<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Diskusi Mitologi A by Neneng Yanti Khozanatu Lahpan</title>
      <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl</link>
      <description>Mitos dan religi merupakan dua hal yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Meski berada pada era modern dan pos-modern, masyarakat Indonesia tetap memiliki kepercayaan yang kuat kepada mitos dan religi. Salah satunya terlihat dalam merespon covid-19. Berbagai ritual dilakukan oleh sejumlah kelompok masyarakat tradisi di berbagai tempat sebagai tolak bala agar terhindar dari covid-19. Selain itu, hampir semua pemeluk agama melakukan doa-doa khusus yang dilakukan setiap hari. Diskusikan, apakah fenomena kuatnya mitos dan religi dalam menyikapi pandemi covid-19 di Indonesia berpengaruh pada daya tahan masyarakat dalam melalui masa-masa sulit pandemi ini?  Bisa diberi contoh.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-04-29 14:20:30 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-03-30 04:12:25 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Untuk masyarakat yang masih kental dalam pelaksanaan ritual (tradisi) dalam keadaan  pandemi sepeti ini kegiatan ritual tolak bala atau semcamnya pasti akan berpengaruh pada kesiapan dalam melalui masa-masa sulit saat pandemi ini. 	Tetapi kita lihat juga keadaan sosialnya dimana kenyataannya adalah kehidupan saat ini berubah tidak seperti biasanya, ini akan merubah pula tatanan kehidupan sehari-hari termasuk kesiapan diri terkait perubahan itu sendiri. 	Saat sebuah kelompok masyarakat melakukan ritual, atau kegiatan keagamaan seperti berdoa, atau upacara keaagamaan lainya mereka percaya kepada kekuatan di luar mereka untuk dapat merubah keadaan dengan pandemi covid-19 ini menjadi kadaan semula. 	Setelah segala usaha yang telah dilakukan dan melakukan pertahanan terhadap pandemi ini yang terakhir adalah juga memperkuat kepercayaan kita bahwa segala sesuatu ini bisa dilewati. 	Contohnya : Warga di Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menggelar ritual adat &quot;Tolak Bala&quot; untuk mencegah masuknya virus Corona baru atau COVID-19ke	daerah	mereka. Ritual &quot;Tolak Bala&quot; ini merupakan bagian dari kearifan budaya lokal masyarakat Witihama yang digelar untuk mencegah atau melindungi masyarakat dari berbagai	musibah	atau	malapetaka. Kegiatan ritual adat ini dipusatkan di Desa Oringbele, khususnya di area yang dikenal dengan sebutan &quot;Nama Tukan&quot;.</title>
         <author>firabunga71</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553772529</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 05:17:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553772529</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ritual Sebagai Penangkal</title>
         <author>ericputra666</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553784160</link>
         <description><![CDATA[<div>Masyarakat Indonesia seringkali melibatkan ritual sebagai penangkal, bahkan paling utama. Dalam berjalannya langsung proses penyebaran pandemi Covid-19 ini tidak bisa dipisahkan dari hal yang berkaitan dengan sebuah sistem yang sakral, misalnya berupa ritual. Kuatnya kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur menjadi sebuah kebudayaan yang tetap eksis keberadaannya. Mitos dan religi yang mereka percayai menjadi tujuan untuk bertahan. Menggelar doa bersama, ritual bersama, mungkin akan dengan cepat suatu hajat dikabulkan, dan meyakini kekuatan supernatural lewat ritual melindungi masyarakatnya dari pandemi ini. Sebagai contoh yang dilakukan Komunitas Adat Talang Jerinjing, Talang Mamak, Indragiri Hulu, Riau pada 8 April 2020 melakukan ritual adat ke makam leluhur guna untuk mencegah penyebaran COVID-19. Ritual ini juga untuk meminta perlindungan para leluhur agar menjaga kampung dari marabahaya dan berbagai jenis bencana.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 05:30:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553784160</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ritual Tolak Bala Sebagai Penguat</title>
         <author>andinpradana99</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553812301</link>
         <description><![CDATA[<div>Bagi saya sendiri, ritual yang dilakukan untuk menolak bala itu sangat berpengaruh pada pertahanan masyarakat dalam menghadapi wabah. Kenapa? karena apabila kita lihat dan pahami, sebenarnya ritual itu tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan akan suatu daya magis yang dapat melindungi manusia saja, tapi biasanya juga mengandung nasihat bagaimana menghadapi sebuah wabah, cara hidup yang sehat, dan dilarag melakukan perbuatan yang mana akan memperparah wabah. <br><br>Ritual tolak bala dilakukan sebagai upaya masyarakat dalam menguatkan diri. Apabila kita percaya setelah melakukan ritual, maka kita akan dilindungi dan wabah segera berlalu, maka mayarakat akan memiliki semangat baru untuk menghadapi krisis ini, mereka bersemangat untuk menyambut hari dimana mereka bisa hidup seperti biasanya lagi, sehingga hal ini menimbulkan rasa optimis, dan akhirnya imun tubuh pun menjadi meningkat. <br><br>Selain rasa optimis, masyarakat juga akan meraih ketenangan, seab mereka percaya bahwa ritual tolak bala ini mampu membantu mereka keluar dari wabah penyakit ini. ketenangan ini sangat penting dalam menghadapi situasi yang sulit, karena membuat masyarakat bertindak tidak sembrono, hal ini juga yang mempengaruhi masyarakat sehingga dapat bertahan dalam menghadapi pandemi.<br><br>Biasanya, dalam tolak bala itu juga berisi sebuah pantangan dan anjuran. Dari sebuah artikel yang saya baca, masyarakat Jawa memiliki sayur untuk tolak bala, yaitu sayur lodeh. Sayur lodeh berisi berbagai sayuran, dan yang saya tahu sayuran itu sangat baik untuk tubuh. dari hal ini saja kita bisa melihat, bahwa ritual tolak bala juga berisi ikhtiar untuk tetap sehat sehingga masyarakat mampu bertahan ditengah wabah corona.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 05:59:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553812301</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ghazalikodel</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553942208</link>
         <description><![CDATA[<div>Tergantung cara kita melihatnya, ritual atau tradisi tolak bala akan berpengaruh bagi daya tahan masyarakat apabila masyarakat meyakini dan melakukan nilai-nilai atau aturan / pantangan dalam tradisi tersebut. Karena dalam suatu ritual tolak bala pasti ada sebuah upaya yg berupa tindakan untuk mencegah suatu bahaya atau musibah secara langsung. Misalnya tidak memakan sesuatu yg berpotensi menimbulkan penyakit, menghindari kegiatan yg mengundang bahaya atau malapetaka dan lain-lain.<br>Namun apabila kita menggunakan sudut pandang rasional khususnya ilmu pengetahuan atau sains. Maka ritual ini tidak akan mempengaruhi daya tahan masyarakat , dikarenakan adanya alasan atau tindakan yang lebih masuk akal, efisien, efektif dalam menghindari suatu bahaya atau malapetaka. Contoh kasus pada covid 19 ini. Misal ada suatu masyarakat yang melakukan ritual tolak bala, apabila dilihat dari sudut pandang rasional. Sebuah ritual tolak bala pasti memerlukan lebih dari satu orang dan membutuhkan persiapan yg banyak untuk pelaksanaannya, maka bukannya memberi keselamatan tapi malah menimbulkan potensi bahaya,oleh karena itu ada cara yg lebih rasional dalam sudut pandang ilmu pengetahuan misalnya melakukan physical/social distancing,yang bisa dibilang lebih efektif dalam menangani covid 19 dibanding ritual tolak bala.<br><br>(fadel jamaludin ghazali)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 07:25:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553942208</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nunas Ica</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553957721</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama: Alisha Aryanti<br> <br>Ritual menjadi hal yang suatu kelompok masyarakat percayai. Dengan percaya, secara tak sadar masyarakat menjadi tersugesti akan manfaat yang dihasilkan dari adanya ritual tersebut. Dalam ritual tak jarang pemuka adat menyisipkan doa-doa agar ampuh untuk menangkal pandemi ini. Di Bali ada yang namanya ritual Nunas Ica, sebuah ritual yang lazim dilakukan ketika ada bencana alam besar. Ritual ini bertujuan untuk menolak segala penyakit, dalam kondisi saat ini, covid-19. <br>Lalu saat melakukan ritual ataupun keagamaan, masyarakat akan merasa terjaga, ketika merasa terjaga mereka tak mudah stres, stres adalah salah satu penyebab menurunnya sistem imun, ketika tidak stres sistem imun menjadi kuat. Akhirnya ritual yang dilakukan lebih kepada untuk merasa terjaga alih-alih mencegah penularan covid-19 tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 07:33:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/553957721</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Luqyana Khansa    </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554050647</link>
         <description><![CDATA[<div>Tidak semua masyarakat Indonesia percaya dan menggunakan ritual Tolak Bala, ini semua tergantung cara pandang dan keyakinan mereka masing-masing, tetapi bagi beberapa masyarakat daerah yang masih mempercayai ritual, tentu mereka akan menggunakan ritual Tolak Bala sebagai salah satu cara penangkal bencana (bahaya, penyakit, dsb) ditengah pandemi Covid-19 ini. Ritual yang mereka lakukan tentunya akan berpengaruh pada psikologis, serta ritual tersebut memiliki makna atau pesan positif bagi mereka. Salah satu contohnya masyarakat Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci menggelar ritual tolak bala. Ritual dilakukan karena adanya satu warga Kerinci yang dinyatakan positif corona. Bertepatan dengan azan Magrib, masyarakat Kerinci keluar dan mengumandangkan azan di depan rumah masing-masing. Hal ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Syeh Masjid Keramat Pulau Tengah Zainal Muktip mengatakan, sejak zaman nenek moyang warga di Pulau Tengah selalu menggelar ritual tolak bala. Mereka yakin segala bahaya seperti penyakit menular hingga bencana alam dapat diusir dengan ritual tersebut. <br> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 08:16:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554050647</guid>
      </item>
      <item>
         <title>memagari kampung dari penyakit.</title>
         <author>yusivanuralipah24</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554133871</link>
         <description><![CDATA[<div>Orang indonesia menghadapi berbagai tantangan hampir selalu diselesaikan oleh hal – hal yang berbau supernatural, contohnya ada bencana memiliki ritual nya sendiri , orang penyakitan pun mitos nya dengan harus berganti nama , dan bahkan untuk mengganti namanya pun masyarakat indonesia selalu memakai beberapa tradisi – tradisi yang berlaku di daerah setempatnya, dalam hal ini terlihat kekuatan – kekuatan seperti itu masih berlaku untuk masyarakat indonesia, atau istilah lainnya orang menyebutnya “tolak bala” , Ritual tolak bala mengandung kepercayaan terhadap adanya kekuatan alam yang harus didukung dan dipertahankan untuk mencari jalan terbaik dalam meneruskan kehidupan sehari-hari masyarakat agar dijauhkan atau terhindar dari marabahaya. Dalam hal ini tantangan yang sedang di hadapi oleh masyarakat indonesia yaitu wabah covid 19, kasus positif covid 19 terus meningkat setiap harinya  sehingga Di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, khususnya Desa Rai Samane, ada tradisi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat. Tradisi ini dengan bahasa setempat disebut "Ta Sena Moras" atau memagari kampung dari penyakit. tradisi tolak bala ini telah dilakukan oleh nenek moyang dulu, ketika penyakit-penyakit mematikan mewabah dan mengancam nyawa manusia. Sehingga masyarakat di desanya kembali menggelar tradisi ini, untuk menjauhkan masyarakat dari ancaman Corona Covid-19. Tradisi tolak bala tersebut menunjukan orang indonesia sangat percaya akan kekuatan sang pencipta seperti yang sudah dijelaskan .<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 08:51:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554133871</guid>
      </item>
      <item>
         <title>mitos dan religi dalam menyikapi covid-19</title>
         <author>hendarsaver4</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554170533</link>
         <description><![CDATA[<div>ritual tolak bala, doa bersama, doa individu, dsb. merupakan sebuah keyakinan umat manusia akan hal yang sifatnya religius dan sudah tidak bisa lagi dilakukan oleh logika doa doa dan permohonan seperti ritual sama halnya memohon kepada sang hyang, kepada sang maha kuasa. umat manusia melakukan doa atau ritual itu tergantung apa keyakinannya, iini menurut saya akan berpengaruh kepada daya tahan tubuh karena akan menjadi sugesti yang mengontrol psikologi untuk menjadikan diri semakin kuat, ketika kita yakin dan tidak takut, kita akan menjadi semakin kuat jasmani dan rohaninya. ritual tolak bala seperti ngaruat, sesajen, doa bersama, dll merupakan adat kebudayaan yang sangat kental di indonesia karena indonesia terdiri beragam suku dan kepercayaan. biasanya setiap suku memiliki ritualnya masing masing, seperti ngaruat. biasnya ngaruat dilakukan untuk menolak atau menjauhkan kita dari bahaya dan malapetaka. namun selain berdoa, menurut saya  hal yang paling pentinhg juga adalah seimbang dengan alam, kembali ke tradisi dan adat istiadat. bila kita menjaga alam, tidak serakah akan segala halnya maka alam juga akan menjaga kita, serta dalam tradisi adat istiadat, nenek moyang kita telah hidup sejak lama, mempelajari segala hal yang mereka lalui, bila kita terus mempelajari dan tidak meninggalkan pesan dari mereka, kita bisa terus menjadi lebih baik lagi dari masa ke masa, bukannya malah meninggalkan dan memasukan budaya lain yang berbeda dengan adat istiadat dan keadaan alam kita. semoga cepat pulih bumi dan alam semesta, bahagia selalu kita semua</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 09:06:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554170533</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>renetha44</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554197176</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama: renetha <br><br>Mitos atau religi memang sangat melekat pada kehidupan masyarakat Indonesia terutama masyarakat yang masih kental akan tradisi dan adat istiadat budayanya. Ini sebagian orang masih mempercayai hal-hal yang hubungannya dengan daya magis atau sebuah ritual dalam menjalani sebuah aktivitas atau untuk mencegah dan menyelamatkan diri dari bahaya atau hal-hal yang tidak di inginkan. Maka sering kita jumpai pada masyarakat tradisi yang masih melakukan sebuah ritual tolak bala atau tolak sial . Contohnya tolak bala agar terhindar dari covid-19, kita tahu bahwa virus covid 19 ini sudah sangat meresahkan dunia dan manusia sangat khawatir terhadap kesehatan, daya tahan tubuh dan lain sebagainya sehingga manusia sangat memperhatikan pola hidup sehatnya namun di samping menjaga pola hidup nya juga ada masyarakat yang memilih untuk melakukan sebuah ritual seperti tolak bala, melakukan doa-doa agar terhindar dari virus ini dan ada sebagian masyarakat yang masih mempercayai hal ini. Salah satu contoh kasus dari tradisi tolak bala untuk mencegah virus corona yaitu  sejumlah warga Solo di Jawa Tengah menggelar ritual tolak bala untuk mengusir wabah virus corona yang sedang melanda dunia ini dengan cara memasak sayur lodeh, ada juga warga yang memasang sesaji gantungan daun alang-alang dan daun opo-opo hingga cukur gundul . Hal ini memandang adat dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat adat di tengah wabah, pada dasarnya adalah untuk menjaga keseimbangan. "Masyarakat adat dengan perkembangan kehidupan yang mereka hadapi dengan segala pengetahuan mereka tentang alam, pada umumnya memiliki prinsip kehidupan bagaimana menyeimbangkan, menjaga keseimbangan tiga arah, hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dan alam sekitar dan hubungan manusia dengan alam yang di luar jangkauan manusia". Namun tidak dapat di pungkiri memang ini merupakan hal yang boleh di lakukan ini tergantung kepercayaan dari masing-masing orang, ketika masyarakat tradisi mempercayai ritual tolak bala dan lain sebagainya ini di karena sesuatu hal yang sudah di lakukan turun temurun dan menjadi warisan dari nenek moyang mereka. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 09:18:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554197176</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mitos dan Agama pada Masyarakat Jawa Dalam Mengahapi Pandemi.</title>
         <author>mochrozak10</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554500321</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam sejarah Jawa memang tercatat beberapa kali melakukan prosesi ritual untuk menanggulangi keadaan darurat seperti bencana wabah. Misalnya dengan mengkirabkan pusaka mengelilingi wilayah yang dilanda <em>pageblug</em>, perintah mengolah jenis bahan makanan tertentu untuk dikonsumsi warga agar terhindar dari bencana, dan prosesi lainnya yang bertujuan tolak bala atau menangkal bencana.Di dalam masyarakat Jawa juga melekat tradisi ilmu<em> titen,</em> yaitu mengamati anomali atau kejadian di luar kebiasaan alam atau lingkungan yang dianggap sebagai <em>sanepa</em> atau pertanda akan suatu kejadian. Misalnya pohon beringin alun-alun tumbang, bentuk awan yang aneh, termasuk juga <em>lintang kemukus</em> pertanda datangnya <em>pageblug</em> tadi. Maka <em>otha-athik gathuk</em> atau cocokologi lalu menyeruak dalam opini masyarakat Jawa dalam mengaitkan pandemi Covid-19 dengan mitos.<br><br>Menurut antropolog Clifford Geertz dalam <em>The Religion of Java</em> (1976), orang Jawa seringkali menciptakan mitos atau legitimasi melalui alam gaib untuk menerangkan sesuatu di luar akal sehat. Logika tersebut tidak serta merta bisa dipersalahkan karena memang masyarakat Jawa pada ruang dan waktu tertentu belum mendapatkan penjelasan lain selain berpijak pada hal-hal tersebut.<br><br></div><div>Logika agama dan logika mitos tersebut adalah yang paling mudah dijadikan landasan berpikir masyarakat yang tidak mendapatkan kejelasan informasi yang lebih ilmiah dari internet tentang pandemi ini. Agama seolah menjadi candu yang menenangkan pikiran dan perasaan masyarakat dalam menghadapi masalah. Dan, legitimasi mitos dirasa lebih mudah didiskusikan masyarakat daripada dipusingkan dengan data-data saintis dan medis yang bertebaran tidak terkendali serta membutuhkan klarifikasi ahli yang kompeten. Berhadapan dengan kondisi golongan masyarakat yang seperti itu semestinya pemerintah beserta <em>stakeholder</em> yang menangani bencana pandemi ini dengan sigap dan cepat hadir memberikan penjelasan dan keterangan sesuai dengan karakteristik masyarakat tersebut. Masyarakat yang berjarak dengan media informasi internet tersebut membutuhkan sosialisasi dengan bahasa yang lebih membumi sehingga mampu diterima dengan tepat. Maka Dari itu Masyarakat lebih mempercai mitos dan tanda tanda alam sekitar dalam menghadapi pandemi saat ini di banding himbauan pemerintah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 11:54:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/554500321</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Efek Tolak </title>
         <author>rizki8768</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555007662</link>
         <description><![CDATA[<div>Berdasarkan sumber yang saya baca, ritual tolak bala bukan hanya sebatas dia melakukan ritual, tapi melibatkan keyakinan yang mempengaruhi psikologis bagi para pengikut ritual tersebut, jika di hubungkan dengan pandemi ini mereka mampu bertahan, dengan kepercayaan yang mereka miliki membuat mereka terus tersugesti bahwa mereka bsa bertahan dari pandemi ini, mereka juga terus tersugesti bahwa mereka tidak akan terinfeksi. Meskipun zaman sudah modern, kepercayaan mereka yang melakukan ritual ini masih sangat kental, bahkan di beberapa daerah, ada yang melakukan ritual mingguan demi menghalau pandemi ini.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 15:00:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555007662</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555326661</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama : Heri Yanto<br><br>Fenomena kuat nya religi dan mitologi pada pendemi Covid-19, membuat beberapa kelompok masyarakat di negara ini setia menggunakan cara tolak bala dengan beberapa cara dan beberapa unsur pendukung atau sejajinya yang di gunakan, hal ini bisa di kaitkan pula dengan belum adanya obat untuk menyembuhkan virus ini.<br>Contoh nya, di daerah saya sebagian masyarakat masih percaya masih menggunakan beberapa bumbu dapur seperti bawang putih, bawah, merah, cabai merah, dan bumbu-bumbu yang beroma menyengat lainya,  yang di simpan di sela-sela dinding rumah mereka.<br>Hal ini dapat di percaya akan mengusir roh-roh jahat, penyakit, dan hal hal yang tidak di inginkan lain nya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 16:45:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555326661</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maqildaffa74</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555600131</link>
         <description><![CDATA[<div>Dalam keyakinan masyarakat indonesia, agama atau ritual - ritual lain yang berkaitan dengan kekuatan supranatural diyakini sebagai sumber kekuatan, kepercayaan kepada roh gaib yang dapat menjaga mereka dari segala macam bahaya. Seperti ritual Mekotek, ataupun Ngangluk Merana yang di adakan di bali sebagai bentuk tolak bala, yang mana dalam hal ini berkaitan dengan wabah virus covid-19 yang melanda warga dunia termasuk indonesia. <br><br>Ritual yang mereka lakukan adalah bentuk kepercayaan kepada roh gaib serta keluatan supranatural yang melindungi mereka. Bagi masyarakat muslim mungkin kebanyakan akan memanjatkan doa setelah solat maupun di waktu antara adzan dan ikomat yang dipercaya sebagai waktu dimana doa akan di dengar langsung tanpa perantara malaikat. <br><br>Tentunya mereka akan bersandar pada ritual - ritual tersebut agar di lindungi dari wabah virus ini. Selain rasa aman dan terlindungi oleh keluatan sang pencipta, saya rasa hal ini akan berkaitan langsung dengan mindset serta keadaan psikis seseorang terhadap wabah yang sedang terjadi. Dengan adanya ritual - ritual yang mereka panjatkan dan lakukan, tentu nya akan tertanam mindset yang sehat. Tentunya mindset serta keadaan psikis seseorang akan membantu sebuah tubuh untuk semakin kuat, kita tahu bahwa keadaan psikis seseorang yang buruk dapat membuat imunitas yang ada di dalam tubuh seseorang menurun, kekuatan fisik pun akan melemah sehingga dapat dengan mudah terpapar penyakit. Hal ini memang mungkin akan tidak disadari oleh orang lain dengan mudah, karena efek yang di berikan adalah efek yang tidak langsung, namun dengan jelas akan dapat di rasakan.<br><br>Sejujurnya saya teringat dengan pepatah "di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat." Yang mana jiwa yang sehat di dapatkan dengan menjalankan perintah agama yang salah satunya berupa ritual.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 18:28:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555600131</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>Didan</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555720802</link>
         <description><![CDATA[<div>Masyarakat Indonesia masih kental akan ritual budaya, telebih masyarakat yang tinggal di sekitar pedesaan. Walaupu jaman telah maju begitu pesat namun mereka masih mempercayai suatu mitos. Di tengan wabah virus seperti ini ada sebagian besar masyarakat di sunda khusus nya masih mempercayai mitos budaya nya yang di wariskan oleh leluhur nya. Seperti yang terjadi di desa ciparaya,mereka melawan covid 19 dengan mebuat sawen kemudian di simpan di atas pintu rumah mereka. Sawen bagi masyarakat sunda sendiri dapat di percaya sebagai tolak bala dan menjauhakan dari hal-hal yang buruk. Sawen sendiri pun terdiri dari bawang putih,cabe,hanjuang dan jampe-jampe.<br><br></div><div>karena ini adalah salah satu warisan dari budaya yang masih ada hingga saat ini, yang contoh nya terjadi sejak dulu adalah: masyrakat tradisi lebih mencari ilmu di banding mecari harta,pangkat dan kedudukan, seperti rela bertapa tidak makan secara berhari hari bahkanberbulan bulan. Hingga saat ini masih ada yang mempercayai, karena sejak dahulu tidak ada dokter atau ahli medis, yang ada hanya Tabib,tukang sihir,atau paranormal.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-06 19:20:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/555720802</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Moch Denta W</title>
         <author>mochdentaw17</author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/556451513</link>
         <description><![CDATA[<div>Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang masih kental dengan mitos dan religi, bahkan menjadi negara yang paling religius didunia, oleh karena itu bila ada suatu masalah yang terjadi dan diluar kemampuan mereka apalagi itu bersifat universal yang mencakup banyak orang maka sering dilakukan ritual ritual dan doa doa yang di lakukan kepada yang mereka percayai secara bersama sama agar terhidar dari masalah itu, termasuk sekarang dalam pademi covid 19 ini masyarakat indonesia banyak yang melakukan tolak bala ataupun doa doa bersama agar terhidar dari Covid19 dan ini cepat berlalu. Bagi masyarakat yang mempercayai hal itu maka itu dapat berpengaruh pada kondisi tubuh mereka, karena mereka percaya bahwa dengan di lakukannya ritual ritual itu maka akan ada yang melindungi mereka, psikis mereka akan terjaga karena tidak terlalu merasa takut karena hal itu. Rasa takut yang berlebihan akan membuat psikis terganggu dan daya tahan tubuh mengurang. Masyarakat religius juga akan lebih takut terhadap Tuhan mereka dari pada masalah mereka. Contoh kasus di tempat saya, masyarakat disini dalam menyikapi Covid 19 ini sering kali melakukan doa doa bersama agar terhindar dari pandemi ini dan segara berakhir, dan juga masih ada kegiatan agama seperti jumatan karena bagi masyarakat disini mereka lebih takut pada Tuhan mereka dari pada pandemi ini, meskipun begitu langkah langkah yang nyata agar terhindar dari kasus ini tetap dilakukan, seperti diwajibkannya menjaga jarak, membawa sajadah sendiri mencuci tangan dan menggunakan handsanitaizer, ada pengecekan suhu tubuh, dan menggunakan masker. Dengan sering dilakukan nya doa bersama, masyarakat disini percaya bahwa Tuhan pasti akan melindungin mereka, dan rasa takut akan corona berkurang, sehingga daya tahan tubuhnya tetap terjaga, dan di tempat saya sampai sekarang tidak ada kasus positif, pdp maupun odp. Masyarakat disini tetap dalam religius nya mereka tetapi tak mengacukan juga aturan pemerintah, Dan semoga kita semua tetap terjaga dan terhindar dari pademi ini.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-07 05:23:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/556451513</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/584020531</link>
         <description><![CDATA[<div>sebagai masyarakat indonesia tentunya mitos dan religi masih kuat, apa lagi di daerah tradisional mereka masih sangat percaya dengan adanya mitos atau larangan dahulu yang akan mengakibatkan bahayaa, dengan adanya virus ini tentunya berbagai masyarakat yang mempercayai dengan adanya penangkal penyakit akan mereka lakukan seperti hal nya tolak bala yang dipercaya bisa menyembuh kan dan menangkal penyakit dengan melakukan doa, dan menghidari dengan kuat atas adanya wabah tersebut dengan ini ritual pun untuk memanjatkan doa pada yang maha esa, dan pada leluhur untuk menyampaikan bahwa mereka sedang terkena ancaman, mereka percya bahwa ini bisa menangkal wabah tersebut, -nindita putri andari</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-20 05:21:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nengyanti78/f8r7o84lpmpxbhxl/wish/584020531</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
