<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>[MERAKI] W3: Hope by syaa</title>
      <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-06-27 05:26:08 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-07-09 05:36:39 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Harapan Yang Tabu</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240044903</link>
         <description><![CDATA[<div>Cahaya remang dari lampu belajar menemaniku malam ini. Hanya ada suara jangkrik dan lembaran buku yang terdengar. Hari ini aku belajar sampai malam lagi.. Namun tidak apa, toh nilaiku akan tetap bagus jika terus terusan belajar seperti ini. Aku juga senang jika melihat senyuman tersirat diwajah orang tuaku saat mereka melihat nilaiku.<br><br>Disekolah saat ini tengah mengadakan acara tahunan. Maklum ujian sudah selesai, para guru dan murid kini melepas lelah dan bersenang senang. Sekarang aku tengah melihat acara <em>fashion show</em>. Whoah, aku tidak pernah tau kalau banyak siswa dan siswi yang tampan dan cantik disini.<br><br>"Andai kita menawan seperti mereka," Ujar teman yang berada disampingku saat ini. "Pasti banyak yang mengagumi kita! Pasti kita bisa seperti mereka"<br><br>Yah, aku berharap aku bisa seperti mereka.<br><br>Bel sekolah berseru dengan kencang, waktunya untuk pulang bagi para murid. Tapi tidak untuk diriku.. Walau sudah selesai ujian aku harus tetap menghadiri salah satu ekstrakulikuler yang ku ikuti. Aku mengikuti beberapa eskul, seperti beladiri taekwondo, klub robotik, dan melukis. Temanku selalu bilang itu terlalu banyak, jadi aku keluar dari eskul melukis. Kurasa melukis tidak terlalu penting, itu hanya hobi ku semata.<br><br>Kini aku tengah mengerjakan projek di ruang lab robotik. Aku berhasil menggerakan ciptaanku! Kerenkan?? Bahkan guru pembinaku kagum dengan hasilnya. Ia berharap aku memenangkan sebuah lomba dengan hasil karyaku. Tentu aku bersemangat, siapa yang tak mau memenangkan sebuah lomba? Apalagi hadiahnya lumayan.<br><br>Hah.. Lelah sekali, rasanya aku ingin tidur seharian. Tapi aku masih harus membereskan rumah. Yah, agar aku lebih rajin dan tidak bermalas malasan lagi. Aku menyapu ruang tamu, dimana adikku tengah menonton TV dengan santainya. Ia sedang menonton acara tentang orang orang yang sukses dan memiliki banyak kekayaan. <br><br>"Kak, enak ya jadi mereka.. Adek pengen deh punya banyak uang kaya mereka.. Adek bisa beli apa aja yang adek mau.. Adek mau beli banyak mainan! Adek harap adek punya uang banyak," Lucu sekali tingkahnya, ia memang sangat boros dan menyukai uang. Aku jadi berpikir.. Enak juga ya memiliki uang yang banyak.<br><br>Aku mulai memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan uang selagi bersekolah. Aku ingin punya uang sendiri.. Yah setidaknya cukup untuk bekal ku sendiri, tak usah terlalu besar. Laptop ku nyalakan, aku segera berseluncur di internet, mencari segala peluang untuk mendapatkan uang. Lalu aku melihatnya, sebuah postingan yang bertuliskan '<em>freelancer writer</em>' kurasa itu bisa! Aku cukup pandai dalam hal tulis menulis.. Baiklah! Akan ku daftarkan diriku sendiri dan mendapat uang~<br><br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br><br>Hari ini hari dimana laporan nilai semesterku dibagikan. Dengan perasaan yang santai aku memasuki ruangan dengan kedua orang tuaku, tak usah gugup. Nilaiku selalu besar. Begitulah kira kira.. Sampai wali kelasku bilang bahwa nilaiku menurun.. Aku bukan lagi juara kelas. Alih alih melihat senyum di kedua wajah orang tuaku, aku melihat raut wajah kekecewaan. Kenapa..? Kenapa nilai ku turun? Padahal aku sudah berusaha keras! Padahal.. Padahal.. Aku masih sering belajar sampai larut malam..<br><br>Dirumah aku menatap diriku di cermin dengan tatapan kekecewaan yang sama. Bisa bisanya aku membiarkan nilaiku turun. Aku membenci hal ini.. Biasanya tidak seperti ini. Biasanya semuanya berjalan dengan baik. Lihatlah itu, wajah menjijikan dipantulan cermin. Sungguh sangat jelek dan tak enak dipandang.. Aku membenci mukaku yang kusam. Kenapa aku tak bisa menjadi lebih menawan? Kenapa? Kenapa aku tak punya tubuh yang ideal..? Tidak adil, sungguh tidak adil.<br><br>Kubaringkan tubuhku diatas ranjang yang empuk, memeluk guling kesayangan yang sudah apek. Sepertinya aku mulai jarang membersihkan rumah lagi.. Aku jadi pemalas. Kupejamkan mataku, berharap untuk tidur. Namun aku malah mengingat kekalahan pahit ku diperlombaan kemarin. Padahal biasanya aku selalu mendapatkan juara.. Padahal biasanya aku selalu mengalahkan yang lain.<br><br>Kubuka laptopku, berharap bisa mengalihkan pikiranku dengan menulis. Kubuka progam menulisku, menempatkan jari jariku diatas keyboard. Namun aku malah terbujur kaku, tidak ada satupun kata yang bisa ku ketik. Tidak ada yang terpikirkan sama sekali.. Biasanya aku tak pernah kesulitan dalam menulis.. Biasanya aku bisa mengalirkan pikiranku kedalam bentuk tulisan yang indah.. Kenapa? Kenapa sekarang tidak bisa?<br><br>Kenapa?<br>KENAPA??<br>Kenapa aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar sekarang?! Kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang biasa kulakukan dengan mudah? Apakah kini aku menjadi seonggok daging tak berguna?<br><br>Aku hanya berharap untuk menjadi pintar<br>Aku hanya berharap nilaiku kembali naik<br>Aku hanya berharap bahwa aku ini lebih menawan<br>Aku hanya berharap untuk disukai oleh banyak orang<br>Aku hanya berharap untuk menjadi seorang pemenang<br>Aku hanya berharap—<br><br>....<br>.<br>.<br>.<br>&nbsp;<br>Lalu disaat itu aku menyadari, bahwa semua harapan itu bukan untukku. Melainkan untuk orang lain.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:20:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240044903</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suwesait Skuat</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240046584</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>"Hope for All"</strong><br><br>Siapa sih yang membuat kata "<em>Hope</em>" itu? Allan selalu berpikiran kalau kata itu sangat tabu. Di dalamnya banyak kebohongan semata-mata untuk kesenangan dan sebuah keinginan palsu yang bahkan belum tentu terkabul karena itu pengharapan masa depan, tidak seperti "<em>Wish</em>" yakni pengharapan atau bisa dibilang penyesalan pada masa lalu. <br><br>Betapa Allan nyaris putus asa, apa motivasinya? Hal yang ia punya hanyalah "<em>Hope</em>" atau harapan akan masa depan itu yang ingin ia raih. Sayang sekali sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda negara tercintanya yang sedang berada di ambang kehancuran karena banyaknya konflik tidak kunjung terlihat akan bangun kembali atau masalah mulai berkurang, sedikitpun tidak ada. <br><br>Ia sudah mencoba semampunya, diam-diam mempentung petinggi yang seenak jidatnya bergelimang harta hanya untuk kepentingannya pribadi, menyerukan pembaruan sistem pilkada memakai kostum badut mekdi kala adanya perseteruan perebutan tanah hak sengketa, atau mengendarai pesawat <em>odong-odong</em> dan menggambarkan kalimat di langit memakai asap warna-warni yang biasanya untuk <em>party smoke</em> yaitu "<em>HOPE FOR ALL</em>"; alih-alih terlihat, setelahnya badai musim pun melanda membuat usahanya sia-sia. Membuatnya ingin meng- <em>namikaze</em> kan diri, paling terakhir yang ia lakukan- meminta presenter bernama Ngenes Monikah buat menyebarkan seruannya, gagal? Membuahkan hasil, sedikit namun setidaknya setengah gagal. <br><br>Negara ini sedang di ujung tanduk, keadilan sebatas hanya di atas kertas, kenyataannya tempat yang digadang-gadang tidak ada masa depan ini di dalam kehancuran karena apa? Keadilan itu tidak ada. Satu dari semua aspek yang paling krusial, dan Allan di sana berusaha memberikan harapan atau <em>HOPE</em> kepada semua orang, semua orang yang ia temui dan mampu menerima pikiran positifnya. <br><br>Namun, <em>every start has their the end. </em>Semuanya pasti akan ikut hancur pada waktunya, ia terpuruk, semua anggotanya terbilas bersih seperti kutu berpindah kubu akibat ideologi dari seorang petinggi tersohor yang pandai memanipulasi bernama Juleha. <br><br>Harapannya, ia ingin sekali mendapat pencerahan- dan setiap pencerahan ada kegelapan. Nuggeto Komaedi datang saat ia sedang berekreasi kedalam penjara yang sekarang tidak ada napi ataupun petugas berjaga didalamnya. <br><br>"Cahaya harapan pasti mengirimkanmu, tidak salah lagi! Harapan agung pastilah yang mengutusmu!" Itulah kalimat yang pertama kali ia katakan, memberikan kesan pertama bahwa bisa Allan simpulkan; kemungkinan dia orang gila. <br><br>Allan mencoba menghindarinya, tapi tetap saja, orang yang mengaku bernama Nuggeto Komaedi itu mengekorinya kemanapun ia pergi, sambil menggumamkan betapa hebatnya sebuah harapan dan menyanjungnya tiada henti. <br><br>"Siapa kau sebenarnya?!" Siapa yang tidak merasa risih bila di ikuti oleh orang asing yang bahkan tidak dikenalinya? Allan merasa demikian. <br><br>"Nuggeto Komaedi, aku percaya kaulah yang menjadi cahaya harapan negeri yang rusak ini!" Lagi-lagi membicarakan soal harapan yang ia sanjung, ia menggenggam kedua tangan Allan lalu berkata, <br><br>"Harapan itu sedang tertidur dalam dirimu, hanya kaulah yang bisa membangunkannya sekaligus membangun kembali semua kekacauan! Oh, tidak kusangka aku menemuimu secepat ini, kukira tahun depan atau kapan ... " <br><br>Allan dibuat merinding, bergegaslah ia mengambil langkah belakang, berbalik lalu berlari meninggalkan orang tidak waras tersebut. Tetapi sialnya, di ujung koridor ternyata sebuah jalan buntu, hanya ada lubang besar yang langsung mengarahkannya untuk melompat (dan dia tidak bisa, ia sedang berada di lantai empat. Kebetulan yang luar biasa.) <br><br>Ia perlahan-lahan mengambil langkah kebelakang, sambil tetap melihat kearah koridor dimana Nuegito- Nagetio- siapalah itu muncul dari sana. <br><br>Dengan wajahnya yang penuh obsesi tentang harapan, ia terlihat seperti <em>serial killer</em> yang berhasil memojokkan korbannya. Mengerikan memang, dengan rambut dan penampilannya yang tak kalah <em>horror</em>, bisa dipastikan Allan menjemput ajalnya disini. <br><br>"Untuk apa kau takut? Harapan berada di pihakmu, karena itu kau bisa bangga," Dengan senyuman seolah dapat menyaingi <em>Pennywise</em> yang terancam badut itu kehilangan pekerjaannya. "Biarkan aku ikut denganmu ke jalan harapan agung, dan melihat harapan bangun seperti yang orang nantikan." <br><br>Allan tak punya pilihan, orang sinting ini mau tak mau ia bawa ke petualangannya dalam mengalahkan Juleha. Ia tidak tahu ia akan menyesalinya nanti, tetapi biarkan ia rehat sejenak dari semua hal yang memangkas kewarasannya termasuk sesuatu bernama Nuggeto Komaedi. <br><br>"Baiklah, dengan satu kondisi, jauh-jauh dariku." Allan mengultimatum agar Nuggeto Komaedi setidaknya berjarak tiga langkah darinya. <br><br>"Ahahaha~ baik, baik~" <br><br>Dan sebenarnya, ini di tengah lancar dan tidak. Kenapa ia bilang begitu? Ia kembali bertemu bala bantuan-- sebuah bintang laut merah muda yang otaknya <em>kopong</em> tak berisi namun serba guna, juga sebuah tupai gila sains yang sebenarnya membantu, tetapi semakin lama kenormalannya patut dipertanyakan. <br><br>Contohnya ketika mereka bertemu <em>mad scientist</em> yang se-frekuensi dengan tupai aneh itu, mereka lalu beradu IQ tetapi kalah telak setelah batu peliharaan raksasa milik si bintang laut merah muda menimpa mereka berdua. Untunglah tidak ada yang tewas di tempat. Nuggeto membantu tatkala mereka berhadapan dengan kambing qurban <em>gigantus</em>, dengan sekali tendangan kerikil, sebuah longsor terjadi dan menenggelamkan kambing itu ke dalam tanah. Allan tidak tahu bagaimana caranya, tetapi semoga hal sakti itu tidak akan menyakiti siapapun dalam <em>Suicide Squad </em>dadakan ini walau makhluknya ajaib semua. <br><br>Ia pasti berhalusinasi. Tetapi siapa peduli? Setidaknya Allan bisa berpetualang untuk menyelamatkan negaranya berlandaskan harapan. Dan drama. <br><br>Long story short, tak lama setelah adegan yang mampu memercikkan aura kebodohan itu, mereka akhirnya sampai ke <em>The Final Boss.</em><br><br>"Tidak lagi putus asa, Allan?" Tanya Juleha yang sedang duduk di singgasananya yang ia dapatkan hasil mencuri dari <em>IKEA</em>. <br><br>"Tidak seperti ekspetasimu yang menganggap aku menyerah begitu saja, Juleha!" Allan berseru. "Aku juga membawa pasukanku!" <br><br>Dengan begitu, akhirnya perang besar antara dua kubu resmi dimulai. <br><br>Mencapai harapan dibutuhnya pengorbanan. Materil, moral ataupun fisik diberikan, demi tujuan itu. Dan itulah yang sedang Allan lakukan, demi negaranya. Dari awal ia sudah mempersiapkan mentalnya untuk ini, namun ketika saat itu datang, ia tak pernah mengharapkannya untuk terjadi. <br><br>Nuggeto, diubah menjadi naget oleh Juleha dengan bantuan sihir dari pertapa aing maung. Allan ingat kata-kata terakhir yang ia berikan sebelum dirinya menjadi naget, dilahap oleh batu raksasa milik si bintang laut merah muda. <br><br>"Sayang sekali aku tidak bisa melihat hingga akhir, tetapi asal lo tau ya dek; harapan akan terus berjaya." <br><br>Dan akhirnya ia pun tewas seketika. <em>The Legends of Nuggeto Komaedi</em> akan senantiasa diingat warga negara <em>Wahyudirnia</em>. Hal yang sama terjadi kepada si bintang laut merah muda dan juga peliharaannya, sang majikan menjadi bintang laut yang tak bisa bicara dan peliharaannya pun kini menjadi batu biasa. <br><br>Tupai gila sains itu di detik-detik terakhir kemenangan mereka, akhirnya dipindahkan ke <em>Texas</em> oleh sihir yang dilontarkan dukun gunung salak sebelum dukun itu mati. Tidak ada yang tersisa dari pasukan Allan maupun Juleha yang sekarang tidak memiliki apa-apa selain mulutnya yang bau neraka. <br><br>"Karirmu sudah selesai, Juleha." Ucap Allan sambil menodongkan ujung pedangnya yang runcing ke leher petinggi laknat tersebut. <br><br>"Kau begitu kuat, Allan. Kita bisa meninggalkan semua ini dan pergi menguasai duni--" <br><br>Sebelum Juleha sempat menyelesaikan kalimatnya, ia tak lagi bisa mengeluarkan suara. Begitu perih, begitu menyakitkan. Apalagi ketika Allan menargetkan pedangnya kearah logo perdamaian negara itu yang dengan lancangnya masih terlekat di seragam bagian dada sang petinggi-- atau sekarang boleh Allan bilang; <em>pengkhianat</em>. Lalu memutuskan untuk menancapkan pedangnya ke sana. <br><br>"Tidak ada lagi kedamaian ketika orang sepertimu masih tersisa di dunia." Allan bergumam kearah Juleha yang nampak sekarat itu. <br><br>"<em>Adios, ma pren.</em>" <br><br>Lalu Allan pergi begitu saja, kembali melanjutkan perjuangannya setelah sang <em>Final Boss</em> berhasil ditaklukkannya, walau ia masih belum rela pengorbanan dibutuhkan demi harapannya. <br><br>Sebuah harapan yang kini tak pernah padam, bagai sumpah setia dengan nama teman-temannya. <br><br><em>Suwesait skuat </em>telah melaksanakan tugas mereka. <br><br><em>And every end has their own start.</em><br><br><strong><em>Tamat.</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:28:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240046584</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Weltschmerz</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240047069</link>
         <description><![CDATA[<div><em>Apa yang kau harapkan dari dunia kacau ini?</em><br><br>Negara saat itu porak-poranda. Anak itu tak tahu apa yang akan terjadi padanya.<br>Padahal ia limpahkan seluruh prasetya kepada sang pemimpin, yang kini membinasakan seluruh makhluk yang serupa dengannya.<br>Harapnya sirna.<br><br>Bungsu dari keluarga Vogel itu meratap di balik kawat berduri. Ia menggaruk tubuhnya yang kotor dalam balutan seragam garis-garis.<br><br>"Aloysius?"&nbsp;<br>Seseorang memanggilnya dari belakang. Malaikat. Itu yang ia pikir pertama kali.<br>Senyumnya merekah ketika orang itu menyerahkan sepotong roti padanya.<br><br>"Vielen dank, Fritz."<br>Ia mengunyah roti itu dengan lahap. Tampak sekali ia begitu lapar.<br><br>"Maaf, saya tak bisa membawakan untuk keluargamu-"<br>"Mereka sudah di ruang gas, tak perlu."<br>Aloysius menggeleng. Wajahnya tetap datar.<br><br>"Oh, saya tak tahu. Turut berdukacita untuk itu." Fritz melepas topi cokelatnya.&nbsp;<br>Aloysius tertawa melambai pelan.<br>"Tak usah berdukacita untuk itu, Fritz."&nbsp;<br><br>"Ah, ya. Kau benar. Kita tak bersalah untuk itu."<br>Fritz tersenyum. Meloloskan tangannya di sela-sela kawat untuk mengelus pucuk kepala Aloysius. Betapa ia menyayangi anak yang dianggap seperti adiknya ini.<br>Betapa ia berharap melihat senyum senang anak ini di langit bebas terbuka.<br><br>"Fritz, bapak-bapak kemarin bilang jadwalku untuk masuk ruang gas itu semakin dekat."<br><br>"Ada yang bisa kubantu, Aloy?"<br>Wajahnya menjadi serius. Ia tahu betul hal ini. Hari itu akan jadi hari piketnya untuk mengawasi pergerakan tahanan ke ruang gas. Ia harus melakukan sesuatu. Mengkhianati sepertujuhbelasjuta bagian dari negaranya tak akan lebih buruk dibanding mengkhianati satu-satunya temannya.&nbsp;<br><br>Fritz tahu, fisik Aloysius sama sekali tidak mirip seorang Yahudi. Ia mirip dengan ras Arya lainnya. Rambut pirang dengan manik mata cerah, ia seperti makhluk Tuhan yang diberi kemudahan.<br>Ia mengangguk penuh tekad.<br>Mengadaptasi harapan Aloysius dalam harapannya.<br><br>"Akan saya bantu. Tidak usah khawatir, Bruder. Saya akan memberikan keselamatan padamu."<br>Sambil tersenyum tegas. Pemuda naif itu menyanggupi permintaan temannya.<br><br>* * *<br><br>Tenggat waktu sudah mencapai ujungnya. Dalam barisan garis-garis, ada Aloysius disana.<br>Tidak terlihat temannya. Ah, mungkin ia dikhianati. Mungkin memang salahnya terlalu berharap pada yang tidak mungkin terjadi.<br><br>Beberapa ratus meter lagi dari ruang kematian itu. Nomornya sudah dicatat oleh salah satu sipir.<br>Tinggal beberapa langkah lagi dari ruang makamnya itu. Ledakan dari balik bangunan suplai tiba-tiba berdentum. Terdengar memekakkan. Disusul belasan lainnya. Titik-titik api mulai menyebar di seluruh kamp.<br><br>Di tengah kerusuhan dan kepanikan, sebuah tangan berdarah terjulur menarik lengan Aloysius.<br><br>"Ikuti aku!" Serunya.<br>Pemuda bodoh itu. Ia benar-benar memenuhi keinginan temannya. Nekat sekali. Bahkan Aloysius kehilangan akal sehatnya melihat badan penuh luka bakar itu.<br><br>Mereka berlari melintasi kepulan asap yang menghitam. Pekikan alarm terasa memusingkan.&nbsp;<br>Seorang Hitlerjugend dan seorang Yahudi. Mereka yang meninggalkan segalanya demi ideal masa depan mereka sendiri.<br><br>Fritz membawanya jauh dari kamp. Seragam cokelatnya kotor, sarat akan debu dan dosa.&nbsp;<br>Ia membawanya meloloskan diri ke salah satu desa. Terisak bahagia melihat anak itu baik-baik saja.<br><br>"Bruder! Kau bebas! Saya benar-benar melakukannya!" Ia mendekap Aloysius yang masih menatap kosong. Masih terkejut dengan semua hal tadi.<br><br>"Oh, sepertinya kau masih terlalu kaget. Tapi kita tak punya banyak waktu."&nbsp;<br>Ia melayangkan pandangannya ke arah barat.<br>"Ke barat. Larilah ke Frankreich. Saya dengar disana belum dikuasai tentara kita." Ia mengusap darah di pelipisnya.<br><br>"Dan ... Fritz?? Bagaimana dengan Fritz?" Anak yang belum genap 13 tahun itu mencengkram seragam temannya.<br><br>"Saya akan baik-baik saja. Pergilah. Tidak akan ada yang melihatmu sebagai seorang Yahudi."&nbsp;<br>Lebih gila lagi. Pemuda itu menyerahkan tas kulit berisi pakaian dan beberapa lencana.<br><br>"Kau pasti bisa melakukannya. Berpeganglah pada iman dan harapmu."<br><br>* * *<br><br>"Oh, remaja kecil yang malang! Tunggu sebentar, akan kubawa kau ke rumahku."<br><br>"Eloise, ia seorang Jerman! Lihatlah koran pagi ini. Mereka kembali membombardir pangkalan militer kita. Dan dirimu malah membantu salah satu dari mereka?!"<br><br>"Ayolah, sayang. Ia hanya anak kecil. Dan ia korban. Lihatlah, tidak mungkin si kecil ini menjadi mata-mata. Bahkan perbekalan saja ia tak punya. Benarkan? Teman kecilku yang manis~"<br><br><br>Ayah Fritz digantung di tengah kota. Ibunya juga. Mungkin begitu juga dengan kakak-kakaknya. Bahkan tidak heran jika Fritz sendiri juga dieksekusi.<br>Kepala anak itu rasanya mau meledak memikirkan segala pengorbanan yang dilakukan temannya yang ceroboh itu.<br>Tapi Fritz benar, waktunya tak banyak.<br>Keinginan Fritz dan dia sama-sama mengharapkan keselamatan. Ia harus mewujudkannya sekarang.<br><br>Anak itu mengangguk.<br>"Iya, Tante!"<br>Mengawali sandiwaranya untuk bertahan hidup.<br><br><strong>END&nbsp;</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:31:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240047069</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pelangi</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240047856</link>
         <description><![CDATA[<div><em>"lihat ini.. akan ada bunkasai lagi lho!"<br>"Serius? Dimana tuh?"<br>"di mall simpang 10"</em><br><br><em>"uuu.. lihat bayi ini.. lucu dan menggemaskan ya.."<br><br>"ini untukmu"<br>"Ahh.. bunga yang indah.. terimakasih.."<br><br>"Kak! Lihat!! Itu pelangi"</em><br><br><br>"Menyenangkan ya?.." Ucapku sembari tersenyum manis. Seperti biasa, aku duduk diatas bangku taman sembari menikmati suasana ramai disana. Rutinitas ku setiap sore hari tentunya.<br><br>"<em>Prim?</em>" sebuah suara berat dan sedikit serak terdengar memanggil namaku. Disusul langkah kaki tegap yang semakin lama terdengar mendekatiku.<br><br><em>"Maaf jika ku terlalu lama menjemputmu."&nbsp; <br></em>"Tidak apa apa kok.."<em><br>"Ayo pulang"</em><br>"......"<br><em>"Kenapa?"<br></em>"Bisakah kita pulang sebentar lagi?.."<em><br>"Huft, baiklah."</em><br><br>Ku dengar bila pria itu duduk di sampingku. Nafasnya terdengar sedikit tak beraturan. Sepertinya dirinya habis berlarian. Mungkin olahraga sore.<br><br>Cukup lama aku dan dirinya duduk di taman itu. Menikmati keramaian serta angin yang bertiup perlahan menjadi sejuk. Sebuah tangan menyentuh tanganku, membuat ku menoleh padanya.<br><br><em>"Sudah saatnya."</em><br>"Baik.."<br><br>Aku berdiri, dibantu olehnya. Berjalan menuju ke rumah sembari bergandengan tangan. Sepanjang perjalanan, dirinya menjagaku layaknya seorang ayah menjaga anak gadisnya. Bahkan sebelum sampai rumah, ia menyempatkan diri membeli beberapa roti yang akan dimakan bersama ketika sampai di rumah.<br><br>Keramaian yang tiada henti, padahal kota dimana aku tinggal bukanlah kota besar. Tentunya itu membuat aku takjub. Terdengar seperti sebuah hal kecil nan biasa, tetapi membuatku senang karena bisa tinggal di kota ini.<br><br><em>"Oh, Primrose.. kemarilah.. aku rindu padamu"</em><br>"Pastor Helios!"<br><br>Aku berlari ke arah pria tersebut dan memeluknya dengan erat. Seperti yang aku bilang sebelumnya, ia adalah pastor sekaligus pengurus panti asuhan. <br><br>Oh! Aku belum bilang ya? Maafkan aku. Namaku Primrose Almark dan aku tinggal di panti asuhan ini. Pastor Helios adalah orang tuaku! Bukan orang tua kandung, tetapi pastor Helios lah yang merawatku sejak bayi. Kata pastor, aku ditemukan tepat didepan pintu Gereja. Benar, aku dibuang oleh orang tua asliku. Tapi itu tak penting! Hehe<br><br><br>"<em>Luke, tak ingin dipeluk?</em>" Tanya Pastor kepada temanku yang telah bersamaku sejak tadi. Aku pun menoleh kepadanya sembari tersenyum manis.<br><br>"<em>Tidak</em>" Ucapnya yang kemudian berjalan ke arah dapur.<br><br>"<em>Dulu dia selalu memelukku.. sekarang sudah tak lagi.. duhh..</em>"<br>"Pastor jangan sedih! Aku akan terus memeluk pastor sampai kapanpun!"<br>"<em>Uuu.. kamu memang yang terbaik, Primrose</em>"<br><br>Pastor mengelus surai blonde milikku dengan lembut bahkan memelukku dengan erat. Rasanya begitu senang. Aku bersyukur bisa kenal dan bersama dengan pastor.<br><br>"<em>Oh iya.. ada hadiah dikamar mu.. pergilah</em>.."<br><br>Pastor melepas pelukannya dan menepuk-nepuk pelan kepalaku. Mendengar bila ada hadiah untukku, tentu membuatku bergegas ke kamar.<br><br>'Kira-kira apa yang dibawa pastor ya?'&nbsp; Batinku bertanya-tanya. Kebiasaan pastor jika pulang sehabis berpergian, dirinya pasti membawakan hadiah untuk setiap anak-anak panti. Ketika sampai di kamar, aku langsung pergi ke kasur. <br><br>'Tidak ada apapun. Pasti di atas meja.' Sesuai dugaan, ada sebuah buku yang terletak diatas meja. Ah, aku sangat suka dengan buku. <br><br>"Akan aku baca esok hari."<br><br>Esok hari pun tiba, aku berdiri didepan jendela. Mendengar suara rintikan hujan yang membasahi jendela serta halaman. <br><br>'Semoga hujan cepat berhenti.' Batinku meminta pada Tuhan Yang Maha Esa agar hujan segera berhenti dan aku bisa pergi ke taman lagi.<br><br>Aku duduk di atas kasur, “membaca” buku pemberian pastor sembari memakan roti yang dibelikan Luke kemarin. <br><br>Buku itu sangat menarik. Aku senang sekali. Dan aku terus “membaca” buku itu, merabanya halaman demi halaman. Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu memecah fokusku.<br><br>"<em>Mau pergi ke taman</em>?" Itu suara Luke.<br><br>"Tunggu dulu.. bukankah masih hujan?"<br><br>"<em>Hujan sudah berhenti sejak tadi.</em>"<br><br>Aku tersenyum kecil. Meletakkan buku tadi diatas meja segera mengambil jaketku dan meletakkannya diatas meja. <br><br>"Ayo!"<br>"<em>Hmm</em>."<br>"Ah! Tunggu sebentar"<br><br>Aku kembali masuk ke dalam, mengambil sebuah tongkat yang bersandar disamping meja. <br><br>"Aku.. ingin berjalan sendiri.. temani aku saja.."<br>"<em>Baiklah</em>.."<br><br>Aku tersenyum manis kepada Luke. Untunglah dirinya paham. Sedikit merapikan poniku agar mataku tertutup oleh poni, menutup mataku yang terlihat aneh karena berwarna putih. Kemudian ku berjalan disamping Luke. Ketika sudah diluar panti asuhan, aku menggunakan tongkat tadi sebagai penuntun jalan untukku.<br><br>Benar. Aku tunanetra atau bisa dibilang buta. Sejak lahir. Pastor menemukanku di depan pintu Gereja. Anehnya aku tetap diam, membuat pastor panik. Ketika di periksa, keadaanku baik-baik saja, namun aku tak bisa melihat. Sejak dulu hingga sekarang, hanya kegelapan sepanjang mataku memandang.<br><br>"Luke.. apakah muncul pelangi?"<br><em>"Hmm.. ya."</em><br>"Apakah itu indah?"<br><em>"Tentu.."</em><br>"Aku.. ingin sekali melihatnya.."<br><br>... Walau itu sekali seumur hidupku. Walau itu adalah hal terakhir yang ku lihat. Tak apa.<br><br><strong>- THE END -</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:35:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240047856</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Failed Promise</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240048512</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebagai anak tidak sah, dia tidak memiliki harapan. Mungkin lebih tepatnya, dia tidak bisa mengharapkan apapun?<br><br>Ibunya, demi mendapatkan hidup mewah yang dia impikan, rela ditiduri oleh seorang pria mabuk yang diketahui sebagai penerus sebuah perusahaan ternama seluruh negara. Ibunya berencana menggunakan kehamilannya sebagai ancaman untuk membuat pria itu menikahinya secara sah sebagai istri kedua.<br><br>Ya, pria itu telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang lebih tua tujuh tahun darinya. <br><br>Rencana ibunya berhasil. Bahkan, keberhasilan rencananya berada di luar ekspetasi.<br><br>Karena, pria yang diketahui sebagai ayah biologisnya, diceraikan oleh istrinya. <br><br>Berita itu cukup menggegerkan publik, karena 'ayah'nya diketahui sangat mencintai keluarganya dan menghargai mereka. Apa yang mendasari istrinya menceraikan suaminya dan membawa putri mereka kembali ke kampung halamannya?<br><br>Musuh bisnis 'ayah'nya tentu saja tidak tinggal diam. Mereka memanfaatkan cela itu dengan baik dan memulai gosip tentang bagaimana 'ayah'nya selingkuh dengan wanita lain. <br><br>Karena kejadian itu, bisnis yang dipegang oleh 'ayah'nya goyah. Ibunya yang hanya tahu berfoya-foya juga sama sekali tidak membantu.<br><br>Keluarga 'ayah'nya, yang tidak menyukai kehadirannya dan ibunya dalam kehidupan mereka memilih menutup mata saat 'ayah'nya berada tepat diambang kehancurannya.<br><br>Hanya 2 tahun setelah itu, 'ayah'nya menemui kematiannya. Ibunya yang sudah setengah gila sejak 'ayah'nya bangkrut menjadi semakin gila. Dia tidak ragu memukuli, menendang, ataupun menganiayanya saat suasana hatinya sedang tidak baik.<br><br>Sebagai anak berusia 5 tahun, dia tidak dapat melakukan apapun. Dia juga tidak boleh mengharapkan apapun.<br><br><del>Sebagai anak yang lahir dengan menghancurkan kebahagiaan sebuah keluarga yang sempurna, dia tidak pantas mengharapkan apapun.</del><br><br>Karena itu, dia juga tidak pernah berpikir sekalipun dirinya akan bertemu dengan anak perempuan yang mirip dengannya. Sosok yang secara biologis diketahui sebagai kakak setengah darahnya.<br><br>Saat itu, beberapa percakapan yang dia dengar dari para pelayan di rumah utama terlintas di kepalanya. Percakapan itu memiliki topik yang sama, yaitu tentang nona mereka yang malang.<br><br>"... Amethyst Alexandria Mercer...?"<br><br>Anak perempuan dengan rambut hitam lurus hampir sepinggang menaiki sebelah alisnya. Mata ungu yang identik dengannya tampak bersinar di antara kegelapan gudang tempat ibunya mengurungnya.<br><br>"Kau mengenalku? Bagus. Jadi, aku tidak perlu repot-repot untuk menjelaskannya kepadamu."<br><br>Dia mengedipkan matanya sekali, dua kali. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Itu pikiran yang sangat aneh baginya, karena dia biasanya dapat menebak dan memperkirakan apa yang akan terjadi.<br><br>Karena itu dia hanya dapat diam dan tetap diam saat dibawa ke tempat yang disebut rumah sakit dan menerima perawatan untuk luka-lukanya.<br><br>"Siapa namamu?"<br><br>"... Jesper."<br><br>"... Pelacur itu benar-benar sangat menjengkelkan bahkan setelah dia mati–"<br><br>Dia tidak dapat mendengar apa yang dikatakan gadis dihadapannya setelah itu.<br><br>'<em>Ma... Ti? Apa? Aku... Tidak mendapat firasat apapun mengenai hal itu, lalu kenapa?'</em><br><br>Ironisnya, dia masih mencintai ibunya setelah semua perlakuan kasar yang didapatkannya.<br><br>Karena itu, dia tidak bisa tidak menangis setelah Amethyst mengatakan tentang overdosis narkoba dan alkohol yang dialami ibunya.<br><br>Ternyata, alasan dirinya terkurung selama tiga hari di gudang adalah karena ibunya meninggal dua hari sebelumnya. Mata-mata yang dikirim Amethyst untuk mengawasi mereka menemukan kejanggalan setelah memperhatikan ibunya tetap tidak meninggalkan rumah di hari ketiga. Begitu laporan itu diterima oleh Amethyst, dia segera kembali ke negara kelahirannya dan menemukan anak malnutrisi di gudang.<br><br>Dia tidak ingat bagaimana dirinya berakhir dipelukan Amethyst dan nangis selama berjam-jam.<br><br>"Sudah tenang?"<br><br>Bisikan halus itu memaksakan dia membuka matanya yang terasa berat. <br><br>"Kau anak yang sangat baik, ya. Padahal ibumu jelas-jelas hanya menganggapmu alat untuk meraup kekayaan Keluarga Mercer. Tapi, kau tetap menyayanginya."<br><br>Itu seharusnya bukan sesuatu yang boleh dikatakan pada seorang anak. Tapi, Amethyst tetap memilih mengatakan. Toh, sejak awal dia dan anak dipelukannya bukanlah anak biasa.<br><br>Si anak mengerjapkan matanya sebelum membuka mulutnya.<br><br>"Apa... Arti nama 'Jesper' seburuk itu?"<br><br>"Tidak juga. Tapi, nama itu tidak cocok untuk seorang Mercer. Ditambah kau juga memiliki mata Alexandria. Itu membuat nama 'Jesper' dua kali lipat tidak cocok denganmu."<br><br>"... Aku bukan Mercer?"<br><br>"... Siapa yang mengatakan itu?"<br><br>"... Nyonya Aretha?"<br><br>"Sungguh wanita tua bangkotan yang sangat kekanak-kanakan."<br><br>'<em>Beliau itu nenekmu dari pihak ayahmu, loh?</em>'<br><br>"Aku akan mengurus itu. Pokoknya, mulai saat ini, namamu adalah Urien. Aku tidak menerima protes ataupun penolakan."<br><br>Sama seperti sebelumnya, dia tetap diam. Bahkan saat Amethyst membawanya ke rumah utama dan dengan kepercayaan diri yang luar biasa, gadis itu menerobos ke ruang kerja sang nenek.<br><br>Hasil dari perundingan yang hampir menjerumus ke perdebatan itu membuatnya mendapatkan marga 'Alexandria' di belakang namanya. Jadi, dia adalah Urien Alexandria sekarang.<br><br>"Sial. Kalau saja paman brengsek itu tidak ada di sana, aku pasti bisa memasukanmu ke daftar anggota keluarga Mercer."<br><br>Dia berpura-pura tidak mendengar umpatan itu dan tetap menikmati eskrim pertamanya—<br><br>"Apa yang kau lamunkan sampai senyum-senyum tidak jelas seperti itu?"<br><br>"Ah, Kakak? Selamat datang."<br><br>Urien meletakan kembali selang air di tangannya pada tempatnya dan berjalan mendekati Amethyst.<br><br>"Aku pulang. Jadi, apa yang kau pikirkan, hm? Apakah adikku ini sudah mendapatkan pacar tanpa kuketahui?"<br><br>"Tidak! Bukankah kakak sendiri tahu itu mustahil?"<br><br>"Kenapa mustahil? Adikku sangat tampan, bagaimana tidak ada wanita yang menyukainya?"<br><br>"Berhenti menggodaku!"<br><br>Amethyst menyeringai saat mendengar rengekan adiknya yang wajahnya sudah menjadi semerah tomat.<br><br>"Baik, baiklah. Jadi, ada apa?"<br><br>"Hanya mengingat masa lalu. Kalau dipikir-pikir, bukankah pertemuan pertama kita cukup unik?"<br><br>"Ya, sangat unik. Aku sama sekali tidak menyangka makhluk kurus yang kukira mayat itu ternyata adikku yang sangat tam–"<br><br>"Kakak~!"<br><br>"Hanya bercanda, tapi yang kukatakan tentang wajahmu itu benar–"<br><br>Percakapan yang mengambil wajah Urien sebagai topik utama pun berlangsung selama beberapa menit dan akhirnya berhenti setelah Amethyst mengingat hal penting yang harus disampaikannya.<br><br>"Oh, ya. Sepertinya, aku harus pergi selama seminggu untuk mengurus perusahaan di negara X."<br><br>"Kakak pergi lagi?"<br><br>"Maaf, Urien. Sepupu laknat itu benar-benar memperbudakku. Padahal masih ada yang lain selain aku."<br><br>Amethyst mengusap-usap puncak kepala adiknya yang memiliki ekspresi sedih di wajahnya. Itu dapat dimengerti. Karena bagaimanapun, satu-satunya orang yang anak itu anggap keluarganya baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya, tapi harus pergi lagi. <br><br>Tidak tahan dengan kekecewaan yang tertampang jelas di wajah Urien, Amethyst pun secara spontan mengatakan apapun yang ada di kepalanya.<br><br>"Bagaimana kalau kita pergi liburan setelah aku kembali?"<br><br>"Liburan?"<br><br>"Ya. Bukankah kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama?"<br><br>"Baik! Aku akan menunggu!"<br><br>Melihat raut wajah Urien yang menjadi lebih bersemangat, membuat Amethyst turut ikut tersenyum.<br><br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br><br><strong>[ BERITA TERKINI! SEPUPU WINNIE MERCER, AMETHYST ALEXANDRIA MERCER, MENINGGAL DUNIA SETELAH MENGALAMI KECELAKAAN TUNGGAL DI JALAN TOL! ]</strong><br><br><strong>===<br>END</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:38:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240048512</guid>
      </item>
      <item>
         <title>False Hope</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240048982</link>
         <description><![CDATA[<div><em>Syuut! Set set ... ssk!</em><br><br>"Seperti ini, dan ... ah, gawat, cat merahnya habis!" pekik pemuda itu dengan pelan, lalu meletakkan kuasnya pada gelas berair keruh. Ia celingukan, mencari tabung cat merah yang—ia harap—masih berisi. Puluhan tabung cat yang berserakan di atas meja semakin berantakan karena ia acak.<br><br>"Ah, ketemu!" Ia segera membuka tutupnya dan meremas tabung itu dengan semangat. Kosong.<br><br>Pundak pemuda itu merosot dengan kecewa. "Ugh, harusnya aku minta Cheshire membelikanku cat baru sebelum dia pergi," keluhnya, setitik air mata imajiner nampak jelas di sudut matanya. Memang cat yang ia miliki ada lusinan bahkan puluhan, tapi tak satu pun warna yang ada cocok di lukisannya, menurut pemuda itu. <em>Haah, mungkin ada baiknya kucoba mencampur warna—</em><br><br>"Anda mencari beta, Tuan?"<br><br>Pemuda itu segera membalikkan badannya, menghadap sisi lain <em>platform</em> tanpa dinding itu. Di antara angkasa semu bertabur bintang itu, ada sebuah pintu yang terbuka.&nbsp; Di dalamnya, terdapat sosok yang ia kenal betul. <br><br>Mata pemuda itu berbinar. "Cheshire! Selamat datang kembali!" sambutnya.<br><br>Cheshire menutup pintu itu, yang kemudian lenyap menjadi debu emas dan abu. Ia menurunkan topi hitam tingginya dan sedikit membungkuk. "Beta kembali, Tuan Afta," balasnya.<br><br>Afta menggelengkan kepala dan menghela, menutup netra ametis-safirnya sambil berkata, "Sudah kubilang tidak perlu memanggilku 'Tuan'. Panggil saja namaku seperti biasa."<br><br>"Ahaha, maafkan beta. Itu hanya sekadar formalitas." Cheshire kembali berdiri tegap. Topi di tangannya seketika berubah menjadi kupu-kupu merah dan terbang ke arah Afta. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, lalu kupu-kupu itu mendarat di pundak pemuda bersurai putih bersih itu dan berubah menjadi tabung cat merah berukuran sedang. Pemuda itu panik dan mencoba menangkap tabung yang langsung terjun bebas dari pundaknya. Sayang sekali, refleknya kurang cepat. Tabung cat itu keburu mencium marmer hitam di bawahnya.<br><br>Afta membungkuk untuk mengambil cat itu. Namun, sebelum jarinya sempat menyentuhnya, tabung itu sudah melayang. Ia menegakkan tubuhnya perlahan, mengikuti gerakan tabung itu sebelum terhenti di tengah udara. Jari-jari yang dilapisi sarung tangan putih muncul satu per satu di sekeliling tabung itu, diikuti lengan hingga badan dan kaki. Seringai lebar khas orang itu terlihat jelas sebelum wajahnya muncul.<br><br>"Ini yang Anda cari, bukan?" tanyanya tanpa dosa.<br><br><em>Amethyst</em> dan safir bertemu <em>emerald</em>. Jika bukan karena cat yang disodorkan padanya, Afta pasti sudah tenggelam dalam lautan <em>emerald</em> penuh misteri itu. "I-iya, benar. Terima kasih," jawabnya, sedikit tergagap.<br><br>Cheshire menarik kembali tangannya begitu cat itu sampai di tangan Afta. Ia menatap pemuda itu—yang sedang menuang cat ke palet di atas meja sambil bersenandung—lalu melihat kanvas di sampingnya. Sebuah lukisan yang sederhana dan belum selesai—ia bisa tahu hanya dalam sekali lihat. Masih ada beberapa bagian yang belum selesai diwarnai.<br><br>Terdapat lima orang anak bersurai putih salju—dengan kombinasi warna mata berbeda-beda—dalam suatu ruangan bernuansa klasik. Dua anak laki-laki dan sisanya perempuan. Sepasang laki-laki dan perempuan berdiri di belakang sofa, sementara tiga lainnya duduk. Pandangan mereka tertuju pada anak di tengah, yang tak lain selain Afta sendiri. Mereka semua tersenyum lebar, bahkan ada yang tertawa. Cheshire hanya menebak, namun lukisan itu terlihat menggambarkan kakak-beradik yang sedang bersenda gurau.<br><br>"Suasana hati Anda sepertinya sedang baik. Apa yang Anda mimpikan kali ini?"<br><br>Afta berbalik, palet dan kuas di tangan. Ia menjawab dengan senyum kecil sambil lanjut melukis, "Aku tidak begitu ingat, tapi ... aku dan kakak-kakakku saling berbagi cerita. Aku tidak ingat apa yang aku ceritakan, tapi semuanya tertawa! Mereka tertawa, aku ikut tertawa. Dadaku jadi hangat rasanya. Lalu ...."<br><br>Netra ungu-biru itu tampak berbinar selama pemuda itu bercerita. Meski begitu, tangannya tetap tidak berhenti menorehkan cat pada kanvas di depannya. Dia benar-benar gembira, seperti anak yang baru saja kembali dari piknik keluarga. Sampai ....<br><br>"Hei, Cheshire ...." Afta berhenti menggerakkan kuasnya, pandangan ia alihkan pada kaki easel di depannya. Suasana riang yang menerangi ruang itu sirna, digantikan oleh suram yang dibalut kesedihan.<br><br>"Kapan aku bisa bertemu kakak-kakakku lagi ...?" Afta mengeratkan genggaman pada kuas di tangannya. Kata-kata yang ingin ia lontarkan tercekat di tenggorokannya. Dadanya terasa sesak, tapi kenapa? Rindu akan keluarganya? Kesepian? Merasa tertinggal? Ia tidak tahu lagi. Ia ingin menangis, namun air mata tak mampu ia tumpahkan.<br><br>Cheshire tak pernah melepas pandangannya dari anak itu barang sedetik pun. Ekspresinya memang tidak terbaca, namun sorot matanya menyiratkan rasa bersalah. Ia menarik napas perlahan sebelum ambil selangkah maju dan memegang pundak Afta, mencoba menenangkannya.<br><br>"Anda pasti akan segera bertemu lagi dengan kakak-kakak Anda. Beta janji, beta akan segera mempertemukan Anda kembali dengan kakak-kakak Anda. Anda hanya perlu bersabar sampai saat itu tiba," ucapnya dengan lembut. Namun, ia tahu, kata-kata kosong itu tidak cukup untuk membuat pundak pemuda itu berhenti bergetar.<br><br>Kuas coklat kecil nan ramping itu lolos dari genggaman Afta. Ia berbalik dan menyandarkan kepalanya pada dada Cheshire, tangan yang tadinya memegang kuas kini meremas jas marun yang dipakai pria itu.<br><br>"Tapi, sampai kapan aku harus bersabar ...?" lirih Afta, sebelum kehilangan kesadaran. Jika bukan karena tubuh Cheshire yang menopangnya, ia pasti sudah ambruk ke marmer hitam dingin di bawahnya.<br><br>Cheshire tidak menjawab. Meskipun skenario seperti ini sering terjadi, bohong jika ia bilang ia tidak terluka tiap kali melihat Afta hancur seperti ini di hadapannya. Pandangannya menerawang, kilas balik sejenak akan apa yang telah menimpa kakak-kakak Afta. Lalu, matanya terpejam. Ia menghela dalam diam. Benar, bagaimanapun juga, <em>dialah yang menyebabkan Afta berada dalam situasi ini sejak awal.</em><br><br>Ia mengelus kepala anak itu perlahan dan kembali berbisik, "Tidak lama lagi, Afta. Tidak lama lagi."<br><br>♠♠♠<br><br>Sudah satu jam berlalu sejak Afta kembali ke kamarnya. Lukisan yang masih belum selesai telah dipindahkan ke sana bersama easel-nya. Pemuda itu terlelap tanpa suara, namun setitik air mata masih berbekas dengan jelas di sudut matanya. Apa yang ia mimpikan? Hanya ia yang tahu.<br><br>Di sisi lain, Cheshire sedang duduk di tepi platform persegi kecil. Satu kaki ia tekuk ke atas, sementara yang lain menggantung pada kekosongan tanpa batas di bawahnya. Lengan ia sandarkan pada lutut yang ia tekuk, sementara pandangan menerawang pada angkasa semu buatannya sendiri. Tidak terlalu gelap, namun tidak terang pula. Sama seperti suasana hati penciptanya saat ini.<br><br>"Biasanya kau akan minum teh di waktu seperti ini," tegur suara dari seberkas cahaya merah kecil di belakangnya, "sepertinya kejadian tadi membuatmu syok, ya."<br><br>Cheshire mendengus. "Dan beta pikir kau akan mogok bicara setelah pembicaraan tempo hari," balasnya dengan sinis.<br><br>Suara itu menghiraukannya dan melanjutkan, "Sampai kapan kau akan memberinya harapan palsu seperti ini?"<br><br>"Apa maksudmu?"<br><br>"Jangan pura-pura tidak tahu. Afta bukanlah anak yang bodoh. Mental anak itu memang belum dewasa, tapi cepat atau lambat dia pasti sadar ada yang salah. Sudah lebih dari empat abad sejak kau mengurungnya di sini. Segel ingatan yang kau berikan padanya pun tak akan bertahan selamanya. Kapan kau akan memberitahukan kebenaran padanya?"<br><br>Cheshire terdiam, lalu tersenyum kecut. <em>Ah, memang hanya </em><strong><em>dia</em></strong><em> yang paling mengerti dirinya.</em><br><br>"Akan ada masanya, tapi tidak sekarang. Dan apa yang beta katakan itu bukan harapan palsu," jawab pria bersurai ungu dengan sedikit abu pada ujungnya itu, "kau harusnya tahu itu."<br><br>Meskipun suara itu tidak memiliki tubuh fisik, Cheshire bisa membayangkan alis pemilik suara itu mengerut. "Teruslah bermimpi. Meskipun anak-anak itu bereinkarnasi, ingatan mereka tidak akan terbawa. Apa yang akan kau lakukan ketika Afta bertemu reinkarnasi kakaknya? Memperkenalkan mereka berdua dengan berkata, 'Halo, ini adik/kakakmu dari kehidupan sebelumnya'. Begitu?"<br><br>Cheshire malah terkekeh pelan. "Heh, selera humormu memang bagus dari era ke era."<br><br>"Aku serius," ketus suara itu. Pria itu yakin suara itu sedang cemberut sekarang.<br><br>Tawa Cheshire perlahan mereda, yang kemudian digantikan dengan senyum sendu. "Memang hanya ada satu cara untuk mempertemukan anak-anak itu kembali di era ini. Tapi," tuturnya sambil menjentikkan jari, "masih ada kesempatan agar anak-anak itu tetap bersama tanpa mengalami rangkaian tragedi ini."<br><br>Seberkas cahaya muncul di atas tangan Cheshire, yang kemudian berubah menjadi jam pasir dan mendarat tepat di atas telapak tangannya. Rangka luar yang menghias gelasnya berwarna putih dengan ukiran emas. Satu-satunya hal yang mengganjal adalah nihilnya komponen utama benda itu: pasir.<br><br>"Jam pasir Chronos," gumam suara itu, "kau benar-benar mau melakukan 'itu'?"<br><br>Cheshire mengangguk dan mengangkat jam pasir itu ke atas wajahnya. Netra <em>emerald</em> memandangi gelas transparan tanpa cacat itu. "Beta-lah yang membuat anak-anak tak bersalah itu menanggung dosa besar. Sudah sepatutnya beta yang menuai apa yang beta tabur," terangnya, "benar, bukan?"<br><br>"Tapi, kalau kau melakukannya ...." Suara itu berhenti dan digantikan dengan helaan lelah. "Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu."<br><br>Cheshire kembali terkekeh. "Meskipun hanya kesadaranmu yang tersisa, kepribadianmu tidak pernah berubah, ya."<br><br>"Cukup, aku lelah. Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali." Suara itu terdiam sejenak sebelum berpesan, "Dan ingat: kau masih bisa membayar dosamu dengan melindungi anak-anak itu di era yang kejam ini."<br><br>"Tanpa kau beritahu pun, beta sudah tahu," balas pria itu, "selamat malam, Alice."<br><br>Berkas cahaya merah itu lenyap, meninggalkan Cheshire dalam keheningan malam semu.<br><br>"... Baiklah, sudah cukup waktu istirahatnya." Ia berdiri dan mengenakan topi hitam tinggi yang ia munculkan entah dari mana. Tongkat jalan dengan gagang berhias <em>emerald</em> pun ia keluarkan.<br><br>"<em>Finale</em> pertunjukan pertama hampir dimulai. Beta tidak boleh membuat sang pemeran utama menunggu lebih lama dari seharusnya."<br><br>Ia membalikkan badan dan menatap suatu titik di angkasa semu itu. Tepatnya ke arah ruang tertutup berbentuk kubus, tempat kamar Afta berada. <br><br>"Tolong jaga Afta untuk beta, Alice," bisiknya, sebelum mundur selangkah dan terjun bebas dari tepi platform itu dengan badan menghadap ke atas. Seringai khas ia keluarkan sebelum tubuhnya menghilang di tengah kehampaan berhias bintang palsu, dengan tetap membawa beban yang memberatkan hatinya.<br><br>"Sampai jumpa di era selanjutnya."<br><br><strong>END</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:41:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240048982</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The One and Only</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240049416</link>
         <description><![CDATA[<div>Gemerlap dari cahaya lampu mulai bermunculan, mengitari sebuah pohon bambu yang berdiri di tengah sebagai pusatnya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan kertas warna-warni menggantung di setiap sisi. Semua orang tampak bersemangat meramaikan. Begitulah yang bisa Frey simpulkan setelah memperhatikan sekeliling. Wajar saja, Tanabata adalah salah satu hari yang ditunggu-tunggu pada musim panas.<br><br>Sejujurnya, Frey bukanlah kelompok orang yang tertarik dengan acara seperti ini. Namun, ia tidak bisa menolak ketika Ai meminta untuk menemaninya pergi. Kebetulan mereka memasang satu pohon bambu di pusat perbelanjaan dekat sekolah. Jadi di sinilah ia sekarang. Membiarkan seorang gadis berambut coklat sepunggung menariknya kesana kemari.<br><br>“Frey-tan, liat deh! Mereka jual <em>souvenir</em> gantungan bentuk boneka!” teriak Ai heboh. “Uwahh lucunya! Aku mau beli yang ini deh.”<br><br>Frey hanya bisa menggelengkan kepala, takjub sekaligus pasrah. Padahal ini sudah hampir malam dan gadis itu masih saja bersemangat mengelilingi pusat perbelanjaan. Tapi memang bukan Ai namanya jika tidak bersemangat.<br><br>Sesekali Frey menoleh ke arah pohon bambu besar yang ditaruh di antara pertokoan kecil. Di sana, menggantung harapan dari ratusan orang, dari yang paling sepele hingga serius. Katanya jika menggantung kertas berisi harapan di sana, kemungkinan doa serta harapan mereka bisa sampai ke langit. Frey memang tidak termasuk ke dalam sekelompok orang yang menganggap legenda tanabata hanyalah omong kosong belaka. Hanya saja, harapan yang akan Frey utarakan mungkin hanya akan berakhir menjadi harapan kosong. Begitulah yang selalu terjadi setiap tahun.<br><br>“Eh? Sudah jam segini? Aku kan belum menggantungkan kertas,” ujar Ai. Kedua tangannya sibuk membawa <em>paperbag</em> yang entah apa isinya. Frey tidak terlalu memperhatikan apa saja yang Ai beli karena berbelanja bukan hal yang ia suka.<br><br>Kali ini, Frey yang menggandeng tangan Ai, mengarahkan agar mengikuti Frey. “Ayo, kalau sekarang mungkin sudah tidak seramai tadi.”<br><br>Ai mengangguk menurut. Ia mengikuti Frey menuruni tangga menuju lantai satu. Masih ada beberapa orang, tetapi Frey benar, tidak seramai sebelumnya. Mungkin memang karena hari yang mulai gelap dan acaranya pun akan segera berakhir, jadi banyak yang memilih untuk pulang setelah selesai menggantungkan harapan mereka.<br><br>“Frey-tan, apa yang mau kamu tulis?”<br><br>Pertanyaan Ai membuat langkah kaki Frey spontan terhenti. “Aku harus menulis juga?”<br><br>“Jelas lah. Siapa tau bakal kekabul. Berharap itu gak ada salahnya, ‘kan?” Frey melirik ke arah lain, berusaha menghindari kontak mata dengan Ai.<br><br>“Aku mau ambil kertasnya dulu. Frey-tan tunggu di sini, ya. Pokoknya jangan kemana-mana! Aku gak mau kalau Frey-tan ilang lagi kayak waktu ke planetarium kemarin.” Frey terkekeh pelan. Ai tidak tahu kalau ia memang sengaja memisahkan diri saat itu.<br><br>“Baiklah baiklah. Aku akan menunggu,” jawab Frey. Setelah memastikan Frey menurut, Ai berjalan pergi menuju seorang petugas yang berjaga di sudut seberang.<br><br>Pohon bambu tersebut terlihat lebih besar ketika Frey mendekat. Ia mengulurkan tangannya, membaca satu persatu harapan yang berada di depannya. Meskipun terdengar sepele, tapi ia bisa merasakan ketulusan dari setiap orang yang menulisnya.<br><br>Lantas, apa orang sepertinya bisa berharap untuk hal yang tidak pasti seperti ini?<br><br>’<em>Bakatmu itu tidak boleh di sia-siakan! Kalau sudah besar, kau harus mengikuti jejak keluargamu yang lain! Dengan begitu kau akan ....’<br>	<br>Kau seharusnya bersyukur karena lahir dalam keluarga yang penuh dengan orang-orang berbakat. Jadi jangan sampai kau membuat kami kecewa, mengerti?’<br><br>'... bukankah Frey-chan itu bodoh? Jika bukan karena otaknya, siapa juga yang mau berteman dengan anak membosankan seperti dia?’<br></em><br>Frey menghela nafasnya kasar. “Memangnya kapan harapanku pernah benar-benar terkabul?”<br><br>Langkah kaki Ai mengembalikan kesadarannya. Gadis berambut coklat itu berjalan dengan cepat seolah siap menerjangnya saat itu juga. “Frey-tan harus tau ... hahhh ... tadi aku ... ketemu Haruka-chan ... sama Shizuku-chan. Uuuu mereka silau banget kalau diliat dari dekat.”<br><br>Frey hanya tersenyum tipis, membiarkan Ai bercerita di sela nafas yang terengah-engah. Setelah selesai menetralkan nafas, barulah Ai memberikan kertas berukuran kecil serta spidol hitam pada Frey.<br><br>“Gimana? Udah kepikiran mau tulis apa?” Frey menggeleng pelan, mencoba menjawab dengan sejujurnya.<br><br>“Ai sendiri bagaimana? Apa yang mau kamu tulis?”<br><br>Ai memiringkan kepalanya, berpikir dengan serius. Ia lantas mencari tempat untuk menulis.<br><br>“Jadi pemain drum profesional boleh nih. Oh atau aku mau lebih tinggi sampai bisa ngalahin Shii-kun sama Rim-tan!” serunya. Entah ia sedang bercanda atau tidak, tapi cukup untuk membuat Frey tertawa pelan. Berikutnya, ia kembali terfokus pada kertas miliknya sendiri.<br><br>”Harapan ... ya?”<br><br>Masih dengan ragu, Frey mencoba untuk menulis.<br><br>”<em>Aku tidak peduli meski ini hanya hubungan pertemanan palsu sekalipun</em>.”<br><br>“Punyaku selesai!” ujar Ai semangat. Digantungkannya kertas itu di salah satu bambu yang kosong. Letaknya cukup tinggi membuatnya harus berjinjit. “Kalau lebih tinggi kan nantinya bisa lebih cepat sampai ke langit.”<br><br>Tak lama, Frey ikut menggantung miliknya tak jauh dari kertas milik Ai. Namun sebelum Ai melihat, ia segera membalikkan kertas tersebut.<br><br>“Frey-tan nulis apa? Aku mau liat!”<br><br>“Rahasia,” balas Frey. Ia pun menarik tangan Ai menjauh sbelum gadis itu memaksa untuk membaca kertas permohonan milik Frey.<br><br>“Frey-tan curang! Aku kan udah kasih tau punyaku!”<br><br>”<em>Aku tidak akan meminta hal lain lagi selain ini. Jadi ....</em>”<br><br>“Oh, iya. Sebelum pulang, aku mau kasih ini.” Ai mengeluarkan sepasang gantungan berbentuk boneka kucing yang sama, tetapi berbeda warna. “Yang biru muda buat Frey-tan, yang biru tua punyaku. Jadi mirip _couple_ gitu, ‘kan?”<br><br>Senyuman di wajah Ai mengembang, membuat Frey merasa tenang ketika melihatnya. Ia memasang gantungan tersebut pada tas miliknya. Hanya ada satu gantungan di sana, dan pemberian Ai adalah satu-satunya.<br><br>“Terima kasih. Aku akan menjaganya,” jawab Frey, ikut melebarkan senyumnya.<br><br>”.<em>.. aku harap saat-saat seperti ini bisa terus berlangsung, setidaknya sampai kami lulus nanti</em>.”</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:43:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240049416</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mary</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240049870</link>
         <description><![CDATA[<div>Seseorang bersurai pirang gelap tergerai duduk di atas meja bundar, berpose mantap sembari orang disekitarnya menggambar dirinya. <br><br>"Terimakasih, Mary." <br><br>Gadis bersurai pirang–Mary–itu tersenyum manis sambil mengangguk. Memamerkan bentuk tubuhnya untuk klub seni atau apapun itu tidak masalah baginya selama ia mendapatkan bayaran setelahnya. Pekerjaan apapun akan dia terima, terlebih karena tinggal sendiri dengan biaya kebutuhan sehari-hari yang tinggi, kalau dibilang matre memang benar dirinya sangat menyukai uang tetapi memang Mary suka <em>show off</em> soal tubuh indahnya itu membuat kesenangan untuknya.<br><br>"Tidak masalah, kau bisa memanggilku lagi, Senior!" Mary mengambil uang dari tangan orang tadi, selembar uang kertas bertuliskan 50. "Kapan-kapan berikan aku tip yang lebih, ya." pesannya sebelum akhirnya meninggalkan ruang klub seni itu.<br><br>"Harusnya itu pekerjaan sukarela, aku kasihan padamu jadi aku bayar!!" protesnya sambil mendengus. <br><br>Tawa Mary bergema ke seluruh lorong, ia tertawa mendengar protes dari orang tadi sambil cepat-cepat meninggalkan tempat dari sana.<br><br>….<br><br>Mary mengeluarkan selembar 50 dollar dari sakunya, mengangkatnya tinggi-tinggi di bawah sinar lampu seperti seseorang menerawang uang kertas mereka. Mata biru terangnya menatap selembaran kertas mengedipkan berkali-kali berpikir apa yang bisa dibeli dengan uang itu. <br><br>"<em>Beli apa, ya…pizza? Bakalan masih sisa banyak, sih.</em>" pikirnya.<br><br>….<br><br><em>Reward</em> untuk dirinya sendiri, memilih membeli satu <em>pepperoni pizza</em> besar, pasta serta hidangan penutup pie apel dan satu <em>cola</em> besar. Boros, sekali dapat uang langsung dipakai foya-foya. <br><br>Duduk dibangku restoran dekat dengan jendela, orang-orang seperti kita mungkin itu porsi yang besar untuk dihabiskan oleh seorang gadis bertubuh kurus seperti Mary tetapi tidak untuk orang Amerika. <br><br>Mary menyantap dengan perlahan, makan malam hari ini membuatnya merasakan nikmatnya hidup. Tiba seseorang datang ke arahnya dengan pakaian serba hitam–tetapi memang memamerkan banyak kulit–duduk di depannya. Kacamata bertengger di batang hidungnya, tahi lalat di bawah mata dan bibir, perona bibir yang tegas merah menyala serta tatapan tajamnya itu. Rambut hitam panjangnya digelung dihiasi satu aksesoris kupu-kupu emas.<br><br>"Sofie?!" Terceletuk hingga memuntahkan soda dari mulutnya. <br><br>Sofie, mengambil gelas berisi cola dari tangan Mary meneguknya. "Habis dari klub seni atau…" tebaknya.<br><br>"Klub seni!" jawab Mary mantap. "Kenapa kau selalu berpikiran aku akan memoroti pria tua dari bar terus, sih?" <br><br>Sofie memicingkan matanya. Ia sudah hafal betul, kalau Mary akan mendahulukan makanan enak dibandingkan yang lainnya setelah mendapatkan uang. "Yah, aku hanya menebak, bukan?" <br><br>Mary tidak memperdulikan Sofie sementara dirinya melanjutkan makannya itu. "<em>Mengganggu saja</em>." cibirnya dalam hati. <br><br>….<br><br>Pulang berjalan berdampingan, kalau bahasa gaul sekarang <em>cewe kue dan cewe mamba</em> atau bisa dijabarkan seperti pelangi dan bayangan berjalan berdampingan. <em>Outfit</em> Mary cenderung lebih berwarna-warni sedangkan Sofie hitam gelap. Mary menggandeng tangan Sofie, walau begitu ia tetap menyayangi orang yang menyebalkan disampingnya itu. <br><br>"Neptune belum pulang?" <br><br>"Kau pikir aku akan kesini dan berjalan bersamamu jika dia sudah pulang?" tanyanya balik.<br><br>Mary menggeleng. Sudah pasti Sofie tidak akan mampir kalau pacarnya sudah ada di rumah. Lupakan, kita tidak akan membahas pacarnya. <br><br>"Hei, apa kau pernah berpikiran hal yang sama dengan orang-orang tentang Mary si matre?" Mary menatap langkah dua pasang kaki di bawahnya. <br><br>"Mary, mereka tidak hidup seperti dirimu," Sofie menghela nafas. "Sudah kubilang tidak usah mendengarkan gosip seperti itu."<br><br>"Kalau boleh jujur, aku juga tidak mau seperti ini." ia menggenggam tangan Sofie lebih erat. "Aku juga tidak mau meminjam uang dari orang-orang atau dari bank, eh, tapi kalau <em>debt collector</em> nya Sofie aku akan senang hati meminjam uang!" candanya di sela-sela keluh kesahnya. <br><br>"Kau ada-ada saja." <br><br>"Aku hanya ingin kaya dan bisa makan enak seterusnya!" Mary tersenyum lebar seperti anak kecil yang berangan-angan tentang sesuatu.<br><br>"Kalau memang ingin begitu, buktikanlah."<br><br><br><strong>E N D.</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:46:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240049870</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[untitled]</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240050174</link>
         <description><![CDATA[<div>Nafasku terasa sangat berat<br>Rasanya dadaku seperti ditekan oleh seseorang saat aku bernafas.<br><br>Hari itu tidak jauh berbeda dari hari hari sebelumnya.<br>Sangat membosankan.<br>Seperti biasa, suster memberikan sup dan jus buah yang terasa hambar di mulutku.<br>Papa dan mama juga tidak mengunjungiku hari ini karena ada urusan.<br>Aku juga tidak bisa berjalan untuk sementara.<br><br>..iya, "sementara"<br>Nampak seperti sebuah kebohongan bagiku.<br><br>Aku sudah terbaring lemas di kasur ini berbulan bulan.<br>Semenjak kejadian itu, kakiku tidak pernah menyentuh tanah lagi.<br><br>Setiap hari aku menghabiskan waktu di kasur putih ini.<br>Hanya menatap langit langit sambil bertanya tanya.<br>"Apakah aku bisa sembuh?", "Kapan aku bisa melanjutkan kehidupanku tanpa penyakit ini?", "Sebenarnya, apakah mama dan papa peduli padaku?".<br>Pertanyaan seperti itu sering berputar - putar di kepalaku.<br><br><br><br><br><br>Pukul setengah satu siang.<br>Harusnya sekarang sudah ada suster yang mengantar makan siangku.<br><br><br><em>Brak!</em><br>Suara itu membuatku hampir melompat dari kasur.<br><br>Tak lama setelah itu, pintu di ruangan itu tiba tiba terbuka dan menampakkan seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya.<br><br><br>"Maaf, aku masih baru," ucapnya sambil membawakan makan siangku.<br><br>"Suster Chloe! Panggil saja aku Chloe.<br>Mulai sekarang, aku akan menjadi sustermu," sambungnya.<br><br>Aku mendiamkannya untuk beberapa detik.<br>"Yuna.<br>Salam kenal, Chloe," ucapku.<br><br>Seketika dia memasang wajah senyum.<br><br><br>Mungkin aku salah.<br>Hari itu adalah hari yang berbeda.<br>Begitu juga dengan hari hari setelahnya.<br><br><br><br><br>Bagaikan haluan yang menjadi nyata, ga kek haluan kelen yg g pernah jadi nyata.<br>Chloe adalah orang yang kunanti nanti.<br>Setiap hari aku berharap ada seorang penghibur.<br>Dan akhirnya, hal itu terwujud.<br><br>Aku sangat bahagia sekarang.<br>Setiap hari aku bahagia.<br>Walau dengan penyakit ini, aku bisa tertawa sampai kehabisan nafas dengan kehadiran Chloe.<br><br><br><br>"Yuna.."<br>"Iya, Chloe?"<br>"Apakah kamu punya keinginan?"<br>"Keinginan ya..," ucapku.<br><br>Aku berpikir untuk beberapa detik<br><br>"Ada."<br>"Bolehkah aku tau apa keinginanmu?<br>Akan kuwujudkan kalau bisa," ucapnya sambil tersenyum.<br><br>Aku tidak yakin dia bisa mewujudkannya, tapi aku membalas senyumannya, dan berkata, "Aku mau terbebas dari semua ini."<br><br>"Bisa kuwujudkan!"<br><br>Aku sedikit kaget.<br>Seketika aku melihat dia menggenggam sesuatu.<br><br>Dia mengarahkannya ke depan dadaku.<br>Lalu perlahan lahan membuka genggaman tangannya.<br><br>Seekor kupu kupu biru.<br>Di tangannya ada seekor kupu kupu biru.<br><br>Kupu kupu itu mulai terbang menghampiriku.<br>Seketika semuanya berubah menjadi tanah luas yang ditumbuhi berbagai macam bunga yang sangat cantik.<br><br>Kupu kupu yang awalnya cuma satu, berubah menjadi sangat banyak dan mulai mengangkatku ke udara.<br><br>Aku bisa merasakan udara yang sangat segar.<br>Kakiku terasa sangat bebas.<br><br>Setelah itu, kupu kupu itu meletakkanku ke tanah lagi.<br>Aku sedikit kaget.<br>Aku bisa berdiri.<br><br>Aku sangat senang<br>Aku mulai tersenyum sambil tertawa bahagia.<br>Sudah sangat lama.<br>Rasanya sudah sangat lama.<br><br>Aku mulai berlarian ke sana dan ke sini.<br>Inilah rasanya kebebasan.<br>Inilah yang kumau.<br><br>Terimakasih, Chloe.<br>Andai saja kamu benar benar nyata.<br>Aku tidak akan berakhir seperti ini.<br><br>Setidaknya aku tahu betapa sulitnya meyakinkanku untuk menikam diri sendiri.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:48:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240050174</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Flawed Angel</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240050763</link>
         <description><![CDATA[<div><em><sub>an Arknights fanfiction.</sub></em><br>、。。。、<br><br>Semenjak dirinya dapat berjalan dengan kedua kakinya sendiri, ia dihadapkan dengan penolakan dunia. Realita itu keras, takdir pun tak kalah kejam. Ia yang masih kanak-kanak tidak mengerti, segalanya terlalu rumit untuk dipahami pola pikirnya yang masih sederhana. Ia tidak pernah mengenal ayahnya, pun ia tidak mengerti mengapa orang-orang terlihat membenci ibunya. Ia ingin bertanya apa yang sudah ia—atau sang ibu lakukan sehingga pantas mendapat seluruh caci maki itu. Tetapi, kepada siapa ia harus bertanya di kala sang ibu enggan menghiraukan pertanyaannya?<br><br>Luciel hanya lahir dan bertahan hidup, salahkah itu?<br><br>Di saat ia sedikit lebih dewasa dan mulai mengerti sekitar—Luciel melihat refleksi dirinya di cermin. Cacat, satu kata yang lebih dari cukup untuk mendefinisikan sosoknya. <em>Halo</em> yang kusam nan miring, sayap kelabu yang tampak rapuh, sepasang tanduk, pun sebuah ekor. Ia memiliki ciri fisik atas dua ras, sankta dan sarkaz—sekilas dirinya seperti malaikat yang jatuh. Namun, malaikat cacat sebenarnya lebih cocok untuk menggambarkan dirinya. <em>Ah</em>, ataukah iblis yang cacat? Yang mana pun itu, ia hanyalah seonggok makhluk cacat, tidak lebih dan tidak kurang.<br><br>Atensinya kemudian beralih kepada kristal legam yang tersebar ruai di sekitar rahang kirinya. Itu adalah hadiah terakhir dari sang ibu saat ulang tahunnya yang kesembilan, oripathy. Ibunya adalah seorang <em>infected</em>, eksistensi yang ditolak keras di penjuru Terra. Mengapa? Luciel sudah memahaminya, <em>infected</em> adalah eksistensi paling rendah—ataukah mengerikan? Karena tak sedikit orang-orang menyebutnya sebagai monster. Caci maki dan tatapan kebencian adalah makanan sehari-hari. Lebih dari itu, ibunya merupakan seorang sarkaz yang tak jarang dijuluki iblis. Rasanya tidak berlebihan jikalau mengatakan bahwa seluruh dunia menolak eksistensi sang ibu.<br><br>Luciel pernah berharap kelak dunia akan menerima orang-orang seperti dirinya, namun ia segera tahu itu hanyalah fatamorgana belaka.<br><br>、。。。、<br><br>Seusai kepergian sang ibu, Luciel memutuskan untuk berkelana sebagai tentara bayaran. Niat hati ingin mengubah nasib, tak ingin berpasrah diri kepada oripathy yang menggerogotinya—seperti sang ibu. Ia tahu benar cepat ataupun lambat dirinya akan menemui akhir yang sama dengan sang ibu. Lagipula, oripathy adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kendatipun demikian, ia ingin melakukan sesuatu—ia tidak ingin hidup dengan sia-sia.<br><br>Hidup sebagai tentara bayaran tidak pula menjadikan hidupnya enteng. Tidak sekali atau dua kali ia berhadapan dengan maut. Tetapi, semakin berbahaya pekerjaan yang ditawarkan, semakin tinggi bayaran yang diberikan. Itu impas, dan Luciel tidak keberatan.<br><br>Dari situ pula ia dapat melihat luasnya cakrawala semesta.<br><br>Kali ini pun, seseorang menawarinya sebuah pekerjaan. Ia diminta untuk menghabisi seorang sankta berambut putih keperakan dengan <em>halo</em> dan sayap kelabu yang sedikit redup. Bayaran yang ditawarkan sangat tinggi, membuat Luciel dengan mantap menerimanya—kendatipun rasa ragu tetap menyisip. Luciel tahu akan hukum bahwa sankta dilarang menodongkan senjata kepada sesamanya—apalagi membunuh. Namun, untuk dirinya yang hanya setengah-setengah, cacat pula, hukum itu tidak berlaku, ‘kan?<br><br>Berdasarkan informasi yang diberikan sang klien, berangkatlah pemuda itu menuju lokasi targetnya, yaitu hutan belantara di sekitar Victoria.<br><br>Tidak sulit untuk menemukan targetnya, jelas. Bagaimana mungkin ia kesulitan di saat targetnya dengan santai membuat api unggun di tengah hutan? Entah orang itu terlalu ceroboh atau terlalu percaya diri akan kemampuannya, Luciel tidak tahu. Yang jelas, ada banyak celah untuk diri menyergap si target.<br><br>Cukup ganjil, sebenarnya, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.<br><br>Sankta itu dengan mudah menghalau serangannya. Keadaan berbalik, moncong senapan milik sang malaikat kini tepat di dahinya—sementara dirinya terbaring di tanah, tak berdaya. Itu terjadi dengan cepat, terlalu cepat malah. Benar, tidak mudah membunuh sankta pemilik helai putih itu, pantas saja uang yang ditawarkan sangat tinggi. Luciel pasrah apabila saat ini akan menjadi akhir hidupnya.<br><br>“Kau <em>infected</em>.”<br><br>Merah yang semula menatapnya tajam, entah mengapa kini tampak melembut. Luciel tidak salah lihat, ‘kan?<br><br>“Memangnya kenapa?”<br><br>Merah dan <em>amethyst</em> saling bertaut dalam hening. Jujur, Luciel tidak mengerti dengan maksud pernyataan targetnya itu. Sekali lihat pun semua orang akan langsung tahu bahwa dia <em>infected</em>.<br><br>“Kau yang kedua kalinya,” sankta itu berucap, lantas menyimpan senapannya dan kembali duduk—yang praktis mengundang banyak tanya dalam benak Luciel.<br><br>“Bocah, apa kau tahu Rhodes Island?”<br><br>Luciel mengerjap, mengapa tiba-tiba si target menanyakan sebuah perusahaan medis alih-alih menanyakan identitas kliennya? Ya, tentu saja ia pernah mendengar kabar angin mengenai Rhodes Island, pun tentang Reunion Movement.<br><br>“Berhentilah dari pekerjaanmu yang sekarang dan pergilah ke Rhodes Island.”<br><br>Dahi si pemilik netra <em>amethyst</em> berkerut semakin dalam. Apa-apaan itu?<br><br>“Apa kepalamu terbentur? Aku di sini untuk membunuhmu, loh?” keheranan tersirat jelas dalam suaranya, yang dibalas dengan tawa renyah—yang entah mengapa terdengar mengejek di telinga Luciel.<br><br>“Memangnya kau bisa membunuhku, Bocah?”<br><br>Luciel bungkam, ia nyaris melupakan fakta bahwa ia baru saja kalah telak. Pemuda itu sejenak larut dalam pikirannya, lantas melirik ke arah sang sankta.<br><br>“Sepertinya itu ide yang bagus. Omong-omong, berhenti memanggilku ‘Bocah’, namaku Luciel.”<br><br>“Elite operator Astra, senang bertemu denganmu, Luciel.”<br><br>Dan tangan mereka pun saling bertaut.<br><br>、。。。、<br><br>“Aku Luciel, mulai hari ini akan bekerja di Rhodes Island sebagai <em>specialist operator</em>. Senang bertemu denganmu, Dr. Raven.”<br><br>Luciel tahu benar bahwa dunia yang kelak ia lihat kala menerima uluran tangan Astra akan jelas berbeda. Mengharapkan keberadaannya untuk diterima dunia jelas terlalu berlebihan, kini ia berharap agar dirinya dapat selama mungkin berada di Rhodes Island. Tiba-tiba, ia teringat akan ucapan seorang malaikat jatuh yang pernah ia temui di Lungmen.<br><br><em>Life is worth living, even if it hurts you, even if you hurt in it.</em><br><br><br>、。。。、<br><strong>「End」</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:51:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240050763</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[untitled]</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240050989</link>
         <description><![CDATA[<div>"<strong>Aku baik, kan?</strong>"<br><br>"Harapan apa yang kamu inginkan?"<br><br>"Harapan ingin meninggalkan dunia, tapi aku harus... Menjadi orang yang baik untuk menyegerakan keinginan terkabul." Suasana mendadak sunyi sesudah ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari teman disebelahnya, kepalanya tertunduk sendu.<br><br>Temannya yang melihat hal itu sontak alisnya turun mengikuti ekspresi sendu teman disebelahnya, ia paham seberapa depresi teman dekatnya ini. Walau ia mencoba menghibur, hal itu akan sia-sia dan malah membuatnya semakin banyak pikiran.<br><br>Beberapa saat sunyi kemudian digantikan dengan suara riuh dari sekitar, keduanya langsung beranjak bangkit untuk melihat kejadian tersebut. Benar saja, ada sesuatu hal terjadi.<br><br>Segera saja keduanya menjauh, kendatipun penasaran. Mereka mengabaikan hal itu, kembali menuju rumah tempatnya masing-masing tanpa ada satupun kata diantara mereka.<br><br>Sekedar melambaikan tangan sebelum berpisah dijalan belokan yang memisahkan keduanya, masing-masing menunduk sendu.<br><br>"Tidak seharusnya aku bertanya harapan padanya, teman macam apa aku ini..." temannya bergumam sendirian dikala kegelapan malam tanpa siapapun yang tahu dirinya merasa bersalah, kedua matanya berkaca-kaca terlihat akan menangis.<br><br>Itu hanya pertanyaan, pertanyaan kecil yang membuat dirinya merasa bersalah. Harapan, dirinya berharap akan menjadi teman yang lebih baik dari sebelumnya.<br><br>Mata berkaca-kaca itu berubah menjadi tangisan malam yang berisi penyesalan atas pertanyaannya.<br><br>Ia merasa tidak waras berbicara tadi, pasalnya saat ditempat riuh tadi adalah pencarian terhadap temannya yang hilang, dirinya dijadikan tersangka atas kasus yang menimpa sahabat dekatnya.<br><br>"Benar! Aku pelakunya! Aku sangat menyayangi temanku, dia yang menginginkan hal itu... Dia menginginkannya, maka ku kabulkan sebagai teman yang baik!" Malam keheningan sontak berubah adanya suara seorang sahabat yang terus mengakui bahwa ia pelakunya, benar dia yang melakukannya.<br><br>Kalimat yang kamu baca hanyalah kenangan kalimat terakhir, suara riuh itu adalah suara polisi yang terus-menerus mencari dirinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:53:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240050989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kontroversi</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240052419</link>
         <description><![CDATA[<div>Tidakkah seharusnya ia berbangga?<br><br>Satu dari sekian ratus ribu manusia yang mengadu nasib di kota besar—namun sedikit yang berujung pafa kesuksesan, termasuk dirinya. Pemuda yang awalnya dikenal sebagai sosok sederhana bahkan sedikit kumuh, kini selalu terlihat rapi dan menawan, lengkap dengan busana ciamik buatan desainer ternama yang membalut tubuh kurus nan semampainya. Mahasiswa yang sering berpindah kos karena tak mampu membayar biaya bulanan, bahkan terkadang tidur di masjid kampus, kini memiliki beberapa properti hunian—semuanya berharga lebih dari dan minimal satu miliar rupiah. Mahasiswa yang sering mendapat bantuan pendidikan karena termasuk golongan tak punya, kini mendirikan yayasan amal untuk hal serupa.<br><br>Lihatlah perubahan pada dirinya. Tidakkah seharusnya ia berbangga?<br><br>Mahasiswa yang dulu dikejar-kejar oleh bendahara kelas dan ormawa karena menunggak kas, kini dikejar-kejar oleh investor yang ingin menanam modal dan perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya. Mahasiswa yang pontang-panting mencari pekerjaan paruh waktu demi menghidupi dirinya, kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang dengan rentang gaji yang luas—gaji minimumnya masih di atas gaji terbaiknya selama bekerja paruh waktu. Mahasiswa yang dulu sering mengesampingkan harga diri untuk meminta sedikit kiriman finansial dari ibunya demi kelangsungan hidup di perantauan, ia telah berhasil memberangkatkan sang ibunda ke Tanah Suci, tepat terhitung hari ini.<br><br>Tidakkah seharusnya ia bangga?<br><br>Mobil mewah hampir seharga miliaran itu melaju, meninggalkan asrama haji tempat pemuda itu mengantar ibundanya, pemberhentian sebelum menyempurnakan ibadahnya.<br><br><strong>"Pur, Bunda nggak nyangka kalau kamu bakal sesukses ini, </strong><strong><em>Le</em></strong><strong>."</strong><br><br>Sang surya sejak tadi seolah uring-uringan, tak ingin beranjak dari peraduan. Bersinar seperlunya, membiarkan mega menutupi angkasa. Menciptakan tema monokrom, semburat kelabu dan putih memenuhi setiap sudut cakrawala.<br><br><strong>"Pur, Bunda bangga banget kamu bisa sukses gini. Ternyata benar kata orang-orang, kalau ada anak yang ditakdirkan mengangkat derajat keluarga, dan ternyata itu kamu."</strong><br><br>Jalan utama mulai sesak, kendaraan umum maupun pribadi berjejal, semua seolah berlomba mencapai tujuan. Pria itu tetap menyetir dengan tenang—usianya sudah jauh dari usia sekolah ataupun mahasiswa, dan masa-masa itu telah terlewat; genap empat tahun setelah ia diwisuda dari program sarjana. Masa-masa menjadi budak korporat juga sudah berlalu, kini ialah yang mempekerjakan orang-orang, tiga puluh pegawai sekali <em>shift</em> di tempat kerjanya.<br><br><strong>"Bunda bisa aja, deh. Ini semua terjadi berkat doa Bunda juga buat Pur."<br><br>"Dengan izin Allah juga, </strong><strong><em>Le</em></strong><strong>."</strong><br><br>Di kepalanya, masih terngiang ucapan sang ibunda. Tak henti menuturkan rindu, bangga, juga mengingatkan sang putra akan pentingnya berserah pada Sang Pencipta—semua hal terjadi atas kehendak-Nya.<br><br><strong>"Tapi, sebenarnya, buat Bunda, yang penting itu bukanlah sukses secara material, </strong><strong><em>Le</em></strong><strong>. Bunda gini kalau berdoa, semoga kamu jadi anak yang taat sama Allah, taat beragama, </strong><strong><em>istiqomah</em></strong><strong> dalam kebenaran, bisa jadi sosok yang </strong><strong><em>ngalem</em></strong><strong> bagi istri dan anak-anakmu kelak sebagaimana seorang imam dan kepala keluarga, bisa berguna bagi masyarakat sekitar—syukur-syukur kalau bisa membalas kebaikan orang yang sudah diberikan untuk kita. Karena sesungguhnya bertahan dalam kebaikan itulah yang sulit. Bunda lebih bangga bisa mendidik kamu dengan baik daripada jadi orang pertama yang naik haji di kampung kita."</strong><br><br>Pemuda itu tersenyum miris.<br><br><em>Taat beragama, ya.</em><br><br>Mobil mewah itu berhenti di sebuah bangunan seluas restoran cepat saji. Dekorasi lampu neon di sekelilingnya masih dinyalakan karena cuaca yang mendung. Tempat parkir luas dan kaca yang gelap, serta petugas keamanan yang menanyai usia setiap pengunjung—harus dibuktikan dengan adanya kartu identitas atau tanda pengenal lain.<br><br>Klub malam.<br><br>Purnama mendorong pintu kaca, lalu memasuki ruangan. Klub itu cukup luas dengan interior yang berkelas. Meskipun demikian, beberapa tempat, khususnya ruang VVIP, terlihat cukup berantakan—beberapa gelas pecah dan berserakan, tumpahan minuman, bahkan salah satu pegawai terlihat sedang membersihkan bekas muntahan. Entah pesta apa yang semalam berlangsung, dan seliar apa kelakuan orang-orang itu.<br><br>Ah, pemandangan biasa. Sang pemilik bisnis melengang santai dan menyapa pegawainya satu per satu. Mereka menjawab dengan ramah dan hormat, entah ikhlas atau menjilat—berharap memperoleh kenaikan gaji.<br><br>Hari itu merupakan hari yang dinanti seluruh pegawainya—ya, hari gajian.<br><br>Purnama duduk di meja memanjang tepat di depan <em>bartender</em>, lalu memesan secangkir kopi susu. Meski menjadi bos di sebuah klub malam, ia tetap tidak mau menenggak satu tetes pun minuman memabukkan yang ia jual—Purnama menyewa orang untuk melakukan tes kelayakan setiap jenis pangan sebelum diperdagangkan.<br><br>Ia memindah saluran televisi ke berita lokal. Peristiwa demi peristiwa terlontar dari mulut reporter cantik yang hari itu membawakan berita, namun sayangnya, kenyataan di negeri ini tak seindah visual sang gadis yang ada di televisi.<br><br>Kasus orang hilang. Pembunuhan. Korupsi. Pelecehan seksual. Kerusakan alam.<br><br>Dan manusia masih bisa bilang bumi ini indah.<br><br>Satu berita menarik perhatian Purnama. Setelah setiap judul tentang kehancuran dan kekejian manusia, pembawa berita itu mengabarkan bahwa pemberangkatan haji di negara mereka diadakan lagi tahun ini.<br><br>Dua tahun kerinduan mendengar frasa 'naik haji' terbalaskan. Kelegaan orang-orang berusia senja yang akhirnya dapat menunaikan ibadah haji sebelum ajal mendahului. Kebangkitan ekonomi yang dirasakan beberapa pengusaha yang mengurus keberangkatan haji. Jamaah berpakaian serba putih dengan senyum berseri yang siap menyempurnakan syariat dalam beragama, berziarah ke Tanah Suci.<br><br>Purnama teringat ibunya lagi. Miris rasanya memberangkatkan sang ibunda dengan uang yang hampir setengahnya berasal dari keuntungan tempat ini, tempat yang berjaya akibat hedonisme dan hawa nafsu manusia.<br><br>Apakah dunia ini memang sudah kacau?<br><br><em>Jika hal buruk yang dianggap dosa justru bisa memberangkatkan ibuku untuk menunaikan ibadah, hal ini harus kulanjutkan atau kuhentikan?</em><br><br>Bisnis yang dianggap membawa kehancuran karena menjajakan barang maupun jasa yang tak sesuai dengan perintah agama justru memberi bantuan yang benar-benar bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan, memperbaiki kerusakan alam yang merenggut usia bumi sekian demi sekian. Tokoh-tokoh yang diyakini masyarakat sebagai pemuka agama justru memanfaatkan jabatannya dengan tidak seharusnya—komersialisasi demi urusan politik, mengeluarkan fatwa asal-asalan yang menguntungkan sepihak, berujung pada perpecahan. <br><br>Urusan benar-batil, halal-haram, sunnah-makruh, semuanya tak lagi dibahas untuk membentuk suatu pedoman dalam beragama, malah menjadi sumber keributan.<br><br>Purnama tidak mau ikut campur hal-hal seperti itu—dalam prinsipnya, ada banyak hal yang Tuhanlah penentunya; tidak semua urusan benar-salah bisa diputuskan oleh manusia.<br><br>Berharap pada zat yang maha membolak-balikkan hati, agar ia senantiasa teguh berada di atas agama-Nya. Seperti yang telah diucapkan oleh sang ibunda, bahwa yang sulit adalah bertahan pada kebenaran—ingat, bertahan, bukan mencari. <br><br>Dan kita juga tak pernah diminta untuk adu mulut mengenai siapa yang paling benar dalam urusan agama, 'kan?<br><br>Setidaknya harapan Purnama telah terwujud, menuntun keluarganya hingga terbebas dari kemiskinan dan memberangkatkan sang ibunda ke Tanah Suci.<br><br>Sekarang apa?<br><br>Mewujudkan harapan sang ibunda, mungkin?<br><br><strong><em>"Selamat pagi, ini gaji untuk kalian. Saya berani memberikan lebih banyak, dengan syarat sebagai berikut: kalian harus mengadakan pengajian di rumah masing-masing, yang nonmuslim bisa menyesuaikan. Target kita adalah anak-anak. Siapa yang bisa mengajak paling banyak anak kecil—kira-kira usia SD—untuk hadir di pengajian itu, akan mendapatkan bonus yang paling besar. Cukup sertakan foto kegiatannya, kirimkan ke saya. Jika kalian ingin mengundang saya, saya tidak keberatan. Mungkin yang tidak beragama Islam bisa konfirmasi mengenai jumlah anak-anak yang bisa kalian jangkau—akan kubuatkan parameter keberhasilan yang berbeda untuk nilai sempurnanya. Paham?"</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 04:59:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240052419</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mimpi Yang Tabu, Merekalah Candu</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240052831</link>
         <description><![CDATA[<div>Semesta ku adalah dunia yang tidak berwarna, monoton. Malam-malam yang dihabiskan untuk bercumbu dengan tugas, yang mati-matian ku kerjakan hingga merelakan waktu tidur.<br><br>Dahulu hidupku sistematis penuh perhitungan terkait sebab dan akibat, tercatat dalam jurnal harian sedemikian terperinci. Aku tidak tau bagaimana caranya menikmati akhir pekan, aku pun tak tau bahwasanya sesuatu yang lebih cerah dari matahari memang ada.<br><br>Sementara pagi harinya adalah repetisi membosankan. Terus mengulang hari-hari membosankan, di penuhi ketakutan serta kekhawatiran tentang apa yang mereka sebut "ideal", aku mendambakan bentuk kehidupan paling ideal, membayangkan bagaimana mata tertuju padaku.<br><br>Lalu kemudian ia datang.<br><br>Ia layaknya matahari, atau lebih tepatnya seorang pria yang di berkahi matahari, putra mahkota dari keluarga Haswerners. Agak muluk-muluk memang impianku, mengingat bahwa kita hanya bertemu sekejap. Namanya Acheron Haswerners.<br><br><em>Aku berharap, kita dapat bertemu kembali, seperti dalam cerita dongeng.</em><br><br>Aku berharap ... semakin lama berlalu, semakin banyak harapan yang merekah, bagai bunga di musim semi.<br><br>Meski demikian, ku kira semua hal akan kembali normal sebagaimana mestinya, aku dengan rutinitas membosankan, dan ia kembali ke angkasa (tempat dimana matahari seharusnya berada).<br><br>Itu sebelum aku ingat ada hari ketika seluruh perwakilan keluarga agung berkumpul untuk bertukar pikiran, atau sekadar formalitas belaka. Aku penasaran, bisakah aku menemuinya lagi?<br><br>Dan hari itu telah tiba, aku dengan sedikit gugup melangkahkan kaki ke ruang yang telah ditentukan.<br><br>"Nona Ryu Lētālis," suara sapaan yang terdengar begitu mendebarkan. <br><br>Betul, tidak salah lagi. Aku pun menoleh, mendapati pria tersebut tersenyum ramah. Surai berwarna pirang, senada dengan manik yang menatap lembut itu. Satu kata yang pasti, sempurna.<br><br>"Nona?"<br><br>Aku tersadar dari lamunan. <br><br>"Maaf nona ballroom ada di koridor kanan, kenapa anda ada di sini?" tanya pria tersebut penuh selidik, namun tak juga kehilangan karismatik di wajahnya.<br><br>Oh bodohnya, kenapa aku teledor seperti itu. <br><br>"A—itu...," setelah itu aku terdiam, tidak mungkin bagiku mengatakan bahwa, aku berjalan tanpa sadar ke sini.<br><br>Sedangkan pria tersebut nampaknya paham dengan gestur tubuh yang ku berikan. Ia lantas mengulurkan tangan kanannya, kemudian berkata, "Atau Nona hendak pergi kesana bersama saya?"<br><br>Duniaku, seakan-akan terjungkal, berguling-guling, atau&nbsp; apapun itu, entahlah. Rasa bergejolak tatkala aku menerima uluran tangannya, itu nyata. Aku dapat merasakannya.<br><br><em>Kalau boleh egois, aku ingin kamu menjadi milikku</em><br><br>Begitu hati itu terjatuh, terperangkap di balik binar matanya. Aku tak mampu mengelaknya lagi, barangkali hatiku memang sudah dia genggam, menjadi hak milik, untuk dirawat atau bahkan di hancurkan sekalipun.<br><br>Aroma herbal menyeruak di dalam indera penciuman, itu sebelum aku terbangun, terbangun dalam artian kembali ke realita. Menghela napas beberapa kali, sesak yang menjalar di dalam dada masih jua terasa, hingga air mata jatuh tanpa sadar.<br><br>Sayangnya kita tidak hidup di negeri dongeng, atau di novel-novel cinta, sebab jika aku ada di dunia <em>asmaraloka</em> hidupku takkan nestapa betul.<br><br>Aku menghela napas, mencoba menerima fakta bahwa pengharapanmu sebenarnya hanya pengharapanku semata.<br><br>"Uhuk—"<br><br>Terasa menyakitkan tatkala tiap kali bunga yang merekah indah di dalam dada luruh bersama darah. Tak apalah, biar ku simpan rasaku di sini di gubuk tua, sendiri, menuggu mati.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:01:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240052831</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Crescent Moon</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240053574</link>
         <description><![CDATA[<div>Sinar purnama menembus tirai kamar, memberikan cahaya remang pada ruangan yang gelap tersebut. Ruangan serba putih itu begitu hening, sehigga hanya menyisakan suara angin yang menerpa dedaunan sesekali dan jangkrik yang saling bersautan.<br><br>Thara menatap wajah remaja yang sedang tertidur di ranjang yang ada di hadapannya. Selang infus terpasang di punggung tangan kanannya. Kondisinya sama sekali tidak baik. <br><br>Tubuhnya tidak terdapat luka gores maupun memar, namun terlihat begitu tak berdaya. Apakah dalam beberapa hari terakhir ini sang pemilik tubuh tak memberikan nutrisi yang cukup? Sepertinya memang begitu.<br><br>Thara membelai pipi Navy lembut, <em>Syukurlah mereka tak terlambat menemukanmu.</em><br><br>Navy menghilang sekitar sepekan yang lalu, dan baru ditemukan jejaknya hari ini.<br>Thara tak ingin memikirkan fakta mengejutkan yang baru saja ia dengar dari beberapa remaja laki-laki yang ditemuinya sebelum masuk ke kamar ini. <br><br><em>Navy terjun bebas dari ketinggian 5 lantai? Itu... bohongkan?</em><br><br>Sekelompok remaja yang berdiri di luar ruangan tadi, merekalah yang menemukan Navy. Jika dilihat dari perkiraan usia, kemungkinan usia mereka beberapa tahun lebih tua dari Navy.<br><br>Cairan bening diam-diam mengalir tanpa izin membasahi pipi Thara. Tatapan matanya tak teralihkan dari wajah damai sang adik yang larut dalam tidurnya.<br><br>Ingatan tentang sang adik bergulir bak potongan film yang berputar begitu cepat. Perubahan demi perubahan ekspresinya terasa begitu nyata. Tawa riang serta senyum merekah yang selalu menghiasi wajahnya, samar-samar mulai menghilang. <br><br>Keceriaan yang terpancar dari wajahnya mulai meredup. Hawa suram dan kesedihan serta penyesalan yang tiada tara terlukis begitu jelas.<br><br>Setelah itu, ekspresinya tak lagi dapat dibaca. Tindak tanduknya tak lagi dapat diprediksi. Tembok pemisah antara dia dan dunia telah dibangunnya semenjak kedua orang tua mereka pergi. Semenjak itu pula, tiada banyak kata yang keluar dari lisannya, membuatnya semakin sulit tuk dimengerti.<br><br>Klise itu berganti, menampilkan pemandangan saat ia memeluk sang adik yang begitu dirindukan setelah penantian yang menyesakkan dada, saat mereka bertemu di stasiun kereta setelah tidak bertemu 4 tahun lamanya. Dua buah lengan terasa di belakang punggungnya, membalas.<br><br>"Aku pulang," bisiknya kala itu. Air mata kebahagiaan membuncah. kata-kata yang selama ini ditunggu dari sang pemilik suara akhirnya dapat ia dengar.<br><br>Aliran musik lembut mengalun, menggeser potongan kenangan haru, menggantinya dengan penampilan sang adik dalam balutan kemeja berompi hitam dengan celana hitam panjang, Duduk diatas <em>bench</em> dengan jemari yang lihai menari diatas deretan <em>tuts</em>, larut dalam permainannya sendiri tanpa mempedulikan setiap pasang mata yang menatapnya takjub. <br><br>Dalam tampilan ini, sang adik juga mengingatkannya akan mendiang sang ayah. Ingatan ganda!<br><br>Ketika semua penonton terhipnotis oleh keindahan lagu yang ia mainkan. Sudut bibir sang adik melengkung dalam hitungan sepersekian detik, tertangkap oleh pandangan matanya. Sedih dan bahagia dirasakan dalam sekali hentak.<br><br>Kepingan ingatan itu kembali menampilkan adegan lain. Kala ia tak sengaja melintasi ruang keluarga, dimana ketiga adiknya berkumpul tuk mengerjakan tugas sekolah bersama.<br><br>Pemandangan yang terbilang langka, karena sang pemilik surai merah bak darah itu biasanya akan berdiam diri di dalam kamarnya setelah pulang sekolah, kini tengah menemani adik bungsu kembar mereka belajar. Kebahagiaan lain menyusup jiwanya.<br><br>Tawa kecil tak dapat di tahannya saat si kembar menjaili sang kakak, masing-masing mencubit dan menarik-narik gemas pipinya. Sesekali menggelitik pinggang sang kakak agar tertawa. Navy yang tak bergeming sedari tadi akhirnya membalas kecil serangan keduanya. Si kembar tertawa puas setelah membuat Navy terkekeh pelan.<br><br>Ia ingat bagaimana Navy mulai berinisiatif tuk memulai percakapan kecil dengan seluruh anggota keluarga. Mulai berbicara sedikit lebih banyak dari biasanya. Ketika ekspresi kakunya dan dinginnya mulai melembut. Thara berpikir, ia sudah bisa mengikis tembok yang dibangun Navy pada dirinya.<br><br>Hanya saja, bagai tersapu angin, tergiling ombak, suasana hangat yang berusaha ia kembalikan tiba-tiba runtuh dalam sekejap. Semua yang ia pikirkan terasa seperti angan-angan belaka. Semua yang ia lihat benar-benar menipunya. <br><br>Sore itu, ia tak melihat senyum terlukis di wajah sang adik. Wajahnya dingin seperti bongkahan es. Tidak ada sapaan, bahkan sebatas ucapan "Aku pulang" terdengar. Pandangannya kosong, seolah-olah tidak ada siapapun di rumah saat itu, sama sekali tak memperhatikan dirinya yang berharap sapaan sang adik.<br><br>"Aku sudah memasakan oyakodon kesukaanmu lho, mau makan sekarang? Atau mau kubuatkan makanan lain?," Akhirnya Thara memulai topik dengan punggung sang adik yang membelakanginya menaiki tangga, "Ah, apa kegiatan sekolah hari ini melelahkan? Kalau begitu istirahat lah dulu, nanti aku bangunkan."<br><br>Pintu kamar tertutup, sang adik tak membalas ucapannya, bahkan sekedar berhenti untuk menoleh pun tidak. <br><br>Thara menggenggam erat tangan Navy yang masih pulas dalam tidurnya, mengangkat genggaman tangannya dan menempelkan pada keningnya. Air mata mengalir deras tanpa henti, hatinya perih, penyesalan terukir dalam isak tangisnya. Menyalahkan dirinya yang tak cepat menyadari ekspresi sang adik saat itu. Mungkin semuanya tak akan menjadi rumit seperti ini seandainya ia cepat menanggapi keanehan saat itu. <br><br>"Navy, bangunlah... Kumohon! Maafkan aku yang tak pernah bisa memahamimu, maafkan aku karena tak meluangkan banyak waktuku untukmu... Bangun dan ceritakan semuanya pada kakak, oke? Kakak akan mendengarkanmu, kakak akan berikan segalanya untukmu. Bangun... biarkan kakak melihat senyummu lagi, ya..."<br><br>Thara menyeka air matanya, menatap lekat mata sang adik, bergerak mencium matanya yang tertutup tenang. <br><br>"Aku sudah sangat bahagia saat kau pulang. Sekarang jangan pergi lagi ya..." Air matanya jatuh di kening Navy.<br><br><em>Navy... aku ingin kau selalu tersenyum dan hidup bahagia. Karena bahagiamu adalah bahagia mereka juga. Jika kau bahagia mereka akan damai disana.<br><br>Apapun akan kulakukan agar kau bisa tersenyum. Beritahu aku! Aku akan lakukan apapun asal membuatmu tersenyum dan tetap hidup. Tetaplah di sisiku ya, jangan pergi...</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:02:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240053574</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Espoir</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240054300</link>
         <description><![CDATA[<div>Wiliam, pria berdarah Inggris yang dikenal selalu memakai pakaian rapi dari atas ke bawah. tidak hanya itu sifatnya juga sangat baik membuatnya menjadi sosok yang diidamkan oleh banyak orang namun kelainannya berkata lain dikarenakan kelainan dari lahir Wiliam lahir buta total, membuatnya dari sejak kecil hingga besar hanya bisa membayangkan dunia yang dia injak melewati Indra lain seperti pendengaran dan penciuman. Meskipun dia tidak bisa melihat banyak orang yang ingin berteman dengannya karena dia sangat baik namun apakah itu alasan utama mereka berteman dengan Wiliam ? Orang tua William yang kaya sehingga menimbulkan banyak persaingan dengan banyak orang membuat mereka menargetkan Wiliam yang tidak bisa melihat. Mereka meminta anak-anak mereka untuk mengambil barang berharga Wiliam dan uang saku yang diberikan oleh orang tua Wiliam. Awalnya orang tua Wiliam tidak curiga namun semakin lama semakin banyak yang diberikan oleh orang tua Wiliam hilang ditangan Wiliam sehingga orang tua Wiliam terpaksa harus sekolah di rumah. Wiliam yang malang, ditipu habis-habisan oleh teman-temannya disekolah karena kedua orang tuanya<br><br>Namun saat itu kedua orang tua Wiliam belum siap memberitahu tentang hal ini kepada dirinya karena Wiliam masih sangat muda dan masih ada hal lain yang perlu dia khawatirkan. Saat usianya menginjak umur 18 disaat ia berjalan-jalan dengan asistennya yang diberikan tugas untuk melindungi Wiliam dari penipu dan penjahat dari tempat itu ia bertemu dengan Gaël, pria berdarah Prancis yang merupakan calon suaminya dimasa depan. Gaël yang saat itu belum merasakan cinta mekar didalamnya hanya tertarik dengan penampilan Wiliam yang berpakaian rapi layaknya ingin pergi ke suatu acara yang penting karena itulah percakapan pertama mereka dimulai dari sana. lama kelamaan cinta mekar didalam hati mereka namun setelah mengetahui apa yang di alami oleh dirinya saat masih kecil, apa Wiliam masih bisa melihat Gaël dengan pandangan yang sama ?<br><br>"<em>Kenapa kamu cinta kepada ku </em>?" Wiliam menutup kedua matanya dan membuat punggungnya menghadap Gaël "<em>Chéri</em> ?" Gaël merasakan atmosfer yang tidak enak namun dia masih mencoba menyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya baik-baik saja. "<em>Kau mencintai ku karena kau tahu aku kaya bukan ? Kau berkata "aku mencintaimu" agar aku mudah percaya dengan mu sehingga kamu bisa mengambil uangku dengan mudah !</em>" Wiliam marah, keyakinannya dengan Gaël sudah menipis sejak dia tahu apa yang orang-orang lakukan saat dia masih kecil "<em>Wiliam !! Hentikan omong kosong mu ! Aku mencintaimu apa adanya !"</em> Gaël membantah namun Wiliam masih tidak percaya "<em>OMONG KOSONG !! BAGAIMANA AKU BISA PERCAYA KATA-KATA MANIS MU !! SEHARUSNYA AKU TIDAK PERLU DILAHIRKAN KALAU AKU BUTA BEGINI !! AKU-</em>" kata-katanya dipotong setelah Gaël menamparnya dipipi sehingga membekas lalu memegang kedua pundak wiliam "<em>WILLIAM !! HENTIKAN PERKATAAN MU ITU ! APA KAMU TIDAK MAU BERJUANG HIDUP LAYAKNYA ORANG-ORANG DI LUAR SANA ???"</em> Wiliam meneteskan air matanya karena tamparan dipipinya sangat keras namun air matanya bukan untuk kesakitan fisik namun karena ada harapan baru untuknya.<br><br>" <em>MAU KAMU TIDAK BISA MELIHAT ATAUPUN KEHILANGAN ANGGOTA BADAN LAINNYA, KAMU TETAP WILIAM YANG KUCINTAI !!..jadi kumohon jangan pergi.... kau harapan dan mimpi baru ku...</em>," Gaël yang sebelumnya memegang pundak Wiliam lalu memeluk Wiliam pelan-pelan, air matanya keluar pelan-pelan dan membasahi pundak Wiliam '<em>kamu harapan dan mimpi baruku</em>...,' kata-kata itu membekas di kepala William sehingga Wiliam membalas pelukan Gaël dan menangis dipundaknya.<br><br><br><strong>The end</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:05:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240054300</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Icarus</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240054598</link>
         <description><![CDATA[<div>Harum semerbak aroma abu yang terlahap dalam ganasnya bara si jago merah menyeruak masuk di dalam ruangan 7x7 meter yang bisa disebut bilik kamar sang pemilik rumah. Pantulan cercah cahaya oleh batang-batang lilin seakan tak cukup menerangi setiap ufuk gulita yang dimakan oleh gelapnya malam di dalam bilik itu. Perapian berkaki bata tegak berdiri di depannya menjadi saksi atas lembar demi lembar surat dengan diksi teragung yang pernah ia tilik dan baca seumur hidupnya. Cakrawala yang kelak akan ia hadapi esok tidak akan pernah sama lagi setelah ia menyapulenyapkan segala lara yang tertinta indah di dalam surat-surat jinawi yang berhasil membuat hatinya senang bukan kepalang. <br><br>Ia berdiri lesu, menyaksikan lirih perihnya kenyataan kendati terus berangan dengan harapan genting yang terkasihnya beri kepada tuan malang tanpa panduan. Kemana sekarang ia harus menyatakan peraduannya? Kesedihannya? Kehilangannya? Batang tubuh tuan rumah itu melebur satu dalam gelap abadi tanpa harus lenyap, surai cokelat gelap nan halus yang dimilikinya semakin hari semakin berkurang. Helai demi helai berjatuhan, seperti jiwa yang telah ia luluhlantakan bersama rasa ingin memiliki sang tuan berperikemanusiaan seutuhnya. Obsesi. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya detik ini. <br><br>Di permukaan ubin tuan itu berdiri, masih tercerai-berai sisa surat-surat yang belum kunjung ia timpuk untuk memberi makan malam si jago merah. Ia kembali membacanya, memikirkan konsekuensi dan sepercik harapan apabila sang terkasih membalas surat yang ia beri. Lamunan akan manis tutur katanya kembali memenuhi amigdalanya, surai putih suci berpasang arus dengan sepoi angin di sekitarnya, laksana sutra sentuhan jemarinya mampu melelapkan insan yang ada. Ah, belenggu tuan dengan netra lembayung itu kembali sayu.&nbsp; Mengingat semua yang ia tuangkan di dalam surat-surat tanpa balasan seakan sirna bagai kepala tanpa rencana. <br><br>Tuan itu termangu cukup lama, dengan posisi raga bersandar di tepi kursi berbahan kayu serta beludru otentik peninggalan ayahandanya. Berusaha menyulam senyum di bibirnya, berhalusinasi akan hadirnya seseorang yang masih bersatu padu dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Tuan bernetra lembayung keruh yang tak lain dan tak bukan adalah sang kakak, berhasil menjadi penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam baginya. Tuhan terlalu baik, mengizinkan dirinya terkoyak sampai habis oleh perasaan terlarang teruntuk kakaknya. Rindu ruai tak mampu disembunyikan, para penjaga neraka pun hanya bisa tertawa ria karena kebodohan yang salah satu hamba Tuhan-Nya lakukan. <br><br>Sosok sang sulung—tak lain, kakaknya—bagi tuan itu adalah bukti terindah yang telah Tuhan ciptakan. Walaupun, masih, ia memiliki banyak sekali kekurangan yang teramat sangat, salah satunya adalah seorang gegabah dan gila akan ketidakpastian. Baginya, ialah matahari Firdausnya yang menyinari pandangannya saat cakrawala aksara meninggi, sang pelita yang ia dekap saat lentera kehidupannya redup, tak mampu memancarkan sinar lagi. Dan sang manifestasi akan cita dalam kebahagiaan yang tak berkesudahan. Ialah cahaya, kembar arti seperti namanya. Cahaya yang selalu menggiring tuan itu untuk keluar dari pedih dan perihnya dunia. Ialah bunga tidur, bunga tidur terindah tanpa adanya terbangun. <br><br>Jika Ia masih bisa berharap, ia hanya ingin satu permintaannya terwujud. Tanpa kembali berputus asa, ia kembali berdiri dan duduk di kursi yang sebelumnya menjadi sandaran Ia berlirih. Ia meregangkan tangannya, lalu mengambil sebuah pena, dan membasahi kertas kosong dengan tinta kelamnya. Jari jemarinya bergetar, namun seketika ia teringat, ia harus bangkit kembali dari luka yang terus bergeming karena ketiadaan sosok penyayang di hidupnya yang terlanjur hambar. Bunyi gertakan gigi-giginya terdengar jelas walaupun hangat sudah memeluknya erat-erat, ia takut. Ia takut jika sang kakak tidak kunjung membalas suratnya seperti surat-surat yang ia hanguskan tanpa geming. Andai sang kakak sadar, atas hitamnya sepi di balik punggungnya dan betapa penting ia selalu hadir meskipun tergarisi oleh jarak ribuan mil dan waktu. <br><br><em>Karena tak akan kusayatkan luka demi berkejaran denganmu tanpa henti. Jika sedikit saja kau melihatku di sini, mendambakanmu, di setiap pagi dan malamku.</em><br><br>Dan tuan itu adalah Icarus. Berharap agar bisa keluar dari jeruji kenyataan yang Ia ciptakan, bersulam sayap bulu domba, berdalih fakta bahwa ialah si manusia berdarah dingin. Ia rekatkan seluruh bulu itu dengan lilin bagai dustanya yang ia kemukakan kepada dirinya, rekannya, dan dunianya. Ketangguhannya serta keangkuhannya memberanikannya terbang terlalu tinggi dan terlalu dekat menuju matahari yang kelak menenggelamkannya kedalam kesengsaraan abadi. Ia tahu, ia akan segera mati tanpa nisan untuk berakhir, namun angkaranya 'kan musnah terbasuh sinar matahari, yang tak lain ia akan amat bersyukur apabila bertemu dengan sang kakak, meskipun nyawa adalah taruhannya.&nbsp;<br><br>Dan ia akan terus berharap untuk sang kakak kembali kedekapannya, tanpa harus terjaga setiap malam tanpa kata beristirahat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:06:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240054598</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Flowing Time</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240055065</link>
         <description><![CDATA[<div>Mahendra kaget melihat pemandangan di depannya. Gadis dengan surai merah itu disinari rembulan.&nbsp;<br><br>“Cantik...” pujinya, spontan.&nbsp;<br><br>Gadis itu menatapnya dan tersenyum kecil, “Bulannya memang indah malam ini, apakah Mahen ingin melihatnya juga?”&nbsp;<br><br>Mahendra menggeleng yang ia maksud itu bukan bulannya, “Ivy.”&nbsp;<br><br>“Iya?”&nbsp;<br><br>“Bukan bulannya yang cantik.” ucapnya, mencoba menjelaskan. Gadis itu memandangnya bingung, sebelum mengangguk.&nbsp;<br><br>“Maksud Mahen bintangnya kan?”&nbsp;<br><br>Mahendra kembali menggeleng, wajahnya terlihat putus asa. Melukis senyum di bibir Ivy.&nbsp;<br><br>“Saya bercanda... Terima kasih.” balas Ivy malu-malu.&nbsp;<br><br>Mahendra kini terkekeh ingin menjahili Ivy jika saja irisnya tak menangkap sapu tangan bebercak merah itu.&nbsp;<br><br>Ivy menyadari fokus Mahendra yang tertuju pada benda kecil disampingnya. Dia tersenyum.&nbsp;<br><br>“Ini karena sebuah luka kecil.” jelasnya.&nbsp;<br><br>Dan Mahendra mempercayai hal itu. Ia ikut duduk disebelah Ivy, sekedar bercerita hari sekolah mereka.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Mahendra sedang asyik dengan teman-temannya ketika irisnya menangkap surai merah yang ia kenali.&nbsp;<br><br>Boro-boro ia mengemasi tas miliknya serta biola kesayangannya. Mahendra hampir saja melupakan bolu yang baru ia beli jika saja Monika tak memanggilnya.&nbsp;<br><br>“Thanks.” ucapnya, mengacungkan jempolnya. Monika balas tertawa.&nbsp;<br><br>Iris miliknya memperhatikan sekitarnya, mencari sosok Ivy yang tadi ia lihat. Ketemu, gadis itu sedang bersama dengan temannya.&nbsp;<br><br>Langkah bahagianya terhenti ketika melihat cairan merah keluar dari bibir gadis itu.&nbsp;<br><br>“IVY!” teriak seseorang, tidak, itu Mahendra.&nbsp;<br><br>Ivy memaksakan diri untuk tersenyum menyapanya, “Halo, Mahen!”&nbsp;<br><br>Yang mengejutkan kedua gadis itu adalah ketika Mahendra langsung mengangkat Ivy. Tak mempedulikan pandangan orang-orang.&nbsp;<br><br>Wajah Ivy memanas, rona merah menyergapnya. Belum lagi, saat ini banyak sekali yang memperhatikan mereka.&nbsp;<br><br>“Ma-Mahen...” panggilnya, Mahendra tak menggubrisnya, “Mahendra!” ulangnya.&nbsp;<br><br>“Ivory Reighton... Sejak kapan kamu batuk seperti ini?” tanya Mahendra, serius.&nbsp;<br><br>Daripada menjawab, Ivy malah terbatuk. Membuat kembalinya cairan merah itu, bedanya kali ini lebih banyak, lebih menyakitkan.&nbsp;<br><br>Ivy membatin kesal, kenapa dia harus ketahuan disaat-saat seperti ini?&nbsp;<br><br>'Aku begitu bodoh. Selalu menyusahkan orang lain saja.' batinnya.&nbsp;<br><br>Raut panik yang terlukis diwajah Mahendra membuat Ivy... Merasa sedikit lega.&nbsp;<br><br>'Setidaknya... Dia masih peduli padaku...'&nbsp;<br><br>Lalu, hatinya kembali sesak ketika kedekatan Mahendra dengan seorang gadis terputar ulang di benaknya. Ah, cinta benar-benar membuatnya bodoh.&nbsp;<br><br>“Saya benar-benar menyusahkan...”&nbsp;<br><br>Ivy menyadari ia baru saja mengungkapkan apa yang ia rasakan, langkah Mahendra terhenti.&nbsp;<br><br>“Ivory Reighton.” panggilnya, Mahendra menatap wajah gadis di lengannya itu, Ivy memandangnya dengan heran, “Kamu tidak menyusahkan. Siapapun yang mengatakan itu padamu, ku pastikan itu tidak benar.” tuturnya, tegas.&nbsp;<br><br>Tidak seperti nada bicaranya yang biasa... Saat ini, Mahendra yang menyampaikan kalimat ini...&nbsp;<br><br>“Mahen sedang serius?” tanyanya.&nbsp;<br><br>Hampir saja Mahendra menjatuhkan dirinya, jika ia tak mengingat kalau sedang mengangkat Ivy.&nbsp;<br><br>Yah, salahnya juga karena terlalu sering bercanda dan berbuat jahil. Dia menyesali perbuatannya sekarang.&nbsp;<br><br>Ivy terkekeh melihat raut wajah Mahendra yang rumit, melupakan bunga yang masih terus menggerogotinya dari dalam.&nbsp;<br><br>Batuk yang kembali membuat netra brunette Mahendra tertuju kepadanya. Masih dihantui kecemasan.&nbsp;<br><br>“Tenanglah, ini bukan apa-apa.” tutur Ivy dengan tenang.&nbsp;<br><br>'Bohong.'&nbsp;<br><br>Tapi, Mahendra tak berkata apa-apa dan terus mempercepat langkahnya. Ketika tiba di UKS, mereka disambut oleh teman Ivy. Saat ini, Ivy sudah terlelap.&nbsp;<br><br>“Ivy? Anak ini kenapa?” tanyanya, Mahendra menjelaskan, singkat.&nbsp;<br><br>“Kemana Miss Tien...?” tanya Mahendra, aneh sekali. Harusnya gurunya itu di sini saat ini.&nbsp;<br><br>“Miss Tien sedang membantu anak-anak yang sedang olahraga.”&nbsp;<br><br>Mahendra mengangguk, “Apa yang bisa ku lakukan?”&nbsp;<br><br>Gadis itu terheran, “Maaf...?”&nbsp;<br><br>“Apa ada yang bisa ku bantu? Dalam merawat Ivy.”&nbsp;<br><br>Boro-boro gadis itu menggeleng, menolak, “Tidak usah. Serahkan saja kepadaku. Ku rasa, lebih baik kamu meminta izin kepada guru yang akan mengajar.” sarannya.&nbsp;<br><br>Mau tak mau, dengan perasaan berat hati Mahendra membaringkan gadis itu di salah satu ranjang kosong UKS.&nbsp;<br><br>Ia sejenak memandangi wajah tidur gadis itu, mengelus pelan pipinya.&nbsp;<br><br>Gadis yang daritadi hanya memperhatikan dalam diam, berusaha menahan perasaan gemasnya.&nbsp;<br><br>“Kapan mereka berlabuh?” tanyanya ketika Mahendra pergi.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Terbangun dari tidurnya, Ivy memperhatikan sekitarnya. Lega hatinya ketika melihat UKS sedang kosong. Namun, netra merah miliknya membelalak ketika memperhatikan sisi kanan ranjangnya.&nbsp;<br><br>Tepat di sebelahnya... tertidur seorang—ralat, itu adalah Mahendra. Mahendra terlelap dengan menggenggam tangannya.&nbsp;<br><br>Ivy rasa, jantungnya akan keluar sebentar lagi. Gejolak bahagia membuatnya tidak berfikir jernih. Ivy mencubit dirinya sendiri, harap-harap bukan mimpi.&nbsp;<br><br>Tapi, gesturnya malah membuat Mahendra terbangun. Jantung Ivy tambah tak karuan, melihat wajah baru bangun tidur Mahendra membuatnya gila—ralat, dia terlalu menyukai Mahendra.&nbsp;<br><br>“Sudah bangun? Apa masih sakit?” tanya Mahendra, cemas di wajahnya masih lekat.&nbsp;<br><br>Ivy menggeleng, “Tidak lagi, kok.”&nbsp;<br><br>Mahendra terlihat tak percaya, meskipun Ivy sudah bersikeras. Alhasil, sesuai persetujuan, mereka berdua setuju untuk pergi ke rumah sakit.&nbsp;<br><br>Anehnya, selama di perjalanan genggaman Mahendra kepada Ivy tak pernah lepas. Irama jantungnya membuat Ivy takut Mahendra mendengarnya.&nbsp;<br><br>Tanpa peduli godaan dari teman-teman yang melihat tingkahnya itu.&nbsp;<br><br><br>°°°&nbsp;<br><br>“Tenang saja, darah yang keluar dari mulutnya itu darah yang berasal dari saluran pernafasannya. Nona Ivory kekurangan tidur saja.”&nbsp;<br><br>Begitu penjelasan dokter kepada mereka ketika mengecek keadaan gadis itu. Ivy mengangguk paham, memang belakangan ini tidurnya selalu kurang karena pekerjaan paruh waktunya dan anak-anak yang belakangan ini sering mengajaknya bermain.&nbsp;<br><br>“Saran saya hanyalah nona Ivory lebih memperhatikan jam tidurnya. Jangan memaksakan diri.”&nbsp;<br><br>Mahendra mencatat saran-saran dokter di benaknya. Sementara, Ivy sendiri hanya manut mendengarkan.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Keduanya berjalan berdampingan, hari sudah mulai gelap saat ini. Ivy tak jarang celingak-celinguk, ia merasa tak nyaman mengambil cuti.&nbsp;<br><br>“Tenanglah, aku sudah meminta izin kepada bosmu.” ujar Mahendra, menenangkan.&nbsp;<br><br>“Aha... kelihatan ya...?”&nbsp;<br><br>Mahendra mengangguk, bagaimana pun, jika itu berkaitan dengan Ivy. Hal sekecil apapun akan ia sadari.&nbsp;<br><br>“Jika ingin kembali bekerja, istirahatlah yang cukup.”&nbsp;<br><br>“Yah... saya akan mencobanya.”&nbsp;<br><br>“Ivory... aku serius.”&nbsp;<br><br>Melihat kembali raut serius yang ada di wajah Mahendra, kembali membuatnya terkekeh.&nbsp;<br><br>“Baiklah, baiklah. Mahen tidak perlu sebegitunya.”&nbsp;<br><br>Tangan Mahendra menyentuh pipi gadis itu, semburat merah yang kini terlihat jelas.&nbsp;<br><br>“Jika itu berkaitan dengan orang yang ku sayangi, mengapa tidak?”&nbsp;<br><br>Ivy tahu, Mahendra bersungguh-sungguh mengatakan itu. Degupan jantungnya yang tak mau berhenti meski sudah ia perintahkan...&nbsp;<br><br>Mahendra bermain dengan surainya, menepikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Ivy.&nbsp;<br><br>Ivy hanya ingin saat ini waktu berhenti. Ia ingin mereka selalu seperti ini.&nbsp;<br><br>'Semoga ke depannya tetap begini...'&nbsp;<br><br>Hanya waktu yang dapat menjawab hal itu, dan dirinya... hanya mengikuti. Berharap setidaknya, dewi mengabulkan harapan kecilnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:08:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240055065</guid>
      </item>
      <item>
         <title>To Meet Again</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240055620</link>
         <description><![CDATA[<div>“Jadi... karena sekarang adalah giliranmu untuk belanja...” ia tak melanjutkan kalimatnya, salah satu alisnya terangkat, memberikan kode. <br><br>Gadis itu menghela nafas dengan malas, “Ya ya ya ya. Ini selalu jadi tugasku. Mana.” mintanya, lawan bicaranya menyerahkan beberapa lembaran kertas di tangannya. <br><br>“Good luck! Aku nunggu di cafe, ya!” serunya dengan riang, melambaikan tangannya kepada gadis itu. <br><br>“Nee-san sialan.” rutuk gadis itu, sebelum memasuki toserba yang ada di depannya. <br><br>Netra miliknya sedang memperhatikan intens jajaran snack di depannya. Lalu, netra itu menilik ulang lembaran kertas berisi list belanja kakaknya itu. <br><br>“Melihat ini saja, aku yakin dia pasti sedang badmood.” gumamnya, fokus memilah-milah diantara bungkusan-bungkusan itu. <br><br>Hitamnya yang indah terpaku sebentar kepada salah satu snack yang berada di atas rak. Sepertinya snack itu salah satu hal wajib yang biasanya dibeli kakaknya. <br><br>“Arue nee-chan biasanya juga membeli ini kan?” tanyanya, sedikit ragu. <br><br>Ia mencoba mengingat apa saja makanan yang biasanya bisa meningkatkan mood kakaknya itu. <br><br>“Anoo... apa bisa menolongku?” <br><br>“Maaf.” balas seseorang sebelum pergi meninggalkan gadis itu. <br><br>Ada beberapa kali gadis itu meminta tolong kepada orang-orang, namun... mereka hanya sekadar tak mengacuhkan gadis itu, atau menolak. <br><br>Netra gadis itu akhirnya memperlihatkan kekecewaan besar sebelum akhirnya kembali pada rak di depannya. <br><br>“Hop!” <br><br>Gadis bersurai navy itu sedang berusaha meraih salah satu kotak sereal yang ada di atas rak itu. <br><br>Tapi, karena tingginya, ia tidak bisa menggapainya. <br><br>Langkah kakinya menuju ke gadis itu dengan lembut mengambilkan sereal yang diinginkannya. <br><br>“Terima kasih!” <br><br>Netra hitam gadis itu berbinar ketika pemuda itu menyerahkan kotak sereal yang daritadi ia berusaha gapai. <br><br>“Sama-sama. Apakah ada yang perlu dibantu lagi?” tanyanya. <br><br>Gadis itu menggeleng, sebenarnya masih ada, hanya saja ia sungkan menyusahkan seseorang. <br><br>Pemuda itu tersenyum kepadanya, “Jangan sungkan meminta tolong. Saya bersedia membantu, kok.” tawarnya. <br><br>“Ah... emm...” gadis itu terlihat ragu-ragu sebelum membungkuk, “Bolehkah membantuku mencari beberapa barang-barang ini?” tanyanya, menunjukkan selembaran kertas miliknya. <br><br>Ia mengangguk, rasanya kakaknya takkan marah jika makanannya sampai agak lama kan? <br><br>“Kebetulan aku juga mencari Pocky yang rasa ini.” ucapnya, ia akhirnya membantu gadis itu. <br><br>Sedikit canggung, beberapa kali gadis itu berusaha mengangkat topik pembicaraan. <br><br>“Belanjaan sebanyak itu... apakah itu untuk pacarmu?” tanyanya, seketika pemuda itu mematung. <br><br>“Maaf... pacar?” <br><br>Gadis itu mengangguk serius, menurutnya, pemuda seperti ini takkan mungkin membeli sebanyak itu makanan manis untuknya seorang. Dan, melihat daritadi pemuda itu berfikir serius memilih snack, ia menyimpulkan pasti itu untuk seseorang. <br><br>Beberapa lembar kertas shopping list yang dikeluarkan pemuda itu menguatkan tebakannya (habisnya tulisan tangan di kertas itu, tulisan perempuan). <br><br>'Bukankah dia romantis?' batin gadis itu. <br><br>Tapi, kekehan dari pemuda itu membuat gadis itu buyar. Ia menggeleng sebelum tersenyum. <br><br>“Daripada pacar, semua ini pesanan nee-chanku.” <br><br>Muka gadis itu memerah karena salah menebak. Pemuda itu melihatnya, tersenyum kecil. <br><br>'Kakak ini manis juga.' pikirnya. <br><br>“Ma-maaf.” <br><br>“Tak apa, ah, apa perlu bantuanku untuk mengangkat itu?” tawarnya, jarinya tertunjuk ke kertas gadis itu. <br><br><em>Beras 20kg </em><br><br>'Nee-san, benar-benar...' rutuk gadis itu, 'Bagaimana bisa aku mengangkat beras seberat itu?'&nbsp;<br><br>“Bolehkah?”&nbsp;<br><br>“Boleh. Sekalian saja.”&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>“Terima kasih banyak!” ucap gadis itu sambil menjabat tangan penyelamatnya ketika pemuda itu meletakkan barang belanjaannya di bagasi mobilnya.&nbsp;<br><br>Seutas senyum terlukis di wajahnya, “Sama-sama! Lain kali jangan sungkan meminta tolong!” balasnya, melambaikan tangan ketika menjauh.&nbsp;<br><br>Gadis itu balas melambai, menatap kepergian pemuda yang baru ia kenal itu. Jauh di lubuk hatinya jika suatu saat mereka bertemu lagi, ia akan menolong pemuda itu! Tekadnya bulat!&nbsp;<br><br>'Astaga! Aku tidak pernah menanyakan namanya!' batin gadis itu, merutuk diri.&nbsp;<br><br>“Kanami?”&nbsp;<br><br>Wanita yang sudah berdiri di sampingnya, menatap adiknya dengan heran.&nbsp;<br><br>Sementara itu,&nbsp; pemuda itu terkekeh ketika melihat kakaknya sudah menunggu di depan pintu rumah.&nbsp;<br><br>Tentunya dengan pose ngambeknya, kedua tangannya tepat di depan dadanya dan pipinya menggembung.&nbsp;<br><br>“Keburu selesai filmnya!” ujarnya, masih ngambek.&nbsp;<br><br>“Bukannya nee-chan bilang takkan menonton film?” tanyanya.&nbsp;<br><br>“Mana ada ku bilang begitu! Mana sih pesananku?” protesnya, tangannya terjulur meminta pesanannya.&nbsp;<br><br>“Nee-chan tidak sabaran.”&nbsp;<br><br>“Bukannya tak sabaran. Kau itu kelamaan, Yeol. Ngapain sih? Pergi kemana sampe lama?”&nbsp;<br><br>Yeol menunjukkan deretan gigi putihnya, “Aku ke toserba yang biasa. Tadi nolongin orang.”&nbsp;<br><br>“Hee? Masa? Bohong ya?”&nbsp;<br><br>“Nee-chan, aku ga akan bohong.”&nbsp;<br><br>“Memang siapa yang kau tolong sampai selama itu?”&nbsp;<br><br>“Itu, dia perempuan... sepertinya seumuran dengan nee-chan...” jelasnya, Arue seperti meminta penjelasan rinci. Dilihat dari netra brunette yang mengintrogasi.&nbsp;<br><br>“Kalau begitu, siapa namanya? Kan lama banget itu, pasti kalian sempat cerita ini itu kan?”&nbsp;<br><br>“Yah, kami memang bercerita sih... Oh ya!”&nbsp;<br><br>Karena Yeol yang tiba-tiba, Arue sejenak kaget. Yeol baru saja menyadarinya, dia tidak mengetahui nama gadis itu sama sekali.&nbsp;<br><br>“Kenapa sih?”&nbsp;<br><br>“Aku tak meminta namanya...”&nbsp;<br><br>Arue hanya menggeleng, “Ya sudahlah. Memangnya kalian akan bertemu lagi?”&nbsp;<br><br>“Hmm... Entahlah...”&nbsp;<br><br>Netra kakaknya langsung bersinar ketika mendengar respon terakhir Yeol.&nbsp;<br><br>“Kau ingin bertemu lagi dengannya ya?” tanyanya, menggoda.&nbsp;<br><br>“Yah... aku hanya bisa berharap bertemu dengannya lagi. Soalnya, gadis yang se-frekuensi itu, jarang ku temui.”&nbsp;<br><br>Arue hanya menepuk pundak Yeol dan mengangkut plastik dari pemuda itu.&nbsp;<br><br>Sejenak pemuda itu menatap langit sebelum menceletus, “Semoga bisa bertemu lagi.”</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:10:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240055620</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hope in The Snow</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240058259</link>
         <description><![CDATA[<div><em>beberapa tahun yang lalu </em><br><br>"UWAAA..LIHAT-LIHAT!! DISINI ADA BANYAK SALJUU!!" <br><br>"YEY! KITA MAIN SALJU!" <br><br>"Boneka salju" <br><br>"UHM! AYO KITA BUAT BONEKA SALJU, LALU MALAIKAT SALJU, DAN LALU KITA LEMPAR BOLA-BOLA SALJU" <br><br>"MENYENANGKANNYA!" <br><br>"ya" <br><br>Dihalaman luas terlihat tiga anak seiras, tidak ada yang beda dari mereka kecuali reaksi berisik tadi. Suara tak ada semangat itu milik anak kecil yang lebih muda dari mereka, dengan poni dibelah tengah. <br><br>"******! K***** AYOO!!" teriakan lain terdengar dari seberang, ada anak kecil bersurai pirang tengah melambaikan tangan se-- terlalu bersemangat. senyuman lebar terlihat sangat jelas walau awan tengah menurunkan tumpahan salju. Rambut pirangnya yang menyamping ke kanan berhembus oleh angin, menutupi dua mata biru dalam helaian. <br><br>"Nah, ***** sudah memanggil kita ayo nyusul" ajak seorang anak bersurai pirang dengan rambut dibelah menyamping kiri menatap anak yang surai pirang belah tengah itu dan mengajaknya. <br><br>"Uhm" kedua anak pirang itu melangkah diatas tumpukan salju menemui saudara pirang yang lain. Senyuman dari surai pirang belah kanan itu melebar dan menyerang dua orang tadi dengan lenparan bola salju. <br><br>Tentu kedua orang ini tak menyiapkan diri dalam penyerangan mendadak dan menjadikannya keduanya sasaran empuk. <br><br>"Kau curang!!" Sungut si pirang belah kiri menatap si belah kanan dengan dendam, sedangkan belah tengah mengumpulkan salju sebisa yang dia lakukan. Membentuk bulat dan balik melempari bola salju itu ke pirang belah kiri. <br><br>"Aku ti--" <br><br>"Pff--" <br><br>"Kau curang" <br><br>"Hahaha!!" <br><br>Ketiganya lansung tertawa ditempat berdiri masing-masing tanpa menyadari ketiganya sedang diawasi. <br><br>Dikejauhan terlihat pasangan suami istri mendekat kearah mereka, kedua pasutri itu saling merangkul tangannya. Dan melempar canda tawa ditengah dinginnya salju. <br><br>"Kalian bertiga sedang perang salju, gimana kita bentuk kelompok?" Tawar seorang pria dewasa setelah berada dihadapan mereka yang sudah lelah tertawa. <br><br>"****, mau bermain dengan kami?" Si pirang belah tengah menatap tertarik akan ajakan bermain bersama diajukan pria dewasa, berarti tandanya mereka akan berperang. <br><br>"Fuu!! Jika kami bertiga menang, **** dan **** harus menuruti keinginan kami!" Kini si belah kanan menyahuti ucapan saudaranya yang lain. Tatapan mendelekrasi perang mengibar di netra biru. <br><br>"Boleh, tapi jika kami menang apa yang kalian berikan?" Kini suara seorang wanita terlihat menimpali obrolan sang suami dan kedua anak mereka, sedangkan satu anak yang lain tengah berpikir. <br><br>"Kami akan beri kecupan dan pelukan!!" Sahutan lain terdengar dari si pirang belah kiri, kedua orang dewasa nampak menimbang penawaran diberikan. Keduanya tersenyum dan saling menatap, seakan melakukan komunikasi tanpa suara. <br><br>"Setuju" kedua orang dewasa itu mengancungkan jari jempolnya, ketiga anak disana tersenyum kian lebar. Rencana mengalahkan dua orang dewasa itu akan mereka laksanakan sekarang didepan halaman rumah mereka yang luas. <br><br>"Sebentar" keempat pasang mata menatap kearahnya, membuat dia agak ragu untuk melanjutkannya. <br><br>"Ini tidak adil, jika kami beri pelukan dan ciuman rasanya itu sudah ada dua, ku yakin kalian tak puas dengan itu saja. Pasti kalian mintanya lebih..sedangkan kami terbatas..karena barang" <br><br>"Baiklah K*****, kamu bisa minta yang lain ya? Kita berlaku adil" ucap wanita dewasa sambil mengelus kepalanya. Sedangkan salah satu pria dewasa disana pura-pura tidak tau akan tatapan tajam diberi istrinya. <br><br>"NAH AYO!!" teriakan nyaring dari si pirang kiri memulai perang mereka. <br><br>- <br><br>Kini matahari sudah terbenam ditempatnya, keluarga kecil itu tengah menikmati kehangatan perapian bersama-sama sambil bercanda penuh suka ria.<br><br>"K*****, tadi sangat hebat" puji pria dewasa sambil mengacak surainya lalu mengacak surai dua anak yang lain. Ketiga anak kecil disana mulai menjauh serta berlarian dan pria dewasa itu mengejar mereka. <br><br>"Kalian ini!! Jangan lari-lari dong!!" Sungut wanita dewasa memegang sebuah nampan berisi lima cangkir coklat panas serta ada sepirimg kukis. <br><br>"Baik, **!!" Sahut dua anak yang sudah duduk rapi didepan perapian tak sabar menunggu jatah minuman mereka, sedangkan satu anak yang lain merapikan poni sibak kanannya yang berantakan. <br><br>"Ini buat, *****, ****** dan ini buat mu," wanita itu mulai membagikan gelas yang ada, tersisa dua gelas diatas nampan. Satu lagi punya anaknya yang paling kecil dengan poni belah tengahnya. <br><br>"Hey..., dimana K*****??" Dua anak yang sedang bercanda itu saling tatap dan menunjuk kearah luar. <br><br>"Kami lihat dia kearah sana" raut wajah orang dewasa disana lansung berubah, mereka mulai bergerak kearah luar dan dua anak yang lain mengikuti dari belakang. <br><br>"K--!!!" pria dewasa itu memanggilnya tapi sayang saat si anak ingin berbalik bayangan gelap menyergapnya lalu menghilang bersama angin berhembus kencang. <br><br>"SIAL!" Umpat pria dewasa itu sambil memukul tiang rumah mereka,&nbsp; anaknya telah diculik. Hal yang paling tidak diinginkan terjadi, dua anaknya mulai menangis dan ditenangkan sama istrinya yang masih terasa shock. <br><br>-<br><em>??? Pov </em><br><br>Aku membuka mata, cahaya matahari lansung menusuk kedalam peglihatan. Membuatku agak mengerang karena cahaya yang berlebihan masuk. <br><br>"Ughh.." aku mengerjap berapa kali setelah merasa agak nyaman, aku bermimpi aneh atau itu pengalan ingatan ku? Entahlah aku merasa asing dengan hal itu. <br><br>Aku tak ingat..bahkan untuk namaku, mereka memanggilku dengan nama... <br><br>"Kak Seven!!"&nbsp; Aku menoleh keasal suara, anak perempuan rambut biru bergelombang dan mata oren cerah melambai kearahku. <br><br>"Mirai, urusanmu sudah selesai?" Aku balas melambaikan tangan, dan anak perempuan itu mendekatiku dengan tatapan penuh binar. <br><br>"Aku akan diadopsi" ujarnya dengan wajah penuh binar, diadopsi berarti meninggalkan panti yang terasa neraka ini. <br><br>"Baguslah, kau diadopsi juga akhirnya" aku mengelus surai biru itu, artian adopsi ada dua. Dijual pada pasar gelap atau benar-benar 'diangkat' jadi anak dari keluarga terpandang. <br><br>Aku sempat mengira-ngira kenapa Mirai ingin diadopsi, umurnya besok akan 7 tahun. Darahnya masih bersih dan segar, organ tubuhnya juga..anak yang malang. Pikirku jika pilihan pertama terjadi, tapi wajah cerahnya membuatku ragu dengan pemikiran pertama. <br><br>"Kak Seven!!" Dia berteriak kesal kearahku, pipi bulatnya dikembungkan menambah kesan gemas. Aku menarik pipi tersebut, menambah tulisan kekesalan diwajahnya. <br><br>"Pff, kau lucu Mirai" pujiku melepas tarikkan pada pipinya. Anak itu menjulurkan lidah untuk membalas perkataanku, biasanya aku akan marah tapi kali ini aku hanya tertawa. <br><br>"Aku lelah! Kakak seperti tenggelam dalam pikiran kakak, padahal aku lelah berbicara!" Lihat dia mulai merengek tanpa tau malu kepadaku yang usianya beda tiga tahun.&nbsp; Aku mengulas senyum tipis, dan meminta maaf kepadanya. <br><br>"Kak Seven, apa kakak tak apa disini sendirian?" Aku menaikkan sebelah alis bingung, menanyakan kenapa anak semanis dia bisa bertanya seperti itu. <br><br>"Disini aku tidak sendirian" ucapku menampik rasa ragu, bahwa aku tidak sendirian disini. <br><br>"Beneran??" Kedua mata anak itu menatapku penuh ketidak percayaan, aku mengangguk menyakinkan dirinya. <br><br>"Iya" <br><br>Anak itu mulai berbaring dipahaku, bulu mata nya tertiup oleh angin. <br><br>"Mirai, apa kau bahagia?" <br><br>"Ya, aku bisa keluar dari sini tapi kak Se--" <br><br>"Jangan pedulikan aku, Mirai larilah sejauh mungkin jika merasa bahaya. Karena aku tak dapat melindungimu seperti disini," <br><br>"Tentunya, aku akan menjaga diriku sendiri" aku tersenyum dan merapikan surai birunya. <br><br>- <br><br><em>tick..tack..tick..tack </em><br><br>Denting jam membuatku terjaga, ku rengangkan badanku yang mulai terasa kaku. Sudah jam tiga siang dan Mirai juga pergi bersama keluarga barunya. <br><br>Aku berjalan-jalan dilorong penghubung asrama dan bangunan utama. Panti tempat ku tinggali bukanlah panti biasa. <br><br>Sebutan panti hanya kedok luar agar tidak dicurigai, tapi isinya malah pusat pembunuh bayaran. Aku menguap, siang ini terasa menganggu apa lagi dengan mengajari anak-anak baru. <br><br>"Bunuh atau dibunuh, itu yang harus diingat" aku mulai mengajari mereka dasar-dasar yang sebelumnya tetua pernah ajarkan. <br><br>"Baik, hari ini telah berakhir" aku berjalan keluar dari ruangan kelas yang sebenarnya merupakan kamar. Benar-benar membuatku lelah. <br><br>Yah..., ini panti cukup nyeleneh dalam berapa hal. Sekolah tempat pembunuh bayaran, benar-benar disebut <strong>panti asuhan</strong>, penjualan organ gelap. Mungkin dalam <em>brand</em> makanan jadi <em>all in one</em>. Slogan terkenalnya satu untuk semua. <br><br>"K!, tetua memanggilmu" <br><br>"Baik" <br><br>Tetua sudah memanggilku, apa yang dia inginkan sekarang? <br><br>- <br><br>"K, aku punya tugas untukmu" suara tua beraroma tembakau membuat ubun-ubun kepalaku sesak serta pening. Tapi ku usahakan untuk bersikap biasa saja, walau aroma tembakau itu membuatku ingin muntah. <br><br>"Tugas apa?" <br><br>"Lakukan seperti biasa, Klien A meminta mu untuk menyamar jadi anaknya" aku mengerut kening, menyamar jadi anaknya? Ini permintaan yang sangat aneh. <br><br>"Aku menolaknya, terima kasih" segera ku pergi dari ruangan itu, peduli setan sama teriakkan tetua. <em>menyamar jadi anaknya </em>Siala--! Aku tak mau menginjak kakiku disana lagi. <br><br>"Pandai juga si tua itu menyamarkan identitasnya atau si bajingan tengik itu" umpatku tak tertahankan, jelas diingatanku pria besar berbadan gempal dipanggil Hans, di jari-jari gemuk seperti belatung itu tersempil rokok merah menyala yang siap digunakan dalam menyiksaku. <br><br>Reflek ku pegang bahu kiriku, rasa tembakau membakar kulit masih berbekas. Walau itu sudah lima tahun lamanya, <br><br>Aku merasa jijik dengan dirinya, rendahan seperti dirinya kenapa tidak mati!! Ku lampiaskan kesalku pada kaleng kosong, menendangnya secara sembarang. <br><br>Tanpa aku sadari aku sudah melangkah jauh dari panti, kini aku berada dihadapan rumah besar. Tempat para pemuka agama hadir dan memberkati mereka dengan doa-doa indah penuh pujian. <br><br>Dulu aku pernah berharap bahwa hidupku yang seperti ini tidak pernah terjadi jika aku lahir. Diculik lalu dijual belikan sampai berakhir di panti tersebut, seharusnya aku bersyukur karena masih hidup..atau tidak? <br><br>Jika aku harus bersyukur..lantas hilang ingatan ku derita ini sebuah kutukkan? <br><br>Ku tatap pintu kayu berwarna gelap itu, mendorongnya agak terbuka. Menyelinap masuk dan berkamuflase diantara orang-orang yang ada. <br><br>Aku hanya ingin percaya, bahwa harapan aku terkabulkan jika sekali lagi aku memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh. <br><br>- <br><br>Satu persatu orang-orang berlalu lalang keluar, tak ada yang tersisa dalam ruangan ini. Hanya aku dan beberapa pengurus, aku keluar dari tempatku berada berjalan kehadapan jendela besar. Corak-corak disana tergambar dengan indah, sentuhan seni penuh pujian. <br><br>"Apakah harapan ku akan terkabulkan?" Aku bertanya tanpa berharap ada yang menjawabnya. <br><br>"Tentu saja Nak, harapan mu bisa dikabulkan" ku lihat figur wanita usia tiga puluhan, senyuman nya teduh. Ditangannya ada keranjang berisi kue-kue manis, sepertinya dia penjual kue dijalanan. <br><br>"Aku berharap begitu juga, Ibu." Aku mengulas senyum dan pamit kepadanya. Memberi ruang pada ibu itu, jika harapan ku bisa terkabul..tapi kapan hal itu terjadi? <br><br>"Aku hanya berharap bisa bertemu dengan orang tua lama ku..tapi aku tak punya ingatan yang ada tentang mereka" hidupku sudah luntang-luntung selama penculikkan, dibawa kesana-kemari dijadikan taruhan,&nbsp; samsak kekesalan dirinya. Mendengar segala jenis umpatan dilontarkan sudah jadi sehari-hari. <br><br>Bahkan setelah dijual hidupku tak beda jauh dari peliharaan tua nunggu ajal, hidup dalam kurungan menghitung waktu kapan akan bebas atau seringan nya menghirup aroma alam bebas. <br><br>Dibandingkan aroma busuk bangkai dan pesing, hidup ku selama dua hal itu terjadi tidak benar-benar baik. Hingga aku berhasil kabur dan ditemukan oleh sebuah keluarga, mereka cukup baik tapi sayang. <br><br>Kesialan pada diriku menimpa mereka, saat perjalanan mereka ke daerah <em>Ferrlyand</em> kapal mereka tumpangi terkena ledakan sihir jarak jauh. Menewaskan seluruh awak kapal, aku yang menunggu mereka dirumah mereka merasa kaget dan tak percaya. <br><br>"Jika aku tak bisa bahagia..kenapa kau temukan aku dengan mereka" aku sangat ingat kedua tangan renta itu merawatku, hangat dan menyesakkan jika aku kembali mengingatnya. Walau waktu yang dihabiskan setahun..tapi itu sangat berharga. <br><br>Tak lama setelah kematian mereka, aset kekayaan yang ada diambil oleh para pelayan dan saudara belang mereka. Tidak menyisakan satu pun yang ada pada diriku kecuali sekiper kecil pakaian. <br><br>Hidup beratku kembali dimulai setelah hari itu dimana aku kembali sendirian dan dikejar-kejar akan ketakutan sosok Hans, dalam perlarian ku aku selalu bertemu rintangan dan terkadang terjebak. <br><br>Sampai aku lelah diantara keputusasaan dan bimbang aku ketemu sama Tetua yang bernama Steven, dia membawaku kedalam panti merawatnya bersama anak-anak lain. <br><br>Dua tahun setelah dirawat sama Steven, dia mengajariku dan anak-anak lain bertahan hidup diluar. "<em>bunuh atau dibunuh"</em> kata-kata yang dia ucapkan, setiap kali mengajari kami. <br><br>Nama 'Sevens' ku dapatkan dari pasangan tua itu, mereka menamai ku karena aku tidak tau siapa namaku selain 'K', sehingga mereka putuskan untuk beri nama Sevens. <br><br>-<br>Dalam kericuhan pusat kota <em>Cassy</em> aku terus berjalan, kenapa pula aku kemari? Memang benar perkataan Stevens tentang diriku, jika aku sedang banyak pikiran aku bisa keluyuran kemana saja. <br><br>"Nak, ini beneran dirimu??" Aku berbalik untuk melihat siapa yang menepuk bahuku, sentuhan tangan itu terasa agak asing tapi kenapa aku merasa familiar. <br><br>"Maaf, mungkin anda salah orang Nyonya" ku lepaskan tangannya dari bahuku, dari belakang punggung wanita ini terlihat pria dewasa yang rupanya agak mirip denganku. <br><br>Tapi ini versi dewasa. <br><br>"Mar-- K*****?!" Mendadak semuanya terasa sunyi, jantungku berpacu dengan cepat. Kedua mataku mengecil..karena keterkejutan, siapa mereka..kenapa mereka disini? Apa mereka suruhan Hans.. <br><br><em>Sevens ??? Pov off </em><br><br>Hembusan angin sejuk itu menyadarkan dirinya, cengkraman dibahunya mengerat. 'Siapa mereka' masih terlintas dalam pikirannya. <br><br>"Nyonya..dan Tuan, mungkin salah orang..aku tak mungkin..orang yang kalian sebut" susah payah dia keluarkan suaranya, tapi kedua orang dewasa ini saling pandang dan mengeleng. <br><br>"Tidak mungkin..kau beneran...Kevlyn kan?" <br><br>Lagi rasa terkejutan menghantam dirinya, <em>Kevlyn</em> ya..dia ingat Hans pernah mengumpat dia dengan nama itu, sehingga dia membencinya dan melupakan nama tersebut. <br><br>"Haha..tidak-tidak, kalian benar-benar salah orang. Namaku Sevens, bukan Kevlyn" dapat terlihat jelas dinetra biru gelap yang tertutup helaian rambut pirang, raut wajah kekecewaan. <br><br>"Bohong.., kau beneran Kevlyn kan?? Aku..ibunya. tidak mungkin aku salah orang, kalian sangat mirip, dari cara kalian berjalan, bicara dan gaya rambut kau sangat mirip dengan Kevlyn!" Ucap Wanita dewasa yang dipanggil Marry, surai pirang panjang bergelombang dan netra ungu gelap itu memandang dirinya. <br><br>"Hanya kebetulan penampilan kami sama" Sevens tersenyum, dia tak suka dirinya disamakan sama orang lain apalagi sama orang yang tidak dia tau. <br><br>"Nak Sevens, kau tinggal disini?" Kali ini pria dewasa dengan surai pirang dan warna mata sedalam lautan menatap kearah Sevens ragu-ragu. <br><br>"Ya, saya memang tinggal disekitar sini dan sudah waktunya saya untuk pulang sebelum saya dicarikan saya <strong>ayah</strong> saya" tanpa ragu Sevens menjauhkan tangan Marry dari bahunya, lalu Sevens melangkah pergi meninggalkan kedua pasangan suami istri itu di jalanan. <br><br>"Richard!! KATAKAN PADAKU KALAU DIA BENAR-BENAR KEVLYN!!" Marry berteriak sembari mengcengkram kerah baju Richard, mata ungu itu sudah menitikkan air mata. Pria yang berdiri disebalahnya tersenyum ragu. <br><br>"Entahlah, aku juga tidak tau. Tapi firasatku mengatakan itu dia" ujar Richard menenangkan Marry menangis didadanya. <br><br>- <br><br>Sevens menatap gerbang besar dihadapanya, sudah jam delapan malam. Dan dia belum berada dikamarnya. Sedari tadi dia merasa dibuntuti oleh orang-orang tak kasat mata. <br><br><em>Kriieeet</em><br><br>Suara decitan gerbang memenuhi udara dingin dimalam itu, dan suara bedebam setelahnya. Sekitar dua puluh lima langkah dari gerbang dirinya tertahan pada sosok Stevens. <br><br>"Darimana saja kau anak nakal??" Sosok Stevens dengan rambut coklat serta tatapan hijau itu menatap dirinya tajam. <br><br>"Aku berjalan-jalan keluar tanpa sadar..ug--" Sevens segera menutupi hidungnya, ada yang sesuatu yang aneh mengalir dari sana. <br><br>"KAU MIMISAN??!" Stevens terkejut melihat tetesan darah itu mulai menetes dari hidung Sevens. <br><br>"Eh?" Hanya itu respon dikeluarkan Sevens sebelum dirinya ditarik oleh Stevens kekamar pribadi miliknya. <br><br>-<br>Disini dia dan Stevens berada, berdua dalam ruangan kamar dengan Stevens mengobatinya. <br><br>"Apa yang terjadi selama diluar sana?" <br><br>"Aku bertemu dengan orang dewasa aneh, mereka memanggilku 'Kevlyn' mana ngotot pula. Padahal namaku kan Sevens" <br><br>"Dan karena itu kau mimisan??" <br><br>Sevens mengangguk walau merasa ragu dengan jawabannya. Ya..mungkin sejak dirinya dikata <em>Kevlyn</em> kepalanya mulai terasa nyeri dan nyut-nyuttan. <br><br>"Istirahat malam ini" selepas itu Stevens pergi dengan perlengkapan P3K ditangannya. <br><br>- <br><br><em>Sevens pov on </em><br><br>Kini tatapanku teralih kepada selimut putih, Stevens memang memintaku untuk beristirahat. Tapi aku tak bisa tidur, memejamkan mata saja susah. <br><br>Setiapku memejamkan mata aku merasa diriku tertarik kedalam pusaran penuh sesak. Suara-suara aneh menghantui, dan letupan emosi menjadi campur aduk. <br><br>"Ah.." aku menghela nafas, kepalaku mulai terasa sakit lagi. Lebih dari sebelumnya <br><br><em>Seven pov off </em><br><br>- <br><br>Pagi menyingsing dari ufuk timur membangunkan Sevens dari tidur lelapnya, ketika dia membuka mata. Hal pertama ditemukan adalah Stevens, sungguh mengejutkan Tetua itu menghampirinya. <br><br>"Mimpi aku semalam sampai Ayah kemari" desahnya, agak malas berurusan sama Stevens. <br><br>"Gini aja kau sebut aku Ayah" <br><br>"Ih..iya-iya, ada apa sekarang?" <br><br>"Temani ke pasar, belanja barang kek biasa" Sevens segera menekuk wajahnya. Apapun itu jauhkan dia dari pasar. <br><br>"Sepuluh menit lagi ya!" Dan Stevens pergi ninggalin Sevens sendirian dikamar. <br><br>- <br><br>Huru-hara pasar hal tak disukai oleh Sevens, karena itu mengingatkannya akan dimana hari dia menjadi seorang _Gladiator_ orang-orang yang dipergunakan dalam pertaruhan hidup dan mati. <br><br>"Sevens," panggil Stevens menepuk bahunya, ada yang aneh dari kemarin malam Sevens lebih banyak diam. Ya..emang sih dia itu pendiam tak banyak bicara tapi kali ini agak aneh. <br><br>"Ayah..," Sevens mengcengkram lengannya, mengirim sinyal untuk diminta selamatkan. Stevens hanya menurut menyembunyikan Sevens dibelakang punggungnya. <br><br>Kejauhan terdengar suara-suara familiar di Stevens, suara sang klien A yang ingin Sevens berpura-pura jadi anaknya. <br><br><em>"sial!! Kalau anak itu hilang lagi, uang kita bakal hilang!!"<br><br>"tck, padahal aku sengaja membunuh dua orang tua yang merawatnya" </em><br><br>Stevens menatap gelap kedua orang itu, si gempal Hans dan anak buah bodohnya George. Jadi sebab itu Sevens pergi dengan marah. <br><br>"Nah, Sevens kau jaga keranjang ini ya?" Stevens menyerahkan keranjang berisi makanan itu ke arah Sevens yang segera menerimanya. <br><br>Dalam satu kedipan mata, Stevens sudah memukuli Hans dan kedua anak buahnya. Untung saat ini jalanan sudah sepi, Stevens memukuli mereka dengan tangan kosong. <br><br>"Ayah..hentikan.." Sevens berdiri ditempatnya berusaha menghentikan Stevens, memang benar panti dia tinggali isinya tidak wajar. <br><br>Walau Stevens menjadikan mereka pembunuh bayaran, ataupun di jual. Stevens tetap ayah mereka. Wajar jika dia marah, apalagi Stevens tidak semudah itu menjual anak-anak panti. <br><br>"Apa yang kau lakukan?!!" Kini tubuh Sevens membeku, suara ini..suara pria kemarin sore. Tapi hal yang membuatnya lebih terkejut mengetahui fakta bahwa Hans telah membunuh keluarga Armolia. <br><br>"Pria menjijikkan, apa tak cukup untukmu dengan menculikku lalu menjual belikanku kepasar budak?" Sevens membuka suaranya, menghentikan aksi memukul Stevens. Tubuh Hans yang bonyok ditarik sama George, tapi sialnya mereka tidak bisa kabur. <br><br>"Pria babi tak tau diri" Sevens menendang George dengan kaki kirinya, selagi tangannya memegang keranjang penuh makanan. <br><br>"Kau pria idiot mau sampai kapan kau jadi 'anjing' jinak si babi busuk ini?" Sevens mendekati tubuh George terbaring ditanah basah, menekan jari tangan itu dengan sepatu dia pakai. <br><br>Dari belakang Hans mendorong tubuh Stevens jatuh, dengan wajah merah penuh rasa malu dan amarah. Hans mengeluarkan sebilah belati pelumpuh, hal itu disadar Sevens yang segera mengangkat tubuh George menjadikannya tameng hidup. <br><br>"George!!" Hans terkejut ketika belati dipakai menusuk George, langkah perlahan-lahan mundur. Sevens memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang Hans. <br><br>"Atas nama K aku mengirim nyawa-nyawa hidup ini untuk persembahan El. Sebilah tajam belati yang merengang nyawa sahabatnya akan teradili oleh sabit bulan ini"&nbsp; Sevens memunculkan lingkaran sihir ditangannya yang segera berubah menjadi sabit merah keperakkan, tidak cocok dengan penampilannya. Yang memiliki surai pirang. <br><br>"SEVENS BERHENTI!!" Sevens berhenti mengayunkan sabitnya diudara, sedikit lagi saja dendamnya kepada Hans akan terbalas. <br><br>"Pasangan Armolia tak ingin kau seperti ini!" Disana Stevens mendekati Sevens menahan sabit itu, tatapan sirat kemarahan ada di netra Sevens. <br><br>"Biarkan aku mengirim jiwa mereka ke neraka" <br><br>"Tidak" kali ini Richard buka suara, setelah dia cukup terkejut dengan apa yang dilihat. Penampilan Sevens cukup berbeda dengan senjata sihir itu dan dia tak menyangka akan bertemu dengan Stevens ditempat ini. <br><br>"Aku akan mengurusnya" lanjut Richard,. <br><br>"Terserah" Sevens menghilangkan senjatanya lalu terbatuk, menggunakan senjata sihir seperti tadi memberatkan tubuhnya. <br><br>"Kita pulang sekarang, dan terima kasih untukmu tuan" ucap Stevens segera menarik Sevens untuk pergi bersamanya meninggalkan Richard bersama Hans dan George. <br><br>"Sekarang, kau akan menerima akibatnya" ujar Richard sambil membunyikan tangannya. Ketika menatap Hans dan George. <br><br>"Tenang saja Istriku seorang penyembuh, kalian juga bakal disembuhkan sama dirinya" <br><br>- <br><br>Stevens menaruh keranjang penuh makanan itu dimeja dapur, dia menatap khawatir kearah Sevens. <br><br>"Sevens.." <br><br>"Ayah, apa kehadiranku sebuah keuntungan?" <br><br>"Tentu" <br><br>"Tapi semuanya si--" <br><br>"Itu takdir mereka, Sevens." <br><br>Sevens terdiam, lingkaran takdir begitu kejam kepada dirinya. Dia telah diculik, dijadikan <em>gladiator</em> lalu dijual belikan sebagai budak. Keluarga yang merawatnya dibunuh, dan dia hanya punya Stevens untuk sekarang ini. <br><br>"Aku anak dibenci sama kehidupan, sekedar harapan ku untuk bertemu orang tuaku tidak ada. Jangankan bertemu, ingatanku tentang mereka tidak ada," <br><br>"Kau akan menemukan mereka" <br><br>"Tapi kapan...?" <br><br>"Entahlah" Stevens tersenyum, lalu merapikan surai pirang milik Sevens. <br><br>"Aku nanti akan bertemu dengan teman lama, kau tetaplah disini" <br><br>"Ya" <br><br>- <br><br>Sore harinya Stevens pergi mengunjungi sosok teman lamanya sambil menyeret Sevens untuk ikut, alasannya sebagai tenangin diri. <br><br>"Teman ayah itu gimana?" <br><br>"Hmm..dia pria yang ada dipasar tadi, punya tiga anak. Dan satu istri, ugh..cuma itu yang aku tau" <br><br>"Tiga anak??! Pria yang subur" <br><br>"Darimana kau dengar hal itu!!" Stevens tak bisa menutupi wajah merahnya, seharusnya dia sadar dengan Sevens. Karena anak disampingnya itu telah menjalani kehidupan berat. <br><br>- <br><br>"STEV!!" Seberang ruangan pria yang pernah Sevens temui ada disana dengan tiga orang disamping, yang satu pasti istrinya dan dua yang lain anaknya. <br><br>"WOAAH!! LIHAT SIAPA YANG DIBELAKANG PAMAN STEV!!" teriakan nyaring memekakkan telinga berasal dari anak disampingnya, poninya dibuat menyamping kiri. <br><br>"KEVLYN?!!" Kini anak disebelahnya juga ikutan, kedua pasang mata itu menatapnya dengan rasa rindu. <br><br>"Menakutkan" komentar Sevens segera menyembunyikan dirinya dipunggung Stevens. <br><br>"Kalian berdua masih suka teriak-teriak ya, Oh Marry lama tak jumpa" sapa Stevens, mengabaikan atensi Richard yang kini dibelakangnya. <br><br>"Lama tak jumpa, Stev" Marry tersenyum dan mempersilakan kedua tamu itu untuk duduk. Tapi dua anaknya dan suaminya itu mulai membuat dua tamu yang diundang risih. Tidak, tepatnya satu tamu kecil yang bersembunyi. <br><br>"Hey-Hey Vin, dia mirip dengan si Vyn ya?" Si pirang belah kiri menatap saudara kembarnya yang memiliki poni belah kanan. Kedua saudara itu saling bertatapan, melakukan kontak batin. <br><br>"Uhm-uhm!! Mirip!!" Si pirang kanan mengangguk lagi menarik paksa Sevens lepas dari Stevens. <br><br>"Kevlynn!!" Teriak keduanya <br><br>"Aku bukan Kevlyn!! Namaku Sevens!!" Kini Sevens buka suara sambil berusaha melepas tangannya dari tarikkan dua saudara tak dikenalnya. <br><br>"anak-anak" suara Richard menghentikan ketiganya, capai juga dia lihat pertengkaran seperti ini. <br><br>"Kevin, Kelvin tolong ajak Sevens main ya?" <br><br>"Baik, Pa!!" <br><br>"Nah Se--" <br><br>"Tidak mau, aku mau pulang aja. Ayah..ayo pulang" seluruh disana terdiam, terkecuali Richard dan Stevens. <br><br>"Sevens, tinggalkan ayah berdua dengan dua orang ini ya? Ayah ada urusan sebentar dengan mereka" <br><br>"..." Sevens hanya diam, tidak nyaman dengan dua orang dipanggil Kevin dan Kelvin. <br><br>"Mereka seperti itu..tapi kalian akan akrab" bujuk Richard sambil menepuk pundak Sevens, mendorongnya kearah Kelvin dan Kevin yang segera membawanya menjauh. <br><br>"Aku akan menjelaskannya pada kalian" <br><br>"Sebaiknya begitu" <br><br>- <br><br>Disisi lain, Sevens merasa kengerian dalam dirinya. Dua orang ini mirip sekali dengan dirinya, sangat mirip jika saja mereka memiliki model poni yang sama. <br><br>"Kalian menyeramkan" <br><br>"Tidak!!" Kelvin dan Kevin berteriak bersama-sama, didepan wajah Sevens membuat Sevens tertekan. <br><br><em>ayah, aku mau pulang </em>batin Sevens miris, mendadak kepalanya mulai kembali terasa nyeri. Apa karena kebisingan dihadapannya? <br><br>-<br>"PAMAN!! PAPA!! MAMA!!! KEVLY!!!" dua anak itu berteriak sambil menyeret tubuh tak sadarkan diri Sevens. Malang sekali nasibnya. <br><br>"Ja-- APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" dari tempat duduknya Stevens bediri dan mengangkat tubuh Sevens. Tidak ada panas, tapi kenapa dia tak sadarkan diri? <br><br>"Stev, aku akan antar kalian berdua kekamar tamu" <br><br>"Mohon bantuannya" <br><br>Richard menunjukkan jalan kearah kamar tamu kepada Stevens. Dua anaknya ingin mengikuti dirinya tapi ketahan sama Marry. <br><br>"Kevin, Kelvin.." <br><br>- <br><br>'Mhh.." sosok Sevens terbangun, dirinya berada diruangan asing tapi walau asing dia merasa nyaman. <br><br>"Kau sudah bangun?!" <br><br>"Papa..?" Lirih Sevens lalu mengeleng, kepalanya masih terasa sakit. <br><br>"Maaf, kepalaku agak sedikit sakit jadi agak ngawur.." lanjut Sevens menatap canggung kearah Richard. <br><br>"Ah..kau memanggilku papa!!" Richard segera memeluk tubuhnya erat. <br><br>"Aku hany--" <br><br>"Kevlyn!" Richard mengerat pelukannya, membuat Sevens sesak. <br><br>"Ah maafkan aku!!, kau sudah ingat??!" Kini Richard melepas pelukannya menatap kearah Sevens penuh harapan, tapi Sevens mengeleng. <br><br>"Sedikit, mungkin saat salju..aku hanya dengar.. '<em>Kelvin, Kevin dan Kevlyn'</em> lalu selebih nya tidak ku inga--" Sevens menelungkupkan wajahnya dalam tangan, kepalanya kembali sakit jika dia memaksa untuk ingat. <br><br>"Jangan dipaksa--" <br><br>"Perang salju, malaikat salju, boneka salju" gumam Sevens menambah keterkejutan Marry diambang pintu. Dia hanya berniat untuk melihat kondisi Sevens tapi malah dikejutkan oleh hal tak terduga. <br><br>"Ternyata benar..., k-kau <em>Kevlyn William Strangers</em> kan?" Tanya Marry dengan kedua kaki melemas tapi segera ditahan sama Stevens, <br><br>"<em>Kevlyn William Strangers?</em>... itu aku?" Ulang Sevens sambil menatap kearah Richard lalu berganti kearah Stevens dan Marry. <br><br>"Tidak asing, nama itu..siapa..? Kenapa nama itu terus berada dikepalaku..?! Siapa dia..aku tak mengenalnya!!" Sevens menarik setiap helaian surainya, Richard menahan tangan Sevens tapi malah ditepis secara kasar. <br><br>"K!!" Stevens segera mendekati Sevens menahan dua tangan itu sekua tenaganya, Sevens dibawahnya menatapnya dengan tatapan penuh air mata. <br><br>"Kenapa aku tak ingat..tentang siapa diriku Ayah?" <br><br>"Siapa orang tua ku? Kenapa aku bisa bersama dua bajingan itu?! Apa yang mereka lakukan? Kenapa semuanya terasa sangat samar" tanya Sevens tiada jeda, Stevens diam. <br><br>"Se--" <br><br>"Kevlyn istirahatlah malam ini, kau lelah" <br><br>"Aku bukan Kevlyn, aku tak tau siapa dia! Kenapa kalian terus memanggilku seperti itu??!!" Sevens menangis,&nbsp; hari ini penuh kesialan. Dua bajingan itu membunuh keluarga Armolia yang merawatnya, sekarang dia ketemu keluarga aneh. <br><br>"Stev tolong jaga dia, dan Marry ayo.." <br><br>"Uhmm" sepasang suami istri itu pergi meninggalkan Steven dan Sevens sendirian dikamar. <br><br>"Aku akan memberi tahu, apa yang kami bahas tadi" <br><br>- <br><br>"Jadi..aku anak mereka yang hilang?" Suara Sevens memecah keheningan, Stevens telah selesai berbicara kepada Sevens. <br><br>Hal itu membuat Sevens terkejut, bahkan selama Stevens bercerita Sevens mengcengkram selimut erat sebagai pelampiasan rasa sakit. <br><br>"Alasan mereka memanggilku, Kevlyn. Karena hal ini?" Lagi Stevens mengangguk dan menyerahkan sebuah amplop putih. <br><br>"Hasil tes, kemarin mereka mengambil sampel rambutmu dan hasilnya 99,9% kau anak kandung mereka. Ini tidak bohong" <br><br>"I-ini tidak nyata.." Sevens gemetar memegang hasil tes DNA ditangannya. Disana tertulis dengan jelas dia anak mereka, tapi jika begitu kenapa dia tidak ingat? <br><br>"Aku masih tak ingat.." <br><br>"Perlahan saja" <br><br>"Baik.., Ayah" <br><br>"Uhm? Aku bukan ayahmu lagi, sekarang ayo tidur" <br><br>"Iya, Ayah" <br><br>- <br><br>Pagi menyinsing, membangunkan insan yang berada dikediaman Strangers. Stevens menatap Sevens yang masih tertidur lelap disampingnya. <br><br>"Jika kau ingat semuanya, aku akan sepi disini" <br><br>"Stevens..., aku tidak memaksa pilihan Kevlyn. Jika dia ingin tinggal bersamamu atau tinggal bersamaku itu akan jadi pilihannya" <br><br>"Richard, aku paham. Tapi tetap aja sepi" Stevens bangun dari posisi tidurnya, mengambil air dinakas dan meminumnya. <br><br>Richard menunduk, dia pernah berharap jika anaknya akan kembali tapi sekarang anak nya sudah kembali. Dengan kondisi menyedihkan, tidak ada ingatan tentang mereka. <br><br>"Uhm, kau ingin kita menyiapkan sarapan bersama-sama lagi?" Tawar Stevens diangguki Richard. <br><br>"Seperti kita kuliah dulu ya, Ven" <br><br>"Anggap saja begitu" kedua orang itu lebih sekedar teman kuliah biasa, waktu yang mereka habiskan mengakrabkan diri mereka hingga diposisi saling nyaman. <br><br>Tapi tali kehidupan memisahkan mereka, Stevens fokus pada hidupnya dan Richard mengikuti bisnis keluarga. Keduanya pun mulai menjauhi satu sama lain. <br><br>Suasana dapur hari itu penuh keterhangatan teman lama, mereka memasak dalam dunia mereka berdua. Benar-benar sahabat yang indah. <br><br>"WAA..PAPA MASAAK!!" suara Kevin memecah dunia yang sudah terjalin antar Richard dan Stevens, disamping Kevin ada Kelvin dengan muka ingin tidur. <br><br>"Tumben sekali.." gumam Marry dari belakang Kelvin, menatap dua pria yang sedang tertawa. <br><br>"Mengenang masa lalu" jawab Stevens dan Richard bersama-sama, Marry hanya tertawa mendengarnya. Membuat bingung Kevin dan Kelvin. <br><br>"Pagi" sapa Sevens disamping Marry menyusul Kevin dan Kelvin dimeja makan, jika dua orang itu rusuh makan Kevlyn kalem dengan mengatur piring. <br><br>"KEV--" Sevens melempar tatapan tajam kearah Kevin, ini masih pagi jangan buat dia terganggu. <br><br>"Sevens, tidurmu nyenyak?" <br><br>"Lumayan" <br><br>"Kau tak bertanya bagaimana tidurku?" <br><br>"Malas" Sevens mengakhir pembicaraan sepihak kepada Kevin, pagi nya yang indah terganggu akibat ulah Kevin. <br><br>"Ayo kita makan" Richard menyajikan nasi goreng kesukaan miliknya saat kuliah untuk dinikmati bersama. <br><br>"Selamat makan!!" <br><br>- <br><br>Siang hari diruang keluarga, hanya ada Sevens, Stevens, Richard, Marry, Kevin dan Kelvin. Kini menatap kearah Sevens. <br><br>"Ay--" <br><br>"Jika kau sudah nyaman memanggilnya begitu tidak apa" sela Richard, melihat Seven kesusahan memulai pembicaraan. Marry mengangguk. <br><br>"Ayah sudah mengceritakan semuanya, aku tidak begitu ingat. Kecuali saat bersalju hari itu. Semuanya masih samar, yang ku tau hanya.., 'Kevlyn, Kelvin, Kevin, Boneka salju, Malaikat salju dan perang bola salju' hanya itu, selebihnya tidak" <br><br>"Tapi aku tak ingat siapa tiga sosok itu.." <br><br>"Aku Kevin!!" Si surai belah kiri menunjuk dirinya dan menarik saudara disebelahnya yang belah kanan. "Kelvin" <br><br>"Dan dirimu Kevlyn" tunjuk Kelvin kearah Sevens. <br><br>"Sepertinya begitu? Tapi aku tak yakin. Ingatan ku belum kembali. Dan samar-samar aku mulai ingat" sosok Richard dan Marry terkejut, apa ini pertanda buat mereka? <br><br>"Siapa namaku, walau aku tak yakin.." Senyum Sevens canggung. <br><br>"Kevlyn, mungkin?" <br><br>"Itu memang nama mu!!" Kevin mengebrak meja, dia ingin menarik Sevens saat ini menjatuhkan kedalam air dengan perbandingan 50 / 50 buat ingat. <br><br>"Oke..., dan Ayah juga bilang <em>papa</em> dan <em>mama</em> sudah menyiapkan surat adopsi..tapi aku ingin untuk tinggal lebih lama lagi bersama ayah" <br><br>"Tidak apa-apa, kami akan mengunjungi mu" Marry berujar tenang, dia tidak bisa memaksa anaknya buat tinggal bersamanya. <br><br>"Tapi..sebulan sekali aku akan tinggal bersama kalian, ha-hanya satu bulan saja. Aku masih ingin bersama Ayah!" Sahut Sevens menarik lengan Stevens. <br><br>"Yah! AKU KIRA KEVLYN TINGGAL DISINI" <br><br>"sebulan sekali" <br><br>"Apa itu maksud kau tinggal sebulan disini?" Ragu-ragu Sevens mengangguk. "Iya" semua disana terkejut kecuali Stevens yang kalem tapi dalam hati kesenangan. <br><br>"KALAU GITU, AKU INGIN MERAYAKAN KEHADIRAN KEMBALI KEVLYN!!" Kevin menarik tangan Sevens atau saat ini Kevlyn dengan antusias, dibelakangnya ada Kelvin yang mendorong tubuh Kevlyn kearah kamar mereka tempati. <br><br>"Dasar, Anak-anak" <br><br>"Iya" <br><br>"Aku akan mengembalikan Kevlyn, ke kalian secepatnya" <br><br>"Itu harus" <br><br>- <br><br><em>Kevlyn Pov on </em><br><br>Sudah dua tahun aku berpisah dari ayah, kini aku tinggal bersama mereka. Keluarga ku yang asli, harapan ku terbalas di musim dingin tahun pertamaku yang kuhabiskan bersama mereka. <br><br>Harapanku untum bertemu dengan keluarga kandung ku sudah terpenuhi, bahkan ingatan lama ku juga kembali. <br><br>"Ayah, aku sangat bahagiaaa..disini!!" Ujarku didepan sebuah figura foto, ada aku dan ayah disana sedang foto bersama-sama. <br><br>Senyuman ayah masih hangat padahal ayah sudah jauh disana. <br><br>Namaku juga sudah jadi Kevlyn William Strangers bukan lagi Sevens K, walau ku suka dipanggil Sevens tapi Kevlyn tidak buruk juga. <br><br>"Aku bertemu Mirai, dia jadi adik kelas yang terkenal" aku lanjut bercerita tentang kehidupan ku saat ini kepada figura ayah. <br><br>Walau tak ada jawaban, aku tau Ayah mendengarnya. <br><br>"KEVLYYN, KITA TERLAMBAT LOH!!" teriakkan ini berasal dari Kevin, aku tersenyum kepada ayah lalu melambai. <br><br>"ITU SALAHMU" aku balas berteriak dari arah kamar dan menatap sekali lagi kepada figura Ayah. <br><br>"Aku akan kembali bercerita, nanti!!" Saat ini aku akan pergi bersekolah bersama Kelvin dan Kevin lalu mengceritakan semuanya kepada Ayah. <br><br><em>Kevlyn Pov off </em><br><br><strong>End</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:26:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240058259</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan Seorang Teman Lama</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240058567</link>
         <description><![CDATA[<div>Awan hitam membumbung tinggi ke langit, suara guntur terdengar namun, tidak ada tanda tanda hujan akan turun. Angin malam berhembus, menyapu dedaunan kering.<br><br>Entah sudah berapa lama mereka terjebak di hutan tanpa ujung ini, tidak jelas apakah ini siang atau malam, sekelompok kecil orang berkumpul di bawah pohon dengan macam macam ekspresi. <br><br>Dari waktu ke waktu Yi En terus memandangi orang di depannya dengan sorot mata tenang. Dia akan memalingkan wajah apabila orang itu menatap balik. Tidak jelas apa yang dia pikirkan.<br><br>"Sepertinya En gege[1] ini tertarik padaku?" ucap orang itu dengan nada main main di setiap katanya.<br><br>Mendengar ini, sontak mereka semua menatap pemuda itu. Seseorang yang tampak akrab dengannya memukul lengan pemuda itu tanpa ampun. Jika Yi En tidak salah ingat, nama orang itu Wen San.<br><br>Dia menatap Yi En dan dengan nada jernih yang sopan berkata, "Gongzi[2], tolong maafkan perkataan tidak sopan Lin Xian kami."<br><br>Lin Xian?<br><br>Entah mengapa Yi En ingin tertawa mendengar nama ini. Sudut matanya terkulai ke bawah, ada senyum tipis yang Yi En tarik, "Tidak apa apa. Tetapi aku benar benar tertarik padanya."<br><br>Mendengar perkataan Yi En, setengah dari kelompok lima orang itu membeku. Tiba tiba Lin Xian tertawa kecil sambil menatap Yi En.<br><br>"Apa yang membuat gege tertarik padaku?"<br><br>"Kamu terlihat seperti teman lamaku. Seseorang yang entah sejak kapan kehilangan harapan untuk menapaki jalan yang sama," ucap Yi En dengan tenang. Tangannya diam diam menyelinap ke balik lengan bajunya.<br><br>Lin Xian dengan tenang mengucapkan satu suku kata polos, "Eh?"<br><br>"Gege, bukankah semua jalan akan mencapai satu tujuan yaitu, keabadian? Jika satu jalan tidak berhasil, mengapa tidak mencari jalan lain?"<br><br>"Sama halnya dengan menutup satu lubang dan menggali lubang lainnya," balas Yi En, dia tidak menentang gagasan untuk mencari jalan lain ini namun, bukan berarti dia setuju sepenuhnya, "Jika seseorang tekun dengan satu jalan, maka menuju keabadian hanya tinggal dihitung waktu."<br><br>"Kamu mengatakan hal ini seolah olah menuju keabadian adalah hal yang mudah!" cibir seorang gadis kecil. Dia bernama Zhang Lan, seorang murid pintu tertutup dari sekte yang sama dengan Lin Xian. Lebih tepatnya, gadis itu Shijie[3] Lin Xian.<br><br>Tapi siapa peduli? Pada dasarnya Lin Xian hanya memiliki dua saudara seperguruan dan tidak ada yang lain.<br><br>Walaupun Yi En benci mengakuinya.<br><br><br>Yi En tidak mau repot repot membalas ucapan seorang gadis kecil yang belum mencicipi garam[4]. <br><br>Di memilih mengabaikannya dan menatap Lin Xian yang juga menatapnya.<br><br>"Mungkin saja dia kehilangan harapannya karena perkataan seseorang."<br><br>Entah sejak kapan sebuah bilah pedang dingin menempel di leher Yi En. Namun, tidak ada sedikitpun perubahan di wajahnya, bahkan dari waktu ke waktu wajah itu semakin tenang dengan sorot mata teduh.<br><br>Sebaliknya, gadis di samping Yi En menatap tiga orang lainnya, hampir melotot, "Kalian! Beraninya kalian menyerang En er-ku[5]?!"<br><br>"Lin Xian, apa yang kamu lakukan?!" <br><br>Yi En mendorong pedang itu dengan sebelah tangannya dan mengeluarkan boneka kertas dari balik lengan bajunya.<br><br>Dua boneka kertas menyerupai burung melesat ke arah Lin Xian namun, langsung hancur bahkan sebelum dapat menyentuh dirinya.<br><br>"Kamu masih sangat ceroboh seperti sebelumnya, gege."<br><br>Yi En dengan acuh tak acuh menjilat darah yang menetes dari telapak tangannya akibat mendorong pedang Li Xian.<br><br>Dia menatap Lin Xian dan dengan acuh tak acuh membalas, "Sebaliknya kamu masih tetap gegabah bahkan setelah berjalan di jalan kesabaran dan karma!"<br><br>Dalam sepersekian detik keduanya telah bertukar beberapa pukulan. <br><br>Yi En melompat kebelakang dan mengibaskan lengan bajunya, darah menetes dari tangannya yang terluka. Rambut hitam panjang yang dia ikat sembarangan entah sejak kapan telah tergerai.<br><br>Sebaliknya, Lin Xian berdiri masih dengan keadaan yang sama, hanya saja sebuah ikat rambut sekarang ada di tangannya.<br><br><br>"Ah, kamu masih menggunakan ikat rambut pemberian Da Shixiong[6]?" <br><br>Lin Xian menarik senyum mengejek lalu memasukan ikat rambut itu ke balik lengan bajunya. Kening Yi En mengkerut halus.<br><br>"Kembalikan!" ucap Yi En namun, Lin Xian tidak membalasnya dan bersiap untuk bertarung lagi.<br><br>"Tahan! Tidak ada pertarungan lagi," Wen San menahan lengan Lin Xian dan menatap Yi En, "Sepertinya ada kesalahpahaman di antara kalian berdua. Sayang sekali aku harus meminta gongzi untuk menyelesaikan masalah ini di lain waktu. Mari kita berpisah di sini."<br><br>Wen San melirik Zhang Lan dan mengangguk dan menyeret Lin Xian untuk pergi. Sebelum benar benar menghilang, Lin Xian mengucapkan beberapa patah kata tanpa suara.<br><br>Bajingan sialan!<br><br>"Siapa dia? Sepertinya kamu mengenalnya," ucap gadis di samping Yi En—Fu Cang'an.<br><br>Yi En menggosok keningnya dan menggeleng, "Kami hanya seorang teman lama."<br><br>Fu Cang'an mencibir lalu mulai mengeluh, "Lihat! Karena ulahmu dan 'teman lama'-mu itu kita tidak memiliki teman untuk mencari jalan keluar dari tempat ini!"<br><br>Yi En sama sekali tidak mendengarkan keluhan Fu Cang'an, sebaliknya pikirannya penuh dengan ucapan Lin Xian.<br><br>Dia diam diam menghela nafas pelan. Sungguh pertemuan yang sangat buruk!<br><br><strong>-fin-</strong><br><br><sub><sup>[Catatan penulis]<br><br>[1] gege : kakak laki laki<br>[2] gongzi : tuan muda<br>[3] shijie : kakak perempuan (di sini digunakan untuk saudara perempuan seperguruan)<br>[4] belum mencicipi garam : belum banyak pengalaman<br>[5] er : suku kata yang biasanya digunakan untuk orang tersayang/dekat<br>[6] da shixiong : da (1) shixiong (kakak laki laki seperguruan)<br><br>(Cmiiw)</sup></sub></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:28:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240058567</guid>
      </item>
      <item>
         <title>May 10th</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240058883</link>
         <description><![CDATA[<div><sub>a Tokyo Revengers fanfiction.<br></sub>、。。。、<br><br>Bibir itu hampir tak pernah melengkung kulumkan senyum. Mungkin pernah sekali-dua kali; kala menunggangi motor kesayangan guna membelah malam bersama para teman-teman yang juga kesayangan misalnya, atau suatu ketika saat si sulung Mitsuya memamerkan desain terbaik miliknya, mungkin juga kala Manjiro dan Keisuke akhirnya berdamai setelah memperebutkan es krim yang mereka sebut es krim terenak sepanjang masa. Lagi-lagi tentang mereka.<br><br>Sampai akhirnya sebuah pertanyaan muncul ke permukaan. <em>Pernahkah senyum itu kau hadiahkan untuk dirimu sendiri, Ryuuguji?</em><br><br>10 Mei. Seharusnya hari ini menjadi salah satu hari bahagiamu persis seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu hari di mana akhirnya kau kembali mengulum senyum melihat perlakuan manis teman-teman kesayanganmu itu kala mereka serentak mengucapkan selamat ulang tahun sembari membawa beberapa hadiah—yang sebenarnya menurutmu tak perlu.<br><br>Namun tahun ini hingga selanjutnya tak perlu mereka tunggu lengkung senyummu yang senantiasa teduh 'tuk merayakan hari, mereka sendiri yang akan berikan senyum itu untukmu—di hadapanmu.<br><br>10 Mei. Bukan lagi hadiah yang mereka berikan di kedua tanganmu, melainkan karangan bunga warna-warni mereka letakkan di depan nisan bertuliskan namamu.<br><br>10 Mei. Bukan hanya ucapan selamat ulang tahun yang mereka ujarkan padamu, melainkan juga sebuah harapan.<br><br>Semoga mulai detik ini hingga selanjutnya bibirmu banyak mematri senyum. Bukan untuk mereka yang lain, namun untuk dirimu seorang, Ryuuguji Ken.<br><br>—for Draken, happy birthday.<br><br><br><br><br><br><em>Ah, satu hal yang teringat lagi mengenai kau dan senyum bak malaikatmu itu. Kau yang jarang tersenyum entah mengapa saat itu mengulas senyum. Napas terakhir, detik terakhir, senyum terakhir—senyum terindah yang pernah kau lukis sepanjang hidupmu.</em></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:29:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240058883</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A Hope</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240059757</link>
         <description><![CDATA[<div>Sepertinya biasanya, suasana kota begitu ramai. Banyak kendaraan berlalu lalang, melewati banyak orang, entah itu mereka sendirian, bersama temannya, pasangan ataupun keluarga. Ramai. Sangat ramai. Berbagi canda dan tawa serta kesenangan.<br><br>Namun berbeda dengan satu orang. Seorang wanita bersurai biru bagaikan langit cerah di siang hari itu tampak tak seperti sekitarnya. Wajah tanpa ekspresi dengan tatapan mata yang sendu.<br><br><strong><em>Bukk</em></strong><em><br><br>"A-ahh.."<br>"sayang! Kamu tak apa apa?"<br>"M-maaf kak.."<br>"Maafkan anak saya"<br></em><br>"......"<br><br>Wanita itu hanya diam, memandangi seorang anak dan ibu yang membungkukkan badannya tanda meminta maaf kepadanya. <br><br>'ck, menyebalkan'&nbsp; Tanpa berkata apapun, wanita itu langsung pergi begitu saja. Tentu membuat sang ibu tadi langsung mencibirnya. <br><br>Wanita itu tak peduli, tetapi malah membencinya. Dirinya benci senyuman mereka. Dirinya benci dengan suasana hangat itu. Dirinya benci dengan canda tawa yang di lihat olehnya. Benci. Sangat benci.<br><br>'Haha. Apa kau tidak ada kerjaan lain selain membuatku makin tersiksa akan ke-iri-an ini? Senang membuatku menderita melihat mereka yang memiliki pasangan dan keluarga saling berbagi kasih sayang? Cih'<br><br>Bibir ranum itu digigit oleh-nya, bahkan tanpa sadar hingga terluka dan meneteskan darah. Ia tak peduli dan terus berjalan menuju suatu tempat.<br><br>Ketika sampai di tujuan, yaitu sebuah rumah bergaya tradisional Jepang dengan seorang pria bersurai putih yang tersenyum ramah padanya sembari menggendong seekor rubah.<br><br>"Kau-"<br>"<em>Hm?</em>"<br>"Tak bisakah kau atau Diane sampaikan ke bajingan diatas sana untuk membiarkanku bersama keluargaku?!"<br>"<em>Hei hei.. Aira.. kau kenapa? Tenanglah</em>"<br>"Tenang? Disaat aku harus seperti roh gentayangan yang berjalan kesana kesini demi menebus kesalahan yang bahkan aku sendiri tak tahu harus apa dan sampai kapan?!"<br><br>Wajah wanita itu sangat merah, nafasnya pun tak beraturan. Sebelum akhirnya beberapa tetes air mata mengalir turun. Ia langsung menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya sendiri.<br><br>"<em>Masuklah dulu. Aku akan buatkan teh hijau untuk menenangkan dirimu</em>."<br><br>Ucap pria bersurai putih yang merupakan temannya itu. Wanita tadi pun menurutinya dan masuk ke dalam rumah tersebut.<br><br>Dan disinilah mereka. Duduk di teras, menatap ke arah aliran sungai buatan kecil yang berada di taman rumah tersebut. Ditemani oleh secangkir teh hijau hangat. <br><br><em>"Sudah merasa lebih baik?"</em><br>"Ya"<br><em>"Ada apa?"</em><br><br>Aira memilih diam. Wanita itu hanya termakan emosi dan rasa frustasinya saja. Walau hanya sesaat, membuatnya merutuki dirinya sendiri.<br><br>Sedangkan pria disampingnya hanya bisa menghela nafas kecil. Iris matanya menatap ke arah seekor rubah yang tengah tertidur diatas pangkuannya. Ia tahu dengan suasana hati temannya itu hingga harus memarahinya.<br><br>Wanita bersurai biru bagaikan langit cerah disiang hari dengan sepasang netra bagaikan lautan. Aira, yang mempunyai garis hidup malang yang tak dialami bahkan dibayangkan oleh siapapun. Mungkin itu bayaran atas kekuatan besar yang ia miliki. Kekuatan white and dark magic dalam satu tubuh dengan bayaran harus menderita.<br><br>Kemalangan terus menimpanya. Kehilangan kedua orang tuanya. Harus meninggalkan adik yang merupakan satu-satunya keluarganya serta meninggalkan suaminya. Bahkan hidup abadi karena melawan takdir.<br><br>Pria bersurai putih itu masih ingat akan suatu cerita dari Aira. Wanita itu pernah mendatangi sang penguasa neraka dan menantangnya hingga mati. Tujuannya tentu agar sang penguasa neraka bisa mencabut ‘keabadian’ darinya dan bersama dengan orang yang disayanginya diatas sana. Namun, mengetahui maksud darinya, sang penguasa neraka membiarkannya hidup.<br><br>Segala cara dilakukan agar bisa bersama dengan keluarga dan pasangannya diatas sana. Aira pernah meruntuhkan langit. Memusnahkan para dewa dewi dan menyerap kekuatan mereka. Pria bersurai putih itu menyaksikan peristiwa tersebut, bahkan terlibat. <br><br>Dan dirinya sangat tahu, harusnya Aira mati setelah mengambil kekuatan diluar batasnya. Namun takdir berkata lain. Aira harus hidup sampai membayar semua dari perbuatannya. Itulah yang sempat disampaikan Diane, sang malaikat pencatat dosa, kepadanya.<br><br><em>'Aku harap dirimu bisa segera menyelesaikan semua ini dan bersama keluargamu.. hanya itu yang bisa membuat senyumanmu kembali..'</em><br><br><br><br><em>"Hei.. apa dirimu pernah mendengar tentang ‘Last Universe’?"</em><br><br>Aira terdiam. Ia menatap pria disampingnya itu dengan tatapan kebingungan. Demi menebus dosa-dosanya, ia sampai rela mendatangi setiap universe. Dirinya tahu bila masih banyak yang belum di datangi dan entah ada berapa lagi. Tetapi dirinya tak menyangka bila universe itu ada akhirnya, bukan sekedar tak terhingga.<br><br>"Bukankah katamu itu tak terhingga?"<br><em>"semuanya memiliki batas, walau dapat label ‘Tak Terhingga’, Aira"</em><br><br>Aira terdiam sejenak. Masih tak menyangka bila apa yang didengarnya bukanlah sebuah bualan semata. Temannya itu tak bercanda sedikit pun. Terlihat dari tatapan matanya.<br><br><em>"Tertarik?"</em><br>"Tentu"<br><br><strong>&nbsp;　　- The End -</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:35:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240059757</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[untitled???]</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240059972</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Spongebob yang<br>&nbsp;terhormat,<br></strong><br>Semenjak kau pergi, Krusty Krabs ditutup. Tuan Krabs menjual resepnya kepada Plankton ... Banyak koki baru tiba untuk menggantikanmu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menandingimu. <br><br>Aku sekarang tinggal bersama Gary yang semakin lama tidak bernafsu untuk makan, apa kau ingat? Aku selalu mengatakan kalau aku akan senang bila kau tidak datang menggangguku. Tetapi karena kau pergi, aku tidak perlu lagi diganggu oleh suara berisik yang ada di rumahmu. Namun entah kenapa, aku tidak berpesta, aku hanya menangis setelah kau tidak ada. Terasa sepi tanpamu disini. <br><br>Sandy merindukanmu, ia tidak lagi melakukan eksperimennya karena tidak ada yang membantunya. <br><br>Patrick tidak berhenti menangis setelah kau pergi, dia bahkan tinggal dirumahmu selama beberapa minggu. <br><br>Tahun-tahun berlalu, dan segalanya mulai menua. Termasuk aku. Satu-satunya saat ketika aku melihat Patrick, dia kehilangan sebagian ingatannya. Kadang dia biasa memancing ubur-ubur, namun selalu membawa dua. <br><br>Aku bertanya, mengapa ia membawa dua jaring? Dan dia menjawab bahwa itu untukmu. Aku tidak mampu menahan air mataku. Dan aku mengatakan kepadanya kalau kau bekerja sibuk membuat Krabby Patty, membuatnya pulang dan berhenti menunggumu yang aku tahu kau takkan kembali. <br><br>Suatu hari, aku dengan Sandy pergi kerumahmu untuk menemui Patrick. Kami menemukannya sedang duduk di sofamu, menonton Mermaid-Man dan Bernacle-Boy dengan kostumnya. Ia memberi tahu kami jika kau akan kembali sebentar lagi. <br><br>Kami duduk disamping sofa untuk menemaninya. Sampai saat dimana kami mematikan Televisi, ia sudah menutup mata. Ia tidak lagi bersama kami, dengan sebuah senyuman damai di wajahnya. <br><br>Kami menguburnya di samping kuburanmu, karena kami berharap kalian tetap menjadi sahabat walau tutup usia. Karena aku tahu, kau sedang bermain di lapangan ubur-ubur ... bersamanya. <br><br>Dengan jaring yang dibawa Patrick untukmu. <br><br><strong>Dengan cinta,<br></strong><strong><em>&nbsp; Squidward.</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-09 05:36:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W3_Hope/wish/2240059972</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
