<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>[MERAKI] Collab Event! by syaa</title>
      <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-07-25 01:46:27 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-08-08 03:40:12 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Haunted Road</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253079529</link>
         <description><![CDATA[<div>Rabu Sore, 17.30.<br>SMA Bagaskara.<br><br>Nampak sekelompok siswa tengah berkumpul di salah satu kelas membicarakan sesuatu dengan serius. <br><br>"Alright, UKK ama classmeeting udah selese. Liburan kuy?" tanya seorang gadis berambut putih keperakan, Alleine. <br><br>Gadis lain yang santai menyesap rokoknya -Yuri- melirik. "Silahkan. Kemana saja boleh." <br><br>"Bagaimana kalau camping? Gue tau perkemahan yang menyediakan fasilitas bagus." celetuk Kai sambil menjentikkan jarinya. <br><br>Allan, Altair dan Yuri mengangguk setuju. Sekali sekali tidur barengan di dalam tenda di dekat hutan. Sekali sekali pula mandi pake air dari sumber langsung yang dinginnya warbyasah. <br><br>"Aku setuju saja. Pertanyaanya, kita kesana naik apa?" tanya Alleine<br><br>"Mobil aja, biar muat banyak. Gue bisa pinjam punya kakak." celetuk Yuri lalu menjatuhkan puntung rokok yang sudah habis dan menginjaknya. <br><br>Kai yang melihat itu menggeleng pelan. Ia merogoh tas miliknya, menarik sebuah parfum gas spray merk Ax*e dan melemparnya ke arah Yuri. Dengan refleks yang bagus, Yuri menangkapnya. <br><br>"Semprot ke badan lo. Gak lucu kalau ketahuan guru BK." lanjutnya. <br><br>Yuri tersenyum miring, lalu menyemprotkan parfum tersebut ke seragamnya. "Santai, orang gue langganan BK. Dikit lagi udah 70 poin."<br><br>"Dih, bangga bener anda." Celetuk Alleine heran. <br><br>"Begitulah~" Ia menutup parfum dan mengembalikannya kepada Kai. "Besok Kamis, kalian kumpul di rumah gue habis magrib. Bawa keperluan buat camping, jangan ada yang ketinggalan. Klo udah kita berangkat pakai mobil."<br><br>"Jadi di sana 3 hari 3 malem?" tanya Alleine memperjelas, dan dibalas anggukan oleh Yuri. <br><br>"Oke dah, sabi."<br><br>Diskusi singkat itupun selesai, dan mereka kembali ke rumah masing masing untuk menyiapkan segala keperluan camping nantinya. <br><br>~~~<br><br>Kompleks perumahan Ken Dedes, <br>18.15, Rumah Yuri. <br><br>Sang pemilik rumah tengah santai duduk di sofa sembari menonton film. Di bawah sofa, tepat di dekat kakinya, terdapat sebuah ransel merah besar yang terisi penuh oleh keperluannya selama camping nanti. Sekeripik camilan tergenggam di tangan kirinya, sebagai teman nonton film. <br><br>Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu. <br><br>Yuri segera mematikan televisi, mengambil tas dan juga kunci mobil sang kakak. "Bang! Gue berangkat! Jaga rumah ye!" <br><br>"IYE!" Balasan singkat itu membuat Yuri percaya dan meninggalkan rumah tersebut. <br><br>Setelah keluar rumah, dia membuka bagasi mobil dan memasukkan semua barang nya juga teman temannya. <br><br>"Karena tempat camp nya jauh, gimana klo nanti gantian nyetir nya?" tawar Allan kepada Yuri. <br><br>"Silahkan. Berarti lo duduk di depan." Yuri membuka pintu bagian supir lalu masuk, diikuti empat orang lainnya. <br><br>Beruntung mereka memakai mobil tipe jeep, jadi bisa muat banyak barang juga cocok sekiranya untuk naik track ke area camp di pegunungan. Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju perkemahan. <br><br>Selama perjalanan, mereka berceloteh satu sama lain untuk menghilangkan rasa ngantuk. Namun pada akhirnya, mereka mulai tidur satu persatu kecuali Allan dan Yuri tentuya. Kedua orang itu sama sama terjaga untuk melanjutkan perjalananya nanti. <br><br>Secara, mereka mengejar sunrise. <br><br>"Belum ngantuk?" tanya Allan kepada Yuri yang nampak segar bugar. <br><br>"Nggak. Kayaknya ga perlu shift gantian nyetir." Yuri berkata sembari terus fokus ke jalanan. "Gue lupa udah minum obat anti tidur." lanjutnya<br><br>"Kurangin." <br><br>Yuri refleks menoleh sembari menurunkan kecepatan mobil. "Lo kecanduan obat anti tidur kan?" <br><br>"Soal ginian aja peka lo."<br><br>"Kita kan udah temenan dari kecil."<br><br>"Unch, perhatian sekali mas nya."<br><br>"Dih, ga usah pede gila lo."<br><br>Tapi ditengah tengah obrolan, mobil berhenti di area yang sangat sangat sepi. Yuri tentu heran, karena dia mengisi bensin full sebelum berangkat. Ia melirik ke jarum penunjuk folume tangki, dan terlihat masih penuh. <br><br>"Ck, bisa bisanya mesin mati di daerah beginian. Ayo turun bentar, gue cek akinya."<br><br>Allan mengambil ponsel lalu keluar bersamaan dengan Yuri. Keduanya pergi ke bagian depan mobil, membuka kap depan dan melihat akinya. Butuh 2 menit untuk kedua orang itu menyadari kalau aki mobilnya mati. <br><br>Yuri refleks tepok jidat. Sudah dia tidak bawa charger aki, disini gak ada bengkel, terlebih, ini zona paling sepi di kota. <br><br>"Oalah, bangsat!" umpat Yuri lalu menutup kap dengan setengah membanting. Alhasil, dentuman keras terdengar dan membangunkan 3 orang yang ada di dalam mobil. <br><br>"Kenapa?" Alleine yang keluar pertama dengan wajah setengah mengatuk. <br><br>"Aki-nya mati, dan Yuri ga bawa charger aki." jelas Allan singkat. <br><br>"JADI KITA TERDAMPAR DISINI?!" tanya Alleine ngegas setelah nyawanya terkumpul. Pertanyaan itu dibalas anggukan oleh dua orang di hadapannya. <br><br>Iris merah Allan bergerak ke arah sebuah minimarket yang ada di sebelah kiri mereka. Minimarket itu nampak sepi, mungkin karena sudah malam. Nampak. di bagian gagang pintu, terdapat rantai yang dikunci oleh gembok. <br><br>"Ada baiknya kita nyari charger aki di sana. Siapa tau ada, kan?" <br><br>Mereka menoleh ke arah yang sama dengan Allan lalu mengangguk setuju. <br><br>Mereka memindahkan barang dari mobil ke minimarket, sementara Altair sibuk berkutat dengan gembok yang mengunci belitan rantai. <br><br>Hanya bermodalkan jepit rambut hitam, dia berhasil membuka gembok besar itu. Perlahan, ia melepaskan belitan rantai ke pegangan pintu kaca minimarket.<br><br>"Anjegile, belajar dari mana tuh tekhnik?" tanya Kai sambil menatap gembok yang dibiarkwn tergeletak oleh Altair. <br><br>"Diajarin youtube." jawabnya singkat. <br><br>Mereka mengumpulkan tas di meja kasir laku berkeling mencari makanan untuk mengganjal perut sesaat sebelum mencari charge aki.<br><br>"Lo kenapa ga siap sedia charge aki sih?" Tanya Allan kesal kepada Yuri. <br><br>"Emang lo pernah mikir aki yang barusan diganti 4 hari lalu habis secepet ini?" tanya Yuri balik, berusaha membela diri. Tapi kenyataanya, aki mobil itu memang barusan diganti kakaknya. <br><br>"Dih, alasan lo ga asik. Pertanyaan lainnya... KENAPA AKINYA MATI DISINI?! GA ENAK BANGET TAU AURANYA!" protes Allan lagi. <br><br>Entah kenapa, sejak Altair membuka pintu minimarket, rasanya ada aura aneh yang ikutan menguar dari dalam. Berat, sesak, dingin dan mencekam. Terlebih, suasana sepi di sekitar minimarket membuat aura aneh itu semakin terasa. <br><br>Tapi teman temannya nampak baik baik saja. Tidak merasa terancam, ketakutan atau was was. Melihat Kai dan Altair yang biasa saja, itu terasa aneh. Biasanya, dua orang itu paling peka soal suasana yang tidak nyaman. <br><br>Allan jadi merinding, kenapa dia aja yang sadar soal aura aneh ini? <br><br>"Hm, gue nemu kunci sama denah." Celetuk Kai setelah mengacak acak loker kasir dan beberapa loker di sekitar meja tersebut. <br><br>Ia melebarkan lipatan denah itu dan ternyata itu benar denag minimarket. Sepertinya ini bangunan baru, karena denah yang tersimpan pun kelihatan bersih dan tidak terlalu kusut oleh lipatan. Selain itu, ternyata ada tumpukan semen di bagian pojok belakang. <br><br>"Oh, gudang deket banget." Alleine menunjuk ruangan yang bertuliskan 'Gudang'. <br><br>Terdapat sebuah pintu di dekat tumpukan semen. Pintu itu mengarah ke lorong dengan 4 pintu. Pintu pertama ke ruang istirahat pegawai, pintu kedua adalah kamar mandi, pintu ketiga gudang, dan pintu terakhir menuju basement. <br><br>"Gue, Alleine sama Yuri bakal nyari di gudang karena gede. Allan ama Altair ke ruang pegawai. Deal?" tanya Kai setelah membagi tugas. <br><br>Keempat orang lainnya mengangguk, dan mereka mulai mencari. Alleine yang membawa ponsel menghidupkan senter karena lorong yang agak gelap. Kai membuka pintu gudang lalu membiarksn dua gadis itu masuk dulu. <br><br>"Sial, luas banget. Lebih gede dari denahnya." celetuk Yuri kaget melihat ruangan yang ternyata sangat luas.<br><br>Kai berusaha menghidupkan penerangan, namun tak kunjung mendapatkan hasil. Ia simpulkan, kalau lampunya rusak. "Nih, hp gue. Biar lebih terang."<br><br>Sekarang, Alleine memegang dua ponsel sebagai penerangan sementara mereka yang lain mencari charge aki. <br><br>8 menit berlalu, namun mereka tak ku jung menemukan charge aki. Akhirnya mereka menyerah dan kembali. <br><br>"Ayo ba--EH! Alleine? kenapa?" tanya Yuri kaget ketika Alleine tiba tiba memeluknya dengan erat. <br><br>"Alle?" tanya Kai. <br><br>Senter yang dipegang Alleine tak sengaja menyinari bagian kakinya. Noda merah berbau amis yang ada di ujung celana jeans Alleine membuat Kai dan Yuri ikut kaget.<br><br>"... Okay... Calm down... Keep breathing."<br><br>meanwhile... <br><br>"SI ANJIR! GA USAH DORONG GUE!" teriak Allan nyolot ketika Altair mendorong dirinya masuk ke ruangan sampai terjungkal. <br><br>"Lo sih, kelamaan. Ditinggal mereka, mampus lo." balas Altair santai. <br><br>Allan mendengkus lalu hendak berdiri. Namun ketika melihat diantara kedua kakinya, ia melihat sepasang kaki lain. Kaki yang sangat pucat, melayang diatas lantai. <br><br>Keringat dingin membanjiri tubuhnya dengan gila gilaan. Allan perlahan berdiri, menatap Altair melalui pantulan kaca kabinet. Nampak wajah pemuda itu yang juga menegang. <br><br>Tamu tak diundang tersebut terpantul di kaca kabinet. Sialnya, makhluk tersebut tak berkepala. Bulu kuduk Altair dan Allam otomatis meremang. <br><br>Apalagi, makhluk itu berada di belakang Altair. <br><br>"... What should we do?" tanya Allan tanpa suara. <br><br>"... Close your eye..." <br><br>Mereka menutup kedua mata mereka bersama sama. <br><br>"RUN!!" Altair menarik tangan Allan keluar ruangan. Ia tak menabrak apapun, yang artinya makhul tadi benar benar hantu. <br><br>~~~<br><br>Kelima remaja yang ada di luar minimarket itu kini berusaha bernafas setelah insiden luar biasa gila barusan. <br><br>"Tolong... gue mau pergi dari sini..." ucap Alleine pelan, menahan tangis. <br><br>"Sial! Ga ada sinyal!" Umpat Altair ketika tak ada sinyal sama sekali yang ditangkap ponselnya. <br><br>"Area ini area kota paling pinggir. Butuh 2 jam buat sampai disini." ucap Yuri sembari menatap jam tangannya. <br><br>"Survive di area aneh. Keren. Gue jadi curiga disini itu area kekuasan psikopat." celetuk Allan, yang membuat Alleine semakin ketakutan. <br><br>Tubuh munginya bergetar hebat di dalam pelukan Yuri. Sementara snag empu melempar tatapan kesal kepada Allan. Bukannya membantu menenangkan, dia malah membuat Alleine ketakutan. <br><br>"Bismillah, GOBLOK! Astaghfirullah..." umpat Yuri lalu istighfar. <br><br>"Lo atheis bego."<br><br>"Oh iya." Yuri senyum pepsodent<br><br><em>Klang...<br>Klang...<br>Klang...</em><br><br>Kelima bersahabat itu segera menoleh ke arah lorong panjang dari arah mereka datang. Meski samar, mereka mendengar suara besi saking berbenturan juga terseret si aspal. <br><br>Altair, Kai dan Yuri sigap mengeluarkan pisau lipat multifungsi milik mereka yang sudah dikeluarkan untuk berjaga jaga. Sementara Allan megambil palang besi yang entah sejak kapan ada di mobil. <br><br>"Kakak, jangan nangis sekarang, oke?" tanya Altair sambil membelai surai kakaknya yang ketakutan. <br><br>"Iya..."<br><br>"Sial... dia bawa kapak..." umpat Kai ketika melihat tamu lain dari arah lorong itu membawa sebuah kapak penebang pohon dan rantai entah untuk apa. <br><br>"Allan, buruan ambil kapak sama golok di laci penumpang." <br><br>Allan segera mengambil senjatayang dimaksud, dan memberikannya kepada Yuri dan Kai. <br><br>Alleine yang semulanya tenang semakin ketakutan ketika melihat noda darah yang ada disekujur sosok tamu tak diundang yang kini memakai topeng. <br><br>"... Lari ke hutan, SEKARANG!" Alleine lari terlebih dahulu bersama Allan dan Altair. <br><br>Yuri dan Kai berlari kecil dibelakang mereka sembari menunggu respon dari si tamu tak diundang. Ketika dia mulai berlari, Yuri dan Kai menaikkan kecepatan untuk menyusul. <br><br>"Bangsat, kendalanya gini amat sih buat camping." umpat Yuri jengkel. <br><br>"Namanya cobaan tuhan. Kayaknya yang ini <strong>WAJIB</strong> lolos."<br><br>"Kalau enggak?" tanya Yuri tak paham.&nbsp;<br><br>"Welcome To Isekai~"<br><br>"FUCK! FUCK YOU!" Yuri mengumpat sembari mengacungkan jari tengahnya ke si psikopat meski sangat jauh dibelakangnya.&nbsp;<br><br>"AND FUCK THIS FOREST!!"&nbsp;<br><br>Setelah berteriak, Yuri dan Kai jatuh bersama ke lereng yang cukup curam bersama.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 00:43:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253079529</guid>
      </item>
      <item>
         <title>After Pain</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253081739</link>
         <description><![CDATA[<div>Tubuhnya bergetar hebat, seluruh kuduknya berdiri sementara irisnya was-was dengan sekitarnya. <br><br>Ia menajamkan pendengarannya, fokus mendengar setiap gerak-gerik yang ada di sekelilingnya. <br><br>Kedua netranya tak ia biarkan memicing, terbuka lebar seolah akan keluar. Sakit, tapi ia tidak peduli. <br><br>Saat ini sakit bukanlah apa-apa ketimbang melarikan diri dari tempat gila ini. Bagaimana bisa... bagaimana bisa sedari awal ia terjebak disini? <br><br>Langkah kaki yang samar terdengar, membuatnya kembali siaga. Tangannya dengan erat menggenggam gunting yang sedari tadi ia sembunyikan. <br><br>“Nee-san~” suara yang manis, lembut dan penuh kasih sayang seperti itu hanya membuat ia semakin waspada. <br><br>Detak jantungnya berpacu cepat, seolah ingin kabur. Yah, ia juga menginginkan itu. Ia ingin kabur dari sini. <br><br>Ia menegak ludahnya, bahkan ikut menahan nafas ketika langkah itu semakin dekat. <br><br>'<em>Jangan. Jangan. Jangan.'</em> rapalnya beruntun. <br><br>“Hehe~” <br><br>Suara berasal tepat dari atasnya, membuat ia menoleh ke atas. Gadis dengan surai merah muda itu tersenyum manis kepadanya. <br><br>“Kanami-neesan disini, ya~” tuturnya masih tersenyum sementara, tangan kanannya sudah menggenggam sebuah pisau. <br><br>Dengan cekatan, Kanami melompat dari balkoni tempat ia bersembunyi. Tak melihat ke belakang, sementara gadis itu menyusulnya sambil bersenandung senang. <br><br>'SIAPAPUN, AKU TAK PEDULI, TOLONG AKU! JAUHKAN SI GILA INI!' teriakan batinnya yang semakin kencang seraya kecepatan larinya meningkat. <br><br>Yang tak mereka sadari, ialah kehadiran orang ketiga di sana. Ketika pintu ruangan terbuka, Kanami menangis lega— <br><br>Pundaknya sudah dipegang erat oleh gadis itu, tersenyum kepadanya, pisau sudah diacungkan ke leher Kanami. <br><br>Kanami menatap putus asa, beginikah hidupnya akan berakhir? Ia menutup matanya, berharap setidaknya logam tajam di lehernya itu tak begitu sakit. <br><br>“Hehe! Nee-san menyerah begitu saja?” pupil hati merah muda gadis itu berseri, begitu bahagia. <br><br>Seperti mendapat mainan baru, Kanami merutuk dirinya sendiri. Apa yang ia perbuat sampai diperlakukan seperti ini? <br><br>Begitu pisau itu mulai menyayat, yang Kanami herankan. Ialah, ia mendengar suara sayatan dan bahkan merasakan cairan lengket di pakaiannya. Tapi, ia tak merasakan sakit sedikit pun. <br><br>“Izuya...” suara yang familiar bagi Kanami terdengar, ia memberanikan diri membuka mata. <br><br>'Izuya' terlihat kaget, sementara orang di depannya jelas kecewa. Ternyata, yang cairan yang ia rasakan tadi... adalah tangan pemuda itu. <br><br>Tangannya berdarah, tapi netra merah mudanya terlihat lebih khawatir pada Kanami. <br><br>“Izuyu nii-chan...”&nbsp; balas Izuya, masih shock. <br><br>Bagaimana Izuyu bisa menemukan mereka? Ia sudah memastikan, membereskan semua jejak. <br><br>Kanami merasakan seluruh tubuhnya lemas, ia bahkan tak peduli jika ia terjatuh di lantai semen yang keras ini. <br><br>Dia bahkan tak tahu, siapa yang mendekap tubuhnya. Pandangannya keburu gelap. <br><br>Izuyu menatap dingin Izuya, meminta penjelasan. Izuya membalas tatapan itu dengan tenang. <br><br>“Kenapa?” tanya Izuyu. <br><br>Oh, ia tak pernah mengerti kenapa adiknya melakukan hal-hal seperti ini. <br><br>Tersenyum manis seperti adiknya yang ia kenal, “Dia menganggu nii-chan. Jadi ku bereskan saja.” <br><br>“Jangan mengatakan itu seolah dia benda yang bisa kamu bereskan begitu saja.” balasnya, mengangkat Kanami. <br><br>“Nii-chan! Jangan dibawa!” <br><br>“Aku benar-benar menyesal, lagi-lagi aku hampir kehilangan Kanami. Semua ini salahku.” tuturnya sebelum tangan satunya menyalakan teaser yang ia bawa. <br><br>Menyentrum tubuh Izuya hingga gadis itu pingsan—yang untungnya ditangkap seorang pemuda bersurai pirang yang datang entah darimana. <br><br>“Wah, tak pernah ku lihat kau begini dengan Izuya. Maksudku, bukankah kau sangat menyayanginya?” <br><br>“Meskipun sayang, kalau perlakuannya seperti ini... itu sudah kelewatan, Elenio.” balas Izuyu. <br><br>Heterokomia Elenio menatap Izuya, “Lalu, apa yang harus kita lakukan?” <br><br>“Saat ini? Membawa Kanami pergi dari tempat buruk ini dan menyerahkan Izuya ke kepolisian.” <br><br>“Woah! Kau akan menyerahkan adik satu-satumu?” <br><br>Netra merah muda Izuyu memantulkan keseriusan, Elenio tak berkata banyak dan mengangkat gadis itu. <br><br>Memasuki mobil pribadi Izuyu, mereka disambut oleh sopir pribadi yang tampak kaget. <br><br>“Nona muda?” <br><br>“Tolong bawa kami ke rumah sakit terdekat, segera.” titahnya, sopir mengangguk dan menyalakan setir. <br><br>Untuk penjagaan ketat, Izuya diikat dan dipantau ketat oleh Elenio. Sementara Izuyu berusaha menenangkan ketakutannya. <br><br>Ia telah gagal dan itu membuatnya malu dan takut. Tak hanya gagal menghentikan perbuatan terkutuk adiknya—sebuah tabiat buruk bawaan Sang Ayah ia bahkan gagal melindungi Kanami. <br><br>Satu-satunya wanita selain mendiang Ibu dan adiknya itu yang ia sayangi. Tidak, ia cintai. <br><br>Lecet, gores, luka dan bahkan banyak noda hitam. Belum lagi keringat dan berbagai hal yang tak seharusnya ada di tubuh gadis itu, kini membalur. <br><br>Meskipun menemukan gadis itu tanpa luka luar yang serius berkat Elenio yang tak sengaja melihat Izuya terlihat mencurigakan tetap tak membuat Izuyu tenang. <br><br>Selama diperjalanan yang ia pikirkan hanyalah Kanami. Meski sesekali ikut menimbrung percakapan antara Sang Sopir dan Elenio. <br><br>°°° <br><br>“Permisi, mau lewat!” beberapa perawat dengan sigap dan cepat telah membawa Kanami ke UGD. <br><br>Dokter meminta mereka berdua untuk menunggu, Izuyu meminta Elenio untuk menyerahkan adiknya ke salah satu kenalannya. <br><br>“Seorang polisi? Kau benar-benar akan menyerahkan Izuya?” <br><br>Mengangguk penuh tekad, “Bisa jadi kasus perempuan-perempuan hilang beberapa bulan ini berhubungan dengan dia.” <br><br>“Izuya itu saudari kandung, lho?” <br><br>Heterokomia Elenio tertuju pada netra Izuyu, benar. Mereka saudara sedarah, kandung, atau apapun itu. <br><br>“Saudara atau bukan, jika sudah berbuat hal tidak manusiawi seperti ini. Harus ditindak sesuai hukum... lagi pula, tak peduli seberapa kali pun ia dimaafkan dan dihentikan, aku sudah lelah. Sudah terlalu banyak orang yang terluka, Elenio!” <br><br>Kembali ingatannya bergelung disaat ketika ia begitu terlambat. Begitu banyak korban tak bernyawa berjatuhan, tapi karena disaat itu, Izuya masih berumur 10 tahun, gadis itu hanya dimasukkan ke salah setu rumah sakit jiwa. <br><br>Ia pikir, Izuya berubah. Karena, beberapa tahun setelah keluar, Izuya terlihat menyesal. Berkali-kali menangis di depannya atas tindakan yang pernah ia lakukan... <br><br>Siapa yang mengira... tidak, mungkin saja ia pernah kembali curiga, tapi, rasa sayangnya kepada Izuya membuatnya buta. <br><br>Elenio tak berkata, hanya menepuk pundak Izuyu selagi air mata mulai membanjiri pipinya. <br><br>“Bagaimana jika kau mengurus luka itu dulu?” tawar Elenio, Izuyu menatap telapak tangannya yang masih merah, darah masih mengucur. <br><br>Ah, dia bahkan tak merasakan sakit ini. Izuyu mengangguk, daripada infeksi, lebih baik ia mengurus ini. <br><br>“Dinginkan kepalamu.” <br><br>Izuyu mengangguk, Elenio tersenyum dan beranjak pergi. Saatnya ia bertindak. <br><br>°°° <br><br>Ketika dokter memanggil Izuyu, pemuda itu gesit. Beberapa perawat saling berbisik, sementara dokter berbincang dengannya. <br><br>“Nona Kanami sebelumnya sempat disiksa dan berhasil kabur. Untuk lukanya, sepertinya ia benar-benar harus berada di kursi roda untuk beberapa bulan ini.” <br><br>Mendengar hal itu Izuyu hanya diam, seksama menyimak. Salah seorang perawat mempersilakannya masuk ke ruangan tempat Kanami berada. <br><br>“Ia tak boleh banyak bicara.” perintah perawat itu. <br><br>“Ha-halo.” <br><br>Izuyu memeluk Kanami dengan lembut dan hati-hati, Kanami merasakan pundaknya basah. <br><br>Ia terkekeh, “Sejak kapan Izuyu-kun jadi secengeng ini?” <br><br>“Maa—” <br><br>Kanami mengusap punggungnya, menyuruhnya diam. <br><br>“Jika kau ingin minta maaf atas perbuatan Izuya, maka tidak akan ku maafkan.” <br><br>“...” <br><br>Netra legam Kanami menatap netra merah muda itu, terlihat lebih indah dan hidup ketimbang memandang netra Izuya. <br><br>“Itu kan perbuatan Izuya, bukan perbuatanmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri.” <br><br>“Kanami...” <br><br>Senyum yang terlihat terpaksa itu, membuat Izuyu merasa sakit. Meskipun begitu, ia ikut tersenyum. <br><br>“Ini... perawat memintaku menyerahkan ini.” Izuyu memberikan Kanami benda yang ditangannya. <br><br>Seketika raut Kanami berubah, ia mendengus. Sebuah papan tulis yang sebelumnya ia tolak kini kembali lagi. <br><br>“Padahal tenggorokanku baik-baik saja.” <br><br>Izuyu terdiam, sepertinya Kanami tak diberitahu tentang 'itu'. <br><br>“Kanami... ku rasa, lebih baik kamu mengikuti saran dokter.” <br><br>“Mereka membuatku seperti orang bisu.” <br><br>“Demi kesehatanmu.” <br><br>“Sekarang kau berpihak ke mereka.” <br><br>“Karena tindakan tak pantas dari adikku, kamu menderita. Izuya benar-benar gila.” <br><br>“Kau mengakui adikmu gila? Tak biasanya.” <br><br>“Yah, begitu juga kata orang-orang di sekitarku ketika aku mengatakan ini.” <br><br>Kanami tertawa melihat wajah serius Izuyu, tapi, tawanya terhenti ketika ia mulai terbatuk. <br><br>Izuyu sudah siap dengan segelas air dan memberikannya ke Kanami. Gadis itu meminumnya perlahan. <br><br>°°° <br><br>Bagaimana dengan Izuya? Sebuah pertanyaan yang ingin Kanami tanyakan belakangan ini ketika mereka menghabiskan waktu bersama. <br><br>Tapi, bibirnya berat sekali untuk mengungkapkan itu. Karena, selain ia sebenarnya masih trauma, ia tak ingin melihat Izuyu bersedih. <br><br>Namun, mengingat Izuya... kenangan di ruangan gelap dengan tumpukan jasad kembali menghantuinya. <br><br>Suara-suara teriakan minta tolong, tangisan memohon untuk dilepaskan. Serta wajah bersimbah darah dan tubuh penuh luka dari orang-orang yang saat itu bersamanya— <br><br>“Kanami? Apa ada masalah?” suara menenangkan Izuyu membuat Kanami kembali tersadar. <br><br>Kanami menggeleng, tapi, wajahnya yang penuh keringat dan netra yang memancarkan ketakutan, jelas membuat Izuyu khawatir. <br><br>Beberapa bulan belakangan ini, ia dengan sengaja tak membahas Izuya. Agar Kanami bisa fokus memulihkan diri dan mentalnya. <br><br>Tapi, sepertinya trauma memang benar-benar perlu waktu lama untuk dilupakan. Ia jadi kembali menyesal akan hal itu. <br><br>Tangannya mengelus kepala Kanami, memegangi pipi gadis itu, “Saat ini, lebih baik bersenang-senang.” ucapnya. <br><br>°°° <br><br>Izuya menatap tak percaya, bagaimana bisa satu-satunya keluarga yang begitu menyayanginya. Kini, mencampakkannya begitu saja? <br><br>Ini pasti kebohongan, Izuyu itu sangat mencintainya! Apa semua ini karena Kanami? <br><br>“Izuya, hentikan itu.” ujar tegas dari seseorang yang belakangan sering kali mengunjungi penjaranya. <br><br>“Kau lagi.” <br><br>“Kecewa?” <br><br>Ia tak menjawab, netra merah muda itu masih dengan liar menginterogasi ruangan yang ia tempati. Mencari setidaknya celah kecil. <br><br>“Lupakanlah, kalau kau mau kabur. Itu tak mungkin. Ini penjara khusus yang kami sediakan untukmu.” <br><br>“Mana nii-chanku?” <br><br>“Izuyu-san bilang ia akan datang ketika Kanami-san sembuh.” <br><br>Izuya memukul jeruji besi di depannya, “Bohong kan? Kau bohong kan?” <br><br>Pemuda itu hanya memainkan surai merah muda gadis itu, “Apakah aku terlihat seperti pembohong?” <br><br>°°° <br><br>Izuyu mengangkat Kanami sebelum menurunkan gadis itu ke yacht miliknya. Mereka akan berlibur untuk beberapa minggu ini. Sebuah hadiah yang ia janjikan karena belakangan ini Kanami terlihat bosan berada di rumah sakit. <br><br>Dia sudah berdiskusi dan dokter memberikan izin. Asalkan Kanami tidak makan sesuatu yang berat dan memaksakan diri. <br><br>Tak masalah, tujuannya mengajak Kanami berlibur selain menghilangkan jenuh adalah memanjakannya. <br><br>“Izuyu! Wah! Ternyata langit di lautan ketika sore indah juga!” serunya, berseri. <br><br>Izuyu terkekeh lembut, mengecup kening gadis itu, “Bukankah Kanami yang lebih indah?” <br><br>Gadis itu merona merah, memegang keningnya. Senyuman mematikan dari Izuyu memberikannya damage bertubi-tubi. <br><br>'<em>PA-pacar siapa sih?!</em>'&nbsp;<br><br>Oh ya, ia lupa. Izuyu adalah tunangannya. Dengan malu-malu, gadis itu bersandar di dada bidang Izuyu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 00:46:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253081739</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LUKA</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253082565</link>
         <description><![CDATA[<div>"Kau tau aku bisa menyembuhkanmu 'kan?" Noah bertanya, nada bicaranya terdengar kesal sekali.&nbsp;<br><br>"Haha. Iya Noah, aku tau." Roland tertawa geli.&nbsp;<br><br>"Lalu kenapa kau memilih berobat di klinik ini?" Noah bertanya lagi, kali ini lebih kesal, memperhatikan sekelilingnya. Dinding klinik yang sedang dia bicarakan ini agak… normal? Di mata orang biasa sih begitu, tapi bagi dokter berpengalaman sepertinya, ada firasat tidak enak dengan klinik ini.&nbsp;<br><br>"Aku cuma penasaran, rasanya berobat di pengobatan modern."&nbsp;<br><br>Noah ingin protes, tapi malas sekali rasanya. Dadanya sudah sesak dengan perasaan was-was.&nbsp;<br><br>Roland membuka pintu ruangan dengan santainya. Ruangan praktek dokter.<br><br>"Permisi…"<br><br>"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Seorang dokter wanita berambut putih panjang dengan mata merah menyambut mereka, di bajunya terdapat tag name bertuliskan Azuriel. Namanya.<br><br>"Mata merah…?"&nbsp;<br><br>"Begini nona, tangan saya sepertinya patah setelah tidak sengaja jatuh dari tempat tinggi, dan kebetulan saya melewati klinik ini, jadi sekalian saja saya berobat di sini."&nbsp;<br><br>Noah mencibir. Roland bodoh, bodoh banget. Padahal Noah sudah memperingatinya tentang parit besar di balik semak ketika hendak mengejar Dosa, tapi Roland tetap memacu kudanya berlari lurus ke depan. Alhasil, kudanya terperosok ke dalam parit dan menghilang, membuat Roland terjungkal dan seperti katanya tadi, sepertinya tangannya patah, soalnya ada bunyi "krek" ketika dia jatuh tadi.<br><br>"Aku makin curiga kalau kau itu sebenarnya bukan pangeran."&nbsp;<br><br>"Kalau maksudmu adalah ketika aku mati, iya. Tapi ketika aku lahir, tidak, aku adalah seseorang yang terlahir sebagai pangeran."<br><br>"Terserah oke, terserah. Banyak sekali aku bicara hari ini."<br><br>Dokter tersebut, Azuriel, merapikan roknya. "Kalau begitu, mari kita mulai pemeriksaannya. Tuan yang satunya lagi, bisakah anda menunggu di luar klinik?"<br><br>"Hah?"<br><br>"Alat-alat yang saya gunakan agak sedikit berisik, jadi saya takut suaranya akan mengganggu anda."<br><br>"Suara alat tersebut tidak akan menggangguku, justru mungkin malah akan menenangkanku." Tukas Noah sembari menatap sinis pada Roland, yang kemudian dibalas cengiran tak berdosa.&nbsp;<br><br>Azuriel diam sejenak, tampaknya dia sedang berpikir. Namun tatapan matanya agak mengerikan.&nbsp;<br><br>"Baiklah, tidak mengapa. Tapi saya mohon dengan sangat untuk menunggu di luar ruangan. Saya sulit fokus jika ada yang memperhatikan saya bekerja."&nbsp;<br><br>Senyum aneh mengembang di wajah Noah, matanya bahkan tidak menyipit.&nbsp;<br><br>"Kalau begitu nona, saya titip teman saya. Kalau perlu angkat pita suaranya agar dia tidak lagi bisa mengoceh padaku."<br><br>"Noah, kamu jahat."<br><br>"Memang." Noah membalas dengan nada cuek, sembari mengibaskan tangannya dia berjalan ke luar ruangan.<br><br>Pintu ruangan di tutup oleh Azuriel, sembari mengenakan sarung tangan, dia meminta Roland untuk berbaring di ranjang pasiennya.&nbsp;<br><br>"Tolong jangan banyak bergerak. Badanmu besar, aku takut ranjangnya roboh ketika aku mengobatimu."&nbsp;<br><br>Roland tersenyum simpul. "Tinggiku hanya 195 sentimeter loh."&nbsp;<br><br>"... Oh?"<br><br>"Manusia semakin tambah zaman semakin mengecil saja ya."<br><br>"Yah, begitulah…" Azuriel menekan sebuah tombol, mengaktifkan empat besi yang kemudian menahan kedua tangan dan kaki Roland.&nbsp;<br><br>Namun kelihatannya Roland masih baik-baik saja, dia masih saja terlihat tenang, plus senyum yang selalu mengembang di wajahnya.&nbsp;<br><br>"Berarti kalau aku ingin mengobati orang-orang pada zaman dulu, dosis obat yang harus kugunakan semakin banyak dong."&nbsp;<br><br>"Mungkin. Aku tidak paham soal kedokteran, jadi maaf aku tidak tau."&nbsp;<br><br>"Tidak mengapa, tidak mengapa. Aku juga tak butuh jawabanmu." Azuriel mengocok jarum suntik berisi 'obat' yang tadi dia masukkan, lalu menyuntikkannya pada nadi tangan kiri Roland.&nbsp;<br><br>"Kau sepertinya pria yang baik, jadi menurut saja padaku ya. Soalnya aku butuh bantuanmu juga…" Tepat setelah 'obat' tersebut disuntikkan, Roland tak sadarkan diri.&nbsp;<br><br>"... Masih ada puluhan obat oplosan lagi yang harus aku uji efek sampingnya."&nbsp;<br><br>⊹<br><br>Entah sudah berapa menit menunggu, dan yang katanya tadi suara alat-alatnya mengganggu, justru tak ada satupun suara yang terdengar dari ruangan praktek Azuriel.&nbsp;<br><br>Noah menggaruk telinganya kasar. "Akh! Suara tawanya yang renyah ketika jatuh tadi masih menggema di telingaku! Roland sialan! Suatu hari nanti akan kupaksa dia mengeluarkan sisi jahat dalam hatinya itu!"&nbsp;<br><br>Lalu sebuah getaran kecil tertangkap indra Noah. Getaran kecil yang dalam, saking dalamnya getaran tersebut nyaris tidak terasa apabila Noah sedang tidak benar-benar konsentrasi.&nbsp;<br><br>"Tidak konsentrasi pun aku masih bisa menangkap suara getaran itu kok."<br><br>⊹<br><br>"Oh, ini campuran antara obat yang begini dan begini, andai kugunakan pada pria ini, berapa jumlah dosis agar bisa bekerja dengan sempurna di tubuhnya ya…?"&nbsp;<br><br>"Jangan berpikir kau bisa mencampur antara obat satu dengan yang lain di dalam tubuh pria sialan itu!"&nbsp;<br><br>Noah menyibak tirai, dan dalam kejapan mata, sebuah bayangan melahap obat oplosan dari tangan Azuriel.&nbsp;<br><br>"Tuan, apa yang kau lakukan? Kau mengganggu pekerjaanku."&nbsp;<br><br>"Aku tidak tau sudah berapa orang yang membuatmu menderita seperti itu, tapi kelakuanmu ini sudah melewati ambang batas gila manusia."&nbsp;<br><br>"Kalau begitu berikan aku jawabannya. Manakah yang lebih gila, seorang dokter yang menggunakan pasiennya untuk uji coba, atau seorang bejat tuna susila yang membuat korbannya menderita sedangkan dia hidup bahagia di luar sana?" Azuriel bertanya dengan raut wajah yang datar, seakan dirinya sudah tak mengenal lagi apa itu emosi.&nbsp;<br><br>"Wah nona, itu pertanyaan yang cukup sulit."&nbsp;<br><br>Noah tampak diam berpikir, ekor-ekor bayangan sudah bergerak liar di sekelilingnya. "Kau tau nona, aku juga seorang dokter, dulunya, sebelum akhirnya manusia menggunakanku untuk kerakusan mereka. Manusia itu egois, tidak peduli apa yang orang lain rasakan, apa yang dia inginkan harus segera dipenuhi, bagaimanapun caranya."<br><br>"Tapi itu justru membuat manusia itu menarik bukan?"&nbsp;<br><br>"Benar, rasanya ingin sekali aku merusak sel-sel otaknya dan membuat mereka merasakan sakit yang luar biasa, bahkan jika dia hanya tergores sehelai kertas yang lembut."&nbsp;<br><br>"Kau menarik sekali sepertinya. Siapa namamu kalau aku boleh tau, tuan dokter?"<br><br>"Noah Nattehimmel. Seorang pria dengan keluarga yang bahagia, menekuni setiap harinya dengan hati yang damai, lalu semua itu dirampas hanya gara-gara sebuah ramuan obat yang dapat menyembuhkan wabah yang saat itu terjadi di desaku."&nbsp;<br><br>"Kisah hidupmu bahagia sekali, aku jadi iri…"&nbsp;<br><br>"Terimakasih pujiannya, entah kenapa aku sama sekali tidak merasa tersanjung."&nbsp;<br><br>"Haha, itu bukan pujian omong-omong. Aku sungguh iri padamu."<br><br>"Dan nona, aku belum menjawab pertanyaanmu tadi. Antara dokter gila dengan orang bejat tuna susila, tentu lebih gila orang tuna susila, jadi silakan, aku tidak akan melarangmu melakukan malpraktek ini."<br><br>"Wah…"<br><br>"Tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukannya pada pangeran sialan itu!"<br><br>Ekor-ekor bayangan tersebut bergerak liar menyerang Azuriel, menitik pusatkan target pada lehernya. Tapi gerakan ekor-ekor tersebut sama lincahnya dengan gerakan Azuriel, wanita tersebut bergerak lincah menghindari ekor-ekor bayangan Noah sambil meracik obat oplosan baru.&nbsp;<br><br>"Aku jadi penasaran, apa yang terjadi pada pria di sana jika kusuntikkan obat oplosan ini, campuran antara dua obat oplosan yang kuracik sembarang. Akankah pria ini mati?"&nbsp;<br><br>"Jangan berani kau melakukannya!!"&nbsp;<br><br>Masih nihil, wanita tersebut sama sekali tidak bereaksi terhadap serangan. Memang, ada dua-tiga serangan yang berhasil mengenai tubuhnya, tapi hanya menimbulkan luka gores, yang tentunya tak berarti apa-apa pada dokter gila ini.<br><br>"Tenang saja Noah, orang mati tidak akan mati untuk yang kedua kalinya. Gavriil pernah mengatakannya kok, kalau kamu ingat."&nbsp;<br><br>Tepat ketika Azuriel hendak menyuntikkannya, Roland membuka matanya, seperti tanpa ada tanda-tanda bahwa dia tak sadarkan diri sebelumnya.&nbsp;<br><br>"Bagaimana bisa?"&nbsp;<br><br>Besi yang menahan kaki dan tangan Roland terputus dengan sendirinya, seakan sebuah pedang tajam nan kuat baru saja menebasnya.&nbsp;<br><br>"Maaf maaf saja nona, tapi yang bisa membuat kami tak sadarkan diri hanyalah para Dosa. Lagipula jika kau berniat membunuhku, itu percuma. Aku dihukum pancung saat aku masih hidup, jadi syaraf rasa sakitku tentu saja terputus."<br><br>"Hah?" Noah protes, raut mengejek terlihat jelas di wajahnya.<br><br>"Aku ngarang kok."<br><br>"Bukan itu. Darimana kau tau kalau dia bukan Dosa?"<br><br>"Dia terlalu gila untuk menjadi seorang Dosa."<br><br>"Tapi matanya merah loh."<br><br>"Kalau yang itu aku juga tidak mengerti."&nbsp;<br><br>"Kalian berdua…" Azuriel menggeram kesal. "Lihat apa yang kalian lakukan pada ruangan praktekku!"&nbsp;<br><br>"Serahkan dia padaku Roland! Tangan patahmu itu tidak akan kuat mengayunkan pedang." Ekor-ekor perpaduan antara bayangan dan cahaya menyerang liar, suara tabrakannya dengan benda keras bahkan berbunyi nyaring di penjuru ruangan.&nbsp;<br><br>"Kau bisa menyembuhkannya kan?"&nbsp;<br><br>Noah tidak menjawab, malah membalasnya dengan tatapan sinis.&nbsp;<br><br>"Oh ayolah, kau dokter yang baik hati kan?"<br><br>"Tidak ada dokter baik hati untuk pangeran idiot sepertimu!"<br><br>"Ejekan sialan ternyata masih lebih baik…"&nbsp;<br><br>Serangan liar tak beruntun itu ternyata sukses membuat Azuriel kelelahan, setelah lima menit menghindari serangan -kalau tidak salah hitung- gerakan Azuriel tampak melemah.&nbsp;<br><br>Menggunakan kesempatan itu, Noah menyuntikkan obat bius legal yang didapatkannya di sudut ruangan pada Azuriel, membuat wanita itu tak sadarkan diri.&nbsp;<br><br>"Menurutmu, akan kita apakan dia sekarang?" Noah bertanya sembari membersihkan tangannya.&nbsp;<br><br>"Kita… obati dia sampai sadar?"<br><br>"Aku semakin ragu kalau kau berusia 28 tahun. Oh benar juga, aku lebih tua sekian puluh tahun darimu." Noah mencibir, menjentikkan jarinya di depan wajah Roland hingga percikan air mengenai wajahnya.&nbsp;<br><br>"Ngomong-ngomong, Noah."&nbsp;<br><br>"Apa?"<br><br>"Kau… masih dendam?"<br><br>Sekilas Noah tampak terkejut, tapi sepersekian detik berikutnya, wajah masam terbentuk di wajahnya.&nbsp;<br><br>"Kau masih berani menanyakan hal itu?"&nbsp;<br><br>"Ayolah Noah, tidak ada salahnya memaafkan orang-orang itu bukan? Lagian, di masa itu–"&nbsp;<br><br>"Kau yang bukan seorang dokter sebaiknya diam saja! Tau apa kau dengan perasaanku saat itu, hah?!"&nbsp;<br><br>Noah menggeram, mencengkram kerah baju Roland. "Kau bukan ayah, juga bukan seorang dokter, jadi jangan ikut campur dengan masa laluku! Bodo amat soal masalah kenaifan manusia atau apapun itu, aku tidak akan pernah memaafkan mereka!!"<br><br>Sepersekian detik, cengkraman tangan di baju Roland tiba-tiba melemah.&nbsp;<br><br>"Kau pikir siapa orang yang masih bisa memaafkan masyarakat yang telah membunuh istri dan kedua anaknya?"&nbsp;<br><br>Roland menunduk. "Tidak ada. Aku pun pasti akan jadi sepertimu jika hal yang begitu juga menimpaku."<br><br>"Kau tau Roland? Aku lelah, aku lelah terus-terusan dendam pada manusia, tapi aku tidak bisa, api dendam itu tidak pernah mau padam."<br><br>"Kau masih mau percaya padaku, Noah?"&nbsp;<br><br>Noah mendongak, terlihat matanya sedikit berkaca-kaca.&nbsp;<br><br>"Sejujurnya, aku pun juga menyimpan dendam, dendam terhadap pria itu. Jadi kau tidak sendiri. Oleh karena itu, jika api dendam itu kembali membakar hatimu, kau bisa menemuiku, tumpahkan semua emosimu padaku, aku bisa menampung semuanya."&nbsp;<br><br>"Kau yang masa lalunya tak jauh beda denganku jangan sok kuat, kau itu sebenarnya rapuh tau."&nbsp;<br><br>"Karena itulah kau hanya bisa berbagi rasa sakit denganku. Ingat, selain Gavriil dan Reatha, hanya aku satu-satunya orang di Mansion yang paham betul tentangmu." Tatapan mata Roland berubah serius, dengan masih menimbulkan kesan lembut di sana, menempatkan jari telunjuknya di depan mulut Noah, yang tentu saja membuatnya membeku karena terkejut.&nbsp;<br><br>Ada suara langkah kaki di koridor klinik, terdengar tenang.&nbsp;<br><br>"Permisi, apakah masih ada dokter praktek di sini… Hey, apa yang terjadi di sini!? Kenapa berantakan sekali!?" Seorang pemuda berambut pirang berdiri di daun pintu, di belakangnya seorang gadis berambut violet mengintip dari balik tubuhnya.&nbsp;<br><br>"Oh, maaf, aku pasiennya. Tadi ketika aku berobat, tiba-tiba dokternya ambruk, mungkin dia memaksakan dirinya yang sedang sakit. Bisakah kau diam di sini sambil menunggunya sadar?"&nbsp;<br><br>"Hah!?"<br><br>Roland mengenakan jubahnya, tadi tergantung di dekat meja Azuriel sebelum dirinya membaringkan diri di ranjang pasien.&nbsp;<br><br>"Maaf, tapi kami agak terburu-buru. Nah Noah, ayo pulang."&nbsp;<br><br>"Hey tunggu! Kau tidak bisa menyuruh kami begini!? Hey! Memangnya dokternya kenapa? Sakit apa? Kok kalian biarin dia terduduk begitu saja di lantai!?"&nbsp;<br><br>Roland tidak menjawab, dia justru membalas dengan cengiran, menjulurkan lidahnya.<br><br>"Cih, apa-apaan orang itu?"&nbsp;<br><br>"Sudahlah Elenio, toh kita sedang tidak melakukan apa-apa. Jadi kita bisa menemani dokternya sampai dia sadar." Yang wanita berusaha menenangkan yang pria, tersenyum.<br><br>"Kau gila?"&nbsp;<br><br>"Hmm? Tidak. Aku masih waras."&nbsp;<br><br>"Bukan begitu maksudnya!"<br><br>⊹<br><br>"Hey Noah."&nbsp;<br><br>"Hmm?"<br><br>"Lukaku kan belum diperiksa, nanti di Mansion tolong obati ya."<br><br>"Cih. Dasar menyusahkan."&nbsp;<br><br>"Oh ayolah dokter, kalau tidak diobati bisa-bisa aku tidak akan bisa berperang dalam waktu lama."<br><br>"Lalu aku peduli?"&nbsp;<br><br>"Nanti aku jadi tidak berguna."<br><br>"Memang sejak kapan kau berguna? Dasar pangeran sialan."</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 00:48:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253082565</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bebek</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253083879</link>
         <description><![CDATA[<div>Rintik hujan membasahi permukaan tanah, harum air hujan tercium semerbak di hidung wanita yang tengah menyeruput kopinya. Sunggingan terlihat di wajahnya, bibir merona merah menyala, kacamata yang tertopang di batang hidungnya membuat wajahnya makin berwibawa. Rambut hitam legam lurusnya tergerai bebas, mantel hitam panjangnya sedikit basah terkena cipratan air hujan, ujung sepatu <em>bootsnya</em> juga basah. <br><br>“Ayo, kita pergi!” Seseorang dengan rambut pendek serta bando bermotif kotak-kotak moka, kemeja putih lengan pendek serta rok selutut dengan corak yang sama seperti bando yang ia pakai. Tangannya penuh dengan tas, keranjang piknik dan payung.<br><br>“Tunggu sebentar, <em>Honey</em>.” Wanita bergincu merah menyala itu melepas mantelnya, memakaikan wanita di depannya. “Biar, aku yang buka payungnya.” ucapnya sembari mengambil payung dari genggaman orang di depannya.<br><br>“Terimakasih.” wanita rambut pendek itu tersenyum manis.<br><br>Sepayung berdua di bawah rintik hujan pagi, bukankah itu hal sederhana tetapi romantis sekali? Memang, sangat romantis apalagi saling bergandengan tangan, membuat orang yang melihatnya saja iri. Ritme jalan yang selaras, wajah keduanya yang terlihat menikmati setiap langkah. <br><br>“Nep-maksudku, <em>Honey</em> kau benar ingin tetap pergi ke taman?” tanya wanita bergincu merah menyala itu sambil menatap pucuk kepala wanita rambut pendek–Neptune–itu. Neptune terlihat mengangguk mantap, ia tahu kekasihnya tidak terlalu suka terus-terusan di dalam rumah tidak seperti dirinya yang menghabiskan waktu liburannya dengan membaca <em>manga</em> atau pun bermain <em>otome game</em> dan lainnya. Niatnya memang ingin mengabulkan permintaan kekasihnya walau memang si empunya tidak meminta. “Hujan, loh. Tumben kau mau keluar di hari liburmu seperti ini.”<br><br>Lantas Neptune menggeleng. Dia benar-benar menginginkan keluar untuk berjalan bersama kekasihnya hari ini, jangan membuatnya merasa bersalah. Genggaman tangannya makin erat, seakan memberi isyarat kalau dirinya memang menginginkan hal ini. “Jangan mengecewakanku, Sofie.” katanya menatap mantap bola mata dibalik lensa kacamata wanita bergincu menyala–Sofie–itu.<br><br>Sofie hanya tersenyum sambil mengerutkan alisnya, kekasihnya memang menginginkannya apa boleh buat jarang-jarang mereka menghabiskan waktu untuk berkencan di luar seperti sekarang ini. “Tidak akan, Bu Detektif!” ia balik mengeratkan genggaman tangannya.<br><br>…<br><br>Jalan setapak jauh dari pemukiman, mereka rela berjalan jauh demi sungai mengalir, airnya terlalu jernih batuan di dasar pun tampak sangat jelas ikan-ikan kecil berenang melawan arus sungai secara berkelompok. Neptune dengan cekatan mengeluarkan kursi <em>portable</em> dari tasnya, dia memang wanita yang siap sedia. Barang-barangnya ditaruh di atas kursi, Sofie masih sibuk memayungi kekasihnya agar tidak terkena rintik hujan. Plastik bening besar dipakai sebagai tutup barang–tas dan keranjang berisi makanan–barang yang sudah tersusun rapi di atas kursi portable itu. Neptune melepas sepatu serta kaos kakinya, menurunkan resleting sepatu <em>boots</em> Sofie lalu menariknya ke dalam sungai. <br><br>Wajah bahagia mereka terpancar dengan Sofie yang masih sibuk dengan payungnya, mencoba memperkecil Neptune dan gerimis air hujan bersentuhan. ‘<em>Jangan sampai dia sakit.</em>’ itu yang membuatnya bertahan dengan payungnya. Neptune masih menarik lengan kekasihnya, meraungi aliran sungai itu celana <em>jeansnya</em> sudah basah setidaknya tidak sampai sebetis. Langkah Neptune terlihat lihai dan tergesa-gesa, jelas dia ingin menunjukan sesuatu. Hingga akhirnya langkahnya berhenti, menunjuk lurus ke depan, benar saja pelangi besar memanjakan mata mereka.<br><br>“Lihat, cantik sekali, bukan?” Tangannya masih terus menunjuk ke arah pelangi itu berada. <br><br>Sofie terdiam sejenak menatap pelangi, lalu memeluk Neptune dengan erat hingga terangkat. “Pelangi memang cantik tapi kau tidak kalah cantik, <em>Honey</em>.” pujinya, sementara yang dipuji menyembunyikan wajah meronanya.<br><br>…<br><br>Hujan sudah berhenti, Sofie memilih duduk menyantap roti lapis yang mereka bawa dalam keranjang, sesekali memperhatikan kekasihnya dari jauh. <br><br>Neptune berakhir asyik sendiri, mengobservasi sekelilingnya. Ilalang bergerak, membuat dirinya makin penasaran karena gerakan itu terjadi bukan karena angin melainkan hal lain. Bebek, bebek yang baru menetas. Matanya seketika berbinar melihatnya, lalu anak bebek itu menoleh ke arahnya–induknya pikir si bebek itu. <br><br>Neptune yang sadar langsung menjauh, diikuti oleh anak bebek itu. Dia lupa kalau kebanyakan unggas seperti ini, sekarang malah merasa bersalah karena dia terlihat mencuri anak bebek dari induknya. Neptune berlari kecil kembali ke tempat Sofie, begitu pula bebeknya, mengikutinya menganggap kalau Neptune adalah induknya.<br><br>“<em>Beb</em>, bebeknya ikut!!” ucapnya sambil berlari melingkari Sofie. “Bagaimana ini, aku gak sengaja, aaah.” <br><br>“Hahaha sudahlah–”<br><br>“Kau mencuri bebekku!!” teriak pria bersurai pirang kekuningan–Elenio–sembari menunjuk ke arah anak bebek itu, tangan sebelahnya menggendong induk bebek.<br><br>“Aku gak mencuriinya! Dia, dia sendiri yang mengikutiku!” protes Neptune pada Elenio.<br><br>“Itu karena kau melihatnya keluar dari cangkang, kan? Kau pasti sengajaa, kan??” katanya lagi.<br><br>“Tidaaaakk, aku tidak sengaajaa!!” Neptune masih sibuk berlari keliling, begitu pula dengan anak bebeknya.<br><br><strong>END.</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 00:50:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253083879</guid>
      </item>
      <item>
         <title>His Way of Comfort</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253084715</link>
         <description><![CDATA[<div>Iris yang terpaku pada layar 44 inci itu berlalu ke arah pintu. Di sana, wanita berusia 20-an berdiri, memperhatikannya. <br><br>Ia berganti posisi, meraih remote di dekatnya dan mematikan televisinya. Dengan perasaan malas, ia bangkit dari sofanya. <br><br>“Shizuoka-san kalau mau datang harusnya beritahu aku.” lontarnya. <br><br>Shizuoka memandangnya tak percaya, “Kau tak melihat Talktalk? Aku sudah mengirimkan ribuan pesan tentang kedatanganku.” balasnya. <br><br>Bola matanya berputar, Shizuoka menyadari hal itu dan menjitaknya. Perih dan denyut akibat jitakan Shizuoka membuatnya mendengus. <br><br>“Itu kan tandanya aku tak ingin Shizuoka-san datang.” <br><br>Kali ini, netra oranye Shizuoka yang berputar. Ia memberikan—tidak, Shizuoka melemparkan tas berat yang daritadi ia bawa. <br><br>Hey, serius. Apa yang dibawa wanita ini? <br><br>Tas violet dengan motif teddy bear—terlihat menggemaskan jika ia boleh jujur (yang mana sangat tak cocok untuk Shizuoka) itu sangat berat baginya. <br><br>“Apa yang Shizuoka-san bawa sih? Seberat ini.” <br><br>“Sesuatu yang tidak perlu kau ketahui, Ichiro-kun.” balas Shizuoka, tersenyum penuh makna. <br><br>“... Shizuoka-san tidak berfikiran untuk menginap lagi di rumah ku kan?” <br><br>Shizuoka hanya menyengir, menunjukkan deretan gigi putih miliknya. Jarinya menunjukkan tanda 'peace'. <br><br>Ichiro memijit keningnya, Shizuoka tanpa izin duduk di sofanya dan mengambil remote. <br><br>“Shizuoka-san!” <br><br>“Hmm?” <br><br>“Remoteku...” <br><br>Tangan Ichiro terjulur, meminta remotenya kembali. Shizuoka menatapnya, tak peduli. Ia malah mengganti siaran yang daritadi ditonton Ichiro. <br><br>Ichiro merasa kesal, tapi ia tak bicara. Menghela nafas malas, ia mengangkat tas Shizuoka ke atas, ke salah satu kamar tamu. <br><br>××× <br><br>Gawai miliknya berbunyi, ketika melihat siapa yang memanggilnya, ia mengangkatnya. Sepertinya pelariannya ketahuan lebih duluan. <br><br>“SHIZUOKA! KENAPA KAMU TAK MEMBERITAHUKU MASALAH INI?” teriak seseorang, terdengar sangat cemas. <br><br>Shizuoka merasa telinganya akan budeg tapi, ia menghargai. Setidaknya, dari sekian banyak teman yang ia miliki, hanya gadis ini yang seperti ini. Tanpa sadar, ia tertawa. <br><br>“Kau tertawa? Shizuoka, kau membuatku khawatir begini! Kau kemana sebenarnya?” <br><br>“Maafkan aku, Spica. Sekarang aku berada di rumah Ichiro. Aku tertawa karena... baru kau yang menelponku dengan rewel begini.” <br><br>“Eh, Ichiro. Anak yang dulu pernah menyatakan perasaannya padamu? Bahkan 'dia' juga belum menelpon?” <br><br>“Yah... bagaimana kalau kita video call saja?” tawar Shizuoka. <br><br>“Eh, iya juga... bagusnya seperti itu, aku ingin lihat wajahmu.” <br><br>Hanya perlu beberapa detik sebelum panggilan ber-arah menjadi video. Spica, gadis dengan surai violet panjang dan netra <em>azure</em> itu menyapanya. <br><br>Keduanya berbincang cukup lama, Ichiro yang sebenarnya tak sengaja mencuri dengar—alias nguping (dia sebenarnya ingin memberikan segelas air untuk Shizuoka), mengulur waktu dengan bermain gadgetnya. <br><br>Ketika mendengar isakan Shizuoka yang cukup keras itulah, dia menghampiri Shizuoka dengan cemas. <br><br>Yang dilakukannya bukanlah bertanya, hanya memberikan pundak miliknya, mendekap Shizuoka. <br><br>“Menangislah. Aku tak tahu mengapa Shizuoka-san tiba-tiba menangis dan aku tidak tahu bagaimana menghibur orang yang menangis. Jadi...” <br><br>Ketika mengatakan itu, wajah Ichiro sedikit merona, sedikit malu menyatakan perihal ini. Ditambah, ini pertama kalinya ia berusaha menghibur seorang perempuan selain adiknya. <br><br>Shizuoka meremas pakaian yang dikenakan Ichiro, menangis sejadi-jadinya di pundak pemuda itu. Upaya Ichiro dalam menenangkan Shizuoka hanyalah mengelus kepalanya dan mengusap punggungnya. <br><br>“Dia brengsek.” ujar Shizuoka diantara tangisnya. <br><br>Ichiro tak mengerti siapa yang dimaksud, ia mengangguk setuju, “Iya, dia brengsek.” <br><br>Shizuoka di lain sisi tetap menangis, seluruh bendungan yang tertahan, pecah. Ichiro tak mengetahuinya, tapi dengan keberadaan Ichiro, hati Shizuoka merasa tenang. <br><br>'<em>Bagaimana bisa aku malah jatuh cinta kepada orang brengsek seperti dia sementara, disini ada Ichiro yang</em>...' pikiran Shizuoka tak berlanjut.&nbsp;<br><br>Ichiro pernah menyatakan perasaannya kepada Shizuoka ketika pemuda itu lulus. Tapi, Shizuoka menolaknya karena bajingan itu.&nbsp;<br><br>Nafas Ichiro berat, dia bukanlah tipikal orang yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini... tapi, jika terus-menerus dipeluk seperti ini oleh orang yang ia sukai, belum lagi wangi shampo Shizuoka dan aroma badannya—ah, dia terdengar seperti orang mesum.&nbsp;<br><br>“Shizuoka-san...” panggilnya, netra oranye Shizuoka menatapnya.&nbsp;<br><br>Matanya masih sembab sementara ari mata yang mengucur keluar, masih mengalir. Ichiro menyentuh pipi Shizuoka, mengelap air mata itu.&nbsp;<br><br>“Shizuoka-san, bagaimana dengan segelas air dulu?” tawarnya.&nbsp;<br><br>Sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Shizuoka. Manalagi wajah Ichiro yang sangat serius, ia terkekeh.&nbsp;<br><br>Ichiro menatapnya heran, kenapa Shizuoka tiba-tiba tertawa? Ia hanya menawarkan air...&nbsp;<br><br>“Memang hanya seorang Ichiro yang melakukan hal-hal yang tak terduga.” celetuk Shizuoka, tersenyum kecil.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 00:51:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253084715</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dimensional Mistake</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253093051</link>
         <description><![CDATA[<div>Hingar-bingar kesibukan di sekolah itu sangatlah kentara, apalagi di saat jam pelajaran berlangsung— dan ketika waktunya Ekstrakurikuler mengikuti Klub yang disukai. Ada klub gamers yang mengajari anggotanya merencanakan strategi, yang diketuai oleh Ayato lalu ada juga Klub Memasak yang diketuai oleh Aaron. Tidak sedikit yang belum memilih Klub, contohnya saja Allan yang senantiasa suka nongkrong di Klub manapun sesukanya. Banyak yang menawarinya—pun tak membuatnya mengikuti dengan konsisten satu Klub sampai sekarang ini.<br><br>Kala itu, Klub Saintek sedang pergi karena mengikuti sebuah lomba, Laboratorium akhirnya dikunci. Sebab koneksi dan relasi Allan, Ayato serta Aaron yang begitu luas, ketiga A ini mendapatkan kuncinya dan memasuki Laboratorium demi mencuri sebuah racun mematikan yang ditujukan untuk Kepala Sekolah mereka yang menurut mereka pantas menerimanya.<br><br>Sang Kepala Sekolah menolak konsep Klub baru mereka yaitu; Unity C, yang ketika simulasi dimulai sudah ada ledakan besar menyebabkan kehancuran dinding ruangan itu dan perlu direnovasi. Siapa yang berulah? Barang bawaan anak Saintek yang bergabung ke Klub mereka (Ketiga A) ledakkan karena mencampur bahan kimia dengan soda dan permen mint. Belum lagi karena retakan di lantai sebab anak Karate yang seenaknya smackdown di tempat latihan Klub tersebut. Poster poster haram tidak-layak-dilihat demi kepuasan batin serta keperluan sekunder punya anak Seni juga terpasang dimana-mana. <br>Setelah dipikir-pikir, memang berbahaya membiarkan Unity C tetap berjalan. Namun apa daya, ketiga serangkai dan pilar klub itu tidak terima, jadilah mereka dendam kepada Sang Kepala Sekolah. Mereka memporak-porandakan Laboratorium bak tikus-tikus mencari Keju <del>dan bukan tikus berdasi. </del><strong><del>teng teng teng teng, soo baksoo</del></strong><br>Setelah satu jam mencari sampai bel pulang berbunyi, dan Allan, Ayato dan Aaron tidak memahami kegunaan cairan merah kuning hijau seperti bendera eljibiti, akhirnya bereksperimen dan mencampurkan berbagai cairan yang menurut mereka bahan kimia. Atau marjan.<br>… Atau sirup.<br><br>Dan membuahkan satu cairan didalam botol kaca kecil berukuran kecil, warnanya hijau dan berbau nerakawi. Aaron yang melihat ramuan itu yakin 100% dapat membuat Kepala Sekolah mereka bakal koid di tempat.<br><br>“Tadi kita campurin cairan apa saja?” Tanya Ayato sambil melihat-lihat barang barang yang dipakai untuk penelitian. Mikroskop, barang pecah-belah atau apapunlah namanya.<br><br>“Cairan merah, kuning, hijau terus bubuk emas yang kayak serbuk peri di film Tengker Wells!” Allan menyeletuk, sambil berjalan kesana kemari. Jarang-jarang bisa memasuki Laboratorium tanpa diawasi.<br><br>“TinkerBell, bodoh!” Aaron mengoreksi sambil menjitak kepala Allan. Mengabaikan Allan yang mengerang sakit <em>(Ya, tentu saja, pukulan Aaron tak bisa dipandang sebelah mata!)</em> ia baru tersadar akan satu hal.<br><br>“Tetapi, bukankah Arsenia masih ada di sekolah? Dia dapat giliran berjaga?”<br><br>Hening sesaat menyelimuti mereka, sampai terdengar suara seseorang yang baru Aaron sebutkan tadi yang agak jauh dari mereka. Tampaknya Arsenia akan pergi ke Laboratorium. <br>Sial.<br><br>“Cepet beresin, CEPET CEPET!” Ayato dan Aaron membereskan semua kekacauan tadi dalam waktu singkat dan terburu-buru. Lalu bersembunyi, seketika melupakan keberadaan Allan yang entah kemana. Menghilang bak bang Toyib.<br><br>Suara pintu terbuka, berjalan dengan agak cepat karena panik pintu Laboratorium dalam keadaan tidak terkunci. Curiga ini perbuatan seseorang, Arsenia berkeliling.<br><br>Dari sela-sela tempat mereka bersembunyi, Aaron dan Ayato ikut mengawasi gerak-gerik Arsenia.<br><br>“Ron, Allan dimana?”<br><br>Aaron hanya mendelik sadar,<br><em>Oh astaga. Bagaimana mungkin ia melupakan si setan merah satu itu.</em><br><br>Suara gemuruh terdengar, bagai badai segera muncul—ruang Laboratorium ikut bergetar hebat. Terdengar suara teriakan amarah Arsenia; sontak mengundang Aaron dan Ayato untuk keluar dari persembunyian mereka. Mengira sumber yang membuat Arsenia menjerit adalah Allan, nyatanya tidak. Malah; lebih parah dari itu.<br>Allan berada di samping sebuah benda, berbentuk seperti cermin kaca yang mengeluarkan cahaya, sinar yang luar biasa terang bagai dapat membutakan mata.<br><br>“JAUH-JAUH DARI SANA, SIALAN!”<br><br>Ketiga A itu terkaget, pasalnya mereka tak pernah sekalipun mendengar Arsenia berkata kasar; ataupun mengamuk seperti ini.<br><br>“AKU BERUSAHA MEMATIKAN BENDA INI, KAU TAHU?!” Allan balas berteriak agar suaranya terdengar di antara suara gemuruh yang amat keras. Aaron dan Ayato yang awalnya ingin menghampiri Allan dan membantunya mengurungkan niat setelah Arsenia melarang mereka.<br><br>“JANGAN BERANI-BERANINYA MENDEKAT!”<br><br>Tidak ada hasil setelah beberapa saat Allan mencari cara, Arsenia dengan kesal mendorong dirinya dan tiga A memasuki portal tersebut.<br><br>“Jangan berpikir aku mau bertanggung jawab dan merusak reputasiku dan mengganggu rencanaku. Dengan ini, aku bisa membuat alasan jika portal itu terbuka dengan sendirinya!” Arsenia berkata, sesuatu yang sebenarnya bukanlah suatu kejutan namun tetap mengagetkan ketiganya ialah; ia menjaga citranya selalu ‘layak dipercaya’ dan ‘seiso’ sehingga reputasinya baik untuk suatu tujuan. Yah, tidak membenarkan perbuatannya yang asal menarik mereka semua.<br><br>Namun, alih-alih hanya mereka bereempat,<br>Seluruh orang yang masih berada di gedung sekolah pun terserap. Setelah masuk ke sinar yang sangat membutakan mata itu, kesadaran semua orang hilang dalam beberapa saat.<br><br>Kemudian, ketika membuka mata, mereka sekali lagi dikejutkan dengan keberadaan tempat mereka. Masih di tempat yang sama, namun dengan jendela yang ditutupi dengan baja yang amat kuat—dihancurkan pun rasanya tidak mungkin.<br><br>Yang dirasakan oleh Allan pertama kali yaitu kepalanya yang amat sangat pusing. Tidak diragukan lagi, seperti ingin meledak. Akan tetapi, tak lama setelahnya pusing itu menghilang begitu saja.<br>Arsenia jelas terlihat bertanya-tanya, juga Aaron dan Ayato. Hal yang pertama Allan sadari ialah;<br>“LOH?! KITA PAKAI BAJU BADUT?!”<br><br>(CUT)<br><br>“LOH?! KITA PAKAI BAJU SERAGAM SEKOLAH MANA INI?!”<br><br>Lalu yang lainnya ikut melihat apa yang dikenakan oleh mereka, terdapat nametag juga yang bertuliskan nama mereka disana. Juga, dibawahnya terdapat … suatu sebutan … ?<br><br>Milik Arsenia, tertulis “The Ultimate Alchemist.”<br><br>Milik Aaron, tertulis “The Ultimate Barista.”<br><br>Milik Ayato, tertulis “The Ultimate Rhythm Gamer.”<br><br>Sedangkan milik Allan, berbeda. Hanya ada “????” disana.<br><br>“Kok nametag-mu tidak tertulis ultimet - ultimet gitu?” Tanya Ayato yang melihat nametag Allan hanya berisi empat tanda tanya. Allan menjawab,<br>“Aku sendiri tidak tahu. Kita bahkan masih belum dapat mengetahui kenapa seragam kita tiba-tiba berganti dengan nametag seperti ini, tapi bagus sih, kayak cosplay~”<br><br>“Matamu cosplay, kita lagi di antah-berantah di pikirin nya cosplay.” Aaron mendelik ke Allan. Yang hanya dibalas wajah Allan yang cemberut, dan Ayato yang tersenyum tolol.<br><br>Arsenia sendiri masih berusaha berpikir logis, memuat semua keanehan ini, ini terlalu ajaib baginya. Dan merupakan hal yang buruk jika sampai terjebak disini dengan tiga makhluk inisial A yang IQ mereka mungkin lebih rendah dari dirinya. Ah, daripada kerjasama, ia ingin diam-diam memanfaatkan mereka.<br><br>“Gimana kalau kita keluar saja? Apa yang akan kita dapatkan kalau disini terus-terusan?” Arsenia berkata, sambil pergi duluan mendahului. Disusul oleh tiga makhluk laknat, mereka akhirnya mengekor seperti induk bebek dengan anaknya.<br>Ketika di perjalanan, terdengar suara yang berasal dari speaker.<br><br>“Semuanya, silahkan berkumpul di lapangan basket Indoor! Acara Orientasi Siswa akan dilaksanakan disana! Ufufufu.”<br><br>Mencurigakan, tambah mencurigakan lagi ketika terselip tawa dari suara itu. Lantas, apa yang bisa mereka lakukan selain menurutinya?<br>Saat sampai disana, betapa terkejutnya Arsenia. Sementara ketiga bocah tolol itu hanya terkagum dan bersorak sorai gembira, mereka tidak hanya berempat yang berada disini!<br>Sembari mengupil, Ayato bertanya satu-persatu apa yang ada di <em>nametag</em> mereka. Sekali lagi, ditemukan orang yang nametagnya bertanda tanya seperti Allan.<br>Elenio namanya, dia sedari awal juga tidak mengikuti Klub apapun.<br><br>“Apa mungkin itu karena kita tidak mengikuti satu pun Klub?” Allan bertanya, berdiskusi dengan keanehan itu bersama Elenio yang dalam kondisi yang sama.<br><br>“Bisa jadi tuh. Tetapi, bagaimana jika sebutan di nametag itu muncul sesuai bakat mereka? Mana mungkin kita tak punya bakat sama sekali? Minimal The Ultimate pembuat bakso atau The Ultimate Koruptor!” Elenio menjawab, dan apa-apaan nilai ujiannya yang selalu sempurna walau ia berusaha untuk membuat satu pertanyaan salah? Itu keberuntungan atau bakat, sebenarnya?<br><br>“Jika sampai ada the ultimate jeweler, aku bakal mengakui 1000% bakat kalian beragam semua …” Aaron berdecak kagum.<br><br>“ <em>Jeweler?</em> Itu aku.” Sahut seseorang, jujur— ketiga A serta Arsenia mengira Jeweler yang dimaksud seperti … Norak dan berlebihan— tetapi yang terlihat disana lebih seperti anak mafia. Tampang preman begitu, SIAPA SIH YANG AKAN MENDUGA?<br><br>“Kenapa mendapat panggilan begitu?”<br><br>“Aku bisa mengetahui beragam batu mulia, <em>Terracotta</em> sampai <em>Alexandrite</em>. Aku terbiasa melihatnya, kemudian aku menjadi tertarik.”<br>Allan bergumam iri, <br>“Terdengar menyenangkan mempunyai sesuatu untuk disukai …”<br><br>Yuri yang mendengarnya hanya bisa berdeham, <br><br>“Benar, tetapi bukan berarti itu menghentikanmu untuk mencoba mencari sesuatu yang membuatmu tertarik … Kurasa …?”<br><br>Allan mengangguk, <em>yah, mungkin nanti. Nametag tanpa sebutan punya dirinya dan Elenio tidak akan selamanya tanda tanya, kan?</em><br><br>Ayato memalingkan wajah kearah lain, mendapati dirinya melihat seseorang dengan pakaian yang amat tidak mencerminkan siswa SMA. Terlihat ia sedang menggoda Arsenia yang tersenyum seram <em>(namun diabaikan oleh lelaki itu, ia beranggapan itu adalah bentuk afeksi cinta</em>) sambil tetap melancarkan aksinya melontarkan kata-kata cinta nan buaya. Dilihatnya nametag yang tertera di bajunya;<br>Dylan - The Ultimate Quidditch Bludger.<br><br>“Astaga, memangnya ada?” Membatin, hal itu membuat Ayato tidak habis pikir, yasudahlah. Si pemain hati wanita, Dylan, ia tidak ingin berurusan apa-apa dengannya. Ia sendiri tidak tahu menahu apa itu kuidik blojer, padahal ia mengira jika Dylan yang ini merupakan seseorang yang menjadi tokoh ikonik perbucinan Indonesia, yakni bucin dengan pasangannya, Milyhya.<br><br>“Ufufufu, akhirnya semuanya sudah berkumpul!”<br><br>Suara itu menggema ke seluruh ruang lapangan, disana terlihat panggung yang sepertinya berfungsi menjadi tempat kepala sekolah melakukan <em>speech</em>. Tak lama setelah itu, sebuah—seekor? Beruang berwarna setengah hitam dan setengah putih muncul begitu saja, tentu membuat orang-orang disana kaget.<br><br>“Siapa kau?” Tetap terlihat berwibawa, seseorang ber- <em>nametag</em> “Antasena – The Ultimate Diplomat” bertanya, dengan raut wajah waspada dan mata menatap tajam.<br><br>“Ufufufu—, selamat datang di Hope’s peak Highschool! Namaku Monokuma, kepala sekolah kalian semua!” Ucapnya dengan lantang lagi tanpa ragu.<br><br><strong>“APAAAA?!”</strong><br><br>Suasana yang awalnya tenang kini ricuh seketika,<br><br>“Kami tiba-tiba dibawa kesini tanpa sebab, masih belum mengetahui situasi sedangkan tiba-tiba kau mengaku sebagai kepala sekolah kami?! Hentikan candaanmu.” Ryzen terlihat begitu terganggu, si The Ultimate Composer tidak menyukai ungkapan gila yang barusan diberikan oleh sang beruang lucknut tersebut.<br><br>“—dan, kalian disini untuk tinggal selama-lamanya! Dorm seumur hidup, bisa kubilang! Kalau mau pergi dari sini, <em>kill kill</em> dulu, kalau bisa sampe streak ya!” Monokuma kembali berbicara sambil diselingi tawa khasnya, “Ufufufu!”<br><br><strong><em>“HEI, JANGAN BERCANDA!”</em></strong><br><br>Berbagai kalimat protes dari seluruh anak disana, menwail beberapa anak somplak hanya terduduk manis main UNO sekaligus bertanya, “<em>Dimana letak sauna?</em>” Jangan bertanya itu siapa, aku sendiri menyamarkan identitasnya demi kepentingan privasi :(<br><br>“AAAAGH, BISA-BISANYA KITA TERJEBAK DISINI!” Runa berteriak kesal, mengeluarkan segala <em>uneg-uneg</em> miliknya yang ada.<br><br>“Setidaknya ada sebutan The Ultimate Pianist untukmu dan ada Piano segede dosamu di ruang musik, ufufufu.”<br><br>“Fiks, jangan bawa aku pulang ke sekolah membosankan itu, SAYONARA ALL, AKU MAU SANTAI SANTAI DULU DI SEKOLAH INI.”<br>Lalu Runa pun minggat dari tempat, satu-persatu orang mengurus urusan dan mengecek ponsel pintar berisi ID dan peraturan. Namanya Norkia, penasaran banget dapet nama itu darimana si Monokuma.<br><br>Beberapa juga masih keras kepala menentang, diancem dulu pake <em>chika chika bum bum dUARRR </em>Monokuma meledak, sayangnya tidak ada yang tewas, hanya saja syok berat. Lalu tak lama kemudian Monokuma muncul lagi,<br><br>“De fak?” – Allan<br><br>“Wanjay, Monokuma immortal.” – Arion<br><br>“SIAPA LU?!” – Allan<br><br>“The Ultimate Chef, gan. Salken yw, panggil aja Ar33yohn (read : Arion) 👍” – Arion<br><br>“… Gile jamet, tar ya brok aku jaga jarak dulu. Katanya jamet itu menular.” – Allan, sambil meringsut pergi.<br><br>Sepertinya sistem salah membaca, seharusnya orang itu mendapat sebutan The Ultimate Jamet saja lebih tepatnya.<br><br>Akhirnya Allan memutuskan untuk membersihkan diri saja, semua ini sangat nista dan bikin kepala pusing tujuh keliling, juga CCTV yang selalu ada dimanapun kapanpun 24/7 membuatnya tidak bisa nge-Fortnite Dance malem-malem daily roo—<br><br>Tunggu. Oh, astaga. Dia memiliki ide yang bagus, ia harus beritahu itu ke kedua teman somplaknya dan dia harus lakukan esok harinya. Semoga saja tidak ada yang tewas pada hari itu.<br>Di pemandian air panas yang entah kenapa ada sekolah, ia berdiskusi terkait rencananya itu dengan Ayato yang awalnya sibuk <em>meliuk-liuk horknee</em> akan <em>wibuism</em>. Mirip siapa? Jelas, Nuggeto Komaedi.<br>Kebetulan setelah melakukan ritual tersebut, Ayato berkata,<br>“Panggil aku Ayato Komaedi mulai saat ini.”<br>Dan semenjak itu, dia mengganti nama belakangnya.<br><br>-<br><br>Jika engkau bertanya-tanya tentang apa yang dighi- di diskusikan oleh Allan, Ayato, dan Aaron kita tercinta. Maka jawabannya adalah; meminta tolong Arsenia untuk membuatkan mereka sebuah ramuan. Ramuan yang membuat orang joget wibu selama satu jam. Saat mereka memberitahukannya ke Arsenia, jelas saja dia menolak.<br><br>”<em>Apa-apaan kalian itu?!</em>”<br><br>Pada akhirnya ia membuat kesepakatan dengan mereka— namun dengan efek yang jauh lebih cepat menghilang yakni tiga menit, juga berjanji kalau blackmail yang didapat Allan berhasil meyakinkannya untuk tidak diumbar demi reputasi.<br><br>Malam berganti menjadi pagi,<br>Sayang sekali.<br>Arsenia ditemukan mati. Tewas, bersimbah darahnya sendiri yang keluar melalui kepala.<br><br>”<em>A body has been discovered!</em>”<br><br>-<br><br>Pagi, jam 08.30 semua murid dikumpulkan di tempat kejadian perkara. Arsenia terkapar tak bernyawa di Laboratorium sekolah, darahnya merah muda. <em>(Demi acara family-friendly.)</em> Serta luka dikepalanya, kemungkinan berasal dari pukulan sebuah benda tumpul dan ia meninggal karena pendarahan hebat.<br><br>Tragedi terjadi kira-kira saat semuanya masih terlelap, sekitar jam 3 pagi. Entah apa yang dilakukannya, namun ketiga A tahu.<br><br>Ia melakukannya demi blackmail tentang dirinya tidak diumbar, namun ketiga A itu terlalu polos—maksudku tolol untuk sekedar menyalahkan mereka sendiri.<br><br>Beberapa jam kedepan akan dilakukan Class Trial, memberikan mereka waktu untuk mencari bukti dan membangun alibi. Sedangkan ketiga A sedang berada di sauna, ngape tu? <em>Triso</em>— MAKSUD SAYA mencari barang bukti sampai ke sudut-sudut tempat.<br><br>Lalu tibalah Class Trial dimulai,<br>Saksi mata yang pertama kali menemukan Arsenia bersimbah darah adalah Arisa, The Ultimate Rhythmic Musician dan Cheshire, The Ultimate Magician.<br><br>“Aku saat itu berniat untuk pergi ke ruang musik, mencari alat musik ritmik yang bisa kumainkan. Jalan untuk ke ruang musik pastinya akan melewati Laboratorium yang berjarak dua ruangan dari ruang musik— Aku bertemu Cheshire ketika ia keluar dari Arcade; yang dimana kalian salah jika menuduh Cheshire adalah pelakunya,” Ia menjelaskan, kemudian melanjutkan perkataannya.<br><br>“Arcade terletak di dekat tangga yang menuju lantai atas dan lantai bawah, sementara Laboratorium berada 5 ruang jauh dari Arcade. Sementara disebelah kanan tangga barulah ada toilet, jadi tidak ada kemungkinan kalau sang pelaku yang seharusnya terkena cipratan darah dapat pergi ke toilet tanpa meninggalkan jejak apapun.”<br><br>Kini, Cheshire yang angkat bicara,<br>“Aku mengakui, kalau~ aku adalah Magician handal. Tetapi bukan berarti aku akan sampai membunuhnya, itu akan menghancurkan kesenangan,” Cheshire tersenyum lebar. Membuat beberapa orang memperlihatkan pandangan curiga padanya.<br><br>“Sekitar jam 5 pagi aku terbangun, mencuci muka lalu langsung pergi ke Arcade dimana hanya disitulah aku dapat mencari keseruan di pagi hari. Aku bertemu Ayato, dan Ayato pun tahu keberadaanku. Tanya saja dia, aku keluar dari sana jam berapa.”<br><br>Semua pandangan beralih ke Ayato yang sedang menyetel lagu Coffin Dance sambil nge dance ballerina, Ayato yang sempat mendengar Cheshire berbicara tadi mengangguk,<br><br>“Tepat seperti pengakuannya, ia keluar saat melihat Arisa lewat dari pintu Arcade. Aku dengar percakapan mereka, Cheshire menanyakan Arisa kemana dan Arisa menjawab. Cheshire meminta izin untuk mengikutinya dan ya, kesaksianku berakhir disitu.”<br><br>Giliran Runa sekarang yang memberikan saksi.<br><br>“Menemukanku di Ruang Musik bukanlah hal yang mencurigakan! Karena aku sangat suka bermain piano! Sekitar satu jam setelah kejadian— yakni aku dan Ryzen sampai ke Ruang Musik pada jam 4 pagi. Kalian tahu sendiri, kalian harus masuk terlebih dahulu untuk menemukan tubuh tak bernyawanya. Dan aku maupun Ryzen tidak melakukan itu sampai tragedi ini diketahui.”<br><br>Ryzen disana, sebagai sang <em>The Ultimate Componist</em>, ia mencoba berbagai hal untuk lagunya, juga menulis komposisi instrumental maupun vokal dan meneruskan orang lain untuk memainkannya.<br><br>“Kalian pasti tidak asing lagi. Aku komponis, aku menulis komposisi lagu juga untuk Runa. Aku juga bersamanya terus, tidak kemana-mana. Aku punya saksi mata, dan tidak punya kesibukan lain selain menulis komposisi lagu dan bermain gitar. Entahlah, aku tak punya motif selain itu, turut berduka cita.”<br><br>Arisa lanjut berbicara,<br>“Aku masuk kesana karena mencium bau amis. Ketika itulah aku masuk dan mengetahui ada mayat Arsenia tergeletak disana. Cheshire juga sempat shock, aku lihat sendiri!” <br>Setelah segala alibi serta bukti diperlihatkan disitu, mereka akhirnya menyimpulkan sesuatu.<br>“Monokuma!” Allan menyadarkan beruang hitam-putih itu untuk bangun dari tidurnya. <br>“Ufufufu, sudah menemukan pelakunya?”<br>“Tidak ada pelaku. Kalian seharusnya sadar daritadi, padahal baru kutinggal sebentar untuk melihat TKP sendiri.” Antasena berujar dengan dingin nan angkuh, ia baru sampai tepat ketika mereka mendapatkan jawabannya.<br><br>“Heeeh? Kok bisa?!” Beruang itu bergestur tanda tanya.<br><br>“Karena kejadian itu merupakan kecelakaan! Tidak ada yang mencelakainya, itu murni karena <strong>Arsenia terpeleset lantai dan terbentur ujung sisi meja!</strong> Dan itu ketika ia membuat <em>sesuatu</em>.” Arisa mengungkapkan kesimpulan mereka, yang dibalas tawa oleh Monokuma.<br><br>“Lama sekali kutunggu kalian berdebat, sampai bosan rasanya~ Omong-omong, jawabannya adalah—!!”<br><br>Perasaan-perasaan di ruangan itu tidak mesti dilihat dari raut wajahnya, tetapi hatinya. Yang tidak dapat berbohong, kalau jantung para murid disana berdegup kencang.<br><br>“— Benar! Arsenia tewas karena kecerobohan dirinya sendiri! Ufufufu, selamat, kali ini tidak ada yang tereksekusi!”<br><br>Helaan nafas lega terdengar dari para murid, akhirnya— mereka tidak menuduh siapa-siapa. Setidaknya, tidak ada yang berpikiran untuk membunuh orang secepat itu.<br><br>Namun rasa kecewa terasa di beberapa hati murid disana, bukan hanya Monokuma. Mengapa? Mereka menginginkan kesenangan— dan mereka ingin melihat bagaimana eksekusi itu dilaksanakan.<br><br>“Untuk sekarang, sepertinya kita mau tak mau hanya bisa melihat megalodon di akuarium sekolah, ya?” Allan mengerucutkan mulutnya. Ah, yang benar saja! Itu tidak menyenangkan sama sekali.<br><br>“Sepertinya begitu,” Aaron bergumam.<br><br>“Aku masih harus mengerjakan sesuatu, nih. Mau ikut?” Ayato tersenyum ~bak sinting~, membuat Allan dan Aaron mendelik curiga.<br><br>“Pasti tentang perwibuanmu kan? Tidak usah.” Aaron dan Allan berkata bersamaan. Tidak tentang obsesi tidak sehat sang wibu hari ini.<br><br>“Oh, ayolah! Ini akan menyenangkan!”<br>“Untukmu sih itu.”<br><br>Menganggap jika Monokuma akan membiarkan ia kalah ke-sekian kalinya? Ia telah belajar dari kesalahannya, untuk sekarang yang ia inginkan, keputus-asaan yang ia nantikan—<br>Membunuh mereka semua.<br><br>Jalan yang tidak diduga karena awalnya tujuan bunuh membunuh ini demi melihat mereka mendelik ngeri, trauma dan depresi. Tetapi, mengapa tidak tragedi SMA paling mengerikan sepanjang masa itu terulang? Lagipula Class Trial dan kelas bunuh-membunuh seperti ini bukan hanya itu event yang terjadi di sekolah ‘Hope’s Peak Highschool’ dan kita semua tahu apa yang terjadi pada Osis sekolah.<br><br>Sang dalang dibalik beruang hitam putih bernama Monokuma itu sedang menyilang foto-foto para murid dengan spidol merah.<br><em>Arsenia – selesai.</em><br>Jika kalian cukup jeli, kalian pasti mengetahui apa artinya.<br><br>Dan satu persatu murid-murid dieliminasi tanpa terkecuali,<br>Yuri, terbunuh akibat menonton video keputusasaan, menusuk jantungnya sendiri dengan <em>dart</em> kristal kebanggaannya.<br>Arisa, terbunuh karena racun yang sudah diberikan di sarapannya, di saat-saat terakhir, ia menuduh Arion sebagai pelakunya.<br><br>Arion, membunuh dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga Arisa, dengan menembak kepalanya sendiri dengan pistol yang tersedia di kamarnya.<br><br>Dylan, terbunuh oleh Antasena yang menganggapnya tidak berguna. Dan Antasena sendiri menyusulnya ketika Monokuma mengeksekusinya.<br><br>Ayato ter-<em>mindslave</em> lalu membunuh Allan menggunakan katana yang dimiliki oleh Allan— tidak diketahui mengapa, lalu Ayato membunuh dirinya sendiri setelahnya tanpa ada instruksi.<br><br>Aaron tereliminasi setelah kekurangan tidur, karenanya terjadi kerusakan otak, Aaron meminta Runa membunuhnya karena menunggunya mati itu akan lama, sehingga Runa memenuhi permintaannya lalu tereksekusi setelahnya.<br><br>Tetapi, setelah semua pembantaian ini, riwayat mereka belum selesai.<br><br><strong>Ada satu tempat lagi yang perlu mereka tuju.</strong><br><br>Allan terbangun, terengah-engah seperti telah mendapat mimpi buruk di tidurnya. Ya— gambaran dimana Ayato membunuhnya itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi, bahkan rasa nyerinya masih terasa hingga saat ini.<br><br>Apakah ini alam baka? Apakah ia sedang koma, atau justru mati? Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dan …<br><br><em>APA-APAAN DIA MEMAKAI JUBAH ALA NENEK SIHIR BEGINI?!</em><br><br>Tunggu! Kejanggalan lainnya tidak hanya itu, ia juga berada di tempat yang amat-amat … Entahlah, bagaimana ya cara mendeskripsikannya? Mirip sebuah istana— namun ini terlalu punya <em>vibe Dark Academia</em>. <br><br>Kalian paham kan yang background _aesthetic-aesthetic_ itu? _Dark Academia_? Nggak? .. Anak planet mana lu?<br><br>Oke lupakan, megahnya arsitektur disana cukup membuat Allan menganga sampai keselek lalat yang bisa bicara ...<br><br>_De fak?_<br><br>“Lihat-lihat dong kalau mau mangap! Ga sopan!” Gerutu lalat tersebut sambil melayang pergi meninggalkan Allan yang bertanya-tanya.<br><br>Allan beranjak dari duduknya, seperti yang diketahui— dia bangun dari ‘mimpi buruk monokyumah’ dengan posisi terduduk di suatu tempat. Mejanya terbuat dari kayu, bukan dari emas. Menandakan dia tidak sedang berperan menjadi penguasa yang royalty dan kaya raya. Apalagi penguasa yang tukang nguras abisss duit rakjyat— _sip, tidak perlu kita bahas._<br><br>Dia merasa berada di dunia lain, bukan dunia ghaib tetapi bukan dunianya; yang sekali lagi terbukti benar. Ketika dia berbelok di persimpangan lorong, ia bertemu seekor tikus hitam yang sedang menganiaya bebek putih.<br><br>“MIKIMOS?! DONAL TR— DUCK?!”<br><br>Allan berteriak kegirangan, ~masalahnya~ pasalnya Allan secara tidak langsung adalah penggemar berat tokoh buatan Disney itu mengingat dia sangat _doyan_ menonton animasi sebelum siaran televisi perusahaan besar itu ditarik kembali, lantaran munculnya aplikasi bernama _Disney+_ yang memungkinkan penggunanya menonton segala tayangan dari Disney maupun perusahaan animasi lain yang bekerja-sama dengan pihak mereka. Tapi apa? Bayar dulu donks kaka, lu kira bikin animasi bisa sekali jadi gitu?<br><br>Si tikus dan bebek yang merasa terpanggil segera menoleh,<br><br>“Kira-kira siapa ini yang mengganggu kegiatan kita, Donald?” Mikimos tersenyum sinting sembari tetap mencekik Donal duk yang sebentar lagi sakarotul maut.<br><br>“LEPASIN DONAL DUK! DASAR TIKUS BERJUBAH!” <br><br>Mikimos mengeluarkan kekehan ikoniknya,<br>“Siapa yang kau panggil tikus berjubah, entitas bedebah?”<br><br>Allan pun akhirnya berantem dengan Mikimos, melupakan misinya untuk mencari tahu lebih lanjut dunia yang entah kenapa ia terdampar disana.<br>Sedangkan di lain sisi, Dylan yang awalnya nyawa melayang karena di knock Antasena itu sekarang berguna. Disinilah spesialisasinya— dunia Harpot. Lokasi terkini mereka sekarang berada di Hogwarts, dan jangan tanya aku kenapa ada Mikimos dan Donal duk.<br><br>Melayang-layang dengan sapu terbang, Dylan memberi arahan dan jalan kepada si pengejar _the golden snitch_ agar tidak terkena _bludger._ Ia juga mencetak poin menggunakan _Quaffle_ dan bersusah payah untuk memenangkan pihak _team house_ -nya yakni Gryffindor. Dia adalah andalan tim-nya, jadi sebutan ‘the ultimate Quidditch Bludgers’ terlekat di nametag bajunya.<br><br>Sekali lagi, tidak kalah hebat dari Cedric yang menjadi kapten Qudditch ber- _team house_ Hufflepuff, Gryffindor menang berkat dirinya dan kawan-kawannya juga.<br><br>Sementara itu, di salah satu kursi penonton yang terletak di pilar menjulang stadion itu, terlihatlah Antasena. <br><br>“Permainan ini … Kuno sekali.” Ia bergumam tidak suka, ia sebenarnya kesini untuk melihat Dylan— awalnya ingin meminta maaf, tetapi batinnya berkata jika ia telah melakukan hal yang benar sedari awal. Salah siapa jika Dylan bahkan tidak membantu apa-apa?<br><br>Seorang perempuan menyusul di belakangnya, berambut hijau dikuncir kuda dan bermata merah membawa buku mengenai ‘Cara mengutuk orang idiot menjadi batu tanpa menjadi ibu mereka’<br>Antasena yang menyadari keberadaan perempuan itu memicingkan mata,<br>“Aku tidak melihatmu di Hope’s Peak Highschool, kenapa kau tiba-tiba muncul, Aiko?”<br><br>Perempuan itu terkekeh pelan, lalu menjawab,<br><br>“Aku bertanya hal yang sama pada kalian, kenapa kalian juga tiba-tiba muncul disini?”<br>Antasena hanya terdiam, ia sendiri tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Rasanya seperti diteleportasikan sembarangan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, itu pun entah siapa pihak yang bisa ia salahkan.<br><br>“Oh, iya. Kenapa sih sebenarnya kau bermulut pedas dan agak terkesan kasar?” Aiko sendiri penasaran. Sangat penasaran jika kalian menginginkan jawaban yang berlebihan, dan jawaban Antasena ialah,<br><br>“Aku baik kepada orang yang pantas menerimanya, camkan itu.”<br><br>“Jadi, aku tidak cukup baik?” Aiko bertanya lagi, dengan selingan tawa ringan. Antasena mengangkat bahu,<br><br>“Menurutmu? Tiba-tiba muncul dan terkekeh tidak menimbulkanku curiga?”<br><br>“Ah, maaf kalau begitu!”<br><br>“Berhentilah tertawa, tidak ada yang lucu disini.”<br><br>Meninggalkan Antasena dan Aiko, akhirnya kita berlanjut ke Ayato yang entah kenapa sekarang memakai jubah bercorak mega mendung merah khas Jepang, dan bukan Cirebon.<br><br>“Aah, kepalaku …” Ayato bergumam kesakitan, tidak dipungkiri kalau kepalanya sakit seperti ditimpuk batu seukuran rumah Petrik Star. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, terakhir kali ia hanya mengingat kalau ia bermain game klasik Pac-man kolaborasi dengan selera lokal dan game rhythm. Jadilah BaPac-man Java Edition, dengan lagu pilihan yakni Hatsune Miku – Sambalado, cara bermainnya yaitu seperti Pac-man pada umumnya. Hanya saja rute pelariannya dari hantu warna warni gei itu ada _tiles_ nya yang perlu ditekan.<br><br>Baiklah, tidak perlu kita bicarakan lebih lanjut. Yanto— maksud saya, Ayato Komaedi melihat kesana kemari. Dimana ini? Apakah dia ada di Azkaban?<br><br>Ia melihat kearah kanan, oh! Terdapat sebuah jeruji yang terkunci. Yang berarti dia sedang dipenjara, tetapi atas dasar hukuman karena apa? Lho, berarti bener dong di Azkaban? <br><br>Bukan seperti memakai baju tahanan hitam putih seperti rambut beruban setengah terbakar, ia jelas memakai baju AkatNeykah.<br><br>Kalian tahu ‘kan, AkatNeykah? Itu, Organisasi penjahat yang suka menculik pemuda dan pemudi agar dipaksa mengikuti acara Akad Nikah. Dan detektif Cimory dan detektif kinan-ti diutus untuk mencari keberadaan organisasi tersebut, yang identik dengan jubah hitam bermotif mega mendung berwarna merah khas jepang— dan anehnya, bukan Cirebon.<br><br>“OSENGAN SIRIHKEN!” Ayato berteriak, dan muncullah wajan berisi daun sirih dioseng. Ia lalu meminum lalu menyemburkannya ke jeruji besi. Seperti yang diduga, jeruji itu meleleh. Tidak jelas karena daun sirih oseng, wajan ajaib, atau air liur Ayato yang terlalu nerakawi.<br><br>“YAHUUU! NAGA BONAR, AKU DATANGGG!”<br><br>Dan mulai dari situlah Ayato menjejaki Azkaban demi mencari Naga, dan bukan mencari si _gapunya-idung-yang-awalnya-ganteng-tapi-Redflag_.<br>Saatnya minggat, singkat cerita— misi mereka disana merupakan bermain Quidditch, kini _house_ yang mereka para pendampar asing bukanlah yang mereka bela. Mereka punya sirkel- maksud saya, kelompok mereka sendiri untuk diperjuangkan. Jika mereka gagal? Mereka akan terjebak dalam dimensi ruang dan waktu, siapa yang tahu kemana mereka akan dibawa selanjutnya? Tidak lucu kalau mereka dibawa ke dunia _The Jungle_ atau _Lion King_.<br><br>Kembali ke cerita, mereka akan bertanding dengan …<br><br>Kelompok Animasi! Dimana ada Mikimos, Donal Tr— Duk, Junko Enongsima, Ryomang Hoshee-hee, dan tiga orang lainnya yang aku tidak tahu namanya siapa. Silahkan imajinasi sendiri.<br><br>Kelompok Realiti! Dimana ada Dylan, Allan, Ryzen, Elenio, Aiko, dan lainnya. Seperti biasa— _si penulis mengejar waktu deadline._<br><br>Dimana yang lainnya? Mereka tidak hanya menonton— mereka mengawasi, katanya sih begitu ..<br>Permainan dimulai ketika _Quaffle_ dilemparkan, dan _The Golden Snitch_ terbang sangat cepat, serta dua _Bludger_ yang akan menjadi halangan kedua tim. Ketika _Quaffle_ dilemparkan keatas, bola itu ditangkap oleh Ryzen lalu ngueeeng mbem mbem dilemparkannya ke ring terdekat, mencetak poin tidak lama setelah waktu dimulai— mengagumkan! Lalu bola itu dibawa oleh Mikimos yang mendorong Elenio dengan keras, namun karena keberuntungannya, alih-alih jatuh, ia menyenggol dua anggota tim Animasi lalu membuat sapu terbang mereka patah dan akhirnya mereka didiskualifikasi.<br><br>“Ohoho, dua troll dari Frozen itu memang tidak berguna, sama sepertimu, Donal Duk!” Mikimos tertawa tidak senang; cenderung kesal dan sempatnya merendahkan anggota timnya sendiri.<br><br>Ketika troll ke bangku penonton dalam perasaan sedih, Antasena mendatangi mereka dengan senyuman misterius, melancarkan aksi manipulatifnya serta Runa disana untuk memprovokasi.<br><br>“Kalian memang tidak berguna, tetapi bukankah lebih baik jika melawan Mikimos? Tidakkah kalian lelah?” Antasena membuka suara dengan nada sedih dan prihatin yang dibuat-buat— tetapi merupakan akting yang baik.<br><br>“Waktunya untuk membalas dendam, Trolls? Kalian diperalat, dengar kataku? Diperalat. Mikimos akan membuang kalian ketika kalian tidak berguna lagi, seperti sekarang ini.” Runa memprovokasi, mengompori hingga kedua Trolls itu setuju untuk bekerja sama.<br><br>Kembali ke kondisi permainan Quidditch, Aiko mengejar dan meraih _The Golden Snitch_ sekuat tenaga sebelum milik kelompok Animasi berhasil melakukannya, sial! Bola bersayap itu benar-benar menyusahkan!<br><br>Dylan mencoba memberikan arahan supaya _bludger_ itu terbawa dan tidak mengenai teman se-tim nya. Meliak meliuk sanggup membuat bludger itu nabrakin Donal Duk.<br>Lalu Donal pun mendarat darurat.<br>“Aku memang pemalas, tetapi soal Quidditch, jangan ragukan aku.” Ucap Dylan sambil berpose ala-ala _westerner_ berkuda. Cihuy!<br><br>Namun, saat sebelum tim realiti berhasil memenangkan pertandingan— robot sangat besar menghancurkan setengah dari stadium dimana Quidditch diselenggarakan. Untungnya tidak ada orang disana, sehingga korban tidak berjatuhan.<br><br>“KALIAN TIDAK AKAN KELUAR DARI SINI!” Mikimos berteriak histeris, sangat sangat marah karena rencana apiknya dihancurkan oleh bocah SMA (yang bertalenta).<br><br>_Minion-minion_ robot pun keluar dari robot besar tersebut, memperlihatkan penjahat botak plontos yang di serial Sonyik de hejhog. Udah kepala plontos, gendut pula. Mengerikan.<br><br>“ANAK-ANAK ROBOTKU YANG TERSAYANG, HABISI MEREKA!”<br>Teriaknya mengomandoi. Para murid SMA bertalenta itu pun menyiapkan diri, bisa saja ini perang terakhir antara mereka dengan karakter animasi yang rusak ini.<br>Ryzen dan Dylan sepakat mengarahkan bludger yang masih terbang ke arah robot robot itu, YIHAAAA!! Terpangkas dua barisan penuh, mampus lo HAHAHAHAHA!<br><br>Runa dan Antasena bekerja sama dengan kedua Troll, meminta izin menjadikan mereka bola bowling. Kedua Troll menyetujui, dan setelah mereka berdua saling mengangguk, mereka bermain bowling menghancurkan robot-robot itu sembari melawan _chaotic_ yang tak ada habisnya.<br><br>“DENGAN INI, PERTUNJUKAN TERAKHIR!” Suara Mikimos menggelegar, jelas sekali wajahnya sudah terdistorsi kejahatan dan dosa. Sinting pula, kayak Nagitod obsesi terhadap harapan.<br><br>“LEDAKKAN, AYO KITA MATI BERSAMA!”<br><br>Murid SMA itu terbengong ria, hah? Hoh? HEEEE? ROBOT BESAR ITU? BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA AKAN MENGALAHKANNYA DENGAN WAKTU SINGKAT?!<br><br>Aaron masih bersusah payah mencari cara, apalagi Allan yang kelewat panik.<br>“AAAAAAAA HIDUPKU SIA-SIAAA!”<br><br>Ditaplok Aaron yang kemudian mencengkram kerah bajunya,<br>“Mari kita berlarian di surga, itupun kalau kita masuk surga.”<br><br>Dengan jempol tanda oke dari Allan, mereka berdua pun akhirnya pasrah menerima kenyataan. Tidak sebelum muka mereka tertaplok tali rafia.<br><br>“ANJ – SIAPA ITU?! OH?” Allan melihat kearah atas tali itu dan terlihatlah Ayato dengan jubah AkatNeykah mengendarai Elang Indosiar, konon katanya naga bonarnya sudah pensiun. Jadi digantikan Elang Indosiar yang tak kalah perkasa.<br><br>“CEPAT NAIK KE TALI RAFIA! KITA AKAN MENEMBUS AWAN DAN MASUK KE DUNIA ISEKAI PENUH CEWE CEWE DAN JANDAAAA” Teriak Ayato sembari melambaikan tangannya.<br><br>“Yah, gajadi mati.” Allan mengerucutkan mulutnya, yang hanya bisa punggungnya di _puk-puk_ oleh Aaron.<br><br>“AYO, KALIAN SEMUA, NAIK!” Aaron kini berteriak ke semuanya yang hampir hilang harapan hidup. Akhirnya semua mendengarnya dan memegang tali itu layaknya ingin tarik tambang.<br><br>Setelah semuanya terseret dan diangkut oleh Elang Indosiar, akhirnya mereka terbang meninggalkan stadion itu yang akhirnya meledak bagai bom Hiroshima dan Nagasaki epic comeback.<br><br>Jika kalian bertanya-tanya dimana Arsenia, dia sudah kembali ke dunia asli. Namun berpura-pura tidak mengetahui apa-apa dan pergi meninggalkan mereka, sungguh sebuah insting seorang wanita _scumbang_.<br><br>Di luar perkiraan, ternyata matahari jatuh mengarah ke mereka.<br><br>*_“AAAAAAAAAA”_*<br><br>Dan akhirnya semuanya tamat.<br><br><br><br>Gak ding, setelah itu semuanya terbangun di tempat mereka awalnya menjalani aktivitas di sekolah.<br><br>“Ayato? Allan?” Aaron menampar kedua temannya itu yang asyik meng- gei— MAKSUD SAYA, mengturu dengan gaya.<br><br>Terbangun dengan iler, Ayato terbelalak dengan wajah seperti orang sehabis menghisap ganja. Sedangkan Allan masih pusing goyank dumank. <br><br>Aaron memeluck mereka berdua (No homo) dan akhirnya cerita benar-benar selesai.<br><br>Oiya, Elenio ketinggalan di dunia Harpot. Tapi tenang, dia seminggu kemudian kembali dengan membawa Naga Bonar yang sudah pensiun, mereka jadi besti.<br><br><strong>(Tamat)</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:06:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253093051</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keajaiban Dalam Sehari</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253093933</link>
         <description><![CDATA[<div>Kenapa hari hanya mempunyai 24 jam? Kenapa tidak bisa sampai 25 jam? Oh atau kenapa ga sampai 23 jam saja? Semakin aku mendengar detak jam itu semakin diriku muak dengan pendengaran ini.&nbsp;<br><br>• *:･ﾟ✧*:･ﾟ✧&nbsp;<br><br>-Jauh. Ini tidak akan menceritakan tentang seorang gadis kota&nbsp; yang suka nongkrong saat pulang dari kegiatan ekstrakulikuler mereka ataupun pulang dari rumah teman selepas bermain game bersama.&nbsp;<br><br>Melepaskan pandangan dari hal itu, menyalangkan tatapan. Berpusat pada seseorang tidak bukan seseorang tapi beberapa orang yang jauh dari pusat kota.<br>Desa yang bahkan orang kota tidak menyadarinya.&nbsp;<br><br>Kejadian ini menimpa seseorang gadis yang bahkan tidak diketahui umurnya, tpi terlihat sepantaran gadis remaja. Tidak ada yg bisa mendekatinya. Bahkan rumahnya saja enggan di masuki orang-orang.&nbsp;<br><br>Gadis itu sang penjahit. Tetapi dia terlalu mempunyai muka untuk itu.&nbsp;<br><br>Cling....&nbsp;<br><br>Menengok. Tidak ada yang patut untuk di beri sambutan. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda itu.&nbsp;<br><br>"Di sini, apa ada kain rajut yang di jual per meter?"&nbsp;<br><br>Belum juga benar-benar memasuki toko itu. Gadis dengan surai putih itu hanya berdiri di ambang pintu. Merasa perlu di perhatikan, pemilik toko itu menengadah. Dengan seksama melihat gadis itu. Sebelum akhirnya dia mencari yang di sebut gadis itu.&nbsp;<br><br>"Mungkin, ini."&nbsp;<br><br>Gumam pemilik toko itu. Mengambilkan dan meletakan di atas meja. Menyingkirkan pekerjaan sebelumnya.&nbsp;<br><br>"Apa ada warna LightCyan?"&nbsp;<br><br>Mendekati sang penjual, Rena nama gadis itu, sebisa mungkin seramah mungkin. Padahal seharusnya sang penjual yang memberikan senyuman hangat untuk menyambut tetapi di sini benar-benar berbeda dari toko sebelum-sebelumnya yang dia masuki.&nbsp;<br><br>Hawa di sini terlalu, sepi dan dingin.&nbsp;<br><br>"Sepertinya, aku menyimpannya terpisah."&nbsp;<br><br>Di tinggal sendirian, Rena hanya mengamati apa yang ada di toko ini. Hanya kain tergulung dan terlipat-lipat pada tempatnya, bukan hanya itu banyak sekali benang-benang warna-warni. Walaupun begitu di sini hanya ada dirinya dan juga pemilik toko itu. Tidak ada pembeli lain.&nbsp;<br><br>"Apa yang ini?"&nbsp;<br><br>Tatapan kosong. Penjual itu memilikinya. Rena terdiam mengamati seksama. Padahal dia cantik sama seperti hasil olahan baju yang di buat.&nbsp;<br><br>"Akhirnya ketemu! Berapa harga per meternya?"&nbsp;<br><br>Berdiri menghadap, menatap sang pembeli. Evalocky -nama gadis itu menghela napas. Berpikir, harga berapa yang pas.&nbsp;<br><br>"Kamu mau menawar berapa? Aku menerima tawaranmu. Kamu pelanggan pertama untuk hari ini."&nbsp;<br><br>Rena agak tersentak. Memiringkan kepala condong kanan, mengusap pelipis kanannya sekaligus.&nbsp;<br><br>Yang benar?&nbsp;<br><br>"Segini cukup?"&nbsp;<br><br>Meletakan beberapa lembar uang, Evalocky meraihnya kemudian.&nbsp;<br><br>"Cukup." Angguknya pelan.&nbsp;<br><br>Tidak begitu memikirkan apa saja yang baru terjadi. Rena sembari berjalan keluar toko berucap beberapa kata.&nbsp;<br><br>"Kalau kamu menjual begini maka kamu akan bangkrut lo. Besok aku akan datang lagi."&nbsp;<br><br>"Besok?"&nbsp;<br><br>Entah apa yang terjadi besok, tapi hari ini telah membuat bisa membuat senyum simpul atas ucapan gadis itu.&nbsp;<br><br>• *:･ﾟ✧*:･ﾟ✧&nbsp;<br><br>Namaku. Tidak aku hanya manusia yang memiliki nama. Tetapi namaku agak berbeda dari nama kebanyakan orang.&nbsp;<br><br>Evalocky. Siapa yang tidak mengenal diriku. Mungkin. Hal yang tidak bisa lepas dariku adalah "sang penjahit boneka" bukan karena aku suka membuat boneka tetapi lebih ke "tatapan" yang membuat simpang siur tentang diriku.&nbsp;<br><br>Tenang dan damai. Sahabat setia sepanjang masa. Itu yang aku pikirkan tetapi sepupu-sepupuku memberikan pelajaran yang tidak bisa di nilai sepantaran emas harus lebih dari itu.&nbsp;<br><br>Hari ini, bersahabat dengan hari. Kegiatan yang berulang kali. Itu yang aku pikirkan sebelum seorang gadis surai putih itu memasuki toko dan bertanya 'apa di sini ada kain rajut yang di jual per meter?' Seakan ada keajaiban telah terjadi. Pikiran yang tidak bisa di ajak kompromi.&nbsp;<br><br>Setelah gadis itu meninggalkan toko, diriku masih melihat bayang-bayang gadis itu. Dia benar-benar cantik, pikirku. Sebelum lamunanku tersadar diriku sempatnya mendengar hal itu lagi.&nbsp;<br><br>• *:･ﾟ✧*:･ﾟ✧&nbsp;<br><br>" La~ La~ La~"&nbsp;<br><br>Burung-burung hinggap di ranting pohon-pohon sekitaran situ. Suara itu terdengar begitu merdu hingga burung-burung merasa terpanggil.&nbsp;<br><br>Tidak ada panggung, tidak ada pula sebuah mic. Dia hanya duduk di salah satu tempat penunggu kemudian bernyanyi.&nbsp;<br><br>Cemetery. Apa yang bakal kau bayangkan bila mendengar kata itu? Batu nisan? Ataukah sebuah gundukan tanah? Jawabannya pasti salah satu dari itu. Tenang kita memang berada di situ sekarang.&nbsp;<br><br>Gadis yang bahkan tidak tau asal muasal itu melakukan nyanyiannya di situ. Aneh tetapi nyata. Tidak ada yang melarangnya juga, tetapi ini sangat tidak lazim.&nbsp;<br><br>Evalocky sering berpikir kemana tempat yang bakal mengubah pemandangan matanya. Entah kenapa di hari itu setelah dia melayani satu pembeli, dia memutuskan untuk pergi ke pemakaman. Bukan mau melayat atau berkunjung tetapi memang hanya keinginan hati. Tempat aman, damai, tentram, itu yang terlintas di kepala gadis bersurai dark blue itu. Tanpa menunggu waktu lama, menyeret kakinya hingga mencium aroma tanah pemakaman.&nbsp;<br><br>Berkeliling secara teliti, tidak ada jalan setapakpun terlewat. Sebelum pendengaran teralihkan ada lantunan melodi nyanyian samar-samar.&nbsp;<br><br>Mencoba memperjelas pendengaran, Evalocky terdiam di tengah-tengah jalan setapak yang di mana setiap kuburan memiliki corak bunganya masing-masing berbeda dengan jalan sebelumnya yg hanya sekumpulan tanah dan batu nisan. Tidak ada riasan apapun.&nbsp;<br><br>"Suara."&nbsp;<br><br>Mencoba mencari asal suara. Evalocky berjalan sembari mengikuti suara itu, hingga akhirnya menemukan seorang gadis bernyanyi di salah satu kursi ujung pemakaman. Tidak bermaksud mengganggu gadis itu, Evalocky terdiam tidak menimbulkan suara sama sekali atau memang sifatnya begitu.&nbsp;<br><br>"La~"&nbsp;<br><br>Nada terakhir, lirik terakhir terucap. Menghela nafas terdalam mencoba menenangkan diri, gadis itu kemudian agak tersentak saat mengetahui tidak jauh dari dia duduk termenung seseorang gadis yang terlihat sepantaran.&nbsp;<br><br>"Hallo?"&nbsp;<br><br>Agak bingung memberikan sapaan, hati itu agak berdegub kencang kali ini.&nbsp;<br><br>"Halo."&nbsp;<br><br>Setelah itu tidak ada percakapan lain lagi setelahnya. Burung-burung yang hinggap di ranting pohon juga sudah pada bubar setelah lagu di nyanyikan telah habis.&nbsp;<br><br>"Apa kamu? Mm... lagi melayat? Atau lagi berkunjung saja?"&nbsp;<br><br>Gelengan pelan terlihat, "hanya ingin jalan-jalan."&nbsp;<br><br>Jawaban sungguh tidak bisa di mengerti. Chleo, gadis itu hanya mengejapkan matanya beberapa kali. Tidak mengerti apa yang di maksud gadis di depannya.&nbsp;<br><br>Emang ada ya yang jalan-jalan di kuburan?&nbsp;<br><br>Tidak mengubris tatapan itu, Evalocky menunjuk tempat kosong di samping gadis itu, Chleo mengerti isyarat itu dan hanya menepuk memberikan tempat gadis itu.&nbsp;<br><br>Seketika keheningan melanda lagi kesekian kalinya. Evalocky dari dalam tas mengeluarkan kain rajutan yang dia bikin barusan di toko, benar-benar skill di atas rata-rata para penjahit.&nbsp;<br><br>"Hebat. Kamu menjahit kain itu sendiri."&nbsp;<br><br>Dengan lihai Evalocky mencoba membuat pola kain rajut itu. Mendengar pujian itu entah kenapa hatinya agak senang mendengarnya.&nbsp;<br><br>Baru beberapa kali merasa usahanya di puji&nbsp;<br><br>Tidak ada kegiatan yang bisa di lakukannya, Chleo mengeluarkan beberapa lembar kertas lirik lagu yang ternyata di letakan pada sampingnya.&nbsp;<br><br>"Mau mendengarnya?"&nbsp;<br><br>"Kalau di bolehkan, kenapa tidak?"&nbsp;<br><br>Ceplos Evalocky. Merasa seperti melakukan sebuah kesalahan dengan segera menutup mulutnya dengan lengan baju. Merenung, apa yang sedang terjadi dengannya.&nbsp;<br><br>"Tidak masalah."&nbsp;<br><br>Lantunan nyanyian itu membuat hati yang mendengar merasa stabil. Seperti tidak ada beban dalam rangkulan pundak ini. Sirna begitu saja. Kenapa hari ini begitu banyak keajaiban 1 kali dalam seumur hidup.&nbsp;<br><br>Setelah lagu selesai, kain rajut milik Evalocky juga terlihat udah setengahnya. Benar-benar lagu yang indah di mainkannya.&nbsp;<br><br>"Gimana? Aku merasa ada yang kurang."&nbsp;<br><br>Elaknya, terlihat juga wajahnya sedikit murung. Kalo Evalocky bisa meniru sifat sepupu jauhnya mungkin dia akan mengatakan, 'Apa yang kamu bicarakan, itu terlalu bagus hingga hati ku ikutan bernyanyi.' Mungkin sepupunya bakal mengatakan itu pikirnya, tapi dia adalah dia.&nbsp;<br><br>"Bagus." Kata singkat mendeskripsikan semuanya.&nbsp;<br><br>"Makasih."&nbsp;<br><br>Chleo meletakkan kembali kertas-kertas itu.&nbsp;<br><br>Terdengar helaan nafas seseorang. Evalocky sepertinya memikirkan sesuatu yang lain sehingga dia berulang kali melakukan kesalahan, terlihat dia selalu&nbsp; mengulang kain rajutnya setelah 3 sampai 4 kali rajut.&nbsp;<br><br>"Kelelahan?"&nbsp;<br><br>Chleo harap gadis ini mau berbicara panjang lebar dengannya bukan sepatah dua patah saja.&nbsp;<br><br>"Mungkin."&nbsp;<br><br>Pandangan keduanya teralihkan dengan suara langkah kaki yang terdengar mendekat.&nbsp;<br><br>Hey, bukan kah itu gadis-&nbsp;<br><br>"Chleo, aku mencari dari tadi lo. Eh - "&nbsp;<br><br>Merasa mengenal gadis yang di samping itu, Rena tersenyum ramah.&nbsp;<br><br>"Kita ketemu lagi."&nbsp;<br><br>Evalocky senang melihat Rena kembali tetapi tidak bisa dia ekspresikan untuk kesekian kalinya.&nbsp;<br><br>"Kalian kenalan?"&nbsp;<br><br>Tidak mengerti situasi, Chleo seperti tercampakan di sini.&nbsp;<br><br>"Tidak juga. Dia menjaga toko yang menjual kain rajut dengan harga murah."&nbsp;<br><br>Tidak ada respon yang berarti yang terlontarkan oleh Evalocky. Chleo hanya mengangguk, mengerti sekarang dengan maksud Rena.&nbsp;<br><br>"Ga pulang? Belanjaanku dah lengkap nih."&nbsp;<br><br>Berdiri melangkahkan kaki merangkul Rena. Chleo membalas ucapan gadis surai white itu dengan tindakan. Tapi sebelum meninggalkan tempat itu, Rena mengundang secara spontan.&nbsp;<br><br>"Mau makan bersama? Sekalian sebagai perkenalan satu sama lain."&nbsp;<br><br>Rena mengulurkan tangannya. Evalocky yang melihat itu hanya termenung kesekian kalinya. Entah apa yang dia pikirkan tetapi dengan ragu tangan gadis itu mau menerima tetapi terhalang. Melihat hal itu, Rena langsung menarik tangan Evalocky. Mengenggam kuat, bahwasanya tidak apa-apa.&nbsp;<br><br>"Ga perlu takut. Kami bukan mau memakanmu ya."&nbsp;<br><br>Dengan begitu mereka bertiga meninggalkan tempat itu, Evalocky tangannya malah di genggam.&nbsp;<br><br>Begini ya rasanya mempunyai teman?&nbsp;<br><br>• *:･ﾟ✧*:･ﾟ✧&nbsp;<br><br>Evalocky berdiri di sebuah jam. Menatap tajam detak jarum jam itu. Entah apa yang dia lakukan.&nbsp;<br><br>"Aku bisa melakukan hari yang tidak berulang rupanya. Kamu tidak bisa memperdaya waktuku lagi. Aku juga sudah muak dengan pendengaran ini."&nbsp;<br><br>Penjahit yang membuat kain itu adalah sebuah model untuk olahannya. Manekin tanpa ekspresi yang menunggu keajaiban dalam sehari.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:08:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253093933</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Summer</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253096311</link>
         <description><![CDATA[<div>Warn :&nbsp; agak ngandung perbelokkan, tapi gak belok. Harap di tanggani dengan bijak.<br><br>—<br><br>Terik matahari menyengat dikulit putih susu milik anak kecil bersurai putih, kedua tatapan beda warna tertutup dalam helaian poni. <br><br>Tubuhnya membungkuk, hari ini sangat panas. Dan dia diseret ke taman bermain sama kakak tidak waras yang dia kenal bernama Kai, ingin dia mengumpati kakaknya itu. <br><br>Tapi Zai tidak bi-- atau jelasnya dia percuma saja, Kai bakal benar-benar menulikan indra pendengarannya. Dan Zai hanya mengikuti dari belakang. <br><br>"Zai! Zai!" Sahutan nada ceria terdengar dari Kai yang berada diseberang, Zai hanya menatap malas dan memberikan jari tengah sebagai balasan. <br><br>Tapi malah mendapatkan Kai tertawa sambil memegang perutnya, apa-apaan ini? Kenapa orang aneh itu (Kai) tertawa pada tindakkannya yang tak ada nuansa vibes lucu. <br><br>"Hahaha..Zai-Zai! Ayoo!!" Kai diseberang merengek kepada Zai yang berjalan lambat ke siput, ini adalah pesisir pantai dan kai menariknya dari dalam kamar buat kumpulin kerang? <br><br>Tuhan, biarkan Zai berteriak untuk kali ini saja. Dia ingin kakaknya di ganti sikap kalau bisa selamanya gak apa, Zai bakal tenang kalau kakaknya ada setitik kewarasan. <br><br>Zai membuatkan gerakkan tangan mengusir, mengirim kode untuk Kai duluan yang pergi. Tapi sialnya niatan baik dari Zai tak diterima dengan baik, Kai di seberang lansung berlari bagaikan anak anjing diberi tulang sama tuannya. <br><br>"Kau lambat!" Keluh Kai sambil mengembungkan pipi, lalu menarik Zai untuk berlari. Yang mau tak mau membuat Zai sang beruang berjalan itu terpaksa melepaskan beban berat dikakinya. <br><br>"AHH~~ INI MENYENANGKAN!" Kai menatap kearah Zai, tepar dengan kondisi mengenaskan. Kulit putih susu nyaris kepucat itu memerah, Kai jadi membayangkan kalau Zai adiknya adalah udang bakar asam manis yang siap disantap. <br><br>"Matamu" balas adiknya sewot, membuka botol <em>ramune</em>. Meneguknya secara kasar, tapi Kai nikmatin aja suara <em>glek-glek</em> itu. <br><br>Toh apapun dari adiknya adalah hal terbaik, serta satu fakta yang perlu diingat. Kai menggunakan kedok nyari kerang buat menyeret Zai untuk tidak berdiam diri didalam kamar dengan tidur memeluk boneka beruang. <br><br>Zai menatap Kai sesaat sebelum memukul kepala itu dengan botol <em>ramune kosong</em>, menyadarkan isi kepala Kai dari lamunan fantasi liar tentang Zai. <br><br>"Itu sakit tau!" Kai mengusap kasar jidatnya, sedangkan Zai malah acuh dan meminum <em>ramune</em> kedua miliknya. Kai mengembungkan sebelah pipi, membuat gestur ngambek. <br><br>Zai memutar bola mata malas, Zai punya harapan kalau dia akan lebih senang jadi anak tunggal dibanding mengurus kakak yang bertingkah bocah. <br><br>"Aaa~~~ Zazai mengcuekkan ku!!" Nada merengek menusuk pendengaran suci Zai, tubuhnya merinding. Kuduknya berdiri mendengar nada manja dengan nilai plus halal dipukul. <br><br>"Ughh!! Kau! Kau! Menyakiti lubuk hatiku!!" <em>ramune</em> dalam mulut Zai reflek menyembur dari mulutnya, bagai semburan mbah dukun ucap mantra. Lirikan <em>intens</em> ditujukan pada Kai, kini sosok kakaknya bergelayut manja dilengan kirinya. <br><br>"Kai, kau mengesalkan" ucap Zai mendorong kasar Kai menjauh dari lengan bersih dan <em>beauty</em> Zai. Tapi Kai malah memperkokoh diri dengan tetap memeluk lengan adiknya walau sudah diberlakukan kasar sekalipun. <br><br>Bahkan Zai tak segan-segan menarik rambut kakaknya atau melakukan tindakkan keji lainnya. Tidak untuk ditiru bagi saudara yang punya hubungan baik. <br><br>"Aa- jangan gitu dong!" <br><br>"Lepaskan aku, sialan!!" Zai semakin mendorong brutal Kai tapi Kai tak kalah kuat menahan lengannya, sehingga mau tak mau membuat kedua saudara itu terlibat dalam posisi aneh. <br><br>Kai berada diatas Zai, rambut hitam legam Kai dibasahi keringat, peluh menetes dari sisi wajahnya. Tatapan tajam tapi lembut dia tujukan pada adiknya dibawah. <br><br>Nafasnya memburu tak teratur, perut yang memiliki perpotongan rapi itu menambah kesan 'waah'. Zai dibawah Kai mempasrahkan dirinya terkena keringat Kai, tatapan matanya tak bisa menatap kearah Kai atau tepatnya ketika Zai ingin menatap kearah Kai dia terfokus ke perut roti sobek milik kakaknya. <br><br>Wajah Zai mendadak memerah entah akibat efek panas ditambah dengan efek gelud dengan kakaknya atau efek akibat perbuatan kakaknya? Dan detak jantung yang menganggu pendengarannya, Zai hanya berharap bahwa kakaknya tak mendengar suara degupan jantungnya. <br><br>Zai tak menjawab dia mengalihkan pandangannya kearah lain, walau sesekali dia terlihat mengintip. Wajah Kai menampilkan senyuman menyebalkan, Zai ingin memukul wajah itu dengan kelapa muda, tapi tangannya malah ketahan oleh Kai. <br><br>"Zai.." Kai membuka suara setelah terdiam cukup lama, tatapan merahnya masih ditujukan kepada Zai tapi tatapan merah itu menurun ke proporsi leher Zai. <br><br>"A-apa?" Zai tergagap, posisi ini membuatnya tak nyaman tapi dia tida bisa mengelak dari tatapan kakaknya. Yang entah kenapa mulai terfokus kearah lain. <br><br>"Aku.." ucapan Kai terpotong dengan kericuhan dari dua gadis yang menatap Kai dan Zai datar. <br><br>"Waa~ yang uwu-an gak tau tempat" ujar gadis bersurai coklat dengan gaya rambut ekor kuda, tatapan kuning keemasan itu menatap gadis disampingnya yang bersurai seputih salju dan mata sewarna merah darah. <br><br>"Benar" di angguki gadis berambut putih, dibelakang mereka muncul 3 sosok lain, dua pria dan satu wanita. <br><br>"UWOOGHH-!! GAS DIPEPET!!" salah satu dari tiga orang itu bersuara keras tanpa tau tempat, walau dilengan kanannya tersampir bebek karet. Tapi wajah antusiasnya tak bisa diredam. <br><br>"Ara- aku tak tau kalian seperti ini" suara wanita juga menyahuti disamping pria berlengan balon bebek. Dia menyentuh sisi wajahnya mengabaikan pria yang sebelah kirinya berteriak tidak jelas. <br><br>"Huft, gini amat" kini pria disebelah kanannya hanya merasa pasrah akan sekumpulan orang dihadapannya. <br><br>Dari pemuda berlabel homo bernama Tsukiya Minagawa, anak sma jurusan ipa yang masuk organisasi apapun demi mengalihkan pikiran homo dimilikinya. Walau dia curiga guna bebek karet dilengan kanannya buat apa. <br><br>Gadis rambut putih dengan mata sewarna merah darah itu, gadis dengan aura penuh positif mungkin gak ada aura negatif, bernama Charlize. <br><br>Gadis sebelahnya berambut coklat diikat kuncir kuda beda dari biasanya bernama Fia,tidak terlalu akrab dengan nya karena gadis itu tipe akrab sama teman dekat. Toh dia kenal karena sering langganan beli es serut buatan miliknya. <br><br>Serta satu gadis lain bernama Akane Chikari, pandangan pertama dia tentang gadis ini. Tipe kakak baik hati dan menuruti keinginan adiknya serta gak bisa menolak hal lucu. <br><br>"Ehem, mau sampai kapan?" Shun Nijiyama berdeham, lelah melihat dua saudara Satou yang tetap berada dalam posisinya. <br><br>"Kalian be--" suara Fia terdengar ketika melihat reaksi dua saudara dihapdannya, seperti kucing kepergok nikah ama kucing lain. <br><br>"Kecelakaan" Zai menghentikan Fia sebelum gadis itu benar-benar menyelesaikan bicaranya. Zai masih <em>straight</em> artiannya dia suka sama gadis bukan sama laki, apalagi abangnya. <br><br>"Kurasa tidak?" Akane membuka suaranya setelah merapikan penampilannya.agak sedikit menyesal kenapa dia tak membiarkan rambut pink nya dipotong pendek. <br><br>"Kak Akane!!" Charlize mendekati Akane dengan semangat 25 mengembara dimatanya, dibelakangnya ada Fia yang terpaksa ikut dibanding kena tinggal sama 4 cowo. <br><br>"Charlize, Fia" Akane menatap kedua gadis itu dengan senyuman khasnya, Charlize menatap penampilan Akane yang hanya mengerai rambutnya dan bando kain. <br><br>Sederhana tapi cocok, ah sayangnya cuaca hari ini tidak pas denga rambut tergerai begitu. Lalu penampilan Fia juga, Charlize tersenyum memikirkan rencana <em>make over</em> mendadak. <br><br>"Akane, lama tak jumpa" sapa Fia dengan sopan, Akane membalas sapaan Fia seadanya. Keduanya asyik mengobrol tentang keseharian mereka selama musim panas dan Charlize sedari tadi menatap mereka dengan tatapan terselubung. <br><br>"Liz?" Kedua gadis itu menatap Charlize khawatir, gadis didepannya punya segudang rencana tak masuk akal. <br><br>"Hehe.., AYO KITA PERGI!" Charlize mengapit kedua lengan gadis itu lalu menyeret mereka kesuatu tempat tak peduli protes-san keluar dari mulut Akane dan Fia. <br><br>Keempat pria disana bergidik ngeri akan kengerian yang sama, sekumpulan gadis menuju ke ruang ganti dalam villa milik keluarga Satou. <br><br>"Aku tak ingin bertaruh" <br><br>"Aku juga" <br><br>"Aku setuju" <br><br>Zai menatap dua kenalan Kai yang lain, Shun Nijiyama yang dia tau kalau Shun adalah pembuat es serut terbaik, sedikit akrab sama Kai yang mempunyai sikap tak tau malu dan mudah bersosialisasi. <br><br>Disebelah Shun ada Tsukiya Minagawa, 'keren' itu kata yang keluar dari mulut Zai melihat penampilan Tsukiya. Mata heterochomia, rambut putih dan senyuman percaya diri membuat Zai iri. <br><br>Sempat ingin jadi panutan Zai untuk percaya diri akan penampilannya, hal itu lansung terhempas ketika dia tau bahwa Tsukiya dikabarkan belok. <br><br>Dan orang yang bersikukuh bahwa Zai dan Kai punya hubungan layaknya sepasang kekasih, padahal fakta sebenarnya Kai itu kakaknya. <br><br>Seperti saat ini, Tsukiya tengah menggoda Kai dan Shun penengah. Lalu Zai sendiri menikmati air kelapa sambil melihat pertengkaran Kai dan Tsukiya. <br><br>Kasihan Shun yang harus menjadi wasit. <br><br>Zai menikmati air kelapanya sambil terus memperhatikan Kai dan Tsukiya bergulung dipasir pantai. <br><br>"Kami kembali-!!" Charlize melambaikan tangan penuh semangat, ditangan kirinya ada bola voli. Dan penampilan gadis itu terasa berbeda. <br><br>"Uhm" Zai hanya mengangguk dan kembali memfokuskan dirinya pada minuman kelapa muda, Fia menatap gaya rambut ketiganya. <br><br>Mereka sepakat akan rencana Charlize untuk menggunakan gaya rambut <em>twins taill</em> agar lebih mudah untuk bermain nanti. <br><br>Akane sempat menolak, tapi Charlize menggunakan senjata ampuh. Dengan menunjukkan tiket ke kafe kucing, hal tak bisa ditolak Akane. <br><br>"Kalian nampak lebih baik" puji Kai dengan senyuman buaya, tapi diacuhkan ketiganya. Zai terlarut dalam tawa Shun dan Tsukiya. <br><br>"Sudahlah bro, lu mending kek gw" Tsukiya menaruh lengannya dipundak Kai, mulai mengajak Kai ke ajaran sesat. <br><br>"Ogah" Kai melepas kasar tangan Tsukiya dan menatap kearah Zai. "Mending gw ganggu adek gw dibanding kek elu" Kai menjawab penuh percaya diri sambil mengacak surai putih Zai. <br><br>Shun menghela nafas lega, bahwa tak ada pergeludan antar saudara. <br><br>"Bangsat, dibanding lo ganggu gw mending gwnya mikirin cara buat bundir tanpa sepengetahua elo" Zai menjawab judes, membuat Kai tengah mengacak surai putih itu terhenti. <br><br>"Zai, aku sudah bilang untuk tidak seperti itu kan?" <br><br>"Gongongan anjingnya keras banget" <br><br>"Zai" <br><br>"Ada anjing" <br><br>"ZAI!" <br><br>"makin keras aja suaranya" <br><br>Kai akhirnya pasrah, dia memilih untuk tidak meributkan hal itu kepada Zai. Padahal baru tadi dia melihat sisi imut Zai. <br><br>Tsukiya soheb baik Kai menepuk pundak Kai, mengirimkan perkataan tak lansung. '<em>I feel you bro</em>' yang di tolak mentah-mentah ama Kai. <br><br>"KAK SHUN! KAK KAI, KAK TSUKI! GASS VOLI?" ajakan Charlize terdengar nyaring kepada mereka bertiga, sebenarnya Kai ingin mengajak Zai tapi mengingat kejadian musim panas tahun lalu. <br><br>Membuat Kai merasa bersalah, Zai sudah menolaknya tapi Kai memaksa, sehingga Zai yang saat&nbsp; itu tengah bermain voli malah terkena bola voli dari pengunjung lain. <br><br>Meneparkan Zai dikasur tiga hari dua malam. <br><br>"Kami terima" Shun memberi jempol untuk pertanda mereka sudah siap, Zai menatap mereka bermain dibawah payung sambil memeluk kedua kakinya. <br><br>Kai menariknya keluar dengan alasan mengumpulkan kerang pasti mengajaknya untuk bermain. Mana make bela-bela bawa bebek karet, walau Zai malas gerak dia bisa berenang. <br><br>Ke-enam orang gak waras bermain voli di siang panas (pikiran Zai) membuang cairan tubuh berupa keringat dan tenaga cadangan tubuh, lemak. <br><br>Zai menguap untuk kesekian kalinya, dia bosan melihat hujan keringat dari enam orang masih semangat dalam bermain. Zai beranjak dari tempatnya, menemui pelayan disana. <br><br>"Semangka, 7 air dingin, penutup mata, kayu" Zai meminta kepada pelayan disana untuk segera menyiapkannya, total ada tiga semangka gede padahal Zai berharap satu, 7 botol air dengan dua jenis, dingin dan biasa saja. Lalu penutup mata 2 buah yang tumben waras serta dua bilah kayu yag tumben waras juga. <br><br>"mau ditaruh mana, tuan?" <br><br>"Tempat ku tadi" <br><br>Pelayan itu mengangguk membawa pesanan tuan muda mereka ketempat Zai berdiam diri. Zai menatap keatensi pria dihadapannya. <br><br>"Es serut" <br><br>"Tuan muda, mau saya siapkan?" Zai mengeleng, menunjuk kearah Shun tengah bermain voli. Pelayan tadi sempat kebingungan sebelum mengangguk mengerti, meminta temannya yang lain memyiapkan alat membuat es serut. <br><br>Selepas semua urusan Zai dan pelayan selesai, Zai kembali ditempatnya sambil menatap ke-enam orang tadi yang memain voli. <br><br>"Mengerikan" <br><br>. <br><br>Kai, Tsukiya, Shun tertawa penuh kemenangan. Mereka berhasil memenangkan permainan dengan melawan Charlize, Fia dan Akane setelah 4 babak menghasilkan seri. <br><br>"Kami menang, pencundang" Kai memberikan tatapan mengejek yang disulut dengan kegeraman Charlize. <br><br>"Baik, lakukan sekali lagi. Aku akan bertanding solo dengan mu, Kai" Kai tertawa, lalu melempar bolanya kepada Charlize. <br><br>"Ayo" <br><br>Fia, Akane serta Shun dan Tsukiya menjauh dari Charlize dan Kai yang sedang bertanding ulang bermain voli. <br><br>"Panas gini, mereka malah tanding ulang" komentar Fia mengipasi dirinya. Tubuhnya terasa sangat panas, Akane mengangguk setuju. <br><br>"Aku gila melihat mereka" <br><br>"Sama" Shun menatap kasihan Akane, dia terlihat sangat kelelaha seperti dirinya. Permainan mereka sama baiknya, tapi karena efek lama bermain. Dan tubuh mereka yang sudah sangat lelah memutuskan untuk beristirahat bukan malah bertanding ulang. <br><br>. <br><br>Kini matahari sudah ada disingsananya, kedua orang tadi tepar mengenaskan dipasir pantai. Setelah berulang kali tidak mau mengalah. <br><br>Keras kepala, walau sudah di peringatkan untuk berhenti mereka tak ingin berhenti. Dan kini keduanya terbaring lelah. <br><br>"Lelah" keduanya menyuarkan hal yang sama, sedikit kasihan tapi dimampusin Zai karena salah sendiri. Keduanya manyun, sambil meminum air mereka, bahkan Kai menyirami dirinya dengan air lain. <br><br>"Tadi itu seru loh" <br><br>"Tepat, pan kapan gini lagi yok Liz?" <br><br>"Ya" Charlize menjawab sekenanya dan menegak kembali minumannya, tatapan merahnya tertuju pada majalah Zai baca. <br><br>"Majalah lagi?" <br><br>Zai mengangguk, masih fokus sama bacaannya. Charlize menghela nafas, Zai pria aneh yang sempat dikira perempuan karena rambut panjangnya tapi setelah dia potong pendek seperti lelaki baru semuanya terasa sangat jelas. <br><br>Zai cowo tulen <br><br>Fia berbicara sama Akane tentang hewan laut, sesekali Shun menimpali. Charlize terlihat asyik sama dunianya, Kai dan Tsukiya membicarakan soal sekolah. <br><br>Ditengah keributan kegiatan masing-masing, suara Akane terdengar. <br><br>"Memecahkan semangka, bukankah itu cocok dipanas hari ini?" <br><br>Beberapa pasang mata menatap kearah Akane kecuali Zai yang masih membaca majalahnya. Akane di tatap merasa gugup, apa dia salah berbicara? <br><br>"Semangka?" <br><br>"Pecahkan semangka? <br><br>"Menarik, aku juga mau makan semangka" <br><br>Akane lega, sarannya di terima dengan respon baik terdengar. Bahkan sebagian dari mereka sudah membahas tiap giliran. <br><br>"Hanya 3 semangka dab dua alat pemukul" suara Zai menghentikan mereka, Zai menunjuk kesamping kanannya. Sudah ada 3 semangka besar, dua alat pemukul dan penutup mata. <br><br>"Hanya 3 orang ya" komentar Charlize agak kecewa tapi lansung bersemangat. Tak apa jika dia tak bisa memukul semangka, semangkanya juga akan dimakan bersama dan suasana makan bersama itu lebih membuatnya merasa senang. <br><br>"Hm" Zai membalas dengan dehaman, Sebelum terjadi kericuhan Kai meminta mereka melakukan hompimpah, dan Zai tak menarik untuk ikut. <br><br>Setelah melakukan pengundian lewat hompimpah ada 3 kandidat yang berhasil, Tsukiya, Fia dan Shun. Ketiga berhasi memenangkan diri. <br><br>Kini Fia dan Shun mempersiapkan diri mereka untuk memecah semangka yang tak bersalah. <br><br>"Siap, sedia, mulai!" Aba-aba dari Kai untuk keduanya telah terucap, Zai menatal bagaimana Shun dipuat secara brutal oleh Tsukiya. Nasib agak baik berpihak pada Fia yang hanya diputar sekenanya oleh Akane. <br><br>Kedua orang itu berjalan semponyongan akibat pusing, memecah asal ingatan mereka dimana letak semangka. Butuh perjuangan panjang, bagi keduanya dalam memecah semangka. <br><br>Tak jarang keduanya tersandung atau memukul pasir kosong, <br><br><em>prak</em> <br><br>Sebuah keajaiban terjadi, keduanya berhasil memecahkan semangka masing-masing setelah bersusah payah untuk memecahkannya. <br><br>Kini giliran Tsukiya&nbsp; yang harus menunjukkan keboleha dalam memotong semangka, Tsukiya berpikir keras gimana dia bisa membuat kreasi dari semangka. <br><br>Tak menemukan titik temu, Tsukiya memotong semangka dengan cara biasa dilakukan ibu-ibu dalam rumah. <br><br>Semua semangka telah berkumpul di kelompok tersebut, semuanya menikmati rasa segar dari semangka sambil bercoloteh apa yang mereka lakukan. <br><br>Sesekali Zai tertawa bersama mereka, walau tak ikut dalam bermain voli dan memecah semangka. Zai menikmati disaat-saat mereka tertawa seperti ini. <br><br>Puas menikmati semangka, semua disana sepakat untuk berenang. Zai menolak, tapi Kai mengurungnya dalam bebek karet, mengotong Zai ke laut untuk diceburin. <br><br>Zai mengapung diatas permukaan air, terlepas dari bebek karet entah kemana perginya. Zai merasa liburan hari ini akan baik-baik saja. <br><br>"Zai" <br><br>"Ya?" Zai merubah posisinya, agar lebih nyaman untuk bersesi tatap dengan Charlize. <br><br>"Ini" Charlize menyiprat air kewajah Zai, sang empu sempat terdiam sebelum membalas menyipratkan air ke sesama mereka. <br><br>. <br><br>Matahari terbenam, mereka semua kelelahan tadi siang karena bermain. Zai yang biasanya nampak asing berbaur dengan mereka, agak disayangkan mereka harus berhenti main. <br><br>"Indah" komentar Tsukiya dan Fia bersamaan, langit merah bercampur orange. Membuat suasana sejuk, apalagi ditambah dengan es serut buatan Shun. <br><br>"Kak Shun terbaik deh" puji Charlize sambil memakan es serut miliknya, Zai menyantap dalam keheningan tapi baru setengah dia memakan es serutnya. <br><br>Kai menjauhkan mangkok es serut itu dan mengecek suhu badan Zai. <br><br>"Kau mau demam" keluh Kai menyentuh dahi Zai, tapi Zai mengelaknya dan meminta dikembalikan es serut miliknya. <br><br>Yang namanya Kai, tidak memberikan es serut semudah itu, dibanding dia beri. Kai lebih baik memeluk Zai untuk berjaga-jaga Zai tak mendadak tidur ketika dia tidak ada disampingnya. <br><br>Tapi Kai lupa, bahwa temannya Tsukiya sudah menjerit heboh. <br><br>Kai menghela nafas dan bersumpah, bahwa temannya Tsukiya cepat diberikan kewarasan. Mereka kakak-adik, saudara kandung. Kenapa bisa di kaitkan dengan pasanga&nbsp; kekasih? <br><br>Tak lama setelahnya Zai tertidur dipangkuan Kai, tatapan merah itu menatap Zai dan merapikan surai putih yang masih terasa basah. <br><br>Yah Kai berbohong tentang Zai mau demam, adiknya hanya kelelahan. Tubuh Zai juga tak panas, tapi dia sengaja agar bisa memeluk adiknya ditengah mereka melihat matahari terbenam. <br><br><strong>- Fin -</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:12:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2253096311</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Balada Catokan Errol</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2256393882</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1650403570/cbfac973b500cfb81cb903a14f2f8568/Balada_Catokan_Errol.pdf" />
         <pubDate>2022-08-08 03:40:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/merakiW4_event/wish/2256393882</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
