<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PERNYATAAN AUDIENS TERHADAP PENGHAPUSAN PEMERKOSAAN MASSAL MEI 1998 by </title>
      <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14</link>
      <description>Share your ideas and comment on others!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-07-19 15:06:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-08-11 13:49:43 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f9e0.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539343383</link>
         <description><![CDATA[<p>Mengubah diksi atau mencoba merubah narasi bahwa kata 'massal' dalam kasus pemerkosaan massal di kerusuhan Mei 98 tidak mengubah fakta bahwa kasus itu ada.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:45:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539343383</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539343717</link>
         <description><![CDATA[<p>His-Story mungkin boleh mengaburkan pemerkosaan massal dan kasus pelanggaran HAM berat lainnya, tapi History akan terus tegak berteriak lantang menyuarakan kebenaran! </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Email: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:alfiananh98@gmail.com">alfiananh98@gmail.com</a></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:47:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539343717</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pembunuhan terhadap perempuan harus disebut &quot;femisida&quot; untuk memperkuat konteks sosial yang terjadi: kekerasan akibat ketidakadilan gender. Femisida bukan pembunuhan biasa.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539343931</link>
         <description><![CDATA[<p>gsmakayika@protonmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:47:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539343931</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jasmerah...jangan lupakan sejarah bahwa kekerasan terhadap perempuan pernah ada pada masyarakat yang menjunjung demokrasi </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539344199</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:48:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539344199</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peryanyaan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539345085</link>
         <description><![CDATA[<p>Bagaimana dampak kedepannya penghapusan narasi femisida terhadap ingatan kolektif sejarah nasional  dan perjuangan perempuan hari ini? Dan kenapa penting bagi kita - baik dalam konteks politis dan keadilan sejarah- menyebut kekerasan seksual 98 sebagai femisida, bukan sekedar pemerkosaan masal?</p><p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:hanif9201@gmail.com">hanif9201@gmail.com</a></p><p><br/></p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:49:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539345085</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Saya menolak penghapusan Peristiwa Pemerkosaan 98. Justru seharusnya ditulis secara lebih rinci  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539346137</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam Sejarah Indonesia Peristiwa-peristiwa yang menempatkan perempuan sebagai korban banyak dikesampingkan. Semisal Sejarah Yugun Ianfu pada masa Jepang juga tidak ada pengawalan dr Pemerintah. Tragedi 65 juga tidak hanya terkait Gerwani tapi juga perempuan2 lainnya yang juga menjadi korban kelompok yang diberi tugas pemberantasan orang2 yang dianggap terlibat peristiwa 65.</p><p>Dan sekarang peristiwa 98 juga akan dihilangkan?</p><p>Sampai kapan budaya patriarki masih akan lebih banyak menyudutkan perempuan dan sebagai korban dalam berbagai  masa. </p><p><br/></p><p>email : ikadewiretnosari@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:54:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539346137</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kami menyatakan bahwa masyarakat akan kehilangan nilai sejarah jika ada wancana negara menghapus tragedi kerusuhan mei 98 dari sejarah dan ingatan publik. Para korban juga akan kehilangan harapan untuk mendapatkan hak-haknya atas keadilan dan kebenaran.</title>
         <author>nadivarpas269</author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539346822</link>
         <description><![CDATA[<p>nadivarpas269@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:55:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539346822</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Feminisme </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539347013</link>
         <description><![CDATA[<p>Menjadi pribadi yang lebih mengenal kesetaraan gender untuk menghadapi tanpa men bullying </p><p><br></p><p>Email : alfonsusanra@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:56:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539347013</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Isu Pemerkosaan 1998</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539347492</link>
         <description><![CDATA[<p>Mengaburkan sejarah adalah mengkhianati mereka yang tak lagi bisa bersuara. Juga termasuk mengaburkan istilah ‘pemerkosaan massal’ dalam tragedi Mei 1998 berarti mengkhianati kebenaran sejarah dan penderitaan korban. Mengakui peristiwa ini secara utuh adalah langkah awal menuju keadilan dan pencegahan tragedi serupa di masa depan. Kita menolak lupa, kita menolak bungkam. Lawan!!</p><p><br/></p><p>yulis.nawati207@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 12:57:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539347492</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539349892</link>
         <description><![CDATA[<p>Hari ini saya mendapatkan highlight baru mengenai kekerasan yang pernah terjadi pada tahun 98. awalnya saya hanya endengar lewat cerita dari mereka yang mengetahui dan sudah hidup pada masa itu. kemudian hal itu semakin membuat saya penasaran, apakah memang pada saat itu terjadi kekerasan khususnya terhadap perempuan? dan jawaban itu mulai saya ketahui satu persatu melalui bacaan-bacaan. lantas yang saya masih herankan, mengapa negara ini mau menutupi segala bentuk kekerasan yang pernah terjadi itu? saya semakin menduga bahwa memang TNI itu khususnya Prabowo dan Wiranto yang saat ini sedang asik menikmati kekuasaannya supaya langgeng. semoga kita semua bisa tersadar dan orang yang didiga terlibat dan seharusnya bertanggung jawab bisa mendapatkan hukuman yang setimpal dan korban mendapatkan keadilan.                       <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:ridwamaulana88@gmail.com">ridwamaulana88@gmail.com</a></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:04:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539349892</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>purbakristina215</author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539349936</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam tinjauan perspektif antropologis, pemerkosaan massal Mei 1998 bukan sekadar kejahatan kriminal, melainkan ritual teror yang berfungsi membentuk memori kolektif dengan trauma sebagai alat kontrol sosial. Hal ini berkaitan sebagaimana yang diamati Veena Das yang menyatakan bahwa " Pelupaan adalah kekerasan kedua yang dilakukan negara terhadap korban".</p><p><br/></p><p>kristinamesyemimapurba@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:04:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539349936</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setiap perempuan berhak hidup bebas dari rasa takut, ancaman, dan kekerasan dalam bentuk apappun. Femisida bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kejahatan kemanusiaan yang merampas martabat dan hak asasi perempuan. Sudah saatnya kita bersatu, bersuara, dan bertindak untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. yuliancebekamau@gmail.com</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539349974</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:05:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539349974</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kita Mesti Bersuara (Terus)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539350198</link>
         <description><![CDATA[<p>Jika Negara dengan sengaja tidak hadir dalam setiap kasus femisida, maka kita, harus bersuara. Lagi dan lagi! Karena suara sekecil apapun--jika disuarakkan secara konsisten akan memantik kesadaran, lalu gerakan.</p><p><br/></p><p>Email: workherli@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:05:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539350198</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pemerintah takut kepada kita yang mempelajari kata, itulah mengapa mereka menghapus sejarah.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539350631</link>
         <description><![CDATA[<p>Pemerkosaan massal sama kejinya dengan genosida. Betapa munafiknya pemerintah yang mengutuk dengan keras genosida di negara lain tapi dengan aktif menutup-nutupi sejarah kejinya yang bahkan belum sampai tiga dekade lalu. </p><p><br></p><p>Satu hal yang Ibu Soe Tjen katakan hari ini sangat menempel pada benak saya. Pemerintah takut dengan kita yang mempelajari kata, karena kita bisa menguliti kebohongan-kebohongan mereka dan menunjukkan kepada dunia kemunafikan pemerintah. </p><p><br></p><p>Itulah mengapa kita sebagai orang-orang yang untungnya berhasil membuka mata dari kebohongan-kebohongan ini harus terus bersuara. Keberanian ini adalah cara kita untuk terus merawat ingatan. Jangan biarkan perempuan-perempuan korban dan penyintas dihapus dalam sejarah. #JanganDiam #Lawan</p><p><br></p><p>joewonosekar@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:07:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539350631</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Apakah benar &quot;perempuan selalu benar?&quot;</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539350697</link>
         <description><![CDATA[<p>Kalau memang benar perempuan itu tidak pernah salah, kenapa mereka disalahkan karena memakai baju yang mengundang nafsu laki laki? kenapa mereka disalahkan kalau mereka diperkosa karena keluar larut malam?</p><p><br/></p><p>Perempuan dan laki laki memang setara di mata Tuhan, hanya saja laki laki lebih memanipulasi perempuan dengan diksi "hanya di surga laki laki bisa mendapatkan bidadari, perempuan jangan harap."</p><p><br/></p><p>Lihatlah pemimpin misogini sekarang, presiden yang didominasi oleh laki laki. Seperti di Indonesia, di Mei 1998 terjadi rudapaksa massal kepada orang Tionghoa. Namun, aktivis yang sekarang menduduki pemerintahan mereka berusaha menghapus sejarah kelam yang tak bisa dimaafkan hanya dengan kata kata saja. Mereka bertanggung jawab atas hal ini. Bahkan pemimpin yang berkuasa di tahun kelam itu direncanakan menjadi pahlawan nasional sekarang. </p><p><br/></p><p>Seharusnya perempuan mendapat tempat yang setara bagi laki laki</p><p><br/></p><p>Email: jasminemqf@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:07:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539350697</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penghapusan Ingatan Kolektif Adalah Dosa Terbesar Dari Sebuah Negara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539351776</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam hal ini, penghapusan fakta sejarah bahwa pemerkosaan massal 1998 telah terjadi adalah pelecehan terhadap harkat martabat korban dan keluarganya. Menafikkan fakta ini membuktikan bahwa negara telah gagal menjalankan fungsinya sebagai penjamin keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Penghapusan fakta sejarah ini, juga membuktikan bahwa kemanusiaan tidak lebih berharga dari isi kantong dan isi perut para penguasa. </p><p><br/></p><p>Email: azizaheloka15@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:10:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539351776</guid>
      </item>
      <item>
         <title>halookti@gmail.com</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539351818</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>saya sangat tidak setuju dg penghapusan pemerkosaan massal mei 1998. </strong>peristiwa besar sejarah berdarah ini harus dirawat dari generasi ke generasi. it's so hard buat menghadapi semua ini. dari tahun 1998-2025 <strong>belum ada pengakuan</strong> sama sekali dari pelaku. bahkan <strong>pelaku</strong> dengan <strong>bebas</strong> ke sana ke mari, <strong>menunjukkan ketidakmaluannya</strong>, dan banyak <strong>masyarakat masih mau menerima </strong>mereka <strong>sebagai pemimpin</strong>. aku berharap kita yg udah tahu tentang ini ga cape-cape untuk menyuarakan peristiwa sejarah ini di mana pun dan kapanpun.</p><p>pengakuan dan keadilan masih dicari-cari</p><p>rakyat menangis mengemis-ngemis</p><p>sedangkan pemimpin masih asyik menari-nari</p><p>tanpa memedulikan kami di sini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:10:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539351818</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perempuan adalah &#39;Tuhan&#39; peradaban, ketika cerita kelam kami berusaha dilupakan, kepingan sejarah turut dihilangkan. </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539351830</link>
         <description><![CDATA[<p>Sudahlah cukup distorsi sejarah pada Gerwani sebagai organisasi perempuan paling masif dan masyhur pada zamannya dengan bisikan dan tulisan pada koran-koran sebagai organisasi radikal yang patut dimusnahkan. Tidak perlu pulalah dan jangan sampai LAGI sejarah perempuan, bahkan yang terkelam sekalipun, turut dimusnahkan. Penghapusan sejarah pemerkosaan massal Mei '98 bukan tentang angka definitif yang menunjukkan "massal" atau tidaknya seperti yang dilontarkan Fadli Zon(k); satu korban perempuan sudah cukup untuk membuktikan Indonesia tidak mampu dan entah sampai kapan akan serius menanggapi pemerkosaan, femisida, dan bentuk penindasan lainnya pada perempuan.</p><p><br/></p><p>email: katresnon@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:10:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539351830</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>gfarahzahira</author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539352403</link>
         <description><![CDATA[<p>Pemerkosaan 1998 adalah bentuk nyata impunitas di negara kita. Berbagai bukti kekerasan seksual saat itu telah terungkap. Para pejuang menyuarakan tuntutan akan pertanggungjawaban, bahkan menyebut dengan lantang siapa yang harus memikulnya. Namun, semua itu kalah oleh kekuasaan, dibungkam oleh hukum yang tak pernah benar-benar berbicara. Luka para korban tak pernah mengering. Banyak di antara mereka kini tak lagi mampu bersuara, dan sayangnya, keadilan pun memilih untuk sama diamnya. Mari kembali bersuara dengan lantang. Mari tegakkan keadilan. Mari kita ringankan beban mereka, meskipun rasa sakit itu akan selalu abadi.</p><p>@gfarahzahira@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:12:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539352403</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Indonesia Berdiri dan Berjalan di Atas Penderitaan Perempuan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539352972</link>
         <description><![CDATA[<p>Mulai dari perempuan di masa kolonial yg menjadi korban penjajah maupun bangsa sendiri. Berlanjut ke perempuan seperti Gerwani dan korban pemerkosaan massal Mei 1965. Lanjut ke perempuan korban pemerkosaan massal Mei 1998. Hingga perempuan-perempuan lain yang jumlah dan jenis penderitaannya tidak akan habis jika diperinci satu per satu. Diskusi publik ini sangat berkesan buat saya karena ternyata pemikiran-pemikiran yang dimiliki oleh Mbak Soe Tjen sangat progresif. Di tengah kegelapan Indonesia kini yang mengarah pada kemunduran, diskusi publik ini merupakan salah satu titik terang untuk melawan usaha penghapusan dan penulisan ulang sejarah oleh "pemenang" yang sekarang menjelma menjadi pemerintah negara Indonesia. Saya berharap untuk dapat meneruskan tombak perjuangan feminisme ini kepada orang-orang di sekitar saya baik di dunia nyata maupun dunia maya. Saya ingin terus belajar dan menguak fakta asli demi gerakan ini. Semoga perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan dengan laki-laki bisa kita lanjutkan sama-sama, walaupun hasil yang kita dambakan tampak sangat jauh berada di jalan yang penuh dengan hambatan dan tantangan dalam sistem patriarki. </p><p><br/></p><p>nezasabilla03@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:14:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539352972</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kaum muda menolak femisida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539353339</link>
         <description><![CDATA[<p>Sebagai Gen-Zer yang tidak mengalami peristiwa 98, saya pertama kali tahu tentang 98 dari orang tua saya. Saya sangat kaget dan kecewa bahwa peristiwa yang sangat mencekam itu tidak ada dalam buku sejarah. Sebagai perempuan Tionghoa Indonesia, saya merasa saya punya obligasi untuk berjuang untuk melawan femisida, genosida, dan kekerasan tehadap wanita supaya 98’ tidak akan terjadi lagi. Walaupun saya tidak punya influensi yang besar, saya mulai meng-archive video clippings of 98’ di internet supaya kita punya bukti untuk generasi masa depan. </p><p>Saya mau mengekspresikan hormat dan terimah kasih saya kepada ibu Soe Tjen Marching, dan aktivis” lain yang berani bercerita tentang peristiwa” yang di censor dan ditolak oleh pemerintah. Kalian membagi sejarah dan ilmu yang kita kaum” muda tidak dapat dalam sekolah. Berkat beliau, saya tidak akan lupa pemerkosaan 98’ dan menginspirasi saya untuk berjuang dan mempelajari sejarah lebih dalam dari sekedar buku” sekolah. </p><p><br></p><p>Email: jessczheng@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:15:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539353339</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hapus femisida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539356707</link>
         <description><![CDATA[<p>Budaya Patriarki yang mengakar di Indonesia membuat kasus kekerasan pada perempuan menjadi sulit. Katanya Keperawanan itu mahal, tapi kasus pemerkosaan ketika sudah berada dihadapan hukum bahkan negara, tidak dihargai. Yang seharusnya dihargai dengan menghukum para pelaku pemerkosaan, mengusut tuntas bukan malah membela, membiarkan apalagi ingin menghapus sejarah pemerkosaan 98. Perempuan sudah saatnya bergandengan tangan, membela korban korban Patriarki, tidak menutup mata lagi dan mengawal serta menghapus femisida. Keterbukaan itu sulit, tapi kebenaran harus diungkap tanpa adanya intimidasi.</p><p><br/></p><p>email : Hafniys@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:26:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539356707</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penguasa yang mencuci tangan lewat bungkaman.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539357714</link>
         <description><![CDATA[<p>Refleksiku tentang diskusi ini, aku menyimpulkan bahwa pemerintah berusaha mencuci tangannya dari darah yang mereka renggut dari perempuan. Kuasa mereka yang di bangun berdasarkan sistem yang diciptakan berdasarkan ke laki-laki an dan patriarki, kebencian, dan kontrol. Tragedi Mei 1998 tak hanya perlu terus di gaungkan, akan tetapi perlu di abadikan, keadilan terhadap perempuan dan sentimen rasial yang mengakar dan tercipta atas adanya hegemoni ideologi yang meyakini bahwa perempuan dan etnis tionghoa sebagai kaum terpinggir. Hal ini amat memuakan bagiku sebagai perempuan, trauma yang diwariskan dan terwariskan tak hanya mengakar pada korban itu sendiri akan tetapi menyebar menjadi trauma kolektif. Sebagai perempuan yang hidup di negara ini, kemarahan ku akan sistem hukum dan budaya patriarki membunuhku secara perlahan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:28:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539357714</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Menolak Lupa!</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539359290</link>
         <description><![CDATA[<p>Menolak program penghapusan sejarah dan fakta pemerkosaan masal Mei 1998 oleh Pemerintah. Pecat FADLI ZON! Pemerintah harus melakukan klarifikasi dan permohonan maaf</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:33:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539359290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Saya menolak keras terkait penghapusan sejarah pemerkosaan mei 1998</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539359642</link>
         <description><![CDATA[<p>penghapusan sejarah pemerkosaan massal 1998 menjadi sebuah cerminan yang tragis, karena bisa dikatakan sebagai bentuk pengingkaran terhadap keadilan dan penderitaan korban, Bung Karno pernah mengatakan “Wanita adalah tiang negara, apabila dia baik maka baiklah negara, dan apabila dia rusak maka rusaklah negara itu.” Dan jika wacana terkait penghapusan sejarah pemerkosaan massal Mei 1998 terjadi maka dapat dikatakan bahwa adanya pengkhianatan kepada amanat luhur Bung Karno yang menempatkan perempuan sebagai pilar utama dalam perjuangan bangsa. Maka saya mengatakan terimakasih yang sebesar-besar kepada penyelenggara dan juga narsum-narsum yang telah menyadarkan kaum-kaum muda terutama perempuan untuk mengenali sejarah perempuan yang mungkin tidak ketahui oleh setiap kalangan juga memberikan pembelajaran terkait sikap kita sebagai perempuan harus seperti apa dalam keadaan yang dirasa menjadi sebuah ancaman atau ketakutan dari diri sendiri ataupun orang lain.</p><p><br/></p><p>email: adinnptr31@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:34:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539359642</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Komentar untuk diskusi malam ini!</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539360025</link>
         <description><![CDATA[<p>Sangat menarik. Saya baru membaca referensi tentang perburuan penyihir di Eropa abad kedelapan belas, demonisasi terhadap perempuan yang berujung femisida. Perempuan sering menjadi korban, kiranya benar bahwa sejarah (history) hanya milik laki-laki (not her-story). Di Indonesia baru-baru ini, salah seorang pejabat publik mencibir istilah "massal" dalam pemerkosaan etnis Tionghoa tahun 1998 dan bertahan dengan argumentasi bahwa perlu adanya data yang lebih akurat. Seolah-olah apa yang disampaikan tim gabungan pencari fakta belum cukup. Melalui diskusi hari ini bersama Ibu Soe Tjen Marching dan Andy Yentriani, kemarahan yang sempat saya rasakan dengan teman-teman lain akhirnya memperoleh tempat yang layak. Apa yang kita bicarakan hari ini bukan sebuah "sejarah alternatif", ini adalah perspektif sejarah paling faktual untuk mengungkapkan kekejian '98 terhadap perempuan yang kerap disembunyikan dengan berbagai pengaburan fakta. Akhirnya, seperti kata Ibu Soe Tjen Marching, mereka takut. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:36:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539360025</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539360991</link>
         <description><![CDATA[<p>Mengabaikan peristiwa pemerkosaan massal Mei 1998 adalah bentuk penghapusan sejarah yang merugikan. Sejarah harus mencatat kebenaran, termasuk tragedi yang terjadi terhadap perempuan. </p><p><br/></p><p>Usulan Fadli Zon untuk menulis ulang sejarah nasional Indonesia dengan mengabaikan peristiwa pemerkosaan massal Mei 1998 adalah hal yang miris karena ini merupakan upaya menghapus ingatan kolektif bangsa. Alasan "tidak ada bukti" tak bisa diterima, mengingat banyak saksi dan laporan yang mengungkap kekejaman tersebut. </p><p><br/></p><p>Prabowo yang kini menjadi presiden, seharusnya menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab terhadap tragedi pemerkosaan massal Mei 98 karena saat itu ia berpangkat Letnan Jenderal Pangkostrad dan sangat memiliki pengaruh yang besar. </p><p><br/></p><p>Menghapus bagian sejarah ini hanya akan menutupi kebenaran dan menghalangi keadilan bagi para korban. Sejarah tidak boleh terbungkam hanya demi kepentingan politik. Keberanian untuk menghadapi kebenaran adalah Langkah pertama menuju keadilan.  </p><p><br/></p><p>email: husnirachma2@gmail.com</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:39:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539360991</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539361686</link>
         <description><![CDATA[<p>Mendengar tentang upaya penghapusan sejarah pemerkosaan Mei 1998, kita tidak hanya melihatnya sebagai tragedi sejarah, tetapi juga merasakan kembali luka semua korban kekerasan. Baik skala massal atau individu, keduanya sama sama memunculkan rasa sakit, ketidakadilan, dan perjuangan panjang untuk pulih. Saya tahu betul bagaimana rasanya ketika trauma pribadi dianggap tidak penting atau diabaikan oleh orang lain. Isu ini mengingatkan saya bahwa setiap cerita korban kekerasan seksual berhak untuk didengar dan diakui. <strong>Ini bukan hanya soal fakta, tapi juga soal empati dan validasi penderitaan korban.</strong></p><p><br></p><p>Cc: rinapersonaldesk@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 13:41:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539361686</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berpihak pada korban femisida adalah komitmen melawan segala jenis kekerasan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539368511</link>
         <description><![CDATA[<p>Perkosaan 1998 bukan hanya luka perempuan, tapi luka manusia Indonesia seluruhnya. Pembiaran satu bentuk kekerasan membuka jalan bagi bentuk kekerasan yang lain. Sebab setiap kekerasan di manapun itu selalu terhubung oleh relasi kekuasaan yang hegemonik dan berbagai macam hierarki sosial. Maka prempuan sebagai kelompok rentan di dunia yang patriarkis akan berada di lokasi paling berbahaya ketika kekerasan menjadi budaya. Perkosaan 1998 adalah puncak gambaran rentannya perempuan ketika kekerasan yang disokong negara melalui militer bertemu budaya patriarki dan rasisme. Oleh karenanya, penolakan terhadap manipulasi sejarah dan pemihakan terhadap korban femisida adalah komitmen melawan segala jenis kekerasan dan melawan potensi terjadinya kekerasan-kekerasan yang lain.</p><p><br/></p><p>@afi.nafiqoh12.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:01:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539368511</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penghapusan Pemerkosaan Massal Mei 1998 Sama Dengan Penghapusan Fakta yang Ada!</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539372022</link>
         <description><![CDATA[<p>Tragedi ini harus terus diedukasi dan dilantangkan mengenai kenyataannya karena bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, mengakui fakta yang ada, baik kenyataan yang baik maupun yang buruk sekalipun. Penghapusan pemerkosaan massal Mei 1998 tidak akan menjadikan bangsa ini maupun masyarakatnya lebih baik kedepannya. Jangan hapuskan fakta yang ada! Tolak penghapusan tragedi pemerkosaan massal Mei 1998! <em>(email: putuwulansawitri@gmail.com)</em></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:12:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539372022</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tragedi Pemerkosaan Mei 98 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539372783</link>
         <description><![CDATA[<p>Aku nggak setuju sama sekali kalau ada yang mau menghapus sejarah tragedi pemerkosaan Mei 98. Luka itu nyata, bukan cuma cerita yang bisa dihapus seenaknya. Banyak perempuan jadi korban, harga diri mereka dihancurkan, dan sebagian bahkan nyawanya hilang. Kalau sejarah ini dihapus, sama saja kita membiarkan pelaku dan mereka yang diam saja waktu itu lolos tanpa tanggung jawab. Aku lahir dan tumbuh di negeri ini, dan aku mau masa depan kita nggak lagi dikhianati oleh ingatan yang sengaja dihilangkan. Kita wajib mengingat, biar nggak ada lagi perempuan yang harus ngalamin hal seseram itu cuma karena dia hidup di waktu yang salah.</p><p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:hafidadevi@gmail.com">hafidadevi@gmail.com</a> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:14:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539372783</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539373007</link>
         <description><![CDATA[<p>Tidak mudah untuk melakukan pemulihan bagi korban dan pendamping. Bahkan setelah 27 tahun lamanya upaya ini dirusak oleh salah satu petinggi yang mengatakan bahwa "Peristiwa Pemerkosaan Massal tidak pernah terjadi". Padahal Andy Yentriyani menegaskan tujuan upaya ini dengan sebuah pernyataan yang menggugah hati saya: "mengungkapkan peristiwa ini bukan sekedar menghidupkan trauma para korban, tetapi menjadi cara agar kita dapat mengetahui jalan mana yang bisa kita ambil agar korban mendapatkan keadilan." </p><p><br/></p><p>Jadi walaupun perjuangan ini terasa panjang, perjalanan ini tidaklah sia-sia. karena seperti yang diucapkan Soe Tjen Marching, "Semua akan sia-sia apabila kita hanya berdiam diri."</p><p><br/></p><p>retkurnia@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:15:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539373007</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539373176</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam negara yang otoriter ilmu-ilmu humaniora akan direduksi karena dianggap sebagai ancaman bagi kursi kekuasaan yang sedang mereka duduki, hal ini diperlihatkan pemerintah belakangan ini mulai dari mereduksi ilmu sejarah dengan menyandingkannya dengan industri.</p><p>Peristiwa 98 menjadi babak baru namun bukan seutuhnya menjadi sebuah kemenangan, perjalanan dan perjuangan harus tetap berlangsung, mengecap negara dengan pemerintahan demokrasi namun tetap menyebar teror terhadap korban khususnya perempuan dalam peristiwa pemerkosaan massal 98 adalah sebuah kontradiksi.</p><p><br/></p><p>@asmaulasri33@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:15:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539373176</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diskusi Tentang Penghapusan Sejarah Pemerkosaan Massal Mei 1998.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539374346</link>
         <description><![CDATA[<p>Sungguh miris saat pemerintah mencoba untuk membungkam fakta tentang sejarah, padahal sudah terpampang jelas bukti nyata di masa lalu. </p><p>#MARITERUSMELAWAN</p><p>#HIDUPPEREMPUANYANGMAUBERJUANG</p><p>Minggu, 10 Agustus 2025</p><p><br/></p><p>Email: Meisyyy15@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:18:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539374346</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539374361</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebetulan saya juga sedang menulis historia article series, hasil riset saya tentang sejarah pelanggaran HAM berat masa lalu yang mencoba dihapuskan dalam proyek penulisan ulang sejarah nasional, dari Konferensi Perempuan 1928-Kerusuhan 1998 termasuk pemerkosaan massal 1998 ini dan masih banyak lagi. Bagi yang berminat membaca bisa membaca tulisan saya di Netral News (<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://netralnews.com">netralnews.com</a>), cari "His-Story Bukan History" 🙏🏻</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:18:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539374361</guid>
      </item>
      <item>
         <title>hapus femisida dan perjuankan hak perempuan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539377573</link>
         <description><![CDATA[<p>diskusi malam ini membuat saya menemukan jawaban untuk merawat dan menyiarkan tragedi keji ini ke khayalak luas. dengan harapan kami bisa bersama-sama memperjuangkan hak perempuan, menghapus femisida dan jeratan patriarki yang telah mengakar menjadi bentuk kebiasaan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>email: andrianapruwaida@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:27:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539377573</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lanjutkan perjuangan demi perempuan Indonesia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539377923</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya setuju dengan mba Soe Tjen. Ilmu sosial serta kata-kata dapat mempertajam tingkat kritis penduduk Indonesia, itulah mengapa pemerintah di negeri ini begitu ciut; bukan terhadap kata-kata semata, tapi juga literasi di Indonesia. Inilah senjata kita bersama. Menolak lupa. Mengasah asa. Mari tumpaskan femisida dan segala ketidakadilan bagi setiap manusia, terutama perempuan . Terima kasih atas acara yang sangat berfaedah ini. Selamat malam. </p><p><br/></p><p>email: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:shelferaa@gmail.com">shelferaa@gmail.com</a></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:28:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539377923</guid>
      </item>
      <item>
         <title>&quot;Seramnya&quot; Semua Terkait</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539385393</link>
         <description><![CDATA[<p>Dari hal sederhana... penggunaan kata "kompleks" dengan mudah menyangkal kekerasan yang dialami para perempuan korban '98. Penyangkalan terhadap kekerasan gender membuka ruang bagi penyangkalan terhadap diskriminasi rasial dan keagamaan. Penyangkalan terhadap diskriminasi melanggengkan penindasan kelas yang berlaku. Kesadaran (rakyat) akan penindasan merupakan ketakutan terbesar dari mereka yang berkuasa. Untuk itu, mereka berlindung di balik jargon-jargon, seperti: persatuan, kompleks, dan asing, bukan untuk memelihara kesatuan, melainkan untuk memastikan bahwa rakyat sibuk berseteru satu sama lain. Siklus mengerikan inilah yang dipelihara, dijaga, agar rakyat tetap tak sadar, sementara pemerintah memperkaya diri, membangun kekuasaan, serta bersuka ria di atas penderitaan mereka. </p><p><br/></p><p>Dan semua ini kembali pada satu hal sederhana, "penyangkalan terhadap peristiwa pemerkosaan tahun '98", terhadap para korban, saksi, juga para pendamping. Karenanya, untuk mengingat ialah suatu bentuk perlawanan paling besar.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Email: cecha.aldorino@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 14:52:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539385393</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Luka Kami Semua </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539393647</link>
         <description><![CDATA[<p>Siapa kah yang bertanggung jawab akan tragedi pemerkosaan massal Mei 98? Semua merujuk kepada saya, anda, kalian, mereka, bahkan negara. Rakyat dituju sebagai penggerak lewat suara dan aksi mereka lalu pemerintah dituju sebagai responden suara rakyat untuk menangani tragedi Mei 98. Benar bahwa saya kecewa terhadap rakyat yang tak mengambil aksi untuk membantu, tetapi kecewa saya lebih berat terhadap pemerintah yang secara sistematis membuat sejumlah rakyat tersebut menjadi pasif atau tidak peduli akan bersuara untuk menolak penghapusan sejarah tragedi pemerkosaan massal Mei 98.</p><p><br></p><p>Pesan dari Ibu Soe Tjen tertanam di benak saya bahwa negara takut kepada mereka yang mempelajari humaniora. Menurut saya ketakutan tersebut dibuat secara sistematis agar sejumlah rakyat ikut takut atau bahkan dibuat menjadi tidak peduli. Ketakutan tersebut menjadi sebuah racun bagi kami yang memperjuangan hak. Mereka takut sehingga memaksa kita untuk bungkam. </p><p><br></p><p>Luka penyintas akan terus berjalan ketika pemerintah tidak menjamin keadilan. Luka penyintas akan terus berjalan seiring hukum yang kian tumpul ke atas. Kemudian, luka penyintas akan bertambah ketika orang seperti Fadli Zon(k) hadir menyatakan kekejiannya. Tidak mengakui pemerkosaan massal Mei 98 merupakan kekerasan struktural yang masih berlanjut. Sesungguhnya jiwa manusia harus ditempatkan pada kuasa tertinggi dalam kehidupannya. Caranya dapat dilakukan dengan tidak tidak menyakiti jiwa manusia itu sendiri dan mengakui jiwa yang tersakiti. Namun, pemerintah tetap saja menempatkan jiwa perempuan di bawah seharusnya dengan tidak memberi keadilan atau lebih parahnya tidak mengakui luka. </p><p><br></p><p>Berapa harga perempuan di mata negara? Saya makin meragukan rezim kali ini setelah Fadli Zon membuka mulutnya mengeluarkan senjata tajam, yakni kata-kata yang menyakiti perempuan. Melalui empati, kami merasakan betapa sakitnya perkataan keji tersebut. Saya muak dan marah terhadap pemerintah yang tidak bisa atau bahkan tidak mau menempatkan keadilan kepada perempuan. </p><p><br></p><p>Buatlah Anda sendiri (pemerintah) menjadi bertanggung jawab atas tragedi tersebut dan buat lah kami bersuara untuk tragedi tersebut. Luka tersebut merupakan luka kami karena sejarah tersebut merupakan sejarah kami bersama juga. </p><p><br></p><p>email: nasywaah28@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 15:13:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539393647</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perempuan bersama Perempuan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539405755</link>
         <description><![CDATA[<p>Pemerkosaan dengan perempuan sebagai korban itu nyata, terang, jelas, ada. Negara gagal untuk hadir, negara tidak mampu dan tidak akan pernah bisa mengadili pelaku jika lingkaran iblis penguasa terus berulang. </p><p><br/></p><p>Bagaimana bisa, kini, permintaan keadilan justru diajukan langsung kepada terduga atau bahkan pelaku sebenarnya? Tidak lucu untuk menuliskan ulang sejarah dengan menghapus keburukan yang ada. Sejarah perlu ditulis utuh, rinci, urut dan segalanya perlu dituangkan dan dilestarikan, tidak ada satu titik pun yang hilang. Penerus bangsa perlu tahu, sejarah apapun yang menyangkut Indonesia sebagai korban maupun pelaku, termasuk soal pemerkosaan dan isu lain dalam peristiwa 98 yang menjadikan perempuan sebagai korban. Dan harus jelas siapa saja terduga pelaku yang belum diadili hingga saat ini. Bagaimana negara dapat dengan mudah mengatur mereka yang salah untuk duduk di kursi kekuasaan, sehingga pelaku dapat mengatur segalanya berjalan mudah tanpa menyentuh masa lalu kelam yang melibatkan mereka.</p><p><br/></p><p>Tuhan selalu bersama korban, semoga korban akan segera mendapatkan keadilan di dunia. Di kehidupan kekal selanjutnya, Tuhan Yang Maha Adil, tentu akan memberikan keadilan-Nya yang tidak ada di dunia. Berharap korban segera mendapatkan pemulihan fisik dan mental, dan mereka yang telah tiada dipermudah jalannya menuju kehidupan kekal nan indah.</p><p><br/></p><p>Dan pernyataan pejabat laki-laki dan pejabat lainnya terhadap isu kekerasan yang di alami oleh perempuan, yang menyatakan bahwa itu tidak ada dengan segala kalimatnya yang menyakitkan, disampaikan dengan tubuhnya yang memiliki empati kosong dan hilangnya hati nurani bukanlah ciri seorang manusia. </p><p><br/></p><p>Semoga ingatan, hati nurani, martabat, harga diri, akal, dan segala sesuatu dalam diri kita tetap terjaga dan terawat, segalanya yang menjadi hak serta kewajiban kita sebagai manusia selalu ada, sehingga jabatan, uang dan semua keburukan tidak membuat kita buta dan tuli sehingga dengan sukarela masuk ke dalam perangkap kegelapan surga dunia yang sesaat ini.</p><p><br/></p><p><strong>PEREMPUAN BERSAMA PEREMPUAN</strong></p><p><br/></p><p>maulidakhr@gmail.com</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-10 15:54:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539405755</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539504205</link>
         <description><![CDATA[<p>luka 98 adalah luka bersama bukan hanya milik korban atau etnis tertentu melainkan tanggungan bersama. menolak pengaburan sejarah bukanlah merawat luka melainkan merawat ingatan agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan. #hidupkorban #jangandiam #lawan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-11 00:02:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nissavidyanita1/fwvr71idzft84g14/wish/3539504205</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
