<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Bookshelf by Ernawati</title>
      <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-10 03:20:23 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-01-11 03:41:30 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4d5.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Mugni&#39;s Book</title>
         <author>mugnibustari1</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3539220213</link>
         <description><![CDATA[<p>Anne The Green Gables</p><p>Pada chapter kali ini, kita diingatkan kalau pas masa kecil kita sering banget challenge diri melakukan hal -hal yang berbahaya hanya karena  dipanas-panasihn sama teman sekelas  yang gak terlalu akrab dengan kita. Itu yang terjadi sama Anne, demi harga diri dan memenuhi challenge dari Jossi, dia jalan di atas pagar dan akhirnya jatuh, keseleo dan pingsan, alhasil bikin orang serumah panik. Uniknya si Anne tidak terlalu merasa bersalah atas kejadian ini dan ga sedih, dia malah liat sisi terangnya. Selama masa perawatan di rumah, akibat jatuh dari pagar, dia mendapat banyak kunjungan dari teman sekolahnya, dia jadi sadar juga ternyata teman dia banyak juga yah.  Ini tu kasih reminder kalo dalam hidup itu selalu ada blessing in disguise ga sih. Cuma hati kita aja harus lebih peka buat menyadarinya.</p><p><br/></p><p>Potongan cerita berikutnya, Anne yang ga sabar dan merasa tertinggal dengan pelajaran sekolah dan kesempatan untuk bertemu guru barunya yaitu Ms. Stacy. Disini dideskripsikan betapapa sukanya Anne dengan guru barunya. Karena guru barunya yang sekarang cantik, pintar, sering ajak anak field trip masuk hutan , kayak konsep belajar di alam. Selain itu Ms.Stacy juga expresif dan suka drama teather yang related banget sama Anne yang anaknya puitis banget. Beautiful reminder dengan kehidupan guru aku saat ini yang semoga aja bisa memberikan kesan yang baik ke murid yang aku ajar. Hu... huuu...huu..</p><p><br/></p><p>Next, tentang gaun baru Anne yang dibelikan oleh Mathew. aku belum selesai baca, tapi sekilas disini aku melihat betapa sangat pedulinya Mathew pada Anne. Dia adalah sosok orang dewasa yang melihat betapa bersinar dan cerianya Anne diantar teman-temannya yang lain, tapi ada yang kurang kenapa dia selalu menggunakan baju kusam dan berwarna gelap. Mathew merasa bahwa Anne juga pantas mendapatkan baju cerah dengan puff sleeve layaknya gadis seusia dia. Sosok Mathew adalah sosok ayah bagi seorang Anne. Karena Anne di dalam kisah ini adalah anak seorang yatim piatu. Mereka beruntung saling memiliki, Anne dan Mathew.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.periplus.com/p/9781840227840/anne-of-green-gables?srsltid=AfmBOoqmATZY_IInBx8fMCRykeRUUOuJKUipCuUoIm8wF_PcC9w51KLf" />
         <pubDate>2025-08-10 03:22:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3539220213</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bringing Up Bebe</title>
         <author>agintafriska</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3539220740</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Week 2</p><p><br/></p><p>This week I read the chapter about how parisian mother view motherhood era. Most of them are so chill. They don't even breastfeed their children (which I pretty much disagree with this culture) cz they don't see why breastfeeding is essential.  First, because as the French Pediatrician says, Parisian mom has less information about breastfeeding benefits due to less campaign of it by the government of other institution there. The formula milk is everywhere and the baby who consumed it are also healthy. That is why Parisian mother do not see why they should breastfeed their children. Second because they need to get their body back in shape as soon as they give birth. It's just a cultural thing that women should look sexy even though they already has children which then required them to go on diet and that is also why breastfeeding is not popular there (bcz when you're breastfeeding you children you can't be on diet). Third, because they also need to go back to work. There is a silent rule there that if you are a stay at home mom then people will look down on you.</p><p><br/></p><p>So, what do you think about that guys?</p>]]></description>
         <enclosure url="https://m.media-amazon.com/images/I/711Ftgl02jL._UF1000,1000_QL80_.jpg" />
         <pubDate>2025-08-10 03:23:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3539220740</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fahrenheit 541</title>
         <author>ernawatiscop</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3539221277</link>
         <description><![CDATA[<p>Anw aku baca terjemahannya hehe </p><p><br></p><p>Menurutku, buku ini secara tidak langsung mengisahkan perbedaan-perbedaan antara orang yang membaca buku dan yang tidak (no offence). Mulai dari cara mereka mendengar, berpikir, bertanya, sampai kadar kebahagiaan. </p><p><br></p><p>Whaat kadar kebahagiaan? Ya. Mereka memusnahkan buku karena menganggap buku bisa mengancam kebahagiaan manusia. Si pembaca buku, bagian minoritas dari masyarakat khayalan di buku ini, dikisahkan memiliki pendekatan berpikir yang berbeda. "Dia tidak menanyakan bagaimana sesuatu dilakukan, tetapi mengapa sesuatu dilakukan." Pertanyaan "mengapa" inilah yang membawa manusia pada kedalaman berpikir yang akhirnya membawa mereka pada imaji yang memiliki efek samping, jadi pusing mikirin ketidak adilan mungkin 😅. </p><p><br></p><p>Jadi instead of baca buku, masyarakat di sini dicekokin sama info-info atau fakta yang buanyaak bangeet. Biar apa? Biar mereka mengira mereka berpikir. Padahal tidak. Sebuah ilusi yang ironi ya. (Bisa jadi relate sama keadaan kita sekarag juga gak sih, banyak info di dunia maya?) </p><p><br></p><p>Selain itu, orang-orang pintar karena membaca buku akan menjadi ancaman bagi orang lain. Karena orang yang tak membaca ini akan cenderung membanding-banding kan diri dengan si pintar, akhirnya gak bahagia (padahal si pintar gak ngapa-ngapain loh). Karenanya, di dunia dalam buku Fahrenheit 541 ini, membaca buku adalah sebuah perbuatan yang salah dan mereka memusnahkan semua buku yang ada. </p><p><br></p><p>Jadi, kalian setuju gak kalau orang baca buku akan lebih banyak bertanya tentang "why"? dan apakah bener kalau banyak nanya tentang "why" bikin gak bahagia? </p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.goodreads.com/book/show/13079982-fahrenheit-451" />
         <pubDate>2025-08-10 03:24:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3539221277</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Taipan: Lahirnya Para Konglomerat </title>
         <author>ernawatiscop</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3552579415</link>
         <description><![CDATA[<p>By William Yang </p><p><br/></p><p>Buku yang menarik untuk melihat sejarah dari pov orang Tionghoa dengan berbagai upayanya bertahan hidup di Indonesia. Dari cerita perjuangan mereka sebelum merdeka hingga cerita keberhasilan mereka menjadi bankir tersohor di Indonesia. </p><p><br/></p><p>Buku yang cukup banyak membahas tentang intrik, strategi dalam bisnis mereka (tentunya tidak mendetail ya, hanya gambaran umum), tapi ada satu strategi yang terus berulang. </p><p><br/></p><p>Setiap urusan penting selalu diselesaikan di meja makan. Mulai dari level usaha yang mentereng, hingga yang masih merambat dari awal. Negosiasi seperti lebih mudah jika dilakukan ketika dalam kondisi hati senang. In this case, hati dibuat senang dengan jamuan makanan yang tak hanya menggoyang lidah, tapi juga tempat perjamuan mewah sehingga menimbulkan kesan penghargaan bagi yang menghadirinya. </p><p><br/></p><p>Dan dalam ranah profesional, aku sendiri juga sering menyaksikan seperti ini. Well, walaupun tidak dalam kondisi bermewah-mewahan seperti di cerita, tetapi hal-hal strategis sepertinya akan lebih lunak diperbincangkan di meja makan. Apalagi sambil makan sate kambing muda enak kali ya, lunak. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.goodreads.com/book/show/44613034-taipan" />
         <pubDate>2025-08-24 03:51:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3552579415</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Le Miserables 2 COSETTE</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3552580947</link>
         <description><![CDATA[<p>Victor Hugo</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Buku yang baru dibaca beberapa lembar. Sejauh ini, buku ini bercerita tentang perang yang pecah di waterloo antara Eropa dan Prancis. Salah satu tokoh yang menjadi sorotan sejauh ini adalah Napoleon Bonaparter, dia diagambarkan sebagai kaisar, ahli strategi perang yang handal yang lansung terjun ke medan pertempuran. </p><p>Membaca buku ini membuat kita ingin tahu sejarah Prancis lebih jauh dan siapa itu Napoleon Bonaparte? </p><p>70 halaman pertama buku ini, mendeskripsi kejadian perang di waktu itu. Dimana saat perang singa bisa berubah menjadi kambing. Si pemberani bisa berubah menjadi pengejut ketika berada pada kondisi kritis. Tidak ada jabatan, tidak ada persehabatan, setiap orang sibuk menyelamatkan diri, bahkan ada yang menginjak tumpukan mayat dan orang yang masig hidup untuk menyelamatkan nyaea di medan perang. </p><p><br/></p><p>Menariknya, di bagian awal buku ini juga digambarkan hebatnya, tangguhnya pasukan Inggris dan rakyat Inggris. Namun sayangnya, Inggris adalah negara yang memandanv dan memuliakan hierarki dan sistem feodalnya, sehingga kalaupun ada pahlawan dari kalangan biasa, itu biasanga tidak begitu diapresiasi dilewatkan begitu saja. </p><p><br/></p><p>Hal menarik lainnya, ada karakter lain yang digambarka disini yaitu Cambronne sosok perwira yang pemberani, yang sebelum mati dengan berani mengumpat, kepada tentara Inggris beberapa detik sebelum kematiannya. Hal ini digambarkan sebagai expresi heroik oleh penulis. </p><p><br/></p><p>Bagian yabg dibaca saat ini masih merupakan tahap awal, setting kejadian cerita belum masuk ke tokoh utama dan klimaks cerita</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4258226309/0a128758c6db2013ee48b8f6ed7744be/Screenshot_2025_08_24_10_45_07_561_com_android_chrome.jpg" />
         <pubDate>2025-08-24 03:58:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3552580947</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Animal Farm-George Orwell</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3561774717</link>
         <description><![CDATA[<p>George Orwell</p><p><br></p><p>Minggu ini baca 2.5 bab buku animal farm ini. Kesan pertama yang aku tangkap dari buku ini: waw, kok mirip keadaan Indonesia jaman now wqwqwq. Pada 2 bab awal, buku ini menceritakan tentang perencanaan pemberontakan sekumpulan binatang di sebuah peternakan milik Pak Jones. Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan para binatang tentang sikap manusia yang sewenang-wenang. Manusia mereka anggap sebagai musuh terbesar  karena manusia selalu mengambil keuntungan/hasil dari jerih payah para binatang.</p><p><br></p><p>Baca bab-bab awal ini benar-benar seperti cerminan keadaan Indonesia minggu ini. Rakyat yang merasa bekerja keras dengan upah seadanya, merasa diperas oleh pemerintah lewat berbagai macam aturan yang seolah dibuat hanya untuk menguntungkan salah satu pihak, akhirnya melakukan berbagai aksi perlawanan. Belum tau ujungnya dimana, seperti halnya baca buku ini. Tapi beneran penasaran, apa benar yang sepertinya kawan beneran kawan, atau justru aslinya lawan bertopeng kawan?</p>]]></description>
         <enclosure url="https://m.media-amazon.com/images/I/71JUJ6pGoIL.jpg" />
         <pubDate>2025-08-31 04:00:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3561774717</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Breaking Through</title>
         <author>ernawatiscop</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3561776947</link>
         <description><![CDATA[<p>Buku ini nyeritain kehidupan seorang ahli biokimia dari Hungary yang dapat nobel di bidang kedokteran di tahun 2023. </p><p><br></p><p>Ada banyak hal menarik dari buku ini, tapi gue akan coba highlight 3 hal dari sejauh yang gue baca, yaitu terkait keluarga, pendidikan, dan perjuangan dia. </p><p><br></p><p>Katalin Kariko berasal dari keluarga yang sederhana, dimana awalnya ayahnya bekerja sebagai butcher (sebelum dilarang pemerintah komunis Hungaria saat itu) dan ibunya bekerja di farmasi. Pendidikan ayahnya hanya sampai kelas 5 sedangkan ibunya kelas 8. Namun, keduanya memiliki kualitas personal yang bukan main. Ibunya pintar, ambisius, dan selalu gemar baca buku dari genre apapun dan bahkan senang bereksperimen sendiri dengan teknologi yang mereka punya saat itu. Sedangkan ayahnya, walaupun humoris, punya kemampuan hebat di numerik. Jadi, hal hal yang berbau ilmu dan pengetahuan sangat dekat dengan mereka. </p><p><br></p><p>Kedua tentang pedidikan yang dijalani Kariko selama di Hungary. Satu hal yang menarik bagi gue adalah bagaimana guru biologi SD nya yang gak hanya ngajarin biologi tapi juga sering menginspirasi murid-muridnya untuk mengenal ilmuwan-ilmuewan biologi saat itu. Di sinilah awal mula Kariko terinspirasi menjadi ilmuwan juga. Selain itu, gurunya juga tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga memantik siswa-siswanya untuk berpikir. Bayangkan, ini di tahun 60an. </p><p><br></p><p>Terakhir tentang kehidupan pribadinya, dia menikah dengan lelaki lulusan STM yang tidak berkuliah dan lebih muda 5 tahun dari dia. Namun, sejauh yang gue baca, mereka tetap bisa saling mengimbangi dalam kehidupan, sampai akhirnya mereka pindah ke Amerika karena terpaksa harus mencari pekerjaan pengganti setelah diberhentikan. </p><p><br></p><p>Bersambung... </p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.goodreads.com/en/book/show/123025953-breaking-through" />
         <pubDate>2025-08-31 04:04:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3561776947</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bullshit Job</title>
         <author>ernawatiscop</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3595481395</link>
         <description><![CDATA[<p>Satu kutipan menarik dari pembatas buku ini: </p><p>"Bentuk pekerjaan berbayar yang sangat tidak berguna, tidak perlu, merugikan, dan bahkan jika pekerjaan tersebut menghilang, tidak akan berpengaruh apa-apa pada dunia."</p><p><br/></p><p>Buku ini sepertinya menjadi kritik penulis terhadap fenomena pasar bebas, yang pada hakikatnya mencita-citakan efisiensi ekonomi, namun wujudnya ternyata tidak benar-benar berdampak baik pada kondisi sosial. </p><p><br/></p><p>Dengan adanya perkembangan teknologi yang notabenenya manusia bisa lebih efisien dalam bekerja (setidaknya tidak 8 jam/hari) tapi semakin kesini, sepertinya pekerjaan malah makin banyak. Dan peningkatan pekerjaan ini justru terletak pada sektor-sektor yang jauh dari pekerjaan real (co: manajer, adminstrator, dll.)</p><p><br/></p><p>Penulis memberikan contoh, sebenarnya orang-orang yang berada di level atas, mereka digaji tinggi untuk tidak melakukan apa-apa. Ini udah kayak komisaris-komisaris BUMN atau instansi di kita gak sih wkwkwk. </p><p><br/></p><p>Terus jadi relate juga tentang pekerjaan petinggi LPS, yang kalau gak ada gonjang-ganjing di bank, otomatis tidak akan ada tuntutan pekerjaan yang harus dikerjakan (padahal gaji tetap). Tapi, dilema juga, karena pekerjaan-pekerjaan seperti ini sifatnya kan preventif, dan memang tetap diperlukan meski masalah tidak selalu muncul. Mungkin juga resikonya lebih krusial kalau instansi ini gak ada dibandingkan ngegaji petingginya dengan harga fantastis. Well I don't know much about this. Tapi ini, analisis superfisial aja kali ya dari awam. </p><p><br/></p><p>Tapi, jadi menarik sih, kenapa pekerja2 yang ada di sektor real nggal selalu berpenghasilan lebih banyak dibanding mereka-mereka yang ada di level managerial ini. Lalu, apa yang menjustifikasi bahwa decision making yang mereka hasilkan bener-bener se-crucial itu? Any thought?</p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.gramedia.com/products/bullshit-jobs?srsltid=AfmBOorJduBRtce9ktXeCpLDB4cMHFEz5TZOW5IP76USDCnLv4XoW2ve" />
         <pubDate>2025-09-21 04:02:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3595481395</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer-Pramoedya Ananta Toer</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3595482098</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://m.media-amazon.com/images/I/51gJpsxKLCL._UF1000,1000_QL80_.jpg" />
         <pubDate>2025-09-21 04:03:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3595482098</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Le Miserables 2 - Cosette (Victor Hugo)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3595482558</link>
         <description><![CDATA[<p>Novel dengan tema historical narrative ini opens my perspective about how the war looks like back then in 1800 years.</p><p>Pada setiap perang ada sosok pahlawan, dan juga ada sosok prajurit yang berpura-pura jadi pahlawan dan bisa berkhianat kapan saja. Penjarahan, pencurian, harta rampasan perang terhadap korban perang dari berbagi lapisan golongan menjadi hal yang biasa. Novel ini menggambarkan proses pencurian harta dari badan seorang mayat jenderal, dideskripsikan dengan detail, betapa tidak berdayanya seorang jenderal dipengujung kehidupannya. Selain itu, keadaan jalanan yang dipenuhi oleh ratusan mayat, atau mungkin ribuan mayat bertumpuk, menggunung, bahkan membuat jalanan yang miring menjadi datar karena diisi oleh mayat. Jalanan pun berubah jadi sungai darah.Penggambaran situasi perang yang mengerikan.</p><p>ini masih pengenalan setting dari novel, belum pada pengenalan karakter utama Jean Valjean dan Cosette.</p><p>Membaca buku ini seperti belajar sejarah Prancis dan Inggris.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4411458896/f279f967c00a039c01216d043f5696ba/IMG_4793.png" />
         <pubDate>2025-09-21 04:04:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3595482558</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Breaking Through</title>
         <author>ernawatiscop</author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3607382792</link>
         <description><![CDATA[<p>Lanjutan...</p><p><br/></p><p>Aku mau nulis beberapa hal terkait riset yang mungkin bisa diteladani dari Bu Kariko dan juga kaya feasible untuk dilakukan sama orang-orang yang pengen jadi peneliti ataupun nantinya raising a kid full of curiousity.</p><p><br/></p><p>Pertama, Bu Kariko cerita kalau saat dia mendapatkan nobel di tahun 2023, ia sudah membaca kurang lebih 9000an jurnal saintifik. Yang mana jika kira-kira, beliau menjalani kebiasaan membaca jurnal ini selama 50 tahun sejak mengawali karir. </p><p><br/></p><p>Let's do the math. 9000 jurnal dalam 50 tahun, berarti pertahun bisa 180an jurnal, atau perbulan 15-17 jurnal. Berarti bisa dibilang rata-rata Bu Kariko menyelesaikan 1 jurnal dalam 2 hari (jika tanpa hari libur ya). </p><p><br/></p><p>Bayangkan, kebiasaan yang dijalankan sedikit-demi sedikit lama-lama jadi bukit banget ilmunya, sampe jadi peraih nobel. Beliau tidak hanya selalu membaca penelitian terbaru, namun juga catch up dengan apa aja yang sudah dilakukan sebelumnya dari old papers yang dia baca. Prinsipnya adalah ia ingin menemukan "nugget of insight" yang mungkin untuk saat ini belum tahu apa gunanya, tapi kalau udah terkumpul dan terdokumentasi, somehow pasti akan kelihatan gimana puzzle pengetahuan itu ditempatkan. </p><p><br/></p><p>Jadi, inventarisasi informasi dalam riset itu penting, supaya kita punya modal untuk mengkoneksi, mengoreksi, atau menambahkan sesuatu dari yang sudah ada. Dari sini, membaca dan mengikat ilmu adalah sama pentingnya. </p><p><br/></p><p>Kedua, riset itu penuh ketidakpastian. Namanya juga kita berusaha untuk mendobrak pintu yang belum pernah dibuka orang lain. Bisa aja pintunya leads us to a small room, tapi bisa juga pintunya membawa kita ke "a secret garden". Dalam hal ini, "have no expectation to do something grand" akan sangat membantu untuk tidak terjebak dalam kegagalan. </p><p><br/></p><p>Flashback ke jaman Bu Kariko kecil, keluarganya punya cara mengelola segala sesuatu untuk meminimalisir "waste", pastinya secara tradisional. Mereka juga terbiasa membuat sabun sendiri. Sementara itu, neneknya penjual beberapa macam bunga di pasar yang akhirnya membuat bu Kariko kecil antusias dengan buku-buku botani untuk mempelajari bunga-bunga. Kayaknya, secara tidak sadar, beberapa kultur dan kebiasaan rumah ini yang membekali Bu Kariko untuk jadi scientist. Walaupun memang beliau tidak di ekspektasikan secara sengaja untuk menjadi peneliti, having no expectation is somehow a reflection of a freedom. Tapi, again, apa yang dilakukan orang sejak kecil biasanya akan berpengaruh dengan vision hidup dia kedepan, ya seperti Bu Kariko ini. (anw, kalo kalian suka nontonin podcastnya Pak Gita Wirjawan, pola ini pasti muncul di narsum-narsum yang beliau ajak ngobrol)</p><p><br/></p><p>Itu sih ya, beberapa hal yang mungkin bisa jadi pelajaran sejauh ini dari Bu Kariko. </p><p><br/></p><p>OOT. Satu isu menarik juga yang dia angkat tentang perannya sebagai ibu sekaligus saintis adalah high quality and affordable childcare adalah kunci untuk mendukung kedua peran tersebut berjalan seimbang. Isu politis yang patut untuk digaungkan mengingat gender equity dalam dunia kerja masih jadi issue. Semoga kedepan dunia bisa menjadi tempat yang lebih ramah bagi perempuan-perempuan untuk membangun mimpi. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.goodreads.com/en/book/show/123025953-breaking-through" />
         <pubDate>2025-09-28 06:13:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3607382792</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Slow Productivity</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3746557637</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><em>Apa arti dari hidup yang bermakna? </em></p></blockquote><p><br/></p><p><br/></p><p>Problem: zaman pertanian vs zaman industri --&gt; manusia kehilangan waktu untuk dirinya </p><p><br/></p><p>Inti dari slow productivity ada 3:</p><ul><li><p>mengurangi kegiatan: fokus pada 2-3 misi besar, minimalisir distraksi, </p></li><li><p>bekerja dengan laju alami: target yang kita susun kadang kurang realistis untuk allwing our cognitive to undertake all works. Jangan terlalu memasang target yang ambisius. Karya besar datang dari proses yang slow tapi konsisten. </p></li><li><p>obsesi pada kualitas: jika melambat, sudah pasti kualitas akan tercermin pada hasil. Tapi hindari juga menjadi perfeksionis. Progression over perfection. </p></li></ul><p><br/></p><p>Interesting:</p><ul><li><p>kisah Copernicus, Newton, </p></li><li><p>sifat dasar manusia untuk merenung dan berkontemplasi </p></li><li><p>bekerja sesuai musim sehingga ada ruang menciptakan makna lewat perenungan</p></li><li><p>mereka tertarik dengan apa yg bisa dihasilkan sepanjang hidup, bukan jangka pendek</p></li></ul><p><br/></p><p>Reflection</p><ul><li><p>karya yang dibuat agak kurang seimbang, karena berkaca hanya dari karya-karya besar yang entah secara kebetulan atau tidak, dihasilkan dari proses pengerjaan yang panjang </p></li><li><p>Tidak ada contoh, apakah setiap karya panjang akan jadi berkualitas atau bermakna? ada gak yang gagal?</p></li><li><p>Berkaca dari kondisi di Indonesia, apakah memungkinkan utk menerapkan poin 1 dan 2? buku ini lebih tepat untuk penulis, orang-orang di industri kreatif, dan mereka yang berwirausaha</p><p><br/></p></li></ul><p><br/></p><p>Lesson learned </p><ul><li><p>ukuran progress tentang sektor ekonomi berbasis pengetahuan ini masih abu-abu, karena rawan disamakan dengan sesuatu yang tangible seperti di industri manufaktur</p></li><li><p>kerja tetap jalan (utk memenuhi kebutuhan hidup), tapi pikirkan, ada gak suatu hal besar, dalam jangka panjang, yang kalian mau bikin sepanjang hidup kalian? </p></li><li><p>apa makna dari hidup yang bermakna?  ukuran bermakna orang terdahulu adalah sesuatu yang bisa dia hasilkan sepanjang hidupnya, bukan seperti kita yang konsumerisme banget (harus punya materi untuk bisa consumen)</p></li><li><p>kebebasan to produce (legacy) instead of kebebasan to consume </p></li></ul><p><br/></p><p>Follow up</p><ul><li><p>apa saja yang menyebabkan budaya konsumerisme?</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://www.gramedia.com/products/slow-productivity" />
         <pubDate>2026-01-11 02:45:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ernawatiscop/erp3y6tf0pot57fn/wish/3746557637</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
