<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>TELL YOUR STORY by Silvia Najemi</title>
      <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4</link>
      <description>Telling story for each group</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-10-11 11:46:11 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-10-12 04:16:57 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f970.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>ASAL MULA BURUNG PUNAI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742908845</link>
         <description><![CDATA[<div>Tersebutlah seorang pemuda bernama Andin. Ia adalah seorang pengembara. Andin seorang diri kerap menjelajahi desa-desa dan juga berbagai negeri.<br><br>Pada suatu hari Andin tiba di sebuah desa yang bersungai dan berawa-rawa. Desa Pakan Dalam namanya. Pekerjaan penduduk desa itu kebanyakan menangkap atau menjerat burung dengan getah. Karena Andin juga piawai menangkap burung dengan getah dan burung-burung di desa itu sangat banyak jumlahnya, Andin lantas memutuskan untuk menetap di desa tersebut.<br><br><br>Kedatangan Andin diterima warga Pakan Dalam. Setelah bermukim, setiap hari Andin menjerat burung dengan getah. Pagi-pagi ia telah berangkat dan baru pulang ke rumahnya pada waktu sore. Kadang, hingga senja ia baru pulang. Karena kebiasaannya itu, warga pun akhirnya memanggilnya Andin Pulutan. Kepiawaiannya dalam memulut atau menjerat burung dengan getah serasa tiada tandingannya hingga sebagian besar warga juga menyebutnya Datu Pulut. Orang yang piawai memulut makna namanya.<br><br>Pada suatu pagi Datu Pulut berangkat memulut. Ia menaiki jukungnya menuju hilir sungai. Dibawanya keranjang kecilnya. Setelah menemukan tempat yang sesuai baginya untuk memulut, Datu Pulut lantas menghentikan laju jukungnya. la kemudian memasang getah-getah di beberapa tempat. Ia menunggu seraya tiduran di atas jukungnya. Mendadak turun hujan. Datu Pulut lalu berteduh di bawah pohon besar lagi rindang. Tak jauh dari tempatnya berteduh terdapat sebuah telaga yang sangat jernih airnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:47:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742908845</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742913164</link>
         <description><![CDATA[<div>Hujan pun reda, berganti dengan gerimis. Datu Pulut lantas berniat melihat getah-getah yang dipasangnya. Namun, diurungkannya niatnya itu ketika ia mendengar suara-suara yang mencurigakannya. Suara-suara perempuan yang tengah bersenda gurau. Datu Pulut mencari sumber suara itu. Terperanjatlah Datu Pulut ketika melihat tujuh bidadari terbang dari langit menuju telaga. Seketika tujuh bidadari itu tiba di telaga, seketika itu pula di langit terlihat sebuah pelangi yang sangat indah. Datu Pulut segera bersembunyi di balik pohon untuk mengintip apa yang akan dilakukan tujuh bidadari itu.<br><br></div><div>Tujuh bidadari itu rupanya hendak mandi. Mereka melepaskan selendang yang semula digunakan untuk terbang dan meletakkannya di atas bebatuan. Mereka lantas mandi sambil bercengkerama.<br><br></div><div>Dari tempat persembunyiannya, Datu Pulut melihat tujuh bidadari yang tengah mandi itu. Ia amat terpesona mendapati kecantikan para bidadari itu. Tergerak hatinya untuk memperistri salah satu bidadari itu. Maka, ia pun segera mengambil salah satu selendang dan menyembunyikannya di dalam keranjang kecil yang dibawanya.<br><br></div><div>Hari pun beranjak sore. Matahari telah condong di langit barat. Tujuh bidadari itu menghentikan mandi mereka. Salah seorang bidadari tidak dapat menemukan selendangnya. Enam sudaranya telah berusaha turut mencari, selendang itu tidak juga mereka temukan<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:51:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742913164</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742914622</link>
         <description><![CDATA[<div>Tidak ada yang bisa dilakukan enam bidadari itu selain meninggalkan bidadari yang malang itu ketika<br><br></div><div>hari menjelang senja.<br><br></div><div>Si bidadari malang menangis sepeninggal enam saudaranya. Ia sangat ketakutan hidup di bumi yang sangat asing baginya. Ia terus menangis dan memanggil ayah dan bundanya agar bersedia menolongnya.<br><br></div><div>Ketika waktu malam tiba, Datu Pulut mendekati dan menyapa bidadari malang itu. Keduanya lantas berkenalan. Kata Datu Pulut kemudian, “Jika engkau tidak mempunyai sanak saudara atau siapa punjuga di bumi ini, engkau dapat tinggal bersamaku.”<br><br></div><div>Si bidadari setuju dengan ajakan Datu Pulut. Tidak berapa lama setelah tinggal bersama, Datu Pulut melamar si bidadari. Keduanya lantas menikah dan tetap tinggal di desa Pakan Dalam itu. Setelah menikah, Datu Pulut kian rajin mencari burung. Pagi-pagi sekali ia telah berangkat dan baru pulang ketika waktu malam hampir tiba. Burung-burung yang berhasil dijeratnya dijualnya dan hasil penjualan itu digunakannya untuk mencukupi kebutuhan hidup ia dan istrinya. Kebahagiaan Datu Pulut kian lengkap setelah istrinya melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Pada suatu hari si bidadari hendak menanak nasi. Dilihatnya beras di Padaringan (Tempat untuk menyimpan beras) telah habis. Ia pun menuju lumbung padi untuk mengambil padi. Selama ia hidup bersama suaminya, si bidadari belum pernah sekalipun memasuki lumbung padi itu karena suaminya telah melarangnya. Namun, ia terpaksa melanggar larangan suaminya mengingat ia harus menanak nasi.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:53:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742914622</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Legenda Banjarmasin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742917826</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Pada suatu ketika. Kalimantan diperintah oleh kerajaan Negara Daha. Raja meninggal dunia dan menyerahkan tahta kepada putranya, Pangeran Samudra. Namun paman Pangeran Samudra tidak berkenan. Dia ingin memerintah kerajaan.<br><br>Novia</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:56:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742917826</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742918338</link>
         <description><![CDATA[<div>Dia membuat rencana jahat. Ia memaksa Pangeran Samudra untuk memberikan tahta kepadanya dan membuat sang pangeran meninggalkan wilayah tersebut. Sayangnya, ada suatu daerah yang menerima hangat Pangeran Samudra. Wilayah itu adalah Bandar Masih. Penduduk Bandar Masih setuju untuk berhenti membayar pajak kepada raja baru.<br><br>Ainia</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:56:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742918338</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742918570</link>
         <description><![CDATA[<div>Mereka pun mendukung Pangeran Samudra untuk mendapatkan kembali tahtanya dan memutuskan untuk berperang melawan paman Pangeran Samudra. Mereka akhirnya memenangkan perang. Paman Pangeran Samudra menyerah dan menyerahkan takhta kembali kepada Pangeran Samudra.<br><br>Aulia&nbsp;Ramadhani </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:56:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742918570</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742918750</link>
         <description><![CDATA[<div>Pangeran Samudra tidak melupakan kontribusi Bandar Masih dalam kemenangannya. Ia memutuskan untuk menjadikan Bandar Masih sebagai ibu kota barunya. Kerajaan tersebut masuk Islam dan ia memulai kekuasaannya atas kerajaan baru (Kerajaan Islam Banjar).<br><br>Madina</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:56:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742918750</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742919593</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama Bandar Masih perlahan-lahan diubah menjadi Banjarmasin karena airnya terasa asin di musim kemarau asin adalah Masin dalam bahasa banjar. Kerajaan Banjar di bawah pimpinan pangeran Pemerintahan Samudra berkembang dan memasuki masa keemasannya.<br><br>Tiara</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 03:57:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742919593</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742922718</link>
         <description><![CDATA[<div>Ketika berada di dalam lumbung padi, si bidadari menemukan keranjang kecil yang terbuat dari bambu. Terperanjat bukan alang kepalang ia ketika mendapati selendangnya di dalam keranjang kecil itu. Mengertilah ia, suaminya itulah ternyata yang menyembunyikan selendangnya. Ia lantas mengambil selendang itu dan bersiap untuk kembali ke Kahyangan.<br><br>Datu Pulut sangat terkejut ketika pulang dari mencari burung. Dilihatnya istrinya telah mengenakan selendangnya dan tengah mendekap anak perempuannya. “Istriku, hendak ke mana engkau?” tanyanya was-was.<br><br>“Suamiku, aku hendak kembali ke Kahyangan,” jawab si bidadari.&nbsp;<br><br><br>“Lantas, bagaimana dengan anak perempuan kita? Apakah engkau tega meninggalkannya? Bukankah ia masih menyusu?”<br><br><br>“Hendaknya engkau memelihara anak kita itu baik-baik,” kata si bidadari. “Jika ia menangis karena hendak menyusu, buatkanlah ayunan di pohon berunai. Ketika itu aku dan saudara-saudaraku akan datang dan aku akan menyusui anak kita. Hanya pesanku, janganlah sekali-kali engkau berani mendekati tempatku menyusui itu. Itu pantangan! Camkan baik-baik pesanku ini dan jangan engkau berani melanggar pantanganku itu;’<br><br>Setelah memberikan pesannya, si bidadari lantas terbang kembali ke Kahyangan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:01:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742922718</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Legenda Talaga Bidadari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742922827</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Pada suatu ketika, ada seorang pemuda tampan. Namanya Awang Sukma. Awang Sukma berjalan ke tengah hutan. Ia takjub melihat keanekaragaman kehidupan di hutan. Dia membangun rumah pohon di atas dahan pohon yang sangat besar. Ia hidup di hutan dengan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi<br>penguasa daerah tersebut dan mendapat gelar "Datu". Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling wilayah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih. Danau itu berada di bawah pohon rindang yang banyak buah-buahan. Burung dan serangga hidup bahagia di sana. “Hmm, betapa indahnya telaga ini! Hutan ini luar biasa indahnya,” kata Datu Awang Sukma dalam hati.<br><br>Halimah</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:01:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742922827</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742924075</link>
         <description><![CDATA[<div>Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma meniup serulingnya, dia mendengar suara ribut di dalam danau. Di sela-sela tumpukan batu pecah, Datu Awang Sukma mengintip ke dalam telaga.<br><br>Awang Sukma tercengang dan terkejut melihat tujuh gadis cantik bermain air. Mungkinkah mereka malaikat? pikir Awang Sukma.<br><br>Ketujuh gadis cantik itu tidak sadar sedang diawasi dan tidak menghiraukan selendang mereka yang biasa digunakan untuk terbang yang bertebaran di sekitar danau. Salah satu selendang tergeletak di dekat Awang Sukma. “Wah, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan salah satu shawi itu,” gumam Datu Awang Sukma<br><br>Shofiyya</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:02:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742924075</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742924682</link>
         <description><![CDATA[<div>Setelah mendekatkan salah satu selendang ke dekatnya, Datu Awang Sukma segera berlari bersembunyi kembali. Namun saat berlari, ia tidak sengaja menginjak ranting kering. "Krak" Mendengar suara ranting kering yang patah, gadis- gadis itu kaget dan langsung meraih syalnya masing- masing. Mereka buru- buru terbang menjauh dari danau menggunakan syal ajaib mereka. Namun ada seorang gadis yang tidak dapat menemukan selendangnya. Dia telah ditinggalkan oleh semua saudara perempuannya. Dia sangat takut dan sedih ditinggal sendirian. Saat itulah Datu Awang Sukma keluar dari persembunyiannya. Dia berpura- pura melewati danau secara tidak sengaja dan bertanya apa yang terjadi. Putri bungsu menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi. “Jangan khawatir tuan putri, saya akan membantu asal anda tidak menolak tinggal bersama saya,” pinta Datu Awang Sukma. Awalnya putri bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Tetapi karena tidak ada orang lain, dan dia sudah mulai melakukannya<br>takut sendirian, tak ada jalan lain selain menerima kenyataan Awang Sukma membantu.<br><br><br>Lisda</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:03:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742924682</guid>
      </item>
      <item>
         <title>legenda air terjun tangkaramin </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742925744</link>
         <description><![CDATA[<div>Pemuda pertama bernama Bujang Alai yang merupakan anak orang kaya dan sangat tampan wajahnya.<br>Keris itu selalu terselip di pinggangnya dan sering digunakan untuk memaksakan kehendaknya dengan menakuti dan mengancam para penduduk yang tidak berani melawan dirinya karena mereka takut pada ayahnya yang kaya raya dan memiliki banyak anak buah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:04:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742925744</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742926322</link>
         <description><![CDATA[<div>Datu Awang Sukma mengagumi kecantikan putri bungsu. Begitu pula dengan putri bungsu. Dia senang berada di dekat pemuda tampan dan gagah itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan cantik yang diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.<br><br>Namun, suatu hari seekor ayam hitam naik ke dalam kandang dan mencakar permukaan lumbung. Ketika putri bungsunya berusaha mengusir ayam hitam itu. Tiba- tiba matanya tertuju pada sebuah tabung bambu yang terletak di dalam lumbung. Saat tabung itu dibuka, putri bungsu terkejut sekaligus bersorak. "Ini selendangku!" Putri bungsu menangis. Selendang ajaib itu juga memeluknya. Putri bungsunya merasa kecewa dengan suaminya yang telah membohonginya. Namun di sisi lain, ia juga menyayangi suami dan anak- anaknya. Putri bungsu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kayangan. "Sekarang saatnya aku kembali!" dia berkata pada dirinya sendiri. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayi itu.<br><br>Lita</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:04:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742926322</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927130</link>
         <description><![CDATA[<div>Bujang Kuratauan juga selalu membawa senjata andalannya kemanapun ia pergi untuk berjaga-jaga dari serangan orang jahat.Senjatanya adalah parang bungkul yang sederhana namun sangat ampuh jika sudah digunakan untuk membela diri.Keluarga dan warga yang turut membantu mencari ke segala penjuru untuk menemukan gadis tersebut gagal menemukan dirinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:05:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927130</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927446</link>
         <description><![CDATA[<div>Warga yang mendengar itu langsung berpaling pada Bujang Kuratauan karena mereka tahu tantangan itu sebenarnya ditujukan pada sang pemuda.Tidak ada yang mampu menandingi kesaktian Bujang Alai selain anak muda itu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:06:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927446</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927566</link>
         <description><![CDATA[<div>Datu Awang Sukma tertegun melihat apa yang terjadi. Ia segera menghampiri dan meminta maaf karena diam-diam menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dihindari. “Kanda, tolong jagalah Dinda Kumalasari dengan baik,” kata putri bungsu kepada Datu Awang Sukma. “Jika putri kita merindukanku, ambillah tujuh butir kemiri, dan masukkan ke dalam keranjang yang sudah dikocok. Aku pasti akan segera datang menemuinya,” kata putri bungsu. Putri bungsu yang telah mengenakan selendang kemudian terbang ke kayangan.<br><br>Datu Awang Sukma sedih dan bersumpah akan melarang keturunannya beternak ayam hitam yang dianggapnya membawa petaka. Tempat pemandian putri bungsu dan enam bidadari lainnya kemudian dikenal dengan nama Talaga Bidadari. Terletak di Kalimantan Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.<br><br>Annisa</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:06:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927566</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927743</link>
         <description><![CDATA[<div>Mau jadi pahlawan kesiangan, ya?”balas Bujang Alai mengejek,”Ayo, maju dan lawan aku kalau berani!” Bujang Kuratauan yang sudah terbakar emosi langsung menjawab tantangan tersebut.<br>Bujang Alai dengan kerisnya tampak sangat bersemangat karena ia punya kesempatan untuk menghabisi musuh besarnya itu.<br>Bujang Alai menantang musuhnya itu untuk bertarung di air terjun Mandin Tangkaramin yang tidak jauh dari desa tersebut.<br>Keluarga Bujang Alai tentu saja tidak bisa menerima kematian pemuda sombong itu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:06:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927743</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927937</link>
         <description><![CDATA[<div>Ditengah malam gulita, mereka datang untuk menyerang Bujang Kuratauan dan keluarganya yang berlari ke dalam hutan dengan membawa obor sebagai penerang.<br>Keluarga Bujang Alai yang tidak hafal daerah itu terus saja mengikuti jatuhnya obor ke dasar sungai.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:06:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742927937</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742928290</link>
         <description><![CDATA[<div>Datu Pulut sangat terkejut ketika pulang dari mencari burung. Dilihatnya istrinya telah mengenakan selendangnya dan tengah mendekap anak perempuannya. “Istriku, hendak ke mana engkau?” tanyanya was-was.<br><br>“Suamiku, aku hendak kembali ke Kahyangan,” jawab si bidadari.“Lantas, bagaimana dengan anak perempuan kita? Apakah engkau tega meninggalkannya? Bukankah ia masih menyusu?”“Hendaknya engkau memelihara anak kita itu baik-baik,” kata si bidadari. “Jika ia menangis karena hendak menyusu, buatkanlah ayunan di pohon berunai. Ketika itu aku dan saudara-saudaraku akan datang dan aku akan menyusui anak kita. Hanya pesanku, janganlah sekali-kali engkau berani mendekati tempatku menyusui itu. Itu pantangan! Camkan baik-baik pesanku ini dan jangan engkau berani melanggar pantanganku itu;’<br><br>Setelah memberikan pesannya, si bidadari lantas terbang kembali ke Kahyangan.<br><br>Datu Pulut mengingat pesan istrinya. Ketika anak perempuannya menangis karena hendak menyusu, ia segera membuatkan ayunan pada pohon berunai. Ditinggalkannya bayi perempuannya itu di dalam ayunan. Sama sekali ia tidak berani mendekat karena itu pantangan dari istrinya. Datu Pulut hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan. Waktu terus berlalu. Datu Pulut sangat rindu untuk bertemu dengan istrinya. Berulang-ulang ditahannya rasa rindunya itu, namun serasa kian membesar saja kerinduannya untuk bertemu. Datu Pulut tidak lagi bisa memendam rasa rindunya. Maka, ketika istrinya dengan kawalan enam saudaranya tengah menyusui anak perempuannya, Datu Pulut melanggar pantangan istrinya. Ia mendekati ayunan di pohon berunai. Dengan hati tak sabar karena diamuk perasaan rindu, hendak dipegangnya istri tercintanya yang tengah menyusui anaknya itu.<br><br>Keanehan pun terjadi. Seketika tangan Datu Pulut hendak menyentuh tubuh istrinya, istrinya dan enam saudaranya seketika itu berubah wujud menjadi tujuh ekor burung punai!<br><br>Tujuh ekor burung punai itu langsung terbang ke alam bebas.<br><br>Datu Pulut sangat menyesali perbuatannya. Ia hanya bisa memandangi tujuh ekor burung punai yang terbang itu dengan perasaan menyesal. Ketika anaknya menangis, ia meletakkannya di dalam ayunan di pohon berunai. Namun, istrinya yang telah berubah wujud menjadi burung punai itu tidak juga datang. Istrinya tidak pernah lagi datang.<br><br>Pesan moral dari dongeng dan cerita anak : asal mula burung punai adalah hendaklah kita tidak berani melanggar pantangan yang diberikan orang lain. Jika kita melanggarnya, kita bisa jadi akan mendapatkan kerugian dan merasa menyesal di kemudian hari.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:07:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742928290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Legenda Putri Junjung Buih</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742935262</link>
         <description><![CDATA[<div>Paragraf 1 :<br>Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan bernama Amuntai di kalimantan selatan. Kerajaan ini diperintah oleh dua raja yaitu Raja Patmaraga dan adiknya, Sukamaraga.<br><br>Sayangnya ada satu hal yang membuat kedua raja itu tidak bahagia yakni belum dikaruniai anak, kedua raja dan istiri mereka berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan anak. Dan Raja sumarga menginginkan anak kembar. Setiap malam raja selalu berdoa dan mengelus perut istirnya sembilan bulan kemudian Raja sukamaraga benar benar dikaruniai putra kembar.&nbsp;<br>Meski bahagia dengan kehadiran keponakannya tetap ada rasa sedih, Raja Patmaraga berdoa lebih giat memohon kepada Yang Maha Kuasa , Malamnya raja mendapat petunjuk untuk berdoa di kuil Agung di luar amuntai dan bermeditasi selama beberapa hari.<br><br>Salwa Nabila</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:14:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742935262</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742935783</link>
         <description><![CDATA[<div>Paragraf 2 :<br>Tanpa menunggu lama, keesokan harinya ia mengajak sesepuh istana, Datuk Pujung dan beberapa pengawalnya untuk berangkat ke kuil. Di sana, raja bermeditasi selama beberapa hari.<br><br>Setelah selesai meditasinya, ia kembali ke Kerajaan Amuntai. Di tengah perjalanan, dia melewati sebuah sungai. Betapa terkejutnya Raja Patmaraga ketika menemukan seorang bayi perempuan yang sangat cantik jelita terapung di sungai.<br><br>"Apakah aku tidak salah?" tanya Raja Patmaraga heran, “Bagaimana bisa ada bayi di sungai ini?”<br><br>Dengan hati-hati, raja berusaha mengangkat bayi itu dari sungai. “Datuk Pujung, bantu aku mengangkat bayi ini!” dia memerintahkan tetua istana. Datuk Pujung membantu mengangkat bayi tersebut.<br><br>Menariknya, bayi yang kini digendong Datuk Pujung itu tidak menangis, melainkan berbicara bahkan memberi perintah.<br><br>“Jangan anggap aku begini! Sediakan selembar kain dan selimut tenun setengah hari saja<br><br>40 wanita cantik jemput aku!" perintah bayi perempuan itu. Meski terkejut, Raja Patmaraga segera memerintahkan Datuk Pujung untuk kembali ke istana.<br><br>Tetua istana segera mengadakan sayembara untuk mencari secarik kain dan selimut. Selain itu, ia juga mengumpulkan 40 wanita cantik di lingkungan istana.<br><br>"Pengumuman! Siapapun yang bisa menenun kain dan selimut bayi dalam waktu setengah hari, akan diangkat menjadi babysitter!" kata Datuk Pujung.<br><br>Regina Aminarti</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:14:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742935783</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742936517</link>
         <description><![CDATA[<div>Paragraf 3 :&nbsp;<br>“Jangan bawa aku seperti ini! Sediakan sehelai kain dan selimut yang ditenun dalam waktu setengah hari saja. Kemudian bawakan 40 wanita cantik untuk menjemputku!” perintah sang bayi perempuan.<br><br>Meskipun terkejut, dengan segera Raja Patmaraga memerintahkan Datuk Pujung untuk kembali ke istana. Sang tetua istana langsung membuat sayembara untuk mencari selembar kain dan selimut. Selain itu, ia juga mengumpulkan 40 wanita cantik yang ada di lingkungan istana.<br><br>“Pengumuman! Barang siapa bisa menenun sebuah kain dan selimut bayi dalam waktu setengah hari, akan diangkat menjadi pengasuh bayi!” ucap Datuk Pujung.<br><br>Pengumuman tersebut lantas membuat para rakyat langsung gaduh. Beberapa orang penasaran siapa yang bisa menyelesaikan tenunan kain dalam waktu setengah hari. Sementara itu, para wanita mulai menenun kain menggunakan benang terbaik.<br><br>Pengasuh Terbaik<br>Sayangnya, hingga waktu yang ditentukan tiba, tak ada seorang pun yang berhasil menyelesaikannya. Datuk Pujung pun sampai merasa putus asa. Ia khawatir jika tak bisa menemukan kainnya, Raja Patmaraga tak akan bisa membawa pulang bayi cantik yang ditemukan di sungai tadi.<br><br>Siti Maimunah</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:15:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742936517</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742937286</link>
         <description><![CDATA[<div>Paragraf 4 :<br>Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya. "Tuanku, ini tenunan saya. Coba periksa baik-baik apakah selimut dan kain ini cukup untuk menutupi bayi Raja Patmaraga!" ucap wanita itu sambil menyerahkan selimut dan kain yang sudah terlipat rapi. Saat Datuk Pujung membuka lipatan selimut, para wanita yang berkerumun di sekelilingnya langsung bergumam memuji keindahan kain tersebut. "Siapa namamu?" tanya Datuk Pujung, “Menurutku engkau cukup cocok menjadi pengasuh bayi Raja Patmaraga!”<br><br>Siti Rahma</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:16:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742937286</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742937997</link>
         <description><![CDATA[<div>Paragraf 5 :<br>Datuk Pujung kemudian membawa Ratu Kuripan dan 40 wanita cantik lainnya untuk menjemput Raja Patmaraga dan bayinya. Bayi raja kemudian ditutupi menggunakan kain tenunan Ratu Kuripan.<br>Dan karena aku menemukanmu mengambang di atas buih sungai, maka aku akan menamaimu Putri Junjung Buih! Raja Patmaraga menepati janjinya kepada Ratu Kuripan. Sejak saat itu Ratu Kuripan diangkat menjadi pengasuh Putri Junjung Buih dan mengurus segala keperluan sang putri dari kecil hingga dewasa.<br><br>Syarifah Najmah</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 04:16:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/silvianajemi/c7s2gbwtjjcyafe4/wish/2742937997</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
