<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>mimi’s space🦆 by Mimi 🍥</title>
      <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq</link>
      <description>My personal writing dumps, kalo dapet ide ya tulis. An unconsistent writer jadi jangan ditungguin updatenya ;)</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-06-25 04:01:04 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-12-28 14:49:04 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1739764164/cde5de74bb802b9c0c7875a9ca9a226c/0C2A4C62_9A4F_413B_B42E_4DF1144F177F.jpg</url>
      </image>
      <item>
         <title>Bertaut </title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243510420</link>
         <description><![CDATA[<div>Persis seperti katamu, hidup bergelar layaknya roda berputar dan aku berjalan diatasnya layaknya bajingan.</div><div><br></div><div>Aku yang mereka sebut seperti landak yang tak punya teman, disandingkan dengan dirimu, si kelinci lembut yang disukai banyak orang. Kamu dikelilingi, sementara aku dibelakangi.</div><div><br></div><div>Meskipun begitu, kau tetap mengulurkan jemari-mu, menawarkan tautanmu saat aku kehilangan arah, buta karena diri yang tak pernah melangkah.</div><div><br></div><div>Kau, si hidup yang sebelumnya belum pernah kuimpikan</div><div><br></div><div>Sejak pertama kali tautanmu kuraih, detak kita berjalan beriringan. Keras kepalanya menjadi satu arah,marahnya yang menciptakan awalan, senyumnya yang melahirkan kehangatan.</div><div><br></div><div>Biarlah kata-kataku menggonggong mengalahkan hujan, biarlah mereka semua, tidak, seisi dunia tahu dengan siapa aku bertaut.</div><div><br></div><div>Erat tautannya yang mengajakku pergi, meninggalkan semuanya di belakang. Kau, dengan yakinnya mendekap gelap jemari ini, seperti detak jantung kita yang bertaut.</div><div><br></div><div>Aku bertaut denganmu, dan melepaskannya bukanlah suatu pilihan.</div><div><br></div><div>Karena kamu,</div><div><br></div><div>kamulah yang aku pilih.</div><div><br></div><div>Syukur, hadirmu membawa peran pangeran untukku.Tak pernah sekalipun merasa seindah ini dalam peranku sebagai bajingan.</div><div><br></div><div>Kau hadir dan aku setengah mati memantapkan diri.</div><div><br></div><div>Untuk kali ini, cerita yang berjalan ini, aku tak ingin lagi menjadi bajingan, aku ingin kamu—kita menjadi segala hal yang mengisi dunia.</div><div><br></div><div>Sampai akhir yang tak berujung, akan kupastikan.</div><div><br></div><div>Kau dan aku—kita saling bertaut<br><br>&nbsp;<strong><em>ayyeumi, 2020</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:54:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243510420</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Langit Abu-Abu </title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243510638</link>
         <description><![CDATA[<div>Pernah saat itu kau bilang, aku adalah segala hal yang tidak ada pada dirimu. Juga katamu dia tidak seperti aku yang selalu sepenuhnya, bukan seadanya.</div><div><br></div><div>Apa secepat itukah masa berlakunya bagimu? Sesingkat itukah umur kita? Karena, bagiku rasanya tak pernah singkat, tak pernah habis. Serta tak pula manis. Yang ada hanyalah rasa sakit.</div><div><br></div><div>Sebentar-sebentar. Duduklah sejenak, biar kuperjelas. Kita memang tak pernah manis, tapi tidak bagimu. Kau yang selalu manis, semanis kala itu ketika kau pertama kali mendatangiku walau abu-abu jadi warnamu, meski tangis menjadi seserahanmu.</div><div><br></div><div>Kau datang dengan tangis, kemudian pergi pula memberi tangis.</div><div><br></div><div>Sedari awal kita tak pernah berdasar, tentunya. Tak ada ujungnya. Ah, bagaimana ingin berujung? Berawal saja tidak.</div><div><br></div><div>Hei, selain abu-abu, kita itu apa? Aku itu apa untukmu? Pemberi sembuh? Tempatmu membagi luka (yang tak pernah kuminta)? Atau hanya tempat singgah? Atau aku hanya memenuhi suatu peran untuk kaupijak demi meraih yang lain?</div><div><br></div><div>Tolong katakan padaku, bagaimana caranya kau meninggalkan aku yang katamu tentang-segala-hal-yang-sepenuhnya dan memiliki-apa-yang-telah-menjadi-kekuranganmu? Atau itu hanya omong kosongmu yang manis agar aku mau bergeser memberimu sembuh?</div><div><br></div><div>Sudahkah kau bertemu dengan puas setelah redanya segala lukamu? Bertemukah kau dengan rumah ketika kembali dengannya?</div><div><br></div><div>Lupa sudahkah kau dengan aku yang disini masih memiliki rasa?</div><div><br></div><div>Di bawah basahnya langit abu abu, aku tahu betul kau dimana. Kau selalu saja dibawah atap sebuah rumah, yang dibawahnya tidak ada aku didalamnya. Kau selalu ada disana, selalu.</div><div><br></div><div>Terima kasih telah memberi penjelasan tentang segala hal yang tidak jelas, dan selalu abu-abu. Tenang saja, disini bukan saja kau yang salah.</div><div><br></div><div>Kamu bersalah atas semua luka yang kau torehkan di sekujur tubuhku, dan aku yang salah atas keliru mencintaimu begitu dalam dengan segenap hati.</div><div><br></div><div>Semoga kau terus hidup dengan malu karena aku pernah bersamamu. Semoga kau bahagia lalu mati rasa. Semoga kamu dibalas dan aku terbalas. Semoga kau selalu abu-abu, dan maafku tak pernah bertemu dirimu. Tak pernah.</div><div><br></div><div>Sudah, sekian. Sudah cukup. Kusambut kepergianmu dan kedatangan lukanya. Sekian, selamat tinggal<br><br><strong><em>&nbsp;ayyeumi, 2021</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:54:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243510638</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The Most-Twisted Curse </title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511127</link>
         <description><![CDATA[<div>Bagiku, <em>kamu</em> adalah segala hal yang tidak ada di diriku. Tak butuh waktu yang lama membuat seorang aku ini menjadikan <em>kamu</em> sebagai duniaku, segala fokusku.</div><div><br></div><div>Bagaimana mendung yang menggantung seketika tersingsingkan manakala menatap sepasang netra sipit itu. Sepasang mata yang teduh dikala sendu. Semua pilu yang membiru melebur, larut berganti senyum.</div><div><br></div><div>Aku lelah mencari, aku lelah berlari. Biarlah kedua tangan milikmu membentang menjadi tempat peristirahatanku. Biarlah senyummu meneduhkan dikala hatiku membiru.</div><div><br></div><div>Yang dikira singgah, menjadi rumah tempatnya mengadu gundah.</div><div>Rumah paling aman, yang berawal dari sekedar nyaman.</div><div><br></div><div>Meski semesta menyanjung aku dengan tingginya, <em>aku lupa. Aku terlena.</em> Pijakan kakiku di bumi terasa begitu sombong. Anugerah yang diberikan Tuhan padaku membuat diriku ini ceroboh. Mungkin terbesit di benak alam raya untuk tak di pihakku untuk sekali saja.</div><div><br></div><div>“Tuhan menciptakan saya, Tuhan pula menciptakan <em>kamu</em>.”</div><div><br></div><div>Lutut melekuk kian pula netra meredup.</div><div>Asa melerung erat raganya, melahapnya dengan kalap. Sesak melesap, menempati tiap ruas sekat paru-parunya.</div><div>Aku tahu betul ini semua tidak ada artinya.</div><div><br></div><div>Kali ini kamu tak bisa datang dikala saat itu abu menjadi warnaku. Meski sepasang netra ini datang dengan tangis menjadi seserahannya.</div><div><br></div><div><em>“Kalau Tuhan mengambil kamu, mengapa Ia tidak mengambil saya juga?”</em></div><div><br></div><div>Sebab hanya akulah. Satu-satunya yang disanjung semesta, dengan segala karunia dari-Nya. Bukan kamu.Bukan pula yang lain.</div><div><br></div><div><strong><em>ayyeumi, 2021</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:55:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511127</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Selamat Malam </title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511229</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Selamat malam</div><div><br></div><div><em>Selamat kelam</em></div><div><br></div><div>Langit hari ini cerah</div><div><br></div><div><em>Ragaku dibuatnya lelah</em></div><div><br></div><div>Senyap suara mengisi dinginnya langit</div><div><br></div><div><em>Aku enggan sekali untuk bangkit</em></div><div><br></div><div>Sudahkah tadi pagi-ku sarapan?</div><div><br></div><div><em>Mau hidup pula ku enggan</em></div><div><br></div><div>Selamat, sekali lagi kututup hari</div><div><br></div><div><em>Sekali lagi, aku ingin mati</em></div><div><br></div><div><strong><em>ayyeumi, 2021</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:55:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511229</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Merah dan Biru</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511296</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Mereka semua ucap ini pilu<br>Segala merah dan biru<br>Semua tentang aku dan kamu<br>Seharusnya pasang ucapan lalu<br><br>Aku pernah, <br>pikir bagiku tiada lagi kelu<br>Tentang segala eksistensi<br>Benak kian tak pernah lesu<br><br>Dengan segala murka merahnya<br>Tunjukkanlah pada muka dunia<br>Menunggu dengan senantiasanya<br><br>Aku pernah penat, penat, penat<br>Diarungi sekelebat cekat pekat <br>Duduk sendiri melaknat<br>Debu debu yang sudah sarat<br><br>Ibu air mata menjadi&nbsp; seserahannya<br>Luber hancur darah merona menimpanya<br><br>Dan pada akhirnya ini<br>Dengung harmoni saat ku terlelap dalam peti jati<br>Raga dengan tua yang senantiasa menanti pergi <br>Membawanya pergi dari dalam diri<br><br><br><strong><em>&nbsp;ayyeumi, 2022</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:55:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511296</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sebut Saja si Ia’</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511400</link>
         <description><![CDATA[<div>Dirinya tumbuh di balik semak belukar kelamku</div><div>Perihal aku yang tersesat arah jalan pulang</div><div>Terlahirlah ia untuk’ku mengembara jauh&nbsp;</div><div>Meninggalkan benih atas bebungaan yang gugur</div><div><br></div><div>Ia segalanya yang ku ingat</div><div>Ia juga sebagian yang ingin ku’lupa</div><div>Soal pujangga yang bersemi dinaungi lautan kejinggaan</div><div>Langkahnya meninggalkan emas baik di kalbu</div><div>Jauh sekali dikau menuntun kala itu terasa sampai langgas</div><div><br></div><div>Dikau semai atas harapan-harapan yang hidup di tiap nafasku</div><div>Puspa yang bermekar dari asa, suka maupun duka&nbsp;</div><div>Ia yang sudah habis masanya&nbsp;</div><div>dan aku yang berlutut pada Tuhan</div><div><br></div><div>Lantas lancangkah aku meminta balik waktu berjalan di atas bumi kembali?</div><div><br></div><div>Ataukah aku yang terlalu mendamba kepulanganmu? <br><br><strong><em>ayyeumi, 2022</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:56:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Purnama Juni</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511454</link>
         <description><![CDATA[<div>Ku’ ucap tinggal pada purnama Juni<br>Cukup sudah kutinggal sorakan malam yang mencekik<br>Cukup sudah ku’lupa gonggong dunia yang memekik<br>Cukup sudah ku’mati dari sesak dada yang menilisik<br><br>Ku’ ucap tinggal pada purnama Juni<br>Terukir tiap helaan nafasnya yang tanpa pelik<br>Terukir jelas semburat wajah-wajah yang berseri<br>Terukir layaknya untaian melodi elok yang cantik<br><br>Ku’ ucap tinggal pada purnama Juni<br>Tinggalkan segala resah kusutnya, segala tangis darahnya<br>Diterpa hangatnya yang kembalikan sumringahnya<br>Tersesatnya rintihanku, menginjak satu demi satu purnama<br><br>Sekali lagi kuucap tinggal pada purnama Juni<br>Walau dirimu berlagak bak bajingan tak tahu diri<br>Walau dirimu merekahkan butiran tangis<br>Ku’ terima segala toreh luka dan alunan senyumnya, wahai purnama Juni<br><br><br><br><em>ayyeumi, 2022</em><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:56:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243511454</guid>
      </item>
      <item>
         <title>si Manifestasi Lara Babak 1</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243513228</link>
         <description><![CDATA[<div>‘<strong><em>Kalau-kalau rambut ini kelak panjang, apa kamu akan tetap ada disini?’</em></strong></div><div>Si lawan empunya usapi legam mahkotaku, sendu senyumnya</div><div><br></div><div>Lalu kau yang pinjam bahuku untuk rehat&nbsp;</div><div>‘<strong><em>Aku takut kita tidak akan selamat’</em></strong> bisikmu lamat saat itu. Aku terpekur; kira jalan jauh di bukit masih raib dari mata</div><div><br></div><div>Lalu kau yang damba udarakan puisi syahdumu, yang pernah kau bilang hanya milikku seorang.</div><div><br></div><div>Kalau dikala kamu pasti berat menjalaninya,</div><div>Kalau kamu pasti penat sekali rasanya,</div><div>dan kalau - kalau yang lain</div><div>Kalau-kalau saja kau tahu aku sudi peduli atau barang meluangkan waktu untukmu.</div><div>Kalau-kalau saja kau tahu aku selalu disana, siap menampahimu.</div><div><br></div><div>Kau yang pernah begitu aman, tak lain sekarang hanya resah</div><div><br></div><div>Kau yang dahulu menghadapiku paling depan</div><div>sekarang membelakangiku jauh sekali</div><div><br></div><div>Kau yang dahulu tutur katanya manis</div><div>sekarang tak lain hanya ada sisa abu&nbsp;</div><div><br></div><div>Kau yang dahulu cekatan dengan peran pangeranmu, atau aku malah memenuhi suatu peran untuk kau pijak?</div><div><br></div><div>‘<strong><em>Oh, memangnya kenapa?’</em></strong></div><div><br></div><div><strong><em>Beritahu aku!</em></strong></div><div><br></div><div>Bagaimana kau yang katamu kalau-kalau aku adalah segalanya-yang-tak-ada-bagimu?</div><div>Atau memang aku hanya salah satu permainanmu yang kotor itu?&nbsp;</div><div>Atau kalau-kalau memang bagimu aku tak pernah ada?</div><div><br></div><div><br></div><div>Kamu dengan segala deras arus emosimu, dan aku yang selalu disana dengan jemari terkujur darah hitam pekat yang cekat</div><div><br></div><div><br></div><div><strong><em>Memangnya kenapa benar kata mereka?</em></strong></div><div><br></div><div>Karena benar kalau itu kamu,<br>&nbsp;si Manifestasi Lara. Aku tak akan paksa kemana lagi kau akan berpijak. Aku tak akan paksa kamu tertawa; ha ha ha. Berdukalah semaumu, dunia tidak akan tau</div><div><br></div><div><br></div><div>Sungguh, aku sudah masa persetan dengan kau yang rasai semua karsamu&nbsp;</div><div>Bersama pujangga yang kau simpan, di saat kau tahu kalau aku selalu mengedepankanmu</div><div><br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-14 15:59:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2243513228</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ingin Berharap Apa Pada Manusia?</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2246172724</link>
         <description><![CDATA[<div>Aku, kamu dan kita</div><div>Sekumpulan jutaan onggok titik kecil ini</div><div>Dengan segala keringat dan darahnya, segala suka dan asa nya</div><div>Dentuman tapak kakinya semena-mena pada tanah Ibu Pertiwi</div><div><br></div><div>Kita yang kalau sering meletak harapan pada manusia lainnya</div><div>Walau kita yang kalau sudah tahu kecewa menjadi balasnya</div><div>Kita yang sebagai manusia tak berhenti untuk mengulangnya</div><div>Kita yang kalau sering lupa bahwa <em>Maha Kuasa-</em>lah yang pasti akan mengabulkannya</div><div><br></div><div>Seringkali kalau ketika <em>si Dunia</em> memalingkan pandangan dari netra-mu</div><div>Tak asing tuk’ cari ladang pelampiasannya lagi&nbsp;</div><div>Andaikata kau tahu</div><div>Bukankah aku tak perlu memenuhi segala nafsu dan dahagamu yang tak tahu diri?</div><div><br></div><div><strong><em>Ayolah, sekali lagi!&nbsp;</em></strong></div><div><br></div><div>Tak perlu gantung segala janji dan mimpi padaku, maupun pada yang lainnya</div><div>Kita yang eksistensinya begitu fana, tak sanggup beri keamanan</div><div><br></div><div>Sungguh semua kuasa bukan ada di tangan manusia</div><div>Bukan ada padaku, bukan juga milikmu<br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-19 12:58:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2246172724</guid>
      </item>
      <item>
         <title>si Manifestasi Lara Babak 2</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2251917852</link>
         <description><![CDATA[<div>Jejal katamu menggores, tinggalkan guratan bekas lara. Raga kering kerontang baluti onggokan tulang ini,yang kau tahu selalu sepenuhnya padamu<br><br>Kau senantiasa ada disini di kala saat aku dinaungi mendungku. Dan kini kau yang senantiasa berada di seberang, justru berikan kembali keruh’ku.<br><br>Katakan padaku,<br>Bagaimana caranya aku terus bangkit saat fajar tiba menyingsing?<br>Bagaimana caranya aku paksa tapak kakiku untuk terus mendayu?<br><br>Oh, demi masa yang terus bergulung. <br>Kembalinya raib eksistensimu, tak ada lagi di sampingku.<br><br>Esok akan terus datang, dimana kala indraku masih catat rapi aromamu.<br><br>Mereka bilang, biar masa yang habiskan<br>Haruskah masa kali ini kujalani penuh dengan kekosongan yang menganga,<br>bekukan segala waktuku?<br><br>Si Dunia terus kembali dengan acuhnya berputar, dan aku yang senantiasa termangu dipenuhi kusut dan sesak.<br><br><br><br>Mungkin benar sudah capai batas waktu masa berlakunya kita. Aku harap kamu temukan apa yang menjadi bosanmu dan bahagiamu. Aku harap kamu tidak pulas dan aku terbalas. Semoga kamu bersimpuh merintih dan aku yang mengangkat kaki bersorai.<br><br><br><br>Semoga pulang lekas sembuhku, kalbuku, sukmaku, ragaku. Aku rindu rekah senyumku tanpamu, selalu.<br><br><br><strong><em><br>ayyeumi, 2022</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-07-29 23:10:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2251917852</guid>
      </item>
      <item>
         <title>🦆</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2271972756</link>
         <description><![CDATA[<div>Di atas ini nanti yang kalian baca itu beberapa tulisan yang aku buat pas masih 2020, hehe. Lebih pendek sih tapi selebihnya enjoy reading ya kak ^____^</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-25 22:20:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2271972756</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pilu Membiru </title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2272082148</link>
         <description><![CDATA[<div>Kunto Aji dengan khidmatnya melontarkan mantra-mantranya kepada umatnya, di atas panggung. Aku yang ada diantaranya, menatapmu dengan khidmat yang sedang sibuk bersenandung dan menari.</div><div><br></div><div>Kamu, masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Dengan senyum lebarmu, kesederhanaan pun diterkam kesempurnaan. Ya Tuhan, begitu sederhana tanpa celah.</div><div><br></div><div><br></div><div>Jemari-jemarimu menari dengan tenang di udara, bergerak bebas beriringan dengan tawa yang diajak mantra menari. Padahal tawamu, merupakan mantra yang selalu kuaminkan, setiap detiknya, setiap ayatnya.</div><div><br></div><div><br></div><div>Bulan malam itu dengan sombongnya memamerkan wajahnya yang begitu bercahaya, padahal ada kamu yang indahnya melebihi bulan,lembutnya melebihi kelautan, dan bodohnya aku, yang melewati kebahagiaan.</div><div><br></div><div><br></div><div>Kini tubuhmu direngkuh sempurna, oleh dia. Kalian berdua merupakan dua sejoli mantra yang diaminkan Tuhan. sedangkan kasihku tak pernah menyatakan, malah menyakitkan, maka Tuhan mengamankanmu dari segala hal mengenai aku. Mengenai sakit.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Masih banyak yang belum sempat kukatakan padamu,</div><div>tapi soal sempat sudah diambil alih orang lain.</div><div><br></div><div>Akhirnya, meski tak sejalan mantranya, aku bisa melihatmu lagi.</div><div><br></div><div>Senyummu masih menjadi satu-satunya mantra yang aku aminkan, meski kita tak saling menyapa.</div><div><br></div><div>Meski kini ‘kita’ sudah tak ada lagi— hanya kamu dan dia, sedangkan aku telah menjadi lalu.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Mantra kan masih kuaminkan. Selalu.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br><strong><em>ayyeumi, 2020</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1739764164/3c160a15c472f17a30f25029e97bf169/5C57DA3D_2B1F_4A84_AC56_2989DDD76C54.jpg" />
         <pubDate>2022-08-26 00:47:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2272082148</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Patah</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2272085795</link>
         <description><![CDATA[<div>Wataknya sama sama keras</div><div>Tentu yang ada hanya kata kandas</div><div>Kaki penuh lecet, keringat mengucur deras</div><div>Sama-sama dituntut untuk lepas</div><div>Ayo, sudah waktunya ‘kita’ berkemas</div><div><br></div><div>Kenapa ‘kita’ harus usai?</div><div><br></div><div>Entahlah.</div><div>Mungkin sedari awal tidak ada kata ‘kita’</div><div>yang ada hanya kau dan aku</div><div>Bodohnya mempercayai konsistensi dalam memilih satu sama lain.</div><div>Menggantung harapan kita tinggi-tinggi.</div><div><br></div><div>Kenapa ‘kita’ nggak bisa?</div><div>Nggak tahu, katanya</div><div><br></div><div>Mungkin,</div><div>karena ‘kita’ adalah salah</div><div>karena ‘kita’ hanya menciptakan resah</div><div>dan yang memang sedari awal salah,&nbsp;</div><div>sudah sepatutnya patah.</div><div><br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2020</em></strong></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1739764164/33eea967040ba1f8c138550b6bc44abc/543F3796_DE7C_4ED2_B13A_F380B6243DD8.jpg" />
         <pubDate>2022-08-26 00:51:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2272085795</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Si Manifestasi Lara Babak Terakhir (eksplisit) </title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2281524251</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Mungkin kata mereka waktu bakal habiskan, tapi rasanya bagiku nggak pernah habis. Aku nggak bisa terus-terusan cerita keluh kesahku soal cinta yang gagal ke mereka yang ada di dekatku. Pasti pun mereka bakal jenuh, sama apa yang aku lontarin. Jadi sekiranya aku jelaskan sebisaku saja disini.&nbsp;</div><div><br></div><div>Maybe i think you are the one, but for you i was never the one, only just for your trial-error. Waktunya kita kandas tak ada lainnya bagai angin lalu bagimu, tak berbanding dengan aku yang melepasmu dengan segenap raga jiwaku.</div><div><br></div><div>Rasanya rumit banget, kepalaku rasanya berisik. Dibuat begitu sibuk kepalaku, tak mampu buatku terlelap. Tapi aku kelihatannya nyaman sama berisiknya ini, ada kamu. Ada kamu disana meski kamu tak benar-benar ada. Dan menurutku ini cukup. Aku rindu sentuhnya, aku rindu peluknya, aku rindu segalanya. Tapi aku faham betul memori seperti itu hanya bisa dikunjungi, aku tahu aku tak mumpuni untuk mengulang kembali buku ini. Aku sudah tahu dengan akhirannya, buat apa aku perlu ulang lagi? Kecuali si penulis memang berkehendak untuk mengubah akhirnya, ya itu beda cerita. Aku masih sayang diriku, jadi lebih pantas aku tak mengulanginya kembali.</div><div><br></div><div>Lagipula ia sendiri sudah punya pacar, aku bukanlah siapa-siapa lagi untuk dia. Ia tak peduli lagi dengan segala tawaku dan tangisku. Apa boleh buat. Kadang ini terasa seperti lelucon bagaimana kita pernah dekat, merekat layaknya lem. Tapi seringan itu bagimu untuk melepasku, meski aku tak begitu tahu. Apa kamu sudah benar-benar melepasku? Atau kau dengan lagakmu hanya menutupnya dengan kembang lain yang sudah kamu pilih? Aku tak pernah tahu, dan aku pula tak ingin tahu. Itu masalahmu sendiri, aku tak ingin ikut campur. Lagipula kamu bukan lagi siapa-siapaku kan? (Aku harap begitu)</div><div><br></div><div>Aku kadang juga benci setengah mati dengan segampang itu emosiku berguling, berganti satu sama lain. Emosiku yang begitu rapuh dan lemah, bergantung padamu. Miris sekali. Aku tak pernah ingin menjadi seperti ini, tapi aku tak mampu lakukan apa-apa. Perasaan tumbuh layaknya tamu yang tak kamu duga, langkah kakinya begitu semena-mena ketika masuk. Tak peduli aku berusaha mencoba redakan karsaku, aku selalu bicara padamu layaknya sumpah “aku tak ingin begitu terikat padamu, aku tak ingin luka hatiku terlalu membekas.” Tapi pada nyatanya sama saja. Tak ada bedanya. Kamu yang patahkan segala janjimu dan aku disini dengan segala jiwa ragaku masih mencintaimu. Aku benci itu, aku tak pernah ingin seperti ini. Bahkan ketika aku menulis ini, aku sesekali melihatmu, ah rasanya mata tak mampu tahan bendungan air mata. Tak peduli alunan lagu berisik yang menggema di telingaku, emosiku tetap ada di satu acuan, padamu.&nbsp;</div><div><br></div><div>Demi apapun, aku benci harus seperti ini. Kalaupun boleh aku melupakannya selamanya, mungkin akan aku lakukan. Aku tak pernah meminta luka jangka panjang ini. Aku juga capek, dan aku juga miliki batas sepertimu. Kamu yang bilang batasmu sampai disini dengan alasanmu yang awalnya aku maklumi. Mungkin benar kamu bosan, ya sudah mau bagaimana lagi. Jujur saat itu aku sakit hati sekali, terasa seperti tusukan yang tenggelam jauh di dalam, meninggalkan kekosongan yang menganga. Aku merasa kau tak pernah ada usaha saat kita hendak usai. Malam itu aku lontarkan tangisku, mataku membengkak. Kenapa kau tak perjuangkan aku saat itu? Aku tak pernah tahu. Tak lama pula kita usai, kamu temukan kembali yang mampu mengisi ketidakhadiranku. Aku kadang dengan bodohnya berpikir, semudah itukah aku mampu digeser? Banyak sekali pertanyaan yang ingin kuajukan padamu, meski aku tahu kamu tak ingin tahu. Biarlah perasaanku yang terus berlari di tempat, tuliskan semuanya.</div><div><br></div><div>Terkadang aku juga bersyukur, dengan adanya gemuruh pergolakan emosi ini lahirkan beberapa karya yang kubuat. Ya meskipun aku harus patah hati dan galau semacamnya.&nbsp;</div><div><br></div><div>Kamu tahu, aku mampu menulis tentangmu terus-menerus, tak ada habisnya. Aku sumpah demi apapun tak peduli teman-temanku selalu bilang ‘buat apa kau terus buang tangismu untuk dia? Dia itu sama sekali tak sepadan, bodoh!’ Tanpa diberitahu pun aku tahu itu, lebih tahu itu daripada segalanya. Bahkan di pagi hari yang seharusnya bahagia ini terasa begitu sendu. Kadang hal-hal kecil yang ada di rumahku membuatku kembali pada masa yang telah lalu, masa yang saat itu ada dirimu. Bahkan aku masih memakai parfum rekomendasi mu saat itu, agar aku terus mengingat aroma khas milikmu saat kamu ada di sampingku.</div><div><br></div><div>Aku rindu kamu yang selalu khawatir ketika kepalaku terantuk dirimu saat di motor, khawatir aku jatuh karena terlanjur lelap di perjalanan pulang. Aku rindu kamu yang mengoceh tak jelas saat kamu berkunjung ke rumahku. Bodoh. Apa aku selalu membuatmu merasa sendiri padahal aku ada disini, bersamamu? Apakah dia mampu mengisi kebosananmu itu? Aku ingin tahu namun aku, sekali lagi, lebih sayang pada diriku. Aku tak mau jatuh lebih dalam lagi padamu. Sakit, sakit sekali.&nbsp;</div><div><br></div><div>Biarkanlah sekali ini aku puaskan rintih ini, tenggelamkan jiwa dalam memori biru yang sesak. Mungkin ini sudah waktunya bagimu untuk mati. Tapi bagiku, kamu akan selalu hidup padaku. Hidup dalam memoriku, hidup dalam perasaanku. Akan kubiar waktu pudarkan kita, sebagaimana kau dengan mudahnya menggeser aku.&nbsp;</div><div><br></div><div>Aku ingat segala hal itu, ukuran sepatumu, pantangan dietmu, berbaris rapi dan bernafas layaknya bayi yang lahir kemarin.&nbsp;</div><div><br></div><div>Aku tanpamu, maupun denganmu akupun bisa lewati (aku harap begitu). Dan pada akhirnya, aku akan melepasmu sebagaimana aku bisa mencintaimu. Aku akan membencimu sebagaimana aku menyayangimu. Aku harap ini terakhir kalinya aku menulis tentang segala hitam putihmu, segala dingin hangatmu. Aku terima dengan lapang segala luka dan sukanya, terima kasih. Aku harap aku mampu secepatnya melangkah, kembali lanjutkan hidup tanpa ada bayang-bayangmu, tanpa ada genggamanmu. Entah apa benar itu rasa sayang yang kamu tumpahkan itu benar-benar ada eksistensinya, tak ada yang tahu.</div><div><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022</em></strong></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-03 14:50:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2281524251</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cakap-Cakap Perihal Melepas</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2305836586</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>&nbsp;Terselimuti bersama segala tinggal abu</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Dua insan pernah sampai merekah</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Aromanya wangi lan sumringah</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Layaknya kembang matahari</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Menengadah arahnya</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;pada cahaya</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Benar?</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Iya.&nbsp;</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Tunggu!</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Sebentar lagi</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Pasti akan tertelan</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Oleh sang Yang Keputusasaan</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Harapan kunjung tak kian sampaikan</div><div>&nbsp;Menunggu,menanti,melewat,mengabdi,</div><div>Ia berlari, berlari, berlari,dan terus berlari<br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022</em></strong></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-21 00:17:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2305836586</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Distorsi</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2312348955</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Seluruh dunia ku berhenti</div><div>Namun waktu terus paksa meniti</div><div>Tokoh cerita telah mati</div><div>Memberi luka lenggok distorsi</div><div><br></div><div>Lenyapnya titik temu</div><div>Seutas jiwa melambai kaku</div><div>Tak kembali lagi hadirmu</div><div>Runtuhkan seluruh duniaku</div><div><br></div><div>Rintihku memekik pada pijar bintang</div><div>Tuntut segala suram buram petang</div><div>Dada bagai terkoyak kencang</div><div>Kamu, soal bercak lara buatku tenang</div><div><br></div><div>Patah demi patah kata menebar</div><div>Pintanya jelas yang tertinggal menyebar</div><div>Mengapa akhir kita tak mampu sabar?</div><div>Mengapa akhir kita terbakar?</div><div><br></div><div>Apa yang kau cari, puan?</div><div>Kemarilah duduk dengan pelan</div><div>Segala bohong dan anggukan</div><div>Meski tak mampu beri’ku aman</div><div><br></div><div>Kamu yang telah membelakangi</div><div>Dari aku yang ditinggali</div><div>Cerita yang telah lama mati,</div><div>Dan aku yang masih disini, menanti<br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022</em></strong></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-25 15:52:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2312348955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>13.13</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2361433404</link>
         <description><![CDATA[<div>Kali ini kembali lagi patah di akhir</div><div>Tak habis ku’ kunjung mengais dari dalam sumur</div><div>Terjebak dalam murka sampai ke akar</div><div>Bersungut-sungut, tangisnya mengucur</div><div><br></div><div>Untuk semua senyum dan peluh yang katanya terbuang mubazir</div><div>Untuk segala cecap manismu bak surga duniawi</div><div>Untuk sepasang mataku yang kebas, mendambakan janjimu yang tanpa dasar</div><div>Untuk perihal ‘<em>kamu</em>’ yang sudah mati, kita yang tak lagi sedunia</div><div><br></div><div>Aku ucapkan maaf yang kelu sekali selagi bertutur</div><div>Mungkin setelah ini tak akan lagi ku berteriak bengis</div><div>Mungkin setelah ini tak akan lagi tangis yang terbuang mubazir</div><div>Pada purnama tepat hari kita lahir</div><div>Aku titipkan surat berisi<em> ‘aku’</em> yang telah berakhir<br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022<br><br><br><br><br></em></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-29 11:31:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2361433404</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Draft</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2370995594</link>
         <description><![CDATA[<div><br>⚠️ <em>agak-agak semi nsfw ya, tapi ya depends on how you interpret this writing</em><br><br>Hembusan alam mengecup lembut surai pekatmu, alihkan fokusku. Tak ada lelahnya kesederhanaanmu direngkuh erat dengan indahnya. Kamu, buatku’ berucap berselimut sendu, harap desiran ombak dan sejumput hujan bisikkan rindu. Ragaku yang damba akan kamu di atas titik temu yang satu, belanga keruh sukmaku meluberkan segala lara lalu.&nbsp;</div><div><br></div><div>Aku biarkan badai-mu hancurkan aku. Kan ku’ terjang setengah mati, abai soal perih kala tangisan ibu Pertiwi cium aku penuh kasar diatas ranjang pasirmu. Tak mudah pula keringkan ceruk yang menganga lebar ini. Pantaskah pula aku sebut kita sebuah cela ?&nbsp;</div><div><br></div><div>Andaikata kau tahu, aku masih termenung manis. Tepat di saat eratmu masih terasa canggung. Cumbu pertama penuh gelitik&nbsp; yang diselimuti ragu, hingga pada akhirnya tenggelam membelakangi perihal nyata. Tepat saat wangimu menggerayangi dengan malu, penuhi ruang hampaku. <em>Penuhi aku seutuhnya.&nbsp;</em></div><div><br></div><div>Kamu yang katanya <em>“Untuk utuh, kita harus lewati kehancuran. Untuk sembuh, kita harus lewati kesakitan.”.&nbsp;</em></div><div><br></div><div>Sayang, andaikata kau tahu, bahwa utuhku diisi oleh hadirmu?&nbsp;</div><div><br></div><div>Sekali lagi, andaikata kau tahu kamulah tokoh utama yang landaskan kehancuranku?&nbsp;</div><div><br></div><div>Sayang, andaikata kau tahu aku tak mampu gapai zona sembuhku? Atau mungkin hanya dirimu yang mampu antar aku pada kenikmatan sebuah sunyi yang aman lagi, kembali dalam rengkuhanmu.</div><div><br></div><div>Sekali lagi, andaikata kau tahu kamu dengan taring tajam-mu merasuk dalam, gaungkan raung parau lukiskan kesakitanku?&nbsp;</div><div><br></div><div>Cerita kita yang sebetulnya masih panjang (itupun kalau kamu masih menghendaki).</div><div>Sadarkan aku tahu sedari dini.</div><div>Mungkin dalam relungmu, kisah kita kamu redam dalam-dalam. Jauh, dibawah sana peranku yang sudah tergeser, terbungkus gumpal demi gumpal memori.</div><div><br></div><div>Aku denganmu maupun tanpamu, tak ada bedanya. Aku yang masih tetap hidup, sementara ‘<em>kamu</em>’ yang sudah mati. Aku yang masih mampu mencari pucuk kepalamu di tengah kerumunan, sementara kamu yang mencari gurat senyum si Ia yang penuhi hasratmu. Aku yang masih mencintaimu sepenuhnya, sementara kamu yang mencintai Ia sepenuhnya. Aku kan terus duduk manis disini, dengan balutan kain hitam legam harap kisah kita masih layak diceritakan</div><div><br></div><div><br></div><div><em>Atau jika terasa tak lancang, harapku ingin kembali menelusup erat dalam segala lebih-kurangmu. Aku ingin kembali menari dalam bayangan bersamamu, seakan hari esok tak mampu bangkit. Aku ingin menampahi segala resah lukamu, jadikan aku yang isi ruang hampamu, sebagaimana kamu yang mampu memenuhi seluruhku.<br><br><br><br></em><strong><em><br><br>ayyeumi, 2022<br><br><br><br><br><br></em></strong><em><br><br><br><br>A/N : Sebenernya aku nulis ini pas di bis pas pulang, jadi kayake terasa agak trippy gitu yh 😇👆<br></em><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-05 11:36:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2370995594</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kisah si Pengembara</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2406963899</link>
         <description><![CDATA[<div>Deru nafasnya tak kian menjemu. Nun jauh mata mendayu, nyata temukan hampa. Terseok, tapak kakinya tampak mengadu. Kecamuk terlampau ramai dalam kelala.</div><div><br></div><div>si Pengembara, mencari yang telah enyah. Semakin kencang desir pasirnya sembari ia meniti. Si Pengembara, takluk menafsir tanpa lelah. Alunkan sejuta sayat pelik di kalbu tanpa tepi.</div><div><br></div><div>Di balik lembaran denyut purnama, dengusnya menguar penuh asa.</div><div><em>Untuk apa? untuk apa? <br></em>Merapal, merutuk air mukanya.</div><div><br></div><div>Si Pengembara pun tak luput dari dosamu. Yang katamu ‘<em>jatuh bangunmu merindu</em></div><div><em>‘Apa daya aku pilu, bila kau jauh dariku’</em></div><div><br></div><div>Perjalanan si Pengembara liuk meliku. Meski ia tahu kamu penuh sirkus sandiwara. Sekalipun kamu tengah bermerah, dengan sempurnanya indah padamu bertumpu. Si Pengembara telak jauh terbelakang, layaknya malam yang menelan bulat buana</div><div><br></div><div>Ia berpinta pada-Nya, semoga inilah tujuan akhirnya. Semoga ini lembar terakhir dalam lenggok birunya. Semoga peranmu benar tempatnya di segala semestanya.<br><br></div><div><em>Semoga benar kamu pemegang kunci paradisa-nya</em></div><div><br></div><div>Namun kadang ia terlupa, ia hanyalah si Pengembara. Membara di atas alam tanpa tepi, berharap temukan hidup penuh makna. Teruslah ia mengabdi, terus berlari dambakan perasaan yang tak kunjung usai.</div><div><br></div><div><em>Lantas untuk apa ia terus berlari tanpa arti? Mencari yang tak pasti, kemudian terlena dalam pesona kotak-kotak pandora ini? Namun ia terus berlari, mengarungi, mendaki, sekalipun tanpa sepasang kaki.</em></div><div><br></div><div>Dalam perjalanan ingin temukan satu titik, ia temukan jawaban itu sendiri. <em>Perjalanan itu ,segala bentuk merah birunya, segala jatuh bangunnya. Meramu segala cita lara pun murung sungkawa. Bagaimana ia biarkan dirinya dilandasi nafsu, bagaimana ia memeliharanya. Bagaimana ia biarkan dirinya bermain dalam sandiwaramu, bagaimana ia tercabik atas busukmu. </em>Si Pengembara terpekur, termenung dalam sunyinya yang berisik.</div><div><br></div><div>Kali ini ia tak lagi membiru. Kali ini ia biarkan kamu berlalu. Kali ini tak lagi ia timbun dalam rasa benci, kali ini merayakan perih ini dalam sepi. Layaknya embun dengan secercah mentari, layaknya ia terlahir kembali. Dalam perjalanan pencarian tak pasti, diakhiri oleh si Pengembara yang kini temukan dirinya ‘<em>berarti</em>’. <br><br><br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022<br><br><br><br><br>a/n. Stay strong, wanderers :-) Hope we all wander to many beautiful places that leads us to beautiful choices &lt;3 Tbh i feel like this story feels a lil bit rushed?&nbsp;<br><br>Some phrases are referenced from Paradisa - Romantic Echoes.<br>Enak gais grupnya, genre indie Indo.&nbsp;<br>Coba dengerin👍</em></strong></div>]]></description>
         <enclosure url="https://media0.giphy.com/media/cOSbH8NoUFt9MXbuie/giphy.gif" />
         <pubDate>2022-12-02 17:46:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2406963899</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tinggalkan di Sana</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2429467981</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Waktunya padam untuk para penduduk langit itu.&nbsp; Dipertemukan di titik malam yang syahdu, segala miris teduh pun melebur. Berseru sendu dirinya melagu. Dengan riang gembira, merengkuh segala khayal jadi satu.</div><div><br></div><div>Binar milik mereka mengerjap-ngerjap penuh rayu. Berkicaulah, para pujangga penunggu. Setengahnya meratap dengan pilu. Bergegaslah, para pujangga penolak lalu. Mengapa pula mereka begitu kelabu?</div><div>Menelusuri sakit layaknya baru membiru.</div><div><br></div><div>Ada pula separuh pagiku dihujani hiruk pikuk. Terkadang malamku yang sepinya bergemericik kikuk, digerayangi raga ragu yang berkecamuk. Perlahan, merasuk gelora cinta membara nan penuh ceruk.&nbsp;</div><div><br></div><div>Separuh pagiku pun ada yang meluka. Malamku melolong, lukiskan siksa. Kini peranmu kosong, si Pelipur Lara, berharap perih kunjung hampa dari nyata.</div><div><br></div><div>Tak kubiarkan raga dan sukmaku terancam. Aku akan berhenti menyelam.</div><div>Kupasti tahu kelak aku akan teredam. Sadarku akan terhuyung-huyung di gelap palung terdalam.</div><div><br></div><div>Tegapnya hentakku kini berdiri di atas abu-abu. Tersandung fatamorgana putih dan hitam sedu. Kamu yang menjamah seliraku kelu, kalbunya yang kini menggonggong parau.</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Kembalilah aku yang menuntun, tak ada lagi aku yang dituntun. Kali ini kembali aku mengadu, tak lagi kini aku diadu. Tak kubiarkan diriku terbelenggu kamu yang layaknya benalu.</div><div><br></div><div><br></div><div>Akan kutinggalkan raksasa mendung biru disana. Mantap langkahku melewati mayat merah purnama. Dengan kewarasan nan mawas yang tersisa, kututup ayat-ayat ini dengan titik tanpa koma. Ku’ terjang lautan pasang yang bermandikan bisa yang merana. Aku kan’ berjalan kembali, lanjutkan menjadi manusia.<br><br><br><br><br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2022<br><br><br><br><br><br>*Warning banyak tulisan coming ahead<br><br></em></strong><em>A/N : 2022 ini sumpah hectic banget wak. Iki dduk tulisan ya iki pure aku nulis how i feel aja… Awal-awal taun emang aku se-clueless itu berharap everything will be okay kalo gabakal ada yang berubaaah. Tapi ternyata yang paling dekat malah jadi yang paling jauh. Veryyyyy very terrible. Terus jadi kayak pura-pura gaada apa apa, nothing but strangers with secrets. Ujung-ujung e yo ngunu pasti.. masio aku ero aku udh aware 2 myself buat ngontrol diri tp aku ttp gabisa.. tetep rasanya sakit. Paling sakit malah.<br><br><br>Aku gapengen dikasihani dee, yang ada dia pasti makin gak segan nunjukin itu itu yang baru baru didepanku. Harga diriku caaak gak bakal aku ngemis-ngemis cuma buat dia balik. Tapi rasanya yaa, ya Allah sesakit iku ndelok rasae kek kok bisa ya segampang itu, kayak seolah-olah aku ini bukan apa-apa. Padahal bagiku wah apa apa pol. Sampe detik ini pun aku nolak buat suka, deket, bikin hubungan baru lagi, because i’m not fully healed… even ada 1 orang yang narik perhatianku ya tp ttp ae aku bnr bnr harus bisa ga usah fall in love lagi… aku takut kayak gini lagi. Aku gamau resiko buat mereka sama diri sendiri. Ga dulu wahahah.<br><br>Tapi juga gara-gara itu aku banyak nyoba hal baru jg taun ini. And it feels gooddd bangettt hahahahaha to be my own true self. Padahal niatnya ngalihin sedihku gitu tapi ternyata not bad at all. Masio kadang keinget nyesek lagi sedih lagi, at least i don’t cry anymore. Taun ini aku explore banyak banget hal baru, I’m very grateful :3 Tanpa dee ya aku bisa banget kok jalan sendiri. I went out of town by myself, kemana-mana sendiri, nyenengin diri sendiri sndiran, is not bad at all. Gaperlu embel-embel siapapun itu.&nbsp; I’m happier in my own way. Even ya masio kdg kdg keinget nyesek, ya gimana yaa. I’ll let time do the rest. Kebanyakan jg ini karyaku jg tempat aku nyalurin sedihku nyesekku marahku, ya disini wak. Biasanya aku minta review dulu ke Zia pembaca pertama karya sy aoakwowo. Lofyu muach.<br><br><br>Aku ga peduli dee ndelok iki sumpah ini my safe space,&nbsp; i can write whatever tf i want hehehehe. Gak ngara se lu kan sibuk sm yang baru baru ituuuuu. U go with your own way, i’ll go with my own. I will be fine. <br><br><br>Udah ya segitu ae, perdana tulisan terair 2022 wkwkkwkw. Sekalian ajaa curhat sekaliiii. Kemaren ada yg bilang kalo ke jogja biasanya balik udh move on manjur anjay… RIILLL AHAHAHHA lucu sih. Udah ga sesedih itu kayak kmrn kmrn sampe nangis brutal mata ku ngembang kaya ikan kembung. Sekarang masi sama aja sih nyesek tapi gabisa nangis, wes mentok. Udah deh gais segitu aja, udah mau penghujung 2022. Selamat taun baru ya teman-teman, semoga selalu dikelilingi hal-hal baik di tahun berikutnya &lt;3 Yang kemarin dibiarkan aja di sana, gaapa sekali ditengok, dipelajari, dipahami, diamati. Habis itu liat kedepan lagi, sedih gabakal ngubah kenyataan yang di belakang. <br>See u all in 2023 &lt;3</em><strong><em><br></em></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://media1.giphy.com/media/qw8g1zkr24X8ALT1mg/giphy.gif" />
         <pubDate>2022-12-27 17:03:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2429467981</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yang Telah Mati, Namun Kembali Bernyanyi</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2531403989</link>
         <description><![CDATA[<div>Kini ku’ kembali bercerita pada seonggok paragraf mati lagi. Siul malam bergemerisik, yang miris sibuk merajuk diri. Terangkul hilir mudik seruan angin seolah ikut meniti. Kembali pada <em>‘kita’</em> yang tak lagi miliki arti.</div><div><br></div><div>Mungkinkah ini hanya beralaskan nyata yang semu nun sendu. Entah itu <em>(aku harap) </em>anganmu dan juga anganku, berjalan beriringan yang satu. Silih berganti ruang, kamu yang serta merta mengisi <em>penuhku</em>. Mungkinkah ini hanya ‘kamu’ versi delusi-ku?</div><div><br></div><div>Tulisanku yang selalu bergemuruh—Bersua kedua insan yang berbeda namun jemu <em>(aku pikir begitu)</em>. Tentang paragraf canduku——Riuh soal betapa adiktifnya kamu<em> (semoga Aku cepat membisu). </em>Tentang paragraf kamu dan surat kasihmu yang penuh harap sekaligus rapuh. Tak gentar untuk saling merengkuh, katamu kita yang kelak kekal di ujung <em>situ.&nbsp;</em></div><div><br></div><div>Apalah kamu dengan segala omong kosongmu. Kamu tak lebih seperti seorang penyair ulung dan aku yang kelak membakarnya di api abu——<em>Lelah kusimpan rapat serbuk abu itu</em>. Seolah hati tak punya hak memilih, semua anganmu di pikiranku berpendar dengan sombongnya mengalahkan mentari. <em>Ya Tuhan, kenapa selalu kamu seenaknya seperti ini?</em></div><div><br></div><div><em>(Kuharap) </em>Kamu tak jauh beda dari aku—masih terus tenggelam pada doa <em>(tentang kita)</em> yang buat aku terpaku.<em> (Kuharap) </em>Kamu tahu, jika memang diam yang kau pilih, berhakkah aku sekali lagi menemani?&nbsp;</div><div><br></div><div>Jikalau kamu betul-betul datang bersama kereta pagi kawan lamamu itu, ketahuilah aku akan selalu duduk dengan manis <em>(seperti yang biasanya kamu sukai).</em></div><div><br></div><div>Tenanglah, kutuntun melangkah ke tepi. Dengan serta merta kan’ ku tambal sulam goresnya, kan ku samarkan haru paling biru itu. Dengan serta merta pula ku kan’ temani tumbuhmu.</div><div><br></div><div><br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2023<br><br><br>Ps. Halo gweh balik lagi di 2023 (unfortunately lols). Long story short ini tulisan ceritanya ya… backburner (iya referensi niki). U know, yang rela jadi apapun meskipun ga jadi prioritas? yang hidupnya selalu moving forward but never moving on? Yeah gitu sih zzz.<br><br>Bedanya sih cuman di bagian akhir aja. Aku rela jadi apapun tapi aku gamau balik lagi. Ngulang lagi dr 0…. Mending aku muntah kaca daripada itu.&nbsp;<br><br><br>Beberapa penggal lirik e yang aku suka sih ‘Maybe you’ll finally choose me after you had more time’ KAYAK ANJIR NI LAGU SEDIH BGT ANJING…. rela jadi second option hahaha (ketawa getir). Udeh ah pokoknya lu semua kudu denger Backburner - Niki ya, ini promosi gratis soalnya gweh testimoni riil🙏 udh segitu dl trims gais</em></strong></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-25 17:58:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2531403989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perks of an Antique</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2548136610</link>
         <description><![CDATA[<div>Rapalnya yang nelangsa tak kunjung reda pada si langit. Tangis sunyinya meringis sepi, mungkin kelak kan’ dihabiskan waktu. Tak miliki wujud pun tetap membuatnya miris. Kali ini yang tersisa hanyalah sang puan dalam peluh kehangatan puing-puing reruntuhan itu. Mengisi dan memeluk celah demi celah yang terlampau sempit nun tak kasat mata.</div><div><br></div><div>Pada awalnya ia tak lagi merana dari perang dingin yang sunyi itu. Layaknya kedua bilah mata pisau, tiap ujung demi lancipnya menjulang dengan sombongnya. <em>Kita</em> yang terlanjur dilahap gelap semata yang semu.&nbsp;</div><div><br></div><div><em>Satu tusuk, yang dapat ubah segalanya.&nbsp;</em></div><div><em>Dua pilihan, dua persimpangan.&nbsp;</em></div><div><br></div><div>Namun tetaplah mereka langkahi semua itu. Saling genggam jemarinya, eratnya hingga mengucur semburat merah merona, mengintip dengan berani.</div><div><br></div><div><br></div><div><em>“Apakah ini waktunya aku terbebas?” </em>gemuruhnya bernyanyi penuh sendu. Kini telah lengang pula raungan hatinya, namun berujar penuh damba laras yang sudah terampas.</div><div><br></div><div>“<em>Tak apa pula aku genggam 2 bilah mata pisau itu bersamanya.” </em>Mungkin si puan sudah kehilangan setengah akal sehatnya. Mati-matian pula ia menghadapi malfungsi cara kerja kalbunya. Kalbu dan sukma yang (ia harap tidak) bersimpuh nun merasuk, beradukan lolongan sepi lantaran kehilangan cara melandaskan perasaan miliknya.</div><div><br></div><div>Selalu dibuatnya si puan termenung. Kepala dan hati yang bertolak belakang, tak ingin jalan beriringan. Tak masalah pula bila langkahnya masih terseok-seok. Namun yang satu merendahkan diri, gapaikan tenggelam pada tiap lapisan ibu Pertiwi. Yang satu rentan terhuyung-huyung, harapkan terpaan angin lembut nan berkabut bawa ia ke puncaknya. Hendak ulang kembali cerita mereka pun enggan, perkara perasaan yang tak tahu kelak kan’ kapan habisnya.</div><div><br></div><div>Kali ini mungkin sang puan sudah kehilangan kendali penuh akan akal sehatnya—<em>tak masalah katanya</em>. Tak masalah bila ia harus hidup di belakang bayang-bayang samarmu. Tak masalah pula bila ia hanya menjadi koleksi antik klasik milikmu, terpajang dalam senyap dibalik etalase yang jauh dikunci disitu. Tak masalah bila ia harus selalu siap untuk nanti bila kamu akan memakainya, yang tak lama kemudian disimpan dengan rapi kembali.&nbsp;</div><div><br></div><div><em>Keep me in your back pocket,</em></div><div><em>Use me then you’ll ignore me</em></div><div><br></div><div><em>I don’t mind..</em></div><div><br><br><br><br><strong><em>ayyeumi, 2023</em></strong></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-04-09 21:37:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2548136610</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kota Mati</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2709200104</link>
         <description><![CDATA[<div>Let me tell you— how the city has been setting its eyes upon my arisen and my downfall. How every flicker of lights flashed across both of our forbidden sanctuary. The city brought the best out of my shell, even trickled droplets of blood spurting out of my limbs—worsening me into worthless pieces on the cold ground, kissing my wounded back. How the rough pads of your digits were ghosting on my empty canvas, tickled me to <em>feel</em>—peeling each of my skin’s flesh, stole each of my rationality in my lungs. Those sorrowful gazes, forbidden longing lingered on every sleepless nights I wished never existed, yet I<em> (wish I could)</em> urged to lost into.</div><div><br></div><div>Never in my life i felt this alive—and made me want to die in it. How each of my cries agonizing the empty skies, tearing our heated bodies apart as they <em>clashed—fused each like liquids moulding into the shape of its vessel. As if we used to feel; as if we were made for each other. </em>Despite all of those years spent growing—what a child-like we were. How our hands were eager to nudge the blazing fire on the hearth.</div><div><br></div><div>You muttered, “I wanted to see if you can <em>burn</em> again, my <em>dear</em>.”</div><div><br></div><div>Oh, <em>dear</em>. And how could I refuse <em>you</em>?&nbsp;</div><div><br></div><div><em>“Let’s burn together. I wanted to see us burn—seethed into one.”</em></div><div><br></div><div>I’d wish to feel how your chest heaved up and down against mine, heat radiated upon our seethed bodies as they molded into one. Each of our illicit vigor—desperately clenched beneath the gentle fabric on our skins. Your touch, your kisses carved burnt scars against the empty fabric that was painted abruptly by you. I’ll let you mess and thrash, even if that meant left me rankle with your ash.</div><div><br></div><div><em>Such a sight to see for sore eyes, and yours were desperately aching.</em></div><div><br></div><div>Like a mere button swiftly turned the tables around, your touch left me shameless. I should’ve listen at the voices on the back of my head. Blazing the fire made this city left with nothing but ashes, shutting down the flickering lights that landed upon our skin that discreetly glued in unity. You vanished in a blink of an eye when i wished you an eternity.&nbsp;</div><div><br></div><div><br></div><div>Once again I would vowed—the city has completely thawed. I sank myself deep into the pavement, eventhough you engraved my scars in, never I regret the path I chose with you<em> (which you already parted away from me).</em> You swallowed down the twinkling lights into your touch—dripping honey as they grazed upon my bare flesh. Perished in the<em> (you said) </em>subtle cruel grasp of yours, in the daydream that was once i chanted repeatedly like a spell in my silence; gnawing on what is left but my sanity. You managed to pierce every layers thick of my fleshes—my blood, my sweat. My <em>tears</em> were once you plead to cease away, how funny now you were the one who made those droplets of torment tore me down moons after moons.</div><div><br></div><div>No matter how far—how each cracks of wound left my skin open to the void—the city died in your hands. They made me want to decease. They made me want to catch my breath. You sucked me in, <em>luring me in </em>vigorously into your hellish sweetness. I loved you—but I loved this city more.</div><div><br></div><div>Let me savor the remnants of this city lights, the witness while you broke the hell out of me and shattering my puzzle pieces that won’t ever stick again forevermore.&nbsp;<br><br></div><div>Watch me burn, [<em>redacted</em>]. This time, no more in your grasps and your dangerously sweet nothings.</div><div><br></div><div><br><br>-</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1739764164/fa1df50891d1825bdf22bf6429fc8da9/3D0CA29C_A0E7_429B_AC33_0DC5703879C9.jpg" />
         <pubDate>2023-09-18 16:50:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/2709200104</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bukankah Terlalu Dini?</title>
         <author>anonmi</author>
         <link>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/3018160923</link>
         <description><![CDATA[<p>Menepilah kemari dahulu di hulu. Istirahatkan segala lelah dan nafasmu yang terburu-buru. Buat apa kamu terus tekan ragamu itu? Kemarikan gundah gulanamu. Atau kau dengarkan tutur kataku yang tak kunjung habis, layak ombak ganas berderu yang melahap kakimu. Menunggu kamu yang tak kunjung berseru rindu.</p><p><br></p><p>Hingar-bingar hari raya bergemuruh syahdu, racaunya tak kian buntu. Namun gemerlapmu mengerling di sudut gelap mataku—menghapus susah payah pilu yang ku’ bangun. <em>Disitu aku dapat menemukanmu.&nbsp;</em></p><p><br></p><p>Bagiku<em>, </em>menulismu adalah percakapan yang paling serius antara aku dan kata-kata. Seringkali aku menemukan diksi penuh tanya. Tak jarang pula menemukan kalimat penuh tanda koma. Atau mungkin dalam sosok titik kita akan terakhir berjumpa?</p><p><br></p><p>Tak terbersit cara bicaramu ragu dan kaku, dengan lihai buatku terpaku pada perjalanan yang abu-abu. Kedua pasang bibir yang tak seharusnya beradu, sibuk bercumbu—lamat-lamat meramu sendu yang harusnya sudah berlabuh lalu.</p><p><br><br></p><blockquote><p><em>“Langkah kita mau dibawa kemana?”</em></p></blockquote><p><br><br></p><p>Jangan khawatir, aku dari awal sudah tahu. Perjalanan ini tanpa ujung, tanpa rambu dan pula hitung. Rembulan seringkali berbisik nakal padaku di malam yang sunyi.</p><p><br><br></p><blockquote><p><em>“Bukankah ini sudah waktunya berhenti?”</em></p></blockquote><p><br><br></p><p>Ada kalanya dalam pengembaraan tak bertepi, langkah demi langkah terdengar begitu lirih. Suaraku tersendat, tercekat penantian panjang bak maut di ujung nadi. Kamu, yang pernah jadi aman yang sekarang menjelma, berselimutkan ranjau berduri.</p><p><br></p><blockquote><p>“Bukankah ini sudah waktunya berhenti?”&nbsp;</p></blockquote><p><br><br></p><p>Wahai waktu, aku mohon bolehkah aku berjalan di atas kamu yang membeku? Egois sekali. Aku ingin kamu selalu jadi bagian-ku. Tak peduli duniaku maupun duniamu, akan kususuri kamu dengan seenak hatiku.&nbsp;</p><p><br></p><p>Padamu pernah kutumpahkan nyanyian paling merdu. Perihal kerinduan yang tumpah ruah, dengan lantang lenguhanmu menyusuri lekuk tubuhku. Atau itu seruan bengis keraguanmu yang tak kunjung surut?</p><p><br></p><p><br></p><blockquote><p>&nbsp; “Bukankah terlalu dini untuk berhenti?”&nbsp;</p></blockquote><p><br><br>Biar sekali ini aku menulis layaknya mahkluk yang paling celaka. Aku akan menciummu malam ini sampai <em>habis. </em>Dengarkah kamu? Gemeretak gigiku yang beradu dengan tulang-tulangmu yang kaku dan merah; entah ini rasa anyir darahmu atau kasih yang sempat kau nyalakan untukku. <br><br>Lihatkah kamu? Tetesan darahmu yang mengalir melukis leherku, menyesapmu yang kini tak lagi kenal malu. Andaikata saja kau tahu. Aku <em>ingin</em> menghabisimu. Melihat wajahmu rapuh ketika kusentuh. Dan takdir pusaramu bersama<em>ku,</em> berakhir di dalam mulut dan perutku.<br><br><br></p><blockquote><p>“Seharusnya kamu berhenti!”</p></blockquote><p><br><br><strong><em>Ah, suara itu berisik sekali.</em></strong></p><p><br></p><p>Berapa kali aku sudah melangkahi mati? Aku tak tahu. Namun kali ini aku takkan’ mati. Kamu pula takkan mati meskipun kamu sudah berpergi. Jiwamu kan’ bersemayam dalam rangkaian aksara-ku. Hembusan pujian—ratapan nun lolongan makianku yang mengudara di tiap baitku.</p><p><br></p><p>Aku tidak mau berhenti. Dengarkah kamu? Detak merdu itu berkali-kali tergerus peluru kejam, tetap elok dansanya kesana kemari. Seolah mengejek dan berpesta riuh merayakan sandiwara kepergianku.&nbsp;</p><p><br></p><p>Wahai waktu, aku mohon. Kalau saja aku mampu kan’ kubuat naifku ditelan bulat-bulat sejak dahulu. Mengapa aku enggan sekali melepas tali simpul soal kamu yang tidak menentu? Apakah kamu—wahai waktu—tawarkan sebuah cerita baik yang&nbsp;</p><p>pantas aku tunggu? Atau sekedar tinggal aku yang menunggu sampai kamu mau? Atau tinggal kamu—berjalan maju dan perlahan melihatmu akhirnya kehilangan aku?</p><p><br></p><p><br><br></p><p><strong><em>Ah. Lupakan itu semua. Lagipula, semua ini terlalu dini untuk berakhir bukan?<br><br><br><br><br><br><br><br><br><br>-<br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br>Halo!! Akhirnya aku balik lagi setelah terakhir nulis tahun lalu. Sebenernya this is a work from a long time ago, pas aku di Jogja. And I managed to finish it last night HAHAHAHA. Back to home, old routines. And yet someone new is kicking into my door. Hahaha😁. I know you’re probably reading this right now.<br><br>Many things happened, and they helped me grow as a person. Sumpah tapi kudu banget nyakitin ya. But at least I admit now it has shaped me into what I am today. See you gais sooner or later 🫰&nbsp;</em></strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1739764164/bb5a6f4d2143f2996afa828f78e13ad7/IMG_5551.jpg" />
         <pubDate>2024-06-04 18:01:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/anonmi/cp1fxe36ve69rnyq/wish/3018160923</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
