<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Bimbingan 1 by LATIPUN</title>
      <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal</link>
      <description>Judul dan Abstrak</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2017-07-14 23:18:17 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-03-23 14:28:32 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Membuat judul dan abstrak</title>
         <author>latipun</author>
         <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178739130</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya minta Anda dapat menuliskan permasalahan dan membuat abstrak rencana tesis Anda.<br>Caranya adalah: klik tanda plus disisi kanan bawah, maka kaan muncul kotak putih, dan tuliskan permasalahan dan abstrak Anda.<br>Selesai tulis, selesai</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-07-14 23:20:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178739130</guid>
      </item>
      <item>
         <title>meningkatkan semangat hidup pada penderita penyakit systemic lupus erythematosus (SLE) dengan menggunakan terapi berpikir positif</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178739581</link>
         <description><![CDATA[<div>Lupus adalah penyakit autoimun dimana sistem imunitas atau sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara jelas dan gejaa yang dirasakan oleh penderita dapat datang secara tiba-tiba dan berkembang secara perlahan-lahan lalu menetap baik secara sementara kemudian kambuh lagi maupun menetap dalam jangka waktu yang lama.&nbsp;</div><div>Lupus dijuluki juga sebagai penyakit 1000 wajah karena penyakit ini banyak ditemui gejalanya mirip dengan gejala penyakit yang lainnya. Kesulitan diagnosa inilah yang menyebabkan penanganan lupus menjadi kurang tepat dan bahkan terlambat diketahui. Beberapa hal yang dapat menyebabkan lupus kambuh adalah pikiran, stress, emosi yang tidak stabil, kelelahan, serta paparan sinar matahari langsung.</div><div>Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa penderita lupus sebagian besar dari mereka pada awalnya merasakan beberapa gejala ringan dalam waktu yang cukup lama dan bahkan beberapa tidak merasakan sama sekali sebelum tiba-tiba mengalami serangan yang parah. Hal inilah yang membuat penderita merasa sangat tertekan, depresi, cemas, mengalami perubahan emosi yang tidak stabil, terpuruk dan merasa tidak berdaya.</div><div>Berdasarkan jurnal pernelitian yang telah ada, terapi obat yang telah diberikan kepada penderita lupus hanya bertujuan untuk mengurangi sering munculnya gejala, mencegah kerusakan organ dalam serta meminimalkan dampaknya pada penderita. Beberapa pelatihan untuk mengelola emosi dan cara coping stress juga seringkali diberikan kepada penderita dengan harapan penderita dapat mengelola emosi dengan baik sehingga dapat mengurangi tingkat stress dan meminimalkan kambuhnya gejala lupus. Terapi berpikir positif sangat dibutuhkan para penderita lupus agar penderita dapat melanjutkan hidupnya dengan penuh semangat dan optimis.&nbsp;</div><div><br><br>Dyah Rani Ayu E.K<br>201610500211015</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-07-14 23:39:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178739581</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Intervensi Integratif berbasis Mindfulness untuk Menangani Ketergantungan pada Pecandu NAPZA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178740554</link>
         <description><![CDATA[<div>Penyalahgunaan NAPZA adalah masalah yang menjadi permasalahan mendunia yang paling banyak terjadi. Hal yang menjadi fokus permasalahan adalah para pecandu telah mendapatkan penanganan selama menjalani rehabilitasi, namun masih dapat mengalami relapse atau kambuh bahkan dalam periode waktu yang cenderung cepat. Permasalahan ini mengacu pada kurang efektifnya penanganan yang diberikan kepada pengguna NAPZA sehingga periode kambuh dapat muncul kembali dengan mudah. Tidak efektifnya rangkaian program rehabilitasi sehingga pecandu mengalami relapse dapat disebabkan oleh kurang tepatnya sasaran program tersebut di dalam memberikan penanganan kepada pecandu.  Paradigma pemulihan berpendapat bahwa solusi untuk mencegah kambuhnya pecandu NAPZA adalah sangat bergantung kepada individu pecandu dan lingkungan yang bersangkutan. Dimana solusi yang diajukan dapat menjelaskan secara mengena terkait dengan prinsip dari intervensi dan praktek-praktek yang dapat lebih meningkatkan inisiasi dan pemeliharaan upaya pemulihan pecandu, sehingga kemungkinan untuk relapse dapat diturunkan. <br>Hal yang paling penting yang harus diberikan dalam serangkaian intervensi dalam bentuk terapi psikologis adalah dengan mengintegrasikan beberapa pendekatan psikologi. Selain upaya merestrukturisasi kognitif, menumbuhkan kesadaran (Mindfulness) yang kuat kepada pecandu merupakan skill yang penting untuk diberikan. Menumbuhkan kesadaran ini juga berupaya agar klien lebih dapat memahami secara internal bahwa hidup ini layak dijalani dengan positif tanpa harus menggunakan obat. Upaya menumbuhkan kesadaran melalui terapi psikologi ini masih belum menjadi fokus utama atas  penanganan yang diberikan kepada pecandu mengingat banyaknya literatur dan pedoman klinis yang hanya menyebutkan Cognitive Behavioral Therapy sebagai terapi psikologis utama di dalam penanganannya. Upaya penanganan dari aspek terapi psikologis tentunya akan menjadi lebih efektif apabila ada integrasi antara CBT dan juga pemberian skill Mindfulness individu itu sendiri sebagai terapi psikologis utama. Sementara itu, terapi psikologis tersebut dapat ditunjang dengan model penanganan yang disusun secara integratif dari lingkungan dengan melakukan intervensi komunitas, penanganan berbasis spiritualitas dan konseling kelompok.<br><br>Tia Safira<br>201610500211020<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-07-15 00:39:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178740554</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178740796</link>
         <description><![CDATA[<div>Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif) sudah menjadi fenomena umum di dunia termasuk di Negara Indonesia. Banyak dari pengguna NAPZA yang sudah melakukan rehabilitasi tetapi kembali menjadi pengguna setelah keluar dari panti rehabilitasi atau setelah mendapatkan penanganan. Terdapat beberapa penyebab kembalinya para pengguna menggunakan NAPZA setelah mendapatkan penanganan. Salah satunya adalah kemungkinan bahwa penanganan yang diberikan kurang efektif untuk para pecandu dikarenakan penanganan yang diberikan kurang menumbuhkan kesadaran diri dari dalam diri pecandu.&nbsp; Terapi yang sering kali digunakan untuk menangani pecandu adalah dengan menggunakan Cognitif Behaviour Therapy dimana terapis merekstrurisasi pemikiran pecandu serta memodofikasi perilaku dari pecandu. Oleh karena itu pada penelitian ini peneliti ingin memformulasi terapi yang ada dengan penambahan beberapa sesi terapi dengan menggabungkan antara CBT (<em>Cognitif Behaviour Therapy</em>) dengan pendekatan humanistic, dimana peneliti akan menambahkan sisi humanis untuk dapat meningkatkan dan memperkuat kesadaran diri dari pecandu untuk tidak kembali menjadi pengguna NAPZA.&nbsp;<br><br>Nur Alina Saidah&nbsp;<br>201610500211007</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-07-15 00:56:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178740796</guid>
      </item>
      <item>
         <title>EBI (Effective Brief Intervention) Sebagai Model Terapi Rawat Jalan Pecandu Narkoba</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178741353</link>
         <description><![CDATA[<div>Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh BNN dan Puslitkes UI (BNN, 2015) memperkirakan jumlah penyalahguna Narkoba sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang atau sekitar 2,10% sampai 2,25% dari total seluruh penduduk Indonesia yang berisiko terpapar narkoba di tahun 2014. Jika dibandingkan studi tahun 2011, angka prevalensi tersebut relatif stabil (2,2%) tetapi terjadi kenaikan bila dibandingkan hasil studi tahun 2008 (1,9%). Hasil proyeksi perhitungan penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 skenario, yaitu skenario naik, skenario stabil, dan skenario turun. Pada skenario naik, jumlah penyalahguna akan meningkat dari 4,1 juta (2014) menjadi 5,0 juta orang (2020). Sementara bila skenario turun akan menjadi 3,7 juta orang (2020). Hal tersebut membuktikan bahwa jumlah pengguna Narkoba meningkat cukup pesat setiap tahunnya. Seperti yang diungkapkan Presiden RI, Indonesia Darurat Narkoba pada tahun 2015, menunjukkan bagaimana pentingnya masalah tersebut untuk dapat segera diatasi. Berbagai program telah disusun dan dikerjakan secara gotongroyong oleh berbagai elemen masyarakat dan lintas sektoral. Berbagai dampak dapat ditimbulkan dari penyalahgunaan Narkoba, tidak hanya masalah hukum dan keamanan namun juga masalah ekonomi serta kesehatan fisik dan mental generasi penerus bangsa.</div><div>BNN bersama lembaga rehabilitasi instansi pemerintah dan komponen masyarakat yang mendapatkan dukungan dari BNN telah melaksanakan program rehabilitasi kepada 38.427 pecandu dan korban penyalahgunaan Narkotika di seluruh wilayah Indonesia (BNN, 2015). Namun dari banyaknya pecandu yang telah mendapatkan rehabilitasi tidak semuanya dapat mempertahankan kondisi <em>abstinent</em>-nya. Beberapa kembali menggunakan Narkoba lagi, baik pada fase <em>lapse</em> maupun <em>relapse</em>. Program rehabilitasi terdiri dari berbagai macam, mulai dari pendekatan komunitas maupun individu. Demikian pula dengan metode yang digunakan, seperti metode <em>in-patient</em> dengan pendekatan <em>terapeutic community</em>, CBT, 12 langkah maupun dengan meode rawat jalan yang akan menjadi fokus penelitian. Metode rawat jalan dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan dan biasanya diberikan pada klien dengan kategori penggunaan situasional dan rekreasional yang biasa dikenal dengan SBIRT (<em>Screening Brief Intervention and Referral to Treatment</em>).  </div><div>Banyaknya klien yang kembali <em>relapse</em> dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya kurang efektif-nya program rehabilitasi yang telah mereka lakukan maupun kurang terinternalisasinya program-program yang diberikan, tidak adanya dukungan dari keluarga setelah klien selesai menjalani proses rehabilitasi rawat jalan karena selama proses terapi tidak melibatkan keluarga. Tidak tahu akan tujuan dan tidak dapat menentukan arah serta mengambil keputusan setelah berada pada lingkungan yang tidak terkontrol. Serta tidak diberikannya bekal <em>relapse prevention</em> pada saat proses terapi. </div><div>            Dari masalah diatas, maka dipandang perlu untuk membuat suatu inovasi model terapi yang efektif namun juga singkat sesuai dengan kebutuhan klien dengan tujuan <em>abstinance</em> dan mencegah kekambuhan. Seperti halnya SBIRT yang hanya dengan 8 kali pertemuan, formula terapi baru ini juga dilakukan dengan rawat jalan sebanyak 8 kali pertemuan, namun dengan menggabungkan beberapa metode yang seperti 12 langkah, CBT, <em>motivational enhancement</em>, pemberian <em>relapse prevention</em> serta pelibatan keluarga dalam proses terapi. Sehingga, diharapkan memberikan dampak dan efektifitas terapi yang lebih tinggi.  </div><div> </div><div><strong>Referensi </strong></div><div>BNN. 2015. <em>Laporan akhir Survey Nasional Perkembangan Penyalahguna Narkoba Tahun Anggaran 2014</em>. Jakarta: Badan Narkotika Nasional.</div><div>BNN. 2015. <em>Press Release Akhir Tahun 2015</em>. Jakarta: Badan Narkotika Nasional.<br><br>Aldila Putri Karindra<br>201610500211011</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-07-15 01:27:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178741353</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Intervensi Kelompok dengan Pendekatan Spiritual-Humanistik untuk Meningkatkan Kepatuhan Pola Hidup Sehat penderita Diabetes Melitus. </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178741644</link>
         <description><![CDATA[<div>Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang muncul tanpa disadari oleh penderitanya. Kurangnya pemahaman terhadap penyakit ini seringkali menjadikan penyakit ini menjadi terlambat untuk ditangani. Penyakit tersebut bisa disadari saat kondisi penderita cukup parah sehingga membuat penderita memiliki beban yang yang cukup berat baik secara psikologis maupun materi. Beban psikologis yang diterima oleh penderita karena penyakit tersebut membuat kebanyakan penderita semakin pasrah dalam melawan penyakitnya. Perilaku tersebut kemudian membuat penderita menjadi tidak patuh terhadap prosedur penanganan yang diberikan untuk mengurangi keparahan dari diabetes melitus itu sendiri. Salah satunya adalah ketidak patuhan penderita dalam melaksanakan diet atau menjalankan pola hidup sehat untuk menyeimbangkan kadar gula yang masuk.<br><br></div><div>Sejauh ini, salah satu bentuk terapi yang diberikan kepada penderita diabetes melitus adalah terapi berpikir positif, berdasarkan penelitian oleh Marthan 2013 bahwa terapi berpikir postif dapat mengurangi depresi penderita DM. Selain hal tersebut, terdapat pula terapi relaksasi untuk mengatasi stressor harian dan mengurangi kecemasan pada penderita. Berdasarkan penelitian oleh Maghfiroh, dkk 2015 bahwa terapi relaksasi otot tersebut tidak berpengaruh terhadap pola perawatan diri penderita DM terutama untuk mengikuti pola hidup sehat. Dari terapi yang diberikan tersebut, masih banyak penderita diabetes melitus yang tidak patuh terhadap prosedur perawatan untuk diet dan mengikuti pola makn sehat. Ketika gula dara sudah turun, justru perilaku diet tersebut ditinggalkan dan gula darah kembali naik bahkan lebih tinggi. Terapi tersebut dianggap kurang efektif dalam membentuk pola hidup sehat pada penderita karena terapi tersebut hanya menningkatkan penerimaan, menurunkan kecemasan serta menurunkan depresi pada penderita. Sedangkan dalam meingkatkan kepauthan terhadap pola hidup sehat terutama untuk menjalankan diet menurut penelitian yang dilakukan oleh Gustina dkk, 2014 dukungan keluarga dan motivasi merupakan factor yang paling penting.<br><br></div><div>Dari permasalahan diatas, maka untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pola hidup sehat untuk penedrita DM diperlukan sebuah penaganan atau terapi yang diberikan secara berkelompok, yang berbentuk aktivitas dengan pendekatan humanistik yang ditambahkan dengan spiritual dengan harapan penderita DM akan memiliki motivasi yang baik untuk saling mendukung dalam mematuhi pola hidup sehat.<br><br></div><div>Referensi&nbsp;<br><br></div><div>Gustina, dkk. 2014. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kepatuhan Diet Diabetes Melitus pada Pasien DM. Jakarta. Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta III, <em>Vol. 2 No. 3 Nopember 2014, hlm 97-107</em></div><div><em>Marthan, Prayoga Aji, dkk. 2013. </em>Pengaruh Pelatihan berpikir Positif terhadap Depresi pada Penderita diabetes Melitus. Prediksi, Kajian Ilmiah Psikologi No 1, Vol. 2, Januari -&nbsp; Juni 2013, hal. 29&nbsp; -&nbsp; 33</div><div>Maghfiroh, Sholihatul, dkk. 2015. Relaksasi otot progresif terhadap stress psikologis dan Perilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes Melitus tipe 2. Jurnal Kesehatan Masyarakat&nbsp; KEMAS 10 (2) (2015) 137-146<br><br>oleh :<br>Muthia Maharani-201610500211013</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-07-15 01:43:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/latipun/f54t99lgal/wish/178741644</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
