<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Surat untuk Aleric; by Onedhrive</title>
      <link>https://padlet.com/onedhrive/Arthuraleric</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-11-14 17:19:53 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-07-26 18:58:04 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f940.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>A; </title>
         <author>onedhrive</author>
         <link>https://padlet.com/onedhrive/Arthuraleric/wish/3217542726</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Yang mulia,</strong></p><p><strong>Putra Mahkota Aleric</strong></p><p><br/></p><p>Di bawah gelapnya malam tanpa rembulan, yang menutupi gemerlap cahaya nirwana  di langit bumantara dengan kelam yang dalam, saya meminta semesta menjadi saksi saat saya menulis surat ini dengan jemari penuh gemetar dan hati yang gamang. Sudah berulang kali saya mencoba rangkai kata-kata cinta, tetapi baru sekarang keberanian mendesak saya. </p><p><br/></p><p>Di antara puluhan medan perang yang tertempuh, yang paling menakutkan adalah perang melawan perasaan sendiri. Perasaan yang tidak pernah saya izinkan untuk keluar dari jantung hati saya.</p><p><br/></p><p>Saya, seorang tentara yang hanya terduduk bertekuk lutut jika dihadapkan dengan cinta, kini terpaksa menumpahkan segala perasaan saya pada sepucuk surat kusam yang mungkin tidak akan pernah sampai. Engkau Yang Mulia, yang menempati istana dan hati saya dengan cara yang sama; begitu jelita, sempurna, memukau, namun terpisah oleh barikade berlandaskan tahta.</p><p><br/></p><p>Kisah cinta kita tidaklah ditulis dengan makna kebebasan. Di tiap jeda, ada bisikan yang menarik kita kembali sadar bahwa ada peran, jarak, dan kenyataan yang kejam. </p><p><br/></p><p>Saya ingat kamu sering berkelakar tentang bagaimana kamu selalu ingin memimpin bentala, menggantikan ayahmu tanpa peduli tentang apa yang harus dikorbankan. Saya selalu meghargai setiap keputusan dan kegigihanmu, meski tahu di ujung jalan buka saya yang ada di sana menemani. </p><p><br/></p><p>Saya mengerti, di atas segalanya, hatimu tetaplah milik mahkota, sedangkan saya adalah prajurit yang dibesarkan oleh gemblengan medan tempur, bukan oleh kedigdayaan darah biru. Dari beribu cela yang ada pada diri saya, kamu tetap memanggil saya “Lelaki luar biasa”, seolah kita berdua lebih dari makhluk dari kasta yang tak sama, seolah saya bukanlah seorang pengabdi yang tunduk di hadapan satu tahta keluarga.</p><p><br/></p><p>Bagi saya, kita adalah rahasia nista paling indah. Malam-malam panjang berlalu menjadi saksi bisu. Mereka mendengar semua keluh kesah serta pengakuan saya tentang dirimu, tentang bagaimana hati saya merindu sesuatu yang tak mungkin pernah saya gapai, mengeluh tentang keinginan kita untuk bersama namun tidak pernah berani dibiarkan untuk tumbuh.</p><p><br/></p><p>Aleric, cinta saya bagai bisikan tanpa suara, terpendam di balik perisai kehormatan dan puluhan sumpah setia.</p><p><br/></p><p>Masih jelas dalam ingatan saya. Hari itu, saat kaki saya berpijak di balai besar, menggunakan seragam dengan panji-panji kerajaan ayahmu yang berkibar dengan gagah di punggung saya, mata kita bertemu. Sekejap, namun cukup tinggalkan sebuncah rasa bahagia di dalam relung jiwa saya. </p><p><br/></p><p>Dan saat kamu berbicara kepada saya, suaramu seakan menjadi desauan angin syahdu yang hapuskan lelah dan penat di medan pertempuran. Tidak ada secuil rasa keberanian yang mendorong saya bertindak lebih jauh dari hanya sekadar mencuri pandang iris matamu dari seberang lantai dansa, memerhatikan kepalamu bergoyang ke kanan dan ke kiri diiringi gelak tawa dengan senandung musik klasik, mengagumi siluetmu yang menari dilingkupi kebahagiaan.</p><p><br/></p><p>Kamu, begitu anggun dan tak terjamah.</p><p><br/></p><p>Saya begitu mengingat saat-saat di mana langkah kaki kita masih ringan untuk berdansa berdua, tertawa tanpa beban, tanpa menyadari kenyataan yang harus kita hadapi. Sorot mata kita berdua berbicara lebih banyak dari lisan yang tak terucap. Masih saya rasakan jemari kita berdua saling menyentuh walau hanya sekilas, tinggalkan jejak kenyamanan yang tak akan pernah hilang. </p><p><br/></p><p>Kamu pernah bertanya apa yang paling saya nanti setelah perang usai, dan saya menjawab bahwa kembali pulang melihat senyum milikmu adalah bentuk penantiannya.</p><p><br/></p><p>Kabar tentang perintah berperang baru tersampaikan kepada saya kala itu, dunia rasanya runtuh, Aleric. Semesta kembali menjadi saksi betapa cepat raut bahagia milik kita berganti menjadi raut kecemasan. Saya harus meninggalkan istana. Meninggalkan kamu, pergi dengan membawa cinta yang terlalu besar untuk saya simpan, tetapi terlalu bahaya untuk saya perjuangkan.</p><p><br/></p><p>Di malam terakhir sebelum keberangkatan saya, kita berjumpa di balik balai, tempat di mana kita berbagi cerita dalam bisikan yang berbaur dengan angin malam. Jemari kita bertautan, tak sembunyi lagi di balik topeng kehormatan, hanya saya dan kamu yang ditelanjangi oleh kenyataan pahit. Kamu bertanya, kenapa harus saya yang pergi, karena memang sudah tugas dan takdir saya, Aleric. Meski dalam hati, saya mengutuk penuh kata-kata yang isyaratkan makna perpisahan. </p><p><br/></p><p>Takdir adalah alasan yang sepele diucapkan namun sukar diterima. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya bersedia melawan takdir demi kamu, bahwa saya rela tinggalkan segalanya untuk selalu berada di sisimu, tapi di balik tekad itu ada kesadaran bahwa impian saya mungkin hanya akan menghancurkan kita berdua.</p><p><br/></p><p>Saat kamu bilang bahwa kamu berusaha batalkan perintah Raja dan tetap menahan saya di sini, secercah harapan menyala di lautan kesedihan. Namun saya tahu, itu hanya akan menjadi bara yang membakar habis masa depan kita. Wajahmu tak mampu sembunyikan kekecewaan. Saya ingin menghapus rasa kecewa itu, menjadi lelaki yang bisa melindungimu dari semua luka, tetapi saya bukan siapa-siapa selain pengabdi yang terikat pada sumpah dan kesetiaan. </p><p><br/></p><p>Cinta saya adalah pelindung sekaligus belenggu. </p><p><br/></p><p>Saya raih tanganmu malam itu dengan penuh keputusasaan. Saya ucapkan janji, akan menemuimu, bukan sebagai prajurit penuh luka, tetapi sebagai lelaki yang bebas mencintai dan bisa bawa bahagia.</p><p><br/></p><p>Perpisahaan itu bukan hanya belenggu yang mencengkram jiwa, namun sekaligus langkah mundur. Di medan perang, suara pedang saling beradu, teriakan berbaur dengan darah, namun di dalam pikiran saya hanya ada suaramu yang memanggil. Setiap tarikan nafas saya adalah doa agar suatu saat nanti saya bisa kembali.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2861556845/0a32f0ac329afa51929081d142de53c1/aleric.jpg" />
         <pubDate>2024-11-14 17:21:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/onedhrive/Arthuraleric/wish/3217542726</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>onedhrive</author>
         <link>https://padlet.com/onedhrive/Arthuraleric/wish/3219116538</link>
         <description><![CDATA[<p>Semakin lama, bentangan jarak semakin terasa kehadirannya. Semesta memiliki cara kejam untuk menguji janji dan harapan. Kabar mengenai aliansi politik merebak di perkemahan perang, dan namamu tersebut dalam perjanjian pernikahan dengan seorang bangsawan. </p><p><br/></p><p>Saya membacanya ribuan kali, hati saya menolak percaya. Kenyataan itu membakar semua mimpi dan janji yang pernah saya ikrarkan.</p><p><br/></p><p>Seorang pria bangsawan meminangmu dengan dukungan penuh Raja. Saya tidak bisa bersaing dengan gemerlap mahkota dan gelimang harta yang menggelimuni calon pengantinmu kelak. Dia, pria dengan senyum yang disenangi rakyat, yang menguasai sorak-sorai rakyat, dengan janji akan koalisi kuat bagi tanah kerajaan. </p><p><br/></p><p>Saya, seorang tentara tanpa <em>nama</em>, hanya mampu menyaksikan dari jauh saat kamu melangkah menuju takdirmu. Sementara takdir saya, memanggil saya menuju medan yang lebih jauh, memisahkan kita berdua lebih lama daripada yang pernah saya bayangkan. Sungguh Ironi yang kejam.</p><p><br/></p><p>Aleric, saya lebih memilih hancur di tengah gemuruh perang dan di bendera musuh, daripada hidup dalam patah hati tak berujung. </p><p><br/></p><p>Kepergian ini yang akhirnya saya sebut sebagai takdir. </p><p><br/></p><p>Kepergian yang saya pilih adalah cara saya selamatkan sisa-sisa keberanian yang saya punya. Karena melihatmu berjalan di altar istana yang megahnya terlalu mewah bersama orang lain, bukanlah luka yang sanggup saya tanggung pedihnya. </p><p><br/></p><p>Aleric, saya takut. Bukan pada kematian, tapi pada kehidupan dimana saya hanya dapat memeluk angin yang gagal bawa harum dirimu dari kejauhan.</p><p><br/></p><p>Surat-surat ini, apakah sudah sampai padamu? Di balik seragam perang dan perisai yang saya bawa, saya tidak lebih dari seorang lelaki yang menyerahkan seluruh diri saya tanpa syarat, tidak lebih dari seorang bawahan yang hanya layak untuk menunduk, bukan untuk berdiri sejajar. Semua itu penyesalan saya dan kesedihan saya yang tak pernah cukup berani melangkah lebih jauh. </p><p><br/></p><p>Saya bertanya-tanya, ketika kamu duduk merenung dan memandang cakrawala, adakah sekelumit rasa rindu yang kamu gaungkan pada semesta untuk saya? saya tahu betul, kamu juga rasakan beban yang sama, bahwa kita adalah dua jiwa yang saling menemukan tapi dipaksa berjauhan.</p><p><br/></p><p>Saya bersumpah, jika akhir hidup saya tiba di medan perang yang jauh, saya akan menunggumu di kehidupan lain, dengan harapan kita akan lahir tanpa perbedaan kasta, tanpa dinding yang memisahkan. Tanpa mahkota dan perisai, tanpa gelar dan sumpah. Kita akan berdiri setara, sebagai dua orang yang berhak atas segala pengakuan cinta. Saya rindu dirimu, di sisi saya, bukan dalam kenangan atau angan-angan yang terlalu berharga untuk disentuh.</p><p><br/></p><p>Aleric, meski sudah hirap cinta kita ditindas kekuasaan, meski kamu tak akan pernah kembali ke pelukan, saya harap kenangan akan diri saya akan selalu hidup dalam satu irama detak jantungmu. Kamu, akan selalu saya cintai dengan seluruh keberanian yang saya miliki. </p><p><br/></p><p>Ikhlaskan saya pergi dengan beribu kenangan akan dirimu, mari bersua kembali di suatu tempat yang tak akan pernah mengenal kata perpisahan. Di sana, saya bukan lagi sebagai tentara pengabdi yang berlutut, tetapi sebagai pria yang bisa memelukmu tanpa rasa takut. Saat itu tiba, kita akan menari di bawah langit yang sama, bukan di bawah ketidakberdayaan dan keputusasaan.</p><p><br/></p><p>Aleri, demi kamu, saya relakan kita.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><strong>Dengan kasih sayang dan pengabdian tanpa batas,</strong></p><p><strong>Kapten Pasukan Legiun Ketiga, Arthur.</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>──────────────────────────</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-15 15:07:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/onedhrive/Arthuraleric/wish/3219116538</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
