<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>TUGAS BIOLOGI by Atik Arimurti</title>
      <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8</link>
      <description>DIKERJAKAN BERKELOMPOK 2 SISWA</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-03-21 06:52:45 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-21 22:53:38 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>SISTEM KEKEBALAN</title>
         <author>aarimurti</author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/244386954</link>
         <description><![CDATA[<div>1PERHATIKAN PETA KONS<br><br><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:538,&quot;url&quot;:&quot;https://3.bp.blogspot.com/-2vzcYt2aGGU/T60dP8V0CBI/AAAAAAAAOn8/yxshmCgr9zg/s1600/IMMUN.jpg&quot;,&quot;width&quot;:749}" data-trix-content-type="image"><img src="https://3.bp.blogspot.com/-2vzcYt2aGGU/T60dP8V0CBI/AAAAAAAAOn8/yxshmCgr9zg/s1600/IMMUN.jpg" width="749" height="538"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure>JELASKAN FUNGSI SETIAP KOMPONEN PADA PETA KONSEP.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-21 07:45:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/244386954</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/244536162</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-21 14:14:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/244536162</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245782906</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-25 02:01:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245782906</guid>
      </item>
      <item>
         <title>c </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245783466</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-25 02:17:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245783466</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245820279</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-25 12:53:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245820279</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Amalia Oktaviani &amp; Anindita Namira (XI IPS 2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245820306</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>A. SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA </strong></div><div>merupakan suatu kemampuan tubuh untuk melawan toksin (penyakit) yang cenderung merusak jaringan tubuh.</div><div><br></div><div><strong>B. MACAM - MACAM SISTEM PERTAHANAN TUBUH</strong>    <br><br><em>1.PERTAHANAN TUBUH SPESIFIK</em></div><div>   yaitu sistem pertahanan yang mempunyai       kemampuan untuk mengenali benda asing yang masuk.</div><div>- Cara Kerja Anti Bodi :</div><ul><li>Penetralan : atau yg disebut netralisasi yaitu dengan menetralkan antigen</li><li>Pengendapan : atau yg disebut presipitasi yaitu dengan pengendapan</li><li>Pelkatan : atau yg disebut aglutinasi yaitu dengan penggumpalan</li><li>Aktivitas protein komplemen : atau yg disebut fiksasi komplemen atau lisis yaitu dg lisis atau penghancur antigen</li></ul><div>- JENIS - JENIS ANTIBODI</div><ul><li>lg G : atau disebut dg immunoglobulin G, yaitu untuk menembus placenta membawa kekebalan dari ibu ke janin yaitu pada masa 20 minggu pertama</li><li>lg E : atau disebut dg immunoglobulin E, yaitu untuk merespon reaksi alergi. Hanya ditemukan pd mamalia, dapat merespon cacing parasit</li><li>lg A : atau disebut dg immunoglobulin A, yaitu untuk mencegah masuknya bakteri atau virus melalui jaringan epitel (air liur, air mata, kolustrum, dan susu)</li><li>lg D : atau disebut dg immunoglobulin D, yaitu untuk memicu deferensiasi jaringan lomfosit B menjadi plasma  dan limfosit B memori</li><li>lg M : atau disebut dg immunoglobulin M, yaitu merupakan antibodi pertama yang menyerang antigen</li></ul><div><br></div><div>2. <em>PERTAHANAN TUBUH TIDAK SPESIFIK</em></div><div>     yaitu sistem pertahanan yg sudah ada dalam tubuh dapat melindungi tubuh dan dpt mendeteksi benda asing yang masuk<br>- Imun tidak spesifik dipengaruhi 2 faktor yaitu   <br><strong>1. Eksternal terbagi menjadi 2 yaitu :</strong></div><ul><li><strong>Membran sel mukosa</strong></li></ul><div>        Adalah jaringan berbentuk lapisan atau membran yang melapisi beberapa organ tubuh. Membran ini melapisi daerah tubuh yang terpapar lingkungan luar, contohnya kelopak mata, hidung, telinga, bibir, dll.<br>- <strong><em>Fungsinya</em></strong> : </div><ol><li>Melindungi, melembabkan, dan melincinkan lapisan sehingga tidak menjadi kering.</li><li>Menangkap kuman, debu, dan kotoran sehingga dapat dibuang oleh tubuh.</li><li>Melincinkan lapisan sehingga mudah terjadi pertukaran udara.</li><li>Membantu penyerapan zat-zat nutrisi</li></ol><ul><li> <strong>Kulit</strong> </li></ul><div>         Kulit adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi seluruh tubuh manusia. Berat kulit diperkirakan sekitar 7 % dari berat tubuh total. Pada permukaan luar kulit terdapat pori – pori (rongga) yang menjadi tempat keluarnya keringat.<br>- <strong><em>Fungsinya : </em></strong></div><ol><li>Sebagai pelindung tubuh dari sinar matahari </li><li>Sebagai indra peraba</li><li>Sebagai alat eksresi </li><li>Sebagai alat pengatur suhu</li><li>Sebagai penyimpan lemak</li></ol><div><strong>2.  Internal terbagi menjadi 3 yaitu :</strong></div><ul><li>Fagositis</li></ul><div>        <em>Fagositosis adalah </em>suatu proses atau mekanisme di mana sel fagosit menelan atau menggulung sel-sel asing baik yang bersifat patogen ataupun sel-sel tubuh yang telah mati atau sekarat. Partikel yang terfagositosis oleh fagosit antara lain adalah mikroba, sel-sel jaringan yang mati, protozoa, berbagai partikel debu, pigmen, dan benda asing lainnya.  Fagositosis dapat berlansung baik di dalam sel maupun di luar sel.   </div><ul><li>Respon peradangan</li></ul><div>        Respon peradangan (inflamasi) adalah jenis dasar respon oleh tubuh terhadap penyakit dan cedera, respon yang ditandai dengan tanda-tanda klasik nyeri, panas (hangat lokal), kemerahan, dan bengkak.</div><ul><li>Senyawa antimikroba</li></ul><div>         adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan mikroba dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan.Mikroorganisme dapat menyebabkan bahaya karena kemampuan menginfeksi dan menimbulkan penyakit serta merusak bahan pangan. Ada banyak senyawa anti mikroba berdasarkan mikroba yang ingin di ganggu pertumbuhannya. Di antaranya:</div><ul><li>Anti bakteri </li><li>Anti jamur </li><li>Anti kapang </li><li>Anti Khamir</li></ul><div>- Senyawa antimikroba lagi menjadi : </div><div>a. Protein Komplemen<br>b. interfeton</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-25 12:53:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245820306</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245820534</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-25 12:55:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245820534</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yasmin aulia syarifah &amp; Adinda alifia raida (XII IIS 2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245834585</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>A. PENGERTIAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH (SISTEM IMUN)</strong></div><div>Sistem kekebalan tubuh atau disebut juga <em>imunitas </em>merupakan suatu kemampuan tubuh untuk melawan hampir semua jenis organisme atau toksin yang cenderung merusak jaringan dan organ tubuh. Organisme atau toksin ini merupakan protein asing yang berbeda dari protein tubuh manusia yang disebut <em>antigen </em>dan dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, <em>antigen </em>tersebut harus disingkirkan, dinetralisir dan dihancurkan. Sistem kekebalan tubuh yang berperan menjalankan tugas tersebut ialah <em>antibodi. Antibodi </em>merupakan suatu zat yang berasal dari protein darah jenis <em>gama globulin </em>dan berfungsi melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh.<br><strong>B. MACAM – MACAM IMUNITAS</strong></div><div>Berdasarkan cara mempertahankan diri terhadap penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua meliputi:</div><div><br></div><div><strong>1. Imunitas Bawaan (Non-spesifik)</strong></div><div>Imunitas bawaan merupakan sistem pertahanan yang sudah ada di dalam tubuh. Mekanisme kerja imunitas bawaan meliputi:</div><div><br></div><ul><li>Proses fagositosis bakteri dan organisme lainnya oleh leukosit</li><li>dan sel pada jaringan makrofag jaringan;</li><li>Penghancuran orgenisme yang tertelan ke dalam saluran cerna oleh asam lambung dan enzim pencernaan;</li><li>Daya tahan kulit terhadap invasi organisme<br><br></li></ul><div>Adanya senyawa kimia tertentu dalam darah yang melekat pada organisme asing atau toksin dan kemudian menghancurkannya. Senyawa tersebut meliputi, (1) <em>lisozim</em>, suatu polisakarida mukolitik yang menyerang bakteri dan membuatnya larut, (2)<em> polipeptida</em>, yang bereaksi dengan bakteri gram positif terrtentu dan membuatnya menjadi tidak aktif, (3)<em> dasar kompleks komplemen</em>, suatu sistem yang terdiri dari kurang lebih 20 protein yang dapat diaktifkan melalui berbagai macam cara untuk menghancurkan bakteri, dan (4) limfosit pembunuh alami<em> (natural killer lymphocyte</em>), yang dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel asing, sel-sel tumor, bahkan beberapa sel yang terinfeksi.</div><div><br></div><div><strong>2. Imunitas Didapat (Spesifik)</strong></div><div>Sistem imun didapat merupakan imunitas yang dihasilkan oleh sistem imun khusus yang membentuk antibodi dan/atau mengaktifkan limfosit yang mampu menyerang dan menghancurkan organisme spesifik atau toksin. Sistem imun ini teraktivasi apabila patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh bawaan.<br>Imunitas didapat memiliki dua tipe dasar. Tipe-tipe dasar imunitas ini merupakan respon tubuh terhadap antigen. Tipe-tipe dasar tersebut meliputi:</div><div><br></div><div><strong>a. Imunitas humoral</strong></div><div>Imunitas humoral disebut disebut juga imunitas sel B, karena limfosit B membentuk antibodi. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat. Sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesisfik. Antigen yang terikat akan mempermudah sel makrofag untuk menangkap dan manghancurkan patogen tersebut. Berikut variasi cara antibodi menghadapi antigen.</div><div><br></div><div><strong>Netralisasi</strong>, yaitu antibodi akan memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu, antibodi akan menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracun dengan menyelubungi bagian beracunnya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.</div><div><strong>Aglutinasi</strong>, antibodi akan membuat patogen atau antigen mengalami aglutinasi sehingga mudah difagositosis oleg makrofag.</div><div><strong>Pengendapan</strong>, antibodi akan membuat antigen terlalut mengendap sehingga antigen tersebut tidak dapat bergerak dan mudah ditangkap oleh makrofag.</div><div><strong>Aktivasi sistem komplemen</strong>, antibodi akan mengikat antigen yang kemudian mengaktifkan sistem komplemen untuk membentuk lubang/pori pada sel patogen.</div><div><br></div><div>Setelah infeksi berakhir, sel B plasma akan mati dan sel B pengingat akan bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Terpajannya tubuh dengan patogen pertama kali yang melibatkan serangkaian respon imun awal ini disebut sebagai respon  imunitas primer. Saat tubuh terpajan patogen yang sama untuk kedua kalinya akan direspon oleh sel B pengingat yang kemudian akan menstimulasi pembentukan sel B plasma untuk memproduksi antibodi. Respon tubuh terhadap pajanan antigen kedua kali ini disebut respon imunitas sekunder.</div><div><br></div><div><strong>b. Imunitas selular atau imunitas sel T</strong></div><div>Sistem imunitas seluler dimodulasi oleh sel T. Pada mulanya sel T helper akan menstimulasi se T sitotoksi yang berperan dalam menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Sel tersebut akan membunuh patogen dengan melekatkan diri pada permukaan antigen. Apabila infeksi sudah berhasil ditangani sel T supresor akan menghambat kegiatan sel T sitotoksik dan membatasi produksi antibodi agar tidak terjadi respon kekebalan yang berlebihan.</div><div><br></div><div><strong>1. Sel yang Berperan dalam Imunitas Bawaan</strong></div><div>Berikut ini sel-sel yang membantu dalam menjalankan sistem imunitas bawaan dalam tubuh, diantaranya:<br><strong>a. Makrofag</strong></div><div>Makrofag merupakan sel fagositosis yang terbentuk dari sebuah jenis sel darah yang disebut monosit putih. Makrofag mengeluarkan zat yang menarik sel darah putih lainnya ke lokasi infeksi dan juga membantu sel T mengenali antigen.</div><div><br></div><div><strong>b. Neutrofil</strong></div><div>Neutrofil merupakan jenis yang paling umum dari sel darah putih dalam aliran darah yang mengandung butiran yang melepaskan enzim untuk membantu membunuh dan mencerna sel-sel asing. Selain itu, neutrofil juga melepaskan suatu zat yang menghasilkan serat dalam jaringan sekitarnya. Serat tersebut berguna untuk menjebak bakteri sehingga membuat bakteri sulit menyebah dan mudah dihancurkan.</div><div><br></div><div><strong>c. Eosinofil</strong></div><div>Eosinofil normalnya mencakup 2% dari seluruh leukosit darah. Eosinofil dapaat mencerna bakteri dan juga menargetkan sel-sel asing yang terlalu besar untuk ditelan. Eosinofil mengandung butiran yang melepaskan enzim dan zat beracun lainnya ketika adanya patogen asing. Zat-zat tersebut akan membuat lubang pada sel target. Selain itu, eosinofil dapat menghancurkan sel-sel kanker dan telibat dalam upaya membantu melumpuhkan dan memmbunuh parasit. Peran eosifofil sebagai sel fagosit masih lemah dan diragukan dibanding neutrofil dan makrofag.</div><div><br></div><div><strong>d. Basofil</strong></div><div>Basofil dalam sirkulasi darah serupa dengan sel mast, yakni jaringan besar yang terletak di sisi luar banyak kapiler darah dalam tubuh dan melepaskan heparin ke dalam darah. Selain itu, basofil juga melepaskan histamin, sejumlah kecil bradikinin dan serotonin yang merupakan mediator-mediator yang telibat dalam reaksi alergi. Oleh karena itu, ketika basofil menghadapi alergen, basofil akan merilis mediator-mediator tersebut.</div><div><br></div><div><strong>e.</strong><strong><em> Natural Killer Cell</em></strong></div><div>NK cell atau disebut juga sel pembunuh alami merupakan sel yang penting dalam pertahanan awal terhadap infeksi virus. NK sel berperan dalam mengenali dan menempel pada sel yang terinfeksi atau sel-sel kanker yang kemudian akan melepaskan enzim dan zat lain yang merusak membran luar sel-sel ini. Selin itu, Nk sel juga berperan dalam produksi siotkin yang mengatur beberapa fungsi sel lain, seperti sel T, sel B dan makrofag.</div><div><br></div><div><strong>2. Sel yang Berperan dalam Imunitas Didapat</strong></div><div>Sistem imunitas didapat dalam melaksanakan fungsinya melibatkan limfosit dan antibodi. Berikut ini uraian lebih lanjut.</div><div><br></div><div><strong>a.  Limfosit</strong></div><div>Limfosit berperan penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Limfosit terbanyak ditemukan dalam <em>nodus limfe </em>dan tersebar di beberapa lokasi lain di dalam tubuh untuk menahan invasi organisme atau toksin sebelum dapat menyebar lebih luas. Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B dan limfosit T dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.</div><div><br></div><div><strong>1. Limfosit B</strong></div><div>Limfosit B merupakan sel yang diproduksi dan dimatangkan di sumsum tulang yang kemudian melalui aliran darah akan menuju ke sistem limfatik. Sel B bertanggung jawab dalam menjalankan sistem imunitas humoral. Sel B terdiri atas 3 jenis yaitu, (1) sel B plasma, berfungsi memproduksi antibodi; (2) sel B pengingat, berfungsi sebagai sel memori terhadap antigen yang sudah terpajan sebelumnya dan menstimulasi sel B plasma jika terjadi infesksi kedua; dan (3) sel B pembelah, berfungsi menyeimbangkan jumlah produksi sel B plasma dan sel B pengingat dalam waktu yang cepat.</div><div><br></div><div><strong>2. Limfosit T</strong></div><div>Limfosit T diproduksi di sumsum tulang yang kemudian akan berimigrasi ke kelenjar timus dan berdiferensiasi secara cepat untuk melawan berbagai antigen spesifik. Sel T berperan dalam menjalankan kerja sistem imunitas seluler dan juga membantu produksi sel B plasma. Sama halnya seperti limfosit B, limfosit T juga terdiri atas 3 jenis meliputi, (1) sel T helper (CD<sub>4</sub><sup>+</sup>), berfungsi menstimulasi pembentukan klon untuk produksi sel T sitotoksik dan sel T supresor juga faktor perangsang dan pertumbuhan sel B; (2) sel T sitotoksik, merupakan sel yang menyerang patogen yang masuk ke tubuh atau sel tubuh yang terinfeksi; dan (3) sel T supresor, berfungsi menekan fungsi sel T sitotoksik dan sel T helper agar segera setelah infeksi berhasil ditangani agar tidak menyebabkan reaksi imun yang berlebihan.</div><div><br></div><div><strong>b. Antibodi</strong></div><div>Antibodi merupakan gamma globulin yang disebut <em>immunoglobulin</em> yang mencakup sekitar 20% dari protein plasma. Antibodi bekerja terutama melalui dua cara untuk melindungi tubuh terhadap agen yang menginvasi yaitu dengan langsung menyerang penyebab penyakit tersebut atau mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian dengan berbagai cara yang dimiliki akan menghancurkan penyebab penyakit tersebut. Terdapat lima golongan umum antibodi, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD, IgE. Namun, diantaranya golongan yang sangat penting ialah IgG, IgE dan IgM.</div><div><strong>IgG</strong> merupakan antibodi bivalen dan mencakup 75% dari seluruh antibodi pada orang normal. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta sehingga berperan memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin.<figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://1.bp.blogspot.com/-MCR0JSJ2xbk/V5jiSuHFPCI/AAAAAAAAAYk/_hQ9pptJz8k4tbWcXXes13fiZIu8ss-oACEw/s640/3.%2BImunoglobulin.jpg" width="640" height="408"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure><strong>IgM</strong> juga merupakan imunoglobulin yang penting, karena sebagian besar antibodi jenis inilah yang terbentuk selama respon imunitas primer. IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan ataupun mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag. Selain itu, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.</div><div><br></div><div><strong>IgE</strong> merupakan antibodi dengan jumlah yang sedikit tapi khususnya terlibat dalam proses alergi. Selain itu, IgE juga memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh.<br><br><strong>B. FUNGSI SISTEM KEKEBALAN TUBUH (SISTEM IMUN)</strong></div><div>Secara umum, fungsi sistem imun diantaranya meliputi:</div><ul><li>Melindungi tubuh dari bibit penyakit</li><li>Menghancurkan substansi asing/mikroorganisme dalam tubuh</li><li>Menghilangkan sel mati untuk perbaikan jaringan</li><li>Mengenali dan menghilangkan jaringan abnormal</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-25 15:01:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245834585</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245912400</link>
         <description><![CDATA[JELASKAN FUNGSI SETIAP KOMPONEN PADA PETA KONSEP.

Empty
]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 01:11:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245912400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Strelitzia Ramandha &amp; Azhrina Divya (XII IPS 2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245912468</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br></strong><br></div><div><strong>SISTEM PERTAHANAN TUBUH<br></strong><br></div><div>Sistem pertahanan tubuh adalah suatu sistem yang bekerja sama dan berfungsi memerangi faktor asing yang berasal dari lingkungan atau dari dalam tubuh sendiri. Pengaruh dari dalam tubuh dapat berupa kanker yang terjadi akibat mutasi, sedangkan pengaruh dari luar berupa virus, bakteri, paparan zat kimia, jamur, cacing, dan lain-lain.<br><br></div><div><strong>A.Pertahanan Non Spesifik<br></strong><br></div><div> -Pengertian dari sistem pertahanan non spesifik adalah sistem pertahanan tubuh dengan tidak membedakan antara mikorbia patogen satu dengan yang lain. Pertahanan non spesifik ini terdiri atas pertahanan fisik, mekanis, kimiawi dan biologi. <br><br></div><div>Adapun ciri dari sistem ini adalah: <br><br></div><div>- Tidak begitu selektif <br><br></div><div>- Tidak dapat mengingat infeksi sebelumnya <br><br></div><div>- Eksposurnya menjadikan respon yang maksimal <br><br></div><div>- Terdapat komponen khusus yang dapat menangkal radikal bebas<br><br></div><div>1. Eksternal :<br><br></div><div>  - Sistem pertahanan tubuh nonspesifik eksternal merupakan sistem pertahanan tubuh terluar atau sistem yang pertama akan menerima serangan dari antigen atau patogen, yakni organisme yang dapat menyebabkan penyakit seperti bakteri, jamur atau virus. Sistem pertahanan ini diperankan oleh kulit dan membran mukosa yang menghasilkan lendir, air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus).<br><br></div><div><strong>a) Kulit <br></strong><br></div><div>     Fungsi kulit bagi pertahanan tubuh di samping berfungsi melindungi tubuh dari panas, dingin, dan sinar matahari, kulit juga memiliki kemampuan untuk melindungi tubuh dari mikroorganisme yang merugikan. Fungsi perlindungan utama kulit diwujudkan lewat lapisan sel mati yang merupakan bagian terluar kulit. Setiap sel baru yang dihasilkan oleh pembelahan sel bergerak dari bagian dalam kulit menuju ke permukaan luar.<br><br></div><div><strong> b) Membran Sel Mukosa<br></strong><br></div><div>     -Semua saluran tubuh yang memiliki kontak langsung dengan lingkungan luar, sepertisaluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran ekskresi, ataupun saluran reproduksi selalu memiliki organ-organ yang dilapisi oleh lapisan mukosa. Lapisan mukosa yang terdapat pada berbagai saluran tadi memiliki fungsi penting dalam mencegah masuknya berbagai mikroba asing yang berbahaya.<br><br></div><div> <br><br></div><div>2. Internal <br><br></div><div>- Sistem kekebalan tubuh nonspesifik internal (dalam) akan menyerang semua patogen yang mampu lolos dari perlawanan sistem kekebalan tubuh luar atau eksternal (kulit dan membran mukosa). Sistem pertahanan internal ini merupakan pertahanan yang dilakukan oleh dalam tubuh itu sendiri yang diperankan oleh sel fagosit dan protein antimikroba.<br><br></div><div><strong> a) Sel Fagosit <br></strong><br></div><div>Sel fegosit terdiri dari beberapa jenis sel darah putih yakni neutrofil dan monosit yang membunuh mikroba dengan cara fagositosis yaitu memakan mikroba yang masuk ke dalam tubuh. Sekitar 60%-70%, kandungan dalam sel darah putih adalah neutrofil. Neutrofil dapat mendeteksi sel yang terjangkit penyakit setelah menangkap sinyal kimiawi. Kemudian neutrofil akan keluar dari peredaran darah menuju sel yang terjangkit penyakit untuk membunuh patogen. Setelah mampu membunuh patogen, neutrofil juga akan mengalami kematian. Sekitar 5% kandungan dalam sel darah putih adalah monosit. Ia dapat memberikan perlindungan efektif dengan menyerang sel yang terjangkit penyakit setelah beberapa jam bersirkulasi dalam darah. Monosit kemudian akan berubah menjadi makrofag. Ia menjulurkan pseudopodia (kaki semu) untuk menarik mikroba kemudian menghancurkannya dengan enzim pencernaannya. Lalu apa semua mikroba dapat dihancurkan seperti itu? tidak semua, beberapa mikroba dapat menangkal serangan dari monosit dengan cara membuat kapsul yang dapat menolak tarikan dari kaki semu makrofag bahkan ada bakteri yang dapat menangkal serangan dari enzim-enzim sehingga mampu bereproduksi dalam makrofag. Sekitar 1,5% kandungan dalam sel darah putih berupa eosinofil yang memiliki enzim penghancur di dalam granul sitoplasmanya. Ia dapat berperan dalam membunuh cacing parasit yang masuk ke dalam tubuh manusia. Agar lebih jelas, berikut gambar eosinofil, monosit dan neutrofil.<br><br></div><div><strong> b) Respons peradangan <br></strong><br></div><div> -Respon tubuh terhadap serangan mikroba patogen dapat berupa peradangan dan demam. Peradangan merupakan reaksi dari tubuh terhadap rusaknya sel akibat infeksi virus, pengaruh zat-zat kimia atau gangguan fisik lainnya. Peradangan dapat memiliki gejala pembengkakan, panas, bisul atau gatal-gatal. Diantara gejala tersebut, demam adalah yang paling sering terjadi. Demam dapat melemahkan kinerja patogen yang tidak suka dengan suhu yang tinggi.<br><br></div><div><strong> c) Senyawa Antimikroba <br></strong><br></div><div>    -Ada sekitar 20 jenis protein antimikroba yang terdapat dalam tubuh manusia, protein ini dinamakan sebagai sistem komplemen . Protein ini dapat menyerang bakteri secara langsung dengan menyerang membran sel atau membuat lubang pada dinding sel bakteri hingga mengalami lisis (pecah). Selain itu protein ini juga dapat menyerang secara tidak langsung yakni dengan menghambat reproduksi bakteri di dalam tubuh.<br><br></div><div><strong>d) protein komplemen<br></strong><br></div><div>  protein dalam serum darah yang bereaksi berjenjang sebagai enzim untuk membantu sistem kekebalan selular dan sistem kekebalan humoral untuk melindungi tubuh dari infeksi. Protein komplemen tidak secara khusus bereaksi terhadap antigen tertentu, dan segera teraktivasi pada proses infeksi awal dari patogen. Oleh karena itu sistem komplemen dianggap merupakan bagian dari sistem imun bawaan. Walaupun demikian, beberapa antibodi dapat memicu beberapa protein komplemen, sehingga aktivasi sistem komplemen juga merupakan bagian dari sistem kekebalan humoral.<br><br></div><div>* Fungsi :<br><br></div><div> 1. Lisis sel sasaran oleh kompleks serangan membrane. Sitolisis Pada aktivasi sitolisis ini (kompleks serangan membran) yang berfungsi adalah C5-C9. Mekanisme ini sangat penting bagi pertahanan tubuh melawan mikrooorganisme. Proses lisis ini dapat melalui jalur alternatif maupun jalur klasik. <br><br></div><div>2. Sifat biologik aktif fragmen yang terbentuk selama aktivasi.<br><br></div><div> e) Interferon                                                                                                                                                                           - Interferon adalah salah satu dari beberapa protein terkait yang diproduksi oleh sel-sel tubuh sebagai respon defensif untuk virus. Mereka adalah modulator penting dari respon imun.<br><br></div><div>*Fungsi :<br><br></div><div>Untuk terapi berbagai penyakit, termasuk hepatitis B dan hepatitis C. Untuk beberapa penyakit yang belum ditemukan obatnya, interferon juga menjadi alternatif utama walaupun tingkat penyembuhannya tidak begitu tinggi. Untuk terapi hepatitis , misalnya, efektivitasnya tidak lebih dari 30 persen. selain itu interferon banyak digunakan untuk pengobatan kanker dan infeksi hepatitis C. Obat yang merupakan &amp;quot;multidrug&amp;quot; menjadi alternatif terapi SARS yang belum ditemukan obatnya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa interferon mampu meredam perkembangbiakan virus corona-SARS secara in vitro<br><br></div><div><strong>B.PERTAHAN TUBUH SPESIFIK </strong>                                                                                                                             dikenal juga dengan nama sistem kekebalan. Respons kekebalan ini meliputi produksi protein pertahanan tubuh spesifik, disebut antibodi. <br><br></div><div> <br><br></div><div>ANTIBODI                                                                                                                                                                          yang dilakukan oleh limfosit. Limfosit dapat ditemukan di dalam sumsum tulang, pusat limfatik, kelenjar ludah, limpa, tonsil, dan persendian. Limfosit memiliki peran sangat penting untuk melawan penyakit-penyakit menular, seperti AIDS, kanker, rabies, dan TBC.<br><br></div><div> <br><br></div><div>CARA KERJA ANTIBODI                                                                                                                                          <strong>a.Penetralan    </strong>                                                                        Antibodi menetralkan  racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<br><br></div><div><strong>b. Pengendapan (Presipitasi)     </strong>                                                                                      Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<br><br></div><div><strong>c. Pelekatan       </strong>                                                                                                                         Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><br></div><div><strong>d. Aktivasi Protein Komplemen                </strong>                                                                            Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.<br><br></div><div> <br><br></div><div>JENIS JENIS ANTIBODI<br><br></div><div><strong>1. Immunoglobulin A (IgA)<br></strong><br></div><div>Terdapat pada beberapa bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus. Immunoglobulin A (IgA) juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.                                                                        Jenis antibodi ini juga melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi yang baru lahir.<br><br></div><div><strong>2. Immunoglobulin D (IgD)<br></strong><br></div><div>Jenis antibodi Immunoglobulin D atau IgD merupakan antibodi yang jumlahnya yang sangat sedikit terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.<br><br></div><div><strong>3. Immunoglobulin E (IgE)<br></strong><br></div><div>Immunglobulin E atau IgE merupakan jenis antibodi dalam tubuh yang beredar dalam aliran darah dan terlibat dalam mempertahankan tubuh terhadap parasit dan alergen. Jenis antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi biasanya memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit,<br><br></div><div> <br><br></div><div><strong>4. Immunoglobulin G (IgG)<br></strong><br></div><div>Jenis antibodi IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.                                                                                                                                                                              Jenis antibodi dalam tubuh ini memiliki efek kuat sebagai antibakteri maupun virus, serta menetralkan racun. IgG juga mampu menyelinap diantara sel-sel dan  menyingkirkan mikroorganisme yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit.<br><br></div><div>Jenis antibodi dalam tubuh IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi janin dari kemungkinannya infeksi yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya immunoglobulin dalam kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kali keluar), memberikan perlindungan kepada bayi terhadap infeksi sampai sistem kekebalan bayi dapat menghasilkan antibodi sendiri.<br><br></div><div><strong>5. Immunoglobulin M (IgM)<br></strong><br></div><div>Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.                                                                                                 Janin dalam kandungan mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Jenis antibodi IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 01:12:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245912468</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FADHILAH DAFFA &amp; LUTHFI OCTAVIAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245937051</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>A. PENGERTIAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH (SISTEM IMUN)</strong></div><div>Sistem kekebalan tubuh atau disebut juga <em>imunitas </em>merupakan suatu kemampuan tubuh untuk melawan hampir semua jenis organisme atau toksin yang cenderung merusak jaringan dan organ tubuh. Organisme atau toksin ini merupakan protein asing yang berbeda dari protein tubuh manusia yang disebut <em>antigen </em>dan dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, <em>antigen </em>tersebut harus disingkirkan, dinetralisir dan dihancurkan. Sistem kekebalan tubuh yang berperan menjalankan tugas tersebut ialah <em>antibodi. Antibodi </em>merupakan suatu zat yang berasal dari protein darah jenis <em>gama globulin </em>dan berfungsi melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh.<br><br><strong>B. MACAM - MACAM SISTEM PERTAHANAN TUBUH</strong>&nbsp; &nbsp; <br><br><em>1.PERTAHANAN TUBUH SPESIFIK</em></div><div>&nbsp; &nbsp;yaitu sistem pertahanan yang mempunyai&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;kemampuan untuk mengenali benda asing yang masuk.</div><div>- Cara Kerja Anti Bodi :</div><ul><li>Penetralan : atau yg disebut netralisasi yaitu dengan menetralkan antigen</li><li>Pengendapan : atau yg disebut presipitasi yaitu dengan pengendapan</li><li>Pelkatan : atau yg disebut aglutinasi yaitu dengan penggumpalan</li><li>Aktivitas protein komplemen : atau yg disebut fiksasi komplemen atau lisis yaitu dg lisis atau penghancur antigen</li></ul><div>- JENIS - JENIS ANTIBODI</div><ul><li>lg G : atau disebut dg immunoglobulin G, yaitu untuk menembus placenta membawa kekebalan dari ibu ke janin yaitu pada masa 20 minggu pertama</li><li>lg E : atau disebut dg immunoglobulin E, yaitu untuk merespon reaksi alergi. Hanya ditemukan pd mamalia, dapat merespon cacing parasit</li><li>lg A : atau disebut dg immunoglobulin A, yaitu untuk mencegah masuknya bakteri atau virus melalui jaringan epitel (air liur, air mata, kolustrum, dan susu)</li><li>lg D : atau disebut dg immunoglobulin D, yaitu untuk memicu deferensiasi jaringan lomfosit B menjadi plasma&nbsp; dan limfosit B memori</li><li>lg M : atau disebut dg immunoglobulin M, yaitu merupakan antibodi pertama yang menyerang antigen</li></ul><div><br></div><div>2. <em>PERTAHANAN TUBUH TIDAK SPESIFIK</em></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;yaitu sistem pertahanan yg sudah ada dalam tubuh dapat melindungi tubuh dan dpt mendeteksi benda asing yang masuk<br>- Imun tidak spesifik dipengaruhi 2 faktor yaitu&nbsp; &nbsp;<br><strong>1. Eksternal terbagi menjadi 2 yaitu :</strong></div><ul><li><strong>Membran sel mukosa</strong></li></ul><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Adalah jaringan berbentuk lapisan atau membran yang melapisi beberapa organ tubuh. Membran ini melapisi daerah tubuh yang terpapar lingkungan luar, contohnya kelopak mata, hidung, telinga, bibir, dll.<br>- <strong><em>Fungsinya</em></strong> :&nbsp;</div><ol><li>Melindungi, melembabkan, dan melincinkan lapisan sehingga tidak menjadi kering.</li><li>Menangkap kuman, debu, dan kotoran sehingga dapat dibuang oleh tubuh.</li><li>Melincinkan lapisan sehingga mudah terjadi pertukaran udara.</li><li>Membantu penyerapan zat-zat nutrisi</li></ol><ul><li>&nbsp;<strong>Kulit</strong>&nbsp;</li></ul><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kulit adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi seluruh tubuh manusia. Berat kulit diperkirakan sekitar 7 % dari berat tubuh total. Pada permukaan luar kulit terdapat pori – pori (rongga) yang menjadi tempat keluarnya keringat.<br>- <strong><em>Fungsinya :&nbsp;</em></strong></div><ol><li>Sebagai pelindung tubuh dari sinar matahari&nbsp;</li><li>Sebagai indra peraba</li><li>Sebagai alat eksresi&nbsp;</li><li>Sebagai alat pengatur suhu</li><li>Sebagai penyimpan lemak</li></ol><div><strong>2.&nbsp; Internal terbagi menjadi 3 yaitu :</strong></div><ul><li>Fagositis</li></ul><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; <em>Fagositosis adalah </em>suatu proses atau mekanisme di mana sel fagosit menelan atau menggulung sel-sel asing baik yang bersifat patogen ataupun sel-sel tubuh yang telah mati atau sekarat. Partikel yang terfagositosis oleh fagosit antara lain adalah mikroba, sel-sel jaringan yang mati, protozoa, berbagai partikel debu, pigmen, dan benda asing lainnya.&nbsp; Fagositosis dapat berlansung baik di dalam sel maupun di luar sel.&nbsp; &nbsp;</div><ul><li>Respon peradangan</li></ul><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Respon peradangan (inflamasi) adalah jenis dasar respon oleh tubuh terhadap penyakit dan cedera, respon yang ditandai dengan tanda-tanda klasik nyeri, panas (hangat lokal), kemerahan, dan bengkak.</div><ul><li>Senyawa antimikroba</li></ul><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan mikroba dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan.Mikroorganisme dapat menyebabkan bahaya karena kemampuan menginfeksi dan menimbulkan penyakit serta merusak bahan pangan. Ada banyak senyawa anti mikroba berdasarkan mikroba yang ingin di ganggu pertumbuhannya. Di antaranya:</div><ul><li>Anti bakteri&nbsp;</li><li>Anti jamur&nbsp;</li><li>Anti kapang&nbsp;</li><li>Anti Khamir</li></ul><div>- Senyawa antimikroba lagi menjadi :&nbsp;</div><div>a. Protein Komplemen<br>b. interfeton<br>JENIS JENIS ANTIBODI<br><br></div><div><strong>1. Immunoglobulin A (IgA)<br></strong><br></div><div>Terdapat pada beberapa bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus. Immunoglobulin A (IgA) juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Jenis antibodi ini juga melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi yang baru lahir.<br><br></div><div><strong>2. Immunoglobulin D (IgD)<br></strong><br></div><div>Jenis antibodi Immunoglobulin D atau IgD merupakan antibodi yang jumlahnya yang sangat sedikit terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.<br><br></div><div><strong>3. Immunoglobulin E (IgE)<br></strong><br></div><div>Immunglobulin E atau IgE merupakan jenis antibodi dalam tubuh yang beredar dalam aliran darah dan terlibat dalam mempertahankan tubuh terhadap parasit dan alergen. Jenis antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi biasanya memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit,<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div><strong>4. Immunoglobulin G (IgG)<br></strong><br></div><div>Jenis antibodi IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Jenis antibodi dalam tubuh ini memiliki efek kuat sebagai antibakteri maupun virus, serta menetralkan racun. IgG juga mampu menyelinap diantara sel-sel dan&nbsp; menyingkirkan mikroorganisme yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit.<br><br></div><div>Jenis antibodi dalam tubuh IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi janin dari kemungkinannya infeksi yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya immunoglobulin dalam kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kali keluar), memberikan perlindungan kepada bayi terhadap infeksi sampai sistem kekebalan bayi dapat menghasilkan antibodi sendiri.<br><br></div><div><strong>5. Immunoglobulin M (IgM)<br></strong><br></div><div>Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Janin dalam kandungan mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Jenis antibodi IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.<br><br><strong>FUNGSI SISTEM KEKEBALAN TUBUH (SISTEM IMUN)</strong></div><div>Secara umum, fungsi sistem imun diantaranya meliputi:</div><ul><li>Melindungi tubuh dari bibit penyakit</li><li>Menghancurkan substansi asing/mikroorganisme dalam tubuh</li><li>Menghilangkan sel mati untuk perbaikan jaringan</li><li>Mengenali dan menghilangkan jaringan abnormal</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 04:05:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245937051</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245958194</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 06:59:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245958194</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Devia Eka Putri &amp; Endah Vivianingrum</title>
         <author>endah_vivian07</author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245968117</link>
         <description><![CDATA[<div>A.&nbsp; Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh<br><br>&nbsp; Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.<br>&nbsp; Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik.&nbsp;<br><br>1. &nbsp; Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik<br><br>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme patogen yang satu dengan yang lainnya, sistem ini merupakan sistem pertahanan pertama terhadap infeksi akibat masuknya mikroorganisme patogen atau benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.<br><br>a. &nbsp; Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal(Permukaan Tubuh) :&nbsp;<br><br>1) &nbsp; Pertahanan secara fisik<br>&nbsp;<br>Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat sehingga menyulitkan bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh.<br><br>2) &nbsp; Pertahanan secara mekanik<br><br>Pertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia, rambut hidung bertugas menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya maupun dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan, sedangkan silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.<br><br>3) &nbsp; Pertahanan secara biologis<br><br>Pertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit dan membran mukosa, bakteri-bakteri tersebut berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi sehingga perkembangan bakteri patogen terhambat.<br><br><br>4) &nbsp; Pertahanan secara kimia<br><br>Pertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang dapat membunuh bakteri, enzim lizosim dapat menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.<br><br>b. &nbsp; Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal :<br><br>1) &nbsp; Inflamasi<br><br>Inflamasi adalah respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras. Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin. Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.<br><br>Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.<br><br>Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi, selanjutnya neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.<br><br>Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.<br><br>Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah menjadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis. Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya. Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.<br><br>Selain neutrofil dan monosit terdapat juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih). Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas namun memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang dapat menembus pertahanan cacing parasit.<br><br>mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut :&nbsp;<br>1. &nbsp; Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.<br>&nbsp;<br>2. &nbsp; Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)<br><br>3. &nbsp; Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.<br><br>Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.<br><br>1) &nbsp; Protein Antimikrobia<br><br>Terdapat protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu protein komplemen yang terdiri dari sekitar 20 jenis protein. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, dapat memicu gelombang reaksi yang mengaktifkan gelombang komplemen yang lain.<br><br>Protein komplemen dapat membunuh bakteri penginfeksi dengan cara melubangi dinding dan membran plasma bakteri tersebut, hal ini menyebabkan ion Ca2+ keluar dari bakteri sedangkan cairan dan garam-garam diluar bakteri masuk ke dalam bakteri dan membunuh bakteri tersebut.<br><br>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu interferon yang dihasilkan dari sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Interferon dihasilkan ketika virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi dan sel-sel yang berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi.<br><br><br>2) &nbsp; Respon tubuh terhadap Pertahanan Tubuh Nonspesifik<br><br>Akibat infeksi patogen tubuh merespon dengan terjadinya peradangan (inflamasi) dan demam. Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, atau gangguan fisik seperti benturan atau panas, inflamasi menimbulkan rasa sakit, panas, bengkak, serta kulit yang memerah.<br><br>Respon tubuh yang lain adalah demam dimana ditandai dengan suhu tubuh yang naik. Mikroorganisme patogen, substansi asing, serta sel-sel tubuh yang mati menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen yang merangsang monosit dan makrofag mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang bagian otak hipotalamus menaikan suhu tubuh sehingga timbul perasaan suhu tubuh yang meningkat.<br><br>Suhu tubuh yang tinggi mengguntungkan karena patogen akan lemah dan mati pada suhu tinggi, selain itu metabolisme, reaksi kimia, serta sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan walaupun menimbulkan efek seperti pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh.<br><br><br>2. &nbsp; Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik<br><br>Sistem pertahanan tubuh spesifik juga dikenal dengan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh, jika patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik maka selanjutnya harus berhadapan dengan pertahanan tubuh spesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh.<br><br>a. &nbsp; Struktur Sistem Kekebalan Tubuh.<br><br>Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi.<br><br>1) &nbsp; Limfosit<br><br>Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B(sel B) dan limfosit T(sel T). Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun jika diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.<br><br>a) &nbsp; Sel B<br><br>Limfosit B terbentuk dan dimatangkan di dalam sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah menuju jaringan limfatik. Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:<br><br>(1) Sel B plasma, berfungsi untuk memproduksi antibodi.<br><br>(2) Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma jika terjadi infeksi kedua.<br><br>(3) Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak serta cepat.<br><br>b) &nbsp; Sel T<br><br>Limfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut, sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung, sel T juga turut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :<br><br>(1) Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.<br><br>(2) Sel T pembantu (sel T penolong) berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya serta sel B plasma, serta mengaktifkan dapat mengaktifkan makrofag untuk melakukan fagositosis.<br><br>(3) Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.<br><br>2) &nbsp; Antibodi<br><br>a) &nbsp; Pengertian dan Fungsi Antibodi<br><br>Pada setiap mikroorganisme serta substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya terdapat senyawa protein yang berperan sebagai antigen, antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme serta substansi asing tersebut.<br><br>Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh untuk membentuk antibodi, antibodi adalah senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Antibodi bekerja secara spesifik untuk suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar hanya cocok untuk antibodi cacar.<br><br>b) &nbsp; Struktur Antibodi<br><br>Pada antibodi setiap molekul tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.<br><br>Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.<br><br>c) &nbsp; Pengelompokan Antibodi<br><br>Terdapat lima jenis antibodi yang dimiliki manusia yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Berikut penjelasannya.<br><br>1. &nbsp; IgG (Immunoglobulin Gamma), adalah kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin serta disekresikan dalam kolostrum.<br><br>2. &nbsp; IgM (Immunoglubulin-M) adalah jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama, IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.<br><br>3. &nbsp; IgA (Immunoglobulin-A), antibodi jenis ini dapat mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.<br><br>4. &nbsp; IgE (Immunoglobulin-E) merupakan antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan hanya sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.<br><br>5. &nbsp; IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini tidak dapat mengaktikan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.<br><br>b. &nbsp; Respon Kekebalan Tubuh terhadap Antigen<br><br>Respon kekebalan tubuh terhadap antigen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kekebalan tubuh humoral dan kekebalan tubuh seluler.<br><br>1) &nbsp; Kekebalan Humoral<br><br>Imunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dengan antibodi yang berada dalam plasma darah dan cairan limfa dalam bentuk protein. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat, sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesifik terhadap antigen tertentu.<br><br>Antigen yang terikat akan mempermudah makrofag untuk lebih mudah menangkap dan menghancurkan patogen tersebut. Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :<br><br>1. &nbsp; Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.<br><br>2. &nbsp; Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.<br><br>3. &nbsp; Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.<br><br>4. &nbsp; Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.<br><br>Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.<br><br>Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.<br><br>2) &nbsp; Kekebalan Selular<br><br>Kekebalan selular diprakarsai sel T yang menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Ketika sel T membunuh kontak dengan antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkannya dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi telah berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respon kekebalan dengan cara menghambat kegiatan sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.<br><br>2) &nbsp; Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh :&nbsp;<br><br>1) &nbsp; Kekebalan Aktif<br><br>Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami.<br><br>Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.<br><br>2) &nbsp; Kekebalan Pasif<br><br>Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami.<br><br>Sedangkan kekebalan pasif buatan diperoleh dengan menyuntikan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain melalui serum, walaupun kekebalan pasif ini berlangsung singkat tapi berguna untuk penyembuhan secara cepat.<br><br><br>B.&nbsp; Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh<br><br>Gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti sistem kekebalan tubuh dapat tidak berfungsi jika sistem ini bereaksi dengan molekul asing yang berlebihan. Beberapa contoh gangguan pada sistem kekebalan tubuh antara lain Alergi, autoimunitas dan AIDS.<br><br>1. &nbsp; Alergi<br><br>Alergi adalah respon imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Reaksi alergi disebut juga dengan anaphylaxis. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi adalah Alergen yang dapat berupa serbuk, debu, bulu hewan, gigitan serangga, serta jenis makanan tertentu.<br><br>Alergi diawali dengan proses masuknya alergen ke dalam tubuh yang merangsang sel-sel B plasma untuk mensekresikan antibodi yang biasanya dari kelas IgE. Pada awalnya alergen yang masuk ke tubuh tidak akan menimbulkan alergi tapi pada awal alergen yang masuk akan berikatan dengan mastosit. Hal ini menyebabkan ketika alergen untuk kedua kalinya masuk ke dalam tubuh akan terikat pada antibodi IgE yang telah berikatan dengan mastosit, keadaan inilah yang menyebabkan mastosit melepaskan histamin yang memperbesar dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah (inflamasi). Inflamasi menyebabkan timbulnya berbagai gejala alergi seperti bersin, gatal-gatal, pusing, dan kesulitan bernapas.<br><br>2. &nbsp; Autoimunitas<br><br>Autoimunitas adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk menyerang sel-sel tubuh sendiri seolah-olah bukan merupakan bagian dari tubuh. Autoimunitas seringkali disebabkan gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus atau karena infeksi virus yang terjadi sebelum lahir yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibat autoimunitas banyak dijumpai kelainan-kelainan atau keabnormalan yang dapat dijumpai antara lain :<br><br>a. &nbsp; Diabetes Mellitus, yaitu tipe I (insulin-dependent diabetes mellitus), dimana antibodi menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi hormon insulin sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi.<br><br>b. &nbsp; Addison’disease, penyakit ini bisa disebabkan oleh infeksi pada kelenjar adrenalin namun juga bisa disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel hormon yang menghasilkan adrenalin. Akibat yang ditimbulkannya adalah mudah merasa lelah, kehilangan berat badan, rasa perasaan yang tertekan, kadar gula darah rendah dan pigmentasi kulit yang meningkat.<br><br>c.&nbsp; &nbsp; Mysthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini menyebabkan dergradasi otot dan berkurangnya kemampuan otot menangkap asetilkolin (zat yang dilepaskan saraf untuk memicu kontraksi otot), misalnya terjadi pada mata dimana posisi mata menjadi tidak simetris.<br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 07:43:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245968117</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245969254</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 07:48:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245969254</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alda Aulia &amp; Tri Septhyana Nuraini (XI IPS 2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245969820</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>A. SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA<br><br></strong>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div>Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik. Beberapa lapisan pertahanan tubuh dijelaskan dalam tabel berikut.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s750/Capture.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:102,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s280/Capture.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s280/Capture.JPG" width="280" height="102"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><em>Tabel lapisan pertahanan tubuh mulai dari permukaan kulit</em></div><div><br></div><div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme patogen yang satu dengan yang lainnya, sistem ini merupakan sistem pertahanan pertama terhadap infeksi akibat masuknya mikroorganisme patogen atau benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div><strong>a.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal(Permukaan Tubuh)</strong></div><div><br></div><div>1) &nbsp; Pertahanan secara fisik</div><div>Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat sehingga menyulitkan bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div>2) &nbsp; Pertahanan secara mekanik</div><div>Pertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia, rambut hidung bertugas menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya maupun dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan, sedangkan silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.</div><div><br></div><div>3) &nbsp; Pertahanan secara biologis</div><div>Pertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit dan membran mukosa, bakteri-bakteri tersebut berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi sehingga perkembangan bakteri patogen terhambat.</div><div><br></div><div>4) &nbsp; Pertahanan secara kimia</div><div>Pertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang dapat membunuh bakteri, enzim lizosim dapat menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.</div><div><br></div><div><strong>b.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal</strong></div><div><br></div><div>1) &nbsp; Inflamasi</div><div>Inflamasi adalah respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras. Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin. Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.</div><div><br></div><div>Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.</div><div><br></div><div>Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi, selanjutnya neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.</div><div><br></div><div>Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.</div><div><br></div><div>Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah menjadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis. Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya. Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.</div><div><br></div><div>Selain neutrofil dan monosit terdapat juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih). Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas namun memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang dapat menembus pertahanan cacing parasit.</div><div><br></div><div>Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><a href="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s650/Capture+F567.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:109,&quot;url&quot;:&quot;http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG" width="280" height="109"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br></div><div><em>Proses pertahanan tubuh melalui inflamasi</em></div><div><br></div><div>Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.</div><div>1. &nbsp; Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.</div><div>2. &nbsp; Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)</div><div>3. &nbsp; Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.</div><div>Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.</div><div><br></div><div>1) &nbsp; Protein Antimikrobia</div><div>Terdapat protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu protein komplemen yang terdiri dari sekitar 20 jenis protein. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, dapat memicu gelombang reaksi yang mengaktifkan gelombang komplemen yang lain.</div><div><br></div><div>Protein komplemen dapat membunuh bakteri penginfeksi dengan cara melubangi dinding dan membran plasma bakteri tersebut, hal ini menyebabkan ion Ca<sup>2+</sup> keluar dari bakteri sedangkan cairan dan garam-garam diluar bakteri masuk ke dalam bakteri dan membunuh bakteri tersebut.</div><div><a href="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:602,&quot;url&quot;:&quot;http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg&quot;,&quot;width&quot;:470}" data-trix-content-type="image"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg" width="470" height="602"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br></div><div><br></div><div><em>Cara kerja protein komplemen dalam menghancurkan bakteri</em></div><div><br></div><div>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu interferon yang dihasilkan dari sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Interferon dihasilkan ketika virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi dan sel-sel yang berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi.</div><div><br></div><div>2) &nbsp; Respon tubuh terhadap Pertahanan Tubuh Nonspesifik</div><div>Akibat infeksi patogen tubuh merespon dengan terjadinya peradangan (inflamasi) dan demam. Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, atau gangguan fisik seperti benturan atau panas, inflamasi menimbulkan rasa sakit, panas, bengkak, serta kulit yang memerah.</div><div><br></div><div>Respon tubuh yang lain adalah demam dimana ditandai dengan suhu tubuh yang naik. Mikroorganisme patogen, substansi asing, serta sel-sel tubuh yang mati menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen yang merangsang monosit dan makrofag mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang bagian otak hipotalamus menaikan suhu tubuh sehingga timbul perasaan suhu tubuh yang meningkat.</div><div><br></div><div>Suhu tubuh yang tinggi mengguntungkan karena patogen akan lemah dan mati pada suhu tinggi, selain itu metabolisme, reaksi kimia, serta sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan walaupun menimbulkan efek seperti pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh.</div><div><br></div><div><br></div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh spesifik juga dikenal dengan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh, jika patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik maka selanjutnya harus berhadapan dengan pertahanan tubuh spesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div><strong>a.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Struktur Sistem Kekebalan Tubuh.</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi.</div><div><br></div><div><strong>1)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Limfosit</strong></div><div>Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B(sel B) dan limfosit T(sel T). Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun jika diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.</div><div><br></div><div>a) &nbsp; Sel B</div><div>Limfosit B terbentuk dan dimatangkan di dalam sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah menuju jaringan limfatik. Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:</div><div>(1) Sel B plasma, berfungsi untuk memproduksi antibodi.</div><div>(2) Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma jika terjadi infeksi kedua.</div><div>(3) Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak serta cepat.</div><div><br></div><div>b) &nbsp; Sel T</div><div>Limfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut, sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung, sel T juga turut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :</div><div>(1) Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.</div><div>(2) Sel T pembantu (sel T penolong) berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya serta sel B plasma, serta mengaktifkan dapat mengaktifkan makrofag untuk melakukan fagositosis.</div><div>(3) Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Antibodi</strong></div><div>a) &nbsp; Pengertian dan Fungsi Antibodi</div><div>Pada setiap mikroorganisme serta substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya terdapat senyawa protein yang berperan sebagai antigen, antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme serta substansi asing tersebut.</div><div><br></div><div>Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh untuk membentuk antibodi, antibodi adalah senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Antibodi bekerja secara spesifik untuk suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar hanya cocok untuk antibodi cacar.</div><div><br></div><div>b) &nbsp; Struktur Antibodi</div><div>Pada antibodi setiap molekul tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.</div><div><br></div><div>Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.</div><div><br></div><div>c) &nbsp; Pengelompokan Antibodi</div><div>Terdapat lima jenis antibodi yang dimiliki manusia yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Berikut penjelasannya.</div><div>1. &nbsp; IgG (Immunoglobulin Gamma), adalah kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin serta disekresikan dalam kolostrum.</div><div>2. &nbsp; IgM (Immunoglubulin-M) adalah jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama, IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.</div><div>3. &nbsp; IgA (Immunoglobulin-A), antibodi jenis ini dapat mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.</div><div>4. &nbsp; IgE (Immunoglobulin-E) merupakan antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan hanya sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.</div><div>5. &nbsp; IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini tidak dapat mengaktikan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.</div><div><br></div><div><strong>b.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Respon Kekebalan Tubuh terhadap Antigen</strong></div><div>Respon kekebalan tubuh terhadap antigen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kekebalan tubuh humoral dan kekebalan tubuh seluler.</div><div><br></div><div>1) &nbsp; Kekebalan Humoral</div><div>Imunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dengan antibodi yang berada dalam plasma darah dan cairan limfa dalam bentuk protein. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat, sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesifik terhadap antigen tertentu.</div><div><br></div><div>Antigen yang terikat akan mempermudah makrofag untuk lebih mudah menangkap dan menghancurkan patogen tersebut. Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :</div><div>1. &nbsp; Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.</div><div>2. &nbsp; Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.</div><div>3. &nbsp; Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.</div><div>4. &nbsp; Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.</div><div><br></div><div>Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.</div><div><br></div><div>Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.</div><div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s650/Capture+394W.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:191,&quot;url&quot;:&quot;http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG" width="280" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure>&nbsp;</a></div><div>&nbsp;</div><div><em>Grafik respon kekebalan primer dan sekunder</em></div><div><br></div><div>2) &nbsp; Kekebalan Selular</div><div>Kekebalan selular diprakarsai sel T yang menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Ketika sel T membunuh kontak dengan antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkannya dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi telah berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respon kekebalan dengan cara menghambat kegiatan sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh</strong></div><div><br></div><div>1) &nbsp; Kekebalan Aktif</div><div>Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami.</div><div><br></div><div>Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.</div><div><br></div><div>2) &nbsp; Kekebalan Pasif</div><div>Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami.</div><div><br></div><div>Sedangkan kekebalan pasif buatan diperoleh dengan menyuntikan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain melalui serum, walaupun kekebalan pasif ini berlangsung singkat tapi berguna untuk penyembuhan secara cepat.<br><br><br><br><strong>Cara Kerja Antibodi<br></strong><br></div><div>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.<br><br></div><div><strong>a. Penetralan<br></strong><br></div><div>Antibodi menetralkan&nbsp; racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<br><br></div><div><strong>b. Pengendapan (Presipitasi)<br></strong><br></div><div>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<br><br></div><div><strong>c. Pelekatan<br></strong><br></div><div>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><br></div><div><strong>d. Aktivasi Protein Komplemen<br></strong><br></div><div>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.<br><br></div><div><br><br><br><br></div><div><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://immune0system.wordpress.com/2010/04/29/sistematika-kerja-antibodi/" />
         <pubDate>2018-03-26 07:51:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245969820</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Khodijah &amp; Fauziah Fakhirah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245970720</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><em>Sistem pertahanan (kekebalan) tubuh manusia</em></strong><strong><br>Sistem kekebalan</strong> atau <strong>imunitas</strong> adalah suatu sistem pertahanan yang digunakan untuk melindungi tubuh dari infeksi penyakit atau kuman. Penyakit atau kuman ini berupa protein asing yang berbeda dari protein tubuh kita, dan sering disebut <strong>antigen</strong>. Karena dianggap sesuatu yang asing, maka antigen ini harus disingkirkan, dinetralisir, atau dihancurkan. Yang bertugas melakukan ini salah satunya adalah sistem pertahanan tubuh yang dikenal dengan <strong>antibodi<br><br>MACAM - MACAM SISTEM PERTAHAN TUBUH<br><br></strong>Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua, yaitu <em>pertahanan tubuh nonspesifik</em> dan <em>pertahanan tubuh spesifik</em>. Saat akan menginfeksi tubuh, mikrobia penyebab penyakit dan benda asing&nbsp; harus melalui sistem pertahanan tubuh nonspesifik terlebih dahulu. Jika sistem pertahanan tubuh nonspesifik tidak mampu menghancurkannya, zat penginfeksi tersebut akan menghadapi sistem pertahanan tubuh spesifik<br><br><strong><em>(1) Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</em></strong>&nbsp;</div><div>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik merupakan pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroba patogen satu dengan yang lainnya. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik melibatkan beberapa jaringan tubuh dalam melawan patogen. Mekanisme sistem pertahanan tubuh nonspesifik diperoleh melalui beberapa cara berikut.</div><div><br></div><div>Pertahanan yang terdapat di permukaan tubuh</div><div>Pertahanan yang terdapat di permukaan tubuh berupa pertahanan fisik, pertahanan mekanis, pertahanan kimiawi, dan pertahanan biologis.</div><div><br><strong>Pertahanan Fisik</strong></div><div>Pertahanan tubuh secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yang berfungsi menghalangi masuknya patogen ke dalam tubuh. Pertahanan ini dilakukan oleh kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit terdiri atas sel-sel epitel yang tersusun rapatsehingga patogen sulit menembusnya. Lapisan terluar kulit mengandung keratin dan sedikit air sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran kelamin juga dilapisi oleh membran mukosa yang berfungsi menghalangi masuknya patogen.<br><br><strong>Pertahanan Mekanis</strong><br>Pertahanan tubuh secara mekanis dilakukan oleh rambut hidung dan silia pada trakea. Rambut hidung berfungsi menyaring udara yang dihirup dari partikel-partikel berbahaya maupun mikrobia. Adapun silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir agar dapat dikeluarkan dari tubuh.<br><strong><br>Pertahanan Kimiawi</strong><br>Pertahanan tubuh secara kimiawi dilakukan oleh sekret yang dihasilkan kulit dan membran mukosa. Sekret tersebut mengandung zat-zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia, contohnya minyak dan keringat. Kedua sekret tersebut memberikan suasana asam (pH 3-5) sehingga mencegah pertumbuhan mikroorganisme di kulit. Adapun air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa (mukus) mengandung enzim lisozim yang dapat membunuh bakteri. Enzim tersebut menghidolisis dinding sel bakteri sehingga pecah dan mati. <br><br><strong>Pertahanan Biologi</strong> <br>Pertahanan tubuh secara biologi dilakukan oleh populasi bakteri tidak berbahaya yang hidup di kulit dan membran mukosa. Bakteri-bakteri tersebut melindungi tubuh dengan cara berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi. <br><br><strong><em>Respon peradangan (inflamasi)</em></strong><br>Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap kerusakan jaringan, misal akibat tergores atau benturan keras. Proses inflamasi merupakan kumpulan dari empat gejala sekaligus yaitu <em>dolor </em>(nyeri), <em>rubor </em>(kemerahan), <em>calor </em>(panas), <em>tumor </em>(bengkak). <br><br>mekanisme pertahanan tubuh melalui inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.&nbsp; <strong><em>&nbsp;</em></strong>&nbsp;</div><ol><li>Jaringan mengalami luka. Adanya kerusakan jaringan mengakibatkan patogen mampu melewati pertahanan tubuh untuk menginfeksi sel-sel tubuh. Jaringan yang terinfeksi akan merangsang mastosit mengeluarkan histamin dan prostaglandin.</li><li>Terjadi pelebaran pembuluh darah (<em>vasodilatasi</em>) yang mengakibatkan peningkatan kecepatan aliran darah sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat. Daerah yang terinfeksi menjadi berwarna kemerahan, panas, bengkak, dan terasa nyeri. Peningkatan kecepatan aliran darah dan permeabilitas pembuluh darah mengakibatkan terjadinya perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil dan monosit) menuju jaringan yang terinfeksi.</li><li>Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen melalui proses fagositosis.</li></ol><div>Inflamasi bertugas mencegah infeksi menyebar ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan. Reaksi tersebut juga berfungsi sebagai sinyal adanya bahaya dan sebagai perintah agar sel darah putih (neutrofil dan monosit) melakukan fagositosis terhadap mikrobia yang menginfeksi tubuh.<br><br><strong><em>Fagositosis </em></strong><br>Fagositosis adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan sel-sel fagosit dengan jalan mencerna mikrobia/partikel asing. Sel fagosit terdiri atas dua jenis, yaitu fagosit mononuklear dan polimorfonuklear. Contoh fagosit mononuklear adalah monosit (dalam darah) dan jika bermigrasi ke jaringan akan berperan sebagai makrofag. Contoh fagosit polimorfonuklear adalah granulosit, yaitu neutrofil, eusinofil, basofil, dan <em>cell mast</em> (mastosit). Sel-sel fagosit akan bekerja sama setelah memperoleh sinyal kimiawi dari jaringan yang terinfeksi patogen.<br><br></div><div>Setelah infeksi tertanggulangi, beberapa neutrofil akhirnya mati seiring dengan matinya jaringan dan sel bakteri. Nanah yang menumpuk di lokasi beberapa infeksi sebagian besar terdiri atas sel-sel fagositik mati dan cairan serta protein yang bocor dari kapiler darah selama respon peradangan.<br><br><strong><em>Sel Natural Killer (Sel NK)</em></strong><br>Pertahanan nonspesifik juga meliputi sel pembunuh alami (<em>natural killer, </em><strong>NK</strong>). Sel NK tidak menyerang mikroorganisme secara langsung, alih-alih mereka merusak sel tubuh yang diserang oleh virus dan juga sel-sel abnormal yang dapat membentuk tumor. Sel NK tidak bersifat fagositik, melainkan menyerang membran sel sehingga sel tersebut lisis (pecah).<br><br><br><strong><em>Protein Antimikroba</em></strong><br>Salah satu protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik yaitu protein komplemen. Protein komplemen membunuh bakteri penginfeksi dengan cara membentuk lubang pada dinding sel dan membran plasma bakteri tersebut. Hal ini mengakibatkan ion-ion Ca2+ keluar dari sel bakteri. Sementara itu, cairan dan garam-garam daro luar bakteri akan masuk ke sel bakteri. Masuknya cairan dan garam mengakibatkan sel bakteri hancur.<br><br>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik yaitu interferon. Interferon dihasilkan oleh sel-sel yang terinfeksi virus. Senyawa tersebut dihasilkan ketika virus memasuki tubuh tidak melalui pembuluh darah, melainkan melalui kulit dan selaput lendir. Selanjutnya interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi. Sel-sel yang telah berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi virus. Dengan demikian, serangan virus dapat dicegah.&nbsp;<br><br></div><div><strong><em>(2) Sitem Pertahanan Tubuh Spesifik</em></strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh spesifik merupakan pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke tubuh. Sistem ini bekerja apabila patogen telah berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik disebut juga dengan sistem kekebalan tubuh atau sistem imun. Sistem kekebalan tubuh terbentuk karena adanya peran antigen dan antibodi. Pertahanan tubuh secara spesifik dilakukan oleh <em>antibodi</em> yang dibentuk oleh <em>limfosit</em> karena adanya <em>antigen</em> yang masuk ke tubuh.&nbsp;</div><div><br></div><div>LIMFOSIT</div><div>Limfosit terdiri atas dua tipe, yaitu limfosit B (sel B) dan limfosit T (sel T).</div><div><br></div><div>Sel B</div><div><br></div><div>"B" sebenarnya berasal dari kata <em>Bursa Fabrisius</em>, yaitu sebuah organ unik bagi unggas tempat sel B unggas mengalami pematangan dan tempat dimana limfosit B pertama kali ditemukan. Akan tetapi karena sel B semua vertebrata lain berkembang dalam sumsum tulang (<em>bone marrow</em>), "B" bisa diartikan "<em>bone</em>" maupun <em>"bursa".</em><strong><em>&nbsp;</em></strong></div><div><br></div><div>Sel B berperan dalam pembentukan kekebalan humoral dengan membentuk antibodi. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis berikut.<strong><em>&nbsp;</em></strong></div><ol><li>Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat (memori).</li><li>Sel B plasma, berfungsi membentuk antibodi.</li><li>Sel B pengingat (memori), berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke tubuh serta menstimulasi pembentukan sel B plasma jika terjadi infeksi kedua.</li></ol><div>Sel T</div><div>"T" berasal dari kata timus, yaitu suatu kelenjar dalam rongga dada di atas jantung yang berperan dalam pematangan limfosit T setelah diproduksi di sumsum tulang.&nbsp;</div><div>Sel T berperan dalam pembentukan kekebalan seluler yaitu dengan cara menyerang sel penghasil antigen secara langsung. Sel T juga ikut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma. Sel T dapat dibedakan menjadi tiga jenis berikut.</div><ol><li>Sel T sitotoksik, berfungsi menyerang patogen yang masuk ke tubuh, sel tubuh yang terinfeksi, serta sel kanker secara langsung.</li><li>Sel T <em>helper</em>, berfungsi menstimulasi pembentukan jenis sel T lainnya dan sel B plasma serta mengaktivasi makrofag untuk melakukan fagositosis.</li><li>Sel T supresor, berfungsi menurunkan dan menghentikan respon imun dengan cara menurunkan produksi antibodi dan mengurangi aktivitas sel T sitotoksik. Sel T supresor akan bekerja setelah infeksi berhasil ditangani.</li></ol><div><br>ANTIBODI/IMMUNOGLOBULIN/Ig</div><div>Antibodi akan dibentuk oleh tubuh ketika ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Antigen merupakan senyawa protein yang terdapat pada patogen sel asing atau sel kanker. Antibodi disebut juga immunoglobulin atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk melindungi tubuh melalui proses kekebalan (<em>immune</em>). Antibodi merupakan senyawa protein yang berfungsi melindungi tubuh dengan cara mengikat antigen tersebut. Selanjutnya sel asing yang antigennya telah diikat oleh antibodi akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Suatu antibodi bekerja spesifik untuk antigen tertentu.&nbsp;<br><br>Antibodi tersusun dari dua macam rantai polipeptida yang identik, yaitu dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi tersebut dihubungkan satu sama lain oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya seperti huruf Y. Setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen.&nbsp;</div><div><br>Berdasarkan cara mendapatkan imun atau kekebalan, dikenal dua macam kekebalan, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif.<br><br>Kekebalan aktif terjadi jika seseorang kebal terhadap suatu penyakit setelah diberikan vaksinasi dengan suatu bibit penyakit. Jika kekebalan itu diperoleh setelah orang sakit karena infeksi kuman penyakit, maka disebut kekebalan aktif alami. <br><br>Kekebalan pasif misalnya adalah bayi yang memperoleh kekebalan (antibodi) dari ibunya saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan pasif setelah bayi lahir misalnya dilakukan suntikan dengan serum yang mengandung antibodi, misalnya ATS (Anti Tetanus Serum). Selain itu, jenis kekebalan ini juga dapat diperoleh dari pemberian air susu pertama (kolostrum) yang mengandung banyak antibodi.<br><br>Berikut ini,&nbsp; <strong>lima</strong> <strong>jenis Antibodi dalam tubuh</strong> yaitu&nbsp; IgA, IgE, IgD, IgG, dan IgM,<br><br><strong>1. Immunoglobulin A (IgA)</strong><br><br>Terdapat pada beberapa bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata,<a href="http://www.jendelacito.info/2014/09/kriteria-gawat-darurat-paru-paru-yang-ditanggung-bpjs.html"> paru-paru</a>, dan usus. <strong>Immunoglobulin A (IgA)</strong> juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.<br><br><strong>Jenis antibodi</strong> ini juga melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi yang baru lahir.<br><br><strong>2. Immunoglobulin D (IgD)</strong><br><br><strong>Jenis antibodi </strong>Immunoglobulin D atau IgD merupakan antibodi yang jumlahnya yang sangat sedikit terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.<br><br><strong>3. Immunoglobulin E (IgE)</strong><br><br>Immunglobulin E atau IgE merupakan <strong>jenis antibodi dalam tubuh</strong> yang beredar dalam aliran darah dan terlibat dalam mempertahankan tubuh terhadap parasit dan alergen. Jenis antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi <a href="http://www.jendelacito.info/2014/01/9-macam-alergi-yang-unik.html">alergi</a> akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi biasanya memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit,<br><br><strong>4. Immunoglobulin G (IgG)</strong><br><br><strong>Jenis antibodi</strong> IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.<br><br><strong>Jenis antibodi dalam tubuh</strong> ini memiliki efek kuat sebagai antibakteri maupun <a href="http://www.jendelacito.info/2014/08/5-virus-yang-sama-mematikannya-dengan-virus-ebola.html">virus</a>, serta menetralkan racun. IgG juga mampu menyelinap diantara sel-sel dan&nbsp; menyingkirkan mikroorganisme yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit.<br><br><strong>Jenis antibodi dalam tubuh</strong> IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi janin dari kemungkinannya infeksi yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya immunoglobulin dalam kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kali keluar), memberikan perlindungan kepada bayi terhadap <a href="http://www.jendelacito.info/2014/04/4-macam-media-penularan-penyakit-infeksi.html">infeksi</a> sampai sistem kekebalan bayi dapat menghasilkan antibodi sendiri.<br><br><strong>5. Immunoglobulin M (IgM)</strong><br><br>Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.<br><br><a href="http://www.jendelacito.info/2014/08/menebak-jenis-kelamin-janin-dari-gerakan-di-kandungan.html">Janin dalam kandungan </a>mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. <strong>Jenis antibodi</strong> IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.<br><br><strong>Cara Kerja Antibodi<br></strong><br></div><div>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.<br><br></div><div><strong>a. Penetralan<br></strong><br></div><div>Antibodi menetralkan&nbsp; racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<br><br></div><div><strong>b. Pengendapan (Presipitasi)<br></strong><br></div><div>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<br><br></div><div><strong>c. Pelekatan<br></strong><br></div><div>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><br></div><div><strong>d. Aktivasi Protein Komplemen<br></strong><br></div><div>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 07:56:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245970720</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA : ANDI ST MAWA &amp; INTAN NUR IKHFAYATI FIQRI                                            </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245986268</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div><br><strong>Imunitas – Sistem Imunitas – Respon Imunitas</strong><br>- Yaitu sistem pertahanan terhadap suatu penyakit atau serangan infeksi dari mikroorganisme/ substansi asing<br>- Yaitu gabungan dari sel/molekul/jaringanyang berperanan dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi<br>- Yaitu reaksi yang dipelihatkan oleh sel/molekul/bahan lainnya terhadap mikroba<br><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-jN0QNkU665s/VQLcdZ_tKxI/AAAAAAAAPCw/IKykoxv2yrE/s1600/respon-imunitas.png"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:580,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-jN0QNkU665s/VQLcdZ_tKxI/AAAAAAAAPCw/IKykoxv2yrE/s1600/respon-imunitas.png&quot;,&quot;width&quot;:1093}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-jN0QNkU665s/VQLcdZ_tKxI/AAAAAAAAPCw/IKykoxv2yrE/s1600/respon-imunitas.png" width="1093" height="580"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br><strong>Fungsi Sistem Imunitas</strong><br>1.Melindungi tubuh dari bibit penyakit<br>2.Menghancurkan mikroorganisme/substansi asing dalam tubuh<br>3.Menghilangkan sel mati untuk perbaikan jaringan<br>4.Mengenali dan menghilangkan jaringan abnormal<br><br><strong>Organ Asal Sistem Imun</strong><br>1. Sumsum tulang<br>2. Kelenjar Thymus<br>3. Kelenjar limfe/getah bening<br>4. Mukosa jaringan limfoid terkait (MALT)<br><br><strong>Macam Sistem Imunitas</strong><br>1.Sistem imun non spesifik/alamiah (innate immune system)<br>2.Sistem imun spesifik (adaptive immune system)<br><br><strong>I. Sistem Imun Nonspesifik/alamiah</strong><br>- Yaitu sistem pertahanan yang sudah ada dalam tubuh<br>- Dapat mendeteksi benda asing yang masuk dan melindungi tubuh<br>- Tidak dapat mengenali benda asing yang masuk<br><br>Meliputi :<br>1. Reaksi inflamasi<br>2. Protein antivirus/interferon<br>3. Sel Natural Killer (NK)<br>4. Sistem komplemen<br><br><strong>Lapisan dalam Imunitas Tubuh</strong><br>1. Lapisan pertama/physcal barrier : kulit, membran mukosa, kelenjar keringat, sebum, kelenjar air mata, silia, asam lambung, kelenjar ludah<br>2. Lapisan kedua : sel leukosit fagositik, protein antimikroba dan respon inflamasi<br>3. Lapisan ketiga : sel limfosit dan antibodi<br><br><strong>II. Sistem Imun Spesifik/Adaptive</strong><br>- Yaitu sistem pertahanan yang mempunyai kemampuan untuk mengenali benda asing yang masuk<br>- Karakteristik : kemampuan merespon berbagai antigen, membedakan antigen asing dengan antigen diri, merespon antigen yang ditemukan sebelumnya dengan memulai respon memori<br>- Sistem imun akan terbentuk jika ada benda asing<br>- Yang berperanan : sel limfosit<br><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br><strong>Cara dalam Sistem Imun Spesifik</strong><br>1.Imunitas Humoral/humoral immunity<br>- Diperankan oleh sel limfosit B<br>- Dilaksanakan oleh antobodi atau immunoglobulin (Ig),merupakan hasil sekresi sel plasma dan antitoksin</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>- Menahan serangan mikroba maupun toksinnya<br><br><strong>Macam Immunoglobulin (Ig)</strong><br>1. Immunoglobulin A/IgA : untuk mencegah masuknya bakteri/virus melalui ajringan epithel (air liur, air mata,kolustrum &amp; susu)<br>2. Immunoglobulin D/IgD : untuk memicu deferensiasi jaringan limfosit B menjadi sel plasma dan limfosit B memori<br>3. Immunoglobulin E/IgE : untuk merespon reaksi alergi. Hanya ditemukan pada mammalia, dapat merespon cacing parasit<br>4. Immunoglobulin G/IgG : untuk menembus placenta membawa kekebalan dari ibu ke janin yaitu pada masa 20 minggu pertama<br>5. Immunoglobulin M/IgM : merupakan antibodi pertama yang menyerang antigen<br><br><strong>Mekanisme pembuangan antigen</strong><br>1. Netralisasi : dengan menetralkan antigen<br>2. Aglutinasi : dengan penggumpalan<br>3. Presipitasi : dengan pengendapan<br>4. Fiksasi komplemen/lisis : dengan lisis/penghancuran antigen<br><br><strong>Cara dalam Sistem Imun Spesifik</strong><br>1. Imunitas Seluler/Cellular Immunity<br>- Perantara oleh sel leukosit<br>- Diperankan oleh sel limfosit T<br>- Caranya dengan fagositosis<br><br>2.Immunologi<br>- Perantara sel memori (pada sel limfosit)<br>- Diperoleh setelah sembuh dari sakit<br><br><strong>Macam Sel Limfosit</strong><br>1. Limfosit B, terdiferensiasi menjadi :<br>a. Sel limfosit B memori : menyimpan mengingat antigen yang pernahmasuk ke dalam tubuh<br>b. Sel limfosit plasma : sel pembentuk antibodi<br>c. Sel limfosit B pembelah : menghasilkan sel limfosit B dalam jumlah banyak dan cepat<br><br>2. Limfosit T, terdiferensiasi menjadi :<br>a. Sel limfosit T sitotoksik/Killer T cells : menyerang sel tubuh yang terinfeksi patogen<br>b. Sel limfosit T penolong/Helper T Cells : mengatur sistem imun dan mengontrol kualitas sistem imun<br>c. Sel limfosit T supresor/Supressor T Cells : mengurangi respon imun jika infeksi berhasil diatasi.<a href="http://1.bp.blogspot.com/-gvhunjPys28/VQLc8nk0JNI/AAAAAAAAPC4/t_J3gQ8QVOM/s1600/macam-sel-limfosit.png"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:412,&quot;url&quot;:&quot;http://1.bp.blogspot.com/-gvhunjPys28/VQLc8nk0JNI/AAAAAAAAPC4/t_J3gQ8QVOM/s1600/macam-sel-limfosit.png&quot;,&quot;width&quot;:747}" data-trix-content-type="image"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-gvhunjPys28/VQLc8nk0JNI/AAAAAAAAPC4/t_J3gQ8QVOM/s1600/macam-sel-limfosit.png" width="747" height="412"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><br><strong>Jenis – jenis Sistem Imun</strong><br>1.Aktif<br>- Dibentuk oleh tubuh karena adanya infeksi antigen<br>- Macamnya<br>a. Alami : bila terserang antigen<br>b. Buatan : bila memasukkan antigen yang dilemahkan<br><br>2. Pasif<br>- Diperoleh dari luar tubuh<br>- Macamnya<br>a. Alami : bila bayi mendapatkan imunitas dari ibunya<br>b. Buatan : bila menyuntikan serum, antibisa, immunoglobin lainnya dari darah orang yang telah kebal. Hanya bertahan beberapa minggu<br><br><strong>Tahapan Respon Sistem Imun</strong><br>1. Deteksi dan mengenali benda asing<br>2. Komunikasi dengan sel lain untuk merespon<br>3. Rekruitmen bantuan dan koordinasi respon<br>4. Destruksi atau supresi penginvasi<br><br><strong>Disfungsi Sistem Imunitas..</strong><br>1. Hipersensitivitas : respon imun berlebihan terhadap antigen/alergen<br>2. Autoimun : hilangnya toleransi terhadap sistem imun diri sendiri. Misalnya diabetes melitus (menyerang sel beta pad <a href="http://www.pintarbiologi.com/2015/02/sistem-endokrin-pada-manusia.html">pankreas</a>), Addison disease (menyerang kelenjar adrenalin), lupus eritemateus (menganggap jaringan sebagai antigen), myasthenia gravis (menyerang sel otot lurik)<br>3. Defisiensi imun: berkurangnya respon sistem imun. Penyebabnya : obesitas, pengguna alkohol, narkoba, kekurangan nutrisi<br>4. Defisiensi imun dapatan : chronic granulomatous disease yaitu kemampuan fagosit berkurang. Akibat dari penyakit AIDS atau beberapa tipe kanker</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 09:03:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/245986268</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246002090</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>SISTEM PERTAHANAN TUBUH PADA MANUSIA<br><strong>A.Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh</strong>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik. Beberapa lapisan pertahanan tubuh dijelaskan dalam tabel berikut.<em>Tabel lapisan pertahanan tubuh mulai dari permukaan kulit</em><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</strong>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme patogen yang satu dengan yang lainnya, sistem ini merupakan sistem pertahanan pertama terhadap infeksi akibat masuknya mikroorganisme patogen atau benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.<strong>a.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal(Permukaan Tubuh)</strong>1) &nbsp; Pertahanan secara fisikPertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat sehingga menyulitkan bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh.2) &nbsp; Pertahanan secara mekanikPertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia, rambut hidung bertugas menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya maupun dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan, sedangkan silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.3) &nbsp; Pertahanan secara biologisPertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit dan membran mukosa, bakteri-bakteri tersebut berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi sehingga perkembangan bakteri patogen terhambat.4) &nbsp; Pertahanan secara kimiaPertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang dapat membunuh bakteri, enzim lizosim dapat menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.<strong>b.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal</strong>1) &nbsp; InflamasiInflamasi adalah respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras. Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin. Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi, selanjutnya neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah menjadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis. Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya. Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.Selain neutrofil dan monosit terdapat juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih). Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas namun memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang dapat menembus pertahanan cacing parasit.Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.<a href="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s650/Capture+F567.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:109,&quot;url&quot;:&quot;http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG" width="280" height="109"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Proses pertahanan tubuh melalui inflamasi</em>Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.1. &nbsp; Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.2. &nbsp; Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)3. &nbsp; Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.1) &nbsp; Protein AntimikrobiaTerdapat protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu protein komplemen yang terdiri dari sekitar 20 jenis protein. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, dapat memicu gelombang reaksi yang mengaktifkan gelombang komplemen yang lain.Protein komplemen dapat membunuh bakteri penginfeksi dengan cara melubangi dinding dan membran plasma bakteri tersebut, hal ini menyebabkan ion Ca<sup>2+</sup> keluar dari bakteri sedangkan cairan dan garam-garam diluar bakteri masuk ke dalam bakteri dan membunuh bakteri tersebut.<a href="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:602,&quot;url&quot;:&quot;http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg&quot;,&quot;width&quot;:470}" data-trix-content-type="image"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg" width="470" height="602"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Cara kerja protein komplemen dalam menghancurkan bakteri</em>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu interferon yang dihasilkan dari sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Interferon dihasilkan ketika virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi dan sel-sel yang berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi.2) &nbsp; Respon tubuh terhadap Pertahanan Tubuh NonspesifikAkibat infeksi patogen tubuh merespon dengan terjadinya peradangan (inflamasi) dan demam. Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, atau gangguan fisik seperti benturan atau panas, inflamasi menimbulkan rasa sakit, panas, bengkak, serta kulit yang memerah.Respon tubuh yang lain adalah demam dimana ditandai dengan suhu tubuh yang naik. Mikroorganisme patogen, substansi asing, serta sel-sel tubuh yang mati menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen yang merangsang monosit dan makrofag mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang bagian otak hipotalamus menaikan suhu tubuh sehingga timbul perasaan suhu tubuh yang meningkat.Suhu tubuh yang tinggi mengguntungkan karena patogen akan lemah dan mati pada suhu tinggi, selain itu metabolisme, reaksi kimia, serta sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan walaupun menimbulkan efek seperti pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh.<strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik</strong>Sistem pertahanan tubuh spesifik juga dikenal dengan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh, jika patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik maka selanjutnya harus berhadapan dengan pertahanan tubuh spesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh.<strong>a.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Struktur Sistem Kekebalan Tubuh.</strong>Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi.<strong>1)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Limfosit</strong>Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B(sel B) dan limfosit T(sel T). Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun jika diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.a) &nbsp; Sel BLimfosit B terbentuk dan dimatangkan di dalam sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah menuju jaringan limfatik. Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:(1) Sel B plasma, berfungsi untuk memproduksi antibodi.(2) Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma jika terjadi infeksi kedua.(3) Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak serta cepat.b) &nbsp; Sel TLimfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut, sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung, sel T juga turut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :(1) Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.(2) Sel T pembantu (sel T penolong) berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya serta sel B plasma, serta mengaktifkan dapat mengaktifkan makrofag untuk melakukan fagositosis.(3) Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.<strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Antibodi</strong>a) &nbsp; Pengertian dan Fungsi AntibodiPada setiap mikroorganisme serta substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya terdapat senyawa protein yang berperan sebagai antigen, antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme serta substansi asing tersebut.Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh untuk membentuk antibodi, antibodi adalah senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Antibodi bekerja secara spesifik untuk suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar hanya cocok untuk antibodi cacar.b) &nbsp; Struktur AntibodiPada antibodi setiap molekul tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.c) &nbsp; Pengelompokan AntibodiTerdapat lima jenis antibodi yang dimiliki manusia yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Berikut penjelasannya.1. &nbsp; IgG (Immunoglobulin Gamma), adalah kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin serta disekresikan dalam kolostrum.2. &nbsp; IgM (Immunoglubulin-M) adalah jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama, IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.3. &nbsp; IgA (Immunoglobulin-A), antibodi jenis ini dapat mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.4. &nbsp; IgE (Immunoglobulin-E) merupakan antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan hanya sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.5. &nbsp; IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini tidak dapat mengaktikan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.<strong>b.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Respon Kekebalan Tubuh terhadap Antigen</strong>Respon kekebalan tubuh terhadap antigen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kekebalan tubuh humoral dan kekebalan tubuh seluler.1) &nbsp; Kekebalan HumoralImunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dengan antibodi yang berada dalam plasma darah dan cairan limfa dalam bentuk protein. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat, sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesifik terhadap antigen tertentu.Antigen yang terikat akan mempermudah makrofag untuk lebih mudah menangkap dan menghancurkan patogen tersebut. Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :1. &nbsp; Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.2. &nbsp; Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.3. &nbsp; Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.4. &nbsp; Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.<a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s650/Capture+394W.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:191,&quot;url&quot;:&quot;http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG" width="280" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure> </a><em>Grafik respon kekebalan primer dan sekunder</em>2) &nbsp; Kekebalan SelularKekebalan selular diprakarsai sel T yang menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Ketika sel T membunuh kontak dengan antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkannya dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi telah berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respon kekebalan dengan cara menghambat kegiatan sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.<strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh</strong>1) &nbsp; Kekebalan AktifKekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami.Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.2) &nbsp; Kekebalan PasifKekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami.Sedangkan kekebalan pasif buatan diperoleh dengan menyuntikan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain melalui serum, walaupun kekebalan pasif ini berlangsung singkat tapi berguna untuk penyembuhan secara cepat.<strong>B.</strong>&nbsp; <strong>Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh</strong>Gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti sistem kekebalan tubuh dapat tidak berfungsi jika sistem ini bereaksi dengan molekul asing yang berlebihan. Beberapa contoh gangguan pada sistem kekebalan tubuh antara lain Alergi, autoimunitas dan AIDS.<strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Alergi</strong>Alergi adalah respon imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Reaksi alergi disebut juga dengan anaphylaxis. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi adalah Alergen yang dapat berupa serbuk, debu, bulu hewan, gigitan serangga, serta jenis makanan tertentu.Alergi diawali dengan proses masuknya alergen ke dalam tubuh yang merangsang sel-sel B plasma untuk mensekresikan antibodi yang biasanya dari kelas IgE. Pada awalnya alergen yang masuk ke tubuh tidak akan menimbulkan alergi tapi pada awal alergen yang masuk akan berikatan dengan mastosit. Hal ini menyebabkan ketika alergen untuk kedua kalinya masuk ke dalam tubuh akan terikat pada antibodi IgE yang telah berikatan dengan mastosit, keadaan inilah yang menyebabkan mastosit melepaskan histamin yang memperbesar dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah (inflamasi). Inflamasi menyebabkan timbulnya berbagai gejala alergi seperti bersin, gatal-gatal, pusing, dan kesulitan bernapas.<strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Autoimunitas</strong>Autoimunitas adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk menyerang sel-sel tubuh sendiri seolah-olah bukan merupakan bagian dari tubuh. Autoimunitas seringkali disebabkan gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus atau karena infeksi virus yang terjadi sebelum lahir yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibat autoimunitas banyak dijumpai kelainan-kelainan atau keabnormalan yang dapat dijumpai antara lain :a. &nbsp; Diabetes Mellitus, yaitu tipe I (<em>insulin-dependent diabetes mellitus), </em>dimana antibodi menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi hormon insulin sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi.b. &nbsp; Addison’disease, penyakit ini bisa disebabkan oleh infeksi pada kelenjar adrenalin namun juga bisa disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel hormon yang menghasilkan adrenalin. Akibat yang ditimbulkannya adalah mudah merasa lelah, kehilangan berat badan, rasa perasaan yang tertekan, kadar gula darah rendah dan pigmentasi kulit yang meningkat.c.&nbsp; &nbsp; Mysthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini menyebabkan dergradasi otot dan berkurangnya kemampuan otot menangkap asetilkolin (zat yang dilepaskan saraf untuk memicu kontraksi otot), misalnya terjadi pada mata dimana posisi mata menjadi tidak simetris.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s330/Capture+%25282%2529.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:128,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s200/Capture+%25282%2529.JPG&quot;,&quot;width&quot;:200}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s200/Capture+%25282%2529.JPG" width="200" height="128"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Penderita Mysthenia gravis yang menyebabkan posisi mata tidak simetris</em>d. &nbsp; Lupus erythematosus, yaitu keadaan dimana antibodi menyerang sel-sel tubuh yang lain sebagai sel asing dimana ketika kondisi tubuh melemah maka seranggan antibodi akan meningkat.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s340/Capture+NG.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:191,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s200/Capture+NG.JPG&quot;,&quot;width&quot;:200}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s200/Capture+NG.JPG" width="200" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><br><em>Ruam pada penderita Lupus erythematosus</em>e. &nbsp; Multiple sclerosis,yaitu keadaan dimana antibodi menyerang jaringan saraf dan di tulang belakang dimana bagian saraf yang diserang adalah seludang mielin sebagai bagian yang melapisi sel saraf dan berperan dalam penghantaran informasi,hal ini menimbulkan berbagai gejala seperti gangguan penglihatan, pusing, depresi dan lain-lain.<strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>AIDS</strong>AIDS (<em>acquired Immunodeficiency Syndrome) </em>adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (<em>Human Immunodeficiency Virus). </em>AIDS sendiri merupakan kumpulan dari berbagai penyakit.AIDS disebabkan virus HIV yang menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi sel T lainnya serta sel B plasma. Ketika virus berhasil menginfeksi sel T virus menggunakan perangkat selnya untuk menggandakan diri setelah itu menembus membran sel kemudian menginfeksi sel T yang lain. Hal ini menyebabkan kemampuan tubuh melawan kuman penyakit menjadi berkurang.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s680/virus-aids.jpg"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:134,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s280/virus-aids.jpg&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s280/virus-aids.jpg" width="280" height="134"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Gambar dan Struktur Virus HIV</em>Sel T pembantu menjadi target utama virus HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor, dimana infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4. Pada orang normal jumlah sel T dalam tubuh sekitar 1000 sel/mm<sup>3</sup> , hal ini berbeda dengan orang yang menderita AIDS dimana jumlah sel T nya hanya sekitar 200 sel/mm<sup>3</sup>.Virus HIV yang menyebabkan AIDS dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan banyak cara antara lain penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah dari penderita, serta hubungan seksual. Pada dasarnya penderita AIDS meninggal bukan karena virus HIV yang menyerangnya tapi karena melemahnya kekebalan tubuh maka beberapa penyakit bisa berakibat fatal bagi penderita AIDS, penyakit-penyakit itu seperti TBC, kanker darah, kanker, meningitis, harpes dan berbagai penyakit lainnya.<br><br><br><br><a href="https://plus.google.com/103368633983539603802">irawan mena </a>di <a href="http://biologitopibiru.blogspot.com/2013/04/bagian-11-sistem-pertahanan-tubuh-pada.html?m=1">04.42</a><a href="javascript:void(0);">Berbagi</a></div><div>Tidak ada komentar:<a href="javascript:void(0)">Posting Komentar</a></div><div><a href="http://biologitopibiru.blogspot.com/2013/04/bagian-1-pertumbuhan-dan-perkembangan.html?m=1">‹</a></div><div><a href="http://biologitopibiru.blogspot.com/2013/04/bagian-10-sistem-reproduksi-pada-manusia.html?m=1">›</a></div><div><a href="http://biologitopibiru.blogspot.com/?m=1">Beranda</a></div><div><a href="http://biologitopibiru.blogspot.com/2013/04/bagian-11-sistem-pertahanan-tubuh-pada.html?m=0">Lihat versi web</a></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Diberdayakan oleh <a href="https://www.blogger.com/">Blogger</a>.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 10:10:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246002090</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wahyu stiyaji &amp;Adimas Albar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246002384</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>SISTEM PERTAHANAN TUBUH PADA MANUSIA&nbsp; &nbsp;<br>A. <strong>Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh <br></strong>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik. Beberapa lapisan pertahanan tubuh dijelaskan dalam tabel berikut.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s750/Capture.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:102,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s280/Capture.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s280/Capture.JPG" width="280" height="102"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Tabel lapisan pertahanan tubuh mulai dari permukaan kulit<br></em><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</strong>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme patogen yang satu dengan yang lainnya, sistem ini merupakan sistem pertahanan pertama terhadap infeksi akibat masuknya mikroorganisme patogen atau benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.<strong>a.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal(Permukaan Tubuh)</strong>1) &nbsp; Pertahanan secara fisikPertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat sehingga menyulitkan bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh.2) &nbsp; Pertahanan secara mekanikPertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia, rambut hidung bertugas menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya maupun dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan, sedangkan silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.3) &nbsp; Pertahanan secara biologisPertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit dan membran mukosa, bakteri-bakteri tersebut berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi sehingga perkembangan bakteri patogen terhambat.4) &nbsp; Pertahanan secara kimiaPertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang dapat membunuh bakteri, enzim lizosim dapat menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.<strong>b.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal</strong>1) &nbsp; InflamasiInflamasi adalah respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras. Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin. Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi, selanjutnya neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah menjadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis. Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya. Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.Selain neutrofil dan monosit terdapat juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih). Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas namun memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang dapat menembus pertahanan cacing parasit.Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.<a href="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s650/Capture+F567.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:109,&quot;url&quot;:&quot;http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG" width="280" height="109"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Proses pertahanan tubuh melalui inflamasi</em>Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.1. &nbsp; Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.2. &nbsp; Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)3. &nbsp; Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.1) &nbsp; Protein AntimikrobiaTerdapat protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu protein komplemen yang terdiri dari sekitar 20 jenis protein. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, dapat memicu gelombang reaksi yang mengaktifkan gelombang komplemen yang lain.Protein komplemen dapat membunuh bakteri penginfeksi dengan cara melubangi dinding dan membran plasma bakteri tersebut, hal ini menyebabkan ion Ca<sup>2+</sup> keluar dari bakteri sedangkan cairan dan garam-garam diluar bakteri masuk ke dalam bakteri dan membunuh bakteri tersebut.<a href="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:602,&quot;url&quot;:&quot;http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg&quot;,&quot;width&quot;:470}" data-trix-content-type="image"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg" width="470" height="602"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Cara kerja protein komplemen dalam menghancurkan bakteri</em>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu interferon yang dihasilkan dari sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Interferon dihasilkan ketika virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi dan sel-sel yang berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi.2) &nbsp; Respon tubuh terhadap Pertahanan Tubuh NonspesifikAkibat infeksi patogen tubuh merespon dengan terjadinya peradangan (inflamasi) dan demam. Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, atau gangguan fisik seperti benturan atau panas, inflamasi menimbulkan rasa sakit, panas, bengkak, serta kulit yang memerah.Respon tubuh yang lain adalah demam dimana ditandai dengan suhu tubuh yang naik. Mikroorganisme patogen, substansi asing, serta sel-sel tubuh yang mati menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen yang merangsang monosit dan makrofag mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang bagian otak hipotalamus menaikan suhu tubuh sehingga timbul perasaan suhu tubuh yang meningkat.Suhu tubuh yang tinggi mengguntungkan karena patogen akan lemah dan mati pada suhu tinggi, selain itu metabolisme, reaksi kimia, serta sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan walaupun menimbulkan efek seperti pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh.<strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik</strong>Sistem pertahanan tubuh spesifik juga dikenal dengan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh, jika patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik maka selanjutnya harus berhadapan dengan pertahanan tubuh spesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh.<strong>a.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Struktur Sistem Kekebalan Tubuh.</strong>Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi.<strong>1)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Limfosit</strong>Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B(sel B) dan limfosit T(sel T). Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun jika diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.a) &nbsp; Sel BLimfosit B terbentuk dan dimatangkan di dalam sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah menuju jaringan limfatik. Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:(1) Sel B plasma, berfungsi untuk memproduksi antibodi.(2) Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma jika terjadi infeksi kedua.(3) Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak serta cepat.b) &nbsp; Sel TLimfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut, sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung, sel T juga turut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :(1) Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.(2) Sel T pembantu (sel T penolong) berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya serta sel B plasma, serta mengaktifkan dapat mengaktifkan makrofag untuk melakukan fagositosis.(3) Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.<strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Antibodi</strong>a) &nbsp; Pengertian dan Fungsi AntibodiPada setiap mikroorganisme serta substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya terdapat senyawa protein yang berperan sebagai antigen, antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme serta substansi asing tersebut.Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh untuk membentuk antibodi, antibodi adalah senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Antibodi bekerja secara spesifik untuk suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar hanya cocok untuk antibodi cacar.b) &nbsp; Struktur AntibodiPada antibodi setiap molekul tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.c) &nbsp; Pengelompokan AntibodiTerdapat lima jenis antibodi yang dimiliki manusia yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Berikut penjelasannya.1. &nbsp; IgG (Immunoglobulin Gamma), adalah kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin serta disekresikan dalam kolostrum.2. &nbsp; IgM (Immunoglubulin-M) adalah jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama, IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.3. &nbsp; IgA (Immunoglobulin-A), antibodi jenis ini dapat mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.4. &nbsp; IgE (Immunoglobulin-E) merupakan antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan hanya sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.5. &nbsp; IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini tidak dapat mengaktikan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.<strong>b.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Respon Kekebalan Tubuh terhadap Antigen</strong>Respon kekebalan tubuh terhadap antigen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kekebalan tubuh humoral dan kekebalan tubuh seluler.1) &nbsp; Kekebalan HumoralImunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dengan antibodi yang berada dalam plasma darah dan cairan limfa dalam bentuk protein. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat, sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesifik terhadap antigen tertentu.Antigen yang terikat akan mempermudah makrofag untuk lebih mudah menangkap dan menghancurkan patogen tersebut. Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :1. &nbsp; Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.2. &nbsp; Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.3. &nbsp; Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.4. &nbsp; Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.<a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s650/Capture+394W.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:191,&quot;url&quot;:&quot;http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG" width="280" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure> </a><em>Grafik respon kekebalan primer dan sekunder</em>2) &nbsp; Kekebalan SelularKekebalan selular diprakarsai sel T yang menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Ketika sel T membunuh kontak dengan antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkannya dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi telah berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respon kekebalan dengan cara menghambat kegiatan sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.<strong>2)</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh</strong>1) &nbsp; Kekebalan AktifKekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami.Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.2) &nbsp; Kekebalan PasifKekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami.Sedangkan kekebalan pasif buatan diperoleh dengan menyuntikan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain melalui serum, walaupun kekebalan pasif ini berlangsung singkat tapi berguna untuk penyembuhan secara cepat.<strong>B.</strong>&nbsp; <strong>Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh</strong>Gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti sistem kekebalan tubuh dapat tidak berfungsi jika sistem ini bereaksi dengan molekul asing yang berlebihan. Beberapa contoh gangguan pada sistem kekebalan tubuh antara lain Alergi, autoimunitas dan AIDS.<strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Alergi</strong>Alergi adalah respon imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Reaksi alergi disebut juga dengan anaphylaxis. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi adalah Alergen yang dapat berupa serbuk, debu, bulu hewan, gigitan serangga, serta jenis makanan tertentu.Alergi diawali dengan proses masuknya alergen ke dalam tubuh yang merangsang sel-sel B plasma untuk mensekresikan antibodi yang biasanya dari kelas IgE. Pada awalnya alergen yang masuk ke tubuh tidak akan menimbulkan alergi tapi pada awal alergen yang masuk akan berikatan dengan mastosit. Hal ini menyebabkan ketika alergen untuk kedua kalinya masuk ke dalam tubuh akan terikat pada antibodi IgE yang telah berikatan dengan mastosit, keadaan inilah yang menyebabkan mastosit melepaskan histamin yang memperbesar dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah (inflamasi). Inflamasi menyebabkan timbulnya berbagai gejala alergi seperti bersin, gatal-gatal, pusing, dan kesulitan bernapas.<strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>Autoimunitas</strong>Autoimunitas adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk menyerang sel-sel tubuh sendiri seolah-olah bukan merupakan bagian dari tubuh. Autoimunitas seringkali disebabkan gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus atau karena infeksi virus yang terjadi sebelum lahir yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibat autoimunitas banyak dijumpai kelainan-kelainan atau keabnormalan yang dapat dijumpai antara lain :a. &nbsp; Diabetes Mellitus, yaitu tipe I (<em>insulin-dependent diabetes mellitus), </em>dimana antibodi menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi hormon insulin sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi.b. &nbsp; Addison’disease, penyakit ini bisa disebabkan oleh infeksi pada kelenjar adrenalin namun juga bisa disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel hormon yang menghasilkan adrenalin. Akibat yang ditimbulkannya adalah mudah merasa lelah, kehilangan berat badan, rasa perasaan yang tertekan, kadar gula darah rendah dan pigmentasi kulit yang meningkat.c.&nbsp; &nbsp; Mysthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini menyebabkan dergradasi otot dan berkurangnya kemampuan otot menangkap asetilkolin (zat yang dilepaskan saraf untuk memicu kontraksi otot), misalnya terjadi pada mata dimana posisi mata menjadi tidak simetris.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s330/Capture+%25282%2529.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:128,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s200/Capture+%25282%2529.JPG&quot;,&quot;width&quot;:200}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s200/Capture+%25282%2529.JPG" width="200" height="128"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Penderita Mysthenia gravis yang menyebabkan posisi mata tidak simetris</em>d. &nbsp; Lupus erythematosus, yaitu keadaan dimana antibodi menyerang sel-sel tubuh yang lain sebagai sel asing dimana ketika kondisi tubuh melemah maka seranggan antibodi akan meningkat.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s340/Capture+NG.JPG"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:191,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s200/Capture+NG.JPG&quot;,&quot;width&quot;:200}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s200/Capture+NG.JPG" width="200" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><br><em>Ruam pada penderita Lupus erythematosus</em>e. &nbsp; Multiple sclerosis,yaitu keadaan dimana antibodi menyerang jaringan saraf dan di tulang belakang dimana bagian saraf yang diserang adalah seludang mielin sebagai bagian yang melapisi sel saraf dan berperan dalam penghantaran informasi,hal ini menimbulkan berbagai gejala seperti gangguan penglihatan, pusing, depresi dan lain-lain.<strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp;<strong>AIDS</strong>AIDS (<em>acquired Immunodeficiency Syndrome) </em>adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (<em>Human Immunodeficiency Virus). </em>AIDS sendiri merupakan kumpulan dari berbagai penyakit.AIDS disebabkan virus HIV yang menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi sel T lainnya serta sel B plasma. Ketika virus berhasil menginfeksi sel T virus menggunakan perangkat selnya untuk menggandakan diri setelah itu menembus membran sel kemudian menginfeksi sel T yang lain. Hal ini menyebabkan kemampuan tubuh melawan kuman penyakit menjadi berkurang.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s680/virus-aids.jpg"><figure class="attachment attachment--preview" data-trix-attachment="{&quot;contentType&quot;:&quot;image&quot;,&quot;height&quot;:134,&quot;url&quot;:&quot;http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s280/virus-aids.jpg&quot;,&quot;width&quot;:280}" data-trix-content-type="image"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s280/virus-aids.jpg" width="280" height="134"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Gambar dan Struktur Virus HIV</em>Sel T pembantu menjadi target utama virus HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor, dimana infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4. Pada orang normal jumlah sel T dalam tubuh sekitar 1000 sel/mm<sup>3</sup> , hal ini berbeda dengan orang yang menderita AIDS dimana jumlah sel T nya hanya sekitar 200 sel/mm<sup>3</sup>.Virus HIV yang menyebabkan AIDS dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan banyak cara antara lain penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah dari penderita, serta hubungan seksual. Pada dasarnya penderita AIDS meninggal bukan karena virus HIV yang menyerangnya tapi karena melemahnya kekebalan tubuh maka beberapa penyakit bisa berakibat fatal bagi penderita AIDS, penyakit-penyakit itu seperti TBC, kanker darah, kanker, meningitis, harpes dan berbagai penyakit lainnya.<br><br><br><br><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>&nbsp;</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 10:12:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246002384</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246110305</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 14:41:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246110305</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246148511</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 15:44:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246148511</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salsa Laurensa &amp; Tsana Septiara </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246178633</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>A. SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA <br></strong><br></div><div>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem yang bekerja sama dan berfungsi memerangi faktorasing yang berasal dari lingkungan atau dari dalam tubuh sendiri. Pengaruh dari luar dapat berupa virus, bakteri, paparan zat kimia, jamur, cacing, dan lain-lain. Adapun pengaruh dari dalam tubuh bisa berupa kankeryang terjadi akibat mutasi. Berdasarkan cara perolehannya, sistem pertahanan tubuh terbagi menjadi sistem pertahanan alami dan sistem pertahanan buatan<strong>.<br></strong><br></div><div> <br><strong>B.MACAM – MACAM SISTEM PERTAHANAN TUBUH: </strong></div><div><br>1. PERTAHANAN TUBUH SPESIFIK</div><div> </div><div>Antibodi adalah suatu Zat yang dibentuk oleh tubuh, yang berasal dari protein darah Jenis –  Jenis</div><div> gama-globulin dan berfungsi untuk melawan antigen (Zat asing /protein asing) yang masuk ke dalam tubuh. beberapa "enis antibodi yang bekerja dengan beberapa cara untuk melawan antigen antara lain: </div><div>•Opsonin adalah antibodi yang bekerja dengan merangsang leukosit untuk menyerangantigen atau kuman.</div><div>•Lisin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menghancurkan antigen atau lisis.</div><div>•Presipitin adalah antibodi yang bekerja dengan cara mengendapkan antigen atau presipitasi.</div><div>•Aglutinin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menggumpalkan antigen atau aglutinasi.</div><div> </div><div>Umumnya yang bertugas melawan para antigen adalah sel darah putih (leukosit). Berdasarkan ada atau tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menadi : </div><div> </div><div><strong>1.Leukosit Bergranula (Granulosit)</strong></div><div> -Neutrofil</div><div>-Eosinofil</div><div>-Basofil</div><div> </div><div><strong>2.Leukosit 0idak Bergranula (Agranulosit)</strong></div><div>-Limfosit</div><div>-Monosit</div><div> </div><div><strong>1. Neutrofil</strong></div><div> </div><div>-Plasma bersifat netral</div><div>-Inti sel ber"umlah banyak (polimorf) dengan bentuk bermacam – macam</div><div>-Neutrofil melawan antigen dengan cara memakannya (fagositosis)</div><div>-Memakan jaringan tubuh yang rusak atau mati</div><div> </div><div><strong>2.Eusinofit</strong></div><div> </div><div>-Plasma bersifat asam</div><div>-0ampak berwarna merah tua bila ditetesi eosin</div><div>-Jumlahnya meningkat bila tubuh terkena infeksi</div><div>-bersifat fagositosis</div><div> </div><div><strong>3. Basofil</strong></div><div>-Plasma bersifat basa</div><div>-Berwarna biru tua bila ditetesi larutan basa</div><div>-Bersifat fagositosis</div><div>-Mengandung anti koagulan (anti penggumpalan darah) yaitu heparin</div><div> </div><div><strong>4. Limfosit</strong></div><div>-Tidak dapat bergerak </div><div>-Inti sel hanya satu</div><div>-Ukurannya bervariasi</div><div>-Berfungsi untuk membentuk antibodi</div><div><strong> </strong></div><div><strong>5.Monosit</strong></div><div> </div><div>-Bergerak seperti amoeba</div><div>-Inti sel bulat atau bulat pan"ang</div><div>-Diproduksi pada jaringan limfe (getah bening)</div><div>-bersifat fagositosis</div><div> </div><div> Jenis – Jenis Antibodi : </div><div><strong> </strong></div><div><strong>1. Immunoglobulin A (IgA)</strong><br> Terdapat pada beberapa bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata,paru-paru, dan usus. <strong>Immunoglobulin A (IgA)</strong> juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.<br> <br> <strong>2. Immunoglobulin D (IgD)</strong><br> <strong>Jenis antibodi </strong>Immunoglobulin D atau IgD merupakan antibodi yang jumlahnya yang sangat sedikit terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.<br> <br> <strong>3. Immunoglobulin E (IgE)</strong><br>  Immunglobulin E atau IgE merupakan <strong>jenis antibodi dalam tubuh</strong> yang beredar dalam aliran darah dan terlibat dalam mempertahankan tubuh terhadap parasit dan alergen. Jenis antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi biasanya memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit,<br> <br> <strong>4. Immunoglobulin G (IgG)</strong><br>  <strong>Jenis antibodi</strong> IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.<br> <br> <strong>5. Immunoglobulin M (IgM)</strong><br> Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.</div><div> </div><div>Cara Kerja Antibodi : </div><div>·         Penetralan: atau yang disebut dengan netralisasi yaitu dengan menetralkan antigen</div><div>·         Pengendapan : atau yang disebut pretisipasi yaitu dengan pengendapan</div><div>·         Aktivitas protein komplemen : atau yang disebut fiksasi komplemen atau lisis yaitu dengan lisis atau dengan penghancuran antigen</div><div> </div><div>2. SISTEM PERTAHANAN TUBUH NONSPESIFIK</div><div>Yaitu system pertahanan tubuh yang sudah ada dalam tubuh dapat melindungi tubuh dan dapat mendeteksi benda asing yang masuk.</div><div> </div><div>-Imun Nonspesifik dipengaruhi 2 faktor yaitu: </div><div> </div><div>1. Eksternal terbagi menjadi 2 : </div><div>·         <strong>Membran mukosa</strong> adalah lapisan kulit dalam, yang tertutup pada epitelium, dan terlibat dalam proses absopsi dan proses sekres-</div><div> </div><div>-<strong><em>Fungsinya</em></strong> :</div><div>1. Melindungi,Melembabkan, dan melicinkan lapisan sehingga tidak menjadi kering.</div><div>2. Mendangkan kuman, debu, dan kotoran sehingga dapat dibuang oleh tubuh </div><div>3. Melicinkan lapisan sehingga mudah terjadi pertukaran udara </div><div>4. Membantu penyerapan zat-zat nutrisi</div><div> </div><div>·         <strong>Kulit  </strong>adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi seluruh tubuh manusia. Berat kulitdiperkirakan sekitar 7 % dari berat tubuh total. Pada permukaan luar kulit terdapat pori – pori (rongga) yang menjadi tempat keluarnya keringat</div><div> </div><div><strong><em>-Fungsinya :</em></strong></div><div>1. Sebagai Pelindung tubuh dari berbagai ancaman</div><div>2. Sebagai Indra Peraba</div><div>3. Sebagai Alat Eksres</div><div>4. Sebagai Pengatur Suhu Tubuh</div><div>5. Sebagai Penyimpan Lemak</div><div>6. Sebagai Tempat Pembuatan Vitamin D</div><div> </div><div>2. Internal terbagi menjadi 3 : </div><div> </div><div>·        Fagositosis </div><div>adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel-sel fagosit dengan jalan mikrobia/partikel asing. dan sel fagosit sendiri terdiri dari dua jenis sel, yakni fagosit mononuklaer dan polimorfonuklear</div><div>·        Respon Peradangan (Inflamasi)</div><div>Inflamasi adalah merupakan respon tubuh terhadap kerusakan jaringan, misalnya akibat terkena goresan atau benturan keras</div><div>·        Senyawa Antimikrobia</div><div>Zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan mikroba dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan. Mikroorganisme dapat menyebabkan bahaya karena kemampuan menginfeksi dan menimbulkan penyakit serta merusak bahan pangan. Ada banyak anti mikroba berdasarkan mikroba yang ingin diganggu pertumbuhannya. Diantaranya: </div><div>·         Anti Bakteri</div><div>·         Anti Jamur</div><div>·         Anti Kapang</div><div>·         Anti Khamir </div><div>-          Senyawa Mikroba dibagi menjadi : </div><div>1.Protein Komplemen</div><div>2.Interfeton</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 16:42:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246178633</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurlela &amp; Suryati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246211257</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>A.</strong>  <strong>Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh</strong></div><div><br></div><div>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div>Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik. Beberapa lapisan pertahanan tubuh dijelaskan dalam tabel berikut.</div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s750/Capture.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-SJwt-gsMACs/Uc2p5b-BKEI/AAAAAAAAASE/aroJuvraNqk/s280/Capture.JPG" width="280" height="102"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><em>Tabel lapisan pertahanan tubuh mulai dari permukaan kulit</em></div><div><br></div><div><strong>1.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme patogen yang satu dengan yang lainnya, sistem ini merupakan sistem pertahanan pertama terhadap infeksi akibat masuknya mikroorganisme patogen atau benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div><strong>a.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal(Permukaan Tubuh)</strong></div><div><br></div><div>1)   Pertahanan secara fisik</div><div>Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat sehingga menyulitkan bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div>2)   Pertahanan secara mekanik</div><div>Pertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia, rambut hidung bertugas menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya maupun dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan, sedangkan silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.</div><div><br></div><div>3)   Pertahanan secara biologis</div><div>Pertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit dan membran mukosa, bakteri-bakteri tersebut berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi sehingga perkembangan bakteri patogen terhambat.</div><div><br></div><div>4)   Pertahanan secara kimia</div><div>Pertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang dapat membunuh bakteri, enzim lizosim dapat menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.</div><div><br></div><div><strong>b.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal</strong></div><div><br></div><div>1)   Inflamasi</div><div>Inflamasi adalah respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras. Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin. Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.</div><div><br></div><div>Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.</div><div><br></div><div>Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi, selanjutnya neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.</div><div><br></div><div>Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.</div><div><br></div><div>Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah menjadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis. Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya. Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.</div><div><br></div><div>Selain neutrofil dan monosit terdapat juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih). Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas namun memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang dapat menembus pertahanan cacing parasit.</div><div><br></div><div>Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.</div><div><a href="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s650/Capture+F567.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s280/Capture+F567.JPG" width="280" height="109"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><em>Proses pertahanan tubuh melalui inflamasi</em></div><div><br></div><div>Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.</div><div>1.   Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.</div><div>2.   Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)</div><div>3.   Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.</div><div>Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.</div><div><br></div><div>1)   Protein Antimikrobia</div><div>Terdapat protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu protein komplemen yang terdiri dari sekitar 20 jenis protein. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, dapat memicu gelombang reaksi yang mengaktifkan gelombang komplemen yang lain.</div><div><br></div><div>Protein komplemen dapat membunuh bakteri penginfeksi dengan cara melubangi dinding dan membran plasma bakteri tersebut, hal ini menyebabkan ion Ca<sup>2+</sup> keluar dari bakteri sedangkan cairan dan garam-garam diluar bakteri masuk ke dalam bakteri dan membunuh bakteri tersebut.</div><div><a href="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg" width="470" height="602"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><em>Cara kerja protein komplemen dalam menghancurkan bakteri</em></div><div><br></div><div>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu interferon yang dihasilkan dari sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Interferon dihasilkan ketika virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi dan sel-sel yang berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi.</div><div><br></div><div>2)   Respon tubuh terhadap Pertahanan Tubuh Nonspesifik</div><div>Akibat infeksi patogen tubuh merespon dengan terjadinya peradangan (inflamasi) dan demam. Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, atau gangguan fisik seperti benturan atau panas, inflamasi menimbulkan rasa sakit, panas, bengkak, serta kulit yang memerah.</div><div><br></div><div>Respon tubuh yang lain adalah demam dimana ditandai dengan suhu tubuh yang naik. Mikroorganisme patogen, substansi asing, serta sel-sel tubuh yang mati menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen yang merangsang monosit dan makrofag mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang bagian otak hipotalamus menaikan suhu tubuh sehingga timbul perasaan suhu tubuh yang meningkat.</div><div><br></div><div>Suhu tubuh yang tinggi mengguntungkan karena patogen akan lemah dan mati pada suhu tinggi, selain itu metabolisme, reaksi kimia, serta sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan walaupun menimbulkan efek seperti pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh.</div><div><br></div><div><br></div><div><strong>2.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh spesifik juga dikenal dengan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh, jika patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik maka selanjutnya harus berhadapan dengan pertahanan tubuh spesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div><strong>a.</strong>   <strong>Struktur Sistem Kekebalan Tubuh.</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi.</div><div><br></div><div><strong>1)</strong>   <strong>Limfosit</strong></div><div>Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B(sel B) dan limfosit T(sel T). Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun jika diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.</div><div><br></div><div>a)   Sel B</div><div>Limfosit B terbentuk dan dimatangkan di dalam sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah menuju jaringan limfatik. Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:</div><div>(1) Sel B plasma, berfungsi untuk memproduksi antibodi.</div><div>(2) Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma jika terjadi infeksi kedua.</div><div>(3) Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak serta cepat.</div><div><br></div><div>b)   Sel T</div><div>Limfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut, sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung, sel T juga turut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :</div><div>(1) Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.</div><div>(2) Sel T pembantu (sel T penolong) berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya serta sel B plasma, serta mengaktifkan dapat mengaktifkan makrofag untuk melakukan fagositosis.</div><div>(3) Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>   <strong>Antibodi</strong></div><div>a)   Pengertian dan Fungsi Antibodi</div><div>Pada setiap mikroorganisme serta substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya terdapat senyawa protein yang berperan sebagai antigen, antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme serta substansi asing tersebut.</div><div><br></div><div>Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh untuk membentuk antibodi, antibodi adalah senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Antibodi bekerja secara spesifik untuk suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar hanya cocok untuk antibodi cacar.</div><div><br></div><div>b)   Struktur Antibodi</div><div>Pada antibodi setiap molekul tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.</div><div><br></div><div>Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.</div><div><br></div><div>c)   Pengelompokan Antibodi</div><div>Terdapat lima jenis antibodi yang dimiliki manusia yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Berikut penjelasannya.</div><div>1.   IgG (Immunoglobulin Gamma), adalah kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin serta disekresikan dalam kolostrum.</div><div>2.   IgM (Immunoglubulin-M) adalah jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama, IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.</div><div>3.   IgA (Immunoglobulin-A), antibodi jenis ini dapat mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.</div><div>4.   IgE (Immunoglobulin-E) merupakan antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan hanya sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.</div><div>5.   IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini tidak dapat mengaktikan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.</div><div><br></div><div><strong>b.</strong>   <strong>Respon Kekebalan Tubuh terhadap Antigen</strong></div><div>Respon kekebalan tubuh terhadap antigen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kekebalan tubuh humoral dan kekebalan tubuh seluler.</div><div><br></div><div>1)   Kekebalan Humoral</div><div>Imunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dengan antibodi yang berada dalam plasma darah dan cairan limfa dalam bentuk protein. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat, sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesifik terhadap antigen tertentu.</div><div><br></div><div>Antigen yang terikat akan mempermudah makrofag untuk lebih mudah menangkap dan menghancurkan patogen tersebut. Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :</div><div>1.   Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.</div><div>2.   Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.</div><div>3.   Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.</div><div>4.   Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.</div><div><br></div><div>Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.</div><div><br></div><div>Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.</div><div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s650/Capture+394W.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s280/Capture+394W.JPG" width="280" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure> </a></div><div> </div><div><em>Grafik respon kekebalan primer dan sekunder</em></div><div><br></div><div>2)   Kekebalan Selular</div><div>Kekebalan selular diprakarsai sel T yang menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Ketika sel T membunuh kontak dengan antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkannya dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi telah berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respon kekebalan dengan cara menghambat kegiatan sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>   <strong>Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh</strong></div><div><br></div><div>1)   Kekebalan Aktif</div><div>Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami.</div><div><br></div><div>Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.</div><div><br></div><div>2)   Kekebalan Pasif</div><div>Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami.</div><div><br></div><div>Sedangkan kekebalan pasif buatan diperoleh dengan menyuntikan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain melalui serum, walaupun kekebalan pasif ini berlangsung singkat tapi berguna untuk penyembuhan secara cepat.</div><div><br></div><div><br></div><div><strong>B.</strong>  <strong>Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh</strong></div><div><br></div><div>Gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti sistem kekebalan tubuh dapat tidak berfungsi jika sistem ini bereaksi dengan molekul asing yang berlebihan. Beberapa contoh gangguan pada sistem kekebalan tubuh antara lain Alergi, autoimunitas dan AIDS.</div><div><br></div><div><strong>1.</strong>   <strong>Alergi</strong></div><div>Alergi adalah respon imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Reaksi alergi disebut juga dengan anaphylaxis. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi adalah Alergen yang dapat berupa serbuk, debu, bulu hewan, gigitan serangga, serta jenis makanan tertentu.</div><div><br></div><div><br></div><div>Alergi diawali dengan proses masuknya alergen ke dalam tubuh yang merangsang sel-sel B plasma untuk mensekresikan antibodi yang biasanya dari kelas IgE. Pada awalnya alergen yang masuk ke tubuh tidak akan menimbulkan alergi tapi pada awal alergen yang masuk akan berikatan dengan mastosit. Hal ini menyebabkan ketika alergen untuk kedua kalinya masuk ke dalam tubuh akan terikat pada antibodi IgE yang telah berikatan dengan mastosit, keadaan inilah yang menyebabkan mastosit melepaskan histamin yang memperbesar dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah (inflamasi). Inflamasi menyebabkan timbulnya berbagai gejala alergi seperti bersin, gatal-gatal, pusing, dan kesulitan bernapas.</div><div><br></div><div><strong>2.</strong>   <strong>Autoimunitas</strong></div><div>Autoimunitas adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk menyerang sel-sel tubuh sendiri seolah-olah bukan merupakan bagian dari tubuh. Autoimunitas seringkali disebabkan gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus atau karena infeksi virus yang terjadi sebelum lahir yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibat autoimunitas banyak dijumpai kelainan-kelainan atau keabnormalan yang dapat dijumpai antara lain :</div><div>a.   Diabetes Mellitus, yaitu tipe I (<em>insulin-dependent diabetes mellitus), </em>dimana antibodi menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi hormon insulin sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi.</div><div>b.   Addison’disease, penyakit ini bisa disebabkan oleh infeksi pada kelenjar adrenalin namun juga bisa disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel hormon yang menghasilkan adrenalin. Akibat yang ditimbulkannya adalah mudah merasa lelah, kehilangan berat badan, rasa perasaan yang tertekan, kadar gula darah rendah dan pigmentasi kulit yang meningkat.</div><div>c.    Mysthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini menyebabkan dergradasi otot dan berkurangnya kemampuan otot menangkap asetilkolin (zat yang dilepaskan saraf untuk memicu kontraksi otot), misalnya terjadi pada mata dimana posisi mata menjadi tidak simetris.</div><div><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s330/Capture+%25282%2529.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s200/Capture+%25282%2529.JPG" width="200" height="128"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Penderita Mysthenia gravis yang menyebabkan posisi mata tidak simetris</em></div><div><br></div><div>d.   Lupus erythematosus, yaitu keadaan dimana antibodi menyerang sel-sel tubuh yang lain sebagai sel asing dimana ketika kondisi tubuh melemah maka seranggan antibodi akan meningkat.<a href="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s340/Capture+NG.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s200/Capture+NG.JPG" width="200" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Ruam pada penderita Lupus erythematosus</em></div><div><br></div><div>e.   Multiple sclerosis,yaitu keadaan dimana antibodi menyerang jaringan saraf dan di tulang belakang dimana bagian saraf yang diserang adalah seludang mielin sebagai bagian yang melapisi sel saraf dan berperan dalam penghantaran informasi,hal ini menimbulkan berbagai gejala seperti gangguan penglihatan, pusing, depresi dan lain-lain.</div><div><br></div><div><strong>3.</strong>   <strong>AIDS</strong></div><div>AIDS (<em>acquired Immunodeficiency Syndrome) </em>adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (<em>Human Immunodeficiency Virus). </em>AIDS sendiri merupakan kumpulan dari berbagai penyakit.</div><div><br></div><div>AIDS disebabkan virus HIV yang menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi sel T lainnya serta sel B plasma. Ketika virus berhasil menginfeksi sel T virus menggunakan perangkat selnya untuk menggandakan diri setelah itu menembus membran sel kemudian menginfeksi sel T yang lain. Hal ini menyebabkan kemampuan tubuh melawan kuman penyakit menjadi berkurang.</div><div><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s680/virus-aids.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s280/virus-aids.jpg" width="280" height="134"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><em>Gambar dan Struktur Virus HIV</em></div><div><br></div><div>Sel T pembantu menjadi target utama virus HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor, dimana infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4. Pada orang normal jumlah sel T dalam tubuh sekitar 1000 sel/mm<sup>3</sup> , hal ini berbeda dengan orang yang menderita AIDS dimana jumlah sel T nya hanya sekitar 200 sel/mm<sup>3</sup>.</div><div><br></div><div>Virus HIV yang menyebabkan AIDS dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan banyak cara antara lain penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah dari penderita, serta hubungan seksual. Pada dasarnya penderita AIDS meninggal bukan karena virus HIV yang menyerangnya tapi karena melemahnya kekebalan tubuh maka beberapa penyakit bisa berakibat fatal bagi penderita AIDS, penyakit-penyakit itu seperti TBC, kanker darah, kanker, meningitis, harpes dan berbagai penyakit lainnya.<br><br>tambahan:<br><em>Lack of response</em> (imunodefisiensi) atau defisiensi kekebalan, contohnya AIDS yang disebabkan oleh virus yang dinamai HIV. HIV menginfeksi sel limfosit T.<br><br><em>Incorrect response</em> (autoimun), yaitu sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Contohnya DM Tipe I, Addison, dan Lupus.<br><br><em>Overactive response</em>/hipersensitivitas, yaitu sistem kekebalan tubuh yang merespons peringatan yang salah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-26 17:41:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246211257</guid>
      </item>
      <item>
         <title>      Ini knp sendiri?                               Rayhan Sompie </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246367046</link>
         <description><![CDATA[<div><br><strong>SISTEM PERTAHANAN TUBUH <br></strong><br></div><div><strong>PADA MANUSIA<br></strong><br></div><div><br></div><div><strong>Sistem pertahanan tubuh (sistem imunitas)</strong> adalah sistem pertahanan yang berperan dalam mengenal, menghancurkan, serta menetralkan benda – benda asing atau sel – sel abnormal yang berpotensi merugikan bagi tubuh. <br><br></div><div><strong>Imunitas</strong> adalah kemampuan tubuh untuk menahan atau menghilangkan benda asing serta sel – sel abnormal.<br><br></div><div><strong>Fungsi sistem pertahanan tubuh antara lain :<br></strong><br></div><ol><li>Mempertahankan tubuh dari patogen invasif (dapat masuk ke dalam sel inang) misalnya virus dan bakteri.</li><li>Melindungi tubuh terhadap suatu agen dari lingkungan eksternal yang berasal dari tumbuhan dan hewan serta zat kimia.</li><li>Menyingkirkan sel – sel yang sudah rusak akibat suatu penyakit atau cedera, sehingga memudahkan penyembuhan luka dan perbaikan jaringan.</li><li>Mengenali dan menghancurkan sel abnormal seperti kanker.<br><br></li></ol><div><strong>Macam – macam sistem pertahanan tubuh :<br></strong><br></div><div>Antibodi adalah suatu zat yang dibentuk oleh tubuh, yang berasal dari protein darah jenis – jenis <em>gama-globulin</em> dan berfungsi untuk melawan antigen (zat asing/protein asing) yang masuk ke dalam tubuh. Beberapa jenis antibodi yang bekerja dengan beberapa cara untuk melawan antigen antara lain :<br><br></div><ul><li>Opsonin adalah antibodi yang bekerja dengan merangsang leukosit untuk menyerang antigen atau kuman.</li><li>Lisin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menghancurkan antigen atau lisis.</li><li>Presipitin adalah antibodi yang bekerja dengan cara mengendapkan antigen atau presipitasi.</li><li>Aglutinin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menggumpalkan antigen atau aglutinasi.<br><br></li></ul><div>Umumnya yang bertugas melawan para antigen adalah sel darah putih (leukosit). Berdasarkan ada atau tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menjadi :<br><br></div><ol><li>Leukosit Bergranula (Granulosit)</li></ol><ul><li>Neutrofil</li><li>Eosinofil</li><li>Basofil</li></ul><ol><li>Leukosit Tidak Bergranula (Agranulosit)</li></ol><ul><li>Limfosit</li><li>Monosit<br><br></li></ul><div><strong>1. Neutrofil<br></strong><br></div><ul><li>Plasma bersifat netral</li><li>Inti sel berjumlah banyak (polimorf) dengan bentuk bermacam – macam</li><li>Neutrofil melawan antigen dengan cara memakannya (fagositosis)</li><li>Memakan jaringan tubuh yang rusak atau mati<br><br></li></ul><div><strong>2. Eosinofil<br></strong><br></div><ul><li>Plasma bersifat asam</li><li>Tampak berwarna merah tua bila ditetesi eosin</li><li>Jumlahnya meningkat bila tubuh terkena infeksi</li><li>Bersifat fagositosis<br><br></li></ul><div><strong>3. Basofil<br></strong><br></div><ul><li>Plasma bersifat basa</li><li>Berwarna biru tua bila ditetesi larutan basa</li><li>Bersifat fagositosis</li><li>Mengandung anti koagulan (anti penggumpalan darah) yaitu heparin<br><br></li></ul><div><strong>4. Limfosit<br></strong><br></div><ul><li>Tidak dapat bergerak</li><li>Inti sel hanya satu</li><li>Ukurannya bervariasi</li><li>Berfungsi untuk membentuk antibodi<br><br></li></ul><div><strong>5. Monosit<br></strong><br></div><ul><li>Bergerak seperti amoeba</li><li>Inti sel bulat atau bulat panjang</li><li>Diproduksi pada jaringan limfe (getah bening)</li><li>Bersifat fagositosis<br><br></li></ul><div><br></div><div><strong>Mekanisme pertahanan tubuh non spesifik dan spesifik :<br></strong><br></div><div>Mekanisme pertahanan non spesifik | Mekanisme pertahanan spesifik<br>Pertahanan pertama | Pertahanan Kedua | Pertahanan Ketiga<br>Kulit | Inflamasi | Limfosit<br>Membran mukosa | Sel – sel fagosit | Antibodi<br>Rambut hidung dan silia | Protein antimikroba<br>Cairan sekresi dari kulit dan membran mukosa</div><div><br></div><div>Pertahanan non spesifik adalah imunitas bawaan sejak lahir, berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada individu sehat , dan siap mencegah serta menyingkirkan dengan cepat antigen yang masuk ke dalam tubuh. <br><br></div><div>Pertahanan non spesifik meliputi pertahanan fisik, kimia, dan mekanis terhadap agen infeksi; fagositosis; inflamasi; serta zat anti mikroba non spesifik yang diproduksi tubuh.<br><br></div><div><strong>Perbedaan pertahanan non spesifik dan spesifik :<br></strong><br></div><div><strong>No.</strong> | <strong>Objek Pembeda</strong> | <strong>Pertahanan Non Spesifik</strong> | <strong>Pertahanan Spesifik</strong><br>1. | Mekanisme kerja | Cepat | Lebih lambat<br>2. | Waktu respons | Menit hingga jam, selalu siap | Dalam hitungan hari, tidak siap sampai terpajan alergen<br>3. | Pajanan (kontak dengan antigen) | Tidak perlu | Harus ada pajanan sebelumnya<br>4. | Respons memori | Tidak ada | Memori menetap, respons lebih baik pada infeksi serupa berikutnya<br>5. | Resistensi | Tidak berubah oleh infeksi | Membaik oleh infeksi berulang (memori)<br>6. | Sasaran reaksi | Pada umumnya efektif terhadapsemua mikroba | Spesifik terhadap mikroorganisme yang sudah dikenali sebelumnya<br>7. | Protein darah | Komplemen | Limfosit<br>8.  | Komponen cairan darah | Banyak peptida antimikroba dan protein | Antibodi</div><div><br></div><div><strong>Perbedaan respons imunitas humoral dengan imunitas seluler<br></strong><br></div><div><strong>No</strong> | <strong>Perbedaan</strong> | <strong>Respons Imunitas Humoral</strong> | <strong>Respons Imunitas Seluler</strong><br><strong>Ekstraseluler</strong> | <strong>Intraseluler</strong><br>1 | Jenis, mikroorganisme (antigen) | Mikroorganisme ekstraseluler | Mikroorganisme ekstraseluler yang difagositosis oleh makrofag (misalnya bakteri) | Mikroorganisme intraseluler (misalnya virus) yang berkembang biak di dalam sel terinfeksi<br>2 | Respons limfosit | Sel B | Sel T <em>helper</em> | Sel T sitotoksik (CTL)<br>3 | Mekanisme efektor dan fungsi | Antibodi mencegah infeksi dan menyingkirkan mikroorganisme ekstraseluler | Makrofag yang teraktivasi memusnahkan mikrooganisme yang dimakan | CTL memusnahkan sel terinfeksi dan menyingkirkan sumber infeksi</div><div><br></div><div><strong>Faktor yang Mempengaruhi Sistem Pertahanan Tubuh :<br></strong><br></div><ul><li>Genetik (keturunan)                - Tidur</li><li>Fisiologis                    - Nutrisi</li><li>Stres                        - Pajanan zat berbahaya</li><li>Usia                        - Racun tubuh</li><li>Hormon                    - Penggunaan obat - obatan</li><li>Olahraga<br><br></li></ul><div><strong>Gangguan Sistem Pertahanan Tubuh :<br></strong><br></div><ul><li><strong>Hipersensitivitas (Alergi)</strong> adalah peningkatan sensitivitas atau reaktivitas terhadap antigen yang pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. Antigen yang mendorong timbulnya alergi disebut alergen. Pajanan terhadap alergen akan membuat tubuh sensitif, sehingga pajanan berikutnya mengakibatkan reaksi alergi. Gejala reaksi alergi yaitu gatal – gatal, ruam, mata merah, kram berlebihan, serum sickness, dan Stevens Johnson syndrom. Contoh alergen yaitu spora kapang, serbuk sari, rambut hewan, obat – obatan, bahan makanan (kacang, udang, dan kerang).</li></ul><div><br></div><ul><li><strong>Penyakit autoimun </strong>adalah kegagalan sistem imunitas untuk membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imunitas menyerang sel tubuh sendiri. Contohnya arritisrematoid, penyakit Addison, dan systemic lupus erythematosus (SLE) .</li></ul><div><br></div><ul><li><strong>Imunodefisiensi</strong> adalah kondisi menurunnya keefektifan sistem imunitas atau ketidakmampuan sistem imunitas untuk merespons antigen.</li></ul><div><br></div><ul><li><strong>Defisiensi imun kongenital</strong> adalah keadaan tidak memiliki sel B maupun sel T sejak lahir. Penderita harus hidup dalam lingkungan steril.</li></ul><div><br></div><ul><li><strong>AIDS </strong><strong><em>(Acquired Immunodeficiency Syndrom)</em></strong><strong> </strong>disebabkan oleh virus HIV <em>(Human Immunodeficiency Virus). </em>Jumlah sel T penolong berkurang, sehingga sistem imunitas melemah. Penderita rentan terhadap penyakit oportunistik (penyakit infeksi yang timbul saat daya tahan melemah, seperti infeksi Pneumocystis carinii), penurunan fisiologis, dan kematian</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-27 06:26:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246367046</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alvin syahri &amp; Marcell Armansyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246371732</link>
         <description><![CDATA[<div>A. SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA </div><div><br></div><div>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem yang bekerja sama dan berfungsi memerangi faktorasing yang berasal dari lingkungan atau dari dalam tubuh sendiri. Pengaruh dari luar dapat berupa virus, bakteri, paparan zat kimia, jamur, cacing, dan lain-lain. Adapun pengaruh dari dalam tubuh bisa berupa kankeryang terjadi akibat mutasi. Berdasarkan cara perolehannya, sistem pertahanan tubuh terbagi menjadi sistem pertahanan alami dan sistem pertahanan buatan.             </div><div><br></div><div>B.MACAM – MACAM SISTEM PERTAHANAN TUBUH: </div><div><br></div><div>1. PERTAHANAN TUBUH SPESIFIK</div><div> </div><div>Antibodi adalah suatu Zat yang dibentuk oleh tubuh, yang berasal dari protein darah Jenis –  Jenis</div><div> gama-globulin dan berfungsi untuk melawan antigen (Zat asing /protein asing) yang masuk ke dalam tubuh. beberapa "enis antibodi yang bekerja dengan beberapa cara untuk melawan antigen antara lain: </div><div>•Opsonin adalah antibodi yang bekerja dengan merangsang leukosit untuk menyerangantigen atau kuman.</div><div>•Lisin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menghancurkan antigen atau lisis.</div><div>•Presipitin adalah antibodi yang bekerja dengan cara mengendapkan antigen atau presipitasi.</div><div>•Aglutinin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menggumpalkan antigen atau aglutinasi.</div><div> </div><div>Umumnya yang bertugas melawan para antigen adalah sel darah putih (leukosit). Berdasarkan ada atau tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menadi : </div><div> </div><div>1.Leukosit Bergranula (Granulosit)</div><div> -Neutrofil</div><div>-Eosinofil</div><div>-Basofil</div><div> </div><div>2.Leukosit 0idak Bergranula (Agranulosit)</div><div>-Limfosit</div><div>-Monosit</div><div> </div><div>1. Neutrofil</div><div> </div><div>-Plasma bersifat netral</div><div>-Inti sel ber"umlah banyak (polimorf) dengan bentuk bermacam – macam</div><div>-Neutrofil melawan antigen dengan cara memakannya (fagositosis)</div><div>-Memakan jaringan tubuh yang rusak atau mati</div><div> </div><div>2.Eusinofit</div><div> </div><div>-Plasma bersifat asam</div><div>-0ampak berwarna merah tua bila ditetesi eosin</div><div>-Jumlahnya meningkat bila tubuh terkena infeksi</div><div>-bersifat fagositosis</div><div> </div><div>3. Basofil</div><div>-Plasma bersifat basa</div><div>-Berwarna biru tua bila ditetesi larutan basa</div><div>-Bersifat fagositosis</div><div>-Mengandung anti koagulan (anti penggumpalan darah) yaitu heparin</div><div> </div><div>4. Limfosit</div><div>-Tidak dapat bergerak </div><div>-Inti sel hanya satu</div><div>-Ukurannya bervariasi</div><div>-Berfungsi untuk membentuk antibodi</div><div> </div><div>5.Monosit</div><div> </div><div>-Bergerak seperti amoeba</div><div>-Inti sel bulat atau bulat pan"ang</div><div>-Diproduksi pada jaringan limfe (getah bening)</div><div>-bersifat fagositosis</div><div> </div><div> Jenis – Jenis Antibodi : </div><div> </div><div>1. Immunoglobulin A (IgA)</div><div>Terdapat pada beberapa bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata,paru-paru, dan usus. Immunoglobulin A (IgA) juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.</div><div><br></div><div>2. Immunoglobulin D (IgD)</div><div>Jenis antibodi Immunoglobulin D atau IgD merupakan antibodi yang jumlahnya yang sangat sedikit terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.</div><div> </div><div> 3. Immunoglobulin E (IgE)</div><div>  Immunglobulin E atau IgE merupakan jenis antibodi dalam tubuh yang beredar dalam aliran darah dan terlibat dalam mempertahankan tubuh terhadap parasit dan alergen. Jenis antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi biasanya memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit,</div><div><br></div><div>4. Immunoglobulin G (IgG)</div><div>  Jenis antibodi IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.</div><div><br></div><div>5. Immunoglobulin M (IgM)</div><div>Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.</div><div> </div><div>Cara Kerja Antibodi : </div><div>·         Penetralan: atau yang disebut dengan netralisasi yaitu dengan menetralkan antigen</div><div>·         Pengendapan : atau yang disebut pretisipasi yaitu dengan pengendapan</div><div>·         Aktivitas protein komplemen : atau yang disebut fiksasi komplemen atau lisis yaitu dengan lisis atau dengan penghancuran antigen</div><div> </div><div>2. SISTEM PERTAHANAN TUBUH NONSPESIFIK</div><div>Yaitu system pertahanan tubuh yang sudah ada dalam tubuh dapat melindungi tubuh dan dapat mendeteksi benda asing yang masuk.</div><div> </div><div>-Imun Nonspesifik dipengaruhi 2 faktor yaitu: </div><div> </div><div>1. Eksternal terbagi menjadi 2 : </div><div>·         Membran mukosa adalah lapisan kulit dalam, yang tertutup pada epitelium, dan terlibat dalam proses absopsi dan proses sekres-</div><div> </div><div>-<em>Fungsinya</em> :</div><div>1. Melindungi,Melembabkan, dan melicinkan lapisan sehingga tidak menjadi kering.</div><div>2. Mendangkan kuman, debu, dan kotoran sehingga dapat dibuang oleh tubuh </div><div>3. Melicinkan lapisan sehingga mudah terjadi pertukaran udara </div><div>4. Membantu penyerapan zat-zat nutrisi</div><div> </div><div>·         Kulit  adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi seluruh tubuh manusia. Berat kulitdiperkirakan sekitar 7 % dari berat tubuh total. Pada permukaan luar kulit terdapat pori – pori (rongga) yang menjadi tempat keluarnya keringat</div><div> </div><div><em>-Fungsinya :</em></div><div>1. Sebagai Pelindung tubuh dari berbagai ancaman</div><div>2. Sebagai Indra Peraba</div><div>3. Sebagai Alat Eksres</div><div>4. Sebagai Pengatur Suhu Tubuh</div><div>5. Sebagai Penyimpan Lemak</div><div>6. Sebagai Tempat Pembuatan Vitamin D</div><div> </div><div>2. Internal terbagi menjadi 3 : </div><div> </div><div>·        Fagositosis </div><div>adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel-sel fagosit dengan jalan mikrobia/partikel asing. dan sel fagosit sendiri terdiri dari dua jenis sel, yakni fagosit mononuklaer dan polimorfonuklear</div><div>·        Respon Peradangan (Inflamasi)</div><div>Inflamasi adalah merupakan respon tubuh terhadap kerusakan jaringan, misalnya akibat terkena goresan atau benturan keras</div><div>·        Senyawa Antimikrobia</div><div>Zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan mikroba dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan. Mikroorganisme dapat menyebabkan bahaya karena kemampuan menginfeksi dan menimbulkan penyakit serta merusak bahan pangan. Ada banyak anti mikroba berdasarkan mikroba yang ingin diganggu pertumbuhannya. Diantaranya: </div><div>·         Anti Bakteri</div><div>·         Anti Jamur</div><div>·         Anti Kapang</div><div>·         Anti Khamir </div><div>-          Senyawa Mikroba dibagi menjadi : </div><div>1.Protein Komplemen</div><div>2.Interfeon</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-27 06:53:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246371732</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akbar Ramadhan Muhammad Zaid &amp; M.Irfansyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246391082</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>SISTEM PERTAHANAN TUBUH PADA MANUSIA </strong>Sistem pertahanan tubuh (sistem imunitas) adalah sistem pertahanan yang berperan dalam mengenal, menghancurkan, serta menetralkan benda – benda asing atau sel – sel abnormal yang berpotensi merugikan bagi tubuh. <br><br><strong>MACAM-MACAM SISTEM PERTAHANAN TUBUH<br></strong>1. Pertahanan Fisik<br>Pertahanan fisik merupakan pertahanan lapis pertama yang dapat menangkal masuknya infeksi ke dalam tubuh. Pertahanan fisik yang utama pada manusia adalah kulit. Kulit mempunyai tekstur yang elastik, lembut tapi tidak tertembus oleh mikroba. Kecuali ada bagian yang terkelupas atau tergores. Selain tidak tertembus, lapisan kulit terluar banyak mengandung sel-sel kulit mati yang keras, mengandung keratin sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba pathogen.<br>2. Pertahanan Mekanik<br>Pertahanan mekanik dapat mencegah pahogen masuk ke dalam tubuh dengan cara menghalanginya. Pertahanan mekanik pada manusia biasanya berupa bulu-bulu kecil yang biasanya tumbuh di bagian lubang-lubang tubuh. Contohnya bulu yang tumbuh di lubang hidung. Bulu hidung berfungsi sebagai alat penyaring udara. Benda-benda asing yang terbawa oleh udara yang dihisap akan terhalang oleh bulu hidung dan akan di hembuskan keluar jika kotoran sudah menumpuk.<br>3. Pertahanan Kimia<br>Pertahanan kimia tubuh berasal dari zat-zat kimia yang dihasilkan tubuh. Zat-zat kimia tersebut antara lain adalah air lidah, air mata, sebum, mucus, cairan lambung, dan masih banyak lagi. Pertahan kimia ini bekerja secara terkoordinasi dengan pertahanan fisik dan mekanik. Contohnya adalah jika suatu benda asing masuk melalui hidung, maka akan dihalangi oleh bulu hidung. Jika masih bisa menembus bulu hidung maka benda asing itu akan terperangkap dalam cairan mukus yang di produksi oleh sel-sel saluran pernafasan dan biasanya akan di hembuskan keluar dalam bentuk ingus, dahak.<br>4. Pertahanan Biologis<br>Pertahanan biologis dibentuk oleh mikroba tidak berbahaya yang hidup di beberapa bagian tubuh manusia. Seperti pada kulit, membrane mukosa, saluran pencernaan, dll. Mikroba-mikroba ini akan membantu manusia mengeliminasi mikroba berbahaya yang masuk kedalam tubuh dengan cara membunuh mereka atau menghalangi mikroba berbahaya mendapatkan nutrisi yang dapat menunjang pertumbuhannya.<br>5. Pertahanan intraseluler<br>Pertahanan intraseluler berhubungan dengan pembentukan sel-sel darah putih yang otomatis akan terjadi jika benda asing masuk kedalam sel tubuh manusia. Pertahanan intraseluler ini pada akhirnya nanti akan merangsang pembentukan sistem kekebalan tubuh yang lebih kompleks lagi yaitu dengan terbentuknya antibodi.<br><br><strong>Sistem Kekebalan Tubuh Nonspesifik</strong><br>dalambekerja ia tidak memperdulikan jenis patogen yang menyerang, dengan kata lain semua patogen akan dilawan. Sedangkan sistem kekebalan tubuh spesifik hanya akan bekerja jika sebuah jenis patogen tertentu telah mampu melewati sistem pertahanan nonspesifik internal. Nah, pada halaman ini kita akan pelajari tentang sistem kekebalan tubuh nonspesifik saja. <br>1. Sistem Kekebalan Tubuh Nonspesifik Eksternal<br>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik eksternal merupakan sistem pertahanan tubuh terluar atau sistem yang pertama akan menerima serangan dari antigen atau patogen, yakni organisme yang dapat menyebabkan penyakit seperti bakteri, jamur atau virus. Sistem pertahanan ini diperankan oleh kulit dan membran mukosa yang menghasilkan lendir, air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus).<br><br>Kulit merupakan pertahanan tubuh terbesar dan mudah dilihat. Secara normal, kulit tidak mampu ditembus oleh bakteri kecuali jika ada kerusakan (misalnya luka), maka bakteri atau virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui jalan ini. Jika kulit dapat ditembus oleh patogen, maka pada bagian tersebut akan terjadi infeksi penyakit sehingga terjadi peradangan. Nah, disaat inilah kemudian tubuh akan mulai merespon dimana aliran darah yang membawa banyak sel darah putih meningkat. Akibatnya, suhu pada daerah yang terinfeksi akan meningkat pula. Disini, sel darah putih akan bekerja membunuh patogen sehingga muncul benjolan yang sering dinamakan sebagai bisul (abses). Di dalam bisul atau abses terdapat nanah yang berisi patogen/antigen yang telah hancur dan bercampur dengan serum darah putih. Selain kulit, juga ada membran mukosa yang terdapat pada saluran kelamin, pernapasan atau saluran pencernaan yang dapat menghalangi bakteri masuk ke dalam tubuh. <br><br>antimikroba dan membran mukosa juga akan melakukan perlawanan terhadap patogen dalam bentuk senyawa kimiawi. Misalnya, sekresi oleh kelenjar lemak dan kelenjar keringat pada kulit membuat keasaman (pH) permukaan kulit pada kisaran 3–5. Kondisi tersebut cukup asam dan mencegah banyak mikroorganisme berkoloni di kulit kita. Air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan mukosa dapat melenyapkan banyak bibit penyakit yang potensial. Proses sekresi ini mengandung lisozim yaitu suatu enzim yang dapat menguraikan dinding sel bakteri. Selain itu, bakteri flora normal tubuh pada epitel dan mukosa dapat juga mencegah koloni bakteri patogen (Fictor Ferdinand,Hal.204-205).<br><br>2. Sistem Kekebalan Tubuh Nonspesifik Internal<br><br>Sistem kekebalan tubuh nonspesifik internal (dalam) akan menyerang semua patogen yang mampu lolos dari perlawanan sistem kekebalan tubuh luar atau eksternal (kulit dan membran mukosa). Sistem pertahanan internal ini merupakan pertahanan yang dilakukan oleh dalam tubuh itu sendiri yang diperankan oleh sel fagosit dan protein antimikroba.<br><br>a. Sel Fagosit<br>Sel fegosit terdiri dari beberapa jenis sel darah putih yakni neutrofil dan monosit yang membunuh mikroba dengan cara fagositosis yaitu memakan mikroba yang masuk ke dalam tubuh. Sekitar 60%-70%, kandungan dalam sel darah putih adalah neutrofil. Neutrofil dapat mendeteksi sel yang terjangkit penyakit setelah menangkap sinyal kimiawi. Kemudian neutrofil akan keluar dari peredaran darah menuju sel yang terjangkit penyakit untuk membunuh patogen. Setelah mampu membunuh patogen, neutrofil juga akan mengalami kematian.<br><br>b. Protein Antimikroba<br>Ada sekitar 20 jenis protein antimikroba yang terdapat dalam tubuh manusia, protein ini dinamakan sebagai  sistem komplemen. Protein ini dapat menyerang bakteri secara langsung dengan menyerang membran sel atau membuat lubang pada dinding sel bakteri hingga mengalami lisis (pecah). Selain itu protein ini juga dapat menyerang secara tidak langsung yakni dengan menghambat reproduksi bakteri di dalam tubuh.<br><br>c.Respon Peradangan<br>Peradangan adalah reaksi vaskular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan,zat-zat yang terlarutdan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis.<br>Peradangan adalah gejala yang menguntungkan dan pertahanan, hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang, penghancuran jaringan nekrosis, dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan.<br><br>d.Protein Komplemen<br>Protein ini membantu sistem kekebalan dengan berbagai cara, antara lain:<br><br>1.Menghasilkan opsonin, kemotoksin dan kinin.<br>  Opsonin mempermudah terjadinya fagitosis oleh sel darah putih karena mikroorganisme melekat pada sel   darah putih. Kemotoksin berfungsi sebagai penarik sel darah putih menuju daerah infeksi, sedangkan kinin berfungsi sebagai peningkat permeabilitas pembuluh darah<br>2.Berperan dalam proses penghancuran membran sel mikroorganisme yang menyerang tubuh.<br>3.Menstimulasi sel darah putih agar menjadi aktif.<br><br>d.Interferon<br>Interferon adalah protein yang diproduksi secara alami oleh sistem kekebalan tubuh. Senyawa ini terbentuk sebagai reaksi terhadap infeksi virus dan terbagi dalam tiga jenis, yaitu alfa, beta, dan gamma. Meski serupa, tiap jenis interferon memiliki dampak berbeda pada tubuh.<br><br><strong>Pertahanan Tubuh Spesifik</strong><br><br>Pertahanan tubuh spesifik dikenal juga dengan nama sistem kekebalan.<br>Respons kekebalan ini meliputi produksi protein pertahanan tubuh spesifik, disebut antibodi, yang dilakukan oleh limfosit. Limfosit dapat ditemukan di dalam sumsum tulang, pusat limfatik, kelenjar ludah, limpa, tonsil, dan persendian<br><br><strong>Antibodi</strong><br> Antibodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein globulin. Antibodi adalah subtansi kimia berupa glikoprotein dengan struktur tertentu yang terbentuk sebagai respons terhadap keberadaan benda-benda asing (antigen) yang tidak dikehendaki oleh tubuh  dan bersifat reaktif terhadap antigen tersebut.<br><br><strong>Jenis-jenis Antibodi<br>1.Immunoglobulin G (IgG)<br></strong>Immunoglobulin G (IgG) adalah jenis antibodi yang paling umum, yang dihasilkan pada pemaparan antigen berikutnya. IgG membentuk respon antibodi sekunder yang bekerja lebih cepat dan berlimpah di bandingkan respon antibodi primer. IgG ditemukan di dalam darah dan jaringan. IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat masuk melalui plasenta dari ibu ke janin di dalam kandungannya dan berfungsi untuk melindungi janin dan bayi baru lahir dari penyakit hingga sistem kekebalan tubuh bayi dapat menghasilkan antibodi sendiri.<br><strong>2.Immunoglobulin E (IgE)</strong><br>Immunglobulin E (IgE) merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah dan dapat menyebabkan reaksi alergi segera terhadap serangan antigen. Tubuh seorang yang sering mengalami alergi memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE berfungsi sebagai proteksi terhadap serangan parasit dan bersama-sama IgG mengikat serta mengusir antigen penyebab alergi. IgE penting dalam melawan infeksi parasit seperti river blindness dan skistosomiasis, yang banyak ditemukan di negara berkembang.<br><strong>3.Immunoglobulin A (IgA)</strong><br>Immunoglobulin A (IgA) adalah antibodi yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadp masuknya mikroorganisme melalui lubang-lubang di permukaan tubuh. IgA merupakan sistem pertahanan tubuh lapis pertama. Immunoglobulin A atau IgA ditemukan pada bagian-bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus. IgA juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus. IgA memiliki 3 fungsi utama, yaitu:<br><br>•Mencegah mikroba masuk kedalam tubuh,<br>•Mengikat mikroba yang hendak masuk kedalam tubuh,<br>•Mengeluarkan mikroba dari dalam tubuh<br><strong>4.Immunoglobulin D (IgD)</strong><br>Immunoglobulin D (IgD) merupakan antibodi yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam darah, getah bening dan permukaan limfosit. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.<br><strong>5.Immunoglobulin M (IgM)</strong><br>Immunoglobulin M (IgM) adalah antibodi yang di hasilkan oleh tubuh secara alami ketika suatu infeksi terjadi. IgM di hasilkan pada pemaparan awal oleh suatu antigen. IgM melakukan respon antibodi primer. IgM banyak terdapat di dalam darah tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan di dalam organ maupun jaringan. Fungsi IgM adalah nerangsang fogositosis mikrob oleh makrofaga.<br><br><strong>CARA KERJA ANTIBODI<br></strong>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.<strong><br><br>a. Penetralan<br></strong>Antibodi menetralkan  racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<strong><br><br>b. Pengendapan (Presipitasi)<br></strong>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<strong><br><br>c. Pelekatan<br></strong>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><strong><br>d. Aktivasi Protein Komplemen<br></strong>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-27 08:21:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246391082</guid>
      </item>
      <item>
         <title>al</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246403790</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-27 09:12:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246403790</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Disti Putri Faadhilah &amp; Sabrina R Maghfira</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246411282</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA<br></strong><br></div><div>Peran sistem kekebalan tubuh merupakan sekumpulan struktur dan proses dalam tubuh. Proses ini berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap penyakit atau benda asing yang berpotensi mengganggu dan merusak yang lainnya. Ketika berfungsi dengan baik, sistem kekebalan tubuh dapat mengidentifikasi berbagai ancaman, termasuk virus, bakteri dan parasit, dan membedakan mereka dari jaringan sehat tubuh sendiri.<br><br></div><div>Dan untuk lebih jelasnya tentang fungsi dari sistem kekebalan tubuh manusia berikut ini merupakan ulasannya, semoga bermanfaat! Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah terkena penyakit.<br><br></div><div>Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh.<br><br></div><div><strong><br>A.    Macam-Macam Sistem Pertahanan Tubuh<br></strong><br></div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img width="366" height="133"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div><strong>1. Pertahanan Tubuh  Tidak Spesifik<br></strong><br></div><div>Dalam mekanisme imunitas non spesifik memiliki sifat selalu siap dan memiliki respon langsung serta cepat terhadap adanya patogen pada individu yang sehat. Sistem imun ini bertindak sebagai lini pertama dalam menghadapi infeksi dan tidak perlu menerima pajanan sebelumnya, bersifat tidak spesifik karena tidak ditunjukkan terhadap patogen atau mikroba tertentu, telah ada dan berfungsi sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifitas dan mampu melindungi tubuh terhadap patogen yang potensial.</div><div><strong><br>a. External: <br></strong><br></div><div><strong><br>1.) Kulit<br></strong><br></div><div><br>Fungsi kulit bagi pertahanan tubuh di samping berfungsi melindungi tubuh dari panas, dingin, dan sinar matahari, kulit juga memiliki kemampuan untuk melindungi tubuh dari mikroorganisme yang merugikan. Fungsi perlindungan utama kulit diwujudkan lewat lapisan sel mati yang merupakan bagian terluar kulit. Setiap sel baru yang dihasilkan oleh pembelahan sel bergerak dari bagian dalam kulit menuju ke permukaan luar.<br><br></div><div><br>Sel-sel kulit juga mampu menghasilkan protein kuat yang disebut <strong>keratin. </strong>Senyawa keratin mempunyai struktur yang sangat kuat dan keras sehingga sulit didekomposisi oleh berbagai mikroorganisme patogen. Keratin tersebut terdapat pada sel-sel mati yang selalu lepas dari permukaan kulit dan digantikan oleh sel-sel berkeratin yang baru. Sel-sel baru yang berasal dari bawah menggantikan sel-sel yang sudah usang sehingga membentuk penghalang yang tidak dapat tembus.<br><br></div><div><br>Kulit selain memberikan perlindungan secara fisik, kulit juga memberi perlindungan secara kimia. Kulit menghasilkan keringat dan minyak yang memberikan suasana asam pada kulit. Hal itu dapat mencegah tumbuhnya mikroorganisme patogen pada kulit. Keringat menyediakan zat makanan bagi bakteri dan jamur tertentu yang hidup sebagai mikroflora normal pada kulit dan menghasilkan bahan-bahan sisa bersifat asam, seperti asam laktat, yang membantu menurunkan tingkat pH (keasaman) kulit. Media bersifat asam di permukaan kulit ini menciptakan lingkungan tidak bersahabat bagi mikroorganisme berbahaya.<br><br></div><div><br>Bagaimana jika kulit terluka? Kulit yang terluka merupakan salah satu jalan masuknya mikroba asing ke dalam tubuh. Meskipun demikian, kulit juga memiliki respon untuk segera memperbaiki jaringan kulit yang terluka secara cepat. Ketika terjadi luka, sel-sel pertahanan tubuh akan segera bergerak ke daerah luka untuk memerangi mikroba asing serta membuang sisa-sisa jaringan yang sudah rusak. Kemudian, sejumlah sel pertahanan lainnya akan memproduksi benang-benang fibrin, yaitu suatu protein yang berfungsi untuk menutup kembali luka.<br><br></div><div><br>2) Membran Mukosa<br><br></div><div><br>Semua saluran tubuh yang memiliki kontak langsung dengan lingkungan luar, seperti saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran ekskresi, ataupun saluran reproduksi selalu memiliki organ-organ yang dilapisi oleh lapisan mukosa. Lapisan mukosa yang terdapat pada berbagai saluran tadi memiliki fungsi penting dalam mencegah masuknya berbagai mikroba asing yang berbahaya.<br><br></div><div><br>Saluran pencernaan merupakan salah satu pintu gerbang masuknya berbagai mikroba asing ke dalam tubuh. Mereka masuk ke dalam tubuh bersamaan dengan makanan yang kita makan. Mikroba yang masuk bersama makanan dan sampai di lambung akan mendapat “kejutan” yang berupa asam klorida (HCl) atau asam lambung yang dihasilkan oleh lapisan mukosa lambung. Asam lambung menyebabkan sebagian besar mikroba asing yang masuk ke lambung tidak dapat bertahan hidup. Sebagian mikroba asing tersebut mungkin berhasil selamat dari pengaruh asam lambung atau karena mereka mempunyai daya tahan terhadap asam lambung. Meskipun begitu, mikroba yang lolos itu akan segera menghadapi berbagai enzim pencernaan di usus halus.<br><br></div><div><br>Lapisan mukosa yang terdapat pada saluran respirasi, misalnya trakea, juga merupakan pertahanan tubuh yang sangat penting. Lapisan mukosa pada trakea menghasilkan mukus yang berupa cairan kental yang berguna untuk menjerat mikroba asing ataupun partikel asing lainnya yang masuk bersama udara pernapasan. Di samping itu, pada lapisan mukosa trakea terdapat sel-sel epitel bersilia yang dapat bergerak untuk mengeluarkan mukus yang sudah membawa mikroba agar tidak menuju paru- paru.<br><br></div><div><br>Di samping menyediakan pertahanan fisik dan kimiawi, pada kulit dan lapisan mukosa juga terdapat mikroorganisme. Mikroorganisme ini dikenal dengan istilah mikroflora normal. Mereka tidak membahayakan tubuh kita, justru secara tidak langsung menguntungkan karena turut membantu sistem pertahanan tubuh kita. Banyak mikroorganisme lain yang tidak merugikan yang hidup dalam tubuh manusia.<br><br></div><div><strong><br>b. Internal:<br></strong><br></div><div>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal bergantung pada sel-sel fagosit. Sel-sel fagosit tersebut berupa beberapa jenis sel darah putih, yaitu neutrofil dan monosit. Selain sel-sel fagosit, terdapat protein antimikroba yang membantu pertahanan tubuh nonspesifik internal. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal ini menyerang semua mikroba atau zat asing yang dapat melewati pertahanan terluar tubuh.</div><div><br>1.) Fagositosis <br><br></div><div>Fagiositosis dapat terjadi pada saat tubuh kita demam dikarenakan dalam sel darah putih melepaskan suatu senyawa yang disebut pirogen, pirogen akan meningkatkan suhu tubuh lebih tinggi karena proses respon sistemik yang dihasilkan oleh mikroorganisme pathogen.Proses tersebut membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen. Dengan kata lain demam dalam tingkat normal adalah proses imun tubuh dalam penghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen.</div><div><br> <br><br></div><div>2.) Respon Peradangan </div><div>Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap kerusakan jaringan, missal akibat tergores atau benturan keras. Pada proses ini dipengaruhi oleh Histamin dan Prostalgidin.<br><br></div><div>Histamin yang dihasilkan oleh sel tubuh berperan untuk meningkatkan konsentrasi otot dan permeabilitas dinding pembuluh darah kapiler di sekitar areal yang terinfeksi. Peningkatan aliran darah akan memudahkan perpindahan sel – sel fagosit dari darah ke dalam jaringan yang terluka Netrofil merupakan fagosit pertama yang menyelubungi luka selanjutnya monosit berperan dengan berkembang menjadi makrofag yang akan membersihkan sel – sel jaringan yang rusak.<br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> <br><br></div><div> </div><div>3.) Senyawa Antimikroba</div><div><br>Protein antimikroba yang berperan dalam pertahanan tidak spesifik ini adalah protein komplemen dan interferon. Cara kerja antimikroba ini terutama adalah untuk menghancurkan sel-sel mikroba yang masuk atau untuk menghambat agar mikroba asing tersebut tidak dapat bereproduksi.<br><br></div><div><br>a) Protein Komplemen<br><br></div><div><br>Protein Komplemen merupakan agen antimikroba yang terdiri atas sekitar 20 protein serum. Di dalam tubuh, senyawa ini berada dalam kondisi tidak aktif. Adanya infeksi mikroba akan mengaktifkan protein pertama dan dan selanjutnya akan mengaktifkan protein kedua, demikian seterusnya, melalui serangkaian reaksi yang berurutan. Protein komplemen yang telah aktif akan bekerja secara sistematis untuk melisiskan berbagai mikroba pengifeksi.<br><br></div><div><br>b) Interferon<br><br></div><div><strong><br>Interferon</strong> merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh makrofag sebagai respon adanya serangan virus yang masuk ke dalam tubuh. Interferon merupakan senyawa antivirus yang bekerja menghancurkan virus dengan cara menghambat perbanyakan virus dengan cara menghambat perbanyakan virus dalam sel-sel tubuh.<br><br></div><div><strong> </strong></div><div><strong>2. Pertahanan Tubuh Spesifik</strong></div><div> </div><div>Yaitu sistem pertahanan yang mempunyai kemampuan untuk mengenali benda asing yang masuk. Kemampuan merespon berbagai antigen, membedakan antigen asing dengan antigen diri, merespon antigen yang ditemukan sebelumnya dengan memulai respon memori. Sistem imun akan terbentuk jika ada benda asing. Yang berperanan adalah sel limfosit.</div><div> </div><div><strong> </strong></div><div><strong>a.     Antibodi</strong></div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img width="241" height="153"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div>Antibodi adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh sel B limfosit (salah stau jenis sel darah putih/leukosit). Antibodi memiliki struktur tertentu dan telah teraktivasi sehingga menjadi sel plasma. Antibodi ini merupakan sistem pertahanan tubuh melalui sistem kekebalan tubuh (imunitas) untuk membunuh dan menetralisir zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh yang dapat membahayakan tubuh, seperti bakteri, virus atau zat kimia lainnya.</div><div> </div><div>Antibodi juga dikenal dengan sebutan immunoglobulin dalam bahasa medisnya. Pada awalnya, ketika ada zat asing yang masuk, maka leukosit jenis monosit akan langsung menyerang zat tersebut dengan bantuan dari neutrophil. Setelah itu, monosit yang telah membunuh zat itu langsung mengantarkannya ke limfosit B untuk didata dan dibuatkan Antibodi untuk jenis zat asing yang telah mati tersebut. Setelah Antibodi terbentuk, maka giliran limfosit T yang akan berperan untuk memastikan bahwa Antibodi tadi sudah tertanam di permukaan sel-sel tubuh.</div><div> </div><div>Setiap kali ada zat asing baru yang masuk, dibutuhkan sekitar 10-14 hari agar Antibodi zat tersebut benar-benar terbentuk. Antibodi ini dapat ditemukan di dalam darah dan cairan nonseluar. Setiap antigen yang terbentuk pasti memiliki kesesuaian dengan zat asing (antigen) secara sempurna, ibarat antara kunci yang diperankan oleh antigen dan gembok  yang diperankan oleh Antibodi.</div><div> </div><div> </div><div> </div><div> </div><div><strong><br>b.     Fungsi antibodi<br></strong><br></div><div><br>Secara umum, Antibodi pada manusia memiliki dua fungsi yang terpisah. Yaitu :<br><br></div><div><br>     Antibodi memiliki kemampuan untuk mengenali dan menempel/melekat pada antigen yang dianggap dapat menyebabkan penyakit oleh tubuh.      <br><br></div><div><br>    Dalam mengenali dan melekatkan diri dengan antigen, zat Antibodi senantiasa bertindak sebagai penanda, dan selanjutnya akan mengirimkan sinyal ke sel darah putih yang lain untuk menyerang zat asing tersebut.<br><br></div><div><strong><br>c.     Jenis-jenis antibodi<br></strong><br></div><div><br>Sebelumnya telah disebutkan bahwa Antibodi merupakan glikoprotein yang membantu sistem kekebalan tubuh menetralisir dan menghancurkan antigen yang mausk ke dalam tubuh. Antibodi juga dikenal dengan sebutan Imunoglobulin (Ig). Berikut ini adalah jenis-jenis Antibodi yang terdapat di dalam tubuh manusia, yaitu :<br><br></div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img width="285" height="182"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div><strong>1. Imunoglobulin G (IgG)</strong></div><div>IgG merupakan Antibodi yang paling umum dan biasanya dihasilkan hanya dalam waktu beberapa hari saja. Immunoglobulin G dapat hidup di dalam darah sampai beberapa hari bahkan beberapa tahun lamanya. Antibodi IgG beredar di dalam darah kelenjar getah bening, dan usus. Saat antigen masuk, maka mereka menggunakan aliran darah untuk menuju ke tempat lokasi masuknya antigen tersebut. </div><div> </div><div>IgG mempunyai efek yang kuat dalam pertahanan tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang terkandung pada racun antigen. Selain itu, Antibodi IgG memiliki kemampuan spesifik yang dapat menembus dan menyelip diantara sel-sel dan menyingkirkan bakteri yang masuk ke dalam sel dan kulit. Terkahir, Antibodi jenis ini juga dapat menembus masuk ke dalam plasenta ibu hamil untuk melindungi janin dari kemungkinan terjadinya infeksi. Kemampuan ini dimiliki oleh IgG karena ukuran molekulnya yang kecil.</div><div><strong>2. Imunoglobulin E (IgE)</strong></div><div>Immunoglobulin E beredar di dalam darah dan bertugas untuk memanggil pasukan lain untuk menyerang zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Antibodi jenis ini seringkali menyebabkan reaksi alergi dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, pada orang yang sedang terkena reaksi alergi, di dalam darahnya meningkat produksi daripada IgE.</div><div><strong>3. Imunoglobulin A (IgA)</strong></div><div>Immunoglobulin A memiliki kecendrungan yang besar untuk memilih lokasi penempatan di daerah-daerah tubuh yang lembab seperti air mata, ASI, air liur, darah, kantong-kantong udara, lender, getah lambung, dan sekresi usus. Hal ini dikarenakan sifatnya yang sama seperti bakteri yang menyukai area lebab untuk dijadikan markas.</div><div> </div><div>Selain itu, Antibodi jenis ini dapat melindungi janin dalam kandungan ibu agar terbebas dari kemungkinan masukny antigen yang dapat menyebabkan terganggunya tubuh janin. Akan tetapi, Antibodi IgA dalam tubuh ibu akan menghilang ketika bayi dilahirkan. Namun, akibat adanya kandungan IgA dalam air ASI, maka bayi tetap mendapat perlindungan.</div><div><strong>4. Imunoglobulin D (IgD)</strong></div><div>Antibodi ini juga terdapat di dalam darah, kelenjar getah bening, dan permukaan sel B. Antibodi IgD tidak mampu untuk bertindak secara sendiri-sendiri, akan tetapi mereka menempel dengan permukaan sel T, sehingga dapat membantu sel T menangkap antigen.</div><div><strong>3. Imunoglobulin M (IgM)</strong></div><div>Hampir sama seperti jenis Antibodi yang lain, Antibodi IgM juga terdapat di dalam darah, kelenjar getah bening, dan permukaan sel B. Imunoglobulin M merupakan jenis Antibodi pertama yang melakukan penyeranagn terhadap antigen bila ada antigen yang masuk.</div><div> </div><div>Janin di dalam rahim akan mendapat perlindungan dari IgM pada umur kehamilan sekitar 6 bulan. Produksi IgM akan meningkat apabila sedang bertarung melawan antigen. Maka dari itu, bila ingin melihat apakah janin telah terinfeksi atau tidak, bisa dengan melihat kadar IgM dalam darah.</div><div> </div><div> </div><div><strong>d.     Cara Kerja Antibodi</strong></div><div>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.</div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img width="319" height="277"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div><strong>a. Penetralan</strong></div><div>Antibodi menetralkan  racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.</div><div><strong> </strong></div><div><strong>b. Pengendapan (Presipitasi)</strong></div><div>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.</div><div><strong>c. Pelekatan</strong></div><div>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.</div><div><strong>d. Aktivasi Protein Komplemen</strong></div><div>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/276249337/596cf6499ad0cfd4b33c5655c73443f8/bio_logay.docx" />
         <pubDate>2018-03-27 09:44:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246411282</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nabila Hermawati &amp; Putri Nabila Haqi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246441926</link>
         <description><![CDATA[<div>SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA<br> </div><div><strong>A.</strong>  <strong>Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem dalam tubuh yang bekerja mempertahankan tubuh kita dari serangan suatu bibit penyakit atau patogen yang masuk ke dalam tubuh.<br> Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua yaitu pertahanan tubuh spesifik dan nonspesefik. <br> </div><div><strong>1.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik adalah sistem pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroorganisme patogen yang satu dengan yang lainnya, sistem ini merupakan sistem pertahanan pertama terhadap infeksi akibat masuknya mikroorganisme patogen atau benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div><strong>a.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal(Permukaan Tubuh)</strong></div><div><br></div><div>1)   Pertahanan secara fisik</div><div>Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat sehingga menyulitkan bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div>2)   Pertahanan secara mekanik</div><div>Pertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia, rambut hidung bertugas menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya maupun dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan, sedangkan silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.</div><div><br></div><div>3)   Pertahanan secara biologis</div><div>Pertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit dan membran mukosa, bakteri-bakteri tersebut berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi sehingga perkembangan bakteri patogen terhambat.</div><div><br></div><div>4)   Pertahanan secara kimia</div><div>Pertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang dapat membunuh bakteri, enzim lizosim dapat menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.</div><div><br></div><div><strong>b.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal</strong></div><div><br></div><div>1)   Inflamasi</div><div>Inflamasi adalah respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras. Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin. Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.</div><div><br></div><div>Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.</div><div><br></div><div>Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi, selanjutnya neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.</div><div><br></div><div>Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.</div><div><br></div><div>Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah menjadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis. Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia untuk menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya. Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.</div><div><br></div><div>Selain neutrofil dan monosit terdapat juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih). Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas namun memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang dapat menembus pertahanan cacing parasit.</div><div><br></div><div>Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.<a href="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s650/Capture+F567.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-nD1VKNh46RI/Uc2nN00d-OI/AAAAAAAAARY/OBHJNrNY-b8/s400/Capture+F567.JPG" width="400" height="156"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br></div><div><em>Proses pertahanan tubuh melalui inflamasi</em></div><div><br></div><div>Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.</div><div>1.   Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.</div><div>2.   Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)</div><div>3.   Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.</div><div>Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah. Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan.</div><div><br></div><div>1)   Protein Antimikrobia</div><div>Terdapat protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu protein komplemen yang terdiri dari sekitar 20 jenis protein. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, dapat memicu gelombang reaksi yang mengaktifkan gelombang komplemen yang lain.</div><div><br></div><div>Protein komplemen dapat membunuh bakteri penginfeksi dengan cara melubangi dinding dan membran plasma bakteri tersebut, hal ini menyebabkan ion Ca<sup>2+</sup> keluar dari bakteri sedangkan cairan dan garam-garam diluar bakteri masuk ke dalam bakteri dan membunuh bakteri tersebut.</div><div><a href="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-YPrf1sCAb0g/VTKBlx-96zI/AAAAAAAAAVw/4IN3v3_Bp_0/s1600/gambar%2B11-vert.jpg" width="470" height="602"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br></div><div><em>Cara kerja protein komplemen dalam menghancurkan bakteri</em></div><div><br></div><div>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu interferon yang dihasilkan dari sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Interferon dihasilkan ketika virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi dan sel-sel yang berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi.</div><div><br></div><div>2)   Respon tubuh terhadap Pertahanan Tubuh Nonspesifik</div><div>Akibat infeksi patogen tubuh merespon dengan terjadinya peradangan (inflamasi) dan demam. Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, atau gangguan fisik seperti benturan atau panas, inflamasi menimbulkan rasa sakit, panas, bengkak, serta kulit yang memerah.</div><div><br></div><div>Respon tubuh yang lain adalah demam dimana ditandai dengan suhu tubuh yang naik. Mikroorganisme patogen, substansi asing, serta sel-sel tubuh yang mati menghasilkan zat yang disebut pyrogenexogen yang merangsang monosit dan makrofag mengeluarkan zat pyrogen-endogen yang merangsang bagian otak hipotalamus menaikan suhu tubuh sehingga timbul perasaan suhu tubuh yang meningkat.</div><div><br></div><div>Suhu tubuh yang tinggi mengguntungkan karena patogen akan lemah dan mati pada suhu tinggi, selain itu metabolisme, reaksi kimia, serta sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan walaupun menimbulkan efek seperti pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh. </div><div><br> </div><div><strong>2.</strong>   <strong>Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh spesifik juga dikenal dengan sistem imun atau sistem kekebalan tubuh, jika patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik maka selanjutnya harus berhadapan dengan pertahanan tubuh spesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh.</div><div><br></div><div><strong>a.</strong>   <strong>Struktur Sistem Kekebalan Tubuh.</strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi.</div><div><br></div><div><strong>1)</strong>   <strong>Limfosit</strong></div><div>Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B(sel B) dan limfosit T(sel T). Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun jika diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.</div><div><br></div><div>a)   Sel B</div><div>Limfosit B terbentuk dan dimatangkan di dalam sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah menuju jaringan limfatik. Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:</div><div>(1) Sel B plasma, berfungsi untuk memproduksi antibodi.</div><div>(2) Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma jika terjadi infeksi kedua.</div><div>(3) Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak serta cepat.</div><div><br></div><div>b)   Sel T</div><div>Limfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut, sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung, sel T juga turut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :</div><div>(1) Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.</div><div>(2) Sel T pembantu (sel T penolong) berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya serta sel B plasma, serta mengaktifkan dapat mengaktifkan makrofag untuk melakukan fagositosis.</div><div>(3) Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>   <strong>Antibodi</strong></div><div>a)   Pengertian dan Fungsi Antibodi</div><div>Pada setiap mikroorganisme serta substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya terdapat senyawa protein yang berperan sebagai antigen, antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme serta substansi asing tersebut.</div><div><br></div><div>Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh untuk membentuk antibodi, antibodi adalah senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Antibodi bekerja secara spesifik untuk suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar hanya cocok untuk antibodi cacar.</div><div><br></div><div>b)   Struktur Antibodi</div><div>Pada antibodi setiap molekul tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.</div><div><br></div><div>Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.</div><div><br></div><div>c)   Pengelompokan Antibodi</div><div>Terdapat lima jenis antibodi yang dimiliki manusia yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Berikut penjelasannya.</div><div>1.   IgG (Immunoglobulin Gamma), adalah kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin serta disekresikan dalam kolostrum.</div><div>2.   IgM (Immunoglubulin-M) adalah jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama, IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.</div><div>3.   IgA (Immunoglobulin-A), antibodi jenis ini dapat mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.</div><div>4.   IgE (Immunoglobulin-E) merupakan antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan hanya sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.</div><div>5.   IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini tidak dapat mengaktikan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.<br><br><strong>Cara Kerja Antibodi</strong><br>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.<br><br>a. Penetralan<br>Antibodi menetralkan  racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<br><br>b. Pengendapan (Presipitasi)<br>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<br><br>c. Pelekatan<br>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><br>d. Aktivasi Protein Komplemen<br>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.</div><div><br></div><div><strong>b.</strong>   <strong>Respon Kekebalan Tubuh terhadap Antigen</strong></div><div>Respon kekebalan tubuh terhadap antigen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kekebalan tubuh humoral dan kekebalan tubuh seluler.</div><div><br></div><div>1)   Kekebalan Humoral</div><div>Imunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dengan antibodi yang berada dalam plasma darah dan cairan limfa dalam bentuk protein. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat, sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesifik terhadap antigen tertentu.</div><div><br></div><div>Antigen yang terikat akan mempermudah makrofag untuk lebih mudah menangkap dan menghancurkan patogen tersebut. Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :</div><div>1.   Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.</div><div>2.   Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya terhadap patogen.</div><div>3.   Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga mudah ditangkap makrofag.</div><div>4.   Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.</div><div><br></div><div>Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut respon kekebalan primer.</div><div><br></div><div>Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.</div><div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s650/Capture+394W.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-Hwqz981J1GU/Uc2m_jJD_5I/AAAAAAAAARM/d3I9eAVRu1k/s320/Capture+394W.JPG" width="320" height="218"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure> </a></div><div> </div><div><em>Grafik respon kekebalan primer dan sekunder</em></div><div><br></div><div>2)   Kekebalan Selular</div><div>Kekebalan selular diprakarsai sel T yang menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Ketika sel T membunuh kontak dengan antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkannya dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi telah berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respon kekebalan dengan cara menghambat kegiatan sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.</div><div><br></div><div><strong>2)</strong>   <strong>Jenis-Jenis Kekebalan Tubuh</strong></div><div><br></div><div>1)   Kekebalan Aktif</div><div>Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri dimana jika seseorang mengalami sakit karena infeksi patogen dan tubuh merespon dengan membuat antibodi, setelah sembuh antibodi tersebut dapat bertahan lama sehingga orang tersebut menjadi kebal terhadap penyakit tersebut, seperti contoh orang yang pernah sakit cacar air tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kali. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan aktif alami.</div><div><br></div><div>Selain itu terdapat juga kekebalan aktif buatan seperti dengan menyuntikan antigen bakteri, patogen, atau mikroba yang sudah tidak aktif cara ini dikenal dengan vaksinasi. Vaksinasi menyebabkan orang yang disuntik tersebut mendapatkan kekebalan karena tubuhnya akan membentuk antibodi.</div><div><br></div><div>2)   Kekebalan Pasif</div><div>Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar. Sebagai contoh kekebalan yang diperoleh bayi dari ibunya melalui air susu pertama (kolostrum) atau diperoleh bayi pada saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan jenis ini dinamakan kekebalan pasif alami.</div><div><br></div><div>Sedangkan kekebalan pasif buatan diperoleh dengan menyuntikan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain melalui serum, walaupun kekebalan pasif ini berlangsung singkat tapi berguna untuk penyembuhan secara cepat.</div><div><br>  </div><div><strong>B.</strong>  <strong>Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh</strong></div><div><br></div><div>Gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti sistem kekebalan tubuh dapat tidak berfungsi jika sistem ini bereaksi dengan molekul asing yang berlebihan. Beberapa contoh gangguan pada sistem kekebalan tubuh antara lain Alergi, autoimunitas dan AIDS.</div><div><br></div><div><strong>1.</strong>   <strong>Alergi</strong></div><div>Alergi adalah respon imun yang berlebihan terhadap suatu senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Reaksi alergi disebut juga dengan anaphylaxis. Senyawa yang dapat menimbulkan alergi adalah Alergen yang dapat berupa serbuk, debu, bulu hewan, gigitan serangga, serta jenis makanan tertentu.</div><div><br></div><div><br></div><div>Alergi diawali dengan proses masuknya alergen ke dalam tubuh yang merangsang sel-sel B plasma untuk mensekresikan antibodi yang biasanya dari kelas IgE. Pada awalnya alergen yang masuk ke tubuh tidak akan menimbulkan alergi tapi pada awal alergen yang masuk akan berikatan dengan mastosit. Hal ini menyebabkan ketika alergen untuk kedua kalinya masuk ke dalam tubuh akan terikat pada antibodi IgE yang telah berikatan dengan mastosit, keadaan inilah yang menyebabkan mastosit melepaskan histamin yang memperbesar dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah (inflamasi). Inflamasi menyebabkan timbulnya berbagai gejala alergi seperti bersin, gatal-gatal, pusing, dan kesulitan bernapas.</div><div><br></div><div><strong>2.</strong>   <strong>Autoimunitas</strong></div><div>Autoimunitas adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk menyerang sel-sel tubuh sendiri seolah-olah bukan merupakan bagian dari tubuh. Autoimunitas seringkali disebabkan gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus atau karena infeksi virus yang terjadi sebelum lahir yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibat autoimunitas banyak dijumpai kelainan-kelainan atau keabnormalan yang dapat dijumpai antara lain :</div><div>a.   Diabetes Mellitus, yaitu tipe I (<em>insulin-dependent diabetes mellitus), </em>dimana antibodi menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi hormon insulin sehingga menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi.</div><div>b.   Addison’disease, penyakit ini bisa disebabkan oleh infeksi pada kelenjar adrenalin namun juga bisa disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel hormon yang menghasilkan adrenalin. Akibat yang ditimbulkannya adalah mudah merasa lelah, kehilangan berat badan, rasa perasaan yang tertekan, kadar gula darah rendah dan pigmentasi kulit yang meningkat.</div><div>c.    Mysthenia gravis, disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik. Hal ini menyebabkan dergradasi otot dan berkurangnya kemampuan otot menangkap asetilkolin (zat yang dilepaskan saraf untuk memicu kontraksi otot), misalnya terjadi pada mata dimana posisi mata menjadi tidak simetris.</div><div><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s330/Capture+%25282%2529.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-1kSSqf1JZTs/Uc2m-l9TKzI/AAAAAAAAARE/EyCHCysUAUc/s200/Capture+%25282%2529.JPG" width="200" height="128"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br></div><div><em>Penderita Mysthenia gravis yang menyebabkan posisi mata tidak simetris</em></div><div><br></div><div>d.   Lupus erythematosus, yaitu keadaan dimana antibodi menyerang sel-sel tubuh yang lain sebagai sel asing dimana ketika kondisi tubuh melemah maka seranggan antibodi akan meningkat.</div><div><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s340/Capture+NG.JPG"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-Shm_JKHQCd8/Uc2nG3Z9I2I/AAAAAAAAARU/5Sn9Rx3jGoI/s200/Capture+NG.JPG" width="200" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><br><br></div><div><em>Ruam pada penderita Lupus erythematosus</em></div><div><br></div><div>e.   Multiple sclerosis,yaitu keadaan dimana antibodi menyerang jaringan saraf dan di tulang belakang dimana bagian saraf yang diserang adalah seludang mielin sebagai bagian yang melapisi sel saraf dan berperan dalam penghantaran informasi,hal ini menimbulkan berbagai gejala seperti gangguan penglihatan, pusing, depresi dan lain-lain.</div><div><br></div><div><strong>3.</strong>   <strong>AIDS</strong></div><div>AIDS (<em>acquired Immunodeficiency Syndrome) </em>adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (<em>Human Immunodeficiency Virus). </em>AIDS sendiri merupakan kumpulan dari berbagai penyakit.</div><div><br></div><div>AIDS disebabkan virus HIV yang menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi sel T lainnya serta sel B plasma. Ketika virus berhasil menginfeksi sel T virus menggunakan perangkat selnya untuk menggandakan diri setelah itu menembus membran sel kemudian menginfeksi sel T yang lain. Hal ini menyebabkan kemampuan tubuh melawan kuman penyakit menjadi berkurang.</div><div><br></div><div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s680/virus-aids.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-k-uCHUGfzKM/Uc2nit0zVxI/AAAAAAAAAR0/AUXTzqkAKoU/s400/virus-aids.jpg" width="400" height="191"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><em>Gambar dan Struktur Virus HIV</em></div><div><br></div><div><br></div><div>Sel T pembantu menjadi target utama virus HIV karena pada permukaan selnya terdapat molekul CD4 sebagai reseptor, dimana infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein (gp120) yang terdapat pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4. Pada orang normal jumlah sel T dalam tubuh sekitar 1000 sel/mm<sup>3</sup> , hal ini berbeda dengan orang yang menderita AIDS dimana jumlah sel T nya hanya sekitar 200 sel/mm<sup>3</sup>.</div><div><br></div><div>Virus HIV yang menyebabkan AIDS dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan banyak cara antara lain penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah dari penderita, serta hubungan seksual. Pada dasarnya penderita AIDS meninggal bukan karena virus HIV yang menyerangnya tapi karena melemahnya kekebalan tubuh maka beberapa penyakit bisa berakibat fatal bagi penderita AIDS, penyakit-penyakit itu seperti TBC, kanker darah, kanker, meningitis, harpes dan berbagai penyakit lainnya.</div><div><br></div><div><br> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-27 12:03:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246441926</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246443095</link>
         <description><![CDATA[<div>Muhammad Al Ghazali dan Muhammad Fadil Kelas XI IPS 2<br><br>A.Macam - macam Pertahanan Tubuh Pada Manusia<br>Pertahanan Tubuh Spesifik<br><br>Pertahanan tubuh spesifik dikenal juga dengan nama sistem kekebalan.</div><div>Respons kekebalan ini meliputi produksi protein pertahanan tubuh spesifik, disebut antibodi, yang dilakukan oleh limfosit. Limfosit dapat ditemukan di dalam sumsum tulang, pusat limfatik, kelenjar ludah, limpa, tonsil, dan persendian. Limfosit memiliki peran sangat penting untuk melawan penyakit-penyakit menular, seperti AIDS, kanker, rabies, dan TBC.<br><br>Ada dua macam limfosit, yaitu limfosit B dan limfosit T. Keduanya mengalami mengalami pembelahan sel yang cepat dalam menanggapi antigen spesifik, tetapi fungsi keduanya berbeda (walaupun saling bergantung).<br><br>Limfosit B dihasilkan oleh sel-sel batang (stem cells) di dalam sumsum tulang. Limfosit B dinamakan sel-sel B(berasal dari kata Bone marrow/ sumsum tulang). Sel-sel B memproduksi antibodi yang digunakan untuk menyerang musuh. Jumlah limfosit B atau sel B adalah 25% dari jumlah total limfosit tubuh.<br><br>Setelah diproduksi di sumsum tulang, sebagian limfosit bermigrasi ke kelenjar timus. Di dalam kelenjar timus, limfosit tersebut akan membelah diri dan mengalami pematangan. Limfosit ini dinamakan limfosit T karena berasal dari kelenjar timus. Limfosit T disebut juga sel T. Jumlahnya mencapai 70% dari seluruh jumlah limfosit tubuh. Sel T berfungsi sebagai bagian dari sistem pengawasan kekebalan.<br>Antibodi dan jenis-jenis Antibodi<br><br>Antibodi merupakan biomolekul yang tersusun atas protein dan dibentuk sebagai respons terhadap keberadaan benda-benda asing yang tidak dikehendaki di dalam tubuh kita. Benda-benda asing itu disebut antigen. Tiap kali ada benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh diperlukan 10-14 hari untuk membentuk antibodi. Antibodi dihasilkan oleh limfosit B atau sel-sel B. Antibodi digunakan untuk menetralkan atau menghancurkan antigen yang masuk ke dalam tubuh. Setiap detik sekitar 2.000 molekul antibodi diproduksi oleh sel-sel B. Salah satu contoh peristiwa yang melibatkan antibodi adalah ketika kulit kita terkena infeksi karena luka maka akan timbul nanah. Nanah itu merupakan limfosit atau sel-sel B yang mati setelah berperang melawan antigen.<br><br>Antibodi dapat ditemukan pada aliran darah dan cairan nonseluler. Antibodi memiliki struktur molekul yang bersesuaian dengan antigen secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya. Tiap jenis antibodi spesifik terhadap antigen jenis tertentu.<br><br>1. Jenis-jenis Antibodi<br><br>Antibodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk melindungi tubuh lewat proses kekebalan (immune). Ada lima macam immunoglobulin, yaitu IgG, IgM, IgA, IgE, dan IgD.<br><br>a. Immunoglobulin G (IgG)<br><br>IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi. Senyawa ini memiliki efek kuat antibakteri maupun virus, serta menetralkan racun. IgG juga mampu menyelinap diantara sel-sel dan&nbsp; menyingkirkan mikroorganisme yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuan serta ukurannya yang kecil, IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi janin dari kemungkinannya infeksi yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya immunoglobulin dalam kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kali keluar), memberikan perlindungan kepada bayi terhadap infeksi sampai sistem kekebalan bayi dapat menghasilkan antibodi sendiri.<br><br>Immunoglobulin A (IgA)<br><br>Immunoglobulin A atau IgA ditemukan pada bagian-bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus. IgA juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.<br><br>Antibodi ini melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi yang baru lahir.<br><br>c. Immunoglobulin M (IgM)<br><br>Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.<br><br>Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.<br><br>d. Immunoglobulin D (IgD)<br><br>Immunoglobulin D atau IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B, tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel-sel T menangkap antigen.<br><br>e. Immunoglobulin E (IgE)<br><br>Immunglobulin E atau IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit, misalnya skistosomiasis, yang banayk ditemukan di negara-negara berkembang.<br>Sistematika kerja Antibodi<br><br>Cara Kerja Antibodi<br><br>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.<br><br>a. Penetralan<br><br>Antibodi menetralkan&nbsp; racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<br><br>b. Pengendapan (Presipitasi)<br><br>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<br><br>c. Pelekatan<br><br>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><br>d. Aktivasi Protein Komplemen<br><br>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.<br><br><br><br><br>Pertahanan Tubuh tidak Spesifik Eksternal<br><br>Pertahanan tubuh tidak spesifik eksternal meliputi kulit dan lapisan mukosa berbagai organ.<br><br>1) Kulit<br><br>Fungsi kulit bagi pertahanan tubuh di samping berfungsi melindungi tubuh dari panas, dingin, dan sinar matahari, kulit juga memiliki kemampuan untuk melindungi tubuh dari mikroorganisme yang merugikan. Fungsi perlindungan utama kulit diwujudkan lewat lapisan sel mati yang merupakan bagian terluar kulit. Setiap sel baru yang dihasilkan oleh pembelahan sel bergerak dari bagian dalam kulit menuju ke permukaan luar.<br><br>Sel-sel kulit juga mampu menghasilkan protein kuat yang disebut keratin. Senyawa keratin mempunyai struktur yang sangat kuat dan keras sehingga sulit didekomposisi oleh berbagai mikroorganisme patogen. Keratin tersebut terdapat pada sel-sel mati yang selalu lepas dari permukaan kulit dan digantikan oleh sel-sel berkeratin yang baru. Sel-sel baru yang berasal dari bawah menggantikan sel-sel yang sudah usang sehingga membentuk penghalang yang tidak dapat tembus.<br><br>Kulit selain memberikan perlindungan secara fisik, kulit juga memberi perlindungan secara kimia. Kulit menghasilkan keringat dan minyak yang memberikan suasana asam pada kulit. Hal itu dapat mencegah tumbuhnya mikroorganisme patogen pada kulit. Keringat menyediakan zat makanan bagi bakteri dan jamur tertentu yang hidup sebagai mikroflora normal pada kulit dan menghasilkan bahan-bahan sisa bersifat asam, seperti asam laktat, yang membantu menurunkan tingkat pH (keasaman) kulit. Media bersifat asam di permukaan kulit ini menciptakan lingkungan tidak bersahabat bagi mikroorganisme berbahaya.<br><br>Bagaimana jika kulit terluka? Kulit yang terluka merupakan salah satu jalan masuknya mikroba asing ke dalam tubuh. Meskipun demikian, kulit juga memiliki respon untuk segera memperbaiki jaringan kulit yang terluka secara cepat. Ketika terjadi luka, sel-sel pertahanan tubuh akan segera bergerak ke daerah luka untuk memerangi mikroba asing serta membuang sisa-sisa jaringan yang sudah rusak. Kemudian, sejumlah sel pertahanan lainnya akan memproduksi benang-benang fibrin, yaitu suatu protein yang berfungsi untuk menutup kembali luka.<br><br>Sel-sel darah merah terperangkap dalam anyaman benang-benang fibrin.<br>2) Membran Mukosa<br><br>Semua saluran tubuh yang memiliki kontak langsung dengan lingkungan luar, seperti saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran ekskresi, ataupun saluran reproduksi selalu memiliki organ-organ yang dilapisi oleh lapisan mukosa. Lapisan mukosa yang terdapat pada berbagai saluran tadi memiliki fungsi penting dalam mencegah masuknya berbagai mikroba asing yang berbahaya.<br><br>Saluran pencernaan merupakan salah satu pintu gerbang masuknya berbagai mikroba asing ke dalam tubuh. Mereka masuk ke dalam tubuh bersamaan dengan makanan yang kita makan. Mikroba yang masuk bersama makanan dan sampai di lambung akan mendapat “kejutan” yang berupa asam klorida (HCl) atau asam lambung yang dihasilkan oleh lapisan mukosa lambung. Asam lambung menyebabkan sebagian besar mikroba asing yang masuk ke lambung tidak dapat bertahan hidup. Sebagian mikroba asing tersebut mungkin berhasil selamat dari pengaruh asam lambung atau karena mereka mempunyai daya tahan terhadap asam lambung. Meskipun begitu, mikroba yang lolos itu akan segera menghadapi berbagai enzim pencernaan di usus halus.<br><br>Lapisan mukosa yang terdapat pada saluran respirasi, misalnya trakea, juga merupakan pertahanan tubuh yang sangat penting. Lapisan mukosa pada trakea menghasilkan mukus yang berupa cairan kental yang berguna untuk menjerat mikroba asing ataupun partikel asing lainnya yang masuk bersama udara pernapasan. Di samping itu, pada lapisan mukosa trakea terdapat sel-sel epitel bersilia yang dapat bergerak untuk mengeluarkan mukus yang sudah membawa mikroba agar tidak menuju paru- paru.<br><br>Pada mata terdapat kelenjar penghasil air mata yang banyak mengandung enzim lisozim. Enzim ini dapat merusak dinding sel bakteri sehingga bakteri tdiak dapat menginfeksi mata.<br><br>Di samping menyediakan pertahanan fisik dan kimiawi, pada kulit dan lapisan mukosa juga terdapat mikroorganisme. Mikroorganisme ini dikenal dengan istilah mikroflora normal. Mereka tidak membahayakan tubuh kita, justru secara tidak langsung menguntungkan karena turut membantu sistem pertahanan tubuh kita. Banyak mikroorganisme lain yang tidak merugikan yang hidup dalam tubuh manusia.<br><br>Mikroorganisme tersebut memberikan dukungan bagi sistem pertahanan tubuh dengan cara mencegah mikroba asing berdiam dan berkembang biak di dalam tubuh karena masuknya mikroba asing tersebut merupakan ancaman bagi mikroflora normal tubuh.<br><br>Pertahanan Tubuh tidak Spesifik Internal<br><br>Pertahanan tubuh tidak spesifik internal terdiri atas aksi fagositosis, respon peradangan, dan senyawa antimikroba.<br><br>1) Fagositosis<br><br>Fagositosis merupakan mekanisme penelanan benda asing, terutama mikroba, oleh sel-sel tertentu, khususnya sel-sel darah putih. Berbagai sel yang dapat melakukan fagositosis, antara lain neutrofil, monosit, makrofag, dan eosinofil.<br><br>Fagositosis bakteri oleh makrofag<br><br>2) Respons Peradangan<br><br>Peradangan adalah tanggapan atau respons cepat setempat terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan oleh teriris, tergigit, tersengat, ataupun infeksi mikroorganisme. Tanda-tanda suatu bagian tubuh mengalami peradangan, antara lain berwarna kemerahan, terasa nyeri, panas, dan membengkak.<br><br>Terjadinya peristiwa peradangan, adanya daerah yang terluka dan terinfeksi mikroba akan menyebabkan pembuluh darah arteriola prakapiler mengalami dilatasi (pelebaran serta peningkatan permeabilitas) dan pembuluh venula pascakapiler menyempit. Hal itu akan meningkatkan aliran darah pada daerah yang terluka sehingga bagian tersebut meningkat suhunya dan berwarna kemerahan. Sementara itu, pembengkakan (edema) pada bagian yang meradang disebabkan oleh meningkatnya cairan yang keluar dari jaringan akibat peningkatan permeabilitas kapiler darah. Pelebaran dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah itu dipicu oleh senyawa kimia histamin. Sumber utama histamin adalah sel-sel mast (sel-sel besar pada jaringan ikat) dan basofil dalam darah. Keduanya bersama-sama dengan keping darah. Keduanya bersama-sama dengan keping-keping darah melekat pada pembuluh darah yang rusak.<br><br>Pelebaran diameter dan permeabilitas pembuluh darah akan meningkatkan laju aliran darah dan unsur-unsur pembekuan darah (keping-keping darah) ke daerah yang mengalami luka atau infeksi. Pembekuan darah tersebut berfungsi untuk mentolerir mikroba penginfeksi agar tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kerusakan jaringan juga mengirimkan senyawa kemokin yang berfungsi memanggil sel-sel fagosit untuk segera datang ke daerah yang terluka tersebut.<br><br>Pada respons peradangan, fagosit yang pertama kali berperan adalah neutrofil dan diikuti monosit yang berubah menjadi makrofag. Neutrofil akan memangsa mikroba patogen. Neutrofil dapat mendeteksi kehadiran mikroba karena mikroba itu telah diselubungi oleh opsonin. Opsonin adalah antibodi lain yang dibentuk dalam aliran darah atau komplemen protein khusus yang diaktifkan oleh kehadiran mikroba. Begitu opsonin melekat pada mikroba, mikroba tersebut ditelan dan dicerna oleh neutrofil. Sementara itu, di samping memangsa mikroba patogen, makrofag juga berfungsi membersihkan sisa-sisa jaringan yang rusak dan sisa-sisa neutrofil yang mati.<br><br>3) Senyawa Antimikroba<br><br>Protein antimikroba yang berperan dalam pertahanan tidak spesifik ini adalah protein komplemen dan interferon. Cara kerja antimikroba ini terutama adalah untuk menghancurkan sel-sel mikroba yang masuk atau untuk menghambat agar mikroba asing tersebut tidak dapat bereproduksi.<br>Protein Komplemen<br><br>Protein Komplemen merupakan agen antimikroba yang terdiri atas sekitar 20 protein serum. Di dalam tubuh, senyawa ini berada dalam kondisi tidak aktif. Adanya infeksi mikroba akan mengaktifkan protein pertama dan dan selanjutnya akan mengaktifkan protein kedua, demikian seterusnya, melalui serangkaian reaksi yang berurutan. Protein komplemen yang telah aktif akan bekerja secara sistematis untuk melisiskan berbagai mikroba pengifeksi.<br><br>b) Interferon<br><br>Interferon merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh makrofag sebagai respon adanya serangan virus yang masuk ke dalam tubuh. Interferon merupakan senyawa antivirus yang bekerja menghancurkan virus dengan cara menghambat perbanyakan virus dengan cara menghambat perbanyakan virus dalam sel-sel tubuh.<br><br><br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-03-27 12:07:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/246443095</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rilanda Virasma Meiprita &amp; Siti Aminah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/252452366</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-17 07:53:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/252452366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rilanda Virasma &amp; Siti Aminah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/252576832</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><em>Sistem pertahanan (kekebalan) tubuh manusia</em></strong><strong><br>Sistem kekebalan</strong> atau <strong>imunitas</strong> adalah suatu sistem pertahanan yang digunakan untuk melindungi tubuh dari infeksi penyakit atau kuman. Penyakit atau kuman ini berupa protein asing yang berbeda dari protein tubuh kita, dan sering disebut <strong>antigen</strong>. Karena dianggap sesuatu yang asing, maka antigen ini harus disingkirkan, dinetralisir, atau dihancurkan. Yang bertugas melakukan ini salah satunya adalah sistem pertahanan tubuh yang dikenal dengan <strong>antibodi<br><br>MACAM - MACAM SISTEM PERTAHAN TUBUH<br><br></strong>Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua, yaitu <em>pertahanan tubuh nonspesifik</em> dan <em>pertahanan tubuh spesifik</em>. Saat akan menginfeksi tubuh, mikrobia penyebab penyakit dan benda asing&nbsp; harus melalui sistem pertahanan tubuh nonspesifik terlebih dahulu. Jika sistem pertahanan tubuh nonspesifik tidak mampu menghancurkannya, zat penginfeksi tersebut akan menghadapi sistem pertahanan tubuh spesifik<br><br><strong><em>Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik</em></strong>&nbsp;</div><div>Sistem pertahanan tubuh nonspesifik merupakan pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikroba patogen satu dengan yang lainnya. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik melibatkan beberapa jaringan tubuh dalam melawan patogen. Mekanisme sistem pertahanan tubuh nonspesifik diperoleh melalui beberapa cara berikut.</div><div><br></div><div>Pertahanan yang terdapat di permukaan tubuh</div><div>Pertahanan yang terdapat di permukaan tubuh berupa pertahanan fisik, pertahanan mekanis, pertahanan kimiawi, dan pertahanan biologis.</div><div><br><strong>Pertahanan Fisik</strong></div><div>Pertahanan tubuh secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yang berfungsi menghalangi masuknya patogen ke dalam tubuh. Pertahanan ini dilakukan oleh kulit dan membran mukosa. Lapisan terluar kulit terdiri atas sel-sel epitel yang tersusun rapatsehingga patogen sulit menembusnya. Lapisan terluar kulit mengandung keratin dan sedikit air sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran kelamin juga dilapisi oleh membran mukosa yang berfungsi menghalangi masuknya patogen.<br><br><strong>Pertahanan Mekanis</strong><br>Pertahanan tubuh secara mekanis dilakukan oleh rambut hidung dan silia pada trakea. Rambut hidung berfungsi menyaring udara yang dihirup dari partikel-partikel berbahaya maupun mikrobia. Adapun silia yang terdapat pada trakea berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir agar dapat dikeluarkan dari tubuh.<br><strong><br>Pertahanan Kimiawi</strong><br>Pertahanan tubuh secara kimiawi dilakukan oleh sekret yang dihasilkan kulit dan membran mukosa. Sekret tersebut mengandung zat-zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia, contohnya minyak dan keringat. Kedua sekret tersebut memberikan suasana asam (pH 3-5) sehingga mencegah pertumbuhan mikroorganisme di kulit. Adapun air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa (mukus) mengandung enzim lisozim yang dapat membunuh bakteri. Enzim tersebut menghidolisis dinding sel bakteri sehingga pecah dan mati. <br><br><strong>Pertahanan Biologi</strong> <br>Pertahanan tubuh secara biologi dilakukan oleh populasi bakteri tidak berbahaya yang hidup di kulit dan membran mukosa. Bakteri-bakteri tersebut melindungi tubuh dengan cara berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi. <br><br><strong><em>Respon peradangan (inflamasi)</em></strong><br>Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap kerusakan jaringan, misal akibat tergores atau benturan keras. Proses inflamasi merupakan kumpulan dari empat gejala sekaligus yaitu <em>dolor </em>(nyeri), <em>rubor </em>(kemerahan), <em>calor </em>(panas), <em>tumor </em>(bengkak). <br><br>mekanisme pertahanan tubuh melalui inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.&nbsp; <strong><em>&nbsp;</em></strong>&nbsp;</div><ol><li>Jaringan mengalami luka. Adanya kerusakan jaringan mengakibatkan patogen mampu melewati pertahanan tubuh untuk menginfeksi sel-sel tubuh. Jaringan yang terinfeksi akan merangsang mastosit mengeluarkan histamin dan prostaglandin.</li><li>Terjadi pelebaran pembuluh darah (<em>vasodilatasi</em>) yang mengakibatkan peningkatan kecepatan aliran darah sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat. Daerah yang terinfeksi menjadi berwarna kemerahan, panas, bengkak, dan terasa nyeri. Peningkatan kecepatan aliran darah dan permeabilitas pembuluh darah mengakibatkan terjadinya perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil dan monosit) menuju jaringan yang terinfeksi.</li><li>Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen melalui proses fagositosis.</li></ol><div>Inflamasi bertugas mencegah infeksi menyebar ke jaringan lain serta mempercepat proses penyembuhan. Reaksi tersebut juga berfungsi sebagai sinyal adanya bahaya dan sebagai perintah agar sel darah putih (neutrofil dan monosit) melakukan fagositosis terhadap mikrobia yang menginfeksi tubuh.<br><br><strong><em>Fagositosis </em></strong><br>Fagositosis adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan sel-sel fagosit dengan jalan mencerna mikrobia/partikel asing. Sel fagosit terdiri atas dua jenis, yaitu fagosit mononuklear dan polimorfonuklear. Contoh fagosit mononuklear adalah monosit (dalam darah) dan jika bermigrasi ke jaringan akan berperan sebagai makrofag. Contoh fagosit polimorfonuklear adalah granulosit, yaitu neutrofil, eusinofil, basofil, dan <em>cell mast</em>(mastosit). Sel-sel fagosit akan bekerja sama setelah memperoleh sinyal kimiawi dari jaringan yang terinfeksi patogen.<br><br></div><div>Setelah infeksi tertanggulangi, beberapa neutrofil akhirnya mati seiring dengan matinya jaringan dan sel bakteri. Nanah yang menumpuk di lokasi beberapa infeksi sebagian besar terdiri atas sel-sel fagositik mati dan cairan serta protein yang bocor dari kapiler darah selama respon peradangan.<br><br><strong><em>Sel Natural Killer (Sel NK)</em></strong><br>Pertahanan nonspesifik juga meliputi sel pembunuh alami (<em>natural killer, </em>NK). Sel NK tidak menyerang mikroorganisme secara langsung, alih-alih mereka merusak sel tubuh yang diserang oleh virus dan juga sel-sel abnormal yang dapat membentuk tumor. Sel NK tidak bersifat fagositik, melainkan menyerang membran sel sehingga sel tersebut lisis (pecah).<br><br><br><strong><em>Protein Antimikroba</em></strong><br>Salah satu protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik yaitu protein komplemen. Protein komplemen membunuh bakteri penginfeksi dengan cara membentuk lubang pada dinding sel dan membran plasma bakteri tersebut. Hal ini mengakibatkan ion-ion Ca2+ keluar dari sel bakteri. Sementara itu, cairan dan garam-garam daro luar bakteri akan masuk ke sel bakteri. Masuknya cairan dan garam mengakibatkan sel bakteri hancur.<br><br>Jenis protein lain yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik yaitu interferon. Interferon dihasilkan oleh sel-sel yang terinfeksi virus. Senyawa tersebut dihasilkan ketika virus memasuki tubuh tidak melalui pembuluh darah, melainkan melalui kulit dan selaput lendir. Selanjutnya interferon akan berikatan dengan sel-sel yang tidak terinfeksi. Sel-sel yang telah berikatan dengan interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi virus. Dengan demikian, serangan virus dapat dicegah.&nbsp;<br><br></div><div><strong><em>Sitem Pertahanan Tubuh Spesifik</em></strong></div><div>Sistem pertahanan tubuh spesifik merupakan pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke tubuh. Sistem ini bekerja apabila patogen telah berhasil melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik disebut juga dengan sistem kekebalan tubuh atau sistem imun. Sistem kekebalan tubuh terbentuk karena adanya peran antigen dan antibodi. Pertahanan tubuh secara spesifik dilakukan oleh <em>antibodi</em> yang dibentuk oleh <em>limfosit</em>karena adanya <em>antigen</em> yang masuk ke tubuh.&nbsp;</div><div><br></div><div>LIMFOSIT</div><div>Limfosit terdiri atas dua tipe, yaitu limfosit B (sel B) dan limfosit T (sel T).</div><div><br></div><div>Sel B</div><div><br></div><div>"B" sebenarnya berasal dari kata <em>Bursa Fabrisius</em>, yaitu sebuah organ unik bagi unggas tempat sel B unggas mengalami pematangan dan tempat dimana limfosit B pertama kali ditemukan. Akan tetapi karena sel B semua vertebrata lain berkembang dalam sumsum tulang (<em>bone marrow</em>), "B" bisa diartikan "<em>bone</em>" maupun <em>"bursa".</em><strong><em>&nbsp;</em></strong></div><div><br></div><div>Sel B berperan dalam pembentukan kekebalan humoral dengan membentuk antibodi. Sel B dapat dibedakan menjadi 3 jenis berikut.<strong><em>&nbsp;</em></strong></div><ol><li>Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat (memori).</li><li>Sel B plasma, berfungsi membentuk antibodi.</li><li>Sel B pengingat (memori), berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke tubuh serta menstimulasi pembentukan sel B plasma jika terjadi infeksi kedua.</li></ol><div>Sel T</div><div>"T" berasal dari kata timus, yaitu suatu kelenjar dalam rongga dada di atas jantung yang berperan dalam pematangan limfosit T setelah diproduksi di sumsum tulang.&nbsp;</div><div>Sel T berperan dalam pembentukan kekebalan seluler yaitu dengan cara menyerang sel penghasil antigen secara langsung. Sel T juga ikut membantu produksi antibodi oleh sel B plasma. Sel T dapat dibedakan menjadi tiga jenis berikut.</div><ol><li>Sel T sitotoksik, berfungsi menyerang patogen yang masuk ke tubuh, sel tubuh yang terinfeksi, serta sel kanker secara langsung.</li><li>Sel T <em>helper</em>, berfungsi menstimulasi pembentukan jenis sel T lainnya dan sel B plasma serta mengaktivasi makrofag untuk melakukan fagositosis.</li><li>Sel T supresor, berfungsi menurunkan dan menghentikan respon imun dengan cara menurunkan produksi antibodi dan mengurangi aktivitas sel T sitotoksik. Sel T supresor akan bekerja setelah infeksi berhasil ditangani.</li></ol><div><br>ANTIBODI/IMMUNOGLOBULIN/Ig</div><div>Antibodi akan dibentuk oleh tubuh ketika ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Antigen merupakan senyawa protein yang terdapat pada patogen sel asing atau sel kanker. Antibodi disebut juga immunoglobulin atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk melindungi tubuh melalui proses kekebalan (<em>immune</em>). Antibodi merupakan senyawa protein yang berfungsi melindungi tubuh dengan cara mengikat antigen tersebut. Selanjutnya sel asing yang antigennya telah diikat oleh antibodi akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Suatu antibodi bekerja spesifik untuk antigen tertentu.&nbsp;<br><br>Antibodi tersusun dari dua macam rantai polipeptida yang identik, yaitu dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi tersebut dihubungkan satu sama lain oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya seperti huruf Y. Setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen.&nbsp;</div><div><br>Berdasarkan cara mendapatkan imun atau kekebalan, dikenal dua macam kekebalan, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif.<br><br>Kekebalan aktif terjadi jika seseorang kebal terhadap suatu penyakit setelah diberikan vaksinasi dengan suatu bibit penyakit. Jika kekebalan itu diperoleh setelah orang sakit karena infeksi kuman penyakit, maka disebut kekebalan aktif alami. <br><br>Kekebalan pasif misalnya adalah bayi yang memperoleh kekebalan (antibodi) dari ibunya saat masih berada dalam kandungan. Kekebalan pasif setelah bayi lahir misalnya dilakukan suntikan dengan serum yang mengandung antibodi, misalnya ATS (Anti Tetanus Serum). Selain itu, jenis kekebalan ini juga dapat diperoleh dari pemberian air susu pertama (kolostrum) yang mengandung banyak antibodi.<br><br>Berikut ini,&nbsp; <strong>lima</strong> <strong>jenis Antibodi dalam tubuh</strong>yaitu&nbsp; IgA, IgE, IgD, IgG, dan IgM,<br><br><strong>1. Immunoglobulin A (IgA)</strong><br><br>Terdapat pada beberapa bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata,<a href="http://www.jendelacito.info/2014/09/kriteria-gawat-darurat-paru-paru-yang-ditanggung-bpjs.html"> paru-paru</a>, dan usus. <strong>Immunoglobulin A (IgA)</strong> juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.<br><br><strong>Jenis antibodi</strong> ini juga melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi yang baru lahir.<br><br><strong>2. Immunoglobulin D (IgD)</strong><br><br><strong>Jenis antibodi </strong>Immunoglobulin D atau IgD merupakan antibodi yang jumlahnya yang sangat sedikit terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen.<br><br><strong>3. Immunoglobulin E (IgE)</strong><br><br>Immunglobulin E atau IgE merupakan <strong>jenis antibodi dalam tubuh</strong> yang beredar dalam aliran darah dan terlibat dalam mempertahankan tubuh terhadap parasit dan alergen. Jenis antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi <a href="http://www.jendelacito.info/2014/01/9-macam-alergi-yang-unik.html">alergi</a> akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang mengalami alergi biasanya memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit,<br><br><strong>4. Immunoglobulin G (IgG)</strong><br><br><strong>Jenis antibodi</strong> IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. Senyawa ini akan terbawa aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.<br><br><strong>Jenis antibodi dalam tubuh</strong> ini memiliki efek kuat sebagai antibakteri maupun <a href="http://www.jendelacito.info/2014/08/5-virus-yang-sama-mematikannya-dengan-virus-ebola.html">virus</a>, serta menetralkan racun. IgG juga mampu menyelinap diantara sel-sel dan&nbsp; menyingkirkan mikroorganisme yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit.<br><br><strong>Jenis antibodi dalam tubuh</strong> IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi janin dari kemungkinannya infeksi yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya immunoglobulin dalam kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kali keluar), memberikan perlindungan kepada bayi terhadap <a href="http://www.jendelacito.info/2014/04/4-macam-media-penularan-penyakit-infeksi.html">infeksi</a> sampai sistem kekebalan bayi dapat menghasilkan antibodi sendiri.<br><br><strong>5. Immunoglobulin M (IgM)</strong><br><br>Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.<br><br><a href="http://www.jendelacito.info/2014/08/menebak-jenis-kelamin-janin-dari-gerakan-di-kandungan.html">Janin dalam kandungan </a>mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. <strong>Jenis antibodi</strong> IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.<br><br><strong>Cara Kerja Antibodi<br></strong><br></div><div>Antibodi bekerja menghancurkan antigen melalui beberapa cara, yaitu penetralan, pengendapan, pelekatan, dan aktivasi protein komplemen.<br><br></div><div><strong>a. Penetralan<br></strong><br></div><div>Antibodi menetralkan&nbsp; racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri (antigen) dan menjadikannya tidak berbahaya sehingga dapat disekresi dari tubuh melalui tubulus-tubulus ginjal.<br><br></div><div><strong>b. Pengendapan (Presipitasi)<br></strong><br></div><div>Antibodi mengendapkan molekul-molekul antigen dengan cara menjadikan mereka membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak larut. Dalam bentuk demikian, antigen-antigen dapat ditelan oleh sel-sel fagosit, dicerna, dan dijadikan tidak berbahaya.<br><br></div><div><strong>c. Pelekatan<br></strong><br></div><div>Antibodi melekat pada sel-sel mikroorganisme (antigen) sebagai opsonin sehingga antigen tersebut dapat difagosit dan dihancurkan oleh neutrofil.<br><br></div><div><strong>d. Aktivasi Protein Komplemen<br></strong><br></div><div>Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dalam plasma, melekat pada dinding sel antigen, dan mengidentifikasi mereka untuk sel-sel T.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-04-17 14:00:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/aarimurti/dy621ofprwq8/wish/252576832</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
