<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>REVIEW ARTIKEL PENGUKURAN MODAL SOSIAL 5A by Aya Hidayati</title>
      <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi</link>
      <description>Penugasan Untuk Pertemuan 12- Bergabunglah dalam kelompok diskusi yang sebelumnya telah dibentuk- Carilah artikel modal sosial yang dianalisis dengan pendekatan kuantitatif- Bacalah artikel tersebut, temukan beberapa hal berikut.Perspektif apa yang digunakan dalam mengukur modal sosial di artikel tersebut (Perspektif jaringan atau struktur sosial)? jelaskan! Level analisis apa yang digunakan dalam mengukur modal sosial di artikel tersebut (individu/kelompok/komunitas)? jelaskan ! Uraikan indikator-indikator apa saja yang diukur di dalam penelitian tersebut disertai dengan teori apa yang digunakannya! Deadline pengumpulan 11 November 2024.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-11-04 01:46:16 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-11-13 03:50:56 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Nomor Urut Kelompok - Judul Artikel</title>
         <author>ayahidayati87</author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3199569065</link>
         <description><![CDATA[<p>Upload File atau Link di atas ^</p><p>Pembahasannya ketik di sini. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:59:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3199569065</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4 -Judul : Pengaruh Modal Sosial Pedagang terhadap ketahanan sosial keluarga</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3199659835</link>
         <description><![CDATA[<p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://jim.usk.ac.id/FISIP/article/download/27458/13663">https://jim.usk.ac.id/FISIP/article/download/27458/13663</a></p><p><br></p><p>1.Perspektif yang Digunakan dalam Mengukur Modal Sosial </p><p>Artikel tersebut menggunakan perspektif jaringan sosial dalam mengukur modal sosial. Hal ini terlihat dari fokus penelitian pada hubungan interpersonal antara pedagang perempuan, norma-norma, dan jaringan sosial yang terbentuk di antara mereka. Menurut teori modal sosial oleh Robert Putnam yang digunakan dalam penelitian ini, jaringan sosial adalah elemen kunci yang memfasilitasi kolaborasi dan interaksi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketahanan sosial keluarga. Pemahaman ini menekankan pentingnya hubungan dan interaksi sosial dalam membangun modal sosial. Dengan jaringan yang kuat para pedagang dapat saling membantu,berbagi informasi, dan menjaga stabilitas ekonomi satu ssma lain yang pada akhirnya meningkatkan ketahanan sosial mereka. </p><p>2. Level Analisis yang Digunakan </p><p>Level analisis yang digunakan dalam artikel ini adalah kelompok. Penelitian ini berfokus pada pedagang perempuan di Pasar Cureh, Kabupaten Bireuen, dan menganalisis bagaimana modal sosial di antara kelompok tersebut mempengaruhi ketahanan sosial keluarga. Meskipun respons individu juga diukur, analisis lebih mendalam dilakukan pada interaksi dan hubungan di dalam kelompok pedagang, sehingga memberikan gambaran tentang dinamika sosial yang ada dalam komunitas tersebut. </p><p>3. Indikator-Indikator yang Diukur dan Teori yang Digunakan </p><p>Penelitian ini mengukur beberapa indikator modal sosial, yaitu: </p><p>- Kepercayaan (Trust): Mengukur tingkat kepercayaan pedagang perempuan terhadap satu sama lain, termasuk kesiapan untuk saling membantu. </p><p>- Norma: Mengukur sejauh mana norma sosial mempengaruhi perilaku pedagang dalam membagi waktu antara bekerja dan urusan rumah tangga. </p><p>- Jaringan (Network): Mengukur hubungan antar pedagang, termasuk dukungan yang diterima dari anggota jaringan sosial mereka. </p><p>- Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modal sosial oleh Robert Putnam, yang menekankan bahwa modal sosial terbentuk melalui interaksi sosial, norma, dan jaringan yang ada dalam suatu komunitas. Putnam berargumen bahwa keberadaan jaringan sosial dan norma yang saling mendukung dapat meningkatkan kinerja sosial dan ekonomi anggota komunitas. </p><p><br></p><p>Kesimpulan :</p><p>Artikel ini menunjukkan bahwa modal sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan sosial keluarga pedagang perempuan di Pasar Cureh, Kabupaten Bireuen. Melalui jaringan sosial, kepercayaan, dan norma yang terbentuk di antara mereka, para pedagang perempuan dapat saling mendukung dan membangun ketahanan keluarga yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang memberikan pemahaman yang jelas tentang hubungan antara modal sosial dan ketahanan sosial.</p><p>Tanggapan :</p><p>Kami mengapresiasi penelitian ini karena memberikan wawasan penting mengenai peran modal sosial dalam mendukung ketahanan keluarga, terutama di kalangan perempuan. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan yang lebih baik untuk mendukung pedagang perempuan, serta meningkatkan upaya pemberdayaan ekonomi mereka. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat lebih memperdalam aspek-aspek yang mempengaruhi modal sosial, termasuk faktor eksternal yang dapat berkontribusi pada keberhasilan mereka.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 02:55:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3199659835</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 6                                      Modal Sosial Nelayan Suku Duano dalam Skala Usaha Perikanan Tangkap</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3200320945</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>1. Dalam artikel tersebut, perspektif yang digunakan dalam mengukur modal sosial adalah perspektif jaringan. Hal ini terlihat dari penekanan pada hubungan antar individu dalam komunitas nelayan Suku Duano, di mana modal sosial diartikan sebagai aset penting yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan jenis usaha perikanan melalui kepercayaan, kerja sama, dan partisipasi. Perspektif jaringan dalam mengukur modal sosial merujuk pada cara memahami hubungan antar individu dalam suatu komunitas dan bagaimana hubungan tersebut mempengaruhi interaksi sosial serta hasil ekonomi. Dalam konteks penelitian tentang nelayan Suku Duano, perspektif ini digunakan untuk menganalisis bagaimana kepercayaan, kerja sama, dan partisipasi di antara nelayan dapat mempengaruhi skala usaha perikanan mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal sosial nelayan Suku Duano berada dalam kategori rendah, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk membangun jaringan kerja sama yang lebih luas dengan nelayan dari suku lain atau masyarakat di luar daerah mereka. Perspektif jaringan ini sering kali dikaitkan dengan teori yang dikembangkan oleh para ahli seperti Pierre Bourdieu dan Robert Putnam. Bourdieu mengemukakan bahwa modal sosial terdiri dari jaringan hubungan yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan sosial dan ekonomi. Sementara itu, Putnam menekankan pentingnya kepercayaan dan norma dalam membangun jaringan sosial yang kuat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan komunitas. Dalam penelitian ini, kepercayaan yang rendah di antara nelayan Suku Duano mengakibatkan mereka kesulitan untuk menjalin kerja sama yang lebih luas, sehingga peluang untuk meningkatkan skala usaha perikanan mereka menjadi terbatas. Dengan demikian, perspektif jaringan dalam penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana hubungan sosial di antara nelayan Suku Duano mempengaruhi keberhasilan usaha mereka. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan skala usaha perikanan, penting bagi nelayan untuk membangun jaringan yang lebih baik dan memperkuat modal sosial mereka melalui kepercayaan dan kerja sama yang lebih tinggi</p><p>2. Dalam artikel tersebut, level analisis yang digunakan untuk mengukur modal sosial adalah komunitas. Hal ini terlihat dari fokus penelitian yang menyoroti interaksi dan hubungan sosial antar anggota Suku Duano dalam konteks usaha perikanan tangkap. Dengan demikian, analisis dilakukan pada tingkat yang lebih luas daripada individu atau kelompok kecil, mencakup dinamika sosial yang ada dalam komunitas nelayan secara keseluruhan.</p><p>3. Menggunakan teori modal sosial Pierre Bourdieu dimana dapat memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika kepercayaan, kerja sama, dan partisipasi nelayan Suku Duano</p><p><br></p><ol><li><p>Kepercayaan sebagai Modal Sosial</p></li></ol><p>Bourdieu mengidentifikasi kepercayaan sebagai bagian penting dari modal sosial. Dalam konteks nelayan Suku Duano, rendahnya kepercayaan terhadap masyarakat luar menciptakan batasan dalam membangun jaringan yang lebih luas. Kepercayaan yang rendah tidak hanya menghalangi kolaborasi dengan pihak luar, tetapi juga mengurangi kemauan nelayan untuk berbagi informasi dan sumber daya. Hal ini mengakibatkan pengolahan hasil tangkapan yang tidak optimal dan menghambat pertumbuhan usaha perikanan.</p><p><br></p><ol start="2"><li><p>Kerja Sama dan Modal Sosial</p></li></ol><p>Bourdieu berpendapat bahwa modal sosial terdiri dari jaringan relasi yang mendukung interaksi. Dalam kasus nelayan Suku Duano, rendahnya tingkat kerja sama mencerminkan kurangnya jaringan sosial yang kuat. Ketika kerja sama lebih bersifat individual, potensi untuk mengembangkan usaha secara kolektif menjadi terhambat. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kerja sama antar nelayan sangat penting untuk memanfaatkan modal sosial yang ada, sehingga dapat meningkatkan skala usaha dan kinerja secara keseluruhan.</p><p><br></p><p>   3. Partisipasi dan Jaringan Sosial</p><p>Rendahnya partisipasi nelayan dalam kegiatan komunitas menunjukkan minimnya keterlibatan dalam jaringan sosial yang lebih luas. Bourdieu menyatakan bahwa partisipasi dalam aktivitas sosial dapat memperkuat modal sosial, yang pada gilirannya memberikan akses ke informasi, sumber daya, dan peluang baru. Ketidakaktifan nelayan dalam kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah mengurangi kesempatan mereka untuk membangun hubungan yang dapat meningkatkan usaha perikanan.</p><p><br></p><p>   4. Implikasi untuk Pengembangan Usaha Perikanan</p><p>Dari perspektif Bourdieu, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan Suku Duano, perlu ada upaya untuk membangun modal sosial mereka. Ini bisa dilakukan melalui program yang meningkatkan kepercayaan antar individu, mendorong kerja sama dalam penangkapan ikan dan pengolahan hasil tangkapan, serta meningkatkan partisipasi dalam kegiatan komunitas. Dengan memperkuat modal sosial, nelayan dapat memperluas jaringan mereka, meningkatkan kolaborasi, dan pada akhirnya meningkatkan skala usaha serta kesejahteraan mereka.</p><p><br></p><p>Analisis menggunakan teori modal sosial Bourdieu menyoroti pentingnya kepercayaan, kerja sama, dan partisipasi dalam konteks pengembangan usaha perikanan nelayan Suku Duano. Dengan memahami dan memperkuat modal sosial ini, mereka dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk pertumbuhan usaha perikanan yang berkelanjutan.</p>]]></description>
         <enclosure url="http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/view/11821/0" />
         <pubDate>2024-11-04 11:16:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3200320945</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3204697508</link>
         <description><![CDATA[<p>Peranan Modal Sosial Bagi Petani </p><p>Miskin Untuk Mempertahankan</p><p>Kelangsungan Hidup Rumah Tangga </p><p>Di Pedesaan Ngawi (Studi Kasus Di Desa </p><p>Randusongo Kecamatan Gerih </p><p>Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur)</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://jurnal.uns.ac.id/jas/article/view/17382">https://jurnal.uns.ac.id/jas/article/view/17382</a></p><p><br/></p><p>1. Dalam artikel tersebut, perspektif yang digunakan dalam mengukur modal sosial adalah perspektif jaringan. Hal ini terlihat dari penekanan pada hubungan sosial dan interaksi antar individu dalam komunitas, yang mencakup konsep-konsep seperti "bonding social capital" dan "bridging social capital" yang dijelaskan oleh Bourdieu dan Coleman. Modal sosial diukur melalui jaringan hubungan sosial yang saling menguntungkan dan norma-norma kepercayaan yang ada di dalam masyarakat, yang merupakan inti dari modal sosial itu sendiri.</p><p>2. Level analisis yang digunakan dalam mengukur modal sosial di artikel ini adalah pada tingkat komunitas. Penelitian ini berfokus pada interaksi dan hubungan antar petani miskin di Desa Randusongo, yang menunjukkan bagaimana modal sosial berfungsi dalam konteks komunitas untuk mempertahankan kelangsungan hidup rumah tangga mereka. Penelitian ini melibatkan analisis terhadap hubungan sosial di antara kelompok petani dan bagaimana mereka saling membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.</p><p>3. Indikator-indikator yang diukur dalam penelitian tersebut mencakup:</p><p>• Jaringan Sosial: Hubungan antar tetangga dan kerabat yang saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang merupakan bagian dari bonding social capital.</p><p>• Norma Kepercayaan: Kepercayaan yang terbangun di antara individu dalam komunitas, yang memungkinkan mereka untuk saling membantu dan berbagi informasi.</p><p>• ⁠Hubungan Timbal Balik: Praktik saling memberi dan menerima bantuan, seperti tradisi nyumbang dan rewang, yang memperkuat ikatan sosial di antara anggota komunitas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-06 15:43:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3204697508</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 7. Judul: PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP PRODUKTIVITAS PETANI(Studi Kasus di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3205995710</link>
         <description><![CDATA[<p>(1). Dalam konteks penelitian yang disajikan, kita bisa menganalisis tiga jenis modal sosial berdasarkan perspektif jaringan: bonding, bridging, dan linking. Berikut adalah penjelasan untuk masing-masing:</p><p><br/></p><p>1. Bonding</p><p>Bonding merujuk pada ikatan yang erat di antara anggota kelompok yang homogen, seperti keluarga, teman dekat, atau komunitas lokal. Dalam penelitian ini, bonding dapat diidentifikasi melalui hubungan kepercayaan dan ketaatan terhadap norma di antara komunitas kelompok tani di Kecamatan Cilacap Utara. Interaksi sosial yang kuat di antara petani, rasa saling percaya, dan kepatuhan terhadap norma dapat meningkatkan solidaritas dan kerjasama dalam kelompok tani, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas.</p><p><br/></p><p>2. Bridging</p><p>Bridging merujuk pada jaringan yang menghubungkan orang-orang dari latar belakang sosial atau kelompok yang berbeda, yang berfungsi untuk mengakses informasi dan sumber daya di luar komunitas mereka sendiri. Dalam penelitian ini, bridging terlihat melalui partisipasi petani dalam kegiatan kelompok tani dan dukungan yang mereka terima dari penyuluh atau petugas. Dengan adanya partisipasi dan dukungan eksternal, petani dapat menjalin jaringan yang lebih luas dan mengakses informasi serta peluang yang mungkin tidak tersedia di dalam komunitas mereka sendiri, yang meningkatkan produktivitas.</p><p><br/></p><p>3. Linking</p><p>Linking adalah jaringan yang menghubungkan individu atau kelompok pada tingkat hierarki yang berbeda, seperti hubungan dengan pemerintah atau lembaga lain yang memiliki kekuasaan atau sumber daya lebih besar. Pada penelitian ini, linking terlihat dari hubungan antara kelompok tani dengan pembina, penyuluh, dan petugas pemerintah cilacap utara. Melalui jaringan ini, petani di Cilacap Utara dapat memperoleh bimbingan, bantuan, dan akses ke sumber daya yang lebih besar, yang pada akhirnya mendukung produktivitas pertanian mereka.</p><p>Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial yang mencakup bonding, bridging, dan linking berpengaruh positif terhadap produktivitas petani di Kecamatan Cilacap Utara.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>(2). Pada artikel tersebut dalam mengukur modal sosialnya mengarah pada bentuk kelompok. Kelompok ini dapat terbentuk dari adanya kolektitfitas atau  kebersamaan dalam bentuk kepercayaan, hubungan , timbal balik, norma sosial  yang dimana masyarakat pedesaan  pada umumnya sistem kehidupannya masih terbiasa berkelompok atau atas dasar sistem kekeluargaan. </p><p><br/></p><p>Dari bentuk-bentuk modal sosial dalam artikel tersebut juga terdapat adanya pengaruh yang signifikan dari kepercayaan, jaringan, partisipasi yang dilakukan secara bersama- sama atau kelompok terhadap produktivitas petani di kabupaten cilacap, hal ini dapat dilihat dari hasil uji statistik menggunakan spss yang memberikan pengaruh positif terhadap produktifitas petani.</p><p><br/></p><p>Maka dari itu konsep modal sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan. Dengan membangun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus antar individu sehingga dapat bekerjasama untuk memperoleh hal-hal yang tercapai sebelumnya serta meminimalisasikan kesulitan yang ada.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>(3.) Berdasarkan analisis di atas, indikator dan teori yang digunakan untuk mempelajari pengaruh kepercayaan, partisipasi, jaringan, dan norma sosial terhadap produktivitas petani di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap dapat dirinci sebagai berikut: </p><p><br/></p><p>1.Indikator:</p><p>Setiap variabel (kepercayaan, partisipasi, jaringan, dan norma sosial) memiliki indikator yang diukur dengan teknik regresi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produktivitas petani. Berikut adalah indikator-indikator yang terlihat dari hasil analisis:</p><p><br/></p><p>Kepercayaan: Diukur dari koefisien regresi (0,438) dan nilai t hitung (2,997) dengan signifikansi (0,004), yang menunjukkan tingkat kepercayaan antara petani mempengaruhi produktivitas mereka. </p><p><br/></p><p>Partisipasi: Ditunjukkan melalui koefisien regresi (0,292) dan nilai t hitung (3,325) dengan signifikansi (0,001), yang menunjukkan tingkat keterlibatan petani dalam kegiatan atau komunitas meningkatkan produktivitas mereka.</p><p><br/></p><p>Jaringan: Diukur dengan koefisien regresi (0,187) dan nilai t hitung (2,580) dengan signifikansi (0,012), yang menunjukkan bahwa hubungan atau koneksi sosial di antara petani berdampak positif terhadap produktivitas mereka.</p><p><br/></p><p>Norma Sosial: Terukur melalui koefisien regresi (0,310) dan nilai t hitung (3,404) dengan signifikansi (0,001), yang menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap norma sosial mendukung produktivitas petani. </p><p><br/></p><p>2.Teori Modal Sosial oleh Robert Putnam: Putnam menekankan bahwa modal sosial (termasuk kepercayaan, partisipasi, jaringan, dan norma sosial) memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas dan kerjasama komunitas. Dalam konteks ini, variabel seperti kepercayaan dan partisipasi menunjukkan peran dalam meningkatkan produktivitas petani, sebagaimana dijelaskan dalam hasil regresi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 07:40:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3205995710</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 7 . JUDUL: PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP PRODUKTIVITAS PETANI(Studi Kasus di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3206020814</link>
         <description><![CDATA[<p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://journal.student.uny.ac.id/ekonomi/article/view/3984">https://journal.student.uny.ac.id/ekonomi/article/view/3984</a></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>(1). Dalam konteks penelitian yang disajikan, kita bisa menganalisis tiga jenis modal sosial berdasarkan perspektif jaringan: bonding, bridging, dan linking. Berikut adalah penjelasan untuk masing-masing:</p><p><br/></p><p>1. Bonding</p><p>Bonding merujuk pada ikatan yang erat di antara anggota kelompok yang homogen, seperti keluarga, teman dekat, atau kelompok lokal. Dalam penelitian ini, bonding dapat diidentifikasi melalui hubungan kepercayaan dan ketaatan terhadap norma di antara  kelompok tani di Kecamatan Cilacap Utara. Interaksi sosial yang kuat di antara petani, rasa saling percaya, dan kepatuhan terhadap norma dapat meningkatkan solidaritas dan kerjasama dalam kelompok tani, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas.</p><p><br/></p><p>2. Bridging</p><p>Bridging merujuk pada jaringan yang menghubungkan orang-orang dari latar belakang sosial atau kelompok yang berbeda, yang berfungsi untuk mengakses informasi dan sumber daya di luar komunitas mereka sendiri. Dalam penelitian ini, bridging terlihat melalui partisipasi petani dalam kegiatan kelompok tani dan dukungan yang mereka terima dari penyuluh atau petugas. Dengan adanya partisipasi dan dukungan eksternal, petani dapat menjalin jaringan yang lebih luas dan mengakses informasi serta peluang yang mungkin tidak tersedia di dalam komunitas mereka sendiri, yang meningkatkan produktivitas.</p><p><br/></p><p>3. Linking</p><p>Linking adalah jaringan yang menghubungkan individu atau kelompok pada tingkat hierarki yang berbeda, seperti hubungan dengan pemerintah atau lembaga lain yang memiliki kekuasaan atau sumber daya lebih besar. Pada penelitian ini, linking terlihat dari hubungan antara kelompok tani dengan pembina, penyuluh, dan petugas pemerintah cilacap utara. Melalui jaringan ini, petani di Cilacap Utara dapat memperoleh bimbingan, bantuan, dan akses ke sumber daya yang lebih besar, yang pada akhirnya mendukung produktivitas pertanian mereka.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial yang mencakup bonding, bridging, dan linking berpengaruh positif terhadap produktivitas petani di Kecamatan Cilacap Utara.</p><p><br/></p><p>(2). Pada artikel tersebut dalam mengukur modal sosialnya mengarah pada bentuk kelompok. Kelompok ini dapat terbentuk dari adanya kolektitfitas atau  kebersamaan dalam bentuk kepercayaan, hubungan , timbal balik, norma sosial  yang dimana masyarakat pedesaan  pada umumnya sistem kehidupannya masih terbiasa berkelompok atau atas dasar sistem kekeluargaan. </p><p><br/></p><p>Dari bentuk-bentuk modal sosial dalam artikel tersebut juga terdapat adanya pengaruh yang signifikan dari kepercayaan, jaringan, partisipasi yang dilakukan secara bersama- sama atau kelompok terhadap produktivitas petani di kabupaten cilacap, hal ini dapat dilihat dari hasil uji statistik menggunakan spss yang memberikan pengaruh positif terhadap produktifitas petani.</p><p><br/></p><p>Maka dari itu konsep modal sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan. Dengan membangun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus antar individu sehingga dapat bekerjasama untuk memperoleh hal-hal yang tercapai sebelumnya serta meminimalisasikan kesulitan yang ada.</p><p><br/></p><p>(3). Berdasarkan analisis di atas, indikator dan teori yang digunakan untuk mempelajari pengaruh kepercayaan, partisipasi, jaringan, dan norma sosial terhadap produktivitas petani di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap dapat dirinci sebagai berikut: </p><p><br/></p><p>1.Indikator:</p><p>Setiap variabel (kepercayaan, partisipasi, jaringan, dan norma sosial) memiliki indikator yang diukur dengan teknik regresi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produktivitas petani. Berikut adalah indikator-indikator yang terlihat dari hasil analisis:</p><p><br/></p><p>Kepercayaan: Diukur dari koefisien regresi (0,438) dan nilai t hitung (2,997) dengan signifikansi (0,004), yang menunjukkan tingkat kepercayaan antara petani mempengaruhi produktivitas mereka. </p><p><br/></p><p>Partisipasi: Ditunjukkan melalui koefisien regresi (0,292) dan nilai t hitung (3,325) dengan signifikansi (0,001), yang menunjukkan tingkat keterlibatan petani dalam kegiatan atau komunitas meningkatkan produktivitas mereka.</p><p><br/></p><p>Jaringan: Diukur dengan koefisien regresi (0,187) dan nilai t hitung (2,580) dengan signifikansi (0,012), yang menunjukkan bahwa hubungan atau koneksi sosial di antara petani berdampak positif terhadap produktivitas mereka.</p><p><br/></p><p>Norma Sosial: Terukur melalui koefisien regresi (0,310) dan nilai t hitung (3,404) dengan signifikansi (0,001), yang menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap norma sosial mendukung produktivitas petani. </p><p><br/></p><p><br/></p><p>2.Teori Modal Sosial oleh Robert Putnam: Putnam menekankan bahwa modal sosial (termasuk kepercayaan, partisipasi, jaringan, dan norma sosial) memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas dan kerjasama komunitas. Dalam konteks ini, variabel seperti kepercayaan dan partisipasi menunjukkan peran dalam meningkatkan produktivitas petani, sebagaimana dijelaskan dalam hasil regresi.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 07:58:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3206020814</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 2:                                          1. Suchi 2. Ikhsan 3. Bunga 4. Feby PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP PERILAKU KEWIRAUSAHAAN(Suatu studi pada pelaku usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud)   https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/actadiurnakomunikasi/article/view/1412/1120</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3209840270</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Perspektif yang digunakan dalam mengukur modal sosial di artikel tersebut menggunakan perspektif jaringan, yang dimana modal sosial yang dimiliki masyarakat  seperti kepercayaan, gotong royong, jaringan dan sikap, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan prilaku kewirausahaan, seperti meningkatnya kepercayaan masyarakat yang dimanifestasikan dalam perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Dimensi inti dari modal sosial tersebut terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat untuk bekerjasama membangun suaru jaringan guna mencapai tujuan bersama, dimana kerjasama ini diwarnai oleh suatu pila inter-relasi yang timbal balik dan saling menguntungkan serta dibangun diatas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial yang positif dan kuat.</p><p><br/></p><p>2.Level analisis yang digunakan dalam artikel ini adalah kelompok. Penelitian ini berfokus pada kelompok pelaku usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud. Artikel ini menganalisis bagaimana pengaruh modal sosial terhadap perilaku kewirausahaan.</p><p><br/></p><p>3.Dalam penelitian ini mengenai pengaruh modal sosial terhadap perilaku kewirausahaan, beberapa indikator yang diukur meliputi:</p><p>- Kepercayaan: Tingkat kepercayaan individu terhadap komunitas dan institusi.</p><p>- Jaringan Sosial: Hubungan antara individu dalam kelompok atau komunitas.</p><p>- Partisipasi: Keterlibatan dalam kegiatan sosial atau organisasi.</p><p>- Kerjasama: Kemampuan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.</p><p>- Norma Sosial: Aturan dan nilai yang mengatur interaksi sosial.</p><p>Indikator-indikator ini membantu mengukur dampak modal sosial terhadap kesuksesan usaha mikro kecil menengah.</p><p><br/></p><p>Artikel ini menggunakan konsep teori modal sosial Putnam (1993) , yang mendefinisikan  modal sosial ialah karakteristik organisasi sosial, seperti jejaring, norma-norma dan kepercayaan sosial, yang memudahkan koordinasi dan kerjasama untuk manfaat bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-10 15:30:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3209840270</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 2              PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP PERILAKU KEWIRAUSAHAAN(Suatu studi pada pelaku usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud)</title>
         <author>sman1pkpfebysariandita</author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3209846145</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/actadiurnakomunikasi/article/view/1412/1120">https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/actadiurnakomunikasi/article/view/1412/1120</a></p><p><br/></p><p>1.Perspektif yang digunakan dalam mengukur modal sosial di artikel tersebut menggunakan perspektif jaringan, yang dimana modal sosial yang dimiliki masyarakat  seperti kepercayaan, gotong royong, jaringan dan sikap, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan prilaku kewirausahaan, seperti meningkatnya kepercayaan masyarakat yang dimanifestasikan dalam perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Dimensi inti dari modal sosial tersebut terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat untuk bekerjasama membangun suaru jaringan guna mencapai tujuan bersama, dimana kerjasama ini diwarnai oleh suatu pila inter-relasi yang timbal balik dan saling menguntungkan serta dibangun diatas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial yang positif dan kuat.</p><p>2.Level analisis yang digunakan dalam artikel ini adalah kelompok. Penelitian ini berfokus pada kelompok pelaku usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud. Artikel ini menganalisis bagaimana pengaruh modal sosial terhadap perilaku kewirausahaan.</p><p>3.Dalam penelitian ini mengenai pengaruh modal sosial terhadap perilaku kewirausahaan, beberapa indikator yang diukur meliputi:</p><p>- Kepercayaan: Tingkat kepercayaan individu terhadap komunitas dan institusi.</p><p>- Jaringan Sosial: Hubungan antara individu dalam kelompok atau komunitas.</p><p>- Partisipasi: Keterlibatan dalam kegiatan sosial atau organisasi.</p><p>- Kerjasama: Kemampuan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.</p><p>- Norma Sosial: Aturan dan nilai yang mengatur interaksi sosial.</p><p>Indikator-indikator ini membantu mengukur dampak modal sosial terhadap kesuksesan usaha mikro kecil menengah.</p><p>Artikel ini menggunakan konsep teori modal sosial Putnam (1993) , yang mendefinisikan  modal sosial ialah karakteristik organisasi sosial, seperti jejaring, norma-norma dan kepercayaan sosial, yang memudahkan koordinasi dan kerjasama untuk manfaat bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-10 15:39:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3209846145</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK 2:                      PENGARUH MODAL SOSIAL TERHADAP PERILAKU KEWIRAUSAHAAN(Suatu studi pada pelaku usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud)</title>
         <author>sman1pkpfebysariandita</author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3209848444</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/actadiurnakomunikasi/article/view/1412/1120</p><p><br/></p><p>1.Perspektif yang digunakan dalam mengukur modal sosial di artikel tersebut menggunakan perspektif jaringan, yang dimana modal sosial yang dimiliki masyarakat  seperti kepercayaan, gotong royong, jaringan dan sikap, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan prilaku kewirausahaan, seperti meningkatnya kepercayaan masyarakat yang dimanifestasikan dalam perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Dimensi inti dari modal sosial tersebut terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat untuk bekerjasama membangun suaru jaringan guna mencapai tujuan bersama, dimana kerjasama ini diwarnai oleh suatu pila inter-relasi yang timbal balik dan saling menguntungkan serta dibangun diatas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial yang positif dan kuat.</p><p><br/></p><p>2.Level analisis yang digunakan dalam artikel ini adalah kelompok. Penelitian ini berfokus pada kelompok pelaku usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud. Artikel ini menganalisis bagaimana pengaruh modal sosial terhadap perilaku kewirausahaan.</p><p><br/></p><p>3.Dalam penelitian ini mengenai pengaruh modal sosial terhadap perilaku kewirausahaan, beberapa indikator yang diukur meliputi:</p><p>- Kepercayaan: Tingkat kepercayaan individu terhadap komunitas dan institusi.</p><p>- Jaringan Sosial: Hubungan antara individu dalam kelompok atau komunitas.</p><p>- Partisipasi: Keterlibatan dalam kegiatan sosial atau organisasi.</p><p>- Kerjasama: Kemampuan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.</p><p>- Norma Sosial: Aturan dan nilai yang mengatur interaksi sosial.</p><p>Indikator-indikator ini membantu mengukur dampak modal sosial terhadap kesuksesan usaha mikro kecil menengah.</p><p><br/></p><p>Artikel ini menggunakan konsep teori modal sosial Putnam (1993) , yang mendefinisikan  modal sosial ialah karakteristik organisasi sosial, seperti jejaring, norma-norma dan kepercayaan sosial, yang memudahkan koordinasi dan kerjasama untuk manfaat bersama.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-10 15:42:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3209848444</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3210687576</link>
         <description><![CDATA[<p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://e-journal.uingusdur.ac.id/jhi/article/view/7096"><em>Sumber artikel: https://e-journal.uingusdur.ac.id/jhi/article/view/7096</em></a></p><p><br/></p><p>1. Artikel penelitian ini menggunakan perspektif jaringan Bourdiue (1986) dalam mengukur modal sosial yang berfokus pada kepercayaan, kohesi, norma, dan jaringan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antar individu dalam komunitas Warung Tegal (Warteg) di Jakarta yang berkontribusi signifikan terhadap pengembangan ekonomi mereka. Dengan menggunakan metode kuantitatif juga bisa dilihat bahwa kohesi dan jaringan adalah faktor yang paling berpengaruh dalam mencerminkan pentingnya interaksi sosial dalam mencapai tujuan ekonomi bersama. Hal ini menegaskan bahwa modal sosial bukan hanya tentang individu tapi juga tentang bagaimana hubungan itu dapat membangun kekuatan kolektif dalam suatu komunitas. </p><p><br/></p><p>2. Level analisis yang digunakan dalam mengukur modal sosial pada artikel yang dimaksud adalah level komunitas. Dimana komunitas yang dimaksud adalah komunitas pengusaha warung tegal (Warteg) di Jakarta yang berasal dari daerah Tegal. Dengan adanya kesamaan identitas asal daerah mendorong masyarakat urban Tegal untuk bekerjasama memperkuat perekonomian dan usaha satu sama lain. </p><p><br/></p><p>3. Indikator yang Diukur</p><p>A. Jaringan Sosial</p><p>Deskripsi : Mengukur seberapa luas dan kuat jaringan sosial pengusaha warung, termasuk hubungan dengan pelanggan, pemasok, dan komunitas.</p><p><br/></p><p>B. Kepercayaan</p><p>Deskripsi: Mengukur tingkat kepercayaan antar pengusaha dan antara pengusaha dengan pelanggan.</p><p><br/></p><p>C. Norma Sosial</p><p>Deskripsi: Mengukur sejauh mana norma dan nilai dalam komunitas mendukung praktik bisnis pengusaha warung</p><p><br/></p><p>D. kohesitas</p><p>Deskripsi :  Mengukur sejauh mana anggota komunitas merasa terhubung secara emosional satu sama lain. Ini mencakup rasa saling memiliki dan kepedulian antar anggota. serta mengukur sejauh mana anggota komunitas saling memberikan dukungan, baik moral maupun material. Dukungan ini penting dalam menghadapi tantangan bisnis</p><p><br/></p><p>Berdasarkan artikel penelitian dari keempat indikator tersebut, mendapatkan hasil akhir berupa:</p><p><br/></p><p>1. Indikator kepercayaan dan juga norma tidak berpengaruh secara parsial karena  berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh penelitian bahwa tidak ada korelasi positif antara keperacayaan para komunitas warung tebal kususnya di Jakarta dengan penguatan ekonomi  pengusaha warung Tegal serta Tingkat kepercayaan yang dimiliki oleh pengusaha warung Tegal di Jakarta yang  diberikan kepada lingkungan diluar organisasinya juga tidak memberikan pengaruh signifikan   kepada penguatan ekonomi mereka.</p><p><br/></p><p>2. Dikarenakan tidak adanya korelasi antara kepercayaan dan juga norma maka penelitian ini tidak cocok dengan pendekatan Fukuyama , colleman, dan juga Robert Putnam, yang mana mereka lebih menguatkan pada unsur kepercayaan dan norma. </p><p><br/></p><p>3. Karena faktor kohensi dan jaringan sosial lebih kuat daripada faktor kepercayaan dan agama terhadap modal sosial para komunitas pengusaha warung tegal dengan ini dapat di simpulkan bahwa teori yang cocok adalah teori modal sosial dari Pierre bordieu di karenakan fokus pada jaringan dan kohesi. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-11 06:23:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3210687576</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengusaha Warung Tegal di Jakarta (Pendekatan Modal Sosial) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3210713326</link>
         <description><![CDATA[<p>Sumber artikel: <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://e-journal.uingusdur.ac.id/jhi/article/view/7096">https://e-journal.uingusdur.ac.id/jhi/article/view/7096</a></p><p><br/></p><p>1. Artikel penelitian ini menggunakan perspektif jaringan Bourdiue (1986) dalam mengukur modal sosial yang berfokus pada kepercayaan, kohesi, norma, dan jaringan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antar individu dalam komunitas Warung Tegal (Warteg) di Jakarta yang berkontribusi signifikan terhadap pengembangan ekonomi mereka. Dengan menggunakan metode kuantitatif juga bisa dilihat bahwa kohesi dan jaringan adalah faktor yang paling berpengaruh dalam mencerminkan pentingnya interaksi sosial dalam mencapai tujuan ekonomi bersama. Hal ini menegaskan bahwa modal sosial bukan hanya tentang individu tapi juga tentang bagaimana hubungan itu dapat membangun kekuatan kolektif dalam suatu komunitas. </p><p><br/></p><p>2. Level analisis yang digunakan dalam mengukur modal sosial pada artikel yang dimaksud adalah level komunitas. Dimana komunitas yang dimaksud adalah komunitas pengusaha warung tegal (Warteg) di Jakarta yang berasal dari daerah Tegal. Dengan adanya kesamaan identitas asal daerah mendorong masyarakat urban Tegal untuk bekerjasama memperkuat perekonomian dan usaha satu sama lain. </p><p><br/></p><p>3. Indikator yang Diukur</p><p>A. Jaringan Sosial</p><p>Deskripsi : Mengukur seberapa luas dan kuat jaringan sosial pengusaha warung, termasuk hubungan dengan pelanggan, pemasok, dan komunitas.</p><p><br/></p><p>B. Kepercayaan</p><p>Deskripsi: Mengukur tingkat kepercayaan antar pengusaha dan antara pengusaha dengan pelanggan.</p><p><br/></p><p>C. Norma Sosial</p><p>Deskripsi: Mengukur sejauh mana norma dan nilai dalam komunitas mendukung praktik bisnis pengusaha warung</p><p><br/></p><p>D. kohesitas</p><p>Deskripsi :  Mengukur sejauh mana anggota komunitas merasa terhubung secara emosional satu sama lain. Ini mencakup rasa saling memiliki dan kepedulian antar anggota. serta mengukur sejauh mana anggota komunitas saling memberikan dukungan, baik moral maupun material. Dukungan ini penting dalam menghadapi tantangan bisnis</p><p><br/></p><p>Berdasarkan artikel penelitian dari keempat indikator tersebut, mendapatkan hasil akhir berupa</p><p><br/></p><p>1. Indikator kepercayaan dan juga norma tidak berpengaruh secara parsial karena  berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh penelitian bahwa tidak ada korelasi positif antara keperacayaan para komunitas warung tebal kususnya di Jakarta dengan penguatan ekonomi  pengusaha warung Tegal serta Tingkat kepercayaan yang dimiliki oleh pengusaha warung Tegal di Jakarta yang  diberikan kepada lingkungan diluar organisasinya juga tidak memberikan pengaruh signifikan   kepada penguatan ekonomi mereka.</p><p>2. Dikarenakan tidak adanya korelasi antara kepercayaan dan juga norma maka penelitian ini tidak cocok dengan pendekatan Fukuyama , colleman, dan juga Robert Putnam, yang mana mereka lebih menguatkan pada unsur kepercayaan dan norma</p><p>3. Karena faktor kohensi dan jaringan sosial lebih kuat daripada faktor kepercayaan dan agama terhadap modal sosial para komunitas pengusaha warung tegal dengan ini dapat di simpulkan bahwa teori yang cocok adalah teori modal sosial dari Pierre bordieu di karenakan fokus pada jaringan dan kohesi. </p><p><br/></p><p>Anggota kelompok: Nur Faizza Tunnisa, Esfaranza Ratu Suwendah, Yoga Susanto, Nilam Zulfitri</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-11 06:43:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ayahidayati87/d4gcw4z8ujemkaqi/wish/3210713326</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
