<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kelompok 1 Sejarah by Annisa Rahmi</title>
      <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21</link>
      <description>Kerajaan Pajajaran 

kelompok : 
-Afifah Nayla Ramadhani
-Ainur Ridho Muharram
- Annisa Rahmi
- Dian Aisyah
- Divana Claudya Azzahra
- Fadhillah Nur Zahra
</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-18 12:35:15 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-23 17:52:12 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4f9.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Sumber Sejarah Kerajaan Sunda (Pajajaran)</title>
         <author>annisarahmi141428</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750391325</link>
         <description><![CDATA[<div>Dulua, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda sering disebut Kerajaan Pajajaran.<br><br>Diketahui kerajaan ini telah beribu kota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Sunda Kalapa dan Banten (Banten Girang).&nbsp;<br><br>Informasi tersebut baru diketahui ketika ditemukan Prasasti Canggal (732 M). Prasasti ini menyebutkan seorang hernama Sanjaya membangun sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Siwa di daerah Gunung Wukir, Jawa Tengah. Disebutkan pula nama dua orang bernama Sanna dan<br>Sanaha, orang tua Sanjaya. Selanjutnya dalam kitab Carita Parahyangan, sebuah naskahberbahasa Sunda Kuno dari abad XVI dijumpai keterangan tentang Sanjaya.&nbsp;<br><br>Sanjaya<br>dikatakan sebagai anak dari Raja Sena (Sanna) yang berkuasa di Galuh. Sumber utama tentang kehidupan sehari-hari di Pajajaran dari abad XV sampai awal abad XVI dapat ditemukan dalam naskah kuno Bujangga Manik.</div>]]></description>
         <enclosure url="http://1.bp.blogspot.com/-WAfqXodrpdY/Vl4fVvjBXmI/AAAAAAAACkw/RsRlDRpbslM/s1600/Sampul+Bujangga+Manik.png" />
         <pubDate>2021-09-18 13:11:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750391325</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sumber sejarah lainnya</title>
         <author>annisarahmi141428</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750394581</link>
         <description><![CDATA[<div>Adapun sumber sejarah yang juga membuktikan keberadaan kerajaan Sunda pajajaran sebagai berikut :<br><br>Naskah - naskah, meliputi;<br>- Babad Pajajaran<br>- Carita Parahiangan<br>- Carita Waruga Guru<br>- Kitab cerita Kidung Sundayana dan cerita Parahyangan<br><br>Prasasti, meliputi;<br>- Prasasti Batu Tulis<br>- Prasasti Sanghyang Tapak<br>- Prasasti Kawali<br>- Prasasti Horren<br>- Prasasti Rakyan Juru Pangambat<br><br>Sumber- sumber lain, meliputi;<br>- Tugu Perjanjian Portugis<br>- Taman Perburuan<br>- Berita asing dari Tome Pires (1513)<br>- Berita asing dari Pigafetta (1522)</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://satrianesia.com/wp-content/uploads/2020/10/Kerajaan-Pajajaran.jpg" />
         <pubDate>2021-09-18 13:14:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750394581</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lokasi dan sumber sejarah</title>
         <author>afifahnayila</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750415695</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah pusat pemerintahan<br>Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang selama beberapa abad (abad VII-XVI) pernah berdiri<br>di wilayah barat Pulau Jawa, meliputi Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian<br>Jawa Tengah sekarang. Kerajaan ini bahkan pernah menguasai wilayah bagian selatan<br>Pulau Sumatra. Lokasi Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://1.bp.blogspot.com/-73EsxBWejdA/X1RjNnd-sxI/AAAAAAAAiSw/YgIBNpXnKAQTex8VM5J12-Uik7fMLYzVACLcBGAsYHQ/w1200-h630-p-k-no-nu/lokasi+pakuan+jajar.jpg" />
         <pubDate>2021-09-18 13:33:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750415695</guid>
      </item>
      <item>
         <title> Lokasi dan sumber sejarah</title>
         <author>afifahnayila</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750417992</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama<br>ibu kotanya<br>sehingga Kerajaan<br>Sunda sering<br>disebut Kerajaan<br>Pajajaran. Kerajaan<br>ini bercorak Hindu<br>dan Buddha.<br>Sekitar abad XIV,<br><br>diketahui kerajaan ini telah beribu kota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan<br>pelabuhan utama di Sunda Kalapa dan Banten (Banten Girang). Informasi penting di atas<br>baru diketahui ketika ditemukan Prasasti Canggal (732 M). Prasasti ini menyebutkan<br>seorang hernama Sanjaya membangun sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Siwa di<br>daerah Gunung Wukir, Jawa Tengah. Disebutkan pula nama dua orang bernama Sanna dan<br>Sanaha, orang tua Sanjaya. Selanjutnya dalam kitab Carita Parahyangan, sebuah naskah<br>berbahasa Sunda Kuno dari abad XVI dijumpai keterangan tentang Sanjaya. Sanjaya<br>dikatakan sebagai anak dari Raja Sena (Sanna) yang berkuasa di Galuh. Sumber utama<br>tentang kehidupan sehari-hari di Pajajaran dari abad XV sampai awal abad XVI dapat<br>ditemukan dalam naskah kuno Bujangga Manik. Nama-nama tempat, kebudayaan, dan<br>kebiasaan-kebiasaan masa itu digambarkan terperinci dalam naskah kuno tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://1.bp.blogspot.com/--20Kz8RwE0A/XbG169rclGI/AAAAAAAAAos/69faoPLuFF0GkMLQvLTlChtLOAKIC6kUwCLcBGAsYHQ/s1600/letak+kerajaan+pajajaran.png" />
         <pubDate>2021-09-18 13:35:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750417992</guid>
      </item>
      <item>
         <title>&quot;Sistem Kehidupan Sosial Masyarakat Kerajaan Pajajaran&quot; - Kehidupan sosial masyarakat Pajajaran secara garis besar dapat digolongkan ke dalam golongan seniman, peladang (pecocok tanam), pedagang. Dari bukti-bukti sejarah diketahui, umumnya masyarakat Pajajaran hidup dari hasil perladangan. Seperti masyarakat Tarumanagara dan Galuh, mereka umumnya selalu berpindah-pindah. Hal ini berpengaruh pada bentuk rumah tempat tinggal mereka yang sederhana. Dalam hal tenaga kerja, yang menjadi anggota militer diambil dari rakyat jelata dan sebagian anak bangsawan. Mereka dibiayai oleh negara.</title>
         <author>divanaclaudya</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750427727</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-18 13:43:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750427727</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kondisi Politik</title>
         <author>fadhilanurzahra</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750428992</link>
         <description><![CDATA[<div>kondisi Politik Kerajaan Pajajaran</div><div>●̲̅̅ Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan)</div><div>Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :</div><div>●̲̅̅ Daftar raja Pajajaran</div><div>ü&nbsp; Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)</div><div>&nbsp; Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan</div><div>&nbsp; Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan</div><div>&nbsp; Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan</div><div>&nbsp; Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf</div><div>&nbsp; Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)</div><div>&nbsp; Rahyang Niskala Wastu Kencana</div><div>&nbsp; Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)</div><div>&nbsp; Sri Baduga MahaRaja &nbsp;</div><div>&nbsp; Hyang Wuni Sora</div><div>&nbsp; Ratu Samian (Prabu Surawisesa)</div><div><br>&nbsp; &nbsp;Prabu Ratu Dewata.</div><div>●̲̅̅ Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran</div><div>Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.</div><div>Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.</div><div><br></div><div>Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan</div><div>Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.</div><div>Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan.<br><br></div><div>●̲̅̅ Puncak Kehancuran</div><div>Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.</div><div>Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1328335151/ddb81453c67a2879b853f27ab916160d/padlet_image_picker_file_52d8eafe_c5ac_45bc_a1e6_7ddff9746c79.jpg" />
         <pubDate>2021-09-18 13:44:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750428992</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ainurmuharam7</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750518331</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>kondisi masyarakat dan budaya&nbsp;<br></strong><br>Kerajaan Sunda-Pajajaran memiliki setidaknya enam pelabuhan penting: Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa, dan Cimanuk. Setiap pelabuhan ini dikepalal oleh seorang syahbandar yang bertanggung Jawab kepada raja. Para syahbandar ini bertindak sebagai wakil raja di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasainya, sekaligus menarik pajak dari para pedagang yang ingin berjualan di daerah ini berupa kiriman upeti berwujud barang dagangan yang mahal atau uang. Dalam hal transportasi air, selain melalui laut, dilakukan pula melalui sungai-sungai besar seperi Citarum dan Cimanuk, sebagai jalur perairan dalam negeri.<br>Meskipun pusat kekuasan Kerajaan Sunda berada di pedalaman, namun hubungan dagang dengan daerah atau bangsa lain berjalan baik. Di kota-kota pelabuhan Pajajaran diperdagangkan lada, beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan plaraan.<br>Berdasarkan kitab Sanghyang Siksakandang Karesian, kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Sunda dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain sebagai berikut.<br>Kelompok Rohani dan CendekiawanKelompok rohani dan cendekiawan adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan di bidang tertentu. Misalnya, brahmana yang mengetahui berbagai macam mantra.<br>&nbsp;Kelompok Aparat PemerintahKelompok masyarakat sebagai alat pemerintah (negara), misalnya bhayangkara (bertugas menjaga keamanan), prajurit (tentara), hulu jurit (kepala prajurit).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-18 14:59:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1750518331</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kondisi ekonomi </title>
         <author>dianasiah874</author>
         <link>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1751171543</link>
         <description><![CDATA[<div><br>KEHIDUPAN EKONOMI KERAJAAN PAJAJARAN</div><div><br></div><div>Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu<em>Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)</em></div><div><br></div><div>b. Kehidupan ekonomi</div><div>Kehidupan masyarakat Kerajaan Pajajaran bersumber dari kegiatan pertanian dan perdagangan. Masyarakat yang tinggal di pedalaman dari kegiatan pertanian, sedangkan masyarakat yang hidup di daerah pantai hidup dari hasil perdagangan.</div><div>Mereka sudah melakukan hubungan dagang tidak saja antardaerah, tetapi juga dengan luar negeri, yaitu dengan para pedagang yang berasal dari Asia Tenggara dan India (Kambay). Mereka telah mengenal mata uang sebagai alat pembayaran, yaitu mata uang Cina.</div><div>Di kerajaan Pajajaran ada 6 pelabuhan penting yang berkembang pada saat itu. Pelabuhan tersebut adalah sebagai berikut :</div><div>1.&nbsp; &nbsp; Banten, dipimpin oleh seorang Syahbandar. Pelabuhan ini menjadi pusat ekspor beras, bahkan makanan dan lada.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; Pontang, hampir sama dengan Banten.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; Cigede, wilayah perdagangannya meliputi Pariaman, Andalas, Tulang Bawang, dan Sekampang.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; Tamgara, tidak diketahui daerah perdagangannya.</div><div>5.&nbsp; &nbsp; Kalapa, merupakan pelabuhan yang terpenting dan terbesar yang hubungan dagangnya sudah mencapai Sumatra, Palembang, Lawe, Tanjung Pura, Malaka, Makasar, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura.</div><div>6.&nbsp; &nbsp; Cimamuk, sebagai pelabuhan Pajajaran yang paling timur dan para pedagangnya sudah banyak yang masuk Islam.</div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://i1.wp.com/elrajab.com/wp-content/uploads/2018/06/ekonomi-kerajaan-mataram-islam.jpg?resize=800,513" />
         <pubDate>2021-09-19 04:45:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/annisarahmi141428/euqzaonddibccm21/wish/1751171543</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
