<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kelas Pemahaman Lintas Budaya by winasti rahma diani</title>
      <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn</link>
      <description>Unggah cerita Anda di sini!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-02-19 13:28:12 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-07-07 05:19:16 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f30f.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Mengenal Anggota Kelas PLB</title>
         <author>winastirahma</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2888170129</link>
         <description><![CDATA[<p>Selamat datang di kelas Pemahaman Lintas Budaya (PLB). Sudahkah teman-teman saling mengenal identitas budaya satu sama lain? Ayo, refleksikan kembali identitas budaya Anda dalam sebuah esai singkat. Jangan lupa lampirkan foto terbaik Anda!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-19 13:47:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2888170129</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akulturasi Budaya Belanda Dengan Budaya Jawa </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2888813287</link>
         <description><![CDATA[<p>halooo teman-teman perkenalkan namaku Muhammad Omar Akbar, biasa di panggil Omar. Aku tinggal di Magelang dan aku juga lahir di Magelang. Bapak dan Ibuku adalah orang Jawa, Bapakku lahir di Jogjakarta sedangkan ibuku lahir di Magelang. Jadi aku ini  cowo jawa asli wkwk. </p><p>Tapi ada yang menarik dari keturunan ibuku. Terdapat percampuran budaya yang menyebabkan keberagaman identitas budaya di keluarga ibuku. Jadi, Nenek ku adalah keturunan dari pernikahan antara orang belanda dengan orang jawa. Jadi yang merupakan orang belanda asli adalah nenek buyut ku. Dan nenek buyut ku ini malah dapat orang jawa dan mereka menikah. Jadi terdapat percampuran budaya antara nenek buyutku yang merupakan orang belanda dengan kakek buyut ku yang merupakan cowo jawa asli. </p><p>Yang menyebabkan mereka bisa saling mengenal dan menikah dikarenakan dulu kakek buyut ku bekerja di Jakarta dan bertemu dengan nenek buyutku, karena pada saat itu belanda masih menjajah Indonesia, sehingga bisa di katakan nenek buyut ku merupakan penjajah wkwkwk. Singkat cerita mereka menikah dan lahirlah nenek ku, nenek ku ini masih memiliki ciri-ciri keturunan belanda, seperti kulit yang putih dan nenek ku juga bisa berbahasa Belanda walau sedikit (alias lebih mahir bahasa jawa) wkwkwk. Dan singkat cerita nenek ku yang masih memiliki keturunan Belanda menikah lagi dengan kakekku orang jawa, dan akhirnya lahirlah ibuku yang udah lebih banyak jawa nya daripada belanda huffftt. Pada tahun 2004 aku lahir dengan muka jawa, bahasa jawa, dan bapak jawa. Sehingga percampuran budaya yang terjadi di nenek buyutku sudah tidak terjadi di pernikahan ibuku dan bapakku. Dan lahirlah aku sebagai cowo jawa asli. </p><p>Itulah cerita keberagaman budaya yang terjadi di hidupku. Jelek-jelek gini juga ternyata punya keturunan orang belanda, walaupun ga dapet belanda nya sama sekali wkwkwk. Tetapi satu hal yang menarik, percampuran budaya ini membuat saudara-saudara ku memiliki keberagaman ras, budaya, dan agama. Tetapi kita tetap saling menghormati dan menghargai keberagaman yang ada. </p><p><br></p><p>Muhammad Omar (2210301039)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339176868/8f3eb9a63c04ebe75a79ec4faa606719/WhatsApp_Image_2024_02_20_at_10_09_25_d4913454.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 03:15:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2888813287</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cepak (Cewe Ngapak)</title>
         <author>adivaniprajaa</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2888994084</link>
         <description><![CDATA[<p>Hallo aku Allysha Divani Praja, orang-orang biasa memanggilku Diva, aku berasal dari Cilacap Disini saya akan menceritakan bagaimana awal aku bisa betah di Magelang. Pada awal kedatangan ke Magelang aku merasakan banyak sekali perbedaan, dimulai dari Bahasa (logat) yang digunakan, makanan serta udara. Bahasa (logat) sehari-hari yang biasa saya gunakan adalah ngapak Banyumasan, sedangkan Bahasa yang digunakan di daerah Magelang adalah Bahasa Jawa Surakarta atau Bahasa Jawa Bandek atau Bahasa jawa halus. Dari segi makanan yang membuat saya terkejut adalah soal rasa dimana saya biasa makan dengan rasa asin dan gurih sedangkan makanan di daerah Magelang memiliki rasa yang cenderung manis dan hambar. Kemudian untuk udara, di cilacap memiliki udara yang sangat panas karena dekat dengan Pantai dan merupakan dataran rendah, sedangkan di Magelang memiliki udara yang sangat dingin karena dekat dengan pegunungan dan terdapat di dataran tinggi. Namun dengan berjalannya waktu aku mulai terbiasa dengan perbedaan yang terjadi.Hallo aku Allysha Divani Praja, orang-orang biasa memanggilku Diva, aku berasal dari Cilacap Disini saya akan menceritakan bagaimana awal aku bisa betah di Magelang. Pada awal kedatangan ke Magelang aku merasakan banyak sekali perbedaan, dimulai dari Bahasa (logat) yang digunakan, makanan serta udara. Bahasa (logat) sehari-hari yang biasa saya gunakan adalah ngapak Banyumasan, sedangkan Bahasa yang digunakan di daerah Magelang adalah Bahasa Jawa Surakarta atau Bahasa Jawa Bandek atau Bahasa jawa halus. Dari segi makanan yang membuat saya terkejut adalah soal rasa dimana saya biasa makan dengan rasa asin dan gurih sedangkan makanan di daerah Magelang memiliki rasa yang cenderung manis dan hambar. Kemudian untuk udara, di cilacap memiliki udara yang sangat panas karena dekat dengan Pantai dan merupakan dataran rendah, sedangkan di Magelang memiliki udara yang sangat dingin karena dekat dengan pegunungan dan terdapat di dataran tinggi. Namun dengan berjalannya waktu aku mulai terbiasa dengan perbedaan yang terjadi.Hallo aku Allysha Divani Praja, orang-orang biasa memanggilku Diva, aku berasal dari Cilacap Disini saya akan menceritakan bagaimana awal aku bisa betah di Magelang. Pada awal kedatangan ke Magelang aku merasakan banyak sekali perbedaan, dimulai dari Bahasa (logat) yang digunakan, makanan serta udara. Bahasa (logat) sehari-hari yang biasa saya gunakan adalah ngapak Banyumasan, sedangkan Bahasa yang digunakan di daerah Magelang adalah Bahasa Jawa Surakarta atau Bahasa Jawa Bandek atau Bahasa jawa halus. Dari segi makanan yang membuat saya terkejut adalah soal rasa dimana saya biasa makan dengan rasa asin dan gurih sedangkan makanan di daerah Magelang memiliki rasa yang cenderung manis dan hambar. Kemudian untuk udara, di cilacap memiliki udara yang sangat panas karena dekat dengan Pantai dan merupakan dataran rendah, sedangkan di Magelang memiliki udara yang sangat dingin karena dekat dengan pegunungan dan terdapat di dataran tinggi. Namun dengan berjalannya waktu aku mulai terbiasa dengan perbedaan yang terjadi.</p><p>Allysha Divani Praja (2210301014)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339153363/e6b54b09c41dedfdb2f9acb406aee82f/IMG_1638.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-20 06:48:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2888994084</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kebudayaan Magelang x Pekalongan dan UKM IQSAN </title>
         <author>nabilaardania</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889209353</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman! Nama aku Nabila Ardania, teman-temanku biasa memanggilku Nabila. Aku lahir di Magelang tepatnya pada 4 Agustus 2004, yang artinya tahun ini, aku akan berusia 20 tahun. Disini aku akan menceritakan  tentang budaya yang mendeskripsikan identitasku. Ayah dan Ibuku sebenaernya sama sama berasal dari suku Jawa, jadi dilihat dari suku, aku adalah orang Jawa asli. Ibuku lahir di Magelang sama sepertiku, sedangkan ayahku lahir di Pekalongan. Namun meskipun ayah dan ibuku sama-sama suku Jawa dan lahir di Provinsi Jawa Tengah, yang membedakan adalah daerah asal dari kedua orang tuaku. Dari perbedaan daerah asal itu terjadilah campuran budaya antara ayah dan ibuku. Perbedaannya terdapat pada logat bahasa, beberapa kata serta kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. </p><p><br/></p><p>Misalnya adalah dalam logat bahasa, jelas berbeda karena di tempat lahirku menggunakan logat khas Magelangan, sedangkan di Pekalongan menggunakan logat ngapak. Tempo dari berbicara pun juga berbeda. Aku sendiri menguasai keduanya, karena setiap tahun aku mudik ke Pekalongan. Meskipun pada saat pertama kali ke sana aku tidak paham apapun karena waktu itu aku masih berumur sekitar lima atau enam tahun. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai beradaptasi dan juga menguasai logat serta bahasa daerah Pekalongan. Selain itu pada kebiasaan saat hari raya, jika di Magelang kami memiliki kebiasaan mengunjungi satu persatu rumah tetangga secara merata. Jika di daerah Kajen, Pekalongan, kami hanya bersalaman dengan tetangga secara singkat dan hanya mampir ke rumah sanak saudara saja. Lalu di Pekalongan memiliki makanan khas bernama "Pindang tetel". Pindang tetel ini merupakan makanan dari Kedungwuni yang terbuat dari tetelan daging iga sapi yang kuahnya mirip dengan rawon. Sedangkan di Magelang memiliki makanan khas berupa gethuk, dan bahkan di daerah tempatku tinggal ada makanan bernama "Blendrang", blendrang ini mirip dengan bubur sumsum yang dipadukan dengan tulang ayam. Oleh karena perbedaan beberapa kebudayaan dari ayah dan ibuku, hal ini menyebabkan aku memiliki keragaman identitas baik itu saat di Magelang maupun di Pekalongan.</p><p><br/></p><p>Selain dari orang tuaku, aku menemukan kebudayaan lain yaitu saat aku masuk ke Universitas Tidar. Saat masuk ke Universitas Tidar, aku langsung mengikuti salah satu UKM yang ada di sana yaitu UKM IQSAN. Awalnya, aku tertarik untuk mengikuti UKM IQSAN karena rebananya yang khas, dan juga aku berpikir bahwa mata kuliah agama saat di perguruan tinggi hanya didapat selama satu semester. Hal ini membuatku mantap untuk masuk ke UKM IQSAN karena aku berpikir menurutku sia-sia saja belajar selama kurang lebih tiga setengah tahun namun tidak disertai dengan belajar soal agama. Setelah masuk ke UKM IQSAN, aku mengenal beberapa budaya baru yang khas di IQSAN. Yaitu dibudaya ziarah, selapanan, khataman dan juga rutinan maulid simtudurror yang rutin dilakukan. Ziarah biasanya dilaksanakan secara kondisional, bisa sebulan sekali maupun saat ada acara. Selapanan juga sama, bahkan terkadang bisa dua kali dalam sebulan. Lalu khataman biasanya dilakukan bersamaan dengan ziarah atau selapanan, dan rutinan maulid simtudurror biasa dilakukan sebulan dua kali. Karena hal ini, lama-lama aku jadi terbiasa untuk mengikuti kebudayaan tersebut dan menjadi kebiasaan. Keragaman identitas ini disebabkan karena lingkungan pergaulan yang menyebabkan aku ikut masuk ke dalam lingkungan tersebut. Selain mendapatkan kebudayaan baru, aku juga mendapat teman serta keluarga baru di UKM IQSAN, mereka seperti rumah keduaku saat aku berada di lingkungan kampus, aku merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan UKM IQSAN. Itu saja cerita singkat dari aku, salam kenal teman-teman semua!🤍</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339163901/526c0d75100df49ca316220736cbdc17/20230917_143848.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 10:07:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889209353</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lintas Kebudayaan Si Gadis Rantau</title>
         <author>imattriyanj</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889281566</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama lengkapku Imatriya Nur Jannah. Beberapa orang memanggilku Ima, sebagian memanggil Triya, dan sisanya memanggil Tia. Aku merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Bersama ayah dan ibu tercinta, aku tinggal di Kebumen, salah satu kota di Jawa Tengah yang seringkali dikenal dengan titel <em>ngapak</em>. "Ora ngapak ora kepenak", begitu katanya. </p><p><br></p><p>Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di Universitas Tidar, Magelang. Merantau ke luar kota dengan budaya yang begitu berbeda dari kampung halaman cukup mengajarkanku ilmu-ilmu baru. Begitu halus tutur kata masyarakat Magelang membuatku berpikir bahwa dialek Kebumen ternyata terdengar kasar. Berkebalikan denganku, orang-orang di Magelang cenderung berpikir bahwa dialek Kebumen terdengar unik. Tidak hanya dialek, banyak makanan dan kebudayaan yang saling bertolakbelakang. Aku sangat bingung saat mengetahui bahwa soto di Magelang disajikan menggunakan nasi, atau fakta bahwa pukul sembilan malam di Magelang sudah seperti kota mati.</p><p><br></p><p>Selain fakta bahwa aku merantau ke Magelang, latar belakang keluargaku juga membuatku mengetahui budaya-budaya lain di luar sana. Sesepuh keluargaku memiliki banyak sekali keturunan, membuatku memiliki begitu banyak nenek, kakek, sepupu, hingga aku bertanya-tanya dari mana mereka berasal, dan bagaimana mereka bisa menjadi kerabatku. Masing-masing dari mereka ada yang bertempat tinggal di Jakarta, Pekalongan, Lampung, Solo, Madura, dan masih banyak lagi. Orang-orang Jakarta berbicara dengan bahasa Indonesia gaul yang terdengar sangat aneh apabila dilafalkan oleh masyarakat Kebumen sepertiku. Orang Pekalongan berbicara dengan cukup jelas tapi aku kesulitan memahami diksi yang mereka gunakan. Orang-orang Lampung berbicara begitu cepat sampai aku tidak bisa menangkap maksud mereka. Orang-orang Solo begitu lembut sampai aku merasa sungkan untuk menggunakan bahasa sehari-hariku. Orang-orang Madura berbicara dengan lantang seperti penjual sate yang biasanya ada di drama televisi. Berhubungan dengan mereka semua benar-benar membuatku takjub, dan aku akan selalu terkesima karena kebudayaan kita begitu beragam.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339168422/1e8a2db4ac479a13927730101ead37c6/IMG_20240220_181249_969.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 11:16:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889281566</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perempuan Asli Jawa Tengah</title>
         <author>auliaipa14</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889334124</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo perkenalkan namaku Aulia Izza Puji Asanti, teman teman biasa memanggilku Aulia. Aku lahir di kota Magelang pada tahun 2003. Aku adalah keturunan Jawa asli. Bapak, ibu, nenek, kakek, bahkan buyutku adalah orang Jawa. Bapak lahir di kota Tegal sedangkan ibuku adalah orang asli kebumen. Keduanya bertemu di kota Magelang pada tahun 2000 dan menikah pada tahun 2002. Mereka  menetap di kota Magelang karena alasan pekerjaan. Tentunya karena perbedaan daerah tempat tinggal mereka harus beradaptasi dengan masyarakat sekitar.</p><p><br/></p><p>Sedari kecil aku biasa menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Hal tersebut dikarenakan kedua orangtua ku membiasakan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Namun, ketika berbincang dengan nenek dan kakekku aku selalu diajarkan untuk berbahasa Jawa.</p><p>Dulu bapak dan ibuku selalu menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Akan tetapi ketika aku beranjak remaja, mereka mulai terbuka untuk berbincang menggunakan dialek atau logat daerahnya masing masing. Orang-orang menyebutnya "ngapak". Awalnya aku menganggap dialek mereka sangat lucu ketika di dengar. Terkadang aku bingung dengan percakapan mereka, tetapi setelah didengar dengan seksama ternyata kalimat yang diucapkan tidak jauh berbeda artinya dengan bahasa yang digunakan di kota Magelang. </p><p><br/></p><p>Ada sebuah cerita lucu ketika ibuku berbincang dengan adikku. Saat itu adikku bertanya apakah ibu tau tentang sejarah <em>VOC</em> . Ibuku secara tidak sadar mengatakan </p><p>"Ibu ora denger" (Ibu tidak tau)</p><p>Namun, dengan polosnya adikku malah mengencangkan suaranya dan mengulang pertanyaan yang sama. Ia mengira kata "denger" yang disampaikan ibuku berarti "dengar/mendengar". Namun, yang dimaksud ibuku adalah kata "denger" dalam bahasa kebumen yang artinya "tau".</p><p><br/></p><p>Ketika memasuki dunia perkuliahan tentunya aku tidak hanya bertemu dengan teman teman dari kota Magelang saja, tetapi juga teman teman dari luar Magelang. Perbedaan penyebutan istilah terkadang membuat kami berdebat singkat. Ada kalanya kami memperdebatkan hal yang tidak penting. Pernah pada saat itu, aku berbincang dengan temanku yang berasal dari Temanggung. Tiba-tiba sebuah pensil jatuh ke lantai. Secara spontan temanku berkata</p><p>" Eh, pensil e gigal " </p><p>Saat itu aku bertanya tanya arti dari kata "gigal" karena selama aku hidup belum pernah mendengar kata "gigal" setelah bertanya tanya maksud kata itu akhirnya aku tau bahwa "gigal" berarti "jatuh".</p><p><br/></p><p>Ternyata, walaupun aku orang Jawa asli, aku belum sepenuhnya mengerti bahasa atau istilah yang tersebar di pulau Jawa. Keberagaman khususnya pada aspek bahasa menjadikan ku tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai istilah dalam bahasa Jawa yang tersebar di daerah </p><p>Jawa lainnya.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>AULIA IZZA PUJI ASANTI</p><p>2220301085/ PBSI 02</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339482093/76da1a3bb88e2b5a8c9155c8a0720efb/IMG_20231229_155501_558.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 12:01:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889334124</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gadis Jawa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889377978</link>
         <description><![CDATA[<p>Namaku Punky Agnicya Putri.</p><p>Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Aku berasal dari Temanggung, Jawa Tengah. Lebih tepatnya aku berdomisili di Kranggan, Temanggung. Kedua orang tuaku juga asli orang Temanggung. Jadi, bahasa pertamaku adalah bahasa Jawa. Dulu sewaktu kecil aku diajari untuk terbiasa berbicara menggunakan bahasa Jawa Krama. Namun, lambat laun karena pergaulan, aku berbicara menggunakan bahasa Jawa Ngoko kepada teman-teman. Aku menempuh pendidikan tinggi di Universitas Tidar dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia membuatku bertemu banyak teman yang memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Teman-temanku ada yang berasal dari Kebumen, Wonosobo, Cilacap, Banjarnegara, Jakarta, dan lain-lain. Untuk itu, saat pertama kali kami bersua kami memilih menggunakan bahasa Indonesia agar komunikasi kami berjalan dengan lancar. Namun, terkadang kami mencampur bahasa Jawa kami dengan bahasa Indonesia. Dari interaksi inilah kami saling bertukar kosakata yang awalnya asing menjadi tahu artinya.</p><p><br></p><p>Punky Agnicya Putri (2010301054)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339863881/fb0a4f76cbc3a2ffdafea908e760acd6/WhatsApp_Image_2024_02_20_at_19_20_23.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-20 12:28:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889377978</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TEMANGGUNG, KABUPATEN DI TENGAH GUNUNG SUMBING DAN SINDORO</title>
         <author>shintyahaechan</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889449031</link>
         <description><![CDATA[<p>Haloo! Nama saya Shintya Dwi Anggraini, perempuan yang lahir pada 5 September 2003, saya berasal dari Temanggung, tepatnya di Sokowangi, Kebonsari, Temanggung. Sebagai seorang yang tumbuh di kabupaten yang diapit oleh 2 gunung yang tinggi, yaitu gunung Sindoro dan Sumbing, saya sangat bangga jika Temanggung merupakan tanah kelahiran saya, karena di Temanggung walaupun hanya sebuah kabupaten kecil yang berada di Jawa tengah namun Temanggung menyimpan banyak sekali kekayaan budaya yang sangat khas dan kental, contohnya seperti yang ada di sekitar lingkungan saya, dimana terdapat banyak sekali budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Temanggung, seperti pentas tarian khas Temanggung seperti Warokan(sejenis tarian yang di mainkan oleh para laki-laki) , serta budaya lain seperti sadranan dan bancaan, karena kedua orang tua saya yang sama-sama berasal dari jawa, maka dari itu mereka juga masih menjaga tradisi yang ada di sekitar mereka, saya sangat bangga sekali ketika mengikuti setiap perayaan  yang dapat menjadi pengalaman untuk menggugah rasa kebanggaan akan akar budaya di daerah Temanggung, bukan hanya di daerah tempat saya tinggal saja namun di semua daerah yang ada di Temanggung juga banyak sekali budaya yang kental dan berbeda-beda.</p><p>Bukan hanya budaya kesenian saja, namun juga makanannya, mungkin orang magelang belum tau apa itu empis-empis, karena setiap teman saya yang ditanya pasti merasa asing dan tidak tau makanan itu, yap Empis-empis adalah makanan favorit saya, empis-empis adalah makanan khas dari Temanggung, hampir setiap hari ibu saya masak itu, dan hampir seluruh masyarakat Temanggung pasti sering memasak masakan itu, empis-empis ini masakan yang menggunakan bahan dasar bawang merah, bawang putih, cabe/lombok ijo, yang di tumis, diberi santan, dan kadang masyarakat Temanggung menambahkan tahu, tempe atau gereh, makanan paling sedap menurutku🤤</p><p>Sebagai anak Temanggung, saya merasa bangga karena makanannya enak-enak, juga karena warisan budaya yang kaya, hal tersebut membuat saya sebagai anak muda untuk terus melestarikan budaya serta menghargai keberagaman yang telah membentuk siapa saya dalam keseharian di Kabupaten yang di apit seribu pegunungan. </p><p>Terimakasih❤</p><p><br/></p><p>Shintya Dwi Anggraini</p><p>2220301077</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339947781/eadc6bc2b9f8211c5fd60cb371287c03/IMG_20240220_WA0010.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 13:21:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889449031</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gadis Temanggung</title>
         <author>amarakartikasari357</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889454773</link>
         <description><![CDATA[<p>Hallo semuanya👋🏻</p><p>Perkenalkan namaku Amara Kartika Sari biasanya di panggil “Am”, “Ra” atau “Mar”. Aku merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Aku lahir dan besar di Temanggung. Aku lahir tahun 2004. Aku merupakan keturunan asli Jawa. Bapak dan Ibuku sama-sama berasal dari Temanggung Jawa Tengah hanya beda daerah saja, Bapak dari desa Kedu dan Ibu dari desa Banyuurip. Selain itu Mbah rayi (Nenek) dan Mbah roko (kakek) juga berasal dari Temanggung, jadi aku ini asli “wong Temanggung”.</p><p><br/></p><p>Meskipun aku orang Temanggung, aku mempunyai dialek yang berbeda sesuai dengan daerah aku berada. Temanggung mempunyai dialek yang berbeda di setiap daerahnya. Saat ini aku tinggal di Temanggung tepatnya di desa Banyuurip yaitu desa tempat kelahiran Ibuku, Banyuurip bisa dibilang wilayah kota. Di Banyuurip biasanya menggunakan sapaan “dee” namun saat ini tidak banyak di gunakan karena terdengar kasar dan berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun masih ada orang yang menggunakan kata “dee” ini sebagai sapaan antar teman sebaya atau kata umpatan kasar.</p><p><br/></p><p>Pada saat aku berada di desa Kedu, tempat kelahiran bapak, aku akan menggunakan dialek yang berbeda menyesuaikan saudara ku yang lainnya. Desa Kedu ini masih terbilang desa yang kuat kebudayaannya oleh karena itu aku mencampur dialek kota dengan dialek desa, disana aku akan menggunakan sapaan “samang” “nyong” “pean” dan sebutan “wo” yang berasal dari kata “suwo” digunakan untuk sapaan Budhe atau Pakdhe serta penggunaan bahasa jawa yang medok Temanggungan, seperti menggunakan kata “ndak” dan akhiran “ya” contohnya seperti “ndak iyo ya”, biasanya digunakan saat seseorang kurang percaya pada omongan orang lain.</p><p><br/></p><p>Itulah cerita singkat mengenai Amara sebagai orang Temanggung.</p><p>Salam kenal semuanyaaa🙌🏻</p><p><br/></p><p>Amara Kartika Sari</p><p>(2220301096)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339860356/0843dace1b992fdb76eb2954760d0c2e/IMG_1900.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-20 13:25:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889454773</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perempuan Jawa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889590916</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo semuanya🙌🏻</p><p>Perkenalkan namaku Natijatul Himah, orang orang biasanya manggil aku Nati. Aku lahir di Magelang pada 23 Agustus 2003, jadi aku asli dari Magelang. Aku tidak mempunyai kebudayaan selain dari Magelang karena bapak ibu ku juga asli dari Magelang. Bahkan bapak dan ibuku hanya beda RT saja wkwk. Sedari kecil, aku diajarkan orang tua ku untuk menggunakan bahasa kromo inggil kepada orang yang lebih tua. Namun, terkadang aku masih lupa dengan beberapa kata dalam bahasa kromo inggil. Dulu ketika masih sd, aku bingung antara bahasa kromo inggil nya 4 dan 5. Waktu ditanya "kelas berapa?" aku masih suka salah antara "sekawan" dan "gangsal". Namun karena aku terus belajar menggunakan bahasa kromo inggil, sekarang sudah lebih banyak mengerti tentang bahasa kromo inggil. Selain itu, aku juga mempunyai teman yang berasal dari Temanggung saat SMA, waktu pertama ngobrol, temanku ini mengucapkan kata "nyong" yang berarti aku.Ternyata walaupun sama sama masih dalam lingkup Jawa Tengah dan tidak jauh jaraknya antara Magelang dan Temanggung, setiap daerah pasti memiliki bahasanya tersendiri.</p><p>Sekian cerita singkat dari aku ^^</p><p><br/></p><p>Natijatul Himah</p><p>2220301101</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339628039/cbbe63564e72b79ce535428084d6c87a/IMG_20210916_WA0055.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 14:46:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889590916</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawa Barat ke Jawa Tengah</title>
         <author>nellahudaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889615433</link>
         <description><![CDATA[<p>hai semuanya</p><p>kenalin namaku Naila Rasikha Huda Putri. Aku lahir di Magelang, Jawa tengah. Dari umur 3 bulan aku tinggal di bekasi sampai umur 14 tahun yang pada saat itu aku sama sekali belum bisa bahasa jawa hanya sekedar paham sama setiap orang yang pakai bahasa jawa tapi semenjak akhir kelas 3 SMP aku mulai terbiasa sedikit demi sedikig dengan bahasa jawa walaupun sampai sekarang komunikasiku dengan kedua orang tuaku tetap pakai bahasa Indonesia dan saat itu aku bener-bener merasakan bahwa kehidupan didaerah sunda sama daerah jawa tengah itu beda, ya walaupun memang ada beberapa yang sama tapi tetep aja menurut aku beda. Mungkin karena aku dulunya tinggal diperumahan yang notabenenya ga terlalu memperdulikan tetangga sekitar dan berbeda sama orang jawa yang dari ujung sampai ujung itu pasti tau apalagi ada aja yang digosipin dighibahan pokoknya kek terlalu ngurusin banget hidup tetangganya tapi ya menurutku maklum aja karena didesa. </p><p><br/></p><p>Aku ngelanjutin SMP 1 1/2 tahun di jawa terus aku ngelanjutin mondok dan otomatis aku ketemu sama orang-orang yang asalnya dari berbagai daerah. Menurut aku selama dipondok aku jadi bisa tau tentang gimana daerah-daerah mereka, aku jadi punya banyak temen dari luar jawa, luar kota kecuali luar negeri. Selama dipondok juga aku jadi bisa lebih paham tentang bahasa jawa karena keseharian disana untuk komunikasi dengan pengurus pondok atau dengan pak kyai pasti menggunakan bahasa jawa yang alus (krama). Tapi, sama temen-temen biasanya aku menyesuaikan kalo yang sama-sama berasal dari jawa aku pakai bahasa jawa, kalo yang dari jabar kadang pakai bahasa sunda kadang bahasa Indonesia wkwk, kalo yang dari daerah sama-sama jawa tapi luar magelang kadang juga keikut sama bahasa sehari-harinya mereka.</p><p><br/></p><p>Jadi, intinya lika-liku kehidupan aku itu sebenarnya ada culture shock sih menurut aku dan cuman gitu aja yang awalnya tinggal didaerah jawa barat kemudian pindah ke daerah jawa tengah itu ya cuman tentang komunikasinya sama ada beberapa adat istiadat yang berasal dari Jawa Tengah yang awalnya di bekasi aku belum pernah berpartisipasi karena engga ada kek nyadran, genduri, padusan dll. </p><p><br/></p><p>Naila Rasikha Huda Putri</p><p>2240301185</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340043517/b9391be958377bd45f9369033f67f30b/Nella.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-20 15:00:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889615433</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wajah Pribumi </title>
         <author>nikitawidhi2118</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889650592</link>
         <description><![CDATA[<p>Haii aku Nikita Widhi Astuti, aku keturunan jawa asli, bapak ibuku sama-sama berasal dari jawa dan dari daerah yang sama juga di salah satu kabupaten di Jawa Tengah yaitu Temanggung. Dengan begitu, aku sangat dekat dengan kebudayaan jawa, yang memang sedari lahir tinggal dan menetap di jawa dan tidak adanya campuran keturunan dari orang tua aku ataupun kakek nenek dari kedua belah pihak bapak dan ibuku. </p><p>Sekarang usiaku sudah 20 tahun, akan menginjak usia 21 tahun pada akhir tahun ini. Beberapa tahun belakangan ini aku berdomisili di Kota Magelang untuk menempuh studi S1 di UNTIDAR. Karena sudah sekian lama aku menetap di Magelang aku mulai terbiasa dengan rasa masakan orang-orang Magelang yang didominasi rasa manis, justru aku suka makanan-makanan yang didominasi rasa manis ini, walaupun dari daerah asal aku Temanggung kebanyakan makanan didominasi rasa asin, aku tidak merasa itu sebuah hambatan untuk mengkonsumsinya walaupun rasanya tentu beda dengan masakan orang rumah.</p><p>Tak hanya itu, dialek yang aku gunakan di Temanggung dan Magelang agak sedikit berbeda. Kalau di daerah aku, kata “golek” berarti “sehabis ini”, misal dalam kalimat “golek belok kanan” yang berarti “sehabis ini belok ke kanan”, sedangkan kata “golek” di Magelang berarti “cari/mencari” misal dalam kalimat “ gek golek buku pelajaran” memiliki arti “sedang mencari buku pelajaran”. Perbedaan ini awalnya menimbulkan miskomunikasi dengan orang Magelang asli, tetapi sekarang aku sudah terbiasa.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340163282/8746f92828efb9d983c1bd94148fa3bb/IMG_20240220_214401.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 15:22:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889650592</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tiang Magelang </title>
         <author>ratiningsih858</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889666724</link>
         <description><![CDATA[<p>Haii haii haii, perkenalkan aku Ratiningsih aku punya banyak nama panggilan ada yang manggil aku rati, titi, titut, ratong, ratitut, retikulum, dan entut. Aku adalah manusia yang lahir 7 tahun sebelum gunung Merapi erupsi dasyat, di Magelang tepatnya di lereng Merapi bagian barat. Ayah dan ibuku juga seorang manusia yang terlahir di Magelang. Jadiii, dapat disimpulkan bahwa aku adalah manusia dengan genetik jawa asli yang tercipta untuk menjadi wong magelang.</p><p>Sebagai orang jawa ayah dan ibuku selalu mengajarkan aku tentang sopan santun atau unggah ungguh, dimana sopan santun atau unggah ungguh ini adalah salah satu karakteristik orang jawa. Selain diajarkan sopan santun aku juga selalu diajarkan untuk menjadi orang yang <em>“gapyak” </em>atau dalam Bahasa Indonesia dapat kita kenal dengan “ramah”. &nbsp;</p><p>Berbicara tentang sopan santun, sopan santun tidak jauh dari komunikasi. Sopan santun yang kita miliki sekarang ini dapat dilihat salah satunya dengan cara komunikasi seseorang dengan orang lain. Sedari kecil aku membiasakan diri untuk berbicara dengan nada yang lembut atau rendah dengan siapapun terutama kepada orang yang lebih tua agar tidak terkesan menantang, tak jarang juga aku menggunakan Bahasa krama ketika berbicara dengan orang yang jauh lebih tua.</p><p>Namun, seiring bertambahnya usia dan bertambah luas lingkungan pertemanan aku yang dulu selalu berbicara dengan nada lembut tak jarang juga kini menggunakan nada yang cukup tinggi ketika berbicara dengan seseorang, sehingga ada beberapa orang yang mengira bahwa aku galak, judes, <em>“sengak”, </em>dan tak jarang menimbulkan kesalah pahaman. Selain lingkungan pertemanan, berubahnya nada bicaraku juga disebabkan karena sering berkomunikasi dengan saudaraku yang saat ini tinggal di jawa timur, dimana jawa timur juga terkenal dengan gaya berbicara yang cukup tinggi dan kasar yang berbeda dengan jawa Tengah.</p><p>Selain sudah sedikit bercampur dengan cara komunikasi orang jawa timur, aku juga sedikit bercampur dengan Bahasa sunda karena sodaraku menikah dengan orang sunda dan aku juga bisa dibilang akrab dengan istri saudaraku ini jadi aku tahu sedikit tentang Bahasa sunda walupun cuma 5% saja hehe.</p><p>Itulah sedikit ceritaku tentang kebudayaan apa saja yang terjadi dalam hidup aku. Ternyata banyak kebudayaan yang masuk dalam hidup ini seru juga, bisa sedikit mengisi hidup yang sepi ini wkwkwk.</p><p><br></p><p>Ratiningsih (2220301057)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340124571/024ce51318cc3c730ec23a4de6868433/e40a0ee5_0cc1_4f2a_a7b8_846821a77d11.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 15:33:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889666724</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Darah Orang Jawa</title>
         <author>akmaliberliana</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889688651</link>
         <description><![CDATA[<p>Wilujeng wengi rencang-rencang sedaya. Perkenalkan nama saya Berliana Akmali Nurul Karima, atau lebih akrab disapa Berlin. Saya lahir dan besar di sebuah kota yang terkenal dengan kerajinan ukirnya yaitu Kota Jepara dengan garis keturunan suku Jawa. Sebuah anugerah bagi saya karena lahir dan tumbuh dari keluarga harmonis yang beranggotakan enam orang.&nbsp;Ayah&nbsp;saya merupakan orang asli Jepara dengan nenek yang memiliki garis keturuanan Arab dan Thailand, sedangkan ibu saya orang Purbalingga dengan kakek yang memiliki garis keturunan India. Kedua orang tua saya dipertemukan di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta dengan status mahasiswa. Setelah menikah, orang tua saya memutuskan untuk tinggal di kota kelahiran Ayah yaitu Kota Jepara. Meskipun sama-sama berdarah Jawa, keduanya mengajarkan keberagaman warisan budaya yang berbeda. Keberagaman warisan budaya tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari bahasa, seni, adat istiadat, dan&nbsp;sistem&nbsp;nilai.</p><p>Ayah saya mengajarkan keahliannya dalam seni ukir kayu serta menanamkan nilai-nilai kerja keras dan ketekunan. Tidak lupa, ia juga memperkenalkan berbagai tradisi yang ada di Kota Jepara seperti Baratan, Lomban, Perang Obor dll. Di sisi lain, ibu saya yang berasal dari daerah pegunungan mengajarkan warisan budaya yang lebih terkait dengan alam dan pertanian seperti mengajarkan berkebun. Ia juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kearifan lokal&nbsp;yang&nbsp;kuat, dan memperkenalkan tradisi yang ada di Kota Purbalingga seperti Begalan, Calung, dan Lengger. Jika dilihat dari segi bahasa, keduanya memiliki perbedaan pada beberapa kata dan penggunaan dialek. Ayah menggunakan dialek Semarang sedangkan ibu menggunakan dialek Banyumasan. Contoh ada pada pelafalan kata “sego” dan “sega” yang berarti nasi. Selanjutnya perbedaan penggunaan kata “ngeleh” dan “kencot” untuk memaknai kata “lapar”. </p><p>Meskipun demikian, perbedaan penggunan dialek tidak melunturkan kedekatan keluarga saya dengan keluarga besar dari masing-masing pihak. Justru dengan adanya keberagaman tersebut, kami menjadi semakin akrab satu sama lain. Kami sering bertukar kabar, informasi, serta saling mengajarkan tradisi dan penggunaan dialek atau kata yang belum mengerti maknanya.</p><p><br/></p><p>Berliana Akmali Nurul Karima</p><p>2220301080</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339496213/6e98ada70c189baa78ab89922ef58201/IMG_20231019_202652_491.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 15:48:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889688651</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ngapak Lur</title>
         <author>fikimafaza11</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889740406</link>
         <description><![CDATA[<p>Haloww!!!! </p><p>Perkenalkan namaku Fiki Mahya Mafaza biasa dipanggil Fiki atau Piki. Aku lahir di Cilacap tahun 2004. Bapak Ibuku juga asli orang Cilacap bahkan mereka merupakan dua sejoli tetangga dusun namun saling jatuh cinta. Jadinya setiap lebaran aku tidak pernah mudik karena rumah simbahku hanya beda dusun saja. Sedari kecil aku diajarkan mengenai Bahasa Jawa baik itu krama inggil, krama alus dan ngoko, walaupun tidak semua bahasa itu aku amalkan setiap harinya. Tetapi dapat dipastikan bahwa aku orang jawa asli. </p><p><br/></p><p>Cilacap merupakan kabupaten terluas di Provinsi Jawa Tengah dan mempunyai dialek yang sangat khas dalam berkomunikasi. Cilacap punya slogan tersendiri  yaitu "Ora Ngapak Ora Kepenak". Hal tersebut dikarenakan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh warga Cilacap adalah bahasa atau logat ngapak. Dalam berkomunikasi sehari-hari aku pun menggunakan logat ngapak. Logat ngapak mempunyai keunikan tersendiri loh, tapi aku tidak bisa menjelaskan uniknya logat ngapak namun akan terasa aneh jika didengar oleh orang yang bukan warga  ngapak. Karena sedari kecil aku tinggal di Cilacap, maka secara otomatis aku sangat fasih dalam berbicara logat ngapak tersebut. </p><p><br/></p><p>Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Magelang. Kehidupanku di Magelang sama seperti kehidupan anak rantau pada umumnya. Namun ada hal yang terasa berbeda, yaitu mengenai dialek atau logat. Pada awal perkuliahan, teman kelasku yang mayoritas anak Magelang, mereka tidak faham jika aku berbicara dengan logat ngapak, aku pun tidak faham jika temanku berbicara dengan logat magelangan. Apalagi pada saat presentasi, terkadang ada teman yang menertawakanku karena aku menggunakan Bahasa Indonesia tapi seperti medok, mungkin karena efek dari logat Cilacap atau ngapak itu. Namun setelah 4 semester aku jalani di Magelang ini, aku seperti terhipnotis oleh dialek magelangan, bahkan sehari-hari aku lebih banyak menggunakan dialek magelangan daripada ngapak. Mungkin karena sehari-hari aku lebih banyak berkomunikasi dengan anak Magelang asli. Tapi aku merasa senang karena selain aku bisa menggunakan dialek ngapak, aku juga bisa menggunakan dialek magelangan. Sekarang aku mempunyai banyak teman yang sangat beragam karena mereka berasal dari daerah yang berbeda sehingga dialeknya pun berbeda. Ternyata seru juga berkuliah di Magelang tepatnya di Universitas Tidar. Sekian ceritaku, babayyy,,,,, </p><p><br/></p><p>Fiki Mahya Mafaza</p><p>(2220301055) </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340226150/1bd46b263444249b2fd9a8df076ec5ec/IMG_7812.JPG" />
         <pubDate>2024-02-20 16:27:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889740406</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sekilas Cerita dari Gadis Keturunan Jawa</title>
         <author>pujilestari1089</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889787685</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman! </p><p>Perkenalkan namaku Puji Lestari, aku biasa dipanggil Puji. Ada juga yang memanggilku Puj atau Tari. Aku lahir di kota sejuta bunga yaitu Magelang pada tahun 2003. Sejak lahir hingga sekarang aku tetap tinggal di Magelang dan tidak pernah berpindah rumah. Aku tinggal bersama dengan Ayah, Ibu, dan kakak perempuan ku. Kedua orangtuaku merupakan keturunan orang Jawa dan itu membuat kedua anak mereka, aku dan kakakku, menjadi orang jawa juga. </p><p><br/></p><p>Anggota keluargaku semuanya lahir dan besar di Magelang. Besar dalam lingkungan yang kental akan budaya Jawa, membuat aku tumbuh bersama dengan harmoni kehidupan pedesaan khas jawa. Seluruh keluargaku merupakan orang Jawa dan tidak ada pernikahan campuran. Hal ini membuatku menjadi seorang gadis Jawa tulen dengan garis keturunan Jawa. Berbagai kebudayaan Jawa masih dijaga dan dilestarikan di daerah tempat aku tinggal. Solidaritas masyarakat yang tinggi, membuat hubungan antar warga semakin erat. </p><p><br/></p><p>Kebiasaan masyarakat yang menjadi budaya turun-temurun tetap diwariskan agar kebudayaan tersebut tidak punah. Seperti budaya gotong royong saat ada warga yang sedang membangun rumah, saat akan diadakan acara besar, dan kerja bakti membersihkan lingkungan. Ada pula kegiatan khas orang Jawa seperti Tradisi Mitoni dan Nyadran. Selain itu masih dilaksanakan pula pengajian untuk memperingati Tujuh hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun atau Mendhak, dan 1000 hari setelah adanya sripah atau orang meninggal. </p><p><br/></p><p>Sejak kecil, aku tumbuh dengan Bahasa Jawa sebagai bahasa ibuku. Setelah mengenal sekolah, barulah aku mulai menggunakan Bahasa Indonesia. Walaupun begitu, saat di rumah aku tetap menggunakan Bahasa jawa. Intensitas penggunaan Bahasa Indonesia di rumah lebih kecil daripada saat di kampus. Berbaur dengan beragam budaya Jawa, membuatku tumbuh dengan berbagai pantangan dan nasihat luhur. Kata orang, Orang Jawa itu banyak pantangannya. Banyak hal yang dibatasi agar tidak melanggar norma di masyarakat. Kebanyakan pantangan itu berkaitan erat dengan hal-hal mistis. Sekalipun begitu, aku tetap menghargai Budaya Jawa yang sudah menemani perjalanan hidupku hingga sampai saat ini.</p><p><br/></p><p>Puji Lestari</p><p>(2220301089)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339219265/cff563dd6594b653c5088ba99306188b/IMG20231103123046.jpg" />
         <pubDate>2024-02-20 17:02:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2889787685</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawa Tengah X Sumatera Tengah</title>
         <author>aisyaaa304</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890185360</link>
         <description><![CDATA[<p>Halloo perkenalkan nama aku Aisya. Aku lahir di Kendal dengan keturunan asli dari Jawa. Ayahku lahir di Kendal begitupun Ibuku. Sedihnya banyak yang belum tahu Kendal itu dimana. Nah, Kendal itu kabupaten kecil yang ada di Provinsi Jawa Tengah yang letaknya di tengah-tengah antara Kota Semarang dan Pekalongan. Kembali lagi ke pembahasan sebelumnya. Jadi, Ayah dan Ibuku dulu tinggal di desa yang sama tapi beda rt. Lalu, mereka menikah dan melahirkan 3 anak. Anak pertama, Kakakku tinggal di Magelang dan menikah dengan orang Pati. Sedangkan Kakakku yang kedua menikah dengan orang Pekalongan dan tinggal di Pekalongan. Aku sendiri sekarang berkuliah di Universitas Tidar di Magelang. </p><p> </p><p>Dulu waktu kecil, mungkin usiaku sekitar 4 tahun aku pernah tinggal di Riau selama 1 tahun lebih.  Aku tinggal di sana karena Ayahku pindah kerja. Riau itu terletak di Provinsi Sumatera Tengah. Masyarakat di Riau didominasi oleh suku Melayu. Jadi sangat kental sekali bahasa melayu mereka. Sayangnya aku nggak ingat sama sekali dengan bahasa melayu dan juga dulu mereka berkomunikasi dengan aku dan orang tuaku menggunakan bahasa Indonesia meskipun aksen mereka di ingatanku masih terdengar aksen melayu. Paling berkesan waktu aku tinggal di sana adalah aku bisa mencicipi makanan khas Sumatera secara langsung yang dibuat oleh orang keturunan asli dari sana. Salah satunya adalah rendang. Olahan daging khas Sumatera lebih cocok di lidahku dari pada olahan khas Jawa. Makanya aku lebih suka makan Rendang daripada Nasi Gandul.  </p><p> </p><p>Setelah satu tahun lebih tinggal di Riau aku balik lagi ke Kendal sampai aku lulus SMA. Setelah SMA aku diterima di Universitas Tidar Magelang. Jadi aku sudah merantau selama kurang lebih 2 tahun. Selama masa merantau aku banyak mendapatkan teman-teman dari berbagai kota dan kalau ngobrol sama mereka bahasaku jadi ngikut ke mereka. Kayak kalau ngobrol sama temen Magelang misal "njuk iki piye carane" (terus ini gimana caranya) padahal kalau di Kendal njuk itu sangat asing. Kalau ngobrol sama orang Bandung aku juga ngomongnya ngikut ke bahasa mereka, misal "maneh lagi ngapain?" (Kamu lagi apa?) padahal maneh juga kalau di Kendal sangat asing. Begitulah gambaran dari identitas diriku. Aku orang asli jawa tapi banyak sekali mendapat pengaruh dari berbagai budaya yang menjadikan aku sedikit meninggalkan kebudayaan Jawa. Sekian perkenalan dari aku, terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk membaca, byeee. </p><p> </p><p>Aisya (2240301204)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340922567/2f65ab3496ce09d9fb794ce43d143408/Screenshot_20240220_191233_Gallery.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 00:16:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890185360</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gadis Jawa Tulen Temanggung</title>
         <author>nurisyaarvinki</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890191579</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo semuanyaaa</p><p><br>Perkenalkan namaku Nurisya Arvinki, kalian boleh panggil aku apa aja deh tapi yang sesuai namanya yaaa hehe. Kalo biasanya teman-teman manggil aku "Nur", " Ris", "Risa", " Sya", dan pinki. Aku berasal dari kota Tembakau ada yang tau dimana??? yaps aku berasal dari salah satu kabupaten di Jawa tengah yaitu kabupaten Temanggung tepatnya di desa Gentan Kecamatan Kranggan. Aku adalah orang Jawa tulen karena Bapak dan Ibuku orang Jawa, Bapakku berasal dari Temanggung dan ibuku berasal dari Magelang. Sejak kecil aku besar di Temanggung mengikuti daerah asal bapakku. Aku lahir Desember tahun 2004. Aku juga mempunyai satu kakak laki-laki yang umurnya cuma beda 3 tahun. Sejak kecil aku menggunakan bahasa Jawa dan diajarkan bahasa Jawa ngoko, krama inggil, dan juga kromo alus. Karena dibesarkan di lingkungan orang Jawa serta nenek, kakek, orang tua asli Jawa maka bisa dipastikan aku orang Jawa asli.</p><p><br/></p><p>Karena dibesarkan di Temanggung dan berasal dari keluarga yang sama-sama orang Jawa bahkan masih satu karesidenan membuat perbedaan kebudayaan dari orang tua tidak terlalu terlihat dan hampir sama mulai dari bahasa, makanan, serta adat kebudayaan. Aku juga sangat fasih berbahasa Jawa. Dari tiga bahasa Jawa yang diajarkan yang sering digunakan untuk keseharian ya bahasa Jawa ngoko, kalau bahasa Jawa krama inggil aku gunakan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua. Karena Temanggung adalah kabupaten yang terletak di daerah pegunungan dan rata-rata masyarakatnya bekerja sebagai petani begitu juga kedua orang tua saya. Dengan keadaan daerah yang masih cenderung tradisional masyarakat di daerah ku sangat menghargai budaya-budaya dari leluhur seperti Kesenian tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini kesenian tersebut bernama warokan. Kemudian adat seperti Sadranan yaitu kegiatan makan bersama dan berdoa di area makam leluhur serta masih banyak lagi.</p><p><br>Kebudayaan daerah yang aku gunakan ini tidak menjadi permasalah namun berbeda ketika aku SMA, aku sejak dulu sekolah dari SD, SMP di Temanggung namun saat SMA aku bersekolah di Magelang. Aku fikir itu tidak akan banyak merubah ku karena ya hampir sama saja menggunakan bahasa Jawa. Namun semua berbeda ketika masuk di hari pertama saat MOS kemudian semua perkenalkan di depan ternyata teman-teman SMA ku tidak hanya berasal dari Magelang Temanggung tetapi dari berbagai daerah seperti Semarang, Jogja Cilacap, Blora, Pati, bahkan ada yang dari luar Jawa seperti Padang dan Jambi. Aku terheran kenapa teman-teman ku berasal dari banyak daerah dan bagaimana mereka tinggal masa iya ngelaju. Ternyata sekolahku bekerja sama dengan sekolah Bola yang siswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian sejak saat itu aku menggunakan bahasa Indonesia jika di sekolah tetapi terkadang menggunakan bahasa Jawa daerah Magelang yang ternyata sedikit berbeda seperti penyebutan kamu yang biasanya aku menggunakan "dee" Saat di Magelang menggunakan "koe" Kemudian saat berbincang dengan teman yang berasal dari luar Jawa menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian saat masuk Universitas Tidar juga bertemu dengan banyak teman dari berbagai daerah dan menggunakan bahasa yang berbeda beda namun itu tidak menjadi suatu permasalahan sekarang karena sejak SMA sudah bisa menyesuaikan yang awalnya kaget dan syok dengan penggunaan bahasa yang berbeda beda. Itulah sedikit cerita tentang budaya dan bahasa yang aku gunakan dan sedikit cerita tentang percampuran bahasa yang terjadi menjadi merubah cara berbahasaku menyesuaikan tempat dan siapa yang kita ajak berbicara.</p><p><br/></p><p>Nurisya Arvinki<br><a rel="noopener noreferrer nofollow">(2220301064</a>) <br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339213358/c297e9daaeb967b7c16723f04bd04061/MVPJ1307.JPG" />
         <pubDate>2024-02-21 00:22:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890191579</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kisah Identitas dan Rasa Milik Remaja Putri Purworejo </title>
         <author>jamilatunkhumairoh2</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890229365</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>Haii aku Jamilatun Khumairoh, biasanya aku dipanggil dengan nama Mila. Aku merupakan anak sulung yang lahir dan tumbuh di Kota Pejuang yaitu Purworejo. Kedua orang tuaku asli keturunan Jawa dan sudah dipastikan anaknya juga. Sebagai orang Jawa mereka mengajarkan anaknya menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar. Penggunaan bahasa tersebut seperti bahasa krama inggil, krama lugu, ngoko yang berkaitan dengan unggah-ungguh dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari saya menggunakan bahasa Jawa, ketika berada dilingkungan akademis/sekolah menggunakan Bahasa Indonesia.</p><p><br></p><p>Kabupaten Purworejo memiliki budaya yang beragam dan masih terjaga. Tak hanya kesenian, ritual adat, dan makanan khas saja, namun kebudayaan yang terkait bahasa pun memiliki variasi ragam dialek. Ragam dialek ini disebabkan Purworejo memiliki letak geografis yang beragam. Ada pantai, pegunungan, dataran rendah dan setiap daerah tersebut berbatasan dengan wilayah yang memiliki dialek sendiri. Tempat tinggalku berada dibagian barat dataran rendah yang berbatasan langsung dengan Kebumen, sehingga terpengaruh oleh dialek ngapak. Daerah Purworejo bagian Utara yang dekat dengan Magelang dan Yogyakarta maka memiliki dialek yang halus dalam ucapannya. Bagian Timur Purworejo yang banyak pantai berbatasan dengan Yogyakarta memiliki dialek yang halus. Perbedaan dialek ngapak ditempat tinggal saya dengan dialek Magelangan, contohnya saja ketika mengucapkan kata "Koe" (kamu) dan dialek Magelangan di Purworejo bagian timur/utara menggunakan kata Siro (kamu).</p><p><br></p><p>Setelah lulus sekolah saya melanjutkan pendidikan di Universitas Tidar Magelang. Awal saya tinggal di Magelang saya sedikit terkejut dengan ragam dialek yang digunakan. Ragam dialek yang digunakan yaitu dialek Magelangan. Sebagai contoh saat kuliah ketika saya ditanya teman saya terkait berangkat kuliah menggunakan apa.</p><p>A : "Mila kamu berangkat kuliah pake pit?" (seketika aku bingung dan mencerna perkataan teman)</p><p>Mila :" Ha? Mkt nganggo pit? Aku motoran lah."</p><p>A : " Lah iyo,dirimu nganggo pit."</p><p>Mila : "Udu aku nganggo motor, nek pit ya g kuat Purworejo - Magelang." ( Ngeyel dan bingung yang dimaksud pit)</p><p>A : "kita sama-sama tertawa karena kelucuan perbedaan)"</p><p>Ternyata dalam dialek Magelangan penggunaan kata "pit" berarti motor, sedangkan "pit" di daerah Purworejo itu sepeda ontel. Dari perbedaan dialek ini sudah terlihat jelas bagaimana ragam bahasa menentukan jati diri setiap daerah. Kuliah di Universitas Tidar membuat saya mempelajari berbagai ragam bahasa, tak hanya di Jawa saja melainkan daerah lain juga. Perbedaan dan ragam kebudayaan teman menjadi sebuah anugerah bagi saya untuk bisa mengeksplor dan mengenal lebih jauh tentang mereka tanpa pergi ke daerahnya langsung. Sekian ceritaku sebagai gadis Purworejo.</p><p><br></p><p><br></p><p>Jamilatun Khumairoh</p><p>(2240301166)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340348228/cbad4ae031ee907dff44c1315f1d8bb7/Gallery_1699104702979.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 01:03:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890229365</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Magelangan dan Anak Rantau</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890246524</link>
         <description><![CDATA[<p>Haiii teman-teman! Perkenalkan namaku Novi Rahayu Maghfiroh, biasa dipanggil novi, nopi atau nopek. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil yang menurutku indah dan nyaman. Magelang. Ya, aku lahir di Magelang pada tahun 2004. Menjadi gadis keturunan suku Jawa asli adalah sebuah kebanggaan karena walaupun dari sedikit, aku bisa tau apa saja budaya-budaya Jawa yang banyak orang kagumi. Ayah ibuku adalah pasangan yang dulu rumahnya hanya beda desa dalam satu kecamatan, jadi aku belum pernah merasakan apa itu mudik. Bahasa krama selalu diajarkan ayah ibuku dan keluargaku sedari kecil. Kalau kata ibu, mulailah bersikap sopan dengan siapa pun dengan selalu menggunakan unggah ungguh atau tata krama, gunakan bahasa krama alus dengan orang yang lebih tua.</p><p>Hidup di lingkungan yang menjunjung tinggi budaya gotong royong saat ada tetangga yang membutuhkan bantuan ataupun saat ada acara-acara kecil sampai hajatan besar. Tradisi nyadran sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ngapati dan mitoni saat perempuan sedang mengandung. Memperingari 7 hari, 40 hari, 100 hari, naun, mendhak, dan nyewu setelah orang meninggal. Budaya berseh atau bersih kubur setiap kamis sore, dan hari besar Islam seperti setelah sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi nyepasari pengantin yang dilakukan satu minggu setelah akad nikah, biasanya dengan membuat sego kluban atau nasi urap. Budaya sortanah setiap ada orang meninggal, biasanya memberi makan orang yang ikut kerja bakti menggali kubur.</p><p>Setelah lulus SMK, aku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di Kota Magelang, yang membuatku bertemu teman-teman dari berbagai daerah. Saat awal berkenalan mungkin aku merasa asing dengan dialek mereka. Namun, lama kelamaan dialek yang mereka menjadi khas ditelingaku. Sebagai contoh Riski yang asli orang Kebumen. Dulu aku kurang paham dengan bahasa ngapak yang Riski gunakan, seperti “nyong” yang artinya aku, “sega” yang artinya nasi. Atau Ginang dengan logat Pekalongannya yang terkadang membuat aku mencerna terlebih dahulu apa yang dikatakan Ginang dan Riski. Fadhilah yang berasal dari Solo dengan suara dan bahasanya yang halus. Mungkin tidak hanya anak rantau yang merasa culture shock dengan budaya Magelangan. Aku yang anak Magelang asli juga merasakan culture shock saat awal-awal berkuliah dan bertemu teman-teman dari berbagai daerah. Saling bertukar informasi, budaya, tradisi dengan teman-teman.</p><p>Novi Rahayu Maghfiroh</p><p>2220301053</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339796716/0987ff9954338e1112982ab37541893c/WhatsApp_Image_2024_02_21_at_08_16_51.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 01:20:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890246524</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Temanggung Magelang dan Al Usmani </title>
         <author>davinasabila14</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890256519</link>
         <description><![CDATA[<p> Halo teman temannn</p><p><br/></p><p>Namaku Davina Salsabila biasanya dipanggil Davina tapi selain itu aku punya banyak nama panggilan lain misalnya kalo dirumah aku dipanggil Pin, terus juga ada yang manggil aku Dap, Dapintul, Vin, Dav malah ada juga kadang orang manggil aku Devina dan masih ada yang lain lagi. Aku seorang gadis yang lahir tahun 2004 pada tanggal 14 Oktober selain itu aku lahir di Kabupaten Bantul Yogyakarta lalu pada saat usiaku 14 bulan aku bersama ibuku pindah ke Temanggung dimana itu adalah kota kelahiran ibuku. Aku merupakan seorang gadis Yogyakarta namun tumbuh dan besar di Temanggung dan sekarang ini merantau di Magelang. </p><p><br/></p><p>Di peratauan ini aku merupakan seorang santri dan seorang mahasiswa, keluargaku berkeinginan agar aku masuk pondok pesantren. Awalnya aku benar benar menentang keinginan itu, namun kini aku sangat menyukai lingkungan tempat tinggalku. Teman teman seumuranku yang bahkan sangat perhatian dan saling suportif, bukan hanya itu namun juga pengasuh pondok yang aku sebut "Abah" dan "Ibu" yang sangat perhatian. Selain itu warga sekitar yang ternyata sangat ramah dan itu sangat jauh dari eksoektasiku mengenai warga kota. Swbwlum aku pindah ke Magelang aku merupakan seorang gadis yang tinggal di desa jadi aku berpikir bahwa orang yang tinggal di perkotaan kurang ramah dan individualis. Namun dugaan tersebut ternyata salah, berbeda dengan warga kampung Tuguran yang sangat ramah. </p><p><br/></p><p>Selama diperantauan ini banyak yang sudah berubah dariku, salah satunya adalah logat. Logat berbicara di Magelang dan Temanggung memang hampir sama atau bahkan memamg sama, namun karena aku tinggal di pondok yang tidak semuanya merupakan orang Magelang dan Temanggung jadi logat berbicaraku pun jadi bercampur namun lebih dominan ngapak. Kini aku bahkan sudah lupa logat Temanggung karena lebih sering menggunakan ngapak, ada juga beberapa temanku yang terheran kenapa aku yang orang Temanggung tapi kalau berbicara menggunakan logat ngapak. </p><p><br/></p><p>Davina Salsabila </p><p>2240301192</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340197515/81c02cd25dd35276921a88f6a5bc626b/WhatsApp_Image_2024_02_20_at_10_42_49_PM.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 01:31:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890256519</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawa dan Keluargaku</title>
         <author>afifahafiyatus1703</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890256766</link>
         <description><![CDATA[<p>Haiii kawan-kawan…</p><p>Perkenalkan namaku Afifah Afiyatus Solikhah, biasa dipanggil apipah, pipah, pip, pipeh. Aku asli orang jawa, bapakku asli temanggung dan ibukku asli magelang. Sejak kecil aku tinggal di kota temanggung, lebih tepatnya daerah pringsurat. Ada yang tau Pringsurat? Kalau ada yang tau besok bisa main kerumah ya.</p><p> </p><p>Sejak kecil aku sudah diajari menggunakan bahasa jawa, jika kepada orang yang lebih tua atau pun dengan keponakan yang masih kecil ibukku selalu mengajarkan untuk menggunakan bahasa jawa krama. Karena kata ibukku jika kita berbicara dengan anak kecil menggunakan bahasa krama maka anak tersebut juga akan terbiasa menggunakan bahasa krama, alasan ibuku selalu menyuruhku untuk berbicara bahasa krama kepada anak kecil adalah kebanyakan anak-anak zaman sekarang sudah jarang yang mengerti atau paham dengan bahasa jawa terutama bahasa krama.</p><p><br/></p><p>Oh iya, jika berbicara tentang kota temanggung pasti ingatnya langsung tanaman tembakau. Ya memang kota temanggung ini terkenal dengan tanaman tembakau dan kopi. Tapi kalau di kecamatan Pringsurat tanaman tembakau tidak bisa tumbuh dengan bagus seperti halnya di daerah temanggung yang lebih dekat dengan gunung sumbing atau sindoro. Karena kecamatan Pringsurat sendiri letaknya hampir dekat dengan perbatasan kabupaten Semarang. Jadi rumahku jauh ya teman-teman dari objek wisata Posong, Kledung. Tapi kalau untuk tanaman kopi di daerah ku tumbuh cukup dengan subur dan jangan diragukan lagi rasa kopi asal temanggung ya. </p><p><br/></p><p>Kalau untuk bahasa atau logat yang digunakan didaerahku tidak terlalu menggunakan bahasa yang "medok". Karena jika sudah di daerah temanggung yang hampir mendekati lereng gunung akan memiliki bahasa yang berbeda. Contohnya dulu pas aku bersekolah di MAN temanggung banyak sekali temanku yang berasal dari daerah Kledung, Tretep, Gemawang, dan daerah" dekat lereng gunung. Mereka rata rata akan menggunakan kata "nyong" untuk kata aku dan menggunakan kata "samang" atau "sampean" untuk kata kalian. Bahkan di daerah Magelang pun aku masih ada bahasa yang belum aku mengerti yaitu "eyek" saat itu aku bertanya "eyek itu apa?" </p><p>"Ih mosok ga ngerti eyek si" </p><p>" h wong emang Ra ngerti kok" </p><p>"eyek Ki bakul sayur keliling" </p><p>Ternyata walau kota temanggung dan magelang tidak terlalu jauh jaraknya, terdapat perbedaan yang ada di setiap bahasanya. Sebanyak apapun kemampuan kita dalam berbahasa asing jangan lupa dengan bahasa sendiri ya. Wong jowo ojo ilang jawane</p><p>Baiklah sudah dulu ya kawan-kawan ceritanya, terimakasih dan sampai jumpa.</p><p><br/></p><p>Afifah Afiyatus Solikhah&nbsp;(2220301103)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340053005/8dadae214ee87e62eb827afacb9a164a/1682142979855.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 01:31:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890256766</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bapak dan kecintaanya terhadap budaya Jawa </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890288915</link>
         <description><![CDATA[<p>Namaku Esha Aisia Swastika, lahir di Magelang 29 Desember 2004. Lahir dan besar di Magelang membuat aku terbiasa dengan masyarakat Magelang. Namun tidak hanya demikian, latar belakang orang tuaku juga membuat aku tidak asing dengan satu daerah yang dekat dengan Magelang, Purworejo. Kakek dari pihak ibuku berasal dari Purworejo, walau jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun bahasa dan dialek kami sudah berbeda dengan cukup kontras. Sedangkan kakek dari pihak ayah, sudah belasan tahun tinggal di Purworejo, itulah sebabnya ayahku hampir menghabiskan seluruh waktu sekolahnya di sana. Namun tentunya, aku lebih familiar dengan kehidupan dan budaya Magelang. Di tempatku tinggal, upacara adat tertentu masih sering dilakukan seperti tedak siten yang dilakukan secara sederhana, ngunduh mantu, hingga upacara pernikahan.</p><p><br/></p><p>Bapakku, tidak dapat dipisahkan terhadap kecintaannya terhadap budaya Jawa dan seni. Hal tersebut dapat di buktikan dengan berbagai furnitur di rumah kami. Terdapat berbagai furnitur yang melambangkan bagaimana 'Jawanya' bapak. Contohnya seperti bingkai besar yang menampilkan wayang kulit, keris yang terpajang rapih di ruang tamu, hingga patung lilin berbentuk Gatotkaca. Kudengar juga dari sosok guru ayahku saat menduduki bangku SMA, bapakku pernah menggeluti bidang teater dan sempat membuat kelompok teater bersama teman-temannya. Sejak kecil, aku sudah tidak asing melihat lukisan-lukisan yang dibuat sendiri oleh bapak. Aku pula tidak asing dengan berbagai bentuk budaya dari Jawa seperti wayang kulit dan keris. Pun, aku juga sudah tidak asing dengan bapak yang tidak jarang mengenakan pakaian adat untuk acara tertentu.  Sebabnya, sejak kecil aku sudah sangat memahami budaya Jawa, tidak hanya mengenai budaya yang berbentuk benda namun juga budaya lisan dan tulisan seperti aksara Jawa hingga cerita wayang mulai Ramayana hingga Pandawa.</p><p><br/></p><p>Sudah hampir dua tahun aku menempuh pendidikan di Universitas Tidar. Jaraknya tidak jauh memang dari rumahku yang berada di Kajoran. Namun perbedaan budaya terlihat cukup kontras. Mengingat bagaimana mahasiswa untidar yang berasal dari beberapa daerah, bahasa Jawa yang digunakan pun tidak jarang berbeda. Dialek dari masing-masing daerah, walau hanya berbeda kecamatan pun sudah berbeda. Apalagi dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain atau bahkan dari provinsi yang berbeda. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340866586/27c869cf6c0f7362ecea19659a515fd6/1708480634200.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 02:03:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890288915</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anak Asli Magelang</title>
         <author>deviamutiara02</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890318124</link>
         <description><![CDATA[<p>Haiiii, Nama aku Devia Mutiara Jayanti. Keluarga dan teman-temanku biasa memanggilku Devia. Aku lahir dan besar di tempat yang dikenal dengan sebutan kota sejuta bunga. Ya, Magelang adalah tempat kelahiranku. Kedua orang tuaku juga lahir dan besar di Magelang. Kakek dan Nenekku juga merupakan warga asli Magelang. Beliau tidak memiliki darah percampuran dengan luar daerah. Oleh karena itu, Aku dan keluarga besarku merupakan keturunan Jawa asli. </p><p><br/></p><p>Namun, aku memiliki seorang saudara yang menikah dengan orang Sunda. Beliau adalah adik dari ayahku. Semenjak menikah, beliau menetap di Jawa Barat ikut bersama suaminya. Sehingga ketika beliau berbincang dengan keluarga pasti menggunakan campuran bahasa Sunda.  Dari situ, aku jadi mengerti sedikit tentang bahasa Sunda. Ketika pulang kampung, beliau pasti membawa oleh-oleh khas Jawa Barat untuk keluargaku. Oleh-oleh tersebut seperti, peuyeum, dodol, dan sale pisang. Dari oleh-oleh yang diberi, aku paling menyukai dodol. Rasa manis dan tekstur yang legit alasan aku menyukainya. </p><p><br/></p><p>Selain dari keluarga dekatku, Teman-teman kuliah menjadi alasanku mengetahui budaya-budaya baru yang belum aku kenal. Aku berteman baik dengan teman-teman yang berasal dari luar daerah. Asal mereka mulai dari Purworejo, Temanggung, sampai ada yang dari Medan. Dari berteman dengan orang yang berbeda daerah, aku jadi mengenal berbagai budaya baru. Seperti, logat bahasa sehari-hari yang mereka pakai. </p><p><br/></p><p>Devia Mutiara Jayanti (2220301100) </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339221931/4189bcef2173a1c2b68330b7f70fdaf5/IMG_20240221_092501_121.webp" />
         <pubDate>2024-02-21 02:31:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890318124</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perempuan Jawa Melayu</title>
         <author>usersevirahma</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890326861</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman.</p><p>Perkenalkan nama aku Sevi Rahma Heraziza, oleh teman-temanku biasanya aku dipanggil Sevi. Lahir di Magelang pada 13 September 2004. Memiliki darah campuran antara dua suku yaitu suku Jawa dan suku Melayu. Bapakku merupakan orang Jawa tulen, yang lahir dan besar di tanah Jawa. Namun ketika beranjak dewasa, bapak merantau ke negara tetangga yaitu Malaysia. Disinilah bapak bertemu dengan ibuku. Ibuku merupakan seorang keturunan Melayu asli. Beliau berasal dari Kalimantan Barat, bukan suku Dayak tapi suku Melayu. Banyak orang beranggapan bahwa ibuku merupakan suku Dayak, namun sebenarnya bukan. Orang tua ibuku asli orang Kalimantan Barat dengan suku Melayu. ibuku merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Disinilah kemudian bapak dan ibuku menikah, di Sambas Kalimantan Barat. Di desa ibuku besar dan tinggal. pernikahan dilakukan dengan adat Kalimantan Barat. Kemudian lahirlah aku, yang mendapat darah Jawa dan Melayu. Setelah menikah, bapak dan ibu kembali ke Jawa dan tinggal di rumah nenekku. Dan sekarang kami tinggal di Jawa tepatnya di Magelang. </p><p>Terdapat banyak perbedaan budaya antara dua suku tersebut. Dalam hal masakan, orang Jawa cenderung menyukai masakan manis sedangkan orang Melayu lebih menggemari rasa asin. Tahun pertama ibuku tinggal di Jawa, dia memiliki keterkejutan terhadap budaya Jawa. Seperti dari kebiasaan orang Jawa yang memasak dengan rasa manis seperti gudeg. Rasa yang dominan sangat manis ini berbanding terbalik dengan budaya memasak ibuku di Kalimantan. Tetapi sekarang ibu sudah terbiasa dan menyesuaikan masakanya dengan masakan masyarakat Jawa.</p><p>Kemudian dalam hal perbedaan bahasa, bahasa Melayu dan Jawa jauh berbeda. Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan dalam bahasanya, seperti ngoko dan kromo. Bahasa melayu lebih mirip beberapa kata dalam Bahasa Indonesia. Sampai sekarang, aku kurang lancar dalam berbahasa Melayu karena lahir dan besar di Jawa. Akan tetapi aku memahami apabila ibuku berbicara bahasa Melayu. Terlebih karena ada adik terakhir ibuku yang berpindah dari Kalimantan ke Jawa dan tinggal dirumahku, maka aku lebih sering mendengar ibuku dan tanteku berbicara menggunakan bahasa Melayu. Dan aku menjadi lebih mudah dalam mempelajari dan memahami bahasa Melayu.</p><p>Sekian sedikit cerita perpaduan budaya dalam keluargaku. Terima kasih.</p><p><br/></p><p>Sevi Rahma Heraziza (2220301130)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339220159/992e20f267a22a7d62fd863dd51f2abe/WhatsApp_Image_2024_02_21_at_09_33_13.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 02:41:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890326861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NJAWANI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890331174</link>
         <description><![CDATA[<p>Sugeng tepang aku Tatag Unggul Sadewa, kalian bisa memanggilku dengan nama Tatag atau Dewa. Aku berasal dari kota santri yaitu Kota Kendal. Mungkin masih ada beberapa orang yang kurang tau Kendal itu dimana, banyak sekali aku dipertemukan dengan orang orang yang masih belum mengetahui dimana letak keberadaan kota Kendal tersebut. Hal ini sudah biasa aku jumpai di kehidupanku selama aku berkuliah di Magelang, mereka sering kali menanyakan kepadaku "Tag rumahmu dimana?" Lalu aku menjawabnya "Kendal" dan mereka bertanya lagi "Loh Kendal itu dimana" sontak aku yang sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti ini pun menjawab "itu loh deket Semarang."</p><p><br/></p><p>Aku dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sangat suka nguri uri budaya jawa, bahkan bisa dilihat juga dari namaku yang memiliki unsur bahasa Jawa yang sangat kuat. Beberapa orang juga mengatakan kalau namaku itu sangat njawani.</p><p>Disini aku akan memberikan sedikit gambaran kenapa aku bilang bahwa aku ini lahir dan juga dibesarkan dengan keluarga yang suka nguri uri budaya Jawa. Hal ini dapat dilihat ketika kalian main atau sekedar mampir di rumahku, disana terdapat beberapa wayang yang sudah terpampang dan sudah ada bahkan dari aku belum dilahirkan. Selain hal tersebut, keluargaku juga masih suka dengan budaya Jawa seperti melakukan dun dun an pada bayi, mencari tanggal untuk hajatan atau semacamnya dengan menggunakan perhitungan primbon atau weton, dan juga ketika ada hari weton dari keluargaku maka disitu keluargaku akan membuat sebuah sajian atau makanan yang di doakan dan diletakan di dalam kamar orang yang sedang memperingati wetonnya tersebut. Hal ini sebenarnya dapat diartikan sebagai tanda rasa syukur dan juga tanda terima kasih karena masih diberikan kesehatan untuk hidup di muka bumi ini. Kata ibuku "Yo orapopo koyongene iki Tag, Iki seng jenenge wong jowo Ojo ilang jowone, asalkan dewe meh agama opo wae tapi budaya koyongene kui wes ono ket mbien. Dadi nek hudu dewe njuk meh sopo meneh, lagian doane ibuk yo ora macem-macem".</p><p><br/></p><p>Sangat senang rasanya bisa dibesarkan di dalam keluarga yang masih mempertahankan budaya Jawa bahkan kepercayaan-kepercayaan masyarakat Jawa pada zaman dahulu juga masih banyak diterapkan di keluargaku. Misalnya ketika dirumah ada bayi dan aku mau masuk ke dalam rumah tersebut, maka hal yang pertama harus dilakukan adalah masuk melalui pintu belakang rumah dan tidak diperbolehkan masuk dari pintu depan rumah. Hal ini dilakukan agar si bayi nantinya tidak rewel, karena jika kita telah melakukan kegiatan diluar rumah ditakutkan ada aura aura buruk atau semacamnya yang mengikuti kita. Dan hal itu dapat dihilangkan ketika kita masuk melalui pintu belakang dan juga membasuh tangan, wajah, dan juga kaki menggunakan air mengalir.</p><p><br/></p><p>Maka dari itu hal-hal seperti ini lah yang sering aku ceritakan kepada teman-temanku di perkuliahan yang bukan berasal dari Jawa. Tujuanku agar mereka dapat mengetahui bahwa kebudayaan Jawa sebenarnya seberagam dan seunik itu, bahkan bisa dikatakan sangat amat iconic. Seringkali aku bertukar cerita dengan orang orang yang berasal dari luar Jawa dan kita juga saling menanggapi dan menghargai perbedaan budaya yang ada. Karena mau bagaimanapun juga kita masih satu Kesatuan satu Negara yaitu Indonesia.</p><p>Tatag unggul Sadewa (2240301138)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339216777/a57f22935e821242cbeca24144485e0e/IMG_20221207_124517.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 02:46:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890331174</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mas-mas Jawa</title>
         <author>bagasrezkyp04</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890339630</link>
         <description><![CDATA[<p>Hallo semuanya, perkenalkan nama saya Bagas Rezky Prasetyo, biasa dipanggil Bagas. Saya lahir di Magelang, jadi saya asli orang Magelang. Ayah saya dari Wonosari, Gunung Kidul, sedangkan Ibukku dari Magelang. Saya keturunan dari orang tua yanng berbeda provinsi, DIY dan Jawa Tengah. sejak kecil saya berbahasa jawa, tetapi bahasa di Wonosari jauh berbeda dari bahasa jawa di Magelang, seperti kata "sitok" yang artinya "satu" dan masih banyak lagi, jujur saya sama sekali tidak mengerti bahasa Wonosari hanya beberapa saja yang saya tahu, jika mudik ke Wonosari dan ketika mendengar ayah saya nobrol dengan saudaranya atau temannya saya hanya bisa mendengar dan menyimak saja karena tidak tahu bahasanya. </p><p><br/></p><p>Sejak kecil saya diajarkan bahasa jawa yang sampai saat ini saya gunakan sebagai bahasa sehari-hari ketika berada di lingkungan masyarakat, ketika berkomunikasi dengan teman sebaya menggunakan bahasa jawa ngoko, sedangkan ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua biasanya saya menggunakan bahasa jawa krama. Saya tetap bisa berbahasa Indonesia karena di lingkungan sekolah mulai dari SD sampai Universitas ketika belajar menggunakan bahasa Indonesia, saya juga sedikit bisa berbahasa asing yaitu bahasa inggris yang juga saat ini sedang saya tekuni atau pelajari dan saya sangat ingin mampu menguasai bahasa tersebut, karena pepatah mengatakan utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. </p><p><br/></p><p>Saya berarti orang kampung berketurunan Jawa yang bangga tinggal di desa dengan kebudayaan yang masih melekat sampai sekarang, seperti pada saat upacara memperingati hari kemerdekaan RI, pada setiap tahunnya kami per-RT upacara dengan menggunakan baju adat seperti yang telah lalu kami menggunakan baju adat jawa seperti kebaya, surjan, dan menggunakan berbagai alat peraga seperti alat gamelan. hal tersebut dilakukan setiap tahun di desa saya sebagai kebiasaan ketika upacara memperingati kemerdekaan NKRI. Itu saja yang bisa saya ceritakan sedikit gambaran mengenai budaya yang saya temui selama hidup saya. Sekian dan terima kasih.</p><p><br/></p><p>Bagas Rezky Prasetyo_2240301189</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340271686/86b44fce3ae318bb4e1d4af05bf9f3e0/IMG_20220817_WA0028.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 02:54:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890339630</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gadis Jawa Tulen beserta Cerita Singkatnya</title>
         <author>naswaaries20</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890345208</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo temen-temen semua, salam kenal dan salam sehat ya semuanya &gt;&lt;. Perkenalkan nama aku Naswa Maulida, aku biasanya akrab dipanggil Naswa. Aku lahir di daerah yang dapat dikatakan nyaman dan tentram, yaitu Magelang. Wilayah Magelang dibagi menjadi dua, ada Magelang kabupaten dan Magelang kota. Nah, aku tepatnya lahir di Kabupaten Magelang. Orang tua aku keduanya juga berasal dari Magelang asli. Jadi, otomatis dapat dikatakan jika aku itu<em> akamsi </em>(anak kampung sini) alias orang Magelang asli. Aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara dan sekarang aku tinggal bersama dengan kedua orang tua ku beserta mas (kakak).</p><p><br/></p><p>Aku dan keluargaku semuanya lahir dan besar di Magelang, tidak ada percampuran pernikahan dengan suku lain. Sebagai orang Magelang asli, sudah pasti aku beserta keluargaku merupakan orang jawa tulen. Tumbuh dan berkembang di lingkungan daerah yang masih terikat dengan tradisi atau budaya Jawa menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Tradisi atau budaya Jawa yang masih terus ada di lingkunganku yaitu tradisi <em>nyadran</em>, <em>wetonan</em>, <em>syawalan</em>, <em>mitoni</em>, dan masih banyak lagi. Tradisi-tradisi tersebut masih terjaga dan terpelihara oleh masyarakat Jawa di lingkungan tempat tinggalku, sehingga aku tumbuh sebagai gadis yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Jawa.</p><p><br/></p><p>Sebagai orang Jawa, dalam kehidupan sehari-hari aku juga sering menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sedari kecil, aku sudah diajarkan oleh kedua orang tua untuk menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama ku. Bahasa Jawa sendiri memiliki beberapa macam,&nbsp; seperti kromo, ngoko, dan lainnya. Penggunaan tersebut berbeda disesuaikan dengan siapa aku berbicara. Apabila aku berbicara dengan orang yang lebih tua, maka aku menggunakan bahasa Jawa Kromo, sementara jika aku berbicara dengan teman yang setara maka aku berbicara dengan bahasa Jawa Ngoko. Namun, seiring berjalannya waktu aku pun berkuliah di Universitas Tidar yang notabene tidak semua mahasiswa berasal dari Jawa. Ada yang berasal dari Sumatra dan juga pulau lain. Bahkan banyak pula mahasiswa yang berasal dari Jawa, tetapi dari segi bahasa memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan bahasa Jawa yang aku gunakan di Magelang. Berbaur dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain tentu dapat menambah wawasan maupun pengetahuanku dari segi bahasa ataupun budaya dari suku lain, sehingga dapat meningkatkan solidaritas dan pertemanan yang kuat.</p><p><br/></p><p>Cekap sementen crito saking kula, sakderengipun penutup kula ajeng pantun sekedap.</p><p><br/></p><p>Beli sikat di pasar raya (cakeeepp)</p><p>Salam hangat dari orang jawa</p><p><br/></p><p>Naswa Maulida/2220301083</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341118024/c00146de6505a3000cb6759634961402/WhatsApp_Image_2024_02_21_at_09_50_11.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 02:59:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890345208</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bukan cewe Jawa</title>
         <author>rachagetspotlight8</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890363759</link>
         <description><![CDATA[<p>Hallo teman-teman semuanya perkenalkan nama aku Aurelia Aditya Putri. Aku biasa di panggil "Aurel", tetapi untuk orang-orang terdekat biasanya mereka memanggil aku dengan panggilan "Cici". Aneh bukan, karena dari nama panjangku tidak ada yang mencerminkan kata ci dan aku juga tidak memiliki keturunan China yang biasa di panggil Cici-cici. Panggilan Cici sebetulnya berasal dari kata Lili (Aurelia) yang diambil dari nama bunga, tetapi karena teman-teman kecil ku tidak bisa mengucapkan kata "L" akhirnya mereka menggantinya menjadi "C".</p><p>Aku lahir di Sleman, Yogyakarta. Namun, sejak aku kecil aku sudah tinggal di Purworejo, salah satu wilayah yang ada di Jawa Tengah. Selama di Purworejo, bahasa yang lebih sering aku gunakan ialah bahasa Indonesia, tetapi aku cukup tau beberapa bahasa Jawa. Suatu saat ayahku dipindah tugaskan yang membuat aku dan keluargaku harus pindah ke Magelang. Saat itu usia ku masih berumur 10 tahun atau naik ke kelas 4 SD. Selain pindah rumah, aku dan kakak ku juga harus pindah sekolah di Magelang. Awal aku tinggal di Magelang, aku cukup terkejut dengan bahasa yang digunakan. Ketika di Magelang orang-orang disini lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Aku yang setiap hari di rumah menggunakan bahasa Indonesia menjadi sedikit kesulitan ketika beradaptasi dengan teman-teman baru. Orang tua ku pun tidak terlalu bisa menggunakan bahasa Jawa. Ayah dan Ibuku yang notabenenya tidak memiliki garis keturunan Jawa, menjadikan aku juga tidak terbiasa dengan bahasa Jawa. Ayahku berasal dari Kalimantan Timur yang sekarang berubah nama menjadi Kalimantan Utara sedangkan Ibuku berasal dari Sumatera Selatan. Keduanya bertemu ketika merantau ke Jogjakarta untuk berkuliah dan hingga sekarang memutuskan untuk tetap menetap di Jawa Tengah.</p><p>Sampai sekarang aku hanya pernah dua kali mudik ke Kalimantan dan Palembang. Namun, walaupun masing-masing hanya pernah satu kali tapi banyak budaya-budaya baru yang aku temui di sana. Tidak hanya budaya tapi aku juga melihat bagaimana perbedaan kota-kota di sana di bandingkan di Jawa. Banyak sekali perbedaan yang mungkin boleh di lakukan di Jawa tetapi belum tentu boleh di lakukan di kedua kota itu. Itu saja cerita dari aku, Terimakasih sudah membaca^^.</p><p><br/></p><p>Aurelia Aditya Putri (<a rel="noopener noreferrer nofollow">2220301091</a>)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341123043/051bc6263d19c37ee56d9e0b8ce4a842/00A7F987_D1F6_48C0_AE78_99743DD1F73E.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 03:18:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890363759</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Si Anak Kolong Menjelajahi Daerah</title>
         <author>ademaya1919</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890375710</link>
         <description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p><p>Hallo sadayana!!! Perkenalan nama saya Ade Maya Novitasari, kalian bisa memanggil saya Ade atau Maya senyaman kalian saja hahaha. Saya lahir di kota sejuta bunga pada 9 Juli 2004, Disini saya akan menceritakan tentang kebudayaan yang mendeskripsikan identitas saya. Ayah saya berasal dari Bandung, Jawa Barat dan Mamah saya berasal dari kabupaten Magelang, Jawa Tengah perpaduan yang sangat menarik bukan? Meskipun banyak orang mengira Ayah saya berasal dari Ambon karena melihat tampang yang ganas, galak dan alis yang tebal tetapi realitanya tidak seperti itu. Di awali dengan pertemuan Ayah dan Mamah saya terbilang cukup aneh mereka bertemu di sebuah ruko photo copy an, yang dimana saat itu ayah saya masih menjalankan tugas dinas di Secaba. Entah mengapa pertemuan mereka sangat singkat tidak mengenal berpacaran seperti anak generasi milenial dan generasi gen z sekarang wkwk. Ayahku langsung terpikat oleh gadis keturunan Jawa Asli dan langsung pengajuan untuk menikah i gadis Jawa tersebut yaitu Mamah saya, disitulah terjadi urbanisasi dalam keluarga mamah saya yang dimana ada percampuran suku Sunda. Pada 9 Juli 2004, mamah saya melahirkan saya di kota sejuta bunga ini dan asli saya yaitu Orang Jawa. Dan menurut mamah saya, saya lahir tanpa adanya sosok ayah di sampingnya, lagi-lagi Karena apa? Karena ayah saya sedang di tugaskan di Lebanon, sekitar 1-2 tahun lamanya semenjak pernikahan mereka berjalan 5 bulan. Setelah 2 bulan kelahiranku aku langsung di boyong ke tempat asal Ayahku yaitu di Kota Bandung tepatnya di jalan Gatot Subroto No 31, yang dimana tersimpan banyak kenangan yang indah.</p><p><br></p><p>Tidak berselang lama disaat umur saya menginjak 1,5 tahun (kata mamahku) di boyong kembali ke Jawa Timur untuk perpindahan tugas kembali. Dan disitu mau tidak mau beradaptasi dengan lingkungan baru dan sekolah baru, dulunya saya selalu berpindah-pindah tempat sekolah sebelum memutuskan untuk  menetapkan di Magelang. Dan lagi-lagi kami pindah dan di boyong lagi ke Jambi tidak begitu lama hanya 7 bulan, sungguh melelahkan bukan? Berpindah-pindah tempat hahahaha, dengan berbagai logat dan bahasa yang membuat pusing :) semoga di tahun ini tidak ada perpindahan lagi aamiin. Menginjak usia 6 tahun saya berpindah kembali ke bandung dan menetap cukup lama dengan kebudayaan dan bahasanya. Pada saat saya memasuki SMP Ayah dan Mamah saya memutuskan untuk kembali ke Magelang dan meminta perpindahan yang cukup mendadak, membuat saya berat hati untuk meninggalkan kota bandung yang penuh kenangan dan cerita.</p><p><br></p><p>Setelah pindah ke Magelang mungkin kata sekarang culture shock wkwk pertama kesana beli nasi Padang dengan berbagai sayur dan lauknya rasanya manis semua dan rata-rata masakan daerah magelang cenderung manis,asin,gurih dan pedas menjadi satu😭🙏🏻 dan saat membeli jajan untuk anak SMP dulu beli cilok 5000 ribu sudah cukup banyak dan kata teman saya beli cilok 3000 ribu saja cukup dan harga sandang pangan di Magelang ternyata lebih murah meriah membuat saya bingung keheranan😭 setelahnya terdapat kesenian yang berada di Magelang tepatnya daerah salaman yang begitu banyak mulai jaran kepang, buto, Soreng dan sebagainya yang dapat menambah pengetahuan kalau masih terdapat kesenian yang lainnya. Setelah itu saat perpindahan dari bandung ke Magelang saya kesulitan belajar bahasa Jawa sampai sekarang, saya hanya bisa bahasa Jawa kasar dan bahasa Jawa Krama itu sangat menyusahkan saya hanya tau nggeh, mboten, sios, jenengan, tiyang hahaha padahal saya asli orang Jawa tengah. Dan setiap lebaran atau bulan tertentu keluarga dari ayah akan mengunjungi rumah ayah saya dan bertemu dengan keluarga mamah saya yang lainnya perpaduan antara suku berbeda sangatlah kental dengan logat dan bahasa yang tentu berbeda, akan tetapi mamah saya dan saya masih dapat mengerti dengan bahasa Sunda yang sudah lama pindah dari kota Bandung. Dan sekarang tepat 9 tahun saya di Kota Magelang, Sekian cerita tentang indentitas budaya saya, semoga dapat dimengerti ya wkwkwk. Terimakasih dan sampai jumpa❤️</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340853453/75b7c7e632f4617cb960945cc5b2ff96/IMG_20240221_100904.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 03:32:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890375710</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawa tulen</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890379339</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman semua!</p><p>Perkenalkan namaku Meilani Putri, kalian bisa memanggilku Meilani atau Mei. Ya, sesuai namaku aku lahir di bulan Mei pada tahun 2004 dan saat ini masih berusia 19 tahun. Aku 100% gadis Jawa tulen karena tidak memiliki campuran darah dari suku lain. Kedua orang tuaku bahkan semua kakek nenekku semuanya orang Jawa asli, tepatnya orang Kabupaten Magelang asli. Keluarga dari pihak bapak berasal dari kecamatan Bandongan dan Muntilan, sedangkan keluarga dari pihak ibu berasal dari kecamatan Bandongan. Betulan Kabupaten Magelang semua, kan?</p><p>Saat ini aku tinggal bersama kedua orang tua dan kakak perempuanku. Aku dan kakakku hanya beda 2 tahun saja, dan kami memang akrab. Bahkan saking akrabnya dulu saat kecil aku sering memanggilnya dengan namanya saja, tanpa embel-embel “mbak”. Alhasil, aku jadi sering dimarahi oleh orang tuaku karena katanya aku tidak sopan, yah kuakui aku memang agak kurang ajar saat itu. Pokoknya, aku menyadari bahwa menjadi orang Jawa itu harus sangat menjunjung adab sopan santun dan tidak boleh seenaknya sendiri. &nbsp;</p><p>Sebagai gadis keturunan Jawa yang lahir dan besar di Kabupaten Magelang, lingkungan tempat tinggalku masih sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh Jawa. Bahasa sehari-hari yang kugunakan adalah bahasa Jawa. Jika mengobrol bersama teman, aku menggunakan bahasa Jawa ngoko, sedangkan jika mengobrol bersama orang yang lebih tua aku berusaha menggunakan bahasa Jawa Krama agar lebih sopan. Aslinya aku juga belum terlalu fasih dalam berbicara bahasa Jawa Krama, aku sering mencampur adukkan bahasa Jawa Krama dan bahasa Jawa Ngoko (walaupun aku sering dimarahi ibuku karena hal ini hehe). Sebagai orang jawa asli, logat bicaraku juga masih terdengar medhok. Teman-temanku yang berasal dari luar Jawa sering menggodaku karena logatku yang medhok ini, tapi aku tidak mempermasalahkannya karena mau bagaimana lagi, namanya juga orang Jawa.</p><p>Baiklah, sekian tulisanku mengenai diriku sebagai gadis Jawa ini. Untuk cerita lebih lanjutnya mari berteman denganku hehe. Terimakasih sudah membaca, salam kenal semua.</p><p>&nbsp;</p><p>Meilani Putri // 2220301102</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341073733/73b4532df8353921334280919e1d318b/IMG_20240221_102717.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 03:36:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890379339</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kucinta Jawa </title>
         <author>rarayazera</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890387154</link>
         <description><![CDATA[<p>Haloo teman teman</p><p>Perkenalkan namaku Nilam Rizki Yazera biasa dipanggil Nilam. Aku lahir di Kota Sejuta Bunga yaitu Magelang pada tahun 2004. Ayahku berasal dari Brebes dan ibuku berasal dari Magelang. Aku juga sedikit berdarah Belanda dari nenek buyutku. Sejak lahir aku sudah tinggal di Magelang. Aku tinggal bersama ayah, ibu, adik, dan kakek. </p><p>Sehari hari keluargaku menggunakan bahasa jawa dan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Meskipun ayahku berasal dari Brebes tetapi ayah jarang menggunakan bahasa ngapak. Ayahku menggunakan bahasa ngapak hanya saat berkomunikasi dengan keluarganya yang ada di Brebes. Bahasa ngapak menurutku adalah bahasa yang unik. Cara pengucapannyapun berbeda dan tidak mudah bagiku untuk dipelajari. Aku juga sangat menyukai makanan telur asin bakar khas Brebes. Saat liburan ke Brebes nenek dan kakekku yang ada disana seringkali membelikanku telur asin bakar yang enak sekalii. Beda dengan Magelang yang hanya ada telur asin biasa. Ibuku yang berasal dari Magelang mempunyai tradisi bernama Grebek Gethuk. Acara Grebek Gethuk diadakan saat peringatan hari jadi Kota Magelang. Makanan khas Magelang juga bermacam macam seperti gethuk, kupat tahu, buntil, dan nasi goreng magelangan. Ayah dan ibuku sering menanamkan dan mengajariku tentang kebudayaan Magelang dan kebudayaan yang ada di Jawa Tengah. Salah satunya dengan mendaftarkanku untuk les tari tradisional. Saat aku masih mengikuti les tari tradisional aku banyak diajarkan tentang tari yang berasal dari Jawa Tengah seperti tari burung kukila, tari bondhan kendi, tari bondhan tani dan masih banyak lagi. Ternyata banyak sekali ilmu yang aku dapatkan dikehidupan sehari hari mulai dari kebudayaan yang ada disekitar hingga makanan khas daerah. </p><p><br/></p><p>Nilam Rizki Yazera</p><p>2220301072</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341145085/843e2924a9b02e7786391543fb7896cc/1708486350674.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 03:44:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890387154</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aku, Srikandi Jawi</title>
         <author>fusna890</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890432195</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p>Halo rencang-rencang! Namaku <strong>Nufus Najakahatun Nasukha</strong>, teman-teman menyapaku dengan sebutan Nufus. Namun, Ibu dan Bapak memanggilku dengan sebutan “nduk”. Jika dilihat dari namaku tentu saja namaku sama sekali tidak mencerminkan identitasku sebagai seorang yang lahir dari suku jawa. Bapak mengadopsi nama Nufus dari bahasa arab yang memiliki arti “Jiwa” begitu pula dengan nama tengah dan nama akhir ku yang juga diadopsi dari bahasa arab. Jika bisa request agar namaku bisa menunjukkan identitasku sebagai gadis jawa mungkin aku akan meminta kepada Bapak untuk memberiku nama Gendhis atau Ayunda, hehe. Banyak sekali yang bilang kepadaku jika namaku sangat unik dan jarang dijumpai, hal ini karena namaku bukan berasal dari kata dasar, melainkan adopsi dari kata jamak bahasa arab. Saat ini aku tinggal di sebuah desa yang berada di Kabupaten Magelang, yang bernama Desa Salaman. Aku tinggal bersama Bapak, Ibu beserta ketiga saudara kandungku. Darah yang mengalir dalam tubuh bapak dan ibuku ialah darah jawa. Bapak berasal dari Jawa Tengah sedangkan Ibu lahir dan besar di Jawa Timur. Meski bapak dan ibu sama-sama berasal dari tanah jawa namun, terdapat banyak sekali budaya jawa yang berbeda antara bapak dan ibu. Latar belakang keliuarga bapak lebih kental budaya jawanya dibandingkan ibu, bahkan hingga saat ini jika aku berkunjung ke rumah kakek, aku akan menemukan berbagai tumpukan buku berbahasa jawa kuno dan beberapa kitab primbon di rak buku yang berada di ruang tamu. Kakekku juga masih mempercayai beberapa mitos-mitos tanah jawa. Berbeda dengan keluarga ibuku yang sudah mulai meinggalkan kepercayaan-kepercayaan semacam itu. Uniknya, meski aku ini merupakan gadis keturunan jawa namun, dalam berkomunikasi aku masih saja kesuitan jika harus bertutur dengan menggunakan bahasa jawa krama, hal ini didasarkan karena latar belakang Ibuku yang berasal dari Jawa Timur yang mana disana tidak menggunakan bahasa krama ketika berbicara dengan seseorang yang usianya berada diatas kita. Meski aku kurang fasih dalam berbahasa krama, namun bapak dan ibu tetap menanamkan nilai-nilai tata krama kepadaku. Karena latar belakang ibuku juga, aku kurang suka dengan makanan Jawa Tengah-an yang memiliki cita rasa manis seperti gudeg, aku lebih menyukai masakan Jawa Timur-an terutama Rawon empal daging sapi.</p><p>Bapakku pandai dalam memainkan alat-alat musik baik alat musik modern atau tradisional, bapakku juga sering menjadi Mc bahasa jawa dalam hajatan pernikahan, namun sepertinya bakat berseni nya belum menurun kepadaku, hehe. Aku sangat suka mendengarkan cerita dari orang-orang yang menceritakan tentang budaya kejawen terutama dalam hal mitologi jawa. Aku selalu takjub dengan cerita-cerita tanah jawa yang dianggap sakral beserta budaya-budaya dan mitos-mitos yang kentara di dalamnya. Salah satu buku mitologi yang aku sukai ialah buku yang berjudul Jawa Jejawen yang aku baca semasa SD. Namun, bisa dibilang jika aku ini adalah orang jawa yang hilang jawa nya karena sudah tidak lagi mempertahankan dan melestarikan budaya-budaya yang ada di tanah jawa. Meski begitu aku tetap bisa disebut sebagai gadis jawa kan? hehe</p></blockquote><blockquote><p><strong>Nufus Najakhatun Nasukha (2220301048)</strong></p><p>&nbsp;</p></blockquote>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341124388/141606d6e22fb2e7c33f36171cf40ac9/foto_keluarga.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 04:39:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890432195</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>auliaazzahra15</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890443759</link>
         <description><![CDATA[<p>Halowwww gesss</p><p>Kenalin aku Aulia biasa dipanggil awul tapi klean terserah mau manggil aku apa. emm btw aku bingung mo ngomongin apa aja sebenernya. Jadi gini aku lahir dan besar di Magelang tapi sebenernya kata ibu aku, aku ngga lahir di sini, lahir di tempat utiku di Bumiayu. Oh iya sebelumnya kalo ngomongin budaya sebenernya aku berasal dari dua budaya yang berbeda budaya jawa dan betawi. Ayah aku orang jawa orang Magelang asli sedangkan ibu orang betawi tepatnya Jakarta. Jadi bisa dibilang aku ada dua kebudayaan lah ya.</p><p>Karena memiliki dua kebudayaan yang berbeda, aku sering merasa kagum dan tertarik dengan keberagaman budaya di Indonesia. Terlebih saat berbicara kadang menggunakan Bahasa Jawa kadang Bahasa Indonesia. Perbedaan budaya yang paling terasa yaitu ketika lebaran kalau di tempat ibu lebaran hanya bersalam salaman selama satu hari kemudian sudah. Sedangkan kalau bersama ayah lebaran di jawa bisa lebih dari satu hari karena mengunjungi semua mbah mbah yang masih saudara.</p><p>Budaya yang ada di keluarga aku sejauh ini bisa disesuiakan karena ibu aku juga sudah lama tinggal di magelang sejak menikah dengan ayah aku. Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang kebudayaan betawi karena aku besar di Magelang. Karena aku besar sebagai sebagai orang jawa orang tua aku mengajarkan untuk lemah lembut karena orang jawa terkenal dengan ramah dan lemah lembut. Dapat dilihat saat orang tuaku marah, ayah saat marah hanya diam sedangkan ibu saat marah langsung keluar logat Jakartanya "lo" "gue". Sedangkan aku lebih ke diam karena mengikuti kebiasaan ayah. Itu saja cerita singkat dari ku semoga suka hehehe.</p><p><br/></p><p>Aulia Rachma Azzahra</p><p>2220301066</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340425862/286c86a2d9784c4462a9abd8119c8a1e/C334E321_42A1_4F43_9BF0_4888ECCF2839.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 04:53:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890443759</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Horass! Dari Boru Ni Raja</title>
         <author>wimaalfa7</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890463676</link>
         <description><![CDATA[<p>Halloo semuanya nama aku Wima Alfa Zaliani Saragih kalian bisa panggil aku Alfa. Dari judul diatas beberapa orang pasti sudah bisa menebak aku berasal dari mana ^^. Aku lahir di Magelang, tapi tumbuh dan besar di kota Medan. Kota Medan memiliki kurang lebih 9 etnis dan berbagai jenis kepercayaan, yang mmbuat aku terbiasa untuk hidup di dalam keberagaman. Aku keturunan Jawa-Batak atau biasanya disebut dengan Jabat. Ayahku berasal dari pulau Sumatera, lebih tepatnya kota Siantar dan mamaku berasal dari kota Magelang. Ayahku adalah keturunan suku batak, kakekku bersuku batak simalungun sementara nenekku bersuku batak toba. Kakek dan nenekku berasal dari suku batak yang berbeda, memiliki bahasa, budaya, dan sistem kekerabatan yang berbeda. Sementara mamaku adalah keturunan jawa, namun tumbuh dan besar di pulau Bali. Dari perbedaan latar belakaang tersebut aku bertumbuh dengan berbagai kebudayaan di sekitarku. &nbsp;</p><p><br/></p><p>Dari perbedaan latar belakang suku itu juga aku terbiasa untuk mendengar berbagai bahasa daerah. Saat ada perkumpulan di keluarga ayah, yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa batak simalungun, di lingkungan tempat tinggal aku di Medan, mayoritas orang-orang batak akan menggunakan bahasa batak toba karena lebih mudah dimengerti. lalu saat di rumah orang kedua orang tuaku biasanya berkomunikasi dalam bahasa jawa, walaupun saat berkomunikasi denganku tetap menggunakan bahasa indonesia. Aku bisa mengerti saat orang sekitarku berbicara dalam bahasa batak maupun bahasa jawa, tapi untuk berbicara dalam bahasa-bahasa itu aku mengalami kesulitan. Terlebih sekarang aku tinggal di Magelang dan teman-temanku disini mayoritas berbahasa jawa, aku bisa mengerti saat mereka bicara dalam bahasa jawa tapi aku tidak bisa menjawab mereka dengan bahasa jawa juga.</p><p><br/></p><p>Walaupun aku memiliki darah jawa, aku lebih dekat dengan kebudayaan batak mungkin salah satu penyebannya adalah lingkungan tempat tinggalku saat di Medan. salah satu kebudayan yang harus tetap dijaga sebagai orang batak yang ada di perantauan adalah partuturan. Partuturan adalah sistem budaya suku batak untuk mengetahui Tarombo (hubungan kekerabatan). Contohnya aku &nbsp;memiliki marga yaitu Saragih, lalu Saragih masuk dalam rumpun Parna dalam sistem marga yang terdiri atas kurang lebih 60 marga. Jadi dimanapun aku berada, aku harus mencari teman sesama batak terlebih sesama rumpun Parna untuk menjaga kekerabatan. Di Untidar sendiri terdapat perkumpulan mahasiswa batak yang bernama SOMBA (solidaritas mahasiswa batak), di perkumpulan ini aku bisa mengenal banyak teman-teman suku batak dari berbagai daerah.</p><p><br/></p><p>Wima Alfa Zaliani Saragih</p><p>2220301106</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/532140133/42aa3b2cb557918c973db745284b4a0a/WhatsApp_Image_2024_02_21_at_12_07_50__1_.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 05:18:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890463676</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KEBUMEN</title>
         <author>annisaaazahrah</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890484205</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman teman, perkenalkan namaku Annisaa Arvieta Azahrah, aku adalah seorang mahasiswa PBSI di Universitas Tidar. Aku berasal dari Kebumen, mungkin tidak asing buat kalian karena di Untidar sendiri lumayan banyak yang berasal dari Kebumen.</p><p>Banyak yang tau Kebumen karena memiliki bahasa ngapaknya. Bahasa Ngapak adalah dialek bahasa Jawa yang digunakan di daerah Kebumen. Dialek dari Bahasa Ngapak memiliki ciri khas tersendiri dalam segi pelafalan, kosakata, dan tata bahasa yang membedakannya dari dialek Jawa lainnya. Beberapa ciri khas Bahasa Ngapak meliputi penggunaan bunyi "o" yang panjang, pengucapan "a" yang berbeda, serta penggunaan kata-kata khas dan ekspresi tertentu yang mungkin tidak umum dalam dialek Jawa standar.</p><p>Selain itu, Bahasa Ngapak juga sering memasukkan unsur-unsur dari bahasa Jawa Kuno dalam percakapannya, membuatnya semakin unik. Dalam kehidupan sehari-hari, Bahasa Ngapak digunakan oleh masyarakat Kebumen sebagai alat komunikasi yang akrab dan menunjukkan identitas budaya mereka. Meskipun terkadang dianggap sebagai dialek kasar atau kurang formal, Bahasa Ngapak memiliki nilai penting dalam memperkuat jati diri dan kebersamaan masyarakat Kebumen.</p><p>Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi, Bahasa Ngapak juga mengalami evolusi dalam penggunaannya. Ada upaya untuk melestarikan dan mempromosikan Bahasa Ngapak melalui berbagai kegiatan budaya, seperti festival bahasa dan kegiatan seni lokal. Dengan demikian, Bahasa Ngapak tetap menjadi bagian yang penting dalam identitas dan warisan budaya masyarakat Kebumen, serta menjadi simbol keberagaman bahasa dan kekayaan budaya di Indonesia.</p><p>Ada beberapa contoh kata yg menggunakan Bahasa Ngapak, seperti yang suda kalian ketahui kata "kencot"  yang berarti lapar, penerapan di kalimat yaitu "nyong kencot banget ki"</p><p>Sepertinya cukup sampe sini perkenalan dari aku semoga bermanfaat ya teman temaann</p><p><br></p><p>Annisaa Arvieta Azahrah </p><p>2240301139</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341277439/367b83edbf00abdf37dcb4713cb3bb0b/IMG_20240221_WA0014.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 05:45:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890484205</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anyeong aku esti</title>
         <author>estilisa820</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890554514</link>
         <description><![CDATA[<p>anyeonggggggg perkenalkan nama aku esti nor kholisoh, aku biasa di panggil esti. Sekarang ini aku memasuki semester 4, aku merupakan anak pertama di keluarga ku, bapak ku asli magelang dan ibukku asli wonosobo, aku mempunyai adik yang memiliki selisih 13 tahun, yaaa cukup jauh tetapi aku sangat menyukai adikk kecil ku itu. aku tidak mempunyai cerita yang menarik tetapi ada satu yang menurut ku itu sangat bikin aku semangat dan berwarna tiap hari nya, yaa aku suka budaya kpop lebih tepatnya aku suka boyband korea yang bernama treasure, kenapa? karena treasure banyak merubah dampak hidup ku dari mulai males belajar buat ujian-ujian saat SMA akhirnya aku bangkit dan berhasil membawa sebuah kebahagiaan yang tak terlupakan dihidupku, kemudian lagu-lagu yang dibawakan oleh treasure juga membawa banyak dampak positif nya lohh salah satunya lagu my treasure, di lagu tersebut terdapat beberapa lirik yang dapat membuat kita lebih menghargai diri sendiri lagi. Banyak makna dan pelajaran yang terkandung di dalam setiap penggalan liriknya salah satunya</p><p>(Andwemyeon eottae dashi shijakhae)</p><p>Penggalan lirik yang satu ini menurut aku sangat bermakna banget bagi seseorang yang sedang galau karena kegagalan, karena lirik ini memiliki arti, "Jika tidak berhasil, siapa yang peduli, coba mulai lagi." Kalau gagal melakukan sesuatu jangan galau terus dan mari coba kembali sampai bisaaa!! doa in aku ya semoga bisa ke konser treasure di pertengahan tahun 2024 aamiin</p><p><br></p><p>sekian dari aku, yaa walaupun aku menceritakan tentang kesukaanku tetapi aku tetap menyukai kebudayaan di Indonesia kok apalagi dijawa, karena aku lahir dijawa</p><p><br></p><p>Esti Nor Kholisoh</p><p>NPM: 2210301010</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339220021/9f1e7c41567c1a37ecc0b7bc96bf4dca/weverse_post_359b521c5a4845aa8d17f2c426bc57a7050.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 07:12:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890554514</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aku Orang Temanggung Asli dengan Kebudayaanya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890563477</link>
         <description><![CDATA[<p>Kenalin, Aku <strong>Niswa Nabiela</strong>, lahir pada 8 Desember 2003, adalah anak pertama dari dua bersaudara, memiliki seorang adik laki-laki. Ayahku berasal dari Kecamatan Temanggung, sementara ibuku berasal dari Kabupaten Temanggung Kecamatan Kedu. Sejak kecil, Aku sudah diperkenalkan tentang kekayaan budaya Temanggung.</p><p><br/></p><p>Sejak kecil Aku dekat sekali dengan tata krama. Contohnya saja dalam pengunaan bahasa sehari-hari. Bahasa sehari-hari adalah Bahasa Jawa krama. Namun, ketika kami berada di luar rumah kami tetap memakai Bahasa Indonesia. Selain itu, mayoritas teman-teman di desa juga memakai Bahasa Jawa.</p><p><br/></p><p>Aku masih menjadi bagian dalam warisan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya adalah seni tari Topeng Ireng, tarian tradisional yang menggambarkan keberanian dan semangat masyarakat setempat. Selain itu, kebiasaan menggelar upacara adat dalam rangkaian acara keagamaan atau perayaan lokal juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari Saya. Seperti adanya kuda lumping, warokan, dan lain sebagainnya pada perayaan hari-hari penting.</p><p><br/></p><p>Keberagaman kuliner juga menjadi cerminan kuat dari identitas dan ciri khas yang ada di daerahku. Ada makanan khas seperti tempe mendoan, ndas borok, empis-empis, dan gethuk lindri yang tetap dicintai dan diwarisi dari generasi ke generasi. Melalui keberagaman inilah, Aku tidak hanya memperkuat nilai budaya tetapi juga menjaga akar budayanya sekaligus melestarikan nilai-nilai yang telah membentuk jati diri masyarakat Temanggung.</p><p><br/></p><p>Niswa Nabiela</p><p>2210301033</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341363435/7f740e4df1b874eaf83367e5861e1889/IMG_9504.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 07:20:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890563477</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gong Xi Fa Cai xin nian kuai le</title>
         <author>tegarrakha1</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890595842</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo semua, semoga kalian sehat selalu yaa. Perkenalkan nama saya Tegar Rakha Athallah, saya kelahiran tahun 2004. Saya memiliki teman dekat yang menjadi biokong atau penjaga di Klenteng Hok An Kiong di Muntilan. Kami berdua turut menjaga dan melestarikan tradisi dan kepercayaan disana seperti pada saat persembahyangan dan peringatan hari-hari besar dan penting. Contohnya seperti saat perayaan imlek kemarin kami disana melakukan sembahyang Ce it pada tanggal 1 penanggalan lunar (imlek). Saat imlek pasti kalian selalu melihat dijalanan atau pernak-pernik imlek yang serba berwarna merah. Kalian tau ngga sih apa alasannya kok banyak didominasi warna merah?. Perayaan imlek tidak bisa lepas dan tidak jauh dari warna merah seperti pernak pernik nya, angpao, barongsai, lilin, lampion hingga baju pakaian yang berwarna merah pada saat pergantian tahun masyarakat Tionghoa. Warna merah yang menghiasi bukan karena tanpa sebab, warna merah merupakan warna yang memiliki arti dan lambang yang begitu mendalam bagi masyarakat Tionghoa sehingga tidak heran jika saat momen-momen tertentu salah satunya tahun baru Imlek banyak didominasi warna merah. Warna merah merupakan warna yang memiliki unsur “yang” warna panas, warna matahari dan api yang diharapkan warna tersebut dapat memberikan suasana kebahagiaan. Dan juga masih banyak arti lain seperti menjadi simbol kebaikan hati, ketulusan dan juga kemakmuran. Maka tidak heran jika banyak didominasi warna merah. Tidak hanya warna merah saja yang dianggap membawa keberuntungan tetapi ada warna lain juga seperti warna kuning emas dan warna hijau.</p><p>Di klenteng-klenteng juga pastinya kalian sering melihat lilin-lilin berwarna merah berbagai ukuran. Ada yang kecil sampai yang lebih tinggi dari kita, lilin tersebut bukan hanya untuk dekorasi saja, tetapi lilin melambangkan cahaya penerangan dan supaya bisa membuka jalan yang terang agar lancar dalam segala usaha tidak dalam kegelapan. Dupa atau hio juga digunakan dalam peribadatan, Dupa yang sering saya jumpai di klenteng juga kerap berwarna merah. Setiap warna dari dupa tersebut juga memiliki arti tersendiri. Contohnya yang berwarna hijau. Dupa yang berwarna hijau biasanya digunakan saat masa berkabung. Dupa tersebut memiliki filosofi yang begitu mendalam, yaitu doa seperti asap dari dupa yang terbang ke langit atau ke Tuhan. Serta bau harum nya yang menyebar melambangkan kesucian dan kemurnian hati. Saat membakar nya juga tidak sembarangan. Dupa dengan jumlah ganjil digunakan untuk Tuhan, Dewa dan tokoh-tokoh yang berjasa. Dan dupa dengan jumlah genap digunakan untuk leluhur dan arwah yang sudah meninggal.</p><p>Foto diatas diambil saat saya berada di Klenteng Liong Hok Bio Magelang.</p><p>Dewa yang di posisikan tinggi di Klenteng yang berada di kota Magelang Liong Hok Bio salah satunya adalah Dewa Bumi atau dikenal dengan nama Yang Mulia Kongco Hok Tek Ceng Sin. Pada masa Orde Baru memecah konflik antar etnis di Jakarta. Segala kesenian etnis Tionghoa dilarang. Kemudian orang Tionghoa membawa rupang Dewa Bumi ke kota Magelang. Rupang tersebut di letakkan di Klenteng Liong Hok Bio pada tahun 1864. Dewa Bumi disembah atau dihormati sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen dan juga untuk memohon rezeki serta usaha yang maju. Oleh sebab itu, Klenteng yang diperuntukkan kepadanya sering kali dibangun dekat dengan pasar. Disamping kanan dan kiri beliau juga terdapat 2 rupang yang besar yaitu Dewi yang penuh welas asih Dewi Kwan Im dan Dewi Samudera Macopo.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341395547/64208cc556d3c3b4954e82177ed70dd4/4995818F_63EE_41D8_9DB7_26E90552F48E.png" />
         <pubDate>2024-02-21 07:53:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890595842</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bujang Jawir</title>
         <author>rizkynurdiansyah2904</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890631820</link>
         <description><![CDATA[<p>Yuhuuuu haii all!</p><p>Kenalin jenenge nyong Muhamad Rizky Nurdiansyah tapi rencang-rencang pada nyelokna Rizky, Nurdin, Kiki, Ikik. Nyong berasal kanggon Wonosobo dan merupakan anak ke dua dari dua bersaudara, bapak dan ibu berasal kanggon dua kabupaten yang berbeda, ibu kanggon Wonosobo sedangkan bapak berasal kanggon Purworejo. Selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, ket cilik nyong wis dicekoki Bahasa Jawa maring wong tuane, mbuh kui Bahasa Jawa ngoko, krama alus, dan krama inggil. Dadi sebenere nyong bisa lima bahasa wiih ngeri tenan.</p><p><br></p><p>Wonosobo sendiri merupakan sebuah &nbsp;kabupaten di provinsi jawa tengah yang terkenal dengan kawasan wisata Diengnya, Wonosobo juga mempunyai moto yaitu Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah). Orang Wonosobo seringkali dikategorikan sebagai orang ngapak karena bahasanya yang agak mirip dengan daerah Banjarnegara dan sekitarnya, padahal menurut ku orang Wonosobo itu tidak bisa dikategorikan sebagai orang ngapak karena bahasanya yang agak berbeda, jadi apaya.?? Dikatakan ngapak tapi tidak ngapak, dikatakan tidak ngapak tapia da yang beranggapan ngapak hmm jadi bingung, padahal Wonosobo sendiri termasuk ke dalam daerah Kedu, mungkin karena orang-orang Wonosobo sering berinteraksi dengan orang ngapak jadi bahasanya beririsan, memang unik sekali Bahasa Wonosobo ini.</p><p><br></p><p>Sekarang aku kuliah di Universitas Tidar yang berada di Kota Magelang jadi bisa dikatan aku ini turis hahahay, meskipun aku di Magelang tetapi bahasa yang sering aku gunakan masih bahasa asli tidak terkontaminasi oleh Bahasa Magelang mungkin hanya “leh” nya doang selebihnya tetap memakai Bahasa Wonosobo, karena aku ingin melestarikan Bahasa Wonosobo dimanapun aku berada chuakkzz..</p><p><br></p><p>Muhamad Rizky Nurdiansyah</p><p>2240301194</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339792491/b0e7705fa43ffa355d8bb1dffe66ec1f/WhatsApp_Image_2024_02_21_at_15_22_20.jpeg" />
         <pubDate>2024-02-21 08:27:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890631820</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Abid Zakariyya </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890635038</link>
         <description><![CDATA[<p>Haiiii aku Abid Zakariyya dari Magelang. Tapi dahulu aku tidak di sini looo. Pengin tahu sejarahnya? Simak dan telusuri ceritanya. Dahulu ayahku dan ibuku bertemu di jakarta. Dan setelah saat itu pun mereka melangsungkan pernikahan. Setelahnya aku lahir di Jakarta. Setelah hal itu aku pun sering berpindah pindah tempat. Awal hal tersebut terjadi. Disleksia bahasa. Dimana aku yang awalnya hanya menguasai bahasa Indonesia harus menguasai bahasa Jawa. Serta, hal tersebut membuat aku jadi harus bisa adaptasi secara cepat dan bisa. Ibuku pun mengajari aku cara berbahasa di lingkungan nya saat itu. Pertama, bahasa Indonesia ke Jawa yang membuat ku susah. Serta ayahku yang sering berpindah tempat tugas membuat ku terbiasa lama kelamaan dalam menjalankan hari demi hari di tempat orang asing.</p><p>Sekian dari cerita saya, maaf hanya sedikit ceritanya teman teman </p><p><br/></p><p>Abid Zakariyya 2240301184</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339476126/a45af63a6d13af4b7f6e855d0630cb84/17085041924366708686243879195556.jpg" />
         <pubDate>2024-02-21 08:30:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2890635038</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Sosial</title>
         <author>winastirahma</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2907633400</link>
         <description><![CDATA[<p>Setiap indivdu memiliki posisi dan peran sosial di dalam kehidupan bermasyarakat. Jelaskan posisi dan peran sosial Anda saat ini dalam sebuah esai singkat!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-06 07:24:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2907633400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Semua Aku Dirayakan</title>
         <author>ratiningsih858</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2912463250</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman kembali lagi bersama cerita saya. Untuk tulisan kali ini sepertinya tidak perlu berkenalan lagi ya karena ditugas sebelumnya sudah perkenalan. Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang siapa saya di rumah.</p><p><br></p><p>“Semua Aku Dirayakan”</p><p>Ketika berada di lingkungan rumah, saya merasakan definisi “semua aku dirayakan”. Alhamdulillah hidup dikelilingi tetangga yang sangat baik, ada yang bilang kalau mereka baik ke saya karena saya anak dari pak dukuh tapi ibu bilang mereka baik karena saya bisa memposisikan diri sebagaimana penduduk jawa yang masih menjunjung tinggi <em>“srawung”</em> kalo dalam bahasa Indonesia apa ya saya kurang paham.</p><p><br></p><p>Mengapa saya sebut “semua aku dirayakan”? karena setiap kali saya ada di hari bahagia mereka tidak pernah lupa akan hari itu. Setiap saya ulang tahun mereka adalah orang-orang paling <em>excited</em> untuk merayakan itu padahal saya juga kadang lupa kapan ulang tahun saya. Ulang tahun saya di 2018 dirayakan oleh tetangga saya di Waduk Sermo yang sebelumnya saya tidak berfikiran bahwa akan dinyanyikan selamat ulang tahun oleh semua orang yang ada di Waduk Sermo waktu itu. Di tahun 2022 ulang tahun saya bertepatan dengan hari wisuda saya dan tetangga saya menyempatkan waktunya untuk datang ke sekolah, dan tahun kemarin 2023 tepat di hari ulang tahun saya, saya harus masuk rumah sakit dan lagi-lagi tetangga saya juga datang ke rumah sakit membawa kue ulang tahun, balon, arum manis, dan beberapa hadiah lainnya. Selain itu, ketika saya bilang “kuliah ternyata capek juga ya” tanpa basa basi tetangga saya menghampiri saya ke rumah dan bilang “Rati ayo beli es krim biar capeknya hilang”. Bukan hanya itu saja, tapi ketika ada acara ditempat yang cukup jauh mereka selalu bilang “Rati jangan motoran sendiri ya milih aja mau sama siapa” atau kalau pakai bus selalu ada yang bilang “Rati duduknya sini aja yang enak, nggak bikin pusing”. Saya sangat senang dan bersyukur dikelilingi tetangga yang super baik.</p><p><br></p><p>Ada juga cerita ketika kemarin menjadi petugas KPPS, dimana saya adalah anggota yang paling muda dan mempunyai tubuh paling pendek dan kecil. Disini saya juga merasakan sangat diperhatikan oleh anggota KPPS lainnya, dan saksi-saksi partai yang isinya anak pemuda dusun semua.</p><p>“Mbak” juga kata yang paling sering saya dengar ketika berada ditempat tinggal saya. Dari yang masih kecil, seumuran, hingga orang-orang yang jauh lebih tua hampir semuanya memanggilku dengan sebutan “mbak”. Selain dipanggil dengan sebutan “mbak” banyak juga yang berbicara dengan saya menggunakan bahasa krama, sampai kadang saya bingung harus jawab bagaimana karena saya juga kurang menguasai bahasa krama. Sebenarnya juga tidak ada sebuah keharusan untuk memanggil dengan sebutan mbak atau berbicara menggunakan bahasa krama, tapi saya juga tidak tahu mengapa mereka sangat sopan. Mungkin mereka adalah orang-orang yang memang dikirim untuk pengingat agar saya tetap sopan dan santun dengan orang lain.</p><p><br></p><p>Selain dirayakan dan diperlakukan dengan baik, tetangga saya khususnya yang perempuan ketika ada kegiatan selalu “ini ngikut Rati aja deh kalo Rati iya kita juga iya”, kalau ini sebenarnya sedikit jadi beban karena ketika lagi tidak ingin mengikuti sesuatu saya harus mengikuti dengan alasan tidak mau mengecewakan teman-teman yang sudah sangat excited. Dari hal tersebut saya sangat senang ketika ada kegiatan di kampung saya seperti <em>nyinom, </em>17an, remaja masjid, remaja dusun, dan banyak lagi.</p><p><br></p><p>Itulah cerita saya ketika saya berada di lingkungan tempat tinggal saya. Mungkin itu juga salah satu <em>privillage</em> menjadi anak pak dukuh, tapi semua kembali lagi ke pribadi masing-masing. Kalau ingin diperlakukan dengan baik kita juga harus memperlakukan orang lain dengan baik.</p><p><br></p><p>Ratiningsih (2220301057)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340124571/a3654efd3804c5ffabedb9c5182451d0/96f75e88_5fa6_40b3_9a7c_e70e5d9b0e53.jpg" />
         <pubDate>2024-03-10 03:43:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2912463250</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rakyat biasa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2913277479</link>
         <description><![CDATA[<p>Posisi saya dan peran saya di masyarakat. Posisi saya di dalam masyarakat tidaklah begitu penting. Orang tua saya adalah rakyat biasa, tidak memiliki previllage  apapun. Sehingga mungkin posisi saya di dalam masyarakat hanya sebatas warga biasa yang taat hukum serta norma kemanusiaan. Saya sangat nyaman dengan hal ini, karena menurut saya, ketika seseorang memiliki previllage maka akan berat bagi orang tersebut untuk menjaga sebuah kehormatan yang ia miliki. Sedangkan orang seperti saya, yang hanya warga biasa dan tidak memiliki previllage  apapun di dalam masyarakat tidak memiliki beban untuk menjaga kehormatan tertentu.</p><p>Tetapi, bukan berarti saya dapat semena-mena dalam bermasyarakat, saya juga harus menjaga sopan santun dan menaati peraturan yang ada di masyarakat tempat saya tinggal. Terlebih saya merupakan mahasiswa yang sudah seharusnya memiliki peran di masyarakat. Sebagai mahasiswa, saya merasa memiliki hak dan kewajiban untuk ikut aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Peran saya sebagai mahasiswa di masyarakat yaitu seperti contohnya kemarin disaat pesta demokrasi, yaitu pemilu 2024, saya menjadi salah satu petugas yang mendukung kelancaran jalannya pemilu 2024. Selain itu peran sosial saya di dalam masyarakat adalah menjadi seseorang yang berusaha berbuat baik dan selalu menjaga norma kesopanan dalam bermasyarakat. </p><p>Karena menurut saya, jika kita selalu menjunjung tinggi norma kesopanan dan selalu berbuat baik dengan orang lain, maka orang lain juga akan memperlakukan hal yang sama kepada kita.  Peran saya didalam masyarakat tidak begitu terlihat seperti posisi saya di masyarakat, karena memang saya hanya sekedar mahasiswa yang berusaha aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Seperti akhir-akhir ini saya melakukan sosialisasi program KIP-K kepada tetangga-tetangga saya yang hendak masuk kuliah. Kegiatan-kegiatan seperti ini menurut saya adalah suatu kewajiban bagi saya sebagai mahasiswa yang hidup dalam masyarakat. Berbagai suatu informasi yang bermanfaat menurut saya sudah mewakili peran saya sebagai mahasiswa. Tidak banyak yang bisa saya lakukan di dalam masyarakat, tetapi saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat sekitar tempat tinggal saya, sesuai dengan posisi dan kemampuan saya dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa.</p><p><br></p><p>Muhammad Omar Akbar (2210301039)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339149455/e257689e0a3fa4c328a8d25af3a55cc7/IMG_20231124_100534.jpg" />
         <pubDate>2024-03-11 03:38:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2913277479</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Individu dari Keluarga Sederhana</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2913324041</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya adalah seorang individu biasa, perempuan yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana namun memiliki impian untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Ayah saya yang hanya seorang pedagang dan ibu saya yang hanya ibu rumah tangga, memiliki kakak, dan saya merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Dalam perjalanan hidup saya, saya menyadari bahwa posisi dan peran sosial saya di masyarakat tidak selalu bergantung pada latar belakang atau status ekonomi. Meskipun berasal dari keluarga yang sederhana, saya memiliki ambisi dan tekad untuk mencapai kesuksesan melalui pendidikan.</p><p>Salah satu momen penting dalam hidup saya adalah ketika kakak saya memulai berkuliah. Melihat kakak saya mengejar pendidikan tinggi memberi saya inspirasi dan motivasi untuk mengikuti jejaknya. Meskipun kami berasal dari keluarga yang tidak mampu secara finansial, namun orang tua saya selalu menekankan pentingnya pendidikan sebagai kunci menuju masa depan yang lebih baik.</p><p>Ketika kakak saya mulai berkuliah, saya menyadari bahwa peluang untuk meraih impian tidak terbatas pada orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Saya memutuskan untuk mengikuti jejak kakak saya dan mendaftar di perguruan tinggi. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan finansial dan tekanan akademis, saya tekun belajar dan bekerja keras untuk mencapai cita-cita saya. Dan alhamdulillah saya lolos dan berkuliah di universitas tidar.</p><p>Perjalanan saya dalam dunia pendidikan tinggi membuka jendela baru bagi saya untuk berinteraksi dengan berbagai individu dari latar belakang yang beragam. Saya belajar menghargai perbedaan dan memahami pentingnya solidaritas dalam mencapai tujuan bersama. saya menyadari bahwa peran sosial saya tidak hanya terbatas pada pencapaian pribadi. Saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, terlepas dari latar belakang atau status sosial saya. Saya berupaya untuk menjadi contoh yang baik bagi keluarga saya dan orang-orang di sekitar saya, bahwa pendidikan dan kerja keras adalah kunci untuk meraih impian.</p><p>Dalam masyarakat yang terus berkembang, saya percaya bahwa setiap individu memiliki potensi untuk menciptakan perubahan positif. Meskipun saya berasal dari keluarga sederhana, saya yakin bahwa dengan dedikasi, ketekunan, dan semangat untuk belajar, saya dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat dan dunia di sekitar saya.</p><p>Shintya dwi anggraini</p><p>2220301077</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2371175681/c7b3d1049da32fa858365085ff286cc2/a10f758a_88c6_4581_b715_bc5fdc714cd1.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-11 04:33:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2913324041</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anak Sulung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2913535195</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama saya Punky Agnicya Putri dan akrab dipanggil Punky. Sejak lahir saya berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Saya berdomisili di Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah. Di dalam masyarakat, saya merupakan anggota Remaja. Saya memiliki tanggung jawab dalam menaati semua peraturan yang diberlakukan di desa tempat saya tinggal. Selain itu, saya berperan untuk membantu pelaksanaan kegiatan, seperti perayaan HUT RI dan acara pernikahan warga setempat.</p><p>Saya merupakan anak sulung dari keluarga kelas menengah. Keluarga saya sederhana, tetapi mereka adalah sumber motivasi saya dalam menjalani hari. Ayah saya seorang pedagang sayur keliling, sedangkan ibu saya membuka salon di rumah sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Mereka mengajarkan saya untuk menjadi wanita pekerja keras, sabar, dan senantiasa bersyukur.</p><p>Pendidikan menjadi fokus utama dalam hidup saya. Ibu saya berkata bahwa wanita harus terpelajar dan memiliki karier yang cemerlang agar bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tidak bergantung pada laki-laki. Oleh karena itu, saat SMA saya mulai giat belajar supaya bisa masuk ke kampus negeri. Pilihan saya jatuh ke Universitas Tidar karena melihat jaraknya yang cukup dekat dari rumah dan tidak perlu kos. Sekarang status saya adalah mahasiswa S1 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagai seorang mahasiswa, saya memiliki peran dan tanggung jawab untuk menimba ilmu dan meraih gelar sarjana serta menjaga nama baik universitas.</p><p>Saat ini tantangan saya adalah manajemen waktu. Setiap hari Senin sampai hari Jumat saya berkuliah, sedangkan akhir pekan saya manfaatkan untuk mengambil pekerjaan. Saya menyadari bahwa saya anak sulung dan memiliki adik-adik yang masih kecil. Maka dari itu, dengan saya bekerja dapat sedikit meringankan beban orang tua saya.</p><p>Nama : Punky Agnicya Putri</p><p>NPM : 2010301054</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2047892948/ba8a28930418ba6fa55517553abc77e0/IMG_20240107_WA0130.jpg" />
         <pubDate>2024-03-11 07:49:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2913535195</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran ayah saya di lingkungan masyarakat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914179428</link>
         <description><![CDATA[<p> Halo, saya Allysha Divani Praja, Ayah saya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kemenkumham yang telah purna tugas (pensiun) pada tahun 2018. Pada tahun 2019 beliau melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah bersama rombongan jama’ah haji lainnya yang berasal dari Kabupaten Cilacap. Sebagai anggota masyarakat ayah saya merasa terpanggil untuk lebih fokus mengurus Mushola Babbul Jannah yang terletak di belakang rumah kami. Selain sebagai pengurus ayah saya juga sebagai salah satu imam mushola tersebut. </p><p> Apalagi pada waktu pandemi Covid 19 ayah saya beserta pengurus mushola yang lain berinisiatif menyelenggarakan sholat Jumat di lingkungan sendiri yang seharusnya pada kondisi normal diadakan di masjid-masjid besar. Karena alasan pandemi tersebut akhirnya menjadi titik awal perjuangan para pengurus untuk mendapatkan ijin menjadikan mushola agar menjadi masjid yaitu Masjid Babbul Jannah. Selama pandemi sampai sekarang jamaah sholat jumat semakin bertambah dari lingkungan sekitar demikian pula dengan infaq yang menambah kas masjid. </p><p> Dengan adanya dana tersebut maka pengurus bersama warga dapat melakukan renovasi bangunan masjid agar menjadi lebih nyaman untuk melakukan ibadah. Karena sudah menjadi masjid maka selain digunakan untuk sholat wajib 5 waktu juga untuk sholat jumat, sholat tarawih, sholat idul fitri dan idul adha. </p><p> Selain berperan mendorong masyarakat untuk rajin beribadah memakmurkan masjid. Ayah saya juga aktif menjadi imam sholat tarawih, sholat Idul Fitri, sholat Idul Adha dan pengisi khotbah pada perayaan hari besar tersebut. Perjuangan ayah saya dan warga masyarakat untuk membesarkan mushola yang sekarang menjadi masjid tersebut sangat panjang. Alhamdulillah berkat ridho Allah SWT akhirnya Masjid Babul Jannah berkembang dengan pesat sampai dengan saat ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2372235747/e00b7a96e880f8270e04dbe352d54e0d/c48a44a7_817b_4d17_9c5d_a3cbcfad5ac2.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-11 15:57:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914179428</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berjuang Mendapatkan Hak Istimewa </title>
         <author>akmaliberliana</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914314615</link>
         <description><![CDATA[<p>Berbicara mengenai posisi dan peran sosial di dalam masyarakat, tentu hal tersebut akan berhubungan dengan hak istimewa yang dimiliki oleh seseorang. Semua orang yang dilahirkan ke dunia pada dasarnya memiliki hak istimewanya masing-masing baik yang telah disadari maupun yang belum disadarinya. Hak istimewa tersebut tidak hanya sebatas kedudukan sosial-ekonomi yang diturunkan dari keluarga melainkan hak istimewa dapat berasal dari profesi atau pekerjaan, jasanya, gendernya, dll. Hak istimewa itu yang nantinya akan memengaruhi posisi dan peran sosial seseorang, jalan pikirnya dalam melihat dunia, serta lingkungan pergaulannya.</p><p><br/></p><p>Bagi saya untuk mendapatkan posisi dan peran sosial yang layak diperlukan adanya tekad yang kuat dan perjuangan yang ekstra. Hal itu dapat saya lihat dari perjuangan orang tua saya. Sejak orang tua saya menikah, mereka belum memiliki pekerjaan yang tetap bahkan hingga kakak saya dilahirkan. Namun mereka tidak pantang menyerah, keduanya berusaha untuk meraih posisi sosial yang lebih layak dengan menjadi guru PNS. Ibu saya diangkat menjadi PNS pada tahun 2004 setelah mendaftar selama lima tahun di mana pada tahun tersebut saya sudah lahir sedangkan ayah saya baru diangkat menjadi PNS di tahun kesembilan. Selama rentang waktu tersebut keduanya mencari pekerjaan sampingan dengan berjualan untuk menghidupi kedua anaknya. Dari perjuangannya itu, alhamdulillah sekarang keduanya dikaruniai empat orang anak serta dapat hidup berkecukupan dengan segala akses dan hak istimewa yang didapatkan. Sejak menjadi guru PNS, kedua orang tua saya lebih dikenal di masyarakat tempat kami tinggal bahkan kebanyakan dari tetangga saya tidak mengetahui nama orang tua saya, mereka biasa menyapa dengan sebutan "Pak Guru/Bu Guru". Karena hal itu juga ayah saya ditunjuk menjadi ketua RT dan telah menjabat empat tahun lamanya. Hal istimewa yang saya dapatkan adalah saya sering disapa oleh para tetangga dengan ramah, banyak dari mereka sering membagikan makanan kepada kami sekeluarga. Hubungan antar para tetangga pun menjadi harmonis dilihat dari kompaknya ketika mengadakan kegiatan sosial. Saya juga ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan/acara sosial seperti ikut kerja bakti, menjadi panitia acara Agustusan, panitia lomban, dll.</p><p><br/></p><p>Sama halnya dengan posisi sosial saya sekarang sebagai mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Tidar yang dapat saya raih dengan penuh perjuangan. Sebelum mendapatkan posisi tersebut saya telah mencoba mendaftar di dua universitas dan satu sekolah kedinasan. Namun akhirnya saya mencoba kembali mendaftar di Universitas Tidar dan alhamdulillah rezeki saya untuk diterima sebagai mahasiswa di sana. Setelah mendapatkan posisi sebagai mahasiswa, saya berusaha keras untuk tidak mengecewakan kedua orang tua saya dengan fokus berkuliah. Saya memiliki hak istimewa berupa akses buku kuliah yang kebanyakan saya dapatkan dari buku lama milik orang tua saya. Saya juga terlibat dalam kegiatan nonakademik beladiri taekwondo yang telah saya tekuni sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Sebuah anugerah bagi saya karena mendapat orang tua yang mampu memberikan dukungan penuh terhadap hal-hal yang saya minati hingga sekarang saya masih membawa peran sosial di dalam taekwondo. Orang tua saya meyakinkan kepada saya bahwa kalimat "Jika kamu mau pasti mampu" dan ya kalimat itu nyata adanya. Sekarang saya memiliki pengalaman menjadi seksi acara (MC) untuk acara ujian kenaikan sabuk taekwondo, menjadi asisten pelatih di sebuah sekolah menengah atas, serta menjadi wasit daerah provinsi Jawa Tengah untuk cabor Taekwondo bidang kyurugi dan poomsae.</p><p><br/></p><p>Berliana Akmali Nurul Karima</p><p>2220301080</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339496213/044251a8fa0f77a0a48d4899ce5e73db/IMG_20230827_WA0004.jpg" />
         <pubDate>2024-03-11 17:39:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914314615</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aku dan Segala Peranku di Usiaku</title>
         <author>nabilaardania</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914899142</link>
         <description><![CDATA[<p>Hai semuanya, udah pada kenal saya kan? Sebelumnya, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa semuanya! Jadi di sini, saya akan menceritakan mengenai peranan saya dalam masyarakat.<br><br>Saat di rumah, saya menjadi anak tunggal serta menjadi cucu pertama dari kakek nenek saya. Sehingga, Almarhum kakek sangat memanjakan saya. Dulu, setiap pulang sekolah saya selalu dijemput menggunakan sepeda ontelnya walaupun beliau baru saja pulang dari mengambil gas elpiji. Sedikit informasi, Almarhum kakek saya adalah penjual gas elpiji. Selain selalu dijemput, saya selalu dibelikan minuman kesukaan saya yaitu yakult. Bersama beliau, apapun yang saya inginkan selalu dituruti. Bahkan uang jajan pun terkadang saya meminta kakek saya karena uang saku dari ayah dan ibu belum cukup. Kakek juga sering menjemput dan mengantarku ketika bermain ke rumah teman, karena dulu saya belum diperbolehkan untuk mengendarai sepeda motor sendiri. Namun, itu semua berakhir ketika kakek meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Saya merasa sangat kehilangan kakek karena selama ini kakeklah yang merawat saya ketika orang tua saya bekerja. Bahkan waktu ayah saya masuk rumah sakit pada waktu bulan puasa, beliau membantu saya untuk menyiapkan menu berbuka puasa dan sahur karena ibu saya menunggu ayah di rumah sakit. Saya belum sempat membalas kebaikan kakek kepada saya, jadi saat ini saya hanya bisa membantu dengan mengirimkan doa kepada kakek. Saya harap teman-teman yang membaca juga bisa membantu saya untuk mendoakan kakek agar beliau dilapangkan kuburnya. Saya sangat menyayangi kakek, jujur saja saat mengetik esai ini saya hampir saja menangis karena teringat kakek. <br><br>Di desa saya, kebetulan saya diamanahi sebagai sekretaris di kepemudaan. Hal ini tentu saja membuat saya dikenal oleh sebagian besar orang di desa karena aktif dalam organisasi. Saya juga selalu aktif untuk mengikuti program kerja yang dibuat oleh pemuda, entah itu kegiatan Ramadhan, kegiatan 17 Agustus, dan kegiatan-kegiatan lain. Sejujurnya memang saya sudah aktif kepemudaan semenjak saya SMP, karena itu saya melanjutkan hingga saat ini. Di kepemudaan, saya juga diperlakukan baik oleh teman-teman dan kakak kakak pemuda, serta dibimbing sehingga saya merasa betah dan nyaman di kepemudaan. Ada kala ketika santai, kami bercanda dan tertawa tanpa membedakan umur, sehingga saya merasa betah dan merasa mereka peduli pada saya. Untuk itu, saya selalu menghormati mereka walaupun mungkin kita sangat dekat di kepemudaan, namun ada peran berdasarkan umur yang harus saya terapkan.<br><br>Selain oleh kakek, di Universitas Tidar, saya mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa bernama UKM IQSAN UNTIDAR. Di UKM IQSAN, dahulu saat menjadi maba saya benar-benar dijaga layaknya adik sendiri. Apalagi disaat pertama kali latihan rebana, Mbak Dhiyah sebagai sekretaris divisi selalu dengan sabar menuntun saya hingga saya bisa melagukan sholawat yang diajarkan oleh dia. Tidak hanya Mbak Dhiyah saja, namun seluruh fungsionaris UKM IQSAN juga memperhatikan saya dan anggota-anggota lain dengan adil sehingga disaat masuk ke UKM IQSAN mereka akan betah dan seperti memiliki keluarga baru. Saat ini, saya sudah menjadi bagian dari fungsionaris UKM IQSAN. Maka dari itu, agar tradisi dari UKM IQSAN tetap terjaga maka saya harus bisa menjadi kakak yang baik bagi adik-adik saya di UKM IQSAN.</p><p><br/></p><p>Nama: Nabila Ardania</p><p>NPM: 2220301054</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339163901/879cc4ab4d868ee5c585f1c3cdc14711/DSC00148.JPG" />
         <pubDate>2024-03-12 03:08:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914899142</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peranku sebagai pemudi di masyarakat</title>
         <author>deviamutiara02</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914963611</link>
         <description><![CDATA[<p>Perkenalkan saya Devia Mutiara Jayanti. Orang rumah biasa memanggil saya dengan sebutan Devia atau Via. Saya seorang mahasiswa yang saat ini masih menempuh semester 4. Saya berasal dari keluarga yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Saya tidak memiliki posisi yang begitu penting di masyarakat. Saya hanyalah seorang pemudi yang hanya mengikuti aturan dan norma di masyarakat.  Di dalam lingkungan masyarakat, saya merupakan pemudi yang selalu berusaha untuk aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Misalnya saja pada saat kegiatan HUT RI saya menjadi panitia di acara tersebut, kemudian acara pengajian, dan kumpulan rutin pemuda-pemudi. Dari kegiatan itu, saya berusaha menempatkan posisi saya sebagai pemudi untuk aktif dalam berkegiatan di masyarakat. </p><p><br/></p><p>Meskipun berasal dari keluarga yang biasa saja, Bapak dan Ibu selalu berpesan kepada saya untuk ‘srawung’ dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Bapak dan ibu berpesan berinteraksi dengan masyarakat itu sangat penting, karena kita makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri, pasti kita membutuhkan bantuan masyarakat sekitar. Oleh sebab itu, saya sebisa mungkin menempatkan posisi saya sebagai pemudi di masyarakat dengan mengikuti kegiatan bermasyarakat. </p><p><br/></p><p>Selain sebagai pemudi yang aktif di kegiatan masyarakat, saya sebagai mahasiswa juga dipandang sebagai seorang yang berpendidikan oleh masyarakat. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk menjaga nilai dan norma yang ada di masyarakat. Selalu menaati peraturan yang ada. Sebab, saya sebagai mahasiswa harus bisa menjadi panutan yang baik untuk generasi pemuda-pemudi yang lainnya. </p><p><br/></p><p><strong>Devia Mutiara Jayanti</strong></p><p><strong>2220301100</strong></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339221931/3af64e7e337bfbccebc457aebfb62498/367409543_694051225884800_314071659917681765_n_webp__1_.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 04:06:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2914963611</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gadis tanah Jogja</title>
         <author>imeldadeakartika</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915025086</link>
         <description><![CDATA[<p>Perkenalkan nama saya Imelda Dea Kartika. Saya sering dipanggil dengan sebutan Mel, Imel, Imelda, Melda, dan banyak panggilan yang diberikan orang kepada saya. Saya adalah mahasiswi semester 4 yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Magelang, yaitu Universitas Tidar. Saya mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya berasal dari keluarga tentara yang mengharuskan saya hidup berdampingan dengan kehidupan militer yang memiliki banyak aturan yang cukup ketat. Meskipun saya hidup di lingkungan tantara, tetapi ketika saya pulang ke daerah asal saya di Jogja maka saya hanyalah masyarakat biasa.</p><p><br/></p><p>Saya tidak memiliki posisi yang begitu penting di lingkungan masyarakat. Tetapi ketika saya dan keluarga saya sedang berada di Jogja, maka saya akan diajarkan oleh nenek saya untuk sering mengunjungi beberapa rumah yang berada di lingkungan rumah nenek saya. Sekedar bertukar sapa dengan tetangga yang berada di Jogja. Ketika sedang berada di suatu acara yang harus melibatkan banyak tenaga, maka saya akan dengan hati membantu untuk meringankan beban pekerjaan. Ketika saya di Jogja, saya bertemu dengan banyak saudara-saudara yang juga membantu ketika ada sebuah acara di desa. Saya akan di ajak oleh saudara saya untuk ikut membantu pekerjaan yang ada. Meskipun hanya hal kecil, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk dapat berbaur dengan masyarakat yang ada di desa saya.</p><p><br/></p><p>Saya adalah anak yang pendiam dan kurang bersosialisasi di masyarakat. Dikarenakan lahir dari keluarga tentara membuat saya sering berpindah-pindah tempat tinggal, hal tersebut yang terkadang membuat saya sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tetapi meski begitu, saya diajarkan oleh orang tua saya untuk tetap bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di lingkungan baru saya. Meskipun terkadang dapat menguras tenaga saya sebisa mungkin untuk menjalin hubungan yang baik di lingkungan tempat saya tinggal dan mengikuti norma dan aturan yang ada. Sebisa mungkin saya menempatkan diri saya sebagai pemudi yang baik.</p><p><br/></p><p>Saya adalah anak yang paling dewasa di lingkungan rumah saya di Magelang. Tidak ada anak seumuran saya di sekitar rumah saya, hal tersebut juga terkadang membuat saya harus dapat menjadi contoh yang baik untuk adik saya, terutama anak-anak kecil yang ada di sekitar saya. Saya selalu berusaha menaati semua aturan dan norma yang ada di lingkungan kemiliteran. Karena bagaimanapun saya harus bisa menjadi panutan yang baik untuk anak-anak yang ada disekitar saya.</p><p>&nbsp;</p><p>Imelda Dea Kartika</p><p>2220301086</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2373319762/72449d8ad7cd1263496ec3d3d9243800/WhatsApp_Image_2024_03_12_at_12_08_05.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-12 05:10:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915025086</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Saya dalam Kehidupan Bermasyarakat</title>
         <author>naswamaulida49</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915170067</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya lahir dari sebuah keluarga yang dapat dikatakan biasa dan bukan berasal dari keturunan keluarga berdarah biru. Ayah, Ibu, dan Kakak saya semuanya mempunyai pekerjaan yang dapat dikatakan sedikit memiliki pengaruh di masyarakat. Ayah saya merupakan PNS TNI yang sudah purna tugas, beliau juga seringkali menjadi imam di masjid desa saya. Lalu, Ibu saya bekerja sebagai guru PAUD, sedangkan kakak saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit, kakak saya juga seringkali membantu warga setempat yang membutuhkan pertolongan. Sementara itu, saya belum mempunyai pekerjaan, tetapi sekarang sedang berstatus sebagai mahasiswa. Semua itu tidak serta merta jatuh dari langit dan tanpa memerlukan usaha. Ayah, Ibu, Kakak, dan saya sendiri berusaha dalam mencapai status sosial tersebut. Sebagai mahasiswa saya pun sebelumnya juga merasakan perjuangan untuk dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Belajar, belajar, dan belajar, hal itulah yang menjadikan saya sebagai mahasiswa. Dalam masyarakat, mahasiswa dipandang sebagai seseorang yang pandai dan terpelajar, sehingga saya pun mau tidak mau dapat memenuhi ekspektasi mereka walaupun belum bisa sepenuhnya. Selain itu, posisi saya di masyarakat adalah sebagai pemudi yang taat kepada aturan yang telah ditetapkan. Saya juga berkomunikasi dan berhubungan baik dengan tetangga serta masyarakat sekitar. Apabila terdapat suatu acara yang diselenggarakan di desa saya, saya akan berusaha untuk mengikutinya.</p><p><br/></p><p>Sebagai anak bungsu yang mempunyai gender perempuan, pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti memasak, bersih-bersih, dan mencuci sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah untuk dikerjakan oleh anak perempuan. Walaupun orang tua saya tidak selalu menuntut untuk melakukan semua pekerjaan rumah tersebut, tetapi sebagai seorang anak sudah seharusnya saya dapat membantu. Apabila ada waktu luang di sela-sela kesibukan kuliah, saya sempatkan untuk membantu pekerjaan rumah meski hanya bersih-bersih saja.</p><p><br/></p><p>Selain itu, peran sosial saya di masyarakat sebagai seorang remaja berumur hampir 20 tahun adalah tetap menjalankan perilaku sopan santun kepada orang lain, terutama kepada orang yang lebih tua. Sopan santun yang lazim dilakukan di lingkungan sekitar saya yaitu seperti menghormati orang yang lebih tua, menyapa ketika bertemu dengan orang lain, berpamitan kepada orang tua saat akan pergi, dan lain sebagainya. Tak jauh berbeda ketika saya di kampus, saya juga menghormati serta bersikap sopan dan santun kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan.</p><p><br/></p><p><strong>Naswa Maulida</strong></p><p><strong>2220301083</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2373486717/df6bc9b6a0166c8ada20ac56bcee40e7/WhatsApp_Image_2024_03_12_at_14_03_06.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-12 07:14:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915170067</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan peran sosial sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan mahasiswa</title>
         <author>meilaniputrii123</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915211103</link>
         <description><![CDATA[<p>Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu memegang posisi dan peran sosial masing-masing. Sebagai individu, saya menyadari bahwa saya memiliki beberapa posisi diantaranya sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan mahasiswa. Dari ketiga posisi tersebut, saya memiliki peran yang beragam sesuai dengan posisi yang miliki. Dan saya menyadari selaras dengan posisi dan peran sosial saya dalam masyarakat yang banyak, maka tanggung jawab yang saya emban juga semakin banyak.</p><p><br/></p><p>Sebagai anggota keluarga saya memiliki peran sebagai seorang anak sekaligus saudara. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara dan saya memiliki seorang kakak perempuan. Sebagai anak saya berperan untuk selalu menghormati dan patuh terhadap orang tua saya. Saya juga memiliki peran untuk membantu pekerjaan rumah seperti menyapu, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya. Sementara sebagai saudara, peran saya diantaranya yaitu menjadi adik yang menghormati kakak serta menjadi pendengar yang baik bagi kakak saya.</p><p><br/></p><p>Selain sebagai anggota keluarga, saya juga memiliki posisi sebagai anggota masyarakat. Saya tinggal di sebuah desa di Mertoyudan. Sebagai anggota masyarakat, saya memiliki peran untuk menjaga kerukunan antar masyarakat. Saya juga mengikuti organisasi di desa saya seperti karang taruna dan remaja masjid. Melalui organisasi tersebut, saya telah berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan sosial di dalamnya seperti menjadi panitia saat perayaan HUT RI, dan menjadi pengajar di TPQ.</p><p><br/></p><p>Yang terakhir yaitu saya memiliki posisi sebagai mahasiswa karena saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Tidar Magelang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Posisi mahasiswa memberi saya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan saya. Peran saya sebagai seorang mahasiswa adalah aktif mengikuti kegiatan perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dengan sungguh-sungguh.</p><p>&nbsp;</p><p>Meilani Putri (2220301102)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341165731/797b53a099371d592e6d4658dccb0bcc/IMG_20240312_132723.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 07:46:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915211103</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran dan Posisi saya dalam Kehidupan</title>
         <author>auliaipa14</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915235218</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya  memiliki peran sebagai warga negara Indonesia (WNI) yang telah dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda penduduk (KTP). Sebagai seorang warga Indonesia yang baik, maka saya harus taat pada aturan dan norma yang ada di sesuai peran saya dimanapun saya berada. </p><p>Saya harus dapat memposisikan diri saya dengan benar sesuai dengan tempatnya. Ketika saya berada di rumah khususnya ketika berkumpul dengan keluarga, saya harus melakukan peran saya sebagai anak sulung. Saya harus dapat memberikan contoh yang baik pada saudara saya. Orang tua saya selalu mengajarkan saya untuk menjadi seorang yang mandiri dan pekerja keras. Sedari kecil, saya terbiasa dilatih untuk mendapatkan hal yang saya inginkan dengan usaha saya sendiri. Orangtua saya hanya berperan sebagai pendukung dan motivator agar saya semangat dan bisa mendapatkan hal yang saya inginkan. Hal tersebut menurut saya tentunya sangat bermanfaat. Sebagai seorang anak pertama, tentunya saya harus mengajarkan pada saudara saya agar menjadi individu yang mandiri sehingga tidak merepotkan orang lain.</p><p><br></p><p>Berbeda dengan peran saya di rumah. Ketika berada di lingkungan pendidikan, saya bukan lagi seorang anak sulung. Namun, saya adalah seorang mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang sedang belajar di Universitas Tidar. Peran saya ketika menjadi mahasiswa adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Harapannya adalah agar mahasiswa dapat menjadi agent of change. Selain itu, dalam lingkungan pertemanan, saya harus menciptakan lingkungan yang positif, yang dapat membawa saya ke arah yang lebih baik. Saya selalu memposisikan diri saya sebagai seorang pendengar yang baik, tujuannya adalah agar teman teman saya dapat nyaman untuk bercerita dan berdiskusi dengan saya.</p><p><br></p><p>Peranan yang terakhir adalah peran saya dalam lingkungan masyarakat. Lingkungan saya termasuk dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya sudah berumur. Cara saya melakukan peran saya di masyarakat adalah dengan menerapkan unggah ungguh/ tata Krama. Sebagai orang yang lebih muda, tentunya saya harus memiliki rasa Hormat terhadap orang yang lebih tua dari saya. Sikap hormat tersebut contohnya adalah ketika saya berpapasan dengan mereka, saya harus bertegur sapa dan berjalan dengan posisi badan agak diturunkan untuk menunjukkan rasa hormat. Hanya dengan hal sekecil itu, membuat mereka senang karena merasa dihargai dan dihormati. </p><p><br></p><p>Sebagai seorang manusia yang memiliki banyak peran baik di lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat, kita harus pandai dan bijak untuk melakukan peran sesuai dengan aturan yang berlaku di setiap tempat. Kita harus menyesuaikan dengan norma norma yang berlaku pada masyarakat tempat kita berada.</p><p><br></p><p>AULIA IZZA PUJI ASANTI</p><p>2220301085</p><p>PBSI 02</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339482093/c67e1217a9d9791032e6e7d96f79e39d/IMG_20231207_WA0020.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 08:05:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915235218</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran dan Posisiku di dalam kehidupan</title>
         <author>rachagetspotlight8</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915271233</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Perkenalkan nama saya Aurelia Aditya Putri. Orang-orang biasa memanggil saya Aurel, tapi orang-orang terdekat biasanya memanggil saya dengan panggilan Cici. Saya lahir di keluarga yang dapat dibilang biasa-biasa saja. Ayah saya seorang pegawai swasta yang selalu bertemu dengan banyak orang baru dan ibu saya sebagai ibu rumah tangga. Saya sendiri merupakan seorang mahasiswa semester empat di salah satu perguruan tinggi di kota Magelang yaitu Universitas Tidar Magelang dengan jurusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.</p><p><br/></p><p>Sebagai makhluk sosial tentunya saya memegang posisi dan peran sosial. Dalam lingkungan masyarakat saya tidak memiliki posisi yang terlalu penting. Namun, sebagai seseorang yang hidup dimasyarakat tentunya saya haruslah menaati aturan serta norma-norma yang ada dimasyarakat. Dengan bantuan didikan dari orang tua dan lingkungan terdekat, saya dapat memposisikan diri saya ketika berada di suatu tempat. Ketika berada di lingkungan kampus atau sekolah saya memiliki posis sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Sehingga saya harus bersikap selayaknya mahasiswa yaitu memiliki sikap yang baik, saling menghargai orang lain, dan tentunya belajar dengan sungguh-sungguh.</p><p><br/></p><p>Berbeda dengan posisi saya ketika berada di kampus. Posisi saya ketika berada di rumah adalah sebagai anak dan saudara. Posisi saya dirumah juga berkaitan dengan peran yang saya dapatkan berdasarkan gender. Ketika dirumah saya yang bergender perempuan tentunya memiliki tugas lain selain berposisi sebagai anak. Namun, pekerjaan rumah tidak sepenuhnya saya ambil alih biasanya saya hanya membantu ibu atau kakak saya saja ketika mereka kerepotan dalam pekerjaan rumah. </p><p><br/></p><p>Kemudian ketika saya berada di lingkungan masyarakat tentunya posisi saya berbeda dari dua posisi sebelumnya. Saya memegang posisi sebagai anggota masyarakat. Lingkungan saya yang memiliki cukup banyak orang tua yang dihormati, membuat saya harus memiliki sikap sopan santun yang baik. Seperti menyapa orang lain, menegur atau memberi salam dengan sopan, ikut tolong menolong, dan ikut dalam kegiatan yang terdapat dimasyarakat. Orang tua saya selalu mengatakan pada diri saya bahwa sopan santun itu akan selalu dipakai dimanapun saya berada. Oleh karena itu memiliki etika sangatlah penting. Hal ini pula yang membuat saya menjadi terbiasa akan sikap sopan santun dan memperhatikan hal-hal kecil seperti mengucapkan maaf, terimakasih, dan tolong. </p><p><br/></p><p>Aurelia Aditya Putri</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow">2220301091</a></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341123043/69f837284f823ff4897f776bddc0636c/2A86AE2C_802E_4DEC_8BA4_F15BD013B327.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-12 08:39:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915271233</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran yang Menjadi Beban yang Harus Dipikul Pundak Saya </title>
         <author>pujilestari1089</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915310679</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo semuanya, kembali lagi bersama saya Puji dalam esai bertema Posisi dan Peran Sosial. Pada esai saya sebelumnya, saya sempat menyebutkan bahwa saya tinggal di Magelang. Lebih tepatnya di daerah Kabupaten Magelang. Tempat tinggal saya tidak banyak dikenal oleh orang, bahkan tidak jarang orang salah mengenali alamat rumah saya dengan tempat lain. Terlahir di negara Indonesia secara otomatis membuat saya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sejak kecil. Setelah mendapatkan Kartu Tanda Penduduk, status kewarganegaraan saya secara legal menjadi WNI.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Saya lahir di keluarga biasa yang tidak memiliki status tertentu. Ibu saya bekerja sebagai buruh pabrik dan ayah saya merupakan seorang petani. Peran saya di masyarakat tentunya tidak memiliki banyak dampak, hanya sebagai bagian pelengkap dari organisasi karang taruna di kampung saja. Tumbuh sebagai anak yang pendiam membuat saya cukup kesulitan memposisikan diri dalam lingkungan masyarakat. Akan tetapi, saya berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang akhirnya bisa menerima diri saya apa adanya. Organisasi karang taruna di tempat saya tidak terlalu sering mengadakan kegiatan besar, hanya sebatas menyelenggarakan lomba saat HUT RI.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Menjadi satu-satunya pemudi dengan rentang usia 20, membuat saya cukup sering ikut serta dalam acara-acara yang diselenggarakan di kampung saya. Walaupun pada saat ikut andil, saya akan ditemani oleh pemudi yang usianya di bawah saya. Kebanyakan pemudi seusia saya di kampung sudah menikah dan tidak lagi menetap di rumah orang tua. Oleh karena itu, saat ikut "<em>laden</em>" saya akan ditemani oleh oara pemudi yang masih anak SMA. Namun, hal tersebut tidak menghalangi saya untuk berperan aktif dalam lingkungan masyarakat.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Selain menjadi anggota karang taruna, saya memiliki status sosial yang saya dapatkan melalui usaha sendiri melalui jalur pendidikan. Menjadi seorang mahasiswa masih menjadi hal yang langka di daerah tempat tinggal saya. Terhitung hanya saya, kakak sepupu saya, dan kakak perempuan saya yang memiliki status mahasiswa di kampung Bandungan. Status mahasiswa ini membuat orang-orang sering memanggil saya dengan sebutan "Mbak". Selain itu kakak perempuan saya yang berprofesi sebagai guru membuat orang-orang semakin bersikap sopan terhadap saya. Posisi dan peran sosial yang didapatkan oleh kakak saya itu, membuat saya berkeinginan menjadi seorang guru juga.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Memiliki status sebagai mahasiswa tidak semata-mata membuat saya tinggi hati. Melainkan hal tersebut membuat semangat saya semakin terpacu untuk terus menggapai impian saya memperbaiki status keluarga saya. Keinginan saya untuk menaikkan derajat sosial orang tua adalah bahan bakar yang menjadi pemantik semangat saya berkuliah.&nbsp;</p><p><br></p><p>Puji Lestari</p><p>2220301089</p><p>PBSI 02 (B)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339219265/e2ab2ddcf53420247a4d3e1f1c1e5f5d/IMG_20240221_WA0008.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 09:15:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915310679</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Sosial</title>
         <author>rarayazera</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915323448</link>
         <description><![CDATA[<p>Kehidupan bermasyarakat tidak terlepas dari posisi dan peran sosial. Setiap individu pastinya memiliki posisi dan peran sosialnya masing masing. Saya memiliki peran sosial di dalam keluarga yaitu menjadi anak yang berbakti dan menghormati kedua orang tua. Saya juga memiliki satu adik kandung yang harus selalu saya jaga dan sayangi. Saat berada di masyarakat peran sosial saya adalah menjadi warga yang baik dan menaati peraturan yang berlaku. Saya juga sering membantu kegiatan kegiatan seperti lomba 17 Agustus. </p><p><br/></p><p>Saat di Kampus peran sosial saya adalah sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang patuh akan aturan yang ada di dalam Kampus dan saling menghormati satu sama lain. Saya juga saat ini sedang menjadi asisten dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Menjadi asisten dosen adalah salah satu pencapaian dalam hidup yang sudah berhasil saya capai.</p><p><br/></p><p>Peran menjadi asisten dosen dan juga mahasiswa, mendorong saya untuk dapat membagi waktu dengan baik. Pada satu sisi saya sebagai mahasiswa harus bisa belajar dan mengerjakan tugas tugas dari dosen tapi dilain sisi saya sebagai asisten dosen juga harus bisa membantu mahasiswa dalam kegiatan berdiskusi saat dikelas. Biasanya saat sedang menemani kegiatan berdiskusi di Fakultas Teknik saya sering dipanggil "mbak" sementara itu saat saya sedang menemani kegiatan berdiskusi di Fakultas Peternakan saya sering dipanggil "bu". Perbedaan pemanggilan itu tidak terlalu saya pikirkan. Hal yang terpenting adalah walaupun saya sama sama masih seorang mahasiswa tetapi tetap saling menghormati.</p><p><br/></p><p>Nilam Rizki Yazera</p><p>2220301072</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341145085/4340e3ea6b0f27c08db2da0e62fb9c73/1708157309186.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 09:26:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915323448</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Saya dalam Kehidupan Bersosial dan Bermasyarakat</title>
         <author>imattriyanj</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915420110</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo! Nama saya Imatriya Nur Jannah dan ini adalah tulisan kedua saya. Saya lahir dari keluarga dengan silsilah yang cukup menarik, yang membuat saya banyak dikenal dan dipercaya oleh orang-orang desa. Nenek buyut saya memiliki delapan anak, masing-masing berkeluarga dan menetap di kota yang berbeda-beda. Oleh karena itu, rumah nenek buyut saya menjadi tempat yang paling ramai saat hari besar tiba. Tidak hanya ramai oleh kerabat, para tetangga di desa pun menghormati nenek buyut saya. Beliau memang salah satu orang sepuh yang usianya hampir mencapai satu abad. Saya cukup dikenal orang-orang desa karena hal itu. Katanya, "oh, cucunya simbah, ya, Nduk?"</p><p><br></p><p>Bukan hanya nenek buyut, nenek dari pihak bapak juga turut memberi pengaruh pada kehidupan saya. Beliau adalah seorang penjahit yang mumpuni di bidangnya dan telah menggeluti pekerjaannya selama 50 tahun. Ibu saya sendiri sangat dikenal orang-orang desa karena dahulu beliau tidak mau makan nasi sampai usianya delapan belas tahun. Unik, memang, tapi itu justru menjadi salah satu alasan saya dikenal orang-orang desa. Begitu juga dengan bapak. Beliau dahulu tipe anak begundal yang luar biasa. Tidak suka berbicara tapi langsung bertindak dengan tegas. Makanya, orang-orang desa menganggapnya menakutkan. Sekarang sebenarnya tetap menakutkan, tapi beliau ayah yang penyayang dan mengayomi. Otaknya cerdas, nyalinya tinggi, bukan kepala desa tapi kerap kali dicari untuk dijadikan <em>penasehat</em> dadakan. </p><p><br></p><p>Terlepas dari keluarga saya, orang-orang desa kebanyakan memandang saya sebagai gadis yang pintar dan pemalu. Saya sangat terobsesi dengan buku saat saya kecil, berkali-kali mendapat juara dan mengikuti lomba. Saya juga heran mengapa sifat itu sekarang menghilang. Sejak kecil saya diajari untuk tersenyum dan menundukkan kepala setiap bertemu dengan orang-orang. Sifat itu terbawa sampai sekarang dan menjadi kebiasaan. Para tetangga menyukai saya yang seperti itu. Faktor lain yang membuat saya cukup dihargai di desa adalah fakta bahwa saya telah lolos menjadi seorang mahasiswa. Tidak banyak remaja seusia saya di desa yang mau dan mampu berkuliah. Kebanyakan langsung bekerja atau menikah. Saya adalah keturunan pertama dalam keluarga yang kelak akan menjadi sarjana. Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah bahwa posisi dan peran saya dalam sosial didapat dari faktor kelahiran serta usaha saya sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339168422/2dc75ca356711807534569d5e960eff0/2024031217385125.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 10:49:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915420110</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peranan Saya di Lingkungan Sosial Masyarakat </title>
         <author>nurisyaarvinki</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915621097</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo semuanya</p><p>Perkenalkan saya Nurisya Arvinki dari rombel B. Setiap individu pasti memiliki peranan sosial, entah itu dilingkungan masyarakat, lingkungan kerja dan lain-lain. Saya terlahir dari keluarga yang bisa dibilang hanya biasa biasa saja tidak memiliki pangkat atau dari kalangan bangsawan bapak dan ibu saya bekerja sebagai petani. Namun dalam peranan masyarakat keluarga saya sedikit menonjol mengapa demikian? Karena dari urutannya nenek saya termasuk tertua di kampung tempat saya tinggal oleh karena itu saya selaku keluarganya juga mendapat keuntungan akan hal tersebut dengan banyak orang yang mengenal saya sebagai cucu dari Mbah ini (nenek saya yang menjadi tetua kampung). </p><p><br></p><p>Selain itu, orang tua saya selalu mengajarkan untuk ramah dan sopan santun terhadap setiap orang terlebih lagi orang yang lebih tua. Dalam lingkungan masyarakat saya termasuk anggota masyarakat yang aktif mengikuti kegiatan di kampung dengan peranan sosial sebagai remaja desa. Saya juga sering mengikuti acara-acara mewakili desa seperti ikut pembinaan desa KB dan juga anti <em>stanting</em>. Selain itu saya juga sering mengikuti acara kampung seperti kerja bakti, acara tradisi dan lain lain. Oleh karena itu peranan saya memiliki peranan di masyarakat sebagai masyarakat yang aktif bersosial dan selalu menjunjung sapa, sopan, santun karena didikan dari orang tua saya dari saya kecil. Hasil dari itu semua orang-orang disekitar saya juga sangat ramah dan peduli terhadap saya dan keluarga, selain itu mereka sering memanggil saya dengan sebutan mbak dan tidak sekedar memanggil nama saja. </p><p><br></p><p>Kemudian peranan saya sebagai mahasiswa. Saya menjadi mahasiswa di Universitas Tidar dengan masuk menggunakan jalur beasiswa. Peranan tersebut menjadi penting bagi saya karena dapat memotivasi tetangga-tetangga lingkungan saya untuk bisa melanjutkan di jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu saya juga sering memberikan motivasi kepada teman-teman saya di kampung agar bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena di desa saya masih sangat sedikit yang menjadi lulusan sarjana, kebanyakan hanya selesai di bangku SMA/SMK kemudian untuk perempuan langsung menikah. saya juga menjadi lulusan sarjana pertama di keluarga saya. Sebagai mahasiswa saya menjalankan peranan sosial yang harus saya jalani di lingkungan kampus serta diluar kampus dengan baik agar mencerminkan saya sebagai seorang mahasiswa yang terdidik serta bisa memberikan contoh yang baik di lingkungan.  Kesimpulannya Peranan dan posisi sosial di masyarakat dan lingkungan bisa saya dapatkan dengan faktor keturunan dan saya usahakan sendiri. </p><p><br></p><p>Nurisya Arvinki</p><p>(2220301064) </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339213358/57acaeb0195421d37c553576fef8c98c/IMG_20240312_200903.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 13:21:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915621097</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Saya dalam Kehidupan</title>
         <author>estilisa820</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915666000</link>
         <description><![CDATA[<p>Posisi dan peran saya dalam kehidupan</p><p><br></p><p>Hallo! Perkenalkan kembali nama saya Esti Nor Kholisoh. Teman-teman kampus biasanya memanggil saya estea? Entah mengapa tapi saya suka, kalau orang rumah biasanya dipanggil esti atau isa karena dari kecil biasa dipanggil seperti itu. Saya merupakan anak perempuan pertama dari bapak edy yang bekerja sebagai perangkat desa dan ibu siti sebagai pedagang dan ibu rumah tangga. Saya mempunyai adik yang sekarang duduk di kelas 2 SD. Yaa perbedaan yang sangat jauh, saya dan adik saya selisih sekitar 12 tahun. Saat ini saya merupakan mahasiswa semester 4 di Universitas Tidar Magelang dengan mengambil jurusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.</p><p><br></p><p>Saat menjadi siswa, saya dulu berperan aktif berorganisasi mulai dari SMP, mengikuti kegiatan-kegiatan seperti OSIS, pramuka mengajar, dan silat. Tetapi ketika masuk SMA saya tidak terlalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut karena saya fokus belajar untuk masuk perguruan tinggi negeri. Namun, sebagai siswa pada saat itu tentunya saya tetap mentaati peraturan dan norma yang ada di sekolah begitu pula di masyarakat. Pastinya berbeda dengan di sekolah dan dirumah, di lingkungan masyarakat saya juga mengikuti organisasi yaitu remaja masjid, yang dimana di lingkungan masyarakat lebih mementingkan sopan santun (tetapi dimana pun juga sopan santun itu penting) biasanya juga mencerminkan budaya atau nilai-nilai yang menekankan pentingnya menghormati orang lain, berkomunikasi dengan baik dan menjaga erika dalam interaksi sosial</p><p><br></p><p>Kemudian yang terakhir peran sosial saya adalah sebagai mahasiswa aktif. Didalam kampus saya juga menerapkan 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun). Saat ini saya kembali aktif mengikuti organisasi mahasiswa yaitu himpunan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Peran saya di ormawa ini cukup penting karena dalam kegiatan atau proker apapun di divisi medinfo termasuk saya harus mendokumentasikan hal tersebut, dengan demikian saya sangat senang tentunya tidak mengganggu saat jam perkuliahan karena saya sudah membagi waktu saya saat organisasi dan perkuliahan.</p><p><br></p><p>Esti Nor Kholisoh</p><p>2210301010</p><p>PBSI A/01</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339220021/6dbee77aadff6d7993ffa881ac3e7593/SNOW_20230523_142631_787.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 13:49:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915666000</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Generasi Penerus</title>
         <author>amarakartikasari357</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915751709</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya Amara Kartika Sari. Pada essay sebelumnya saya sudah sedikit menjelaskan mengenai keluarga saya. Di keluarga besar saya banyak yang berprofesi sebagai guru termasuk kakek dan ibu saya. Kakek saya yang merupakan bapak dari ibu adalah seorang guru. Terdapat pepatah jawa mengatakan “guru” berasal dari kata “digugu lan ditiru”. Dari pepatah tersebut guru menjadi sangat disegani oleh masyarakat sekitarnya, sehingga kakek saya selalu menjadi panutan di masyarakat. Tidak hanya di masyarakat saja, tetapi juga di lingkungan guru beliau juga disegani oleh rekan-rekannya. Pentingnya pendidikan menjadikan profesi guru di keluarga saya terus berlanjut.</p><p><br/></p><p>Ibu saya mengikuti jejak kakek menjadi guru. Ibu saya mengajar Bahasa Indonesia tingkat SMP Negeri di Kabupaten Temanggung, sedangkan dahulu kakek saya mengajar Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat SMP Negeri. Menjadi guru bukan hanya sekedar pekerjaan bagi ibuku, tapi juga sebuah panggilan jiwa. Beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya, menginspirasi mereka untuk meraih cita-cita terbaik mereka. Ibu sebagai guru pengabdiannya dalam mengajar membuat beliau dihormati oleh masyarakat sekitar dan juga lingkungan kerja. Ibu saya tidak hanya menjadi pengajar yang dihormati, tetapi juga menjadi sosok yang dicintai oleh murid-muridnya.<br></p><p>Tidak hanya berhenti disitu saja. Saya saat ini mengikuti jejaknya dalam bidang keguruan. Saya merasa terinspirasi untuk menjadi guru. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Bahasa Indonesia sama seperti ibu saya. Saya berharap menjadi guru sebagai upaya mencerdaskan generasi bangsa. Melalui profesi sebagai seorang guru, saya ingin memberikan kontribusi mengajar yang baik dan membawa semangat bagi siswa nantinya. Saya juga ingin membawa pandangan baik masyarakat kepada keluarga dan diri saya melalui profesi yang saya cita-citakan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Amara Kartika Sari</p><p>2220301096</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339860356/3d3a649e26e5f01d5e68898f0019265c/IMG_2001.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-12 14:41:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915751709</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Saya di Masyarakat dan Kampuas</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915783107</link>
         <description><![CDATA[<p>Perkenalkan nama saya Natijatul Himah, orang-orang biasa memanggil saya Nati. Setiap manusia pasti memiliki posisi dan peran masing-masing, entah itu dilingkungan tempat tinggal maupun ditempat pendidikan. Saya dalam kehidupan sehari-hari berperan sebagai seorang anak dan juga seorang adik. Sedari kecil, saya cukup dekat dengan kakak saya. Walaupun kami terpaut jarak yang lumayan jauh yaitu 9 tahun, namun hal tersebut tidak menjadikan hubungan saya dan kakak saya menjadi tidak dekat. Selain menjadi seorang adik, saya juga berperani sebagai seorang anak yang berusaha berbakti kepada kedua orang tua saya.</p><p><br/></p><p>Selain sebagai seorang anak dan juga adik, saya juga memiliki posisi sebagai anggota masyarakat. Saya dalam kehidupan bermasyarakat bisa dianggap menjadi warga yang cukup aktif dalam kegiatan kegiatan-kegiatan yang diadakan di Desa saya. Saya cukup dikenal di dalam kehidupan masyarakat karena kakak saya yang bekerja di kantor Balaidesa sebagai Kepala Dusun, sehingga saya juga harus ikut serta menjaga nama baik nya. Saya yang dulu nya malas mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh desa, namun semenjak disuruh oleh kakak saya agar aktif mengikuti kegiatan didesa, saya menjad aktif mengikuti kegiatan yang ada.</p><p><br/></p><p>Selain sebagai anggota masyarakat, saya juga berperan sebagai mahasiswa di kampus. Menjadi seorang mahasiswa juga tidaklah gampang seperti yang orang-orang lihat. Ketika menjadi seorang mahasiswa, saya merasa saya mempunyai tanggung jawab yang sangat besar karena kedua orang tua menaruh kepercayaan yang sangat besar kepada saya.&nbsp; Sebagai seorang anak sekaligus mahasiswa, saya harus berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk kedua orang tua saya terutama ibu saya karena ibu saya sangat ingin anaknya menjadi seorang guru. Karena menurutnya, menjadi seorang guru ialah pekerjaan yang sangat mulia. Jadi, saya harus melakukan yang terbaik untuk orang tua saya dan orang-orang terdekat saya.</p><p><br/></p><p>Natijatul Himah</p><p>2220301101</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2374170420/70b8252ff18587c2434135c2848f85ba/WhatsApp_Image_2024_03_12_at_21_57_30.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-12 15:00:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915783107</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengusahakan Sebuah Keseimbangan</title>
         <author>usersevirahma</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915796583</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman !</p><p>Perkenalkan saya Sevi Rahma Heraziza, yang biasa dipanggil Sevi. Baik itu dari keluarga, tetangga, maupun teman-teman saya. Lahir dan besar di lingkungan masyarakat yang sangat beragam, saya yang dididik langsung oleh keluarga juga mendapat didikan langsung maupun tidak langsung dari lingkungan saya. Berada dalam keluarga yang memiliki sejarah cukup dikenal baik oleh masyarakat desa menyebabkan saya juga ikut dikenal oleh sebagian besar masyarakat di desa saya. Kakek saya merupakan seorang imam masjid yang dipercaya oleh masyarakat sebagai imam di masjid desa saya selama bertahun-tahun hingga beliau wafat pada 2008. Kemudian bapak saya merupakan seorang ketua pemuda yang menjabat selama bertahun-tahun dan dihormati oleh masyarakat di desa. Beliau juga sangat aktif dalam berbagai kegiatan yang melibatkan pemuda maupun kegiatan apapun di masyarakat. Karena ketekunan dan keaktifan ini, beliau dipercaya untuk mengurus banyak hal dalam masyarakat. Selain itu, ibu saya juga sangat aktif dalam bermasyarakat. Maka dari itu, kakek hingga bapak ibu saya merupakan warga yang sangat berperan besar dan selalu aktif di desa. Hal ini juga diharapkan menular pada saya, bapak dan ibu sangat berharap saya dapat bersosial di desa dengan baik seperti apa yang telah mereka lakukan sejak dahulu.</p><p>Namun ternyata kepribadian saya sangat berbanding terbalik dengan bapak ibu saya. Mereka cenderung mudah berbaur dan bersosial di masyarakat, akan tetapi saya merupakan seseorang yang pemalu dan tidak banyak bicara. Hal ini juga ditambah karena keluarga saya memiliki latar belakang yang lumayan berperan di desa, saya juga banyak mempertimbangkan perilaku yang saya lakukan di desa. Saya takut melakukan kesalahan dalam berperilaku maupun bertutur kata, sehingga saya cenderung lebih banyak diam. Karena akan selalu mendapat perhatian masyarakat karena latar belakang saya apabila saya melakukam sebuah kesalahan. Hal ini lumayan berpengaruh terhadap peran sosial saya dalam masyarakat. Meskipun demikian, saya selalu mengikuti kegiatan apapun yang dilakukan dan diadakan di desa. Seperti kegiatan remaja dan pemuda, saya selalu mengusahakan untuk ikut andil dalam berbagai kegiatan tersebut. Tetapi karena sifat saya yang tidak banyak bicara, teman-teman sedesa saya seperti sedikit canggung untuk berinteraksi lebih banyak dengan saya. Entah itu terjadi karena sifat saya yang pemalu atau karena latar belakang keluarga saya yang seperti cukup dipandang di desa, dan hal ini sangat berpengaruh dalam peran saya dalam bersosial di desa.</p><p>Kemudian peran sosial saya dalam dunia persekolahan dan perkuliahan cukup sederhana. Selama saya menempuh pendidikan sekolah dasar, saya terbilang cukup aktif untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di sekolah. Selanjutnya ketika saya mulai menduduki bangku SMP, saya mengikuti organisasi Osis dan mengikuti PBB-TUB. Kemudian dalam lingkungan perkuliahan, saya mengikuti salah satu unit kegiatan mahasiswa yaitu UKAI dan mengikuti beberapa kepanitian yang diadakan di kampus. Dapat disimpulkan bahwa peran dan posisi dalam setiap aspek kehidupan ini berbeda-beda. Dalam kehidupan keluarga, saya merupakan seorang anak perempuan dan anak pertama yang memiliki peran saya tersendiri dalam keluarga. Lalu dalam peran bermasyarakat, saya aktif dan banyak mengikuti kegiatan dalam masyarakat, serta memiliki posisi sebagai warga yang baik serta menerapkan sopan santun namun pemalu dan tidak banyak bicara. Sedangkan peran dan posisi saya dalam lingkungan pendidikan yaitu merupakan mahasiswa aktif yang mengikuti berbagai kegiatan yang berada di kampus juga memiliki posisi sebagai salah satu pengurus pada salah satu unit kegiatan mahasiswa.</p><p>&nbsp;</p><p>Sevi Rahma Heraziza (2220301130)</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339220159/004d39d03a97b2d718b088198dbef6f0/WhatsApp_Image_2024_03_12_at_22_01_39.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-12 15:08:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915796583</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran Saya di Lingkungan Masyarakat </title>
         <author>nikitawidhi2118</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915889651</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada tahun 2003, saya dilahirkan di sebuah dusun, yang merupakan dusun terkecil di Desa Rejosari. Tiga tahun sebelum kelahiran saya, tepatnya pada tahun 2000, bapak saya diangkat menjadi kepala dusun. Hingga saat ini, bapak masih menjabat sebagai kepala dusun dan akan memasuki masa purna tugas pada tahun 2030. Dengan posisi bapak sebagai kepala dusun, saya sebagai anak merasa perlu berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Saya menyadari bahwa tindakan dan perkataan saya akan dinilai oleh masyarakat, dan seringkali dikaitkan dengan posisi bapak saya di dusun.</p><p><br/></p><p>Dalam interaksi dengan orang lain, saya selalu berusaha memberikan salam, baik itu dengan menundukkan kepala dan tersenyum, maupun dengan berbincang sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Saya biasa dipanggil "mbak" oleh masyarakat, dan saya juga menggunakan sebutan "mbak" atau "mas" untuk menghormati mereka. Dalam percakapan sehari-hari di lingkungan masyarakat, saya menggunakan bahasa Jawa krama sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.</p><p><br/></p><p>Terkadang, saya merasa terbebani dengan posisi saya sebagai anak kepala dusun, di mana diharapkan selalu menunjukkan citra yang positif di mata masyarakat. Meskipun ada kritikan negatif dari beberapa orang terhadap pekerjaan bapak saya, kami sebagai keluarga tetap berusaha untuk bersikap netral terhadap siapa pun, termasuk orang-orang yang mungkin tidak setuju dengan kepemimpinan bapak saya. Hal ini telah menjadi bagian dari kehidupan kami sejak awal masa jabatan bapak sebagai kepala dusun. Meskipun menghadapi pro dan kontra dari masyarakat, saya bersyukur dengan posisi yang saya miliki saat ini. Menjadi sosok yang dikenal dalam masyarakat memberikan kebahagiaan, dan saya menyadari bahwa penting untuk tetap bersikap sopan dan menghormati orang lain dalam berinteraksi sosial. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340163282/18b3e12d63eecac658a9a6c928a8492c/IMG_20240312_WA0026.jpg" />
         <pubDate>2024-03-12 16:12:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915889651</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Saya dalam Kehidupan</title>
         <author>fikimafaza11</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915933058</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo Semuanya! </p><p>Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit berbagi cerita mengenai peran dan posisi saya dalam kehidupan. Saya merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ibu saya berprofesi sebagai guru dan Bapak saya berprofesi sebagai wiraswasta. Hal unik yang ada di keluarga saya adalah rata-rata mereka berprofesi sebagai guru misalnya saja simbah, om, tante, dan budhe walaupun jenjang profesi guru yang mereka tempuh berbeda. Dalam masyarakat di daerah saya, jika ada yang berprofesi sebagai guru maka akan disegani, karena mereka beranggapan bahwa sosok guru merupakan sosok yang di gugu dan ditiru entah dari ucapan atau perilakunya. Karena saya sebagai seorang anak dari sosok guru, maka terkadang saya dipercaya oleh tetangga saya untuk mengajarkan anaknya mengenai materi sekolahnya, bahkan ada yang menyarankan saya untuk membuka tempat les saja. Tapi hal tersebut tidak saya sanggupi karena saya jarang dirumah. Semenjak memasuki bangku SMA saya berpindah sekolah ke Kota Kebumen dan pulang ketika liburan sekolah saja.</p><p><br/></p><p>Ketika memasuki dunia perkuliahan, saya lebih merasakan atau mendalami peran saya, misalkan saja saya dikelas berperan menjadi ketua kelas yang mengkoordinasikan teman-teman sekelas. Selain itu saja juga bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Himaprodi PBSI)dan berperan menjadi sekretaris. Banyak sekali pengalaman yang bisa saya peroleh ketika saya menjadi sekretaris, misalnya saja menambah keahlian saya dalam mengoperasikan Microsoft Word. Selain Himaprodi PBSI, saya juga bergabung kedalam Himpunan Mahasiswa Bidikmisi dan KIPK Universiras Tidar (HIMADIKTAR) dan berperan menjadi anggota divisi sosmas. Dalam HIMADIKTAR saya pernah diamanahi sebagai ketua pelaksana kegiatan Himadiktar Mengabdi. Setelah saya menjadi ketua pelaksana kegiatan tersebut, saya menjadi tahu bahwa mengatur banyak orang yang memiliki berbagai pikiran yang berbeda ternyata sulit. Tapi dibalik itu semua, saya sangat senang karena dengan berperan dalam suatu organisasi, menjadikan saya mempunyai banyak pengalaman, mempunyai banyak relasi, dan tentunya menjadikan diri ini lebih percaya diri lagi dalam melakukan berbagai hal. Semoga tulisan ini dapat menjadi gambaran bagi teman-teman yang ingin bergabung kedalam organisasi. Ikut organisasi seru banget, makannya kalian harus coba!! </p><p><br/></p><p>Fiki Mahya Mafaza</p><p>2220301055</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340226150/66e888e72f926ea7a77b65435d3767f7/IMG_0191.JPG" />
         <pubDate>2024-03-12 16:46:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915933058</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran serta sumbangsih dalam bermasyarakat
</title>
         <author>abidzakariya54</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915943664</link>
         <description><![CDATA[<p>Kehidupan masyarakat sangat heterogen dan bermacam macam. Dari segi agama sampai profesi bisa di temukan dimanapun. Bahkan satu rumah dengan rumah yang lain bisa dikatakan berbeda. Oleh karenanya, hidup haruslah saling menghargai satu sama lain.</p><p>Perkenalkan nama saya Abid Zakariyya. Saya di lahirkan di jakarta, tempat dimana waktu adalah uang dan orang orang di situ bekerja sangatlah keras dan pantang menyerah. Almarhum Ayah saya adalah pekerja kantoran dengan jabatan HRD sedangkan ibu saya ibu rumah tangga. Sifat ayah saya yang keras kepala serta tegas. Membuat saya bertahan dengan kehidupan yang keras. Serta ibu saya mengajarkan hal hal baik. Sehingga, mereka membuat diriku menjadi seperti ini.</p><p>Di masyarakat, saya di kenal sebagai pribadi yang supel dan aktif dalam bermasyarakat. Semenjak ayah saya tiada, saya mau tidak mau harus bersosialisasi dengan orang di luar. Padahal, saya dahulu adalah pribadi yang tertutup dan jarang bersosialisasi dengan khalayak luar. </p><p>Lalu membicarakan umur, saya sekarang berusia 22 tahun. Dimana masyarakat melihat saya sebagai orang dewasa yang harus bertanggung jawab dengan apa yang di perbuat. Namun, di umur saya. Saya yang pada umumnya orang sudah bekerja, berbalik dengan kenyataan yang ada. Saya mengetahui hal tersebut, sehingga sesekali jika ada pekerjaan sampingan saya seringkali mengambilnya dengan bertujuan agar meringankan orang tua untuk hal jajan. Sehingga terbentuklah sifat mandiri dari hal tersebut.</p><p>Di kampus, saya memposisikan sebagai mahasiswa S1 PBSI dengan hal ini berarti memiliki kesempatan agar menimba ilmu dan memperbanyak relasi dan jika di rumah saya memposisikan diri sebagai anak. Membantu orang tua berdagang di warung. 2 hal tadi saya lakukan dengan seimbang dan tak mengganggu satu sama lain.</p><p><br/></p><p>Abid Zakariyya </p><p>2240301184</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2374404709/8ff6f1296c5b6ea0dc684d0809562555/IMG_0585.JPG" />
         <pubDate>2024-03-12 16:53:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2915943664</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran dan Posisi Saya Di Masyarakat</title>
         <author>aisyaaa304</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916475221</link>
         <description><![CDATA[<p>Posisi dan peran sosial saya tidak begitu penting dulunya. Saya hanya anak dari ibu dan ayah yang status sosialnya hanya masyarakat biasa. Ibu saya hanya ibu rumah tangga dan ayah saya bekerja serabutan. Dulu ayah saya pernah mencalonkan diri sebagai kepala desa namun hanya sampai sebatas mencalonkan, beliau gagal menjadi kepala desa karena tidak banyak suara masyarakat desa yang memilih. Orang tua dan keluarga saya termasuk orang yang tidak menyukai adanya percampuran antara agama dengan kebudayaan jawa. Sekitar tahun 2014 orang tua saya yang dulunya mengikuti organisasi islam yang kental akan percampuran agama dan kebudayaan jawa beralih mengikuti organisasi islam yang murni akan ajaran islam yang dijalankan Nabi Muhammad SAW.<br></p><p><br/></p><p>Dari tahun 2014 sampai 2023 keluarga saya banyak mendapatkan pertentangan dari masyarkat desa bahkan kerabat terdekat. Tetangga banyak yang bergosip, saudara-saudara banyak yang menceramahi orang tua saya dan masih banyak lagi. Saya sendiri merasakan dampaknya. Pada saat kejadian tersebut saya hanyalah siswa MI yang hanya mengikuti langkah orang tua. Saya masih ingat betul teman-teman MI saya banyak bertanya pada saya tentang organisasi islam tersebut dengan pandangan muka aneh mengarah pada saya, seperti mengatakan saya bukan lagi bagian dari mereka. Saya menanggapi pertanyaan-pertanyaan teman saya dengan cuek dan bodo amat karena saya tidak tahu apapun dengan keputusan orang tua saya saat itu, tetapi sebenernya saya merasa sangat sedih dan merasa dikucilkan karena berbeda sendiri dari mereka.&nbsp;<br></p><p><br/></p><p>Pada tahun 2023 bulan april lalu ayah saya meninggal dan ibu saya menikah lagi pada tahun 2024 bulan maret ini. Suami ibu saya sekarang memegang posisi di salah satu organisasi islam lain dari yang saya sebutkan di atas di cabang kota saya. Beliau pensiunan dan memiliki title Doktorandus. Dampak positifnya ibu saya tidak mendapat cibiran dan omongan tidak sedap didengar lainnya. Derajat ibu saya seperti ditinggikan secara drastis di desa saya karena menjadi istri dari orang pensiunan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Saya sangat bangga dan mengapresiasi kepada orang tua dan keluarga saya karena bisa memilih jalan kehidupan mereka sendiri dan bertanggung jawab serta melewati resiko yang mereka terima. Intinya saya merasakan perbedaan peran dan posisi sosial antara dulu dan sekarang. Jika dulu saya merasa mudah dijatuhkan karena tidak ada hak istimewa yang bisa membantu saya, namun sekarang saya merasa ada di atas mereka-mereka yang dulu meremehkan keluarga saya. Jadi, hak istimewa itu memang nyata adanya dan tidak semua orang bisa memilikinya. Sekian essay dari saya, terima kasih telah membaca.</p><p><br/></p><p>Aisya/2240301204</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340922567/09d3073bdb607c1e086df08559795bbb/Screenshot_20240313_083321_Gallery.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 01:34:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916475221</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran Saya Dalam Masyarakat </title>
         <author>eshaaisyaswastika06366</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916493816</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama saya Esha Aisia Swastika. Saya lahir dan tumbuh besar di Magelang. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, saya merasa sudah seharusnya saya menjadi contoh dan teladan yang baik bagi adik-adik saya. Keluarga saya bisa dikatakan sederhana namun saya tidak pernah merasa kekurangan, dengan sosok kakek merupakan figur yang cukup disegani dalam masyarakat tempat saya tinggal. Begitu pula dengan ayah saya. Karenanya, saya biasa dikenal bukan sebagai Esha melainkan dikenal sebagai cucu dari... atau putri dari... Oleh sebab itu, saya menempatkan diri sebaik mungkin dalam masyarakat dengan berperilaku baik dan santun. Juga, saya berusaha untuk membentuk posisi saya sendiri, tidak hanya sebagai cucu atau putri dari seseorang, melainkan posisi saya sendiri dalam masyarakat. </p><p><br/></p><p>Saat ini, saya masih mahasiswa. Saat ini saya berfokus pada tujuan saya menempuh pendidikan agar dapat lulus dengan baik dan menjadi guru serta teladan bagi banyak orang. Tentunya, saya terus bergaul dengan masyarakat sekitar, ikut dalam kegiatan kebudayaan hingga musyawarah setempat.</p><p><br/></p><p>Saat ini, saya juga ikut membantu mengajar di salah satu sekolah baru tidak jauh dari tempat tinggal saya. Sebagai guru tentunya saya juga harus menempatkan diri dimana saya harus menjaga sikap dan perilaku. Dengan demikian, murid saya akan mempunyai teladan yang baik. </p><p><br/></p><p>Esha Aisia Swastika, 2220301128</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2375175928/e7930c0c66e4826752a46f91aa5dcb32/IMG_20240128_WA0046.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 01:47:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916493816</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran Sosial Saya dalam Kehidupan </title>
         <author>afifahafiyatus1703</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916603180</link>
         <description><![CDATA[<p>Bertemu lagi dengan saya Afifah, pada esai ini saya akan menjelaskan lebih tepatnya menceritakan posisi dan peran sosial saya dalam kehidupan sehari-hari.</p><p>Saya lahir dari keluarga yang biasa saja, ayah saya bekerja sebagai petani dan ibu adalah seorang ibu rumah tangga.</p><p>Saya merupakan anak terakhir dan memiliki dua orang kakak. Kakak saya yang pertama sudah menikah dan sudah memiliki dua anak, dan kakak saya yang kedua bekerja di Semarang.</p><p><br/></p><p>Menjadi anak terakhir membuat saya seperti anak tunggal karena dirumah hanya tinggal bersama dengan kedua orang tua saja karena kakak saya yang kedua jarang pulang. Hal tersebut membuat saya terbiasa untuk membantu ibu dalam masalah pekerjaan rumah. Orang tua saya selalu mengajarkan ketiga anaknya untuk selalu menjaga kebersihan terutama kebersihan rumah, karena rumah yang bersih akan membuat kita lebih nyaman. Selain itu, saat dirumah saya juga sering membantu keponakan untuk mengerjakan PR dan membantu saudara membuat kue. Orang tua saya juga selalu mengajarkan saya untuk selalu membantu tetangga ketika sedang membutuhkan bantuan. Karena kita hidup berdampingan dengan tetangga maka tidak menutup kemungkinan jika suatu hari kita juga membutuhkan bantuan mereka.</p><p><br/></p><p>Karena kita makhluk sosial tentu kita tidak akan pernah lepas dengan yang namanya lingkungan masyarakat. Saat di lingkungan masyarakat saya memiliki peran sebagaimana anak remaja lainnya, mengikuti organisasi karang taruna. Pada Organisasi karang taruna tersebut biasanya saya ikut serta membantu ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan remaja seperti ketika ada pernikahan. Para anggota karang taruna akan saling membantu atau biasa disebut dengan "sinoman". Selain itu, ketika ada kegiatan lomba pada tanggal 17 Agustus dan pada saat hari raya idul Adha para remaja akan membantu proses penyembelihan hewan kurban, para remaja akan membagi tugas seperti laki-laki membantu bapak bapak untuk menyembelih dan saya serta rekan rekan yang perempuan lainnya membantu ibu-ibu menyuguhkan makanan untuk bapak bapak. Hal tersebut tentu sangat berdampak terhadap tutur kata saya, tentu bersama orang yang lebih tua saya harus menggunakan bahasa yang lebih sopan seperti bahasa krama yang sudah ibu saya ajarkan sejak kecil. Saya juga menjadi salah satu pengurus di TPQ yang ada di desa saya, setiap menjelang bulan Ramadhan akan mengadakan khataman dengan kegiatan seperti pengajian, ziarah dan lomba mainan, kemudian pada saat bulan Ramadhan saya dan pengurus yang lain akan mengajari anak-anak di TPQ untuk mengaji sambil menunggu waktu berbuka. Memang tidak mudah untuk mengajar anak kecil, butuh kesabaran yang lebih dan ketelatenan yang lebih. </p><p><br/></p><p>Saya juga pernah mengikuti organisasi IPNU IPPNU di desa saya, disana saya belajar banyak hal. Seperti pada saat bulan Ramadhan, kami akan melakukan kegiatan bagi bagi takjil di sekitar SPBU atau tempat ramai lainnya. Selain itu, juga ada pengajian yang dilaksanakan setiap menjelang bulan Ramadhan. Berbeda lagi ketika saya sedang berada di lingkungan kampus, saya merupakan mahasiswa semester 4 pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Disana saya memiliki teman yang berasal dari daerah dan agama yang berbeda beda. Hal tersebut tentu membuat saya untuk lebih menghargai perbedaan tersebut. Dapat berkuliah merupakan salah satu hal yang sangat saya syukuri karena masih banyak teman-teman diluar sana yang belum memiliki kesempatan sama seperti saya sehingga saya harus belajar dengan bersungguh-sungguh agar dapat membanggakan kedua orang tua saya.</p><p>Mungkin sekian sedikit cerita dari saya, terimakasih sudah membaca.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340053005/02ecd3028a569441edcd8ec78349ac99/IMG_20230719_WA0085.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 03:02:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916603180</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran di Lingkungan Sekitar</title>
         <author>novirahayu1114</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916660101</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada kesempatan ini, saya akan sedikit menceritakan mengenai peran dan posisi saya dalam lingkungan sekitar. Saya dilahirkan di sebuah dusun di kabupaten Magelang pada tahun 2004. Berstatus sosial sebagai anak dari orang biasa dari desa membuat saya berpikir jika posisi dan peran saya di masyarakat tidak begitu penting dulunya. Namun, karena kakek saya cukup disegani di masyarakat membuat saya menempatkan diri sebaik mungkin dalam lingkungan masyarakat. Tidak memungkiri semakin dewasa membuat saya berusaha untuk mencari posisi dan peran saya, bukan sebagai cucu dari siapa, namun sebagai saya sendiri di dalam masyarakat.</p><p><br/></p><p>Di lingkungan tempat tinggal yang lama, saya cukup aktif di organisasi karang taruna. Memang tidak ada jabatan karena tugas saya untuk menggantikan kepengurusan organisasi lama. Sering diminta membuat notulen kegiatan, membuat undangan dan lain sebagainya. Sampai pada saat saya sudah pindah ke tempat tinggal yang baru, saya masih sering diminta untuk membantu jalannya organisasi. Padahal tempat tinggal yang baru dengan yang lama sudah beda desa namun masih dalam satu kecamatan. Saya tidak merasa keberatan membantu hal tersebut karena bagi saya sebagai bentuk peduli saya kepada lingkungan sekitar.</p><p><br/></p><p>Menjadi anak pertama membuat saya banyak belajar untuk lebih baik kedepannya agar adik saya mempunyai contoh yang baik dari saya sendiri. Orang tua saya selalu mengajarkan untuk selalu membantu sesama. Karena hidup berdampingan dengan tetangga alangkah baiknya jika kita saling tolong menolong. Sebagai makhluk sosial tidak akan lepas dengan peran masyarakat sekitar.</p><p><br/></p><p>Novi Rahayu Maghfiroh</p><p>2220301053</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341016491/03e9e8621975f43acd201ab73042bfa4/WhatsApp_Image_2024_03_13_at_10_44_03.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-13 03:47:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916660101</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran dan Posisi</title>
         <author>auliaazzahra15</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916675314</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo Semuanya</p><p>Perkenalkan nama saya Aulia Rachma Azzahra di sini saya akan menjelaskan peran dan posisi saya dalam kehidupan. Peran dan posisi sangat penting bagi kehidupan. Di dalam kehidupan bermasyarakat saya menjabat sebagai sekretaris di organisasi remaja. Sebagai sekretaris terkadang sering merangkap dengan bendahara karena setiap ada kegiatan saya selalu dicari oleh teman-teman desa. Terkadang saya sering malas untuk bersosialisasi akan tetapi saya sering dicari oleh teman-teman desa.</p><p><br/></p><p>Saat ada kegiatan misalnya peringatan 17 Agustus saya selalu dicari oleh teman-teman desa. Mereka biasanya meminta dana untuk persiapan lomba dan acara lainnya. Menjadi bagian dari masyarakat membuat saya mengerti betapa pentingnya untuk bersosialisasi dengan masyarakat disekitar.</p><p><br/></p><p>Saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saya terlahir dari keluarga yang biasa saja yang mana tidak memiliki status sosial apapun dalam kehidupan bermasyarakat. Posisi sebagai anak pertama yang terkadang sering dihadapkan sebagai harapan pertama dalam keluarga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Bahasa Indonesia yang nantinya ketika lulus akan menjadi guru. Diposisi sebagai anak pertama besar harapan keluarga agar nantinya saya menjadi seseorang yang sukses dan bisa membanggakan keluarga nantinya.</p><p><br/></p><p>Aulia Rachma Azzahra</p><p>2220301066</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340425862/532db331fdb69121e7b0f5df3ebc7474/52D4D42A_3782_4517_A137_D2266C9EBDF3.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-13 04:03:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916675314</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran dan kontribusi saya dalam masyarakat </title>
         <author>jamilatunkhumairoh2</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916813478</link>
         <description><![CDATA[<p>Sebagai anggota masyarakat, saya memainkan peran penting dalam membentuk lingkungan di sekitar saya. Berbagai tindakan, perkataan,keputusan,dan interaksi saya dengan orang lain dalam berkontribusi akan berpengaruh terhadap posisi atau peran kita dalam lingkungan sosial. Saya percaya bahwa setiap individu mempunyai peran dalam masyarakat, dan peran tersebut akan membuat perbedaan yang mempengaruhi posisi kita dalam masyarakat. Saya sebagai remaja yang aktif dalam kegiatan karang taruna desa. Dalam masyarakat, saya berperan sebagai anggota karang taruna putri, serta sebagai guru les anak SD dilingkungan rumah saya. Saya merasa sangat senang dengan peran yang saya lakukan dan mempercayai saya untuk mengembangkan potensi diri saya lebih lanjut. Kontribusi yang saya lakukan dalam masyarakat telah membantu dan meningkatkan kerukunan sesama anggota masyarakat.  Sebagai anggota karang taruna, berbagai aksi maupun kegiatan sosial telah kami lalui bersama. Kegiatan yang saya lakukan antara lain membantu dalam acara pernikahan, pengajian, maupun kegiatan bersih masjid bersama ibu-ibu PKK. Saya sebagai pengajar bagi adik serta anak SD, saya sudah menjalankan kewajiban saya untuk ikut serta membangun karakter dan meningkatkan kompetensi anak bangsa. Ketika pulang ke rumah, pasti akan diminta tolong untuk mengajar anaknya. Anak-anak minta untuk diajarkan bagaimana cara mengerjakan PR mereka. Saya sangat senang dengan peran saya sebagai pendidik karena membantu mereka membangun jati diri untuk mencapai kejayaan mereka melalui ilmu. Apalagi dengan tingkah laku serta kepolosan mereka membuat hati serta pikiran kita seakan bebas dari rumitnya kehidupan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Saya memposisikan diri sebagai mahasiswa aktif program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar. Sebagai mahasiswa saya mempunyai peran serta kewajiban yang harus saya jalankan yaitu belajar serta menyelesaikan kuliah saya. Mahasiswa juga mempunyai peran bisa berkontribusi untuk masyarakat sekitar. Sebagai mahasiswa dituntut untuk aktif dan bisa mengeksplor setiap sudut tempat yang kita kunjungi. Sebagai mahasiswa, saya memiliki peran untuk berusaha meningkatkan kualitas diri maupun almamater dengan cara mengikuti perlombaan maupun organisasi kampus. Saat ini saya mengikuti organisasi mahasiswa yaitu Himaprodi PBSI dan UKM IQSAN UNTIDAR untuk meningkatkan keterampilan yang saya miliki. Dalam organisasi saya berperan sebagai Staff PSDM yang memiliki tanggung jawab untuk bisa mengayomi serta memfasilitasi anggota maupun mahasiswa PBSI melalui proker yang kami jalankan. Tanggung jawab serta tugas yang dijalankan harus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa maupun anggota. Sebagai PSDM saya berusaha untuk mewadahi anggota ketika mereka mempunyai keluh kesah dalam dirinya terkait keadaan internal diri. Banyak hal yang saya lalui ketika menjadi Staff PSDM yang membuat saya belajar banyak untuk mengetahui karakter banyak orang. Tak hanya itu, saya memegang posisi diberbagai kepanitiaan seperti pada acara PKKMB, LKMMTD, Diksatra,Relawan Mengajar,dsb. Pengalaman paling berkesan ialah ketika mengikuti Relawan Mengajar di Desa Banyusidi, Magelang. Saya sebagai mahasiswa bisa terjun langsung ke masyarakat untuk membuat perubahan yang bermanfaat. Saya disana mengajar anak SD dengan berbagai karakter yang berbeda serta kelas sosial yang berbeda pula. Disana saya sangat senang karena bisa membangun hubungan dengan masyarakat sekitar, tidak hanya melakukan aktivitas dilingkungan perguruan tinggi saja. Saya bisa menyalurkan ilmu yang ada untuk membangun nilai-nilai yang tinggi dan karakter yang baik. Masyarakat yang kental akan tradisi serta keramahan yang ada membuat kegiatan yang kita jalankan terasa lebih nyaman akan kebersamaan. Desa dengan bentang alam yang mempesona dengan tawa anak-anak membuat kita semakin tergugah untuk memberikan dampak positif dengan realitas sosial yang ada.</p><p><br/></p><p>Potensi yang kita miliki harus selalu diasah agar bisa disalurkan demi kebermanfaatan sosial. Saya sebagai mahasiswa berperan penting untuk meningkatkan kualitas diri dengan cara belajar serta mengikuti perlombaan. Selain aktif berorganisasi, saya tak lupa untuk meningkatkan hobi serta  potensi diri saya dengan berlatih membuat kaligrafi. Di UKM IQSAN menjadi sarana saya untuk mendapatkan kejuaraan lomba. Dengan adanya hal tersebut saya bisa membranding diri saya dengan kegiatan positif agar bisa dikenal dan bermanfaat bagi khalayak umum. Saya di UKM IQSAN memiliki peran sebagai fungsionaris Divisi Kaligrafi yang setiap minggunya menjalankan pelatihan kaligrafi bersama anggota. Menjalankan hobi sekaligus belajar menjadi pelatih memberikan banyak cerita menyenangkan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Jamilatun Khumairoh </p><p>2240301166</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340348228/4830c3e0bcae3221224b7b6441a7d147/IMG_20240313_WA0027.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 06:30:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916813478</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran Sosial dan Posisi Saya di Lingkungan Masyarakat dan Perkuliahan</title>
         <author>bagasrezkyp04</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916814827</link>
         <description><![CDATA[<p>Halo teman-teman, Saya Bagas lahir di sebuah desa yang penuh dengan kegiatan bermasyarakat. Saya adalah makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari kehidupan bermasyarakat. Saya juga mempunyai peranan dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kegiatan di tempat kuliah atau di lingkungan sekitar yang paling utama, karena kita perlu berbaur dengan masyarakat sekitar seperti kerja bakti, menghadiri pengajian sebagai wujud dari peran kita sebagai makhluk sosial yang juga membutuhkan orang lain pada saat kita memerlukan bantuan masyarakat sekitar, yang akan menjadi timbal balik ketika kita sering berbaur ke masyarakat, maka masyarakat juga akan segan dengan kita ketika membutuhkan. </p><p><br/></p><p>Saya tinggal di desa yang asri sejak kecil sampai saat ini, berbagai kegiatan dan kehidupan saya lalui di sana, banyak kegiatan lingkungan yang selalu melibatkan pemuda dan pemudi di desa saya yang membuat saya juga selalu ikut terlibat di kegiatan tersebut. Saya tinggal di lingkungan RT13 dan dalam lingkungan RT ada agenda rutinan yaitu tahlil rutin setiap malam jum’at dan kerja bakti satu bulan sekali sehingga saya sebagai pemuda di RT13 harus ikut andil dalam kegiatan tersebut. Sebagai contoh lain ketika di desa mengadakan acara pada bulan safar yang merupakan kegiatan ketika menyambut bulan safar, agenda kegiatan tersebut adalah penampilan dari berbagai pertunjukan seni selama tiga hari, seperti topeng ireng, dan tari lainnya. Pada acara tersebut, saya dipilih oleh ketua RT13 untuk ikut serta menjadi panitia guna menyukseskan acara yang memang rata-rata panitia adalah pemuda dan pemudi. Pada beberapa waktu yang lalu saya juga ikut serta menyukseskan pesta demokrasi menjadi panitia kelompok penyelenggara pemungutan suara di Desa Purwosari. Saya banyak berkegiatan di lingkungan sekitar atau lingkungan RT karena sudah menjadi kewajiban saya sebagai pemuda di dusun tersebut untuk berinteraksi dn berbaur di setiap kegiatan lingkungan. </p><p><br/></p><p>Selain berkegiatan di masyarakat, saya juga banyak kegiatan di lingkungan perkuliahan. Kewajiban saya sebagai mahasiswa yaitu kuliah, tetapi saya merasa perlu kegiatan lain yang dapat mengembangkan keterampilan atau wawasan baru, dan memperluas relasi sehingga saya mempunyai banyak teman di lingkungan perkuliahan. Banyak kegiatan organiasi yang saya ikuti di kampus yang mengharuskan saya untuk dapat membagi waktu dengan kegiatan perkuliahan, sibuk dan capek itu sudah pasti, tetapi bagi saya hal tersebut merupakan keseruan atau kesenangan tersendiri ketika datang kuliah. Terima kasih, itu saja yang dapat saya ceritakan mengenai kegiatan saya dalam bermasyarakat dan peran sosial saya di llingkungan masyarakat atau lingkungan perkuliahan. </p><p><br/></p><p>Bagas Rezky Prasetyo_2240301189 </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340271686/89cbc642cff43f5ffab196f876db1f43/IMG20220924231429.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 06:31:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916814827</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran serta posisi di Lingkungan rumah</title>
         <author>nellahudaputri2004</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916861985</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya Naila Rasikha di lingkungan rumah peran dan posisi saya sebagai anggota Karang Taruna, sebagai anggota tentu memiliki dampak yang signifikan dalam masyarakat. Saya bertanggung jawab untuk menjadi generasi perubahan di lingkungan sekitar saya. Melalui kegiatan sosial dan kegiatan pengembangan diri ini, saya berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran sosial di kalangan pemuda dan masyarakat luas.</p><p><br/></p><p>Selain itu, sebagai anggota Karang Taruna, saya memiliki peran dalam mendukung berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memajukan potensi generasi muda. Melalui pelatihan, seminar, program pengembangan diri, kegiatan HUT RI, dan lainnya, saya dengan rekan-rekan Karang Taruna di lingkungan saya selalu berusaha memberikan kesempatan dan wadah bagi pemuda agar mampu mengembangkan keterampilan dan bakat mereka, sehingga mereka dapat menjadi generasi perubahan yang lebih produktif dan menjadi contoh untuk generasi selanjutya di masa depan.</p><p><br/></p><p>Dan yang terakhir saya sebagai anggota Karang Taruna menjadi bagian dari jaringan sosial yang kuat di masyarakat. Ini memberi saya kesempatan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik itu instansi pemerintah, organisasi non-pemerintah, maupun komunitas lokal lainnya, untuk bersama-sama menciptakan solusi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan begitu, saya dapat berkontribusi secara nyata dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan berkelanjutan.</p><p><br/></p><p>Naila Rasikha Huda Putri</p><p>2240301185</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340043517/962731aa55b7e189e6bd078a5f45a890/WhatsApp_Image_2024_03_13_at_14_16_48.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-13 07:21:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916861985</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran Sosial dalam Lingkungan Sekitar</title>
         <author>annisaaazahrah</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916863421</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><br/></p><p>Assalamualaikum wr.wb</p><p>halo teman-teman perkenalkan nama saya Annisaa Arvieta Azahrah. saat ini saya menjadi mahasiswa di Universitas Tidar di Kota Magelang, saya bukan asli dari Magelang disini saya ngekos. Saya berasal dari Kebumen tepatnya di Kecamatan Prembun, saya dilahirkan dari lingkungan keluarga yg sederhana bahkan tidak mempunyai peran apa-apa di masyarakat tempat saya tinggal. Lahir menjadi anak perempuan pertama dan cucu perempuan pertama di keluarga. Ayah saya bekerja sebagai wiraswasta dan ibu saya menjadi ibu rumah tangga, saya mempunyai adik 1 yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ibu sering meminta bantuan saya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Tapi sejak saya di magelang yang membantu ibu saya adalah adik perempuan saya. Dulu waktu saya kecil bapak meninggalkan kita dan ibu saya menghidupi keluarga sendiri, menjadi single mother. Dulu saya masih kecil dan belum mengetahui apa-apa, banyak orang yang merendahkan keluarga saya karena kegagalan dari rumah tangga ibu saya. Kemudian ibu saya memutuskan untuk menikah lagi dan saya berfikir mungkin ayah saya yang sekarang bisa membantu ekonomi keluarga kita, walaupun hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari saya sangat bersyukur. Saya juga sempat membantu teman bekerja untuk membantu kekuarga saya tapi orang tua saya tidak setuju dan menyuruh saya untuk fokus dengan kuliah saya. Orang tua saya berharap dengan saya melanjutkan pendidikan akan mengangkat peran sosial di masyarakat.</p><p>Mungkin cukup sekian sedikit cerita dari saya. Saya berharap orang-orang dapat merubah pola pikir mereka tentang kekurangan yang ada di diri orang, tidak semua yang gagal membuat peran sosial di masyarakat menjadi rendah. Walaupun keluarga yang sederhana saya sangat sayang sekali dengan keluarga saya terutama dengan ibu saya yang mengusahakan apapun demi anak-anaknya termasuk mengusahakan memberikan keluarga yang utuh dan kebutuhan yang cukup bagi anak-anak dan keluarga.</p><p><br/></p><p>Annisaa Arvieta Azahrah </p><p>2240301139</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341277439/8a8aa2349ba3386438027788212f55cd/IMG_20240313_WA0022.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 07:22:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916863421</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aku ini apatis atau anti sosial sih? </title>
         <author>fusna890</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916875998</link>
         <description><![CDATA[<p>What’s up brodie! How’s ur day?</p><p>Aku Nufus, srikandi jawi di esai kemarin, hehe</p><p>Jika ditanya perihal status dan peran sosial sepertinya aku tidak memiliki status dan peran sosial yang cukup signifikan di lingkungan sekitar tempat tinggalku. Aku merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Bapak merupakan seorang guru, begitu pula dengan Ibu. Aku berasal dari latar belakang keluarga yang bekerja di bidang akademik. Status sosialku di masyarakat hanya sebatas Warga Negara Indonesia yang sepertinya belum patuh terhadap beberapa hukum yang berlaku di Indonesia. Aku masih sering menerobos lampu merah, tidak memiliki SIM, tidak memakai helm saat berkendara dan masih banyak lagi, hehe. Aku bukan termasuk ke dalam salah satu masyarakat yang gemar bersosialisasi. Ralat. Bukan gemar, mungkin lebih tepatnya aku sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk dapat mengikuti beberapa kegiatan di lingkungan sekitar tempat tinggalku. Bukan karena aku apatis, anti sosial, atau lain sebagainya. Hanya saja, setelah menginjak usia dewasa ini aku lebih memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktu akhir pekanku untuk berdiam diri di rumah. Aku terlalu lelah setelah kurang lebih 5 hari beraktivitas di luar rumah, sehingga sering kali akhir pekan menjadi opsi untukku berdiam diri.</p><p>Ada berbagai cerita lucu namun sedikit miris yang sering aku dapati ketika keluar rumah. Masih terdapat beberapa tetangga yang tidak mengenalku. Ntahlah, namun ku pikir aku tidak seapatis itu untuk sekedar diketahui namanya oleh tetangga sekitar. Sebenarnya dulu aku sering sekali mengikuti kegiataan kepemudaan di desa tempat tinggalku. Namun, setelah itu aku melanjutkan pendidikanku ke pesantren sehingga, aku tidak bisa secara intens berinteraksi dengan tetangga-tetangga sekitarku. Terkadang aku merasa ngeri jika mengingat slogan (ora srawung rabimu suwung) namun, aku juga sering tertawa terbahak-bahak sendiri jika mengingat slogan itu. Bagaimana tidak? Slogan itu cukup kentara di tanah jawa ini. Barangsiapa yang tidak berinteraksi dengan warga sekitar, hajatan nikahnya akan sepi. Begitulah kira-kira jika aku terjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Kalian bisa membayangkan kan jika aku tidak berinteraksi atau dikenal oleh masyarakat sekitar lalu, saat hari pernikahanku hanya aku dan samiku saja yang hadir? Cukup. Sepertinya terlihat ngeri dan <em>wagu</em>.</p><p>Meski begitu, bapak dan ibuku cukup memiliki status dan peran sosial di masyarakat. Bapak merupakan ketua Rukun Tetangga 01, ketua masjid serta menjadi imam tetap di Masjid An-Nur dekat rumahku. Ibuku merupakan ketua PKK dan ibu selalu aktif dalam kegiatan perempuan di lingkungan tempat tinggalku seperti menjadi guru ngaji untuk para ibu lansia dan masih banyak lagi. Jadi, terkadang aku memanfaatkan privillage tersebut seperti menggunakan nama bapak untuk setiap alamat paket belanja onlineku karena aku yakin jika paket tersebut ku beri namaku sepertinya kurir paket tersebut akan kesulitan untuk bertanya kepada tetangga-tetangga sekitarku, hehe.</p><p>Meski jika dilihat dari kehidupan sosialku di masyarakat sekitar tempat tinggal terlihat tidak memiliki peran apapun, namun aku cukup memiliki peran sosial di tempatku menempuh pendidikan. Sejak duduk di bangku sekolah, aku sudah aktif tergabung dalam berbagai organisasi sekolah dan komunitas ekstrakulikuler sekolah. Misalnya, saat duduk di bangku SMP aku pernah menduduki posisi sebagai wakil ketua osis dan IPM, menjadi anggota Perguruan Bela Diri Tapak Suci, anggota Hizbul Wathan, serta tergabung dalam komunitas peminatan EFT (<em>English For Tourism</em>) dan Robotic. Saat di bangku SMA, aku menjadi ketua bidang pengkaderan IPM dan sempat bergabung dengan komunitas Taekwondo. Saat ini, aku memiliki peran dan tanggung jawab sebagai wakil ketua Himaprodi PBSI periode 2024. Jadi, dapat disimpulkan bahwa aku lebih banyak berperan dilingkungan tempatku menempuh pendidikan diandingkan di rumah. Hal ini terjadi karena aku menempuh pendidikan di satuan pendidikan yang letaknya sedikit jauh dari rumah, tidak seperti teman-teman rumahku yang bersekolah di satuan pendidikan yang dekat dengan lingkungan rumah. Kalau begitu, aku tidak dapat dikatakan sebagai orang yang apatis kan? Hehe.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2341124388/481e3b28be8339691c3834d792411360/Gambar_WhatsApp_2024_03_13_pukul_14_24_16_e2a78ec3.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 07:33:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916875998</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran Sosial Dalam Bermasyarakat</title>
         <author>ademaya1919</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916928103</link>
         <description><![CDATA[<p>Hallo semuanya perkenalkan nama saya Ade Maya Novitasari. kalian bisa memanggil saya Ade atau Maya. Saya lahir di keluarga kalangan menengah atas atau bisa di bilang berkecukupan dan juga  saya berasal dari keluarga militer yang dimana dalam kehidupan sudah di didik dengan aturan yang ketat dan tegas dan sedikit keras.</p><p>Dalam bermasyarakat keluarga saya dan saya sangat di segani dan dihormati, karena di desa tempat tinggal keluarga saya hanyalah ayah saya yang berkerja sebagai tentara. Tidak hanya di lingkup bermasyarakat ayah saya pun di segani dan di hormati oleh orang kantor beserta anak buah ayah saya karena selalu bekerja dengan baik, jujur dan disiplin. Sebuah kebanggaan tersendiri juga dapat menjadi tangan kanan (orang kepercayaan )atasan ayah saya. Selain itu juga kakek saya yang mempunyai keahlian dalam memijat dan sudah terkenal di desa tersebut maupun tetangga desa membuat saya sebagai cucunya mempunyai privillage. mamah saya merupakan seorang ibu rumah tangga yang menyibukkan dirinya saat mempunyai waktu luang untuk membuka catering, dan di desa sangat dikenal dengan masakannya yang enak dan sudah memiliki pelanggan tetap. Menjadi anak pertama dengan memiliki 2 adik terbilang cukup rumit dan mempunyai beban yang begitu berat, yang dimana harus dapat menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya. Begitupun dengan beban ekspektasi orang tua saya saat saya lulus nanti mau jadi apa kedepannya. Akan tetapi orang tua saya tidak terlalu menaruh ekspektasi dan menekan saya harus menjadi apa dikemudian hari, untuk itu saya selalu bersungguh-sungguh dalam berkuliah untuk bisa mengapai cita-cita saya yaitu menjadi dosen dan dapat berkuliah sampai S3 di Korea. Mungkin orang tua saya tidak terlalu menekankan anak-anaknya untuk seperti apa kedepannya karena setiap anak memiliki cita-citanya tersendiri dan hanya bisa memfasilitasi serta membimbing secara baik dan benar.</p><p>Dalam bermasyarakat saya hanyalah sebagai anak biasa saja, yang sangat mudah berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Sebuah privillage tersendiri lahir dari keluarga militer dan mempunyai kakek yang sudah akrab di kenal di berbagai desa memudahkan saya di kenal orang dan berbaur. Dalam bermasyarakat saya mengikuti kegiatan seperti perkumpulan remaja yang dimana awalnya saya hanya sebagai anggota biasa, tetapi dipilih oleh beberapa anggota lainnya untuk menjadi sekertaris serta menjadi sie acara lainnya seperti pernikahan, agustusan serta pesantren kilat yang di adakan perkumpulan remaja saat memasuki bulan Ramadhan dan bulan Febuari kemarin juga dipilih oleh perkumpulan remaja untuk menjadi anggota kpps yang terbilang yang paling muda diantara anggota lainnya dan juga saat kegiatan pemilu diadakan anggota lainnya selalu mengawasi saya dan selalu menanyakan keadaan saya seperti "Kalau cape gantian dulu sama lainnya'', "kalau lapar di belakang sudah ada Snack tinggal ambil saja", pertama kali menjadi anggota kpps pun merupakan pengalaman pertama berkerja dari jam 07.00 sampai jam 02.30, bukan hanya itu setiap saya belum pulang dari rumah pun mamah saya selalu bolak-balik mengecek keadaan saya saat masih kegiatan pemilu begitu pula ayah saya yang sedang mengepam pemilu pada saat itu, tidak berhenti mengabari saya lewat WhatsApp. Saya sangat senang dengan kehangatan dan keharmonisan masyarakat di desa saya yang bisa menerima baik keluarga saya dan menjaga silaturahmi.</p><p><br/></p><p>Nama : Ade Maya Novitasari </p><p>Npm.  : 2230301125</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340853453/169cdd82fc916b49abab530ba235e924/IMG_20240313_151528_387.webp" />
         <pubDate>2024-03-13 08:18:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916928103</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Posisi dan Peran Sosial di Masyarakat </title>
         <author>wimaalfa7</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916948997</link>
         <description><![CDATA[<p>Haloo semuanya perkenalkan nama saya Wima Alfa Zaliani Saragih, kalian semua bisa memanggil saya Alfa. Saya adalah seorang anak tunggal dari Ayah yang berprofesi sebagai seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta dan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Tidar dengan mengambil program studi Pendidikan Bahasa &amp; Sastra Indonesia dan saat ini saya berada di semester ke-tiga.</p><p><br/></p><p>Lahir sebagai seorang anak tunggal yang berjenis kelamin perempuan, saya sangat sering mendapat anggapan bahwa segala sesuatu dapat berjalan dengan mudah dan selalu hidup dengan nyaman tanpa harus berbagi apapun dengan kakak atau adik. Namun pada kenyataannya tanggung jawab saya sebagai anak tunggal juga lebih besar. Harus bisa memenuhi ekspektasi dan membanggakan kedua orang tua. Menjadi anak tunggal, saya juga harus bisa menempatkan diri sebagai anak yang dapat mendampingi kedua orang tua saya dalam kegiatan favorit mereka contohnya ayah saya suka menonton bola, ketika klub bola favoritnya sedang bertanding maka saya akan ikut menonton bersama ayah saya. Sementara ibu saya suka memasak dan berbelanja maka ketika ibu saya mengajak untuk memasak saya akan dengan senang hati membantu ibu saya.</p><p>Di keluarga besar saya, saya juga merupakan cucu pertama, baik dari keluarga ibu maupun keluarga ayah. Posisi ini membuat saya harus bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik sepupu saya.</p><p><br/></p><p>Di kota asal saya yaitu kota Medan, terdapat organisasi kemasyarakatan yaitu STM (Serikat Tolong Menolong) di setiap daerahnya. Di daerah saya tinggal ayah saya adalah seorang bendahara dari organisasi kemasyarakatan tersebut, dan ibu saya juga masuk kedalam kaum ibu di organisasi kemasyarakatan yang sama. hal itu membuat saya mau tidak mau harus ikut serta dalam organisasi kemasyarakatan tersebut, yaitu dalam lingkup pemuda dan pemudi. Peran saya dalam organisasi adalah menjadi panitia dalam acara 17-an, dan hari-hari besar seperti ibadah natal lingkungan serta acara buka bersama di bulan Ramadhan. Dengan ayah dan ibu saya yang cukup dikenal di masyarakat tentunya berdampak bagi saya yang harus menajaga nama baik keluarga, dan di sisi lain saya juga mendapat banyak Privilege dari relasi-relasi yang dimiliki oleh kedua orang tua saya.</p><p><br/></p><p>Nama: Wima Alfa Zaliani Saragih</p><p>NPM : 2220301106</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/532140133/fcac9c27ad0f0b5589c790cd7da9e2dd/IMG20211224213640.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 08:37:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916948997</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Daripada gotong royong, aku lebih suka...</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916999816</link>
         <description><![CDATA[<p>Tatag unggul Sadewa adalah nama lengkapku. Aku terlahir di desa Tembelang  Tambahrejo. Disini aku bakal ceritain pengelamanku selama 19 tahun hidup di tanah kelahiranku. Bisa dibilang kontribusi yang aku berikan terhadap desa tidak begitu banyak, tak jarang aku menghadiri kegiatan seperti gotong royong dan kerja bakti di lingkunganku. Namun hal ini aku lakukan bukan dari keinginanku sendiri, aku melakukan hal tersebut dikarenakan menggantikan peran bapaku yang terkadang beliau sudah ada urusan lain yang dianggapnya lebih penting. </p><p>Daripada melakukan kegiatan gotong royong dan juga kerja bakti, aku lebih senang menghabiskan masa mudaku di desa sebagai penggiat seni tradisional. Aku sangat senang mencari tahu tentang sejarah kesenian tradisional yang ada di desaku dan juga latar belakang terbentuknya kelompok kesenian tradisional di desaku. Alhasil dari rasa penasaranku yang tinggi, aku pun berhasil mengumpulkan para pemuda yang tertarik dengan kesenian tradisional yang ada di desaku lalu berencana untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional yang telah lama mati di desaku itu.</p><p>Akhirnya singkat cerita setelah melalui perjalanan yang panjang kesenian tradisional di desaku kembali bangkit dan hal tersebut mendapat sambutan positif dari para punggowo dan juga masyarakat desa Tembelang Tambahrejo, hal tersebut tentunya menjadi kepuasan tersendiri bagiku dan juga bagi masyarakat di desa Tembelang tambahrejo</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339216777/02dfbd9c709b01b56f35c033e835bf59/IMG_20220129_WA0058.jpg" />
         <pubDate>2024-03-13 09:25:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2916999816</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Si Putri Sulung</title>
         <author>davinasabila14</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2921938084</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya Davina Salsabila dalam lingkungan keluarga saya merupakan seorang putri sulung yang memiliki satu adik laki - laki, cucu pertama perempuan pertama dan keponakan perempuan pertama serta harapan pertama bagi keluarga. Sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga saya sering dihadapkan dengan kesulitan untuk memenuhi harapan yang mereka bebankan kepada saya. Sedari 14 bulan saya pindah dari Bantul ke Temanggung dan tinggal bersama kakaek, nenek dan om. Sedangkan ayah, ibu dan adik saya tinggal di Blitar. Selama itu saya benar - nenar seperti anak terakhir karena om saya belum menikah jadiia berperan seperti kakak saya. Namun setelah kelas 8 ibu dan adik saya pindah ke Temanggung dan mulai dari itu saya harus berbagi banyak hal. Yang pada mulanya semua adalah milik saya kini harus dibagi begitu juga adik saya, butuh waku lama bagi saya untuk terbiasa dengan adanya ibu dan adik saya di rumah. </p><p><br></p><p>Teman - teman saya beranggapan bahwa saya tidak terlihat seperti anak pertama karena apapun yang saya mau selalu dipenuhi, namun mereka hanya melihat dari sisi itu bukan dari bagaimana cara saya untuk membalas apa yang orang tua saya berikan kepada saya. Jika dilihat dari bagaiman kersanya ibu mendidik saya dari masa remaja saya dibanding dengan cara dia mendidik adik saya, saya merasa apa yang saya terima merupakan hal yang setimpal. Ibu menginginkan saya untuk menjadi anak perempuan yang serba bisa dalam segala hal, seperti halnya kemampuan yang ia miliki. Namun pada kenyataannya saya tidak sehebat ibu. </p><p><br></p><p>Ibu saya juga merupakan seorang anak pertama dalam keluarga dan ia berhasil menjadi anak dan kakak yang baik itulah mengapa ia memiliki standar yang cukup tinggi terhadap saya. Ia selalu mengusahakan yang terbaik bagi saya dan adik adik saya. Namun terkadang sebagai anak pertama ketika mendengar cerita teman - teman saya tentang sebagaimana mereka senang ketika memiliki seorang kakak dalam hati saya selalu merasa iri, seperti halnya memiliki seorang adik semuanya pasti memiliki kekurangna dan kelebihan, namun saya merasa sebagai putri sulung saya belum mampu menjadi putrio yang dapat diandalkan dan kakak yang kurang mampu memberi contoh hal baik kepada adik saya. </p><p><br></p><p>Nama : Davina Salsabila </p><p>NPM : 2240301192 </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2340197515/2eb92b6bdbaedfdb7d3e2e791bc02565/WhatsApp_Image_2024_03_17_at_10_05_40_PM.jpeg" />
         <pubDate>2024-03-17 15:07:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2921938084</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peran di Lingkungan Masyarakat</title>
         <author>rizkynurdiansyah2904</author>
         <link>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2924815182</link>
         <description><![CDATA[<p>Perkenalkan nama saya Rizky, kontribusi saya di lingkungan masyarakat bisa dibilang tidak banyak/signifikan dikarenakan jikalau sedang berada di desa saya lebih banyak menghabiskan waktu berada di rumah atau bisa dibilang saya ini anaknya rumahan, bahkan saat ada kegiatan gotong royong atau genduren, lenggahan, mitoni, dan puputan biasanya bapak saya yang akan hadir, kalau beliau berhalangan hadir barulah saya yang akan datang menghadiri kegiatan tersebut mewakili beliau. Akan tetapi jikalau ada acara desa seperti maulid nabi, idul adha dan lain sebagainya saya biasanya turut adil dalam acara sebagai panitia kegiatan. Yaah mungkin saya ini orangnya introvert, tapi meskipun introvert saya masih mau untuk berkontribusi kepada masyarakat. </p><p><br/></p><p>Muhamad Rizky Nurdiansyah</p><p>2240301194</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2339792491/d60ed56d19e05b9d9b2d0571786ac58a/IMG_20240201_WA0004.jpg" />
         <pubDate>2024-03-19 09:39:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/winastirahma/c8ykvzoco2202ojn/wish/2924815182</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
