<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tes Inteligensi x Tes Bakat by Ida Ayu Ratih Krisnanti</title>
      <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl</link>
      <description>Kelompok 6 dan 11</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-12 09:57:56 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-12-08 13:23:53 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f9e0.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733471879</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Secara umum, <strong>inteligensi</strong> merupakan kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, menalar, merencanakan, menyimpulkan, membuat penilaian dan memecahkan masalah, memahami dan memvisualisasikan konsep, memperhatikan, menjadi intuitif, menemukan kata-kata dan pola pikir yang tepat, serta mengatasi, menyesuaikan diri, dan memanfaatkan situasi baru dengan baik (Cohen &amp; Swerdlik, 2018).<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Tes inteligensi</strong> berfungsi untuk mengukur potensi umum seseorang untuk memecahkan masalah, beradaptasi dengan situasi baru, dan mengambil keuntungan dari pengalaman tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1335483369/3369544ddbe55a0c3576ee18eb3b7a07/unnamed.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-12 09:58:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733471879</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Asal Mula</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733478821</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Francis Galton merupakan tokoh yang pertama kali mengusulkan teori adanya pengaruh genetik dalam inteligensi manusia. Menurut Galton (1893), inteligensi yang dimiliki manusia berhubungan dengan seberapa baik individu mengatur kemampuan sensoriknya. Pada tahun 1895, Alfred Binet dan Victor Henri menyerukan suatu pengukuran intelektual yang lebih kompleks dan menentang pendapat Galton. Binet berpendapat bahwa ketika seseorang memecahkan masalah tertentu, kemampuan berpikir, abstraksi, mengingat, dan menalar tidak dapat dipisahkan karena mereka harus berinteraksi untuk menghasilkan solusi. Pada awal 1904, psikolog Inggris Charles Spearman memelopori teknik baru untuk mengukur interkorelasi antar tes. Teknik ini kemudian diresmikan oleh Spearman pada 1927 sebagai <em>two-factor theory of intelligence</em> (Cohen &amp; Swerdlik, 2018).<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Di tahun 1904 pula, Menteri Pendidikan Umum Paris meminta Binet untuk mempelajari cara agar anak tunagrahita dapat diidentifikasi di kelas. Pada tahun berikutnya, salah satu tes milik Binet, yaitu <em>The 1905 Binet-Simon Scale</em> menjadi tes inteligensi praktis pertama. Tes milik Binet ini terus dikembangkan hingga tahun 1986 (<em>Stanford-Binet Scale</em>). Kemudian, di tahun 1939, Wechsler mengembangkan tes inteligensi pertamanya, yaitu WAIS. Dilanjutkan dengan WISC dan yang terakhir, yaitu WPPSI (Domino &amp; Domino, 2006). Menurut Wechsler, definisi inteligensi perlu ditambahkan unsur keseluruhan. Keseluruhan yang dimaksud disini adalah bahwa dalam mengukur inteligensi terdapat unsur-unsur non intellective di dalamnya. Salah satu contoh dari unsur tersebut adalah kemampuan afektif dan konotatif (Cohen &amp; Swerdlik, 2018).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-12 10:05:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733478821</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jenis-Jenis</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733481784</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Binet Tests</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Tes Binet merupakan salah satu jenis tes inteligensi yang dicetuskan oleh Alfred Binet pada tahun 1905 di Paris, Perancis. Binet awal mulanya digunakan sebagai salah satu alat tes untuk mengukur kemampuan mental seseorang. Terdapat tiga komponen penting dalam tes Binet, yakni kemampuan dalam mengarahkan suatu pikiran atau tindakan, kemampuan mengalihkan arah tindakan apabila tindakan tersebut telah selesai dilaksanakan, dan kemampuan dalam mengkritik diri sendiri. Dalam perkembangannya, tes Binet mengalami berbagai revisi sebelum akhirnya digunakan di Indonesia. Saat ini, tes Binet yang dipergunakan di Indonesia merupakan <em>Stanford Binet Intelligence Scale Form L-M</em>, yang merupakan revisi ketiga dari Terman dan Merril pada tahun 1960 (Nuraeni, 2012). Skala Stanford-Binet versi terbaru dipublikasikan pada tahun 1986, yang memuat empat tipe penalaran dalam konsep inteligensi (Rohmah, 2011).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Skala tes inteligensi Stanford Binet memuat berbagai materi yang diletakkan dalam sebuah kotak. Kotak tersebut berisi berbagai jenis mainan anak, dua buah buku kecil berisi cetakan kartu, sebuah buku untuk mencatat skor anak, dan petunjuk pelaksanaan tes inteligensi. Terdapat berbagai kategorisasi dalam skala Stanford-Binet yang disusun berdasarkan usia, mulai dari 2 tahun hingga usia dewasa. Kendatipun demikian, tingkat kesulitan dalam setiap levelnya tidak berbeda jauh. Tes ini dimaksudkan sebagai batasan usia mental yang dapat dicapai oleh anak-anak, bukan level intelektual yang dapat dicapai oleh orang dewasa. Dalam pelaksanaannya, skala Stanford-Binet dikerjakan secara&nbsp; individual dengan teknik pemberian soal secara lisan oleh pemberi tes (Rohmah, 2011).<br><br><strong>2. Wechsler Tests</strong><br>&nbsp; &nbsp; <strong>&nbsp;a) WAIS</strong><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; <em>Wechsler Adult Intelligence Scale</em> merupakan alat pemeriksaan intelegensi yang bersifat individu dan digunakan untuk mengukur inteligensi umum dengan rentang usia 16-75 tahun dan diagnosis psikiatris pada orang dewasa. WAIS merupakan tes yang disusun oleh David Weschler, yang pada awalnya bernama <em>Weschler-Bellevue Intelligence Scale </em>yang dipublikasikan pada tahun 1939. Wechsler menambahkan bentuk kedua <em>Weschler-Bellevue Intelligence Scale Form II</em> dan hingga pada akhirnya pada tahun 1955 terbentuklah <em>Weschler Adult Intelligence Scale</em> (WAIS) (Wechsler, 2012).&nbsp;</div><div>	Materi dari WAIS sendiri terdiri dari dua bagian, yaitu Tes Verbal dan Tes Performan. Tes verbal terdiri atas informasi, pengertian, hitungan dan persamaan, rentangan angka dan perbendaharaan kata, sedangkan Tes Performansi terdiri dari simbol angka, melengkapi gambar, rancangan balok, mengatur gambar dan merakit objek (Silva, 2008).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>b) WISC</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;David Wechsler merupakan tokoh yang memperkenalkan tes inteligensi Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) pada tahun 1939. Tes ini merupakan salah satu tes yang sering dijumpai karena mampu mengukur fungsi intelektual yang lebih universal pada anak berusia 8-15 tahun. Aspek kecerdasan dan kemampuan kognitif anak dapat diuraikan dengan cara mengintegrasikan pola-pola respon pada tiap subtesnya (Wechsler, 2012).&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Tes WISC mencakup dua aspek dalam pelaksanaannya, yaitu tes verbal dan <em>performance</em>. Pada tes verbal, materi yang diujikan kepada anak berupa kosakata, pengertian, informasi, hitungan, persamaan, dan rentang angka. Sedangkan untuk tes <em>performance</em>, anak diminta untuk mengatur gambar, melengkapi gambar, merancang balok, merakit objek, mazes atau labirin, dan simbol. Terdapat beberapa kemampuan yang diukur dalam tiap-tiap subtesnya, seperti ingatan, pemikiran praktis, abstraksi, penerjemahan masalah, penyerapan fakta, kemampuan belajar anak, dan identifikasi visual dari berbagai objek (Wechsler, 2012).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Setelah anak mengikuti berbagai rangkaian tes tersebut, pemberi tes akan membuat profil berdasarkan skala Bannatyne dari skor masing-masing subtes. Profil tersebut kemudian dijadikan sebuah gambaran umum mengenai kemampuan anak untuk mendeteksi kesulitannya dalam proses belajar. Tes WISC dapat digunakan pula untuk menguraikan berbagai gejala gangguan klinis pada anak, misalnya <em>brain damage, learning disabilities, anxiety,</em> dan lain-lain (Wechsler, 2012).<br>&nbsp; &nbsp; <strong>&nbsp;c) WPPSI</strong><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<em>Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence&nbsp; (WPPSI)</em> dikembangkan oleh Wechsler pada tahun 1967. WPPSI dikembangkan untuk anak usia 4 hingga 6,5 tahun. Alat tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan anak secara keseluruhan serta dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik keterlambatan atau kesulitan anak tersebut. WPPSI ini juga terbagi menjadi dua bentuk, yaitu <strong>subtes verbal</strong> dan juga <strong><em>performance</em></strong>.<strong><em> </em></strong>Alat tes WPPSI juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan anak-anak dengan keterlambatan kemampuan kognitif, mengevaluasi keterlambatan kemampuan kognitif, gangguan intelektual dan autisme. WPPSI juga dapat digunakan untuk menentukan jenis sekolah yang tepat bagi anak hingga melihat apakah anak mengalami kerusakan pada otak (Wechsler, 2012).</div><div><br></div><div><strong>3. Raven Tests</strong><br><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;a) SPM</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<em>Standard Progressive Matrices</em> merupakan salah satu contoh bentuk skala intelegensi yang dapat diberikan secara individual maupun secara kelompok. Skala ini dirancang oleh J. C. Raven dan diterbitkan terakhir kali oleh H.K. Lewis &amp; Co. Ltd. London pada tahun 1960. Tes SPM mengukur kecerdasan orang dewasa. Tes ini mengungkapkan faktor general (G faktor) atau kemampuan umum seseorang. SPM merupakan tes yang bersifat nonverbal, artinya materi soal-soalnya diberikan tidak dalam bentuk tulisan ataupun bacaan melainkan dalam bentuk gambar-gambar. Oleh Karena instruksi pengerjaannya diberikan secara lisan maka skala ini dapat digunakan untuk subjek yang buta huruf sekalipun (Kumolohadi &amp; Suseno, 2012).<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>b) APM</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<em>Advanced Progressive Matrices</em> (APM) merupakan tes inteligensi kedua yang dikembangkan oleh John C. Raven dengan berdasar pada teori inteligensi milik Spearman, yaitu teori <em>g factor</em>. Tes ini digunakan untuk mengukur intelektualitas seseorang yang memiliki inteligensi di atas rata-rata, yaitu IQ di atas 130 dalam skala Wechsler (Suryana, 2017).<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>c) CPM</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<em>Coloured Progressive Matrices</em> (CPM) dicetuskan oleh Raven sebagai alat tes inteligensi pada anak-anak usia lima sampai sebelas tahun yang terkendala akan alat tes Raven sebelumnya, yaitu SPM. CPM dapat digunakan juga pada orang dewasa yang memiliki tingkat pendidikan rendah (Nuraeni, 2012).</div><div><br><strong>4. TIKI (Tes Inteligensi Kolektif Indonesia)</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; TIKI adalah tes inteligensi dari Indonesia yang bekerja sama dengan Belanda. TIKI bertujuan untuk menciptakan alat tes berdasarkan norma Indonesia dan juga untuk melihat standar inteligensi di Indonesia (Nuraeni, 2012).&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; TIKI memiliki tiga tes, yaitu TIKI Dasar, TIKI Menengah, dan TIKI Tinggi. TIKI Dasar diberikan kepada anak-anak pada tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama kelas dua. TIKI Menengah diberikan kepada anak anak sekolah menengah pertama kelas tiga hingga sekolah menengah atas. Terakhir, TIKI Tinggi diberikan kepada individu pada tingkat perguruan tinggi dan memiliki tingkat kesulitan paling kompleks (Nuraeni, 2012).<br><br><strong>5. IST</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Pada tahun 1955, Rudolf Amthaeur mengembangkan sebuah tes inteligensi yang disebut dengan Intelligenz Struktur Test (IST). Tes ini telah diadaptasi di Indonesia yang terdiri dari sembilan subtes dan 176 soal. Subtes pertama, yaitu Satzerganzung (SE) untuk mengukur kemampuan berpikir konkret praktis, keinginan berprestasi, pengambilan keputusan, pemahaman realita, pengolahan pendapat atau penilaian, kemandirian dalam berpikir, dan common sense. Kedua, subtes Wortauswahl (WA) untuk mengukur kemampuan bahasa dan cara berpikir induktif dengan bahasa. Ketiga, subtes Analogien (AN) untuk mengukur kemampuan fleksibilitas dan kombinasi berpikir, serta resistensi (Kumolohadi &amp; Suseno, 2012).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Subtes keempat, yaitu subtes Gemeinsamkeiten (GE) yang mengukur kemampuan pemahaman esensi dari satu ataupun beberapa kata dan&nbsp; kemampuan menyusun suatu pengertian dari kekhasan pada dua objek. Kelima, subtes Rechhenaufgaben (RA) untuk mengukur kemampuan berpikir logis, bernalar, dan memecahkan masalah secara matematis. Keenam, subtes Zahlenreihen (ZR) untuk mengukur kemampuan berhitung dengan pendekatan analisis atas informasi faktual berupa angka. Ketujuh, subtes Figurenauswahl (FA) untuk mengukur kemampuan mengikuti komponen irama dalam berpikir, yaitu dengan cara membayangkan suatu bentuk dari potongan-potongan objek visual secara konstruktif. Kedelapan, subtes Wurfelaufgaben (WU) untuk mengukur kemampuan analisis dengan disertai kemampuan membayangkan perubahan keadaan ruang secara antisipatif dengan melibatkan peran imajinasi, kreativitas, fleksibilitas berpikir, dan kemampuan mengonstruksi perubahan. Terakhir, subtes Merkaufgaben (ME) untuk mengukur daya ingat individu (Kumolohadi &amp; Suseno, 2012).<br><br><strong>6. CFIT</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Pada tahun 1940, Raymond B. Cattell memperkenalkan tes inteligensi yang bernama <em>Culture Fair Intelligence Test</em> (CFIT). Jenis tes ini dapat dikatakan efisien karena hanya memakan waktu sekitar 30 menit (Suwandi, 2015). Hal ini menjadikan CFIT populer dan hingga sekarang masih sering digunakan oleh para psikolog, khususnya di Indonesia. Cattell merupakan salah seorang tokoh yang membagi inteligensi menjadi 2 komponen, yaitu <em>fluid </em>dan<em> crystallized intelligence. Fluid intelligence</em> merupakan kecerdasan hereditas atau bawaan lahir, sedangkan <em>crystallized intelligence</em> adalah kecerdasan yang sudah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Cattell ingin mengukur tingkat <em>fluid intelligence </em>(Gf) seseorang (Suwandi, 2015).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Terdapat tiga skala yang digunakan dalam CFIT, yaitu: skala 1 (4-8 tahun), skala 2 (8-13 tahun), dan skala 3 (individu dengan kecerdasan di atas rata-rata). Dalam pelaksanaannya, tes ini diberikan kepada sekelompok individu secara kolektif, kecuali pada skala 1. CFIT berbentuk paralel pada skala 2 dan 3 yang dapat digunakan untuk pengetesan kembali. Tingkat kesulitan pada skala 2 dan 3 dibedakan, tetapi kedua skala tersebut memiliki beberapa kemiripan. Skala dalam CFIT terdiri dari 4 subtes, yaitu <em>series, classification, matrice, </em>dan <em>topology </em>(Suwandi, 2015).<br><br><strong>7. SON</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Sesuai namanya, <em>Snijders Oomen Non Verbal Scale</em> (SON) adalah alat tes inteligensi non verbal untuk anak dan remaja usia tiga sampai 16 tahun, baik normal maupun penyintas disabilitas, seperti tunarungu yang dibuat pada tahun 1939 – 1942 di Amsterdam (Nuraeni, 2012).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-12 10:08:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733481784</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Daftar Pustaka</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733498050</link>
         <description><![CDATA[<div>Cohen, R. J., &amp; Swerdlik, M. (2018). <em>Psychological Testing and<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Assessment: An Introduction to Tests and Measurement<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; (9th Edition)</em>. New York: McGraw−Hill Education.</div><div>Domino, G., &amp; Domino, M. L. (2006). <em>Psychological Testing: An<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Introduction (2nd Edition)</em>. New York: Cambridge<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; University Press.<br>Kumolohadi, R., &amp; Suseno, M. N. (2012). <em>Intelligenz Struktur<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Test dan Standard Progressive Matrices : Dari Konsep<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Inteligensi Yang Berbeda Menghasilkan Tingkat<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Inteligensi Yang Sama</em>. Jurnal Inovasi dan<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Kewirausahaan, 1(2), 79–85.<br>Nur, H. (2018). <em>Model Praktikum Tes Intelegensi</em>. Universitas<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Muhammadiyah Sidoarjo.</div><div>Nuraeni, N. (2012). <em>Tes Psikologi: Tes Intelegensi dan Tes<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Bakat</em>. Yogyakarta: Universitas&nbsp; Muhammadiyah (UM)<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Purwokerto Press.<br>Rohmah, U. (2011). <em>Tes intelegensi dan pemanfaatannya dalam<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; dunia pendidikan</em>. Cendekia: Journal of Education and<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Society, 9, 125–139.&nbsp;</div><div>Silva, M. A. (2008). <em>Development of the WAIS-III: A Brief<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Overview, History, and Description</em>. Graduate Journal of<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Counseling Psychology, 1(1).<br>Sunarya, Y. (2017). <em>Re-analisis Tingkat Kebaikan Item Tes<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Intelegensi: Advanced Progressive Matrices</em>. Wahana<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Karya Ilmiah, 2(1).<br>Suwandi, B. (2015). <em>Uji measurement invariance pada culture<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; fair intelligence test menggunakan pendekatan multiple-<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; group confirmatory factor analysis</em>. Jakarta: UIN Syarif<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Hidayatullah.<br>Wechsler, D. (2012). <em>Wechsler preschool and primary scale of<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; intelligence (4th Edition)</em>. Texas: The Psychological<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Corporation San Antonio.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-12 10:25:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733498050</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah dan Perkembangan</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733499221</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Skala Binet-Simon (1905). </strong>Skala ini merupakan bentuk tes inteligensi praktis pertama. Di mana, Binet dan Simon diminta oleh Menteri Pendidikan Umum untuk sekolah-sekolah yang ada di Paris agar Binet dapat mempelajari cara-cara dengan tujuan anak-anak tunagrahita dapat diidentifikasi di kelasnya. Skala ini lebih seperti wawancara terstruktur yang terdiri dari 30 soal dari tingkat yang paling mudah sampai yang paling sulit. Skala ini mencerminkan pandangan Binet bahwa kemampuan tertentu, seperti pemahaman dan penalaran merupakan aspek dasar dari inteligensi (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div><strong>Skala Binet-Simon (1908). </strong>Skala ini merupakan revisi dari skala sebelumnya. Skala ini direvisi agar berisi lebih banyak item dan dikelompokkan ke dalam tingkat usia tertentu berdasarkan performa (kinerja) dari sekitar 300 anak normal berumur 3 hingga 13 tahun. Skor anak yang diperoleh dari tes tersebut kemudian dinyatakan sebagai mental level-nya. Hal ini menjadi konsep baru yang mempopulerkan tes inteligensi (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div><strong>Skala Binet-Simon (1911).</strong> Skala ini merupakan revisi kedua dari skala Binet-Simon. Skala ini hanya memiliki perubahan yang sedikit, yaitu perluasan tes untuk anak berusia hingga 15 tahun. Skala Binet-Simon kemudian membangkitkan minat yang besar bagi psikolog Amerika untuk menerjemahkan dan/atau mengadopsi skalanya. Salah satunya adalah Lewis Terman dari Stanford University yang pertama kali mempublikasikan revisi Binet-Simon pada 1912. Namun, revisinya begitu meluas dan dianggap sebagai bentuk tes/skala baru yang kemudian akhirnya menjadi Skala Stanford-Binet (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div><strong>Skala Stanford-Binet (1916).</strong> Pertama kali diterbitkan pada 1916 dan distandarisasi dengan menggunakan sampel orang Amerika dari sekitar 1.000 anak-anak dan 400 orang dewasa. Terman memasukkan istilah IQ dan menginstruksikan tentang bagaimana mengelola tes ini. Tes ini dianggap sebagai tes yang dirancang untuk profesional, sehingga orang yang dapat mengelolanya secara valid hanyalah orang yang berlatar belakang psikologi dan psikometri (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div><strong>Skala Stanford-Binet (1937).</strong> Revisi ini merupakan standardisasi lengkap dengan menggunakan sampel baru dari sekitar 3.000 anak. 3.000 anak ini terdiri dari 100 anak pada setiap usia 1-5 tahun, 200 anak pada setiap usia 6-14 tahun, dan 100 anak pada setiap usia 15-18 tahun. Tes ini bersifat manual dan memberikan contoh penilaian (scoring) yang spesifik. Namun, tes ini dikritik karena sampel yang digunakan tidak sepenuhnya representatif. Meskipun demikian, tes ini sangat populer dan merepresentasikan ilmu psikologi, yaitu kuantitatif dan pengukuran sebagai aspek utama kehidupan (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div><strong>Skala Stanford-Binet (1960).</strong> Revisi ini menggabungkan item terbaik dari skala sebelumnya ke dalam satu bentuk. Revisi ini juga melakukan rekalkulasi tingkat kesulitan pada masing-masing item yang diperoleh dari sampel yang pernah melakukan tes skala 1937 tersebut dalam rentang tahun 1950 dan 1954, sebanyak hampir 4.500 orang. Inovasi besar dari revisi ini merupakan penggunaan tabel sebaran nilai IQ sebagai pengganti dari penggunaan rasio IQ. Revisi ini juga mengarah ke dalam 20 tingkat usia mulai dari 2 tahun hingga “dewasa superior” (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div><strong>Skala Stanford-Binet (1972).</strong> Revisi ini mengalami perubahan minor pada dua item, tetapi merepresentasikan norma baru berdasarkan 2.100 subjek. Untuk mendapatkan sampel yang benar-benar representatif, 2.100 anak tersebut sebenarnya merupakan bagian dari 200.000 anak yang telah diuji untuk melakukan Tes Kemampuan Kognitif (<em>Cognitive Abilities Test</em>), yang kemudian dipilih berdasarkan skornya (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div><strong>Skala Stanford-Binet (1986). </strong>Revisi keempat yang disebut juga sebagai Stanford-Binet IV. Versi ini mungkin bisa dianggap sebagai tes baru. Dalam versi ini, bentuk yang dipakai adalah skala titik dan berisi item memori spasial, memori kuantitatif, dan memori jangka pendek. Revisi ini dibentuk untuk digunakan oleh individu berusia 2 hingga dewasa. Sampel terdiri dari lebih dari 5.000 orang yang berusia 2 hingga 23 tahun dan dikelompokkan berdasarkan variabel demografis seperti jenis kelamin, etnis, dan wilayah tempat tinggal (Domino &amp; Domino, 2006).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-12 10:26:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733499221</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Video tentang Tes Inteligensi</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733506693</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/7p2a9B35Xn0" />
         <pubDate>2021-09-12 10:35:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733506693</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertanyaan</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733513220</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya <em>Aida Shifadhya Zahra (112011133131)</em> ingin bertanya. Dalam WISC, disebutkan bahwa pemberi tes akan memberikan profil berdasarkan skala Bannatyne. Profil apakah yang dimaksud?<br><br>Saya <em>Talitha Azzahra Putri (112011133146)</em> ingin bertanya. Disebutkan bahwa tes IST memiliki 9 subtes yang berbeda. Bagaimanakah mekanisme tes IST tersebut? Apakah berbeda antara yang satu dengan yang lainnya?<br><br>Saya <em>Febycia Eprilie Krisdhianti (112011133152)</em> ingin bertanya. Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan inteligensi seseorang?<br><br>Saya <em>Aurellia Salsabila B P (112011133164)</em> ingin bertanya. Mengapa tes CFIT menjadi salah satu tes yang populer di Indonesia?<br><br>Saya <em>Jihan Haniifa Azhari (112011133161)</em> ingin bertanya. Bagaimana tes SON dapat digunakan untuk orang normal dan penyandang disabilitas?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-12 10:42:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1733513220</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Definisi</title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734684712</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Bakat</strong> dalam teori psikologi disebut dengan <em>aptitude</em>.&nbsp;</div><ul><li>Bakat ini merupakan faktor bawaan yang berupa potensi, yang aktualisasinya membutuhkan interaksi dengan faktor-faktor dalam lingkungan (Sadli, 1986;18).&nbsp;</li><li>Bakat merupakan suatu kondisi dimana seseorang menunjukkan potensinya untuk mengembangkan kecakapannya dalam bidang tertentu.&nbsp;</li><li>Bakat sebagai <em>aptitude </em>dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi dan masih perlu untuk dikembangkan atau dilatih.&nbsp;</li><li>Bakat secara biologis banyak diturunkan dari satu individu pada individu lainnya.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 02:29:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734684712</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734685592</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Tes bakat </strong>bertujuan<strong> </strong>untuk mengukur tingkat keberhasilan seseorang dalam suatu bidang tertentu.&nbsp;</div><ul><li>Perwujudan potensi agar mencapai tingkat keberhasilan tidak hanya pada kemampuan individu dalam bidang yang dikuasai, akan tetapi juga pada motivasi dan kesempatan-kesempatan untuk memanfaatkan kemampuan yang dimiliki</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 02:29:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734685592</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jenis Tes Bakat</title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734689317</link>
         <description><![CDATA[<div>Tes Bakat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Single Test dan Baterai Test.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 02:30:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734689317</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok Single Test</title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734690872</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Tes Sensori, yaitu tes yang mengungkap kemampuan &nbsp; indera. Misalnya Tes Ketajaman Penglihatan atau Color Vision Test.&nbsp;</li><li>Tes Artistik, yaitu tes yang mengungkap bakat seni, misalnya Horn Art Aptitude Inventory.</li><li>Tes Klerikal, yaitu tes yang mengungkap kemampuan klerikal. Misalnya Minnesota Clerical Test, yaitu&nbsp; tes&nbsp; seleksi&nbsp; pekerjaan&nbsp; yang&nbsp; mengharuskan&nbsp; adanya&nbsp; kecepatan&nbsp; melihat dan mengendalikan simbol.</li><li>Tes Kreativitas, yaitu tes yang mengungkap kreativitas. Misalnya Torrance Test.&nbsp;</li><li>Tes&nbsp; Kraepelin&nbsp; dan&nbsp; Pauli,&nbsp; yaitu&nbsp; tes&nbsp; yang&nbsp; mengungkap&nbsp; kemampuan&nbsp; seseorang&nbsp; dalam&nbsp; bekerja. &nbsp;</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 02:31:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734690872</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok Battery Test </title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734691654</link>
         <description><![CDATA[<div>Yaitu tes bakat yang terdiri dari rangkaian bermacam-macam&nbsp; tes yang masing-masing tes dapat berdiri sendiri, artinya tidak harus digunakan secara keseluruhan. Jenis tes bakat dari kelompok ini adalah :</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 02:31:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734691654</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734936305</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Awal mula tes bakat muncul ketika Perang Dunia 1 berlangsung. Disini para psikolog mulai mengakui bahwa tes bakat diperlukan untuk melengkapi tes-tes intelegensi global.&nbsp;</li><li>Pembuatan tes bakat pertama kali diprakarsai oleh A. Musterberg.&nbsp;</li><li>Tes bakat ini digunakan pada masa Perang Dunia I untuk menyeleksi pilot, pengemudi dan kemudian meluas ke bidang industri (Daulay, 2014).</li></ul><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 04:18:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734936305</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734937081</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada tahun 1920 sampai dengan 1930-an, tes bakat yang digunakan adalah tes intelegensi umum. <br><br><strong>Mengapa demikian?</strong>&nbsp;<br>Karena tes intelegensi pada saat itu dianggap sebagai satu-satunya tes yang mutlak dan dapat menentukan kemampuan yang dimiliki oleh suatu individu.&nbsp;</div><ul><li>Akan tetapi, tes intelegensi hanya menunjukkan angka dari hasil keseluruhan intelegensi atau yang biasa kita kenal sebagai IQ dan hanya menjadi gambaran umum dari kemampuan seseorang tanpa menunjukkan kemampuan pada bidang tertentu, padahal tes intelegensi dapat menunjang berfungsinya intelegensi seseorang seperti kemampuan bahasa, kemampuan penalaran, dan lain-lain.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 04:18:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1734937081</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Referensi</title>
         <author>jihanhanifaz</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1735151207</link>
         <description><![CDATA[<div>Aiken, L.R &amp; Groth-Marnat, G (2009). Pengetesan dan Pemeriksaan Psikologi, Jilid 2,<br>Edisi Kedua Belas. Jakarta : Indeks<br>Anastasi, A &amp; Urbina, S (2007). Tes Psikologi, Edisi Ketujuh (Terjemahan). Jakarta : PT<br>Indeks.<br>Azwar, S (1996). Tes Prestasi, Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Presyasi<br>Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.<br>Ormrod, J.E (2009). Psikologi Pendidikan, Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang.<br>Edisi Keenam, Jilid 1. Jakarta : Erlangga.<br>Santrock, J.W (2009). Psikologi Pendidikan, Edisi 3, Buku 1 (Terjemahan). Jakarta :<br>Salemba Humanika<br>Sugiyanto, dkk (1984). Informasi Tes, Khusus untuk Profesi Psikologi, Edisi Kedua.<br>Yogyakarta : Unit Pengembangan Alat Tes Psikodiagnostika, Fakultas<br>Psikologi Universitas Gadjah Mada<br>Diah Widiawati, M. (2021, 9 13). <em>5 TES BAKAT DIAH WIDIAWATI, M.PSI</em>. Retrieved from ANZDOC: https://adoc.pub/5-tes-bakat-diah-widiawati-mpsi.html&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 06:09:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1735151207</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Skala Standford-Binet (1986)</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1735350976</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Deskripsi<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; </strong>Skala 1986 Stanford Binet memiliki 15 subtes yang masing-masing tersusun dari soal paling mudah sampai sulit. Pada edisi sebelumnya, materi disajikan dengan mainan dan objek yang sebenarnya. Akan tetapi, revisi 1986 hanya menggunakan gambar objek dengan subtes yang dimasukkan dalam dalam empat bidang konten, di antaranya: penalaran verbal, penalaran visual, penalaran kuantitatif, dan memori jangka pendek. Oleh karena itu, edisi revisi keempat ini menghasilkan skor gabungan, empat skor area, dan 15 skor subtes. Dalam tesnya, beberapa subtes memiliki angka kesulitan yang disesuaikan dengan umur subjek, yaitu dari usia 2 hingga 18 tahun (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;<br><br></div><div><strong>Administrasi</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Seperti halnya tes inteligensi lain, dibutuhkan penguji yang terlatih untuk tes Binet-Stanford 1986 karena tes ini dapat lebih dianggap sebagai wawancara klinis daripada tes sederhana. Terdapat interaksi kompleks yang terjadi antara penguji dan subjek. Dengan penguji yang terlatih, tes dapat memperoleh banyak informasi, tidak hanya tentang bagaimana subjek menggunakan kapasitas intelektualnya, tetapi seberapa baik terorganisir anak, apa pendekatan pemecahan masalah yang digunakan, bagaimana reaksi anak terhadap keberhasilan dan kegagalan, penanganan frustasi, dan sebagainya (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; 15 subtes yang diberikan dalam tes Stanford Binet ditentukan dengan urutan&nbsp; campuran yang kosa katanya diberikan terlebih dahulu sehingga subjek berkesempatan untuk berlatih dan memahami sesuai apa yang diinstruksikan. Tes ini dapat dikatakan sebagai tes adaptif, karena tidak semua item diberikan untuk semua mata pelajaran, tetapi item dan subtes mana yang diberikan adalah fungsi dari usia kronologis dan kinerja si Subjek. Subtes kosakata dimulai untuk fungsi dari usia subjek, sedangkan subtes lainnya disesuaikan dengan bagan usia subjek dan skor pada subtes kosakata.&nbsp; Dengan demikian, penguji menentukan setiap tes dari tingkat dasar yang didefinisikan sebagai lulus empat item berturut-turut. Misalnya, anak berusia 10 tahun hanya melewati 2 atau 3 dari 4 item, maka pengujian akan dilanjutkan ke bawah ke item yang lebih mudah sampai empat item berturut-turut lulus. Karena item di bawah level dasar ini dianggap lebih mudah, item ini akan sering dilewati sehingga hanya antara 8 dan 13 subtes yang diberikan pada satu subjek individu (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Prosedur administrasi pada tes Stanford Binet bertujuan agar pelaksanaan ujian dimulai pada tingkat yang optimal dan tidak terlalu sulit agar tidak menimbulkan keputusasaan atau kebosanan. Selain itu, kebutuhan akan pemaksimalan informasi yang diperoleh dengan waktu yang lebih singkat serta untuk mengurangi kelelahan, baik pada subjek maupun penguji menjadi alasan diadakannya prosedur administrasi pada tes ini (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div><br><strong>Penilaian</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Setiap item akan dinilai sebagai salah atau benar. Lalu, Skor pada item dalam berbagai subtes akan dijumlahkan yang nantinya menghasilkan skor mentah untuk masing-masing subtes. Skor mentah ini akan diubah menjadi skor usia standar (<em>Standard Age Scores</em> (SAS)). SAS adalah skor standar yang dinormalisasikan dengan SD 8 dan rata rata 50. SAS juga dapat diperoleh dari masing-masing empat bidang utama dan sebagai total untuk seluruh tes. Skor gabungan ini ditetapkan sehingga rata-ratanya adalah 100 dan SD 16, sesuai dengan edisi sebelumnya dari Stanford-Binet dan sebagian besar tes kecerdasan lainnya (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div><br><strong>Reliabilitas</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Stanford-Binet merupakan salah satu tes inteligensi yang cukup andal. Hal ini dapat dibuktikan dengan informasi mengenai variasi konsistensi internal, yang umumnya menggunakan rumus Kuder-Richardson. Reliabilitas dapat ditentukan dengan cara menghitung korelasi antara tes pertama dan kedua. Rentang nilai reliabilitas berada di antara 0-1. Jika nilai mendekati 1, maka akan dianggap reliabel. Para peneliti mengungkapkan bahwa Kuder-Richardson memiliki angka reliabilitas &gt;0,90, maknanya soal tersebut dapat dikatakan reliabel (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Informasi mengenai reliabilitas juga terdapat dalam tes manual. Contohnya yaitu untuk menguji dua kelompok anak, 5 dan 8 tahun. Tes ini diuji ulang dengan interval 2-8 bulan dan memperoleh koefisien reliabilitas 0,91 dan 0,90 untuk skor total. Dibutuhkan keandalan penguji dalam tes Stanford-Binet ini. Akan tetapi, antar-penilai tidak dapat dikatakan memiliki protokol tes secara identik karena dalam manual tes dan beberapa studi literatur tidak tertera reliabilitas semacam itu (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sebaran skor tes dalam Stanford-Binet IV tidak dapat dijadikan patokan bahwa tes tersebut cukup andal, mengingat terdapat aspek lain yang mempengaruhi, misalnya kesalahan pemeriksa atau variabel situasional yang reliabilitasnya lebih rendah (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div><br><strong>Validitas</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Penilaian validitas untuk sebuah tes seperti Tes Binet merupakan sebuah usaha kompleks, yang mungkin paling baik dipahami dalam hal mengkonstruksikan validitas. Perkembangan Tes Binet di tahun 1986 tidak hanya berdasar pada edisi sebelumnya, tetapi pada sebuah seri yang membutuhkan analisis rumit dari sebuah tempat yang berisikan hal-hal potensial dan telah diuji berulang kali (Domino &amp; Domino, 2006).</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Pada dasarnya, ada tiga sumber utama dalam memastikan kevalidan informasi yang telah diselidiki oleh para penguji, yakni:</div><ol><li>Analisis Faktor</li><li>Korelasi / Hubungan-hubungan antara tes inteligensi yang lain</li><li>Tindakan dari kelompok-kelompok yang menyimpang</li></ol><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Hasil-hasil dari berbagai variasi faktor analisis menandakan dukungan untuk gagasan yang memiliki korelasi dengan tes inteligensi lainnya dan yang dapat dihitung oleh faktor-faktor yang umum. Tambahan, hasil-hasil ini juga agaknya sesuai dengan ide yang tidak hanya&nbsp; bergantung dari satu faktor umum, melainkan setidaknya ada tiga faktor spesifik yang menjadi pedomannya. Oleh karena perbedaan subtes ini ditujukan ke berbagai jenjang usia, Faktor ini menjadi terstruktur ke dalam berbagai tes berdasarkan jenjang usia (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Sumber kedua dari kevalidan informasi adalah korelasi yang didapatkan antara skor pada Tes Binet dan skor yang didapatkan oleh tes inteligensi lainnya, terutama pada tes inteligensi Weschler dan versi terdahulu dari tes Binet itu sendiri. Terakhir, sejumlah studi tentang bakat, keterbatasan dalam proses belajar dan retardasi mental pada anak-anak menunjukkan hasil yang selaras dengan keanggotaan kelompok. Sejumlah Studi saat ini tersedia dalam berbagai literatur dengan substansial yang paling valid dari tes Binet bersama variasi dari berbagai subjek (Domino &amp; Domino, 2006).<br><br><strong>Special Forms</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Stanford-Binet memiliki beberapa penilaian khusus terhadap orang-orang yang membutuhkan penanganan yang berbeda, misalnya terhadap tunarungu atau orang yang mengalami ketidakmampuan dalam belajar. Tentunya hal ini juga menyebabkan adanya modifikasi dari teknik yang digunakan dalam melaksanakan tes inteligensi. Glaub dan Kamphaus (1991) meminta bantuan kepada psikolog dalam menyusun bentuk ringkas dari Stanford Binet 1986. Psikolog tersebut memilih subtest yang dinilai tidak membutuhkan banyak respon verbal dari peserta. Hasilnya didapatkan bahwa dari 15 subtest yang disediakan, terdapat 5 peserta yang memenuhi kriteria seleksi tersebut, selain itu nilai reliabilitasnya tercantum dalam angka 0,95 dan berhubungan 0,91 dengan skor ringkasan untuk tes total. Stanford-Binet ini juga tersedia dalam versi Spanyol yang dikembangkan oleh Jacobson dkk (1978) untuk digunakan terhadap anak-anak di Kuba, termasuk bentuk ringkasnya (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div><div><br></div><div><strong>Kritik<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; </strong>Pada awalnya, tes Binet dikritik oleh berbagai kalangan termasuk standardisasi yang tidak memadai, penekanan yang berat pada kemampuan untuk berbicara dan dalam menggambarkan pengalaman sekolah, sample terlalu sempit dari fungsi intelektual yang dinilai, serta keterbatasan hal-hal teknis (Domino &amp; Domino, 2006).<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Revisi pada tahun 1986 telah membahas hal-hal yang paling dibatasi dari versi sebelumnya, tetapi seperti yang telah ditunjukkan, sampel standardisasi masih belum sepenuhnya merepresentasikan karena adanya representasi berlebihan dari anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis dengan orang tua yang berlatar pendidikan bagus. Hasil dari analisis faktor juga mungkin tidak selaras dengan harapan dan ada sedikit kebingungan yang muncul karena penguji tidak setuju dengan skor atau skor faktor yang harus digunakan (Domino &amp; Domino, 2006).&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 07:49:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1735350976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban</title>
         <author>ratihkrisnanti</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1735698047</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya <em>Fransiskus Junianto (112011133155)</em> akan menjawab pertanyaan dari <em>Aida Shifadhya Zahra (112011133131)</em>. Profil yang dimaksud berupa empat kelompok kemampuan anak, yaitu kemampuan spasial, konsep, pengetahuan serapan, dan mengurutkan. Profil tersebut akan dijadikan gambaran umum terkait kemampuan anak yang akan digunakan untuk mendeteksi kesulitan anak dalam belajar (Wechsler, 2012).<br><br>Saya <em>Ida Ayu Ratih Krisnanti (112011133100)</em> akan menjawab pertanyaan dari <em>Talitha Azzahra Putri (112011133146)</em>. Tes IST memiliki waktu pengerjaan kurang lebih selama 90 menit, tetapi pada setiap subtesnya memiliki instruksi masing-masing yang berbeda pula. Meskipun IST memiliki tingkat kesulitan yang kompleks, tes ini tetap dapat digunakan untuk mengetahui IQ total dan per bagian pada tiap individu (Kumolohadi &amp; Suseno, 2012).</div><div><br>Saya <em>Ria Meilia (112011133222)</em> akan menjawab pertanyaan dari <em>Febycia Eprilie Krisdhianti (112011133152)</em>. Menurut (Nur,2018), faktor yang mempengaruhi antara lain:<br>a. Faktor Lingkungan: Inteligensi melibatkan adaptasi. Menurut Sternberg, ada tiga keterampilan umum yang secara khusus memiliki sifat adaptif dalam budaya Barat, yaitu memecahkan masalah praktis, kemampuan verbal, dan kompetensi sosial.<br>b. Faktor pengetahuan sebelumnya: Biasanya, individu akan mengacu pada pengalaman sebelumnya ketika dihadapkan pada persoalan baru sehingga mereka bisa merefleksikan jenis respons yang sebelumnya efektif dalam menangani situasi serupa.<br>c. Faktor bawaan: Penelitian menunjukkan bahwa individu yang berasal dari satu keluarga atau bersaudara memiliki tes IQ yang berkorelasi tinggi, khususnya anak kembar.</div><div><br>Saya <em>Devi Tri Alviani (112011133215)</em> akan menjawab pertanyaan dari <em>Aurellia Salsabila B P (112011133164)</em>. Tes CFIT cukup populer di Indonesia karena tes ini dapat dikatakan efisien. Efisien yang dimaksud di sini, yaitu tes ini hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Selain itu, tes inteligensi ini menguji fluid intelligence (kecerdasan bawaan lahir) seseorang (Wechsler, 2012).</div><div><br>Saya <em>Alodia Kinanti Faruqa (112011133169)</em> akan menjawab pertanyaan dari <em>Jihan Haniifa Azhari (112011133161)</em>. SON dapat digunakan baik oleh orang normal maupun penyintas disabilitas, seperti tunarungu. Ini disebabkan alat tes SON berupa puzzle dan rangkaian gambar yang perlu dicocokkan dengan peserta yang tidak dituntut untuk menjawab perintah yang diberikan (Nuraeni, 2012).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 11:06:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1735698047</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertanyaan</title>
         <author>talithaazhtap</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736546268</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya <em>Ida Ayu Ratih Krisnanti (112011133100)</em> ingin bertanya kepada kelompok Tes bakat, Dari beberapa jenis tes bakat yang telah disebutkan, menurut kelompok kalian manakah jenis tes bakat yang paling sering ditemui atau diaplikasikan di negara ini untuk beberapa kualifikasi?<br><br>Saya <em>Alodia Kinanti Faruqa (112011133169) </em>ingin bertanya, jika tes bakat merupakan turunan dari tes inteligensi, apakah tes bakat sedikit banyak juga dapat mengukur tingkat inteligensi seseorang? terimakasihh.<br><br>Saya <em>Fransiskus Junianto (112011133155)</em> izin bertanya, ketika melakukan tes bakat apakah masing-masing tes bakat hanya dapat mengungkap satu potensi atau bisa lebih dari satu?<br><br>Saya <em>Devi Tri Alviani</em> (112011133215) izin bertanya, dari hasil tes bakat itu sendiri apakah ada contoh konkrit mengenai manfaat yang didapatkan setelah melakukan tes bakat di dunia pekerjaan? terima kasih banyakk<br><br>Saya <em>Ria Meilia</em> (112011133222) izin bertanya, kelompok baterai test adalah tes yang seperti apa? dan apa kelebihannya sehingga menjadi test yang bisa dibilang cukup disarankan?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 15:40:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736546268</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban</title>
         <author>talithaazhtap</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736551923</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Saya <em>Talitha Azzahra Putri (112011133146)</em> ingin menjawab pertanyaan dari <em>Ida Ayu Ratih Krisnanti (112011133100)</em>. Menurut kelompok kami sendiri jenis tes bakat yang sering digunakan di Indonesia adalah tes bakat jenis DAT (Differential Aptitude Test) karena di sini banyak proses rekruitmen kerja yang menggunakan tes bakat jenis DAT tsb, selain itu tes bakat ini juga sering diaplikasikan untuk proses kualifikasi perguruan tinggi. Tes bakat mengukur kemampuan yang lebih spesifik dan lebih terbatas dibandingkan dengan tes inteligensi (Gregory, 2000). Tes bakat tunggal hanya mengukur satu domain kemampuan, sedangkan tes bakat ganda menghasilkan skor untuk beberapa areal kemampuan yang berbeda. Jadi, Menurut kelompok kami tes bakat yang paling sering&nbsp; diaplikasikan di negara ini adalah Tes Bakat Jenis DAT<br><br>Saya Aurelia Salsabilla B.P (112011133164) ingin menjawab pertanyaan dari <em>Alodia Kinanti Faruqa (112011133169) </em>pada dasarnya bakat dan intelegensi merupakan suatu hal yang berbeda. Menurut Vernon (1973) inteligensi mengacu pada pandai, cepat dalam bertindak, bagus dalam penalaran dan pemahaman, serta efisien dalam aktifitas mental. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut bakat atau aptitude. Tes inteligensi tidak memberikan rekomendasi untuk melakukan analisis kemampuan secara diferensial sedangkan tes bakat mengukur kemampuan atau potensi seseorang untuk menunjukkan kecakapannya dalam bidang tertentu. (Sumber : Nur’aeni. (2012). Tes psikologi: Tes inteligensi dan tes bakat. Yogyakarta: UM Purwokerto Press)<br><br>Saya <em>Aida Shifadhya Zahra (112011133131)</em> ingin menjawab pertanyaan dari <em>Fransiskus Junianto (112011133155)</em>, ketika melakukan tes bakat, tidak semua faktor yang disebutkan bisa diungkap oleh satu jenis tes, misalkan Differential Aptitude Test (DAT) dapat mengungkap kemampuan verbal, numerikal, clerical, reasoning, mekanik, spasial, dan sebagainya, atau pada General Aptitude Battery Test (GABT) dapat mengungkap kemampuan verbal, numerikal, spasial, perseptual, clerical, memori, dan sebagainya. Penggunaan tes bakat disesuaikan dengan faktor apa yang ingin diungkap oleh pemberi tes.<br><br>Saya <em>Febycia Eprilie Krisdhianti</em> (112011133152) izin menjawab pertanyaan dari <em>Devi Tri Alviani</em> (112011133215). Mengenali bakat seorang pasti mempunyai tujuan yang banyak dalam kehidupan kita. Ketika kita mengenali bakat seorang, maka kita akan memahami potensi yang ada pada orang tersebut. Dengan mengenali potensi tersebut, kita dapat menganalisis permasalahan yang dialami orang tersebut. Dengan kemampuan menganalisis permasalahan, diharapkan kita bisa membagikan treatment yang tepat. Contoh yang lain adalah prediksi. Pada dasarnya, prediksi itu mempertemukan kemampuan seorang dengan persyaratan yang dituntut suatu<br>lembaga tertentu. Dengan mengetahui tujuan dari mengetahui bakat, kita butuh mengetahui bagaimana metode mengidentifikasi adanya suatu bakat. <br>Pertama, dengan pengalaman. Ketika berupaya hal tertentu, orang hadapi banyak kemajuan dalam bidang tersebut. Hal ini hendak jadi satu metode dalam mengenali bakat apa yang dimilikinya.<br>Kedua, mengikuti tes bakat. <br>Ketiga, memadukan antara pengalaman dan tes bakat.<br>Dengan melakukan hal tersebut, hasilnya akan lebih meyakinkan orang yang bersangkutan.<br><br>Saya <em>Jihan Haniifa Azhari </em>(112011133161) akan menjawab pertanyaan dari <em>Ria Meilia </em>(112011133222). jadi battery test itu sendiri terdiri dari berbagai macam tes, diantaranya ada DAT, GATB, FACT. dalam praktiknya sendiri baterai test terdapat beberapa cara untuk mengombinasikan pengujiannya, jadi tidak hanya terpaku pada satu jenis misalnya paper test saja atau wawancara. sehingga hasil yang didapatkan oleh responden akan lebih akurat dan fleksibel karena tidak terpaku pada satu alat test saja.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 15:41:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736551923</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Differential Aptitude Test (DAT)</title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736565861</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Tokoh: G. Bennet, H.G Seashore, A. G. Wesman</li><li>Teori: multiple factors dari Thurstone</li><li>Tujuan: untuk kebutuhan konseling pendidikan dan vokasional (kejuruan)</li><li>Ditujukan: Siswa 8 – 12 tahun ; mahasiswa ; karyawan</li><li>Penyajian: individual atau klasikal</li><li>&nbsp;Jumlah Tes: Tujuh &nbsp; tes, &nbsp; yaitu&nbsp; &nbsp;<em>Verbal &nbsp; Reasoning</em>,&nbsp; &nbsp;<em>Numerical &nbsp; Ability</em>,&nbsp; &nbsp;<em>Abstract &nbsp; Reasoning</em>,&nbsp; <em>Space&nbsp; Relation</em>,&nbsp; <em>Mechanical&nbsp; Reasoning</em>,&nbsp; <em>Clerical&nbsp; Speed</em>&nbsp; &amp;&nbsp; <em>Accuracy</em>, <em>Language Usage </em>(<em>Spelling &amp; Sentences</em>).&nbsp;</li></ul><div><br>Jenis-jenis <em>Differential Aptitude Test</em></div><ol><li><em>Numerical Ability</em> / Tes Berhitung / A5. Tes ini digunakan untuk &nbsp; melakukan prediksi dalam bidang pendidikan dan bidang pekerjaan&nbsp;</li><li><em>Abstract Reasoning</em> / Tes Penalaran / A3. Tes ini mengukur kemampuan penalaran yang bersifat nonverbal, meliputi&nbsp; kemampuan memahami hubungan logis dari figur abstrak atau prinsip <em>nonverbal designs</em>. Tes ini digunakan di lingkungan sekolah atau pekerjaan.&nbsp;</li><li><em>Space Relation</em> / Tes Pola / B3. Tes ini digunakan khusus untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan seseorang mengenal ruang tiga dimensi, baik untuk bidang studi maupun pekerjaan</li><li><em>Mechanical Reasoning</em> / Tes Pengertian Mekanik / C4. Aspek&nbsp; yang diukur dalam tes ini adalah daya penalaran di bidang kerja mekanis dan prinsip fisika. &nbsp;</li><li><em>Clerical Speed and Accuracy</em> / Tes Cepat dan Teliti / D4. Tes ini mengukur respon terhadap tugas atau pekerjaan yang menyangkut kecepatan persepsi, kecepatan respon terhadap kombinasi huruf-angka, dan ingatan jangka pendek. Tes ini&nbsp; digunakan untuk konseling siswa yang mengalami kesulitan dalam kecepatan belajar, atau untuk seleksi karyawan dalam pekerjaan tertentu.</li><li><em>Verbal Reasoning</em> / Penalaran Verbal. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan memahami ide atau konsep dalam bentuk kata</li><li><em>Language Usage </em>/ Pemakaian Bahasa. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan membedakan tata bahasa yang baik dan benar. Tes ini terdiri atas <em>spelling </em>dan<em> grammar.</em></li></ol><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 15:46:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736565861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3. Flanagan Aptitudes Classification Test (FACT)</title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736567769</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Tokoh: John C. Flanagan</li><li>Sejarah: John&nbsp; C.&nbsp; Flanagan&nbsp; adalah&nbsp; profesor&nbsp; psikologi&nbsp; di&nbsp; Universitas&nbsp; Pittsburg.&nbsp; Ia&nbsp; adalah direktur <em>American Institude for Reseach </em>(AIR). Pada Perang Dunia II Flanagan diminta membentuk ”<em>The Army Air Force Aviation Psychology Program</em>” untuk seleksi awak kapal. Setelah Perang Dunia II, ia membuat tes&nbsp; standar&nbsp; untuk&nbsp; tes&nbsp; bakat&nbsp; bagi&nbsp; pekerjaan&nbsp; di&nbsp; bidang&nbsp; sipil&nbsp; yaitu&nbsp; FACT&nbsp; dengan&nbsp; 14&nbsp; tes. Tes&nbsp; dikembangkan&nbsp; untuk&nbsp; mendapatkan&nbsp; sistem&nbsp; klasifikasi&nbsp; baku dalam penentuan bakat seseorang pada tugas tertentu.&nbsp;</li><li>Tujuan: Alat&nbsp; bantu&nbsp; untuk&nbsp; memprediksi&nbsp; keberhasilan&nbsp; kerja&nbsp; dan&nbsp; perencanaan&nbsp; program latihan dalam rangka konseling pekerjaan dan alat seleksi dan penempatan karyawan. Penyajian: Individual atau Klasikal</li><li>Jumlah: 14 Tes</li></ul><div><br>Jenis-jenis <em>Flanagan Aptitudes Classification Test (FACT):</em></div><ol><li>Tes Kode dan Ingatan (C2). Tes Coding diberikan untuk mengukur kecepatan dan ketepatan dalam memberi kode pada informasi tertentu.</li><li>Tes Merakit Objek (C1). Tes ini mengukur kemampuan mengenal, mengetahui, dan membayangkan bentuk objek yang disusun dari bagian-bagian tertentu.&nbsp;</li><li>Tes Skala dan Grafik (C8). Tes ini mengukur kecepatan dan ketepatan dalam membaca skala, grafik, dan peta.&nbsp;</li><li>Tes Pemahaman (A1). Tes ini mengukur kemampuan membaca, memahami alasan logis, serta mengambil keputusan dengan menangkap makna dari situasi praktis.&nbsp;</li><li>Tes Mengutip (B4). Tes ini mengukur kemampuan individu dalam mereproduksi outline pola sederhana dengan tepat dan akurat.&nbsp;</li><li>Tes Komponen (C2). Tes ini mengukur kemampuan mengenali komponen atau bagian yang penting.&nbsp;</li><li>Tes Tabel (D3). Tes ini mengukur kemampuan membaca tabel, baik tabel yang terdiri dari angka, maupun yang terdiri dari kata atau huruf.&nbsp;</li><li>Tes Ungkapan (A6). Tes ini memiliki 19 buah soal. Tes ini mengukur perasaan dan pengetahuan tentang bahasa ; mengungkap kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan lisan.&nbsp;</li><li>Tes Mekanik. Tes ini mengukur kemampuan pemahaman prinsip–prinsip mekanik dan analisa.&nbsp;</li><li>Tes Inspection. Tes ini mengukur kemampuan seseorang dalam melihat</li><li>ketidaksempurnaan pada serangkaian benda secara tepat dan cepat.&nbsp;</li><li>Tes Precision. Tes ini mengukur ketelitian.</li><li>Tes Coordination. Tes ini mengukur kemampuan koordinasi tangan dan lengan.</li><li>Tes Arithmatic. Tes ini mengukur kemampuan kerja dengan angka.&nbsp;</li></ol><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 15:46:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736567769</guid>
      </item>
      <item>
         <title>2.   General Aptitude Test Battery (GATB)</title>
         <author>jihanhanifaz</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736642113</link>
         <description><![CDATA[<ul><li>Tokoh: Charles E. Odell dari <em>United State Employes Services</em>.</li><li>Sejarah: GATB &nbsp; digunakan &nbsp; sejak &nbsp; 1947 &nbsp; oleh&nbsp; &nbsp;<em>State &nbsp; Employment &nbsp; service</em>, &nbsp; yang &nbsp; bergabung&nbsp; dengan&nbsp; <em>United&nbsp; States&nbsp; Employment&nbsp; Service</em>.&nbsp; Sejak&nbsp; masa&nbsp; itu,&nbsp; GATB&nbsp; &nbsp; dimasukan&nbsp; &nbsp; dalam&nbsp; &nbsp; program&nbsp; &nbsp; penelitian&nbsp; &nbsp; berkelanjutan,&nbsp; &nbsp; untuk&nbsp; &nbsp; menjadikan&nbsp; tes&nbsp; tersebut&nbsp; akurat&nbsp; pada&nbsp; berbagai&nbsp; pekerjaan&nbsp; yang&nbsp; berbeda.&nbsp; Karena&nbsp; dasar&nbsp; risetnya&nbsp; yang&nbsp; luas,&nbsp; GATB&nbsp; dikenal&nbsp; sebagai&nbsp; sejumlah&nbsp; tes&nbsp; bakat ganda akurat untuk bimbingan jurusan.&nbsp;</li><li>Penyajian: Individual atau klasikal&nbsp;</li><li>Jumlah: 12 subtes untuk mengukur 9 kemampuan dasar atau bakat (<em>aptitude</em>)</li></ul><div><br></div><div>Ada sembilan aptitude yang diungkap dalam GATB, yaitu :&nbsp;</div><ol><li><em>Aptitude </em>D (<em>Intelligence</em>), yaitu kemampuan mengerti prinsip, menalar, dan membuat keputusan. Kemampuan ini terkait dengan keberhasilan di sekolah.&nbsp;</li><li><em>Aptitude </em>V (<em>Verbal</em>), yaitu kemampuan mengerti arti kata, bahasa, arti keseluruhan kalimat, dan paragraf.</li><li><em>Aptitude </em>N (<em>Numerical</em>), yaitu kemampuan melakukan operasi angka secara cepat dan tepat.</li><li><em>Aptitude </em>S (<em>Spatial</em>), yaitu kemampuan berpikir secara visual pada bentuk geometris, menangkap objek tiga dimensi, dan mengingat hubungan yang dihasilkan dari gerakan objek dalam satu ruang.</li><li><em>Aptitude </em>F (<em>Form&nbsp; Perception</em>), yaitu kemampuan melihat bagian dari suatu benda/grafik/gambar ; kemampuan membuat perbandingan dan pembedaan secara visual ; dan kemampuan melihat perbedaan nyata pada bentuk dari suatu gambar.</li><li><em>Aptitude </em>Q (<em>Clerical Perception</em>), yaitu kemampuan mengungkap objek klerikal (angka, huruf) ; dan kemampuan persepsi terhadap komputasi secara sepintas.&nbsp;</li><li><em>Aptitude </em>K (<em>Motor Coordination</em>), yaitu kemampuan mengorganisasikan gerakan organ mata, tangan, jari tangan dengan terampil, teliti, cepat, dan tepat.</li><li><em>Aptitude </em>F (<em>Finger Dexterity</em>), yaitu kemampuan memanipulasi objek kecil dengan jari jemari secara terampil dan teliti.</li><li><em>Aptitude </em>M (<em>Manual Dexterity</em>), yaitu kemampuan menggerakkan tangan dengan mudah dan terampil.</li></ol><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 16:08:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736642113</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasil dari Tes bakat</title>
         <author>aaidashifazahra</author>
         <link>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736863392</link>
         <description><![CDATA[<div>Ada 12 faktor yang diungkap dalam Tes Bakat, yaitu:</div><ol><li><strong>Kemampuan verbal</strong>, yaitu kemampuan memahami dan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun tulisan.</li><li><strong>Kemampuan numerikal</strong>, yaitu kemampuan memecahkan masalah aritmatik atau berhitung dengan tepat dan teliti.</li><li><strong>Kemampuan spasial</strong>, yaitu kemampuan merancang suatu benda secara tepat.</li><li><strong>Kemampuan perceptual</strong>, yaitu kemampuan mengamati dan memahami gambar dua dimensi menjadi tiga dimensi.</li><li><strong>Kemampuan reasoning</strong><em>, </em>yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah.</li><li><strong>Kemampuan mekanik</strong>, yaitu kemampuan memahami konsep mekanik dan fisika.</li><li><strong>Kemampuan memori</strong>, yaitu kemampuan mengingat.</li><li><strong>Kemampuan klerikal</strong>, yaitu kemampuan bekerja di bidang administrasi.</li><li><strong>Kreativitas</strong>, yaitu kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru dan menunjukkan hasil yang tidak biasa (istimewa).</li><li><strong>Kecepatan kerja</strong>, yaitu kemampuan bekerja secara cepat untuk pekerjaan rutin.</li><li><strong>Ketelitian</strong>, yaitu kemampuan bekerja secara teliti.</li><li><strong>Ketahanan</strong>, yaitu kemampuan bekerja secara konsisten.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-13 17:20:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ratihkrisnanti/e0c9c0md2r7whjl/wish/1736863392</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
