<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Pertempuran Surabaya by Imey Viyanti</title>
      <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5</link>
      <description>Nama : Divana Caristha 
Imey Viyanti
</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-04-25 05:51:38 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-03-30 08:38:19 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/2694.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Latar Belakang</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455608616</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran tentara dan milisi pro-kemerdekaan Indonesia dan tentara Britania Raya dan India Britania. Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.Usai pertempuran ini, dukungan rakyat Indonesia dan dunia internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat. 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan di Indonesia&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-25 05:52:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455608616</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisa Sebab</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455632211</link>
         <description><![CDATA[<div>FAKTOR 1 :<br>Mr. W.V.CH. Ploegman yang memimpin sekelompok orang Belanda tiba-tiba mengibarkan bendera Belanda yang berwarna merah putih dan biru di atas Hotel Yamato atau sebelumnya pada masa kedudukan Belanda dikenal dengan Hotel Oranye yang berlokasi di Jalan Tunjungan No. 65 Surabaya. Pengibaran bendera Belanda pada tanggal 18 September 1945 pukul 21.00 memicu kemarahan rakyat Surabaya dan dianggap menghina bendera Indonesia.Akibat hal tersebut massa akhirnya berkerumun di depan Hotel Yamato. Melihat situasi yang semakin keos akhirnya Panglima Soedirman yang menjadi perwakilan Indonesia memasuki Hotel Yamato bersama Haryanto dan Sidik dan bertemu dengan Mr. Ploegman untuk melakukan perundingan. Jenderal Soedirman meminta agar Mr. Ploegman beserta anak buahnya bersedia menurunkan bendera Belanda demi menekan terjadinya kericuhan yang sudah mulai memanas. Namun permintaan Jenderal Soedirman ditolak mentah-mentah oleh Mr. Ploegman dan malah membuat keributan di dalam Hotel. Mr. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik setelah sebelumnya mengancam dengan mengeluarkan pistol. Sidik kemudian tewas oleh pasukan Belanda dari luar Hotel setelah mendengar suara letusan pistol Mr. Ploegman.Jenderal Soedirman dan Haryanto yang terdesak mencoba keluar dari Hotel sementara itu massa yang semula berkerumun didepan Hotel akhirnya memaksa masuk ke atas Hotel. Mereka berupaya untuk menurunkan bendera Belanda. Setelah keluar dari Hotel, Haryanto yang semula bersama Jenderal Soedirman justru masuk kembali kedalam Hotel dan ikut memanjat tiang bendera bersama Koesno Wibowo yang akhirnya berhasil dilakukan. Mereka menurunkan bendera Belanda lalu merobek bagian putihnya dan mengibarkan kembali bendera tersebut yang telah menjadi bendera merah putih.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-25 06:11:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455632211</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisa Sebab</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455633998</link>
         <description><![CDATA[<div>Faktor 2:<br>Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby yang merupakan perwakilan tentara Inggris untuk wilayah Jawa Timur tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945 mereka para sekutu yang tergabung dalam Allied Force Netherlands East Indies (AFNEI) datang kembali dengan alasan ingin melucuti senjata para tentara Jepang, membebaskan para interniran atau pasukan sekutu yang ditawan, dan memulangkan para tentara Jepang. Namun dibalik alasan-alasan tersebut ternyata kedatangan AFNEI yang diam-diam diboncengin oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) membawa misi untuk membantu NICA merebut Negara Indonesia. Seolah tak puas membakar amarah rakyat Surabaya yang tengah memanas setelah aksi pengibaran bendera Belanda.Pesawat tempur milik sekutu mengedarkan pamflet pada tanggal 27 Oktober 1945 dalam pamflet tersebut diberitahukan agar seluruh rakyat Surabaya memberikan senjata milik tentara Jepang ke tangan sekutu. Aksi ini menimbulkan pergolakan di Surabaya maka mulai pada saat itu meletuslah serangan-serangan yang banyak memakan korban jiwa. Serangan ini berlangsung dari tanggal 27 Oktober sampai 29 Oktober 1945. Situasi yang semakin pelik membuat Presiden Soekarno berupaya meredakan situasi atas permintaan Jenderal D.C Hawthorn.Pada tanggal 29 Oktober 1945 dilakukan penghentian perang setelah sebelumnya pihak Indonesia melakukan perundingan dengan pihak sekutu. Pada perundingan itu mempertemukan Presiden Soekarno, wakil Presiden Moh. Hatta dan Amir Syarifudin yang kala itu menjabat sebagai menteri penerangan dengan Jenderal Sir Phillip Christison. Mereka menyepakati adanya penghentian perang atau gencatan senjata namun serangan-serangan antara kedua belah pihak tetap tak terelakkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-25 06:13:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455633998</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisa Sebab</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455635567</link>
         <description><![CDATA[<div>Faktor 3:<br>Puncaknya pada tanggal 30 Oktober 1945, terjadi baku tembak antara sekelompok pemuda dengan Brigadir Jenderal Mallaby dan beberapa pasukannya yang menumpangi mobil buick saat melintasi jembatan merah. Sebuah kesalah pahaman terjadi yang mengakibatkan baku tembak itu.Sebuah peluru yang berasal dari pistol salah satu pemuda ternyata mengenai Brigadir Jenderal Mallaby dan membuatnya tewas seketika. Tak sampai disitu, mobil buick yang ditumpangi Mallaby pun terbakar karena terkena lemparan granat. Proses evakuasi Mallaby mejadi sulit karena jenazahnya nyaris tak bisa dikenali.Kesalah pahaman yang menyebabkan insiden baku tembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby ternyata tidak serta merta merupakan kesalahan dari pihak Indonesia. Hal tersebut terungkap pada 20 Februari 1946, seorang anggota partai buruh Inggris (labour party) sekaligus anggota parlemen (house of commons) bernama Tom Driberg.Ia meyakini bahwa baku tembak yang terjadi karena kesalahan 20 pasukan sekutu dibawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Mallaby yang tidak mengetahui bahwa telah dilakukan perjanjian gencatan senjata. Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pun hingga kini belum dapat diyakini sepenuhnya akibat tembakan karena ledakan dari granat yang membakar mobilnya terjadi bersamaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-25 06:14:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455635567</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisa Sebaba</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455636622</link>
         <description><![CDATA[<div>Faktor 4:<br>Tanggal 10 November 1945 pihak sekutu marah dan Mayor Jenderal Eric&nbsp; Carden Robert Mansergh yang ditunjuk sebagai pengganti Brigadir Jenderal Mallaby mengeluarkan ultimatum yang berisi pernyataan bahwa pihak Indonesia harus menghentikan perlawanan terhadap AFNEI dan NICA serta menyerahkan semua senjata yang dimiliki. Waktu ultimatum ditentukan yakni sampai pukul 06.00 di tanggal 10 November 1945.Rakyat Surabaya merasa dihina dengan adanya ultimatum tersebut dan sama sekali tidak berniat untuk mengiyakan ultimatum tersebut. Rakyat Surabaya merasa hal tersebut tidak seharusnya dilakukan karena Negara Indonesia telah ada dengan membentuk pasukan Negara yakni TKR. Pada tanggal 10 November 1945 pula pasukan sekutu melakukan aksi Ricklef atau dikenal pula dengan pembersihan darah. Mereka memborbadir kota Surabaya dengan serangan dari darat maupun laut dengan menggunakan tank, pesawat, dan kapal perang.Alih-alih mundur, rakyat Surabaya justru semakin tak gentar. Seluruh penduduk turut serta dalam melawan aksi pasukan sekutu meski artinya banyak mengorbankan nyawa penduduk. Pasukan sekutu pun dibuat tercengang dengan kuatnya lapisan pertahanan rakyat Surabaya yang mereka kira dapat dikalahkan hanya dalam waktu tiga hari.Selain itu kekuatan rakyat Surabaya juga disokong dari para santri dengan dukungan tokoh-tokoh agama seperti KH. Hasyim Asy’ari dan K.H Wahab Hasbullah yang perannya lebih besar kala itu dibandingkan pemerintah. Pertempuran ini pun berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu. Dari mulai pola serangan yang tidak teratur (spontan) hingga menjadi teratur dan berstrategi.Sosok Bung Tomo yang merupakan seorang revolusioner menjadi api pembakar semangat rakyat Surabaya pun hingga kini terus dikenang jasa dan perjuangannya. Beliau menyuarakan pidato yang memacu keinginan rakyat Surabaya untuk mempertahankan Indonesia hingga titik darah penghabisan. Bung Tomo mengatakan dengan lantang “Merdeka atau mati?” yang lantas dijawab oleh ratusan ribu rakyat dengan kata ‘Merdeka’ daripada mati sia-sia ditangan para sekutu.</div><div>ª&nbsp; &nbsp; Pertempuran tersebut memakan korban tewas hingga lebih dari 10.000 orang pejuang Indonesia dan rakyat sipil sebanya 200.000 orang harus mengungsi dari Surabaya lantaran kota Surabaya belum layak ditempati akibat kerusakan parah. Sementara dari pihak sekutu terdapat sekitar 2000 orang tewas. Perlawan rakyat Indonesia tak ternilai harganya demi menyelamatkan bangsa dan melepaskan belenggu penjajah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-25 06:15:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455636622</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penyelesaian</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455638489</link>
         <description><![CDATA[<div>Posisi Mallaby sebagai pemimpin pasukan di Jawa Timur kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh yang juga Komandan Divisi 5 Inggris. G. Moedjanto dalam Indonesia Abad ke-20 (1998) menuliskan, tanggal 9 November 1945 Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya, yang isinya antara lain: Seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri. Seluruh senjata yang dimiliki pihak Indonesia di Surabaya harus diserahkan kepada Inggris. Para pemimpin Indonesia di Surabaya harus bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat. Para pemimpin perjuangan, arek-arek Surabaya, dan segenap rakyat tidak mengindahkan ancaman Inggris. Maka, terjadilah pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945.Pertempuran ini menelan korban nyawa hingga ribuan jiwa, Surabaya pun hancur lebur. Salah satu tokoh yang berperan besar mengobarkan semangat perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran ini adalah Bung Tomo. M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia (1993) mencatat, dampak dari peristiwa bersejarah ini menewaskan setidaknya 6.000 -16.000 orang dari pihak Indonesia. Sedangkan korban tewas dari pasukan Sekutu kira-kira sejumlah 600-2.000 orang. Tak hanya itu. Menurut Stanley Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), tidak kurang dari 200.000 orang yang terdiri dari rakyat sipil terpaksa mengungsi dari Surabaya ke daerah-daerah yang lebih aman akibat pecahnya pertempuran tersebut. Pertempuran Surabaya juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melakukan perlawanan. Setahun setelah peristiwa itu, yakni pada 10 November 1946, Presiden Sukarno menetapkan bahwa setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dan diperingati hingga saat ini.</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-25 06:17:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455638489</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BUKTI</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455641721</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1156987746/48ef6216c6db1593b91062b332c382f8/sby.jpg" />
         <pubDate>2021-04-25 06:20:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455641721</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BUKTI</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455650301</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1156987746/fcb29a5865653e8deb7fa7b0a3658e90/bt.jpg" />
         <pubDate>2021-04-25 06:27:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455650301</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BUKTI</title>
         <author>imeyvynt25</author>
         <link>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455651456</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1156987746/6b0e3fdc3126d8f27200b4deb67e032e/WhatsApp_Video_2021_04_25_at_13_55_16.mp4" />
         <pubDate>2021-04-25 06:28:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/imeyvynt25/g2z2fljm8gq8s2t5/wish/1455651456</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
