<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Food Lost and Food Weast by Atmojo darma</title>
      <link>https://padlet.com/atmojodarma/c4lt6uvdj2uqccvv</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-04-20 01:27:43 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2021-04-20 01:51:32 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Food Lost and Food Weast</title>
         <author>atmojodarma</author>
         <link>https://padlet.com/atmojodarma/c4lt6uvdj2uqccvv/wish/1435814495</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Menurut Food and Agricultural Organization of The United Nations (FAO), food loss megacu pada hilangnya sejumlah pangan antara rantai pasok produsen dan pasar. Permasalahan food loss bisa diakibatkan oleh proses pra-panen seperti pangan tersebut tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar, permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan dari pangan tersebut sehingga produsen memutuskan untuk membuang pangan tersebut karena ditolak oleh pasar. Food loss tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, di negara maju angka food loss ini juga cukup tinggi meskipun tidak sebesar yang terjadi di negara berkembang. Food loss yang terjadi di negara berkembang dikarenakan tingginya tingkat produksi pangan di negara berkembang namun tidak diimbangi dengan teknologi yang memadai sehingga sebelum sampai ke tangan konsumen&nbsp; pangan tersebut ada yang rusak dalam prosesnya maupun tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar.<br></strong><br></div><div><strong>Sedangkan menurut FAO, food waste mengacu kepada makanan yang dibuang dimana produk makanan atau produk makanan alternatif tersebut masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi. Jadi food waste sendiri merupakan makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang tanpa alasan atau makanan tersebut telah mendekati masa kadaluarsanya.<br></strong><br></div><div><strong>Di Indonesia sendiri kasus food loss banyak terjadi salah satunya adalah yang terjadi di Banyuwangi dimana para petani buah naga membuang 10 keranjang yang berisikan buah naga yang masih segar ke sungai. Hal ini disebabkan oleh para petani tidak berhasil menjualkan buah naga tersebut ke pengepul karena tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar padahal masih layak di konsumsi. Kasus ini terjadi karena minimnya pengetahuan para petani untuk mengolah bahan pangan agar sampai tangan konsumen dan sesuai dengan mutu pasar. Sehingga food loss banyak terjadi di negara-negara berkembang khususnya di Indonesia.Indonesia merupakan pelaku food waste dan food loss terbesar kedua di dunia setelah negara Arab Saudi. Padahal di Indonesia sendiri kasus kelaparan masih terjadi dimana-mana. 300 kg bahan pangan dan makanan yang terbuang tersebut dapat mengatasi masalah kelaparan di Indoensia apabila didistribusikan dengan benar.</strong></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-20 01:28:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/atmojodarma/c4lt6uvdj2uqccvv/wish/1435814495</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ketahanan Pangan Indonesia</title>
         <author>atmojodarma</author>
         <link>https://padlet.com/atmojodarma/c4lt6uvdj2uqccvv/wish/1435829735</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Ketahanan Pangan Indonesia=nilai Indeks Keseluruhan pada data tersebut ditentukan dari tiga aspek, yaitu Keterjangkauan, Ketersediaan, Kualitas dan Keamanan. Aspek Keterjangkauan dan Ketersediaan untuk Indonesia meningkat cukup drastis sehingga menjadi aspek yang dominan mempengaruhi kenaikan nilai indeks secara keseluruhan.Berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI) secara keseluruhan status ketahanan pangan Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Pada 2016 Indonesia&nbsp; berada di peringkat 71, dan 2019 meningkat di peringkat 62.“Kami memantau secara konsisten index (GFSI) tersebut. Angka ini naik karena dipengaruhi tiga aspek ketahanan pangan sebagai indikatornya,” ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri.The Economist Intelligence Unit (EIU) bekerjasama dengan Barilla Center for Food &amp; Nutrition juga mengeluarkan indeks keberlanjutan pangan (Food Sustainability Index atau FSI). “FSI itu memiliki tiga indikator, pertama aspek pertanian berkelanjutan, kedua mengenai kehilangan atau susut pasca panen termasuk limbah.<br>The Economist Intelligence Unit (EIU) bekerjasama dengan Barilla Center for Food &amp; Nutrition juga mengeluarkan indeks keberlanjutan pangan (Food Sustainability Index atau FSI). “FSI itu memiliki tiga indikator, pertama aspek pertanian berkelanjutan, kedua mengenai kehilangan atau susut pasca panen termasuk limbah, dan ketiga mengenai aspek gizi” ujar Kuntoro. <br>Ranking yang dibuat FSI bukan judgemental, terlebih sebagai tolak ukur kinerja setiap negara dalam menghadapi tantangan sistem pangan global.<br>Selain isu produksi, aspek penilaian pada data FSI yakni food loss dan food waste atau pangan yang terbuang dan pangan yang menjadi sampah. “Salah satu indikator FSI adalah masih tingginya jumlah makanan yg terbuang, akibat perilaku mengambil makanan berlebihan dan terbuang.</strong><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-04-20 01:34:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/atmojodarma/c4lt6uvdj2uqccvv/wish/1435829735</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
