<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>perlawanan bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme dan Imperialisme by Rifqi Aulia</title>
      <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy</link>
      <description>Post your response to the discussion topic by clicking the plus button below.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-19 01:45:34 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-08-26 07:03:39 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/svg/1f4dc.svg</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>rifqiauliaprayitno</author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3546937869</link>
         <description><![CDATA[<p>tuliskan materi dan tambahlah media pendukung (foto atau video)</p><p>materi merupakan ringkasan dari peristiwa yang terjadi. </p><ul><li><p>sultan agung lawan voc</p></li><li><p>banten melawan voc</p></li><li><p>gowa melawan voc</p></li><li><p>riau melawan voc</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-19 01:47:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3546937869</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547355423</link>
         <description><![CDATA[<p>-Chelsea farida </p><p>-Siva anandia</p><p>XIC</p><p>Kerajaan Gowa dengan pusat pemerintahan di Somba Opu berkembang pesat karena prinsip keterbukaan dalam perdagangan dan posisinya yang strategis sebagai jalur internasional. VOC berusaha menguasai pelabuhan itu untuk monopoli perdagangan.</p><p><br/></p><p>Pada 1634 VOC melakukan blokade, namun gagal karena kelincahan armada Makassar. Sultan Hasanuddin menentang monopoli VOC dan mempersiapkan perlawanan. VOC lalu menjalankan politik adu domba dengan menjalin hubungan dengan Aru Palaka dari Bone.</p><p><br/></p><p>Perang besar pecah pada 7 Juli 1667, dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman dengan bantuan pasukan Aru Palaka dan orang Ambon. Walau sempat bertahan, Gowa akhirnya kalah. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (18 November 1667) yang berisi:</p><p><br/></p><p>1. Gowa mengakui monopoli VOC,</p><p>2. Semua bangsa Barat selain Belanda harus keluar dari Gowa,</p><p>3. Gowa wajib membayar biaya perang.</p><p><br/></p><p>Sultan Hasanuddin sempat melawan kembali pada 1668, tetapi berhasil dipadamkan. Akhirnya ia terpaksa menerima isi perjanjian, dan benteng rakyat Gowa diambil VOC lalu dinamai Benteng Rotterdam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-19 07:30:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547355423</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547355538</link>
         <description><![CDATA[<p>nama anggota kelompok </p><p>1.Mada Luhur Amukti </p><p>2.Aji Saputra</p><p>Materi: Perlawanan Gowa Melawan VOC</p><p>Latar Belakang</p><p><br/></p><p>Awal abad ke-17, VOC (Belanda) ingin menguasai perdagangan rempah di Indonesia.</p><p><br/></p><p>Kerajaan Gowa-Tallo (sering disebut Makassar) adalah pusat perdagangan bebas di Indonesia Timur.</p><p><br/></p><p>VOC menuntut agar Gowa menutup pelabuhan dari pedagang lain dan hanya berdagang dengan Belanda.</p><p><br/></p><p>Jalannya Perlawanan</p><p><br/></p><p>Raja Gowa, Sultan Hasanuddin (1631–1670) menolak monopoli VOC.</p><p><br/></p><p>Terjadi peperangan besar yang dikenal sebagai Perang Makassar (1666–1669).</p><p><br/></p><p>VOC dipimpin oleh Cornelis Speelman, dibantu Kerajaan Bone yang dipimpin Arung Palakka (musuh Gowa).</p><p><br/></p><p>Hasil Perlawanan</p><p><br/></p><p>Gowa kalah, dan ditandatangani Perjanjian Bongaya (1667).</p><p><br/></p><p>Isi perjanjian: Gowa harus menyerahkan benteng, hanya boleh berdagang dengan VOC, dan kekuasaannya berkurang.</p><p><br/></p><p>Sejak itu, pengaruh VOC semakin kuat di Indonesia Timur.</p><p><br/></p><p>📌 Ringkasan</p><p><br/></p><p>Kerajaan Gowa melawan VOC karena menolak monopoli perdagangan.</p><p><br/></p><p>Dipimpin Sultan Hasanuddin melawan VOC dan Bone.</p><p><br/></p><p>Terjadi Perang Makassar 1666–1669.</p><p><br/></p><p>Gowa kalah → Perjanjian Bongaya 1667 → VOC kuasai perdagangan.</p><p><br/></p><p>Sultan Hasanuddin mendapat julukan "Ayam Jantan dari Timur" karena keberaniannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4e/Sultan_Hasanuddin_di_The_Legend_Star_Batu.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:30:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547355538</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547355598</link>
         <description><![CDATA[<p>KELOMPOK</p><p>Reno Yuli Asmara (29) </p><p>Michael Damian Budi Wijaya (23) </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Perang Gowa terjadi pada 7 Juli 1667 di mana Cornelis Janszoon Spelman yang diikuti oleh Aru Palaka menjadi pemimpin dari tentara VOC. Selain itu, ada juga Jonker van Manipa yang memimpin orang Ambon yang juga membantu VOC. VOC mulai menyerang pasukan Gowa namun pasukan VOC bisa dihentikan oleh pasukan Hasanuddin sementara. Akhirnya benteng pertahanan Gowa takluk dan Gowa jatuh ke tangan VOC. Pada tanggal 18 November 1667, Hasanuddin dipaksa untuk menyetujui perjanjian Bongaya di mana isinya sangat menguntungkan VOC. Akhirnya pada tahun 1668, Hasanuddin bersama kekuatan rakyat berusaha sekali lagi untuk melawan VOC namun kalah lagi hingga akhirnya Gowa benar-benar jatuh ke tangan VOC dan benteng pertahanan Gowa diberi nama Benteng Rotterdam oleh Spelman.</p><p><br/></p><p>Perang Gowa adalah salah satu bentuk dari perlawanan rakyat Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi di Makassar pada tahun 1667 - 1668. Perang ini berakhir buruk bagi Gowa di mana VOC berhasil menduduki wilayah tersebut setelah memenangi perang kedua di mana Hasanuddin berusaha memberontak usai terjadinya perjanjian Bongaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238821882/68e18bfbd30b7566764a90747fa76aff/1711802553_8664fe778ff284e18fe4.png" />
         <pubDate>2025-08-19 07:30:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547355598</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547357779</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p>Nara</p></li><li><p>Satriya </p></li><li><p>XIC</p></li></ul><p>1. <strong>Sultan Agung (Kesultanan Mataram) Melawan VOC</strong></p><ul><li><p><strong>Latar Belakang</strong>: VOC telah mendirikan Benteng Batavia dan dianggap mengancam hegemoninya serta penyebaran Islam di Jawa.</p></li><li><p><strong>Jalan Perlawanan</strong>: Dua serangan utama dilakukan ke Batavia, pertama tanggal <strong>22 Agustus 1628</strong> di bawah pimpinan Tumenggung Bahureksa, dan kedua pada tahun <strong>1629</strong> yang dipimpin oleh tokoh seperti Dipati Puger dan Dipati Purbaya.</p></li><li><p><strong>Hasil</strong>: Kedua serangan gagal—serangan pertama karena kelelahan dan wabah, serangan kedua karena VOC membakar lumbung padi Mataram . Meski gagal, strategi Sultan Agung menjadi simbol semangat perlawanan dan kehancuran moral musuh .</p></li></ul><p>2. <strong>Kesultanan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) Melawan VOC</strong></p><ul><li><p><strong>Latar Belakang</strong>: Perlawanan muncul karena VOC ingin menguasai perdagangan serta menggunakan intrik untuk melemahkan Banten melalui konflik internal.</p></li><li><p><strong>Jalan Perlawanan</strong>: Sultan Ageng Tirtayasa menolak monopoli VOC, menghalangi kapal dagangnya, dan meningkatkan produksi lokal. Ia bahkan mengepung Istana Surosowan sekitar tahun 1682 bersama Pangeran Arya Purbaya.</p></li><li><p><strong>Hasil</strong>: VOC menguasai Istana dan mengangkat Sultan Haji sebagai raja boneka (1681). Sultan Ageng terus melakukan perlawanan secara gerilya dari hutan hingga akhirnya tertunduk.</p></li></ul><p>3. <strong>Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) Melawan VOC</strong></p><ul><li><p><strong>Latar Belakang</strong>: VOC bersekutu dengan Bone (melalui Arung Palakka), menentang kekuatan Gowa yang dominan di Sulawesi Selatan.</p></li><li><p><strong>Jalan Perlawanan</strong>: Peperangan dimulai 21 Desember 1666; Gowa membangun Benteng Barombong. VOC menyerang dengan armada besar dan menguasai benteng tersebut pada 23 Oktober 1667. Konflik baru meletus lagi pada 12 April 1668.</p></li><li><p><strong>Hasil</strong>: Benteng Gowa tumbang, ibu kota Somba Opu dikuasai (1669), Sultan Hasanuddin melarikan diri dan wafat sekitar 1670. Bone menjadi sekutu VOC dan mengambil sebagian wilayah Gowa.</p></li></ul><p>4. <strong>Kerajaan Siak Sri Indrapura (Riau) Melawan VOC</strong></p><ul><li><p><strong>Latar Belakang</strong>: VOC menerapkan politik monopoli dan adu domba terhadap kerajaan kecil di Riau — seperti Siak, Indragiri, Kampar — yang memicu perlawanan.</p></li><li><p><strong>Tokoh &amp; Strategi</strong>: Perlawanan dipimpin oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (berkuasa 1723–1744). Ia membangun benteng di Pulau Bintan dan mengirim pasukan seperti Raja Lela Muda dan Raja Indra Pahlawan menyerang Malaka.</p></li><li><p><strong>Hasil</strong>: Meskipun mengganggu posisi VOC dan memperkuat kedaulatan lokal, perlawanan akhirnya kalah terutama setelah serangan ke Malaka dan benteng di G (kemungkinan tahan atau peta wilayah lain) gagal.</p></li></ul><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238831089/ce4154511b2fd8ac23e6edb256e14fec/Screenshot_20250819_143001.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:32:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547357779</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547359851</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama Kelompok:</p><p>Betran M.W/8</p><p>Elank R.N/12 </p><p><br/></p><p>Materi:</p><p>Kerajaan Siak melakukan perlawanan terhadap VOC yang memonopoli perdagangan dan memperluas kekuasaan di Nusantara.</p><p><br/></p><p>Raja Siak, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1725–1746), berjuang melawan VOC dengan membangun benteng pertahanan dan mengirim pasukan.</p><p><br/></p><p>Putranya, Raja Indra Pahlawan, sejak muda sudah dilatih berperang, cinta tanah air, dan berjiwa patriot.</p><p><br/></p><p>Dalam strategi melawan VOC, Sultan Siak menggunakan politik tipu daya. Ia pura-pura berdamai, lalu saat pesta berlangsung, Belanda dibunuh oleh pasukan Siak.</p><p><br/></p><p>Karena keberaniannya, Raja Indra Pahlawan dijuluki Panglima Perang Datuk Lima Puluh dan menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap VOC</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238836359/b48e2168f66500c308d3ed2a13c383e3/IMG_20250819_WA0019.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:34:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547359851</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547360338</link>
         <description><![CDATA[<p>Galvaro dan jultino. </p><p>GOWA MELAWAN VOC</p><p><br/></p><p>Kebijakan monopoli VOC membuat hubungan antara Kerajaan Gowa dan VOC merenggang serta sering memicu ketegangan. Pada tahun 1654 VOC, menyerang Kerajaan Gowa (Makassar). Penyerangan ini mengalami kegagalan karena rakyat Gowa memberikan perlawanan di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin. Selanjutnya, tahun 1666 VOC mengerahkan armada yang besar untuk menaklukan Makassar. Sultan Hasanudin memperkuat pasukan dengan memerintahkan kerajaan bawahan di Nusa Tenggara untuk mengirimkan prajuritnya. Sedangkan di lain sisi, VOC menggunakan politik devide et impera dengan meminta bantuan Arung Palakka dari Kesultanan Bone. Pada tahun 1667, karna kalah persenjataan, Sultan Hasanuddin dipaksa tunduk pada Perjanjian Bongaya sekaligus mengakhiri kekuasaan Gowa.</p><p><br/></p><p>Dengan demikian, jawaban yang benar adalah perlawanan Kerajaan Gowa terhadap VOC dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan berakhir dengan kemenangan VOC.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-19 07:35:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547360338</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547360488</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA KELOMPOK:</p><p>RAISYA SYIFA_28</p><p>ALEXA RAMADHANIE_04</p><p><br/></p><p>Sultan Agung dari Kesultanan Mataram melakukan dua kali serangan besar ke Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1628 dan 1629 untuk mengusir VOC dari wilayahnya. Serangan pertama pada tahun 1628 dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dengan sekitar 10.000 tentara, namun gagal karena strategi VOC dan masalah logistik Mataram. Serangan kedua pada tahun 1629, meskipun dengan persiapan yang lebih matang termasuk penyediaan logistik di sepanjang jalur serangan, juga tidak berhasil karena berbagai faktor termasuk penyakit yang melanda pasukan Mataram.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238832539/03ad9836667e42bec532a130b0f52a7a/IMG_20250819_WA0023.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:35:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547360488</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547360923</link>
         <description><![CDATA[<p>Sultan Ageng Tirtayasa berusaha menjadikan Banten sebagai pusat perdagangan internasional dan menyaingi VOC di Batavia. Ia menjalin hubungan dagang dengan berbagai negara (Inggris, Perancis, Denmark, dll.) serta memperkuat pertahanan dan membangun infrastruktur ekonomi.</p><p><br/></p><p>Namun, terjadi konflik internal antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji. Sultan Haji yang bersekutu dengan VOC akhirnya mendapatkan dukungan untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. VOC memberikan syarat: Banten menyerahkan Cirebon, memberi monopoli dagang kepada VOC, membayar 600.000 ringgit jika ingkar janji, dan menarik pasukan Banten dari Priangan.</p><p><br/></p><blockquote><p>Pada 1681, VOC berhasil menguasai istana Surosowan dan menyingkirkan Sultan Ageng ke Tirtayasa. Upaya Sultan Ageng melawan balik pada 1682 gagal. Ia akhirnya ditangkap VOC pada 1683 dan diasingkan ke Batavia hingga wafat.</p></blockquote><p><br/></p><p>fun fact perlawanan banten terhadap VOC :</p><ol><li><p>perlawanan fisik dan diplomasi </p></li><li><p>politik adu domba voc</p></li><li><p>perjanjian banten voc yang merugikan </p></li><li><p>tangerang dijuluki kota benteng</p></li><li><p>sultan ageng tirtayasa menolak monopoli perdagangan voc</p></li></ol><p><br/></p><p><br/></p><p>kelompok : Banten melawan VOC</p><p>• Faricha Ramadhani (15)</p><p>• Puri Brilian Melody (27)</p><p>• Tavia Trista Kusuma (34)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/1_r4vJwiT94?si=mTR6qjJkJHfSULfb" />
         <pubDate>2025-08-19 07:36:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547360923</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547361210</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Latar Belakang:</strong></p><p>Sultan Agung melihat VOC sebagai ancaman serius bagi kedaulatan Mataram. Kehadiran mereka di Batavia (sekarang Jakarta) dianggap dapat menghalangi ekspansi Mataram dan mengganggu stabilitas wilayahnya.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Serangan Pertama (1628):</strong></p><p>Mataram melancarkan serangan pertama ke Batavia, namun mengalami kegagalan. Persiapan yang kurang matang dan kendala logistik menjadi penyebab utama kekalahan.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Serangan Kedua (1629):</strong></p><p>Setelah kekalahan pertama, Sultan Agung melakukan persiapan yang lebih matang untuk serangan kedua. Perhatian khusus diberikan pada logistik, terutama persediaan beras, yang sangat vital untuk keberlangsungan pasukan.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Strategi Perlawanan:</strong></p><p>Mataram menggunakan strategi pengepungan dan serangan darat. Mereka juga menjalin kerjasama dengan penguasa daerah sekitar Batavia, seperti Cirebon, untuk mendapatkan dukungan dan informasi.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Hasil Akhir:</strong></p><p>Meskipun serangan kedua lebih terorganisir, Mataram kembali mengalami kegagalan. Kekalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk serangan wabah penyakit yang mematikan di kalangan pasukan Mataram, yang menyebabkan banyak prajurit meninggal dan mengurangi kekuatan Mataram.&nbsp;</p></li></ul><p><strong>Dampak Perlawanan:</strong></p><ul><li><p>Perlawanan Sultan Agung menunjukkan semangat perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah. Meskipun gagal, perlawanan ini menjadi inspirasi bagi perjuangan selanjutnya.&nbsp;</p></li><li><p>Peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa Mataram memiliki ambisi untuk menguasai seluruh Pulau Jawa dan menentang dominasi asing.&nbsp;</p></li><li><p>Meskipun gagal, perlawanan ini memberikan pelajaran penting bagi Mataram dan VOC mengenai kekuatan masing-masing. VOC menyadari bahwa Mataram adalah kekuatan yang patut diperhitungkan, sementara Mataram belajar tentang kelemahan dan tantangan dalam menghadapi kekuatan asing.&nbsp;</p></li><li><p>Nama : -Esytalita faust N/13/XI C</p></li><li><p>Nama : -Lily Cahya N/21/XIC</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238797440/d105c82e06439560f77fbb228ce2a0cc/IMG_1155.jpeg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:36:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547361210</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547363465</link>
         <description><![CDATA[<p>Anggota : </p><ul><li><p>Dinar Listyaning Putri S (11) </p></li><li><p>Salma Khairun Nisa (31) </p><p><br/></p></li></ul><p>Ringkasan materi <strong>"Banten Melawan VOC"</strong></p><p><br/></p><p>Banten merupakan bandar perdagangan internasional yang strategis, sehingga VOC berusaha menguasainya. Setelah membangun Batavia pada tahun 1619, VOC bersaing dengan Banten dalam bidang perdagangan.</p><p><br/></p><p>Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682), Banten berusaha mempertahankan kedudukannya dengan mengundang pedagang dari Eropa dan Asia, melemahkan aktivitas VOC melalui serangan terhadap kapal dan perkebunan mereka, membangun saluran irigasi untuk meningkatkan pertanian, serta memperkuat benteng pertahanan.</p><p><br/></p><p>Konflik internal terjadi ketika Sultan Haji, putra Sultan Ageng, berseteru dengan ayahnya dan bersekutu dengan VOC. Perjanjian yang dibuat Sultan Haji dengan VOC sangat merugikan Banten, di antaranya menyerahkan Cirebon, memberikan monopoli lada kepada VOC, membayar 600.000 ringgit jika ingkar janji, serta menarik pasukan dari Priangan.</p><p><br/></p><p>Akibatnya, pada tahun 1681 VOC berhasil merebut Istana Surosowan dan menguasai Banten. Sultan Ageng terus melakukan perlawanan dengan cara gerilya, namun pada tahun 1683 beliau ditangkap VOC dan dipenjara di Batavia hingga wafat tahun 1692.</p><p><br/></p><p>Meskipun demikian, perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menunjukkan semangat pantang menyerah dalam mempertahankan kedaulatan dan menolak dominasi asing atas tanah air.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-19 07:38:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547363465</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547363691</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama Kelompok</p><p>1.Kaila azora faras</p><p>2.Zahrani rima pertiwi</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Perlawanan Gowa terhadap VOC </p><p>merujuk pada serangkaian konflik antara Kerajaan Gowa dengan VOC. Konflik ini dikenal sebagai Perang Gowa atau Perang Makassar, yang berlangsung dari tahun 1666 hingga 16691.</p><p>Pada awal abad ke-17, VOC telah mengonsolidasikan kekuasaannya di Hindia Belanda dan berusaha untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah di wilayah tersebut. VOC bahkan membangun benteng-benteng perdagangan di berbagai daerah, termasuk di Makassar, ibu kota Kerajaan Gowa1.</p><p>Pada tahun 1660, Sultan Hasanuddin naik takhta sebagai sultan Gowa. Ia memiliki ambisi kuat untuk membebaskan wilayahnya dari kekuasaan VOC dan mengembalikan kejayaan Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin membangun kekuatan militer yang kuat, memodernisasi angkatan laut, dan menggalang aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan1. </p><p>Tahap pertama perlawanan Gowa terhadap VOC dimulai pada tahun 1666. VOC dibawah JC Speelman membawa sekitar 1900 prajurit dan 21 armada kapal perang. Ditambah lagi pasukan dari Bone dibawah pimpinan Arung Palaka2.</p><p>Pertempuran berlangsung sengit selama empat bulan. Pasukan Gowa bertahan dengan gigih di benteng Somba Opu, pusat pemerintahan dan pertahanan mereka. Benteng ini memiliki dinding setebal dua meter dan tinggi lima meter, serta dilengkapi dengan meriam-meriam besar2.Tahap kedua perlawanan Gowa terhadap VOC dimulai pada awal tahun 1668. Sultan Hasanuddin membatalkan perjanjian Bongaya yang sangat merugikan Gowa. Ia kembali mengumpulkan pasukan dan melakukan perlawanan terhadap VOC dan Bone2.</p><p>Pada tahun 1669, Arung Palaka menyerang benteng Somba Opu dengan kekuatan sekitar 7.000-8.000 pasukan. Arung Palaka dapat menaklukan benteng Somba Opu dan Sultan Hasanuddin beserta pasukannya melarikan diri hingga meninggal pada tahun 16702.Dampak</p><p>Perlawanan Gowa terhadap VOC memiliki dampak yang signifikan bagi sejarah Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Berikut beberapa dampak yang dapat disebutkan3:</p><p>Perlawanan Gowa terhadap VOC menunjukkan tekad dan semangat perlawanan terhadap penjajah asing. Perlawanan ini menjadi inspirasi bagi kerajaan-kerajaan lain di Indonesia untuk melawan VOC.</p><p>Perlawanan Gowa terhadap VOC mengubah peta politik di Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa yang sebelumnya merupakan kerajaan terbesar dan terkuat di wilayah tersebut, menjadi kerajaan yang lemah dan tunduk pada VOC.(Rima&amp; Kaila)   Perlawanan Gowa terhadap VOC merujuk pada serangkaian konflik antara Kerajaan Gowa dengan VOC. Konflik ini dikenal sebagai Perang Gowa atau Perang Makassar, yang berlangsung dari tahun 1666 hingga 16691.  Pada awal abad ke-17, VOC telah mengonsolidasikan kekuasaannya di Hindia Belanda dan berusaha untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah di wilayah tersebut. VOC bahkan membangun benteng-benteng perdagangan di berbagai daerah, termasuk di Makassar, ibu kota Kerajaan Gowa1.  Pada tahun 1660, Sultan Hasanuddin naik takhta sebagai sultan Gowa. Ia memiliki ambisi kuat untuk membebaskan wilayahnya dari kekuasaan VOC dan mengembalikan kejayaan Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin membangun kekuatan militer yang kuat, memodernisasi angkatan laut, dan menggalang aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan1.   Tahap pertama perlawanan Gowa terhadap VOC dimulai pada tahun 1666. VOC dibawah JC Speelman membawa sekitar 1900 prajurit dan 21 armada kapal perang. Ditambah lagi pasukan dari Bone dibawah pimpinan Arung Palaka2.  Pertempuran berlangsung sengit selama empat bulan. Pasukan Gowa bertahan dengan gigih di benteng Somba Opu, pusat pemerintahan dan pertahanan mereka. Benteng ini memiliki dinding setebal dua meter dan tinggi lima meter, serta dilengkapi dengan meriam-meriam besar2.Tahap kedua perlawanan Gowa terhadap VOC dimulai pada awal tahun 1668. Sultan Hasanuddin membatalkan perjanjian Bongaya yang sangat merugikan Gowa. Ia kembali mengumpulkan pasukan dan melakukan perlawanan terhadap VOC dan Bone2.  Pada tahun 1669, Arung Palaka menyerang benteng Somba Opu dengan kekuatan sekitar 7.000-8.000 pasukan. Arung Palaka dapat menaklukan benteng Somba Opu dan Sultan Hasanuddin beserta pasukannya melarikan diri hingga meninggal pada tahun 16702.Dampak Perlawanan Gowa terhadap VOC memiliki dampak yang signifikan bagi sejarah Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Berikut beberapa dampak yang dapat disebutkan3:  Perlawanan Gowa terhadap VOC menunjukkan tekad dan semangat perlawanan terhadap penjajah asing. Perlawanan ini menjadi inspirasi bagi kerajaan-kerajaan lain di Indonesia untuk melawan VOC. Perlawanan Gowa terhadap VOC mengubah peta politik di Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa yang sebelumnya merupakan kerajaan terbesar dan terkuat di wilayah tersebut, menjadi kerajaan yang lemah dan tunduk pada VOC.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.worldhistory.org/uploads/images/15254.png" />
         <pubDate>2025-08-19 07:39:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547363691</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547363861</link>
         <description><![CDATA[<p>kelompok: Lanang adi jaya</p><p>                   Pasha geovani p.y</p><p>GOWA MELAWAN VOC</p><p>Kerajaan Gowa di Somba Opu menolak monopoli VOC dan mempertahankan prinsip kebebasan perdagangan. VOC berusaha menguasai Pelabuhan Somba Opu dengan blokade tahun 1634, namun gagal. Sultan Hasanuddin melawan VOC, tetapi VOC menggunakan politik devide et impera lewat Aru Palaka. Perang Gowa pecah tahun 1667 dan berakhir dengan kekalahan Gowa. Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667) yang isinya Gowa mengakui monopoli VOC, orang Barat selain Belanda harus pergi, dan Gowa membayar biaya perang. Tahun 1668 Hasanuddin mencoba melawan lagi namun kalah, dan VOC akhirnya menguasai Benteng Somba Opu yang diganti nama menjadi Benteng Rotterdam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-19 07:39:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547363861</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>annethxx1954</author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547365663</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada masa kolonial, Kesultanan Banten berkembang pesat di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1650-an) dan menarik perhatian VOC yang ingin memonopoli perdagangan. Untuk menguasai Banten, VOC menjalankan politik adu domba dengan menghasut Sultan Haji melawan ayahnya. Terjadi perjanjian antara VOC dan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng. Menolak monopoli, Sultan Ageng melawan dengan merusak kapal dan kebun tebu Belanda. Tahun 1681, Sultan Haji bersama VOC merebut Istana Surosowan, sementara Sultan Ageng mundur ke Tirtayasa dan membangun kekuatan baru. Pada 1682, Sultan Ageng sempat mendesak Sultan Haji, namun VOC membantu hingga pasukannya dipukul mundur ke Bogor. Akhirnya, Sultan Ageng ditangkap pada 1683 dan dijadikan tahanan di Batavia. Setelah itu, Sultan Haji naik takhta dan perlawanan Banten pun berakhir, VOC berhasil menaklukkan Banten serta memonopoli perdagangan pesisir Jawa.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>anggota :</p><ol><li><p>Annisa Aozora (05)</p></li><li><p>Riska Dwi A (30)</p></li></ol><p> </p><p> </p><p><br/></p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/3352761486/34a884e37347c3bd611fb7a60379fd7f/IMG_20250819_WA0026.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:41:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547365663</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547366600</link>
         <description><![CDATA[<p>Adinka fira wulandari (01)dan Flesha mutiara iswandari(16)</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Sultan Agung dari Mataram menolak kekuasaan VOC dan berusaha memperluas kekuasaan ke seluruh Jawa. Pada 22 Agustus 1628, ia mengirim pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso untuk menyerang VOC di Batavia, namun gagal. Tahun 1629, serangan kedua dipimpin Tumenggung Endranata dan Tumenggung Danupoyo juga mengalami kegagalan akibat kurangnya logistik dan wabah penyakit.</p><p>Kegagalan serangan Mataram membuat VOC semakin kuat di Batavia. Meski demikian, semangat Sultan Agung tidak surut. Ia terus melawan VOC dengan berbagai cara, termasuk mengirim pasukan ke Palembang untuk mengusir pengaruh VOC. Namun, perjuangan itu tidak berhasil mengalahkan VOC.</p><p>Sultan Agung wafat tahun 1645 dan digantikan oleh Sunan Amangkurat I (1646–1677).</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238851826/8ad5058a0de3bf8a09dd3fe41d819a60/IMG_20250819_WA0017.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:42:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547366600</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547367177</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama anggota :Beta Asmarawati/07</p><p>                          :Fadhila Bilqiis A/14</p><p><br/></p><p><br/></p><p><strong>Banten Melawan VOC </strong></p><p><br/></p><p>Pemimpin :Sultan Ageng Tirtayasa </p><p><br/></p><p>Pada tahun 1619, VOC membangun bandar perdagangan di Batavia sehingga terjadi persaingan antara Banten dan VOC dalam memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional.Sultan Ageng Tirtayasa berusaha memulihkan posisi Banten sebagai bandar perdagangan internasional dan sekaligus menandingi perkembangan bandar perdagangan VOC di Batavia.Beberapa hal yang dilakukan Sultan Ageng seperti dengan mengundang para pedagang Inggris, Prancis, Denmark, dan Portugis.Untuk menghadapi serangan Banten, VOC memperkuat kota Batavia dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan seperti Benteng Noorwijk.Sementara itu, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan membangun saluran irigasi untuk kepentingan pertahanan.</p><p>Perpecahan Internal:</p><p>VOC memanfaatkan konflik keluarga kerajaan: Sultan Haji (putra Sultan Ageng) mendapat dukungan VOC untuk merebut tahta dari ayahnya.</p><p>Kekalahan Banten:</p><p>Sultan Ageng akhirnya ditangkap VOC pada tahun 1683 dan diasingkan ke Batavia.Setelah itu, Banten berada dalam kendali VOC, kekuasaan politik dan ekonominya melemah.</p><p>Dampak:</p><p>Perlawanan Banten menunjukkan semangat rakyat menolak penjajahan meski harus menghadapi kekuatan besar VOC.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238792558/69b4cdf43626b869204c356bb8fb7e4f/IMG_20250819_WA0060.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:43:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547367177</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547368100</link>
         <description><![CDATA[<p>Penulis:Nabil Raditya Gunawan (26) </p><p>Editor:Benny Winandes (6) </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238868629/55869130d8f152322e26371c3245c459/20250819_144157.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:44:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547368100</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547371979</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelompok : Adzkia Norma Putri (02), Zahra Khoirina (35)</p><p>Materi : SULTAN AGUNG MELAWAN VOC</p><p><br/></p><p>Kerajaan Mataram mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Agung.</p><p>Sultan Agung sangat menentang keberadaan VOC di Jawa.</p><p>VOC terus memaksakan monopoli perdagangan, sehingga merugikan rakyat dan merusak kedaulatan Mataram.</p><p>Sultan Agung mengeluarkan beberapa peraturan untuk melawan VOC, antara lain:</p><p>1. VOC harus meninggalkan Batavia.</p><p>2. VOC dilarang mengganggu pelayaran Mataram.</p><p>3. VOC tidak boleh menghalangi kapal-kapal dagang Mataram ke Pulau Jawa.</p><p>4. VOC harus mengakui kedaulatan Mataram.</p><p>Tanggal 22 Agustus 1628, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia.</p><p>Pasukan Mataram berusaha menghancurkan pertahanan VOC.</p><p>Namun, VOC lebih kuat dengan senjata modern dan persiapan logistik yang matang.</p><p>Tumenggung Baureksa gugur dalam pertempuran, sehingga serangan gagal.</p><p>Sultan Agung mempersiapkan serangan besar dengan membangun lumbung-lumbung beras di Tegal dan Cirebon.</p><p>Pasukan dipimpin Tumenggung Sura Agul-agul, Tumenggung Singaranu, Ki Dipati Uposanta, dan Dipati Ukur.</p><p>Mereka menyerang Batavia, namun VOC berhasil membakar lumbung-lumbung beras Mataram sehingga pasukan kekurangan logistik.</p><p>Persenjataan VOC lebih lengkap, menyebabkan serangan Mataram gagal lagi.</p><p>VOC semakin berambisi memperluas kekuasaan dan monopoli perdagangan.</p><p>VOC selalu waspada terhadap serangan Mataram.</p><p>Mataram juga terlibat konflik lain, misalnya saat Sultan Agung mengirim pasukan membantu Raja Palembang melawan VOC.</p><p>Walaupun gagal, perlawanan Sultan Agung menunjukkan semangat tinggi melawan dominasi asing.</p><p>Cita-cita Sultan Agung diteruskan oleh raja-raja Mataram berikutnya.</p><p>Mataram makin lemah setelah Sultan Agung wafat tahun 1645, digantikan oleh Sunan Amangkurat I (1646–1677).</p><p>sumber pendukung : <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://youtu.be/8PAHO6gnxH4?si=06upFaljDnA0ab7z">https://youtu.be/8PAHO6gnxH4?si=06upFaljDnA0ab7z</a></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4238868329/d6cc6d58ba5195f3c15b7fa53dc98eaa/Screenshot_20250819_143605_ChatGPT.jpg" />
         <pubDate>2025-08-19 07:48:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rifqiauliaprayitno/fyclp632q44965iy/wish/3547371979</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
