<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Ehsan -   ناسحI      by Siti Hajar Razali</title>
      <link>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m</link>
      <description>Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan
1. Ibadah
2.Muamalah
3. Akhlak</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2017-04-16 03:29:28 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-14 14:24:07 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>razali_sitihajar</author>
         <link>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m/wish/166449877</link>
         <description><![CDATA[<div>Subanallah</div>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/VBVnW2iiKw0?list=PLFXTni-vPaY9BwG4b9tMT68CeGvmpkP4w" />
         <pubDate>2017-04-16 04:00:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m/wish/166449877</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hebatnya pengertian Ehsan</title>
         <author>razali_sitihajar</author>
         <link>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m/wish/166450931</link>
         <description><![CDATA[<div>Ihsan itu ialah bahawa “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya,tetapi jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.”</div><div>Ihsan juga adalah melakukan ibadah dengan khusyuk,ikhlas dan yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi apa yang dilakukannya.</div><div>Hadist riwayat muslim”dari Umar bin Khatab ia berkata bahwa mengabdikan diri kepada Allah hendaklah dengan perasaan seolah-olah anga melihat-Nya,maka hendaklah anda merasa bahwa Allah melihatmu.”</div><div>Ihsan  ( ناسحI ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.</div><div>Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian</div><div>terbesar dari keislamannya.</div><div>Lalu bagaimana caranya? Dalam mengejawantahkan ihsan bagi mahluk sosial seperti manusia, khususnya kaum muslim ialah dengan cara berbuat baik. Karena dengan pemahaman ihsan ini kita merasa selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat, dengan begitu kita tidak akan mau melakukan perbuatan buruk, kalaupun sampai terbersit maka tetap saja kita tidak akan mau mengerjakannya disebabkan Ihsan tadi. Selain berbuat baik Ihsan juga merupakan salah satu cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita.</div><div>“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaaf : 16-18)</div><div>“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”(QS.Al Fajr : 14)</div><div>Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.</div><div>“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Al-Baqarah:284).</div><div>Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Rasulullah pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Puncak semua pengajaran yang dilakukan Rasul pun mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan- akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka</div><div>sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim )</div><div>Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt.</div><div>Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.”(HR. Muslim )</div><div>“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(An-Nahl: 90 )</div><div><strong>Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan</strong></div><div>Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam ihsan.</div><div><strong>1.      Ibadah</strong></div><div>Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi,</div><div>“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”</div><div>Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.</div><div><strong>2. Muamalah</strong></div><div>Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang     berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun     dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”</div><div>Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:</div><div>a. ihsan kepada kedua orang tua<br>b. ihsan kepada karib kerabat<br>c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin<br>d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat<br>e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya<br>f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia<br>g. ihsan dalam hal muamalah<br>h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang</div><div><strong>3. Akhlak</strong></div><div>Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.</div><div>Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”</div><div><strong>Ciri-ciri Kelebihan Ihsan :</strong></div><div>-  Mentaati perintah dan larangan Allah SWT dengan ikhlas</div><div>-  Senantiasa amanah ,jujur dan menepati janji</div><div>-  Merasakan nikmat dan haus akan ibadah</div><div>-  Mewujudkan keharmonisan masyarakat</div><div>-  Mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.</div><div><strong>Cara Penghayatan Ihsan Dalam kehidupan :</strong></div><div>-  Menyembah dan beribadah kepada Allah</div><div>-  Memelihara kesucian aqidah tidak terbatal</div><div>-  Mengerjakan ibadah fardhu ain dan sunat</div><div>-  Hubungan baik dengan keluarga,tetangga dan masyarakat</div><div>-  Melakukan perkara-perkara yang baik</div><div>-  Mengamalkan sifat-sifat mahmudah</div><div>-  Bersyukur atas nikmat Allah SWT.</div><div>Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-16 04:26:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m/wish/166450931</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Hadits Jibril (3)</title>
         <author>razali_sitihajar</author>
         <link>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m/wish/166450990</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br></div><div>Sabda Beliau tentang <a href="https://muslim.or.id/21551-penjelasan-hadits-jibril-3-makna-ihsan.html#">ihsan</a>, “<em>Jika kamu tidak merasa begitu (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu</em>” yakni tetaplah untuk memperbagus ibadah, karena dia senantiasa melihatmu. Dengan merasakan pengawasan Allah, seseorang dapat memperbagus ibadahnya, seperti mengerjakannya dengan sempurna syarat dan rukunnya, serta memperhatikan sunnah-sunnah dan adabnya.<br><br></div><div>Penjelasan Beliau tentang <a href="https://muslim.or.id/21551-penjelasan-hadits-jibril-3-makna-ihsan.html#">ihsan</a> sangat bagus dan tepat sekali. Beliau tidak menerangkan <a href="https://muslim.or.id/21551-penjelasan-hadits-jibril-3-makna-ihsan.html#">ihsan</a> adalah memperbagus dan memperbaiki ibadah, tetapi cukup mengatakan, “<a href="https://muslim.or.id/21551-penjelasan-hadits-jibril-3-makna-ihsan.html#"><em>Ihsan</em></a><em> adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak merasa begitu, ketahuilah bahwa Dia melihat-Mu</em>”. Karena dengan adanya rasa dilihat, diawasi dan diperhatikan oleh Allah, seseorang dengan sendirinya akan memperbagus dan memperbaiki ibadahnya. Ibarat seorang pembantu yang bekerja dengan serius, telaten, dan rapi karena merasa diawasi majikannya. Berbeda jika tidak adanya perasaan demikian, tentu akan membuat seseorang bermalas-malasan dan tidak sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan.<br><br></div><div>Sabda Beliau, “<em>Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya</em>”, maksudnya adalah sama-sama tidak mengetahui kapan kiamat, hanya Allah saja yang mengetahuinya.<br><br></div><div>Sabda Beliau, “<em>Jika seorang budak melahirkan tuannya</em>” ada beberapa tafsiran, yaitu: (1) Akan banyaknya budak-budak wanita yang melahirkan anak, seakan-akan budak-budak wanita itu adalah budak milik si anak, karena budak-budak itu milik bapak si anak. Di sini terdapat isyarat akan banyaknya penaklukkan negeri. (2) Budak-budak wanita melahirkan anak yang akan menjadi raja-raja, hingga akhirnya si budak wanita selaku ibu menjadi rakyatnya, (3) Menunjukkan sudah rusaknya zaman, di mana <em>ummahaatul aulaad</em> (budak-budak yang melahirkan anak) banyak yang dijual, lalu ada seorang anak yang membeli ibunya sedangkan ia tidak tahu kalau itu ibunya, (4) Banyaknya pembangkangan/durhaka anak terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan budaknya. <em>Wallahu a’lam</em>.<br><br></div><div>Perbedaan antara Islam dan Iman<br><br></div><div>Islam apabila disebutkan secara terpisah, maka masuk juga ke dalamnya iman, sebagaimana iman apabila disebutkan secara sendiri, maka masuk juga ke dalamnya Islam. Hal ini menunjukkan bahwa iman tidak sebatas dalam hati dan diucapkan oleh lisan, namun harus adanya amal. Oleh karena itu, seseorang yang mengakui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka pada prakteknya dia harus beribadah kepada Allah saja, tidak kepada selain-Nya.<br>Islam dan iman apabila disebutkan secara bersamaan, maka maksud iman adalah amalan batin seperti beriman kepada Allah, malaikat, kitab dst. sedangkan Islam maksudnya adalah amalan yang tampak seperti mengucapkan syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dst.<br><br></div><div>Faedah hadits di atas<br><br></div><div>Di antara faedah hadits di atas adalah sebagai berikut:<br><br></div><ol><li>Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang tidak tahu, hendaknya menjawab “<em>tidak tahu</em>” dan hal ini bukanlah cela baginya.</li><li>Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.</li><li>Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala.</li><li>Isyarat agar seseorang duduk yang sopan di majlis ilmu.</li><li>Penyebab sesuatu dihukumi sebagai pelaku. Hal ini sebagaimana Jibril <em>‘alaihis salam</em> dikatakan</li><li>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “<em>datang hendak mengajarkan agama kepada kalian</em>”و padahal yang mengajarkan adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></li><li>Beraneka ragamnya cara mengajar.</li><li>Membaguskan pakaian dan sikap serta memperhatikan kebersihan ketika masuk menemui orang-orang utama, karena malaikat Jibril datang mengajarkan ilmu kepada manusia dengan sikap dan ucapannya (yang bagus).</li><li>Bersikap lembut kepada penanya dan mendekatkan dirinya kepadanya agar ia dapat bertanya tanpa rasa sempit dan takut.</li><li>Bergaul dengan manusia lebih utama daripada beruzlah (mengasingkan diri) selama ia tidak mengkhawatirkan bahaya terhadap agamanya. Jika ia khawatir terhadap agamanya, maka uzlah lebih utama.</li><li>Bahwa di antara tanda Kiamat adalah berbaliknya keadaan, sehingga yang diasuh menjadi pengasuh, dan orang yang hina menjadi orang besar.</li></ol><div><br><br>Sumber: <a href="https://muslim.or.id/21551-penjelasan-hadits-jibril-3-makna-ihsan.html">https://muslim.or.id/21551-penjelasan-hadits-jibril-3-makna-ihsan.html</a></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2017-04-16 04:29:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/razali_sitihajar/bre4ods0pm6m/wish/166450990</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
