan itu harus berpusat pada murid, akhirnya saya dapat memahami karakteristik anak dan menuntun mereka dengan memotivasi bidang materi pelajaran yang mereka suka. Sungguh perubahan drastis tampak, senyum mereka tampak jelas menampakkan kesenangan mereka dalam belajar bersama. Merdeka belajar memang harus betul diterapkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:00:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205719930</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LAITI YATI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205720084</link>
         <description><![CDATA[<div>Relevansi yang menghamba kepada siswa artinya anak sebagai subjek bukan objek pendidikan. Sebagai pendidik saya akan dengan seksama memperhatikan kebutuhan anak. hamba mengandung arti pengabdian artinya sebagai guru kita harus totalitas mengabdi kepada anak.  mencari kesempurnaan demi tercapainya tujuan pendidikan , serta memberikan pelayanan yang terbaik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:00:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205720084</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yuliana</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205720427</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman pembelajaran terkait refleksi Filosofi KHD. Saat saya mengajar dalam masa pandemi melalui pembelajaraan secara daring&nbsp; ada satu siswa yang dalam pembelajararan daring jarang ikut masuk ke kelas virtual, kalau hadir datang dengan tidak tepat waktu. Anak tersebut bernama Bambang Sugiarto. Anak ini jarang sekali mengumpulkan tugas, sering saya menghubungi orang tuanya agar Bambang hadir ketika kelas daring atau mengumpulkan tugas tepat waktu. Komunikasi saya sebagai pendidik dengan orang tua terus berjalan untuk perbaikan belajar Bambang. Ketika pembelajaran sudah mulai PTM. Melalui pendekatan yang menuntun, membimbing secara tatap muka ini sangat mempengaruhi sikap Bambang dalam pembelajaran. Ketika datang ke sekolah yang tadinya suka telat namun sekarang sudah tepat waktu, tugas-tugas pun terselesaikan dengan baik dan tepat waktu bahkan semangat belajarnya semakin baik dan meningkat. Inilah yang dikatakan oleh KHD dalam filosofinya. pembelajaran yang menuntun yaitu&nbsp; sebagai pendidik harus dapat menuntun, membimbing anak didik untuk dapat mengembangkan kodratnya menjadikannnya manusia yang baik secara kogniti, afektif dan berbudi pekerti sehingga menjadiknannya bahagia.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:00:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205720427</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bagus Waluyo Arif</title>
         <author>baguswaluyoarif</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205721999</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1</strong>. Pengalaman pembelajaran yang saya lakukan. sebelum pandemi saya berinisiatif untuk mengembangkan sistem ujian online untuk digunakan di sekolah, ketika itu saya beranggapan agar sekolah dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang serba digital, dengan berbagai pertimbangan stake holder sekolah akhirnya kami menggunakan sistem ujian online untuk di gunakan sekolah dan hasil yang kami dapatkan dengan menggunakan ujian online sangat baik, akhirnya kami terus mengembangkan sistem ujian online tersebut hingga saat pandemi kami dapat meyesuaikan penilaian karena kami telah membangun sistem ujian online/daring sesuia denga kodrat zaman. Begitupun dengan menuntun kodrat alam peserta didik, saya sebagai guru seni budaya dalam pembelajaran sering mengamati kodrat alam peserta didik dalam memahami pembelajaran seni budaya dan dapat disimpulkan setiap peserta didik mempunyai keunikan dan bakat masing-masing sesuai dengan kodrat alam nya tersebut, kita sebagai guru ibarat petani yang memahai tumbuh dan kembangnya tanaman sesuai kodrat tanaman tersebut, sama hal nya dengan memahami kodrat alam peserta didik karena dengan memahami kodrat alam peserta didik, kita sebagai guru dapat menebalkan potensi dan bakat peserta didik sesuai dengan kodrat alamnya masing-masing.<br><strong>2</strong>. Dalam pembelajaran seni budaya yang saya ajarkan dikelas saya selalu mengingatkan tentang seni dan budaya yang berkembang di wilayah DKI Jakarta, Untuk itu saya menampilkan budaya betawi seperti gambang kromong, tari betawi dan lainnya melalui tayangan media audio visual. Di sekolah sebelumnnya saya pernah mengembangkan ekstrakurikuler gambang kromong dan anak-anak sangat antusias mengikut ektrakulikuler tersebut dan melatih instrumen musik dan lagu-lagu betawi, dalam hal tersebut saya mampu memahami kodrat alam peserta didik di bidang seni budaya dan saya menambahkan beberapa instrumen modern seperti keyboard gitar dan bass elektrik sesuia dengan perkembangan zaman dan teknologi.<br><strong>3</strong>. Sebagai pendidik kita sebaiknya memahami filosofi pendidikan yang berkembang di negara kita seperti memahami filosofi dari Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang menuntun peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Sebagai pendidik kita diibaratkan petani yang memahami konsep pengembangan tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda cara dan metode dalam menumbuhkan tanaman, seperti halnya peserta didik/anak kita sebaiknya memahami potensi alam baik bakat dan minat serta lingkungan yang dimiliki peserta didik/anak ketika kita memahami kodrat alam tersebut, kita dapat menebalkan potensi dan keiingan yang dimiliki anak untuk terus berkembang sesuai dengan kodrat alam. Dalam hal perkembangan zaman juga kita sebagai pendidik harus mampu dalam beradaptasi dan menyesuaikan dengan perkembangan pendidikan sesuai kemajuan zaman dan teknologi karena kita sebagai pendidik akan dapat memfasilitasi dan mengajarkan pembelajaran sesuai konteks perkembangan zaman sehingga kita mampu menyampaikan pembelajaran yang efektif, efisien, kreatif, kolaboratif dan menyenangkan bagi peserta didik/anak sesuai dengan perkembangan zaman.<br><strong>4</strong>. Sebagai pendidik dahulu kita sebagai pusat pengetahuan dan pengajaran yang mana sumber pembelajaran berasal dari kita sebagai guru sehingga peserta didik/ anak-anak hanya mengikuti apa yang diajarkan oleh guru/pendidiknya dan anak-anak hanya mendapat pengetahuan dari satu arah atau satu sumber saja yaitu dari guru, hal ini menyebabkan daya kreatifitas, imajinasi dan kodrat alam peserta didik hanya sebagian yang dapat muncul secara alami karena dibatasi dengan norma-norma tersebut. Untuk itu kita sebagai pendidik sebaiknya memahami pemikiran KHD terkait “Pendidikan yang berhamba(Berpihak) pada anak” agar kita sebagai pendidik dapat memahami potensi dan bakat berdasarkan kodrat alam yang dimiliki oleh peserta didik/anak&nbsp; sedini mungkin segingga kita sebagai pendidik dapat mengetahu potensi-potensi tersebut dan menebalkan garis-garis potensi dan kodrat alam anak-anak agar mereka dapat mengenali dan memahami serta mengasah kemampuannya tersebut dengan baik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:02:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205721999</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Septi Liana Sari (Kelas Ibu Desniza) 1. Pengalaman pembelajaran terkait filosofi KHD (saya melibatkan kodrat alam yaitu lokasi kami berada, sekolah di Jakarta yang dikaitkan dengan kebudayaan Betawi dan kodrat zaman dimana saya menggunakan teknologi seperti laptop, infocus, youtube sebagai media pembelajaran di abad ke-21 ini)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205723150</link>
         <description><![CDATA[<div>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya<br>Saya melibatkan kebudayaan Betawi dalam pembelajaran di kelas 6. Saya pernah "menuntun" siswa dalam menerapkan pernaiman Betawi seperti "Kripik Jengkol" pada penerapan ini siswa pun belajar kebudayaan di Betawi dan menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya</div><div><br><br><br>3. Pendidikan di Indonesia perlu memperhatikan kodrat alam dan zaman karena pendidikan terus berkembang. Sehingga pendidikan pun harus mengikuti kodrat zaman yang ada saat ini, contoh: pendidikan di zaman abad ke - 18 tentulah berbeda dengan zaman abad ke - 21 saat ini. Demikian halnya dengan kodrat alam. Sebagai pendidik kita harus mempertimbangkan alam tempat siswa berada. Contoh: siswa yang tinggal di pantai tentulah harus disesuaikan karakteristik pembelajarannya. Hal ini akan berbeda dengan pembelajaran siswa di gunung yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi siswa yang di gunung.<br><br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba pada anak" artinya pendidik harus bisa membuat siswa sebagai subjek dalam pendidikan, bukan objek. Sehingga kita sebagai pendidik, hadir untuk menuntun siswa sesuai dengan kodratnya. Bukan pendidik memaksakan kehendak sendiri melainkan pendidik yang mengikuti kodrat anak tersebut dan menuntunnya supaya bisa menjadi anak yang baik, berbudi pekerti baik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:02:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205723150</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LAITI YATI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205724212</link>
         <description><![CDATA[<div>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman yaitu agar kita dapat berprinsip konvergensi yaitu memanusiakan manusia . sehingga pendidikan dapat bersifat holistik yaitu terjadinya kesempurnaan budi pekerti yang dapat membawa anak pada kebijaksanaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:03:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205724212</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jamaluddin Harahap</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205724896</link>
         <description><![CDATA[<div>Perwujudan menunutun dalam konteks sosial budaya adalah:<br>Setiap murid pasti membawa sosial budaya yang beraneka ragam dari lingkungan mereka masing-masing muali dari lingkungan keluarga, masyarakat yang selalu berinteraksi dengan mereka,<br>Kita sebagai penuntun,harus dapat mendiagnosa kulitur masing-masing siswa agar tau bagaimana dan dari pintu mana kita bisa masuk menjadi guru yang disisi lain juga bisa dirasakan sebagai teman CURHAT nya sehingga dia dapat membuka diri apa kelebihan dan kekurangan serta cara belajar seperti apa yang mereka inginkan.<br>dengan demikian kita dapat menuntunnya dengan bahagia sebagai guru yang menuntun bersama siswa yang dituntun,karena mustahil kita bisa menuntun kalu kita tidak dekat kepada siswa.<br>Untuk menuntun syarat utamanya mesti dekat dulu kepada siswa.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:04:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205724896</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Euis Julaeha (A5-13-12) SMP Negeri 47 Jakarta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205725405</link>
         <description><![CDATA[<div>2. Menuntun dalam konteks Sosial Budaya di daerah saya adalah mengajak peserta didik untuk peduli dengan lingkungannya dimulai dri menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. juga melakukan pembiasaan baik berupa pembiasaan keagaamaan agar tetap berada dalam koridor yang tepat dan benar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:04:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205725405</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suharni</title>
         <author>suharniprayitno</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205725753</link>
         <description><![CDATA[<div>Relevansi  pemikiran KHD terkait "Pendidikan yang berhamba pada anak", peran saya sebagai pendidik saya tergerak, akan bergerak dan menggerakkan teman-teman sejawat untuk mendidik dengan sepenuh hati dan penuh keikhlasan. Melayani kebutuhan peserta didik dengan keikhlasan dan penuh rasa kasih sayang. Sehingga pserta didik akan merasa nyaman, merdeka dan bisa berdiri di atas kekuatannya sendiri.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:05:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205725753</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nanik Wijayanti. 3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan dalam mendidik seorang anak. Kodrat alam telah ada sejak anak itu lahir yang tentu berbeda-beda pada setiap anak. Kodrat alam berarti juga sosio kultural anak yang juga tidak sama,  terutama dengan kondisi geografis dan budaya Indonesia yang sangat beragam. Kodrat zaman tak boleh diabaikan agar anak dapat mengikuti perkembangan zaman dan tak teringgal dengan kemajuan zaman.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205725818</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:05:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205725818</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rica Agus Budiyanto</title>
         <author>ricaagusbudiyanto</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205729458</link>
         <description><![CDATA[<div>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah dengan cara memahami terlebih dahulu karakter dan kodrat anak, lalu menuntun, memfasilitasi, membantu anak menebalkan garis-garis samar potensi dan kelebihan anak, dan juga kita harus dapat memperbaiki lakunya yang menyimpang sehingga si anak terselamatkan dari prilaku yang kurang baik. Tujuannya adalah agar si anak menjadi seseorang yang hebat, pintar dan memiliki perilaku yang baik dan selamat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:08:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205729458</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mustafid (4)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205729850</link>
         <description><![CDATA[<div>Relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik harus bersikap adil, artinya memenuhi dan melayani setiap kebutuhan anak yang berbda-beda, tidak boleh memperlakukan anak dengan sama rata karena gaya belajar setiap anak berbeda2 dan harus difasilitasi dengan cara yang berbeda.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:08:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205729850</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nanik Wijayanti. 4. Pendidikan yang berhamba pada anak berarti pendidikan harus berorientasi pada kepentingan dan kekuatan kodrat anak. Anak atau  siswa bukan lagi menjadi obyek tapi harus menjadi subyek pendidikan. Guru menjadi pamong yang menuntun mereka agar tumbuh dan baik lakunya.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205730049</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:08:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205730049</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suharni</title>
         <author>suharniprayitno</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205730544</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengalaman pembelajaran terkait refleksi pemikiran KHD, rencana ke depannya saya sebagai pendidik akan melayani peserta didik dengan hati, makin baik menjadi pendidik, tergerak akan bergerak dan menggerakkan</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:09:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205730544</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205731261</link>
         <description><![CDATA[<div>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena peserta didik sebagai manusia memiliki potensi dasar sebagai kodrat alam yang perlu diasah dan dikembangkan&nbsp; sedangkan kodrat zaman yang terus berkembang dan berubah menjadi bahan keterampilan yang perlu di miliki siswa disandingkan dengan kodrat alamnya. Keduanya harus disandingkan secara seimbang </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:09:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205731261</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUHAMAD JAELANI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205733133</link>
         <description><![CDATA[<div>Hakikat Pendidikan KHD: Sebelum menuntun murid, kita harus memiliki tuntunan yang benar. Sebelum menjadi teladan bagi murid, kita harus berbudi pekerti luhur. Pendidik sebaiknya menjadi petani yang tidak memaksakan kehendak atau memaksa padi menjadi jagung. Sesuaikan dengan kodrat alam dan zaman. Dan diharapkan pendidik dan murid saling berkolaborasi menjadi manusia yang sejati dan bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup dan alam.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:11:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205733133</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Devi Rodiah, SMPN 111</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205733264</link>
         <description><![CDATA[<div>Filosofi pemikiran KHD sejalan dengan ajaran Islam. Anak itu dilahirkan suci. Sucinya ini bukan berarti tanpa apa-apa. Allah sudah menggariskan karakter pada setiap anak sehingga menjadi makhluk yang unik. Kita sebagai pendidik tentu harus menuntun, merawat, dan mengarahkan sehingga menjadi pribadi manusia dan anggota masyarakat yang bahagia dan selamat. Kita memberi kebebasan pada anak untuk berkembang. Bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Tentu ada rambu-rambu agar tetap pada kebajikan yang selalu berkembang sesuai zamannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:11:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205733264</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jamaluddin Harahap</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205734999</link>
         <description><![CDATA[<div>Pendidikan di&nbsp;<em>ndonesia penting memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman&nbsp; karena Indnesia sangat kaya budaya/zaman yang perkembangannya sangat deras dan begitu banyak pengaruh yang datan dan siap mewarnai anak muda/peserta didik Indonesia.<br>Untuk tetap menjaga dan melesterikan kekayaan budaya yang sudah turun temurun dari nenek monyang kita yang sudah jelas membuahkan hal yang positif untuk generasi bangsa maka guru harus meadukan kodrat alam dengan kodrat zaman agar tidak tergerus oleh pengaruh zaman/budaya dari luar yang belum tentu sesuai dengan kodrat alam anak-anak Indonesia maka mesti ada FILTER.</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:13:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205734999</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Euis Julaeha (A5-13-A2)SMP Negeri 47</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205735057</link>
         <description><![CDATA[<div>4. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" mendorong saya sebagai pendidik untuk dapat menuntun peserta didik yang sesuai dengan kodrat alam dan kebutuhan peserta didik. sehingga kegiatan pembelajaran berorientasi atau berpusat kepada kepentingan peserta didik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:13:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205735057</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rica Agus Budiyanto</title>
         <author>ricaagusbudiyanto</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205738004</link>
         <description><![CDATA[<div>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, bahwa pengaruh dari luar harus tetap kita saring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan yang diadopsi itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks budaya yang ada di Indonesia. Justru kekuatan sosial budaya di Indonesia yang sangat beragam itu dapat menjadi kodrat alam dan zaman dalam mendidik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:15:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205738004</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dewi Asriani (1)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205739295</link>
         <description><![CDATA[<div>terlebih dahulu perkenalkan saya guru SD kelas 1 yang semuanya masih serba tidak paham mengenai anak didik, karena semua serba baru , serba serbi, aneka rasa dan warna , pokoknya WAW DEH. pertama sekali guru harus bisa menjadikan teman dan sahabat untuk anak didiknya, agar mereka tidak takut bertemu dengan guru dan teman-temanya. semua dimulai dengan perkenalan mulai dari nama, tempat tinggal nama panggilan serta makanan kesukaan,mencairkan suasana dengan bermain dan bernyanyi, bertegur sapa dan saling menanyakan nama.di awal pembelajaran anak masih takut untuk. menyampaikan ide dan pemikirannya. disinilah tantangan sebagai pendidik untuk, dapat membuat mereka berani tampil dan&nbsp;<br>mengungkapkan pikiran dan isi hatinya.<br>buat saya yang pertama kali jadikan anak itu nyaman dan senang berada di sekolah karena rasa nyaman itu merupakan gairah mereka untk dapat menerima pembelajaran, saya lebih senang mengajak mereka bergerak sesuai usianya bermain seperti usianya terkadang ikut apa yang mereka mainkan, sungguh pengalaman masa kecil di SD yang anak didik saya rasakan haruslah masa-masa indah yang harus mereka kenang sepanjang hayat.sesuai dengan pemikiran KHD bahwa pendidikan itu menuntut segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dewi Asriani </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:16:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205739295</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ADE NUR KARTIKA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205742020</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengalaman pembelajaran terkait refleksi filosofi KHD<br>Pengalaman saya mengajar anak inklusi selama dua tahun selama masa pandemi. Anak saya bernama A, adalah anak berkebutuhan khusus (slow learner), seseorang yang mempunyai prestasi rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi ia bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ-nya antara 70-90 . Saya harus membantu dari bagaimana membuat akun, membuka GCR, menuntun satu per satu cara mengupload tugas-tugas. Kodrat alam si A menjadi anak yang unik dan fitrah dari Allah SWT, kodrat zaman semua sekolah umum harus menerima anak dengan kondisi tersebut. Saya sebagai guru harus siap menuntun dengan cinta kasih, ketulusan hati, tangan terbuka, dan segenap kemampuan membimbing anak ABK. Saya mencari ilmu bagaimana mengajar ABK seperti A, ikut diklat)virtual), mengadakan tatap muka di sekolah untuk membantu membuat tugas, mengupload, berkoordinasi dengan guru-guru lain, BK, tim kurikulum. Kodrat zaman juga walau ABK harus melek TIK. Tapi luar biasa untuk A, dia mendapat nilai praktek bahasa inggris sangat baik, karena hasil karyanya berupa kolaborasi menyanyi dan menyajikan masakan dalam bahasa inggris dikerjakan dengan baik. Dibalik kekurangannya, ada potensi yang harus digali. Dan yang membuat saya tersentuh hati dan menangis di Hari Guru tahun lalu, dia lah satu-satunya dan orang pertama yang mengucapkan Selamat Hari Guru kepada saya lewat WA dan membuat video tentang saya diiringi lagu Terima Kasih Guruku. Semoga saya dapat menjadi guru yang membahagiakan muridnya, memerdekakan muridnya, dan menyebarkan kebaikan bagi semuanya.&nbsp;<br>Guru bergerak-Indonesia Maju..</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:19:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205742020</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rica Agus Budiyanto</title>
         <author>ricaagusbudiyanto</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205742571</link>
         <description><![CDATA[<div>4. Relevansi pemikiran KHD pendidikan yang berhamba pada anak dengan peran saya sebagai pendidik adalah menuntun segala kelebihan anak sebagai kekuatan kodrat yang telah dimilikinya agar mereka dapat berhasil, sukses mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupannya dan memiliki derajat yang setinggi-tingginya sebagai manusia yang sempurna.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:19:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205742571</guid>
      </item>
      <item>
         <title>EUIS JULAEHA (A5-13-A2) SMP Negeri 47 Jakarta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205743628</link>
         <description><![CDATA[<div>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Potensi dasar yang dimiliki peserta didik sebagai potensi dasar yang perlu dituntun dan diarahkan menuju keterampilan dan perilaku yang lebih baik dan lebih berkembang, disamping juga memperhatikan kodrat zaman yang setiap saat berubah dan berkembang yang perlu menjadi kompetensi peserta didik untuk dapat mengolah dan memberdayakannya untuk kemaslahatan masyarakat dan lingkungannya.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:20:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205743628</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jamaluddin Harahap</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205744686</link>
         <description><![CDATA[<div>Relevani filosofi KHD ( berpihak /berhamba) kepada anak/siswa adalah:<br>Saya yang sudah memilih guru adalah panggilan jiwa,maka saya harus mengutamakan kepentingan,kesenangan,dan kebutuhan siswa dibanding dengan keinginan saya sebagai guru.<br>saya mengaggap berbagai macam watak dan kemampuan kognitif siswa meskipun terkadang berat tapi saya bahagia ketika siswa saya bisa bergerak lebih baik secara kognitif maupun apektif,otak dan watak sesuai dengan pembelajaran abad 21, mereka makin kritis, makin komunikatif, makin mandiri, makin religius yang akan dapat mengantarkan mereka menjadi siswa yang memenuhi indikator profil pelajar pancasila.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:21:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205744686</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sri Sundari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205749798</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Mengajar dengan memberi ruang kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya,berani untuk menjawab dan berpikir kritis terhadap permasalahan yang ada dalam sebuah ruang diskusi yang dibuat dalam pembelajaran. Tugas guru sebagai fasilitator, menuntun dan mengarahkan.&nbsp;<br>Dalam kegiatan pembelajaran yang saya lakukan, beberapa topik disampaikan menggunakan metode STAD. Peserta didik dibagi dalam kelompok kelompok kecil yang terdiri dari sekitar 5-6 orang. Dalam kelompok tersebut mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Mereka berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan pemantik yang disampaikan oleh guru. Setelah berdiskusi setiap kelompok diberi kesempatan untuk menyampaikan solusi nya. Pada tahapan ini peserta didik diberikan ruang untuk berani mengemukakan pendapat, menghargai pendapat orang lain dan mencari kesimpulan dari hasil diskusi yang sudah dijalankan.&nbsp;<br>2.&nbsp; Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya khususnya di sekolah saya adalah melakukan beberapa pembiasaan. Seperti program 3S yang dilakukan, senyum, sapa dan salam. Setiap pagi para guru secara bergantian menyambut para siswa di gerbang sekolah, menyambut siswa dengan senyum, menyapa siswa dan saling mengucapkan salam. Pembiasaan ini dilakukan dengan tujuan agar siswa memiliki budi pekerti dan akhlak mulia. Terbiasa dalam budaya kearifan lokal sebagai bangsa Indonesia yang ramah.&nbsp;<br>Beberapa pembiasaan lain juga dilaksanakan dalam kerangka menuntun siswa untuk menjadi pribadi yang inovasi, kreatif dan berbudi pekerti luhur.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:26:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205749798</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sri Sundari </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205762931</link>
         <description><![CDATA[<div>3. Seorang anak terlahir dengan kodrat diri nya masing-masing(Kodrat alam). Anak terlahir dengan potensi, dan bakat yang sudah ada pada dirinya. Kita sebagai pendidik bertugas untuk menuntun. Memberi arahan jika anak salah melangkah, memberi dorongan agar anak lebih termotivasi. Pendidikan tidak bisa terlepas dari kodrat zaman karena pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman agar pendidikan yang didapat oleh anak dapat bermanfaat sesuai zamannya.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:36:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205762931</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD (FERINA)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205765823</link>
         <description><![CDATA[<div>Pendidikan berpusat pada siswa. Saat memberikan materi pelajaran mencari Median, awalnya dilakukan dengan memberi penjelasan materi metode ceramah (berpusat pada guru). Hasilnya tidak maksimal. Kemudian saya mengubahnya dengan&nbsp; melakukan praktik sederhana yang dilakukan langsung oleh siswa (berpusat pada siswa) dan ternyata mudah bagi mereka untuk menemukan konsep Median.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://drive.google.com/file/d/1bKXO97gh7DVuDSDsEyd57iPg9JQV_jGQ/view?usp=sharing" />
         <pubDate>2022-05-31 08:38:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205765823</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sri Sundari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205766918</link>
         <description><![CDATA[<div>4. Pendidikan yang menghamba pada anak arti nya pendidikan itu berpusat pada anak dan hasil atau tujuan pendidikan untuk kebahagiaan anak. Pendidik memiliki tugas sebagai penuntun siswa, memberi arahan, memberi dorongan atau motivasi. Melakukan pembelajaran dengan metode yang disesuaikan dengan perkembangan anak sesuai usia nya.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:39:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205766918</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mustafid (3)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205766963</link>
         <description><![CDATA[<div>Pendidikan diIndonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman agar anak-anak Indonesia yang multikultural dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya tidak terlepas dari lingkungan dan kultur budaya yang ada namun tetap dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk kelanjutan hidupnya. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:39:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205766963</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>pramsinaga</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205771160</link>
         <description><![CDATA[<div>Parmenas Sinaga (SMPN. 159 Jakarta)<br>Berbicara Pendidikan bukan hanya di I<em>ndonesia tentu sekali penting memperhatikan kondisi daerahnya&nbsp; karena Indnesia terdiri dari beribu pulau beragam&nbsp; suku dan budaya yang merupakan kekayaan bagi Indonesia dan tentu orang asing/bangsa lain tertarik untuk datang, sehingga yang perkembangannya sangat pendidikan sangat pesat&nbsp; dan begitu banyak pengaruh yang di bawah oleh pendatang pendatang tersebut dan siap mewarnai anak muda/peserta didik Indonesia. Sekalipun demikian dengan kita tetap menjaga dan melesterikan kekayaan budaya yang sudah turun temurun dari nenek monyang kita yang sudah jelas membuahkan hal yang positif untuk generasi bangsa maka guru harus mengambil peran yang mampu menunjukkan perannya untuk ngemong, untuk membina dan mengarahkan, agar tidak terpengaruh dengan ajaran ajaran yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia&nbsp; yang belum tentu sesuai dengan keinginan dan budaya kita&nbsp; anak-anak Indonesia.</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:43:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205771160</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mustafid (2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205772189</link>
         <description><![CDATA[<div>Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah bagaimana perbedaan suku pada siswa dalam kelas tetap menjadikan sebagai kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Perbedaan itu mengharuskan kita sebagai pendidik menuntun anak-anak agar saling menghargai dan melestarikan budaya yang mereka miliki sehingga  profil pelajar pancasila kebhinnekaan global dapat terwujud.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:44:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205772189</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ratna Utami Ningsih</title>
         <author>ratnaningsih091</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205774508</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman pembelajaran terkait refleksi Ki Hajar Dewantara.<br>Sebelum mengenal filosofi KHD dalam pembelajaran saya lebih dominan untuk aspek kognitif, saya merasa anak harus mendapatkan nilai yang baik untuk semua mata pelajaran dan bisa menuntaskan tuntutan kurikulum tepat waktu. Untuk aspek tingkah laku dan budi pekerti saya sudah menerapkan 5S di kelas, tidak ada yang berkata kasar dan saling membantu. Setelah saya memahami filosofi KHD, proses pembelajaran lebih bersifat menyeluruh untuk aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Peraturan dan kesepakatan kelas mengenai 5S, tidak berkata kasar dan saling membantu lebih saya tingkatkan dan tambahkan lagi, agar anak-anak terus belajar budi pekerti yang baik.<br><br>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya.<br>Menuntun berarti memfasilitasi dan membimbing siswa, dalam konteks sosial budaya berarti melibatkan nilai-nilai moral baik yang ada dalam budaya betawi untuk bisa diterapkan pada siswa, seperti karakter beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, percaya diri, terbuka, tolong menolong dan lainnya. Karakter-karakter dari kultur sosial budaya khususnya budaya Jakarta ini yang di arahkan pendidik untuk bisa menebalkan karakter-karakter yang sudah ada dalam diri siswa agar siswa menjadi pribadi dan budi pekerti yang baik.<br><br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman.<br>Siswa harus dididik sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Setiap siswa unik dengan segala potensi dan karakter yang melekat pada dirinya. Pendidik perlu menggali potensi yang ada di setiap diri siswa. Pendidikan juga harus mempertimbangkan kodrat zaman, zaman dimana anak akan tumbuh dan hidup itulah yang diperkenalkan dan dididik oleh guru, siswa akan hidup di zaman/abad ke-21 tentunya keterampilan-keterampilan abad 21 harus diperkenalkan dan bisa dikuasai oleh siswa, sebagai bekal untuk menjalani kehidupannya.<br><br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang Berhamba (berpihak) pada anak" dengan peran sebagai pendidik.<br>Pendidikan yang berhamba pada anak yaitu pendidikan yang berpusat pada anak dengan cara melayani perbedaan karakter, menggali potensi anak dan menghargai sifat unik yang dimiliki setiap anak. Pendidik harus menyadari bahwa setiap anak/siswa adalah unik dan berbeda, jadi pendidik harus membimbing anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan tidak boleh "memaksakan" anak menjadi seperti yang diinginkan guru.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:47:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205774508</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wahyu Setianingsih, SMAN 101 Jakarta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205779893</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman terkait pemikiran KHD&nbsp; yaitu memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman yang pernah dilakukan adalah membimning siswa yang bermasalah terhadap penglihatan(low vision) yang sangat parah dari sejak lahir. Siswa tersebut tidak bisa menulis ataupun membaca kecuali dengan menggunakan hp dan laptop huruf braille. Anak ini hanya mampu di audio saja. Karena itu setiap pembelajaran mapel sejarah anak ini lebih banyak diberikan treatment bahan ajar berupa rekaman audio dari internet dan guru menjelaskan. Ketika ulangan harian atau semester serta tugas-tugas anak ini diberikan kebebasan untuk menyajikan dalam bentuk audio, kirim via email dengan mengetik huruf braille dan menjelaskan langsung kepada saya sebagai guru. Anak ini bisa menemukan potensinya yang kuat akan potensi pendengaran dan kecerdasan akademisnya. Karena itu kami mengasah potensinya ini agar anak ini bisa mencapai cita-cita nya menjadi seorang guru.<br><br>2. Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah menggandeng. Memberikan energi saling mengikatkan antara anak yang dituntun dan yang menuntun menjadi sebuah energi positif asah asih dan asuh.&nbsp;<br><br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Hal ini dikarenakan setiap anak adalah unik dengan potensi alamiahnya masing-masing. Sementara lingkungan dan kultur yang beragam mengharuskan kita memperlakukan setiap anak dengan potensi atau keunikannya masing-masing. Sementara tuntutan perkembangan zaman akan selalu berubah sesuai dengan kebutuhan zamannya. Kebutuhan dan tantangan hidup di Jakarta tidak akan sama antara masa awal Indonesia merdeka, masa Orde lama, masa Orde Baru DNA masa Reformasi. Karena itu pendidikan harus selalu dinamis mengikuti perkembangan zaman.<br><br>4. Relevansi pemikiran KHD" pendidikan yang bergambar (berpihak) pada anak dengan peran saya sebagai pendidik adalah saya selalu memerdekakan para siswa untuk mengerjakan tugas dalam bentuk digital atau non-digital. Dalam bentuk tertulis atau lisan. Sebagai guru saya hanya sebagai fasilitator bukan hakim atau pihak yang menentukan segala aturan dalam proses pembelajaran secara otoriter . Saya hanya sebagai penuntut dan pembimbing bagi anak-anak didik menemukan potensinya masing-masing untuk bisa menjawab tantangan perkembangan pada zaman mereka hidup</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:51:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205779893</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perwujudan Menuntun Dalam Konteks Sosial Budaya di Daerah Saya (FERINA)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205785580</link>
         <description><![CDATA[<div>Menuntun anak-anak yang hanya menghabiskan waktunya hanya dengan bermain handphone, untuk perlahan mengurangi durasi bermain ke kegiatan yang bermanfaat.<br>Hal ini saya lakukan dengan berkolaborasi dengan orang tua untuk membuat proyek yang disesuaikan dengan minat anak seperti memasak makanan yang disukai, membuat kreasi seperti konektor masker/kalung/gelang dari mote/payet, belajar mencuci sepeda/motor/mobil bersama ayahnya, berkebun, memperbaiki sesuatu dan lain sebagainya.<br>Kemudian membuat laporan</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 08:56:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205785580</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman (FERINA)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205798776</link>
         <description><![CDATA[<div>Letak geografis Indonesia mempengaruhi karakteristik sosial budaya sehingga Indonesia memiliki beragam budaya.<br>Kodrat alam, hal ini tentunya mempengaruhi kehidupan dan pola pikir yang berbeda tergantung lingkungan dimana anak lahir dan dibesarkan. Misi pendidikan salah satunya adalah menyatukan persepsi persatuan dimana perbedaan adalah kekayaan yang harus ditanamkan pada pola pikir anak kita agar terwujud profil pelajar Pancasila.<br>Kodrat zaman adalah perkembangan teknologi yang akan mempengaruhi perolehan informasi, artinya cara belajar mereka akan berbeda. kita sebagai guru harus menyesuaikan dengan menuntun siswa untuk dapat memilah informasi yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 09:09:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205798776</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hikmah SMP Negeri 130 Jakarta</title>
         <author>hikmah27</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205803779</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman yang saya lakukan ketika menjadi wali kelas 7 adalah setelah 2 minggu masuk dan memiliki pengurus kelas dipimpin oleh ketua kelas siswa yang bernama Rangga, seorang siswa yang dari penampilan fisiknya boleh diberikan tanda " (kutip) keliatan urakan nakal dan terkesan negatif, tetapi kelas kondusif untuk belajar walau kadang sebagai wali kelas perlu mendengar beberapa celotehan guru dan siswa perempuan terkait kelas, tetapi saya tetap harus membantu menebalkan garis lain dalam hidup Rangga, garis hidup yang positif. Sesekali mendengar curhat siswa perempuan, celetukan dan tawa hangat mengakhiri curhat kita.<br>Hasil pendekatan awal masuk di SMPN 130 Rangga adalah seorang murid baru yang sejak SD suka sekali tawuran sampai pernah membawa samurai, bisa memimpin teman-teman lainnya dan menurut saya ini adalah peluang untuk mengarahkan ke hal-hal positif, menuntun dan mengarahkan jiwa kepemimpinannya ke hal baik dan lama-lama Rangga bisa main gitar dan kadang kita nyanyi bersama di kelas. Akhirnya kelas kami seluruh anak murid bisa naik kelas tanpa terganjal dan kelas seru dan sangat berkesan. Setelah naik kelas 8 Rangga tidak hanya bisa gitar tetapi sudah bisa bermain biola, dibawah bimbingan guru lainnya.<br><br>Pengalaman mengajar di kelas 8 dengan tema membuat poster, anak-anak saya minta membuat video di aplikasi tiktok, karena zaman sekarang siswa sangat suka tiktok, dan keliatan sekali anak-anak senang dan kreatif membuatnya.<br><br>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya antara lain mengenalkan peserta didik dengan alat musik betawi yaitu gambang kromong, sebelum belajar atau praktek mereka presentasi tentang permainan tersebut dan setelah praktek mengungkapkan rasa dan sikap yang harus dimiliki oleh pemain musik gambang kromong.<br><br>3. Pendidikan mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, artinya pendidik harus menyadari bahwa peserta didik telah memiliki sifat dan bentuknya berdasarkan kodrat alamnya masing-masing, serta peserta didik telah memiliki isi dan irama jiwanya yang terbentuk dari kondisi zaman sekarang ini, hal ini perlu saya perhatikan karena kodrat alam anak didik saya terbentuk dilingkungan tanah abang dan sekitarnya, yang padat penduduk rawan kebakaran, rawan prostisusi dan rawan kejahatan, mereka harus bisa bertahan hidup di situasi dan kondisi masa pandemic.<br><br>4. Relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik adalah menyadari bahwa sumber belajar bukan hanya guru, siswa mampu mencari dari berbagai macam sumber guru memberikan kebebasan dan memberikan tempat untuk mereka mengutarakan pendapatnya, kita guru hanya meluruskan dan mengarahkan serta menguatkan hal-hal yang baik dan tidak baik. Kita sebagai pendidik harus berpegang teguh pada tujuan pendidikan yaitu dapat menjadikan anak-anak kita Merdeka hidupnya, ciri terrealisasi adalah mereka selamat raganya dan bahagia jiwanya.</div><div><br>close<br>expand<br>minimize</div><div><br>Publish<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 09:14:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205803779</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik (Ferina)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205807378</link>
         <description><![CDATA[<div>Berhamba (berpihak) pada anak maknanya adalah melayani siswa dengan ikhlas lahir dan batin.<br>Pada hakikatnya semboyan Ing ngarso sung tulodo guru memahami posisinya sebagai pelindung/penunjuk/mengarahkan artinya membuat anak nyaman. Ing madyo mangun karso guru memahami pemikiran anak-anak berkembang dan guru berperan sebagai teman.<br>Tut wuri handayani, siswa sudah mandiri, sebagai guru mengerti bahwa saat mereka mendatangi gurunya kembali disini guru berperan untuk mendengarkan cerita pengalaman mereka</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 09:18:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205807378</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Indah Trismawanti</title>
         <author>indahtrismawanti46</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205816968</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Pengalaman pembelajaran terkait refleksi filosofi KHD</strong><br>Setelah mempelajari filosofi KHD ternyata banyak yang masih harus saya benahi di kelas saya. Pembelajaran merdeka yg mengaktifkan dan menyenangkan bagi siswa saat ini adalah hal wajib yang harus saya selenggarakan. Pun dengan memenuhi kodrat dan kebutuhan siswa sebagai manusia seutuhnya wajib saya perhatikan dengan seksama untuk anak didik saya.<br><br><strong>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya<br></strong>Sebagai guru saya wajib mencontohkan sikap, perilaku, dan karakter yang baik agar siswa bisa mengikuti dan belajar dari melihat serta merasakan. Menuntun dengan kata lain adalah mengemong siswa atau membersamai dengan kasih sayang agar siswa bisa membentuk karakter yang baik untuk nantinya dapat bersosialisasi dengan mudah di lingkungannya<br><br><strong>3. Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman<br></strong>Karena dari lahir, siswa memiliki kodrat bawaan, guru wajib mengembangkan potensi, minat, dan bakat yang dimiliki siswa. Biarkan siswa merdeka dalam mengembangkan ide-ide dan konsep-konsep baru dalam belajarnya<br>Selain itu, didiklah siswa sesuai zaman dan lingkungannya agar siswa tidak ketinggalan informasi terbaru dan dapat bergaul dengan baik dalam lingkungannya<br>Antara kodrat alam dan kodrat zaman wajib selaras agar kebutuhan siswa dapat terpenuhi dengan maksimal<br><strong>4. Pendidikan yang menghamba pada anak<br></strong>Menyelenggarakan pembelajaran yang mengaktifkan dan berpusat pada anak adalah keharusan dalam pendidikan yang menghamba pada anak. Penuhi kebutuhan anak dengan maksimal, layani mereka di dalam kelas dengan merdeka tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya dan biarkan mereka mengeksplorasi sebebas-bebasnya dengan guru hanya sebagai pengawas dan fasilitator</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 09:27:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205816968</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tis&#39;a Dameria</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205822294</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya sangat bersyukur dapat belajar dan memahami pemikiran filosofi KHD. Sebelumnya saya masih melaksanakan pembelajaran yang bertujuan pada nilai dan terkadang masih menerapkan <em>teacher-centered</em> dimana peran saya dikelas dominan karena saya menginginkan siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan secara maksimal. Setelah memahami pemikiran filosofi KHD, saya tercerahkan. Ternyata apa yang sudah saya lakukan di dalam pembelajaran tidak tepat. <br><br>Pembelajaran harus berhamba pada anak dimana siswa adalah pusatnya, <em>student-centred</em> dan peran saya sebagai guru adalah sebagai pamong yang memberi tuntunan, arahan dan bimbingan. Sesuai dengan semboyan KHD yaitu yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, di depan memberikan suri tauladan yang baik. Ing Madya Mangun Karso, di tengah mampu membangun dan memberikan semangat. Tut Wuri handayani, di belakang memberikan dorongan dan arahan.&nbsp;<br><br></div><div>Pendidikan juga harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam terkait dengan kondisi sosial budaya dan lingkungan dimana siswa tinggal. Dan kodrat zaman, dimana guru harus menuntun siswa agar memiliki keterampilan sesuai zamannya, agar mereka dapat memiliki kecakapan hidup, berkarya dan menyesuaikan diri sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam konteks pembelajaran sekarang ini adalah membekali siswa dengan keterampilan abad 21.&nbsp;<br>Sesuai dengan kodrat alam di Jakarta, Jakarta memiliki potensi-potensi sosial budaya yang dapat dijadikan sumber belajar. Guru dapat memanfaatkan sumber belajar tersebut agar dapat bermanfaat dalam proses menebalkan kekuatan kodrat siswa yang masih samar agar terbentuk siswa yang cerdas, berbudi pekerti luhur, memiliki keterampilan abad 21 dengan tidak melupakan budaya daerahnya<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 09:32:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205822294</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yetty Prihatini</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205856921</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Pengalaman Pembelajaran Terkait Refleksi Filosofi KHD. </strong><br>&nbsp; &nbsp; Setelah memahami filosofi KHD, saya semakin bersemangat untuk menerapkan nilai-nilai budaya ketimuran di kelas saya. Nilai-nilai kesopanan, kepedulian, gotong royong, adab kepada orang yang lebih tua, menjadi nilai-nilai yang dapat diterapkan di kelas dan di sekolah kita. Konsep guru sebagai penuntun dan penyemai benih merupakan konsep yang sangat mendalam untuk diinternalisasikan dalam diri kita, sebagai pendidik anak-anak bangsa, pemimpin di masa depan. <br><br><strong>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya. </strong><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Adalah saat mengarahkan anak-anak untuk memahami kondisi lingkungan di sekitarnya, agar dapat memberikan manfaat bagi diri mereka, lingkungan terdekat dan lingkungan sekitarnya. <br><br><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. </strong><br>Karena Indonesia memiliki budaya timur yang harus dijunjung tinggi oleh setiap warga negara Indonesia (kodrat alam). Sehingga setiap perkembangan teknologi yang kebanyakan berasal dari luar negara Indonesia sebagai kodrat zaman tidak mengerus nilai-nilai ketimuran yang sudah kita miliki. <br><br><strong>4. Relevansi pemikiran KHD yang berhamba (berpihak) pada anak-anak dengan peran saya sebagai pendidik.</strong>&nbsp;<br>    Sebelum memahami filosofi KHD tentang pembelajaran, saya masih asing terhadap istilah "menghamba" pada siswa. Setelah mempelajari filosofi KHD, barulah saya paham, bahwa konsep menghamba pada siswa adalah dimana ketika guru tidak boleh mengharap pamrih apapun dari siswa, kecuali keberhasilan siswa setelah kita memberikan pembelajaran sesuai dengan irama perkembangan anak masing-masing dan sesuai dengan kodrat alam yang tidak berubah, dan kodrat zaman yang senantiasa bergerak.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 10:09:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205856921</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205888185</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>NAMA CGP &nbsp; : SUPRAPTO</strong></div><div><strong>SEKOLAH&nbsp; &nbsp; &nbsp; : SDN WIJAYA KUSUMA 05</strong></div><div><strong>WILAYAH&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;: JAKARTA BARAT</strong></div><div>&nbsp;</div><div><strong>1. Tuliskan pengalaman pembelajaran terkait refleksi Ki Hajar Dewantara?</strong></div><div>Pengalaman saya terkait refleksi Ki Hajar Dewantara adalah ketika melakukan pembelajaran di kelas. Bahwa pembelajaran sebelum belajar konsep belajar Ki Hajar Dewantara pembelajaran masih brpusat pada guru. Guru sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran dan masih beroreantasi pada nilai akhir.&nbsp;</div><div>Namun setelah belajar konsep Ki Hajar Dewantara, baru tahu bahwa pembelajaran haruslah beroreantasi pada siswa. Selain itu, pendidikan juga harus berpihak pada siswa dan memerdekakan siswa sesuai karakteristiknya sehingga siswa dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kekuatan kodratnya. Pendidikan yang diberikan kepada siswa juga haruslah menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang selaras dengan cipta, rasa dan karsa.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2. Bagaimana perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya?</strong></div><div>Bahwa pendidik hanya memberikan tuntutan terhadap siswa sesuai kekuatan kodratnya, baik kodrat alam maupun kodrat zaman. Terkait menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu Jakarta yang merupakan ibukota negara dengan berbagaimacam fasilitas, maka guru memberikan tuntunan tentang literasi digital sesuai dengan perkembangan zaman yang terintegrasi pada pembelajaran.&nbsp; Guru sebagai pamong dalam kelas, yaitu memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa sehingga siswa dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.</div><div>&nbsp;<br><strong>3. Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman?</strong></div><div>Karena tiap-tiap anak memiliki karakteristik yang berbeda beda sesuai kekuatan kodratnya, baik kodrat alam maupun kodrat zaman. Kodrat alam menitik beratkan pada “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman terkait pada “isi” dan “irama”</div><div>&nbsp;<br><strong>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang Berhamba (berpihak) pada anak" dengan peran saya sebagai pendidik?</strong></div><div>Pendidik berperan sebagai pamong, yaitu memberikan bimbingan dan memfasilitasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga siswa menjadi pusat pembelajaran.</div><div>Pendidik sekarang ini mempunyai peran yang sangat luar biasa. Pendidik diibaratkan seorang petani yang tugasnya merawat tanaman sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut agar nantinya dapat tumbuh dan berbuah dengan baik. Hal ini tentunya memperlakukan tananaman harus sesuai dengan jenisnya. Karena karate jenis tanaman yang berbeda maka memerlukan perlakuan dan treamen yang berbeda pula.&nbsp;</div><div>Artinya seorang pendidik harus mempunyai jiwa melayani terhadap segala bentuk kebutuhan anak yang berbeda-beda (beroreantasi pada anak). Selain itu, pendidik harus mememberikan kemerdekaan pada anak untuk mengembangkan ide, bakat, minat dan kemampuan (merdeka belajar). Namun kebebasan ini bukan berarti kebebasan yang mutlak, namun perlu peran guru untuk menuntun dan membimbing sehingga siswa dapat terarah untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 10:43:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205888185</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elga Syarah Azizah (SDN Kamal 02 Pagi)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205945665</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Pengalaman Pembelajaran terkait Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara</strong></div><div>Pembelajaran yang saya lakukan sebelum memahami dan menelaah filosofi Ki Hajar Dewantara, adalah terlalu terpaku pada nilai ketuntasan siswa, dan berpusat pada guru, dimana kurangnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Setelah memahami dan mempelajari kembali tentang filosofi Ki Hajar Dewantara, dalam proses pembelajaran, saya selaku guru merasa lebih sabar dalam menggali kemampuan siswa dan menunggu siswa untuk memahami materi pembelajaran sehingga siswa mampu mengikuti ritme pembelajaran pada saat itu.&nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Perwujudan Menuntun dalam Konteks Sosial Budaya di Daerah Saya</strong></div><div>Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah yaitu DKI Jakarta, yang mana Suku Betawi dan Suku-suku lainnya bertempat tinggal adalah dijunjung tingginya nilai kesopanan dan keterbukaan pada hal baru tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Jadi sebagai guru, saya bertugas untuk membimbing siswa dalam mengenali kekayaan daerahnya dan menerapkan nilai-nilai luhur yang ada di dalam kebudayaan daerahnya.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Pendidikan harus Mempertimbangkan Kodrat Alam dan Kodrat Zaman&nbsp;</strong></div><div>Pendidikan perlu mempertimbangakan kodrat alam dan kodrat zaman karena pada dasarnya kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Kodrat alam (Bakat, minat dan kemampuan) yang ada sejak anak lahir ke dunia, tiap-tiap anak memiliki kodrat alam yang berbeda-beda, sehingga dalam pembelajaran diharapkan guru dapat membimbing mereka dan membantu mereka tumbuh sesuai dengan apa yang mereka bawa sejak lahir sehingga mereka mampu berdiri sendiri sesuai dengan kodrat zamannya. Kodrat zaman pada saat ini, memasuki era digital 4.0, dimana semua orang menggunakan teknologi dalam membantu kehidupannya begitupun dalam dunia Pendidikan yang tak bisa lepas dari teknologi. Sehingga seorang pendidik harus mampu beradaptasi dengan teknologi yang digunakan agar bisa mempersiapkan anak didik memasuki era digital 4.0.&nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara “Pendidikan Berhamba (Berpihak) pada Anak-anak” dengan Peran Sebagai Guru</strong></div><div>Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidkan harus berhamba (berpihak) pada anak dengan peran sebagai guru adalah guru haruslah memberikan pelayanan yang penuh dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak dan juga rasa ikhlas dalam mengajar sehingga anak akan merasa nyaman dan senang dalam proses pembelajaran maka akan memudahkan mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 11:44:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205945665</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>acopit</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205973957</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Nama : Fitria Purnamasari<br>Asal Sekolah : SMAN 17 Jakarta<br>Kode kelas : 05.12 (Desniza Osra)<br><br>1. Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD<br></strong>Saya pernah memiliki seorang murid dikelas XI yang dikenal oleh guru lain sebagai biang keributan. Padahal anak tersebut di kelas X nya memiliki nilai yang bagus. Sampai suatu saat murid ini ditegur keras oleh staff kesiswaan dan murid ini menceritakan ke saya bahkan bilang dia membenci guru tersebut karena marah ke dia dengan sesuatu yang tidak mendasar. Saat ini juga saya bilang ke murid tersebut bahwa bersikap seperti itu tdk baik, seorang pelajar haruslah memiliki karakter yang baik karena diluar sana nanti, sikap yang diajarkan murid disekolah akan diterapkan dilingkungan. Jika sikap dan perilaku serta bicara nya kasar, maka lingkungan sekitar semakin cap buruk tingkahlaku anak tersebut dan guru yang mengajar tidak memberikan contoh yang baik. Saya bilang ke murid itu, kelak kamu akan jadi anak sukses yang membawa nama sekolah menjadi lebih baik. Setelah itu, saya mengajak murid tersebut utk ikut Olimpiade sejarah di UI, walaupun belum menang, itu menjadi motivasi nya untuk menjadi sosok pelajar yang lebih baik lagi. Bahkan murid tersebut meminta saya untuk membimbing dia memberikan jam tambahan untuk belajar. Dan Alhamdulillah sekarang anak tersebut sudah lulus UTBK dan diterima di Universitas Brawijaya jurusan sosiologi. <br><strong>2. Bagaimana Perwujudan Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya<br></strong>saya adalah seorang guru sejarah. saya mengajarkan kepada murid fakta apa yang terjadi pada setiap peristiwa sejarah. saya pernah mengajarkan materi mengenai peristiwa Krisis Moneter dan Mei 1998, yang dimana didalam peristiwa tersebut terjadi kecheosan disekitar wilayah Jakarta, terutama wilayah Glodok dan sekitarnya. Wilayah tersebut sangat dekat dengan wilayah sekolah saya. Dimana saat peristiwa tersebut terjadi penggusuran masal terhadap masyarakat Tionghoa. Namun semenjak pemerintahan Gusdur sampai hari ini, masyarakat Tionghoa diterima kembali diwilayah tersebut. Disini saya menginfokan kepada murid, bahwa Kemerdekaan Indonesia bukan hanya karena perjuangan pribumi saja, tetapi jg banyak campur tangan keturunan bangsa lain. bahkan persebaran nenek moyang Indonesia pun juga mendapat pemngaruh dari bangsa lain terutama China. Memberikan pengajaran kepada murid bahwa dengan keberagaman budaya, suku, ras, dan agama tidak menjadikan Indonesia terpecahbelah, justru itulah yang menguatkan bangsa kita sampai saat ini. dan hal ini saya tanamkan dan berikan pemahaman kepada murid. dengan menceritakan sejarah secara faktual, saya mengajak murid2 untuk menghargai keberagaman yang ada di Indonesia.&nbsp;<br><br></div><div><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman</strong><br>Ketika seorang anak lahir, mereka sudah memiliki kodrat nya sendiri-sendiri, dan hal ini sudah dituangkan dalam pemikiran KHD. namun guru disini sebagai pamong wajiblah memberikan teladan, mendorong dan mebimbing serta memotivasi murid. <br>Tentunya pemikiran KHD ini sudah disesuaikan dengan kondisi pendidikan Indonesia. dengan keberagaman yang ada di Indonesia, tidak semua anak bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan (kodrat alam), serta tidak semua anak juga bisa mengikuti perkembangan zaman (kodrat zaman), disinilah fungsi guru dimana guru adalah sebagai pamong, dan murid diberikan kemerdekaan dalam belajar. Guru membantu murid dikelas untuk menyesuaikan dirinya dengan kondisi dikelas yang beragam, serta guru jg membimbing murid yang belum teknologi menjadi paham teknologi dan menjadi tidak ketinggalan zaman. <br><br><strong>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?<br></strong><br>Bahwa pendidik harus&nbsp;mengenal anak. keberagaman murid yang ada didalam kelas tentunya membuat adanya keberagaman dalam karakter murid. namun disini tugas pendidik adalah memberikan pelayanan prima bagi semua murid, karena semua murid butuh bimbingan, butuh pengajaran dan butuh pembelajaran secara menyeluruh. Pendidik harus mengetahui bakat, minat bahkan kemampuan individu murid. Hal ini dapat berfungsi untuk membangun kebiasaan murid menjadi seorang pembelajar sejati. <br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 12:10:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205973957</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Waskito Gunawan (05.13 B2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205976784</link>
         <description><![CDATA[<div>Menurut KHD, Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.<br>Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.<br>Menurut Ki Hajar Dewantara pengajaran dan pendidikan harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta tanah air dapat terus terpelihara.<br><br></div><div>Ki Hajar Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan kodrat alam, kemerdekaan, kemanusiaan, kebudayaan, dan kebangsaan. Semua ini tujuannya yaitu agar terwujud pendidikan yang memerdekakan siswa.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 12:12:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205976784</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi KHD Modul 1.1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205977444</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama : Linda Tresna Setiawati<br>Asal sekolah : SDN Palmerah 25 Pagi<br>Kelas :&nbsp;<strong>05.10.LPPKSPS.Wahdina<br>Assalamualaikum <br>Mohon izin menanggapi fokus permasalahan berikut.<br><br>1.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Tuliskan pengalaman pembelajaran terkait refleksi Ki Hajar Dewantara?</strong></div><div>Ki hajar dewantara menitik beratkan pada pembelajaran berpusat pada siswa dimana berorientasi pada kodrat alam dan kodrat zaman. Pembelajaran dilakukan dengan pembentukan karakter dan pembangunan bakat serta potensi siswa. Implementasi yang saya lakukan di kelas dan di luar kelas yaitu.</div><div>Di dalam kelas, mendesain pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dan program serta tujuan yang ditetapkan. Namun pada realitasnya tuntutan kurikulum sangat membatasi karena berorientasi pada hasil dan ketuntasan materi serta pencapaian nilai minimal atau KKM</div><div>Di luar kelas, memberikan kesempatan siswa untuk bisa mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya. Misalnya bina bakat baik seni tari, menyanyi, menggambar, atau kriya anyam yang dimana orientasinya untuk mengikuti berbagai lomba dan pengembangan bina bakat untuk meningkatkan rasa percaya diri dan mandiri serta kreativitas siswa di tengan kebhinekaan dan multikultural di lingkungan sekitar.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya?</strong></div><div>Guru adalah subjek pendidikan yang menjadi titik tolak keberhasilan pembentukkan karakter siswa. Guru menjadi pamong yang harus berpusat pada siswa, memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas, serta menuntun siswa menuju perubahan hidup bermakna.&nbsp;</div><div>DKI Jakarta adalah ibukota dengan kebhinekaragaman yang kompleks. Oleh karena itu, guru harus bisa menuntun siswa untuk bisa beradaptasi dan melakukan asimilasi dengan baik dan terarah. Contoh dengan adanya kemudahan dalam penyiaran dan sosial media guru harus bisa menjadi fasilitator yang baik sehingga siswa mampu menggunakan segala perubahan dengan bijak dan tidak masuk ke pergaulan yang tidak baik.</div><div>Di tengah budaya asing yang masuk ke Indonesia guru sesuai semboyan KHD harus bisa menjadi teladan, memberikan motivasi ke arah yang baik, dan memberikan tuntunan yang positif dan membangun sehingga siswa dapat menjadi manusia seutuhnya.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman?</strong></div><div>Pendidikan merupakan wadah dalam usaha memanusiakan manusia. Manusia hakikatnya makhluk berpikir yang bersifat dinamis. Oleh karena itu, didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda dengan para murid di pertengahan dan akhir abad ke-20. Kodrat alam Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan dan musim kemarau) serta bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup. Demikian pula dengan zaman yang terus berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik menuntun para murid. Guru harus menjadi agen perubahan yang senantiasa berorientasi pada kebutuhan siswa dan kebutuhan zaman sehingga selaras dan sejalan guna mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Siswa adalah generasi penerus bangsa yang disiapkan untuk menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan yang ada sehingga harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zamannya.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang Berhamba (berpihak) pada anak" dengan peran saya sebagai pendidik?</strong></div><div>Pendidik adalah subyek pendidikan yang memiliki peran sangat penting. Pendidik berperan sebagai fasilitator, motivator, creator dan teladan yang harus menggiring siswa menuju hakikat manusia seutuhnya. Pendidik berperan sebagai pamong, yaitu memberikan bimbingan dan memfasilitasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga siswa menjadi pusat pembelajaran. Pendidik sekarang ini mempunyai peran yang sangat luar biasa. Pendidik diibaratkan seorang petani yang tugasnya merawat tanaman sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut agar nantinya dapat tumbuh dan berbuah dengan baik. Hal ini tentunya memperlakukan tanaman harus sesuai dengan jenisnya. Pendidik harus mampu menyediakan tanah yang subur dan juga memperlakukan siswa sesuai dengan jenis dan kebutuhannya sehingga dapat memberikan treatment yang tepat.&nbsp; Artinya seorang pendidik harus mempunyai jiwa melayani terhadap segala bentuk kebutuhan siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada siswa). Selain itu, pendidik harus mememberikan kemerdekaan pada siswa untuk mengembangkan ide, bakat, minat dan kemampuan (merdeka belajar). Namun kebebasan ini bukan berarti kebebasan yang mutlak, namun perlu peran guru dalam menuntun dan membimbing siswa. Dengan demikian, siswa dapat terarah untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaannya masing-masing, serta menjadi manusia seutuhnya karena pada hakikatnya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia dimana proses berlangsung dengan berpusat pada kebutuhan siswa.</div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;Terima Kasih<br><br></div><div>&nbsp;</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1719297973/d585ffceeb85913014f8ed2028203bc7/19.jfif" />
         <pubDate>2022-05-31 12:13:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2205977444</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lia Eshamia Farada</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206020498</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Sebelum saya tahu tentang folosofi KHD yaitu tentang cara mengajar saya di kelas. Saya hanya mementingkan nilai pengetahuan dan keterampilan yang harus melebihi nilai KKM, saya menuntut siswa untuk menguasai semua materi pelajaran. Setiap pembelajaran saya fokus dengan materi tanpa memperhatikan bakat dan minat anak, saya tidak tahu istilah "menuntun atau berhamba pada anak'. Dengan kata lain saya adalah guru yang tahunya hanya menyampaikan materi dilanjutkan dengan evaluasi, kalau nilai di bawah KKM saya melakukan remedial.&nbsp;<br><br>2. Menuntun berarti guru mmbantu dan mendampingi siswa dalam mengenal dirinya dan membantu mengembangkan potensi diri agar maksimal dan sesuai dengan bakat dan minat.<br><br>3. Pendidikan di Indonesia perlu memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman karena pendidikan terus berkembang seiirng perubahan zaman. Kita tidak bisa menyamakan pendidikan zaman dahulu dengan zaman sekarang. Demikian halnya dengan kodrat alam. Setiap anak mempunyai kodrat alamnya sendiri dan tentunya dipengaruhi&nbsp; oleh lingkungan tempat tinggalnya dan keluarganya.<br><br>4.&nbsp;Pendidikan yang berhamba pada anak yakni dengan menjadikan siswa sebagai subjek pembelajaran bukan sebagai objek pebelajaran. Guru haruslah menyadari tentang setiap anak yang berbeda bakat dan minat makan guru harus bisa membimbing anak sesuai dengan potensi .Semua kegiatan pembelajaran di kelas bertujuan untuk kepentingan anak dan guru hanya bertindak sebagai pamong dan fasilitator</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 12:48:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206020498</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Farida Irlanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206043535</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Pengalaman Pembelajaran terkait Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara</strong><br>Awalnya saya mempunyai pemikiran bahwa anak didik memiliki kebutuhan dan minat yang sama sehingga saya mengajarkan materi  dengan menggunakan metode yang sama di kelas. Saya juga menganggap penilaian hanya dilakukan oleh guru. Pembelajaran berhasil apabila Nilai-nilai anak bagus-bagus.<br>Setelah saya mempelajari dasar-dasar pendidikan dan filosofi Ki Hajar Dewantara saya tersadar bahwa anak didik membutuhkan pengaaman belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Anak didik pun perlu belajar melakukan penilaian. Dalam kehidupan anak didik dituntun untuk dapat mengerti dan membedakan benar dan salah baik dan buruk. Keberhasilan belajar adalah proses kehidupan ketika anak dapat menjadi jiwa-jiwa yang matang dan merdeka, bertumbuh budi pekerti. pikiran dan tubuhnya.<br><strong>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya.<br></strong>Perubahan sosial dan kultur masyarakat berpengaruh dalam dunia pendidikan. Di masyarakat sosok guru masih menjadi panutan bagi anak didik. Untuk itu guru harus bisa mejadi among, penuntun untuk membantu anak didik mengenal kearifan lokal sosial budaya di daerahnya. Guru hendaklah menuntun anak didik untuk mengenal sosial budayanya agar mereka bisa mengetahui dan melestarikan budayanya. Jika kearifan lokal positif maka orang-orang yang berpartisipasi juga akan dibentuk menjadi karakter positif.<br><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman.<br></strong>Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah kodrat alam dan kodrat zaman. Manusia hakikatnya adalah sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari kodrat alam. Anak didik belajar dari lingkungan dimana dia tumbuh dan berkembang baik kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya. Kita sebagai guru harus dapat menuntun anak didik belajar sesuai dengan zamannya. Kebutuhan dan tuntutan zaman harus bisa diselaraskan dengan pendidikan yang kita berikan.<br><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; <strong>Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang Berhamba (berpihak) pada anak" dengan peran saya sebagai pendidik<br></strong>Salah satu Dasar Pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah Pendidikan yang berpihak pada anak. Mendidik anak hendaklah dengan mengutamakan cinta dan kasih sayang. Menghamba pada anak dapat diartikan bahwa kita sebagai guru harus dapat melayani, mendidik dan mengajar dengan penuh keikhlasan, kasih sayang dan sepenuh hati. Apa yang datang dari hati akan diterima oleh hati. Bila seorang guru mengajar dengan segala upaya dengan penuh rasa maka anak pun akan berbanding lurus, anak akan mudah menerimanya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 13:05:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206043535</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Herawati </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206046750</link>
         <description><![CDATA[<div>Mengapa pendidikan perlu memperhatikan kodrat alam dan kodrat jaman Krn menurut KHD mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini&nbsp; menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya murid di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan murid di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur.&nbsp;<br>Sebelum mempelajari Filosofi KHD saya sering bersikap bahwa&nbsp; cara mengajar sy yg dahulu relevan dengan jaman sekarang sehingga guru menjadi pusat pembelajaran dan mengajar&nbsp; dengan sistem kelas klasikal sehingga murid hanya mendengar guru ceramah mengerjakan tugas dan kurang berdiskusi<br><br>Setelah saya mempelajari KHD saya berusaha menerapkan siswa sebagai pusat pembelajaran ,berdiskusi dan mengajar menggunakan media pembelajaran menggunakan IT<br><br>Seorang guru harus menuntun adalah Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam.<br><br>&nbsp;Guru memberikan pelayanan&nbsp; bukan menuntut hak dan memberikan pendidikan yang menghamba pada siswa,Yaitu siswa diberikan kemerdekaan dalam belajar dan siswa mendapat kan layanan pendidikan</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 13:07:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206046750</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANDI RIFAIH 05.10.A2</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206073006</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman pembelajaran terkait refleksi filosofi Ki Hajar Dewantara. Terkait dengan pembiasaan perilaku baik di sekolah seperti pembiasaan religi mengadakan ngaji bareng, sholat berjama'ah serta pembiasaan nasionalis dengan memperingati hari-hari besar nasional. Hal ini dimaksudkan untuk secara bersama menuntun dan memberi teladan sebagai pendidik untuki terbiasa melakukan praktik baik di sekolah. Ada juga pembiasaan terkait kegiatan di kelas yakni pembiasaan membaca sholawat sebelum memulai atau ketika pembelajaran sedang berlangsung. Lanjut di kelas kami juha terbiasa mengadakan nonton bareng di kelas seperti film kartun untuk memotivasi semangat&nbsp; belajar murid atau semangat sayang terhadap orang tua. Tidak jarang ada murid yang meneteskan air mata dan seakan tersentuh hatinya untuk lebih menyayangi orang tuanya.<br>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya seperti contoh mengadakan jam belajar dan ngaji di rumah dalam waktu bersamaan. Kegiatan yang pernah dilakukan adalah penerapan jam belajar dan ngaji siswa antara waktu Maghrib dan Isya. Ini sejalan dengan kebiasaan di Betawi yang anak-anak kecil sampai remaja yang dulunya belajar ngaji diantara waktu Maghrib dan Isya. Jadi menuntun di sini secara bersama dan bersinergi dengan anak didik untuk aktif memakmurkan waktunya.&nbsp;<br>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pendidikan di Indonesia&nbsp; harus mempertimbangkan kodarat alam dan kodrat zaman. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan anak didik untuk mampu menghadapi tantangan yang ada baik di daerahnya maupun tantangan zamannya kelak. Era 4.0 Revolusi Industri menuntut anak memiliki kemampuan abad 21. Jadi kondisi alam dan zaman yang berubah menjadi tantangan tersendiri bagi proses pendidikan untuk anak-anak di masa depan dengan menyiapkan kompetensi dan karakter yang unggul.<br>4. Relevansi pemikiran KHD"Pendidikan yang berhamba pada anak" dimaksudkan  anak didik menjadi orientasi utama &nbsp;&nbsp;keberhasilan dalam pendidikan. Menyiapkan anak untuk dapat menemukan potensinya sekaligus menumbuhkembangkan seoptimal mungkin minat dan bakatnya dengan menyediakan sarana dan prasarana yang tepat untuk proses pendidikan yang dilaluinya sehingga nantinya anak tersebut dapat mengetahui sejatinya kepada siapa seharusnya anak didik tersebut menghamba. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 13:25:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206073006</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anike</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206075678</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Pengalaman Pembelajaran terkait Refleksi Filosofi KHD.<br>Setelah mempelajari dan memahami Filosifi KHD, saya semakin mencintai tugas&nbsp; sebagai Pendidik, karena semakin menyadarkan saya bahwa setiap anak&nbsp; berhak untuk mendapatkan pengajaran yang baik, nyaman dengan memberikan sentuhan-sentuhan halus sehingga setiap anak dapat merasakan bahwa ia merasa diterima dan dihargai dengan kondisi apa adanya. Jika anak merasa diterima dan dihargai dengan berbagai kekurangan dan keterbatasannya maka anakpun muncul percaya diri dan semangat untuk mendapat pengajaran. Nah, ini lah tugas saya sebagai pendidik, harus mampu melihat setiap anak secara komprehensif.<br><br>2. Bagaimana perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya?<br>Kita tahu bahwa saat ini adalah zaman milenial, IPTEK. Dengan mudahnya anak dapat menerima dan memberi informasi, temuan-temuan baru, baik dari dalam maupun luar negeri. Sehingga sangat mudah anak terjerumus ke hal-hal yang negatif jika ia tidak dapat memfilter setiap perkembangan zaman. Nah, itulah yang menjadi tanggung jawab kita sebagai Pendidik. Guru berperan sebagai motivator, keteladanan, inspirasi dan harus menuntun dan mengarahkan&nbsp; setiap anak ke hal-hal yang membangun dirinya.&nbsp; Menanamkan nilai-nilai keagamaan , karakter mulia dan pengetahuan yang luas. Dengan demikian anak memiliki pagar hidup nya.&nbsp;<br><br>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman?<br><br>Setiap anak lahir dari keunikan nya masing-masing. Punya kelebihan dan kekuranganya. Setiap anak&nbsp; memiliki kodrat alam yang sudah tertanam sejak ia dalam kandungan ibunya. Kodrat alam berkaitan dengan: sifat dan bentuknya dalam lingkungan dimana anak berada. Nah, tugas guru disini adalah membuat suatu goresan tinta&nbsp; untuk mengukir, membentuk setiap anak. Mau seperti apa dan dibentuk seperti apa anak tersebut, goresan pena kita sangat mempengaruhi kehidupan nya. Dalam hal ini Pendidikan yang kita beri harus berpusat pada anak tersebut, bukan mengarah dan berpusat kepada guru. Dengan demikian anak dapat mengembangkan kemampuan, kelebihan yang ada padanya.<br>Sedangkan anak dengan kodrat zamannya, ini berkaitan dengan isi dan iramanya. Anak hidup dan beradaptasinya dengan zamannya. Nah, untuk itu Pendidikan yang kita berikan adalah bersifat mengarahkan, menuntun, membimbing dan mendidik ke arah yang membangun dan positif. Sehingga anak dapat berdaptasi dengan zamannya tanpa dapat dipengaruhi karena anak dapat mem-filter, apa yang baik dan apa yang buruk. Dengan demikian anak&nbsp; dapat menjawab dan menghadapi setiap pengaruh pada zamannya.<br><br>4.&nbsp; Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak pada anak) dengan peran saya sebagai pendidik.<br>Guru diibaratkan sebagai petani yang sedang menanam bibit jagung. Jagung ditaburkan ke tanah yang sudah disiapkan untuk ditanami. lalu disiram dan dipupuk. Setelah bibit jagung tumbuh menjadi sebuah pohon jagung, maka petani tersebut akan melihat setiap jagung yang tumbuh. Itu Ia lakukan harus rutin dan tekun ( memiliki kerja keras, kesabaran dan ketekunan) supaya ia menghasilkan buah jagung yang baik.&nbsp; Demikianlah kita sebagai guru harus memiliki kerendahan hati untuk mengajar, melayani setiap anak berbagai dinamika kehidupa, kelebihan dan kekurangan tersendiri. Menunjukkan keteladanan hidup dalam menanamkan nilai-nilai spiritual, kemampuan-kemampuan kecerdasan dalam mentransfer pengetahuan kita kepada anak.&nbsp; Melalui pelayanan yang kita berikan kepada anak, maka anak dapat menemukan dirinya sebagai manusia yang seutuhnya.&nbsp; Jadilah kita sebagai Pendidik yang menghamba kepada anak, dengan demiakian anak tersebut mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan yang kita harapkan yaitu memiliki pribadi yang seutuhnya.<br><br>Sekian dan Terima Kasih&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 13:27:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206075678</guid>
      </item>
      <item>
         <title>REFLEKSI KHD</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206076631</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama : <strong>PASRAH SIMBOLON<br>Sekolah : SDN SEMANAN 10 PT<br><br><br>Kelas&nbsp; 5.a. Wahdina<br>Nama Pengajar Praktik : Ibu Nunung<br><br>1. </strong><strong><mark>Pengalaman Pembelajaran Terkait Refleksi Filosofi KHD<br><br></mark></strong>Filosofi pembelajaran KHD dalam pembelajaran yang saya lakukan di dalam kelas, Guru sebagai Pamong yang bisa Mengasuh mengasah dan mengasihi anak/peserta didik, memberikan dorongan kepada peserta diri, dalam pembiasaan memberikan pesan moral, di dalam kegiatan pembelajaran menjelaskan dengan mengkaitkan dalam kehidupan sehari-hari.<br>Menuntun anak adalah bagian dari mendidik dalam pembelajaran, tapi Menuntun yang dimaksud oleh bapak KHD adalah guru berpihak kepada siswa, Siswa adalah pusatnya dan bukan Objek atau sasaran sebagai bahan uji coba dari praktek guru yang sedang Observasi teknik atau strategi.<br><br>Pendidikan Kodrat alam yang dimaksud adalah Pendidikan yang pada dasarnya adalah selalu menyeimbangi dengan Perkembangan zaman, mengikuti perkembangan IPTEK, yang sesuai dengan perkembangan Kurikulum mulai dari KTS, K.13 sampai ke Merdeka Belajar. Guru harus berpihak kepada siswa dan menjadikan siswa sebagai pusatnya dan berpihak kepada Siswa.<br><br><br>2. <strong><mark>Perwujudan Menuntun Dalam Konteks Sosial Budaya di daerah saya.<br></mark></strong>Terjadinya kelestarian Budaya, dan bisa persilangan dalam arti , di DKI Ada pembelajaran PLBJ (Pembelajaran Lingkungan Budaya Jakarta) dan banyak siswa yang berasal dari daerah dan suku yang berbeda bahkan gurunya berasal dari daerah yabg berbeda. Contohnya saya Batak mengajarkan budaya Betawi di sekolah, otomatis saya harus belajar n mempelajari lebih dahulu baru saya akan menerapkan kepada peserta didik. Baik siswa dan guru mempelajari budaya yang berbeda dan berusaha mencintainya. Dengan kata lain Pertukaran Budaya yang membuat rasa cinta pada Budaya dan terwujudnya Bhineka Tunggal Ika.<br><br>3. <strong><mark>Indonesia perlu mempertimbangkan Kodrat Alam dan Kodrat Zaman dalam Pendidikan karena</mark></strong> Alam dan zaman adalah 2 hal yang hubungannya sangat erat dan saling membutuhkan aplagi di dalam proses pembelajaran, dimana Guru di tuntut untuk bisa menuntun anak dalam perkembangan baik sains, moral dan perkembangan fisiknya juga. Guru dituntut&nbsp; untuk bisa mengajarkan Abad 21 kepada siswa sesuai dengan perkembangan zaman dan tidak lupa juga filosofi KHD sebagai pendorong,pemberi semangat dan teladan.<strong><br><br>4. </strong><strong><mark>Relevansi Pemikiran KHD dengan peran saya sebagai Pendidik adalah</mark></strong><strong><br>S</strong>aya sebagai guru penggerak harus bisa menjadi Teladan, Panutan, yang patut di gugu dan ditiru siswa baik berprilaku, berprikir dan berbicara untuk itu saya harus mengupdate diri ,merubah cara mengajar saya, cara pandang saya bahwa yang saya ajari adalah Manusia yg butuh akan didikan dan ajaran bukan sekedar pintar akademis tapi punya karakter yang beradab dan bisa terampil dengan baik di lingkungan masyarakat, berbudi pekerti yang luar biasa.<strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1719095509/36e8be86b9a118cd48edb0a680be0469/IMG_20220422_WA0047.jpg" />
         <pubDate>2022-05-31 13:28:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206076631</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mutiarso _ A5.13.A2</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206082983</link>
         <description><![CDATA[<div>REFLEKSI KI HADJAR DEWANTARA<br><br></div><div>Oleh Mutiarso _ SMPN 93 Jakarta<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menyimak pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang filosofi Pendidikan, maka kita akan mendapati kata – kata adi luhung buah pemikiran, penghayatan, pengalaman, dan pencapaian beliau. Diantara kata – kata yang sarat dengan makna dan interpreasi tersebut adalah menuntun, bermain, menyenangkan, merdeka, bergerak, memuliakan, kodrat alam/zaman, menebalkan laku, budi pekerti, tumbuh kembang. Deretan kata yang kalau itu semua melekat pada sosok seorang anak didik kita, tentulah akan terlihat sosok seorang anak didik yang menjadi dambaan para guru, pamong, dan masyarakat sekitar.&nbsp; &nbsp; &nbsp;<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Dimasa kini, kita sering mendengar istilah siswa dengan kemampuan nalar yang tinggi, mampu menelaah soal dengan tingkat berfikir yang tinggi, kritis, dan reflektif serta memiliki perilaku yang luhur (well being). Kita juga sering mendengar istilah pembelajaran oleh guru yang kolaboratif, komunikatif, dan inovatif. Jika kita runut mulai dari kata – kata hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara sampai pada kata – kata yang tersebut diatas, tentunya ada korelasi, ada hubungan sebab akibatnya. Guru atau pamong yang mengimplementasikan pemikiran beliau tentu akan menghasilkan produk beriupa siswa dengan karakter yang telah tersebut diatas.<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Akhirnya dapat saya simpulkan bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut menjadi pedoman atau acuan para guru atau pamong dari dulu, sekarang dan juga nanti.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 13:32:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206082983</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rusmaini Pandiangan, SMAN 30 JAKARTA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206131473</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD<br></strong><br></div><div><strong>Ketika saya menginformasikan (berulang) dan menjadwalkan ulangan harian; saya sudah menyampaikan secara lisan dan tulisan melalui WAG agar dikerjakan dalam kurun waktu yang ditentukan/diseting, ternyata masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan dan tidak mengikuti intruksi sesuai informasi, sebenarnya saya hendak mengabaikan siswa yang tidak mengerjakan, tetapi saya mencoba memberikanteguran kepada siswa dan memberikan kembali kesempatan kepada mereka mengerjakan ulangan walaupun saya harus seting kembali jadwalan dalam LMS /quziz ,dan saya berusaha menyadarkan mereka agar tidak mengulang keteledoran mereka.<br></strong><br></div><div><strong>2. Bagaimana Perwujudan Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya?<br></strong><br></div><div><strong>Yaitu: dengan cara saya harus memahami karakter siswa tersebut dan mencoba melakukan pendekatan melalui budaya sosial/lingkungan siswa tersebut tentu melalui komunikasi dan menjadikan siswa tersebut sebagai teman agar siswa tersebut membuka diri sehingga membantu siswa tersebut bahagia dan tercipta pembelajaran yang menyenangkan.<br></strong><br></div><div><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br></strong><br></div><div><strong>Karena penduduk Indonesia yang multikultur, maka dalam Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat siswa tersebut dan zaman yang terus berkembang,maka guru tidak boleh menerapkan metode Pendidikan seperti zaman dahulu, di mana guru lebih cenderung memaksakan keinginanya terhadap siswa, sehingga banyak siswa yang tidak bertumbuh sesuai kodratnya yang mengakibatkan mereka tidak megalami kebahagiaan dan kemerdekaan.<br></strong><br></div><div><strong>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?<br></strong><br></div><div><strong>Saya (guru) sebagia “hamba pada anak” ; maka peran saya adalah melayani siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zaman untuk menuntunya menemukan keselamatan,kemerdekaan, dan kebahagiaanya yang setinggi -tingginya dengan hati yang tulus dan iklas tanpa mengharapkan imbalan.<br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 14:06:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206131473</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Putra Satrio Utomo</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206171095</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD</strong></div><div>Selama ini saya lakukan masih masih bersifat klasikal dan melakukan penilaian seperti yang pada umumnya guru-guru lakukan, dengan penilaian kognitif, afektif maupun psikomotor, namun karena selalu dibayang-bayangi oleh tuntutan ketuntasan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, saya sering kali abai dan lalai terhadap keragaman kodrat alam siswa, bahwa siswa itu adalah individu-individu yang berbeda dengan keragaman potensinya. Saya melakukan penilaian dengan cara yang sama, standar keberhasilan seringkali masih ditentukan dari perolehan nilai kognitif siswa. Saya belum sepenuhnya menyadari akan keberadaan kodrat alam sang anak, sehingga sering kesal ketika ada anak yang lamban dalam satu pelajaran.&nbsp;</div><div>Setelah mempelajari pemikiran KHD, saya menyadari bahwa masing-masing siswa itu unik dan berbeda oleh karena itu dalam memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi mereka dengan mencoba berbagai macam model pembelajaran yang bisa menjembatani perbedaan keunikan tersebut. Langkah awal yang saya lakukan adalah dengan menganalisis gaya belajar mereka. Dari hasil analisa tersebut saya belajar merancang pembelajaran yang memfasilitasi hal itu melalui variasi pemilihan model dan media pembelajaran baik berupa gambar, video maupun audio, atau pembelajaran yang berbasis permainan dan tentunya melakukan penilaian bukan dari hasilnya saja secara kognitif tapi keseluruhan proses yang mereka lakukan baik kognitif, afektif maupun psikomotornya.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya</strong></div><div>Pembelajaran yang mengimplementasikan kontek social budaya yang dapat dikembangkan diantaranya dengan menggunakan nilai kearifan local budaya masyarakat setempat dalam memahami kompetensi yang diharapkan. Kearifan local ini merupakan nilai budaya yang melekat dalam masyarakat dan terus dikembangkan secara turun temurun. Kearifan-kearifan lokal di Indoensia ini sangat kaya, beragam, dan menyebar di keseluruhan kawasan di Indonesia. Kearifan lokal ini umumnya dapat dijumpai dalam adat. Istilah inilah yang menjadi dasar dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Adat dijumpai dalam kebudayaan etnik di seluruh Indonesia. Adat masyarakat Nusantara ini, memiliki konsep konsepnya sendiri pula. Kearifan lokal sosial budaya ini seringkali menjadi acuan atau contoh norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya dalam kesenian ondel – ondel yang merupakan bentuk pertunjukan rakyat Betawi dalam pesta-pesta rakyat. Ondel-ondel memerankan nenek moyang atau nenek moyang yang menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Ini seperti implementasi sikap “among” atau menuntun dalam konsep Pendidikan KHD.</div><div>Kearifan lokal ini sejalan dengan konsep Pendidikan yang menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman</strong></div><div>Pendidikan merupakan institusi sosial yang sangat menentukan kemajuan dan peradaban bangsa. Ki Hajar Dewantoro bercita-cita agar bangsa Indonesia yang akan datang memiliki kepribadian nasional dan sanggup membangun masyarakat baru yang bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia. Beliau menerapkan metode “among” yang berarti membimbing anak dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan sang anak. Untuk itu, pembelajaran yang berlangsung harus didasari oleh pemikiran bahwa setiap individu peserta didik merupakan bibit potensial yang mampu berkembang secara mandiri. Tugas pendidikan adalah memotivasi agar setiap anak mengenali potensinya sedini mungkin dan menyediakan pelayanan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki serta mengarahkan pada persiapan menghadapi tantangan ke depan. Pendidikan mengarah pada pembentukan karakter, performa konkrit dan terukur yang berkembang dalam tiga ranah kemampuan, yaitu: kognitif, psikomotor, dan afektif.&nbsp;</div><div>Dengan demikian anak dapat berkembang menurut kodratnya. Kodrat zaman dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21, sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka diharapkan anak dapat menggunakan lingkungan sosial budayanya sebagai salah satu sumber belajarnya yang bermakna.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</strong></div><div>Pendidikan yang menghamba pada anak adalah Pendidikan yang menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi untuk membangun habit anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahuan, suka dan senang membaca.&nbsp;</div><div>Ki Hajar Dewantoro menerapkan metode “among” yang berarti membimbing anak dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan sang anak. Dengan demikian anak dapat berkembang menurut kodratnya. Cara mengajar ini bertujuan untuk mendorong para anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar sendiri. Guru atau pamong bertugas mengamat amati dengan segala perhatian, memberikan pertolongan jika dipandang perlu.&nbsp;</div><div>Dengan konsep KHD ini, pendidikan diharapkan dapat mengantarkan peserta didik bukan saja menjadi manusia yang pintar dan syarat dengan ilmu pengetahuan, tapi lebih dari itu menjadikan manusia peserta didik lebih humanis, tidak saja menjadi pintar tapi juga menghasilkan manusia berbudaya.</div><div>Guru dalam hal ini tidak lagi berperan sebagai sumber utama dalam pengetahuan, melainkan pendidik seharusnya berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses pembelajaran dan meyalani kebutuhan anak didik dengan memenuhi hal yang bisa membuat anak didik tersebut berkembang secara optimal salah satunya adalah membuat suasana nyaman untuk belajar. Sebab jika anak didik sudah nyaman maka akan memiliki perasaan yang senang dan jika sudah senang maka apapun yang diberikan untuk memaksimalkan potensinya akan tercapai.</div><div>Oleh karenanya, pendidikan yang memanusiakan dan memerdekakan memiliki esensi bahwa setiap anak didik memiliki keunikan masing-masing dan seharusnya belajar sesuai dengan kesenangan mereka. Tidak harus didikte dengan kurikulum, sistem, dan aneka mata pelajaran yang dipaksakan kepada anak didik seperti di ruang kelas konvensional pada umumnya dengan mengeksploitasi anak secara berlebihan. Sudah semestinya anak didik diberi ruang kebebasan yang seluas-luasnya untuk mengeskplorasi potensi diri serta berekspresi secara kreatif serta didukung penuh oleh guru sebagai fasilitator yang melayani dan menuntun proses pengekspresian potensi-potensi anak didik agar terarah positif dan anak didik kita memukan jalannya sendiri menuju versi terbaik dari dirinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 14:33:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206171095</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Qorinah El Rusyda</title>
         <author>qorin80</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206181486</link>
         <description><![CDATA[<div>1. <strong>Pengalaman pembelajaran saya terkait refleksi filosofi KHD, </strong>yaitu pada saat pembelajaran berbasis Project. Pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Di mana peserta didik diberikan kesempatan untuk berkolaborasi dengan teman kelompoknya, mulai dari mendiskusikan perencanaan project, pelaksanaan project, sampai ke pada pelaporan project. Contohnya pada saat pembelajaran tari kreasi daerah. Peserta didik berdiskusi bersama teman kelompoknya menentukan sendiri tarian daerah mana yg akan dipilih, apa kostumnya, bagaimana gerakannya, itu semua peserta didik yg merencanakan. Kemudian mereka secara kelompok berlatih merancang gerakan kreasi daerah tersebut dengan sebelumnya mempelajari makna/filosofi dari tarian tersebut. Dan Peserta didik menampilkan tarian yang telah di persiapkan di depan kelas/lapangan sekolah. Pada proses pembelajaran tersebut, terlihat pelajaran karakter yang dapat dipelajari seperti bekerja sama, sabar, kreativitas, tenggang rasa dan kekompakkan. Ketiga aspek pembelajaran diperoleh yaitu aspek kognitif terlihat dari pemahaman akan konsep dan filosofi tentang tarian, aspek keterampilan terlihat dari belajar dan berlatihnya gerakan tarian kreasi sesuai dengan gagasan yg diciptakan dan aspek afeksinya yaitu berupa pembelajaran karekter. Pembelajaran tersebut merupakan refleksi dari pemikiran KHD yang memerdekakan murid,berpihak pada murid dengan memperhatikan kodrat alam dan zamannya. <br><br>2. <strong>Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah Saya </strong>adalah pada saat pembelajaran pertukaran keragaman budaya, dengan memberikan pijakan menggunakan pertanyaan pemantik terkait dengan kebudayaan masing-masing peserta didik, bagaimana bersikap pada kebudayaan sendiri dan orang lain, bagaimana cara melestarikan budaya sendiri dan orang lain. Budaya lokal dan internasional. Selain itu juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan pelestarian kebudayaan, dengan penampilan tarian, membuat rumah adat, membuat makanan khas daerah, menyanyikan lagu daerah, memperkenalkan upacara adat, dll.<br><br>3. <strong>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman </strong>supaya dapat menciptakan kebudayaan yang dicita-citakan sehingga terwujudlah peradaban bangsa yang unggul. Pendidikan Indonesia perlu memperhatikan kodrat alam dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik berdasarkan perkembangan kronologis(intelligeble)dan biologisnya. <br><br>Usahakan pendidikan di Indonesia memberikan kesempatan peserta didik sesuai dengan tahapan usianya, jangan memaksakan, misal anak TK itu sesuai dengan tahapan usianya lebih banyak bergerak dan bermain, maka berikanlah permainan yg menstimulus sensorik motor untuk persiapan membaca dan menulisnya. Bukan guru memaksakan peserta didik usia TK untuk latihan menulis di lembar kertas dengan tugas dan PR, melainkan biarkan kesadaran menulisnya muncul dengan sendirinya pada usianya. <br><br>Begitupun dengan kodrat zaman, pendidikan sejatinya selalu berubah mengikuti zaman supaya tidak hampa dan tertinggal, maka ciptakan pendidikan yg sesuai dengan zaman tentunya dengan batasan-batasan dan arahan berdasarkan perkembangan usianya. <br><br>4. <strong>Relevansi pemikiran KHD yang berhamba (berpihak) pada anak, dengan peran saya sebagai pendidik </strong>adalah mendidik anak <strong>sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.</strong> Ketika mendidik anak, didiklah sesuai dengan tahapan perkembangannya, tidak menyamaratakan anak, melainkan biarkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapannya masing2, setiap anak unik, setiap anak mempunyai bakat dan minatnya. Maka Saya ketika diawal tahun pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar anak masing-masing, saya memberikan tes diagnostik yg berkaitan dengan gaya belajar anak, sehingga saya mengetahui bagaimana cara menstimulus anak berdasarkan gaya belajarnya, mungkin ada audio, kinestetik atau visual. <br><br>Begitupun dengan kodrat zaman anak, didiklah anak sesuai dengan zamannya. Maka Kita sebagai pendidik juga harus bisa mengikuti sesuai dengan perubahan zaman anak. <br><br>Kemudian <strong>siap melakukan perubahan</strong>, mendidik anak dengan menggunakan asas trikon. Kontinuitas, saat mendidik anak dengan berkesinambungan dan berkelanjutan, misal memberikan catatan perkembangan anak pada guru selanjutnya, sebagai perhatian guru yg mengajar di kelas berikutnya. Kemudian kontinuitas yaitu memanusiakan manusia, mendidik dengan memberikan kemerdekaan, memberikan ruang untuk mengeksplorasi potensi anak, dan konsentrasi yaitu menghargai perbedaan dan keunikan anak,bahwa anak itu mempunyai kebutuhan, bakat, gaya belajar dan perkembangannya. Misal ketika menilai bisa menggunakan berbagai metode penilaian untuk anak sesuai dengan kemampuannya masing2, tidak menyamaratakan namun tujuan pembelajaran dapat tercapai.<br><br>Dan relevansi yang terkahir yaitu <strong>keseimbangan Budi pekerti,</strong> yaitu membuat anak memiliki ketajaman pikir, kehalusan rasa, memperkuat kemauan dan menyehatkan jasmani adalah dengan memberikan anak pengalaman langsung saat belajar. saya sebagai pendidik dan fasilitator anak memberikan kesempatan anak untuk mandiri mengerjakan tugasnya. Tugas yang diberikan bisa berupa project di mana anak bisa mengenal kerja sama, sabar menunggu giliran, disiplin dengan tepat waktu. Berikan ruang pada anak untuk merencanakan, melakukan dan melaporkan aktivitas yang dipilih dan diinginkan sehingga anak bisa belajar banyak hal.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 14:40:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206181486</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206278430</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1719471796/dc9def8b32643b5e9e605fbc1a1f62f4/refleksi_pemikiran_KHD.docx" />
         <pubDate>2022-05-31 15:37:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206278430</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Intan Nurcahya, Kelas Ibu Desniza</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206280784</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.&nbsp; Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD.<br></strong><br></div><div>Pengalaman saya dalam mengampu pelajaran Produk Kreatif &amp; Kewirausahaan terkait dengan Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah dalam memilih jenis usaha yang akan diambil oleh anak. Saya berusaha mengidentifikasi jenis peluang usaha apa yang booming dimasa yang akan datang. Ini pengalaman saya di Tahun 2013.<br><br></div><div>Saat itu saya berpikir akan tanaman hidroponik yang akan booming dimasa yang akan datang.&nbsp; Menurut saya penting sekali anak-anak kita menjadi petani meskipun bukan petani konvensional. Hal ini saya cermati karena jumlah petani muda saat ini semakin berkurang. Dari pemikiran itulah akhirnya saya mencoba memilih Hidroponik sebagai Pilihan usaha.&nbsp;<br><br></div><div>Kaitannya dengan kodrat zaman, Hidroponik saya desain dengan konsep urban farming yaitu pertanian perkotaan yang cenderung bersih serta penggunaan teknologi mutakhir yang mendukung pertanian tersebut.<br><br></div><div>Hasil dari pembelajaran, anak kami berhasil menciptakan produk lampu untuk green house dengan sensor cahaya, solar panel, dan otomatisasi penyiraman.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div><strong>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Bagaimana Perwujudan Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya.<br></strong><br></div><div><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; </strong>Perwujudan menuntun dalam konteks social budaya di daerah mengenalkan, menginternalisasi dan mengarahkan anak agar mengenal social budaya di daerah saya serta mengajak anak untuk mengaplikasi nilai luhur yang terdapat dalam kesenian dan permainan setempat (Betawi)<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Terutama dalam pembelajaran seni busedaya, anak dikenalkan dengan kesenian Betawi dan permainan-permainan tradisional serta kesenian Betawi lainnya. Anak diminta untuk menyajikan berbagai macam kesenian betawi didalam pertunjukan sekolah, kemudian anak diminta untuk mengambil simpulan dan manfaat dari kesenian dan permainan tradisional betawi yang disajikan.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div><strong>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman<br></strong><br></div><div><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; </strong>Pendidikan Indonesia harus mempertimbangkan kodrat alam karena Indonesia ini adalah Negara kepulauan yang unik yang berbeda dari Negara lainnya. Kekayaan Negara kita sangat perlu dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Oleh karena itu Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dalam pembelajaran. Selain itu dalam alam banyak yang bisa dieksplore atau dipelajari yang bisa dikaitkan dengan Materi pembelajaran di kelas<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sedangkan Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat zaman karena anak Indonesia harus bisa bersaing dengan kemajuan teknologi yang dimiliki oleh anak dari Negara lain. Anak Indonesia juga harus dapat mengeksplore kekayaan Indonesia dengan kemajuan teknologi yang dimiliki. Dengan penguasaan teknologi memungkinkan anak kita Belajar lebih mudah, dari mana saja dan dengan siapa saja<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?<br></strong><br></div><div><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; </strong>Relevansinya adalah bahwa saya sebagai pendidik hanya perlu mengarahkan anak untuk Belajar dan bertindak sesuai dengan kodrat alamnya, sesuai dengan bakatnya tanpa harus diarahkan sesuai keinginan saya sebagai pendidik. Anak harus didorong kekuatannya yang dibawah sejak lahir untuk dioptimalkan sebagai bekal anak untuk bertahan hidup. Sebagai pendidik saya hanya menuntun pada pembentukan karakter yang mendukung untuk mencapai peran/profesi yang diharapkan anak dimasa yang akan datang, memberikan pengalaman baik diri sendiri maupun orang lain mengenai resiko kehidupan, serta konsekuensi-konsekuensi yang akan diterima jika anak bertindak berbeda dari karakter yang diharapkan masyarakat<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 15:38:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206280784</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setianingsih</title>
         <author>setianingsih50</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206534725</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi Ki Hadjar Dewantara :<br></strong>Saya akan mengubah pola pembelajaran yang sifatnya&nbsp; memberi 'perintah' dengan pola Among System. Dimana guru memerankan perannya sebagai Tut Wuri Handayani yakni dengan tetap memengaruhi peserta didik namun dengan memberikan kemerdekaan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri. Merdeka dalam berpikir, berinisiatif, bertindak, dan mengambil&nbsp; keputusannya sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut saya akan lebih menitikberatkan peran saya sebagai coaching, tanpa meninggalkan peran lainnya sebagai pendamping dan pembimbing. <br><br><strong>2.</strong> <strong>Perwujudan Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya</strong> <strong>:</strong><br>Saya akan mengajak, membimbing, dan mengarahkan siswa untuk menggali dan menerapkan kebudayan-kebudayaan lokal dengan memperhatikan lingkungan sosial mereka. Juga mengenalkan mereka dengan kebudayaan-kebudayan dari luar daerah sebagai referensi pengetahuan kekayaan budaya bangsa. Salah satunya adalah menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam permainan adat Betawi. <br><br><strong>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman</strong> <strong>karena :<br></strong>Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi sifat-sifat jeleknya. Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, kita harus bekali siswa dengan kecakapan Abad 21. <br><br><strong>4. Relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik</strong> <strong>:<br></strong>Saya akan membuat suasana belajar yang berpusat pada murid, memberikan pelayanan penuh pada anak sesuai kebutuhannya, menyenangkan, sekaligus mendidik, menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu anak, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi untuk membangun habit anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahuan, suka dan senang membaca.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-05-31 19:03:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206534725</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lia Yuliani (SDN Slipi 11)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206837883</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Pengalaman Pembelajaran terkait Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara<br></strong>Dari filosofi Ki Hajar Dewantara, dapat kita ketahui bahwa pengajaran merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Dalam pendidikan itu sendiri, sebagai pendidik kita harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat zaman dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini adalah penekanan terhadap penguasaan keterampilan abad 21, sedangkan kodrat alam lebih kepada pemanfaatan keadaan sosial budaya sebagai sumber belajarnya. Pengalaman pembelajaran yang saya lakukan sebelum menelaah dan memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah fokus terhadap ketuntasan tuntutan-tuntutan kurikulum terhadap penguasaan-penguasaan kompetensi tertentu. Proses pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat kepada guru sehingga siswa kurang aktif dan tidak terfasilitasi dalam pengembangan minat dan bakatnya. Setelah memahami kembali pemikiran dan filosofi Ki Hajar Dewantara, saya menjadi lebih sadar betul bahwa memang benar setiap anak yang terlahir ke dunia ini sudah memiliki kodratnya masing-masing. Siswa adalah individu-individu yang berbeda, unik dengan keragaman potensinya masing-masing. Kita sebagai pendidik, harus mampu menuntun, membimbing, mengarahkan mereka untuk menggali kemampuan, minat, bakat setiap anak melalui pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Langkah yang sudah saya coba lakukan di kelas yang saya ampu adalah dengan mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar para siswa. Ada beberapa diantaranya di kelas yang saya ampu, masih belum bisa membaca. Saya mencoba memberikan layanan untuk bisa mengatasi kesulitan belajar tersebut, namun dirasa belum bisa maksimal. Semoga ke depannya bisa lebih maksimal lagi.<strong><br>2. Bagaimana perwujudan Menuntun dalam Konteks Sosial Budaya di Daerah Saya?<br></strong>DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan saat ini merupakan kota yang kaya akan ragam sosial budaya. Kita akan menjumpai berbagai macam suku, budaya, agama, bahasa di Jakarta karena sebagian besar penduduknya merupakan pendatang dari berbagai wilayah. Tak bisa dipungkiri juga, bukan hanya pendatang dari dalam negeri saja yang ada di Jakarta, dari luar negeri pun ada. Keterbukaan terhadap hal-hal yang baru sangat memungkinkan, apalagi didampingi dengan kecanggihan teknologi masa kini. Sebagai pendidik, tentunya peran kita sangat besar dalam hal ini. Pendidik harus mampu membimbing dan mengarahkan para siswa untuk mengenali dan memaksimalkan kekayaan budaya daerah asalnya sendiri dan tetap menjunjung serta menerapkan nilai-nilai luhur adat setempat. Selain itu, pendidik juga harus mampu berperan sebagai penyaring dan fasilitator dalam perubahan-perubahan zaman serta kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Guru harus mampu memberikan teladan, motivasi ke arah yang lebih baik, dan memberi tuntunan yang positif.<strong><br>3. Mengapa Pendidikan Indonesia harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br></strong>Setiap anak terlahir sudah dengan kodratnya masing-masing. Melalui proses pendidikan, diupayakan mampu memanusiakan manusia, menjadikan manusia yang seutuhnya. Pendidik harus mampu mendidik sesuai tuntutan alam dan zaman. Artinya, pendidikan itu dinamis dan antara keduanya (alam dan zaman) tidak dapat dipisahkan. Melalui proses pendidikan, diharapkan pendidik dapat menumbuhkembangkan minat dan bakat para siswa yang unik dan berbeda sesuai dengan kodrat zaman. Teknologi abad 21 saat ini sudah sangat canggih yang sangat bermanfaat dan membantu dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Sebagai pendidik, kita harus mampu beradaptasi dan berdampingan dengan kecanggihan teknologi sehingga mampu mempersiapkan kehidupan para siswa dalam perkembangan zaman.<strong><br>4. Apa relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara "Pendidikan Berhamba (berpihak) Pada Anak" dengan peran saya sebagai pendidik?<br></strong>Terkait peran saya sebagai pendidik dan pemikiran Ki Hajar Dewantara "Pendidikan Berhamba Pada Anak" terdapat relevansi bahwa seorang pendidik harus mampu berperan sebagai fasilitator, motivator, creator dan teladan yang memberikan pelayanan penuh dalam proses pembelajaran sehingga anak merasakan kemerdekaannya dalam belajar dan mampu menjadi manusia yang seutuhnya. Kemerdekaan di sini bukan berarti kita memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya pada anak untuk berkembang, namun perlu adanya rambu-rambu agar tetap pada kebajikan yang selalu berkembang sesuai zamannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-06-01 01:41:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206837883</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ratna Putri Nurisca (SDN Palmerah 19 Pagi)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206850087</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD</div><div>Setelah Saya mempelajari dan memahami Filosifi KHD, Saya semakin mencintai profesi Saya sebagai seorang Pendidik, karena semakin menyadarkan Saya bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pengajaran yang menyenangkan dan bermakna. Selain itu, setiap anak berhak untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan minat dan bakat serta potensi masing-masing. Guru sebagai “pamong” harus mampu menuntun dan mengarahkan anak-anak agar mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang seluas-luasnya. Implementasi Saya terhadap pemikiran KHD ini dapat diwujudkan dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan baik seperti melaksanakan shalat berjamaah, tadarus bersama, melakukan praktik baik serta pembiasaan nasionalis seperti mengikuti upacara-upacara memperingati hari besar Nasional maka secara perlahan akan membentuk karakter, moral dan akhlaq mulia dan berbudi pekerti yang luhur.</div><div>&nbsp;</div><div>2. Bagaimana perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya?<br>&nbsp;Menuntun dalam konteks sosial budaya daerah Saya adalah memberikan energi positif saling asah, asih dan asuh. Mengingat anak-anak saat ini adalah generasi milenial yang senantiasa memanfaatkan IPTEK, mereka dengan mudah dapat mengakses segala infomasi yang ada, maka sebagai seorang pendidik kita harus menjadi filter agar anak-anak tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif, sebagai pendidik juga harus dapat beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Memanfaatkan penggunaan gadget yang sudah tidak asing lagi untuk anak-anak untuk digunakan dalam proses pembelajaran, misalnya mempraktikkan sebuah tari tradisional, bernyanyi, membuat iklan media elektronik dimana siswa tersebut yang menjadi objeknya, serta hal lain yang membangun perkembangan siswa.&nbsp;</div><div><br>&nbsp;3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman?</div><div>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Hal ini dikarenakan setiap anak yang lahir sudah memiliki keunikan dan potensinya masing-masing. Tugas kita sebagai seorang pendidik adalah mendukung dan meyakinkan mereka bahwa mereka memiliki potensi kreatif yang dapat menghasilkan gagasan cemerlang. Sementara anak sesuai kodrat zamannya adalah berkaitan dengan isi dan iramnya. Seperti pemikiran KHD bahwa kita harus mendidik sesuai dengan zamannya. Oleh karena itu, kita harus mampu menjawab tantangan zaman. Masuknya pengaruh dari luar harus tetap kita filter dengan tetap mengutamakan kearifan sosial budaya Indonesia sehingga tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks budaya di Indonesia.</div><div>&nbsp;</div><div>4.&nbsp; Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak pada anak) dengan peran saya sebagai pendidik.<br>&nbsp;Sebagai pendidik Saya hanya sebagai fasilitator, pembimbing anak-anak. Sumber belajar mereka bukan hanya terpusat pada guru, siswa mampu untuk mencari sumber belajar lain, misalnya melalui tutor sebaya serta sumber belajar yang lain. Bagaimana Saya mampu menyajikan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Memberikan kebebasan untuk menyajikan hasil karya atau tugasnya sesuai dengan kreasi mereka, baik dalam bentuk digital maupun non digital karena sejatinya setiap anak memiliki potensinya masing-masing dan berhak untuk mendapatkan kemerdekaan dalam belajar.</div><div><br>&nbsp;Sekian dan Terima Kasih<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-06-01 01:55:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206850087</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dinia Ika Rahmayanti</title>
         <author>andromeydha</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206949015</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Pengalaman Pembelajaran Terkait Refleksi Filosofi KHD</strong></div><div>Sebelum mempelajari filosofi pembelajaran KHD saya berpikir bahwa saya harus menuntut anak untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan apa yang ada di buku siswa. Pembeajaran juga saya lakukan dengan metode yang sama untuk semuanya. Setelah mempelajari filosofi KHD saya jadi berpikiran bahwa saya harusnya menuntun siswa sesuai dengan kodrat alaminya. Pembelajaran akan saya kemas dengn kondisi yang menyenangkan berdasarkan karakteristik siswa.<br><br></div><div><strong>Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya. </strong>Melakukan kegiatan pebelajaran disesuaikan dengan konteks social budaya di sekitar. Pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan sosial sekitar. Selain itu budaya yang ada di daerah tempat tinggal juga bisa dijadikan sebagai bahan untuk mengajarkan budi pekerti siswa. Disini peran saya adalah melakukan observasi dahulu terhadap lingkungan social budaya di daerah tempat saya mengajar. Setelahnya hasil observasi tersebut akan saya jadikan acuan dalam membimbing/mendampingi mereka tuk menjadi manusia yang mandiri lahir dan batinnya.<br><br></div><div><strong>Pendidikan di Indonesia perlu menerapkan kodrat alam dan kodrat&nbsp; zaman</strong> karena Indonesia ini adalah Negara multicultural yang kaya akan budaya daerah selain itu Negara Indonesia adalah Negara kepulauan. Pendidikan di daerah pegunungan tentunya berbeda dengan pendidikan di daerah pantai karena kharakteristik penduduknya pun berbeda. Sehingga sebagai pendidik harus bisa menuntun siswa sesuai dengan kodrat alamnya. Pendidik juga harus menyesuaikan dengan kodrat zaman tentunnya juga harus bersikap selektif. Ilmu yang diadopsi hendaknya tidak bertentangan dengan social budaya di Negara kita.<br><br><strong>Relevansi pendidikan KHD "berhamba pada anak" dengan peran saya sebagai pendidik. Pendidik melakukan p</strong>embelajaran hendaknya berorientasi pada siswa. Pendidik bertugas memaksimalkan potensi siswa dengan menggunakan metode pembelajaran sesuai karakteristiknya. Pendidik dengan tulus ikhlas &nbsp;memperhatikan kebutuhan anak. tentunya anak tidak dibiarkan bebas begitu saja namun guru juga perlu meluruskan jika ada yang kurang tepat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-06-01 03:47:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2206949015</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yoakim Riwitiyoso - SMA Katolik Ricci Jakarta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2207008387</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Pengalaman saya saat proses kegiatan belajar mengajar selama ini sebagai refelksi pemikiran KHD yakni Setiap pembalajaran pasti ada saat untuk ice breaking dan bisa dilakukan 3-4 kali ice breaking dalam 2 jam pelajaran. Dan saya hanya 2 kali memberikan materi di awal dan akhir pembelajaran setiap KDnya. Selama proses saya menggunakan metode inkuri terbimbing dan discovery terbimbing, dan saya pun menggunakan proses pembalajaran dengan cara Kuis Siapa Berani, Debat, Kompetensi TTS, Mencipta Lagu lagu berkaitan dengan materi, Main Map, Mading, serta proyek proyek sehingga mereka bisa menciptakan sesuatu sambil mempelajari materi yang sedang berlangsung.</div><div>Kegaitan belajar mengajar saya ini, mereka bisa merasa Bahagia dan menikmati segala proses yang mereka alami selama proses belajar. Semoga yang saya lakukan ini merukan tujuan Pendidikan yang sesuai pemikiran KHD.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2. Bagaimana Perwujudan Menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Menurut saya perwujudan “menuntun” yang saya lihat dalam konteks social budaya di daerah saya sebagai berikut:</div><div>&nbsp;</div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Respect&nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; Integry</div><div>3.&nbsp; &nbsp; Citizenship.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; Caring</div><div>5.&nbsp; Initiative.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Pendidikan Indonesia jelas sangat perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat Zaman karena pada dasarnya anak – anak dengan segala keragaman dan keunikan tiap individunya membuat proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru pun berbeda. Belum lagi keberagaman kondisi wilayah alam serta seluruh energinya yang jelas berbeda dengan daerah lainnya. Masing – masing individu dan daerah memiliki kekhasannya tersendiri. Daerah tersebut yang menjadi lingkungan tempat tinggal bagi anak tentu akan menghasilkan suatu fokus pembelajaran yang berbeda. KHD mengibaratkan seperti sama – sama benih jagung namun dengan kualitas yang berbeda. Peran petani tentu sangat penting untuk memilah antar satu dengan tanaman lainnya yang membutuhkan perawatan dan perhatian khusus.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Proses Pendidikan yang mempertimbangkan keadaan alam dan sesuai dengan perkembangan zaman akan menghasilkan berbagai bentuk kebudayaan yang sesuai dengan dirinya dan masyarakat di sekitarnya. Anak – anak pun tidak tercerabut dari daerah tempat mereka tinggal.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>4.&nbsp; Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Pendidik waktu itu khususnya pada Kurikulum 2004 yang masih belum mengutamakan Pendidikan yang berhamba pada anak. Pendidik masih berpihak/berhamba pada tuntutan administrasi sehingga anak tidak terperhatikan menjadi anak tidak seutuhnya memahami Pendidikan yang ia jalani.</div><div>Kurikulum 2013 ini menurut saya pun sudah berpihak pada anak (berhamba pada anak), karena pendidik saat ini diminta hanya sebagai Fasilitator yang membantu memfasilitasi anak untuk berproses dalam pembelajaran yang akan ia jalani sampai tujuan pembelajaran tercapai.</div><div>Pendidik sebagai Fasilitator adalah salah satu Relevansi pemikiran KHD bahwa pendidik harus berhamba pada anak, sehingga apapun yang kita lakukan hanya untuk anak demi tujuan pembelajaran tercapai. Berhamba berarti harus mengetahui situasi dan kondisi serta mengerti dan memahami anak anak kita. Sehingga pembelajaran pun bisa menjadi baik, prinsip saya pembelajaran yang menyengangkan salah satu tujuan utama saya dalam proses pembelajaran. Anak senang pasti dapat menerima pembelajaran dengan baik.</div><div>Jika kita berhamba pada anak, pasti pendidik akan berusaha dengan seutuhnya untuk<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-06-01 05:05:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2207008387</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dewi Asriani </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2207525306</link>
         <description><![CDATA[<div>2. Bagaimana perwujudan menuntut dalam konteks sosial budaya di daerah saya.<br>menuntut bisa diartilkan berjalan bersama secara beriringan atau bergandeng tangan untuk menuju tujuan yang sama, untuk anak didik saya saya tuntun mereka mengenali lingkungan sekolah di awal tahun pembelajaran secara virtual karena masih PJJ tetapi setelah PTM terbatas awal bulan Januari, saya mengajak mereka berkeliling lingkungan sekolah mengamati dan mendengar dan berbicara langsung kepada mereka bahwa inilah sekolah kita. Baik buruknya sekolah kita adalah kita warga sekolah yang bertanggung jawab.Sekollah kami adalah sekolah adiwiyata tingkat nasional kami perkenalkan kepada mereka tempat2 sampah yang berwarna merah,kuning, hijau dan orange beserta manfaat dan isi agar mereka bisa dan terbiasa untuk memilah sampah,saya tuntun juga mereka mengenal tumbuhan yang hidup di sekolah sebagai salah satu sumber oksigen, di sekolah kami banyak terdapat tumbuhan yang produktif (mangga, nangka dan belimbing) sekolah saya memiliki tumbuhan jamblang yang sudah langka di DKI. Dari situlah akhirnya saya suka amati anak ketika membuang sampah kertas mereka akan ingat tempat sampah yang warna hijau untuk sampah organik.<br><br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman.<br><br>Setiap kita lahir di zaman yang berbeda, berbeda pula cara guru dan orang tua memberikan pedidkan dan pengasuhan karena itu kita harus selalu up to date mengikuti perkembangan zaman dari waktu ke waktu. abad 21 kita di tuntut untuk bergerak ke arah informasi digitalisasi yang lebih pesat dalam segala sektor tidak terkecuali dengan pendidikan banyak sudah inovasi dan kreatifitas yang sudah kita lihat dan rasakan bahkan kita gunakan dalam pembelajaran abad ini, pembelajaran menggunakan zoom, google meet tau apalikasi lain yang dapat mengantarkan mereka akan pengetahuan yang lebih luas, dengan adanya literasi digital siswa dapat membaca melihat dan mengamati negara2 di dunia tanpa mereka harus datang ke tempat itu, sungguh teknologi sudah membawa kita kepada peradaban yang semakin luas dan dunia semakin sempit.Tetapi kita juga tidak boleh melupakan kodrat alam<br>Untuk pendidikan anak sekolah dasar kita harus melihat kebutuhan mereka dan karakteristik usia serta kesiapan mental dalam menerima perubahan zaman. Penggunaan Gadget untuk anak usia SD khususnya kelas rendah masih harus di awasi oleh orang tua. Setiap anak sudah memiliki garis kemampuannya masing2&nbsp; walaupun masih tipis dan samar2 nah guru dan orang tua yang nanti nya dapat menebalkan kemampuan anak didiknya dengan mengasah kemampuan melatih keterampilan yang ada.sekolah menfasilitasi dengan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menebalkan potensi anak tersebut.<br><br>4.Apa relevansi pemikiran KHD " Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" dengan peran saya sebagai pendidik.<br> pendidikan yang berhamba pada anak maksudnya bukan seperti raja kepada bawahannya, tetapi menghamba di sini dalam artian anak kita jadian sesuatu yang istimewa yang kita berikan cinta dan kasih sayang, seperti petani yang menanam benih tanaman yang harus selalu di jaga dan dipelihara dari gangguan hama tanaman. anak adalah investasi dunia dan akhirat. sejak dini lah kita harus menanamkan budi pekerti,pola asuh yang benar kepada mereka karena kelak tua nanti mereka yang akan menggantikan kita memimpin dunia ini.terima kasih<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1719097670/179cc13442942fc923ed5cf936de84a4/ptm_1.jpg" />
         <pubDate>2022-06-01 13:32:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2207525306</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rifa Misrita - SDN Jatipulo 03 - 05.10.A2</title>
         <author>rifamisrita</author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2207772503</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Tuliskan Pengalaman Pembelajaran Terkait refleksi Filosofi KHD !<br></strong>Sebelumnya saya melaksanakan kegiatan pembelajaran dikelas<br>masih berpusat pada guru yang dimana siswa cenderung mendengarkan,<br>memperhatikan dan didikte cara belajarnya dengan harapan siswa dapat<br>menuntaskan kompetensi yang menjadi sebuah tuntutan. Setelah saya diberikan<br>kesempatan untuk ikut program pendidikan guru penggerak, saya dapat mengetahui<br>lebih dalam filosofi pemikiran KH Dewantara tentang pendidikan. Sehingga saya mengubah pola pikir pembelajaran dengan menggunakan metode "Sistem Among" yaitu menjaga, mendidik, dan membina berdasarkan kasih sayang, serta pembelajaran yang berpusat pada anak-anak yaitu mendorong siswa terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Saya sadar bahwa siswa saya tidak hanya cukup mencapai ketuntasan belajar namun ada hal penting yang perlu siswa saya kuasai yaitu budi pekerti untuk mencapai kecakapan hidup yang selamat dan bahagia.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2. Bagaimana perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya daerah saya?</strong>&nbsp;<br>Budaya merupakan sebuah hal terpenting yang ada pada struktur masyarakat. budaya berkontribusi dalam bagaimana manusia hidup, bagaimana mereka berperilaku, serta di samping itu juga berpengaruh terhadap bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Sehubungan dengan daerah saya yaitu DKI Jakarta merupakan pusat pemerintahan yang terdapat beragam suku, bahasa dan agama maka Siswa sayapun rata-rata bukan berasal dari DKI Jakarta (Betawi). Namun pepatah mengatakan 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung' oleh karna itu saya sebagai pamong perlu untuk mengenalkan dan mengarahkan budaya betawi kepada siswa saya melalui pembelajaran muatan lokal yaitu PLBJ (Pendidikan lingkungan dan Budaya Jakarta) dengan harapan budaya Betawi dapat terus dilestarikan. Selain itu disekolah sayapun ada ekstrakurikuler tari yang berasal dari betawi yang merupakan salah satu wujud melestarikan budaya Betawi.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman !<br></strong>Karna pendidikan sejatinya melihat kodrat diri anak selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. Ada banyak pengaruh dari luar namun&nbsp; tetap harus disaring dengan mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu perlu mendidik anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri dengan harapan anak-anak siap untuk menghadapi tantangan yang ada dizamannya.<br><br></div><div><strong>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</strong></div><div>Peran saya sebagai pendidik pada relevansi pemikiran KH dewantara Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak yaitu mampu mendorong siswa terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Pendidik melihat siswa bukan sebagai objek tetapi dijadikan sebagai subjek yang dimana pendidik mampu memberikan kesempatan dan fasilitas kepada siswa dalam mencapai tujuan pembelajarannya (merdeka belajar).</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1552629826/5b316ab3b42ed45ab3af8e6c58e49864/WhatsApp_Image_2022_06_01_at_23_38_21.jpeg" />
         <pubDate>2022-06-01 16:45:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2207772503</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dianing Tiyas Adiningrum</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2213623890</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman Pembelajaran terkait refleksi Ki Hajar Dewantara<br>Setelah memahami filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara,&nbsp; saya tersadar masih banyak yang harus saya perbaiki dalam mengajar dan mendidik murid. pembelajaran yang seharusnya saya lakukan adalah pendidikan yang berpihak pada murid yang juga mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dengan tujuan&nbsp; menjadikan anak yang merdeka yaitu dapat beridir di atas kekuatannya sendiri dengan melayani anak dengan sepenuh hati<br>2. Menuntun dalm konteks sosial budaya<br>membimbing murid dengan melibatkan latar belakang sosial budaya agar anak - anak selalu bersikap sesuai dengan budaya nya<br>3. Pendidikan mempertimbang kan kodrat zaman dan kodrat alam, maksudnya adalah pendidikan berifat dinamis, selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman tetapi tidak lupa juga mempertimbangkan lingkungan peserta didik<br>4. Relevansi pemikiran KHD " Pendidikan yang berhamba ( berpihak) pada anak dengan peran saya sebagai pendidik adalah saya mencoba mendengar pendapat, ide, masukan dari murid. jika pendapatnya bagus bisa di lanjutkan, jika pendapatnya kurang bagus maka akan saya arahkan dengan masukan - masukan yang membangun. Saya tidak bisa memaksakan pemikiran saya terhadap murid-murid tetapi saya bertugas mengarahkan agar kordrat baik pada anak muncul dan terwujud dengan baik. Semua di lakukan dengan tujuan memerdekakan anak agar mendapat keselamatan  dan kebahagiaan setinggi - tingginya sekaligus untuk memperbaiki lakunya.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-06-07 13:25:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/pujiastuti121372/h8jzublob1td5klm/wish/2213623890</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
