<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Bagaimana cara Indonesia menghadapi pelanggaran HAM di masa lalu? by Christina Lukman</title>
      <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7</link>
      <description>Post your response to the discussion topic by clicking the plus button below.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-08-20 23:25:55 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-09-22 11:25:27 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ac.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>christinaluck21</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3082120457</link>
         <description><![CDATA[<p>Jawablah 5 pertanyaan dibawah ini ( individual ) ( berikan nama/kelas) pada setiap pendapat yang kalian buat </p><p>1. <strong>Bagaimana Anda menilai efektivitas taktik penembakan misterius dalam menurunkan angka kriminalitas? Apakah hasil positif ini dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi?</strong></p><p>2. <strong>Apakah tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus dapat dianggap sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara, atau apakah ini merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang seharusnya dihindari? Jelaskan alasan Anda.</strong></p><p>3. <strong>Jika Anda hidup pada masa Orde Baru, bagaimana Anda akan merespons atau bereaksi terhadap tindakan pemerintah dalam kasus Petrus? Apakah Anda akan mendukung atau menentang operasi ini? Mengapa?</strong></p><p>4. <strong>Dalam konteks penegakan hukum di Indonesia, bagaimana Anda memandang penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus? Apakah ini menunjukkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia saat itu?</strong></p><p>5. <strong>Menurut Anda, apakah pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik, ataukah ini merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia? Jelaskan sudut pandang Anda.</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-20 23:28:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3082120457</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>christinaluck21</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3082132443</link>
         <description><![CDATA[<p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.kompas.com/">KOMPAS.com</a> -&nbsp;Penembakan Misterius atau Petrus merupakan kasus yang terjadi antara tahun 1983 hingga 1985 atau pada masa Orde Baru.&nbsp; Peristiwa ini termasuk dalam golongan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, karena telah mengadili seseorang tanpa melalui proses hukum.&nbsp; Pelanggaran hak asasi yang dilakukan dalam Petrus adalah menghakimi siapa saja yang dinilai sebagai pelaku kriminal atau kejahatan, seperti preman, perampok, dan lain-lain.&nbsp; Pada 1983, tercatat sebanyak 532 orang tewas dan 367 tewas karena luka tembak diduga korban penembakan misterius.&nbsp; Kemudian, pada 1984, ada 107 tewas dan pada 1985 sejumlah 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas karena ditembak.</p><p><br>Latar belakang Pada awal 1980-an, telah banyak ditemukan warga Indonesia yang tewas, bahkan kian tahun terus meningkat.&nbsp; Panglima Angkatan Bersenjata Indonesia, Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani, mulanya menyalahkan kasus pembunuhan ini kepada geng.&nbsp; Berawal dari situ, tanpa diberitahukan kepada publik, penembakan misterius dilakukan untuk menekan angka kriminalitas.&nbsp;<br></p><p>Operasi ini rencana akan dilakukan bulan Maret 1983 oleh Komandan Garnisun Yogyakarta, Letkol M Hasbi.&nbsp; Namun, setelah berita ini tersebar, beberapa penjahat menyerahkan diri, beberapa ditembak, ada yang melarikan diri, dan yang lainnya berhenti melakukan kejahatan.&nbsp; Ternyata, peristiwa Petrus ini membuat angka kejahatan menurun secara signifikan, khususnya tahun 1983.&nbsp;<br><br>Garnisun kemudian membuat daftar baru dan mengeluarkan ultimatum publik kepada semua galis (preman) untuk segera menyerah ke markas garnisun, tanpa perlu menyebutkan nama.&nbsp; Mereka yang merasa preman, harus menandatangani pernyataan setuju menahan diri dari kegiatan kriminal.&nbsp; Jika tidak, mereka akan menghadapi tindakan tegas dari pihak berwajib.&nbsp;<br><br>Akan tetapi, karena daftar tersebut penuh dengan misteri, tanpa nama, warga mulai bertanya-tanya apakah mereka termasuk penjahat atau tidak. Rupanya, hal ini juga merupakan taktik pengawasan diri, agar orang-orang sadar akan tindakan mereka dan berhati-hati dalam bertindak. Kendati taktik ini berhasil, Soeharto tetap tidak mengakui bahwa aksi pembunuhan dan fakta mengenai Petrus yang sudah terjadi itu dilakukan oleh militer.&nbsp; Bagi Soeharto, para pelaku kriminal yang melawan, harus ditembak.&nbsp; Namun, setelah terjadi banyak silang pendapat serta mendapat tekanan dari internasional, operasi ini berakhir pada 1985.&nbsp;<br><br><strong>Dampak</strong> Pada kasus Petrus, tahun 1983, tercatat sebanyak 532 orang tewas dan 367 tewas karena luka tembak. Kemudian, pada 1984, ada 107 tewas dan pada 1985 sejumlah 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas karena ditembak. Masalah Petrus pada saat itu memang menjadi berita panas.&nbsp; Ada yang mendukung, ada juga yang tidakAksi Petrus dianggap telah melanggar Hak Asasi Manusia, karena telah membunuh seseorang tanpa diadili melalui jalur hukum.&nbsp; Amnesti Internasional juga mengirimkan surat untuk menanyakan kebijakan pemerintah Indonesia.&nbsp; Pada akhirnya, Petrus diakhiri pada 1985, karena banyak mendapat perdebatan pendapat dan tekanan dari internasional.&nbsp;<br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2656781266/5efa931f50a9a628f7c139d55c9486fd/IMG_0455.jpeg" />
         <pubDate>2024-08-20 23:42:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3082132443</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3082447347</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Gabriela Michelle Vivaldi 12C</strong> 1. Taktik penembakan misterius) memang berhasil menurunkan angka kriminalitas secara signifikan pada awal 1980-an. Namun menurut saya, keberhasilan ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Membunuh tanpa melalui proses hukum bertentangan dengan prinsip keadilan dan hak atas kehidupan yang dijamin oleh hukum internasional dan nasional. 2. Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus merupakan penyalahgunaan kekuasaan daripada langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara. Cara yang dilakukan tanpa menghormati prosedur hukum menunjukkan penggunaan kekerasan negara secara berlebihan dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Sekarang sudah ada detail UUD tentang hukum kejahatan. 3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Saya percaya bahwa setiap individu berhak mendapatkan proses hukum yang adil. Mendukung operasi ini berarti mendukung pelanggaran hak asasi manusia dan membiarkan pemerintah bertindak di luar batas hukum. 4. Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus mencerminkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia pada saat itu. Menurut saya penyalahgunaan kekuasaan ini justru membuatkan perpecahan di negara. Selain itu,  ini juga jadi pelajaran bagi penegakan hukum di masa depan. 5. Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik. Meskipun setiap negara memiliki kedaulatan, pelanggaran HAM adalah isu global yang melibatkan kepentingan komunitas internasional. Oleh karena itu, kritik dari Amnesti Internasional dan tekanan internasional dapat dianggap sebagai bagian dari upaya untuk menegakkan standar HAM di seluruh dunia dan tentunya juga untuk menyelamatkan hidup banyak orang di Indonesia. Saya setuju dengan aksi mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-21 03:22:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3082447347</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>handalagarcia021</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3085287889</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Joel Garcia Sariani 12B</strong></p><ol><li><p>Penembakan misterius (<em>petrus</em>) menurunkan angka kejahatan dalam jangka pendek, namun hal ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun ada klaim efektivitas, eksekusi tanpa proses hukum merusak kepercayaan publik karena negara menggunakan kekuatan secara sewenang-wenang tanpa akuntabilitas, dan melanggar hak-hak dasar, seperti hak untuk hidup dan hak atas pengadilan yang adil, hingga tidak dapat dibenarkan. Menurut saya, hukum yang efektif harus selalu dilandasi oleh penghormatan terhadap hak-hak dasar setiap individu dan mengikuti proses hukum yang adil.</p></li><li><p>Tindakan <em>petrus</em> oleh pemerintah Orde Baru dapat dilihat sebagai upaya menjaga stabilitas negara, namun lebih banyak dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan. Meskipun bertujuan mengurangi kejahatan, eksekusi tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan merusak prinsip negara hukum. Seharusnya, stabilitas dijaga melalui penegakan hukum yang adil dan transparan.</p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi <em>petrus</em>. Meskipun keamanan penting, eksekusi tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan merusak prinsip keadilan. Negara seharusnya menegakkan hukum, bukan melanggarnya. Saya akan mendukung penegakan hukum yang adil dan transparan sebagai alternatif yang lebih tepat.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus <em>petrus</em> menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Ini mencerminkan kurangnya akuntabilitas, pelanggaran hak asasi manusia, dan ketidakpercayaan terhadap sistem peradilan. Tindakan ini menandakan bahwa reformasi hukum diperlukan untuk memastikan penegakan hukum yang adil dan transparan.</p></li><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus <em>petrus</em> dapat dianggap sebagai campur tangan yang sah karena berfokus pada pelanggaran hak asasi manusia, meskipun bisa dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Kritik ini penting untuk memastikan akuntabilitas dan mendorong reformasi, namun harus dilakukan dengan sensitif terhadap kedaulatan negara dan dalam bentuk yang konstruktif.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-23 01:16:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3085287889</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>maharani07adelia</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3088274112</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Putu Adelia Lasuardi M. 12C</strong></p><ol><li><p>Menurut artikel tersebut, banyak pelaku kriminal yang sudah menyerahkan diri atau berhenti melakukan tindakan kriminal. Tekanan pikiran yang didapatkan warga yang membuat mereka lebih menjaga sikap mereka juga menurut saya efektif dalam menurunkan angka kriminalitas.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Namun, seberapa positif hasilnya, pelanggaran terhadap HAM ini tidak dapat dibenarkan. Terlebih lagi aksi Petrus yang dilakukan oleh pihak berwenang negara; ini dapat menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat dan melahirkan pemikiran bahwa aksi main hakim sendiri adalah yang pantas. Sesuai pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah “melindungi segenap bangsa Indonesia”. Maka, melindungi hak asasi dari setiap warganya sudah menjadi tanggung jawab Indonesia yang dapat dilakukan dengan memberikan semua WNI (termasuk pelaku kriminal) untuk melalui proses hukum yang sesuai.&nbsp;</p></li></ol><p><br></p><ol start="2"><li><p>Masa Orde Baru seringkali dipandang sebagai masa paling mencekam dalam sejarah Indonesia pra-kemerdekaan. <em>Petrus </em>adalah salah satu penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang memiliki jabatan tinggi karena mengancam keselamatan dan hak asasi manusia yang hampir mirip dengan penjajahan oleh Belanda dan banyak negara lainnya terhadap Indonesia sebelum kemerdekaan. Jadi, <em>Petrus </em>adalah tindakan yang seharusnya dihindari.&nbsp;</p></li></ol><p><br></p><ol start="3"><li><p>Jika saya hidup di era Orde Baru, saya tentu akan menentang operasi <em>Petrus</em> ini karena tidak sesuai dengan hak asasi dan keadilan. Karena tidak merasakan hidup di zaman ini, saya bisa mengatakan bahwa saya akan mendukung Indonesia untuk memiliki sistem hukum yang adil dan transparan. Namun, kenyataannya mungkin sulit untuk melakukan itu di bawah opresi pemerintah.&nbsp;</p></li></ol><p>&nbsp;</p><ol start="4"><li><p>&nbsp;<em>Petrus </em>dijelaskan sebagai contoh ekstrem dari “main hakim sendiri”, saya tidak setuju dengan aksi ini karena belum tentu warga yang ditembak bersalah. Tidak adanya proses persidangan terhadap pelaku-pelaku kriminal yang ditembak ini menunjukkan dengan jelas bahwa sistem hukum Indonesia masih belum konkret pada masa Orde Baru. Jika dibandingkan dengan sekarang dimana proses hukumnya lebih terstruktur walaupun ada kecurangan yang masih terjadi dan juga beberapa kasus main hakim sendiri terhadap pencuri sebagai contoh.&nbsp;</p></li></ol><p><br></p><ol start="5"><li><p>Menurut Piagam PBB pasal 2 ayat 7, dijelaskan bahwa suatu negara dilarang mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Walaupun tindakan campur tangan ini mungkin dinilai tidak sah, tapi itu adalah tindakan yang moral. Menurut saya, tindakan ini tidak melanggar kedaulatan Indonesia karena Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat dan dinilai dari reaksi para warga yang terkejut dan ketakutan, aksi Petrus ini jelas bertentangan dengan suara rakyat.&nbsp;</p></li></ol><p><br><br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-26 09:09:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3088274112</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3089836031</link>
         <description><![CDATA[<p>Darius Cahyadi 12A</p><p>1. tidak bagus, tidak</p><p>2. kasus petrus adalah sesuatu yang harus dihindari sebagai negara, jika negara modern membunuh atau menyakitkan warganegara dengan sengaja, negara itu adalah negara yang tidak bagus, sperti kayak north korea.</p><p>3. Saya akan lari dari negara saya,saya akan menentang operasi ini karena operasi ini adalah operasi yang jahat.</p><p>4. saya percaya kalua negara memakai kekerasan di negara yang tidak transparan dan tidak bersarkan hukum benar benar menyeramkan, ini menyoroti dasar sistem hukum Indonesia.</p><p>5. tidak, karena Indonesia telah melanggar aturan hak asasi manusia</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-27 05:54:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3089836031</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rogerhec007</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091176934</link>
         <description><![CDATA[<p>Nathan hec 12C</p><p>1. Taktik penembakan misterius jarang terbukti efektif dalam menurunkan kriminalitas secara jangka panjang. Sebaliknya, pendekatan ini sering melanggar hak asasi manusia dan dapat memperburuk ketegangan sosial. Pendekatan yang lebih transparan dan berbasis hukum biasanya lebih berhasil dalam mengurangi angka kriminalitas sambil menjaga keadilan dan hak-hak individu.</p><p>2.Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus, meskipun diklaim untuk menjaga stabilitas, sebenarnya merupakan penyalahgunaan kekuasaan. Pelanggaran hak asasi manusia dan kurangnya transparansi lebih merugikan daripada menguntungkan. Pendekatan yang adil dan transparan lebih efektif untuk stabilitas dan kepercayaan publik.</p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang Operasi Petrus karena melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Penembakan tanpa proses hukum tidak dapat dibenarkan.</p><p>4. Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tanpa dasar hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia saat itu, termasuk kurangnya transparansi, penyalahgunaan kekuasaan, dan dampak negatif pada kepercayaan publik.</p><p>5. Pendekatan internasional yang mengkritik kasus Petrus bisa dianggap sah jika bertujuan untuk menegakkan hak asasi manusia dan mematuhi standar internasional. Namun, bagi sebagian orang di Indonesia, kritik tersebut mungkin dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan negara karena bisa dipandang sebagai campur tangan dalam urusan domestik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 00:48:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091176934</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091190460</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Mateo Alejandro Miguel 12C</strong></p><p><br/></p><ol><li><p>Teknik penembakan misterius dapat menunjukkan penuruman dalam angka kriminalitas namun hanya dalam kangka pendek. Teknik tersebut menurunkan angka kriminalitas dengan menghilangkan individu yang dianggap terlibat dalam kejahatan. </p><p><br/></p><p>Namun, mengenai hak asasi manusia, teknik penembakan misterius mempunyai dampak buruk terhadap hak asasi manusia yang sangat signifikan. Ini dikarenakan metode tersebut sering melanggar hak hidup dan hak untuk mendapatkan proses hukum yang adil. Oleh sebab itu, metode ini menciptaan risiko pelanggaran hak asasi manusia yang serius.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tidakan Petrus oleh pemerintah Orde Baru dapat dilihat dari dua sisi / sudut pandang. Di satu sisi, tindakan tersebut dianggap perlu untuk menjaga stabilitas negara karena pemerintah menghadapi masalah serius seperti kejahatan jalanan dan gangguan sosial yang mengancam keamanan warga masyarakat. Dengan penembakan terhadap individu yang dianggap sebagai ancaman, pemerintah berusaha mengurangi tingkat kehatan dan menciptakan ketertiban.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Di sisi lain, tindakan tersebut juga dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan karena dilakukan tanpa proses hukum yang adil dan melanggar hak asasi manusia.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Jika saya hidup pada era Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus karena tindakan tersebut melanggar hak asasi manusia. Tetapi, saya sebagai manusia yang berumur 17 tahun dengan masa depan yang panjang, tidak ingin mengikut campur dengan masalah negara. Petrus adalam penembakan misterius, mengapa saya mau ikut melawan pemerintah yang menembak orang. Terimakasih, tetapi saya akan mendukung warga Indonesia yang menentang Petrus tetapi dukungan saya hanya dalam hati.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum, seperti dalam kasus Peturs, jelas menunjukkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia. Hal ini menggarisbawahi masalah transparansi, dan penerapan hukum yang adil. </p><p><br/></p><p>Tetapi, saya juga mempunyai pendapat bahwa kadang - kadang, kekerasan negara dapat dilakukan untuk masalah yang sangat signifikan. Saya mempunyai pendapat ini karena menurut saya jiga kekerasan digunakan, kriminal-kriminal dalam Indonesia akan lebih waspada untuk berperilaku jahat dalam masa depan mereka.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dianggap sebegai campur tangan yang sah jika bertujuan untuk mendorong hak asasi manusia dan akuntabilitas. Namun, menurut saya pemerintah Indonesia dapat melihat tindakan ini sebagai pelanggaran kedaulatan karena pemerintah Indonesia yang menganggap masalah dosmetik seharusnya ditangan secara internal tanpa campuran tangan luar.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 00:56:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091190460</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091249755</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Indra Nara Rudianto 12C</strong></p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ada penurunan angka kejahatan tetapi metode ini melanggar hak asasi manusia. karena eksekusi dilakukan tanpa pengadilan.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Orde Baru dalam kasus Petrus memang dapat menurunkan kejahatan dengan cepat. Tetapi, karena melibatkan eksekusi tanpa proses hukum yang adil, tindakan ini lebih tepat disebut sebagai penyalahgunaan kekuasaan.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya akan menentang operasi ini, karena termasuk pelanggaran HAM dan penyalahgunaan kekuasaan.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; kasus Petrus mengungkap kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia pada masa Orde Baru. Operasi ini juga mencerminkan kelemahan dalam perlindungan hak asasi manusia, menunjukkan bahwa hak-hak dasar warga negara tidak dijamin. Secara keseluruhan, tindakan ini mencerminkan kelemahan mendasar dalam penegakan hukum di Indonesia saat itu.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai campur tangan yang sah, karena pelanggaran hak asasi manusia adalah isu global yang harus diawasi bersama. Manusia harus bantu satu sama yang lain ❤️.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 01:29:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091249755</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091265817</link>
         <description><![CDATA[<p>Akhaya Eleanor Rothwell,12C</p><ol><li><p>Taktik penembakan misterius pada masa Orde Baru terbukti efektif menurunkan angaka kriminilitas, seperti yang bisa di liat di artikel tersebut. Namun, mesikipun terbukti bisa menurunkan kejahatan, taktik ini melanggar hak asasi manusia. Hal ini( penggunaan kekerasan) tidak dapat dibenarkan,karena semua bentuk tindakan negara seharusnya,  dilakukan dengan hormat kepada hak- hak individu.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus bisa dilihat sebagai upaya untuk menjaga stabilitas negara dengan menekan angka kejahatan. Namun, tindakan ini lebih merupakan penyalahgunaan kekuasaan, karena menghukum orang tanpa proses hukum yang sah melanggar prinsip negara hukum dan hak asasi manusia. Keamanan negara harus dicapai melalui cara yang sesuai dengan hukum dan penghormatan terhadap hak-hak individu.</p></li><li><p>Jika saya hidup di masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Saya percaya bahwa semua individu memiliki hak untuk menjalankan hukum dengan adil. Walau saya tidak setuju dengan tindakan Petrus ini, saya mungkin tidak bisa melakukan tindakan yang terlalu besar, atau membantu yang banyak dikarenakan umur  terlalu muda.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum, seperti yang terjadi dalam kasus Petrus, menunjukkan lemahnya penegakan hukum di Indonesia pada masa itu. Tindakan ini mencerminkan praktik yang jauh dari prinsip negara hukum di mana hukum harus menjadi dasar setiap tindakan negara. Selain itu, kurangnya transparansi dalam operasi ini menunjukkan kurangnya akuntabilitas pemerintah terhadap tindakannya, yang seharusnya dihindari dalam negara demokratis yang menghormati hak asasi manusia.</p></li><li><p>Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik, terutama ketika hak asasi manusia dilanggar. Hak asasi manusia diakui secara internasional dan perlindungannya merupakan tanggung jawab komunitas global. Oleh karena itu, kritik dari komunitas internasional tidak selalu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan suatu negara, melainkan sering kali diperlukan untuk memastikan bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap tindakan mereka yang melanggar hak asasi manusia. Namun, kritik internasional harus dilakukan dengan mempertimbangkan kedaulatan negara dan tidak mengarah pada intervensi yang melanggar hak-hak negara tersebut.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 01:39:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091265817</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091271168</link>
         <description><![CDATA[<p>giovanni waskito 12C</p><p><br/></p><ol><li><p>Taktik penembakan misterius mungkin tampak efektif dalam menurunkan angka kriminalitas di beberapa kasus, tetapi efektivitasnya sangat diperdebatkan. Penurunan kejahatan yang dilaporkan sering kali tidak dapat dibuktikan sebagai hasil langsung dari taktik ini. Selain itu, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi tidak dapat dibenarkan, karena setiap tindakan penegakan hukum harus sesuai dengan prinsip hukum dan keadilan. Pengabaian terhadap proses hukum dan hak asasi manusia justru dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang, seperti ketidakpercayaan publik terhadap aparat keamanan dan potensi peningkatan kekerasan.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas dengan menekan angka kriminalitas. Namun, ini juga bisa dilihat sebagai penyalahgunaan kekuasaan, karena dilakukan di luar proses hukum yang sah dan melanggar hak asasi manusia. Meskipun mungkin berhasil menekan kriminalitas, tindakan ini mengabaikan prinsip keadilan dan menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa disalahgunakan untuk menekan warga negara.</p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Meskipun mungkin efektif dalam menurunkan kriminalitas, tindakan ini melanggar hak asasi manusia dan mengabaikan prinsip keadilan. Penembakan tanpa proses hukum membuka peluang bagi penyalahgunaan kekuasaan dan merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah. Keadilan harus ditegakkan dengan cara yang sah, bukan melalui kekerasan tanpa akuntabilitas.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Ini mencerminkan kegagalan sistem hukum dalam menangani kriminalitas secara adil, serta adanya penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah. Tindakan ini juga merusak kepercayaan publik terhadap keadilan dan hukum, memperlihatkan bahwa kekuatan represif lebih diutamakan daripada penegakan hukum yang sah.</p></li><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai campur tangan yang sah karena pelanggaran hak asasi manusia adalah isu global yang melampaui batas kedaulatan. Hak asasi manusia bersifat universal, dan komunitas internasional berhak menekan negara untuk memperbaiki praktik yang melanggar hak-hak ini. Namun, kritik harus disampaikan secara konstruktif untuk mendorong perbaikan tanpa merusak kedaulatan secara berlebihan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 01:42:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091271168</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091370845</link>
         <description><![CDATA[<p>Theodorus Filberto 12A</p><ol><li><p>Taktik Petrus(Penembakan Misterius) memang terbukti efektif dalam menurunkan angka kriminalitas secara drastis pada tahun-tahun pelaksanaannya (1983-1985). Namun, keberhasilan ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Mengadili dan menghukum seseorang tanpa proses hukum yang sah adalah pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia. Efektivitas tindakan tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang sangat berbahaya. Meskipun ada niat untuk menjaga stabilitas negara, cara yang digunakan jelas melanggar hukum dan hak asasi manusia. Sebagai negara yang mengaku menganut prinsip hukum, tindakan semacam ini harus dihindari. Sebuah negara seharusnya menegakkan hukum dengan transparan dan adil, bukan melalui tindakan represif yang tidak terkontrol.</p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan merasa cemas terhadap tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Saya akan menentang operasi tersebut. Dukungan terhadap operasi seperti itu berarti menyetujui pelanggaran hukum dan hak asasi, yang bisa menjadi preseden berbahaya bagi pemerintah untuk bertindak di luar batas hukum di masa depan.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan oleh negara tanpa transparansi dan dasar hukum, seperti dalam kasus Petrus, menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia pada saat itu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hukum bisa diabaikan ketika pemerintah merasa terancam atau ingin mencapai tujuan tertentu dengan cepat. Kasus ini juga menunjukkan kurangnya mekanisme pengawasan yang efektif terhadap tindakan badan negara, yang seharusnya menjadi penjaga keadilan dan pelindung hak-hak warga negara pada saat itu.</p></li><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dianggap sebagai campur tangan yang sah dalam konteks perlindungan hak asasi manusia. Meskipun ada prinsip kedaulatan yang harus dihormati, hak asasi manusia adalah nilai universal yang diakui oleh komunitas internasional. Ketika suatu negara melanggar hak asasi manusia secara serius, komunitas internasional berhak untuk menyuarakan keprihatinannya. Namun, kritik tersebut harus dilakukan dengan menghormati kedaulatan Indonesia dan berusaha untuk mendukung perbaikan daripada hanya mengutuk tindakan tersebut.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 02:38:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091370845</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091693653</link>
         <description><![CDATA[<p>Agnes Soerjodjojo 12C</p><p><br/></p><ol><li><p>Memang betul bahwa tindakan Petrus pada masa orde baru ini sangatlah efektif untuk menurunkan angka kriminalitas di Indonesia. Namun, ini sangatlah melanggar hak asasi manusia karena ini adalah kegiatan menghakimi sendiri dari seorang pemegang kuasa (atau pihak berwenang negara) dan membunuh para kriminal tanpa tindakan lanjut dalam bidang hukum. Selain itu, daftar para "kriminal" sangatlah misterius dan tidak diberitahukan. Maka, juga tidak bisa dipastikan bahwa para "kriminal" yang telah terbunuh merupakan benar seorang kriminal ataupun. Jika mereka bukanlah seorang kriminal yang pantas untuk dihukum dengan hukuman mati, maka ini mencabut HAM mereka.</p><p><br/></p></li><li><p> Tidak. Menurut saya, Petrus bukanlah cara yang tepat untuk menurunkun angka kriminalitas yang ada di Indonesia. Tidak hanya ia menurunkan angka kriminalitas, ia juga membuat ketakutan dalam semua warga Indonesia karena mereka tidak tahu apakah mereka juga merupakan seorang kriminal di mata para pemegang kuasa. Sebagai sebuah negara yang tertera dalam UUD 1945 bahwa untuk menghargai dan menjunjung tinggi HAM, kegiatan Petrus ini sangatlah menentangnya.</p><p><br/></p></li><li><p>Jika saya hidup dalam masa orde baru, pastinya saya akan selalu hidup tidak tenang - dalam kekhawatiran bahwa saya yang akan selanjutnya dibunuh. Walaupun saya tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum, tapi saya akan selalu takut karena bukanlah hukum yang dijadikan basis tindakan Petrus, melainkan asal main hakim sendiri. Pastinya saya akan menentang adanya operasi ini agar saya, teman-teman, dan juga seluruh warga di Indonesia tidak perlu terus hidup dalam kekhawatiran.</p><p><br/></p></li><li><p>Iya ini sangat menunjukkan kelemahan sistem hukum di Indonesia pada saat itu. Walaupun ada sistem hukum yang telah ditegakkan di Indonesia pada saat itu, para polisi dan pemegang kuasa lainnya dapat seenaknya main hakim sendiri tanpah harus mengikuti prosedur-prosedur hukum. Ini artinya ada atau tidaknya sistem hukum ini sama sekali tidak penting dan tidak ada harganya. Seluruh warga berhak untuk mengetahui mengapa ada terjadinya operasi Petrus seperti ini, bukannya malah dirahasiakan. </p><p><br/></p></li><li><p>Menurut saya kritik Internasional adalah hal yang tidak lazim tapi saya mendukung adanya ini. Betul bahwa mengikuti campur urusan sebuah negri lain adalah hal yang tidak sah, tapi jika kami sebagai rakyat tidak didengarkan ataupun tidak memiliki suara, maka kritik internasional inilah yang akan membantu rakyat mengutarakan suaranya. Setiap negara pasti akan mementingkan 'image' mereka kepada negara-negara lainnya. Jadi dengan adanya berita buruk seperti operasi pelanggaran HAM seperti Petrus ini, maka ini akan akhirnya diperhatikan oleh petinggi-petinggi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, meskipun ini bukan hal yang sah, saya tetap mendukung hal ini.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-28 06:17:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3091693653</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3093269234</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Michael Sindhu 12A</strong></p><p><br/></p><p>1. Menurut artikel tersebut, taktik penembakan misterius terbukti dalam menurunkan angka kriminalitas namun, menurut saya membunuh seseorang tanpa bukti nyata dan tanpa melalui sistem peradilan bertentangan dengan hak asasi manusia, meskipun hal itu menurunkan tingkat kejahatan, namun tetap saja kejam, karena bagaimana jika korban taktik penembakan misterius adalah orang yang tidak bersalah?</p><p><br/></p><p>2. Orde baru dalam kasus petrus bisa dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas dengan menekan angka kriminalitas, namun hal ini jelas merupakan penyalahgunaan kekuasaan karena tidak mengikuti prinsip demokrasi dan bertentangan dengan Pancasila.</p><p><br/></p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus, karena melanggar hak asasi manusia dan tidak adil. Mendukung ini berarti mendukung pelanggaran hak asasi manusia karena orang-orang yang ditembak bahkan tidak sempat melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.</p><p><br/></p><p>4. Iya ini tentu saja menunjukkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia karena belum tentu juga orang yang ditembak bersalah, karena menunjukkan bahwa Indonesia saat itu sama sekali tidak peduli terhadap HAM dan jelas-jelas tidak menganut demokrasi. Tidak membantu jika mereka juga mencoba merahasiakan kasus Petrus ini membuktikan bahwa Indonesia saat itu tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus.</p><p><br/></p><p>5. Menurut saya, negara lain yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia adalah benar secara moral, padahal menurut PBB dijelaskan bahwa suatu negara dilarang mencampuri urusan dalam negeri negara lain karena melanggar hak asasi manusia dan demokrasi. merupakan isu global yang sudah lama terjadi, bahkan hingga saat ini masih terdapat permasalahan meskipun sudah membaik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-08-29 03:25:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3093269234</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3097409320</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Sora Tatsumi 12A</strong></p><ol><li><p> Menurut artikel, taktik penembakan misterius atau petrus dibuktikan bahwa dapat menurunkan angka kriminalitas dan banyak yang menyerahkan diri. Namun, hasil positif ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia karena peristiwa ini mengadili seseorang tanpa melalui proses hukum.</p><p>Pendapat saya, hal ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia karena dalam beberapa korban tersebut mungkin ada yang dibunuh dengan kejahatan sangat kecil  yang orang itu sendiri tidak menyadari bahwa melakukan kejahatan. Dan juga kemungkinan ada korban yang dibunuh hanya berdasarkan rumor yang beredar. </p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Kasus ini merupakan bentuk penyalah gunaanan kekuasaan. Dalam pembukaan UUD 1945 terdapat misi negara yaitu "1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia," dan "4) ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social."tetapi kasus ini tidak melindungi warga negara dan tidak damai. Kemungkinan ada penjahat yang dekat dengan penjabat pemerintah dan memberikan suap kepada mereka agar tidak di bunuh. Pemerintah Indonesia seharusnya memeriksa kepada tersangka berdasarkan buktinya dan latar belakang kejadiannya untuk mengurangi tuduhan palsu dan untuk merehabilitasi.</p><p><br/></p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus karena operasi tersebut melanggari hak asasi manusia dan pemerintah menyalah gunakan kekuasaan. Tetapi, saya tidak akan bisa berpartisipasi dengan tindakan seperti demo karena takut.</p><p><br/></p></li><li><p>Kasus Pertus menunjukkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Seperti yang bisa di pahami dari artikel, pemerintah Indonesia tidak menjalankan politik berdasarkan hak asasi manusa dan hukum.</p><p><br/></p></li><li><p> Menurut saya pendekatan internasional yang mengkritik Tindakan pemerintah Indonesia merupakan campur tangan yang sah dalam urusan domestik. Karena jika tidak di campur tangan oleh negara lain kejadian ini tidak akan selesai, dan juga seharusnya HAM adalah Hak yang dipunyai oleh semua manusia.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-02 00:37:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3097409320</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101029992</link>
         <description><![CDATA[<p>Rachel Aurellia Kirana Hite - 12B</p><ol><li><p>Menurut saya, penembakan misterius ini memang lah efektif dalam menurunkan angka kriminalitas, hal ini dibuktikan oleh teks tersebut yang mana menyatakan, pada tahun 1983, terjadinya penurunan angka kriminalitas secara signifikan. Ditambah dengan ketakutan yang di rasakan oleh para warga, meningkatkan kesadaran untuk berperilaku baik dan berhati hati dalam bertindak. Petrus juga berhasil membuat para kriminal untuk menyerahkan diri. &nbsp; Namun, walaupun berturunnya angka kriminalitas, menurut saya penembakan misterius ini bukanlah suatu hal yang bisa dibenarkan terutama karena telah melanggar hak asasi manusia. Semua manusia, baik atau pun seorang kriminal mendapatkan haknya untuk diadili dan dihukum sesuai dengan kejahatannya jika berdasarkan prinsip peri keadilan dan kemanusiaan dalam Pancasila. Dengan penembakan misterius ini, akan menimbulkan ketakutan pada rakyat, takutnya terjadinya kesalahan sangka yang mengakibatkan orang yang tidak bersalah terbunuh.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip UUD 1945. Meskipun kasus Petrus ini bertujuan untuk menjaga stabilitas negara penting, ini tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan prinsip-prinsip hukum dan HAM. Sebagai negara hukum, Indonesia seharusnya menegakkan keadilan berdasarkan hukum, bukan melakukan tindakan yang melanggar hak warga negaranya tanpa proses yang sah.</p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, tentunya saya akan menentang secara keras Penembakan misterius ini karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kelima, yang menyatakan "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia." Semua warga negara, termasuk tersangka kriminal, memiliki hak atas keadilan dan perlindungan hukum yang sama.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dalam kasus Petrus mencerminkan kelemahan dalam penegakan prinsip negara hukum yang dijamin oleh UUD 1945. Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil. Kekerasan negara yang tidak melalui proses hukum justru bertentangan dengan semangat konstitusi yang menekankan supremasi hukum dan perlindungan hak asasi manusia.</p></li><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dilihat sebagai respons sah terhadap pelanggaran HAM yang terjadi, yang bertentangan dengan Pasal 28I UUD 1945 yang mengatur bahwa hak hidup dan hak untuk tidak disiksa adalah hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. Meskipun kedaulatan negara harus dihormati, pelanggaran hak asasi manusia yang serius, seperti yang terjadi dalam operasi Petrus, menuntut tanggung jawab moral dari komunitas internasional, sejalan dengan sila kedua Pancasila yang menekankan pentingnya menjunjung tinggi kemanusiaan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 00:43:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101029992</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101135661</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Miguel Jordan Sanchez 12C</strong></p><p><br></p><ol><li><p>Taktik ini mungkin menurunkan angka kejahatan untuk sementara dengan menghilangkan para pelaku kejahatan. Tapi, hasil ini tidak bisa dianggap benar karena melanggar hak-hak dasar manusia seperti hak untuk hidup dan mendapat pengadilan yang adil.</p></li><li><p>Tindakan ini bisa dilihat sebagai cara menjaga keamanan negara, tapi juga bisa dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan karena tidak melalui proses hukum yang adil dan melanggar hak asasi manusia. Menurut saya, ini lebih merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang seharusnya dihindari.</p></li><li><p>Kalau saya hidup di masa Orde Baru, saya akan menolak operasi Petrus karena itu melanggar hak asasi manusia. Namun, saya mungkin tidak akan menyuarakan penolakan itu secara terbuka karena takut akan konsekuensinya.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan oleh negara tanpa proses hukum yang jelas menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia saat itu lemah. Ini membuat orang tidak percaya pada hukum dan bisa jadi contoh buruk untuk masa depan.</p></li><li><p>Kritik dari luar negeri bisa dilihat sebagai hal yang sah jika tujuannya untuk mendukung hak asasi manusia. Tapi, pemerintah Indonesia mungkin menganggapnya sebagai campur tangan yang tidak perlu karena masalah ini seharusnya diselesaikan secara internal.</p></li></ol><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 01:44:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101135661</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nilamsaridewi19</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101136568</link>
         <description><![CDATA[<p>Ni Putu Nilam Sari 12C</p><ol><li><p>Penembakan misterius terlihat ada penurunan angka kejahatan walau dalam jangka pendek. walaupun demikian, hal tersebut tidak membenarkan pelanggaran hak asasi manusia karena mengeksekusi orang orang yang tidak bersalah, tanpa sebuah pengadilan</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus lebih merupakan penyalahgunaan kekuasaan daripada langkah yang diperlukan. Meskipun tujuannya mungkin untuk menjaga stabilitas, eksekusi tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan menunjukkan bahwa kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang. Ini bukan cara yang benar untuk menjaga keamanan dan justru merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.</p></li><li><p>Menurut saya, seseorang yang hidup di masa Orde Baru akan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan politik saat itu. Mungkin sulit untuk secara terbuka menentang tindakan pemerintah dalam suasana ketakutan dan represi. Namun, berdasarkan prinsip keadilan dan hak asasi manusia, tindakan ini menentang karena merupakan tindakan yang melanggar hak-hak dasar manusia seperti hak untuk hidup dan hak untuk mendapatkan peradilan yang adil. Tindakan ini melanggar peraturan negara hukum dan berpotensi menciptakan preseden buruk bagi penegakan hukum di masa mendatang.</p></li><li><p>Dalam kasus Petrus, kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum menunjukkan kelemahan sistem hukum Indonesia pada saat itu. Ini menunjukkan bahwa negara tidak memiliki sistem penegakan hukum yang baik dan dapat diandalkan, sehingga memilih jalan pintas yang merugikan. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah tidak percaya pada kemampuan sistem peradilan untuk menangani kasus kriminal secara adil. Selain itu, tindakan ini dapat berdampak negatif pada kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan penegak hukum.</p></li><li><p>Ada dua cara untuk melihat sikap pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dari sudut pandang internasional. Di satu sisi, kritik internasional dapat dilihat sebagai tanda perhatian terhadap hak asasi manusia yang universal. Oleh karena itu, campur tangan ini dapat dianggap sah. Negara-negara dan organisasi internasional memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi hak asasi manusia di seluruh dunia. Namun, pemerintah Indonesia pada saat itu mungkin melihatnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara karena dianggap mencampuri urusan internal negara yang seharusnya berada di bawah kendali pemerintah sendiri. Dalam situasi seperti ini, perdebatan tentang kedaulatan harus dipertimbangkan dengan mempertimbangkan kewajiban internasional untuk menghormati hak asasi manusia.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 01:44:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101136568</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101249844</link>
         <description><![CDATA[<p>Stanislaus Steven Tanjaya 12A</p><p><br/></p><ol><li><p> Artikel tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknik penembakan misterius sepanjang masa Orde Baru berhasil menurunkan angka kejahatan. Strategi ini telah terbukti menurunkan tingkat kejahatan, namun juga melanggar hak asasi manusia. Kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam situasi ini karena setiap tindakan yang diambil oleh negara harus melindungi hak-hak setiap orang.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus bisa saja dimaknai sebagai upaya menjaga stabilitas negara dengan menurunkan angka kriminalitas. Namun karena menghukum seseorang tanpa mengikuti prosedur hukum yang benar bertentangan dengan dasar-dasar supremasi hukum dan hak asasi manusia, maka tindakan ini lebih merupakan penyalahgunaan kekuasaan. Untuk mewujudkan keamanan negara, cara-cara yang taat hukum dan menghormati hak-hak individu</p></li><li><p>Saya pasti menentang operasi Petrus kalau saya warga Orde Baru. Menurut saya, setiap orang berhak menerapkan hukum secara adil. Bahkan jika saya tidak setuju dengan perilaku Peter, saya mungkin tidak dapat mengambil tindakan signifikan atau menawarkan bantuan berlebihan saat ini karena usia saya yang masih muda.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang terselubung dan ilegal, seperti dalam kasus Petrus, menunjukkan lemahnya penegakan hukum di Indonesia pada saat itu. Perilaku ini merupakan indikasi praktik yang bertentangan langsung dengan supremasi hukum, yang berpandangan bahwa segala tindakan pemerintah harus berpedoman pada hukum. Selain itu, ketidakjelasan prosedur ini menunjukkan kurangnya akuntabilitas pemerintah atas tindakannya, hal ini harus dihindari di negara demokratis yang menghormati hak asasi manusia.</p></li><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat ditafsirkan sebagai tindakan campur tangan yang dapat dibenarkan dalam urusan internal, khususnya dalam kasus-kasus yang melanggar hak asasi manusia. Hak asasi manusia diakui secara universal, dan merupakan tugas masyarakat dunia untuk membelanya. Oleh karena itu, kritik internasional sering kali diperlukan untuk memastikan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas tindakan mereka yang melanggar hak asasi manusia dan belum tentu merupakan pelanggaran kedaulatan suatu negara. Namun kritik internasional harus dilakukan dengan mempertimbangkan kedaulatan negara dan tidak boleh mengakibatkan tindakan yang melanggar hak negara tersebut.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 02:45:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101249844</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101257690</link>
         <description><![CDATA[<p>George Bryan Tristan Susilo 12A</p><p><br/></p><p>1. Taktik penembakan misterius memang berhasil menurunkan angka kriminalitas secara signifikan. Namun, hasil positif ini tidak bisa membenarkan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Menghakimi dan mengeksekusi seseorang tanpa melalui proses hukum adalah tindakan yang melanggar prinsip keadilan dan hak dasar setiap individu. Keamanan tidak seharusnya dicapai dengan cara yang melanggar hak asasi manusia.</p><p>2. Tindakan pemerintah dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Meskipun niatnya mungkin untuk menjaga stabilitas negara, tindakan tersebut melanggar hukum dan hak asasi manusia. Sebagai negara yang berdaulat dan berkomitmen pada hukum, seharusnya ada proses hukum yang adil bagi setiap individu, bukan tindakan kekerasan yang dilakukan secara rahasia.</p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya mungkin akan menentang tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Meskipun keamanan penting, cara yang digunakan tidak dapat dibenarkan karena melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Saya akan mendukung pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis hukum dalam menangani kejahatan.</p><p>4. Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum, seperti dalam kasus Petrus, menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem hukum Indonesia pada saat itu. Ini menandakan bahwa hukum tidak sepenuhnya ditegakkan secara adil dan bahwa ada kecenderungan untuk menggunakan kekuasaan secara berlebihan tanpa pertanggungjawaban yang jelas.</p><p>5. Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik, terutama jika dilihat dari sudut pandang hak asasi manusia yang diakui secara universal. Meskipun kedaulatan negara penting, pelanggaran hak asasi manusia adalah masalah global yang harus diperhatikan oleh komunitas internasional. Dukungan internasional dalam menegakkan hak asasi manusia tidak seharusnya dilihat sebagai pelanggaran kedaulatan, melainkan sebagai upaya untuk menjaga standar kemanusiaan yang lebih baik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 02:50:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101257690</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101258313</link>
         <description><![CDATA[<p>Francesca Bulan Sari BD 12A</p><ol><li><p>Menurut artikel tersebut, banyak pelaku kriminal telah menyerahkan diri atau menghentikan aktivitas kriminal mereka. Tekanan psikologis yang dirasakan oleh warga juga dianggap efektif dalam mengurangi angka kriminalitas menurut pandangan saya.</p><p>Namun, apapun hasil positifnya, pelanggaran hak asasi manusia seperti ini tidak dapat dibenarkan. Terutama aksi Petrus yang dilakukan oleh pihak berwenang, yang bisa menjadi contoh buruk bagi masyarakat dan menumbuhkan pandangan bahwa tindakan main hakim sendiri adalah sesuatu yang sah. Sesuai dengan pembukaan UUD 1945, salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah “melindungi segenap bangsa Indonesia”. Oleh karena itu, melindungi hak asasi setiap warga negara, termasuk pelaku kriminal, adalah tanggung jawab negara yang harus dijalankan melalui proses hukum yang tepat.</p></li><li><p>Era Orde Baru sering dipandang sebagai periode paling menakutkan dalam sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan. Petrus merupakan contoh penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat tinggi yang mengancam keselamatan dan hak asasi manusia, hampir serupa dengan penjajahan Belanda dan negara lain sebelum kemerdekaan. Oleh karena itu, Petrus adalah tindakan yang seharusnya dihindari.</p></li><li><p>Kalau saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus karena tidak sesuai dengan prinsip hak asasi dan keadilan. Meskipun saya tidak mengalami masa itu secara langsung, saya akan mendukung Indonesia untuk memiliki sistem hukum yang adil dan transparan. Namun, mewujudkannya bisa jadi sulit di bawah pemerintahan yang menekan.</p></li><li><p>Petrus dianggap sebagai contoh ekstrem dari “main hakim sendiri”, dan saya tidak setuju dengan tindakan ini karena tidak semua orang yang ditembak bersalah. Tidak adanya proses persidangan untuk para pelaku kriminal yang ditembak menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia pada masa Orde Baru belum solid. Sekarang, meski proses hukum sudah lebih terstruktur, masih ada kecurangan dan kasus main hakim sendiri terhadap pencuri, sebagai contohnya.</p></li><li><p>Menurut Piagam PBB Pasal 2 Ayat 7, negara dilarang mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Walaupun campur tangan ini mungkin dianggap tidak sah, tindakan tersebut merupakan tindakan moral. Saya percaya bahwa tindakan ini tidak melanggar kedaulatan Indonesia karena Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat, dan berdasarkan reaksi warga yang terkejut dan ketakutan, aksi Petrus jelas bertentangan dengan kehendak rakyat.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 02:50:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101258313</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101266653</link>
         <description><![CDATA[<p>I Putu Adhi Abimayu Pramana 12A</p><p><br/></p><p>1. Taktik penembakan misterius menunjukkan efektivitas dalam menurunkan angka kriminalitas pada tahun 1983, tetapi hasil positif ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia. Penggunaan kekerasan tanpa proses hukum melanggar prinsip keadilan dan hak asasi manusia yang fundamental.</p><p><br/></p><p>2. Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang seharusnya dihindari. Meskipun tujuannya untuk menjaga stabilitas, metode penembakan tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan.</p><p><br/></p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Meskipun angka kejahatan mungkin menurun, penembakan tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan, yang lebih penting daripada hasil jangka pendek.</p><p><br/></p><p>4. Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan signifikan dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Ini mencerminkan ketidakmampuan sistem hukum untuk menegakkan keadilan secara adil dan melindungi hak asasi manusia.</p><p><br/></p><p>5. Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik jika dilihat dari perspektif hak asasi manusia. Komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk menegakkan standar hak asasi manusia global, tetapi kritik harus dilakukan dengan menghormati kedaulatan negara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 02:54:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101266653</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101278627</link>
         <description><![CDATA[<p>Renara Ribkah Setiady - 12B</p><p><br/></p><ol><li><p>Taktik penembakan misterius yang diterapkan selama masa Orde Baru terbukti efektif dalam mengurangi angka kriminalitas, seperti yang tercantum dalam artikel tersebut. Namun, meskipun berhasil menekan tingkat kejahatan, taktik ini melanggar hak asasi manusia. Penggunaan kekerasan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena semua tindakan negara seharusnya dilakukan dengan menghormati hak-hak individu.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus dapat dianggap sebagai upaya untuk menjaga stabilitas negara dengan menurunkan angka kejahatan. Namun, tindakan tersebut lebih merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan, karena menghukum individu tanpa proses hukum yang sah melanggar prinsip-prinsip negara hukum dan hak asasi manusia. Keamanan negara seharusnya dicapai melalui metode yang sesuai dengan hukum dan menghormati hak-hak individu.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Kalau saya hidup di masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Saya percaya bahwa semua individu mempunyai hak untuk menjalankan hukum secara adil. Meskipun saya tidak setuju dengan tindakan Peter, saya mungkin tidak dapat melakukan tindakan yang terlalu besar, atau membantu terlalu banyak karena saya masih terlalu muda.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum, seperti yang terjadi pada kasus Petrus, menunjukkan lemahnya penegakan hukum di Indonesia saat itu. Tindakan tersebut mencerminkan praktik yang jauh dari prinsip supremasi hukum dimana hukum harus menjadi landasan dalam setiap tindakan negara. Selain itu, kurangnya transparansi dalam operasi ini menunjukkan kurangnya akuntabilitas pemerintah atas tindakan mereka, dan hal ini harus dihindari di negara-negara demokratis yang menghormati hak asasi manusia.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dilihat sebagai campur tangan yang sah dalam urusan dalam negeri, terutama ketika hak asasi manusia dilanggar. Hak asasi manusia diakui secara internasional dan perlindungannya merupakan tanggung jawab komunitas global. Oleh karena itu, kritik dari komunitas internasional tidak selalu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan suatu negara, namun seringkali diperlukan untuk memastikan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas tindakan mereka yang melanggar hak asasi manusia. Namun kritik internasional harus dilakukan dengan mempertimbangkan kedaulatan negara dan tidak mengarah pada intervensi yang melanggar hak negara tersebut.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:00:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101278627</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101281068</link>
         <description><![CDATA[<p>Kyra Kaisarea Chandra 12B</p><p>1.Taktik penembakan misterius memang efektif menurunkan kriminalitas, tetapi tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia. Menghukum orang tanpa proses hukum yang adil merusak keadilan dan berisiko mengorbankan orang yang tidak bersalah. Keamanan dan ketertiban harus dicapai tanpa melanggar hak-hak fundamental.</p><p><br/></p><p>2.Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus lebih merupakan penyalahgunaan kekuasaan daripada langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara. Meskipun efektif menurunkan kriminalitas, eksekusi tanpa proses hukum merusak prinsip keadilan dan hak asasi manusia. Stabilitas seharusnya dicapai melalui penegakan hukum yang adil dan transparan.</p><p><br/></p><p>3.Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Meskipun operasi ini mungkin dianggap efektif dalam menurunkan kriminalitas, metode eksekusi tanpa proses hukum yang adil jelas melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Saya akan menolak operasi ini karena penting untuk menegakkan hukum dengan cara yang adil dan transparan, bukan melalui tindakan yang merugikan dan tidak adil. Dukungan terhadap hak asasi manusia dan keadilan harus tetap diutamakan, bahkan dalam upaya menjaga keamanan dan stabilitas.</p><p><br/></p><p>4.Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Ini mencerminkan ketidakmampuan sistem hukum untuk menegakkan keadilan secara adil dan transparan.</p><p><br/></p><p>5.Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dianggap sah dalam konteks hak asasi manusia. Meskipun negara memiliki kedaulatan, pelanggaran HAM yang serius dapat memicu perhatian global untuk memastikan keadilan. Kritik ini lebih fokus pada perlindungan hak asasi manusia daripada campur tangan langsung dalam urusan domestik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:02:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101281068</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101281627</link>
         <description><![CDATA[<p>Henin H. M. Widjaja 12B</p><ol><li><p>Artikel tersebut mengungkapkan bahwa penggunaan teknik penembakan misterius selama masa Orde Baru, yang dikenal sebagai operasi Petrus, berhasil menurunkan tingkat kejahatan. Meskipun strategi ini efektif dalam mengurangi angka kriminalitas, ia melanggar hak asasi manusia. Kekerasan dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan, karena setiap tindakan negara harus berkomitmen pada perlindungan hak-hak individu.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Pemerintah Orde Baru mungkin melihat operasi Petrus sebagai upaya untuk menjaga stabilitas dan mengurangi kejahatan. Namun, tindakan menghukum seseorang tanpa mengikuti prosedur hukum yang sah jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menunjukkan penyalahgunaan kekuasaan. Keamanan negara seharusnya dicapai melalui cara-cara yang mematuhi hukum dan menghargai hak-hak individu.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Jika saya adalah warga di masa Orde Baru, saya pasti akan menolak operasi Petrus. Saya percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan hukum yang adil. Meskipun saya mungkin tidak punya banyak kekuatan atau pengaruh pada waktu itu karena usia saya, prinsip keadilan harus selalu diutamakan.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Penggunaan kekerasan oleh negara secara sembunyi-sembunyi dan tanpa dasar hukum, seperti dalam kasus Petrus, menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia pada saat itu sangat lemah. Ini bertentangan dengan prinsip supremasi hukum, yang mengharuskan semua tindakan pemerintah harus berdasarkan hukum. Ketidakjelasan dalam prosedur ini menunjukkan kurangnya akuntabilitas pemerintah, yang seharusnya dihindari di negara demokratis yang menghormati hak asasi manusia.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai bentuk campur tangan yang sah, terutama jika melibatkan pelanggaran hak asasi manusia. Hak asasi manusia adalah standar universal yang harus dilindungi, dan komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk memastikan pemerintah bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut. Namun, kritik internasional harus menghormati kedaulatan negara dan tidak menyebabkan pelanggaran terhadap hak negara tersebut.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:02:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101281627</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101283740</link>
         <description><![CDATA[<p>Ni Wayan Kalila Anindita Dharmendra 12B</p><p><br/></p><ol><li><p>Penembakan misterius berhasil menurunkan angka kriminalitas dalam jangka pendek, tetapi taktik ini melanggar hak asasi manusia secara serius. Meskipun ada hasil positif, pelanggaran HAM tidak dapat dibenarkan karena merusak prinsip keadilan, mengabaikan proses hukum, dan menimbulkan ketakutan serta ketidakpastian di masyarakat.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus lebih merupakan penyalahgunaan kekuasaan daripada langkah menjaga stabilitas. Meskipun kriminalitas menurun, membunuh tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia, merusak kepercayaan publik, dan menciptakan ketakutan, yang akhirnya berdampak negatif pada stabilitas jangka panjang.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus. Meskipun kriminalitas menurun, tindakan ini melanggar hak asasi manusia dan proses hukum. Membunuh tanpa pengadilan menciptakan ketakutan, ketidakadilan, dan merusak kepercayaan terhadap pemerintah, yang pada akhirnya tidak bisa dibenarkan.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Tindakan ini mencerminkan ketidakmampuan negara menegakkan hukum secara adil, mengabaikan proses hukum, dan mengandalkan kekerasan, yang merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah. Hal ini karena melibatkan pelanggaran hak asasi manusia, yang merupakan isu global. Meskipun demikian, penting juga untuk menghormati kedaulatan negara, asalkan penegakan hukum domestik dilakukan dengan adil dan transparan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:03:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101283740</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101286452</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Dexcel Dinatha Sean Darmayasa | Kelas: 12C</strong></p><p>1. Saya menilai bahwa taktik penembakan misterius memang efektif dalam menurunkan angka kriminalitas, tapi ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melanggar hak asasi manusia. Hasil yang positif seperti penurunan kriminalitas tidak bisa membenarkan tindakan menghakimi dan mengeksekusi orang tanpa proses hukum yang adil. Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.</p><p>2. Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus menurut saya adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang seharusnya dihindari. Walaupun tujuannya untuk menjaga stabilitas negara, cara yang dilakukan tidak sesuai dengan hukum dan melanggar hak asasi manusia. Negara seharusnya melindungi warga negara dengan cara yang adil dan sesuai hukum, bukan dengan tindakan kekerasan yang tidak transparan.</p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Saya tidak setuju dengan cara yang digunakan karena melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Saya percaya bahwa keamanan bisa dicapai dengan cara-cara yang lebih manusiawi dan berdasarkan hukum.</p><p>4. Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus menurut saya menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem hukum Indonesia pada saat itu. Ini menunjukkan bahwa ada masalah dalam penegakan hukum yang seharusnya mengutamakan keadilan dan transparansi. Tindakan seperti ini hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.</p><p>5. Saya berpikir bahwa kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus adalah campur tangan yang sah dalam urusan domestik, terutama karena pelanggaran hak asasi manusia adalah isu global. Walaupun kedaulatan negara itu penting, pelanggaran hak asasi manusia tidak bisa diabaikan dan komunitas internasional memiliki hak untuk menyuarakan keprihatinan mereka demi menjaga standar kemanusiaan yang lebih baik.v</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:05:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101286452</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101300522</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><ol><li><p>Menurut artikel tersebut, taktik penembakan misterius atau Petrus terbukti efektif dalam menurunkan angka kriminalitas, khususnya pada tahun 1983. Setelah operasi ini dimulai, banyak penjahat menyerahkan diri, dan angka kejahatan menurun secara signifikan. Namun, meskipun efektivitas taktik ini dalam menurunkan angka kriminalitas terlihat positif, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi tidak dapat dibenarkan. Penembakan tanpa proses hukum yang sah merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, karena tindakan tersebut mengadili dan menghukum seseorang tanpa memberi mereka kesempatan untuk membela diri di pengadilan. Dengan demikian, hasil positif dalam menurunkan angka kejahatan tidak dapat membenarkan praktik pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan dalam operasi ini.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus seharusnya dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang serius, bukan langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara. Meskipun tujuan untuk menurunkan angka kriminalitas tampak positif, metode yang digunakan—penembakan tanpa proses hukum—merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang mendasar. Menjaga stabilitas negara tidak dapat dibenarkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia, dan tindakan tersebut mencerminkan penyalahgunaan kekuasaan yang seharusnya dihindari.</p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang operasi Penembakan Misterius (Petrus) karena tindakan ini melanggar prinsip dasar hak asasi manusia, yaitu hak atas pengadilan yang adil. Meskipun operasi ini mungkin berhasil menekan angka kriminalitas, mengeksekusi individu tanpa proses hukum yang sah menciptakan atmosfer ketakutan dan ketidakpercayaan di masyarakat, serta merusak integritas hukum. Namun, mengingat keterbatasan kebebasan berpendapat pada masa itu, penentangan saya mungkin akan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko represif dari pemerintah.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan oleh negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus jelas menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia pada masa itu. Tindakan ini mencerminkan ketidakmampuan atau ketidaksediaan negara untuk menegakkan hukum secara adil dan transparan, serta menunjukkan bahwa aparat negara lebih mengandalkan tindakan represif daripada mekanisme hukum yang sah. Hal ini juga memperlihatkan adanya masalah dalam akuntabilitas dan pengawasan terhadap kekuasaan negara, di mana tindakan yang melanggar hak asasi manusia dapat dilakukan tanpa konsekuensi hukum yang jelas. Kasus Petrus menjadi contoh bagaimana kekuasaan bisa disalahgunakan ketika prinsip-prinsip hukum diabaikan, yang pada akhirnya merusak kepercayaan masyarakat terhadap keadilan dan integritas pemerintah.</p></li><li><p>Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik, karena hak asasi manusia adalah isu global yang diatur oleh berbagai perjanjian internasional yang melibatkan semua negara, termasuk Indonesia. Kritik ini merupakan bentuk tekanan untuk menegakkan standar hak asasi manusia yang diakui secara universal dan tidak boleh dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Meskipun kedaulatan nasional penting, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan atau membenarkan pelanggaran serius terhadap hak-hak dasar individu.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:12:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101300522</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101306949</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Taktik penembakan misterius (Petrus) terbukti efektif dalam menurunkan angka kriminalitas pada tahun 1983, dengan penurunan signifikan dalam kasus kejahatan. Namun, meskipun hasil tersebut menunjukkan dampak positif dalam mengurangi kejahatan, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi—termasuk pembunuhan tanpa proses hukum—tidak dapat dibenarkan. Prinsip hak untuk diadili secara adil harus dihormati, dan pelanggaran hak asasi manusia tidak dapat dianggap sah meskipun ada hasil yang dianggap positif dalam hal keamanan.</p><p><br/></p><p>2. Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus lebih tepat dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan daripada langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara. Meskipun tujuan menjaga keamanan dan menurunkan angka kriminalitas mungkin dianggap penting, penggunaan kekuasaan yang melibatkan pembunuhan tanpa proses hukum jelas melanggar prinsip hak asasi manusia dan hukum yang adil. Penegakan hukum yang adil dan transparan adalah fondasi utama untuk stabilitas negara yang berkelanjutan. Penyalahgunaan kekuasaan, seperti yang terjadi dalam kasus Petrus, dapat merusak kepercayaan publik dan institusi hukum, serta berpotensi menciptakan ketidakstabilan jangka panjang yang lebih besar daripada masalah kriminalitas itu sendiri.</p><p><br/></p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan cenderung menentang tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Meskipun tujuan menurunkan angka kriminalitas mungkin tampak valid, pelanggaran hak asasi manusia melalui pembunuhan tanpa proses hukum adalah masalah mendasar. Dukungan terhadap prinsip keadilan dan hak asasi manusia sangat penting, bahkan dalam upaya menjaga keamanan. Saya akan lebih memilih solusi yang menegakkan hukum secara adil dan transparan, daripada mendukung pendekatan yang melanggar hak dasar individu dan dapat merusak integritas sistem hukum serta kepercayaan publik.</p><p><br/></p><p>4. Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan serius dalam sistem hukum Indonesia pada saat itu. Tindakan ini mencerminkan kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam penegakan hukum, serta mengabaikan prinsip-prinsip dasar keadilan dan hak asasi manusia. Ketidakpatuhan terhadap proses hukum yang sah dan perlindungan hak individu menandakan adanya kekurangan dalam sistem hukum yang harusnya memastikan keadilan dan melindungi warga negara dari penyalahgunaan kekuasaan. Kejadian ini memperlihatkan kebutuhan mendesak untuk reformasi hukum dan perbaikan dalam tata kelola penegakan hukum agar lebih adil dan transparan.</p><p><br/></p><p>5. Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik jika dilihat dari perspektif hak asasi manusia dan prinsip hukum internasional. Kritik tersebut seringkali berdasarkan standar hak asasi manusia yang diakui secara global, yang bertujuan untuk memastikan bahwa negara-negara mematuhi norma-norma internasional terkait keadilan dan perlindungan hak individu. Dalam hal ini, kritik internasional bukanlah pelanggaran kedaulatan, melainkan bentuk pemantauan dan penegakan standar internasional yang bersifat universal. Negara berdaulat tetap memiliki tanggung jawab untuk mematuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang diterima secara global, sehingga kritik internasional dapat dilihat sebagai upaya untuk mendorong perbaikan dan memastikan bahwa praktik domestik tidak melanggar standar internasional yang telah disepakati.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:16:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101306949</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101315772</link>
         <description><![CDATA[<p>Pande Made Satrya yasaputra</p><p>12b</p><p><br/></p><ol><li><p>Teknik penembakan misterius dapat menurunkan angka kriminalitas dalam jangka pendek dengan menghilangkan individu yang dianggap terlibat dalam kejahatan. Namun, teknik ini melanggar hak hidup dan hak untuk mendapatkan proses hukum yang adil, menciptakan risiko pelanggaran hak asasi manusia yang serius.</p></li><li><p>Tindakan Petrus oleh pemerintah Orde Baru bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, dianggap perlu untuk menjaga stabilitas negara dengan menembak individu yang dianggap sebagai ancaman guna mengurangi kejahatan dan gangguan sosial. Di sisi lain, tindakan ini dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan karena dilakukan tanpa proses hukum yang adil dan melanggar hak asasi manusia.</p></li><li><p>Jika saya hidup pada era Orde Baru, saya akan menentang operasi Petrus karena melanggar hak asasi manusia. Namun, sebagai remaja 17 tahun, saya tidak ingin terlibat langsung. Saya akan mendukung penentang Petrus secara diam-diam. Terima kasih.</p></li><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tanpa dasar hukum, seperti dalam kasus Petrus, menunjukkan kelemahan sistem hukum Indonesia. Ini mencerminkan masalah transparansi dan keadilan hukum. Namun, saya berpendapat bahwa kekerasan bisa diterapkan untuk masalah besar dan mungkin membuat pelaku kejahatan lebih waspada di masa depan.</p></li><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus bisa diterima jika bertujuan untuk hak asasi manusia dan akuntabilitas. Namun, pemerintah Indonesia mungkin menganggap kritik tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan, karena mereka percaya masalah domestik harus diselesaikan secara internal tanpa campur tangan asing.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:21:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101315772</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sulhanmuzakki</author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101330401</link>
         <description><![CDATA[<p>Sulthan muzakki R 12B</p><p>1. Penembakan misterius (petrus) mungkin menekan angka kejahatan sementara, tetapi tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia. Eksekusi tanpa proses hukum merusak kepercayaan publik dan melanggar hak-hak dasar, seperti hak untuk hidup dan pengadilan yang adil. Hukum yang efektif harus menghormati hak setiap individu dan mengikuti proses hukum yang adil.</p><p><br></p><p>2. Tindakan petrus oleh pemerintah Orde Baru bisa dilihat sebagai usaha menjaga stabilitas, tetapi lebih sering dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan. Meski bertujuan mengurangi kejahatan, eksekusi tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan merusak prinsip negara hukum. Stabilitas seharusnya dijaga melalui penegakan hukum yang adil dan transparan.</p><p><br></p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Meskipun tujuannya untuk mengurangi kejahatan dapat dimengerti, metode yang digunakan melanggar hak asasi manusia dan prinsip hukum. Eksekusi tanpa proses hukum tidak hanya melanggar hak dasar individu, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah dan sistem hukum. Saya akan mendukung penegakan hukum yang adil dan transparan, di mana setiap orang berhak atas proses hukum yang benar, untuk menjaga stabilitas negara tanpa mengorbankan nilai-nilai keadilan.</p><p><br></p><p>4. Kekerasan negara yang dilakukan secara tidak transparan dan tanpa dasar hukum dalam kasus Petrus mengungkapkan kelemahan besar dalam sistem hukum Indonesia saat itu. Ini menunjukkan kurangnya akuntabilitas, pelanggaran hak asasi manusia, dan menurunnya kepercayaan terhadap sistem peradilan. Tindakan ini menegaskan pentingnya reformasi hukum untuk memastikan penegakan hukum yang adil dan transparan.</p><p><br></p><p>5. Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus bisa dianggap sebagai campur tangan yang sah karena menyoroti pelanggaran hak asasi manusia, meskipun ada yang melihatnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Kritik ini penting untuk memastikan akuntabilitas dan mendorong reformasi, namun harus disampaikan dengan sensitif terhadap kedaulatan negara dan secara konstruktif.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:30:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101330401</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101339890</link>
         <description><![CDATA[<p>Nicola Talib</p><p>12B</p><p><br/></p><p>1. Taktik penembakan misterius mungkin menurunkan kejahatan, tetapi sering melanggar hak asasi manusia. Efektivitas harus diukur dengan data jelas, dan metode harus mematuhi hak asasi manusia, menjaga keseimbangan antara mengurangi kejahatan dan melindungi hak individu.</p><p>&nbsp;</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus Petrus, meskipun mungkin bertujuan menjaga stabilitas, lebih tepat dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan. Penembakan tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan dapat merusak kepercayaan publik serta menciptakan masalah jangka panjang.</p><p>&nbsp;</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya akan menentang tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Penembakan tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan prinsip keadilan, serta dapat merusak kepercayaan publik dan menimbulkan masalah jangka panjang.</p><p>&nbsp;</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Penggunaan kekerasan tidak transparan dan tanpa hukum dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan dalam sistem hukum Indonesia saat itu, karena melanggar prinsip keadilan dan hak asasi manusia serta kurangnya transparansi dan akuntabilitas.</p><p>&nbsp;</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>5. Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dianggap sah karena berfokus pada hak asasi manusia yang universal. Meskipun menghormati kedaulatan negara penting, komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk mendorong keadilan dan reformasi.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 03:37:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101339890</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101423630</link>
         <description><![CDATA[<p>Jeslyn Verdita Martanto 12B</p><ol><li><p>Menurut saya, taktik penembakan misterius ini sangatlah efektif untuk menurunkan angka kriminalitas secara signifikan terutama pada tahun 1983. Dimana ancaman dan pelaksanaan taktik yang dilakukan kepada pelaku kriminal tersebut membuat banyak orang lainnya takut untuk melanjutkan aktivitas kriminal mereka. Namun, efektivitas dalam menurunkan angka kejahatan tersebut tidak dapat dibenarkan karena melanggar hak asasi manusia dan tidak menghilangkan kenyataan bahwa banyak orang yang menjadi korban tanpa mendapatkan kesempatan untuk membela diri di pengadilan.</p></li><li><p>Tindakan pemerintah orde baru dalam kasus Petrus bukanlah langkah yang dibenarkan untuk menjada stabilitas negara. Walaupun berhasil menurunkan kriminalitas, pembunuhan tanpa proses hukum melanggar hak asasi manusia dan merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah. Stabilitas juga harus dijaga melalui penegakan hukum yang adil dan transparan, bukan dengan kekerasan semena mena yang dapat menciptakan contoh berbahaya.</p></li><li><p>Saya akan menolak tindakan pemerintah dalam kasus tersebut. Walaupun bertujuan untuk mengurangi kejahatan, pembunuhan tanpa proses hukum jelas melanggar prinsip keadilan dan hak asasi manusia. Menurut saya, semua orang berhak untuk mendapatkan proses hukum yang adil dimana kekerasan seperti taktik penembakan tersebut sangatlah tidak pantas untuk dijadikan hukuman. Taktik tersebut hanya akan mengikis kepercayaan masyarakat pada negara.</p></li><li><p>Ya, hukuman yang tidak berdasarkan hukum ini sangatlah menunjukan betapa lemahnya sistem hukum di Indonesia bahkan warga Indonesia masih bisa berlaku semena mena dibawah pemerintahan negara. Hal ini menunjukan seberapa penting/value kepemerintahan Indonesia dinegaranya sendiri. </p></li><li><p>Menurut saya, kritik internasional tersebut dapat dianggap sebagai campur tangan yang sah dalam urusan domestik. Kritik internasional ini memiliki tujuan untuk mendukung prinsip hak asasi manusia dan mencegah pelanggaran besar. </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 04:41:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3101423630</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3102377168</link>
         <description><![CDATA[<p>Andrew Baldwin 12B<br></p><ol><li><p>Menurut saya, penembakan Misterius Petrus yang terjadi di antara tahun 1983 hingga 1985 terlihat sangat berhasil untuk menurunkan angka kejahatan dalam waktu yang singkat. Namun kita tetap harus melihat bahwa metode ini juga melanggar hak asasi manusia yang mendasar. Meski strategi ini bisa untuk menakuti pelaku kriminal dan menurunkan angka kejahatan, tindakan ini agak mengerikan apabila terus menerus terjadi khususnya di area publik. Selain itu, kebijakan ini merusak kepercayaan publik terhadap sistem hukum dan menarik perhatian negatif dari komunitas internasional, yang akhirnya membuat operasi ini dihentikan pada 1985. Jadi, meskipun Petrus tampak berhasil mengurangi kejahatan, cara ini tidak bisa diterima karena melanggar hak-hak dasar manusia.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tindakan pemerintah orde baru dalam kasus penembakan misterius tersebut bisa kita lihat sebagai upaya untuk menjaga keamanan negara karena tingginya angka kriminalitas pada awal tahun 1980an. Namun tindakan ini sebenarnya adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang tidak bisa dibenarkan. Walaupun operasi ini berhasil menurunkan angka kejahatan, menembak orang tanpa melalui proses hukum yang benar adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia. Hal ini dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan membuat citra Indonesia buruk di mata dunia. Meskipun mungkin berhasil dalam jangka pendek, cara seperti ini tidak menghormati hukum dan bisa berdampak buruk dalam jangka panjang.</p><p><br/></p></li><li><p>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya mungkin akan merasa khawatir dalam merespons tindakan pemerintah terkait kasus penembakan misterius. Di satu sisi saya mungkin akan mengerti mengapa sebagian orang mendukung operasi ini, terutama jika mereka merasa terancam oleh tingginya angka kriminalitas pada waktu itu. Namun di sisi lain, saya akan sangat prihatin dengan cara strategi tersebut menangani situasi ini. Menembak orang tanpa proses hukum yang jelas adalah tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia dan bisa menciptakan rasa takut di masyarakat terutama di area publik. Saya akan cenderung menentang operasi ini karena saya percaya bahwa keamanan tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan keadilan. Masih ada banyak cara cara lain yang lebih manusiawi dan sesuai dengan prinsip hukum untuk mengatasi kejahatan, seperti memperkuat sistem peradilan, memperbaiki kondisi sosial-ekonomi yang memicu kejahatan, atau meningkatkan pendidikan hukum di masyarakat.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tanpa dasar hukum dalam kasus penembakan misterius menunjukkan bahwa pemerintah Orde Baru mungkin lebih mengutamakan pendekatan praktis untuk menangani kriminalitas daripada mematuhi prinsip-prinsip hukum dan hak asasi manusia. Dengan memilih tindakan yang lebih agresif yang pemerintah tunjukan dalam situasi krisis, mereka lebih cenderung mengandalkan cara-cara yang dianggap efektif secara instan, meskipun melanggar prosedur hukum yang standar. Hal ini mengindikasikan bahwa prioritas utama mereka adalah menciptakan efek jera dan menurunkan angka kejahatan dengan cepat, bahkan jika itu berarti mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan transparansi. Pendekatan ini mencerminkan ketidakseimbangan antara kebutuhan mendesak untuk menjaga keamanan dan komitmen terhadap hukum yang adil, serta menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, pemerintah mungkin memprioritaskan stabilitas segera di atas penegakan hukum yang ideal.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Pendekatan internasional yang mengkritik tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus tersebut seharusnya dianggap sebagai upaya sah untuk melindungi Hak asasi manusia, bukan sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia. Ketika pemerintah suatu negara melakukan pelanggaran HAM yang serius, seperti mengeksekusi seseorang tanpa proses hukum, komunitas internasional dapat memiliki peran penting untuk memberikan tekanan dan memastikan bahwa standar-standar HAM dipatuhi. Kritik internasional tersebut bertujuan untuk mendorong reformasi dan mencegah pelanggaran lebih lanjut, yang merupakan bagian dari tanggung jawab global untuk menegakkan keadilan. Meskipun penting untuk menghormati kedaulatan negara, upaya internasional untuk melawan pelanggaran HAM tidak hanya sah tetapi juga penting nya menjaga prinsip-prinsip hak asasi manusia dan keadilan di seluruh dunia.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 15:26:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3102377168</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3102990202</link>
         <description><![CDATA[<p>Dyora Adabella Marvelle 12B</p><p><br/></p><ul><li><p><strong>Efektivitas Taktik Penembakan Misterius</strong><br>Taktik penembakan misterius mungkin efektif dalam mengurangi angka kriminalitas dalam waktu singkat, namun praktik ini jelas melanggar hak asasi manusia. Hasil positif semacam ini tidak dapat dijadikan pembenaran atas pelanggaran HAM, karena setiap upaya penegakan hukum harus tetap menghormati hak-hak dasar manusia.</p></li><li><p><strong>Tindakan Pemerintah Orde Baru dalam Kasus Petrus</strong><br>Tindakan pemerintah Orde Baru dalam operasi Petrus lebih tepat dipandang sebagai penyalahgunaan wewenang, bukan langkah yang sah untuk menjaga stabilitas. Operasi tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menciptakan ketakutan di masyarakat, yang seharusnya dihindari oleh pemerintah.</p></li><li><p><strong>Respons Terhadap Tindakan Pemerintah dalam Kasus Petrus</strong><br>Jika saya hidup pada masa Orde Baru, saya mungkin akan menolak tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Saya percaya bahwa penggunaan kekerasan tanpa proses hukum yang jelas merusak prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia, sehingga tidak dapat didukung.</p></li><li><p><strong>Pandangan Terhadap Penggunaan Kekerasan Negara dalam Kasus Petrus</strong><br>Penggunaan kekerasan oleh negara yang dilakukan secara tertutup dan tidak berdasar hukum, seperti dalam kasus Petrus, menunjukkan kelemahan mendasar dalam sistem hukum Indonesia pada masa itu. Hal ini mengindikasikan bahwa negara tidak mampu menjalankan fungsi penegakan hukum secara adil dan transparan.</p></li><li><p><strong>Pendekatan Internasional terhadap Kasus Petrus</strong><br>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dianggap sebagai intervensi yang sah dalam menegakkan norma-norma HAM global. Namun, intervensi ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melanggar prinsip kedaulatan negara, yang tetap harus dihormati dalam hubungan internasional.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-04 23:45:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3102990202</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3108853362</link>
         <description><![CDATA[<p>Ni Luh Putu Trisya D 12A</p><ol><li><p>Penembakan misterius memang terbukti untuk menurunkan kriminalitas. Namun, hal positif ini tidak dapat membenarkan pelanggaran hak asasi manusia karena orang tersebut tidak melalui proses hukum yang benar.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Orde baru dalam kasus petrus dapat dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang harus dihindari.Meskipun tujuannya untuk menurunkan jumlah kriminalitas yang ada di negara ini, tindakan ini sangat melanggar proses hukum dan juga membuat masyarakat menjadi ketakutan dan juga merasa terancam.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Jika saya hidup di masa orde baru, jelas saya akan menentang operasi ini karena membunuh orang tanpa adanya proses hukum sudah sangat melanggar prinsip keadilan dan hak asasi manusia.Selain itu masyarakat akan merasa ketakutan dan terancam karena adanya penembakan misterius tersebut.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="4"><li><p>Penggunaan kekerasan negara yang tidak transparan dan tidak berdasarkan hukum.Ini menunjukan bahwa sistem hukum di Indonesia sangat lemah pada saat itu karena, orang pada jaman itu juga seenaknya main hakim sendiri tanpa mengikuti prosedur hukum.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="5"><li><p>Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah indonesia dalam kasus petrus dapat dipandang sebagai campur tangan yang sah.Hal ini sudah melibatkan pelanggaran hak asasi manusia yang termasuk dalam isu global.Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk menjaga negara ini.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 04:08:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3108853362</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3131481095</link>
         <description><![CDATA[<p>Genghis Bradley 12B</p><p><br/></p><p>1.Menurut pandangan saya, penembakan Misterius Petrus yang berlangsung antara tahun 1983 dan 1985 terbukti cukup efektif dalam menurunkan angka kejahatan dalam waktu singkat. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa metode ini melanggar hak asasi manusia yang fundamental. Walaupun strategi ini bisa memberikan efek jera pada para pelaku kriminal dan menurunkan tingkat kejahatan, tindakan tersebut bisa menjadi sangat menakutkan apabila terus diterapkan, terutama di tempat-tempat umum. Selain itu, kebijakan ini juga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum dan mendapat sorotan negatif dari komunitas internasional, yang akhirnya menyebabkan penghentian operasi pada tahun 1985. Jadi, meskipun Petrus terlihat berhasil dalam mengurangi kriminalitas, metode ini tidak bisa dibenarkan karena melanggar hak asasi manusia yang mendasar.</p><p><br/></p><p>2.Tindakan pemerintah Orde Baru dalam kasus penembakan misterius ini dapat dilihat sebagai upaya menjaga stabilitas keamanan negara akibat tingginya tingkat kriminalitas pada awal tahun 1980-an. Namun, tindakan tersebut sebenarnya merupakan penyalahgunaan kekuasaan yang tidak dapat dibenarkan. Meskipun operasi ini sukses menurunkan angka kriminalitas, menembak orang tanpa melalui proses hukum yang sesuai merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Hal ini bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta mencoreng citra Indonesia di mata dunia. Walaupun mungkin efektif dalam jangka pendek, pendekatan semacam ini tidak menghormati hukum dan berpotensi memberikan dampak buruk dalam jangka panjang.</p><p><br/></p><p>3.Jika saya hidup di masa Orde Baru, saya akan menentang tindakan pemerintah dalam kasus Petrus. Penembakan tanpa proses hukum yang jelas adalah pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Tindakan ini mencerminkan penyalahgunaan kekuasaan yang tidak dapat diterima. Selain melanggar hak dasar, tindakan tersebut menciptakan ketakutan dan ketidakpercayaan di masyarakat. Dampaknya tidak hanya merusak dalam jangka pendek, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah dan sistem hukum. Di tingkat internasional, metode ini bisa mencoreng citra negara, dan dalam jangka panjang, pelanggaran seperti ini berpotensi menimbulkan masalah sosial dan politik yang lebih besar serta merusak fondasi demokrasi.</p><p><br/></p><p>4.Penggunaan kekerasan tanpa prosedur hukum yang jelas dan transparansi dalam kasus Petrus menunjukkan kelemahan mendasar dalam sistem hukum Indonesia pada masa itu. Tindakan ini tidak hanya melanggar prinsip keadilan dan hak asasi manusia, tetapi juga mengindikasikan kurangnya akuntabilitas serta pengawasan yang memadai.</p><p><br/></p><p>5.Kritik internasional terhadap tindakan pemerintah Indonesia dalam kasus Petrus dapat dianggap sebagai intervensi yang tepat. Ini karena melibatkan pelanggaran hak asasi manusia, yang menjadi perhatian global. Namun, juga penting untuk menghormati kedaulatan negara, asalkan penegakan hukum dalam negeri dilakukan dengan adil dan transparan.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-22 11:25:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/christinaluck21/d0cnzkdzjg3qh6j7/wish/3131481095</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
