<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Carilah masing-masin g satu paper yang mengunakan paradigma positivisme dan post-positivism. Buatlah raungkuman metodologi yang digunakan dalam dua paper tesebut by </title>
      <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-02-13 07:14:17 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-02-25 15:03:02 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>POSITIVISME DAN POST POSITIVISME (PART 1)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888140180</link>
         <description><![CDATA[<p>Oleh:</p><ul><li><p>Prananta Radika (23/530978/PGE/01633)</p></li><li><p>Anita Putri Anggraini (23/531032/PGE/01646)</p></li><li><p>Berlita Putri Devika (23/531057/PGE/01647)</p></li><li><p>Tria Sofie (23/531090/PGE/01648)</p></li></ul><p><br></p><p><strong>Positivisme</strong></p><ul><li><p>Judul: A Quantitative Model of Innovation Readiness in Urban Mobility: Comparative Study of Smart Cities in the EU, Eastern Asia, and USA Regions</p></li><li><p>Penulis: Georgia Ayfantopoulou, Dimos Touloumidis, Ioannis Mallidis, and Elpida Xenou&nbsp;</p></li><li><p>Akses: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.mdpi.com/2624-6511/6/6/148">https://www.mdpi.com/2624-6511/6/6/148</a>&nbsp;<br></p><p><br></p></li></ul><p>Penelitian menggunakan survei dengan memanfaatkan <em>platform online </em>untuk memudahkan akses dan distribusi. Namun, pelaksanaan survei terkendala dengan penggunaan layanan <em>online </em>UE di Tiongkok sehingga juga memanfaatkan Excell untuk mengumpulkan tanggapan dari responden Tiongkok. Pemilihan kota dilakukan secara pragmatis yang dipengaruhi oleh kesediaan kota untuk terlibat dalam penelitian.&nbsp; Indikator yang digunakan mencakup aspek tata kelola, infrastruktur, pemangku kepentingan dan iklim. Survei ini mempunyai dua bagian meliputi pengumpulan informasi umum, peran, dan afiliasi tentang para peserta serta eksplorasi indikator inovasi secara rinci. Setiap indikator diberikan dalam bentuk pertanyaan dengan rentang nilai 1 - 5 sebagaimana yang ada pada paradigma positivisme. Dalam positivisme, segala fenomena yang dikaji dapat diukur dengan nilai positif agar memiliki nilai kuantitatif. Pendekatan secara kuantitatif pun ditandai dengan adanya pengukuran melalui perhitungan angka.</p><p><br></p><p>Adapun pemberian pemahaman terkait peran setiap responden untuk mendukung akurasi penilaian. Hal ini dilakukan dengan penambahan keterangan di setiap perwakilan responden guna memastikan responden dapat menggambarkan situasi kota dengan baik. Identifikasi indikator inovasi yang menonjol memanfaatkan pendekatan PRISMA yakni metode yang digunakan untuk melakukan tinjauan literatur sistematis. Pendekatan ini berperan penting dalam mendefinisikan elemen utama ekosistem mobilitas perkotaan yang inovatif.</p><p><br></p><p>Penelitian dengan menggunakan paradigma positivisme pun berdasar pada sebuah teori secara umum yang kemudian dikembangkan sebagai hipotesis spesifik berdasarkan teori tersebut. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan metodologis tiga langkah untuk memperkirakan kesiapan inovasi suatu kota dalam mobilitas perkotaan sehingga memfasilitasi inovasi perkotaan dan mengidentifikasi bidang utama dalam sistem mobilitas perkotaan. Langkah pertama adalah tinjauan literatur komprehensif untuk menjustifikasi indikator inovasi yang paling terdampak terhadap kemampuan kota dalam memanfaatkan teknologi baru. Pada tahap awal dilakukan identifikasi dan pemfokusan inovasi dominan yang mempengaruhi kemampuan kota untuk inovasi. Paradigma positivisme meyakini bahwa kebenaran berlaku secara general dan dapat dikaji berdasarkan teori - teori sains. &nbsp; Selanjutnya adalah <em>Principal Component Analysis </em>(PCA) untuk menentukan indikator paling penting sehingga dapat ditentukan parameter inovasi utama setiap lingkungan perkotaan. Langkah terakhir, model regresi efek acak dan efek tetap digunakan secara strategis untuk menangkap dampak dari berbagai variabel yang tidak teramati (faktor ekonomi, budaya, dan politik) sehingga memungkinkan penghitungan tingkat kesiapan inovasi untuk masing-masing variabel secara tepat di setiap wilayah.</p><p><br></p><p>Dua puluh satu pertanyaan terpilih digunakan untuk menilai indeks kesiapan inovasi suatu suatu kota. Meskipun indikator 9–21 berhubungan langsung dengan mobilitas, indikator 1–8 memberikan informasi penting mengenai konteks inovasi yang lebih luas yang menjadi bagian dari solusi mobilitas dan dapat diimplementasikan. Tata kelola dan kebijakan, misalnya, memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Aspek tersebut memastikan kota memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang mendukung. Aspek penting lainnya adalah infrastruktur yakni ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang berdampak langsung pada kelayakan dan efektivitas solusi mobilitas inovatif. Keterlibatan pemangku kepentingan memastikan bahwa beragam perspektif dipertimbangkan dalam proses inovasi, mendorong solusi mobilitas yang inklusif, dan terintegrasi dengan baik. Adanya indikator 1–8 dalam penilaian sebagai evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan kota untuk berinovasi dengan mempertimbangkan tidak hanya aspek terkait mobilitas, tetapi juga ekosistem inovasi yang lebih luas.&nbsp;</p><p><br></p><p>Penilaian kesiapan pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan I<em>nnovation Cities Index</em> (ICI) dalam aspek inovasi. Meskipun demikian, penelitian ini menggali lebih dalam tantangan dan peluang terkait inovasi mobilitas perkotaan, memberikan wawasan dan rekomendasi terfokus bagi kota yang ingin meningkatkan kesiapan untuk berinovasi. Hal tersebut untuk mengetahui seberapa jauh kesiapan inovasi dalam konteks perkotaan. Indikator inovasi yang digunakan diidentifikasi menggunakan<em> </em>PCA. Komponen paling kritis dipilih menggunakan kriteria Guttman Kaiser dimana komponen dengan nilai eigen (&gt;1) harus dipilih. Logika yang mendasari kriteria ini adalah bahwa setiap komponen utama harus menjelaskan lebih banyak varians daripada satu variabel asli.&nbsp;</p><p><br></p><p>Langkah 2 menggunakan data yang diperoleh dari metodologi PCA berdasarkan indikator inovasi yang telah ditentukan untuk menghitung tingkat kesiapan inovasi setiap kota yang merupakan variabel terikat. Diasumsikan bahwa kumpulan data yang diperiksa mencakup satu entitas yang terkait dengan wilayah geografis setiap kota. Pada Langkah 3, uji Hausman digunakan untuk memutuskan antara model efek tetap dan model efek acak, yang menangkap dampak variabel wilayah geografis yang tidak teramati terhadap kesiapan inovasi kota masing-masing. Uji Hausman digunakan untuk menyelidiki hipotesis nol yang menyatakan bahwa model efek acak lebih tepat dibandingkan model efek tetap. Model efek tetap dipilih sebagai model yang paling sesuai dan hipotesis nol ditolak jika nilai p untuk uji Hausman lebih kecil dari probabilitas tingkat signifikansi yang telah ditentukan. Terakhir, model yang dipilih akan digunakan untuk memprediksi kemungkinan tingkat kesiapan suatu kota untuk mengadopsi solusi mobilitas inovatif berdasarkan karakteristik sistem mobilitas perkotaan yang berbeda-beda.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-19 13:18:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888140180</guid>
      </item>
      <item>
         <title>POSITIVISME DAN POST POSITIVISME (PART 2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888143880</link>
         <description><![CDATA[<p>Oleh:</p><ul><li><p>Prananta Radika (23/530978/PGE/01633)</p></li><li><p>Anita Putri Anggraini (23/531032/PGE/01646)</p></li><li><p>Berlita Putri Devika (23/531057/PGE/01647)</p></li><li><p>Tria Sofie (23/531090/PGE/01648)</p></li></ul><p><br><strong>Post Positivisme</strong></p><ul><li><p>Judul: Various ICT-Based Applications and Their Uses to Support Smart City Implementation in The Regency of Blora</p></li><li><p>Penulis: Rini Rachmawati, Pinta Rachmadani, Vivy Nur Anifa, dan Fina Lutfiana</p></li><li><p>Akses:<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/abs/2020/60/e3sconf_icst2020_07004/e3sconf_icst2020_07004.html"> https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/abs/2020/60/e3sconf_icst2020_07004/e3sconf_icst2020_07004.html</a></p></li></ul><p><br></p><p>Penelitian terkait aplikasi berbasis ICT untuk mendukung implementasi <em>smart city </em>di Kabupaten Blora menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan pada penelitian ini tidak berbasis pada angka, melainkan menekankan pada penjelasan dan deskripsi secara kualitatif.&nbsp; Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini konsisten dengan pandangan post positivisme yang menekankan pada konstruktivisme sosial.&nbsp;</p><p><br></p><p>Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mengamati fakta objektif, tetapi juga untuk memahami bagaimana partisipan dalam konteks sosial tertentu memberi makna pada penggunaan aplikasi dalam pembangunan <em>smart city.</em> Sebagaimana yang disebutkan dalam artikel terkait, aplikasi berbasis ICT untuk mendukung program pembangunan <em>smart city </em>di Kabupaten Blora telah dilaksanakan dalam enam tahun terakhir. Beberapa aplikasi berbasis ICT&nbsp; yang telah digunakan dengan baik dipilih untuk dianalisis lebih lanjut.</p><p><br></p><p>Penilaian terhadap penggunaan aplikasi tersebut dilakukan melalui <em>focus group discussion </em>dari setiap dimensi kota pintar melalui kegiatan forum evaluasi kota pintar. Setelah dilakukan penilaian, kemudian dilakukan wawancara mendalam atau <em>indepth interview </em>dengan penyedia aplikasi dan pengguna aplikasi. Pendekatan ini membuktikan bahwa realitas pada penelitian ini bersifat subjektif dan jamak karena berasal dari beberapa informan terkait. Hal tersebut memungkinkan peneliti untuk memahami realitas subjektif dan interaksi sosial yang dibangun oleh informan terkait.&nbsp;</p><p><br></p><p>Data yang didapatkan tidak bersifat universal dan mutlak sehingga tidak dapat ditelusuri melalui teori-teori sains. Dalam paradigma post positivisme, kesadaran akan adanya konstruksi sosial dan interpretasi subjektif dari realitas diperhitungkan. Pendekatan ini mengakui bahwa realitas sosial kompleks dan tidak dapat direduksi menjadi satu dimensi tunggal atau kriteria objektif. Data-data yang didapatkan pada penelitian ini juga&nbsp; tidak bebas nilai karena bukan data kuantitatif.&nbsp;</p><p><br></p><p>Informan yang dipilih menyajikan informasi terkait yang berkorelasi dengan tujuan penelitian sehingga dilakukan secara <em>purposive. </em>Informan terpilih merupakan petugas terkait yang mengelola aplikasi serta pengguna aplikasi pada setiap aplikasi yang menjadi kajian. Informan yang dipilih memiliki perspektif yang berbeda sehingga dapat dibandingkan serta informasi dapat diperoleh secara lebih luas. Data-data yang didapatkan dilakukan triangulasi untuk menguji reliabilitas dan validitas data. Penggunaan triangulasi metode dalam penelitian ini mencerminkan pendekatan post positivisme yang menekankan pada kebutuhan untuk memeriksa validitas dan keandalan temuan dengan menggunakan lebih dari satu pendekatan atau sumber data. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang penggunaan aplikasi dalam konteks kota pintar.</p><p><br></p><p>Data-data yang telah diperoleh menggunakan <em>indepth interview </em>kemudian diolah menggunakan transkrip wawancara. Selanjutnya, data-data tersebut dilakukan pemadatan atau reduksi data agar data lebih mudah dipahami. Pengolahan data tersebut sesuai dengan pendekatan post-positivisme yang menekankan pada pemahaman kontekstual dan interpretasi mendalam terhadap data. Penyajian dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk memudahkan interpretasi. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menggali makna yang tersembunyi di balik fenomena yang diamati dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas realitas sosial.</p><p><br></p><p>Dengan demikian, metodologi penelitian ini secara komprehensif mencerminkan pendekatan post positivisme dengan mengakui kompleksitas realitas sosial, konstruksi sosial dari pengetahuan, kebutuhan akan validitas dan keandalan data, serta pentingnya interpretasi mendalam terhadap fenomena yang diamati.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-19 13:22:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888143880</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TIPOLOGI SAINS: PARADIGMA POSITIVISME</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888399083</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kelompok 2</strong></p><p>Anggota:</p><p>VERA AZIZAH ADRYAWNING</p><p>23/531016/PGE/01641</p><p>THALITA ALEYDA AZZAHRA</p><p>23/531028/PGE/01643</p><p>DINA RAHAYU</p><p>23/531030/PGE/01644</p><p>CALYA SAHWAHITA</p><p>23/531117/PGE/01649<br></p><p><strong>POSITIVISME</strong></p><p>Judul : The Analysis of Economy Potential and Base Sector of Seven Provinces in Sumatera</p><p>Jurnal : Journal of Indonesian Applied Economics</p><p>Tahun : 2020</p><p>Penulis : Ukhti Ciptawati, Neli Aida, Ahmad Dhea Pratama</p><p>Topik : Pembangunan Ekonomi</p><p>Teknik: Location Quotient (LQ) dan Tipologi Klassen&nbsp;</p><p>Akses: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://jiae.ub.ac.id/index.php/jiae/article/view/406/221">https://jiae.ub.ac.id/index.php/jiae/article/view/406/221</a></p><p><br></p><p>Penelitian ini merupakan penelitian berbasis kuantitatif deskriptif dengan data yang digunakan berupa data sekunder tahun 2014 - 2019 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik provinsi dan nasional. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Location Quotient (LQ) dan Tipologi Klassen.</p><p><br></p><p>Location Quotient (LQ) merupakan metode yang digunakan untuk menentukan sektor basis dan non basis di suatu wilayah. LQ dilakukan dengan membandingkan kontribusi nilai tambah suatu sektor di suatu wilayah terhadap kontribusi nilai tambah sektor tersebut pada skala wilayah yang lebih besar. Data yang digunakan pada analisis ini adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menjadi indikator dari pertumbuhan wilayah. Analisis LQ dihitung dengan rumus:</p><p>LQ = (V<sup><sub>R1</sub></sup>/V<sup>R</sup>)/(V<sup>N1</sup>/V<sup>N</sup>)</p><p>LQ = Location Quotient Value</p><p>V<sup><sub>R1 </sub></sup>= GRDP Sektor 1 kota/kabupaten</p><p>V<sup>R</sup> = Total GRDP Sektor 1</p><p>V<sup>N1 </sup>= GRDP Sektor 1 Provinsi/Nasional</p><p>V<sup>N </sup>= total GRDP Sektor 1 Provinsi/Nasional</p><p>Hasil perhitungan nilai LQ terbagi menjadi tiga, yaitu:</p><ol><li><p>Nilai LQ&gt;1 yang berarti bahwa sektor tersebut memiliki spesialisasi daerah yang lebih tinggi dari tingkat provinsi sehingga termasuk sektor basis dan memiliki potensi ekspor</p></li><li><p>Nilai LQ&lt;1 yang berarti bahwa sektor tersebut memiliki spesialisasi daerah yang lebih rendah dari tingkat provinsi sehingga termasuk sektor non basis</p></li><li><p>Nilai LQ=1 yang berarti bahwa sektor tersebut memiliki tingkat spesialisasi daerah yang sama dengan tingkat provinsi</p></li></ol><p>Pada penelitian ini, analisis LQ dilakukan untuk menganalisis sektor basis di Pulau Sumatera tahun 2014 - 2019. Dari analisis yang dilakukan, ada beberapa sektor dengan nilai LQ&gt;1 yang menjadi sektor basis di setiap provinsi. Provinsi Sumatera Utara memiliki 6 sektor basis; Provinsi Sumatera Selatan memiliki 5 sektor basis; Provinsi Sumatera Barat memiliki 8 sektor basis; Provinsi Riau memiliki 3 sektor basis; Provinsi Jambi memiliki 6 sektor basis; Provinsi Bengkulu memiliki 9 sektor basis; dan Provinsi Lampung memiliki 4 sektor basis.</p><p><br></p><p>Tipologi klassen merupakan salah satu teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi sektor, sub sektor, atau komoditas prioritas dalam suatu daerah. Data yang digunakan dalam analisis ini, yaitu PDRB perkapita. Analisis ini akan mengelompokkan daerah-daerah berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan rata-rata pendapatan, sehingga menghasilkan kelompok-kelompok prioritas yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu:</p><ol><li><p>Kuadran 1 merupakan kelompok cepat maju dan cepat tumbuh yang memiliki pertumbuhan GDP dan pendapatan perkapita yang lebih tinggi dari daerah lain. Kelompok ini menjadi kelompok daerah yang paling maju dan paling cepat mengalami pertumbuhan ekonomi.</p></li><li><p>Kuadran 2 merupakan kelompok daerah berkembang yang memiliki pertumbuhan tinggi tetapi pendapatan perkapita yang lebih rendah dibanding daerah lain.&nbsp;</p></li><li><p>Kuadran 3 merupakan kelompok daerah maju tetapi tertekan, yang memiliki pendapatan perkapita tinggi tetapi tidak dengan pertumbuhan ekonominya.&nbsp;</p></li><li><p>Kuadran 4 merupakan daerah tertinggal yang memiliki pertumbuhan GDP dan pendapatan perkapita kurang dari rata-rata daerah lain.&nbsp;</p></li></ol><p>Analisis tipologi klassen dalam penelitian ini menghasilkan sebagai berikut.&nbsp;</p><ol><li><p>Kuadran 1 meliputi Provinsi Sumatera Selatan dan Sumatera Utara</p></li><li><p>Kuadran 2 meliputi Provinsi Riau</p></li><li><p>Kuadran 3 meliputi Provinsi Sumatera Barat, Lampung, dan Bengkulu</p></li><li><p>Kuadran 4 meliputi Provinsi Jambi</p></li></ol><p><br></p><p>Berdasarkan teknik analisis dan hasil analisis LQ dan tipologi klassen tersebut, didapati, bahwa penelitian ini memiliki 3 ciri dari paradigma positivisme, yaitu:</p><ol><li><p>Penelitian ini berupa penelitian kuantitatif karena data yang diolah berupa data numerik, yaitu data PDRB untuk menghitung nilai LQ dan PDRB perkapita untuk analisis tipologi klassen</p></li><li><p>Keluaran yang dihasilkan bersifat bebas nilai, yaitu keluaran yang dihasilkan akan memiliki makna yang sama dengan hasil penelitian lain yang menggunakan teknik analisis yang sama. Dalam hal ini, hasil analisis dari teknik tipologi klassen menghasilkan empat kuadran yang memiliki ciri khas tersendiri untuk setiap kelompoknya, sehingga daerah-daerah yang tergolong dalam kuadran 1, 2, 3, dan 4 dalam penelitian ini akan memiliki ciri yang sama dengan kuadran 1, 2, 3, dan 4 dalam penelitian lain. Hal ini disebabkan tipologi klassen telah memiliki acuan tersendiri, yaitu berupa empat kuadran dengan karakteristik masing-masing. Hasil analisis LQ juga didasarkan pada rumus yang ada sehingga setiap nilai LQ&gt;1 akan menjadikan sektor tersebut menjadi sektor basis, serta nilai LQ&lt;1 menjadi sektor non basis. Dengan demikian, tidak ada pemaknaan ganda dari hasil yang didapatkan pada penelitian lain yang menggunakan teknik analisis yang sama.</p></li><li><p>Aksiologi dari keluaran yang dihasilkan bersifat general, yaitu dapat dimaknai sama dengan penelitian lain yang menggunakan teknik analisis yang sama<br></p></li></ol><p>Penelitian kuantitatif yang masuk dalam paradigma positivisme diawali dengan teori dan literatur review. Hal tersebut tercermin dalam penelitian ini. Penelitian ini berangkat dari suatu teori, yaitu teori pembangunan ekonomi. Berdasarkan teori tersebut, peneliti kemudian melakukan literatur review yang diantaranya mendapatkan beberapa informasi, seperti: capaian pembangunan ekonomi pada dasarnya dapat dilihat dari adanya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi ini dapat didorong oleh potensi sektor ekonomi sehingga perlu dilakukan analisis untuk melihat sektor unggulan, yang dalam hal ini dilakukan di Pulau Sumatera. Setelah dilakukan literatur review, langkah selanjutnya adalah pengambilan data. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder kuantitatif yang didapatkan dari BPS, yaitu data PDRB dan data PDRB per kapita. Data ini kemudian diolah dan dianalisis dengan metode Location Quotient (LQ) dan Tipologi Klassen. Hasil analisis kemudian disimpulkan di mana terdapat beberapa sektor basis di tujuh provinsi di Pulau Sumatera dan terbaginya provinsi-provinsi tersebut dalam 4 kuadran menurut kondisi perekonomiannya. Langkah ini juga menjadi langkah terakhir dalam penelitian kuantitatif yang termasuk dalam paradigma positivisme.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-19 17:37:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888399083</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TIPOLOGI SAINS: PARADIGMA POST-POSITIVISME </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888399982</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kelompok 2</strong></p><p>Anggota:</p><p>VERA AZIZAH ADRYAWNING</p><p>23/531016/PGE/01641</p><p>THALITA ALEYDA AZZAHRA</p><p>23/531028/PGE/01643</p><p>DINA RAHAYU</p><p>23/531030/PGE/01644</p><p>CALYA SAHWAHITA</p><p>23/531117/PGE/01649</p><p><br></p><p><strong>POST-POSITIVISME</strong></p><p>Judul : Space for Children’s Play and Travel Close to Home: The Importance of Threshold Space</p><p>Jurnal : Children’s Geographies Routledge Taylor &amp; Francis Group</p><p>Tahun : 2023</p><p>Penulis : Holly Weir</p><p>Topik : Ruang Ramah Anak, Ruang Bermain, Ruang Ambang Batas</p><p>Akses:<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://doi.org/10.1080/14733285.2023.2192338"> https://doi.org/10.1080/14733285.2023.2192338</a>&nbsp;</p><p><br/></p><p>Penelitian ini dilakukan dengan menggali lebih dalam bagaimana anak menggunakan dan memanfaatkan lingkungan binaan mereka, kaitannya dengan perkembangan kognitif dan kreativitas anak. Dimana penurunan trend mobilisasi dan minat anak dalam memanfaatkan lingkungan yang ada disekitar mereka dikhawatirkan dapat memberikan pengaruh pada perkembangan anak-anak itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menelisik lebih jauh pemahaman tentang bagaimana anak-anak merasakan dan menggunakan lingkungan sekitar. Ruang ambang batas atau threshold space dalam penelitian ini dirasa penting sebagai titik awal penentuan batas minimal jarak yang mempermudah anak dalam meningkatkan pengeksplorasian bermain mereka secara lebih luas terhadap lingkungan sekitarnya.</p><p><br/></p><p>Penelitian ini menyajikan data-data dari studi kualitatif berupa hasil wawancara semi terstruktur untuk mengetahui persepsi dan pengalaman anak-anak di Hackney, London. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara langsung, workshop, observasi, dan pemetaan beranotasi. Wawancara dilakukan secara simultan dengan aktivitas anak, sehingga menciptakan suasana informal yang memungkinkan peneliti memahami realitas secara mendalam dan alami. Pendekatan yang diambil dalam penelitian ini yaitu pendekatan yang berpusat pada anak (khususnya anak berusia 9-10 tahun) dimana dimaksudkan bahwa anak-anak lah yang paling memahami kegiatan sehari-hari mereka dan bertujuan untuk memberikan wawasan langsung mengenai pengalaman mereka sehingga menunjukkan realitas yang subyektif dan jamak.</p><p><br/></p><p>Pemilihan anak sebagai informan dilakukan secara <em>purposive, </em>dengan mempertimbangkan keragaman latar belakang sosial-ekonomi, budaya, dan karakteristik lingkungan tempat tinggal yang bervariasi. pemilihan anak yang memiliki karakteristik tersebut dimaksudkan supaya peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana setiap anak di lingkungan tempat tinggal yang berbeda-beda memanfaatkan ruang ambang batas sebagai tempat bermain. Hal ini merupakan cerminan dari paradigma post-positivisme yang lebih menekankan pada realitas subjektif dan jamak, yang dipengaruhi oleh sudut pandang masing-masing informan dan kompleksitasnya.</p><p><br/></p><p>Data yang dikumpulkan dianalisis secara tematis, kemudian dikembangkan dengan metode induktif dimana memanfaatkan data-data spesifik untuk menarik tema yang paling umum. Analisis dan pengolahan data awal tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut menggunakan metode deskriptif interpretatif dalam menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai realitas kehidupan anak dan membantu mengembangkan tema-tema utama.</p><p><br/></p><p>Hasil penelitian menyatakan bahwa keberadaan ruang ambang batas yang dekat dengan lingkungan rumah penting untuk anak, tidak hanya untuk tempat bermain namun juga untuk mengeksplorasi lingkungan tempat tinggal mereka. Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang disebabkan oleh perbedaan nilai yang mereka miliki, sehingga tidak ada pengalaman yang dapat dikatakan salah atau disebut dengan kebenaran yang bebas nilai. Data yang disarikan dari sekumpulan pengalaman tersebut diinterpretasi untuk memperoleh makna, bahwa keberadaan ruang ambang batas untuk bermain bermanfaat bagi anak. Selain itu, kualitas ruang tidak kalah penting dari jumlah dan ukuran ruang tersebut.</p><p><br/></p><p>Metodologi penelitian ini telah mencerminkan paradigma post-positivisme yang dicirikan dengan karakteristik sebagai berikut:</p><ol><li><p>Penekanan pada deskripsi yang bersifat kualitatif.</p></li><li><p>Metodologi subjektif dan naturalis melalui keterlibatan peneliti secara langsung dalam pengumpulan dan analisis data, sehingga peneliti dapat memahami realitas secara mendalam dan alami.</p></li><li><p>Tidak bebas nilai, dibuktikan dengan perbedaan pengalaman yang disebabkan oleh perbedaan nilai yang dimiliki informan.</p></li><li><p>Memahami hubungan antar fakta hasil pengamatan dengan makna yang dikandung.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-19 17:39:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888399982</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PARADIGMA POSITIVISME (I)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888870864</link>
         <description><![CDATA[<p>Oleh:</p><ul><li><p>KUNASTYA MULYA PINTA RAMADHAN (23/531010/PGE/01639)</p></li><li><p>RIZKY BAGUS PUTRA BAGIA</p><p>(23/531013/PGE/01640)</p></li><li><p>DHANU MUKTI WIBOWO</p><p>(23/531021/PGE/01642)</p></li></ul><p><br></p><p><strong>Positivisme</strong></p><ul><li><p>Judul: </p><p>Pengaruh Tingkat Pengangguran dan Tenaga Kerja terhadap Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi</p></li><li><p>Penulis: </p><p>Prasetya, Gabriella Megawati</p><p>Sumanto, Agus</p></li><li><p>Tahun:</p><p>2022</p></li><li><p>Sumber:</p><p>KINERJA: Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol. 19 (2) 2022</p><p><br></p></li><li><p>Kritik metodologis:</p><p>Penelitian ini merupakan penelitian <strong>kausalitas dan obyektif</strong>. Penelitian ini menguji hipotesis yang ditetapkan melalui uji statistik untuk mencari <strong>hubungan sebab-akibat</strong> antara variabel bebas dengan variabel terikat sehingga penelitian ini termasuk ke dalam <strong>penelitian positivisme</strong>.</p><ul><li><p>Teknik pengumpulan data : Data sekunder yang berasal dari publikasi BPS (Badan Pusat Statistik), berupa data <em>time series</em> dan data <em>cross section</em>.</p></li><li><p>Variabel dalam penelitian : Variabel bebas adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), sedangkan variabel terikat adalah persentase kemiskinan. Selain itu, digunakan pula variabel intervening berupa pertumbuhan ekonomi.</p></li><li><p>Hipotesis penelitian : Tingkat pengangguran dan tenaga kerja secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi.</p></li></ul><p>Analisis yang dilakukan: Analisis regresi data panel untuk mengetahui pengaruh dari beberapa faktor bebas dalam satu variabel, dilanjutkan dengan analisis jalur untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel bebas terhadap variabel terikat melalui variabel intervening, serta uji sobel sebagai syarat penentuan mampu atau tidaknya variabel intervening sebagai perantara dalam hubungan antara variabel bebas dan terikat yang digunakan.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-20 04:28:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888870864</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PARADIGMA POST-POSITIVISME (II)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888873655</link>
         <description><![CDATA[<p>Oleh:</p><ul><li><p>KUNASTYA MULYA PINTA RAMADHAN</p><p>(23/531010/PGE/01639)</p></li><li><p>RIZKY BAGUS PUTRA BAGIA</p><p>(23/531013/PGE/01640)</p></li><li><p>DHANU MUKTI WIBOWO</p><p>(23/531021/PGE/01642)</p></li></ul><p><br/></p><p><strong>Post-Positivisme</strong></p><ul><li><p>Judul:</p><p>Perubahan Sosial, Migrasi, Dan Politik Identitas: Studi Kasus Masyarakat Perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur (Tahun Ke-2)</p></li><li><p>Penulis:</p><p>Puryanti, Lina</p><p>B. Husain, Sarkawi</p></li><li><p>Tahun:</p><p>2009</p></li><li><p>Sumber:</p><p>Hibah Kompetitif Penelitian Sesuai Prioritas Nasional Batch III Tahun Anggaran 2009, Universitas Airlangga Surabaya, Desember 2009</p></li></ul><p><br/></p><ul><li><p>Kritik metodologis:</p><p>Penelitian ini dilakukan di Pulau Sebatik menunjukkan dinamika masyarakat Sebatik yang amat kompleks dan tidak bisa dilepaskan dari aspek geografis Pulau Sebatik; yang berada di perbatasan Indonesia - Malaysia. Data menunjukkan ketidakmungkinan untuk memaknai konstruksi identitas kebangsaan di wilayah tersebut sebagai bentuk konstruksi yang bersifat tunggal. Kehidupan masyarakat Sebatik yang sedikit banyak tergantung kepada hubungan baik dengan Malaysia sebagai bentuk lived experience di satu sisi, serta kesadaran untuk tetap 'menjaga' bangsa dari satu titik pulau terdepan Indonesia - sebagaimana terlihat dari sikap masyarakat terhadap peristiwa lepasnya Ligitan - Sipadan dan konflik Ambalat, melahirkan bentuk identitas kebangsaan yang bersifat sangat cair dan tidak bisa disederhanakan budaya menjadi sekedar menjadi 'kami' dan 'mereka'. Negosiasi yang terus berlangsung secara dinamis . tercermin dengan kuat dari berbagai bentuk narasi lokal warga Sebatik. Pulau Sebatik sebagai sebuah wilayah transnasional dan melahirkan “<em>imagined community</em>” sebuah bangsa yang bersifat sangat khusus karena terbentuk dalam model koneksi ekonomi-sosial, dan budaya yang tidak ditemukan di wilayah lain yang bukan perbatasan.</p><p><br/></p><p>Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan paradigma post-positivisme dengan melakukan penggabungan antara <strong>penelitian historis, kebudayaan, dan sosiologis </strong>yang dilakukan secara kualitatif. Penelitian historis bermanfaat untuk <strong>memahami proses</strong> terbentuknya masyarakat di Pulau Sebatik dan perkembangannya <strong>dari waktu ke waktu</strong> (diakronis). Untuk aspek sinkronisnya didekati lewat pendekatan sosiologi dan kebudayaan. Kedua aspek tersebut (diakronis maupun sinkronis) akan dikerjakan secara lebih berimbang dan saling melengkapi. </p><p><br/></p><p>Riset ini didesain dalam beberapa tahap metodologis, yakni:</p><ul><li><p>Tahap I : Peninjauan ulang melalui kajian literatur mengenai segi-segi yang berhubungan dengan masyarakat.</p></li><li><p>Tahap II : <em>Collecting data </em>kondisi geografis, demografis, pemerintahan, pendidikan, serta ekonomi yang diperoleh dari sumber-sumber data yang kredibel.</p></li><li><p>Tahap III : Pendalaman informasi yang telah diperoleh pada tahap I dan II melalui wawancara terstruktur kepada pejabat lokal, tokoh masyarakat, kelompok ekonomi dan politik, serta masyarakat biasa.</p></li><li><p>Tahap IV: Klasifikasi data berdasarkan pemilahan tujuan-tujuan penelitian dan analisis data secara mendalam hingga penyusunan laporan.</p></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-20 04:32:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2888873655</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tipologi Sains: Paradigma Post Positivisme (Bagian 2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2894890052</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kelompok 4</strong></p><p>Anggota :</p><p>1. Bernadet Lioni Andri Damayani (23/531002/PGE/01638)</p><p>2. Nurul Hidayah (23/531152/PGE/01652)</p><p>3. Arya Pangestu Hidayat (23/530993/PGE/01636)</p><p>4. Aude Lathif Eriawan (23/530996/PGE/01637)</p><p><br></p><p><strong>POST-POSITIVISME</strong></p><p>Judul: Perubahan <em>Sosio Culture</em> dan <em>Economic Separation </em>Keluarga dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Lansia di Desa Tileng Kecamatan Girisubo</p><p>Tahun: 2019</p><p>Penulis: Sudrajat, Wiwik Puji Mulyani, dan Ahmad Saikhu</p><p>Topik: Lansia, <em>Socio Culture, Economic Separation, Spatial Separation</em></p><p>Akses artikel : <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://doi.org/10.22146/mgi.41255">https://doi.org/10.22146/mgi.41255</a></p><p><br></p><p>Penelitian berfokus pada dinamika sosio culture dan economic separation terhadap kehidupan lansia. Penelitian dilakukan di Desa Tileng Kecamatan Girisubo. Penelitian dilakukan untuk mendalami kehidupan lansia yang memiliki keluarga yang melakukan migrasi. Tujuan dari penelitian ini mengkaji proses perubahan sosio culture dan economic separation yang terjadi pada keluarga lansia, menganalisis kondisi kehidupan sosial demografi dan ekonomi lansia dalam kondisi spatial separation, dan menganalisis pengaruh perubahan sosio culture dan economic separation terhadap kehidupan lansia.&nbsp;</p><p><br></p><p>Penelitian ini menyajikan data-data yang didapatkan dari wawancara terstruktur dari responden untuk mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi variabel<em> sosio culture, economic, economic separation,</em> <em>culture separatio</em>n, dan aspek lainnya. Populasi data yang diambil merupakan keluarga lansia, sedangkan penentuan sampel menggunakan metode simple random sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdapat 2 jenis, yaitu data primer yang dikumpulkan langsung di lapangan melalui wawancara terstruktur dengan responden menggunakan kuesioner dan data sekunder yang dikumpulkan melalui instansi pemerintah.</p><p><br></p><p>Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosial demografi dan ekonomi keluarga lansia berdasarkan&nbsp; umur lansia, jumlah anak atau anggota keluarga, pendidikan lansia, pekerjaan utama dan pendapatan lansia. Perubahan dalam aspek <em>sosio culture</em> pada keluarga lansia dapat dilihat dari peningkatan dalam pendidikan anggota keluarga serta perubahan pandangan lansia terhadap nilai-nilai sosial dan budaya yang dahulu dijaga dengan baik dalam lingkungan mereka. Sementara itu, proses <em>economic separation</em> tercermin dari perubahan aktivitas ekonomi tradisional ke aktivitas ekonomi modern oleh anggota keluarga, yang didorong oleh peningkatan tingkat pendidikan. Kondisi kehidupan lansia, yang tercermin dari situasi sosial-demografi dan ekonomi serta spatial separation, bervariasi secara signifikan dan dipengaruhi oleh perubahan dalam aspek sosial-budaya dan pemisahan ekonomi yang dilakukan oleh anggota keluarga.</p><p><br></p><p>Dengan demikian, metodologi pada penelitian ini secara keseluruhan menggunakan pendekatan post-positivisme melalui analisis data secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan tabel frekuensi dan tabel silang. Data tersebut didapatkan dari wawancara terstruktur dari responden menggunakan kuesioner untuk mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi variabel <em>sosio culture, economic, economic separation, culture separation</em>, dan aspek lainnya. Pengukuran perubahan variabel sosio-kultural dapat dilakukan menggunakan skala Likert dengan memberikan skor, sedangkan untuk mengetahui arah kecenderungan perubahan<em> socio-culture</em> menggunakan perhitungan metode kuartil.&nbsp;</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-25 14:58:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2894890052</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tipolog Sains: Paradigma Positivisme (Bagian 1)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2894890947</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kelompok 4</strong></p><p>Anggota :</p><p>1. Bernadet Lioni Andri Damayani (23/531002/PGE/01638)</p><p>2. Nurul Hidayah (23/531152/PGE/01652)</p><p>3. Arya Pangestu Hidayat (23/530993/PGE/01636)</p><p>4. Aude Lathif Eriawan (23/530996/PGE/01637)</p><p><br></p><p><strong>POSITIVISME</strong></p><p>Judul : Kajian Degradasi Lahan Sebagai Dasar Pengendalian Banjir di DAS Juwana</p><p>Tahun : 2016</p><p>Penulis : Arina Miardini, Totok Gunawan, Sigit Heru Murti</p><p>Topik : Banjir, Degradasi Lahan, Metode Cook</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://doi.org/10.22146/mgi.15633">Akses artikel : https://doi.org/10.22146/mgi.15633</a></p><p><br></p><p>Penelitian ini ditujukan untuk menentukan tingkat degradasi lahan yang terjadi di DAS Juwana dengan menggunakan nilai koefisien aliran yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hidrologi yang berdampak pada terjadinya banjir. Penentuan nilai koefisien aliran dilakukan dengan menggunakan metode Cook dengan mempertimbangkan parameter kemiringan lereng, infiltrasi tanah, tutupan vegetasi, dan simpanan permukaan. Informasi terkait nilai dari koefisien aliran dapat digunakan untuk mengetahui wilayah-wilayah yang menjadi prioritas penanganan dalam pengendalian banjir. Penentuan nilai koefisien aliran dalam penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menganut paradigma positivisme, yang ditunjukan dengan mengukur intensitas limpasan secara positif atau dikuantifikasikan dan dikenal dengan “koefisien aliran.”</p><p><br></p><p>Kebutuhan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini berupa Peta DAS Juwana, data curah hujan harian series 10 tahun, data digital citra Landsat 8 tahun 2014 Path/row 120/65 resolusi spasial 30 x 30 m, Peta Rupa Bumi Digital skala 1:25.000, Peta jenis tanah skala 1 : 250.000, Peta kawasan hutan, dan Peta arahan fungsi penggunaan lahan. Sedangkan peralatan yang digunakan diantaranya perangkat lunak ArcGIS, Ms. Word, Ms. Excel, GPS Garmin 60 CSX, abney level, <em>double ring infiltrometer</em>, gelas ukur, <em>stop watch</em>, dan kamera digital.</p><p><br></p><p>Metode <em>sampling</em> yang dipilih menggunakan sistem <em>stratified purposive sampling</em> dengan intensitas sampling 5%. <em>Ground checking</em> dilakukan dengan mendatangi satuan lahan terpilih pada sampel yang kemudian dicatat kondisi eksisting lapangan. Adapun aspek yang ditinjau meliputi koordinat lokasi, liputan kondisi sekitar dengan dokumentasi, <em>checking</em> tutupan lahan, dan kemiringan lereng, penentuan tekstur tanah dan pada setiap perbedaan tekstur yang dilakukan uji infiltrasi. Terdapat acuan dalam penentuan skor baru pada setiap kelas. Berdasarkan metode Cook yang digunakan, maka nilai koefisien aliran diklasifikasikan menjadi empat kelas, diantaranya kelas I (rendah), kelas II (normal), kelas III (tinggi), dan kelas IV (ekstrem). Sementara itu, prinsip pengendalian banjir limpasan di DAS Juwana didasarkan pada pengendalian nilai koefisien aliran yang berfokus pada dua variabel, yaitu tutupan vegetasi/lahan bervegetasi dan koefisien aliran.&nbsp;</p><p><br></p><p>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik fisik DAS Juwana yang berpengaruh terhadap penentuan koefisien aliran pada metode Cook adalah kemiringan lereng yang dibuktikan dengan angka rata-rata skor C sebesar 0,178, kerapatan aliran dengan rata-rata skor 0,0084, infiltrasi dengan skor rata-rata 0,115 dan tutupan vegetasi dengan skor rata-rata 0,127. Dari perolehan nilai tersebut, maka nilai koefisien aliran DAS Juwana tergolong dalam kriteria tinggi dengan persentase 50,25%. Selain itu, dapat diketahui luasan daerah prioritas untuk pengendalian banjir sebesar 36,84% dari luas DAS Juwana. Adanya besaran nilai yang dapat dikuantifikasikan, dapat membantu pemerintah terkait dalam melakukan upaya pengendalian banjir di DAS Juwana secara intens dan menyeluruh.</p><p><br></p><p>Dengan demikian, metodologi pada penelitian ini secara keseluruhan menggunakan pendekatan positivisme yang dicirikan oleh:</p><ol><li><p>Penelitian ini&nbsp; merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan mengolah nilai pembobot untuk setiap parameter koefisien aliran berdasarkan kelas kriteria masing-masing parameter.</p></li><li><p>Topik penelitian yang dikembangkan didasarkan pada suatu teori yang sudah bersifat universal yang kemudian disesuaikan dengan kondisi eksisting daerah penelitian.</p></li><li><p>Pemilihan variabel yang digunakan didasarkan pada teori melalui literatur pendukung untuk menghasilkan sintesis keluaran yang diinginkan.<br></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-25 14:59:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/eharyono292_/gmh78149y94gay13/wish/2894890947</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
