<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Refleksi Modul 1.1 Filosofi Pendidikan KHD Sumsel 22 by Sulthon Naim</title>
      <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm</link>
      <description>4 Pertanyaan Reflektif: 1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)? 2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?  3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?  4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-06-28 08:22:38 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-06-29 12:03:40 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Nama / Kelas</title>
         <author>sulthonsn</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040649249</link>
         <description><![CDATA[<p>No. Jawaban</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 08:24:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040649249</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Maya Sari Yuningsih/219</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040690162</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD salah satunya adalah memerdekakan siswa dalam belajar. Siswa diberikan kebebasan dalam menggali pengetahuannya, menuangkan ide-idenya, melaporkan hasil pembelajarannya dalam bentuk yang siswa inginkan ⟮Materi BangunRuang Sisi Lengkung⟯.<br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah menjadi panutan bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku, misalnya saja membiasakan anak untuk memulai dan mengakhiri kegiatan apapun dengan doa, sopan santun dalam bersikap, menerapkan 3S ⟮senyum, salam, sapa⟯ dalam keseharian, menghargai teman, serta mencintai lingkungan sekitar.<br>3. Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak akan lahir dari kodrat alam ⟮potensi, bakat, kemampuan⟯ yang berbeda-beda satu sama lain sehingga sebagai seorang guru kita diharapkan mampu membantu, memotivasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Sedangkan kodrat zaman lebih kepada bagaimana seorang guru mampu membimbing anak memasuki abad 21, untuk itu seorang pendidik harus melek tehnologi serta memiliki keterampilan abad 21 dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.</p><p> 4.Relevansi pemikiran KHD dalam peran saya sebagai pendidik adalah dengan tulus iklas melayani siswa dalam proses pembelajarannya namun tetap dalam batasannya. Peserta didik bukanlah objek yang bisa kita perlakukan sesuai dengan keinginan kita, namun siswa sebagai subjek.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2554758028/1ed3c9ef0e4e6cc992639a97ab65e985/jawaban_padlet_ttg_refleki_KHD_maya_sari.docx" />
         <pubDate>2024-06-28 09:35:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040690162</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fitri Hestining / 220</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040692656</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" class="no-underline tap-highlight-transparent cursor-pointer font-sans focus:outline-none flex items-center justify-center text-center py-0 h-8 rounded-xl text-body-small font-semibold ring-offset-1 focus-visible:ring-2 px-3 ring-canary-500 ring-offset-grey-900 aria-disabled:bg-button-disabled-dark aria-disabled:text-light-text-400 hover-hover:aria-disabled:bg-button-disabled-dark hover-hover:aria-disabled:text-light-text-400 hover-hover:active:bg-canary-500 hover-hover:active:text-dark-text-100 ms-4 bg-[rgba(0,0,0,0.24)] backdrop-blur-sm text-light-text-200 hover-hover:hover:bg-dark-ui-100 hover-hover:hover:text-light-text-100" href="https://padlet.com/auth/signup?referrer=https%3A%2F%2Fpadlet.com%2Fsulthonsn%2Frefleksi-modul-1-1-filosofi-pendidikan-khd-sumsel-22-e5yzpm7tlg2g2qtm"><strong>Daftar</strong></a></p><p><strong>Nama / Kelas</strong></p><p>Fitri Hestining / 220</p><p><br></p><p>No. Jawaban</p><p>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?</p><p>Pengalaman saya  disekolah  , siswa diajak untuk belajar bahasa daerah setempat. Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mempelajari budaya dan tradisi masyarakat setempat.</p><p><br></p><p>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? daerah saya adalah Palembang Sebagai individu,saya memainkan peran penting dalam mewujudkan konsep "menuntun" di Palembang dengan menerapkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi teladan bagi orang lain, dan berkontribusi dalam kegiatan positif di masyarakat.</p><p>Dengan saling bahu membahu, kita dapat menciptakan Palembang yang lebih baik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan tradisi serta mewujudkan masyarakat yang saling membimbing dan membantu.</p><p><br></p><p>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman? Karena Pendidikan yang ideal tidak hanya terpusat pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kodrat alam yang mengacu pada potensi dan bakat bawaan yang dimiliki setiap anak dan kodrat zaman karena Dunia yang terus berubah membutuhkan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pendidikan perlu membekali anak-anak dengan kemampuan seperti berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan berkolaborasi.</p><p><br></p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?Berhamba pada anak artinya mementingkan kepentingan anak dari segalanya sehingga Proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara menghasilkan individu yang merdeka, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan membantu anak-anak untuk mencapai potensinya.</p><p>Pembelajaran ini sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang menghargai budaya lokal. Siswa belajar menghargai perbedaan dan melestarikan budaya mereka.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 09:41:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040692656</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nina zaina/108</title>
         <author>ninazaina32</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040694212</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya berhamba pada anak: pemberian tugas disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak atau gaya belajarnya. ketika memberikan aksi nyata suatu tugas dalam mapel saya kini membebaskan anak untuk melakukannya dalam bentuk gambar, cerita atau edit video. Selanjutnya melakukan diagnostik pribadi anak untuk mengetahui keadaan dan kebutuhan peserta didik sebelum mengajar.</p></li></ol><ol start="2"><li><p>perwujudan menuntun dalam konteks social budaya..adalah saya memperkenalkan budaya palembang seperti pakaian adat,rumah adat dan makan daerah yang mana di dalam nya terkadung pemahaman pendidikan khd</p></li><li><p><em>&nbsp;</em>Kodrat alam dan kodrat zaman menjadi bagian tak terpisahkan peserta didik. Dasar seorang anak dan keadaan memiliki hubungan konvergensi (saling mempengaruhi). Seorang anak lahir dengan kodrat alam ( kemampuan, bakat, potensi, keadaan) yang berbeda-beda. Mereka kemudian bertumbuh dan berproses sesuai dengan jamannya. Maka dalam mendidik, pendidik perlu mengetahui kodrat alam masing-masing anak agar dapat mendidik dengan maksimal. Selanjutnya pendidik mengenalkan, menyesuaikan dan merancang pendidikan sesuai dengan jamannya, sehingga pendidikan tersebut bersifat luwes dan dinamis.</p></li><li><p>Sebagai pendidik, saya memandang relevansi pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba pada anak sebagai mempunyai komitmen yang kuat untuk memberi layanan sebaik-baiknya pada peserta didik.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 09:44:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040694212</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama / Kelas : Nurzila Febrianita / 11.108</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040702400</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara saat saya mengajar materi Bilangan Bulat, dimana pada saat itu pertama kali mengajar saya melihat match goal masing - masing siswa saya terlebih dahulu dengan memberikan pertanyaan pemantik "Tuliskan angka 1 sampai 5, kemudian siswa saya membacakan setiap jawabannya. Ada yang menjawab angka 1 sampai 3, ada yang menjawab angka 1 sampai 5 tetapi secara acak, ada juga yang menjawab angka 1 sampai 10, bahkan ada yang menjawab angka 1 sampai 50. Dari variasi jawaban siswa siswa saya, baru saya petakan mereka berdasarkan tangga pemikiran mereka dan saya merumuskan Tujuan Pembelajaran berdasarkan match goal siswa siswa saya.</p></li><li><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menuntun artinya mengarahkan dan membimbing siswa agar dapat berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Menuntun berarti menjadi teladan dan panutan bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku. Dalam konteks sosial budaya di daerah saya, yaitu di Palembang, perwujudan menuntun yang saya lihat adalah menuntun peserta didik untuk menghargai dan melestarikan kebudayaan daerah seperti Bahasa Palembang, kesenian tradisional, dan nilai – nilai luhur. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengajak peserta didik untuk belajar Bahasa Palembang. Sekarang bahkan Bahasa Palembang menjadi mata Pelajaran Muatan Lokal yang wajib untuk kelas 7, 8, dan 9. Mengenalkan peserta didik dan mengapresiasi kesenian tradisional seperti pembuatan kain jumputan, mengenalkan Tari Gending Sriwijaya. Terakhir menanamkan nilai – nilai luhur seperti budaya gotong royong, hidup rukun, saling menghormati.</p></li><li><p>2. Pendidikan adalah taman, pendidik adalah petani</p><p>Tanaman padi tumbuhkanlah dia sebagai padi jangan tumbuhan padi menginginkannya menjadi cekung dan jangan pula memelihara jagung dengan ilmu memelihara pasti tidak akan jadi tumbuh kembangnya</p><p>-pendidik itu hanyalah dapat menuntun agar dapat memperbaiki lakunya bukan dasarnya hidup dan tumbuhnya kekuatan ke kodrat anak</p><p>-dalam proses menuntun anak diberi kebebasan namun tetap diberikan tuntunan dan arahan agar anak Dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar</p><p>Kodrat alam: berkaitan dengan sifat dalam bentuk lingkungan di mana anak berada, pendidikan harus sesuai dengan lingkungan tempat tinggal dan kearifan lokal siswa</p><p>Kodrat zaman : Berkaitan dengan isi dan irama pendidikan saat ini menekankan kepada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad kedua satu isi dan irama yang dimaksudkan oleh ki Hajar Dewantara adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada</p><p>Kodrat alam dan kodrat zaman: kodrat alam berarti lingkungan sebagai sumber belajar, kodrat jaman berarti penggunaan teknologi sesuai zaman.</p></li><li><p>3. Relevansi pemikiran KHD pendidikan yang berhamba pada anak dengan peran saya sebagai pendidik, sebagai pendidi kita bertanggung jawab untuk membimbing siswa menuju pemahaman diri yang lebih baik, serta membantu mereka mengembangkan potensi potensi yang dimiliki.</p><p>1. Fokus pada kebutuhan dan minat Anak pendidik harus berpusat pada peserta didik pendidik harus memahami kebutuhan dan minat anak serta memberikan anak kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensinya.</p><p>2. ⁠ Berperan sebagai fasilitator dan pembimbing. Pendidik harus menghormati anak sebagai subjek yang aktif dalam proses pembelajaran.</p><p>3. ⁠ Menghormati dan memuliakan anak. Pendidik harus memiliki rasa hormat dan memuliakan anak sehingga tumbuh perasaan senang dan bahagia dalam diri mereka</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 09:59:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040702400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>IMAM ADI NUGROHO/219</title>
         <author>imamnugroho90</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040704160</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Pengalaman terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD adalah belajar dengan bermain engklek, belajar aturan dengan permainan gobak sodor, dan belajar budi pekerti (cipta, rasa, karsa) melalui tarian tradisional berkelompok.<br>2. Perwujudan "menuntun" dalam konteks sosial budaya adalah menggali potensi, kreativitas, jiwa seni siswa lalu mengembangkan dan mendorong siswa meningkatkan potensi yang dimilikinya.<br>3. pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena negara Indonesia kaya akan sumber daya alam, budaya, adat istiadat, beragam suku, yang disana banyak terkandung nilai-nilai dan pengetahuan sebagai wadah untuk mendidik murid (kodrat alam) serta perkembangan zaman membuat murid bisa mengetahui budaya asing dari negara lain. Peran pendidikan disini adalah memfilter budaya asing yang kurang sesuai dan mengambil manfaat dan pelajaran dari budaya asing yang baik sehingga murid bisa menyesuaikan dengan kebutuhan di zamannya.<br>4. Peran sebagai pendidik agar dapat menerapkan pendidikan yang berhamba adalah mengetahui potensi, gaya belajar, keinginan siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan sehingga guru bisa melakukan pembelajaran yang berpihak pada siswa (menghamba)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:01:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040704160</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yunita Kurniati / Kelas 11.109</title>
         <author>yunitakurniati86</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040705654</link>
         <description><![CDATA[<p>Izin memberikan jawaban dari pertanyaan reflektif berikut : </p><p>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)? </p><p>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?  </p><p>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?  </p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>Jawaban 1:</p><p>Pengalaman saya berhamba pada anak: pemberian tugas disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak atau gaya belajarnya. ketika memberikan aksi nyata suatu tugas dalam mapel saya kini membebaskan anak untuk melakukannya dalam bentuk gambar, cerita atau edit video. Selanjutnya melakukan diagnostik pribadi anak untuk mengetahui keadaan dan kebutuhan peserta didik sebelum mengajar.</p><p>Jawaban 2:</p><p>Perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah mendampingi, membimbing atau mengemong anak memiliki sikap yang mencintai budaya nya sendiri meliputi gotong royong, guyub rukun, ramah,rendah hati,saling menghormati,saling menghargai,berbudi luhur,dan tenggang rasa.</p><p>Jawaban 3:</p><p>Kodrat alam dan kodrat zaman menjadi bagian tak terpisahkan peserta didik. Dasar seorang anak dan keadaan memiliki hubungan konvergensi (saling mempengaruhi). Seorang anak lahir dengan kodrat alam ( kemampuan, bakat, potensi, keadaan) yang berbeda-beda. Mereka kemudian bertumbuh dan berproses sesuai dengan jamannya. Maka dalam mendidik, pendidik perlu mengetahui kodrat alam masing-masing anak agar dapat mendidik dengan maksimal. Selanjutnya pendidik mengenalkan, menyesuaikan dan merancang pendidikan sesuai dengan jamannya, sehingga pendidikan tersebut bersifat luwes dan dinamis.</p><p>Jawaban 4 :</p><p>Sebagai pendidik, saya memandang relevansi pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba pada anak sebagai mempunyai komitmen yang kuat untuk memberi layanan sebaik-baiknya pada peserta didik.</p><p>Secara lebih rinci ini berarti:</p><p>-Menomor satukan murid dalam setiap keputusan pembelajaran yang dibuat</p><p>- Memandang anak dengan hormat</p><p>- Memberikan pendidikan yang seimbang antara olah cipta, rasa, karsa, dan olah raga</p><p>- Tidak memaksakan kehendak, namun melihat kebutuhan, minat dan kemampuan anak</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:04:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040705654</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andri Sri Astari /11.108</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040707651</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)? saya memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan kemauan dan kemampuan . </p></li><li><p>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? saya menuntun peserta didik dengan cara menjadi teladan bagi mereka misalnya di sekolah membiasakan 5s. </p></li><li><p>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?karena setiap anak memiliki keunikan tersendiri sesuai dengan alam yang ada disekelilingnya dan zamannya.</p></li><li><p>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>Pendidik berperan sebagai pembimbing dan fasilitator dalam pembelajaran, pendidikan berfokus pada kebutuhan peserta didik</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:07:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040707651</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhamad Fahrizal/220</title>
         <author>muhamadfahrizal13</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040707682</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD?</p><p>Pengalaman saya terkait dengan proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD yaitu saya menuntun siswa pada pendidikan karakter yang baik dan tidak memaksakan kehendak kepada anak serta memberikan kebebasan kepada anak dalam mengembangkan minat, bakat dan potensinya. </p><p>2. Bagaimana perwujudan kata “ menuntun ” dalam konteks sosial budaya di daerah Anda masing-masing?</p><p>Perwujudan dari kata “menuntun” dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu daerah palembang adalah membimbing murid untuk menghargai dan melestarikan budaya daerah, seperti bahasa, seni tradisional, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya.</p><p>3. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman ?</p><p>Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam  dan kodrat zaman karena anak sudah dilahirkan dengan kodratnya masing-masing dengan segala bakat dan potensi dalam dirinya sejak lahir serta pendidikan keluarga yang diterimanya. kodrat zaman&nbsp;berkaitan dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, kita dapat membentuk pendidikan yang holistik dan relevan dengan kebutuhan anak-anak.&nbsp;</p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak ” bagi Anda dalam peran sebagai pendidik?</p><p>Berhamba pada anak artinya memberikan kebebasan anak dalam memilih cara belajar anak, sesuai dengan minat dan bakat anak. Sekolah memfasilitasi kebutuhan belajar anak, baik intra maupun ekstra dengan memberikan pendampingan secara berkelanjutan sesuai dengan keinginan anak kepentingan anak dari segalanya. Sebagai guru saya mesti melayani  dan menuntun murid dalam proses belajar.sebelum melakukan proses pembelajaran maka hal pertama yang harus saya lakukan adalah mengelompokkan anak berdasarkan potensi, minat, dan karakter belajar anak agar mereka dapat mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:07:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040707682</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desi Zuliantina/Kelas 218</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040707766</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman proses pembelajaran terkait pemikiran Ki Hadjar Dewantara yakni Pendidik harus menjadi contoh yang baik di depan peserta didik, berperilaku yang santun, berbicara yang sopan dan mengajarkan etika senyum, salam dan sapa kepada peserta didik kita di sekolah.</p><p>Saya berusaha menuntun siswa,  memberikan teladan atau contoh  dengan tindakan yang baik sehingga terbentuk siswa berkarakter dan berbudi pekerti yang baik, memberikan dorongan dan arahan, agar siswa dapat mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki peserta didik.\</p></li><li><p>Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah adanya pendampingan kepada anak-anak ketika akan ke sekolah atau keluar rumah diajarkan untuk selalu berpamitan dengan orang tua serta mencium tangan kedua orang tua.</p><p>Anak-anak melakukan pembiasan 5S yaitu salam, senyum, sapa sopan, dan santun dimanapun tempat anak berada.</p></li><li><p>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman harus diseimbangkan karena tiap anak ketika telah lahir membawa kodrat nya masing-masing namun dalam menyelenggarakan pendidikannya menjadi manusia yang utuh dan bisa bergabung ke dalam masyarakat disesuaikan dengan kodrat zaman, karena hal ini didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang.</p></li><li><p>Relevansi pemikiran KHD yaitu pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik yakni peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek. Berikan mereka kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya. </p><p>pendidikan yang berpusat pada siswa dimana siswa bertumbuh sesuai dengan bakat dan potensinya masing-masing.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:07:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040707766</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040708144</link>
         <description><![CDATA[<p>Febby Riansyah/11.109 (218)</p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendidikan itu bukan untuk merubah kodrat manusia, namun pendidikan itu lebih kepada membantu peserta didik untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam diri. Pendidikan itu Hal ini dianalogikan sebagai petani yang akan menanam bibit. Sebagus apapun bibit yang dimiliki tanpa dilakukan perawatan, pemeliharaan yang maksimal maka tidak akan bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas. Begitupun sebaliknya walaupun berasal dari bibit yang kurang bagus namun kalau diberikan perawatan maka akan bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut pemikiran saya, “menuntun” dalam konteks sosial budaya berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita.</p><p>Untuk mencapai pendidikan yang relevan dengan konteks sosial budaya, kita dapat:</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menyisipkan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran: Mengenalkan alat musik tradisional, lagu, tarian, dan makanan khas.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kearifan lokal: Menghormati kodrat alam serta zaman peserta didik.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kodrat alam merujuk pada sifat dan karakteristik dasar yang melekat pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Setiap individu memiliki potensi, kekuatan, dan kelemahan yang unik dan berbeda-beda. Dalam konteks &nbsp;pendidikan, penting bagi kita untuk memahami dan menghormati kodrat alam setiap anak.<br><br>sedangkan Kodrat zaman berkaitan erat dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan sosial memengaruhi cara kita hidup dan berinteraksi. Dalam konteks &nbsp;pendidikan, penting bagi kita untuk mempersiapkan anak-anak agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.<br><br></p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut pandangan saya, pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai "Pendidikan yang Berhamba Pada Anak" masih sangat relevan dengan peran saya dalam mengarahkan dan membimbing anak-anak dalam proses &nbsp;pendidikan. Dalam hal ini pendidikan harus dirancang sesuai dengan tahap perkembangan anak, baik secara budi maupun pekerti, yang mencakup aspek cipta, rasa, karsa, dan tenaga. Dari sini dapat saya lihat bahwa nilai-nilai ini sudah diterapkan dengan baik untuk perkembangan anak terutama di sekolah. Saya menyadari bahwa &nbsp;pendidikan bukan hanya tentang mengasah kemampuan, dan pemahaman intelektual semata, akan tetapi juga membentuk karakter dan moral yang kokoh untuk anak-anak.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br><br>Oleh karena itu, saya mencoba untuk berperan ganda, menjadi &nbsp;pendidik dan fasilitator. Hal ini dilakukan agar pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengembangan pikiran anak-anak, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, emosional, dan spiritual mereka. Dengan konsep ini diyakini dapat mengantarkan mereka pada mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan. <br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:08:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040708144</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Exzan Abdi Fariz / 219</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040708460</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Sebagai seorang guru BK, salah satu pengalaman saya yang mencerminkan pemikiran KHD terjadi saat saya memberikan layanan individu kepada seorang siswa yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Saya menggunakan pendekatan yang mengutamakan prinsip 'Pendidikan yang berpihak pada anak'. Saya mulai dengan mendengarkan dan memahami kodrat alam siswa tersebut seperti kepribadiannya, bakatnya, dan tantangan yang dihadapinya. Saya juga membantu siswa tersebut menavigasi kodrat zaman dengan memberikan strategi coping yang relevan dengan kondisi sosial dan teknologi saat ini.</p><p><br/></p><p>2. Dalam konteks sosial budaya di Palembang, konsep ‘menuntun’ dapat dilihat dalam cara orang tua dan komunitas membimbing anak-anak melalui gotong royong dan kebersamaan. Contohnya, saat ada kegiatan masyarakat seperti membangun rumah atau acara adat, anak-anak diajarkan untuk terlibat dan membantu sesuai kemampuan mereka. Ini mencerminkan filosofi ‘tut wuri handayani’ yakni memberi dukungan dari belakang dengan cara menuntun anak-anak untuk belajar melalui pengalaman langsung dan keterlibatan dalam komunitas mereka.</p><p><br/></p><p>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman agar dapat mendidik siswa dengan cara yang relevan dan kontekstual. Kodrat alam mengacu pada pemanfaatan potensi alami dan budaya lokal yang unik, yang membantu siswa memahami dan menghargai identitas mereka sendiri. Kodrat zaman menuntut pendidikan untuk selalu responsif terhadap perubahan dan perkembangan teknologi serta sosial, sehingga siswa siap menghadapi tantangan dan peluang masa depan. Menggabungkan keduanya memungkinkan pendidikan yang berakar kuat pada budaya lokal sambil tetap adaptif terhadap kemajuan zaman.</p><p><br/></p><p>4. Pemikiran KHD tentang “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” relevan dalam peran saya sebagai pendidik karena menekankan pentingnya menempatkan kebutuhan dan potensi siswa sebagai fokus utama pendidikan. Sebagai guru, saya berusaha memahami setiap siswa secara individu, menyesuaikan metode pengajaran dengan gaya belajar mereka, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan holistik mereka. Ini berarti memberikan kebebasan dan dukungan untuk siswa berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka, serta memastikan bahwa setiap keputusan dan kegiatan pendidikan benar-benar mendukung kemajuan dan kesejahteraan mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:08:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040708460</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>wisnudwi1997</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040709503</link>
         <description><![CDATA[<p>Wisnu Dwi Prakoso / 11.106</p><p><br/></p><ol><li><p>Salah satu pengalaman yang mencerminkan pemikiran KHD adalah ketika saya mengajar materi matematika tentang mengukur luas dengan satuan tidak baku. Alih-alih hanya menyampaikan rumus mencari luas, saya mengajak siswa untuk bekerja sama dalam kelompok bergotong royong untuk menentukan luas ruang kelas menggunakan benda yang mereka punya. Saya juga mendorong mereka untuk berpikir kritis dan inovatif tentang bagaimana memanfaatkan benda di sekitar untuk menghitung luas ruangan kelas.</p></li><li><p>Di Palembang, nilai budaya seperti kekeluargaan, gotong royong, dan kesopanan sangat dijunjung tinggi. Nilai-nilai ini mencerminkan semangat 'menuntun' dalam kehidupan sehari-hari di kelas. Misal, membantu teman yang sedang tertimpa musibah, saling tolong menolong tanpa pamrih, guru membimbing murid dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, memberikan arahan dan dukungan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka.</p></li><li><p>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena setiap individu memiliki potensi dan karakteristik unik yang perlu dikembangkan (kodrat alam). Selain itu, pendidikan juga harus relevan dengan tantangan dan kebutuhan zaman (kodrat zaman). Dengan demikian, pendidikan dapat menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat, berbudaya, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.</p></li><li><p>Pemikiran KHD tentang pendidikan yang berhamba pada anak sangat relevan dengan peran saya sebagai pendidik. Sebagai seorang guru, saya harus selalu mengutamakan kepentingan dan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. Saya harus menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing yang membantu siswa menemukan potensi diri dan mengembangkannya secara optimal. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa, serta memberikan mereka kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:10:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040709503</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desma Amalia Sara/106</title>
         <author>desmasara22</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040710785</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?&nbsp;</strong></p><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran adalah pada pembelajaran mencari makna kata, saya memanfaatkan gadget yang dimiliki oleh siswa dan menggunakan KBBI online untuk membantu mereka menemukan makna kata yang diinginkan. Beberapa kali saya menerapkan pembelajaran berbasis game dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok.</p><p><br></p><p><strong>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?&nbsp;</strong>Perwujudan menuntun bisa dilihat dalam pembiasaan yang dilakukan selama pembelajaran ataupun kegiatan pembelajaran di luar kelas. Di sekolah saya, anak-anak membiasakan diri untuk memulai dan mengakhiri kegiatan dengan doa, mengaji di hari Jumat, shalat Dhuha berjamaah di pagi hari, bersikap sopan, menerapkan prinsip 3S (senyum, salam, sapa) dalam keseharian, kegiatan P5, menghargai teman, serta mencintai lingkungan sekitar.</p><p><br></p><p><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?&nbsp;</strong></p><p>Pendidikan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan atau potensi anak. Secara tidak langsung pendidikan dan pendidik sewajarnya mengikuti perkembangan zaman. Sebagai contoh generasi Alpha (Gen A) dimana mereka terlahir pada rentangan tahun 2011-2025 yang sangat melek dengan teknologi. Oleh karena itu, sebagai pendidik harusnya menyesuaikan dengan perkembangan siswa terutama dalam hal perkembangan teknologi (media mengajar dan Pendidikan abad 21). Selain itu pendidik dapat menggali potensi siswa baik secara akademik maupun non akademik, serta membantu siswa menempatkan diri sesuai dengan bakat dan minat.</p><p><br></p><p><strong>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik? </strong>Pendidikan sebaiknya berorientasi pada siswa, artinya kita sebagai pendidik memiliki peran sebagai fasilitator dan motivator untuk mengarahkan siswa dalam menemukan potensi, bakat, dan minat yang ada dalam dirinya. Bentuk fasilitas dan motivasi yang kita berikan baiknya menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman siswa. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:12:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040710785</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nurhayati/11.106</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040710947</link>
         <description><![CDATA[<p>1.setelah pembelajaran yang telah saya lalui saya banyak menimba ilmu dan mempelajari baik dari modul maupun dari fasilitator,pp, dan teman teman cgp, saya lebih memahami bahwa menjadi guru adalah bukan hanya pekerjaan namun adalah sebagai ladang untuk kita menimba kebaikan dan pahala, dan mendidik anak haruslah sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman serta berpihak kepada anak bebas dari berbagai ikatan.</p><p><br></p><ol start="2"><li><p>perwujudan menuntun dalam konteks sosial dan budaya di daerah saya yakni di sekolah sekolah palembang sering sekali di adakan gelar karya projek P5 dalam hal ini guru beserta wali murid bersama sama membimbing dan menuntun murid agar menyelesaikan pojek nya dengan baik dan tepat waktu, contohnya membuat kain jumputan, dimulai dari mengajrkan pemahaman membuat kain jumputan sampai mempraktikkan langsung membuat sampai mendapatkan hasil yang baik.</p><p><br></p></li><li><p>Pendidikan di indonesia sangatlah perlu untuk mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman mengingat sekarang sudah banyak perubahan baik dari perkembangan zaman dan teknologi sangat perlu bagi seluruh tenaga pendidik untuk menyesuaikan kemampuan sesuai dengan zaman dan sehingga sesuai dengan kebutuhan murid di era sekarang ini.</p><p><br></p></li><li><p>relevansi pemikiran KHD yakni pendidikan yang berhamba pada anak sebagai peran saya sebagai pendidik tentulah saya memenuhi kebutuhan peserta didik saya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya, harus selalu memandang hormat kepda siswa/i saya apapun karakter dan latar belakang mreaka tidak membeda bedakan prilaku dan kasih sayang kepada mereka, sebagai seorang guru saya harus berjiwa besar dan ikhlas mendidik dan membersamai setiap kebutuhan pendidikan yang harus mereka penuhi, saling berkolaborasi untuk menciptakan kedalaman spiritual intelektual dan sosial untu mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia seutuhnya.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:12:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040710947</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040713202</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Rike Asriyanti/11.107</strong></p><ol><li><p>Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD)?</p></li><li><p>Bagaimana perwujudan "menuntun" yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?</p></li><li><p>mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p></li><li><p>Apa relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p> </p><p>JAWABAN:</p><p>1. Adapun Pengalaman yang saya lakukan terkait proses pembelajaran untuk merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal diri mereka secara lebih dalam terkait dengan gaya belajar, bakat minat dengan melakukan tes sederhana tentang gaya belajar dan bakat. Setelah mereka memahami siapa diri mereka lengkap dengan kelebihan dan kekurangan akan lebih memudahkan saya sebagai guru pembimbing dalam memberikan motivasi dan dorongan agar mereka bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki, sehingga nantinya mereka bisa lebih mandiri, bertanggung jawab serta bisa merencana masa depannya.</p><p>&nbsp;</p><p>2. Adapun Perwujudan menuntun yang saya lihat terkait dengan konteks sosial budaya di daerah saya adalah terjadinya pertukaran kebudayaan antar satu tempat dengan lainnya. Pertukaran kebudayaan ini bukan berarti merubah atau menghilangkan kebudaayan tersebut namun hal ini akan semakin menguatkan jati diri bangsa.</p><p>&nbsp;</p><p>3. Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak akan lahir dari kodrat alam (potensi, bakat, kemampuan) yang berbeda-beda satu sama lain sehingga sebagai seorang guru kita diharapkan mampu membantu, memotivasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Sedangkan kodrat zaman lebih kepada bagaimana seorang guru mampu membimbing anak sesuai zamannya untuk itu seorang pendidik harus melek tehnologi serta memiliki keterampilan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.</p><p>&nbsp;</p><p>4. Menurut pandangan saya, pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai "Pendidikan yang Berhamba Pada Anak" masih sangat relevan dengan peran saya dalam mengarahkan dan membimbing anak-anak dalam proses &nbsp;pendidikan. Dalam hal ini pendidikan harus dirancang sesuai dengan tahap perkembangan anak, baik secara budi maupun pekerti, yang mencakup aspek cipta, rasa, karsa, dan tenaga. Dari sini dapat saya lihat bahwa nilai-nilai ini sudah diterapkan dengan baik untuk perkembangan anak terutama di sekolah. Saya menyadari bahwa &nbsp;pendidikan bukan hanya tentang mengasah kemampuan, dan pemahaman intelektual semata, akan tetapi juga membentuk karakter dan moral yang kokoh untuk anak-anak.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:15:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040713202</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>anisnuari41</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040713354</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Anis Rahma Nuari / Kelas 220</strong></p><p><br></p><p>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)adalah Membimbing peserta didik menggunakan pembelajaran berbasis TIK sesuai dengan kodrat zamannya.</p><p>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah sangat erat kaitannya dengan semboyan KHD, yaitu di depan sebagai teladan, di tengah membei semangat, dan dibelakang memberi dukungan. sehingga salah satu perwujudan menuntun adalah bagaimana kebudayaan daerah dapat dijadikan sebagai salah satu teladan dalam kehidupan sosial murid.</p><p>3.Pendidikan indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena anak - anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang merdeka sesuai dengan minat dan bakat alaminya, dengan tetap memperhatikan perkembangan zaman.</p><p>4.Relevansi pemikiran KHD dalam peran saya sebagai pendidik adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapat kemudian memberikan kebebasan membangun sendiri pengetahuannya.</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:15:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040713354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lili Andriani/11.107</title>
         <author>liliandriani44</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040713876</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya? </p><p>Menurut pemikiran saya, “menuntun” dalam konteks sosial budaya berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita.</p><p>Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya</p><p>·&nbsp;<strong>Menyisipkan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran</strong>: Mengenalkan alat musik tradisional, lagu, tarian, dan makanan khas.</p><p>·&nbsp;<strong>Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kearifan lokal</strong>: Menghormati kodrat alam serta zaman peserta didik.</p><ol start="2"><li><p>Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p></li></ol><p>Kodrat Alam: Menghargai Keunikan Setiap Individu Kodrat alam merujuk pada sifat dan karakteristik dasar yang melekat pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Setiap individu memiliki potensi, kekuatan, dan kelemahan yang unik dan berbeda-beda. Dalam konteks pendidikan, penting bagi kita untuk memahami dan menghormati kodrat alam setiap anak. -Mengakui Keunikan Individu: Setiap anak memiliki kecenderungan, bakat, dan minat yang berbeda.</p><p>Kodrat Zaman: Persiapan Menghadapi Perubahan Kodrat zaman berkaitan erat dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan sosial memengaruhi cara kita hidup dan berinteraksi. Dalam konteks pendidikan, penting bagi kita untuk mempersiapkan anak-anak agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. -Keterampilan Berpikir Kritis: Dalam era informasi dan teknologi, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi sangat penting. Anak-anak perlu dilatih untuk menganalisis informasi dengan cerdas dan memilah-milah data yang relevan.</p><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</p><p>Menurut pandangan dan pemikiran saya, relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik.</p><p>Tentunya hal itu harus berpusat pada pola pemikiran peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek.</p><p>Para pendidik harus bisa memberikan mereka (peserta didik) kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Bagaimana gambaran proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?</p><p><strong>Pembelajaran Berbasis Pengalaman</strong>: KHD menghargai pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif.&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://blog.kejarcita.id/6-inspirasi-pembelajaran-dari-konsep-pendidikan-ki-hajar-dewantara/">Melalui eksplorasi, percobaan, dan penemuan, siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan relevan</a></p><p><strong>Menghamba pada Anak</strong>: Konsep ini menekankan bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa.&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://blog.kejarcita.id/6-inspirasi-pembelajaran-dari-konsep-pendidikan-ki-hajar-dewantara/">Siswa berperan sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran, bertanggung jawab, dan memiliki daya inovasi yang baik</a></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:16:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040713876</guid>
      </item>
      <item>
         <title>EFI YULIANTI, S.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040714021</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD salah satunya adalah membimbing murid dengan menggunakan pembelajaran TIK, sesuai dengan kodrat zaman</p></li><li><p>Perwujudan "menuntun" dalam konteks sosial budaya adalah bagaimana kebudayaan daerah dapat dijadikan sebagai salah satu teladan dalam kehidupan sosial murid</p></li><li><p>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang maksimal menjadi manusia yang merdeka sesuai dengan minat dan bakat alamnya, dengan tetap memperhatikan perkembangan zaman</p></li><li><p>Sebagai pendidik hendaknya memfasilitasi proses pembelajaran dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, kemudian memberikan kebebasan membangun sendiri pengetahuan</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:16:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040714021</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Sherly Pusfita Sari / 11. 107</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040715317</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya?</p></li></ol><p>Makna Kata “Menuntun” dalam Konteks Sosial Budaya</p><p>Menurut saya, “menuntun”  berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi, bakat dan minat pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita.</p><p><br/></p><p>Menyisipkan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran: Mengenalkan alat musik tradisional, lagu, tarian, dan makanan khas.</p><p><br/></p><p>Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kearifan lokal: Menghormati kodrat alam serta zaman peserta didik.</p><p><br/></p><p>2. Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p><p>karena menurut saya, </p><p>Kodrat Alam: Menghargai Keunikan Setiap Individu Kodrat alam merujuk pada sifat dan karakteristik dasar yang melekat pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Setiap individu memiliki potensi, kekuatan, dan kelemahan yang unik dan berbeda-beda. Dalam konteks pendidikan, penting bagi kita untuk memahami dan menghormati kodrat alam setiap anak. -Mengakui Keunikan Individu: Setiap anak memiliki kecenderungan, bakat, dan minat yang berbeda. Mengakui perbedaan ini membantu kita menyusun pendekatan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. -Memahami Potensi dan Kelemahan: Dengan memahami kodrat alam setiap individu, guru dapat membantu mengembangkan potensi terbaik anak-anak sambil juga membantu mereka mengatasi kelemahan yang dimiliki. -Mengajarkan Empati dan Toleransi: Menghargai keunikan setiap individu dalam pendidikan juga mengajarkan anak-anak untuk menjadi lebih empati dan toleran terhadap perbedaan.</p><p><br/></p><p>Kodrat Zaman: Persiapan Menghadapi Perubahan Kodrat zaman berkaitan erat dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan sosial memengaruhi cara kita hidup dan berinteraksi. Dalam konteks pendidikan, penting bagi kita untuk mempersiapkan anak-anak agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. -Keterampilan Berpikir Kritis: Dalam era informasi dan teknologi, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi sangat penting. Anak-anak perlu dilatih untuk menganalisis informasi dengan cerdas dan memilah-milah data yang relevan.</p><p><br/></p><p>Kemampuan Beradaptasi: Dunia yang terus berubah menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Pendidikan harus memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan anak-anak untuk belajar dan berkembang sesuai dengan perubahan zaman. -Keterampilan Kolaborasi dan Komunikasi: Di era globalisasi, kemampuan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif menjadi kunci kesuksesan. Pendidikan harus memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar bekerja sama dan berinteraksi dengan orang lain.</p><p><br/></p><p>Pendekatan Holistik dan Relevan Dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, pendidikan dapat menjadi lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan anak-anak. Pendidikan yang menghargai keunikan individu dan pada saat yang sama mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan adalah kunci untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global. Melalui upaya bersama antara pendidik, orang tua, dan stakeholder pendidikan lainnya, Indonesia dapat membangun sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan progresif yang akan memberikan kontribusi positif bagi masa depan bangsa dan negara.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</p><p>Memfokuskan pada Kebutuhan dan minat anak menjadi salah satu tujuan dari adanya pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) terhadap konsep pendidikan yang berhamba pada anak.</p><p>Dengan mempelajari konsep pemikiran KHD pendidikan yang berhamba pada anak diharapkan para pendidik bisa memahami perannya yang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing.</p><p>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</p><p>Jawaban:</p><p>Menurut pandangan dan pemikiran saya, relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik.</p><p>Tentunya hal itu harus berpusat pada pola pemikiran peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek.</p><p>Para pendidik harus bisa memberikan mereka (peserta didik) kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya.</p><p>Selain daripada itu relevansi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa seorang pendidik itu harus menghamba pada anak juga memiliki makna yang lebih luas.</p><p>Dimana dalam hal itu memiliki maksud seorang guru harus memiliki rasa hormat, memuliakan anak sehingga jika tumbuh perasaan tersebut, maka tanpa disadari dalam diri anak akan tumbuh rasa senang, bahagia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Bagaimana gambaran proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?</p><p>Pembelajaran Berbasis Pengalaman: KHD menghargai pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Melalui eksplorasi, percobaan, dan penemuan, siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan relevan12.</p><p>Menghamba pada Anak: Konsep ini menekankan bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa. Siswa berperan sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran, bertanggung jawab, dan memiliki daya inovasi yang baik3.</p><p>Memerdekakan Aspek Badaniah dan Batiniah: KHD menekankan pentingnya memerdekakan aspek fisik dan batiniah manusia melalui pendidikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:17:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040715317</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lita susanti/kelas 107</title>
         <author>litasusanti80</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040715323</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1.1.i. Elaborasi Pemahaman - Modul 1.1</strong></p><p><strong>&nbsp;</strong></p><p>Jawaban</p><p><strong>&nbsp;</strong></p><p><strong>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)</strong></p><p>Pembelajaran di sekolah yang menebalkan karakter anak misalnya kegiatan bersalaman (senyum sapa salam dan sopan santun) dimana guru menyambut peserta didik di depan gerbang sekolah dan peserta didik bersalaman dengan guru, kegiatan jam ke nol dimana anak diajak untuk berliterasi kitab suci, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, kegiatan di hari jumat melakukan senam bersama seluruh anggota sekolah, kegiatan pramuka, upacara di hari jumat.</p><p>Di semester kemaren saya menambahkan satu kegiatan sebelum mulai pembelajaran yaitu saya meminta anak anak untuk menyanyikan lagu wajib nasional yang mereka pilih sendiri dengan satu orang sebagai dirigen. Hal ini saya lakukan sebagai wujud keprihatinan saya bahwa banyak lagu wajib nasional yang anak anak sendiri tidak tau bagaimana lagunya dan ketukannya.</p><p>Semoga ke depannya semakin banyak ide ide yang bisa say lakukan untuk makin menebakan karakter anak bagi perkembangan jiwa dan raga peserta didik saya.</p><p><strong>&nbsp;</strong></p><p><strong>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?</strong></p><p>Di kota palembang ada budaya “sanjo” atau bertamu ke rumah teman atau kerabat. Budaya ini dilakukan untuk mengenalkan dan mengangkrabkan anak cucu kita dengan teman atau kerabat yang ada sehingga keakraban antar keluarga tetap terjalin. Sehingga kalau ada kerabat atau keluarga yang datang daari jauh atau dari rantau biasanya akan didatangi atau mendatangi rumah keluarga yang di tuakan, untuk mengingatkan diri akan asal usulnya. Biasanya saat sanjo maka keluarga yan lebih tua akan memberikan wejangan atau nasehat.</p><p>&nbsp;</p><p><strong>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?&nbsp;</strong></p><p>Kodrat Alam: Menghormati keunikan setiap anak</p><p>Kodrat alam mengacu pada sifat dan karakteristik dasar yang melekat pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ini mencakup potensi, kekuatan, dan kelemahan yang secara alamiah melekat pada diri masing-masing individu.</p><p>Dalam pendidikan, kita harus memahami dan menghormati kodrat alam setiap anak. Mengakui keunikan dan perbedaan setiap anak membantu kita mengajar dengan pendekatan yang sesuai.</p><p>Setiap anak memiliki bakat, minat, dan kecenderungan yang berbeda. Memahami kodrat alam mereka memungkinkan kita mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih personal dan efektif.</p><p>Kodrat Zaman: Persiapan untuk masa depan yang dinamis</p><p>Kodrat zaman berkaitan dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan sosial memengaruhi cara kita hidup dan berinteraksi.</p><p>Dalam pendidikan, kita harus mempersiapkan anak-anak agar memiliki keterampilan (soft skill) yang relevan dengan perkembangan zaman. Ini termasuk kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan berkolaborasi.</p><p><strong>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</strong></p><p>Bahwa saya sebagai pendidik seharusnya memiliki rasa hormat dan memuliakan anak, sehingga tumbuh perasaan senang dan bahagia dalam diri mereka sehingga proses pembelajaran lebih menyenangkan dan materi serta pengajaran yang diberikan.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:17:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040715323</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desy Setiawati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040715596</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelas 219</p><p><br/></p><p>1. Tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD?</p><p>Pengalaman saya terkait dengan proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD yaitu saya mengarahkan siswa pada pendidikan karakter atau budaya siswa yang baik dengan penanaman disiplin dan bersikap sopan santun baik didalam kelas maupun diluar kelas.</p><p><br/></p><p>2. Bagaimana perwujudan kata “ menuntun ” dalam konteks sosial budaya di daerah Anda masing-masing?</p><p>Perwujudan dari kata “menuntun” dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu dengan menanamkan jiwa gotong royong dalam diri anak. Gotong royong akan melatih anak dalam hal persatuan, tidak membeda bedakan satu sama lain dan dapat bekerjasama dengan baik.</p><p><br/></p><p>3. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman ?</p><p>Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam  dan kodrat zaman karena anak sudah dilahirkan dengan kodratnya masing-masing dengan segala bakat/talenta/potensi dalam dirinya sejak lahir ditambah pendidikan keluarga yang sudah diterimanya sebelum masuk ke dunia pendidikan. Selain itu keterampilan yang harus dikuasai juga terus berkembang, sehingga pendidikan harus mampu menciptakan siswa yang memiliki kemampuan sesuai dengan zamannya. Seperti di zaman sekarang semuanya berbasis teknologi, sehingga kita pun harus mampu memberikan pengajaran yang berbasis teknologi kepada peserta didik.</p><p><br/></p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak ” bagi Anda dalam peran sebagai pendidik?</p><p>Berhamba pada anak artinya mementingkan kepentingan anak dari segalanya. Sebagai guru saya akan memberikan yang terbaik pada peserta didik saya, agar peserta didik mampu menjadi pribadi yang baik, berbudi luruh, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:18:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040715596</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sabar Sihombing/218</title>
         <author>sabarsihombing16</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040716429</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman yang bisa dapat saya bagikan terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah pada saat saya mengajar di kelas yang memiliki kebutuhan khusus pada (di sekolah kami mulai tahun 2019 selalu menerima murid yang berkebutuhan khusus), karena belum memiliki pengalaman dalam mengajari siswa yang berkebutuhan khusus, maka saya mencoba untuk memahami anak tersebut karena pada saat saya mengajar tidak pernah diam pada tempat duduknya, awalnya saya cuek saja karena menurut saya ketika itu percuma juga memberi materi kepada anak toh dia gak paham. Suatu ketika si anak menjumpai saya dan memberikan saya bunga kertas yang dia lipat sendiri, saya terkejut trus saya tanyakan ke anak untuk siapa ya nak.. dia tidak menjawab tetapi menunjuk ke saya. Saya bertanya-tanya dalam hati kenapa si anak memberi bunga, hingga saya menemukaan satu tulisan yang menuliskan bahwa anak yang berkebutuhan khusus itu bukan tidak peduli dengan sekitarnya melainkan dia tidak paham bagaimana menyampaikan secara lisan. dari perlakuan anak tersebut saya merubah mindset saya terhadap anak berkebutuhan khusus, hal ini sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yakni pendidikan yang berpusat kepada anak dan bagaimana memerdekakan anak. sejak saat itu saya selalu membedakan pembelajaran saya dengan anak-anak berkebutuhan khusus dengan temannya yang normal.</p></li><li><p>perwujudan menuntun di daerah saya adalah dengan memberikan tanggung jawab penuh kepada anak untuk bertindak dan berprilaku sesuai dengan kebiasan sehari-hari tanpa harus takut salah, karena dari sanalah akan belajar sesunguhhnya bermasayarakat.</p></li><li><p>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena tujuan akhir dari pendidikan itu adalah bagaimana menuntun/mengarahkan anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai manusia dan anggota masyarakat.</p></li><li><p>relevansinya adalah saya sebagai pendidik harus memerdekakan anak, sehingga anak mampu menemukan potensi yang dimilikinya dan juga menuntun anak agar mampu menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, kalau itu sudah saya lakukan maka saya sudah melakukan pendidika yang berpihak kepada anak/murid.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:19:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040716429</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fesuarisa dwiyasa/ 11.109</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040717636</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>pengamalan saya tentang refleksi pemikiran ki hajar dewantara selama ini saya berpikir potensi yang dimiliki anak itu sama sehingga proses  pembelajaran yang saya lakukan masih berpusat pada guru ternyata setelah saya mempelajari modul 1.1., tentang pemikiran KHD cara saya itu keliru/salah karena yang saya lakukanb dapat membuat pesertra didik merasa tertekan tidak memiliki kemerdekaan dalam belajar hal ini membuat saya akan merubah pola pembelajaran saya yang pertama saya lakukan adalah merencanakan pemebelajaran yang berpusat pada peserta didik, memberikan kemerdekaan pada peserta didik dalam belajar karena setipoa peserta didik memiliki potensi yang berbeda</p></li><li><p>menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya , adalah kita pahamiu dulu apa arti menuntun, menuntun itu membimbing dan mengarahkan peserta didik menjadiu karakter yang lebih baik lagi sesyuai dengan pemikiran KHD  beriman, bertakwa pada tuhan yang maha esa, berkhebinekaan global, berbudi perkerti , gotong royong, kerjasama, kreatif dan bernalar kritis, kita ambil dari sala satu kegiatan sosial budaya di kota palembang yaitu manggunbgn /bemasak dalam kegiatan ini dapat di implementasikan pada mata pelajaran P5 dan kesenian daerah dan karakter baik yang dapat kita ambil dalam kegiatan ini adalah kerjasama, gotong royong, terciptanya kerukunan, saling menyayangi, kreatif dan bernalar kritis atau sesuai dengan dimensi profil pelajar pancasila</p></li><li><p>karena setiap anak memiliki potensi/minbat yang berbeda-beda seuai dengan kodrat alam, sedangkan kodrat zaman  potensi/minat yang ada pada pesserta didik kita masukkan dalam zaman dimana kita sebagai pendidik harus bisa mengaplikasikan teknologi dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar dengan menyenangkan sesuai potensi mereka masing-masing</p></li><li><p>sebagai pendiidk saya bertanggung jawab untuk membimbing peserta didik menuju pemahaman diri yanmg lkebih baik serta membantu mereka mengembangkjan potensi yang dimiliki peserta didik peran saya sebagai fasilitator memberikan kemerdekaan dalam belajar, dan merencanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:21:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040717636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andea Putri Rajab/ 11.107</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040717962</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>pengalaman saya yang terkait dalam proses pembelajar sesuai dengan pemikiran KHD adalah saya dapat memerdekakan siswa dengan memberikan ruang kebebasan dalam mengekspersikan diri, berkreasi, mengeluarkan pendapat atau pun ide-ide pembelajaran yang mereka miliki.</p></li><li><p>Menuntun dari hal-hal kecil seperti membiasakan diri untuk berbicara (3 kata ajaib) dalam kehidupan sehari-hari dengan mengucapkan "terima kasih" apabila dibantu atau diberi sesuatu oleh seseorang, lalu mengucapkan kata "maaf" apabila ada unsur ketidaksengajaan merusak atau melakukan kegiatan yang keliru, dan berucap kata "tolong" apabila ingin meminta bantuan orang laiin.</p></li><li><p>Dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, kita dapat membentuk pendidikan yang holistik dan relevan dengan kebutuhan anak-anak.</p></li><li><p>Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap peran saya sebagai pendidik adalah sebagai pamong yang dapat mendidik sesuai minat dan potensi yang dimiliki anak. Pendidikan yang memerdekakan anak bertujuan untuk memberdayakan peserta didik agar menjadi individu yang mandiri dan kreatif.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:22:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040717962</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Evi Novianti, S.Pd/Kelas 107 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040718642</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Satu pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan ( mencerminkan) pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah</p><p>Pengalaman proses pembelajaran terkait pemikiran Ki hadjar Dewantara yakni saya guru yang menjadi contoh yang baik di depan peserta didik, berperilaku yang sopan &nbsp;santun, berbicara yang sopan dan mengajarkan etika senyum, salam dan sapa kepada peserta didik kita di sekolah. Setiap bertemu dengan guru walaupun bukan wali kelasnya sebaiknya mereka memberi salam kepada guru tersebut. Hal ini saya lakukan agar mereka peserta didik saya dapat mempunyai budi pekerti yang baik juga selain mereka mempunyai tingkat kognitif yang baik. <br><br></p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?</p><p>&nbsp;</p><p>Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah adanya pendampingan kepada anak-anak ketika akan ke sekolah atau keluar rumah diajarkan untuk selalu berpamitan dengan orang tua serta mencium tangan kedua orang tua. Dan setisp masuk gerbang sekolah setiap peserta didik wajib bersalaman dengan guru guru yang telah hadir dan berdiri di depan gerbang sekolah.</p><p>Inti pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan adalah 'menuntun', dilaksanakan dengan pendidikan yang kolaboratif, kritis, kreatif, inovatif, komunikatif, dan reflektif. Sementara 'selamat dan bahagia' diartikan sebagai wellbeing, yaitu keadaan yang memiliki rasa bahagia, kepuasan, tingkat stres yang rendah, sehat secara fisik dan mental serta menjaga kualitas hidup yang baik.<br><br></p><p>&nbsp;</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p><p>&nbsp;</p><p>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman harus diseimbangkan karena tiap anak ketika telah lahir membawa kodrat nya masing-masing namun dalam menyelenggarakan pendidikannya menjadi manusia yang utuh dan bisa bergabung ke dalam masyarakat disesuaikan dengan kodrat zaman, karena hal ini didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang.<br><br></p><p>&nbsp;</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba ⟮berpihak⟯ pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>&nbsp;</p><p>Relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik yakni peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek. Berikan mereka kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:23:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040718642</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desi Silvia / Kelas 11.106</title>
         <author>desisilvia82</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040718690</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)? </p><p>&gt;&gt; pengalaman saya disekolah yang mencerminkan pemikiran KHD terkait proses pembelajaran contohnya adalah saya melakukan asesmen terlebih dahulu di awal pembelajaran untuk mengetahui kebutuhan belajar peserta didik, sehingga saat melaksanakan proses pembelajaran nantinya bisa terlaksana dengan baik dan dapat mengembangkan bakat minat serta dapat menanamkan nilai-nilai luhur budi pekerti yang berhubungan sosial kultural di daerah peserta didik</p><p><br/></p><p>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? </p><p>&gt;&gt; perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya Palembang adalah dengan mengaitkan sosial budaya di daerah dengan pembelajaran yang dilaksanakan, dan juga dengan memberikan contoh teladan secara langsung kepada peserta didik terutama dalam contoh perilaku kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan sekitar.</p><p><br/></p><p>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman? </p><p>&gt;&gt; pendidikan indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena pendidikan bukan hanya terpusat pada ilmu pengetahuan saja, namun juga harus melihat kodrat alam berupa lingkungan sosial kultural disekitar peserta didik sehingga mereka dapat siap menjadi anggota masyarakat yang memiliki nilai-nilai luhur dan budi pekerti yang baik. lalu kodrat zaman, dimana setiap zaman mengalami perubahan baik secara lingkungan sosial maupun secara pengetahuan dan perkembangan IT. sehingga tidak mungkin jika pelaksanaan pembelajaran tetap sama seperti zaman" sebelumnya.</p><p><br/></p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>&gt;&gt; relevansi pemikiran KHD dalam peran saya sebagai pendidik adalah bahwa saya sebagai guru bukan hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, namun juga harus bisa membimbing, menuntun, dan memfasilitasi kebutuhan belajar peserta didik serta menjadi contoh teladan bagi mereka. serta harus dapat mengetahui potensi bakat serta minat peserta didik. sehingga peserta didik mendapatkan pendidikan yang aman, nyaman dan menyenangkan (merdeka belajar). karena peserta didik bukanlah objek namun mereka merupakan subjek dari pendidikan itu sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:23:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040718690</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rina Andriana / 218</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040718800</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD adalah memberikan kebebasan ,kemandirian disetiap individu dalam pembelajaran yang bersifat kolaboratif, inklusif, dan inovatif serta kreatif seperti dalam memilih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat bakat mereka yang memberikan kesempatan berkembang secara holistik.</p></li><li><p>Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya adalah menggali dan menuntun dalam hal memperkenalkan kebudayaan,adat istiadat,dan nilai-nilai lokal yang merupakan tradisi turun temurun untuk melestarikan warisan budaya.</p></li><li><p>Pendidikan mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman untuk memastikan relevansi dan keberkelanjutan. Kodrat alam mengacu pada hakikat manusia yang fitrahinya, sementara kodrat zaman menekankan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai global. Dengan mempertimbangkan keduanya, pendidikan dapat menghasilkan individu yang tidak hanya menguasai kemampuan teknis modern tetapi juga memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai moral, etika, dan kemanusiaan.</p></li><li><p>Relevansi Pemikiran KHD menekankan pentingnya pendidikan yang mengakomodasi dan menghargai potensi unik setiap anak. Sebagai pendidik, guru memiliki peran untuk membimbing, menginspirasi, dan memberdayakan anak-anak untuk mencapai potensi penuh mereka. Ini melibatkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan tetapi juga memperhatikan kebutuhan individual, bakat, dan minat anak dalam proses belajar mengajar.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:23:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040718800</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama Marhamah Fajriyah Nasution/11.108</title>
         <author>marhamahf39</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040719174</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah sebagai pendidik saya berusaha untuk memberi tuntunan serta arahan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitas sera potensi yang siswa miliki serta mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif sela pembelajaran serta menciptakan pembelajaran yang mendorong kerjasama antar siswa sesuai dengan pemikiran KHD yaitu berbudi luhur. Selain itu sebagai guru saya berusaha menciptakan pembelajaran kontekstual dengan cara menghubungkan pembelajaran dengan lingkungan dan kehidupan nyata siswa agar sejalan dengan pendidikan menurut pemikiran KHD yaitu berhamba pada anak dan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman anak tersebut.</p></li><li><p>Perwujudan menuntun merujuk pada nilai serta norma yang diwujudkan dalam prilaku sehari-hari yang bertujuan memberikan arahan atau panduan kepada siswa sesuai dengan lingkungan dan karakter yang siswa miliki. Salah satu tindakan konkret yang saya lakukan adalah Meminta siswa untuk membuat kain jumputan Palembang sesuai dengan kesenian yang Ddekat dengan lingkungan siswa denagn cara memberi arahan pada murid dalam membuat motif kain jumputan dan teknik mencelupkan kain pada zat pewarna sehingga makna motif kain jumputan yang mengandung pesan moral di dalamnya dapat dijadikan panduan untuk berbudi pekerti luhur.</p></li><li><p>Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam agar siswa dapat memahami dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka dan mempertimbangkan kearifan lokal yang membentuk kepribadian dan karakter siswa agar seorang guru dapat memahami pendidikan apa yang sesuai dengan karakter siswa. Selain itu pendidikan harus mempertimbangkan kodrat zaman karena seorang guru harus mencetak generasi yang memiliki  keterampilan abad 21 dimana teknologi berkembang dengan sangat cepat sehingga siswa dituntut untuk dapat berpikir secara kritis dan kreatif sehingga siswa siap menghadapi berbagai perubahan zaman.</p></li><li><p>Sebagai seorang guru saya akan menciptakan pembelajaran yang memberi kebebasan pada siswa untuk mengembangkan potensi serta kreatifitas yang mereka miliki, kebebasan dan mengemukakan pendapat, menciptakan pembelajaran yang kontekstual yaitu sesuatu yang benar-benar dekat dengan sosial kultural siswa dan menciptakan pembelajaran yang melibatkan perkembangan teknologi agar siswa lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran.  </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:23:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040719174</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suci Rahmawati / 108</title>
         <author>sucirahmawati83</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040719938</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksiakan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara saya menyadari serta harus memberikan ruang kepada peserta didik , sehingga merekajangan di jadikan objek pembelajaran tetapi mereka harus dijadikan subjek dalam pembelajaran.</p></li><li><p>Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya memberikan contoh teladan yang positif berperilaku yang baik misal dengan mempraktikkan nilai-nilai seperti kerja keras, kejujuran, kesopanan, dan empati dalam interaksi sehari-hari.</p></li><li><p>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat akam dan kodrat zaman karena Dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, pendidikan dapat menjadi lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan anak-anak. Pendidikan yang menghargai keunikan individu dan pada saat yang sama mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan adalah kunci untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global. Melalui upaya bersama antara pendidik, orang tua, dan stakeholder pendidikan lainnya, Indonesia dapat membangun sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan progresif yang akan memberikan kontribusi positif bagi masa depan bangsa dan negara.<br>Dengan demikian, pendidikan bukan hanya menjadi sarana untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana untuk membentuk karakter dan kepribadian yang kuat pada generasi mendatang. Itulah tadi uraian alasan mengapa pendidikan indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman.</p></li><li><p>Relevansi pemikiran "Pendidikan yang berhamba(berpihak) pada anak Dalam hal ini pendidikan harus dirancang sesuai dengan tahap perkembangan anak, baik secara budi maupun pekerti, yang mencakup aspek cipta, rasa, karsa, dan tenaga. Dari sini dapat saya lihat bahwa nilai-nilai ini sudah diterapkan dengan baik untuk perkembangan anak terutama di sekolah. Saya menyadari bahwa &nbsp;pendidikan bukan hanya tentang mengasah kemampuan, dan pemahaman intelektual semata, akan tetapi juga membentuk karakter dan moral yang kokoh untuk anak-anak. peran saya sebagai pendidik yaitu menyadari bahwa siswa sebagai manusia yang memilikikodrat bawaan dari sang pencipta dan juga terlahir dari zaman yang dinamis</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:25:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040719938</guid>
      </item>
      <item>
         <title>WITASARI/106</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040720151</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD ialah ketika pembelajaran IPA materi Rangkaian listrik paralel dan seri, saya memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkolaborasi dan bereksplorasi sesuai kemampuan mereka tidak berpusat pada buku saja, siswa saya bebas mencari pengetahui untuk merangkai listrik dari berbagai sumber, bebas berkreasi dan menemukan hal yang baru yang saya pun dapat belajar dari siswa saya.</p></li><li><p>Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya ialah membiasakan siswa sebelum memulai pembelajaran untuk membuat kesepakatan kelas bersama agar pembelajaran dapat dilaksanakan dengan nyaman dan lancar, Membiasakan siswa mengucapkan salam ketika memasuki ruangan, dan menghormati semua guru disekolah bukan hanya kepada wali kelasnya saja tapi kepada semuanya.</p></li><li><p>Pendidikan perlu mempertimbangan kodrat alam dan zaman karena kedua kodrat tersebut saling berkaitan. Kodrat alam dimana pembelajaran pertama yang didapat oleh siswa ialah berasal dari orang tua, keluarga dan lingkungan sedangkan kodrat zaman siswa juga diharapkan dapat mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan sekarang abad ke 21 dimana teknologi sangan berpengaruh dalam pembelajaran.</p></li><li><p>Relevansi pemikiran KHD dalam peran saya sebagai pendidik adalah memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk dapat berkolaborasi dan bereksplorasi sesuai bakat minat yang mereka miliki artinya Merdeka Belajar. Belajar tidak hanya berfokus kepada guru saja melainkan mereka bebas untuk memdapatkan sumber belajar dari mana saja.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:25:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040720151</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eka Yeni Feriana / 108</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040720375</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)? </p><p>Jawab : Pengalaman saya yang mencerminkan pemikiran KHD yaitu saya pernah memiliki siswa yang masuk dalam anak berkebutuhan khusus, abak tersebut sangat lambat dalam segala hal bahkan dalam akademik dia kurang jauh dari anak seusianya, tepapi dia memiliki bakat dalam menghafal sambil bernyanyi. Hingga saat kenaikan kelas saya menyarankan kepada kluarganya untuk menyekolahkan anak tersebut di sekolah hafis agar bakatnya bisa tersalurkan. Akhirnya orang tuanya juga menyadari kebutuhan anaknya tersebut dan memindahkan anaknya untuk belajar di rumah hafis.</p><p><br/></p><p>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? </p><p>Jawab : Untuk menuntun perwujudan  menunutun" Guru di sekolah yang memberikan bimbingan akademik serta pendidikan moral dan etika. sedangkaan Orang tua atau anggota keluarga mengajarkan nilai-nilai, keterampilan, dan pengetahuan kepada anak-anak mereka.</p><p><br/></p><p>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman? </p><p>Jawab : Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini berperan penting dalam membentuk pendidikan yang relevan, berkelanjutan, dan berorientasi pada masa depan.</p><p><br/></p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>Jawab : Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" sangat relevan dalam peran saya sebagai pendidik. Prinsip ini menekankan pentingnya pendidikan yang berpusat pada anak, menghormati hak-hak anak, dan memperhatikan kebutuhan serta potensi unik setiap siswa. Dengan mengadopsi pemikiran KHD ini, saya dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif, menghargai perbedaan, dan berfokus pada pengembangan potensi penuh setiap anak. Hal ini tidak hanya membantu siswa mencapai keberhasilan akademik, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang berdaya dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:26:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040720375</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama/Kelas : Yenni Triana/11.109</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040720650</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp; Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) yaitu saya memilih untuk&nbsp;<strong>menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan</strong>,&nbsp;di mana anak-anak didorong untuk&nbsp;<strong>berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengeksplorasi pengetahuan mereka sendiri</strong>. Anak-anak pada kodratnya suka bermain maka saya menciptakan pembelajaran sambil bermain, tanpa mereka sadari. Bahwa mereka belajar tapi dikemas dengan cara bermain. Contoh yang sering saya lakukan dikelas dengan memberikan ice breaking, lagu pembelajaran, Pembelajaran diluar kelas dan lain sebagainya.</p><p>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?</p><p>Dengan cara mengenalkan berbagai macam tradisi dan kebudayaan yang ada didaerah atau lingkungan sekitar anak. Dengan demikian anak akan belajar budaya, tradisi dan norma-norma yang ada dilingkungan atau daerah tempat mereka tinggal. Dengan adanya konteks sosiol budaya anak dapat terus melestarikan dan menjaga budaya agar tidak hilang karena tergeser oleh budaya asing yang masuk begitu cepat. Kearifan lokal yang ditanamkan sejak dini dapat memperkokoh nilai gotong royong, hidup rukun, saling menghargai dan cinta tanah air.</p><p>&nbsp;</p><p>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p><p>Karena penting untuk dipahami dan dipertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dimana kodrat alam setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karakteristik yang unik yang tidak sama dengan anak yang lain. Maka dari itu&nbsp; pembelajaran tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang berbakat dibidang seni, dibidang sains, olahraga dan lain-lain, guru harus menggali potensi anak didik dan membantu anak tersebut agar mendapatkan pencapaian yang maksimal sesuai dengan minat dan bakatnya. Kemudian kodrat zaman dimana anak-anak sebisa mungkin diberi ruang untuk belajar dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini misalnya memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang pada saat ini.</p><p>&nbsp;</p><p>4. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tentang "Pendidikan yang Berpihak pada Anak" memiliki relevansi yang sangat tinggi bagi pendidik. apat membantu anak-anak untuk mencapai potensi penuh mereka dan menjadi individu yang cerdas,&nbsp;berkarakter,&nbsp;dan siap untuk menghadapi tantangan masa depan."menuntun" bukanlah tentang mengendalikan atau memaksakan kehendak kepada orang lain.&nbsp;Melainkan,&nbsp;ini tentang memberikan dukungan,&nbsp;bimbingan,&nbsp;dan arahan yang membantu orang lain untuk mencapai potensi penuh mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:26:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040720650</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Fitria Sari/219</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040721824</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran KHD adalah melalui belajar budi pekerti ( salah satunya pembiasaan baik setiap hari jum'at dan sabtu bersih )/</p></li><li><p>Perwujudan menuntun  yang saya lihat dalam konteks sosial budaya saya?</p><p>salah satu perwujudan menuntun adalah bagaimana kebudayaan daerah dapat di jadikan sebagai salah satu teladan dalam kehidupan  sosial murid.</p></li><li><p>Perlu mempertimbangkan  kodrat alam dan kodrat zaman karena anak anak memiliki latar belakang budaya, ekonomi, sosial, kompetensi yang beragam dan harus memyesuaikan pembelajaran agar anak anak bisa lebih mengembangkan kan kemampuannya sesuai dengan kebutuhan yang ada pada di masa mereka berada.</p></li><li><p>Relevansinya adalah sebagai seorang pendidik  hendaknya memfasilitasi proses pembelajaran dengan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengemukakan pendapat, dan memberikan kebebasan dalam membangun pengetahuan seluas luasnya</p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:28:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040721824</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nursidik / 106</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040722109</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pemikiran KHD dengan kodrat dari alam yang mencerminkan kegiatan belajar dari bahasa daerah sebagai salah satu keunikan yang hadir dalam pembelajaran.</p></li><li><p>Konteks "Menuntun" sebagai perwujudan sosio budaya yang ada di palembang dengan membiasakan kepada murid untuk menerapkan nilai nilai religius seperti berdoa sebelum mulai pelajaran, kegiatan membaca yasin di hari jumat. Menanamkan budi pekerti dengan kita memberikan tauladan atau contoh sebagai seorang pendidik.</p></li><li><p>Kodrat alam berkaitran dengan kehidupan murid dalam lingkungan sosiokultural, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan perkembangan teknologi dan informasi, serta tantangan kebutuhan zaman yang terus berkembang.</p><p>pendidikan&nbsp;<em>&nbsp;</em>memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.</p></li><li><p>Sebagai seorang guru berhamba kepada anak relevan dengan peran saya sebagai pendidik. Menempatkan diri untuk memberikan kebutuhan yang diperlukan oleh murid untuk mencapai tujuan belajar yang memerdekakan kepada murid. Menjadi falisitator yang menuntun murid untuk menemukan potensi potensi diri dalam mengembangkan segala minatnya. Pendidikan harus berorientasi pada murid agar mendapatkan belajar yang menyenangkan dan nyaman.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:29:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040722109</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mutiara Fitriani / 11.106</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040723088</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Salah satu pengalaman saya yang mencerminkan pemikiran KHD adalah membimbing mereka berdiskusi dimana saya memberikan teladan,memberikan semangat dan mendorong mereka dalam memberikan pendapat yang berkaitan dengan kemangnetan</p></li><li><p>Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya adalah mengenalkan murid dengan kebudayaan daerah salah satunya kain jumputan yang merupakan khas palembang agar mereka mengenal kebudayaan mereka</p></li><li><p>Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena setiap anak memiliki potensi yang ada dalam dirinya. kodrat alam ini berkaitan dengan kodrat zaman karena pembentukan murid tergantung bagaimana mereka dapat menilai yang berdampak dengan dirinya</p></li><li><p>Berhamba pada anak dengan cara membebaskan anak dalam memilih cara belajar mereka sesuai dengan minat dan bakat anak agar mereka mencapai kebahagiaan setingginya-timgginya baik sebagai manusia maupun anggota msyarakat</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:30:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040723088</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama/kelas : Rindi Jayanti/108</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040724995</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Proses pembelajaran dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara diantaranya adalah guru sebagai pendidik harus menuntun dan memberikan teladan yang baik kepada murid, seperti dalam berprilaku, bertutur katanya guru dapat ditiru murid. Pengalaman Saya yang mencerminkan pimikiran KHD salah satunya membrikan materi ragam gerak tari tradisi yaitu Tari Tanggai Palembang yang dimana memiliki makna-makna yang termasuk pikiran KHD seperti nilai gotong royong, ketaatan kepada Tuhan, hormat kepada orang yang lebih tua serta kemandirian.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Perwujudan saya dalam menuntun dalam konteks budaya di daerah, tentu saya mengarahkan murid untuk dapat selalu melestarikan budaya positif seperti sapa salam santun dan selalu memotivasi murid dalam mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki.</p><p><br/></p></li><li><p>Sesuai dengan pemikiran KHD Pendidikan di Indonesia berpihak pada murid sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Kodrat anak adalah bermain, setiap anak memiliki cipta, rasa, karsa pekerti. Pendidikan mengikuti perkembangan zaman mengikuti pembelajaran abad 21. Murid  berkemampuan untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi serta berkolaborasi.</p><p><br/></p></li><li><p>Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan berhampa pada murid peran saya yaitu mempelajari karakter murid yang tentu berbeda-beda dengan melihat potensi dan bakat yang dimilikinya, saya sebagai fasilitator yang dapat membimbing serta menuntut murid, serta ikhlas dan sabar dalam menjaga perasaan murid. </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:33:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040724995</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Julia Aristantia / Kelas 11.220</title>
         <author>juliaaristantia07</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040725061</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD?</p><p><strong>Jawaban :</strong>Pengalaman saya terkait dengan proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD yaitu saya mengarahkan siswa pada pendidikan karakter atau budaya siswa yang baik dan tidak memaksakan kehendak kepada anak serta memberikan kebebasan kepada anak dalam menggali potensinya. Di sini tugas saya sebagai guru adalah menuntun anak agar dapat memperbaiki perilakunya untuk menjadi manusia seutuhnya.</p><ol start="2"><li><p> Bagaimana perwujudan kata “ menuntun ” dalam konteks sosial budaya di daerah Anda masing-masing?</p></li></ol><p><strong>Jawaban :</strong>Menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya yang pertama kita harus ketahui dahulu apa yang dimaksud dengan menuuntun, menuntun artinya mengarahkan, membimbing peserta didik menjadi lebih baik lagi sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu&nbsp; beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi pekerti yang baik, gotong rotong / Kerjasama, kreatif dan bernalar kritis, Dimana kalau &nbsp;di daerah Palembang kita ambil satu budaya yaitu Manggung / Bemasak dalam suatu hajatan yang dilakukan secara Bersama-sama dalam kegiatan ini dapat kita terapkan nilai karakter yaitu Bergotong royong dan kerukunan</p><ol start="3"><li><p>Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman ?</p></li></ol><p><strong>Jawaban :</strong> Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam&nbsp; dan kodrat zaman karena anak sudah dilahirkan dengan kodratnya masing-masing dengan segala bakat/talenta/potensi dalam dirinya sejak lahir ditambah pendidikan keluarga yang sudah diterimanya sebelum masuk ke dunia pendidikan. Selain itu keterampilan yang harus dikuasai juga terus berkembang, sehingga pendidikan harus mampu menciptakan siswa yang memiliki kemampuan sesuai dengan zamannya. Seperti di zaman sekarang semuanya berbasis teknologi, sehingga kita pun harus mampu memberikan pengajaran yang berbasis teknologi dan menuntun siswa untuk memilki kemandirian dan soft skill yang dibutuhkan di abad 21.</p><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Apa relevansi pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak ” bagi Anda dalam peran sebagai pendidik?</p></li></ol><p><strong>Jawaban :</strong> Berhamba pada anak artinya mementingkan kepentingan anak dari segalanya. Sebagai guru saya mesti melayani anak dengan tulus dan ikhlas sesuai dengan kondisi yang dialami anak yaitu mesti dituntun dan diperlakukan sesuai dengan karakter dan latar belakangnya. Oleh karena itu, sebelum melakukan proses pembelajaran maka hal pertama yang harus saya lakukan adalah menggambar anak berdasarkan potensi, minat, dan karakter belajar anak agar mereka dapat mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:33:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040725061</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DARLAN/kelas 11. 107</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040725150</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan ( mencerminkan) pemikiran Ki Hajar Dewantara ( KHD ) ? pengalaman saya salah satu dengan memperkenalkan siswa beberapa jenis tarian serta makna tarian itu sendiri, disini saya menjelaskan,peran kita sebagai anak bangsa, bagaimana kita membudayakannya, sehinnga tidak hilang dengan tarian zaman sekarang. alhamdulillah anak-anak mengerti.</p></li><li><p>Bagaimana perwujudan "<strong>menuntun</strong>" yang saya lihat dalam konteks <strong>sosial bugaya</strong> di daerah saya ? Menurut pemikiran saya, “menuntun” dalam konteks sosial budaya berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita</p></li><li><p>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p><p>Kedua aspek ini memiliki peran krusial dalam mengembangkan pendidikan yang relevan dan efektif bagi anak-anak di era digital dan globalisasi. Dimana <strong>Kodrat alam</strong>&nbsp;mengacu pada sifat dan karakteristik dasar yang melekat pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ini mencakup potensi, kekuatan, dan kelemahan yang secara alamiah melekat pada diri masing-masing individu. sedangkan <strong>Kodrat zaman</strong>&nbsp;berkaitan dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan sosial memengaruhi cara kita hidup dan berinteraksi. Dimana sebagai pendidik kita harus mempersiapkan anak-anak agar memiliki keterampilan  termasuk kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan berkolaborasi.</p></li><li><p>Apa relevansi pemikiran KHD : pendidikan yang berhamba(berpihak) pada anak" dalam peran saya sebagai pendidik?</p><p>Sebagai pendidik, saya bertanggung jawab untuk membimbing siswa menuju pemahaman diri yang lebih baik, serta membantu mereka mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki. Seperti <strong>Fokus pada Kebutuhan dan Minat Anak, Peran sebagai Fasilitator dan Pembimbing </strong>dan <strong>Menghormati dan Memuliakan Anak</strong></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:34:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040725150</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nyimas Nuria H.A/106</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040725561</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>pengalaman saya terkait dengan proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran KHD yaitu memberikan kemerdekaan pada murid untuk belajar sesuai dengan karakteristik dan kodrat alamnya, di mana saya mendesain pembelajaran berdiferensiasi dalam hal proses dan konten serta produknya sehingga bisa mengakomodir seluruh kemampuan dan karakter murid. </p></li><li><p>Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya saya yaitu membimbing dan mengenalkan mereka pada tradisi dan budaya agar anak mampu melestarikannya sebagai kekayaan budaya dan mengambil nilai-nilai positif dari budaya tersebut sebagai pendidikan karakter bagi anak.</p></li><li><p>Kodrat alam merupakan kondisi anak sejak lahir yang dipengaruhi kultur budaya dan lingkungan, hal ini akan berkaitan dengan karakter anak. Oleh sebab itu pendidikan atau kegiatan pembelajaran harus memperhatikan kodrat alam agar guru bisa mendesain dan menerapkan pembelajaran sesuai dengan karakter, potensi dan kebutuhan anak. </p><p>Kita juga harus mendidik anak sesuai dengan zamannya sehingga pembelajaran yang kita laksanakan bisa menarik minat dan motivasi murid, dengan mengakomodasi perkembangan zaman saat ini, maka kita juga bisa memfasilitasi kegiatan pembelajaran yang lebih bervariasi sesuai kebutuhan anak. </p></li><li><p>Relevansinya bahwa memang seorang pendidik itu mendidik dan mengajar bukan disesuaikan dengan kemauan pendidik atau pendidikan yang menuntut, tetapi kita memfasilitasi, mendesain dan menerapkan pendidikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh murid kita, jadi tugas kita sebagai pendidik adalah menciptakan pembelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik serta menuntun perkembangan potensi atau kodrat yang sudah ada dalam dirinya.</p><p><br></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:34:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040725561</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rahmat Fauzi / 108</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040727144</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Salah satu pengalaman yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah ketika saya bersama murid belajar membuat karya kerajinan tangan tradisional di daerah saya. Proses pembelajaran ini sangat menekankan pada keterampilan praktis, pengetahuan lokal, dan pendekatan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pada awalnya, saya memperkenalkan murid pada beberapa jenis kerajinan tradisional yang ada dengan menjelaskan sejarah, makna, dan teknik pembuatannya dengan sangat rinci. Kemudian, membimbing murid secara langsung untuk mempraktikkan pembuatan kerajinan tersebut.</p><p>Selama proses belajar, murid tidak hanya mempelajari keterampilan teknis, tetapi juga memahami filosofi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Misalnya, bagaimana pembuatan kerajinan tangan dapat mencerminkan budaya, kearifan lokal, dan semangat gotong royong masyarakat setempat. Selain itu, proses pembelajaran ini juga sangat terkait dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari murid. Bahan-bahan yang digunakan berasal dari sumber daya alam di sekitar murid, dan hasil kerajinan tersebut dimanfaatkan langsung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui pengalaman ini, saya dapat melihat bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang "Tri pusat Pendidikan" (keluarga, sekolah, dan masyarakat) diterapkan secara nyata. Pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari.</p></li><li><p>Perwujudan 'menuntun' yang terlihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya seperti gotong royong yang merupakan praktik tradisional di mana anggota masyarakat saling membantu dan bekerja sama dalam berbagai aktivitas seperti pembangunan infrastruktur, pertanian, maupun acara-acara sosial. Hal ini menuntun terciptanya solidaritas dan rasa saling memiliki antar sesama. Pengetahuan dan keterampilan sering kali diwariskan secara turun-temurun melalui sistem pendidikan informal, seperti pelatihan tradisional. Hal ini menuntun generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan tradisi lokal. Secara umum, perwujudan 'menuntun' dalam konteks sosial budaya di daerah berfokus pada upaya menjaga keseimbangan, solidaritas, dan identitas di lingkup masyarakat.</p></li><li><p>Karena sejatinya sejak dilahirkan setiap anak memiliki potensinya masing-masing, sebagai seorang pendidik diibaratkan sebagai seorang petani yang menanam di kebun, dengan kata lain pendidikan dilangsungkan secara alamiah melalui kodrat alam murid tersebut, sedangkan kodrat zaman tentunya pendidikan harus relevan dan terbarukan seiring perkembangan zaman saat ini.</p></li><li><p>Tentunya pembelajaran yang sejalan dengan filosofis KHD berhamba pada murid yakni sebagai seorang pendidik dapat menuntun anak dalam tumbuh kembangnya, pembelajaran dilangsungkan dengan berpusat pada diri murid, pendidik menjadi fasilitator atau seseorang yang memenuhi segala macam kebutuhan dalam mendukung proses pembelajaran yang berlangsung, murid dapat menciptakan lingkungan belajar sesuai dengan minat dan bakat, serta dapat memperoleh pengetahuan dan menggali potensinya seluas-luasnya.</p><p> </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:37:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040727144</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040727549</link>
         <description><![CDATA[<p>N<strong>ama /kelas </strong></p><p><strong>ade hasbullah /11.106</strong></p><p>1.Pengalaman saya berhamba pada anak: pemberian tugas disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak atau gaya belajarnya. ketika memberikan aksi nyata suatu tugas dalam mapel saya kini membebaskan anak untuk melakukannya dalam bentuk gambar, cerita atau edit video. Selanjutnya melakukan diagnostik pribadi anak untuk mengetahui keadaan dan kebutuhan peserta didik sebelum mengajar.</p><p><br/></p><p>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya?</p><p>Perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah mendampingi, membimbing atau mengemong anak memiliki sikap HASTHALAKU dan mencintai budayanya. </p><p><br/></p><p>Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman? Kodrat alam dan kodrat zaman menjadi bagian tak terpisahkan peserta didik. Dasar seorang anak dan keadaan memiliki hubungan konvergensi (saling mempengaruhi). Seorang anak lahir dengan kodrat alam ( kemampuan, bakat, potensi, keadaan) yang berbeda-beda. Mereka kemudian bertumbuh dan berproses sesuai dengan jamannya. Maka dalam mendidik, pendidik perlu mengetahui kodrat alam masing-masing anak agar dapat mendidik dengan maksimal. Selanjutnya pendidik mengenalkan, menyesuaikan dan merancang pendidikan sesuai dengan jamannya, sehingga pendidikan tersebut bersifat luwes dan dinamis.</p><p>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</p><p>Jawab:</p><p><br/></p><p>Sebagai pendidik, saya memandang relevansi pemikiran KHD “ Pendidikan yang berhamba pada anak sebagai mempunyai komitmen yang kuat untuk memberi layanan sebaik-baiknya pada peserta didik.</p><p><br/></p><p>Secara lebih rinci ini berarti:</p><p><br/></p><p>- Menomor satukan murid dalam setiap keputusan pembelajaran yang dibuat</p><p><br/></p><p>- Memandang anak dengan hormat</p><p><br/></p><p>- Memberikan pendidikan yang seimbang antara olah cipta, rasa, karsa, dan olah raga</p><p><br/></p><p>- Tidak memaksakan kehendak, namun melihat kebutuhan, minat dan kemampuan anak</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:38:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040727549</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ilham Hapis Alkodri / 11.107</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040730817</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengalaman saya terkait pemikiran KHD adalah kebetulan saya mengajar IPA (Fisika) di tingkat SMP, terkadang pembelajaran ini menjadi momok untuk sebagian Peserta didik kami, jika tidak di barengi dengan projek Praktikum dan pemenfaatan IT (Lab. Digital dll) maka, peserta didik tidak menemukan OBATnya atau dengan kata lain bosen.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perwujudan <strong>"menuntun"</strong> dalam konteks sosial budaya bisa berbeda-beda di setiap daerah, tergantung pada nilai-nilai, adat istiadat, dan norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Yang sudah kami paparkan pada saat erabolasi, lebih kepada melihat BAKAT MINAT peserta didik, sehingga PD tersebut menemukan Pasion yang Mereka sukai. Berikutnya dengan memperkenalkan prosesi adat istiadat didaerah setempat misalnya ; mewarisi cara membuat pempek, mengikuti sanggar tari dan musik kedaerahan, menghadiri adat pernikahan yang didalamnya terkandung kegiatan NGIDANG+Bemasak, lalu memperkenalkan Baju adat istiadat kedaerahan dengan mengajak anak ke acara ceremonial dan pernikahan.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena <strong>kodrat alam</strong> berarti pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi geografis, kekayaan alam, dan budaya lokal. Ini penting agar materi pelajaran dan cara mengajar relevan dengan lingkungan sekitar. Misalnya, di daerah pesisir, pendidikan bisa mencakup pengetahuan tentang kelautan dan perikanan. Sedangkan <strong>kodrat jaman</strong> tentu mengacu kepada kebutuhan dan tuntutan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Pendidikan harus relevan dengan kondisi dan tantangan masa kini agar siswa siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial yang berubah-ubah atau dinamis.</p><p><strong>Fokus pada Anak sebagai Subjek Pendidikan</strong>, Pendekatan KHD menekankan bahwa anak adalah subjek utama dalam pendidikan, bukan objeknya. Perannya adalah Pelayan dan Fasilitator untuk Peserta didik, dimana kita dapat menemukan Pasion anak dalam mengembangkan Bakat dan Minat peserta didik, demi terwujudnya Indonesia EMAS.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 10:44:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040730817</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama / Kelas : Annas Al Haddi / 108  </title>
         <author>annasalhaddi26</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040775844</link>
         <description><![CDATA[<p>No Jawaban :</p><ol><li><p>Proses pembelajaran Saya akan mengembangkan pendidikan karakter, selama pembelajaran saya akan mencoba menghadirkan kegiatan kerjasama, memperkuat toleransi dengan sesama teman maupun semua warga sekolah, sopan santun kepada sesama manusia dan melatih mereka untuk bisa bertanggungjawab dengan apa yang mereka hadapi. </p></li><li><p>Perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah Mendorong kreativitas peserta didik, saya mencoba mengarahkan peserta didik untuk mengenal potensi yang dimiliki dirinya masing-masing dengan memberikan waktu untuk mereka bereksplorasi dan membuat inovasi.</p></li><li><p>Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman adalah Menerapakan pembelajaran yang menjunjung tinggi kodrat alam dan zaman, yaitu dengan memberikan pembelajaran yang menghormati setiap potensi peserta didik dengan tidak membedakan namun kita selaku guru dapat memberikan tuntunan atau arahan agar mereka bisa berkembang lagi dan selama pembelajaran saya akan berusaha mengenalkan hal-hal yang sesuai dengan zamannya agar peserta didik tidak tertinggalan zaman dan dapat memanfaatkannya dengan baik.</p></li><li><p>Relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik adalah Menurut pandangan dan pemikiran saya, relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik.</p><p>Tentunya hal itu harus berpusat pada pola pemikiran peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek. Dan pada Kebutuhan dan minat anak menjadi salah satu tujuan dari adanya pemikiran <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.distriknews.com/tag/ki-hajar-dewantara">Ki Hajar Dewantara</a> (KHD) terhadap konsep pendidikan yang berhamba pada anak.</p><p>Dengan mempelajari konsep pemikiran KHD pendidikan yang berhamba pada anak diharapkan para pendidik bisa memahami perannya yang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing.</p><p><br/></p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 12:13:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040775844</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Subaeda / Kls. 11. 106 </title>
         <author>subaeda87</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040781172</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>pengalaman saya adalah saat pertemuan pertama dengan anak anak saya melakukan mengidentifikasi gaya belajar, minat dan bakat peserta didik sehingga saya dapat mengetahui kalau anak memiliki beranekaragam sesuai dengan kodratnya yaitu kodrat alam dan kodrat zaman </p></li><li><p>perwujudan dalam kata menuntun adalah saya memberikan kebebasan dalam keragaman budaya yang dimiliki peserta didik seperti kegiatan p5 tema kebhineka tunggal ika yaitu setiap anak boleh menentukan dan menampilkan lagu, bahasa, tarian lokal sesuai budaya masing masing, saya mendampingi peserta didik sebagai among menuntun dan mengarahkan ke anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan  dirinya dan orang lain serta menjadi mandiri.</p></li><li><p>kodrat alam dan kodrat zaman tidak terpisahkan dalam diri anak. seorang anak memiliki kondisi dimana anak itu berada baik kultur budaya maupun kondisi geografinya,  konteks lokal sosial budaya peserta didik, kebiasaan seperti minat dan bakat peserta didik.  kita sebagai guru adalah mengetahui dan memperhatikan karakter / keanekaragaman peserta didik untuk dapat menuntun anak agar bisa tumbuh sesuai dengan kebutuhannya,  sedangkan kodrat zaman dimana kondisi abad 21 sekarang yang dihadapi adalah kemajuan teknologi sebagai guru kita harus melek dengan teknologi dengan menerapkan di proses pembelajaran dan merancang pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan pembelajaran lebih bermakna untuk peserta didik. </p></li><li><p>pendidikan harus berpusat kepada peserta didik, murid sebagai subjek pembelajaran yaitu murid diberikan kebebasan ber ekspresi, mengemukakan pendapat, berkreasi. sedangkan kita sebagai pendidik harus sebagai  fasilitator pembelajaran, pendidik harus ikhlas penuh kesabaran dengan segala ketulusan hati, pendidik harus mempelajari karakteristik peserta didik dan pendidik harus memberikan kesempatan buat peserta didik untuk tumbuh sesuai kodratnya yaitu kodrat alam dan kodrat zaman </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 12:24:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040781172</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marisa Sefiyanty/11.109</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040791194</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya?</p><p>Makna Kata “Menuntun” dalam Konteks Sosial Budaya</p><p>Menurut pemikiran saya, “menuntun” dalam konteks sosial budaya berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita.</p><p>•	Menyisipkan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran: Mengenalkan alat musik tradisional, lagu, tarian, dan makanan khas.</p><p>•	Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kearifan lokal: Menghormati kodrat alam serta zaman peserta didik.</p><p><br></p><p>2.Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</p><p>Kodrat Alam: Menghargai Keunikan Setiap Individu Kodrat alam merujuk pada sifat dan karakteristik dasar yang melekat pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Setiap individu memiliki potensi, kekuatan, dan kelemahan yang unik dan berbeda-beda. Dalam konteks pendidikan, penting bagi kita untuk memahami dan menghormati kodrat alam setiap anak. -Mengakui Keunikan Individu: Setiap anak memiliki kecenderungan, bakat, dan minat yang berbeda. Mengakui perbedaan ini membantu kita menyusun pendekatan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. -Memahami Potensi dan Kelemahan: Dengan memahami kodrat alam setiap individu, guru dapat membantu mengembangkan potensi terbaik anak-anak sambil juga membantu mereka mengatasi kelemahan yang dimiliki. -Mengajarkan Empati dan Toleransi: Menghargai keunikan setiap individu dalam pendidikan juga mengajarkan anak-anak untuk menjadi lebih empati dan toleran terhadap perbedaan.</p><p>Kodrat Zaman: Persiapan Menghadapi Perubahan Kodrat zaman berkaitan erat dengan kondisi dan tuntutan zaman yang selalu berubah. Perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan sosial memengaruhi cara kita hidup dan berinteraksi. Dalam konteks pendidikan, penting bagi kita untuk mempersiapkan anak-anak agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. -Keterampilan Berpikir Kritis: Dalam era informasi dan teknologi, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi sangat penting. Anak-anak perlu dilatih untuk menganalisis informasi dengan cerdas dan memilah-milah data yang relevan.</p><p>Kemampuan Beradaptasi: Dunia yang terus berubah menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Pendidikan harus memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan anak-anak untuk belajar dan berkembang sesuai dengan perubahan zaman. -Keterampilan Kolaborasi dan Komunikasi: Di era globalisasi, kemampuan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif menjadi kunci kesuksesan. Pendidikan harus memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar bekerja sama dan berinteraksi dengan orang lain.</p><p>Pendekatan Holistik dan Relevan Dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, pendidikan dapat menjadi lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan anak-anak. Pendidikan yang menghargai keunikan individu dan pada saat yang sama mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan adalah kunci untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global. Melalui upaya bersama antara pendidik, orang tua, dan stakeholder pendidikan lainnya, Indonesia dapat membangun sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan progresif yang akan memberikan kontribusi positif bagi masa depan bangsa dan negara.</p><p><br></p><p>3.Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</p><p>Memfokuskan pada Kebutuhan dan minat anak menjadi salah satu tujuan dari adanya pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) terhadap konsep pendidikan yang berhamba pada anak.</p><p>Dengan mempelajari konsep pemikiran KHD pendidikan yang berhamba pada anak diharapkan para pendidik bisa memahami perannya yang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing.</p><p>Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?</p><p>Jawaban:</p><p>Menurut pandangan dan pemikiran saya, relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik.</p><p>Tentunya hal itu harus berpusat pada pola pemikiran peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek.</p><p>Para pendidik harus bisa memberikan mereka (peserta didik) kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya.</p><p>Selain daripada itu relevansi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa seorang pendidik itu harus menghamba pada anak juga memiliki makna yang lebih luas.</p><p>Dimana dalam hal itu memiliki maksud seorang guru harus memiliki rasa hormat, memuliakan anak sehingga jika tumbuh perasaan tersebut, maka tanpa disadari dalam diri anak akan tumbuh rasa senang, bahagia.</p><p><br></p><p>4.Bagaimana gambaran proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?</p><p>Pembelajaran Berbasis Pengalaman: KHD menghargai pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Melalui eksplorasi, percobaan, dan penemuan, siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan relevan.</p><p>Menghamba pada Anak: Konsep ini menekankan bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa. Siswa berperan sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran, bertanggung jawab, dan memiliki daya inovasi yang baik3.</p><p>Memerdekakan Aspek Badaniah dan Batiniah: KHD menekankan pentingnya memerdekakan aspek fisik dan batiniah manusia melalui pendidikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 12:43:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040791194</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tri Wahyuni/11.107</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040823277</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) yaitu pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyebutkan bahwa guru menghamba pada murid.&nbsp; Menghamba pada murid, yaitu saya sebagai guru sebelum pembelajarn dimulai saya mengenali karakterisrik siswa itu sendiri, mengenal gaya belajar dan situasi sosial emosional siswa, langkah awal yang selalu saya lakukan yaitu melakukan pendekatan dengan siswa, mendekati dengan cara mengadakan komunikasi internal. dalam hal ini saya tidak menempatkan jabatan saya sebagai guru, namun lebih sebagai teman dari siswa itu sendiri, yang siap mendengarkan keinginan dan harapan siswa dari situasi pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta memberi motivasi yang sangat berguna untuk menghapus segala ketakutan-ketakutannya dalam belajar.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah adanya pendampingan kepada anak-anak ketika akan ke sekolah atau keluar rumah diajarkan untuk selalu berpamitan dengan orang tua serta mencium tangan kedua orang tua.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendidikan menuntun kodrat alam artinya guru sebagai penuntun bagi kodrat alam yang sudah dimiliki siswa sejak lahir<br>berupa bakat dan kondisi dimana ia dilahirkan. Seorang anak harus<br>diajarkan sesuai dengan kodrat alam dimana ia tinggal dan<br>dibesarkan. Pendidikan menuntun kodrat zaman siswa artinya guru<br>sebagai penuntun agar siswa bisa menyesuaikan diri dengan kodrat<br>zaman yang oleh KHD hal ini merupakan aspek penting dalam<br>keberhasilan pendidikan. Guru dituntut untuk ikut mempelajari dan<br>mengetahui yang diketahui oleh generasi yang dihadapinya.<br>kodrat zaman di mana kita sebagai pendidik harus bisa mengaplikasikan teknologi dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat belajar dengan menyenangkan sesuai potensi mereka masing masing</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada<br>anak” dengan peran saya sebagai pendidik adalah melihat<br>bahwa peserta didik bukanlah sebagai objek namun dijadikan<br>sebagai subjek. Memberikan mereka kesempatan dan fasilitas<br>mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Seorang<br>guru harus memiliki rasa hormat, memuliakan anak sehingga<br>jika tumbuh perasaan tersebut, maka tanpa disadari dalam diri<br>anak akan tumbuh rasa senang. Kondisi ini akan bisa<br>memudahkan siswa untuk menyerap ilmu pengetahuan yang<br>guru berikan sehingga akan membawa hasil yang<br>memuaskan.<br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 13:40:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040823277</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Winda Fitri Maretta / 109</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040855025</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman saya terkait refleksi pemikiran Ki Hajar Dewantara selama ini saya berpikir dan berprinsip bahwa semua peserta didik itu sama saja, baik dari pengetahuan akademik dan non-akademiknya, sehingga peserta didik selama ini hanya saya jadikan sebagai objek pembelajaran, sedangkan saya sebagai guru sebagai pusat pembelajaran. Namun, setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan ini membuat pemikiran saya berubah mengenai makna pendidikan dan pembelajaran. Peserta didik adalah subjek pembelajaran dan tugas kita sebagai guru adalah menjadi fasilitator bagi proses pembelajaran peserta didik itu sendiri. Setiap peserta didik berbeda potensi (minat dan bakat) dalam belajar. Jadi kita ini 'menghamba' kepada peserta didik dalam konteks pembelajaran. Kita sebagai guru bertugas menuntun peserta didik dalam setiap prosesnya agar peserta didik dapat berkembang sesuai dengan potensinya. Maka dari itu, saya sebagai guru akan berusaha dan berupaya merubah cara mengajar saya yaitu memerdekakan peserta didik sesuai kodrat dan potensinya. </p></li><li><p>Menurut pemikiran saya, “menuntun” dalam konteks sosial budaya berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita. Untuk mencapai pendidikan yang relevan dengan konteks sosial budaya, kita dapat menyisipkan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran mata pelajaran Kesenian Daerah (seperti mengenalkan alat musik tradisional, lagu, tarian, dan makanan khas). Kemudian kita dapat mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis kearifan lokal dan menghormati kodrat alam serta zaman peserta didik, misalnya P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Pendidikan yang memperhatikan nilai-nilai budaya dan konteks sosial di daerah kita akan membantu menciptakan generasi yang menghargai warisan budaya dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan menuntun anak-anak kita secara bijaksana, kita dapat mewujudkan pendidikan yang relevan dan berdaya saing.&nbsp;</p></li><li><p>Kodrat alam mengacu pada sifat dasar manusia yang tidak berubah, fitrah atau karakteristik bawaan yang dimiliki setiap individu. Ini mencakup kebutuhan dasar, dorongan untuk belajar, dan aspirasi untuk berkembang secara pribadi dan sosial. Memahami dan mempertimbangkan kodrat alam dalam pendidikan memiliki beberapa implikasi penting: (1) Pengembangan potensi individu, (2) Menghargai keberagaman, dan (3) Pemahaman terhadap kebutuhan dasar. Di sisi lain, kodrat zaman mencerminkan konteks atau era di mana kita hidup saat ini. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan tantangan global mempengaruhi bagaimana pendidikan harus disusun dan diimplementasikan agar tetap relevan dan efektif: (1) Teknologi dan inovasi, (2) Persiapan untuk tantangan global, dan (3) Pengembangan keterampilan kehidupan.</p></li><li><p>Sebagai guru, saya memandang relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba pada anak" itu sebagai sebuah komitmen dan tanggung jawab kita sebagai pendidik yang berurusan langsung dengan dosa kita kepada Allah SWT. Tentunya hal itu harus berpusat pada pola pemikiran peserta didik bukan dilihat sebagai objek, namun dijadikan sebagai subjek. Maka, kita sebagai guru harus berkomitmen dan bertanggung jawab sepenuhnya dalam menuntun peserta didik menjadi orang yang sebaik-baiknya. Para pendidik harus bisa memberikan mereka (peserta didik) kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Dimana dalam hal itu memiliki maksud seorang guru harus memiliki rasa hormat, memuliakan anak sehingga jika tumbuh perasaan tersebut, maka tanpa disadari dalam diri anak akan tumbuh rasa senang, bahagia. Kondisi ini akan bisa memudahkan siswa untuk menyerap ilmu pengetahuan yang guru berikan sehingga akan membawa hasil yang memuaskan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-28 14:30:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3040855025</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Melisa Vivitri/218</title>
         <author>melisavivitri15</author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3041126585</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Proses Pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyebutkan bahwa guru menghamba pada murid.&nbsp; Dalam hal ini, sebagai guru untuk mengenali karakterisrik siswa itu sendiri, mengenal gaya belajar dan situasi sosial emosional siswa, langkah awal yang selalu saya lakukan yaitu melakukan pendekatan dengan siswa, mendekati dengan cara mengadakan komunikasi internal. dalam hal ini saya tidak menempatkan jabatan saya sebagai guru, namun lebih sebagai teman dari siswa itu sendiri, yang siap mendengarkan keinginan dan harapan siswa dari situasi pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta memberi motivasi yang sangat berguna untuk menghapus segala ketakutan-ketakutannya dalam belajar. Contoh real yang dapat saya sajikan, yaitu pada awal pertemuan  saya tidak langsung memberikan siswa materi namun lebih pada kegiatan sharing satau saling bercurah pikiran, bertukar pendapat tentang bagaimana&nbsp; perasaannya hadir ke sekolah, mengikuti pembelajaran setelah mendengarkan ketakutan tentang situasi pembelajaran yang akan dihadapi serta memberikan motivasi yang meyakinkan mereka akan terlaksananya pembelajaran yang menyenangkan.</p></li><li><p>Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya yaitu  melestarikan budaya positif seperti dalam kegiatan bersalaman menyambut siswa ketika mereka datang kesekolah hal ini dapat menimbulkan sikap santun dan hormat kepada yang lebih tua oleh karena itu ha ini dapat menjadikan karakter murid menjadi lebih baik</p></li><li><p>Kodrat alam mengacu pada sifat dasar manusia dan lingkungan alamiah yang memengaruhi perkembangan&nbsp;anak.</p><p>Mempertimbangkan&nbsp;kodrat alam&nbsp;dalam&nbsp;pendidikan&nbsp;berarti mengakui dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan biologis, psikologis, dan lingkungan&nbsp;anak. oleh karena itu sebagai seorang guru kita harus mempertimbangkan kodrat alam dan zaman dalam mendidik murid</p></li><li><p>Relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik artinya pembelajaran yang bukan mengikuti seorang guru memaksa murid untuk belajara sesuai d=keinginan guru tetapi guru harus mengikuti potensi / kodrat yang dimiliki peserta didik</p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 06:03:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3041126585</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masyhuri/220</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3041162589</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>pengalaman terkatit proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran KHD yaitu ketika saya mengajar anak kelas 2 tentang angka ratusan saya mengajak siswa saya untuk berbelanja menggunakan uang receh milik mereka agar mereka paham penjumlahan dang pengurangan angka ratusan.</p></li><li><p>perwujudan menuntun bisa dilihat dalam pembiasaan yang dilakukan baik didalam kelas maupun diluar kelas.disekolah kami, anak anak dibiaskan memulai dan mengakhiri kegiatan dengan berdoa, mengaji di hari jumat, sholat dhuha, serta jumat bersih untuk operasi semut agar anak mencintai lingkungan.</p></li><li><p>pendidikan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan dan potensi anak. secara tidak langsung pendidikan harus mengikuti kodrat zaman. seperti gen z dan gen alpha yang terlahir dengan kondisi melek teknologi maka kita sebagai pendidik juga wajib melek teknologi bukan gagap teknologi</p></li><li><p>kita sebagai pendidik memilki peran sebagai fasilitator dan motivator untuk mengarahkan siswa dalam menemukan potensi bakat minat yang ada pada dirinya.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-06-29 08:23:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sulthonsn/e5yzpm7tlg2g2qtm/wish/3041162589</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
