<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Ruang Jawaban dari Pertanyaan Literasi Membaca Mading Guru by Herlanditya Primanagari</title>
      <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3</link>
      <description>Bacalah setiap karya Guru dalam Mading (Edisi: Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa)! Jawablah setiap pertanyaan yang diberikan terkait isi karya dengan menambahkan satu buble Padlet! Lengkapi buble Padlet Anda dengan Nama Lengkap dan Kelas masing-masing! Selamat membaca!!!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-07-23 03:01:03 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-31 01:02:16 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/svg/1f4f0.svg</url>
      </image>
      <item>
         <title>Benediktus Andika Bagus Prakoso XI Pascal </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657518015</link>
         <description><![CDATA[<p>1a. Penggunaan bahasa untuk menyebarkan kebencian atau perundungan siber dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda karena menggerus nilai-nilai fundamental persatuan dan kualitas komunikasi yang terkandung di dalamnya. </p><p><br/></p><p>1b. Sebagai murid SMA, ada banyak strategi digital yang bisa dilakukan untuk menjadikan bahasa persatuan sebagai alat membangun peradaban:</p><p>Menjadi duta bahasa positif di media sosial.</p><p>Buat konten edukatif: Gunakan platform seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts untuk membuat video kreatif tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik, seperti penjelasan makna kata-kata baru atau cara berkomunikasi yang sopan dan efektif di dunia maya.</p><p>Kampanye antiperundungan: Buat kampanye dengan tagar spesifik seperti #StopBullyOnline atau #BahasaBermartabat untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif perundungan siber dan mempromosikan komunikasi yang santun.</p><p>Gunakan bahasa yang inklusif: Pastikan bahasa yang digunakan di media sosial selalu sopan, menghargai perbedaan, dan tidak mengandung unsur SARA. Jadilah contoh bagi teman-teman sebaya dalam berinteraksi secara sehat di media digital.</p><p>Memanfaatkan platform digital untuk literasi kebangsaan.</p><p>Menulis blog atau artikel: Tulis blog pribadi atau artikel di platform seperti Medium tentang sejarah Sumpah Pemuda, pentingnya bahasa persatuan, atau bagaimana bahasa Indonesia dapat memperkuat identitas bangsa di era globalisasi.</p><p>Membuat podcast: Rekam podcast bersama teman-teman yang membahas topik-topik kebangsaan, nilai-nilai persatuan, dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari melalui bahasa yang positif.</p><p>Berpartisipasi dalam forum online: Ikut serta dalam diskusi daring yang relevan dan gunakan bahasa yang santun dan konstruktif untuk menyampaikan pendapat. Ajak teman-teman untuk berdiskusi dengan cara yang sama, sehingga menciptakan ruang komunikasi yang sehat.</p><p>Mengembangkan kreativitas dengan bahasa Indonesia.</p><p>Kolaborasi konten: Buat konten kolaborasi dengan teman-teman atau komunitas lain, misalnya membuat video puisi, cerita pendek, atau musik yang liriknya menggunakan bahasa Indonesia yang kaya dan indah.</p><p>Turnamen digital: Selenggarakan turnamen e-sports atau gim daring lainnya dan gunakan bahasa Indonesia yang baku atau kreatif dalam narasi permainannya. Hal ini dapat membuat penggunaan bahasa Indonesia terasa lebih menarik bagi generasi muda.</p><p>Membuat kamus bahasa gaul positif: Buat kamus digital atau akun media sosial yang mengumpulkan bahasa gaul yang positif dan mempromosikannya. Ini menunjukkan bahwa bahasa gaul pun bisa digunakan secara kreatif tanpa harus merusak etika komunikasi.</p><p>Membangun komunitas digital yang peduli bahasa.</p><p>Buat grup diskusi: Bentuk grup diskusi di aplikasi pesan instan atau media sosial untuk membahas isu-isu terkait penggunaan bahasa di ruang digital. Bagikan artikel, video, atau informasi yang relevan dan menarik.</p><p>Pelatihan digital: Selenggarakan pelatihan daring sederhana (webinar) untuk teman-teman tentang etika berkomunikasi di media sosial, cara mengidentifikasi hoaks, dan cara merespons ujaran kebencian dengan bijak.</p><p>Berinteraksi dengan lembaga bahasa: Ikut serta dalam program atau kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga seperti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Laporkan penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah atau ujaran kebencian yang ditemukan di media sosial. </p><p><br/></p><p>2. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 00:46:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657518015</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Darren Valent Fransiskus</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657533865</link>
         <description><![CDATA[<p>XI davinci</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Ms Sifra:</p><p>Walaupun belum menghasilkan keputusan resmi, Kongres Pemuda  memiliki peran penting sebagai  dasar menuju lahirnya Sumpah Pemuda. Dalam kongres ini, para pemuda dari berbagai daerah untuk pertama kalinya berkumpul dan membahas pentingnya persatuan nasional. Mereka mulai menyadari bahwa perjuangan tidak bisa lagi dilakukan secara terpisah berdasarkan suku atau daerah, melainkan harus dilakukan bersama demi satu tujuan: kemerdekaan Indonesia.</p><p>Kongres ini juga membangkitkan kesadaran kolektif bahwa seluruh pemuda memiliki nasib dan cita-cita yang sama. Meskipun belum menghasilkan keputusan formal, pertemuan ini menjadi pengalaman berharga dan memotivasi para pemuda untuk mengadakan Kongres Pemuda II dua tahun kemudian dengan persiapan yang lebih matang.</p><p><br/></p><p>Hubungan sebab-akibat antara Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda terlihat jelas. Karena adanya Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), para pemuda dari berbagai organisasi daerah kembali berkumpul dalam suasana yang lebih terorganisir dan berfokus pada persatuan bangsa. Dari kongres inilah lahir ikrar bersejarah Sumpah Pemuda, hasil dari diskusi dan tekad bulat para pemuda yang menyadari pentingnya nasionalisme dan kesatuan.</p><p>Pada sesi penutup, tanggal 28 Oktober 1928, dibacakanlah ikrar yang menegaskan tiga cita-cita utama: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Ms Arnel:</p><p>Perayaan Bulan Bahasa memberikan banyak dampak positif, seperti meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, memperkuat identitas nasional, serta mendorong kreativitas dalam berbahasa dan bersastra.Selain itu, kegiatan ini juga membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia di berbagai kalangan dan mengangkat kembali  apresiasi terhadap kesusastraan serta seni bahasa.</p><p><br/></p><p>Namun, masih ada hal yang perlu diperbaiki. Banyak orang yang masih menganggap perayaan Bulan Bahasa hanya sebagai acara seremonial, bukan sebagai upaya nyata untuk memperdalam dan memperkaya pemahaman bahasa dan sastra Indonesia. Saat ini, sastra Indonesia juga mulai kehilangan pesonanya karena banyak karya yang menggunakan bahasa campuran, terutama bahasa Inggris. Oleh karena itu, penting untuk menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bahasa Indonesia* dan mengurangi penggunaan bahasa asing secara berlebihan, agar jati diri bahasa nasional tetap terjaga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 00:55:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657533865</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Giovandi XI Davinci</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657541119</link>
         <description><![CDATA[<p>Ms Sifra:</p><p>Meskipun dianggap belum signifikan karena tidak menghasilkan keputusan formal, Kongres Pemuda I memegang peranan krusial sebagai fondasi penting menuju Sumpah Pemuda: </p><p>Membahas Pentingnya Persatuan: Kongres ini menjadi ajang pertama bagi para pemuda dari berbagai organisasi daerah untuk berkumpul dan membicarakan gagasan mengenai pentingnya persatuan nasional. Inilah langkah awal untuk melampaui ego kesukuan yang sebelumnya mendominasi.</p><p>Membangun Kesadaran Kolektif: Kongres Pemuda I membuka mata para pemuda bahwa mereka memiliki nasib dan tujuan yang sama, yaitu kemerdekaan Indonesia. Proses ini membantu membangun kesadaran kolektif bahwa perjuangan harus dilakukan dalam skala nasional, bukan lagi kedaerahan.</p><p>Mempersiapkan Jalan untuk Kongres Berikutnya: Kongres ini menjadi pelajaran berharga dan memicu kesadaran bahwa diperlukan pertemuan yang lebih terorganisir untuk mencapai kesepakatan yang lebih substansial. Kegagalan mencapai keputusan formal di Kongres I justru menjadi dorongan kuat untuk mengadakan Kongres Pemuda II dua tahun kemudian. </p><p>Hubungan sebab akibat Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda</p><p>Penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 memiliki hubungan sebab akibat yang sangat erat dengan lahirnya ikrar Sumpah Pemuda.</p><p>Penyelenggaraan Kongres Pemuda II (sebab): Atas inisiatif Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), para pemuda dari berbagai organisasi daerah berkumpul kembali dalam sebuah kongres yang lebih terorganisir dan berfokus pada persatuan nasional.</p><p>Lahirnya Ikrar Sumpah Pemuda (akibat): Kongres ini menghasilkan ikrar bersejarah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.</p><p>Hasil diskusi dan tekad bulat: Selama kongres berlangsung, para pemuda berdiskusi tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi. Mereka menyadari bahwa perbedaan kesukuan harus disatukan dalam identitas nasional yang tunggal.</p><p>Pembacaan ikrar: Pada sesi penutup tanggal 28 Oktober 1928, hasil rumusan kongres dibacakan sebagai sebuah ikrar yang menegaskan tiga cita-cita: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.</p><p><br/></p><p>2 Ms Arnel:</p><p>Pencapaian dalam perayaan bulan bahasa meliputi peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, penguatan identitas nasional, pendorong kreativitas dalam berbahasa dan bersastra, serta peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia di berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, perayaan ini juga berhasil menggaungkan eksistensi jurusan bahasa dan meningkatkan apresiasi terhadap kesusastraan dan kesenian. </p><p>Hal yang masih kurang dan perlu ditingkatkan adalah pemahaman bahwa perayaan bulan bahasa bukan sekadar acara seremonial, tetapi juga upaya konkret untuk memperkaya pemahaman terhadap bahasa dan sastra. Sastra Indonesia juga mulai pudar karena adanya beberapa karya sastra yang menggunakan bahasa campuran, khususnya bahasa Inggris. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan semangat untuk lebih mencintai bahasa nasional dan menghindari penggunaan bahasa asing secara berlebihan. </p><p>Mr Manalu:</p><p>Pantun tersebut mengkritik bahwa masuknya "gadget dan media" sebagai budaya baru telah menyebabkan memudarnya semangat pemuda. Hal ini terlihat dari larik ketiga dan keempat pantun, yang menyatakan bahwa semangat pemuda kini memudar karena gadget dan media telah menjadi budaya.</p><p>Kritik dalam pantun ini relevan dengan kehidupan remaja SMA Regina Caeli saat ini. Penggunaan gadget dan media yang berlebihan dapat mengikis semangat untuk berinteraksi secara langsung, berorganisasi, dan berkreasi, yang merupakan bagian dari "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat".</p><p>Berikut adalah beberapa poin yang menghubungkan kritik pantun dengan "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat":</p><p>Mencintai Lingkungan: Ketergantungan pada gadget dapat membuat remaja kurang peduli dengan lingkungan sekitar dan lebih fokus pada dunia maya.</p><p>Gemar Membaca: Gadget dan media sosial seringkali lebih menarik daripada membaca buku, sehingga dapat mengurangi minat baca remaja.</p><p>Berani Berpendapat: Komunikasi melalui media sosial seringkali tidak sekomprehensif dan seefektif komunikasi tatap muka, sehingga dapat mengurangi keberanian remaja untuk berpendapat secara langsung.</p><p>Berpikir Kritis: Informasi yang tersebar luas di media sosial tidak selalu akurat, sehingga remaja perlu memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menyaringnya.</p><p>Kreatif dan Inovatif: Gadget dan media dapat menjadi alat untuk berkreasi, namun jika digunakan secara pasif (hanya mengonsumsi konten), hal ini justru dapat menghambat kreativitas.</p><p>Mandiri: Ketergantungan pada gadget untuk hiburan atau informasi dapat mengurangi kemandirian remaja dalam mencari solusi atau mengisi waktu luang.</p><p>Disiplin: Penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat mengganggu jadwal belajar dan kegiatan lainnya, sehingga mengurangi kedisiplinan.</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://3.Ms">3.Ms</a> Vanes:</p><p>Menumbuhkan semangat rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa sehingga dapat meningkatkan rasa persatuan serta kesatuan bagi seluruh rakyat Indonesia. </p><p>Nilai-nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan, cinta tanah air, dan semangat kebangsaan masih sangat relevan dan perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa di era sekarang. </p><p>Saling menghormati dan menghargai sesama anak bangsa.</p><p>Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman budaya.</p><p>Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.</p><p>Menanamkan rasa bangga terhadap tanah air dan menggunakan produk buatan anak bangsa.</p><p>Menyebarkan pesan positif dan menghentikan penyebaran hoaks.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 00:59:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657541119</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Efraim Guseva Simatupang XII</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657547955</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>1. <strong>Artikel oleh Mam Ririn</strong></p><p>   - <strong>Ancaman Penggunaan Bahasa di Dunia Maya</strong>: Fenomena penyebaran hoaks dan perundungan di dunia siber menjadi ancaman serius yang dapat merusak persatuan masyarakat.</p><p>   - <strong>Strategi yang Diusulkan</strong>: Mengedepankan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik sebagai alat untuk membangun peradaban dan persatuan.</p><p>2. <strong>Opini oleh Mr. Jefri</strong></p><p>   - <strong>Isu Utama</strong>: Keterbatasan dalam menganalisis dan mengelola informasi berlebih mengakibatkan pola pikir yang dangkal.</p><p>   - <strong>Pendekatan yang Komprehensif</strong>: Menggunakan pendekatan interdisipliner untuk menggabungkan berbagai sudut pandang dalam menyelesaikan masalah.</p><p>3. <strong>Esai oleh Ms. Arnel</strong></p><p>   - <strong>Keberhasilan Bulan Bahasa</strong>: Meningkatkan peran Bahasa Indonesia di berbagai institusi pendidikan dan menyelenggarakan festival sastra.</p><p>   - <strong>Kekurangan yang Perlu Diperhatikan</strong>: Pemaknaan bulan bahasa belum mencapai implementasi yang nyata, seringkali hanya menjadi ritual.</p><p>   - <strong>Makna Literasi Sejati</strong>: Mampu memahami dan menerapkan informasi secara kritis dan cerdas.</p><p>4. <strong>Cerpen oleh Ms. Eva</strong></p><p>   - <strong>Perubahan Perspektif</strong>: Membuat karakter Lina dan Bima menyadari nilai penting Sumpah Pemuda dan persatuan, dari skeptis menjadi antusias.</p><p>   - <strong>Rencana Proyek Raka</strong>: Menggelar festival budaya di sekolah dan memperbaiki perpustakaan desa sebagai bagian dari kampanye kebahasaan.</p><p>5. <strong>Pantun oleh Mr. Manalu</strong></p><p>   - <strong>Kritik terhadap Pantun</strong>: Pengaruh gadget dan media menyebabkan semangat pemuda memudar, mengubah gadget menjadi budaya baru.</p><p>   - <strong>Hubungan dengan Kebiasaan Anak Indonesia</strong>: Relevansi dengan kehidupan remaja saat ini, terkait dengan kebiasaan berpikir kritis dan inovatif.</p><p>6. <strong>Opini oleh Ms. Vanesha</strong></p><p>   - <strong>Jika Hidup di Era 1928</strong>: Berkontribusi maksimal sesuai kemampuan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan seperti para pemuda zaman dahulu.</p><p>7. <strong>Infografis oleh Ms. Ika</strong></p><p>   - <strong>Signifikansi Literasi</strong>: Literasi penting untuk mendorong pemikiran kritis, memperluas wawasan, membangun karakter, dan mencegah hoaks.</p><p>   - <strong>Jenis-Jenis Literasi</strong>: Termasuk literasi baca tulis, digital, numerasi, dan sains.</p><p>8. <strong>Cerpen oleh Ms. Tere</strong></p><p>   - <strong>Konflik Celline</strong>: Kesulitan berbahasa Indonesia akibat fokus berlebihan pada bahasa Inggris mencerminkan masalah umum di kalangan anak muda terkait penguasaan bahasa.</p><p>   - <strong>Pesan Penulis</strong>: Pentingnya menguasai bahasa asing, tetapi Bahasa Indonesia harus tetap dijunjung tinggi sebagai identitas bangsa.</p><p>9. <strong>Puisi oleh Ms. Helda</strong></p><p>   - <strong>Peran Bahasa Indonesia</strong>: Menguatkan rasa persatuan di antara berbagai suku dan budaya di Indonesia.</p><p>   - <strong>Pentingnya Mempertahankan Bahasa Persatuan</strong>: Melindungi Bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas dan persatuan bangsa di era modern.</p><p>10. <strong>Puisi oleh Ms. Hertan</strong></p><p>    - <strong>Tiga Nilai Utama</strong>: Beretika, berilmu, dan bertanggung jawab.</p><p>    - <strong>Inovasi untuk Generasi Mendatang</strong>: Mendidik generasi muda dengan semangat untuk membangun bangsa menuju Indonesia yang lebih baik.</p><p>11. <strong>Sejarah Singkat oleh Ms. Sifra</strong></p><p>    - <strong>Awal Mula Kedaerahan</strong>: Gerakan pemuda yang awalnya terkotak-kotak berdasarkan daerah atau suku.</p><p>    - <strong>Langkah Kongres Pemuda I</strong>: Menghimpun berbagai kelompok pemuda untuk mendiskusikan pentingnya persatuan nasional.</p><p>    - <strong>Dampak Kongres Pemuda II</strong>: Pemuda bersatu dengan semangat yang sama untuk meraih kemerdekaan, menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda.</p><p>12. <strong>Esai oleh Mr. Cello</strong></p><p>    - <strong>Nilai Sumpah Pemuda</strong>: Memperkuat rasa persaudaraan berdasarkan nilai cinta tanah air dan persatuan, sejalan dengan ajaran agama.</p><p>    - <strong>Peran Penting Semangat Agama</strong>: Spiritualitas agama mendorong pemuda untuk mencintai kasih dan persaudaraan, yang krusial untuk persatuan. </p><p>Semoga ini dapat memenuhi kebutuhan Anda!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:03:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657547955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Joanne rosi esterina philippus X rousseau</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657550839</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>a) penggunaan bahasa untuk menyebarkan hoax dapat menjadi bentu pengkhianatan terhadap sumpah pemuda karena penyebaran hoax dapat memicu terjadinya perpecahan. Hal ini berbanding terbalik dengan  apa yang diperjuangkan oleh para pemuda zaman dahulu yaitu persatuan, dengan menyebarkan hoax, sama saja kita menyebabkan perpecahan dan tidak menghargai perjuangan para pemuda.</p><p>b) Contoh strategi digital: membuat konten kreatif bertema kebangsaan, kampanye literasi bahasa, atau video edukatif di media sosial yang menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menjaga persatuan.</p></li><li><p><strong>a)</strong> Masalah utama yang diangkat penulis adalah rendahnya kemampuan literasi masyarakat Indonesia di era banjir informasi digital (defisit ide).</p><p><strong>b)</strong> Untuk mengatasi defisit ide, dibutuhkan <strong>pendekatan holistik</strong> — yaitu tidak hanya membaca-menulis, tetapi juga berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan gagasan bermakna.</p><p><strong>c)</strong> Literasi sejati adalah kemampuan memahami informasi, menganalisis, dan menggunakannya untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat, bukan sekadar bisa membaca dan menulis.</p></li><li><p><strong>a)</strong> Pencapaian selama ini: Bahasa Indonesia diakui UNESCO sebagai bahasa resmi dan diajarkan di lebih dari 270 lembaga di dunia. Bulan Bahasa juga menjadi momen pelestarian sastra dan budaya nasional.</p><p><strong>b)</strong> Tantangan yang masih kurang: minat baca rendah, dominasi bahasa asing, dan penggunaan bahasa Indonesia yang kurang baik di media sosial</p></li><li><p>a. Mengubah pandangan Lina dan Bima bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar tugas, tetapi semangat persatuan.<br>b. Mengadakan festival budaya di sekolah untuk memperingati Sumpah Pemuda dan menumbuhkan kebersamaan.</p></li><li><p>a) Pantun ini menyoroti bagaimana gadget dan media sosial membuat semangat juang pemuda berkurang karena terlalu sibuk dengan dunia digital.<br>b) Kritik tersebut masih relevan bagi remaja masa kini. Banyak siswa yang lebih fokus pada gadget daripada kegiatan positif. Bahkan mereka sering meninggalkan kegiatan penting untuk bermain gadget, seperti tidur dan belajar bertentangan terbalik dengan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat “Gemar Belajar” dan “ Tidur Cukup”.</p></li><li><p>a) Jika hidup di tahun 1928, saya akan aktif dalam organisasi pemuda, mengikuti kongres, serta menyuarakan persatuan lewat tulisan atau pidato.<br>b) Nilai-nilai dalam Sumpah Pemuda, seperti kebersamaan, solidaritas, dan cinta tanah air, tetap penting di masa kini sebagai dasar membangun bangsa yang harmonis dan berdaya saing.</p></li><li><p>a) Literasi penting karena membantu seseorang memahami informasi, berpikir kritis, dan meningkatkan kualitas hidup.<br>b) Jenis literasi yang perlu dikembangkan antara lain literasi digital, literasi informasi, literasi media, dan literasi keuangan agar masyarakat lebih cerdas dan kritis.</p></li><li><p>a) Celine menghadapi kesulitan komunikasi akibat perbedaan bahasa dan budaya. Hal ini menggambarkan tantangan nyata anak muda Indonesia dalam memahami keberagaman bahasa daerah.<br>b) Pesan utamanya adalah pentingnya saling menghargai, belajar memahami perbedaan, dan mempererat persaudaraan.</p></li><li><p>a) Dalam puisi tersebut, bahasa Indonesia digambarkan sebagai jembatan yang menyatukan berbagai suku dan budaya di Indonesia.<br>b) Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga bahasa Indonesia agar tetap menjadi simbol identitas dan alat pemersatu bangsa di era globalisasi.</p></li><li><p>a) Nilai yang ingin ditanamkan ialah semangat perjuangan, nasionalisme, dan rasa peduli terhadap sesama.</p><p>b) <strong>Semangat perjuangan:</strong> Membuat konten digital inspiratif tentang perjuangan tokoh bangsa di media sosial.</p><p><strong>Cinta tanah air:</strong> Mempromosikan produk dan budaya lokal melalui platform online.</p><p><strong>Kepedulian terhadap sesama:</strong> Mengadakan kegiatan sosial atau donasi digital untuk membantu masyarakat yang membutuhkan</p></li><li><p>a)Gerakan pemuda dahulu bersifat kedaerahan karena lebih mementingkan wilayah masing-masing. Sumpah Pemuda menyatukan mereka dengan semangat nasionalisme dan tujuan bersama</p><p>b)Kongres Pemuda I penting karena menjadi <strong>langkah awal menuju persatuan bangsa Indonesia</strong>.</p><p>Dalam kongres itu, para pemuda dari berbagai organisasi daerah mulai <strong>menyadari pentingnya bersatu</strong> dan <strong>meninggalkan sikap kedaerahan</strong>. Meskipun belum menghasilkan ikrar persatuan, kongres tersebut <strong>menjadi dasar dan pemersatu awal</strong> yang kemudian mendorong lahirnya <strong>Kongres Pemuda II tahun 1928</strong>, tempat diikrarkannya <strong>Sumpah Pemuda</strong>.</p><p>c)<strong>Sebab:</strong> Dalam <strong>Kongres Pemuda II tahun 1928</strong>, para pemuda dari berbagai daerah dan organisasi berkumpul untuk memperkuat tekad persatuan bangsa. Mereka berdiskusi dan sepakat bahwa Indonesia harus bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.</p><p> <strong>Akibat:</strong> Dari hasil kesepakatan itu, lahirlah <strong>ikrar Sumpah Pemuda</strong> yang menjadi simbol dan tonggak utama <strong>persatuan nasional Indonesia</strong>.</p><p>Jadi, <strong>Kongres Pemuda II menjadi penyebab langsung lahirnya ikrar Sumpah Pemuda</strong> karena di sanalah semangat persatuan diwujudkan secara resmi melalui sumpah tersebut.</p></li><li><p>a) Nilai Sumpah Pemuda mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan dan menjaga persaudaraan antarumat beragama melalui semangat persatuan.<br>b) Nilai spiritual dalam agama menumbuhkan moral dan etika, yang menjadi dasar kuat untuk menjaga keharmonisan bangsa.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:05:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657550839</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pedro Immanuel Putra Simanjuntak</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657554247</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Mam Ririn</p><p>a) Penyebaran hoaks dan perundungan lewat bahasa termasuk pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda karena bahasa seharusnya dipakai buat menyatukan, bukan memecah. Kalau kita pakai bahasa buat nyebar kebencian, itu berarti melawan semangat “Satu Bahasa Indonesia”.</p><p><br/></p><p>b) Sebagai siswa SMA, kita bisa pakai bahasa Indonesia dengan baik di media sosial, bikin konten positif, hindari hoaks, dan ajak teman buat berkomunikasi sopan. Jadi bahasa Indonesia bisa jadi alat untuk membangun dunia digital yang lebih baik.</p><p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://2.Me">2.Mr. Jefri</a></p><p>a) Masalah utamanya adalah banyak orang punya akses informasi besar tapi kurang bisa berpikir kritis, jadi ide-idenya kurang berkembang.</p><p><br/></p><p>b)Literasi sejati itu bukan cuma baca dan nulis, tapi juga bisa berpikir kritis, pilih info yang benar, dan hasilkan ide baru. Jadi kita harus bisa paham, menilai, dan pakai informasi buat hal yang bermanfaat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:06:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657554247</guid>
      </item>
      <item>
         <title>JOHN ANDREW</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657555977</link>
         <description><![CDATA[<p>XII ARISTOTLE</p><p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://5.Mr">5. Mr</a> Manalu </p><p><br/></p><p>5a. Pantun tersebut mengkritik bahwa penggunaan gadget dan media telah menjadi budaya baru yang membuat pemuda kehilangan semangat juang dan nasionalisme seperti generasi terdahulu. Dahulu, semangat pemuda sangat kuat dalam memperjuangkan bangsa, tetapi kini banyak remaja lebih sibuk dengan dunia digital, media sosial, dan hiburan daring sehingga kurang peduli terhadap nilai perjuangan, persatuan, dan kebangsaan.</p><p><br/></p><p>5b. Ya, Banyak remaja yang lebih fokus pada gadget, media sosial, dan hiburan digital, sehingga terkadang melupakan semangat belajar, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai dalam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. </p><p>Pantun ini mengingatkan agar remaja bisa menggunakan teknologi secara bijak dan tetap menumbuhkan semangat positif seperti semangat para pemuda dalam Sumpah Pemuda.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:06:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657555977</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Puisi Ms. Helda &quot;Bahasa Persatuan di Bumi Pertiwi&quot;</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657560157</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>9a. Dalam puisi tersebut, bagaimana peran bahasa Indonesia dalam memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman suku dan budaya yang digambarkan?</p><p><br></p><p><br></p><p>Dalam puisi “Bahasa Persatuan di Bumi Pertiwi”, bahasa Indonesia digambarkan sebagai alat pemersatu bangsa yang terdiri atas banyak suku dan budaya. Meskipun negeri ini penuh warna dan perbedaan, bahasa Indonesia menyatukan hati dan menjaga keharmonisan. Melalui bahasa, masyarakat dari berbagai latar belakang bisa berkomunikasi, saling memahami, dan bekerja sama membangun bangsa. Jadi, bahasa Indonesia berperan penting sebagai jembatan persatuan di tengah keberagaman yang ada.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>9b. Tuliskan pesan yang ingin Anda sampaikan tentang pentingnya menjaga bahasa persatuan di era modern!</p><p><br></p><p><br></p><p>Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa di era modern yang penuh pengaruh bahasa asing dan teknologi global, kita harus tetap bangga dan aktif menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Menjaga bahasa persatuan berarti menjaga identitas dan jati diri bangsa. Dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, di media sosial, maupun dalam karya, kita ikut melestarikan warisan bangsa dan memperkuat semangat kebangsaan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:07:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657560157</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marco Ilyas Gaiti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657570969</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>A. Karena penggunaan bahasa untuk menyebarkan hoax atau perundungan siber dapat merusak hubungan dan kepercayaan terhadap sumpah pemuda</p><p>B. Menggunakan bahasa persatuan dalam kehidupan sehari hari</p><p>    Menggunakan bahasa Indonesia yang baik</p></li><li><p>A. Masalah utama yaitu ketergantungan tinggi terhadap media sosial</p><p>B. Pendidikan kritis harus mengedepankan kemampuan menilai sumber</p><p>    Menyusun argumen</p><p>    Mengintegrasikan perspektif</p><p>C. Literasi sejati yaitu krmampuan berpikir kritis, menganalisis dan menghasilkan ide baru</p></li><li><p>A. Mengukir asa dengan mencetak generasi penutur dan pencipta yang bangga</p><p>B. Rendahnya literasi nasional</p></li><li><p>A. Karena dengan proyek Sumpah Kita mereka dapat bersatu antara satu dengan yang lain</p><p>B. Memperbaiki perpustakaan desa</p></li><li><p>A. Karena dengan diciptakan pantun ini dapat mengajak kita untuk membatasi penggunaan gadget</p><p>B. Kritik ini pasti sangat relevan</p></li><li><p>A. Memperjuangkan nasib untuk meraih cita cita</p><p>B. Membangkitkan semangat nasionalisme </p></li><li><p>A. Berpikir kritis</p><p>    Membuka wawasan</p><p>    Membangun karakter</p><p>    Meningkatkan prestasi  </p><p>B. Literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerasi dan sains</p></li><li><p>A. Mereka saling cuek antara satu sama lain</p><p>B. Menjadi bangsa yang maju adalah tentang menguasai dunia tanpa melupakan rumah</p></li><li><p>A. Dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari hari</p><p>B. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku</p><p>    Gemar menggunakan bahasa Indonesia</p></li><li><p>A. Beretika luhur</p><p>     Membangun bangsa</p><p>     Menjaga nurani tetap bersih</p><p>B. Tidak pernah melupakan jasa para pahlawan dan menjunjung tinggi bahasa persatuan</p></li><li><p>A. Karena persatuan dan kesatuan belum terjalin dengan baik</p><p>B. Dapat menerapkan persatuan nasional di seluruh masyarakat</p><p>C. Puncak dari kongres ini yaitu ikrar yang dikenal sebagai sumpah pemuda yang berisi tiga poin penting</p></li><li><p>A. Karena nilai nilai sumpah pemuda dapat mengajarkan kita untuk menghargai beragam agama di dunia</p><p>B. Agar tercipta persatuan dan kesatuan antarumat beragama</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:12:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657570969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rino</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657574181</link>
         <description><![CDATA[<p>XI Pascal</p><p>1.a Karena Sumpah Pemuda intinya persatuan, hoaks/perundungan itu memecah belah</p><p>b Membuat konten positif dan kampanye anti-hoaks pakai Bahasa Indonesia</p><p><br/></p><p>2.a Defisit ide (kurang ide kreatif) karena literasi rendah</p><p>b Penguatan Literasi secara menyeluruh (semua jenis literasi)</p><p>c Kemampuan berpikir kritis, berkreasi, dan pakai ilmu untuk maju</p><p><br/></p><p>3. a Pemberian penghargaan, festival sastra, kegiatan sekolah/kampus</p><p>b Minat baca rendah, kurang kuat di literasi digital, Bahasa Indonesia harus jadi cermin peradaban</p><p><br/></p><p>4.a Dari skeptis jadi antusias, sadar Sumpah Pemuda adalah semangat membangun</p><p>b Festival budaya dan literasi untuk perbaikan perpustakaan dan menggali potensi pemuda</p><p><br/></p><p>5.a Semangat pemuda memudar karena fokus ke gadget/media yang jadi budaya baru</p><p>b Relevan, karena gadget bisa mengikis nilai Integritas dan Tanggung Jawab</p><p><br/></p><p>6.a Aktif di organisasi pemuda, konsisten pakai Bahasa Indonesia, dukung Kongres Pemuda II</p><p><br/></p><p>7.a Buat Berpikir Kritis, Wawasan Luas, Karakter Bagus, dan Prestasi Naik</p><p>b Baca Tulis, Digital, Numerasi, Sains</p><p><br/></p><p>8.a Konflik gugup pakai Bahasa Indonesia (tapi lancar Inggris), cerminan anggapan Bahasa Asing lebih keren</p><p>b Harus seimbang, Bahasa Indonesia itu identitas dan menghangatkan hati</p><p><br/></p><p>9.a Satu-satunya bahasa yang mempersatukan hati di tengah keberagaman, jadi pemersatu abadi</p><p>b Harus jadi benteng etika di digital, tidak boleh dipakai untuk hoaks/perpecahan</p><p><br/></p><p>10.a Beretiket luhur, Berilmu tinggi, Bertanggung jawab</p><p>b Terapkan etika digital, belajar mandiri, dan buat proyek komunitas kecil</p><p><br/></p><p>11.a Masih berpegangan pada asal daerah atau suku</p><p>b Langkah awal penting yang berhasil mempertemukan pemuda dan bahas persatuan nasional</p><p>c Sebab: Kongres Pemuda II diselenggarakan. Akibat: Ikrar Sumpah Pemuda lahir</p><p><br/></p><p>12.a Mengandung nilai cinta kasih dan persaudaraan, tidak melihat perbedaan sebagai halangan</p><p>b Spiritualitas adalah pilar penting yang mengajarkan kedamaian, membuat persatuan tulus dari hati</p><p>Sudah clean dan sesuai permintaan. Ada lagi yang mau dimodifikasi dari format ini?</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:13:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657574181</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657576637</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Inti Pengkhianatan Bahasa &amp; Solusi Digital</p><p>• Pengkhianatan: Bahasa Indonesia dikhianati saat dijadikan alat pemecah belah (hoaks, cyberbullying), merusak fungsi pemersatu Sumpah Pemuda.</p><p>• Solusi: Harus ada Literasi Digital Positif ("Verifikasi Dulu") agar bahasa jadi alat berpikir kritis dan dorongan Empati Digital agar komunikasi santun.</p><p>2. Tantangan Ide &amp; Literasi Kritis</p><p>• Masalah Utama: Kita mengalami Defisit Ide karena rendahnya Literasi Kritis, meskipun informasi melimpah (Surplus Informasi).</p><p>• Literasi Sejati: Bukan cuma melek huruf, tapi kemampuan mengolah data menjadi gagasan solutif (berubah dari konsumen pasif menjadi produsen ide).</p><p>• Pendekatan Holistik: Pendidikan harus fokus pada Kritis (Design Thinking), masyarakat harus sadar Teknologi (bahaya algoritma), dan perlu dibangun Ruang Diskusi Mendalam di publik.</p><p>3. Evaluasi Bulan Bahasa</p><p>• Sudah Dicapai: Menjadi Gerakan Nasional rutin dan berhasil mendapat Pengakuan UNESCO.</p><p>• Kekurangan: Perayaan masih Ritual Simbolis tanpa menyentuh akar masalah (rendahnya literasi kritis) dan bahasa Indonesia Tergerus oleh Slang di media sosial.</p><p>4. Makna Sumpah Pemuda Bagi Pelajar</p><p>• Perubahan Lina &amp; Bima: Dari cuek dan skeptis, mereka menjadi bangga dan termotivasi setelah Proyek “Sumpah Kita” membuktikan bahwa persatuan bisa menghasilkan aksi nyata (galang dana perpus) dan merayakan keberagaman.</p><p>5. Kritik Gadget &amp; Semangat Sumpah</p><p>• Kritik Pantun: Gadget dan media sosial membuat pemuda kehilangan semangat perjuangan dan solidaritas sosial, karena terlalu fokus pada dunia maya.</p><p>• Relevansi: Kritik ini penting agar remaja sadar bahwa “7 Kebiasaan Anak Hebat” harus diprioritaskan di dunia nyata untuk menciptakan karakter disiplin dan gotong royong.</p><p>6. Nilai Sumpah Pemuda untuk Sekarang</p><p>• Aksi 1928: Fokus pada Fusi Organisasi pemuda, Komunikasi dengan Bahasa Melayu, dan Literasi Nasional (pamflet).</p><p>• Korelasi Modern:</p><p>• Satu Nusa: Menuntut Tanggung Jawab Digital melawan hoaks.</p><p>• Satu Bangsa: Menjadi Kompas Moral untuk Toleransi dari fanatisme buta.</p><p>• Satu Bahasa: Menuntut Kualitas Komunikasi Etis dan Literasi Kritis melawan disinformasi.</p><p>7. Pentingnya Literasi Kritis</p><p>• Pentingnya Literasi: Membantu kita mengelola informasi untuk mengambil keputusan bijak dan memecahkan masalah.</p><p>• Hubungan dengan 7 Kebiasaan: Literasi Kritis mendukung kebiasaan Gemar Belajar dan Bermasyarakat, memastikan interaksi cerdas dan beretika.</p><p>8. Konflik Cerpen: "Gugup Bahasa Indonesia"</p><p>• Konflik: Celline gugup berbahasa Indonesia karena lebih nyaman Inggris/gaul. Konflik selesai saat teman-temannya menyarankan Bahasa Indonesia harus di-update seperti slang baru.</p><p>• Masalah Umum: Ini mencerminkan inferioritas dan minimnya effort anak muda untuk menguasai Bahasa Indonesia formal, mengancam kedudukan bahasa nasional.</p><p>9. Peran Puisi &amp; Bahasa di Era Modern</p><p>• Peran Puisi: Bahasa Indonesia adalah "Satu Bahasa" yang "Mempersatukan Hati," mengikat seluruh keberagaman suku dan jati diri bangsa dalam harmoni.</p><p>• Pesan: Jangan biarkan slang asing menggerus identitas. Gunakan Bahasa Indonesia dengan bangga, baik, dan benar sebagai kekuatan pemersatu peradaban.</p><p>10. Nilai Guru Muda &amp; Inovasi</p><p>• Tiga Nilai Guru: Jiwa Pembelajar (teladan), Bersemangat/Berani (tekad tak pudar), dan Integritas/Tanggung Jawab (ilmu luhur).</p><p>• Langkah Inovatif: Menerapkan "Mentorship Digital" melalui proyek kolaboratif untuk menyelesaikan masalah nyata, menjadikan guru sebagai teladan digital bagi siswa.</p><p>11. Pelajaran dari Kongres Pemuda I</p><p>• Awal Terkotak-kotak: Gerakan pemuda awalnya fokus pada suku/daerah masing-masing karena sentimen kedaerahan masih kuat, meski cita-cita merdeka sama.</p><p>• Pelajaran: Kongres I mengajarkan kita untuk Membuka Ruang Dialog Inklusif dan Fokus pada Isu Bersama (persatuan), mengesampingkan perbedaan remeh di era digital.</p><p>12. Spiritualitas Agama &amp; Persatuan</p><p>• Penguat Persaudaraan: Nilai Ketuhanan (spiritualitas agama) memperkuat Sumpah Pemuda karena menjadikan persatuan berdasarkan kasih, perdamaian, dan keadilan, bukan sekadar politik.</p><p>• Pentingnya Bagi Pemuda: Spiritualisme memberikan dasar moral dan etika agar pemuda terhindar dari konflik sektarian dan bersedia saling mengasihi demi keutuhan bangsa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:14:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657576637</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban Soal Literasi — Pierre 11 Da Vinci</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657579560</link>
         <description><![CDATA[<p>1: a. Perilaku seperti itu adalah pengkhianatan sebab pada dasarnya di dalam sumpah pemuda terdapat kata-kata "Satu Bahasa" Yang berarti menjaga martabat bahasa Indonesia itu sendiri untuk komunikasi yang produktif dan membangun, bukan sebaliknya. </p><p>b. Sebagai strategi digital yang efektif, saya mengusulkan untuk dibuatkannya suatu akun media sosial yang berfokus pada hal ini, yang mana kontennya selalu menekankan peran bahasa Indonesia sebagai alat persatuan, serta untuk memperingati anak bangsa di internet yang sekiranya menyalahgunakan bahasa Indonesia kita. </p><p><br/></p><p>2. a. Masalah utama yang dibahas penulis adalah defisit ide di tengah kelimpahan informasi pada era digital.</p><p>Meskipun informasi sangat melimpah melalui media sosial dan internet, banyak orang hanya menjadi konsumen pasif dan tidak mampu menghasilkan gagasan bermakna. Akibatnya, muncul pemahaman dangkal, kurangnya kemampuan berpikir kritis, serta rendahnya budaya literasi.</p><p>b. 1. Mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis di sekolah</p><p>Sekolah harus menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan menilai sumber, menyusun argumen, dan mengintegrasikan berbagai perspektif. Artinya, peserta didik tidak hanya menghafal, tetapi juga diajak untuk menganalisis dan menciptakan solusi bagi masalah nyata di masyarakat.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. Menggunakan teknologi secara bijak</p><p>Teknologi sebaiknya dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan dan kolaborasi, bukan sekadar konsumsi hiburan. Teknologi dapat menjadi platform produktif untuk belajar dan menciptakan ide-ide baru.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Mendorong budaya dialog dan kolaborasi</p><p>Masyarakat perlu membangun tradisi berdiskusi dan bertukar ide secara terbuka agar tercipta pemahaman mendalam dan inovasi. Dialog membantu menumbuhkan sikap kritis serta kemampuan mengolah informasi menjadi kebijakan yang bermakna.</p><p>c. Menurut teks, literasi sejati bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan ide baru.</p><p>Paulo Freire menyebut literasi sebagai proses pembebasan, di mana seseorang tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu menciptakan perubahan sosial melalui pemikiran dan tindakan yang reflektif.</p><p><br/></p><p>3: a. pengakuan UNESCO, banyak kegiatan sastra dan lomba, serta penguatan gerakan literasi nasional.</p><p>b. masih seremonial, minat baca rendah, penggunaan bahasa dangkal, dan kurang makna kritis terhadap peringatan itu sendiri.</p><p><br/></p><p>4: a) Proyek "Sumpah Kita" berhasil mengubah perspektif Lina dan Bima karena mereka yang awalnya menganggap tugas itu sekadar formalitas akhirnya menyadari makna kebersamaan dan semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda setelah ikut berpartisipasi dalam festival budaya sekolah.</p><p>b) Ide utama proyek "Sumpah Kita" adalah mengadakan festival budaya di sekolah untuk memperingati Sumpah Pemuda dengan cara yang kreatif dan bermakna; menampilkan keberagaman budaya Indonesia sebagai simbol persatuan dalam perbedaan.</p><p><br/></p><p>5. a) Pantun tersebut mengkritik bahwa gadget dan media telah menjadi budaya baru yang mengalihkan perhatian pemuda dari semangat perjuangan dan kebersamaan. Akibatnya, semangat positif seperti kerja keras, kepedulian, dan gotong royong mulai memudar karena banyak yang lebih sibuk dengan dunia digital daripada berkontribusi nyata di lingkungan sekitar.</p><p>b) Kritik ini sangat relevan dengan kehidupan remaja SMA Regina Caeli saat ini, karena banyak siswa yang lebih fokus pada media sosial daripada mengembangkan potensi diri. Hal ini berlawanan dengan nilai-nilai dalam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, misalnya:</p><p>Kebiasaan 1 (Mandiri dan bertanggung jawab) — sering kali terganggu karena penggunaan gadget berlebihan.</p><p>Kebiasaan 3 (Disiplin dan mampu mengatur waktu) — sulit diterapkan jika waktu habis untuk media sosial.</p><p>Kebiasaan 6 (Bekerjasama dan peduli) — menurun karena interaksi nyata berkurang.</p><p><br/></p><p>6: a) Saya akan ikut berjuang menyebarkan semangat persatuan, misalnya dengan bergabung dalam organisasi pemuda dan mengajak masyarakat mencintai bahasa serta tanah air Indonesia.</p><p>b) Nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan, cinta tanah air, dan penggunaan bahasa Indonesia tetap relevan sekarang untuk menjaga kerukunan, toleransi, dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia di tengah perbedaan.</p><p><br/></p><p>7: a) Literasi penting karena membantu seseorang memahami informasi dengan benar, berpikir kritis, memperluas wawasan, membangun karakter, serta meningkatkan prestasi. Dengan kemampuan literasi yang baik, kita dapat memilah informasi yang benar dan tidak mudah percaya pada hoaks.</p><p>b) Jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan yaitu literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerasi, dan literasi sains. Keempatnya membantu masyarakat agar lebih cerdas, kritis, dan mampu menggunakan informasi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>8: a) Konflik yang dialami Celline adalah ia lebih lancar berbahasa Inggris namun gugup dan kurang percaya diri menggunakan bahasa Indonesia dan daerah. Konflik ini mencerminkan masalah umum anak muda Indonesia sekarang yang lebih bangga memakai bahasa asing daripada menjaga dan menguasai bahasa sendiri.</p><p>b) Pesan utama penulis adalah bahwa menguasai bahasa asing itu penting, tetapi tidak boleh melupakan kebanggaan dan kemampuan berbahasa Indonesia serta bahasa daerah. Melalui interaksi mereka, penulis menekankan pentingnya menjaga jati diri bangsa lewat bahasa sendiri.</p><p><br/></p><p>9: a) Dalam puisi tersebut, bahasa Indonesia digambarkan sebagai alat pemersatu bangsa yang menyatukan berbagai suku, budaya, dan adat. Meski Indonesia beragam, satu bahasa membuat hati dan langkah bangsa menjadi satu dalam harmoni.</p><p>b) Pesan saya: Menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga identitas dan persatuan bangsa. Di era modern, kita boleh menguasai bahasa asing, tapi jangan lupa bangga dan fasih berbahasa Indonesia sebagai wujud cinta tanah air.</p><p><br/></p><p>10: a) Tiga nilai yang ingin ditanamkan guru muda kepada generasi penerus dalam puisi “Nyala Jiwa Pelita Bangsa” adalah:</p><p>1. Semangat belajar dan pantang menyerah — tercermin dari tekad guru muda yang terus berjuang meski menghadapi tantangan.</p><p>2. Tanggung jawab dan kejujuran — tampak pada baris “Beretika luhur, berilmu tinggi, bertanggung jawab.”</p><p>3. Cinta tanah air dan semangat membangun bangsa — ditunjukkan lewat usaha guru mendidik generasi penerus demi terwujudnya Indonesia Emas.</p><p>b) Langkah inovatif yang bisa dilakukan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut:</p><p>1. Semangat belajar: aktif mengikuti pelatihan, seminar, dan menggunakan teknologi digital untuk memperluas wawasan.</p><p>2. Tanggung jawab dan kejujuran: menjadi teladan dalam disiplin, bekerja dengan integritas, dan menjaga amanah di setiap tugas.</p><p>3. Cinta tanah air: berkontribusi lewat kegiatan sosial, mengembangkan karya lokal, serta menanamkan nilai nasionalisme dalam setiap tindakan dan karya nyata.</p><p><br/></p><p>11: a) Gerakan pemuda pada awalnya bersifat kedaerahan karena kesadaran nasional masih rendah. Setiap daerah memiliki bahasa, adat, dan organisasi sendiri, sehingga perjuangan masih terfokus pada kepentingan lokal, bukan nasional, meskipun mereka sama-sama mengalami penindasan Belanda.</p><p>b) Kongres Pemuda I sangat penting karena menjadi langkah awal untuk menyatukan berbagai organisasi pemuda dari daerah berbeda. Meskipun hasilnya belum nyata, kongres ini menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya persatuan dan menjadi dasar terbentuknya semangat nasionalisme yang lebih kuat menjelang Kongres Pemuda II.</p><p>c) Hubungan sebab akibat antara Kongres Pemuda II dan lahirnya Sumpah Pemuda:</p><p>Sebab: Dalam Kongres Pemuda II, para pemuda dari berbagai organisasi bertemu kembali dengan semangat persatuan dan keinginan kuat untuk membentuk identitas bangsa.</p><p>Akibat: Dari pertemuan inilah lahir ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—Indonesia.</p><p>Kongres ini menjadi tonggak lahirnya kesadaran nasional yang menyatukan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.</p><p><br/></p><p>12: a) Nilai Sumpah Pemuda memperkuat persaudaraan antarumat beragama karena menanamkan cinta kasih, persatuan, dan saling menghargai sebagai sesama ciptaan Tuhan.</p><p>b) Generasi muda perlu menumbuhkan spiritualitas agama agar memiliki kasih, moral, dan semangat persatuan yang kuat dalam menjaga keutuhan bangsa.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:16:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657579560</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aditya sharma 11 davinci</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657580792</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mam Ririn = Artikel</p><p><br/></p><p> a) Analisis Ancaman: Penggunaan bahasa di siber menjadi ancaman karena berpotensi menyebarkan hoaks atau perundungan, yang merusak persatuan </p><p><br/></p><p> b) Usulan Strategi: Menggunakan </p><p>Bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai "alat membangun peradaban" dan alat persatuan.</p><p><br/></p><p>2. Mr. Jefri = Opini Ikhtiar Menghidupkan Budaya Literasi di Tengah Defisit Ide</p><p><br/></p><p>  a) Masalah Utama: Keterbatasan dalam menganalisis, mengelola, dan menghasilkan gagasan/ide dari surplus informasi, serta kecenderungan berpikir dangkal.</p><p><br/></p><p>  b) Pendekatan Holistik: Pendekatan interdisipliner, yaitu mengintegrasikan perspektif berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan masalah.</p><p><br/></p><p>3. Ms. Arnel = Essay Bulan Bahasa Mengukir Asa</p><p><br/></p><p>  a) Pencapaian Bulan Bahasa: Meningkatkan peran Bahasa Indonesia di sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan, serta menyelenggarakan festival sastra/kebahasaan.</p><p><br/></p><p> b) Yang Kurang Ditingkatkan: Pemaknaan bulan bahasa belum menyentuh ranah implementasi nyata (baru sebatas ritual/seremoni).</p><p><br/></p><p> c) Literasi Sejati: Kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan menerapkan informasi secara cerdas</p><p> </p><p>4. Ms. Eva = Cerpen Sumpah Kita</p><p><br/></p><p> a) Mengubah Perspektif: Membuat Lina dan Bima tersadar pentingnya Sumpah Pemuda dan persatuan, dari yang awalnya skeptis/cuma formalitas menjadi antusias.</p><p><br/></p><p>  b) Ide Proyek Raka: Mengadakan festival budaya di sekolah (sekaligus perbaikan perpustakaan desa/kampanye kebahasaan).</p><p><br/></p><p>5. Mr. Manalu = Pantun</p><p><br/></p><p> a) Kritik Pantun: Gadget dan media membuat semangat pemuda memudar dan menjadikan gadget sebagai budaya baru.</p><p><br/></p><p> b) Relevansi &amp; Hubungan (7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat): Relevan karena teknologi/media kini jadi bagian hidup remaja. Terkait kebiasaan Cerdas (menghubungkan kritis), Kreatif, atau Inovatif (cara menyikapi gadget).</p><p><br/></p><p>6. Ms. Vanesha = Opini Sumpah Pemuda</p><p><br/></p><p> Jika Hidup pada 1928: Melakukan hal terbaik sesuai kapasitas untuk memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan (seperti para pemuda dahulu).</p><p><br/></p><p>7. Ms. Ika = Infografis Literasi Membuka Dunia</p><p><br/></p><p> a) Pentingnya Literasi: Karena mendorong berpikir kritis, membuka wawasan, dan membangun karakter, serta mencegah risiko hoaks.</p><p><br/></p><p> b) Jenis-jenis Literasi: Literasi baca tulis, digital, numerasi, dan sains.</p><p><br/></p><p>8. Ms. Tere = Cerpen Jago Ngomong Bahasa Inggris: Gugup Bahasa Indonesia</p><p><br/></p><p> a) Konflik Celline: Kesulitan dalam berbahasa Indonesia (sering campur kode/asing) karena fokus pada bahasa Inggris. Ini mencerminkan masalah umum kurangnya penguasaan/kepercayaan diri pada Bahasa Indonesia di kalangan anak muda.</p><p><br/></p><p>  b) Pesan Penulis: Menguasai bahasa asing itu perlu, tetapi Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa yang harus dikuasai dan dijunjung tinggi.</p><p>9. Ms. Helda =Puisi Bahasa Persatuan di Bumi Pertiwi</p><p><br/></p><p> a) Peran Bahasa Indonesia: Memperkuat rasa persatuan dengan mempersatukan berbagai suku, budaya, dan adat di seluruh Indonesia.</p><p><br/></p><p> b) Pentingnya Menjaga Bahasa Persatuan: Menjaga Bahasa Indonesia berarti menjaga persatuan dan identitas bangsa di era modern.</p><p><br/></p><p>10. Ms. Hertan =Puisi Nyala Jiwa Pelita Bangsa</p><p><br/></p><p> a) Tiga Nilai: Beretika luhur, berilmu tinggi, dan bertanggung jawab.</p><p><br/></p><p>  b) Langkah Inovatif: Mendidik generasi penerus dengan semangat pemuda untuk membangun bangsa menuju Indonesia Emas.</p><p><br/></p><p>11. Ms. Sifra = Sejarah Singkat Sumpah Pemuda</p><p><br/></p><p> a) Mengapa Awalnya Kedaerahan: Gerakan pemuda masih bersifat kedaerahan dan terkotak-kotak berdasarkan asal daerah atau suku.</p><p><br/></p><p> b) Langkah Awal Kongres Pemuda I: Mempertemukan berbagai kelompok pemuda dan mulai membicarakan pentingnya persatuan nasional.</p><p><br/></p><p>  c) Sebab Akibat Kongres Pemuda II: Para pemuda berkumpul dengan semangat yang sama, memposisikan diri sebagai Indonesia merdeka, dan menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda.</p><p><br/></p><p>12. Mr. Cello = Esai Sumpah Pemuda dan Spiritualitas Agama</p><p><br/></p><p> a) Nilai Sumpah Pemuda: Dapat memperkuat rasa persaudaraan beragama karena nilai Sumpah Pemuda (cinta tanah air, persatuan) selaras dengan ajaran agama (cinta kasih, persaudaraan).</p><p><br/></p><p>  b) Pentingnya Semangat Agama: Karena spiritualitas agama mendorong pemuda untuk mencintai kasih dan persaudaraan, yang vital bagi persatuan.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:16:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657580792</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fransisco </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657584957</link>
         <description><![CDATA[<p>11 davinci</p><p>1.a) Penggunaan bahasa untuk hoax atau perundungan siber dianggap pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda karena bahasa seharusnya menyatukan bangsa, bukan memecah. Penyalahgunaan bahasa merusak semangat persatuan dan nilai luhur komunikasi yang dijunjung Sumpah Pemuda.</p><p><br/></p><p>b) Sebagai murid SMA, kita bisa memakai bahasa Indonesia yang santun di media sosial, menyebarkan konten positif, menolak hoax, dan membuat karya kreatif berbahasa Indonesia agar bahasa persatuan menjadi alat membangun peradaban.</p><p><br/></p><p>2.a) Masalah utamanya adalah banyak orang punya banyak informasi tapi kurang ide dan tidak berpikir kritis.</p><p><br/></p><p>b) Pendekatan holistiknya:</p><p>-Melatih berpikir kritis dan memecahkan masalah nyata.</p><p>-Menggunakan teknologi untuk membuat karya, bukan cuma mencari info.</p><p>-Mendorong kerja sama dan diskusi agar muncul ide baru.</p><p><br/></p><p>c) Literasi sejati artinya bukan cuma membaca dan menulis, tapi juga berpikir kritis dan bisa membuat ide bermanfaat.</p><p><br/></p><p>3.a) Pencapaiannya: Bahasa Indonesia diakui UNESCO, digunakan banyak orang, dan tiap tahun ada lomba, diskusi, serta festival sastra.</p><p><br/></p><p>b) Kekurangannya: Minat baca dan literasi masih rendah, Bulan Bahasa sering dianggap acara biasa, dan anak muda kurang peduli menjaga bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p>4.a) Proyek Sumpah Kita membuat Lina dan Bima jadi lebih semangat dan peduli. Awalnya mereka menganggap tugas itu membosankan, tapi setelah ikut menyiapkan festival budaya di sekolah, mereka sadar bahwa Sumpah Pemuda punya makna penting tentang kebersamaan dan kerja sama.</p><p><br/></p><p>b) Ide utama proyek Sumpah Kita adalah mengadakan festival budaya di sekolah untuk memperingati Sumpah Pemuda, menunjukkan semangat persatuan dan gotong royong antar siswa lewat kegiatan seni dan budaya.</p><p><br/></p><p>5.a) Pantun itu menegur karena banyak pemuda terlalu sibuk dengan gadget dan media, jadi malas berkegiatan dan kurang semangat berjuang.</p><p><br/></p><p>b) Kritik ini cocok untuk remaja SMA Regina Caeli, karena banyak yang lebih sering main HP daripada berbuat hal baik. Padahal, menurut 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kita harus disiplin, rajin, peduli, dan cinta tanah air, bukan cuma sibuk di dunia digital.</p><p><br/></p><p>6.a) Kalau saya hidup di tahun 1928, saya akan ikut para pemuda bersatu melawan penjajah, mengajak orang lain mencintai Indonesia, dan menyebarkan semangat persatuan lewat belajar dan organisasi.</p><p><br/></p><p>b) Nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan dan cinta tanah air masih penting sekarang. Kita bisa menerapkannya dengan rukun, saling menghargai, bekerja sama, dan menjaga nama baik Indonesia di kehidupan sehari-hari maupun di media sosial.</p><p><br/></p><p>7.a) Kemampuan literasi penting karena membantu kita berpikir kritis, menambah wawasan, membangun karakter, dan mencegah mudah percaya hoax dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>b) Jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan yaitu literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerasi, dan literasi sains, agar masyarakat bisa berpikir lebih cerdas dan bijak dalam menggunakan informasi.</p><p><br/></p><p>8.a) Konflik yang dialami Celline adalah ia terlalu terbiasa memakai bahasa Inggris sehingga menjadi gugup dan kurang percaya diri ketika harus berbicara bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Konflik ini mencerminkan masalah umum anak muda Indonesia saat ini yang lebih bangga dan nyaman memakai bahasa asing, padahal kemampuan berbahasa Indonesia mereka jadi menurun.</p><p><br/></p><p>b) Pesan utama penulis adalah bahwa menguasai bahasa asing itu penting, tapi jangan sampai melupakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sendiri. Melalui interaksi Celline, Maharani, dan Ujang, penulis ingin menyampaikan bahwa bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa, jadi kita harus tetap bangga dan mampu menggunakannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>9.a) Dalam puisi tersebut, bahasa Indonesia digambarkan sebagai jembatan pemersatu bangsa. Walaupun Indonesia memiliki banyak suku, budaya, dan adat yang berbeda, bahasa Indonesia membuat semua orang bisa saling memahami dan merasa satu tanah air. Bahasa menjadi simbol persatuan dan kebanggaan nasional di tengah keberagaman.</p><p><br/></p><p>b) Pesan yang bisa disampaikan adalah bahwa menjaga bahasa Indonesia sangat penting di era modern ini. Meskipun banyak bahasa asing yang digunakan dalam teknologi dan media sosial, kita harus tetap bangga dan rajin menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena itulah identitas dan perekat bangsa kita.</p><p><br/></p><p>10.a) Tiga nilai yang ingin diajarkan guru muda adalah semangat belajar dan berjuang, tanggung jawab dan kejujuran, serta cinta tanah air dan semangat membangun bangsa.</p><p><br/></p><p>b) Cara saya menerapkannya adalah dengan belajar sungguh-sungguh dan menggunakan teknologi dengan baik, menjadi contoh yang jujur dan mau bekerja sama, serta ikut kegiatan sosial untuk membantu orang lain dan membuat Indonesia lebih maju.</p><p><br/></p><p>11.Awalnya gerakan pemuda masih terpisah karena mereka lebih fokus pada daerah masing-masing dan belum punya rasa persatuan yang kuat.</p><p><br/></p><p>Kongres Pemuda 1 penting karena mulai menyatukan para pemuda dan membahas arti penting persatuan.</p><p><br/></p><p>Kongres Pemuda 2 membuat kesadaran itu makin kuat hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang menyatukan bangsa Indonesia.</p><p><br/></p><p>12.a)Sumpah Pemuda memperkuat persaudaraan karena menyatukan bangsa dalam satu tekad sambil menghargai keberagaman sebagai kekayaan, didorong oleh cinta kasih universal yang diajarkan agama.</p><p><br/></p><p>B)Spiritualitas agama penting karena memberi dasar moral yang kuat (kasih dan keadilan) bagi generasi muda untuk menjaga persatuan, menjadikannya komitmen hati terhadap martabat manusia, bukan sekadar kewajiban.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:18:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657584957</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Stiventein Dominggo Niomba XII Socrates</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657585861</link>
         <description><![CDATA[<p>2. Mr. Jefri:</p><p>a. Masalah utama yang disoroti adalah menurunnya minat baca dan lemahnya kemampuan berpikir kritis di kalangan pelajar.</p><p>b. Untuk mengatasi defisit ide, dibutuhkan pendekatan holistik yang memadukan teknologi, seni, dan nilai karakter agar ide kreatif tumbuh dari berbagai sisi.</p><p>c. Literasi sejati adalah kemampuan memahami, menilai, dan mengolah informasi secara kritis untuk menghasilkan gagasan dan tindakan positif.</p><p><br/></p><p>9. Ms. Helda:</p><p>a. Puisi ini menggambarkan peran Bahasa Indonesia sebagai perekat bangsa dan simbol persatuan di tengah keberagaman budaya.</p><p>b. Pesan pribadi saya adalah pentingnya menjaga bahasa Indonesia dengan bangga dan konsisten, karena bahasa adalah identitas bangsa di era modern yang penuh pengaruh asing.</p><p><br/></p><p>10. Ms. Herlan:  </p><p>a. Nilai-nilai yang terkandung dalam puisi ini adalah semangat, nasionalisme, dan kepemimpinan bagi generasi penerus.</p><p>b. Implementasi nilainya dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial dan inovasi pelajar seperti lomba ide kreatif atau pementasan seni bertema cinta tanah air.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:19:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657585861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Al Dzakwan Syaputra XII SOCRATES</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657589349</link>
         <description><![CDATA[<p>5. Mr. Manalu – Pantun</p><p>a. Pantun tersebut mengkritik kebiasaan remaja yang terlalu bergantung pada gadget dan media sosial hingga melupakan interaksi sosial secara langsung.</p><p>b. Kritik ini sangat relevan karena banyak remaja yang kehilangan semangat kebersamaan akibat kecanduan media digital. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan penggantin hubungan sosial</p><p><br/></p><p>6. Ms. Vanesha – Opini: “Sumpah </p><p>Pemuda”</p><p>a. Jika hidup pada tahun 1928, saya akan berjuang memperkuat persatuan lewat media informasi seperti majalah pelajar dan diskusi antarorganisasi pemuda.</p><p>b. Nilai-nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan, toleransi, dan cinta tanah air tetap relevan hingga kini, terutama untuk melawan perpecahan</p><p><br/></p><p>7. Ms. Ika – Infografis: “Literasi Membuka Dunia”</p><p>a. Literasi penting karena membantu seseorang memahami informasi secara mendalam, berpikir kritis, dan tidak mudah terpengaruh berita palsu.</p><p>b. Jenis literasi yang perlu dikembangkan adalah literasi digital, literasi budaya, literasi finansial, dan literasi kritis agar masyarakat menjadi cerdas dan terbuka terhadap perubahaan</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:20:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657589349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Agrha Raggazo</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657589582</link>
         <description><![CDATA[<p>Agrha 11 Davinci </p><p><br></p><p>1) a)Penggunaan bahasa untuk menyebarkan hoaks atau perundungan siber dianggap mengkhianati Sumpah Pemuda karena bertentangan dengan semangat persatuan. Bahasa seharusnya digunakan untuk menyatukan dan menyebarkan kebenaran, bukan menimbulkan kebencian dan perpecahan di antara sesama bangsa Indonesia.</p><p>b)Sebagai murid SMA, saya dapat menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten positif berbahasa Indonesia, seperti kampanye anti-hoaks, pesan persatuan, dan ajakan berbuat baik. Dengan cara itu, bahasa Indonesia menjadi alat untuk membangun perubahan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat kebangsaan di era digital.</p><p><br></p><p>2)a) Masalah utamanya adalah defisit ide di tengah banyaknya informasi karena masyarakat hanya mengonsumsi tanpa berpikir kritis.</p><p><br></p><p>b) Pendekatan holistik dilakukan dengan melatih berpikir kritis, berdiskusi, berkolaborasi, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.</p><p><br></p><p>c) Literasi sejati adalah kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan menghasilkan ide untuk perubahan sosial.</p><p><br></p><p>3)a) Pencapaiannya ialah meningkatnya apresiasi terhadap bahasa Indonesia, pengakuan UNESCO, dan banyaknya kegiatan literasi seperti lomba dan festival sastra.</p><p><br></p><p>b) Kekurangannya yaitu minat baca dan literasi siswa masih rendah, serta perayaan Bulan Bahasa masih bersifat seremonia.</p><p><br></p><p>4.)a) Proyek “Sumpah Kita” berhasil mengubah perspektif Lina dan Bima karena mereka jadi menyadari bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah atau tugas sekolah, tetapi semangat untuk berkarya dan bersatu sebagai generasi muda.</p><p><br></p><p>b) Ide utama proyek “Sumpah Kita” adalah mengadakan festival budaya di sekolah untuk merayakan keberagaman, mempererat persatuan, serta menumbuhkan semangat Sumpah Pemuda di kalangan pelajar.</p><p><br></p><p>5)a) Mengkritik pemuda yang sibuk gadget hingga lupa berkarya dan berjuang.</p><p>b) Relevan karena remaja Regina Caeli sering teralihkan media sosial, bertentangan dengan 7 Kebiasaan Anak Hebat.</p><p><br></p><p>6) a) Jika saya hidup pada tahun 1928, saya akan ikut bergabung dalam organisasi pemuda untuk memperjuangkan persatuan dan menumbuhkan semangat nasionalisme agar Indonesia segera merdeka.</p><p><br></p><p>b) Nilai-nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan, semangat juang, dan cinta tanah air masih relevan di era sekarang karena dapat mendorong generasi muda untuk bekerja sama, berbuat positif, dan membangun bangsa dengan semangat yang sama seperti para pemuda 1928.</p><p><br></p><p>7.a) Literasi penting karena melatih berpikir kritis, memperluas pengetahuan, membentuk karakter, serta mencegah kita mudah termakan hoaks dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br></p><p>b) Jenis literasi yang perlu dikembangkan ialah literasi baca tulis, digital, numerasi, dan sains agar masyarakat bisa berpikir cerdas serta bijak dalam mengelola informasi.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>8.a) Celline mengalami kesulitan karena terlalu terbiasa memakai bahasa Inggris, sehingga gugup dan kurang percaya diri saat berbicara bahasa Indonesia atau daerah. Hal ini mencerminkan banyak anak muda sekarang yang lebih nyaman dengan bahasa asing daripada bahasa sendiri.</p><p><br></p><p>b) Pesan penulis ialah pentingnya menguasai bahasa asing tanpa melupakan bahasa Indonesia dan daerah. Melalui kisah Celline, Maharani, dan Ujang, penulis menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah identitas bangsa yang harus dijaga dan dibanggakan.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>9.a) Dalam puisi itu, bahasa Indonesia digambarkan sebagai alat pemersatu bangsa. Walau Indonesia beragam suku dan budaya, bahasa Indonesia membuat masyarakat saling memahami dan bersatu sebagai satu bangsa.</p><p><br></p><p>b) Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik di era modern, karena bahasa ini merupakan identitas sekaligus perekat bangsa di tengah globalisasi.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>10.a) Nilai yang diajarkan guru muda meliputi semangat belajar dan berjuang, kejujuran serta tanggung jawab, dan cinta tanah air untuk membangun bangsa.</p><p><br></p><p>b) Saya menerapkannya dengan belajar tekun, menggunakan teknologi secara positif, bersikap jujur dan mau bekerja sama, serta ikut kegiatan sosial demi kemajuan bangsa.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>11. Awalnya, gerakan pemuda berjalan sendiri-sendiri karena lebih mementingkan daerah masing-masing. Kongres Pemuda I menjadi langkah awal menyatukan mereka dalam semangat persatuan, dan pada Kongres Pemuda II kesadaran itu menguat hingga lahirlah Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan bangsa.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>12.a) Sumpah Pemuda mempererat persaudaraan karena mempersatukan bangsa dalam tekad yang sama, sambil menghargai perbedaan sebagai kekayaan dan didasari kasih sayang antar sesama.</p><p><br></p><p>b) Spiritualitas agama penting karena memberi dasar moral berupa cinta dan keadilan, yang menuntun generasi muda untuk menjaga persatuan dengan tulus dan berkomitmen pada nilai kemanusiaan. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:20:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657589582</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Novelia X Rousseau</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602097</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;Mam Ririn:</p><p>- a) Hoax &amp; perundungan siber khianati Sumpah Pemuda karena merusak persatuan &amp; komunikasi sehat.</p><p>- b) Strategi digital: konten edukatif, webinar literasi digital, aplikasi belajar bahasa.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>2.&nbsp;Mr. Jefri:</p><p>- a) Masalah: Akses info melimpah tak imbangi kemampuan olah &amp; analisis ide.</p><p>- b) Pendekatan holistik: Pendidikan kritis, kesadaran teknologi, ruang diskusi publik.</p><p>- c) Literasi sejati: Berpikir kritis, analisis, hasilkan ide &amp; perubahan sosial.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>3.&nbsp;Ms. Arnel:</p><p>- a) Pencapaian: Bahasa Indonesia diakui UNESCO, dipakai &gt;270 juta penutur, muncul generasi penulis.</p><p>- b) Kurang: Pemahaman identitas pemuda, integrasi teknologi, reformasi mendalam.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>4.&nbsp;Ms. Eva:</p><p>- a) Proyek "Sumpah Kita" ubah Lina &amp; Bima: Terlibat kegiatan bermanfaat &amp; bermakna.</p><p>- b) Ide utama: Festival budaya &amp; galang dana perbaiki perpustakaan desa.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>5.&nbsp;Mr. Manalu:</p><p>- a) Pantun kritik: Gadget alihkan perhatian dari semangat persatuan.</p><p>- b) Relevan: Remaja fokus gadget &gt; interaksi sosial. Kaitkan "Berpikir Menang-Menang" &amp; "Sinergi".</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>6.&nbsp;Ms. Vanesha:</p><p>- a) 1928: Aktif organisasi pemuda, sebarkan semangat persatuan lewat tulisan &amp; orasi.</p><p>- b) Korelasi: Nilai Sumpah Pemuda (persatuan, gotong royong, cinta tanah air) relevan bangun bangsa.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>7.&nbsp;Ms. Ika:</p><p>- a) Literasi penting: Akses, paham &amp; pakai info cerdas.</p><p>- b) Jenis literasi: Baca Tulis, Digital, Numerasi, Sains.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>8.&nbsp;a) Literasi penting asah berpikir kritis, tambah wawasan, bentuk karakter, cegah hoax.</p><p>b) Kembangkan literasi baca tulis, digital, numerasi, sains agar bijak olah info.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>9.&nbsp;a) Konflik Celline: Gugup Bahasa Indonesia karena biasa Inggris. Remaja agungkan bahasa asing.</p><p>b) Pesan: Kuasai asing, jangan lupakan Indonesia &amp; daerah. Bahasa Indonesia perekat bangsa.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>10.&nbsp;a) Nilai guru muda: Semangat belajar, tanggung jawab, cinta tanah air.</p><p>b) Terapkan: Tekun belajar, manfaatkan teknologi, jujur, andal, ikut kegiatan sosial.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>11.&nbsp;Awalnya: Gerakan pemuda sektoral.</p><p>Kongres Pemuda 1: Galang persatuan.</p><p>Kongres Pemuda 2: Hasilkan Sumpah Pemuda.</p><p> </p><p>&nbsp;</p><p> </p><p>12.&nbsp;a) Sumpah Pemuda eratkan persaudaraan, hargai keberagaman, didasari cinta kasih agama.</p><p>b) Spiritualitas agama beri moral kuat jaga persatuan, komitmen hati pada kemanusiaan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:26:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602097</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Literasi</title>
         <author>herlanditya1420</author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602214</link>
         <description><![CDATA[<p>1.</p><p>A. Karena bahasa Indonesia seharusnya di gunakan untuk mempersatukan, bukan untuk memecqh dengan cara merundung orang lain menggunakan bahaya yang seharusnya di gunakan lebih bijak, dahulu para pemuda bersatu untuk mempertahankan bahasa kita.</p><p><br/></p><p>B. Kita dapat menggunakan berbagai cara, salah satunya yaitu dengan membuat postingan yang menghimbau masyarakat untuk melestarikan bahasa Indonesia, serta bisa saja membuat edukasi mengenai latar belakang bahasa kita agar pemuda bisa lebih menghormati dan mengaggumi bahasa Indonesia, dan menghimbau masyarakat untuk mengurangi bahasa gaul atau bahasa campur.</p><p><br/></p><ol start="2"><li><p>A. Masalah utama yang terdapat di teks adalah kurang nya kemampuan untuk mengelola,menganalisi,membuat gagasan bermakna yang membuat banyak nya berita palsu yang tidak dapat di cerna dan tersebar sangat cepat yang membuat kerugian bagi masyarakat</p><p><br/></p><p>B. pendidikan kritis harus mengendepankan Kemampuan menilai sumber,menyusun argumen, dan mengintregrasikan perspektif</p><p><br/></p><p>C.kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan ide baru</p></li><li><p>Dapat menggantikan orde lama menjadi orde baru dimana pemerintahan tidak lagi selalu berkuasa melainkan menjadi negara yang berdasarkan masyarakat nya, serta menyatukan berbagai pemuda pemudi dari semua daerah Indonesia untuk bertemu.</p></li></ol><p><br/></p><p>B.bulan bahasa bukan hanya semerta merta untuk menggunakan dan melatih skill kita dalam berbahasa Indonesia melainkan, sebagai bentuk persatuan serta melestarikan budaya dan bahasa kita yaitu bahasa Indonesia</p><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Lima dan Bima melihat buku yang berisi sumpah pemuda dan mengambil pemahaman yaitu kitsa sebagai generasi muda juga bisa melakukan perubahan seperti para pemuda dulu yang bersatu untuk berbincang dan melakukan perubahan</p></li></ol><p><br/></p><p>B. Membuat festival bahasa di sekolah untuk merayakan keberagaman sekaligus menggelan dana untuk memperbaiki perpustakaan desa yang hampir runtuh</p><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Memberikan pengertian dimana gadget sudah mengambil alih budaya kita dan berbagai budaya luar masuk kedalam Indonesia dan membuat para generasi muda melupakan adat dan budaya nya sendiri</p></li></ol><p>B. ya, karena murid murid sudah mulai termakan oleh gadget dan melupakan tentang kebudayaan 7 kebiasaan Indonesia hebat dimana mereka mulai tidak makan sehat, tidur malam, bangun siang dll yang memberikan dampak postif dan mengurangi sifat disiplin mereka sebagai murid SMA Regina caeli</p><p><br/></p><ol start="6"><li><p>A. Jujur saja, jika saya hidup di zaman 1928 saya hampir tidak berkontribusi dalam merubah dan mempersatukan bangsa Indonesia ini karena saya merasa tidak mampu dalam melakukan hal yang sebesar itu.</p></li></ol><p><br/></p><p>B. Kita sebagai pemuda dan pemudi seharusnya bisa dan harus bersatu dalam kondisi susah karena persamaan latar belakang serta kita yang berasal dari bangsa Indonesiaseharusnya kita menolong sesama masyarakat sekitar</p><p><br/></p><ol start="7"><li><p>Agar informasi yang kita dapat bisa di pilah dan bisa dicerna yang membuat penyebaran dari hoaks atau berita bohong bisa di perlambat penyebarannya dan kita tidak dirugikan akibat bisa memilah informasi tersebut.</p></li></ol><p>B.baca tulis, digital, numerasi, sains</p><p><br/></p><ol start="8"><li><p>Bangsa Indonesia lebih memilih menggunakan bahasa luar yang dimana itu adalah pilihan kita tetapi kita seharusnya tidak terpaku oleh hal tersebut karena kita memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Indonesia, banyak dari anak bangsa banyak menggunakan bahasa luar tanpa mementingkan bahasa nya sendiri</p></li></ol><p>B. kita bisa memulai pelestarian bahasa dan budaya dimana saja tidak harus di tempat tempat umum, di rumah kita bisa menggunakan bahasa budaya agar keluarga tidak  melupakan adat dan bahasa kita</p><p><br/></p><ol start="9"><li><p>Dengan menggunakan bahasa Indonesia kita bisa memperkuat persatuan karena itulah asal dan bahasa asli kita dimana kita bangsa Indonesia bersatu untuk menggunakan bahasa Indonesia</p></li></ol><p>B. menggunakan bahasa Indonesiaitu penting bagi persatuan agar budaya dan adat kita tidak tertinggal oleh bahasa dan budaya adat luar lain.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:26:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602214</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Deva</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602350</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Karena hoax memecah belah kita. Hoax biasanya membuat konflik antar warga negara dan tentu hal tersebut gak sesuai dengan nilai sumpah pemuda. Serta hal ini ngebuat masyarakat jadi TDK percaya malas bersosial dll</p><p>B bisa di media sosial kita biar UMKM tuh jalan lebih baik lagi. Kita promosikan di medsos biar banyak orang ngeliat dan. Sekiranya tertarik membeli atau bahkan memberi dukungan.</p></li></ol><p><br/></p><p><br/></p><ol start="2"><li><p>A Defisit ide disebut juga sebagai kurang nya ide seseorang, padahal informasi tuh gampang banget di cari. Hal ini terjadi Krn kurang mya literasi, analisis dan pemikiran kritis rakyat Indonesia yang malas dan dangkal.</p><p>B kita harus bisa mengedepankan menilai informasi dari sumber sumber yg dipakai. Kedua memiliki kesadaran akan teknologi no kudet dan bisa menggunakan secara efektif. Ketiga membuat platform publik</p></li><li><p>A yang pasti harus nya dengan sumpah pemuda ngebuat masyarakat semakin paham akan nilai nasionalisme serta yang penting bagaimana mereka sadar akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai Bahasa kesatuan.</p><p>B bagaimana penerapan nya tuh kurang serta, lambat Laun nilai nasionalisme tuh ngilang </p></li><li><p>A Awalnya tuh mrk kyk skeptis yang kaya sumpah pemuda tuh ya hanya sejarah aja. Tapi setelah kerja kelompok itu prespektif mrk berubah. Mereka sadar bahwa sumpah pemuda tuh penting dan adalah semangat yang harus diteruskan </p><p>B Ide utama nya adalah untuk membuat sebuah festival budaya seperti karya karya yg nanti dana trsbt buat perbaiki perpus</p></li><li><p>A bagaimana sekarang main gadget tuh udah sebuah budaya dan sekarang kita didominasi teknologi dan media. Sehingga meninggalkan nilai nilai nasionalisme kita</p><p>B jadi walau gadget tuh bagus buat kita belajar cari informasi, namun kalau kita TDK ngegunain dengan benar ya sama aja itu TDK baik. Membuat kita fokus hp sehingga waktu untuk bersosialisasi kurang. Jadi mending ngelakuin hal lain seperti olahraga dr pada main hp hp juga bikin bbrp orang bergadang Krn ketagihan itu TDK baik.</p></li><li><p>Setidaknya bisa dengan saya mengemukakan pendapat saya saja. Serta sebaik mungkin dalam ngebantu pembentukan organisasi. Kalau misal saya ada kesempatan belajar ya belajar dengan sesungguhnya dan benar saat itu</p><p>B satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa </p></li><li><p>Biar kita dapat berpikir kritis, membangun karakter yg gemaar baca, wawasan luas yang tentu jadi pinter</p><p>B literasi baca tulis, digital, numerasi  my fav, sains</p></li><li><p>A Celline mengalami konflik internal dan eksternal. Internalnya adalah rasa gugup dan rendah diri saat diminta berbicara menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dan formal, meskipun ia sangat jago berbahasa Inggris. Nah sekarang tuh banyak yg memang jago inggris tapi pas ada kesempatan untuk berbahasa Indonesia malah dicampur campur sama bahasa inggris. Ya f kata mereka biar lebih gaul.</p><p>B jadi jago bahasa asing bagus tapi jangan sampai lupa dengan bahasa sendiri dan mengikuti kaidah berbahasa Indonesia yang benar</p></li><li><p>A dari cerito di bilang bahwa bahasa Indonesia adalah suatu jalur yang ngebuat kita ini bisa bersatu, padahal suku dan bahasa kita banyak tapi karena bahasa Indonesia kita jadi bisa berkomunikasi satu sama lain</p><p>B walau kita jago b asing jangan lupa tetap ingat bahasa Indonesia dan tetap menjadikan nya identitas asli. Serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar </p></li><li><p>A beretika luhur, berilmu tinggi, bertanggung jawab</p><p>B etika luhur dimana di medsos pun komen komen tuh yang baik.berilmu tinggi seperti buat video edukatif dan upload di medsos biar membantu yang lain. Bertanggung jawab mungkin bisa dengan ikut atau bahkan memimpin dalam kegiatan sosial jadi relawan gt</p></li><li><p>A Awalnya tuh bersifat kedaerahan. Namun dengan munculnya organisasi organisasi kedaerah</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:26:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602350</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban Thifaal X Rousseau</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602970</link>
         <description><![CDATA[<p>1.</p><p>a) “Satu Bahasa” bukan sekadar berbahasa Indonesia, tapi soal kualitas dan pemanfaatannya untuk melawan perpecahan dan radikalisme.</p><p>b) Gen-Z perlu mewaspadai ancaman persatuan seperti hoaks, ujaran kebencian, dan fanatisme di media sosial.</p><p>c) Strategi digital: gunakan media sosial untuk promosi UMKM, konten kreatif, pendidikan karakter, dan konten kebangsaan.</p><p><br/></p><p>2.</p><p>a) Konflik utama adalah defisit ide akibat rendahnya literasi dan kemampuan berpikir kritis.</p><p>b) Pendekatan holistik:</p><p>• Pendidikan kritis – kelola informasi, kurangi ketergantungan pada mesin pencari.</p><p>• Komunitas literasi – kolaborasi sekolah dan masyarakat mencipta solusi.</p><p>c) Literasi sejati: kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan mencipta ide baru.</p><p><br/></p><p>3.</p><p>a) Esensi Bulan Bahasa: meneguhkan cinta bahasa persatuan sebagai kekuatan bangsa di era digital.</p><p>b) Kekurangan: rendahnya literasi membaca.</p><p>Peningkatan: jadikan Bulan Bahasa bukti bahwa bahasa Indonesia bisa jadi aset, seni, dan teknologi bangsa.</p><p><br/></p><p>4.</p><p>a) Proyek “Sumpah Kita” membuat Lina dan Bima yang awalnya acuh menjadi bangga budaya dan semangat memajukan perpustakaan.</p><p>b) Ide utama: festival budaya dan pameran perpustakaan untuk mendekatkan sekolah–masyarakat dan meningkatkan minat baca.</p><p><br/></p><p>5.</p><p>a) Pantun mengkritik budaya gadget yang membuat semangat pemuda memudar.</p><p>b) Relevan bagi remaja SMA Regina Caeli karena ketergantungan pada gadget dapat menurunkan semangat persatuan.</p><p><br/></p><p>6.</p><p>a) Jika hidup tahun 1928, saya akan bergabung organisasi pemuda dan ikut kongres menyatukan bangsa.</p><p>b) Nilai “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa” penting untuk menjaga persatuan dan melawan hoaks di era digital.</p><p><br/></p><p>7.</p><p>a) Literasi penting untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan membangun karakter.</p><p>b) Jenis literasi perlu dikembangkan agar masyarakat kritis dan tak mudah percaya hoaks.</p><p>c) Jenis literasi:</p><p>• Baca tulis</p><p>• Digital</p><p>• Numerasi</p><p>• Sains</p><p><br/></p><p>8.</p><p>a) Celline cemas berbahasa Inggris karena takut salah, mencerminkan kurangnya percaya diri anak muda.</p><p>b) Pesan: beranilah berbicara bahasa asing, karena kesalahan bagian dari belajar.</p><p><br/></p><p>9.</p><p>a) Bahasa Indonesia mempersatukan hati di tengah keragaman bangsa.</p><p>b) Pesan: jaga bahasa persatuan karena menjadi jembatan membangun bangsa di era modern.</p><p><br/></p><p>10.</p><p>a) Nilai guru muda: beretika luhur, berilmu tinggi, dan bertanggung jawab.</p><p>b) Inovasi guru: menjadi teladan, mendidik generasi harapan, dan menanamkan cita-cita Indonesia Emas.</p><p><br/></p><p>11.</p><p>a) Gerakan pemuda dulu bersifat kedaerahan karena berdasarkan asal suku masing-masing.</p><p>b) Kongres Pemuda I penting karena awal kesadaran persatuan nasional.</p><p>c) Kongres Pemuda II (1928) melahirkan Sumpah Pemuda berisi tiga ikrar persatuan.</p><p><br/></p><p>12.</p><p>a) Nilai Sumpah Pemuda memperkuat persaudaraan antaragama dan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan bangsa.</p><p>b) Semangat spiritualitas agama penting untuk membangun integritas moral dan menjaga persatuan bangsa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:26:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657602970</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anessa X Rousseau</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603216</link>
         <description><![CDATA[<p>Mam ririn</p><ol><li><p> Menyebarkan hoax dan ujaran kebencian (cyberbullying) justru memecah belah dan meruntuhkan peradaban.Tindakan ini menciptakan polarisasi,merusak fondasi persatuan,toleransi,dan gotong royong, yang merupakan nilai kebangsaan utama.</p><p>Dengan kata lain,menyebarkan hoaks atau melakukan perundungan siber adalah bentuk penyalahgunaan bahasa Indonesia yang bertentangan dengan nilai persatuan,kebenaran,dan keadaban yang dijunjung tinggi oleh para pemuda tahun 1928.</p></li><li><p><br></p></li></ol><ul><li><p>Membuat konten positif dan edukatif.<br>Gunakan media sosial (TikTok, Instagram, YouTube,dll) Untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, seperti edukasi budaya, sejarah,literasi digital, dan semangat nasionalisme dalam bahasa Indonesia yang baik dan menarik.</p></li><li><p>Menjaga etika berbahasa di dunia maya.<br>Hindari ujaran kebencian,hoaks,dan perundungan.Biasakan untuk menyampaikan pendapat dengan santun dan logis,meski berbeda pandangan.</p></li></ul><p><br></p><p>Mr.Jefri</p><ol><li><p>Inti masalah: Meskipun akses informasi melimpah,hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola, menganalisis, dan menghasilkan gagasan bermakna (defisit ide).</p></li><li><p>Pendidikan Kritis:</p><p>Pendekatan ini harus mengedepankan kemampuan menilai sumber,menyusun argumen,dan mengintegrasikan perspektif yang beragam.</p><p>Kesadaran Teknologi:</p><p>Ini melibatkan pemahaman mendalam tentang dampak algoritma media sosial,mendorong konsumsi sumber informasi yang beragam,dan menghindari platform yang tidak produktif atau hanya menyajikan konten banal/sensasional.</p></li><li><p>Menurut teks,literasi sejati adalah lebih dari sekadar kemampuan membaca dan menulis,melainkan:</p><ul><li><p>Kemampuan berpikir kritis</p></li><li><p>Menganalisis informasi,dan</p></li><li><p>Menghasilkan ide baru (atau ide solutif).</p></li></ul></li></ol><p><br></p><p>Ms.Arnel </p><p>1.</p><ul><li><p>Peningkatan Partisipasi Nasional: Lebih dari 10.000 sekolah dan universitas menggelar kegiatan Bulan Bahasa, melibatkan jutaan peserta, yang menunjukkan perkembangan menjadi gerakan nasional.</p></li><li><p>Pengembangan Sastra: Kegiatan seperti lomba puisi telah menghasilkan ribuan karya sastra baru, dan sastra Indonesia modern terus berkembang (dari Chairil Anwar hingga Leila S. Chudori).</p></li><li><p>Pengakuan Global: Bahasa Indonesia kini diakui sebagai salah satu bahasa resmi di UNESCO dan digunakan oleh lebih dari 270 juta penutur, termasuk di luar negeri.</p></li><li><p>Mencetak Generasi Bangga: Bulan Bahasa berhasil mencetak generasi penutur dan pencipta yang bangga terhadap bahasa dan sastra Indonesia.</p></li><li><p>Menjaga Warisan Nasional: Menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda melalui ribuan kegiatan kreatif.</p></li></ul><p>2.</p><ul><li><p>Pemahaman Identitas yang Rendah: Hanya 12% siswa SMA yang membaca sastra Indonesia di luar kurikulum, menunjukkan rendahnya kedalaman pemuda memahami identitasnya sendiri.</p></li><li><p>Erosi Bahasa di Ranah Digital: Bahasa Indonesia tergerus oleh bahasa gaul campuran (Indonesia-Inggris-slang digital),dan emoji di media sosial,di mana singkatan menggantikan kalimat lengkap.</p></li><li><p>Kurangnya Integrasi Teknologi: Perayaan Bulan Bahasa masih gagal mengintegrasikan teknologi secara mendalam untuk memperkuat bahasa persatuan di era digital.</p></li><li><p>Rendahnya Literasi Nasional: Kegiatan masih gagal menembus akar masalah rendahnya indeks membaca Indonesia(0,001 buku per kapita per tahun menurut UNESCO), yang mengindikasikan bahwa kegiatan hanya "mengukir asa" di permukaan tanpa menyelesaikan masalah literasi kritis.</p></li></ul><p> </p><p>Ms.Eva</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603216</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Laura Larasati X GG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603455</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>1.Mam Ririn =&gt; Artikel: "Permaknaan dan Penerapan Nilai-Nilai Sumpah Pemuda di Era Milenial dan Gen-Z"</p><p>a) Dalam artikel tersebut, penulis menjelaskan bahwa makna “Satu Bahasa” tidak hanya sebatas menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga mencerminkan kualitas komunikasi yang beradab, santun, dan bertanggung jawab. Ketika seseorang menggunakan bahasa untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau melakukan perundungan siber (cyberbullying), tindakan itu dianggap sebagai pengkhianatan terhadap semangat Sumpah Pemuda, karena bahasa yang seharusnya menjadi alat pemersatu justru digunakan untuk memecah belah dan menebar kebencian. Hal itu bertentangan dengan nilai moral dan sosial yang terkandung dalam Sumpah Pemuda, yang bertujuan menciptakan persatuan dan keharmonisan bangsa.</p><p><br/></p><p>b) Strategi digital yang bisa dilakukan sebagai murid SMA untuk menjadikan bahasa persatuan sebagai “alat membangun peradaban” antara lain:</p><p>• Menggunakan media sosial secara positif – membagikan konten edukatif, inspiratif, dan berbahasa santun yang memperkuat rasa nasionalisme.</p><p>• Menjadi duta literasi digital – ikut kampanye anti-hoaks dan menyebarkan informasi yang benar dengan bahasa yang mudah dipahami.</p><p> • Berpartisipasi dalam forum atau komunitas online yang mengedepankan diskusi sehat dan toleransi antarbudaya.</p><p>• Menciptakan karya digital (artikel, video, podcast) yang menonjolkan keindahan dan nilai-nilai bahasa Indonesia sebagai sarana ekspresi kreatif anak muda. </p><p>• Menjaga etika berkomunikasi di dunia</p><p>maya, dengan menggunakan bahasa yang sopan, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak menggunakan kata-kata kasar. </p><p>Dengan langkah-langkah tersebut, bahasa Indonesia bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk membangun karakter, solidaritas, dan peradaban digital yang beradab.</p><p><br/></p><p>2.Mr Jefri =&gt; Ikhtiar Menghidupkan Budaya Literasi di Tengah Defisit Ide</p><p>a) Meskipun masyarakat saat ini hidup di era digital yang penuh data dan akses informasi sangat mudah, banyak orang justru mengalami kekurangan dalam kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif untuk menghasilkan gagasan yang bermakna. Akibatnya, budaya literasi menjadi dangkal dan tidak berkontribusi pada kemajuan intelektual maupun sosial.</p><p>b) Untuk mengatasi defisit ide, ada pendekatan holistik, yang meliputi tiga hal:</p><p>• Menguatkan kemampuan berpikir kritis di sekolah.</p><p><br/></p><p>Sekolah harus menjadi ruang yang mendorong siswa berdiskusi, berdebat, dan berargumentasi dengan perspektif yang beragam. Hal ini akan menumbuhkan kemampuan berpikir analitis dan kreatif.</p><p><br/></p><p>• Mengembangkan budaya literasi yang berorientasi pada pemecahan masalah.</p><p><br/></p><p>Literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk mengidentifikasi masalah sosial di sekitar, mengolah data, dan menciptakan solusi nyata yang berdampak.</p><p><br/></p><p>• Mengoptimalkan peran teknologi digital secara produktif.</p><p><br/></p><p>Teknologi seharusnya digunakan untuk memperluas pengetahuan dan membangun ruang publik yang sehat, bukan sekadar konsumsi informasi dangkal di media sosial</p><p>c) Literasi sejati bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan gagasan atau karya yang membawa perubahan sosial positif. Literasi sejati berarti membaca dunia, bukan hanya teks, serta menggunakan pemahaman untuk menciptakan solusi dan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603455</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aurellia 12 Socrates </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603550</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mam Ririn </p><p><br/></p><p>A) Penggunaan bahasa untuk menyebarkan hoax atau perundungan siber dianggap sebagai penghianatan terhadap sumpah pemuda karena bertentangan dengan semangat persatuan dan tanggung jawab moral yang terkandung dalam ikrar tersebut dan penyalahgunaan bahasa di era digital ini mencederai nilai-nilai luhur sumpah pemuda yang dimana bukan sebagai wadah untuk mempererat justru memecah belah dan menebar kebencian </p><p><br/></p><p>B) Strategi digital yang mungkin bisa saya lakukan sebagai murid SMA adalah membuat konten yang berisikan edukasi dengan menarik dan membuat poster digital.</p><p><br/></p><p>6. Ms Vanesha</p><p><br/></p><p>A) jika saya hidup di tahun 1928, saya akan mengajak para pemuda untuk berjuang dalam persatuan bangsa, menumbuhkan semangat kebangsaan, mendukung segala bentuk organisasi pemuda dan menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.</p><p>B) Satu nusa : semangat menjaga keutuhan negara dari berbagai ancaman konflik sosial dan intoleransi.</p><p><br/></p><p>7. Ms Ika</p><p>A) Literasi penting karena melatih diri kita untuk mampu berpikir kritis, membuka lebih luas wawasan kita, membangun karakter yang lebih baik dalam diri kita, dan Sebagai acuan kita untuk meningkatkan keahlian kita yang akan membawa pada pencapaian prestasi.</p><p>B) Jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan adalah literasi membaca dan digital karena masyarakat di era sekarang banyak yang tidak minat dalam membaca sebab sudah terpengaruh dengan teknolog serta dengan membaca dapat meningkatkan kemampuan kita untuk lebih kreatif juga berpikir lebih kritis, literasi digital juga tak kalah penting agar masyarakat tidak menyalahgunakan media sosial untuk wadah menebar kebencian dan melakukan perundungan siber.</p><p><br/></p><p>11. Ms Sifra</p><p>A) Karena pada saat itu para pemuda berasal dari daerah yang berbeda, belum adanya kesadaran nasional, keterbatasan komunikasi, dan fokus perjuangan mereka yang masih bersifat lokal atau kedaerahan.</p><p>B) Kongres pemuda 1 sangat penting sebagai langkah awal karena di kongres pertama ini berhasil membahas tentang betapa pentingnya pers</p><p>atuan nasional</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603550</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Flafiana Cattleya Putri Yuma 12 Aristotle.</title>
         <author>flafianac</author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603626</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mam Ririn.<br> a). Penyebaran hoax atau perundungan siber dianggap pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda karena dalam teks penulks menyebutkan bahwa "Satu Bangsa" bukan hanya soal berbahasa melainkan juga komunikasi. Jadi penyebaran hoax termasuk rusaknya komunikasi yang baik, karena bisa memecah belah perdamaian dan munculnya konflik.<br> b).<br> <br><br>9. Ms. Helda.<br> a). <br> <br><br>10. Ms. Herlan.<br> a). 1. Pantang Menyerah.<br> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 2. Bertanggung Jawab.<br> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 3. Tekad yang besar untuk membangun&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; bangsa.<br> b). Mengembangkan pendidikan dengan cara kreatif dan jujur, menjaga semangat belajar, serta menjadi teladan dalam berbuat baik agar bisa mewujudkan cita-cita.<br><br> <br><br>11. Ms. Sifra<br> a). Gerakan pemuda pada awalnya bersifat kedaerahan dan terkotak-kotak karena mereka berjuang berdasarkan asal daerah dan suku masing-masing, belum ada kesadaran nasional yang kuat.<br> b). Langkah awal Kongres Pemuda I penting karena menjadi wadah pertama para pemuda untuk berdiskusi dan mulai menyadari pentingnya persatuan nasional.<br> c). Kongres Pemuda II menjadi puncak dari proses panjang perjuangan pemuda yang dimulai sejak Kongres Pemuda I, dan menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan bangsa <br><br>12. Mr. Cello.<br> a). Nilai-nilai Sumpah Pemuda memperkuat persaudaraan antarumat beragama karena cinta kasih, persatuan, dan rasa syukur kepada Tuhan tanpa memandang latar belakang.<br> b). Penting bagi generasi muda menumbuhkan semangat spiritualitas agama agar dapat menjaga persatuan bangsa dengan dasar kasih, perdamaian, dan keadilan.<br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603626</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Paramitha Adrisa X Galileo Galilei</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603697</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>a) Penggunaan bahasa Indonesia untuk hoaks atau perundungan siber menunjukkan penyimpangan dari nilai “satu bahasa” karena seharusnya digunakan untuk memperkuat persatuan, bukan menebar kebencian.</p><p>b) Siswa dapat membuat konten positif di media sosial yang menonjolkan toleransi, kerja sama, dan cinta tanah air agar bahasa menjadi alat membangun peradaban digital yang sehat.</p></li><li><p>a) Kurangnya kreativitas dan kebiasaan membaca yang menyebabkan kemiskinan ide.</p><p>b) Pendekatan holistik: menggabungkan pendidikan, lingkungan keluarga, dan komunitas membaca untuk menumbuhkan budaya literasi.</p><p>c) Literasi sejati adalah kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi secara kritis untuk mencipta ide baru.</p></li><li><p>a) Pencapaian selama ini dalam perayaan bulan bahasa adalah meningkatkan kesadaran pelajar untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kegiatan akademik maupun digital.</p><p>b) Penerapan konsisten dalam media sosial dan lingkungan sehari-hari masih lemah.</p></li><li><p>a) Proyek “Sumpah Kita” membuat Lina dan Bima menyadari bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, tetapi semangat nyata untuk bekerja sama dan menjaga persatuan. Awalnya mereka menganggap tugas itu membosankan, namun setelah terlibat langsung, mereka belajar arti kolaborasi, gotong royong, dan rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. </p><p>b) Ide utama proyek “Sumpah Kita” adalah mengadakan festival budaya di sekolah untuk merayakan keberagaman suku, bahasa, dan seni sebagai wujud nyata semangat persatuan dalam perbedaan.</p></li><li><p>a) Pantun ini menyoroti bahwa terlalu sering menggunakan gadget dan media sosial bisa membuat pemuda melupakan semangat perjuangan dan nilai persatuan. Budaya digital yang berlebihan menyebabkan banyak remaja lebih sibuk dengan dunia maya daripada berkontribusi nyata bagi lingkungannya.</p><p>b) Kritik ini sangat relevan, karena banyak siswa sekarang lebih aktif di media sosial daripada melakukan kegiatan positif. Hal ini berlawanan dengan kebiasaan anak Indonesia hebat. Oleh karena itu, remaja perlu lebih bijak menggunakan teknologi agar tetap semangat dan produktif seperti pemuda zaman dahulu.</p></li><li><p>a) Jika saya hidup pada tahun 1928, saya ingin ikut bergabung dengan para pemuda untuk menyatukan bangsa melalui kegiatan seni dan kebudayaan.</p><p>b) Nilai-nilai seperti persatuan, cinta tanah air, dan penghargaan terhadap perbedaan masih sangat relevan untuk menjaga keharmonisan bangsa saat ini.</p></li><li><p>a) Literasi dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari karena membuat seseorang mampu berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan mengambil keputusan yang tepat.</p><p>b) Jenis-jenis literasi: literasi digital, literasi sains, literasi finansial, literasi budaya, dan literasi media.</p></li><li><p>a) Konflik yang dialami Celline adalah rasa minder memakai bahasa Indonesia dan terlalu fokus pada bahasa Inggris. Konflik ini mencerminkan masalah umum anak muda sekarang yang lebih bangga memakai bahasa asing.</p><p>b) Pesan yang ingin disampaikan adalah agar kita tetap bangga dan percaya diri menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, karena itu bagian dari identitas bangsa.</p></li><li><p>a) </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657603697</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dayana</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604015</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Mam Ririn</strong></p><p><strong>a.</strong> Menyebarkan hoaks atau melakukan perundungan siber adalah bentuk penyalahgunaan bahasa yang memecah persatuan. Itu bertentangan dengan semangat “Satu Bahasa” yang seharusnya digunakan untuk membangun komunikasi positif dan mempererat bangsa.</p><p><strong>b.</strong> Sebagai murid SMA, strategi digitalnya bisa berupa membuat konten edukatif berbahasa Indonesia yang sopan, menolak ujaran kebencian, serta aktif menyebarkan informasi benar dan inspiratif di media sosial.</p><p><br/></p><p><strong>2. Mr. Jefri</strong></p><p><strong>a.</strong> Masalah utama: rendahnya budaya literasi dan kurangnya kemampuan berpikir kritis di kalangan siswa.</p><p><strong>b.</strong> Pendekatan holistik mencakup membaca, menulis, berdiskusi, dan berpikir reflektif secara seimbang agar ide-ide baru muncul.</p><p><strong>c.</strong> Literasi sejati adalah kemampuan memahami, menilai, dan menerapkan informasi untuk membentuk pemikiran kritis dan solusi nyata.</p><p><br/></p><p><strong>3. Ms. Amel</strong></p><p><strong>a.</strong> Pencapaian: meningkatnya kegiatan lomba literasi, apresiasi karya sastra, dan semangat cinta bahasa Indonesia.</p><p><strong>b.</strong> Yang masih kurang: pemaknaan mendalam terhadap nilai bahasa; perlu peningkatan partisipasi siswa dalam karya tulis dan sastra.</p><p><br/></p><p><strong>4. Ms. Eva</strong></p><p><strong>a.</strong> Proyek itu membuka mata Lina dan Bima bahwa persatuan dan kerja sama penting untuk mencapai tujuan bersama.</p><p><strong>b.</strong> Ide utama proyek “Sumpah Kita” adalah menanamkan semangat persatuan lewat aksi nyata dan kolaborasi antar siswa.</p><p><br/></p><p><strong>5. Mr. Manalu</strong></p><p><strong>a.</strong> Pantun mengkritik pemuda yang terlalu sibuk dengan gawai sehingga lupa semangat perjuangan dan kepedulian sosial.</p><p><strong>b.</strong> Kritik ini relevan karena remaja sekarang sering teralihkan oleh gadget; sesuai dengan “7 Kebiasaan Anak Hebat” seperti <em>proaktif</em> dan <em>utamakan yang utama</em> untuk mengatur waktu dengan bijak.</p><p><br/></p><p><strong>6. Ms. Vanesha</strong></p><p><strong>a.</strong> Jika hidup tahun 1928, saya akan aktif berorganisasi, menyebarkan semangat persatuan lewat tulisan dan diskusi.</p><p><strong>b.</strong> Nilai Sumpah Pemuda, seperti persatuan dan cinta tanah air, masih relevan untuk menjaga kerukunan di tengah perbedaan masa kini.</p><p><br/></p><p><strong>7. Ms. Ika</strong></p><p><strong>a.</strong> Literasi penting agar seseorang mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan membuat keputusan tepat dalam hidup sehari-hari.</p><p><strong>b.</strong> Jenis literasi: literasi baca-tulis, digital, finansial, sains, dan budaya — semua mendukung pola pikir cerdas dan kritis.</p><p><br/></p><p><strong>8. Ms. Tere</strong></p><p><strong>a.</strong> Konflik Celline adalah kurang percaya diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik; hal ini umum di kalangan remaja karena pengaruh bahasa gaul dan asing.</p><p><strong>b.</strong> Pesan utama: pentingnya mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga di semua situasi.</p><p><br/></p><p><strong>9. Ms. Helda</strong></p><p><strong>a.</strong> Bahasa Indonesia menjadi jembatan komunikasi antar suku dan budaya, memperkuat identitas nasional.</p><p><strong>b.</strong> Pesan: kita harus menjaga dan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar agar tetap menjadi lambang persatuan bangsa.</p><p><br/></p><p><strong>10. Ms. Herlan</strong></p><p><strong>a.</strong> Nilai yang ditanamkan: semangat, tanggung jawab, dan cinta tanah air.</p><p><strong>b.</strong> Langkah inovatif: aktif dalam kegiatan sosial, menjadi pelajar teladan, dan membuat karya yang bermanfaat bagi masyarakat.</p><p><br/></p><p><strong>11. Ms. Sifra</strong></p><p><strong>a.</strong> Gerakan awal bersifat kedaerahan karena kurangnya komunikasi dan rasa nasionalisme antar daerah.</p><p><strong>b.</strong> Kongres Pemuda I penting karena menjadi titik awal kesadaran nasional dan kerja sama antar organisasi pemuda.</p><p><strong>c.</strong> Kongres Pemuda II menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda sebagai puncak kesadaran persatuan bangsa Indonesia.</p><p><br/></p><p><strong>12. Mr. Cello</strong></p><p><strong>a.</strong> Nilai Sumpah Pemuda memperkuat persaudaraan antarumat beragama karena menekankan kesetaraan dan saling menghargai.</p><p><strong>b.</strong> Spiritualitas penting agar generasi muda memiliki moral, empati, dan rasa tanggung jawab untuk menjaga keutuhan bangsa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604015</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604407</link>
         <description><![CDATA[<p>1. a) Penggunaan bahasa untuk menyebarkan hoaks atau melakukan perundungan siber dianggap mengingkari Sumpah Pemuda karena bertentangan dengan semangat “Satu Bahasa, Bahasa Indonesia” yang seharusnya digunakan untuk menyatukan bangsa, bukan menebar kebencian dan perpecahan.</p><p><br/></p><p>b) Strategi digital yang bisa dilakukan yaitu menggunakan bahasa Indonesia yang santun di media sosial, membuat konten positif tentang bahasa persatuan, serta menolak hoaks agar bahasa Indonesia menjadi alat membangun peradaban.</p><p><br/></p><ol start="2"><li><p>a) Masalah utama yang diangkat penulis adalah defisit ide di tengah banjir informasi digital, di mana banyak orang hanya menjadi konsumen informasi tanpa berpikir kritis.</p></li></ol><p>b) Pendekatan holistik meliputi:</p><p>1. Berpikir kritis dan analitis untuk menilai dan memecahkan masalah nyata.</p><p>2. Memahami teknologi dan algoritma agar mampu berkarya, bukan hanya memakai.</p><p>3. Menguatkan kolaborasi dan dialog sosial agar literasi menjadi sarana membangun peradaban.</p><p>c) Literasi sejati adalah kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan ide bermakna, bukan sekadar bisa membaca dan menulis.</p><p><br/></p><ol start="3"><li><p>a) Pencapaian Bulan Bahasa antara lain pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di UNESCO, peningkatan jumlah penutur, serta terselenggaranya berbagai lomba dan kegiatan literasi di sekolah maupun lembaga pendidikan.</p></li></ol><p>b) Yang masih kurang adalah kedalaman pemahaman makna Bulan Bahasa. Banyak pelajar belum benar-benar mencintai dan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, masih sering mencampur bahasa asing, dan rendahnya minat baca serta literasi digital.</p><p><br/></p><ol start="4"><li><p>a) Apakah proyek “Sumpah Kita” berhasil mengubah perspektif Lina dan Bima pada cerita tersebut?</p><p>Ya, berhasil. Awalnya Lina dan Bima kurang antusias dan menganggap proyek itu hanya tugas biasa, tetapi setelah ikut melaksanakan festival budaya, mereka menyadari makna kebersamaan dan semangat Sumpah Pemuda yang sesungguhnya.</p></li></ol><p>b) Apa ide utama proyek “Sumpah Kita” yang dibuat oleh Raka dan kelompoknya?</p><p>Ide utamanya adalah mengadakan festival budaya di sekolah untuk memperingati Sumpah Pemuda dan menumbuhkan rasa persatuan dalam keberagaman di kalangan siswa.</p><p><br/></p><ol start="5"><li><p>a) Bagaimana pantun ini mengkritik pengaruh “gadget dan media” sebagai budaya baru yang membuat semangat pemuda memudar?</p><p>Pantun ini mengkritik bahwa penggunaan gadget dan media berlebihan membuat semangat persatuan dan perjuangan pemuda menurun, karena mereka lebih sibuk dengan dunia digital daripada berkarya nyata.</p></li></ol><p>b) Menurut Anda, apakah kritik ini relevan dengan kehidupan remaja SMA Regina Caeli saat ini, dan mengapa?</p><p>Ya, sangat relevan. Banyak remaja kini terlalu fokus pada gadget dan media sosial, sehingga kurang aktif dalam kegiatan positif dan kebersamaan yang menumbuhkan semangat Sumpah Pemuda.</p><p><br/></p><ol start="6"><li><p>​a. Tindakan yang akan Anda lakukan untuk memperjuangkan persatuan bangsa? </p><p>Tindakan yang dapat dilakukan adalah menjaga semangat persatuan, moral, dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, serta ikut turun tangan dalam mengurai dan menyelesaikan masalah bangsa sesuai kapasitas masing-masing.​</p><p>b. Bagaimana korelasi antara nilai-nilai yang tertuang dalam ikrar sumpah pemuda dengan kehidupan berbangsa di era sekarang?</p><p>Korelasinya adalah Sumpah Pemuda (yaitu Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa) merupakan tonggak utama yang menjadi kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Semangat ini harus diterjemahkan menjadi tekad bersama untuk membangun bangsa yang kokoh, berdaulat, dan maju, yang relevan hingga saat ini.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="7"><li><p>a. Mengapa penguasaan literasi dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari?</p><p>Penguasaan literasi dianggap penting karena dapat membantu seseorang:</p><p>Berpikir <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://kritis.MM">kritis.</a></p><p>Membuka wawasan.​</p><p>​Meningkatkan prestasi.</p><p>​Mengatasi risiko percaya hoaks (karena rendahnya literasi menyebabkan tingginya risiko percaya hoaks).</p><p>b. Sebutkan jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan oleh masyarakat agar tercipta budaya literasi yang sempurna. </p><p>Jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan adalah:​</p><p>Literasi baca tulis</p><p>​Literasi digital</p><p>​Literasi numerasi</p><p>Literasi sains</p></li><li><p>​a. Jelaskan konflik yang dialami Celline. Bagaimana konflik tersebut mencerminkan masalah umum penguasaan bahasa?Konflik yang dialami Celline adalah ia lancar berbicara Bahasa Inggris ("Jago Ngomong Bahasa Inggris") tetapi gugup dan kesulitan saat harus berbicara formal dalam Bahasa Indonesia di depan umum. Konflik ini mencerminkan masalah umum di mana sebagian generasi muda lebih mengutamakan penguasaan bahasa asing (seperti Inggris) dan mengabaikan kemahiran serta kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ibu.</p><p>​b. Apa pesan utama penulis yang disampaikan melalui interaksi antara Celline, Maharani, dan Ujang di akhir cerita?Pesan utamanya adalah pentingnya keseimbangan dan kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.​Maharani dan Ujang mengingatkan Celline bahwa Indonesia punya kekuatan dan budaya hebat yang perlu dijaga, dan Bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa yang harus dijunjung tinggi.</p><p>​Interaksi ini menekankan bahwa meskipun menguasai bahasa asing itu penting (seperti yang ditunjukkan oleh Celline), kita tidak boleh melupakan atau malu menggunakan Bahasa Indonesia yang merupakan cerminan dan akar dari identitas nasional kita.</p></li><li><p>a. Dalam bait manakah penulis menyampaikan peran Bahasa Indonesia dalam memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman suku dan budaya yang digambarkan?Peran Bahasa Indonesia dalam memperkuat persatuan disampaikan dalam bait pertama dan bait kedua.</p><p>​Bait Pertama: "Berjuta suku, budaya, dan jati diri / Namun satu Bahasa mempersatukan hati."​Bait Kedua: "Bangsa yang kaya akan segalanya ini / Bahasa, budaya, maupun flora dan fauna / Semuanya patut kita banggakan / Karena kami satu kesatuan Indonesia."​b. Berikan pesan yang ingin Anda sampaikan tentang pentingnya menjaga bahasa persatuan di era modern?</p><p>Pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa di era modern yang penuh pengaruh global, Bahasa Indonesia harus tetap dijunjung tinggi sebagai akar dan jati diri bangsa. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan langkah nyata dalam membangun bangsa dan menjaga kebersatuan hati di tengah keberagaman suku, budaya, dan bahasa asing.</p></li><li><p>a) Nilai-nilai utama apa yang ingin diwariskan guru muda kepada generasi penerus, pada puisi berjudul "Nyala Jiwa Pelita Bangsa"?Nilai-nilai utama yang ingin diwariskan adalah:​</p><p>Beretika luhur</p><p>​Berilmu tinggi</p><p>​Bertanggung jawab</p><p>​Semangat pemuda</p><p>​Teguh menabur benih (berjuang dengan konsisten)</p><p>​b) Bagaimanakah cara guru muda dalam mengimplementasikan ketiga nilai tersebut dengan tujuan membangun bangsa yang lebih baik, sebagai generasi penerus?Guru muda mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dengan cara:​Mendidik generasi penerus yang penuh harapan.​Membangun bangsa dan menjaga nurani agar tetap bersih.</p><p>Berjuang ("teguh menabur benih") demi mewujudkan Impian Indonesia Emas.</p></li><li><p>a) Mengapa gerakan-gerakan pemuda pada awalnya bersifat kedaerahan dan terkotak-kotak?Gerakan pemuda pada awalnya bersifat kedaerahan dan terkotak-kotak berdasarkan asal daerah atau suku mereka, meskipun semangat perjuangan sudah mulai muncul.​b) Meskipun dianggap "belum signifikan", Kongres Pemuda I berhasil membicarakan pentingnya persatuan nasional. Mengapa pembicaraan langkah awal ini dalam proses menuju lahirnya Sumpah Pemuda dua tahun kemudian?Pembicaraan mengenai pentingnya persatuan nasional di Kongres Pemuda I menjadi langkah awal karena membuka kesadaran dan mempertemukan berbagai kelompok pemuda, sehingga meletakkan dasar/fondasi persatuan yang kemudian diperkuat dan diikrarkan dua tahun kemudian.​c) Nilai apa yang menjadi akibat dari penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 dengan lahirnya Ikrar Sumpah Pemuda?Nilai yang menjadi akibat dari Kongres Pemuda II adalah:​Berkumpulnya para pemuda dari berbagai latar belakang dengan semangat yang sama.​Memposisikan diri untuk Indonesia merdeka.</p><p>​Lahirnya Ikrar Sumpah Pemuda yang berisi tiga poin penting (Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa).</p></li><li><p>​a) Bagaimana nilai-nilai Sumpah Pemuda dapat memperkuat rasa persaudaraan antarumat beragama menurut esai tersebut?</p><p>Nilai-nilai Sumpah Pemuda (Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa) dapat memperkuat persaudaraan antarumat beragama karena Sumpah Pemuda mengajarkan:​Cinta kasih, persaudaraan, dan kesatuan umat manusia (nilai spiritualitas agama yang dijiwai).</p><p>​Makna bahwa perbedaan etnis atau agama bukan penghalang, melainkan sebagai sumber kekayaan yang disatukan dalam satu cita-cita.​b) Mengapa penting bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat spiritualitas agama dalam menjaga persatuan bangsa?</p><p>Penting, karena persatuan yang lahir dari Sumpah Pemuda bukan hanya sekadar hasil dari nasionalisme politik, tetapi juga merupakan pengamalan tentang nilai ketuhanan yang beragama. Spiritualitas ini menjadi wujud rasa syukur, sehingga generasi muda tidak hanya bersatu untuk melawan penjajah, tetapi juga menegakkan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup merdeka dan bermartabat.</p></li></ol><p><br/></p><p>Anna Immanuel</p><p>10 GG</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604407</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Chelsea XII Aristotle </title>
         <author>chelseaemanuela08</author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604463</link>
         <description><![CDATA[<p>Mam Ririn :<br> a. karena tidak digunakan untuk menyebarkan hoax ataupun digunakan untuk perunduk siber. Namun, Penggunaan bahasa dalam teks "Satu Bahasa" digunakan untuk aktif untuk melawan hoax, merayakan keberagaman budaya orang lain dan berani menolak untuk membenci saudara sebangsa. <br> b. strategi yang dapat dilakukan olah murid SMA adalah : tidak menyebarkan hoax dimedia sosial, saat menggunakan media sosial harus memakai bahasa yang sopan dan tidak menyinggung orang lain, dan menciptakan konten yang mendidik tanpa menyinggung orang lain.  <br><br>Mr Jefri : <br> a. Banyaknya orang terjebak dalam konsumsi informasi tanpa refleksi kritis, menghasilkan pemikiran dangkal dan pemahaman terfragmentasi Ruang digital didominasi konten banal, sensasional, atau palsu, ditambah ketergantungan pada mesin pencari dan algoritma media sosial yang mempersempit pandangan dan menciptakan gelembung informasi, sehingga mengurangi keragaman pemikiran dan ketajaman analisis<br> b. Pertama, pendidikan kritis harus mengedepankan kemampuan menilai sumber, menyusun argumen, dan mengintegrasikan perspektif. Kedua, komunitas, menganalisis data, dan menciptakan solusi. <br> c. Literasi sejati bukan sekadar membaca dan menulis, melainkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan ide baru, namun literasi sebagai proses untuk menciptakan perubahan sosial. Di era digital kita harus bertransformasi pembebasan, di mana seseorang tidak hanya membaca kata, tetapi juga dunia, dari konsumen pasif menjadi produsen ide solutif.  <br><br>Ms Arnel :<br> a. Dala dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) menunjukkan bahwa pada 2024 saja, lebih dan 10.000 sekolah dan universitas menggelar kegiatan Bulan Bahasa, melibatkan jutaan peserta. Kegiatan saperti fomba puisi yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa di berbagai provinsi telah menghasilkan ribuan karya sastra tani, sementara festival sastra seperti Ubud Writers &amp; Readers Festival semakin mengintegrasikan Bulan Bahasa ke ranah intemasional. <br> b. banyaknya data yang menunjukkan rendahnya kedalaman pemuda memahami identitasnya sendiri. Seperti hanya 12% siswa SMA yang mendiaca sastra Indonesia di luar kurikulum, sementara 60%, lebih nyaman berkomunikaat dalam bahasa gaul campuran.  <br><br>Ms Eva : <br> a. Dengan semangat dan pantang menyerah Raka menjelaskan kepada teman-temannya agar mereka mengadakan festival Sumpah Pemuda.<br> b. Dengan sepakat membuat proyek "Sumpan Kita", ide mereka sederhana tapi bermakna mengatakan festival budaya di sekolah untuk merayakan keberagaman sekaligus menggalang dana untuk memperbaik purpustakaan desa vang hampir runtuh.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604463</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analysis Literasi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604896</link>
         <description><![CDATA[<p>Marsya XI Pascal</p><p>1. Pertanyaan Ma'am Ririn</p><p>a. Penggunaan bahasa untuk menyebar hoaks dan menyebar pesan negatif merupakan pengkhianatan makna Sumpah Pemuda, sebab Sumpah Pemuda menuntut persatuan, sedangkan ujaran negatif justru memecah belah dan merusak moral bangsa. Bahasa seharusnya menjadi sarana memperkuat solidaritas dan memperjuangkan kebenaran, bukan alat untuk menyakiti atau menyesatkan.</p><p>b. Sebagai siswa, beberapa cara kita dapat membangun bahasa menjadi alat membangun peradaban, antara lain:</p><p>Menggunakan Bahasa Indonesia yang santun, dan teratur dalam percakapan seharian. </p><p>Melawan hoaks dengan berita yang telah terverifikasi, serta menyediakan informasi yang menenangkan.</p><p>Mengembangkan karya kreatif/seni Indonesia untuk memperkuat kebanggaan terhadap bahasa nasional.</p><p><br/></p><p>2. Pertanyaan Mr. Jefri</p><p>a. Masalah utama dalam karya tersebut adalah defisit ide di tengah kelimpahan digital. Mr Jefri menekankan bahwa generasi muda lebih banyak mengonsumsi informasi secara pasif, tidak dengan analitis maupun kritis, serta tanpa menghasilkan gagasan yang bermakna. </p><p>b. Penulis menyebut tiga pendekatan holistik:</p><p>1. Pendidikan kritis dan berbasis masalah nyata. Sekolah harus mendorong siswa berpikir analitis dan kreatif melalui proyek yang menuntut pemecahan masalah dunia nyata.</p><p>2. Kesadaran teknologi digital. Masyarakat perlu memahami cara kerja algoritma dan dampaknya terhadap cara berpikir agar tidak mudah terjebak dalam gelembung informasi.</p><p>3. Penguatan ruang intelektual publik. Menciptakan forum, diskusi, dan platform digital yang mendorong dialog bermakna serta pertukaran ide yang sehat di masyarakat.</p><p>c. Menurut Paulo Freire, literasi sejati berarti membaca dunia dan menciptakan perubahan sosial, bukan hanya memahami teks tetapi juga realitas kehidupan untuk memperbaikinya.</p><p><br/></p><p>3. Pertanyaan Ms. Arnel </p><p>a. 1. Pengakuan internasional: Bahasa Indonesia kini diakui UNESCO sebagai salah satu bahasa resmi dunia, digunakan oleh lebih dari 270 juta penutur di dalam dan luar negeri.</p><p>2. Kegiatan literasi dan sastra: Bulan Bahasa berhasil melibatkan ribuan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dalam lomba menulis, membaca puisi, dan festival sastra (seperti Ubud Writers &amp; Readers Festival).</p><p>3. Perkembangan sastra modern: Banyak penulis muda dan karya sastra Indonesia yang terus berkembang, memperkuat identitas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kebanggaan nasional.</p><p>4. Peran lembaga pendidikan dan pemerintah: Kementerian Pendidikan dan Balai Bahasa aktif menyelenggarakan kegiatan literasi dan lomba untuk memperingati Bulan Bahasa di seluruh Indonesia.</p><p>b. 1. Kedalaman makna perayaan masih berongga. sering kali hanya sebatas ritual simbolis, belum benar-benar membentuk kesadaran berbahasa yang kritis dan reflektif.</p><p>2. Rendahnya minat baca dan literasi nasional. Data UNESCO menunjukkan Indonesia masih sangat rendah dalam tingkat membaca.</p><p>3. Campuran bahasa gaul dan digitalisasi berlebihan. Banyak remaja lebih nyaman menggunakan bahasa campuran (Indo-Inggris, slang, emoji) daripada bahasa Indonesia baku.</p><p>4. Kurangnya integrasi teknologi dan inovasi dalam kegiatan Bulan Bahasa. Kegiatan masih konvensional dan belum sepenuhnya menyesuaikan dengan budaya digital generasi muda.</p><p><br/></p><p>4. Pertanyaan Ms. Eva</p><p>a. Proyek “Sumpah Kita” membuat Lina dan Bima sadar arti persatuan. Mereka jadi lebih peduli, semangat, dan mau bekwrja sama.</p><p>b. Ide utamanya yaitu festival budaya dan gotong royong memperbaiki perpustakaan untuk menghidupkan semangat</p><p> Sumpah Pemuda di sekolah.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:27:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657604896</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jeny watratan (X GG)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657605297</link>
         <description><![CDATA[<p>Mam.Ririn </p><p>a).memang benar 1 bahasa bukan lah hanya tentang berbahasa indonesia tetapi adalah soal kualitas dari apa yang kita komunikasikan. Untuk apa kita bangga berbahasa indonesia jika kita menggunakanya untuk menyebar fitnah, mrlakukan perundungan simber, atau menjatuhkan karya bangsa lainya. </p><p>Maka dari itu sumpah "satu bahasa" adalah komitmen untuk menggunakan bahasa kita secara produktif, untuk berkolaborasi, untuk mempromosikan UMKM loka, untuk menciptakan konten kreatif yang mendidik, dan untuk menunjukan kepada dunia bahsa bahasa persatuan adalah alat untuk membangun peradaban bukan untuk meruntuhkanya.</p><p>b).sebagai murid SMA saya bisa membuat konten positif dan edukatif di media sosial yang mempromosikan persatuan dan kesatuan bangsa indonesia.</p><p><br/></p><p>Mr.Jefri </p><p>a).kurangnya ide atau gagasan dalam budaya literasi saat ini.</p><p>b).pendidikan kritis :mendorong kemampuan untuk menilai sumber informasi, menyusun argumen, dan mengintergrasikan perspektif. Sekolah dapat menerapkan proyeksi berbasis masalah nyata, seperti mengidentifikasi isu komunitas data, dan menciptakan solusi.</p><p>Ruang intelektual :masyarakat perlu membangun ruang intelektual melalui forum publik dan platfrom daring yang memfasilitaskan dialog mendalam.</p><p>c).literasi sejati adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan pribadi dan sosial.</p><p><br/></p><p>Ms.Arnel </p><p>a). </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657605297</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nathanael Ferdinand Indra XI Pascal</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657605582</link>
         <description><![CDATA[<p>1. A. Karena Sumpah Pemuda mengikrarkan "Satu Bahasa" untuk menyatukan kita, bukan memecah belah. Kalau bahasa dipakai untuk hoax, fitnah, atau mem-bully, itu sama saja dapat merusak persatuan Bahasa yang seharusnya jadi alat pembangunan  malah dipakai untuk meruntuhkannya.</p><p>B. Sebagai anak SMA, kita bisa:</p><p>Jadi pembuat konten yang positif. Misalnya, bikin video atau hal lainnya seru tentang budaya Indonesia, pakai Bahasa Indonesia yang keren.</p><p>Jadilah agen anti-hoax. Kalau lihat berita yang mencurigakan, jangan langsung share. Cek dulu di informasi lainnya yang lebih dipercaya, kita bantu luruskan dengan sopan.</p><p>-Dukung produk lokal. Gunakan media sosial untuk promosiin dagangan UMKM lokal, biar ekonomi kita lebih maju.</p><p><br/></p><p>2. A. Masalah utama:</p><p>Penulis menyoroti defisit ide di tengah melimpahnya informasi digital. Banyak orang hanya menjadi konsumen informasi tanpa berpikir kritis atau menghasilkan gagasan baru, sehingga budaya literasi melemah.</p><p><br/></p><p>B. Pendekatan holistik untuk mengatasi defisit ide:  Mengasah berpikir kritis, agar orang mampu menilai dan menganalisis informasi dengan bijak, Memanfaatkan teknologi secara produktif, bukan hanya untuk hiburan, tetapi sebagai menyebarkan ide, Mendorong dialog dan kolaborasi sosial, agar masyarakat terbiasa berdiskusi, menafsirkan, dan mengembangkan gagasan bersama.</p><p><br/></p><p>C. Literasi sejati:</p><p>Menurut penulis, literasi sejati bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan ide baru.</p><p><br/></p><p>3.A.Pencapaian Bulan Bahasa:</p><p>Bahasa Indonesia sudah diakui UNESCO, digunakan lebih dari 270 juta orang, dan dirayakan lewat banyak kegiatan seperti lomba, festival sastra, dan karya penulis muda yang terus berkembang.</p><p><br/></p><p>B. Hal yang perlu ditingkatkan:</p><p>Masih banyak yang kurang peduli pada penggunaan bahasa yang baik. Perayaan sering hanya seremonial, belum benar-benar menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p>4.A. Proyek “Sumpah Kita” berhasil mengubah pemikiran Lina dan Bima dengan membuat mereka menyadari bahwa Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa sejarah yang membosankan, tetapi semangat nyata untuk bersatu dan berbuat bagi kebaikan bersama. Awalnya Lina dan Bima kurang antusias dan menganggap proyek itu hanya tugas biasa, namun setelah terlibat dalam kegiatan budaya dan kerja sama tim, mereka jadi memahami maknanya secara lebih mendalam dan merasakannya dalam tindakan nyata.</p><p><br/></p><p>B.Ide utama proyek “Sumpah Kita” adalah mengadakan festival budaya di sekolah untuk memperingati dan meneladani semangat Sumpah Pemuda dengan menyatukan keberagaman siswa melalui kegiatan seni dan gotong royong. Proyek ini bertujuan  untuk menunjukkan bahwa semangat persatuan dan kerja sama bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>5. A. Pantun itu mengkritik bahwa gadget dan media sosial membuat semangat pemuda menurun. Banyak remaja sekarang lebih sibuk dengan layar handphone daripada beraktivitas, belajar, atau bergaul. Akibatnya, mereka jadi malas, kurang berinteraksi, dan kehilangan semangat untuk berkembang.</p><p><br/></p><p>b) Kritik ini relevan untuk remaja SMA Regina Caeli, karena banyak yang mulai ketergantungan gadget. Berdasarkan gambar 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pantun ini mengingatkan pentingnya:</p><p>-Bangun pagi dan tidur cepat, biar tidak begadang main HP.</p><p>-Gemar belajar dan berolahraga, supaya tetap aktif dan produktif.</p><p>-Bermasyarakat, agar tidak hanya sibuk di dunia maya.</p><p><br/></p><p>6. A.Jika saya hidup pada tahun 1928, saya akan ikut aktif menyebarkan semangat persatuan lewat organisasi pemuda, berdiskusi, dan mengajak teman-teman dari berbagai daerah untuk bersatu melawan penjajahan demi kemerdekaan Indonesia.</p><p><br/></p><p>B. Nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan, cinta tanah air, dan kerja sama masih sangat relevan sekarang. Di era modern, nilai itu bisa diwujudkan dengan saling menghargai perbedaan, menjaga persatuan bangsa, dan bersama membangun Indonesia yang lebih maju.</p><p><br/></p><p>7.A. Kemampuan literasi penting karena membantu kita memahami informasi dengan benar, berpikir kritis, dan tidak mudah percaya hoaks. Dengan literasi, kita bisa mengambil keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>B. Jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan adalah literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerasi, dan literasi sains agar masyarakat menjadi lebih kritis, cerdas, dan bijak dalam menyaring informasi.</p><p><br/></p><p>8.A. Konflik yang dialami Celline adalah rasa minder dan kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dan daerah karena terlalu terbiasa dengan bahasa Inggris. Konflik ini mencerminkan masalah banyak anak muda sekarang yang lebih bangga memakai bahasa asing daripada bahasa sendiri, sehingga kemampuan berbahasa Indonesia mulai menurun.</p><p><br/></p><p>B. Pesan utama penulis adalah pentingnya mencintai dan menjaga bahasa Indonesia serta bahasa daerah sebagai jati diri bangsa. Melalui interaksi Celline, Maharani, dan Ujang, penulis ingin menunjukkan bahwa menguasai bahasa asing itu baik, tetapi jangan sampai melupakan bahasa sendiri.</p><p><br/></p><p>9. A. Dalam puisi “Bahasa Persatuan di Bumi Pertiwi”, bahasa Indonesia digambarkan sebagai pengikat hati dan jembatan persatuan di tengah keberagaman suku, budaya, dan adat yang ada di Indonesia. Meskipun berbeda asal dan tradisi, satu bahasa membuat bangsa tetap harmonis, bersatu, dan bangga sebagai Indonesia.</p><p><br/></p><p>B. Pesan yang dapat disampaikan adalah bahwa menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga identitas dan persatuan bangsa. Di era modern yang dipenuhi pengaruh bahasa asing dan teknologi, kita harus tetap mengutamakan dan mencintai bahasa Indonesia agar jati diri bangsa tidak hilang dan semangat kebersamaan tetap terpelihara.</p><p><br/></p><p>10. A. Tiga nilai yang ingin ditanamkan guru muda kepada generasi penerus dalam puisi “Nyala Jiwa Pelita Bangsa” adalah:</p><p>1. Semangat belajar dan pantang menyerah :  ditunjukkan melalui tekad untuk terus berjuang dan menimba ilmu meski penuh tantangan.</p><p>2.Tanggung jawab dan kejujuran : terlihat dari sikap luhur dan berilmu tinggi, menjaga nurani tetap bersih.</p><p>3. Cinta tanah air dan pengabdian : diwujudkan melalui semangat membangun bangsa dan mewujudkan cita-cita “Indonesia Emas.”</p><p><br/></p><p>B. Langkah inovatif yang bisa dilakukan untuk mengimplementasikan ketiga nilai tersebut:</p><p>-Menumbuhkan semangat belajar dengan memanfaatkan teknologi positif, seperti membuat konten edukatif atau ikut komunitas literasi digital.</p><p>-Menunjukkan tanggung jawab dan kejujuran lewat aksi nyata, misalnya disiplin dalam belajar dan jujur dalam ujian maupun pekerjaan.</p><p>-Mewujudkan cinta tanah air dengan berkontribusi pada kegiatan sosial, menjaga lingkungan, dan menggunakan karya anak bangsa. </p><p><br/></p><p>11. -Awalnya gerakan pemuda bersifat kedaerahan karena rasa nasionalisme Indonesia belum kuat dan komunikasi antar daerah masih terbatas, sehingga perjuangan berjalan sendiri-sendiri.</p><p><br/></p><p>-Kongres Pemuda I penting karena menjadi langkah awal persatuan, menyatukan berbagai organisasi pemuda dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan nasional.</p><p><br/></p><p>-Kongres Pemuda II menjadi akibat langsung dari kesadaran itu. Pertemuan ini melahirkan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) sebagai wujud tekad bersama: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p>12. A. Nilai-nilai Sumpah Pemuda dapat memperkuat rasa persaudaraan antarumat beragama karena semangatnya mencerminkan nilai-nilai spiritualitas agama tentang cinta kasih dan persaudaraan. Para pemuda pada saat itu tidak lagi melihat perbedaan etnis atau bahasa sebagai penghalang, melainkan sebagai suatu kekayaan yang disatukan dalam satu cita-cita yang luhur. Hal ini selaras dengan ajaran agama yang mengajarkan untuk membangun persaudaraan dan cinta kasih tanpa sekat sedikitpun.</p><p>B. Penting bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat spiritualitas agama dalam menjaga persatuan bangsa karena persatuan yang lahir dari Sumpah Pemuda tidak hanya sebagai hasil dari rasionalitas politik, tetapi juga merupakan pengalaman akan nilai ketuhanan. Dalam konteks spiritual, persatuan adalah wujud nyata dari rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan yang beragam. Dengan demikian, persatuan tidak hanya untuk melawan penjajah, tetapi juga untuk menegakkan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup merdeka dan bermartabat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657605582</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CALLYSTA XII SOCRATES</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657606420</link>
         <description><![CDATA[<p>1. a. karena soal kualitas dari apa yang kita komunikasikan</p><p>&nbsp;b. UMKM lokal, untuk menciptakan konten kreatif yang mendidik, dan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bahasa persatuan ini adalah alat untuk membangun peradaban, bukan untuk meruntuhkannya</p><p>2. a. defisit ide di tengah kelimpahan informasi, di mana banyak orang terjebak dalam konsumsi informasi tanpa kemampuan berpikir kritis</p><p>b. Untuk pendidikan kritis harus mengedepankan kemampuan menilai sumber, mengatasi defisit ide, diperlukan pendekatan holistik.&nbsp;</p><p>Pertama, menyusun argumen, dan mengintegrasikan perspektif. Sekolah dapat menerapkan proyek berbasis masalah nyata, seperti mengidentifikasi isu dari Stanford <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://d.school">d.school</a> terbukti efektif memicu inovasi. Kedua. komunitas, menganalisis data, dan menciptakan solusi. Metode design thinking kesadaran teknologi penting untuk memahami dampak algoritma mendorong konsumsi sumber beragam, dan menghindari platform tidak produktif.&nbsp;</p><p>Ketiga masyarakat perlu membangun ruang intelektual melalui forum publik dan platform daring yang memfasilitasi dialog mendalam</p><p>c. Literasi sejati bukan membaca dan menulis, melainkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan ide baru</p><p>3. a. lebih dan 10.000 sekolah dan universitas menggelar kegiatan Bulan Bahasa, melibatkan jutaan peserta. Kegiatan saperti fomba puisi yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa di berbagai provinsi telah menghasilkan ribuan karya sastra tani, sementara festival sastra seperti Ubud Writers &amp; Readers Festival semakin mengintegrasikan Bulan Bahasa ke ranah intemasional</p><p>b.banyak data yang menunjukkan rendahnya kedalaman pemuda memahami identitasnya sendiri. Survei Badan Bahasa pada 2023 mengungkap fakta mengkhawatirkan: hanya 12% siswa SMA yang menbacq sastra Indonesia di luar kurikulum, sementara 60%, lebih nyaman berkomunikasi dalam bahasa gaul campuran (bahasa Indonesia Inggris slang digital). Di era media sosial, bahasa Indonesia bergerus oleh "bahasa alay atau emoji, dimana kalimat lengkap di ganti singkatam</p><p>4. a. karena melalui kegiatan itu mereka menyadari bahwa Sumpah Pemuda bukan cuma peristiwa lama atau ujian sejarah, tetapi semangat untuk bersatu dan berbuat nyata bagi kebaikan bersama</p><p>b. mengadakan festival budaya di sekolah untuk merayakan keberagaman dan menggalang dana guna memperbaiki perpustakaan desa yang runtuh</p><p>5. a. pengaruh gadget dan media dapat menurunkan semangat dan nilai nilai jika tidak digunakan dengan bijak</p><p>b. ya, karena banyak sma regina caeli yang lebih sering berinteraksi lewat hp dan media sosial dibanding melakukan hal produktif di sekolah sehingga perlu meneladani semangat pemuda lewat tujuh kebiasaan tersebut</p><p>6. a. saya akan ikut turun tangan dalam mengurai dan menyelesaikan permasalahan bangsa, sesuai kapasitas masing-masing</p><p>b. bahwa kekuatan pemuda harus selalu hadir dalam setiap babak penting sejarah perjalanan bangsa dan serta menginspirasi generasi muda&nbsp;</p><p>7. a. berpikir kritis, membuka wawasan, membangun karakter, meningkatkan prestasi</p><p>b.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657606420</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andika</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657606538</link>
         <description><![CDATA[<p>Ms, Yerime Alwir </p><p>1a. Penggunaan bahasa untuk menyebarkan kebencian atau perundungan siber dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda karena menggerus nilai-nilai fundamental persatuan dan kualitas komunikasi yang terkandung di dalamnya. </p><p>1b. Menjadi duta bahasa positif di media sosial. &amp; Membuat konten edukatif: </p><p><br/></p><p>Mr. Jefri</p><p>2a. Memicu overload Kognitif </p><p>2b. Pendekatan holistik yaitu pendidikan kritis harus mendepankan kemampuan menilai sumber.</p><p>2c. Literasi sejati bukan sekedar membaca &amp; menulis, melainkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis &amp; ide baru.</p><p><br/></p><p>Ms. Arnel</p><p>3a. Meneguhkan kembali rasa cinta terhadap bahasa Indonesia</p><p>3b. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku harus ditingkatkan dengan baik </p><p><br/></p><p>Ms. Eva</p><p>4a. Berhasil.</p><p>4b. Mewujudkan berkerjasama dengan baik tanpa membeda-bedakan </p><p>baca </p><p>Mr. Manalu </p><p>5a. Hampir masyarakat Indonesia masih tergantung menggunakan ponsel</p><p>5b. Relavan, karena siswa selalu menerapkan prinsip "tujuh kebiasaan anak Indonesia Hebat" dengan baik </p><p><br/></p><p>Ms. Vannesa</p><p>6a. Dengan mendirikan sekolah-sekolah </p><p>6b. Mempersatukan bangsa dari berbagai wilayah &amp; menjunjung bahasa persatuan </p><p><br/></p><p>Ms. Ika</p><p>7a. Karena literasi dapat menambah ilmu yang mendalam </p><p>7b. Literasi membaca Bersama &amp; membangun perpustakaan.</p><p><br/></p><p>Ms. Tere </p><p>8a. Berbicara tentang tugas sehingga terjadi perpecahan</p><p>8b. Kita harus berbicara bahasa Indonesia yang baik &amp; baku sehingga tercerminnya keharmonisan </p><p><br/></p><p>Ms. Helda </p><p>9a. Bahasa Indonesia menjadikan alat mempersatukan bangsa </p><p>9b. Menjaga Bahasa yang baik tidak mencemari nama baik</p><p><br/></p><p>Ms. Herlan </p><p>10a. Cinta tanah air, Saling Menghargai &amp; Patriotisme </p><p>10b. Memperkuat citra Indonesia yang lebih baik</p><p><br/></p><p>Ms. Sifra </p><p>11a. Melatar belakangi munculnya organisasi bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan dari Belanda</p><p>11b. Penting, untuk menjaga persatuan </p><p>11c. Kongres Pemuda II Menghasilkan tiga sumpah </p><p><br/></p><p>Mr. Cello </p><p>12a. Nilai Sumpah Pemuda menjadi hidup lebih baik </p><p>12b. Agar tercerminnya keharmonisan &amp; Kerukunan Agama tanpa Membeda-bedakan </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657606538</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Djie Lei Zypora/X Rouusseau</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657606764</link>
         <description><![CDATA[<p>Mam ririn</p><p>A.terkadang kita warga indonesia masi sering tidak menggunakan bahasa baku karena itu perlu kita ketahui kita sebagai warga indonesia butuh dan pentingnya akan kesadaran terhadap penggunaan dalam bahasa dan belum terciptanya kesatuan cinta tanah air</p><p>B.caranya yaitu menggunakan bahasa indonesia dengan baku setiap hari,tidak menggunakan bahasa indonesia sebagai bahan bullying,dll</p><p><br/></p><p>Mr.Jefri</p><p>A.permasalahannya yaitu kurangnya ide atau gagasan pikiran dalam permasalahan tersebut</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657606764</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gisela Aileen XII Socrates</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657607055</link>
         <description><![CDATA[<ol start="8"><li><p>a). Konflik yang dialami Celline adalah Westernisasi. Anak muda zaman sekarang banyak yang tidak mengetahui budaya sendiri, namun lebih mengenal budaya luar.</p><p><br/></p><p>b). Pesan utama -&gt;kita boleh kenal dan menyukai budaya luar, namun kita harus tetap ingat dan mengenal budaya dari tanah kelahiran kita sendiri</p></li></ol><p><br/></p><ol start="9"><li><p>a). Peran Bahasa Indonesia adalah menciptakan rasa bangga terhadap bangsa dan memudahkan kita untuk berbicara satu sama lain</p><p>b). Menjaga bahasa persatuan sangat penting supaya kita tidak mudah terpecah seperti saat masa kerajaan</p></li></ol><p><br/></p><ol start="10"><li><p>a). Nilai yang terdapat -&gt; Ketekunan, Keberanian,  Tanggung jawab</p><p>b). Langkah inovatif</p><p>Ketekunan -&gt; tekun dalam melaksanaakn kewajiban (misal, membantu orang tua, menjaga lingkungan, dll)</p><p>Keberanian -&gt; berani dalam menyuarakan pendapat dengan baik dan benar</p><p>Tanggung jawab -&gt; Mengerjakan semua nya dengan sepenuh hati, bukan setengah- setengah</p></li></ol><p><br/></p><ol start="11"><li><p>a). Karena mereka masih merasa bahwa daerah lain memiliki ideologi yang berbeda dari daerahnya, selain itu mereka juga masih terpengaruh oleh ideologi zaman kerajaan</p><p>b). Sangat penting, karena jika tidak terjadi Kongres Pemuda 1 para pemuda tidak akan saling mengenal dan pikiran mereka akan sulit terbuka. </p><p>c). Penyebab -&gt; semangat pemuda mempersatukan diri untuk Indonesia merdeka</p><p>Akibat -&gt; Terciptanya Ikrar pemuda, yang sudah disepakati oleh para pemuda</p><p><br/></p></li><li><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657607055</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Literasi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657607223</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mam Ririn</p><p>A) Penggunaan bahasa secara tidak benar dapat mengkhinati isi sumpah pemuda terkhususnya pada bagian "satu bahas" Sebab bahasa digunakan secara produktif seperti untuk menyatukan banyak masyrakat indonesia yang beragam (kolaborasi), meningkatkan kreativitas, dan medidik generasi muda. </p><p>B) Strategi digital yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan internet dan teknologi untuk mengunggah karya karya anak bangsa yang membangun, dapat mencerdaskan anak bangsa, tidak berbau hoax, dan pastinya dengan bahasa indonesia yang baik dan benar (sesuai KBBI) agar dapat membuat masa depan bangsa yabg kritis, analitis, dan berliterasi tinggi. </p><p><br/></p><p>2. Mr. Jefri</p><p>A)Masalah utama yang dibahas adalah terjadinya defisit ide di tengah melimpahnya informasi pada era digital. Meskipun akses terhadap data dan pengetahuan semakin luas, masyarakat cenderung hanya menjadi konsumen informasi tanpa kemampuan berpikir kritis dan analitis, sehingga ide-ide yang dihasilkan dangkal dan kurang bernilai transformatif.</p><p>B) Untuk mengatasi defisit ide, terdapat tiga hal yang bisa dilakukan, yaitu penguatan litrerasi kritis agar individu mampu menilai dan mengolah informasi secara mendalam, penguasaan teknologi sebagai sarana produksi pengetahuan dan inovasi, serta penciptaan ruang dialog bermakna yang mendorong pertukaran gagasan dan kolaborasi intelektual di masyarakat.</p><p>C) Literasi sejati menurut penulis bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, menganalisis, serta menghasilkan ide-ide baru yang mampu menciptakan perubahan sosial, sebagaimana gagasan Paulo Freire bahwa literasi adalah proses pembebasan manusia dari sekadar menerima informasi menuju tindakan yang reflektif dan transformatif.</p><p><br/></p><p>3. Ms. Arnel</p><p>A) Pencapaian Bulan Bahasa antara lain berhasil menumbuhkan semangat Sumpah Pemuda, memperkuat kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, serta diakui dunia melalui UNESCO dan berbagai kegiatan seperti lomba, festival, dan diskusi sastra.</p><p>B) Yang masih kurang yaitu pemaknaannya masih bersifat seremonial, belum menyentuh persoalan rendahnya minat baca dan kedalaman berbahasa di kalangan pelajar, serta perlu ditingkatkan agar menjadi gerakan nyata yang menumbuhkan kecintaan dan kreativitas berbahasa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:28:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657607223</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Felicia XI Pascal</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657607854</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Ma'am Ririn</p><p>a) Sumpah Pemuda menegaskan bahwa meskipun Indonesia berbeda-beda, persatuan adalah nilai utama. Bahasa Indonesia seharusnya menjadi alat yang menyatukan masyarakat. Jadi kalau bahasa dipakai untuk hoax atau perundungan, itu malah memecah belah dan menimbulkan konflik, baik di media sosial maupun di dunia nyata.</p><p>Itu bertentangan dengan tujuan Sumpah Pemuda yang ingin menjaga rasa kebangsaan dan saling percaya antarwarga.</p><p><br/></p><p>b)</p><p>Bahasa adalah simbol identitas bangsa. Cara kita menggunakannya di dunia digital mencerminkan kualitas peradaban kita. Sebagai pelajar, strategi yang bisa dilakukan adalah menggunakan media sosial untuk konten positif, cek fakta sebelum membagikan informasi, dan memakai bahasa yang sopan dan menghargai perbedaan. Dengan begitu, bahasa Indonesia benar-benar menjadi alat untuk membangun, bukan merusak.</p><p><br/></p><p>2. Mr. Jefri</p><p>a) Masalah utama yang dibahas adalah defisit ide, yaitu kondisi ketika masyarakat hanya mengonsumsi informasi tanpa mengolahnya menjadi pemahaman dan pemikiran kritis. Akibatnya, banyak informasi ada, tapi kemampuan menghasilkan ide sendiri menjadi lemah.</p><p><br/></p><p>b) Pendekatan holistik adalah pendekatan yang menggabungkan keterampilan membaca, menulis, berpikir kritis, dan kreativitas secara berkesinambungan, sehingga informasi tidak hanya diterima, tetapi juga diproses dan diolah menjadi ide baru.</p><p><br/></p><p>c) Literasi sejati penting karena tidak hanya membuat kita memahami informasi, tetapi juga mengolah, mengevaluasi, dan menciptakan ide baru. Dengan literasi yang kuat, kita tidak pasif menerima informasi, tetapi aktif memproduksi gagasan dan solusi.</p><p><br/></p><p>3. Ms. Arnel</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:29:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657607854</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Brigitha Yuliani XI Pascal</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657609087</link>
         <description><![CDATA[<p>   </p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mam Ririn</p><p>  </p><p>a)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada teks tertulis bahwa “Satu Bahasa” bukan hanya soal keterampilan berbahasa Indonesia, melainkan menjadi tonggak menjaga persatuan dan menghargai keberagaman. &nbsp;Jika bahasa digunakan untuk menyebarkan <em>hoax </em>atau melakukan perundungan siber, maka hal tersebut berkemungkinan besar menjadi awal rusaknya persatuan yang merupakan inti Sumpah Pemuda. Penggunaan bahasa yang negatif menimbulkan berbagai dampak negatid antara lain ; perpecahan, kebencian, dan konflik ditengah masyarakat. Sehingga hal tersebut sangat lah bertentangan dengan semangat “Satu Bahasa” yaitu membangun persatuan bangsa.</p><p>  </p><p>b)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagai siswi SMA, strategi digital yang bisa saya lakukan untuk menjadikan bahasa persatuan sebagai “alat membangun peradaban” adalah dengan memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk membagikan/menyebarkan konten-konten positif menggunakan bahasa persatuan yang santun dan kreatif. Konten positif seperti podcast, video edukasi, short video, dll. Dengan begitu, bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tapi juga sarana membangun budaya digital yang beradab dan berkarakter, sesuai nilai Sumpah Pemuda.</p><p>  </p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mr.Jefri</p><p>  </p><p>a)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masalah utama yang diangkat oleh menuliskan pada teks tersebut adalah krisis literasi dan defisit ide di era kelimpahan informasi digital. Meskipun masyarakat memiliki akses informasi yang tak terbatas, banyak orang yang masih belum bisa mengelola, menganalisis, menghasilkan gagasan bermakna berdasarkan informasi yang telah bertebaran di media digital secara kriris. Sehingga munculnya pola pikir yang dangkal, pemahaman terfragmentasi, serta ketergantungan pada media pasif -mesin pencari dan algoritma sosial media-.</p><p>  </p><p>b)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mengatasi defisit ide diperlukannya pendekatan holistik, dilakukan dengan cara mengaitkan literasi dengan konteks kehidupan nyata agar siswa mampu berpikir kritis dan kreatif. Penulis mencontohkan sistem pendidikan Finlandia yang menggunakan metode project based learning dan interdisipliner untuk menumbuhkan pemahaman mendalam. Dengan cara ini, literasi tidak hanya fokus pada membaca dan menulis, tetapi juga pada kemampuan mengolah informasi menjadi ide dan solusi yang berguna bagi masyarakat. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:29:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657609087</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aura XI Da Vinci</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657610753</link>
         <description><![CDATA[<p>12. a) Nilai-nilai Sumpah Pemuda memperkuat rasa persaudaraan antarumat beragama karena semangat yang terkandung di dalamnya menekankan pada kesatuan dalam keberagaman. Dalam esai tersebut dijelaskan bahwa para pemuda pada tahun 1928 tidak lagi memandang perbedaan etnis, bahasa, dan latar belakang sebagai penghalang, melainkan sebagai kekayaan bangsa. Nilai ini sejalan dengan ajaran spiritualitas Katolik yang menekankan cinta kasih dan persaudaraan universal tanpa sekat. Dengan demikian, Sumpah Pemuda menjadi landasan moral untuk membangun relasi lintas iman yang saling menghargai dan menumbuhkan solidaritas antarumat beragama di Indonesia. </p><p>b) Penting bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat spiritualitas agama karena nilai-nilai spiritual memberi dasar etis dan moral dalam menjaga persatuan bangsa. Dalam konteks esai, spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dan Tuhan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang menghargai sesama ciptaan Tuhan. Generasi muda yang memiliki spiritualitas yang kuat akan lebih mampu melihat keberagaman sebagai anugerah, bukan ancaman. Hal ini menjadikan mereka agen perdamaian yang menjaga keutuhan bangsa melalui nilai kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan.</p><p><br/></p><p>4. a) Proyek “Sumpah Kita” membuat Lina dan Bima melihat Sumpah Pemuda dari sudut pandang yang berbeda. Awalnya mereka menganggap topik itu membosankan dan tidak relevan, tetapi setelah terlibat langsung, mereka merasakan semangat yang sama seperti para pemuda 1928; bekerja sama tanpa memandang perbedaan. Lina menjadi lebih peduli dan aktif, sementara Bima yang pendiam mulai berani menunjukkan kemampuan dan merasa dihargai. Melalui proyek itu, keduanya belajar bahwa semangat pemuda sejati adalah tentang melakukan sesuatu yang bermanfaat bersama. </p><p>b) Proyek “Sumpah Kita” berfokus pada menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dalam konteks modern. Raka dan kelompoknya membuat festival budaya di sekolah untuk merayakan keberagaman dan menggalang dana guna memperbaiki perpustakaan desa. Melalui kegiatan itu, mereka ingin menunjukkan bahwa persatuan dan kepedulian sosial adalah bentuk nyata dari cinta tanah air di masa kini.</p><p><br/></p><p>6. a)Jika saya hidup pada tahun 1928, saya akan berusaha menjadi bagian dari gerakan pemuda yang memperjuangkan kesadaran kebangsaan melalui tulisan dan pendidikan. Saya akan menulis dan menyebarkan gagasan tentang pentingnya persatuan di antara pemuda dari berbagai daerah, karena saya percaya bahwa kekuatan bangsa berawal dari kesamaan visi. Selain itu, saya akan mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi agar semua kalangan bisa saling memahami dan tidak terkotak oleh perbedaan daerah. Dengan cara itu, saya ikut berperan memperkuat fondasi persatuan yang menjadi roh perjuangan menuju kemerdekaan. </p><p>b) Korelasi antara nilai-nilai dalam Sumpah Pemuda dengan kehidupan berbangsa saat ini sangat jelas: semangat persatuan, cinta tanah air, dan penghargaan terhadap keberagaman masih menjadi kebutuhan utama bangsa Indonesia. Di era digital yang serba cepat ini, tantangan bangsa bukan lagi penjajahan fisik, melainkan perpecahan sosial dan lunturnya rasa kebangsaan. Dengan meneladani semangat Sumpah Pemuda, generasi masa kini diingatkan untuk tetap bersatu dalam menghadapi perbedaan dan memanfaatkan potensi masing-masing demi kemajuan bersama. Nilai-nilai itu menjadi fondasi moral agar bangsa tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.</p><p><br/></p><p>5. a) Pantun tersebut menyampaikan kritik sosial terhadap perubahan perilaku generasi muda akibat dominasi gadget dan media sosial. “Semangat pemuda kini memudar” menggambarkan bagaimana nilai perjuangan, kebersamaan, dan kreativitas yang dahulu menjadi ciri pemuda Indonesia mulai tergeser oleh budaya konsumtif dan individualistik di dunia digital. Kritik ini menekankan bahwa teknologi yang seharusnya menjadi alat penggerak kemajuan justru bisa menjadi penghambat jika digunakan tanpa kesadaran dan tujuan positif. </p><p>b) Kritik ini masih sangat relevan bagi remaja SMA Regina Coeli, karena tantangan utama generasi sekarang adalah menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. Berdasarkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, seperti disiplin dan bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan semangat kebangsaan, penggunaan gadget seharusnya diarahkan untuk memperkuat karakter tersebut. Namun kenyataannya, banyak remaja yang justru lalai pada tanggung jawab dan waktu belajar karena terlalu larut dalam media sosial. Dengan menumbuhkan kembali kebiasaan positif itu, remaja dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk belajar</p><p><br/></p><p>7. a)Literasi penting karena membantu kita memahami dunia di sekitar. Orang yang memiliki kemampuan literasi tinggi dapat membaca informasi dengan cermat, berpikir logis, dan tidak mudah tertipu berita palsu. Literasi juga membuat seseorang lebih terbuka terhadap pengetahuan baru, sehingga dapat berkomunikasi, belajar, dan bekerja dengan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. </p><p>b)Ada beberapa jenis literasi yang perlu dikembangkan, yaitu literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerasi, dan literasi sains. Semua jenis literasi ini saling melengkapi agar masyarakat tidak hanya pandai membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, menganalisis data, serta menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan secara bijak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 01:30:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657610753</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657827824</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>1. Mam Ririn:=(Artikel)"Pemaknaan dan Penerapan Nilai-Nilai Sumpah Permuda di Era Milenial dan Gen-Z"</p><p>A) Karena kalau bahasa dipakai buat nyebar hoax atau ngebully orang di internet, itu sama aja ngelanggar semangat Sumpah Pemuda. Harusnya bahasa Indonesia dipakai buat hal baik yang bikin kita lebih kompak, bukan buat nyakitin atau misahin orang.</p><p><br/></p><p>B) Cara biar bahasa bisa jadi alat persatuan tuh misalnya pakai media sosial buat nyebar hal positif, kayak kasih semangat, bikin konten bermanfaat, atau saling dukung sesama orang Indonesia. Jadi, bahasa Indonesia bisa bantu kita maju bareng dan tetep rukun.</p><p><br/></p><p>2. Mr. Jefri=(Opini)"Ikhtiar Menghidupkan Budaya Literasi di Tengah Defısit Ide"</p><p>A) Masalah utama: rendahnya budaya berpikir kritis dan kemampuan menghasilkan ide di tengah banjir informasi digital.</p><p><br/></p><p>B) Diperlukan pendekatan holistik yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan dialog mendalam.</p><p><br/></p><p>C) Literasi sejati: bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan mencipta gagasan baru.</p><p><br/></p><p>3. Ms Arnel:=(Essay)"Bulan Bahasa Mengukir Asa"</p><p>A) Pencapaian Bulan Bahasa selama ini yaitu banyak kegiatan seperti lomba menulis, baca puisi, dan festival sastra yang membuat orang lebih cinta bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga sudah dikenal dunia dan dipakai banyak orang.</p><p><br/></p><p>B) Yang masih kurang yaitu semangat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Banyak anak muda lebih suka pakai bahasa campuran atau singkatan. Jadi, kita perlu lebih bangga dan sering memakai bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Ms Eva=(Cerpen)“Sumpah Kita”</p><p>A) Proyek “Sumpah Kita” berhasil mengubah perspektif Lina dan Bima — mereka jadi sadar bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, tapi tindakan nyata untuk bersatu dan berkarya.</p><p><br/></p><p>B) Ide utama proyek: festival budaya di sekolah untuk memperingati Sumpah Pemuda dan menumbuhkan semangat kebersamaan.</p><p><br/></p><p>5. Mr Manalu=(Pantun)</p><p>A) Pantun itu ngasih tahu kalau sekarang banyak anak muda yang terlalu sibuk sama gadget dan media sosial, jadi semangat juang atau semangat kebangsaannya jadi berkurang. Mereka lebih fokus main HP daripada ngelakuin hal yang bermanfaat.</p><p><br/></p><p>B) Iya, kritik itu masih cocok banget buat remaja SMA Regina Caeli sekarang. Kadang kita juga lebih sering main HP daripada bantu orang lain atau belajar hal positif. Kalau dikaitin sama 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kita harus lebih proaktif, atur waktu dengan baik, dan punya tujuan supaya gadget dipakai buat hal baik, bukan malah bikin malas.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>6. Ms Vanesa=(Opini)“Sumpah Pemuda”</p><p>A) Jika hidup di tahun 1928, beliau akan ikut memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia.</p><p><br/></p><p>B) Korelasi nilai-nilai Sumpah Pemuda dengan masa kini: generasi muda harus menjaga persatuan bangsa, berani bersuara, dan tetap semangat membangun Indonesia.</p><p><br/></p><p>7. Ms Ika=(Infografis)"Literasi Membuka Dunia"</p><p>A) Literasi penting karena membantu kita berpikir kritis, memahami informasi dengan benar, dan terhindar dari hoaks.</p><p><br/></p><p>B) Jenis-jenis literasi yang perlu dikembangkan: literasi baca-tulis, literasi digital, literasi numerasi, dan literasi sains.</p><p><br/></p><p>8. Ms Tere=(Cerpen)“Jago Ngomong Bahasa Inggris, Gugup Bahasa Indonesia”</p><p>a) Konflik: Celline merasa minder dan frustrasi karena lebih lancar berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Ini mencerminkan masalah umum anak muda yang kurang bangga terhadap bahasa sendiri.</p><p>b) Pesan: cintai dan kuasai bahasa Indonesia tanpa meninggalkan bahasa asing, karena bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa.</p><p><br/></p><p>9. Ms Helda=(Puisi)"Bahasa Persatuan di Bumi Pertiwi"</p><p>A) Dalam puisi itu, bahasa Indonesia berperan penting buat menyatukan semua suku dan budaya yang berbeda di Indonesia. Walau kita punya banyak perbedaan, bahasa Indonesia bikin kita tetap bisa saling ngerti dan merasa satu bangsa.</p><p><br/></p><p>B) Pesan yang mau aku sampaikan, kita harus tetap bangga dan jaga bahasa Indonesia, apalagi di zaman modern ini. Jangan terlalu terbawa sama bahasa asing, karena bahasa Indonesia itu identitas dan simbol persatuan kita sebagai orang Indonesia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>10. Ms Herlan=(Puisi)"Nyala Jiwa Pelita Bangsa"</p><p>A) Tiga nilai yang ingin ditanamkan guru muda di puisi itu adalah semangat belajar, tanggung jawab, dan cinta tanah air.</p><p><br/></p><p>B) Cara aku buat ngelakuin tiga nilai itu misalnya terus rajin belajar biar bisa bawa perubahan, bertanggung jawab sama tugas sekolah dan kegiatan, terus ikut hal-hal positif kayak gotong royong atau bantu teman supaya bisa bikin Indonesia jadi lebih baik.</p><p><br/></p><p>11. Ms Sifra=“Sejarah Singkat Sumpah Pemuda”</p><p>-Gerakan pemuda awalnya terkotak-kotak, tapi mulai sadar pentingnya persatuan untuk melawan penjajahan.</p><p><br/></p><p>-Kongres Pemuda I tahun 1926 menjadi awal pembicaraan penting tentang persatuan nasional dan berlanjut ke Kongres Pemuda II 1928 yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.</p><p><br/></p><p>12. Mr Cello=(Esai)"Dalam Nilai Ketuhanan Sumpah Pemuda dan Spiritualitas Agama: Menyatukan Bangsa"</p><p>A) Nilai-nilai Sumpah Pemuda dapat memperkuat rasa persaudaraan antarumat beragama karena menekankan cinta kasih, persatuan, dan penghargaan terhadap keberagaman sebagai ciptaan Tuhan. Dalam semangat ini, perbedaan suku, bahasa, maupun agama tidak lagi menjadi penghalang, tetapi justru menjadi kekayaan yang menyatukan seluruh umat manusia untuk hidup rukun dan saling menghormati.</p><p><br/></p><p>B) Penting bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat spiritualitas agama dalam menjaga persatuan bangsa karena spiritualitas menumbuhkan nilai kasih, toleransi, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama. Dengan iman yang kuat dan hati yang terbuka, generasi muda dapat menjadi penjaga perdamaian dan persatuan bangsa, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun Indonesia yang harmonis dan bermartabat.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 03:15:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3657827824</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3658232578</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mam Ririn</p><p>a) Menyebarkan hoaks dan perundungan siber merupakan pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda karena “Satu Bahasa” berarti komunikasi yang membangun dan mempersatukan bangsa. Bahasa yang menyakiti orang lain justru merusak nilai persatuan.</p><p>b) Sebagai murid SMA, saya dapat menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat membangun peradaban dengan membuat konten positif di media sosial yang menebarkan semangat persatuan dan nilai kebangsaan. Dengan begitu, bahasa Indonesia menjadi sarana membangun karakter dan peradaban bangsa di era digital.</p><p><br/></p><p>2. Mr Jefri</p><p>a) Masalah utama adalah rendahnya budaya literasi di tengah banjir informasi digital yang membuat masyarakat kurang kritis dan miskin gagasan.</p><p>b) Sekolah harus melatih siswa berpikir kritis dan menganalisis masalah nyata. Mengembangkan kolaborasi dan komunitas belajar yang aktif berdiskusi dan berinovasi.</p><p>Meningkatkan literasi digital agar mampu memilah informasi dan menggunakan teknologi secara bijak.</p><p>c) Literasi sejati adalah kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.</p><p><br/></p><p>3. Ms Arnel</p><p>a) Bahasa Indonesia diakui UNESCO dan digunakan oleh lebih dari 270 juta penutur. Bulan Bahasa menjadi gerakan nasional dengan berbagai kegiatan seperti lomba menulis, membaca puisi, pidato, dan festival sastra internasional.</p><p>b) Tantangannya meliputi rendahnya minat baca dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, penggunaan bahasa yang dangkal di media sosial, serta kurangnya pemanfaatan teknologi dalam kegiatan </p><p>literasi.</p><p><br/></p><p>4. Ms Eva</p><p>a) “Sumpah Kita” mengubah pandangan Lina dan Bima yang awalnya menganggap tugas itu membosankan menjadi semangat untuk bersatu dan berkarya bagi bangsa.</p><p>b) Ide utama proyek adalah festival budaya sekolah yang menumbuhkan kebersamaan dan menghargai keberagaman melalui seni, tari daerah, dan kegiatan sosial untuk memperkuat semangat Sumpah Pemuda.</p><p><br/></p><p>5. Mr Manalu</p><p>a) Pantun ini mengkritik remaja yang terlalu sibuk dengan gadget hingga semangat perjuangan dan kepedulian sosial memudar. Pesannya agar generasi muda tidak terlena oleh teknologi dan tetap menjaga semangat persatuan.</p><p>b) Kritik ini relevan bagi siswa Regina Caeli. Sesuai 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pantun ini menekankan pentingnya iman, tanggung jawab, dan cinta tanah air agar teknologi digunakan secara bijak dan produktif.</p><p><br/></p><p>6. Ms Vanesha</p><p>a) Jika hidup pada tahun 1928, saya akan ikut berjuang lewat organisasi pemuda, menyebarkan semangat persatuan, dan menumbuhkan kesadaran nasional.</p><p>b) Nilai Sumpah Pemuda seperti persatuan, cinta tanah air, dan kebersamaan tetap relevan di era digital untuk menumbuhkan toleransi, gotong royong, dan menjaga keutuhan bangsa.</p><p><br/></p><p>7. Ms Ika</p><p>a) Literasi penting untuk membentuk cara berpikir kritis, memperluas wawasan, dan mencegah penyebaran hoaks agar seseorang mampu mengambil keputusan yang bijak.</p><p>b) Jenis literasi yang perlu dikembangkan adalah baca tulis, digital, numerasi, dan sains agar masyarakat cerdas, kritis, dan bijak dalam berteknologi.</p><p><br/></p><p>8. Ms Tere</p><p>a) Celline kesulitan menggunakan bahasa Indonesia karena terlalu terbiasa dengan bahasa Inggris, menggambarkan kondisi anak muda yang mulai meninggalkan bahasa sendiri.</p><p>b) Pesan utamanya, menguasai bahasa asing itu penting, tetapi jangan melupakan bahasa Indonesia sebagai identitas dan kebanggaan bangsa.</p><p><br/></p><p>9. Ms Helda</p><p>a) Bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu bangsa di tengah perbedaan suku dan budaya karena menumbuhkan rasa kebersamaan dan cinta tanah air.</p><p>b) Pesannya, kita harus bangga berbahasa Indonesia agar identitas dan persatuan bangsa tetap terjaga di tengah pengaruh globalisasi.</p><p><br/></p><p>10. Ms Herlan</p><p>a) Nilai-nilai utama yang ditampilkan adalah semangat belajar, kejujuran, tanggung jawab, dan cinta tanah air demi kemajuan bangsa.</p><p>b) Sikap yang dapat diteladani yaitu rajin belajar, jujur, disiplin, serta aktif mengikuti kegiatan sosial dan kebangsaan sebagai wujud cinta Indonesia.</p><p><br/></p><p>11. Ms Sifra</p><p>a) Pada masa itu, semangat persatuan belum kuat karena para pemuda masih berpikir kedaerahan. Kongres Pemuda I menumbuhkan kesadaran nasional, sedangkan Kongres Pemuda II melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.</p><p>b) Hasilnya, tumbuh semangat nasionalisme dan persatuan bangsa Indonesia sebagai dasar perjuangan menuju kemerdekaan.</p><p><br/></p><p>12. Mr Cello</p><p>a) Nilai Sumpah Pemuda memperkuat persaudaraan antarumat beragama melalui cinta kasih, persatuan, dan penghargaan terhadap sesama manusia.</p><p>b) Spiritualitas agama penting untuk memperkuat persatuan bangsa, menumbuhkan kasih, toleransi, dan semangat kebersamaan seperti yang tercermin dalam Sumpah Pemuda 1928.</p><p><br/></p><p>Jingga Queenza Nareswari</p><p>X Rousseau</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-30 07:43:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/herlanditya1420/fmw9oi91n2cruht3/wish/3658232578</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
