<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>[MERAKI] W5: Memories by syaa</title>
      <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-07-12 23:58:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-08-08 04:34:19 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Mèmoire</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242158751</link>
         <description><![CDATA[<div>TW: brutality (may not suitable for some people) | CW: harsh words<br><br>"<em>GAËL ! MATAKU ! MATAKU GAËL !!</em>" Matanya langsung terbuka dan disambut oleh kamarnya yang berwarna emas disertai interior yang terkesan antik namun terlihat mahal, lagi-lagi dia diserang mimpi buruk akan kenangannya dimasa lalu namun tidak lama ada suara ketukan pintu yang membuat perhatiannya teralihkan, dia mengizinkannya untuk masuk dan terdengar suara pintu terbuka disertai suara hentakan kaki mendekati kasurnya. <br><br>"<em>Good morning~, William</em>" suara seorang pria memanggil namanya, seseorang yang bernama Wiliam hanya memberikan senyuman untuk pria yang berada didepannya "<em>Selamat pagi, Gaël</em>" Tangan Wiliam meraba sekitar mencoba mencari keberadaan pria berdarah Prancis tersebut lalu Gaël mengambil tangan kanannya dan menaruhnya dipipinya. "<em>Aku disini</em>" suaranya membuat hati Wiliam menjadi tenang, dia juga beranjak dari tempat tidurnya lalu dituntun menuju ruangan lain di kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Gaël juga membantu Wiliam untuk berganti pakaian dan menyiapkan dirinya untuk hari yang baru "<em>Thank you, Gaël..,</em>" Wiliam mengambil tongkat hantunya untuk berjalan dan tersenyum sedangkan Gaël hanya tersenyum saja namun tidak memberikan jawaban atas ucapan terimakasih Wiliam.<br><br>Setelah sarapan bersama, Gaël harus pergi dikarenakan ada urusan di butik miliknya. Hal ini menjadi kesempatan bagi seseorang yang datang ke rumah Wiliam, kepala pelayan memberitahu kepada Wiliam bahwa Teman lamanya yaitu Edwin datang berkunjung. Hal itu membuat Wiliam sangat senang dan beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ruang tamu "<em>Edwin</em> !" suara senang Wiliam membuat perhatian pria berdarah Portugis itu membuatnya beranjak dari tempat duduknya dan memeluk teman lamanya ini. "<em>Aku senang melihatmu baik-baik saja, Wiliam..,</em>" Edwin tersenyum dan masih memeluk sahabatnya sedangkan Wiliam juga merasakan kesenangan yang dirasakan oleh Edwin.<br><br>"<em>Tapi..aku sekarang ingin berbicara serius dengan mu, Wiliam</em>" Edwin melepaskan pelukannya dan berbicara serius. Wiliam pun hanya bisa mengangguk pelan dan mempersilahkan tamunya untuk duduk terlebih dahulu. "<em>ada apa, Edwin ?</em>" Wiliam memulai pembicaraan dan Edwin terdiam sebentar sebelum melemparkan pertanyaan kembali "<em>Wiliam, apa yang Gaël lakukan kepada matamu ?</em>" pertanyaan itu sontak membuat Wiliam terkejut dan menjadi khawatir "<em>Edwin..kita tidak boleh membahas ini"</em> Wiliam memegang tangannya dan nada bicaranya menjadi penuh ketakutan namun Edwin tetap bersikeras ingin tahu. <br><br>"<em>Aku mohon Wiliam, kita tidak bisa membiarkan sampah itu disekelilingmu. Jika kamu menjelaskan apa yang terjadi, akan ada kesempatan untuk menjatuhkannya ke penjara..</em>," Edwin ingin menolong temannya itu sehingga Wiliam pun mau bercerita "<em>baiklah Edwin...ini dimulai saat 2 bulan yang lalu</em>"<br>.<br>..<br>...<br>"<em>Wajahmu yang tampan, membuat jiwaku terbang ke angkasa~</em>" Wanita itu tertawa ringan sambil mengelus pipi William dengan lembut Sementara itu william merasa tidak nyaman dengan tindakan wanita didepannya "<em>Maafkan aku tapi aku harus pergi...,</em>" William mencoba melarikan diri dari wanita itu dan tidak ingin dianggap selingkuh "<em>baiklah, sampai jumpa besok tampan~"</em> Wanita itu menggoda William untuk kesekian kalinya sebelum wiliam sempat meninggalkan tatapan wanita itu. Sedikit yang dia tahu, Suaminya melihat peristiwa tersebut dan tidak senang dengan apa yang dia lihat sebelumnya<br><br>"<em>William...,</em>" Pria itu mengepalkan Tangannya dan memutuskan untuk pulang, ketika wiliam menginjak lantai rumah dia mulai merasakan suasana yang tidak enak. "<em>Gaël...aku pulang</em>" William mencoba memanggil penghuni rumah tetapi tidak ada jawaban "<em>Gaël...di mana kamu?</em>" Pria bermata biru terang itu Bingung saat berjalan menyusuri lorong sampai bertemu dengan orang yang dia maksud dengan tatapan penuh kekecewaan yang didorong menjadi amarah.<br><br>"<em>Gaël..ada apa</em>?" Wiliam mencoba mendekatinya tetapi tanggapan yang diberikan Gaël padanya mundur seperti dia tidak ingin disentuh. "<em>Apa yang kamu lakukan di luar ?</em>" William bingung dengan kata-kata orang di depannya, "<em>Apa maksudmu ? Aku baru saja keluar untuk membeli toples..</em>" Dia memasang nada khawatir yang membuat pria berdarah Prancis itu marah. "<em>sepertinya kamu tidak tahu, kamu sedang menggoda gadis didepan gang kecil, bukan ?</em>" Wiliam terkejut, bagaimana orang didepannya bisa salah paham. "<em>Tunggu, Gaël Bukan seperti itu ... wanita itu yang menggodaku..,</em>" William mencoba meyakinkannya tetapi kemarahan Gaël membuatnya tidak mau. dengarkan "<em>oh tolong...Apa aku tidak berarti lagi untukmu ?! Sehingga kamu mulai mencari pengganti diriku !</em>" Dia sangat marah sehingga membuat orang&nbsp; didepannya merasa khawatir.<br><br>"<em>Gaël, tolong-</em>" Sebelum William mencoba meyakinkan Gaël tiba-tiba sebuah mata pena yang tajam menusuk mata kanannya, membuat William kaget dan terjatuh dari rasa sakit. "<em>GAËL ! GAËL ! MATAKU ! MATAKU !!!</em>" William menjerit kesakitan sementara orang didepannya hanya melihat pena yang digunakan untuk menusuk mata kanan pria berambut pirang didepannya. Gaël menyentuh dagu wiliam dan membuat mata kirinya yang menangis menatapnya "<em>Tidak ada yang akan mencintaimu jika kamu cacat..,</em>" Dengan kata-kata itu Gaël menusuk mata kiri William, menyebabkan Pria berdarah Inggris itu berteriak kesakitan sambil memohon bantuan dari orang didepannya itu. Tadi Gaël hanya terdiam saja sampai wiliam pingsan.<br>...<br>..<br>.<br>Suasana ruang tamu menjadi hening, Edwin yang mendengarkan cerita itu tekejut atas apa yang dilakukan oleh Gaël sehingga membuat mata suaminya sendiri buta total. "<em>A- Wiliam, kita harus mengeluarkanmu dari rumah ini. Aku akan membantumu Wiliam..ayo kita bekerja sama memasukan suamimu ke penjara</em>" Edwin memegang tangan Wiliam agar Wiliam percaya diri atas perlakuannya "<em>terima kasih, edwin</em>" Wiliam tersenyum tenang akan kepercayaan diri namun mereka tidak tahu, Gaël mendengarkan percakapan mereka dan membuat wajah yang tidak senang sebelum meninggalkan mereka berdua.<br><br>"<em>Edwin...si brengsek itu tidak bisa meninggalkan rumah tanggaku sendirian</em>"<br><br><strong>Tamat</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-13 00:26:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242158751</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andai</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242176448</link>
         <description><![CDATA[<div>Andai saat itu aku tidak pergi dari rumah…<br><br>Andai saat itu aku yang memegang kendali tubuh…<br><br>Andai saat itu aku tidak bertengkar dengan Reatha…&nbsp;<br><br>Andai saat itu…<br><br>Aku bisa sedikit lebih cepat…<br><br>Andai saat itu…<br><br>Aku bisa sedikit lebih peka…<br><br>Andai saat itu…<br><br>Andai saat itu…<br><br>Andai aku yang sekarang bisa kembali lagi ke saat itu…<br><br>Akankah ayah dan ibu bisa selamat…<br><br>Ataukah…<br><br>Aku dan Reatha…<br><br>Aku dan Reatha…<br><br>Aku dan Reatha…<br><br>"Gavrill."<br><br>Aku tersentak, seseorang menepuk bahuku.&nbsp;<br><br>Ah, itu Reatha.<br><br>"Ada apa denganmu? Kau gelisah sekali."<br><br>"Eh? Ahh, aku tidak apa-apa."&nbsp;<br><br>"Beneran nih nggak apa-apa?"<br><br>Aku mengangguk.&nbsp;<br><br>Sejujurnya, aku ragu.<br><br>Karena pikiranku tadi, benar-benar mengganggu.<br><br>Reatha terdiam, mengamati wajahku. Kalau itu sesuai dugaanku.&nbsp;<br><br>"Oh, oke deh. Omong-omong, Roland habis bikin kue, yuk ke ruang makan! Tadi juga Alpha bawa bir."&nbsp;<br><br>"Lagi?"&nbsp;<br><br>"Yaa kan oleh-oleh."<br><br>"Lama-lama aku kurang setuju kita minum alkohol di depan Anan dan Reu."&nbsp;<br><br>"Iya… sih… sejujurnya aku pun segan. Oh, kali ini aku gak minum alkohol deh, barengan sama Aiko aja, dia bikin jus buah naga hari ini."<br><br>"Ya terserah… kan kamu yang gak mau minum."&nbsp;<br><br>"Hehe." Reatha nyengir, menjulurkan lidahnya.&nbsp;<br><br>Ah, senyumannya itu…<br><br>Sungguh seperti senyuman seseorang yang masa lalunya bahagia.&nbsp;<br><br>"Reatha, maaf aku membicarakan hal ini lagi, tapi…"&nbsp;<br><br>Ucapanku terputus, lidahku kelu.&nbsp;<br><br>Aku takut mengatakannya, terutama pada Reatha.&nbsp;<br><br>Ah tidak, orang-orang di mansion ini pun tidak tahu mengenai hal ini. Hal yang menjadi rahasia paling tertutup milikku dan Reatha.&nbsp;<br><br>"Gavriil? Kamu ada masalah? Kalau ada, cerita saja."&nbsp;<br><br>"Bukan, bukan begitu. Aku…"<br><br>Aku semakin tak mampu bicara rasanya, Reatha mendengarkan fokus sekali.<br><br>"Begini, andai hari itu… ayah dan ibu selamat, akankah kita berdua… bisa jadi seperti ini?"<br><br>Aku takut menoleh.&nbsp;<br><br>Aku takut, Reatha memasang wajah ketakutannya lagi.<br><br>"Kita sudah berjanji 'kan, tidak akan membahas hal itu lagi?"&nbsp;<br><br>Aku mengangguk pelan. "Maaf, tapi pikiran itu mengganggu. Tiba-tiba saja, ingatanku di hari itu… kembali…"<br><br>Reatha terdiam. Ah, aku beneran mengungkit kembali traumanya.&nbsp;<br><br>"Daripada mengingat hal mengerikan begitu, ayo kita nikmati saja hal-hal sekarang dengan lebih hati-hati, agar kejadian seperti saat itu tidak terulang kembali."&nbsp;<br><br>"Reatha?"<br><br>Mata saudari kembarku menyipit, senyuman mengembang di wajahnya.&nbsp;<br><br>"Ayo kita belajar menjadi pribadi yang lebih positif, Gavrill. Aku yakin ayah dan ibu di surga sana juga akan mengatakan hal yang sama."&nbsp;<br><br>Kusadari kemudian senyumku mengembang, kecil memang, tapi iya, itu senyum penuh kelegaan. "Ya."&nbsp;<br><br>"Omong-omong, Gavriil."&nbsp;<br><br>"Hmm?"<br><br>"Nanti malam, ayo tidur bersama."&nbsp;<br><br>"Huh?"<br><br>"Aku takut mimpi buruk lagi."<br><br>"Ah, maaf sudah membuatmu kepikiran."&nbsp;<br><br>"Gak papa, toh kita saudara kembar, harus saling berbagi."&nbsp;<br><br>"Haha. Kalau begitu, nanti aku minta jus buah nagamu ya."<br><br>"Loh kok gitu?"<br><br>"Katamu harus saling berbagi."<br><br>"Gak. Jusnya buatku seorang. Kamu kan udah ada bir."<br><br>"Cih."</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-13 00:46:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242176448</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[untitled]</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242177683</link>
         <description><![CDATA[<div>Masa lalu.. Apa yang aku ketahui tentang masa lalu?<br>Masa di mana ia menyimpan berbagai arsip kehidupan yang mewujudkan diri ku yang sekarang. Namun, kenapa aku tak dapat menggambarkan gambaran pada masa lalu? <br>Kembali melirik diri ku di depan cermin. Akan sirna mata ku, jika seseorang menanyakan tentang Masa lalu.<br>Walau dalam bidang Sejarah, aku memanglah lihai di dalam nya.<br>"Apa yang harus kau sesal kan?"<br>"Kenapa kau masih saja memikirkan kesalahan?"<br>Hah, selalu saja di saat moment euphoria ini redup di kala pikiran ku secara tak sengaja membongkar semua Memori itu.<br>"Lupakan saja, memang sudah dirancang seperti itu, kok! Tak perlu kau sesali."<br>Kata-kata itu selalu ku lontarkan dalam pikiran ku, walau di sisi lain aku tak selalu menyambut dengan baik. Ada kalanya rasa penyesalan tiba tanpa alasan yang jelas. Apa ini? Semacam Anhedonia? Ah, bukan. Hanya rasa negatif yang muncul. Anehnya, ia selalu menggentayangi.<br>"Oh ayolah, tak bisa kah aku menikmati hidup ku seperti anak-anak lain pada semestinya? Kau membuatku hilang kendali. Kenapa kau selalu merasa terjebak pada masa itu, hey? Waktu akan terus berjalan. Dan akan terus tiada henti menuju masa depan."<br>Dengan pikiran kalut, ku rebahkan diri ku di atas kasur, dalam malam yang sunyi, menatap langit-langit. Jantung ku berdetak dengan ritme cepat, memang sudah menjadi hal biasa sebelum tidur. Namun, hal nyeleneh seperti 'Hantu' atau semacamnya bukan lah penyebabnya. Melainkan pikiran ku yang penuh dengan rekaman kegiatan ku sehari-hari.<br>"Hah, lagi-lagi. Ini semua bukan salah mu bodoh. Salahkan mereka yang dalam keadaan naik pitam itu yang meneriaki mu."<br>Batin ku, lagi-lagi menyuruhku untuk menjauh dari isi pikiran itu.<br>Namun, bagaimana pun, rasa bersalah tak dapat disingkirkan, bukan? Cepat atau lambat.<br>Sangat menjengkelkan, aku tahu ini bukan salah ku. Namun, aku membenci rasa ini. Andai saja aku tak melakukannya, semua tak akan berakhir seperti ini. Bodoh sekali rasanya, apa komposisi dalam otak ku sehingga mendorong diri ku untuk melakukan itu? Padahal, aku sudah tahu bagaimana konsekuensi di masa yang akan datang.<br>Lagi-lagi aku mulai berlagak aneh, menenggelamkan kepala ku dalam bantal.<br>"Otak brengsek, sekali lagi kau meributkan hal tak penting, ku buang kau ke perempatan jalan."<br>Tangan ku mulai menggertak bantal guling, rasa malu bercampur rasa kecemasan mencuat. <br>"<em>Apa mau mu?</em>"<br>Tanpa ku sadari, aku kembali memejamkan mata, berakhir tertidur pulas menuju pagi hari yang akan datang.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-13 00:48:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242177683</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A Piece of You</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242185246</link>
         <description><![CDATA[<div>Baginya, kesalahan terbesar dari tindakannya sendiri itu... adalah membiarkan gadis itu menerobos batas diantara mereka.&nbsp;<br><br>Membuatnya menembus dinding kukuh yang telah ia bangun lama dengan mudah... apa dari awal gadis itu memang sengaja?&nbsp;<br><br>Kini, yang tersisa dari gadis itu... hanyalah kepingan memori, sebuah kenangan yang ia simpan dan ingat. Hal yang menyakitkan...&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Ia menggeleng, bibirnya terangkat paksa, “Se-selamat atas hubunganmu dengan Aesop, Arue.”&nbsp;<br><br>Senyum gadis itu mengembang membuat dadanya semakin sesak, “Terima kasih, Saburo-san.”&nbsp;<br><br>Saburo balas tersenyum, memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Ia mengganti lembar halaman bukunya.&nbsp;<br><br>“Mari kita mulai membahas perihal ini...”&nbsp;<br><br>Netra brunette gadis itu menatapnya, gadis itu mengangguk. Pena dan bukunya sudah standby tepat di sebelahnya.&nbsp;<br><br>“Yosh! Demi satu universitas dengan Saburo-san!” serunya, bersemangat.&nbsp;<br><br>Saburo hanya tersenyum, “Bukankah yang kau mau bersama Aesop?” ujarnya, pelan.&nbsp;<br><br>“Huh? Saburo-san bilang apa?”&nbsp;<br><br>Saburo menggeleng, “Tak ada. Mari kita lanjut.”&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Di tengah pelajaran mereka, gawai gadis itu tiba-tiba berbunyi. Netra yang memancarkan kebahagiaan itu membuat Saburo tahu siapa pemanggilnya.&nbsp;<br><br>“Angkat nanti saja, sekarang ini selesaikan dulu tugasmu.” suruhnya, agak ketus.&nbsp;<br><br>“Eh...? Ta-tapi...”&nbsp;<br><br>Saburo semakin terlihat kesal melihat gadis itu bolak-balik memandangnya dan gawainya.&nbsp;<br><br>“Kau ingin lulus tidak?”&nbsp;<br><br>Arue menghela nafas, “Apa boleh sebentar saja ku infokan ke Aesop-san?”&nbsp;<br><br>“Terakhir kali chattingan dengannya, kau bablas.”&nbsp;<br><br>“Apa Saburo-san sedang badmood?” tanya Arue.&nbsp;<br><br>“Tidak.”&nbsp;<br><br>“Tapi—”&nbsp;<br><br>“Apa kau sudah selesai menjawab soal-soal itu?”&nbsp;<br><br>Gadis itu urung bertanya, ia langsung mematikan gawainya dan berkutik pada buku di depannya.&nbsp;<br><br>Heterokom Saburo menatap gadis itu, merasa bersalah karena ketus kepadanya.&nbsp;<br><br>'Aku benar-benar brengsek.' rutuknya.&nbsp;<br><br>Tapi, setidaknya, karena itu ia tak harus makan hati hanya melihat gadis itu bermesraan dengan temannya itu.&nbsp;<br><br>“Dia sungguh beruntung.” ujarnya.&nbsp;<br><br>“Siapa?” Arue bertanya.&nbsp;<br><br>“Aesop.”&nbsp;<br><br>“Aesop-san beruntung? Kenapa?” tanya Arue dengan heran, Saburo menunjuk buku gadis itu.&nbsp;<br><br>“Kau tak perlu tahu, cukup jawab ini.”&nbsp;<br><br>Arue menggembungkan pipinya, Saburo menganggap itu manis, “Saburo-san memang sepertinya sedang badmood.”&nbsp;<br><br>“Menurutmu siapa pelakunya?”&nbsp;<br><br>“Jiro-san?”&nbsp;<br><br>“Baka Jiro takkan membuatku seperti ini.”&nbsp;<br><br>“Jadi siapa? Seseorang dari kelas Saburo-san atau—pacar Saburo-san?”&nbsp;<br><br>“Arue... Kau ke sini untuk belajar, bukan mengurus masalahku.” potongnya.&nbsp;<br><br>Gadis itu mendecih, “Mulai deh, nyebelinnya.”&nbsp;<br><br>“Khusus kau.”&nbsp;<br><br>“Oh, haruskah aku berterima kasih?”&nbsp;<br><br>“Entahlah.”&nbsp;<br><br>Gadis itu menatap kesal, “Sedetik yang lalu masih ok-ok saja. Sekarang malah begini, curiga Saburo-san bipolar. Dipeduliin malah begini.”&nbsp;<br><br>“Lalu? Apa yang harus ku katakan?”&nbsp;<br><br>“Tinggal kasih tau kenapa tiba-tiba badmood, apa susahnya?”&nbsp;<br><br>Saburo memukul meja di hadapannya, Arue tersentak, “Mau ku beritahu?” tanya Saburo.&nbsp;<br><br>Gadis itu terlihat ragu, lalu ia mengangguk, “Siapa tahu aku bisa bantu...”&nbsp;<br><br>Batin Saburo berteriak kesal, ia menatap gadis itu. Arue balas menatap heran, sepertinya ia baru saja memperburuk mood Saburo.&nbsp;<br><br>“Membantu? Yang ada kau memperburuknya.”&nbsp;<br><br>“... aku bilang kan siapa tahu?”&nbsp;<br><br>“Lebih baik, kita akhiri pelajaran hari ini. Pulanglah, panggil Aesop. Atau, kau mau aku yang memanggilnya?” tuturnya, dingin.&nbsp;<br><br>“Apa sih? Apa aku memperburuk suasana hati Saburo-san? Pelajaran bahkan belum berakhir.”&nbsp;<br><br>“Arue... pergi.”&nbsp;<br><br>Heterokom hijau-biru itu terlihat membangun batas, memintanya menjauh. Gadis itu tak mengerti.&nbsp;<br><br>“Apa Saburo-san salah makan?”&nbsp;<br><br>Saburo yang kesal, mengangkat gadis itu dan membawanya keluar. Lalu, ia menutup pintu kamarnya dengan paksa.&nbsp;<br><br>Arue hanya terlihat heran, sementara, Jiro yang kebetulan lewat jahil bertanya.&nbsp;<br><br>“Apa dia kerasukan lagi?”&nbsp;<br><br>“Entahlah, mungkin?”&nbsp;<br><br>“Sabar ya, punya guru seperti itu.” balas Jiro, “Aku bahkan heran kau masih bertahan diajarin sama dia, Arue-chan.”&nbsp;<br><br>“Yah... Saburo-san kalau mengajar... bisa dibilang membuatku sampai paham...?”&nbsp;<br><br>“Ya iyalah, orang dia ngajarin orang yang disukainya. Kalau sama orang lain mah ogah.” ceplos Jiro.&nbsp;<br><br>Gadis itu menatapnya, terkejut, “Eh?”&nbsp;<br><br>“Apa?”&nbsp;<br><br>“Suka?”&nbsp;<br><br>“Apanya yang suka?” Jiro balik bertanya.&nbsp;<br><br>“Siapa yang disukai Saburo-san?”&nbsp;<br><br>“Kau.” Jiro menunjuknya, Arue menatapnya heran. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.&nbsp;<br><br>“Saburo-san menyukaiku? Sebagai adik?”&nbsp;<br><br>Kali ini, heterokomia kuning-hijau Jiro yang terlihat kaget, “Lho? Dia suka kau sebagai lawan jenis.”&nbsp;<br><br>“Eh? Jiro-san bercanda kan?”&nbsp;<br><br>“Kalian bisa diam?!” seru Saburo dari dalam, “Aho Jiro, berhenti bicara omong kosong.”&nbsp;<br><br>“Omong kosong apanya— oi, aku ini masih abangmu! Panggil aku dengan embel!”&nbsp;<br><br>Pintu kembali terbuka, menampakkan Saburo yang benar-benar marah. Netra heterokomianya sekilas memandang Arue sebelum lanjut berdebat dengan Jiro.&nbsp;<br><br>“Ano—”&nbsp;<br><br>Ichiro yang datang secara diam-diam menepuk pelan pundak Arue, meminta gadis itu untuk diam, Arue mengangguk.&nbsp;<br><br>Keduanya berakhir mendapat jitakan dan tarikan di telinga, sebelum Ichiro menyuruh masing-masing adiknya itu untuk saling meminta maaf.&nbsp;<br><br>“Kalian ini... akur dikit ga bisa? Lihat, Arue jadi kesusahan kalian buat. Maaf ya, Arue.” ucapnya.&nbsp;<br><br>“Ah... tak apa-apa kok, Ichiro-san.”&nbsp;<br><br>“Sana pulang, apalagi yang kau tunggu?” Saburo menyeletuk secara tiba-tiba.&nbsp;<br><br>Ichiro ingin menjitak adiknya itu lagi jika saja ia tak langsung melongos ke kamarnya.&nbsp;<br><br>Kedua saudara itu saling memandang heran, melihat Arue seperti meminta jawaban. Gadis itu angkat bahu.&nbsp;<br><br>“Dia sudah begitu tadi.”&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Saburo berusaha menahan dirinya untuk tidak terus-menerus mengintip dari kamar. Arue yang masih menunggu jemputannya terlihat asyik berbicara dengan Ichiro.&nbsp;<br><br>Tapi, ia urung niat. Kembali menutup pintu kamarnya dan berkutat pada komputernya.&nbsp;<br><br>“Bagaimana hubunganmu dengan Saburo?” tanya Ichiro.&nbsp;<br><br>Gadis itu menatap heran, “Seperti biasa?”&nbsp;<br><br>“Dia belum bilang kepadamu?”&nbsp;<br><br>“Bilang apa?”&nbsp;<br><br>“Kalau dia—ah, ku rasa mending Arue saja yang menanyakan langsung kepadanya.”&nbsp;<br><br>“Hee... tapi Ichiro-san... Saburo terlihat marah padaku.”&nbsp;<br><br>Ichiro terkekeh, “Aku yakin dia takkan marah lama. Oh ya, apakah jemputanmu masih lama? Kalau masih, biar ku minta Saburo atau Jiro saja yang mengantar.”&nbsp;<br><br>“Ah, tak usah repot-repot, Ichiro-san. Pacarku sebentar lagi datang kok.”&nbsp;<br><br>Hijau-delima Ichiro mengecil, ia pikir ia salah dengar, “Pacar?” tanyanya, mencoba memastikan.&nbsp;<br><br>Arue mengangguk gembira, “Hum! Aesop-san bilang sebentar lagi ia datang!”&nbsp;<br><br>Ichiro ingat, Aesop merupakan salah satu rekan sekelompok Saburo yang cukup sering singgah ke sini.&nbsp;<br><br>“Sejak kapan kamu jadian?” tanyanya.&nbsp;<br><br>“Semalam! Tadi aku sudah memberitahu Saburo-san juga!”&nbsp;<br><br>Ichiro terdiam, baru paham mengapa adik bungsunya seperti itu. Ichiro benar-benar lupa betapa tak pekanya Arue ini. Yah, di lain sisi, sepertinya Saburo juga terlalu ego—&nbsp;<br><br>“Saburo tak pernah bilang apa-apa padamu?”&nbsp;<br><br>“Tentang?”&nbsp;<br><br>“Misalnya, orang yang dia sukai... atau mungkin menyatakan perasaannya—” Ichiro dengan sengaja tak melanjutkan kalimatnya, berharap Arue menangkap apa yang ia maksud.&nbsp;<br><br>“Malahan ketika aku menanyakan itu, ia terlihat tambah marah?”&nbsp;<br><br>“Apa yang dia bilang?”&nbsp;<br><br>“Menurutmu, siapa pelakunya? Itu yang dia katakan.”&nbsp;<br><br>Ichiro memijit kepalanya, bisa-bisanya gadis itu tak menangkap juga maksud perkataan Saburo.&nbsp;<br><br>“Arue... bagaimana bisa orang setidak peka kamu bisa bertahan di dunia yang kejam ini...”&nbsp;<br><br>“Ehhh?”&nbsp;<br><br>Ichiro baru saja ingin menjelaskan ketika bel rumah Ichiro tiba-tiba berbunyi. Keduanya melihat keluar, netra brunette itu berseri ketika melihat siapa yang tiba.&nbsp;<br><br>“Aesop-san!” serunya.&nbsp;<br><br>Aesop hanya tersenyum, “Maaf terlambat. Tadi ada kendala.” ujarnya, ketika kelabunya bertemu dengan heterokom Ichiro, “Terima kasih banyak atas bantuannya, Yamada-san.”&nbsp;<br><br>“Ah, sama-sama. Kalian hati-hati di jalan! Langsung pulang!” ucapnya selayaknya seorang ibu.&nbsp;<br><br>Keduanya mengangguk dan melambaikan tangan, Ichiro menutup pintu rumah. Dan langsung menaiki tangga.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Ketika sedang istirahat dari pekerjaannya, Saburo duduk dengan malas di ranjangnya.&nbsp;<br><br>Saburo sedang serius dengan gadgetnya ketika tiba-tiba masuk sebuah notif dari Arue. Seperti biasa, seolah tersihir, ia mengetuknya.&nbsp;<br><br>Dan, ia sungguh menyesali perbuatan bodohnya itu. Gadis itu, baru saja memposting sebuah foto dirinya bersama Aesop sambil bergandengan tangan. Keduanya terlihat mesra...&nbsp;<br><br>Bahkan, keduanya malu-malu. Belum sebuah tanda hati dan caption bertuliskan, 'First date'...&nbsp;<br><br>Saburo kembali dimakan api cemburu, segera ia mematikan gadgetnya dan keluar. Ketika Ichiro bertanya, ia hanya bilang ingin mendinginkan kepala.&nbsp;<br><br>Ichiro hanya menatap bingung adiknya itu, tak melarang meskipun dia tidak mengerti. Hari sepanas ini, bagaimana bisa anak itu ingin mendinginkan kepala?&nbsp;<br><br>Saburo bersepeda lumayan jauh, ketika tanpa sengaja ia menangkap sosok yang ia sangat kenali.&nbsp;<br><br>Di depan dessert shop, gadis bersurai brunette itu berdiri dan memandang etalase seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.&nbsp;<br><br>Lagi-lagi, badannya otomatis membawanya ke sana. Arue terlihat kaget ketika melihat Saburo, wajah gadis itu merona karena ketahuan.&nbsp;<br><br>“Kenapa kau tak masuk?” tanya Saburo.&nbsp;<br><br>Masih memerah ia berujar, “Dompetku ketinggalan...”&nbsp;<br><br>“Mana Aesop?”&nbsp;<br><br>Netra gadis itu beralih ke arah lain, “Sepertinya masih sibuk dengan kerja sampingannya.”&nbsp;<br><br>Saburo tahu itu sebuah kebohongan, ia menyentil kening gadis itu, “Setidaknya kalau kau mau berbohong, jangan terlalu jelas.”&nbsp;<br><br>Arue memegang jidatnya yang merah, Saburo benar-benar keras menyentilnya, “Saburo-san, itu sakit!”&nbsp;<br><br>“Siapa suruh berbohong?”&nbsp;<br><br>Arue diam, ia mengurut keningnya itu sembari merutuk Saburo. Pemuda itu menghela nafas, menarik gadis itu masuk.&nbsp;<br><br>“Eh, eh?”&nbsp;<br><br>“Kau mau apa? Cepat pesan.” ucapnya.&nbsp;<br><br>“... apa Saburo-san budeg? Ku bilang aku tak bawa dompet.”&nbsp;<br><br>“Apa kau bodoh? Kalau sampai ku ajak gini, tandanya aku yang akan bayar.” balas Saburo.&nbsp;<br><br>“Akan bayar? Tch, aku tak percaya itu.”&nbsp;<br><br>“Oh, kau tak mau ku traktir? Ya sudah.” Saburo mulai melangkah keluar, belum sempat ia keluar, Arue sudah menggenggam lengannya.&nbsp;<br><br>“Be-beneran ditraktir? Saburo-san ga bercanda kan? Ini tidak akan dimasukkan ke dalam buku dosa kan?” tanya beruntun Arue, Saburo menggeleng.&nbsp;<br><br>“Buruk sekali penilaianmu terhadapku.” celetuk Saburo.&nbsp;<br><br>“Yah... habisnya... Arisugawa-san bilang seperti itu...”&nbsp;<br><br>“Kau dan dia itu, beda cerita.”&nbsp;<br><br>“... kenapa beda? Toh sama-sama manusia.”&nbsp;<br><br>“Kau masih banyak tanya? Aku tinggal betulan.”&nbsp;<br><br>“A... tidak-tidak, Saburo-san yang baik... Jangan marah!” bujuk Arue.&nbsp;<br><br>“Selamat datang, Anda ingin memesan apa?” tanya pelayan di kasir itu.&nbsp;<br><br>Arue masih menatap etalase makanan manis itu secara seksama, memperhatikan satu-satu.&nbsp;<br><br>“Matcha cake, crème brulee dan yang dilihat gadis itu.” ucapnya sambil menunjuk Arue.&nbsp;<br><br>Kasir itu mengangguk, “Apakah ingin kupon diskon?” tawarnya.&nbsp;<br><br>“Mau!” potong Arue dengan semangat.&nbsp;<br><br>“Baiklah, 35% potongan harga untuk pasangan.”&nbsp;<br><br>Mereka berdua terlihat kaget, “Hah?” Saburo spontan.&nbsp;<br><br>“Kuponnya untuk pasangan kekasih. Kalian pasangan, kan?”&nbsp;<br><br>“Tapi, kami bukan—” sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, Arue malah ikut menimbrung.&nbsp;<br><br>“Ahaha, terima kasih kalau begitu.”&nbsp;<br><br>Gadis itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. Sebuah kode untuk ikut akting agar mereka mendapat diskon.&nbsp;<br><br>Ia sekali lagi hanya bisa terjebak, mengikuti alur yang gadis itu buat. Terkutuklah perasaannya ini.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>“Arigatou, Saburo-san!” ucap gadis itu, bahagia.&nbsp;<br><br>Saburo mengangguk, ia memberikan tas yang berisi beberapa makanan manis yang tadinya ia beli diam-diam.&nbsp;<br><br>Gadis itu memiringkan kepalanya dan bertanya heran, “Ini apa...?”&nbsp;<br><br>“Memangnya apalagi? Kau tak lihat logo di tas itu?”&nbsp;<br><br>“Oh...” ucap Arue ketika melihat logo, “Ini untukku? Jika iya, terima kasih, Saburo-san.”&nbsp;<br><br>Saburo membalas dengan 'hmm', heterokomianya memandang tingkah gadis itu. Tanpa sadar, tangannya...&nbsp;<br><br>“Arue?” panggil seseorang, Arue melihat ke arah suara.&nbsp;<br><br>Tangan Saburo terhenti, ia jadinya meremas pakaiannya. Arue terlihat bahagia dengan orang itu.&nbsp;<br><br>“Aesop-san!”&nbsp;<br><br>Aesop dengan santainya mengelus kepala gadis itu, tersenyum lembut kepada Arue. Kelabunya melihat Saburo, tersenyum.&nbsp;<br><br>“Ternyata kau bersama Saburo...” tutur Aesop, Arue mengangguk.&nbsp;<br><br>“Tadi kami tak sengaja berpapasan.”&nbsp;<br><br>“Hmm, begitu.”&nbsp;<br><br>“Ah, sekali lagi terima kasih, Saburo-san! Apa mau masuk ke dalam dulu?”&nbsp;<br><br>“Arue...”&nbsp;<br><br>“Hmm?”&nbsp;<br><br>Netra brunettenya menatap Aesop penuh kasih, berbeda ketika bersamanya. Ah, sekarang dia benar-benar sadar. Memang bukan dia yang disukainya.&nbsp;<br><br>“Jika kalian ingin bermesraan, lakukan di dalam. Aku pergi.” balas Saburo, tak ingin berlama-lama disini.&nbsp;<br><br>Keduanya terlihat memerah, “Kami tak bermesra-mesraan!” seru Arue.&nbsp;<br><br>Saburo hanya mengacungkan jarinya ke atas, menjauh perlahan. Melihat itu, Aesop masih menatap gelap Saburo. Arue tak menyadari hal itu, terlalu asyik pada makanan di tangannya.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Arue semakin sadar, sepertinya Saburo benar-benar mulai menjauhinya. Tapi, ia tak tahu mengapa ia dijauhi. Apakah dia membuat kesalahan?&nbsp;<br><br>Seperti sekarang, mereka memang sedang belajar bareng. Namun, jika biasanya Saburo akan banyak menanyakannya tentang yang diajarinya, kini... Saburo hanya bicara seperlunya.&nbsp;<br><br>Ruangan mereka ini sunyi, membuat Arue merasa tak nyaman. Beberapa kali ia mencoba membuat Saburo bicara, tapi gagal.&nbsp;<br><br>“Apa aku berbuat salah?” tanya Arue.&nbsp;<br><br>Alis Saburo terangkat dengan heran, “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”&nbsp;<br><br>“Habisnya—sepertinya Saburo mencoba menjaga jarak diantara kita.”&nbsp;<br><br>“Dari awal sepantasnya begitu kan? Toh, kita cuma murid dan seorang guru.”&nbsp;<br><br>“Bukankah kita teman?”&nbsp;<br><br>“Siapa bilang? Memangnya aku pernah mengatakan itu?”&nbsp;<br><br>“Lah... Kita sudah sedekat ini... tapi bukan teman? Lalu apa?”&nbsp;<br><br>“Menurutmu?”&nbsp;<br><br>“... saudara?” cetus asal Arue, Saburo menepuk jidat.&nbsp;<br><br>Ia meletakkan bukunya di meja, mendekat tepat ke wajah Arue. Gadis itu masih heran.&nbsp;<br><br>“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai teman ataupun saudara. Camkan itu.” ucapnya, suaranya tidak menunjukkan candaan sedikitpun, begitu pula dengan ekspresi wajahnya.&nbsp;<br><br>Arue menatap heterokomia itu, terlihat berkaca-kaca, “Kalau begitu... apakah cuma aku yang menganggap kita teman?” Saburo mengangguk.&nbsp;<br><br>'Bodoh... aku menganggapmu lebih dari itu.' batinnya berteriak, tapi ia hanya memandang Arue dengan kesal.&nbsp;<br><br>Bagaimana bisa ada orang setidak peka ini? Bagaimana mungkin ia bisa suka dengan orang seperti Arue?&nbsp;<br><br>Tangan gadis itu berusaha menghapus air matanya yang merembes keluar, Saburo kembali teringat pada kejadian tadi.&nbsp;<br><br>Arue dan Aesop bergandengan tangan dengan mesra, tanpa malu menunjukkan afeksi mereka.&nbsp;<br><br>“Apa sih yang sebenarnya Saburo-san pikirkan? Beritahu aku agar tahu!”&nbsp;<br><br>Saburo marah, baiklah... jika itu yang diinginkan Arue... Maka, ia mendekatkan wajahnya, membungkam bibir gadis itu.&nbsp;<br><br>Waktu yang seolah berhenti bagi Saburo, tidak begitu bagi Arue. Pupil gadis itu mengecil, sebelum tangannya mendarat tepat di pipi Saburo. Menampar pemuda itu cukup keras.&nbsp;<br><br>“Kenapa melakukan itu...?”&nbsp;<br><br>“Bukankah kau ingin tahu apa yang ku pikirkan? Itu dia yang ku pikirkan.”&nbsp;<br><br>“Aku tak mengerti... apa Saburo-san sangat menginginkan pacar sampai melakukan ki-ki—”&nbsp;<br><br>“Tidak, aku melakukan itu hanya karena itu kau. Bodoh, kau itu setidak peka apa?”&nbsp;<br><br>“...”&nbsp;<br><br>“Apakah masih sulit untukmu mengerti kalau aku menyukaimu?”&nbsp;<br><br>“...”&nbsp;<br><br>“Kenapa kau tak menjawab? Apa kau benar-benar tak tahu seberapa sulit... aku menahan diri? Dan kau... kau itu...” Saburo yang kesal mendorong tubuh gadis itu ke lantai dan mengepung gadis itu.&nbsp;<br><br>Arue berusaha menghajar Saburo, tapi pemuda itu jelas lebih kuat darinya. Saburo mulai mendekat. Dengan takut, gadis itu menutup matanya.&nbsp;<br><br>Tapi, tak terjadi apa-apa. Saburo sudah duduk dan melepaskannya, “Lebih baik kau pergi. Aku bahkan tak bisa meminta maaf atas perbuatanku.”&nbsp;<br><br>'Aku berbahaya, Arue. Jauhi aku.' begitu matanya berkata.&nbsp;<br><br>Arue tak perlu menunggu suruhan kedua, ia sudah mengemasi barang-barangnya dan pergi.&nbsp;<br><br>“Maaf, Saburo-san... yang ku sukai itu Aesop-san.” gumam kecil gadis itu.&nbsp;<br><br>Saburo mengacak surai legamnya yang indah, “Aku tahu itu, sialan.”&nbsp;<br><br>Sejak itu, hubungan mereka tak lagi sama. Semakin lama, semakin merenggang dan menjauh.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Sebuah berita duka yang terdengar, fakta bahwa ayah angkat Aesop Carl meninggal dunia. Membuat hubungan diantara Arue dan Aesop berjarak.&nbsp;<br><br>Aesop mulai menjadi pribadi yang lebih pendiam, seperti menjauhi segala keramaian. Bahkan, Arue...&nbsp;<br><br>Saburo sesekali tak sengaja mendengar gosip tentang mereka. Meskipun ia tak ingin tahu... tapi, perasaannya ini membuatnya terus-menerus mencari penyakit.&nbsp;<br><br>Ketika kakinya membawanya ke tempat dimana kedua pasangan itu berada, ia terkejut ketika melihat Arue menatap—lebih ke mengintip Aesop yang sedang... bersama seorang kakak tingkat...?&nbsp;<br><br>Bukannya wanita yang bersama Aesop itu... Lydia Jones, ralat, kini namanya Emily Dyer.&nbsp;<br><br>Saburo menepuk Arue yang terlihat kaget melihatnya, “Sejak kapan kau ganti profesi jadi penguntit?” tanyanya.&nbsp;<br><br>Arue mengalihkan pandangannya, “Ini bukan menguntit.” ujarnya beralasan.&nbsp;<br><br>“Dia selingkuh?”&nbsp;<br><br>Arue menggeleng, “Emily-san membantu Aesop-san atas permintaanku...”&nbsp;<br><br>“Kenapa?”&nbsp;<br><br>“Emily-san lebih paham perihal medis... jadi ku pikir... kalau ku serahkan kepadanya...”&nbsp;<br><br>Terlihat jelas bagi Saburo, Arue tampak berkaca-kaca melihat Aesop bersama Emily. Terbilang dekat... Yah, jika dilihat dari sudut pandang mereka.&nbsp;<br><br>Dia tak bisa menahan tindakan bodoh gadis itu, karenanya ia menutup mata gadis itu dan membawanya pergi dari sana. Mengacuhkan protes kecil Arue.&nbsp;<br><br>“Nah, kau suka novel dengan genre ini kan?” tanyanya, memberikan gadis itu sebuah novel acak yang ia pinjam di perpustakaan.&nbsp;<br><br>Arue hanya menatap novel itu, “Tapi, novel ini sudah pernah ku baca...” tuturnya.&nbsp;<br><br>“Ambil yang lain kalau mau.” balas Saburo.&nbsp;<br><br>“Padahal aku tak ingin ke perpustakaan...”&nbsp;<br><br>“Kau kenapa? Ditolong malah begini.”&nbsp;<br><br>Salah satu pustakawati melewati mereka, memberi isyarat untuk mereka diam. Keduanya mengangguk, memutuskan bergelung pada buku masing-masing (Arue masih terpaksa).&nbsp;<br><br>Hanya dengan begini, Saburo kembali merasa degup jantungnya mulai balap, seolah saling bertanding agar terdengar.&nbsp;<br><br>Sudah lewat 5 bulan kejadian itu, dan perasaannya belum mati juga. Malah semakin berkembang, sial sekali.&nbsp;<br><br>'Hubungan mereka juga semakin berkembang.'&nbsp;<br><br>Ah, rasanya sakit lagi. Ia mempercepat membaca lembaran yang membosankan di depannya. Mencoba tak curi pandang ke Arue.&nbsp;<br><br>Arue merasa tak nyaman, bukan hanya karena ia tak lagi akrab dengan Saburo, tapi... meninggalkan Aesop berdua dengan Emily itu... ia takut.&nbsp;<br><br>Katakan dia cemburu, ia akui. Dia memang cemburu pada Emily. Aesop terlihat lebih nyaman berbicara dengan Emily dibanding dengannya beberapa bulan terakhir ini, padahal mereka berpacaran.&nbsp;<br><br>Yah, ia mengerti bahwa Emily adalah dokter. Tapi, melihat reaksi Aesop yang malah menjadi akrab dengan Emily... rasanya ia telah membuat kesalahan besar.&nbsp;<br><br>Tanpa alasan yang jelas, keduanya menghembuskan nafas. Mereka saling memandang, cukup terkejut karena kebetulan ini.&nbsp;<br><br>“Ada masalah?” tanya Saburo, Arue mengangguk.&nbsp;<br><br>“Sepertinya Saburo-san juga memiliki masalah.”&nbsp;<br><br>“Namanya juga manusia.”&nbsp;<br><br>Arue mengangguk, setuju. Entah kenapa ia menemukan ketenangan disaat ini. Tidak seperti belakangan.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Salah baginya jika mengira setidaknya mereka bisa bertahan sebagai teman lagi. Ah tidak, dari awal mereka juga bukan teman kan?&nbsp;<br><br>Saburo mengumpat, bisa-bisanya dia tak berfikiran jernih begini. Menjauhkan Arue dari tempat Aesop dan Emily berada?&nbsp;<br><br>Memangnya apa yang ia dapatkan dari melakukan itu? Mengapa rasanya semakin lama ia semakin bertindak gegabah?&nbsp;<br><br>Salahkan cinta yang membuatnya menjadi tolol begini. Untungnya, setidaknya Arue tak menyadari maksud Saburo yang tiba-tiba membawanya ke arkade ini.&nbsp;<br><br>“Sepertinya hari akan hujan... Saburo-san, kenapa mengajakku ke sini?” tanyanya akhirnya.&nbsp;<br><br>“Kalahkan aku dalam bermain ini.” tuturnya sambil melempar salah satu senapan mainan itu ke Arue.&nbsp;<br><br>Alis gadis itu terangkat dengan heran, “Tiba-tiba sekali?”&nbsp;<br><br>“Akan ku belikan 3 novel yang kau inginkan.”&nbsp;<br><br>“Kalau menang?”&nbsp;<br><br>Saburo mengangguk, Arue terlihat bersemangat. Kobaran api imajiner mengelilingi gadis itu, membuat Saburo terkekeh.&nbsp;<br><br>Yang menyedihkan adalah... Arue bahkan tak menyentuh skor terendah yang ditetapkan Saburo.&nbsp;<br><br>Gadis itu menggembungkan pipinya, meletak senapan itu. Berjalan keluar, ngambek.&nbsp;<br><br>Dan Saburo mengambil kesempatan itu untuk mengusili Arue sepanjang perjalanan. Gadis yang masih ngambek itu, berusaha mengabaikan Saburo.&nbsp;<br><br>Langkah kaki gadis itu terhenti ketika melihat orang yang berada tak jauh dari tempat mereka... Aesop dan Emily...&nbsp;<br><br>“Saburo-san, bagaimana kalau—”&nbsp;<br><br>Saburo tak perlu diberitahu tentang ini, sudah mengenggam tangan Arue.&nbsp;<br><br>“Yang traktir itu kau.” ucapnya.&nbsp;<br><br>Rasanya, Arue akan kehilangan banyak lembar kertas kecintaannya untuk hari ini. Yah, sepertinya ia harus ikhlas...&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>“Kau selalu bersama Saburo belakangan ini...”&nbsp;<br><br>“Aesop-san juga, selalu bersama Emily-san.”&nbsp;<br><br>“Maaf.”&nbsp;<br><br>“Hm, kenapa meminta maaf?”&nbsp;<br><br>Netra kelabu yang menyiratkan penyesalan, terbaca oleh gadis itu.&nbsp;<br><br>“Seperti yang kau ketahui dari dulu... aku dan Emily-san saling kenal.”&nbsp;<br><br>Arue menatap heran, “Lalu?”&nbsp;<br><br>“Selama ini... ku sadari ternyata yang ku sukai, bukan kau, Arue. Melainkan Emily.” Aesop mengakui, masih terlihat menyesal.&nbsp;<br><br>Beda cerita dengan Arue yang hanya diam, tak menanggapi. Jiwanya sudah memaksanya untuk memutuskan hubungan antara raganya.&nbsp;<br><br>“Jadi... Aesop-san ingin...”&nbsp;<br><br>Aesop mengangguk, “Maaf...”&nbsp;<br><br>Netra brunette gadis itu menatapnya sekilas sebelum tersenyum, “Tak apa... terima kasih untuk semuanya...”&nbsp;<br><br>Gadis itu mencubit pahanya sendiri, sakit. Tapi, ia tak bisa mengeluarkan air matanya. Dia tak ingin menangis disaat seperti ini.&nbsp;<br><br>Namun, rasanya sangat sakit. Diputuskan oleh orang yang telah lama ia sukai? Bahkan orang itu bilang bahwa yang sebenarnya ia sukai bukan dia...&nbsp;<br><br>Rasanya buruk sekali, kepalanya berkubang-kunang. Tenggorokannya juga nyeri sekali.&nbsp;<br><br>Arue bahkan tak ingat, apa yang terakhir kali ia bicarakan dengan Aesop. Tahu-tahu, ia sudah berada di perpustakaan, termenung.&nbsp;<br><br>Kenangan seseorang yang begitu buram dibenaknya, sesekali terputar. Ia duduk di sudut dekat jendela, spot kesukaannya.&nbsp;<br><br>“Dari awal, yang dilihat dariku itu... karena mirip dengan Emily-san ya?” gumamnya.&nbsp;<br><br>°°°&nbsp;<br><br>Tak cukup dengan satu kemalangan, Arue lagi-lagi dilanda oleh kesialan lain. Seseorang dengan kejamnya mendorong dirinya hingga jatuh.&nbsp;<br><br>Belum lagi, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Sepertinya, dewi takdir memang sedang bermain dengannya.&nbsp;<br><br>“Kenapa harus dia? Dia yang disakiti!” Saburo merutuk, ia begitu telat mengetahui semua ini.&nbsp;<br><br>Harusnya, ia tolak saja pekerjaan itu. Jika saja ia mengetahui Arue mengalami hal beruntun seperti ini.&nbsp;<br><br>Sampai sekarang, Arue belum membuka matanya. Tidur lelap dengan raut muka yang begitu tenang.&nbsp;<br><br>“Dewi...” celoteh Saburo.&nbsp;<br><br>Saburo menyusul segera ketika mendengar kabar tentang Arue. Meski sebenarnya ia juga sangat ingin memberikan Aesop pelajaran—Arue pasti takkan menyukai itu.&nbsp;<br><br>“Aku benar-benar gila.”&nbsp;<br><br>Dia masih heran, kenapa ia melakukan semua ini... gadis itu bahkan tak menyukainya—tak pernah sekali pun.&nbsp;<br><br>Apakah benar... cinta itu membutakan?&nbsp;<br><br>Saat ini, yang ia harapkan... hanyalah Arue yang membuka mata. Menatapnya seperti biasa.&nbsp;<br><br>Meskipun ia tahu, itu takkan terjadi di waktu yang dekat ini... sepertinya, ia harus mulai menyelidiki yang terjadi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-13 00:56:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242185246</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aku Berjanji</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242513817</link>
         <description><![CDATA[<div>Pria bersurai hitam legam memasuki sebuah ruangan yang sudah menjadi langanannya, tiap hari pria bersurai legam itu disana. Mengisi kesunyian dibalik suara infus yang kerap terdengar atau mesin penghitung denyut jantung.&nbsp;<br><br>"Adikku Zai.., apa tidurmu menyenangkan?" Tanyanya di kesunyiaan, tak ada jawaban pria itu tersenyum maklum dan menatap tangan adiknya. Mengenggam jari dingin itu sudah menjadi kebiasaan sejak dua tahun lalu.&nbsp;<br><br>Kai pria bersurai legam itu mengecup tiap jari dari tangan tersebut, dia hanya mengharapkan adik nya terbangun dari tidur panjang.&nbsp;<br><br>"Kau menikmatimu, mimpi mu ya?" Kai bertanya lagi tapi keheningan dalam ruangan itu menghantamnya tiap kali dia bertanya akan keadaan adiknya.&nbsp;<br><br>Kai mengelus surai putih yang kembali memanjang itu, mengingatkannya akan memori saat Zai berumur 17 tahun, tak ada bedanya dengan kondisi yang sekarang.&nbsp;<br><br>Hanya sedikit perbedaan, jika di umur 17 Zai masih bangun maka umur 18 adalah ketika Zai tertidur dalam mimpi indah.&nbsp;<br><br>"Saat umurmu 17, kau mendapatkan kado yang buruk ya. Maafkan kakak, karena kakak tak bisa mencarikan kado yang baik. Kesannya kami seperti sedang berbuat jahat dibelakangmu" Kai kembali mengajak Zai berbicara, walau tak ada jawaban. Kai tetap melanjutkan bicaranya yang sempat terhenti.&nbsp;<br><br>"Saat itu..., aku kepikiran untuk mengucapkan selamat ulang tahun..tapi kau malah membuka kado terburuk" Kai menatap sedih, setitik air bening jatuh membasahi tangan Zai.&nbsp;<br><br>Kado terburuk dihari 17 tahunnya Zai, dimana Zai mengetahui akan cerita nasibnya selama ini. Membuat Zai mengurung dirinya dalam sangkar yang dia punya.&nbsp;<br><br>Kai menghabiskan waktunya disana, seperti mengajak Zai minum teh, menyuapkannya makanan dan mengajaknya berjalan. Zai menurutinya tanpa ada perlawanan atau kata yang keluar.&nbsp;<br><br>Dan Kai menikmati hal yang mereka habiskan setahun itu dengan hampa, Kai selalu berharap bahkan berdoa bahwa adiknya kembali seperti dahulu.&nbsp;<br><br>Ketika paman Luxiel melakukannya, dia bakal menerimanya dibanding dengan Zai yang terus diam tak ada respon.&nbsp;<br><br>"Zai, aku menyukaimu sebagai seorang kakak.., tolong biarkan aku mendengar suaramu lagi" Kai berkata dengan suara serak, matanya sudah memerah karena menangis. Kai selalu menjadi anak cengeng ketika berada didekat Zai.&nbsp;<br><br>"Zai, esok ulang tahunmu..," jeda sesaat, Kai tak tau harus melanjutkan bagaimana. Dua tahun ini Kai dan Carl merayakannya walau Zai tak bangun juga dari mimpinya.&nbsp;<br><br>"Kau ingin aku bercerita tentang 6 bulan ini lagi?" Kai mengusap kasar bekas air mata, senyap kembali terasa. Kai tersenyum maklum.&nbsp;<br><br>"Aku akan bercerita!" Kini Kai dengan sedikit semangat pundaknya berucap demikian, Kai tertawa kecil dia menarik bangku didekat kasur Zai.&nbsp;<br><br>Menposisikan dirinya disana, Kai tersenyum sembari membuka tas. Mengeluarkan satu persatu isi barang.&nbsp;<br><br>"Haha, aku masih saja berantakan" Kai mengeluh karena barang dicarinya tak dapat ia temukan, dibanding ketemu malah yang ada kertas-kertas penuh coretan.&nbsp;<br><br>"Tapi aku sudah mulai agak rapi!" Lima menit kemudian dia menganti nada bicara, seakan takut dimarahi oleh sosok tak terlihat oleh mata telanjang.&nbsp;<br><br>"Ya..walau agak sih, tapi itu tak seburuk dulu! Aku tak lagi menyimpan kertas tak berguna di tas. Aku juga sudah membawa dua buku, oh! Aku mengikuti saranmu untuk menyiapkan berapa alat tulis." Kai berujar ceria, seakan dia tengah bercerita kepada temannya.&nbsp;<br><br>"Uhh..aku tau! Aku tau! Aku masih nyimpan kertas tapi ini bukan kertas ujian yang hasilnya dicoret A atau B+ ini kertas musik, aku masih main musik sehingga saat kau bangun nanti aku akan menciptakan panggung spektakuler khusus untuk adikku!!"&nbsp;<br><br>"Aku akan menyambutmu! Menebarmu dengan bunga dan memberikan mu sekotak penuh surat yang kutulis penuh kasih sayang! Aku juga akan membuat kue kesukaanmu! Lalu aku akan mengejarmu sambil menyamar seekor kelinci"&nbsp;<br><br>Kai berhenti dia menatap kearah tas coklat miliknya, dia bercerita seakan tak ada beban. Tak peduli sekitarnya, Kai meremas tangannya. Dia tak dapat menahan kesunyian ini, atau melihat adiknya tanpa kepastian.&nbsp;<br><br>"Lalu.." Kai melanjutkan bicaranya dengan suara serak.&nbsp;<br><br>"Aku menjadi penganti dirimu disuatu waktu, aku ingin kita seperti dahulu. Membicarakan tentang mimpi, mengenggam tangan saat tidur atau menganggu papa diruang kerjanya. Aku ingin kita mengulang kejadian itu"&nbsp;<br><br>"Aku ingat, saat kau menyelonong masuk kedalam dapur dan mengambil kue yang baru dimasak oleh koki dapur. Kau membawanya kepada ku, memamerkan hasil curianmu"&nbsp;<br><br>"Aku ingin kita terus seperti itu, oh!! Aku sudah menemukan apa yang ku cari!!" Kai menunjuk sebuah sampul album dengan cengiran lebar. Membuka setiap halaman satu persatu sampai pada halaman ke-6 Kai berhenti.&nbsp;<br><br>"Ekhem! Aku Kai yang hebat ini akan bercerita kepada putri tidur saat ini, karena sang putri tidur tengah bermimpi maka pangeran datang menunggu sang putri terbangun sambil terus bercerita"&nbsp;<br><br>Kai menatap salah satu foto yang terpasang pada halaman itu, menarik nafas dan membuangnya. Kai membuka suaranya yang kali ini terdengar lebih lembut, suasana tenang mengalir disana.&nbsp;<br><br>Seakan mereka terbawa pada kejadian yang sesungguhnya.&nbsp;<br><br>"Lalu aku diangkat jadi asisten ayah saat ini tapi aku mencuri waktu untuk bertemu denganmu, aku belum menemukan jodohku jadi kita akan jomblo bersama" Kai tertawa hambar diakhir cerita, dia tersenyum dan mengecup kening Zai.&nbsp;<br><br>"Aku akan membuat musik untukmu lalu aku akan memainkannya disana dan aku berjanji untukmu, aku ingin kita membuat kenangan baru dan melupakan kenangan lama! Aku akan membuat mu bahagia serta dicintai dengan penuh kasih sayang tanpa kebohongan" Kai menatap Zai dalam hening, dia berharap ada keajaiban dimana Zai membuka matanya.&nbsp;<br><br>"Aku rindu"&nbsp;<br><br>Suara ketukkan dipintu membuyarkan Kai dari lamunannya, dia menatap Zai dan kembali mengecup kening tersebut.&nbsp;<br><br>"Aku akan membantu papa lagi dan besok aku akan membawa kue strawberry untukmu!" Kai memasukkan album berserta kertas penuh coretan nada atau lirik musik itu kedalam tasnya.&nbsp;<br><br>"Aku pergi dulu! Nanti aku kembali dan bercerita lagi!!" Kai mengeser kursi kesamping nakas, untuk terakhir kali Kai menatap Zai dan melambaikan tangannya.&nbsp;<br><br>Lalu dia melangkah kearah pintu untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.&nbsp;<br><br>.&nbsp;<br><br>Kai berada diluar ruangan saat ini, dia tak akan kembali secepat itu kekantor ayahnya. Iris merahnya menatap ke pedagang balon.&nbsp;<br><br>"Aku akan mengirimkan permintaan menggunakan balon" Kai menghampiri pedagang balon tersebut dan membeli sebuah balon berwarna putih yang mengingatkannya akan Zai.&nbsp;<br><br>Setelah selesai membeli balonnya, Kai mengeluarkan secarik kertas menuliskan permintaannya di ujung tali balom sebelum melepaskan balon itu keangkasa.&nbsp;<br><br>"Semoga..keinginanku terkabul"&nbsp;<br><br>Kai menatap kearah balon yang terbang kian meninggi diangkasa, surai hitam pekat miliknya bergoyang oleh hembusan angin.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-13 09:11:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2242513817</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Porosha</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253099491</link>
         <description><![CDATA[<div><em>Salju lembut yang gugur di malam hari.</em><br><br><br>"Putri tertua dari keluarga Kuznetsov itu tengah menghabiskan libur natalnya di kampung halaman. Baru kemarin, tanggal 1 Januari, Batalyon Raider yang dibawahinya sedang melaksanakan cuti bersama selama 2 minggu. Ah, meski begitu, kesenangan natal tak begitu menyentuh hatinya. Atau mungkin ia hanya sibuk, mengurusi ini itu. Bagaimana tidak, ia sukses sekali sekarang. Bahkan dari yang kutahu, ia satu-satunya wanita yang dapat memimpin sebuah Batalyon utuh."<br><br>"Ia disini sekarang, di bawah bintang-bintang dan atap yang melindungi dari salju lembut yang gugur dari langit malam. Bukankah itu manis sekali? Ia telah pulang ke kampung halaman. Oh, semenanjung Kamchatka yang klasik nan indah. Putri tertua itu memutuskan keluar dari rumah dan segala kesibukannya. Menuju pemandian air panas dimana ia sering bermain dan bercanda dengan teman-temannya. Ia bernostalgia, memainkan jari-jarinya seakan berbicara."<br><br>"Ototnya lebih rileks sekarang. Wajahnya tak kaku lagi. Ini saatnya srikandi desa Esso itu kembali ke masa mudanya. Menyenangkan sekali. Walau tanpa ibunya, ia berjalan-jalan mengitari desa, menyapa para wanita-wanita paruh baya sambil membantu mereka. Benar-benar anak yang baik. Persis seperti bagaimana orang-orang mengenalnya 20 tahun lalu."<br><br>"Dan festival di sekolahnya, semua orang tahu siapa dia di festival. Orang yang berdiri paling tinggi, membawahi semua orang lainnya, menampilkan penampilan-penampilan menakjubkan. Sungguh anak emas tanpa cacat sedikitpun."<br><br>Manik sewarna langit malam milik sang narator itu terpejam sejenak. Menikmati potongan demi potongan kenangan yang akan ia ceritakan ulang pada wanita di depannya ini. Rambut peraknya yang kerap menyatu dengan warna salju di medan tempur tampak mencolok di remang-remang.<br><br>"Gadis pirang dari keluarga Kuznetsov. Ia yang 20 tahun lalu berlarian riang di kanopi hutan taiga. Dirimu yang 20 tahun lalu meminum coklat panas di rumahku ... apakah kau mengingatnya, Valeriya?"<br>Pemuda itu menyelesaikan narasinya, menatap wanita berseragam di depannya. Truk gelap itu lengang. Masih melaju membawa puluhan jagal, satu pemimpinnya, dan satu tahanannya. Badai salju lebat menambah pemandangan mencekam di sekitar.<br><br>Natal malam itu tak lagi sama.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:17:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253099491</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Maaf</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253102257</link>
         <description><![CDATA[<div>Dua telinga Mumtaaz menangkap suara samar yang berasal dari berbagai arah membuatnya kesulitan mencari arah tujuan suara itu, dirinya pun hanya diam ditempat yang ia pijak.<br><br>Hal-hal aneh pun mulai muncul begitu saja, tali walking stick pun melingkar dipergelangan tangannya sambil menggenggam pegangan tongkat Walking stick.<br><br>Kedua alisnya terangkat, dia dapat merasakan benda itu dalam genggaman yang terbalut sarung tangan. Kaki jenjangnya pun memutuskan mengambil langkah asal sembari mencari suara samar yang ditangkap oleh dua telinganya, Mumtaaz benar-benar tidak tahu arah jalan.<br><br>Tongkat ditangannya ia abaikan, sekedar menggenggamnya. Ibarat suara televisi yang berada diluar channel seperti suara grasak-grusuk perlahan memasuki indera pendengarannya.<br><br>Entah bagaimana dalam tempat seperti ini memiliki dasar untuk melangkah, setiap langkah yang ia buat ada rasa senang, langkah selanjutnya ada rasa sedih, langkah selanjutnya hingga semua emosinya tercampur aduk.<br><br>Rasa ingin tahu bagaimana rasanya melihat, rasa ingin menghindari melihat dunia pun juga ada. Dunia itu menyakitkan, benar suara yang saya tuang. Ini pikiran Mumtaaz. Mumtaaz akhirnya menyadari darimana asal suara ini, ini isi kepalanya, dalam batinnya, alam bawah sadar.<br><br>Dirinya jadi teringat seseorang yang selalu memikirkan alam bawah sadar, seolah menjadi proyeksi masa lalu, telinganya menangkap suara lagi, "Hei, papa. Aku ada acara disekolah dan diminta orang tua untuk hadir! Aku bacakan, ya!" Suara anak-anak, putra Mumtaaz. Dirinya tertegun mengingat kejadian itu.<br><br>Kepalanya lalu menoleh menangkap suara kembali dimana dirinya berlutut sambil menangis meminta maaf pada putranya, "maaf, kamu tidak bisa melihat karena papa," air mata mengalir pada kedua pipi Mumtaaz, saat itu. Hati Mumtaaz saat ini kembali merasa sakit.<br><br>Putranya pun membalas mengulas senyum manis, Dia paham dengan genetika dari sang papa, segala macam hinaan ia telan bulat-bulat dari teman-temannya dikarenakan papanya yang menghampiri acara undangan sekolah.<br><br>Mengingat kejadian itu mata Mumtaaz memanas, membuat kelopak matanya terbuka menampilkan pupil biru laut serta sklera warnanya yang berbeda satu sama lain, yang satu berwarna hitam, yang satu berwarna putih. Pandangannya seperti gerombolan televisi rusak yang tidak memiliki sinyal.<br><br>Disaat yang bersamaan dengan menetesnya air mata, ada tangan hangat yang menarik lembut, "Papa, tidak apa-apa," suara itu putranya sendiri, anak kecil lain pun muncul dengan suara lantang, "Papa! Aku bisa mengatasi mereka, jangan khawatir!"<br><br>Tangisan Mumtaaz perlahan pecah mendengar suara dua putranya itu, kedua kakinya lemas terjatuh sampai menumpu tubuhnya sendiri, tongkat ditangannya ikut terjatuh.<br><br>Diseberang sana ada seorang wanita yang memperhatikan, perawakannya lebih tua dari Mumtaaz itu sendiri. Dadanya sesak memperhatikan pria yang dikenalnya dalam umur asli sedang menangis dengan dua anak lelaki dikedua sisi pria tersebut.<br><br>Ia tahu tulang yang berada dalam tubuh pria diseberang bukanlah milik Mumtaaz itu sendiri, itu milik kembarannya.<br><br>Kenapa saat itu aku tidak mandiri?<br><br>Kenapa aku membuatnya mematahkan tulang -tulangnya hanya untukku?<br><br>Selama sekian tahun, ada seseorang yang mengejar Mumtaaz sampai ingin menjatuhkan Wanita yang sedang sesak ini, Wanita itu selalu tidak puas melihatku didekati Mumtaaz, tahun demi tahun setiap aku didorong dari atas gedung sekolah, Mumtaaz mematahkan satu tulang dalam tubuhnya.<br><br>Wanita ini akhirnya jatuh tertelan penekanan alam bawah sadarnya sendiri, ia menyesali perbuatannya yang tidak mandiri, karena diawal hanya pendaftaran untuk penyesalan yang dirinya pilih.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:21:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253102257</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Him</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253103687</link>
         <description><![CDATA[<div>"<em>Andai saja kulebih cintaimu. Andai saja kusadari itu</em>."<br><br>Memang orang-orang selalu bilang, penyelesan akan datang diakhir. Telat menyadari betapa seseorang mencintainya begitu tulus, baru sadar setelah seseorang itu pergi dari sisinya. Ada saja perasaan menyesal karena merasa telat sadar dan kehilangan, "<em>Kenapa dulu tidak kuberi perhatian lebih padanya?</em>" atau, "<em>Kenapa aku memilih untuk berpisah dengannya?</em>" Penyesalan memang selalu datang terakhir. <br><br>Orang bilang, saat bersama dengan orang yang dicintai jika bersama akan lebih sering bercekcok mulut kemudian saat keduanya tidak bertemu akan saling merindukan satu sama lain. Apa benar? Benar bagiku, aku merasakannya saat dirinya sudah tidak di sini, di sisiku bahkan sudah terlambat untuk memintanya kembali.<br><br>Hiroshi sudah pergi meninggalkanku sekarang, dia juga sudah bahagia dengan kekasih barunya. Pernah terpikir tentang apakah Hiroshi pernah memikirkan tentangku atau mungkin pernahkah dia cerita tentangku pada kekasih barunya itu? Ah, harusnya hal itu tidak kupikirkan, aku akan terlihat seperti orang yang paling menyedihkan karena tidak kunjung <em>move on</em> darinya.&nbsp;<br><br>Apa kenangan yang paling indah bersama dengannya? Kau mau tahu, kalau ini membuatku makin tidak bisa melupakannya akan kusalahkan atas dirimu. Biar aku jawab, berciuman di atas bianglala. Mitos setempat bilang kalau menyatakan cinta di atas bianglala hubungan mereka akan berakhir langgeng, memang aku tidak boleh percaya mitos seperti itu lagi.&nbsp;<br><br>Apa yang kusukai darinya? Eh, aku suka caranya menatapku, terlihat begitu tulus. Kau semakin membuatku menyesal untuk memintanya berpisah, dasar.<br><br>Apa panggilan sayangnya untukku? Kau benar-benar mau menggalinya sampai akar, ya? Hiroshi memanggil namaku tanpa embel-embel apapun, tapi kau tahu, nadanya saat memanggilku untuk menyuruhku makan dia terdengar seperti mama. Kau tidak percaya? Tidak perlu percaya kalau begitu.<br><br>Apa dia pernah menangis karena mengkhawatirkanku? Aku hampir tidak pernah melihatnya menangis, selama aku menjalin hubungan dengannya tidak pernah sekalipun aku melihat air matanya keluar. Jadi aku tidak tahu jawabannya, bisa jadi dibelakangku dia menangis? Siapa tahu, kan.<br><br>Apa dia pernah memintaku untuk berubah? Berubah dalam spesifik apa dulu, nih? Hiroshi tidak pernah memintaku untuk merubah sikap alami yang kumiliki dia benar-benar hanya menegur tentang hal kecil seperti yang biasa seorang mama lakukan.<br><br>Apa aku pernah membuatnya marah? Karena aku masuk ke rumah dengan sepatu kotor? Ya, mungkin itu yang membuatnya marah, ehehehe. Tidak sopan sekali, ya…<br><br>Apa aku akan kembali padanya jika ia menginginkannya? Ah, pertanyaan sulit. Aku memang menyesal karena memilih untuk berpisah dengannya tetapi aku tidak mau memaksanya untuk kembali kepadaku, toh, dia sudah bersama dengan kekasih barunya. Dia terlihat bahagia, iya aku tidak mau berkata bohong kalau dia memang terlihat sangat bahagia.&nbsp;<br><br>"Kosuke-san, kau menangis?" Spontan lamunanku buyar, seseorang di depanku sibuk memberiku tisu beberapa lembar. "Kenapa tiba-tiba menangis?"&nbsp;<br><br>Aku menggeleng sambil mengambil tisu yang sudah diberikannya untukku. "Maaf, aku tidak bermaksud. Maaf, suasana kencannya jadi sedikit kacau."<br><br>"Ie, ie tidak sama sekali, Kosuke-san." mukanya terlihat khawatir, wajar saja hari pertama kencan lalu partner-nya menangis. "A-apa aku terlalu banyak bicara?"<br><br>Kubalas dengan respon yang sama, menggelengkan kepalaku.&nbsp;<br><br>"Kosuke-san, kita bisa akhiri ini lebih awal. Kau bisa beristirahat dan menenangkan dirimu di rumah."&nbsp;<br><br>"Tidak, kau sudah jauh-jauh datang ke sini untuk kencan buta bersamaku." aku mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatku. "Ayo, kita lanjutkan kencan kita!"&nbsp;<br><br>"Tapi, Kosuke-san…"<br><br>Aku menggeleng untuk yang ketiga kalinya, tersenyum lebar ke arahnya. "Lihat, aku sudah tidak apa-apa!" aku segera menggenggam tangannya memberi isyarat kalau aku sudah baik-baik saja.<br><br>Dia tersenyum. "Baiklah, ayo! Tapi kalau kau menangis lagi, mungkin aku terpaksa mengantarmu pulang ke rumah."</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:23:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253103687</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bad Gift</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253107417</link>
         <description><![CDATA[<div>Zai menatap keluar jendela, ada pemandangan luas disana. Di hari biasa Zai akan menikmati sambil berbicara dengan dirinya sendiri, atau menikmati kicauan burung. <br><br>Kali ini berbeda, Zai hanya diam ditempatnya. Membiarkan uap teh mengabur diudara, sudah berapa lama Zai seperti ini? Hanya diam menatap kearah luar tanpa ada pergerakan sama sekali. <br><br>Bahkan membiarkan tehnya menjadi dingin. <br><br>"Hah .." helaan nafas dari Kai tidak merubah fokus Zai ke halaman yang dapat dilihat dari jendela. Kai menyentuh tangan Zai, menarik atensi Zai kearah Kai sesaat. <br><br>"Waktunya minum teh," Kai tersenyum, tapi diabaikan Zai yang kembali menatap kearah luar. Mengabaikan teh yang mulai dingin. <br><br>Kai memandang dalam diam adiknya, sudah seminggu Zai seperti ini. Sejak ulang tahunnya yang ke-17. Perilaku Zai berubah, walau Zai dulu pendiam tapi dia masih merespon atau mengangkat suaranya. <br><br>Sekarang tidak ada lagi suara dari Zai, seakan roh dari tubuh itu sudah menghilang menyisakan tubuh kosong. <br><br>Kai mengalihkan tatapan pada genangan teh, mengingat kejadian tersebut. Ketika dia dan Carl serta pamannya Luxiel. <br><br>. <br><br><em>Luxiel saat itu datang ke kediaman keluarga milik Carl, datang dengan langkah sombongnya. Pergi keruangan Carl dimana ada Kai dan Carl.<br><br>Carl memberitahu kepada Kai bahwa dia sudah ada cukup bukti dihari ulang tahun Zai, seperti hadiah tak terduga telah datang.<br><br>Kai tak sabar untuk memukuli pamannya atau mendengar omong kosong yang akan diucapkan pamannya. Sosok pamannya masuk, surai bewarna abu-abu tatapan bewarna kuning, eksentrik. Berbanding terbalik dengan Carl yang mewarisi rambut putih dan mata ungu tua.<br><br>Tidak mirip seperti saudara kandung, tapi kenyataannya Luxiel adalah adik kandung Carl.<br><br>Kai menyilangkan kakinya kedua tangannya berada diatas, melirik kearah jam dinding. Pukul 22.00, Luxiel sudah ada dihadapannya. <br><br>Carl melihat penampilan adiknya saat ini, kemeja putih dengan satu kancing terbuka diatasnya serta celana jeans yang pas pada lekukan kakinya.<br><br>Rambut abu-abu terlihat tak berarutan dan gaya duduk tak sopan itu, Carl menghela nafas menatap kearah Kai. Kai sendiri melempar tanda perang pada pamannya.<br><br>"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Luxiel lansung ketujuan dia dipanggil kemari, suara botol wine terdengar setelah Luxiel bertanya soal tujuan Carl.<br><br>"Berhenti berpura-pura tidak tau" Kai buka suara mendahului Carl, Luxiel memutar bola matanya. Meneguk wine lalu menaruh botol kaca itu kasar.<br><br>"Apa maksudmu sialan? Bisakah kau sopan sedikit, aku ini masih paman mu" ucap Luxiel menekankan dibagian pamannya, diabaikan kasar oleh Kai yang menatapnya nyalang.<br><br>"Aku mengatakan, 'berhenti berpura-pura' siapa yang paman? Aku tak ingin menganggapmu paman, Tuan Luxiel" Kai tersenyum melihat wajah Luxiel, ada raut kekesalan disana.<br><br>"Dasar tidak sopan, aku tak mengerti maksud pernyataan mu" Luxiel kembali mengambil botol winenya, meneguk isi wine lansung dari botolnya.<br><br>"Mak–"<br><br>"Luxiel, kau berpura-pura tidak tau tujuan kau kupanggil kemari?" Carl membuka suaranya setelah diam melihat perdebatan anaknya. Luxiel mendecih, dia mengerti apa tujuan Carl memanggilnya kemari.<br><br>"Hah, buat apa juga aku seperti itu? Anakmu yang tak ada sopan-santun itu membuat telingaku berdenging akan suaranya yang mirip dengan Chihuahua" Luxiel menyamakan suara Kai dengan anjing berjenis Chihuahua, anjing berbadan kecill.<br><br>Kai semakin menatap tidak suka kearah Luxiem, menyamakannya dengan seekor anjing ? Bahkan persamaan dia dengan anjing Chihuahua lebih baik dibanding Kai yang menyamakan Luxiel dengan seekor babi.<br><br>"Kau babi" Kai melakukan pembalasan yang dirasa setimpal, babi bewarna abu-abu bukankah itu babi hutan? Atau babi kutil?<br><br>"Diam! Luxiel, jelaskan padaku apa yang kau lakukan pada anakku Zai" Carl menghentikan perdebatan itu, Carl tak suka berkata kasar apalagi menyamakan orang dengan hewan.<br><br>Tapi saat ini dia tak menegur Kai, setelah apa yang dilakukan sang adik ke anak keduanya. Dia rasa itu tak masalah, lagian Kai bisa jadi perwakilannya dalam menyamakan sang adik dengan babi.<br><br>"Zai?" Luxiel menatap kearah Carl seakan mengingat siapa yang bernama 'Zai'. Luxiel membulatkan mulutnya setelah menemukan wujud sosok yang dimaksud.<br><br>"Dia ya, anak yang manis itu. Apa yang aku lakukan padanya?" Luxiel masih tak ingin mengakui apa yang dia lakukan dihadapan Carl. Wajah Carl sang kakak saat ini ingin dilihat lebih. Wajah yang biasanya datar jarang menunjuk gurat emosi itu mendadak lebih emosional, ekspreksi apa yang akan dikeluarkan?<br><br>"Luxiel" Carl menegur Luxiel, sudah 30 menit terbuang dengan omongan kosong ini. Ditempatnya Luxiem tertawa, mengusap sudut matanya yang berair.<br><br>"Aku hanya ingin melihat reaksi wajahmu saja Kak" Luxiel menutup matanya lalu merendahkan nada suaranya.<br><br>"Aku menjadi paman yang baik dengan berpura-pura jadi ayahnya, wajah penuh keterkejutan itu tak pernah ku lupakan. Manis sekali, tatapan tak percaya dan dengan rasa penuh percaya dirinya dia memanggilku 'ayah' dalam sekali permintaan saja" Luxiel berhenti sesaat untuk tertawa, menarik nafasnya dan kembali membuka mulutnya.<br><br>"Awalnya aku hanya ingin sedikit bermain-main pada ponakan kecil itu, tapi aku berpikiran 'bagaimana ya jika dia tau sosok ayahnya itu seperti ini?' Atau 'apa dia bakal menurut begitu saja kepada ayah yang baru ditemui?' Ah~ aku tak berharap banyak. Tapi dia benar-benar terlihat menikmatinya, khukhu aku hanya ingin bersenang-senang sebentar lalu mengakhiri sandiwaraku. Sayangnya- tidak wajahnya itu ingin kulihat lebih dan raut wajah apa yang akan dilkeluarkan kakakku ketika mengetahui anaknya yang manis telah ku rusak, Aku jadi pernasaran, dan keterusan" Luxiel menjeda disana, wajah Carl yang tenang berubah kasar. Alis putih berpotong rapi itu menekuk kebawah, guratan wajah yang pernah dilihat bisa dilihat.<br><br>Dan Luxiel sengaja menekan kata 'manis' dan 'rusak' disana, karena Zai adalah anak yang manis. Tidak tau soal dunia seakan seluruh dunia disekitar Zai sudah dirancang secara benar-benar baik.<br><br>Seakan lingkupan hidup Zai penuh keajaiban akan dunia peri, tapi Luxiel datang dan menghancurkan sehingga menjadi rusak.<br><br>_Membuat rancangan hidup itu berantakan, dan membuat anak manis itu merasakan kepedihan hidup dengan mengatakan ini perwujudan cinta yang sebenarnya._<br><br>_Kai mengepalkan tangannya, ini seperti diharapkan tapi mendengarnya lansung dibanding dia baca atau dijelaskan Carl, rasanya saat ini dia ingin menyumpah serapahi Luxiel dengan segala bahasa._<br><br>_"....lalu aku mulai melakukan sedikit kesenangan disana, aku mulanya mencemeti tiap tubuh itu, lalu memukulinya. Sambil mengatakan 'inilah perwujudan cintaku', dia benar-benar menurut. Bahkan dengan rela aku melakukannya sebagai bentuk kasih-sayang bahkan sampai didambakan tiap saat." Luxiel terdiam sebentar, wajah kakaknya mengelap bukan karena poni rambut yang menutupi penglihatannya._<br><br>_"Aku sempat terkejut soal dia tiap saat seperti itu" Luxiel berkata dengan nada polos dibuat-buatnya, seakan-akan hal yang dilakukan adalah penghiburan terhadap hewan sirkus yang kerap kali disiksa._<br><br>_Kai ingin melepas kepalan tangannya diwajah resek Luxiel tapi ditahan sama Carl, tanpa mereka sadari Zai mendengar semuanya dari belakang tempat duduk Carl dan Kai._ <br><br>_"Bahkan ketika dia terus-terusan mendesakku buat menunjukkan bagaimana rasanya diberi kasih sayang, tubuh itu gemetaran menikmatinya. Dan tak sengan melukai dirinya, dia anak baik nan manis, bukan kak?" Luxiel melempar tatapan kuningnya kearah Kai, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Kerap disaat dia bicara Kai melepaskan kepala tangannya di sandaran tangan pada sofa._ <br><br>_"Atau tepatnya, bukankah kau merindukan ayahmu Zai?" Kedua tubuh Carl dan Kai terangkat, dimana Zai?_<br><br>_"Aku bercanda" Luxiel tersenyum jenaka, aura tipis Zai dapat dia rasakan sejak dia mulai berbicara tentang bagaimana Zai itu sendiri. Dia dapat melihat tubuh lusuh itu berjalan diam-diam dan bersembunyi dibelakang sofa._<br><br>_Kebetulan juga hari ini, hari special jadi dia memberikan hadiah yang special juga._ <br><br>_"Sialan! Jangan bawa-bawa adikku!! Karena kau dia berubah dan menjauhiku. Bajingan sepertimu itu telah menghancurkan segala kenangan yang ada karena perilakuan mu!!" Kai bangkit dari duduknya menarik kasar kerah Luxiel, menatap mata kuning itu dengan nyalang._<br><br>_"Mata merahmu mengingatkanku akan sosok Maira" Kai mengencangkan tarikkannya pada kerah Luxiel, kenapa orang sinting ini membawa nama ibunya?_<br><br>_"Andai saja mata merah ini juga diwariskan pada anak satu lagi, aku mungkin sedikit lebih lembut. Tapi dia malah membawa warna mata ayah dan Carl, memuakkan" Luxiel meludah kesamping, lalu melepas kasar tarikkan kerahnya._<br><br>_"Kai, duduk" perintah Carl, Kai menurut dan duduk disamping Carl setenang mungkin._<br><br>_"Zai anakku, wajar saja jika dia mewarisi warna mataku dan juga Heterochomia nya Maira, serta jangan kau sebut nama istri ku dengan mulut najismu"&nbsp; Carl memperingatkan Luxiel tapi Luxiel malah mengabaikannya._<br><br>_"Aduh, omongan si duda yang marah pas disebut nama istrinya. Sayang sekali ya, Maira meninggalkan mu karena anak sialan itu lahir"_<br><br>_"HENTIKAN OMONGANMU!" Carl menatap Luxiel dari tempatnya, Maira tidak meninggalkannya begitu saja. Maira meninggalkan dua harta berharga untuk dirinya dan penyemangat hidupnya dalam keterpurukkan._<br><br>_"Yah.. jika Maira menikah denganku, aku hanya mengizinkannya untuk melahirkan seorang anak saja"&nbsp; Luxiel menatap kearah Carl yang tampak berbeda dari biasanya._<br><br>_Kai bangkit dari duduknya dan berjalan dibelakang tempat duduk mereka, setelah Carl memaksanya untuk duduk Kai merasakan aura tipis Zai. Berusaha mengabaikannya tapi aura dikenalnya itu terasa sangat dekat._<br><br>_Sehingga Kai memutuskan untuk bangun dari duduknya dan menemukan Zai disana._ <br><br>_"Bahkan aku tak membiarkan anak tak diharapkan itu lahir kedunia, aku akan membunuhnya dibanding membiarkan dia masih hidup"_ <br><br>_"Kai, ada a—"_<br><br>_"CUKUP!&nbsp; cukup ... semuanya, cukup! Aku—aku tidak tahu aku ... siapa?"&nbsp; Carl menatap kearah Kai disana, dia berdiri tanpa tau harus apa. Refleksi bayangan Zai tergambar jelas disana, Zai mendengar semuanya.. sejak kapan?_<br><br>_"Kau tak sopan ya, padahal aku mengatakan dirimu anak baik, loh" Luxiel ditempatnya memperkeruh suasana, Zai mendengar kata 'anak baik' semakin gemetaran._<br><br>_Surai putih nya yang agak panjang tidak terurus, bahkan beberapa surai seindah salju itu luruh bersamaan dengan Zai yang mencakar kepalanya sehingga darah merah menetes disetiap jarinya._<br><br>_Tangan yang terbalut perban rapi itu berserakan dilantai, pertanda bahwa Zai sengaja melepasnya atau menariknya dengan paksa sehingga luka disana terbuka._ <br><br>_"Zai?" Kai berusaha menenangkan Zai dengan menyentuh bahu gemetar itu sepelan mungkin, seakan tepukan yang kasar bisa menghancurkan nya lebih parah._<br><br>_"Si-siapa?"&nbsp; Kai terkejut ditempatnya, wajah Zai terlihat sangat buruk saat ini. Beberapa helaian surai poninya menempel diwajah Zai, mata sembap yang masih jelas akan jejak air mata mengalir disetiap wajah itu._<br><br>_Serta gerak dua netra yang tak fokus._ <br><br>_"Menyedihkan" tanpa seiizin Kai alam bawah sadarnya berkata seperti itu dihadapan Zai, membuat Zai diam dan tertawa akan hidupnya._<br><br>_"Aku sangat menyedihkan"_<br><br>_"Zai! Aku tak bermaksud seperti itu!!" Kai mengejar sosok Zai yang berlari keluar ruangan, dia khawatir jika adiknya akan bertindak seperti orang gila._ <br><br>_Walau adiknya sudah gila akibat Luxiel, dan Kai tak pernah melupakan perbuatan pamannya._<br><br>_"Mereka tidak sopan ya" komentar Luxiel sambil membuka botol wine kedua._</em><br><br>.&nbsp;<br><br>Sejak kejadian malam itu, Zai berubah jadi pendiam lusanya setelah Kai memasuki kamar Zai yang gelap tak ada cahaya dengan paksa.&nbsp;<br><br>Kecuali keremangan dari cahaya matahari yang masuk terhalang kain gorden, dan sekarang Zai masih dihadapannya tanpa menyentuh sedikitpun cangkir teh yang sudah mendingin.&nbsp;<br><br>Tatapannya terfokus pada angkasa luas, langit biru terhampar luas guratan tipis bewarna putih. Langit yang indah tapi tak seindah bagaimana suasana diantara Kai dan Zai.&nbsp;<br><br>Setelah sekian lama, Zai merubah posisinya menatap cangkir teh yang dingin dengan tatapan kosong. Tangannya tergerak perlahan untuk menyentuh cangkir itu tapi Kai menahannya dan menyiapkan cangkir baru serta teh baru yang masih mengepul asap hangat.&nbsp;<br><br>"Nah Zai, sekarang kau bisa menikmatinya. Aku tak menambah gula atau membuatnya manis, semua sesuai selera mu" Kai berujar bangga sambil mengarahkan cangkir itu di genggaman Zai yang kosong, genggaman itu sedikit mengerat pada cangkir lalu meminum tehnya.&nbsp;<br><br>Kai menatap lembut walau tak ada suara dan balasan seperti biasanya, Zai menaruh cangkir itu diatas meja. Dan kembali menatap keluar menghindari tatapan dari Kai.&nbsp;<br><br>Zai terfokus pada langit hari ini, luas seakan tak ada batasan dalam penjelajahan dari segala sisi. Dan Zai hanya diam didalam kamarnya, tanpa bergerak atau berbicara.&nbsp;<br><br>Seakan dirinya yang lama telah menghilang bersama kenangan dan luapan memori diulang tahunnya. Setiap dia membuka mulutnya hantaman akan keburukan pamannya Luxiel tersampaikan dengan jelas.&nbsp;<br><br>Membuat Zai menarik diri dalam kurungannya, atau ketika Zai ingin membalas perlakuan Kai atau Carl padanya. Tatapan tajam orang-orang menghentikannya.&nbsp;<br><br>Menyisakan Zai tanpa berbuat apa-apa.&nbsp;<br><br>Walau Carl sudah membawanya ke psikiater untuk membantunya lepas dari kondisi ini, tak menemukan titik hasil sehingga sebahagian dari mereka menyerah untuk merawat dirinya.&nbsp;<br><br>Kenangan, apa dirinya harus memiliki hal itu untuk hidup? Tapi kenapa dia tak punya kenangan yang bisa dia banggakan dengan memuji hal tersebut.&nbsp;<br><br>Semua kenangan hidupnya tak ingin dia ingat.&nbsp;<br><br>"Z-zai??!" Kai terkejut ketika melihat Zai kembali gemetar ditempat duduknya sambil menarik surai putih itu, Kai segera berdiri dan berjalan ke nakas Zai ada setumpuk obat-obatan disana.&nbsp;<br><br>Kai membawa obat yang berada dalam kapsul biru dan memberinya kepada Zai, membuka tutup botol itu berniat memberi Zai satu buah tablet tapi Zai merebutnya dan meminum setengah dari itu lalu menelannya.&nbsp;<br><br>"..." Kai menatap dalam diam tak menahan Zai, dia pernah menahan Zai untuk tidak melebihi dosisnya tapi Zai mengamuk serta keesokan harinya hal mengerikan terjadi.&nbsp;<br><br>Zai duduk di kursi depan meja bundar tempat Zai biasanya menikmati tehnya, disana ada Zai yang duduk terdiam dengan meja berceceran segala jenis obat dan Zai tengah memakan sebagian dari hal itu.&nbsp;<br><br>Kai ingin menghentikan tindakan berbahaya itu, tapi ketika dia melihat Zai yang memuntahkan obat itu kembali secara utuh menambah ketakutan akan diri Kai.&nbsp;<br><br>Titik dimana segala yang Zai komsumsi untuk penyembuhannya tidak dapat diterima lagi. Sehingga Kai membiarkan Zai saat ini.&nbsp;<br><br>"Zai.." panggil Kai memegang pundak itu, menemukan sosok Zai yang tenang serta terlihat mengantuk. Kai mengangkat tubuh yang lebih kecil dan ringan itu kekamarnya.&nbsp;<br><br>"kali ini aku tak meninggalkanmu" Kai mengelus selembut punggung Zai, terasa struktur tulang dari tubuh kecil itu. Efek samping dalam penggunaan obat selama ini dia lakukan.&nbsp;<br><br>"Aku berjanji" Kai mendaratkan kecupan dipundak Zai yang agak terbuka. Adiknya hanya miliknya dia tak membiarkan orang lain melukai adiknya atau menyakiti tubuh Zai yang rapuh.&nbsp;<br><br>.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-02 01:28:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2253107417</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damn Memories</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256397385</link>
         <description><![CDATA[<div>Bagi Acacia, kenangan adalah suatu komponen penting yang telah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir. Karena tanpa 'kenangan', dia tidak akan dapat menjadi dirinya. Tanpa 'kenangan', dia tidak yakin dapat menjadi sehebat ini.<br><br>Mengapa? Tentu saja karena untuk menjadi Acacia yang sempurna, harus ada kenangan masa lalunya sebagai Amethyst.<br><br>Tepat sekali, dia adalah reinkarnator. Orang yang mengalami fenomena terlahir kembali dengan ingatan utuh, atau biasanya disebut reinkarnasi.<br><br>Awalnya, Acacia meyakini dirinya bereinkarnasi. Karena itu, dia tidak terlalu memikirkannya dan menerimanya begitu saja.<br><br>Ya, awalnya.<br><br>"... Brengsek."<br><br>Acacia menendang pohon di hadapannya. Tetap dengan mulut yang terus bergumam kata-kata kasar.<br><br>*Duk! Duk! Duk!*<br><br>"Sialan, sialan, sialan!"<br><br>'<em>Apa-apaan dengan 'yang terpilih'?! The chosen one? Kau bercanda denganku, hah</em>?!'<br><br>Setelah puas menendang pohon tidak bersalah di depannya, Acacia menghembus dan menarik napas untuk mencoba menenangkan dirinya.<br><br>Sedangkan menunggu Acacia menenangkan diri, mari kita <em>flashback</em> untuk mencari tahu apa yang terjadi hingga dia semarah itu.<br><br><strong>~~~</strong><br><br>Atas perintah Kepala Akademi Calixto, Ignatius, Acacia dikirim ke wilayah kosong untuk melakukan suatu pemeriksaan.<br><br>'<em>Apa dia membohongiku? Apa yang harus kuperiksa di reruntuhan seperti ini?</em>'<br><br>Acacia duduk di bebatuan besar yang merupakan reruntuhan bangunan yang hancur. Sepenuhnya mengabaikan debu atau tanah yang menempel pada jubah yang dikenakannya.<br><br>Dia telah berkeliling selama beberapa jam, tapi tetap tidak menemukan apapun. Ya, tidak heran juga, memang siapa yang mau tinggal di tanah yang sudah ditinggalkan ini.<br><br>Di masa lalu, tanah ini disebut Kekaisaran Suci. Mereka adalah sebuah negara terbesar dan termakmur di seluruh Benua. <br><br>Tanah ini disebut Kekaisaran Suci karena mayoritas rakyatnya hidup beragama. Dengan mempercayai keberadaan dan melaksanakan ajaran Dewi Ramalan, mereka hidup dengan damai.<br><br>Tapi, tidak ada kedamaian yang abadi. Pada masa kepemimpinan Saintess Thea, kejayaan Kekaisaran Suci runtuh dalam sekejap. <br><br>Sosok yang mereka agungkan sebagai orang suci secara mendadak bunuh diri di hadapan rakyat kekaisaran saat membacakan wahyu Dewi Ramalan. Paus, kardinal serta pendeta yang seharusnya membimbing dan melindungi malah berbalik membantai orang-orang di sekitar mereka.<br><br>Karena kejadian mengerikan itu, Kekaisaran Suci hancur dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Hanya menyisakan bangunan yang hampir runtuh dengan mayat busuk dan darah amis yang berada di segala penjuru tempat.<br><br>Kejadian itu membuat banyak orang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa isi wahyu yang dibaca Saintess Thea hingga dia bunuh diri? Apa yang terjadi dengan para Paus, Kardinal dan pendeta yang pada hari pembantaian seperti orang kerasukan?<br><br>"... Akan sangat menakjubkan kalau ada yang masih berani tinggal di tempat ini."<br><br>"Iyakah?"<br><br>"Ya, sangat. Mengingat tempat ini–"<br><br>Acacia menoleh ke belakang, hanya untuk mendapati seorang wanita berambut <em>pink</em> dengan pakaian pendeta sederhana berwarna putih. Tapi, yang menjadi pusat perhatiannya adalah warna mata yang dimiliki wanita itu.<br><br>Ungu. Warna mata yang juga dimiliki saat masih menjadi Amethyst Alexandria Mercer dan identitas dari anak-anak yang diberkahi kekuatan Dewi Ramalan.<br><br>"... Siapa?"<br><br>Sambil mencoba menyembunyikan keterkejutannya, Acacia berbicara dengan tenang dan mengamati wanita asing itu lekat-lekat.<br><br>'<em>Tidak salah lagi. Wanita ini pasti seorang Saintess.'<br></em><br>"Saya Blossom. Diriku sangat terkejut melihat ada yang datang kemari! Ah, sudah sejak kapan terakhir kali diriku melihat orang berjalan-jalan di tanah suci ini."<br><br>"Haha, begitu, ya? Aku hanya datang untuk memenuhi perintah yang disampaikan Kepala Akademiku. Jadi, aku harus kembali sekarang."<br><br>"Eh, tu, tunggu dulu!"<br><br>Acacia berpura-pura tidak dengar dan terus melanjutkan perjalanan pulangnya. Setidaknya sampai dia mendengar sesuatu yang seharusnya tidak pernah diketahui oleh siapapun di dunia ini.<br><br>"Kemohon berhenti sebentar, Nona Amethyst Alexandria!"<br><br>Acacia berhenti, lalu dia dengan cepat berbalik dan berjalan cepat mendekati Blossom.<br><br>"Dari mana kau tahu nama itu?"<br><br>Blossom tersentak saat mendengar suara dingin dan penuh intimidasi itu. Tapi, dia dengan cepat memperbaiki sikapnya.<br><br>"Sebelum itu, bagaimana kalau kita duduk di rumah saya dulu? Bukankah lebih–"<br><br>"Siapa orang bodoh yang akan menuruti permintaan omong kosong dari orang asing? Cepat muntahkan apa yang kutanyakan sebelum aku memaksamu."<br><br>"... Ekhem, iya juga. Jadi, seperti yang saya katakan sebelumnya, nama saya Blossom, anak ke-151 dari Dewi Ramalan."<br><br>Itu adalah salam yang diperuntukan untuk para Saint atau Saintess. Perkenalan ini mungkin terkesan biasa saja. Namun, memiliki daya tarik yang sangat kuat sehingga membuat semua orang yang melihat atau mendengarnya akan memusatkan perhatian mereka pada orang itu.<br><br>"Acacia. Jangan berani memanggilku dengan nama yang kau sebutkan tadi lagi."<br><br>"Maafkan saya atas ketidak sopanan itu."<br><br>Blossom membungkuk sekitar 45 derajat, yang membuat Acacia mendecakkan lidah dan mendudukan diri di reruntuhan acak.<br><br>Dengan kaki yang disilangkan, Acacia berkata dengan nada memerintah.<br><br>"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan."<br><br>"Ada yang ingin Yang Mulia Dewi sampaikan pada anda melalui saya. Anda tidak perlu khawatir tentang masalah privasi. Karena kata Yang Mulia Dewi, huruf-huruf yang tertulis di sana hanya dapat dimengerti oleh anda untuk saat ini."<br><br>'<em>Apa-apaan dengan perasaan tidak menyenangkan ini?</em>'<br><br>Acacia mengerutkan dahi pada secarik kertas yang diberikan Blossom. Tapi, begitu dia membaca isinya, hanya ekspresi tercengang yang terpampang di wajahnya.<br><br>Pesan di kertas itu ditulis dengan huruf abjad, yang tentu saja tidak dikenali oleh Blossom atau siapapun di dunia ini. Mengingat Benua ini menggunakan huruf rune. <br><br><strong>[ Kepada anak ke-426-ku yang berasal dari Bumi. ]</strong><br><br><strong>[</strong> <strong>Kelahiran ini tidak semata-mata merupakan kebetulan ataupun kesengajaan. Melainkan suatu peristiwa yang telah direncanakan jauh hari bahkan sebelum kelahiranmu sebagai Amethyst Alexandria Mercer. ]</strong><br><br><strong>[ Itu karena aku mendapat penglihatan di mana dunia akan hancur dan menjadi tidak beraturan. Maaf karena membebanimu tugas seberat ini. Tapi, hanya kaulah yang bisa kami mintai tolong. ]<br><br>[ Dan tidak perlu khawatir. Atas dukungan para Dewa-Dewi lain, aku diperbolehkan mengirim beberapa orang yang mungkin akan dapat membantumu menyelesaikan tugas ini. ]<br><br>[ Salam dari Ibu Agungmu, Dewi Ramalan. ]</strong><br><br>"... Anu, apakah itu kabar bu– Nona?!"<br><br><strong>Srek! Srek!</strong><br><br>"Jangan bercanda padaku sialan! 'Maaf karena membebanimu tugas seberat ini'?! Kalau begitu jangan lemparkan tugas kalian padaku, brengsek!"<br><br>Acacia merobek kertas itu begitu selesai membacanya lalu membakarnya dengan sihir. Sedangkan Blossom hanya bisa menatap horor ke wanita di depannya, yang dengan berani menghancurkan pesan dan memaki Dewa-Dewi<br><br>Tapi, dia juga tidak dapat melakukan apapun pada Acacia atas perintah Dewi Ramalan. Beliau mengatakan kalau jangan pernah mencoba mengoreksi ataupun mengomentari perbuatan wanita itu.<br><br>Karena tugasnya telah selesai, Blossom memilih mengundurkan diri dan menjauh dari sana tanpa diketahui Acacia yang masih sibuk mengatai para Dewa-Dewi dengan bahasa cantiknya.<br><br><strong>~~~</strong><br><br>"Jadi, aku adalah inkarnasi sekarang? Haha."<br><br>Acacia berjalan tanpa arah, sembari menertawakan dirinya sendiri.<br><br>'<em>Karena Dewa-Dewi sendiri yang telah turun tangan, aku tidak akan bisa kabur ke mana pun.</em>'<br><br>Dia menghentikan langkahnya dan berjongkok, menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.<br><br>'<em>Kalau di novel, MC yang mengalami hal semacam ini pasti akan berakhir dengan banyak kekacauan. Apakah aku juga akan menjadi salah satunya?</em>'<br><br>Kedua sudut bibirnya terangkat ke arah yang berlawanna, membentuk sebuah seringai tipis.<br><br>"Tentu saja. Memangnya kita punya pilihan lain saat mereka yang paling berkuasa sudah bertitah?"<br><br>Hal semacam itu telah menjadi bagian dari kehidupannya selama masih menjadi Amethyst. Karena itu, tidak heran jika dia dapat dengan mudah menerima kenyataan.<br><br>'Kalau begitu, aku tinggal melakukannya semaksimal mungkin untuk memastikan Acacia memiliki happy ending.'<br><br>Acacia perlahan kembali berdiri. Dia menepuk-tepuk jubahnya yang berdebu sebelum berjalan kembali, ke arah yang pastinya menuju ke Kota Bebas Calixto.<br><br><strong>===<br>END<br></strong><br><sup>Funfact :&nbsp;<br>• Cerita ini punya hubungan dengan cerita &lt;Failed Promise&gt;<br>• Inkarnasi adalah pembuatan atau kelahiran makhluk yang merupakan manifestasi dari Tuhan/Dewi</sup></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 03:48:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256397385</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reminiscences</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256403455</link>
         <description><![CDATA[<div>Lucien bukanlah orang yang suka mengenang masa lalu. Bukan tanpa alasan, kenangan manis memang nyaris tak ada dalam kamusnya. Sejauh yang ia ingat, ia sudah memegang pedang dan berurusan dengan sisi gelap kerajaan. Masa kecilnya penuh akan bau anyir darah dan kematian. Status dan identitas aslinya—dua hal yang mendatangkan berbagai kesialan dalam hidupnya. Penculikan, percobaan pembunuhan, perang, kriminalitas ... ia sudah melihat semuanya. Karena itu, ia terpaksa mengeraskan hatinya sendiri.<br><br>Akan tetapi, di beberapa kesempatan yang terbilang cukup langka, ia akan duduk di kusen jendela kamarnya dan kilas balik sejenak sambil memainkan setangkai mawar hitam di tangannya. Beberapa orang bilang bunga itu melambangkan duka, tapi Lucien percaya bunga hitam ini punya makna lain: kesetiaan. Itulah alasan ia menjadikan bunga ini sebagai lambang Black Rose Guild.<br><br>Masa remajanya mulai berwarna sejak ia mendirikan organisasi itu. Hanya ada ia dan dua pelayannya ketika Guild baru berdiri. Perlahan-lahan, anggota baru mulai direkrut satu per satu. Mau itu budak, tawanan perang, bahkan pembunuh bayaran; ia bersedia merekrut semuanya asalkan mereka mau bertobat dan bersumpah setia pada kerajaan.<br><br>Latar belakang berbeda-beda sering mendatangkan kekacauan di Guild. Terus terang saja, Cien sudah lelah menghadapi rekan-rekannya yang sering adu mekanik karena hal sepele. Pernah satu kali, lebih dari lima meja di bar Guild rusak parah karena beberapa anggota adu panco. Yang menang bisa mengakses gudang <em>wine</em> kerajaan, menurut testimoni salah satu saksi di sana. Betul, sebagian besar rekan-rekannya lebih mengandalkan otot dan berbagi satu sel otak.<br><br>Lucien tak bisa menahan tawa kecil kecilnya. Sebobrok apa pun anggota Guild, mereka tetaplah rekan berharga yang menambah warna pada dunianya yang monokrom. Harus ia akui, kelakuan anggota Guild yang terkadang bikin sakit kepala cukup menghiburnya. Berisik, tapi ia tidak membencinya. Keseluruhan Black Rose Guild sudah seperti keluarga kedua baginya.<br><br>Pemuda itu memutar tangkai bunga di tangannya, melihat bunga itu dari segala sisi. Cahaya kebiruan perlahan mencium bunga itu dengan lembut. Lucien mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangan pada bulan di atas sana. <em>Bulan biru? Pemandangan yang langka</em>, batinnya. Tadi langit sedikit mendung sampai-sampai bintang saja enggan menampakkan diri, sekarang cakrawala bersih tanpa halangan awan. Bulan besar yang biasanya diselimuti merah kini berwarna safir terang, ditemani taburan jutaan bintang di atas sana.<br><br>Rambut senada kopi dan wajah tampannya nampak sedikit berpendar oleh cahaya biru itu. Netra senja tertegun melihat bulan itu. <em>Bulan biru </em>..., safir terang itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang memberikan sentuhan terakhir pada dunianya yang monokrom.<br><br>Pertemuan pertama mereka tidak terlalu menyenangkan. Lucien kira anak itu mata-mata dari Caelum atau buronan yang lolos dari penjara Tartarus. Ketika Cien tahu anak itu berdarah Valencia, ia dilema antara marah dan bersemangat. Marah karena keturunan klan pengkhianat berani menginjakkan kaki di tanah ini lagi, bersemangat karena ia merasa anak itu merupakan kepingan <em>puzzle</em> terakhir dalam misteri yang terus menghantuinya selama bertahun-tahun. Ia bersyukur ia tetap bersikukuh pada yang kedua.<br><br>Hari-hari penuh petualangan dimulai. Tidak seperti rekan-rekannya di Guild, anak itu berhati murni. Terlalu murni malah, sampai-sampai misi Lucien sering terhambat. Tapi, secara tak langsung, anak itu menambah pengalaman dan membuka matanya. Jika bukan karena anak itu, Lucien tak akan pernah tahu ada dunia lain selain dunia bawah yang penuh bau besi dan darah.<br><br>Anak itu semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Tidak hanya membantu Lucien melengkapi <em>Puisi Rembulan</em>, ia juga berhasil menjadi partner yang bisa Cien percaya. Netra senja itu melembut, teringat senyuman anak itu ketika menerima lencana mawar hitam dan resmi menjadi bagian Guild.<br><br>Dibandingkan dengan sekarang, anak itu sudah banyak berubah. Anak yang awalnya tidak berani mengangkat senjatanya pada orang lain kini sudah melumuri dirinya dengan darah musuh. Hatinya masih murni, namun tidak sepolos ketika ia pertama kali tersesat di Tartarus. Meski begitu, rasa respek akan satu sama lain tidak pernah hilang, malah keduanya menjadi semakin dekat.<br><br>Sayangnya, anak itu menghilang suatu hari. Tidak ada kabar atau peninggalan apa pun, seolah ia lenyap begitu saja dari dunia ini. Tidak lama kemudian, orang lain yang mengaku teman anak itu singgah di dunia ini. Ironisnya, kenyataan itu berujung pada sejarah yang kembali terulang.<br><br><em>Allen 'Cielo' Valencia. Pengkhianat yang mendatangkan tirani pada tanah suci ini.</em><br><br>Lucien merasa ulu hatinya terjun bebas ketika ia mendengar kabar burung itu. Pemberitanya tak lain adalah sang tiran itu sendiri: Malleroy 'Défaut' der Tyrann, orang yang sama yang mengaku 'teman dekat' anak itu.<br><br>Rekan yang ia percaya ...<br><br>Partnernya ...<br><br><em>Berkhianat ...?</em><br><br>Ia tidak percaya. Ia berharap itu semua hanyalah rumor belaka. Ia harap itu hanya tipuan murahan yang dibuat untuk mengendalikan opini rakyat. Tapi, bagaimana ia bisa membuktikan jika tersangkanya saja tidak ada?<br><br>Lucien merasa terkhianati. Sekali lagi, ia terpaksa menutup kembali hatinya dengan jeruji berduri.<br><br>Sudah tiga tahun berlalu. Sang tiran telah merampas segalanya. Tempat Lucien bersandar sekarang ini adalah satu dari sedikit hal yang masih bisa ia pertahankan. Dan sekarang ....<br><br><em>Tok tok tok</em><br><br>"Tuan?"<br><br>Lamunan Lucien pecah. Ia menggeleng pelan, lalu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari bunga di tangannya, "Ada apa?"<br><br>"<em>Sang pengkhianat</em> sudah bangun. Dia sudah dipindahkan ke ruang interogasi sesuai yang Anda minta."<br><br>"Baiklah. Usir semua penjaga dan gantikan mereka. Aku akan segera ke sana."<br><br>"Baik, Tuan."<br><br>Orang di balik pintu itu paham maksud dari perintah tuannya. Langkah kaki teratur perlahan terdengar menjauh, lalu hilang bersama sunyinya malam.<br><br>Dan sekarang, Allen sudah kembali. 'Sang pengkhianat' yang dengan lancang kembali menunjukkan wajahnya di tanah kelahiran pemuda bernetra senja itu. Apa tujuannya kali ini? Membantu sang tiran? Membawa penderitaan baru pada apa yang masih tersisa dalam hidupnya? Atau menyerahkan diri? Lucien akan mengetahuinya malam ini.<br><br>Lucien turun dari kusen jendela dan menatap mawar hitam itu. Ada dua kemungkinan apa yang akan Lucien lakukan pada bunga itu. Pertama, ia akan mencabut semua kelopak bunga itu dan membiarkannya terbawa angin. Ia akan melakukan ini jika ia sedang berduka.<br><br>Tapi, malam ini, ia melakukan kemungkinan kedua.<br><br>Ditatapnya mawar hitam itu untuk terakhir kalinya, sebelum membakar bunga itu dengan apinya. Api merah kehitaman melahap bunga itu sampai tak bersisa. Abu yang dihasilkan ia remas kuat-kuat, lalu dibuang tertiup angin menuju kegelapan di bawah sana.<br><br>Pemuda itu menutup jendela dan beranjak keluar kamar, menetapkan tujuan berikutnya pada penjara bawah tanah.<br><br>Jika Lucien membakar bunga itu, artinya ia sudah bertekad. Bulan dan bintang yang setia menerangi langit malam itu menjadi saksinya.<br><br>Jika benar Allen 'Cielo' Valencia seorang pengkhianat, biar apinya yang membakar dosa anak itu. Tapi, jika anak itu terbukti tak bersalah—<br><br><em>—biar pedangku yang membuka paksa peti mati yang menyimpan kebenaran di balik konspirasi tak berdasar ini.<br></em><br><strong>END</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:01:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256403455</guid>
      </item>
      <item>
         <title>You&#39;re The Person Who Can Heal Me</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256405686</link>
         <description><![CDATA[<div>CW : alcohol <br><br>Ucapan hallo selalu terasa lebih ringan daripada ucapan selamat tinggal. Karena, kita tak merencanakan untuk perpisahan. Sebagaimana pun waktu berjalan pasti akan selalu menemui jalan perpisahan. . Yang berawal pasti akan akan berakhir. Itulah yang dirasakan oleh seorang karyawan kafe ini. Cerita pun dimulai saat 4 tahun yang lalu.<br><br><em>criiing</em>...<br><br>Bell kafe berbunyi, seorang gadis masuk dengan anggunnya. Ia memesan kopi seperti biasa.<br><br>“ Seperti biasa kan, sobat? ” <br>Sepertinya sang karyawan Haruhiko, sangat akrab dengannya. Pembawaan bicaranya yang lebih santai daripada pelanggan lainnya yang dimana ia harus bersikap profesional.<br><br>“ Tentu saja, Americano coffee panas 1” <br>Ayanamine tersenyum kepada Haruhiko. Ia paham betul bahwa temannya selalu bersikap berbeda kepadanya. Di lain sisi ia mengetahui bahwa ia tidak bisa memiliki kesempatan untuk bersamanya. Karena, ada sesuatu hal yang menjadi hambatan.<br><br>“ Pesananmu telah siap, bisakah ku temanimu sebentar. Ayanamine? ” Haruhiko menawarkan dirinya untuk menemani temannya itu. <br><br>“ Eh, tentu. Tidak masalah kan? Apa boss mu tidak marah nanti? ” Aya cemas dengan Haru, ia tidak mempermasalahkan untuk ditemani. Namun, ia juga tau kalau temannya itu sedang dalam pekerjaan. <br><br>“ Tidak apa-apa, kebetulan sekali sekarang pelanggan sepi. Makanya aku memutuskan untuk menemanimu sebentar saja ” Mendengar itu aya pun menyetujui permintaan haru. “ Begitukah, baiklah. Kau bisa menemaniku sebentar saja ”<br><br>“ Baiklah, Yosh ” Haru kegirangan karena Aya mau menerima tawarannya.<br><br>Tiba-tiba, Aya memberhentikan langkah Haru. “Berhenti!”<br><br>Haru yang kebingungan bertanya kepada temannya itu “Ada apa, ada kah sesuatu yang aneh?”<br><br>“Tidak, ada. Hanya saja aku hanya ingin memberikan ini kepadamu” sambil malu-malu kucing ia menyodorkan sebuah gantungan kunci kepada haru.<br><br>“Ya ampun, kukira ada apa rupanya kau mau memberikan ini kepadaku. Kenapa tidak memberikannya saat di meja?” <br><br>“Aku takut lupa memberikannya kepadamu” ia berbicara dengan memalingkan wajahnya.<br><br>“Begitu kah? Baiklah ayo kita duduk” Haru pun menggenggam tangan Aya menuju tempat duduk .<br><br>“Hey, pelan-pelan!”<br><br>***<br><br>Kenangan dari masa lalu selesai, kembali ke masa kini. Dimana saat ini haru sudah memiliki pekerjaan yang baru. Ia menjadi seorang pegawai kantoran. Semuanya telah berubah. Namun berbeda dengan Aura kafe tempat kerja lamanya. Ditempat itu masih mempertahankan keadaannya seperti 5 tahun yang lalu. Kecuali, dirinya dan orang yang berarti untuknya yaitu Ayanamine.<br><br>Haru berlari menuju kantornya, dan sampai dengan tepat waktu. “fyuuuh, akhirnya tiba tepat waktu. Selamat pagi semuanya” . Iya, sekarang jadwalnya ia memimpin rapat meeting. Anggota lainnya pun dengan hangat menyambut kedatangannya. Mereka menjawab “Selamat pagi juga, senior” .<br><br>“ Baiklah, mari kita mulai rapatnya. Ku harap kegiatan ini akan lancar” <br><br>“ baiklah dilaksanakan! ” semuanya rapat dengan serius.<br><br>***<br><br>Setelah banyaknya kegiatan, akhirnya, jam pulang pun tiba. Saat ingin membereskan meja kerjanya ia melihat barang yang membuat memori indah itu mencuat. Ia teringat kembali kenangan bersama dengannya. Tak terasa waktu berjalan ia tetap memegang gantung kunci pemberian dari Aya. Saat memeriksa barang tersebut ia menemukan sebuah cincin serta sebuah surat kecil. Setelah membacanya Air mata mulai membasahi pipi. <br>rahangnya terjatuh, Serta tangan yang lain meremas dada. <br><br>Seseorang pun datang menghampiri dan menepuk pundaknya. “Senior. kau tidak apa-apa, kan?” ternyata ia adalah Kaely.<br><br>Haru yang terkejut pun mengusap air matanya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. “aku tidak apa-apa ko Kae. Eh, sekarang sudah jam makan siang yah. Ayo kita restoran terdekat perutku sedari tadi sudah berbunyi”<br><br>Ia tak tau jika, semua rekan kerjanya tau betul apa yang terjadi menimpanya. Setelah sampai di restoran. Mereka memesan sebuah mie dan 1 gelas full bir. Disaat restoran itu sepi, Kaely memegang pipi Haru. <br><br><del>(jangan dicontoh yah gais, wkwk)</del><br><br>“Berat yah, memendam rasa yang menyakitkan itu? Kalau begitu lampiaskanlah”<br><br>“Tidak, lagi pula aku sudah menerima fakta bahwa ia ternyata juga memiliki perasaan yang sama denganku. Namun, karena ketidak pekaannya diriku ini. Aku didahului oleh temannya. Hahah, betapa&nbsp; lucunya itu.” <br>Selesai mengatakan itu ia meminum segelas birnya dengan sekali teguk. <br><br>“Ya Ampun, kalau begitu. Apakah kau mau telat untuk yang kedua kalinya? ”<br><br>“Hah, apa? ” haru mengatakan itu dengan suaranya yang lantang. <br><br>“Astaga, Santai saja kali. Eh, senio—” belum sempat ia menyelesaikan pembicaraan. Haru tertidur pulas karena efek samping minumannya. “Ya ampun, setidaknya. Berbagi rasa sakitlah dengan seseorang.” <br><br>Mau tak mau Kae harus mengantar seniornya pulang, untungnya jarak yang ia tempuh dari restoran dan apartemen Haru lumayan dekat. Setelah membaringkan seniornya, ia pergi sebentar untuk membelikan obat pereda mabuk. <br><br>“Akhirnya. senior badanmu berat juga, kalau begitu aku pergi dulu. Eh, Senior?” saat hendak pergi tangan Kae ditarik Haru. Ia mengigau “Jangan pergi Kae. Aku membutuhkanmu”<br><br>Kaely tersenyum, ia memutuskan untuk menemani seniornya sampai pagi esok. “Baiklah, kuputuskan untuk menemanimu sampai besok. Pertama, aku akan menghubungi orang rumah kalau aku menginap” selesai menelepon adiknya dan membereskan semuanya, ia pun tidur di sofa. <br><br>***<br><br>Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, cuaca yang cerah namun sejuk, Haru terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia melihat sekeliling apartemennya. Tampak rapi, tidak ada debu sedikit pun. Ia juga mencium aroma wangi dari dapur, rupanya disana ada Kaely yang sedang memasak.<br><br>“Kaely, apa yang sedang kamu lakukan disini? Ugh kepalaku pusing sekali” <br><br>“kemarin, kau mabuk akibat minum minuman keras. Makanya aku mengantarmu kesini, namun. Saat hendak pulang kau malah melarangku, kau juga memohon kepadaku untuk menemanimu dan sangat membutuhkanku, senior” Kae mengatakan itu dengan nada ejekan.<br><br>“Tunggu sebentar, kau bilang apa dikata yang terakhir. Coba ulangi” <br><br>“Baiklah, akan kuulangi. Kau memohon untuk ditemani dan sangat membutuhkanku”<br><br>“Apa, Sejak kapan aku begitu. tidak pernah sama sekali. Kepalaku sakit” <br><br>“Minum obat pereda sakit itu terlebih dahulu sebelum berbuat apa-apa. ternyata dibalik pria gagah sepertimu, ada sifat yang lumayan lembut dan mudah mabuk”&nbsp; Kae tertawa terbahak-bahak melihat seniornya.<br><br>“Jangan tertawa, Hey! Iya iya bakalan kuminum obatnya”<br><br>“Bercanda, ko”<br><br>Setelah selesai dengan tetek bengek yg ada mereka memutuskan untuk berangkat kerja. Dan, Haru pun menyuruh Kae untuk menunggu, ia ingin mengatakan sesuatu kepadanya. <br><br>“Senior, ada apa. Sepertinya kau mencari barang bisakah ku bantu? ”<br><br>“Tidak, aku akan menceritakan semuanya kepadamu”<br>Haru pun menceritakan masa lalunya kepada Kaely. Kae yang mendengarnya sedikit shock dan simpati. Ia lalu reflek memeluk seniornya itu. “Kenapa tidak dari awal saja”<br><br>“Aku tak tau mau diceritakan kepada siapa, tapi” Muka haru tampak sedih. Ia bimbang dengan keadaan. <br><br>“Baiklah, aku mengerti. Setidaknya kau sudah tidak sendirian kan ada aku disini” <br><br>“Yah, kau benar. Terimakasih atas yang kau lakukan belakangan ini, Ngomong-ngomong apakah kau punya pasangan? ” Haru berlutut dengan satu kaki, wajahnya mendongak ke arah Kaely . Dan ia mengambil sebuah cincin didalam sakunya. Lalu, menyerahkannya kepada Kae. “Kalau tidak, mau kah kau menjadi kekasihku”<br><br>“Senior apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba. Tentang itu, sebenarnya aku tidak pernah memiliki hubungan dengan seseorang pun. Anu apakah kau sedang bercanda?”<br><br>“Tidak, aku ini orang yang serius. Sejak bersamamu aku merasakan perasaan cinta”<br><br>Kaely tersenyum, ia mengangguk menyetujui lamaran Haru. Matanya berkaca-kaca dengan indah. “Terima kasih, Senior ”<br><br>Haru protes dengan menyuruh Kaely untuk memanggil dirinya dengan nama saja. “Jangan panggil, diriku ini dengan senior. Panggil saja dengan Haru. Oke, ayo kita berangkat takut terlambat.<br><br>“Siap, ayo say— maksudku Haru” <br><br>Mereka pun tertawa serentak dan pergi sambil gandengan tangan.<br><br><strong>~End</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:06:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256405686</guid>
      </item>
      <item>
         <title>88☆ミ</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256410144</link>
         <description><![CDATA[<div><em>"Twinkle, twinkle, little star ..."</em><br><br>Suara nyanyian menghiasi ruangan sunyi, alunan piano mengiringi. Seorang lelaki muda menutup pandangannya dengan wajah tulus, menikmati apa yang ia mainkan. Jari-jemari miliknya menekan lembut; ialah Tsukasa Tenma, remaja yang memang mahir bermain alat musik klasik sejak dini. <br><br><em>"Up above the world so high ..."<br><br>"Like a diamond in the sky ..."<br><br>"Twinkle, twinkle, little star ..."<br><br>"How i wonder what you are ..."</em><br><br>Selagi gerakan tangannya berhenti, iris kuning cerahnya mulai terbuka. Alangkah lesunya lengan Tsukasa setelah memainkan lagu itu; sendirian di kediamannya tanpa kehadiran siapapun. Pandangannya kembali tertuju kepada pianonya, sebuah pemberian dan peninggalan dari sang ibunda tersayang. Sudah 1 dasawarsa semenjak adiknya duduk di bangku tua yang ia tempati. <br><br>"Aku merindukanmu," ujung jarinya meraba permukaan si piano, sambil menundukkan kepala. "Saki."<br><br>Teringat akan suatu kenangan yang tidak mengenakan, segala memori baik dan buruk pasti tiada henti mengikat pikiran tiap orang. Berlaku yang sama kepada Tsukasa; tak bisa disebut pengalaman duka maupun suka, takkan layak dikenang maupun direnung pula. Lagu yang baru saja ia bawakan; merupakan kenangan masa kecilnya bersama sang adik pujaan hati yang berhenti menerangi hari. <br><br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br><br>"TREEEEEENG!!! BAGAIMANA, SAKI?! APAKAH AKU MENAKJUBKAN?!"<br><br>Gadis itu berbinar, "KAU MENGAGUMKAN, KAKAK!!! HEBAT!!! AKU MAU MENCOBA MEMAINKANNYA JUGA!"<br><br>Dengan senyum cengengesan dan dagu yang ia naikkan, Tsukasa mulai terkekeh geli. Bangganya; bangga sekali! Seperti terbang di atas awan, kepercayaan dirinya seketika melonjak naik hingga kekehannya bagai kuntilanak ketawa-ketiwi seperti mencari mangsa. <br><br>Tsukasa menyeringai, "HAHAHAHAHAHAHA!! TENTU SAJA!! LAGIPULA, AKU ADALAH KAKAKMU! JELAS, AKU BISA MELAKUKAN APAPUN!!"<br><br>"HEHEHE!! Saki menyayangi kakak! Ayo kita lakukan lagi, oke??? Kali ini, Saki yang akan menyanyikan lagunya! Kakak tinggal memainkan pianonya saja!!"<br><br>Perempuan berkuncir dua itu tersenyum lebar, hendak memeluk kakak yang duduk di sampingnya. Amat bahagia nan ceria memiliki kakak seperti Tsukasa; yang selalu siap melakukan apapun demi adiknya tercinta. <br>Tsukasa membalas pelukannya, dengan senyum tulus dan hati yang mulus. Rasa kasih sayang seorang kakak kepada adik memang tak bisa diungkapkan dengan kata maupun warna. Hanya merekalah yang tahu, perasaan macam apa yang diberikan dari sang kakak kepada adik maupun sebaliknya. <br><br>Harusnya, di hari itu mereka bahagia. <br><br>Harusnya. <br><br>"Uhk, Uhuk!! Aah ... aku agak pusing," ujar Saki sembari menjauh dari genggaman sang kakak. <br><br>"E-eh, Saki?? Ada apa? Kau sakit?! Tunggu sebentar," tangan Tsukasa yang menyentuh dahi Saki, langsung terkejut tak terhingga. "Panas sekali!"<br><br>Raut wajah yang semula bahagia mulai mereda; tak lupa senyuman yang tadinya melebar pun mulai melebur. Lelaki berambut pirang itu hanya kebingungan, menjaga keseimbangan sang adik yang perlahan-lahan tidak stabil dan miring ke kanan kiri. Pada akhirnya, ia menyandarkan Saki yang letih nan lemah ke badannya. <br><br>"Ibu!! IBU!!! TOLONG!!! SAKI, SAKI, DIAー"<br><br>"TSUKASA?! Kenapa?!"<br><br>Sang ibunda segera menghampiri, disambut oleh pemandangan yang tak disadari. Melihat buah hatinya nyaris pingsan itu membuatnya cemas tak tertolong; terutama setelah ia menyentuh badan Saki dan menggendong anaknya nan mungil itu. <br><br>"Tsukasa ... ibu dan ayah akan bawa Saki ke dokter, apa kau bisa menjaga rumah sendiri?"<br><br>Pertama kali dalam kehidupannya, lelaki itu ketakutan. <br><br>Takut bukan karena sendirian; bukan karena kesepian juga. Namun karena kondisi adiknya yang saat ini mendadak kesakitan. Apabila memang itu yang terbaik untuk Saki, maka Tsukasa tak ada pilihan lain selain menunggu keadaan sang adik membaik. <br><br>"Ba-baiklah! Kalau begitu, tolong hati-hati di jalan ..."<br><br>Tak terasa, mentari sudah nyaris menutup sinarnya hari ini. Sore hari telah tiba; disinilah Tsukasa masih duduk diam di sofa, menonton acara televisi yang sama sekali tidak menarik bagi dirinya. Wajar saja, tayangannya hanya berisi drama romantis yang memiliki <em>soundtrack</em> menjengkelkan. Tak tahan mencari hiburan, lelaki yang jenuh itu segera mematikan televisi dan membaluti diri menggunakan selimut. <br><br>Tatapan matanya sayu nan lemas, menunggu harapan datang dan kabar baik menyambut. Seketika, pagi hari yang cerah bersama alunan piano yang ia mainkan itu sudah sirna di hadapannya. <br><br>DRIIIIIINGGG!!!<br><br>Tsukasa beranjak dari sofa, terkejut akan suara deringan telepon yang nyaring, ia mengharapkan bahwa itu panggilan dari ibunya. Langsung ia angkat tanpa berpikir, gembira nan tak sabar mendengar kabar Saki. <br><br>"Bagaimana, Ibu?! Apakah Saki baik-baik saja? Haha, aku sudah menantikan untuk bermain piano malam ini bersamaー"<br><br>"<em>Tsukasa ... ibu minta maaf, tapi penyakit Saki ternyata lebih parah dari yang kita duga. Ibu akan menginap disini dan menjaga Saki sampai besok malam, ayah sedang berada di jalan pulang untuk menjagamu di rumah sekarang. Maafkan ibu, Tsukasa. Maaf mengecewakanmu</em> ..."<br><br>Senyuman yang ia pasang, sirna dalam sekejap. <br><br>Begitu banyak bayangan dan kenangan yang akan ia buat bersama adiknya; lebih tepatnya, itulah keinginannya. Andai saja keinginannya yang sesederhana itu tak bisa terwujud lagi, apa yang akan terjadi selanjutnya? <br><br>Ah, tapi hanya untuk besok malam saja. Setelah itu, pasti ia menepati janjinya bersama Saki untuk bermain piano lagi, bukan? <br>Tapi tetap saja; takdir menghantam begitu keras bagi anak berusia 9 tahun seperti dirinya, rasanya bagaikan segala cahaya dilenyap habis oleh sesuatu yang kau takuti. <br><br>"... Ah. Baiklah, ibu. Aku mengerti, kok ... tolong jaga Saki," ujarnya singkat dan mematikan panggilannya dalam sekejap. <br><br>Rasanya berat menahan tangisan dan duka. Tsukasa menaruh telepon rumahnya itu dalam posisi semula, lalu berjalan menyusuri ruang keluarganya yang luas nan megah. <br><br>Pandangannya terpikat dengan satu benda yang berdiri tegak di hadapannya; yaitu piano. <br>Ingin rasanya ia mainkan sekali lagi, di malam nan sunyi ini. Begitu banyak bintang mengelilingi, namun tiada cahaya yang menembus hati. Tsukasa memutuskan untuk duduk di bangku itu lagi, menyiapkan diri memainkan lagu yang sama; sembari menahan tangisan. <br><br>"<em>Twinkle, twinkle, little star ...</em>"<br><br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br><br>5 tahun telah berlalu semenjak kejadian itu. <br><br>Kini, Tsukasa menginjak kehidupan Sekolah Menengah Pertama. Keseharian sekolahnya bisa dibilang biasa saja, tak ada yang spesial maupun unik. Ia ada beberapa teman berkat kepribadiannya yang tangguh nan berisik, tapi dirinya masih merasa belum cukup. <br><br>Ada suatu lubang mendalam yang hampir tak bisa diobati maupun ditutupi; masih luka membekas pada dirinya sewaktu masih kecil, yaitu kondisi adiknya. <br><br>Kakinya melangkah masuk ke rumah, dengan tatapan kosong tiada harapan. Tanpa salam maupun sapaan, ia langsung menutup pintu; tiada sambutan yang dia dapatkan pula, hanya ada ruang tamu kediamannya nan sunyi seperti biasa. <br><br>"Saki ... masih dirawat di rumah sakit, huh."<br><br>Ia melirik ke piano yang sedikit demi sedikit mulai berdebu; sudah lama ia tidak menyentuh harta karun tersebut. Adiknya tidak bisa mengikuti sekolah karena keadaannya yang semakin parah, yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa. <br><br>Hanya berdoa, apa benar cuma itu yang bisa ia lakukan? <br>Ia ingin lebih dari itu; ia ingin membantu adiknya sembuh. Melihat senyumannya saja, sudah membuat hatinya bersinar saat ini. <br><br>Langkah kakinya mendekat kepada piano yang sedari tadi ia pandang. Perlahan ia mengusap debu yang menutup, lalu duduk kembali di bangku itu. Masih ada kertas not dan lirik lagu yang selalu ia mainkan, sekaligus lagu nan menyakitkan di hati; <em>Twinkle Twinkle Little Star.</em><br><br>Helaan nafasnya terasa berat. Sedikit demi sedikit, niat dan keberaniannya untuk bermain piano itu kini terkumpul lagi seperti semula. Jari-jarinya mulai bergerak, memainkan lagu yang sama setiap harinya.&nbsp;<br><br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br>.<br><br>"Kenangan yang pahit sekali," bisiknya sembari tersenyum pahit. "Setidaknya kau bisa di sampingku sekarang, Saki."<br><br>Walau ingatan yang barusan menghantuinya mencabik perasaannya perlahan-lahan, Tsukasa mulai sadar tujuan hidupnya selama ini. Tidak hanya untuk tampil di panggung maupun menjadi ahli musik yang terkenal; tapi demi membuat adiknya tersenyum.&nbsp;<br><br>Saki yang tengah tertidur di sofa itu kini menginjak bangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas, sedangkan Tsukasa berselisih satu tahun dengan dirinya. Sakitnya sudah mendingan, walau tak jarang penyakitnya kumat menyerang.&nbsp;<br><br>Ia berdiri dan mengecup kening sang adik, "Aku menyayangimu."</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:16:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256410144</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keluarga</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256411763</link>
         <description><![CDATA[<div><em>”Tsukitsu! Kembalikan boneka milikku!”<br>”Tidak mau! Kakak sendiri yang memulainya!”<br>”salahmu telah merusak pesta teh milikku!”<br><br>Teriak dua orang anak kecil yang berlarian di Lorong istana. Yang satu adalah seorang gadis kecil bersurai biru dengan gaun putih panjang serta noda tumpahan teh di bajunya. Sedangkan satunya seorang pemuda kecil yang lebih muda dari gadis tadi dengan surai pirang serta tuxedo berwarna putih sembari membawa sebuah boneka. Para pelayan yang menyaksikan hal itu hanya bisa tertawa kecil karena keimutan dari kedua anak tersebut.<br><br></em><strong><em>Bukk!<br></em></strong><em><br>Suara tabrakan ketika pemuda kecil itu menabrak seseorang hingga jatuh terduduk. Di belakangnya, gadis kecil yang meupakan kakaknya berhenti di belakang dengan sedikit gemetaran melihat sosok yang telah adiknya tabrak tadi.<br><br>”Aira, Tsukitsu. Ikut ibunda.” Ucap seorang Wanita dewasa bersurai biru panjang dengan senyuman menyeramkan (menurut mereka) yang dibalas anggukan cepat dari kedua anak tersebut.<br><br>Dan disinilah mereka. Berdiri sembari menundukkan kepala dihadapan sang ibunda serta sang ayahanda. Merasa takut serta kesal antara satu sama lain.”<br><br>”Ulah apa lagi yang kali ini kalian lakukan?” Tanya seorang pria dewasa yang duduk menatap kedua anaknya dengan lembut.<br><br>”Aira Nee mematahkan pedang milikku..” Jawab seorang pemuda kecil yang masih menundukkan kepala sembari menunjuk kearah sang kakak.<br>”Itu karena Tsukitsu membuat kerusuhan bersama Mike dan Ordie hingga teh tumpah ke gaunku!” Seru gadis kecil bersurai biru yang tak terima jika kesalahan sepenuhnya kepadanya.<br><br>Kedua orang tua mereka hanya bisa menghela nafsa pelan. Sang ayahanda bangkit dari duduknya lalu menggendong Tsukitsu ke pundaknya.<br>”Anak ayah semakin besa rya. Jangan sedih lagi. Kita cari pedanng barunya dan akan ayah ajarkan cara menggunakan pedang dengan benar.” Ucapnya yang menghibur Tsukitsu sembari berjalan keluar meninggalkan sang istri bersama dengan anak gadisnya.<br><br>”Maafkan Aira, Ibunda..” Ucap gadis kecil itu dengan kepala yang tertunduk. Jari jemari kecilnya memainkan rok gaunnya karena takut akan dimarahi sang ibunda.<br><br>”duduklah disebelah ibunda.”<br><br>Gadis kecil itu pun menuruti perintah sang ibunda. Ia duduk disamping dengan kepala yang tetap tertunduk. Melihat anak gadisnya yang masih saja menundukkan kepalanya membuatnya tertawa kecil dan mengelus lembut surai biru yang sama seperti miliknya.<br><br>”Ibunda takkan marah asal aira tahu dimana salah Aira. Jangan sedih lagi ya. Beberapa hari lagi pesta ulang tahunmu lho.”<br><br>”Baik, Ibunda’”<br>Sang Ibunda tersenyum lembut kepada anak gadisnya. Ia menyuruh sang anak menutup mata dan memakaikan sebuah kalung berbentuk semanggi berdaun empat yang dihiasi dengan sebuah permata sapphire.<br><br>”Bukankah ini milik ibunda? Kenapa berikan kepadaku?” Tanya Aira yang kebingungan. Ia tahu bila kalung tersebut milik sang ibunda yang diberikan oleh ayahanda dahulu. Kalung yang berharga milik sang ibunda namun diberikan kepadanya.<br><br>”Karena kamu adalah anak ibunda yang berharga” Jawabnya seakan tahu bila anak gadisnya itu merasa kebingungan serta tak enak menerima kalung itu. Ia memeluk anak gadisnya dengan lembut dan kembali mengelus surai biru bagaikan langit cerah di siang hari itu. Aira tersenyum lebar merasakan kehangatan dari pelukan sang ibunda.<br><br>”Dimanapun Aira berada, ibunda selalu akan melindungi Aira. Jadi, pakailah kalung itu selalu.”_<br>”Baik, Ibunda”</em><br><br>-------------------------------------------------------------------------------------------------------------<br><br>Suara samar-samar terdengar masuk ke dalam gendang telinganya. Suara yang terus saja memanggil namanya. Kedua mata itu terbuka memperlihatkan sepasang netra biru bagaikan lautan. <br><br>“Aira Nee tak apa-apa?” Tanya seorang Wanita bersurai sakura yang seumuran dengannya. Wanita itu menatapnya dengan khawatir dengan sepasang iris amesthy miliknya.<br><br>“Iya, aku tak apa apa.” Jawabnya dengan singkat sembari bangkit dari tidurnya.<br>“Benarkah?”<br>“Hmm..”<br>“Tetapi, Aira nee menangis. Apa aira nee mengalami mimpi buruk?”<br>Aira langsung mengusap kedua matanya. Ia baru sadar bila ia menangis dalam tidurnya. Cepat cepat ia mengusap wajahnya dengan baju tidur miliknya, berusaha agar Wanita didepannya itu tak begitu khawatir kepadanya.<br><br>“aku Cuma mimpi bila kakiku tersandung batu dan jari-jariku menabrak batu tersebut. Rasanya begitu menyakitkan.” Jawab Aira lagi dengan nada datar yang tentunya sebuah kebohongan. <br><br>Aira menatap Quorra, berusaha <del>membodohi</del> menyakinkannya bila ia tak apa-apa walau sebenarnya Quorra tahu Aira tengah berbohong dan memilih pura-pura lega. Quorra menghela nafas pelan sembari mengelus dadanya. Aira yang sedari tadi hanya diam menatap Quorra. Tidak. Lebih tepatnya menatap kalung yang tengah dipakai olehnya. Kalung semanggi berdaun empat dengan sebuah permata sapphire sebagai hiasannya. Kalung yang sama yang diberikan oleh sang ibunda. Dan ia berikan kepada Quorra.<br><br>“Aku akan segera pergi”<br>“E-ehh? Kenapa begitu cepat? Nee-chan kan baru tadi malam datang kesini.”<br>“Aku hanya ikut Keiji kemari. Sekalian saja mengunjungi sekaligus mengetahu kabar kalian secara langsung.”<br>“Souka..” Quorra tertunduk sedih karena sang kakak akan pergi lagi. Padahal sang kakak baru saja sebentar berada di rumahnya dan entah kapan lagi akan datang berkunjung.<br><br>Aira kini telah selesai bersiap, membawa sebuah tas ransel miliknya sembari menggendong seekor rubah berbulu putih peliharaanya. Ia berdiri di ambang pintu balkon, melihat kearah Quorra sejenak sebelum pergi menghilang seperti ninja.<br><br>“Jagalah kalung itu.” Pesan Aira sebelum pergi menghilang.<br><br>Kalung pemberian sang ayahanda kepada ibundanya. Kemudan kalung itu diwarskan kepadanya. Kalung pelindung, sebutan oleh Aira. Bukan hanya sebagai jimat saja. Namun, memang benar-benar sebagai pelindung. Kalung itu akan langsung membentuk Barrier pelindung ketika sang pemakai terancam atau hampir mengalami kecelakaan, entah disengaja ataupun tidak.<br><br>Kalung yang menyelamatkan seorang gadis kecil dari kobaran api besar serta rerntuhan bangunan. Dimana hanya ia yang selamat. Sedangkan kedua orang tuanya mati tepat didepan matanya. Kalung penyelamat sekaligus pemberi kesedihan yang tak ada habisnya kepada gadis kecil itu walau sudah tumbuh dewasa dan hanyalah masa lalu.<br><br><br><strong>-THE END-</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:20:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256411763</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Menulis Kenanganmu!</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256412564</link>
         <description><![CDATA[<div>"Fia bangun!" <br><br>Spontan mataku terbuka lebar. Tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Hari ini kegiatan awal yang harusku lakukan merupakan kegiatan berulang. <br><br>Mandi, membersihkan tempat tidur, kemudian sarapan. Menggunakan pita kesayangan, siap mengawali hari. Mungkin. Sebelum aku mengulas senyum di cermin, "hari ini tersenyum seperti biasa." Gumamku kepada <em>diriku yang lain.</em><br><br>Menuruni anak tangga yang jumlahnya tidak seberapa, menemukan sosok yang selalu membangunkan setiap pagi. <br><br>"Pagi bu!" <br><br>"Pagi sayang, sarapan dan bekalmu sudah ibu siapkan di meja!" <br><br>Melihat sebuah nampan berisi makanan, diriku menghabiskan makanan itu segera. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, ibu hanya pokus menyelesaikan pekerjaannya. <br><br>Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga tidak lebih. Tapi orang-orang sekitaran rumah tahu, kalau ibu jago memasak. Para tetangga sering memesan masakan dengan ibu. Ibuku wanita kuat tanpa ayah bisa menafkahi kedua anaknya. Ya, aku memiliki saudara kandung. Tapi, dia lagi kerja di luar kota. <br><br>"Bu! Kakak bilang mau pulang." <br><br>Anggukkan kecil terlihat. Tanpa menoleh sedikitpun, ibuku masih pokus dengan pekerjaannya. <br><br>"Setelah pulang sekolah, jangan kemana-mana. Ibu mau ada acara di rumah tetangga. Jaga rumah." <br><br>"Iya!" Melesat keluar rumah menenteng bekal dan tas dipundak." <br><br><em>siapa gadis itu? Adiknya?<br><br>mirip si, tapi kok serasa tidak pernah melihat dia keluar rumah?<br><br>anak rumahan, pasti ga bisa bersosialisasi</em><br><br>"Pagi tante." Senyuman memang indah pada masanya. <br><br>Kalian tau, ya kalian pasti tau. Siapa si yg suka sekali mengomongin orang lain. Syukurnya aku golongan orang bodo amat, siapa yang perdulikan mereka. <br><br><strong>Fia hanya Fia bukan yang lain.</strong><br><br>Perjalanan yang ditempuh tidak memakan waktu lama, cukup berjalan kaki saja. Waktu yang dihabiskan dari rumah ke sekolah hanya perlu 15 menit. Hari ini cuacanya agak mendung, sehingga tidak membuat silau mataku. Gerbang sekolah terlihat di depan mata. Perjalanan yang sungguh panjang, ya. <br><br>"Jam 6:30 pasti tidak ada orang di kelas." <br><br>Langkahku terhenti di sebuah taman kecil di samping bangunan kelas. Celingak-celinguk tidak ada orang, diriku mendekati keran yang tak jauh dari sana. <br><br>"Bunga malang."<br><br>Seharusnya ini tugas petugas kebersihan sekolah, tetapi mungkin bakal lama menunggu beliau datang. Lebih baik aku saja yang mengerjakan tugas ini, pikirku. Bunga di sini cantik-cantik dari mawar, tulip, hingga melati pun ada. Kurang apa lagi ini sekolah. <br><br>Mengulas senyum simpul, aku menertawakan pernyataanku sendiri. Tanganku masih bergerak untuk menyirami bunga-bunga itu. Harusnya tidak usah terbesit kalimat itu. Aku tau kekurangannya, lebih tau malahan daripada guru hingga kepala sekolah di sini. <br><br>"Hari yang tenang menyiram bunga, bahkan bunga <em>teraneh</em> pun ada di taman ini." <br><br>Akhirnya petugas kebersihan muncul juga. <em>Fia tidak perlu menyiram bunga itu kan?</em><br><br>Melewati koridor, hanya baru beberapa siswa dan siswi di sini. Memasuki kelas yang super teramat bersih itu pun diriku membuka pintu. Sudah diduga hanya dia semata ada di kelas.&nbsp;<br><br>"Pagi, tidak ada mengganggu lagikan?"&nbsp;<br><br>Hanya sebuah tatapan datar tidak ada sahutan. Diriku memang dah biasa dengan respon begitu. Siapa yang perduli.&nbsp;<br><br>Sepatah dua patah pun tidak ada terucap. Hanya keheningan, tenang membisu di tempat. Mendengar langkah kaki dan decitan pintu terbuka dan tertutup sungguh pemandangan yang berulang kali terlihat.&nbsp;<br><br>Membosankan. Mengambil gawai yang bahkan selalu kena razia tetapi tetap di bawa, menyetel sebuah lagu favorit dari artis yang di sukai. Oh, jangan lupa gaya keren dengan memakai earphone. Alat penyumbat telinga.&nbsp;<br><br>Hari ini sama seperti biasa, tetapi sepertinya ada kejadian yang hilang. Contohnya, saat makan siang. Biasanya aku tidak sempat memakan bekal dari ibu karena ada urusan yang sangat tidak penting dilakukan. Sekarang? Sudah berbeda. Urusannya lenyap di telan bumi, aku pikir.&nbsp;<br><br>Setelah guru masuk memberikan penjelasan, biasanya memberikan oleh-oleh yang cukup melekat sekali. Pekerjaan rumah. Itu tidak pernah ketinggalan.&nbsp;<br><br>Pekerjaan rumah hari ini tentang 'menulis kenanganmu' oleh-oleh itu, begitu nyaring diucapkan&nbsp;<br><br>Kenangan, ya? Kenangan apa yang harusku tulis. Terlalu banyak hingga beberapa peristiwa terlupakan olehku.&nbsp;<br><br>Berpikir, berpikir, dan berpikir. Dapat! Ada satu kenangan yang menarik untuk di tulis. Di hadapanku terpampang mading sekolah. Tempat menempel sebuah pengumuman, bahkan pengumuman beberapa siswa hilang pun ada di sini.&nbsp;<br><br>Sekolah ini emang terlalu lengkap, ya?&nbsp;<br><br>• *:･ﾟ✧*:･ﾟ✧&nbsp;<br><br>Kuning ke emasan. Tidak ada yang salah dengan warna itu. Warnanya cantik, sukar tidak disukai. Mungkin sebagian orang ada yang memang tidak menyukainya. Bagiku, warna ke emasan itu-&nbsp;<br><br>Menggenggam bunga mawar warna keemasan dengan kuat sehingga hancur menjadi kelopak bunga gugur. Cantik sekali.&nbsp;<br><br>"Oy! Gadis kutu buku! Minggir, kau menghalangi jalan!"&nbsp;<br><br>Pekik seseorang entah dari siapa atau memang suaranya yang khas. Selalu berteriak walaupun aku di hadapannya.&nbsp;<br><br>"KAU! TULI!? MINGGIR KATAKU!"&nbsp;<br><br>"Aku sudah berdiri di sini sejak 50 menit yang lalu. Di sampingku masih luas untuk berjalan." Ucapku sarkas.&nbsp;<br><br>"Kamu!" Suara tertahan. Bisa di lihat wajahnya memerah, menahan amarahnya sejak tadi. Sepertinya aku membuatnya marah besar.&nbsp;<br><br>Siapa yang perduli. Aku menyukai kata itu. Dari kapan ya. Mungkin saat aku mendengar kata-kata itu pertama kali.&nbsp;<br><br>Melayangkan sebuah tinju ke wajahku yang bahkan sudah cantik dengan bedak. Sayangnya, tinju miliknya luput. Kesian sekali. Gerakan menusukku lebih cepat dari pukulan miliknya.&nbsp;<br><br>Ya, aku menyembunyikan pisau di tangan sebelahku. Dia benar-benar bodoh tidak menyadarinya. Sekarang pisau itu menancap tepat di hatinya.&nbsp;<br><br>"Bodoh. Sekolah ini memiliki sebuah sumur, sungai, hingga peternakan ikan. Ikan makannya daging bukan?" Senyumku hari itu, sungguh aku menyukainya.&nbsp;<br><br>Kembali ke waktu sekarang. Tanpaku sadari, diriku terpaku di depan mading sekolah.&nbsp;<br><br>"Fia?"&nbsp;<br><br>Panggilan itu membuatku tersadar dari lamunanku. Sepertinya aku mengenal panggilan itu.&nbsp;<br><br>"Kamu fia kan? Anak kelas-"&nbsp;<br><br>"Iya bu, panggilan saya fia."&nbsp;<br><br>Elusan simpul ke dada terlihat. Dia salah satu guru di sekolah ini. Guru yang selalu memberikan oleh-oleh berupa angka. Aku benci itu!&nbsp;<br><br>"Kenapa belum pulang? Apa kau tau sesuatu tentang teman seangkatanmu ini?"&nbsp;<br><br>Jawaban apa yang pas untuk ini. Jujur atau berbohong? Mungkin pilihan pertama langsung menjadi puing-puing pahala.&nbsp;<br><br>"Hm.... sepertinya aku sedikit tau."&nbsp;<br><br>"Kenapa ga memberi laporan?"&nbsp;<br><br>"Bu, kenapa anak-anak pencari masalah lebih populer daripada anak-anak yang terbully?"&nbsp;<br><br>Pernyataan polosku membuat guru ini tidak bisa mengelak lagi.&nbsp;<br><br>Pulang sekolah. Aku mampir ke supermarket dulu. Pengen begadang si klo bisa. Tapi, klo kepergok ibu pasti di marahin. Ya setidaknya menemani membuat pekerjaan rumah milikku.&nbsp;<br><br>Sekarang apa yang aku tulis. Kenangan apalagi yang bisa di ingat. Apa tentang kebun bunga yang memiliki bunga teraneh. Sebuah tangan boneka tertanam di situ. Boneka? Aku banyak mempunyai boneka.&nbsp;<br><br>Membuka bingkisan keripik kesukaan. Berjalan menuruni sebuah tangga hingga ke lantai paling bawah. Untungnya ibu tidak pernah tahu ruangan bawah tanah ini. Aku anak cerdas bisa membuat ruang bawah tanah ini sendiri. Hanya perlu menjadi kuli cangkul untuk membuat ruangan ini, ya. Ehe.&nbsp;<br><br>Lihatlah boneka cantik ini. Aduh, aku lupa menyatukan mereka. Siapa yang perduli itu.&nbsp;<br><br>Semua kenangan ini, bisa merubah diriku menjadi kata 'kegilaan' bukan?&nbsp;<br><br>Sekarang! Waktunya menulis kenangan yang mana lagi ya?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:22:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256412564</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kaleidoskop Nostalgia</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256413091</link>
         <description><![CDATA[<div>Kleance melempar pesawat kertas di tangannya asal. Matanya menatap langit-langit putih kamarnya yang terlihat buram dan tanpa sadar dia menghela nafas bosan.<br><br>Minggu yang membosankan, pikir pemuda itu. Sebenarnya dia dan Claudeーpapanya, memiliki rencana untuk berkunjung ke rumah teman papanya. Tetapi seperti biasa, pria paruh baya itu selalu sibuk berkencan dengan berkas-berkasnya di kantor!<br><br>Sungguh menyebalkan!<br><br>Kleance berdiri mengambil kacamatanya lalu memakainya. Pengelihatannya kembali jernih. Dengan bersenandung pemuda itu berjalan ke luar namun, tiba tiba dia berhenti saat melihat kotak kardus di pojok ruangan.<br><br>Apa dia lupa membersihkannya?<br><br>Dia berjalan mendekati kotak kardus itu dan mengambilnya. Kedua manik ungunya menyala kala melihat kertas yang tertempel di sana.<br><br>[T A K E]<br><br>Tertulis sangat rapi dengan spidol berwarna biru. Kleance ingat, ini adalah kotak kardus berisi mainan yang dia buat dengan Tama, temannya sewaktu tinggal bersama kakek.<br><br>Dia mengangkat kotak kardus itu lalu berjalan turun ke lantai bawah. Kleance akan melihat lihat isinya kembali!<br><br>Sebelum itu, Kleance pergi menuju dapur terlebih dahulu. Mengambil beberapa bungkus eskrimーdia berani mengambil banyak karena sedang tidak ada pelayan, lalu langsung pergi dari sana menuju teras rumahnya.<br><br>Semoga saja tidak ada yang melihatnya.&nbsp;<br><br>Dengan satu tangan Kleance mendorong pintu kaca teras ke samping. Dia lalu meletakkan kotak kardus itu asal dan mendudukkan dirinya.&nbsp;<br><br>Lonceng di teras berbunyi kala semilir angin menerpanya. Kleance ingat, papanya pernah bercerita bahwa lonceng itu dia buat dengan kakek saat masih anak anak.<br><br>Kleance tersenyum tipis, mengambil sebungkus eskrim dan membukanya. Embun dingin menyebar saat dia mengeluarkan eskrim coklat dari kemasannya. Dengan santai Kleance memakan eskrimnya dan membiarkan angin semilir menerpa wajahnya.<br><br>Sebentar lagi musim panas akan datang, pikir Kleance. Saat musim panas tiba, dia sering kali menghabiskan waktunya duduk di teras sambil memakan eskrim, berbanding terbalik dengan anak seumurannya di desa, mereka akan mandi dan bermain di sungai.<br><br>Kleance tersadar dari lamunannya kala merasakan seseorang menatapnya. Dia berbalik dan melihat seorang gadis berusia sekitar 20 tahun berdiri di ambang pintu.<br><br>Itu Arum. Salah satu pelayan yang bekerja di sini.<br><br>Gadis itu berjalan dan mendekati Kleance, "Apa yang sedang Anda lakukan?"<br><br>"Tidak ada. Aku hanya sedang duduk di sini, mencoba menghilangkan rasa bosan."<br><br>"Anda merasa bosan? Boleh saya duduk di sini menemani Anda?" tanya Arum dengan nada halus. Kleance mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada salahnya membiarkan Arum tetap di sini, dari pada Kleance mati bosan sendirian.<br><br>Dia menghabiskan eskrimnya dengan cepat. Pemuda itu tanpa kata mengambil satu bungkus lain dan membukanya lagi.<br><br>"Tuan muda, bisakah Anda menatap saya?"<br><br>Kleance menatap Arum dengan wajah bingung. Kebingungannya semakin bertambah kala melihat Arum mengeluarkan sebuah jepit rambut dari balik sakunya.<br><br>"Pakai ini!" ucap Arum sambil menarik ke atas poni Kleance dan menjepitnya. Dia mengangguk puas dan tersenyum lebar.<br><br>Sudah dia duga, Tuan Kecil mereka bertambah imut jika menjepit rambutnya! Arum harus memberi tahu yang lain.<br><br>Entah mengapa Kleance merasa ada sesuatu yang akan menimpanya di masa depan. Dia bergidik ngeri lalu teringat dengan kotak kardusnya. Kleance lantas mengambil kotak itu dan meletakkannya di pangkuannya.<br><br>Dari samping Arum diam-diam memperhatikan apa yang sedang dilakukan Tuan Kecilnya itu. Manik muramnya lantas berbinar kala melihat benda yang dikeluarkan Kleance dari dalam kardus.<br><br>Sebuah telepon dari kaleng!<br><br>"Apa Anda yang membuatnya?"<br><br>Kleance mengangguk kecil, ada senyum kecil di wajahnya, "Aku membuatnya dengan temanku dan kakek!&nbsp;<br><br>"Saat malam tiba, biasanya aku akan berbicara dengan temanku lewat benda ini. Dia sering kali menyelinap keluar rumahnya dan akan dimarahi jika ketahuan!" cerita Kleance, ingatan demi ingatan masa lalunya terlintas kembali di benaknya, "Dulu, kakek selalu melarang keluar saat malam hari. Pernah sekali aku dan temanku menyelinap keluar rumah, dan kamu tahu? Aku hampir terbunuh."<br><br>Arum terkejut mendengarnya, terbunuh? Hei! Itu terdengar mengerikan! Kleance yang melihat Arum terkejut hanya tertawa pelan.<br><br>"Untungnya, kami bisa melarikan diri! Setelah itu aku demam hampir seminggu penuh."<br><br>Kleance menyodorkan salah satu telepon kaleng ke arah Arum, "Mau mencoba memainkannya? Aku rasa ini belum rusak sepenuhnya!"<br><br>Arum terdiam sesaat lalu mengangguk dengan semangat. Dia mengambil salah satu sisi telepon itu, berdiri lalu berjalan menjauh.<br><br>"Rentangkan lebih jauh."<br><br>Setelah melihat tali yang sudah terentang, Kleance memberi tanda ke pada Arum. Dia mengarahkan kalem telepon ke dekat telinganya sedangkan Arum ke dekat mulutnya.<br><br>"Tuan Muda! Apa Anda mendengar saya?" ucap Arum, perlu beberapa detik sebelum gadis itu melihat Kleance mengangguk.<br><br>"Ini benar benar berhasil!"<br><br>Mereka bertukar beberapa kata sebelum akhirnya menggulung telepon kaleng dan talinya yang cukup panjang. Kleance membiarkan Arum melakukannya dan memilih melihat barangnya yang lain.<br><br>"Ada origami dan boneka Owlーkucing peliharaan Tama, buatan kakak! Um ... apa lagi, eh?"<br><br>Sebelah Alis Kleance terangkat, dia mengambil benda dari karton yang mirip dengan teropong. Dia mengamati benda itu sambil menggigit eskrim ketiganya.<br><br>Kedua manik ungunya lantas bersinar, "Kaleidoskop Nostalgia!"<br><br>Benda yang pernah dia buat dengan Tama saat mereka baru pertama kali bertemu! Jika diingat-ingat, itu sudah sangat lama sekali.&nbsp;<br><br>Sebenarnya, ini hanya kaleidoskop biasa yang entah sudah berapa kali rusak terkena air. Mereka akan selalu membawa benda ini ke mana pun, Tama dan&nbsp; Kleance pergi.<br><br>Tama menamainya Kaleidoskop Nostalgia, dia berkata benda ini akan menyimpan kenangan mereka selamanya.<br><br>Seingatnya mereka memiliki dua kaleidoskop, satu milik dirinya dan satu lagi milik Tama. Di mana yang satunya? Kleance kembali mencari ke dalam kotak kardus namun, tidak menemukannya.<br><br>Mungkin dia meninggalkannya di rumah kakek?<br><br>Pemuda itu menghela nafas pelan. Sayang sekali, padahal dia ingin menyimpannya.<br><br>"Sudah selesai, Tuan Muda," ucap Arum dengan nada riang, dia meletakkan telepon kaleng itu di samping Kleance lalu menatap ke arah kaleidoskop yang dipegang Tuan Kecilnya, "Benda apa itu? Teropong?"<br><br>Kleance menganggukkan kepalanya kecil, "Ya! Ini di sebut Kaleidoskop Nostalgia! Kakakku yang membuatnya!"<br><br>Arum menatap Kleance bingung, "Nona Achella atau Tuan Muda Arceon?"<br><br>Ah ... Kleance lupa keduanya. Bocah itu menggeleng dan mengangkat jari telunjuknya, "Bukan! Ini kak Tama, kakakku yang berasal dari desa!"<br><br>Arum mengangguk anggukan kepalanya mengerti. Mereka kembali mengambil barang lain dari dalam kardus, membuat teras berantakan dengan mainan masa kecil Kleance dan tentu saja, bungkus eskrim.<br><br>"Tuan Muda! Berapa banyak eskrim yang telah Anda makan?!"&nbsp;<br><br>Suara langkah kaki terdengar, membuat Kleance terkejut sekaligus merinding. Astaga! Dia lupa tentang Yurin.<br><br>Dia melirik Yurin yang menatapnya tajam dan dengan polos membenarkan letak kacamatanya, "Arum yang memakan lebih banyak."<br><br>"Eh?!"<br><br>"Saya akan memberi tahu Ayah Anda!"<br><br><br>-Fin-</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:23:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256413091</guid>
      </item>
      <item>
         <title>kepada abu yang menjejak</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256414192</link>
         <description><![CDATA[<div>(⚠️ death, a lot of negative thoughts, mentions of blood &amp; injuries)<br><br>——<br><br>Aku bermimpi di mana Kakak dan Riku mati berpelukan. Dalam mimpi itu mereka berdua terbakar dalam api yang merah, lalu mengabu bersama tanah. Aku diam mencatat kejadian itu baik-baik dalam hati agar muat dan tidak menjadi hampa dalam sela-sela sejarah.<br><br>Bagiku, kematian adalah sesuatu yang selalu terasa dekat. Bak bayangan dari raga. Saat kau tidur, saat kau bangun, makan, saat kau mendongak untuk menebas makhluk lain yang berusaha memakan kepalamu kala menunduk sekejap. <br><br>Aku memimpikan sebuah semesta di mana Kakak dan Riku membangun rumah di tepi hutan dekat dengan gunung. Aku ada di sana, begitu pula denganmu. Di musim panas kita pergi memancing ramai-ramai; yang mana kamu selalu mengeluh soal panasnya dan memilih untuk memperhatikan saja di bawah rindang pohon, walau akhirnya tetap Kakak akan menyeretmu untuk ikut juga, dan Riku akan menertawakan hasil tangkapanmu yang paling sedikit. <br><br>"Kau masih bangun?"<br><br>Aku membayangkan kau dan Kakak menari di atas taman bunga dan tertawa, lalu mengataiku payah dalam berdansa. Aku membayangkan bermain jungkat-jungkit bersama, Kakak di ujung satunya membelakangi musim panas yang cerah; mentari, pohon, rumah, dan kebahagiaan.<br><br>Orang-orang bilang aku terlalu banyak melihat mimpi. <br><br>"Kau mulai mengoceh lagi."<br><br>Namun sekarang aku benar-benar terjaga, walau tetap tak nampak apapun di mata.<br><br>"Maaf, tidurlah," ucapku akhirnya, tanpa mampu melihat wajahmu, maupun langit malam yang seharusnya menaungi kita berdua. <br><br>"Apa yang kau pikirkan?" <br><br>"Aku hanya bermimpi," balasku. "Aku bermimpi soal dunia yang baik. Aku melihatmu di dalamnya, juga Kakak, dan Riku."<br><br><em>Mereka mati berpelukan, dalam api.</em><br><br>"Mengingatnya sekali lagi itu jadi seperti mimpi buruk."<br><br>Kau terdiam sedikit terlalu lama, aku merasakan berat di mata. Rasanya aneh ketika tidak bisa membedakan rasa saat matamu terpejam atau tidak. Noa, kau masih di sana?<br><br>"Kau masih terjaga."<br><br>Entahlah, mungkin. Tiba-tiba saja aku tidak ingin melihat mimpi lagi. Aku lelah harus bermimpi tanpa tau apa itu benarlah mimpi karena aku bahkan tidak tahu apa aku benar-benar telah tidur. Aku ingin selalu terjaga dan dibuai oleh semilir angin musim panas. Aku ingin semesta damai di mana kita berempat hidup itu eksis. Aku ingin dibuai oleh pemikiran di mana kematian hanyalah sebuah konsep bohongan, takhayul belaka. <em>Dan setelah mimpi buruk ini berakhir kita sama-sama pergi jauh, jauh, jauh yang sejauh-jauhnya jauh.</em><br><br>"Itu bukan mimpi, itu kenanganmu."<br><br>"Akira," kau memanggil namaku dengan lembut; bukan lirih, lembut. "Mereka itu nyata, dan kau hanya melihat jejaknya."<br><br><em>Bintang-bintang sudah mati dan mereka jatuh di kedua matamu,</em> kuingat setengah menangis kau katakan itu, namun tangan kecil itu tetap menyentuh wajahku hati-hati. Seumpama memetakan di mana bibirku berada, di mana letak hidung, di mana letak kedua mataku berdiam diri. Aku menggenggam erat lengan dingin milikmu. <em>Hentikan itu, hentikan.</em><br><br><em>Yang buta adalah aku, bukan kau.</em><br><br>Aku membisikkan <em>maaf</em> yang begitu pelan, kali ini kembali menggenggam tanganmu. Bau besi tua menyeruak. Di mana-mana. Pekat. Tanganmu menarikku dalam sebuah pelukan, dan berbaring beralaskan rumput kering.<br><br>"Aku mengantuk," ucapku padamu, pada tubuhmu yang semakin dingin. "Bawa aku, Noa."<br><br>Peluk aku bersamamu dan bawa aku jatuh dalam hitam yang seumpama lubang di dadamu. Bersama darah yang menghabisimu karena keras kepalanya tidak berhenti membanjiri. Aku selalu hidup dekat dengan kematian, tapi mengapa kau Noa? Mengapa, mengapa, mengapa—<br><br>"Kau harus tetap terjaga, Akira."<br><br><em>Dan jika tidak ada surga dalam pembebasan maka apa maknanya aku mengejar hidup?</em><br><br>Kita berdua bak setan yang patah sayap, yang sudah lupa caranya terbang. Jadi mereka menjilat luka satu sama lain yang sama kotor; yang berlumur ketidakmurnian; yang sejujurnya takkan menggapai kesembuhan, karena, karena apa, ya? Lagipula, sembuh pun tak jamin kita 'tuk gapai surga. Dan aku tidak sudi membuatmu kembali ke neraka dan menderita. Keinginanku sebegitu rumit dan rasanya menjadi tali yang melilit leherku dan lehermu seiring waktu.<br><br>"Selamat malam," ucapmu tepat di telinga. "Setelah ini, kau harus terbangun."<br><br>Aku tidak tahu di mana aku akan bangun, aku bahkan tidak tahu apakah aku akan terbangun. Mungkin esok tidak ada lagi mimpi, tidak ada lagi sejarah penuh luka yang harus kucatat, tidak ada lagi kenangan yang menjagaku hidup. Aku mengutuk semesta yang mencoba membuat semua orang terkasihku menjadi abu.<br><br>"Kau harus bangun, Akira."<br><br>Aku memberanikan diri untuk balik mendekapmu. Satu lagi babak dalam hidupku kuhabiskan denganmu, maka satu lagi, hingga jiwa ini diperas sampai tak tersisa setetes juga—<br><br>"Aku akan bangun, dan aku mati, lalu aku akan hidup kembali, aku akan menyelamatkanmu." <br><br><em>Matilah kau mati<br>Kau akan hidup berkali-kali</em><br><br>—biarkan aku membawa kenangmu di setiap semesta.<br><br>Dan suatu saat kita akan bangun bersama dalam dunia di bawah langit yang cerah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 04:25:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256414192</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The Sweetest Memories</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256414860</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1650403570/01d3ee2a8cc07deb6b1fb14641aa8232/Week_5_Memories__The_sweetest_memories_by_Ischyra.pdf" />
         <pubDate>2022-08-08 04:27:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki1/W5_Memories/wish/2256414860</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
