<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Jurnal Pemantauan CGP Modul 1.1 by Hijrahku Official</title>
      <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq</link>
      <description>(1) Rangkuman ataupun benang merah dari (2) Jawaban atau respons saat Diskusi, pengumpulan tugas yang paling menarik, mengejutkan, atau menginspirasi (3).Komentar secara umum terhadap aktivitas yang dijalani atau materi yang dipelajari</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-06-25 00:08:35 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-07-18 23:09:09 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Mulai Dari Diri : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041131782</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ini memahami mengenai konsep-konsep dasar pemikiran KHD dalam pendidikan, pengertian dasar pendidikan secara umum dan kaitanya dengan konsep pemikiran KHD.</p><p>Konsep pemikiran KHD dalam pendiidkan ditunjukan dengan memberikan penjelasan teori tabula rasa yang menganggap bahwa siswa merupakan kertas putih yang perlu ditulisi selanjutnya teori yang memberikan penjelasan mengenai anak itu diibaratkan kertas putih yang telah berisi tulisan yang mana tulisan itu harus arahkan dan dibimbing oleh guru sebagai insan yang akan mencetak dan merubah serta menambah tulisan itu.</p><p>Selanjutnya pendidikan itu tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan keada siswa, tapi lebih jauh lagi KHFD menerapkan prinsip bahwa pendidokan itu pada dasarnya menuntun dan membimbing siswa untuk mencapai harapan yang di inginkan. Perlu di sadari bahwa setiap murid itu mempunyai karakter dan bawaannya masing-masing. sehingga sebagai seorang guru hanya bertugas mengembangkan karakter itu tanpa harus memaksakan kehendak dan pemahaman yang menjadi tuntutan guru, inilah yang di sebut dengan pendidikan harus berhamba pada murid. </p><p>Selain itu teori kodrat alam dan kodrat zaman yang perlu diketahui bahwa kodrat alam itu meyakini siswa mempunyai bawaan karakter masing-masing sedangkan kodrat zaman lebih menekankan bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman akan tetapi tidak melupakan akar budaya lokal yang ada di daerahnya masing-masing. Budaya lokal tentunya berkaitan erat dengan pembelajaran siswa di sekolah, dari budaya lokal tersebut bisa diadopsi berbagai macam bentuk pembelajaran di kelas, seperti religius, kerjasama, gotong royong dan konsep-konsep dasar lainnya. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 06:24:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041131782</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eksplorasi Konsep : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041140601</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan eksplorasi konsep ini masih ada kaitanyya dengan kegiatan mulai dari diri, hanya saja pada kegiatan ini lebih cenderung kepada penguatan mengenai pemikiran KHD pada konsep pendidikan, di eksplorasi konsep ini juga dijelaskan penjabaran dan pendidikan yang menuntun pada murid, ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayanani yang merupakan acuan pendidikan dari KHD yang diakai samapai saat ini,  di depan menjadi tauladan, ditengah menjadi tuntutan dan dibelakang menjadi dorongan, hal ini merupakan suatu konsep pemikiran yang luar biasa dari KHD yang kadang implementasi dari pemikiran ini sudah tergeser seiring dengan perkembangan zaman.</p><p>Selanjutnya masih penguatan terhadapa konsep teori kodrat alam dan kodrat zaman, seperti yang telah dijelaskan pada kegiatan mulai dari diri bahwa kodrst alam merupakan tabiat atau karakter yang diberikan Tuhan kepada anak, tugas guru hanya mengembangkan karakter itu dengan menuntun dan membimbing agar karakter pada anak tetap terarah dan tidak melencengan dari seharusnya. Kodrat zaman lebih menekannkan bahwa pendidikan itu harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, tidak monoton dan stagnan, disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan dalam segala bidang, hanya saja kodrat zaman ini tidak boleh melupakan dari akar-akar budaya lokal atau budaya daerah yang ada pada suatu tempat, karena di sadari atau tidak impelmentasi dari budaya loka atau budaya setempat sangat berpengaruh terhadap poenumbuhan karakter dari peserta didik itu sendiri. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 06:59:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041140601</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ruang Kolaborasi Sesi 1 : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041145411</link>
         <description><![CDATA[<p>Setelah kegiatan eksplorasi konsep secara teoti tentu harus di imlementasikan dalam bentuk tolak ukur pemahaman peserta melui ruang kolabirasi, ruang kolaborasi ini berupa pemberian tugas membuat paparan dalam bentuk PPT secara berkelompok tang ditugaskan oleh fasilitator, adapun tugas PPT yang di maksud adalah mengenai pemahaman peserta terhadap pemikiran KHD dalam konsep dasar pendidiokan dikaitkan dengan budaya lokal setempat. Kami di kelompok 2 mengangkat tema budaya lokal berupa hajat bumi dikaitkan dengan pemikiran pendidikan KHD. Kami menjelaskan mengenai latar belakang budaya hajat bumi dilaksanakan, tujuan, teknis pelaksanaan, sampai nilai-nilai yang terkadung dalam hajat bumi tersebut, masukan dan saran yang kami terima dari rekan sejawat dan fasilitatot tentunya sangat berharga sekali dalam memperbaiki hasil kerja kelompok tersebut walaupun ada umumnya ahsil PPT yang kami sajikan sudah sangat baik. Kesmpulan yang dapat kami sampaikan dari paparan tersebut adalah bahwa hajat bumi merupakan suatu budaya lokal yang ada di Kabupaten Pangandaran yaitu berupa bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan YME atas hasil bumi yang melimpah, kegiatan ini dikemas dalam bentuk kegiatan syukuran pembacaan doa-doa, kreasi seni setempat, dan di akhiri dengan makan bersama. Nilai-nilai yang terkandung dari budaya lokal ini apabila dikaitkan dengan pemikiran KHD dan di terapkan disekolah adalah nilai religius kerohanian seperti pelaksanaan praktik ibadah, berjamaan salat fardhu, salat dhuha, peringatan hari besar islam dan lain-lain. Yang kedua nilai gotong royong dapat di impelentasdikan dalam bentuk bersama-sama memebrsihkan kelas, membersihkan halaman sekolah dan sebagainya. Nilai ketiga yaitu nilai kebersamaan dan saling berbagi, hal ini bisa di implementasikan dalam bentuk makan bersama di sekolah, saling membantu dan berbagi terhadap orang yang membutuhkan baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah.</p><p>Inti masukan dari fasilitator adalah bedakan secara tergas antara budaya dengan agama, budaya ya budaya karena berkaitan dengan kebiasaan, agama ya agama yang berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Tuhan nya, jangan sampai mensalah artikan antara nilai-nilai bidaya dan nilai agama itu sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 07:17:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041145411</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ruang Kolaborasi Sesi 2 : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041147569</link>
         <description><![CDATA[<p>Berangkat dari ruang kolaborasi sesi 1 yaitu penugasan berupa paparan dalam bentuk PPT yang di kerjakan secara berkelompok, maka di ruang kolaborasi sesi 2 yaitu penugasan secara individu dengan tujuan sejauh mana pemahaman mengenai materi pada modul 1.1 ini. Penugasan secara individu ini sedikit unik akan tetapi sangat menantang, dimana biasanya penugasan individu itu berpa resume atau makalan sederhana, akan tetapi dalam CGP ini unik dan cukup kaget, dimana peserta di arahkan untuk membuat salah satu karya berupa karikatur, video pendek, lagu, puisi dll yang mengimplementasikan dari pemahaman modul 1.1 ini. </p><p>Dalam hal ini saya menyesuaikan dengan kemampuan individu saya pribadi, saya memilih membuat sebuah karya berupa puisi mengenai KHD dan segala pemikirannya, intinya puisi tersebut merupakan rangkuman dari materi modul 1.1 yang saya fahami. Karya puisi tersebut di harapkan menjadi sebuah karya yang memberikan manfaat kepada siapa saja yang mencoba membaca dan menelaahnya, karya puisi sudah saya ulpoadkan di ruang LMS. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 07:25:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041147569</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041234156</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan mulai dari diri, saya mempelajari tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran.  Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu upaya atau usaha yang dilakukan untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan budi pekerti atau karakter, pikiran, dan tubuh anak. Pendidikan juga menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota di masyarakat. Sedangkan pembelajaran adalah bagian dari Pendidikan. Maka dari itu, pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan, serta juga memberikan keterampilan kecakapan kepada anak-anak yang keduanya dapat memberikan manfaat bagi anak-anak baik secara lahir maupun batin.</p><p>Setelah mempelajari pemikiran KHD pemikiran saya berubah secara signifikan. Saya menyadari bahwa peserta didik seharusnya diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi mereka sendiri, sementara pendidik berperan sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan dan arahan. Saya juga menyadari pentingnya mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dalam proses pembelajaran, serta pentingnya pembentukan karakter dan budi pekerti pada peserta didik</p><p>Relevansi pemikiran KHD mengenai kodrat alam dan kodrat zaman saat ini kita kenal dengan istilah pembelajaran berbasis kontekstual. Sumber pembelajaran berasal dari lingkungan sekitar peserta didik.</p><p>Saya merasa sudah melaksanakan pemikiran KHD, meskipun hanya sebagian dari pemikiran KHD, Sebagai pendidik, saya bertanggung jawab untuk membimbing siswa menuju pemahaman diri yang lebih baik, serta membantu mereka mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki. Saya juga harus memastikan bahwa pendidikan yang saya berikan tidak hanya berkutat pada transfer pengetahuan, tetapi juga memberdayakan siswa untuk menjadi individu yang mandiri dan kritis.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 13:28:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041234156</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041234302</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan Demonstrasi Kontekstual Peserta CGP diberikan tugas untuk mendesain strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - 'Pendidikan yang Berpihak pada Murid' sesuai dengan Konteks Diri Murid dan Sosial Budaya di daerah asal berupa video pendek, komik, infografis, puisi atau lagu, dll) dan mempublikasikan sebagai wujud pemahaman, pemaknaan dan penghayatan di praktekkan dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara.&nbsp; Karya tersebut menjadi sebuah demonstrasi kontekstual bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat dikembangkan dan diterapkan di kelas dan di sekolah. Pada kegiatan ini saya membuat puisi tentang filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam bentuk video pendek. Melalui media puisi ini dapat diperkenalkan kepada peserta didik mengenai sosok Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara serta berbagai jasa-jasanya di bidang Pendidikan serta semboyannya. Puisi ini juga memiliki nilai seni yang dapat di ajarkan kepada peserta didik di kelas terkait bagaimana cara pembacaan puisi yang baik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 13:29:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041234302</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041241500</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada tahap ini CGP berlatih membangun kerangka berpikir dan menyampaikan ide serta gagasan berdasarkan pemahaman dan internalisasi konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam ruang diskusi virtual bersama Instruktur dan Instruktur memberikan penguatan pemahaman konsep pemikiran filosofis KHD untuk melatih dalam memaknai dan menghayati pemikiran KHD dan bagaimana penerapannya pada konteks lokal sosial budaya di daerah. Pada kegiatan elaborasi pemahaman ini mendiskusikan beberapa pertanyaan yaitu bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks&nbsp;sosial budaya&nbsp;di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya? Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan&nbsp;<em>kodrat alam</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>kodrat zaman</em>? Apa relevansi pemikiran KHD “<em>Pendidikan yang berhamba pada anak</em>” dengan peran saya sebagai pendidik? Menuntun adalah salah satu prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berarti mengarahkan dan membimbing peserta didik agar dapat berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Menuntun juga berarti menjadi teladan dan panutan bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. Dalam konteks sosial budaya di daerah saya dapat dilakukan dengan Menuntun peserta didik&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.masa.biz.id/menghargai-keragaman-ekonomi-untuk-mempromosikan-inklusi-dan-keadilan-sosial/">untuk menghargai dan</a>&nbsp;melestarikan kebudayaan daerah, seperti bahasa sunda, kesenian tradisional, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur. Hal ini&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.masa.biz.id/mengapa-jual-beli-tanah-tidak-dapat-dilakukan-dengan-akta-di-bawah-tangan/">dapat dilakukan dengan</a>&nbsp;cara mengajak peserta didik untuk belajar bahasa sunda, mengenal dan mengapresiasi kesenian tradisional seperti wayang, ebeg, ronggeng gunung, tari-tarian, dll., mengikuti adat istiadat seperti hajat laut, hajat bumi, selamatan, towongan,dll. Serta menanamkan nilai-nilai luhur seperti religious, gotong royong, rukun, kepedulian, Kerjasama, kebersamaan, hormat-menghormati, dll. Menuntun&nbsp;dalam&nbsp;konteks&nbsp;sosial&nbsp;budaya&nbsp;daerah&nbsp;saya&nbsp;adalah&nbsp;among,ngemong. Menuntun dengan sabar agar anak bisa memahami dirinya dan berkembang sesuai kemampuan dan keunikannya. Selain itu juga dapat dilakukan dengan membimbing anak untuk dapat bersikap sopan, santun, melatih anak agar bisa melakukan kegiatan budaya daerah seperti, kenduren/slametan, hajar bumi, towongan dll yang berkembang dimasyarakat sesuai dengan budaya lokal.</p><p>Perubahan konkret yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan perwujudan menuntun dalam konteks sosial&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.masa.biz.id/category/budaya/">budaya</a>&nbsp;di daerah saya adalah Menjadi contoh dan teladan bagi&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.masa.biz.id/peran-teori-belajar-kognitif-dan-sosial-emosional-dalam-keberhasilan-belajar-peserta-didik/">peserta didik dalam</a>&nbsp;menghargai dan melestarikan kebudayaan daerah. Hal ini&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.masa.biz.id/jelaskan-strategi-alternatif-yang-dapat-dilakukan-dalam-memberantas-kemiskinan-di-indonesia/">dapat dilakukan dengan cara kita sebagai guru menggunakan bahasa sunda dalam</a>&nbsp;berkomunikasi dengan peserta didik, mengajarkan dan menampilkan kesenian tradisional di sekolah, mengikutsertakan peserta didik dalam adat istiadat di masyarakat, dan menunjukkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai luhur kebudayaan daerah. Menerapkan kegiatan pembiasaan budaya positif antara lain menerapkan Embun Pagi 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun), solat dzuha berjamaah dan hafalan surat-surat pendek sebelum pelajaran dimulai, dan Gerakan Pungut Sampah Setiap Hari).&nbsp;</p><p>Kemudian mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan&nbsp;<em>kodrat alam</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>kodrat zaman yaitu </em>Kodratalam&nbsp;berkaitan&nbsp;dengan&nbsp;sifat&nbsp;dan&nbsp;bentuk&nbsp;lingkungan&nbsp;di&nbsp;mana&nbsp;anak&nbsp;berada,&nbsp;sedangkan&nbsp;kodrat zaman berkaitan&nbsp;dengan isi dan&nbsp;irama. Artinya bahwa setiap anak&nbsp;sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar&nbsp;tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan&nbsp;sifat-sifat jeleknya.</p><p>Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan Abad 21. Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari Pendidikan dan&nbsp;pengajaran&nbsp;yang&nbsp;kita&nbsp;lakukan&nbsp;sebagai&nbsp;guru.&nbsp;Guru&nbsp;harus&nbsp;senantiasa&nbsp;memberikan&nbsp;teladan bagi&nbsp;siswa-siswanya&nbsp;dalam&nbsp;mengembangkan&nbsp;budi&nbsp;pekerti.&nbsp;Kita&nbsp;juga&nbsp;bisamelakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi&nbsp;pekerti/akhlak mulia kepada anak. Guru sebagai penuntun agar siswa bisa menyesuaikan diri dengan kodrat zaman yang menurut KHD hal ini merupakan aspek penting dalam keberhasilan pendidikan. Guru dituntut untuk ikut mempelajari dan mengetahui yang diketahui oleh generasi yang dihadapinya. “<em>Pendidikan yang berhamba pada anak</em>” berarti Pendidikan harus berorientasi pada anak. Anak diberikan kemerdekaan untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya serta potensi yang dimiliki. Guru hanya harus memahami apa kebutuhan anak, bagaimana kekuatan yang dimiliki anak, guru harus menghamba pada anak sehingga perlakuan dan pengajaran yang diberikan guru sejatinya harus berorientasi sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Guru tidak boleh memaksakan kehendak, tetapi mengikuti apa maunya anak potensi anak. Pendidikan yang tidak hanya berupa penanaman pengatahuan saja melainkan penumbuan karakter dan budi pekerti luhur sesuai dengan profil pelajar Pancasila.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 13:51:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041241500</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041241603</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan Eksplorasi konsep ini lebih memperdalam mengenal konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, dengan menyimak beberapa video menarik tentang, kondisi Pendidikan pada zaman kolonial. Selain itu saya juga mempelajari tentang dasar-dasar pendidikan, Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.</p><p>Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD , “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.</p><p>intisari pemikiran ki hajar dewantara tentang Pendidikan, </p><p>menjelaskan bahwa Pendidikan sejatinya melihat kodrat anak yang selalu berhubungan dengan kodrat zaman, </p><p>menurut ki hajar dewantara, Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, </p><p>baik dalam hidup bermasyarakat maupun dalam hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya. </p><p>artinya tujuan Pendidikan adalah, menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. </p><p>jadi Pendidikan adalah usaha untuk mempersiapkan anak, sesuai dengan kebutuhan alam dan zamannya sendiri.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 13:51:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041241603</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041244793</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ruang kolaborasi satu ini, saya secara berkelompok menyajikan hasil diskusi kami. ada pun materi yang kelompok kami sajikan yaitu Kearifan Budaya Pangandaran yaitu "Towongan" Banyak nilai-nilai budaya yang ada pada towongan yang relevan dengan pemikiran KHD, sehingga implikasi nilai-nilai dari budaya towongan sangat baik untuk di terapkan di sekolah. pemaparan materi tersampaiakn dengan baik dan jelas, kemudian memasuki sesi tanya jawab, kelompok kami menerima beberapa pertanyaan salah satunya bagaimana mengatasi dampak buruk dari buday towongan, pertanyaan tersebut dapat kelompok kami jawab dengan baik, sehingga mendapat apresiasi dari fasilitator kami, selain pertanyaan kelompok kami pula menerima beberapa masukan terkait desain penyajian hasil diskusi kami berupa PPT, harus di sesuaikan tema PPT dengan Tema materi tentang budaya lokal.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 14:02:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041244793</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041248641</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ruang kolaborasi 2 ini, Kami mengupload hasil diskusi kami yang telah kami sempurnakan sesuai dengan masukan dari rekan-rekan pada saat RUKOL 1. dan sesuai dengan arahan dan saran dari fasilitator kami. ada pun materi hasil diskusi yang kami upload mengenai 3 pertanyaan dasar yaiutu :</p><ol><li><p>Apa kekuatan konteks sosio-kultural di daerah Anda yang sejalan dengan pemikiran KHD? </p><p>JAWABAN.</p><p>"Towongan"</p></li><li><p>Bagaimana pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuaikan  dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks lokal sosial budaya di daerah Anda?</p><p>JAWABAN.</p><p>Bentuk Kontekstual Dari Nilai Luhur Budaya Towongan Terhadap Konsep Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Yang Berkaitan Dengan Kodrat Alam Sebagai Upaya Penguatan Karakter Murid Dalam budaya towongan, lingkungan sekitar peserta didik akan memberikan kebiasaan untuk memeriahkan persiapan suatu hajatan. Kegiatan ini mengandung makna aktualisasi diri bagi murid sehingga bisa lebih berbaur dalam kegiatan sosial. </p><p>Budaya Towongan, merupakan suatu perwujudan dari penerapan rasa saling tolong menolong yang sudah diwariskan secara turun temurun, sehingga dengan murid ikut dan mengenal budaya towongan ini, akan memupuk pula rasa persatuan sehingga kental dengan rasa solidaritas dalam dirinya kelak.</p></li><li><p>Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku murid di kelas atau sekolah Anda sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di daerah Anda yang dapat diterapkan.</p><p>JAWABAN.</p><p>Budi pekerti.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 14:17:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041248641</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041250562</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ini Saya mendesain strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - 'Pendidikan yang Berpihak pada Murid' sesuai dengan Konteks Diri Murid dan Sosial Budaya di daerah asal, karya demonstrasi kontekstual yang saya buat adalah video. Dalam video ini saya membahas tentang Tujuan Pendidikan menurut Kihajar dewan tara. "Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat".</p><p>sesuai dengan pemikiran ki hajar dewantara.</p><p>1. Guru harus berpihak pada murid</p><p>2. Guru harus bisa menuntun murid sesuai dengan kodratnya.</p><p>3.&nbsp; Guru harus memahami karakter murid.</p><p>4.&nbsp; Guru harus memahami tujuan pembelajaran.</p><p>Sehingga murid memiliki kemampuan di bidang pengetahuan, dan memiliki budi pekerti yang luhur.</p><p>Menurut semboyan ki hajar dewantara tentang peran guru sebagai pendidik.</p><p>1. Ing ngarso sung tulodho</p><p>"guru harus bisa memberi cotoh dan panutan kepada anak didiknya"</p><p>2. Ing madya mangun karso</p><p>"Guru harus bisa membangkitkan semangat/kemauan dalam diri murid untuk terus belajar dan melakukan inovasi.</p><p>3. Tut wuri handayani</p><p>"guru harus bisa memberi dorongan/motivasi kepada anak didiknya".</p><p>Dari semboyan tersebut guru dapat memberikan Pendidikan yang berpihak pada murid dengan cara:</p><p>1. Berikan kemerdekaan dalam belajar</p><p>2. Berfikir kreatif dan inovatif sesuai minat dan bakatnya.</p><p>3. Sesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.</p><p>Penerapan kegiatan sekolah yang berpihak pada kebutuhan murid untuk mewujudkan pemikiran ki hajar dewantar:</p><p>1. Penanaman Budipekerti.</p><p>2. Pembelajaran difrensiasi.</p><p>3. Projek penguatan profil pelajar Pancasila.</p><p>4. Program Ekstrakulikuler.</p><p>Untuk mewujudkan Pendidikan yang berpihak pada murid tidaklah mudah, terdapat Tantanagan diantaranya "masih rendahnya minat dan motivasi murid dalam mengikuti program-program yang disediakan sekolah.</p><p>Tantangan selanjutnya Kemampuan guru yang masih belum menyeluruh dalam memaknai pemikiran Kihajar dewantara yaitu Pendidikan yang berpihak pada murid.</p><p>Adapun solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.</p><p>1. Menggunakan model atau metode yang bervariatif.</p><p>2. Mengikuti berbagai pelatihan/seminar.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 14:24:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041250562</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041253408</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada elaborasi pemahaman ini, saya di tuntut mampu memberikan perspektif refleksi kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam Elaborasi Pemahaman dengan berdialog bersama Instruktur. Berdialog disini kami saling membagi cerita praktik baik tentang penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara, Praktik baik ini khususnya bagi saya sangat bermanfaat untuk dapat diterapkan di sekolah. Selain itu instruktur juga memberikan REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD-PESAN KUNCI.</p><ol><li><p>"Guru dan murid berkolaborasi untuk menginisiasi/menciptakan kedalaman (rasa takjub dan kasmaran) spiritual, intelektual dan sosial untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia.</p></li><li><p>Siswa dan guru merdeka belajar yang berkolaborasi bersama menggali dan mengembangkan potensi siswa dan mengakomodasi karakteristik masing-masing untuk mewujdkan Student Wellbeing.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 14:35:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041253408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Ruang Kolaborasi Sesi 1 : Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041262601</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada Ruang kolaborasi 1 CGP mendapatkan penjelasan tentang filosofi pemikiran KHD dari Fasilitator dan melakukan diskusi tentang filosofi pendidikan menurut KHD. Menuntun adalah proses pembimbing atau mengarahkan anak sesuai dengan kodratnya baik itu kodrat alam ataupun kodrat zaman, pembelajaran berpusat atau berorientasi pada murid, dan Pendidikan yang relevan dengan konteks sosial budaya daerah. </p><p>Dari sini dapat dipahami bahwa pendidik harus memberikan teladan yang baik kepada murid,pendidik harus mampu menuntun anak sesuai kodratnya, dan biarkan anak berkembang sesuai kodrat alam dan zamanya namun harus tetap kita tuntun agar tidak keluar dari norma budaya atau kultur negara kita. Prinsip melakukan perubahan adalah menjaga nilai utama dari masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 14:58:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041262601</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Ruang Kolaborasi Sesi 2 : Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041263084</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada sesi ruang kolaborasi 2 CGP membuat kelompok untuk mendiskusikan dan mempresentasikan ekplorasi nilai-nilai luhur sosial budaya daerah asal. Dimana pada kelompok kami mengambil budaya “Hajat Bumi”, dari presentasi ini dapat diambil kesimpulan bahwa nilai luhur dalam sosial budaya hajat bumi adalah religius, kebersamaan, kepedulian, gotong-royong. Nilai ini bisa diterapkan pada kegiatan-kegiatan di sekolah pada kehidupan sehari-hari seperti shalat berjamaah, memperingati hari besar keagamaan, kegiatan jum’at bersih , dan membantu sesama warga sekolah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 15:00:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041263084</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Demonstrasi Kontektual : Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041267162</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan demonstrasi kontekstual CGP di berikan tugas untuk membuat sebuah karya dimana isi karya tersebut adalah mendesain strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - 'Pendidikan yang Berpihak pada Murid' sesuai dengan Konteks Diri Murid dan Sosial Budaya di daerah asal. Pada demonstrasi ini saya membuat karya poster. Adapun isi poster saya mengenai filosofi pendidikan ki hadjar dewantara.</p><p>Tujuan pendidikan : Menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.</p><p>Kodrat alam : Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk di mana anak berada. Sebagai pendidik harus bisa mengimbangi dan menjaga hal tersebut sesuai dengan kodrat alam.</p><p>Kodrat Zaman : Kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Sebagai pendidik jangan hanya memberikan pembelajaran secara teori saja, namun harus diimbangi dalam pembelajaran moral, agar anak didik kita bisa benar-benar menjadi pelajar yang berkarakter.</p><p>Peran pendidikan diibaratkan serang petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai dengan kebutuhan tanaman-tanaman tersebut agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuannya. Peran pendidik: sebagai membimbing, pamong, pelatih, dan memantau dalam menemukan ide-ide baru sesuai bakat minat dan bakatnya (mereka belajar).</p><p>Tantangan dan Solusi : Perilaku siswa yang beragam sehingga menyebabkan pembelajaran yang kondusif namun dengan melakukan pendekatan terhadap siswa untuk memahami karakteristik maka akan menemukan solusi.</p><p>Pembelajaran secara mandiri, kolaboratif, kreatif baik dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler serta pembiasaan- pembiasaan yang baik seperti Shalat Dhuha bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 15:15:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041267162</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Eksplorasi Konsep : Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041273436</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan eksplorasi konsep ini materi yang disampaikan lebih memperdalam untuk mengenal konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan menyimak video menarik tentang kondisi Pendidikan pada zaman Kolonial. Bukan hanya menyimak video saja saya juga belajar mengenai asas pendidikan, memahami pemikiran-pemikiran filosofi pendidikan KHD yang disajikan dalam 3 tulisan KHD, dasar-dasar pendidikan yang menuntun. </p><p>Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Pendidikan menjadi kunci utama untuk mencapai perubahan. Pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat, dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Dalam proses menentukan anak diberikan kebebasan, namun guru sebagai pamong tetap mengawasi dan memberikan arahan agar tidak salah arah dan membahayakan dirinya.</p><p>Pendidikan harus disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. </p><p>Tri pusat pendidikan</p><p>Keluarga</p><p>Sekolah dan perguruan</p><p>Lingkungan masyarakat</p><p>Trilogi kepemimpinan(aktivitas pendidik)</p><p>Ing Ngarso Sung Tulodo (didepan, menjadi teladan),</p><p>Ing Madya Mangun Karso (ditengah, menyemangati, membangun kreativitas, melahirkan hal-hal baru yang produktif,</p><p>Tut Wuri Handayani (dibelakang, memberdayakan, mendukung potensi anak untuk berkembang dan tumbuh dengan optimal.</p><p>Bagaimana Anda memandang diri Anda sebagai pembelajar (guru) dan pemelajar (murid) jika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara?</p><p>Merancang dan melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman (memperkenalkan teknologi),</p><p>Menerapkan kebiasaan anak untuk menumbuhkan budi pekerti,</p><p>Mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan melalui ice breaking atau permainan,</p><p>Harus siap dalam segala kondisi dan situasi dilapangan terkait anak-anak,</p><p>Mengembangkan diri, meningkatkan kompetensi, dan belajar hal-hal yang baru sesuai dengan perkembangan zaman.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 15:39:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041273436</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Mulai Dari Diri : Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041274310</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ini mengenal dan memahami Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD).</p><p>pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan<em> </em>memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.</p><p>Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk tercapainya suatu pendidikan. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat).</p><p>Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.</p><p>Pemikiran Ki Hajar Dewantara relevan dengan pendidikan saat ini, terutama dalam implementasi kurikulum merdeka yang menekankan kebebasan belajar bagi anak-anak, pentingnya pembentukan karakter anak-anak dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam proses belajar-mengajar. Pemikiran Ki Hajar Dewantara juga sangat relevan dalam pendidikan di sekolah khususnya SMP DHARMA KSATRIA dimana untuk mencapai visi sekolah yaitu Terciptanya pusat pendidikan Islam berkualitas dengan menghasilkan generasi pembelajar sepanjang hayat yang berakhlakul karimah, mandiri, cerdas, dan berprestasi (Pusat BerAKSI).</p><p>Saya mencoba untuk melaksanakan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah bukan hanya untuk belajar atau pemberian materi saja kepada anak-anak melainya saya juga harus memdidik anak-anak. Selain itu saya pun bertanggungjawab untuk membimbing anak-anak menuju pemahaman diri yang lebih baik, serta membantu anak-anak membangun potensi-potensi yang dimiliki pada setiap anak-anak, dan saya juga harus memastikan pendidikan yang saya berikan tidak hanya pemberian materi pengetahuan saja, tetapi saya juga memberdayaan anak-anak untuk menjadi individu yang mandiri dan kritis.</p><p>Selain daripada itu saya juga mencoba menerapkan&nbsp; semboyan Ki Hadjar Dewantara tentang ing ngarso sung tulodo dimana saya harus menjadi teladan bagi-anak-anak dam memperlihatkan yang baik dan bermanfaat, ing madya mangun karso dimana saya harus membangun motivasi, semangat dan antusias anak-anak dalam belajar, tut wuri handayani dimana saya harus siap memberikan bantuan terhadap anak-anak yang memiliki kesulitan belajar, memberikan arahan dan dukungan kepada anak-anak agar mereka dapat mencapai potensi terbaik mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 15:42:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041274310</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041299013</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada tahap koneksi antar materi-Kesimpulan dan Refleksi modul 1.1 ini, saya melakuan peninjauan kembali terhadap materi dan tugas yang telah diselesaikan, kemudian membuat sebuah kesimpulan dan refleksi. Adapun simpulan yang dapat saya kemukakan sebagai berikut.</p><p>Tujuan Pendidikan menurut Kihajar dewan tara. "Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat".</p><p>sesuai dengan pemikiran ki hajar dewantara.</p><p>1. Guru harus berpihak pada murid</p><p>2. Guru harus bisa menuntun murid sesuai dengan kodratnya.</p><p>3. Guru harus memahami karakter murid.</p><p>4. Guru harus memahami tujuan pembelajaran.</p><p>sehingga murid</p><p>memiliki kemampuan di bidang pengetahuan, dan memiliki budi pekerti yang luhur.</p><p>menurut SEMBOYAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PERAN GURU SEBAGAI PENDIDIK.</p><p>1. Ing ngarso sung tulodho</p><p>"guru harus bisa memberi cotoh dan panutan kepada anak didiknya"</p><p>2. Ing madya mangun karso</p><p>"Guru harus bisa membangkitkan semangat/kemauan dalam diri murid untuk terus belajar dan melakukan inovasi.</p><p>3. Tut wuri handayani</p><p>"guru harus bisa memberi dorongan/motivasi kepada anak didiknya".</p><p>dari semboyan tersebut guru dapat memberikan Pendidikan yang berpihak pada murid dengan cara:</p><p>1. Berikan kemerdekaan dalam belajar</p><p>2. Berfikir kreatif dan inovatif sesuai minat dan bakatnya.</p><p>3. Sesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.</p><p>Pertanyaan Pemantik !</p><p>1. Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari modul 1.1?</p><p>Yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran dikelas sebelum mempelajari modul 1.1 ini diantaranya,</p><p>1. Guru kurang memahami karakter anak.</p><p>2. Fokus utama guru hanya sebatas anak-anak memahami materi, suasanna kelas yang tertib dan tenang.</p><p>3. Pembelajaran Berfokus pada guru.</p><p>2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini? </p><p>Setelah mempelajari modul 1.1 banyak pengetahuan baru yang saya peroleh sehingga berdampak dapat merubah pemikiran saya :</p><p>1. Guru bukan satu-satunya sumber belajar.</p><p>2. Pembelajaran berpusat pada anak.</p><p>3. Menghargai setiap karakteristik belajar anak.</p><p>Selain merubah pemikiran, modul 1.1 juga merubah prilaku saya sehingga dapat.</p><p>1. Mengemas pembelajaran secara menarik agar motivasi belajar anak meningkat.</p><p>2. Lebih cermat melihat bakat anak, untuk menuntun sesuai dengan kodratnya.</p><p>3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?</p><p>yang dapat saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara :</p><p>1. Menerapkan pembelajaran berbasis kearifan local dan budaya setempat.</p><p>2. Merancang pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dengan melibatkan peserta didik.</p><p>3. Memanfaatkan digital kedalam proses kegiatan belajar.</p><p>KESIMPULAN.</p><p>Berdasarkan pemikiran KHD tentang Pendidikan, kesimpulan yang dapat saya sampaikan yaitu :</p><p>1. Pendidikan adlaha "menuntun"  anak sesuai dengan minat dan bakatnya.</p><p>2. Pendidikan bukan hanya ilmu akademis saja namun perlu penanaman budipekerti yang baik dan menyeluruh.</p><p>3. Pendidikan sejatinya adalah berhamba pada anak.</p><p>Seperti yang disampaikan dan dipikirkan oleh ki hajar dewan tara. </p><p>saya memandang bahwa Pendidikan sebagai sebuah proses dialog dan pertukaran pengetahuan,</p><p>dimana saya sebagai guru, bisa belajar dari pengalaman dan prespektif siswa. </p><p>Dengan memandang diri saya sebagai pembelajar dan pemelajar, saya berharap dapat menciptakan suasana belajar yang inklusif dan menginspirasi siswa, </p><p>untuk terus belajar dan berkembang sebagai individu yang berdaya saing tinggi, dan berbudaya.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 17:20:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041299013</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376283</link>
         <description><![CDATA[<p>Setelah saya membaca ulasan pada kegiatan Mulai Dari Diri yaitu mengenai pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran, saya memahami bahwa menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah sebuah tuntunan bukan paksaan. Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan Pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak – anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan harus mengikuti tuntutan zaman sesuai dengan pemikiran dari Ki Hajar Dewantara yaitu mengenai kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada. Kodrat zaman adalah perubahan keadaaan zaman dari waktu ke waktu. Anak – anak akan berkembang dan tumbuh sesuai bakat dan potensinya masing – masing.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:46:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376283</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376484</link>
         <description><![CDATA[<p>Setelah saya membaca ulasan pada kegiatan Eksplorasi Konsep yaitu mengenai intisari pemikiran ki hajar dewantara. Dimana pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas luasnya dan Peranan Guru yang Dikaitkan dengan Pemikiran KHD yaitu mengikuti perkembangan zaman dengan berbagai pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menerapkan sistem among, dalam arti menuntun dan membimbing peserta didik untuk belajar. Dan Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Serta mengenai tiga semboyan KHD, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani berarti kita sebagai pendidik, di depan harus memberi teladan, di tengah harus membangun ide dan gagasan, dan di belakang harus bisa memberikan motivasi dan dukungan kepada murid-muridnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:48:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376484</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376860</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ruang kolaborasi sesi 1 pada pendidikan guru penggerak, kami diberi tugas untuk membuat media presentasi mengenai social kultur secara berkelompok. Pada kelompok 1, kami mengangkat social kultur di daerah Pangandaran mengenai “TOWONGAN”. Dimana dalam presentasi tersebut kami berbagi tugas dengan anggota kelompok lainnya. Selama proses presentasi berlangsung kelompok kami mendapatkan kritikan mengenai tema presentasi dan pertanyaan mengenai dampak negative dari budaya Towongan bagi siswa di sekolah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:48:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376860</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376986</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ruang kolaborasi sesi 2 pada pendidikan guru penggerak, kami diberi tugas untuk mengupload hasil presentasi kami saat ruang kolaborasi sesi 1 pada LMS Guru Penggerak. Dimana isi materi presentasi kelompok kami ada 3 pertanyaan dan jawaban mengenai social kultur “TOWONGAN” di Pangandaran. Yang pertama yaitu Apa kekuatan konteks sosio-kultural di daerah Anda yang sejalan dengan pemikiran KHD? Kodrat Alam, Budi Pekerti, Tri Pusat Pendidikan dan Bermain Adalah Kodrat Anak. Yang kedua yaitu Bagaimana pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuai dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid? Budaya Towongan, merupakan suatu perwujudan dari penerapan rasa saling tolong menolong yang sudah diwariskan secara turun temurun, sehingga dengan murid ikut dan mengenal budaya towongan ini, akan memupuk pula rasa persatuan sehingga kental dengan rasa solidaritas dalam dirinya kelak. Yang ketiga yaitu Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku murid di kelas? kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku murid pada buda Towongan yaitu Budi Pekerti.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:49:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041376986</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041377223</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan demontrasi kontekstual saya membuat sebuah KOMIK DIGITAL mengenai Pemikiran KHD pada pendidikan di era digital dengan tema Evaluasi Pembelajaran menggunakan Kahoot di kelas XI IPA 1 SMAN 1 Parigi. Dalam komik tersebut menggambarkan proses evaluasi pembelajaran saat KBM berlangsung di sekolah dengan menggunakan kahoot, dimana pengerjaannya menggunakan HP siswa. Komik ini berintegrasi dengan pemikiran KHD mengenai kodrat zaman, dimana pendidikan harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:50:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041377223</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041377387</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan Elaborasi Pemahaman pada pendidikan guru penggerak, kami berdiskusi bersama instruktur dan rekan rekan di ruang virtual menggunakan google meet. Kami membahas beberapa pertanyaan yaitu <strong>Perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu </strong>mencakup memberikan arahan moral, etika, dan nilai-nilai yang baik. Sebagai pendidik, kita berkolaborasi dengan siswa, memberikan ruang untuk berfikir kritis, dan mendorong refleksi melalui komunikasi kreatif dan inovatif. <strong>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong>&nbsp;&nbsp;Karena dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat Alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada dan Kodrat Zaman adalah perubahan keadaan zaman dari waktu ke waktu. <strong>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</strong> Menurut pandangan dan pemikiran saya, relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik. Sementara itu peran saya sebagai pendidik adalah dengan tulus ikhlas melayani siswa dalam proses pembelajarannya namun tetap dalam batasannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:51:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041377387</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041377547</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ini berisikan rangkuman dan refleksi modul 1.1 mengenai pemikairan KHD perihal pendidikan. Berikut rangkumannya : Pengajaran adalah bagian dari pendidikan, atau proses dari pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Tujuan Pendidikannya untuk menuntun/memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. KODRAT KEADAAN : Menuntun siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. PRINSIP PERUBAHAN : Kontuinitas, Konvergensi dan Konsentris. TRILOGI PENDIDIKAN : Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun karso, Tut Wuri Handayani . PENDIDIKAN BERHAMBA PADA ANAK : Memandang anak dengan rasa hormat dan pendidikan berorientasi pada anak. Refleksi pemikiran KHD : sebelum mempelajari pemikiran KHD Peran guru lebih dominan, Metode pembelajaran dan penugasan yang sama, Hanya memperhatikan aspek kognitif atau kurang dekat secara emosional. Setelah mempelajari pemikiran KHD : Murid sebagai subjek pembelajaran. Memberikan kesempatan kepada murid untuk tumbuh sesuai kodrat yang dimiliki. Melakukan proses pembelajaran menyeluruh. Guru sebagai fasilitator. Harus mempelajari karakteristik murid. Hal yang akan saya terapkan : Pembelajaran berpusat pada murid, Penggunaan platform media pembelajaran yang menarik, Pembelajaran yang menuntun bukan menuntut, Pembelajaran berdiferensiasi, Menerapkan pembelajaran abad 21.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 01:52:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041377547</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041389428</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan mulai dari diri yaitu membahas tentang dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) diantaranya mengenai pendidikan dan pengajaran bahwa Pengajaran merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu yang berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.</p><p>Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara (KHD) diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Guru hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan kodrat agar peserta didik dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup. Pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini sudah sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur dan berbudaya. Pemikiran Ki Hajar Dewantara sudah selaras dengan peserta didik yang merdeka dan pendidikan harus dilaksanakan sesuai dengan minat bakat serta kebutuhan belajar Peserta didik. Pendidikan menurut KHD yaitu menghamba pada anak yang artinya Pendidikan berorientasi pada murid. Guru hanya sebagai fasilitator pembelajaran yang sifatnya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Guru tidak boleh mamaksakan kehendak kepada peserta didik tetapi didiklah mereka sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajarnya. Guru bersifat menuntun peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jamannya, di era teknologi Abad 21 sebagai guru harus banyak belajar memahami kebutuhan belajar peserta didik yang sudah masif teknologi, peserta didik yang hidup pada zaman sudah mengenal digitalisasi, tetapi tetap dengan tidak meninggalkan nilai-nilai luhur yang pernah diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara. Guru harus mampu mengolah kemampuan diri, menemukan motivasi, dan mencari solusi dalam memberikan pembelajaran dan pendidikan kepada peserta didik. Selain itu juga penanaman karakter dan budi pekerti luhur yang harus ditanamkan sejak dini. Terdapat 3 semboyan pemikiran filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) yaitu Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (Di depan memberi contoh, di tengah-tengah membangun semangat, dari belakang memberi dorongan).</p><p>Dalam hal ini guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja melainkan juga harus memberikan contoh dan suri tauladan kepada murid-muridnya. Kemudian guru berada di tengah-tengah murid harus merangsang terciptanya ide dan gagasan-gagasan yang dapat membangun semangat. Kemudian berdasarkan kodratnya, peserta didik memiliki kemampuan atau bakat yang berbeda-beda. Hal inilah yang harus dipahami setiap guru, agar dapat memfasilitasi, mendorong dan mengarahkan potensi peserta didik untuk dapat memberikan dorongan untuk mencapai cita-citanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 02:54:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041389428</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041389570</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan eksplorasi konsep berisi tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) mengenai tujuan dan asas pendidikan serta menganalisis konsep-konsep pemikiran KHD berdasarkan pengalaman pembelajaran yang berpihak pada murid. Di antaranya menggali potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga kini. Pendidikan pada zaman kolonial hanya diperuntukan untuk calon-calon pegawai saja, rakyat hanya diberi pengajaran membaca menulis dan berhitung seperlunya. Melalui didirikan Taman Siswa sebagai gerbang menuju kemerdekaan yang merupakan pendidikan untuk Rakyat bangsa Indonesia. Pendidikan zaman kolonial sangat dipengaruhi oleh kepentingan dan kebijakan pemerintah Belanda yaitu untuk menguasai dan menguntungkan diri sendiri dari sumber daya alam dan tenaga kerja di Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan yang diberikan kepada penduduk pribumi sangat terbatas dan diskriminatif. Sedangkan pendidikan zaman sekarang di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan aspirasi bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.&nbsp;Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diwariskan secara turun temurun. Menurut pemikiran KHD juga mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Petani hanya dapat menumbuhkembangkan padi dengan memperlakukan sesuai ilmu padi tidak bisa merubah padi menjadi tanaman jagung tetapi hanya dapat memperlakukan bagaimana padi dapat berkembang. Begitupun cara memperlakukan peserta didik harus disesuaikan dengan kodratnya baik kodrat alam maupun zaman. Menurut KHD Kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa tetapi guru harus menebalkan agar tercipta Budi Pekerti dan karakter yang merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 02:55:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041389570</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041389738</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada ruang kolaborasi kami berdikusi dalam kelompok untuk menjawab 3 pertanyaan yaitu apa kekuatan konteks sosio kultur di daerah yang sejalan dengan pemikiaran Ki Hadjar Dewantara? Bagaimana pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuaikan&nbsp; dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks lokal sosial budaya di daerah? Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku murid di kelas atau sekolah sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di daerah Anda yang dapat diterapkan.</p><p>Kelompok kami mengambil budaya towongan sebagai salah satu tradisi lokal daerah asal yang merupakan&nbsp; tradisi pada malam sebelum hari hajatan. Towongan dilakukan sebagai sarana doa bersama agar hajatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar. Pada malam towongan, keluarga, saudara, tetangga dan warga akan berkumpul di rumah yang punya hajat untuk membantu pelaksanaan kegiatan hajatannya. Kegiatan towongan terdiri dari berdoa, membantu mempersiapkan hajatan, mengisi malam dengan permainan, hingga makan bersama. Tradisi malam towongan memiliki nilai religius, gotong-royong, kekeluargaan, dan kepedulian. Pemikiran KHD yang Dapat Dikontekstualkan Sesuai dengan Nilai-nilai Luhur Kearifan Budaya Daerah yaitu Kodrat Alam, Budi Pekerti, Tri Pusat Pendidikan, Bermain Adalah Kodrat Anak. Adapun untuk implementasinya di sekolah yaitu berdoa bersama sebelum belajar, berdonasi untuk teman yang membutuhkan, melaksanakan upacara bendera, sholat dzuha berjamaah dan mematuhi peraturan yang berlaku di sekolah. Selain itu siswa berbagi bekal makanan, dan melakukan permaianan tradisional. Tradisi Towongan di masyarakat banyak memiliki nilai-nilai luhur kearifan lokal budaya daerah yang dapat mempengaruhi penguatan karakter laku murid. Melaui Tradisi Towongan banyak nilai-nilai penguatan karakter bagi murid baik sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat sesuai dengan tradisi sosial budaya daerah selaras dengan Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu kodrat alam dan kodrat zaman, bahwa kekuatan sosial budaya yang beragam dapat menjadi kekuatan dalam menididik dan menuntun kekuatan kodrat anak. Melalui budaya Towongan dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman dalam mendidik dan menuntun kekuatan kodrat anak. Melalui Tri Pusat Pendidikan di Masyarakat, Murid dapat belajar berbaur dalam kegiatan sosial, serta dapat memupuk rasa persatuan dan solidaritas. Murid juga dapat mengenal dan memahami budaya daerah yang berkembang serta perlu melestarikan adat dan budaya turun temurun di masa yang akan datang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 02:56:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041389738</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041390060</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan Ruang Kolaborasi Sesi 2 yaitu setelah kelompok kami berdiskusi, kami harus mempresentasikan hasil kerja penyusunan PPT kelompok yang telah kami buat yaitu tentang menemukan nilai-nilai luhur kearifan budaya, dan memberikan umpan balik&nbsp;terhadap hasil diskusi yang dipresentasikan oleh kelompok lain. Kami melakukan kegiatan presentasi kelompok secara bergiliran. Berdasarkan hasil pemaparan kelompok kami mengenai budaya towongan banyak sekali tanggapan-tanggapan positif baik dari segi konten maupun tampilan PPT kami dari rekan-rekan kelompok yang lain serta beberapa pertanyaan yang dilontarkan kemudian terakhir fasilitator memberikan penguatan. Adapun pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu Lutfi Ayu yaitu bagaimana menanamkan kepada anak supaya kelak kalau anak sudah dewasa dapat terus melestarikan dan melaksanakan budaya towongan secara turun temurun di era gempuran teknologi digitalisasi? Kami menjawab pertanyaan tersebut dengan cara guru di sekolah dapat menerapkan budaya towongan tersebut dengan melaksanakan program kegiatan projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) dengan tema kearifan lokal yang dapat diterapkan di sekolah melalui pengenalan budaya towongan serta peserta didik juga bisa di ajak untuk mengikuti kegiatan towongan yang sedang berlangsung di masyarakat agar mereka dapat mengenal dan mencintai budaya sendiri serta kelak dapat terus melestarikannya hingga dewasa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 02:57:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041390060</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041396068</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada Kegiatan Elaborasi Pemahaman  CGP mengikuti kegiatan di forum ruang virtual bersama instruktur sebagai peserta aktif. Dalam ruang virtual ini membahas tentang penguatan pemahaman konsep pemikiran KHD dan penerapannya dalam pembelajaran. Dan kami pun membahas pertanyaan yaitu Perwujudan 'menuntun' yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu pada kearifan lokal ternyata terdapat nilai-nilai yang bisa di aplikasikan dalam pembelajaran di sekolah contohnya kearifan lokal hajat bumi dimana nilai yang bisa di ambil pada hajat bumi yaitu religius, gotongroyong, kekeluargaan/kebersamaan dan peduli. Sebagai pendidik harus membimbing anak sesuai dengan kodratnya.</p><p>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman ? karena dasar pendidikan berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman dimana anak harus dalam memberikan pembelajaran harus sesuai zaman anak tersebut dan tidak lupa juga harus sesuai dengan kearifan yang terdapat pada lingkungan sekitar.</p><p>Apa relevansi pendidikan KHD"Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" dalam peran saya sebagai pendidik? Pendidikan berhamba pada anak bukan berarti kita harus mengikuti apa kemauan anak akan tetapi sebagai pendidik harus tulus ikhlas dalam melayani anak dalam proses belajar sesuai dengan keunikan anak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 03:27:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041396068</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041400453</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan ini CGP membuat kesimpulan dan refleksi pengetahuan dan pengalaman baru yang dipelajari dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan 3 Pertanyaan pemantik dalam membuat kesimpulan dan refleksi yaitu Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda&nbsp; mempelajari modul 1.1?Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?&nbsp;Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD? Adapun mengenai Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum mempelajari modul 1.1 yaitu Guru bertugas mentransfer ilmu kepada murid dengan berceramah, berdiskusi, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dengan benar sehingga guru dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar bagi murid di kelas. Pembelajaran lebih berpusat pada guru, Guru Memberikan tugas yang seragam tanpa mempertimbangkan keragaman peserta didik. Kemudian Belajar lebih banyak atau bahkan selalu di kelas tanpa pernah mencari suasana yang baru misalnya belajar di lapangan, taman, perpustakaan atau ruang terbuka lainnya, Pembelajaran hanya berpatokan pada pencapaian materi yang sesuai dengan kurikulum dan terfokus pada pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang lebih banyak mengutamakan ketercapaian aspek kognitif siswa. Kemudian setelah saya mempelajari modul 1.1 ini Saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan selama ini tidak tepat murid sebagai objek pembelajaran tetapi murid harus sebagai subjek pembelajaran yang aktif belajar untuk mengembangkan setiap potensi Guru seharusnya sebagai fasilitator pembelajaran. Guru harus mempelajari karakteristik murid sesuai keunikannya masing-masing. Guru harus memberikan kesempatan pada murid untuk tumbuh sesuai dengan kodratya. Kemudian mengenai Apa yang dapat segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD yaitu Segera mengaplikasikan atau menerapkan semua pemikiran atau filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara di dalam kelas saya dengan cara Merancang pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dengan melibatkan murid sebagai subjek pembelajaran. Menerapkan pembelajaran sesuai abad 21 berpikir kritis, kreatif, kolaborasi dan komunikasi, Berpegang teguh pada prinsip memerdekakan anak. Pembelajaran tidak lagi menuntut tetapi MENUNTUN. Mengenali karakter dan latar belakang murid dengan melakukan tes diagnostic. Saya juga harus bisa menjadi guru yang mempunyai prinsip atau semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani atau Sebagai seorang pendidik, apa bila di depan saya harus bisa menjadi teladan murid-murid saya, jika di tengah saya harus menjadi pemberi dan penggugah semangat, dan apabila di belakang saya harus bisa memberikan dorongan moral dan semangat dalam belajar. Apabila semua pemikiran KHD itu saya terapkan di kelas niscaya seluruh peserta didik yang ada di kelas saya menjadi pelajar yang merdeka tetapi tetap berada dalam tuntunan kita sebagai pamong.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 03:51:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041400453</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Demontrasi Kontektual : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041410789</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan demontrasi kontektual peserta diminta untuk membuat sebuah karya yang mengimplementasikan pemikiran dafri KHD dalam modul 1.1 ini. karya tersebut berbentuk bebas akan tetapi sudah ditentukan bentuknya dalam LMS, doiharapka dengan dibuatnya sebuah karya tersebut merupakan penerapan dan pemahaman peserta CGP terhadap seluruh materi yang diberikan pada modul 1.1.</p><p>Adapun karya yang saya buat sebagai bentuk kegiatan demontrasi pada modul 1.1 ini adalah sebuiah puisi karya sendiri yang mana puisi itu berisi penjabaran dari seluruh materi yang saya fahami pada modul 1.1 ini, dari mulai pengertian dasar pendidikan menurut KHD, perbedaan pendidikan zaman kolonial dan sekarang, konsep dasar pemikiran KHD dalam pendidikan, ing ngarso sung tolodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani, penjabaran peran guru sebagai penuntun pembelajaran, teori tabula rasa, kodrat alam dan kodrat zaman seklaigus implementasi dari pendidikan KHD yang dikaitkan dengan bidaya lokal setempat, semuanya terangkum dalam sebuah karya sederhana berbentuk puisi yang sudah saya upload pada LMS.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 04:44:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041410789</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elaborasi Pemahaman : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041413485</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan elaborasi pemahaman, seluruh peserta CGP melakukan ruang kolaborasi virtual yang dihadiri oleh seluruh CGP, PP dan fasilitator. Dalam elaborasi pemahaman ini lebih cenderung kepada refleksi atau kesimpulan yang didapatkan selama pembelajaran pada modul 1.1 ini, kembali lagi ke pembelajaran mengenai konsep-konsep pemikiran KHD dalam pendidikan, pendidikan dalam hal ini guru bukan hanya sebagai pendidik dan pengajar akan tetapi lebih cenderung ke sebagai penuntun pembelajaran, teori tabula rasa yang menitik beratkan anak sebagai kertas kosong yang mana teori itu saat ini kurang begitu relevan dilaksnakan, selanjutnya mengenai teori kodfrat alam dan kodrat zaman, teori kodrat alam meyakini bahwa anak itu mempunyai kemampuan sejak lahir yang diberikan Tuhan tugas dari guru hanya menuntun dalam mengembangkan karakter yang dimiliki oleh anak tersebut. Begitupun dengan kodrat zaman, bahwa pendidikan itu harus di sesuaikan dengan perkembangan zaman.</p><p>Selain itu peran dari budaya lokal dalam pendidikan pun merupakan pemikiran KHD yang luar biasa, dimana nilai-nilai dari budaya lokal sangat erat kaitannya dengan implementasi nilai-nilai pembelajaran siswa di kelas, terkahir mengenai pemikiran KHD mengenai pendidikan yang menghamba pada murid atau dengan kata lain pendidikan yang berpihak pada murid, artinya seorang guru bukan berarti menghambakan muridnya seolah muridnya itu yang harus di agung-agungkan, tidak seperti itu maksudnya, akan tetapi guru memberikan ruang yang sebebasnya pada murid untuk mengembangkan kreasi dan karakternya dalam pembelajaran, hal ini dikenal dengan pembelajaran berdiferensiasi pada kurmer, guru tidak memaksakan kehendak untuk semua murid harus memahami materi saat itu, akan tetapi guru membimbimbing murid dengan santun dan memberikan tuntunan kepada murid untuk memahami materi yang diberikan secara perlahan dan berkesinambungan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 05:00:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041413485</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Koneksi Antar Materi : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041417548</link>
         <description><![CDATA[<p>Kegiatan koneksi antar materi merupakan kegiatan kesimpulan dan refleksi yang dapat diambil dari pemikiran KHD dalam modul 1.1 ini. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil dari pembelajaran modul 1.1 ini adalah sebagai berikut :</p><ol><li><p>Pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, karena mengajar dan mendidik itu berbeda, mengajar lebih kepada mentransfer ilmu kepada murid yang dilakuan oleh guru sedangkan mendidik lebih cenderung kepada memberikan didikan mengenai etika dan perilaku murid agar menjadi lebih baik, akan tetapi dari mengajatr dan mendidik tersebut yang paling penting pendidikan itu adalah tuntunan, tuntunan disini adalah peran guru sebagai penuntun dan pembimbing murid muridnya agar bisa mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sejak lahir.</p></li><li><p>Kemampuan yang dimiliki sejak lahir erat kaitannya dengan kodrat alam, kodrat alam ini berkaitan nantinya dengan kodrat zaman. Kodrat alam seperti yang telah di point 1 di singgung bahwa setiap murid atau manusia telah dibekali karakter yang diberikan oleh Tuhan YME sejak dilahirkan, tugas guru adalah mengembangkan kodrat alam tersebut dengan cara menuntun agar tetap sesuai dengan norma-norma yang ada. Selanjutnya kodrat zaman, kodrat zaman lebih menekankan bahwa pendidikan itu ,harus disesuaikan dengan perkembangan zaman artinya pendidikan itu harus dinamis tidak statis karena pendidikan yang dinamis akan mencerak gennerasi yang diunggulkan.</p></li><li><p>Nilai dari  budaya lokal sangat berperan dalam paradigma pendidikan sesuai dengan pemikiran KHD, bahwa nilai-nilai budaya lokal tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai pendidikan di sekolah.</p></li><li><p>Pendidikan yang berpusat pada anak, hal ini merupakan suatu konsep pemikiran dari KHD yang sangat wajib di implementasi oleh guru saat ini, pendidikan yang berpusat pada anak atau menghamba pada anak artinya murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan karakter dan kemampuannya sesuai dengan kemmapuan masing-masing murid, tugas guru hanya memberikan bimbingan dan tuntunan dalam pembelajaran, dari pemikiran saat ini lahirlah pembelajaran yang berdiferensiasi sebagai implementasi pemikiran pendidikan yang berpihak pada anak pada zaman modern saat ini.</p></li><li><p>Salam dan bahagia, itu kata kunci yang membuat peserta CGP tidak kehilangan semangat dalam menempuh pendidikan CGP yang penuh warna, perjuangan, doa dan tentunya diharapkan menjadi pemimpin pembejalaran saat ini dan dimasa yang akan datang. </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 05:23:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041417548</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kegiatan Aksi nyata : Media Agus Ridwan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041419754</link>
         <description><![CDATA[<p>Hampir mirip dengan kegiatan demontrasi kontektual, kegiatan aksi nyata ini merupakan bentuk implementasi dari pemahahaman dari modul 1.1 ini, bedanya dalam kegiatan demontrasi kontektual hanya sebuah karya yang sederhana dalam bentuk yang telah ditentukan sementara dalam kegiatan aksi nyata setiap peserta CGP diminta juga untuk membuat sebuah karya yang lebih kompleks. Dalam hal ini peserta CGP di harapkan bisa menjabarkan hasil pemahahan materi di modul 1.1 ini dalam implementasinya di kelas, apa yang akan dilakukan di kelas setelah memahami materi mengenai pemikiran-pemikiran KHD dalam modul 1.1 ini. Dalam aksi nyata ini lebih cenderung kepada pencerminan dan penerapan pemikiran KHD secara kongkret pada pelaksanaan pembelajaran di kelas dan dikaitkan juga dengan konteks lokal sosial budaya yang ada di kelas. </p><p>Bentuk karya dari aksi nyata ini bisa berbentuk video pembelajaran, artikel, dan lain-lain. Tetap semangat peserta CGP jangan lupa salam dan selalu bahagia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 05:35:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041419754</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AZI SAEPUL ANWAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041469538</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada tahap aksi nyata yaitu penerapan modul 1.1, saya di tuntut untuk mampu mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. aksinyata ini di mulai dari perencanaan,penerapan, dan refleksi. pada tahap akhir dari kegiatan aksinyata ini kemudian di tuangkan dalam jurnal refleksi diri yang berisi tentang :</p><ol><li><p>Perasaan selama melakukan perubahan di kelas</p></li><li><p>Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses perubahan</p></li><li><p>Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik&nbsp;</p></li><li><p>‘Foto bercerita’ dari seluruh rangkaian pelaksanaan (perencanaan, penerapan dan refleksi) aksi.&nbsp;</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 09:01:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041469538</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041548410</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam kegiatan ini CGP meninjau ulang keseluruhan materi, membuat kesimpulan dan refleksi.</p><p>Pendidikan dan pengajaran adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam segala aspek kehidupannya, baik fisik, mental, jasmani, maupun rohani. Pendidikan merupakan proses pembudayaan sebagai usaha dalam memberikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, sehingga mereka hidup dan tumbuh sesuai tuntunan menurut kodratnya sendiri.</p><p>Sebelum mempelajari modul 1.1 saya berpikir bahwa pendidik hanya menyampaikan materi untuk pengetahuan murid saja, menggunakan media pembelajaran seadanya, saat murid sudah mencapai KKM maka tujuan pembelajaran dianggap sudah berhasil, nilai kognitif menjadi acuan ketuntasan murid, menyampaikan semua materi pembelajaran menjadi tugas utama, ketuntasan penyampaian materi lebih utama daripada memahami karakter murid.</p><p>Setelah mempelajari modul 1.1 ternyata pendidik harus menggunakan model/metode pembelajaran yang bervariasi, mendidik menyeluruh artinya menilai aspek pembelajaran kognitif, spritual, budaya, sosial, afektif, psikomotor, pendidik memberikan hak dan kesempatan belajar sesuai keinginan dan bakat murid, mendidik keterampilan berpikir, mengembangkan kecerdasan batin, karakter budi pekerti, mampu memahami kodrat murid sebagai individu, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman.</p><p>Langkah yang dapat saya terapkan dalam pembelajaran dikelas yaitu merencanakan dan merancang pembelajaran yang berpihak pada murid, menerapkan pembelajaran yang berpikir kritis, kreatif, komunikasi, dan berkolaborasi, pembelajaran yang menuntun, memberikan teladan, dan memberikan motivasi, mengenali karakter dan latar belakang murid dengan menjalin komunikasi yang baik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 13:27:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041548410</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lusi Rahmayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041557575</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan aksi nyata CGP mampu mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. Aksi Nyata ini merupakan perwujudan dari perubahan konkret dalam proses pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD dan konteks sosial dan budaya di daerah. Aksi nyata yang saya buat berupa jurnal yang di dalamnya terdapat isi dari pertanyaan </p><ol><li><p>Perasaan selama melakukan perubahan di kelas</p></li><li><p>Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses perubahan</p></li><li><p>Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik&nbsp;</p></li><li><p>‘Foto bercerita’ dari seluruh rangkaian pelaksanaan (perencanaan, penerapan dan refleksi) aksi Anda.&nbsp;</p></li><li><p>Anda juga dapat memasukkan ‘testimoni’ dari rekan guru dan murid yang terlibat dalam proses perubahan yang Anda lakukan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-30 13:51:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041557575</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraidah Musaropah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041881928</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kegiatan aksi nyata ini sebagai CGP harus dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul 1.1. Aksi Nyata yang dimaksud sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan, di mana sebagai kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasi. Aksi Nyata merupakan perwujudan dari perubahan konkret dalam proses pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD dan konteks sosial dan budaya di daerah. Ada beberapa pertanyaan yang harus di uraikan pada kegiatan pembuatan aksi nyata yaitu:</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perasaan selama melakukan perubahan di kelas</p><p>Melalui modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara saya banyak belajar untuk memperbaiki pembelajaran yang telah saya lakukan selama ini. Filosofi pemikiran KHD ini menyadarkan saya untuk pentingnya pendidikan yang bersifat menuntun segala kekuatan kodrat anak dan guru tidak hanya sekedar mengajar saja menuntaskan materi tetapi juga penanaman karakter dan budi pekerti serta memberikan contoh teladan bagi peserta didik. Saya merasa senang karena pembelajaran saya bisa berubah kea rah yang lebih baik serta terjadinya perubahan juga pada peserta didik yang lebih aktif belajar dan lebih menyenangkan tercipta suasana belajar yang atraktif di kelas.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses perubahan</p><p>Saya mengubah metode dan media pembelajaran yang pada awalnya teacher center menjadi student center dengan mengintegrasikan penggunaan teknologi dalam pembelajaran serta mengedepankan nilai-nilai karakter peserta didik religius, gotong royong, kolaborasi, mandiri, dan bernalar kritis yang terwujud dalam pembelajaran yang saya lakukan yaitu di kelas 5 sekolah dasar pada materi perubahan wujud benda mencair, membeku dan menguap. Saya upayakan sebagai fasilitator pembelajaran yang sifatnya menuntun bagaimana peserta didik agar terjadinya kolaborasi dan interaksi dalam proses pembelajaran.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik&nbsp;</p><p>Pembelajaran yang saya laksanakan yaitu di kelas 5 SD pada mata pelajaran IPA Materi Perubahan Wujud Benda mencair, membeku dan menguap. Pembelajaran yang saya lakukan Sebagian besar sudah dapat mengaktifkan peserta didik dengan penggunaan teknologi yang dapat menarik minat siswa dan mereka asyik juga untuk berdiskusi dan berkolaborasi melalui kegiatan eksperimen perubahan wujud benda, tetapi masih ada beberapa kekurangan yang saya lihat yaitu ketika kegiatan siswa berkelompok masih ada siswa yang kurang bekerjasama melakukan kegiatan percobaan dan hanya mengandalkan salah satu temannya kemudian juga Pada saat kegiatan presentasi msih ada siswa yang kurang berani untuk tampil di depan kelas.</p><p>Berdasarkan permasalahan tersebut untuk Solusinya saya memberikan bimbingan dan pengarahan agar setiap anggota kelompok membagi tugas dan peran sehingga setiap anggota harus terlibat aktif bekerjasama dalam kelompoknya. Kemudian Membiasakan kegiatan presentasi untuk melatih peserta didik agar lebih berani tampil di depan kelas. Saya melakukan praktik perubahan-perubahan di kelas sesuai dengan filosofi pendidikan KHD yaitu menuntun kekuatan kodrat anak baik alam maupun zaman dengan metode dan pengggunaan teknologi dalam pembelajaran, dimana kegiatan yang bersifat menuntun tidak hanya penanaman pengetahuan tetapi karakter b religius, gotogng royong, kolaborasi, mandiri dan bernalar krirtis itu muncul pada diri peserta didik</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ‘Foto bercerita’ dari seluruh rangkaian pelaksanaan (perencanaan, penerapan dan refleksi) aksi.</p><p>Saya menguraikan foto-foto kegiatan dan rincian tahapan mula dari perencanaan pembuatan RPP yaitu saya berkolaborasi dengan rekan-rekan sejawat lainnya dan meminta masukan dari mereka, kemudian saya melaksanakan kegiatan pembelajaran dan melakukan refleksi terhadap beberapa permasalahan dan kekurangan-kekuranga terhadap pembelajaran yang saya lakukan di kelas serta tindak lanjut untuk perbaikan selanjutnya.  </p><p>&nbsp;5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Anda juga dapat memasukkan ‘testimoni’ dari rekan guru dan murid yang terlibat dalam proses perubahan yang Anda lakukan.</p><p>Testimoni yaitu dari rekan sejawat Bu Ati Haryati, S.Pd.I yang telah mengamati pembelajaran yang saya lakukan beliau mengatakan pembelajaran yang saya lakukan sudah baik sudah menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan filosofi pemikiran KHD dan mengedepankan nilai-nilai luhur karakter peserta didik religius, gotong royong, kolaborasi, mandiri, dan bernalar kritis yang disesuaikan dengan kodrat peserta didik.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-01 02:39:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3041881928</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SELVIA DWI ANGGRAENI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3042955532</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam kegiatan aksi nyata ini, Saya banyak belajar tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan, sehingga saya dapat memperbaiki pembelajaran yang telah saya lakukan. Saya juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan sehingga bisa memahami dan menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara secara nyata, dan saya bisa menjadi agen perubahan merdeka belajar, serta dapat berkolaborasi dengan guru hebat lainnya sehingga memberikan pengalaman yang bermakna dalam proses pendidikan ke arah yang lebih baik lagi.</p><p>Ada pula ide dan gagasan yang timbul selama proses aksi nyata yaitu Mengubah Metode Pembelajaran yang Awalnya Teacher Center menjadi Student Center dengan Menerapkan Nilai-Nilai Kolaboratif, Aktif, Mandiri dan Berani.</p><p>Praktik baik aksi nyata yang saya lakukan pada tahap Perencanaan yaitu Diskusi dengan teman sejawat dan membuat perangkat pembelajaran, &nbsp;sedangkan pada tahap pelaksanaan yaitu berdoa sebelum memulai pembelajaran, membacakan pencapaian tujuan pembelajaran dan penjelasan cara kerja saat praktikum, kemudian Siswa melaksanakan praktikum secara berkelompok dan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Kemudian dilanjut dengan sesi tanyajawab dan pemberian penguatan terhadap materi yang siswa pelajari, setelah selesai pembelajaran dilanjutkan dengan berdoa dan bersalaman.</p><p>Refleksi dari aksi nyata yang saya lakukan yaitu Ada beberapa siswa yang tidak mau bekerja sama dengan temannya. Hanya diam saja / mengandalkan temannya. Selain itu masih ada beberapa siswa yang malu untuk presentasi di depan. Dan Solusinya yaitu melakukan bimbingan secara personal dan melatih mereka untuk berani berbicara didepan</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-02 04:08:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/thian7/ep79535rn4q2m1kq/wish/3042955532</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
