<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Statement of financial position and cash flow by Stefani Anggraeni</title>
      <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82</link>
      <description>GSLC Financial Accounting</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-05-27 04:32:02 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-06-29 17:30:22 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Nama anggota</title>
         <author>stefanianggraeni22</author>
         <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601432517</link>
         <description><![CDATA[<div>1.     Cornelia Jessica / 2301945276</div><div>2.     Sharon Josephine Ekklesia J.P. / 2301937904 </div><div>3.     Stefani Anggraeni / 2301937835</div><div>4.     Yolanda Angie / 2301937910</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-05-29 15:42:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601432517</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Statement of financial position</title>
         <author>stefanianggraeni22</author>
         <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601433678</link>
         <description><![CDATA[<div>                                  ANALISIS STATEMENT OF FINANCIAL POSITION <br>                                     PT UNILEVER INDONESIA TBK TAHUN 2018<br><br></div><div>Analisis fisik secara keseluruhan:<br><br></div><div>-          Statement of Financial Position PT Unilever Indonesia Tbk disajikan sejajar ke bawah (bukan yang berbentuk T)</div><div>-          Tiap halaman pada SFP ini terbagi menjadi 4 kolom</div><div>a.       Kolom paling kiri menyajikan nama akun yang ditulis dalam bahasa Indonesia</div><div>b.      Kolom kedua dari kiri menyajikan nominal dari akun yang terjadi di tahun yang bersangkutan</div><div>c.       Kolom kedua dari kanan menyajikan nominal dari akun yang terjadi di tahun sebelumnya</div><div>d.      Kolom paling kanan menyajikan nama akun yang ditulis dalam bahasa Inggris</div><div>-          Secara umum, SFP terbagi menjadi 3 komponen utama yaitu ASSETS, LIABILITIES, dan EQUITY</div><div>-          Total ASSETS akan sama dengan total LIABILITIES dan EQUITY</div><div>-          Akun-akun pada assets dan liabilities disusun berdasarkan tingkat likuiditasnya, dari yang paling likuid hingga yang paling tidak likuid</div><div>-          ASSETS terdiri atas Current Assets dan Non-Current Assets</div><div>-          LIABILITIES terdiri atas Current Liabilities dan Non-Current Liabilities<br><br></div><div>Analisis tiap komponen:<br><br></div><div>STATEMENT OF FINANCIAL POSITION<br><br></div><div><strong>ASSETS<br></strong><br></div><div><strong><em>Total 19,522,970<br></em></strong><br></div><div>CURRENT ASSETS (Total senilai <strong>8,325,029</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.      Cash and Cash Equivalent  </div><div>PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Cash and Cash Equivalent pada tahun 2018 senilai <strong>351,667</strong> mencakup:</div><div>a.       Cash on hand (kas yang dapat langsung digunakan untuk aktivitas bisnis) senilai <strong>81</strong></div><div>b.      Cash in banks (kas yang disimpan di bank) senilai <strong>226,586</strong> </div><div>Disimpan dalam mata uang Rupiah sebesar <strong>118,283</strong></div><div>Disimpan dalam mata uang USD sebesar <strong>86,714</strong></div><div>Disimpan dalam mata uang EUR sebesar <strong>21,589</strong></div><div>c.       Deposit on call (deposito berjangka yang hanya dapat ditarik dengan pemberitahuan sebelumnya) senilai <strong>125,000</strong></div><div>2.      Trade debtors/receivables </div><div>-          Merupakan klaim atau tagihan atas penyerahan barang/jasa kepada pihak lain.</div><div>-          Trade debtors/receivables PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 ada yang berasal dari Pihak Ketiga (pelanggan di wilayah Indonesia) dan dari Pihak Berelasi.</div><div>a.       Dari pihak ketiga senilai <strong>4,485,405</strong> (setelah dikurangi Provision for Impairment senilai <strong>155,098</strong> karena diperkirakan oleh manajemen tidak dapat dipulihkan)</div><div>b.      Dari pihak berelasi:</div><div>Dalam mata uang Rupiah senilai <strong>4,308</strong></div><div>Dalam mata uang USD senilai <strong>493,758</strong></div><div>3.      Advances and other debtors/receivables </div><div>-          Dalam Statement of Financial Position PT Unilever Indonesia Tbk terdapat Advances and other debtors/receivables, dimana ada yang berasal dari Pihak Ketiga dan dari Pihak Berelasi.</div><div>a.       Dari pihak ketiga berasal dari transaksi Derivative instruments dengan 3 perusahaan dalam mata uang USD dan EUR senilai <strong>4,485,405</strong></div><div>Perseroan melakukan transaksi derivatif dengan tujuan untuk lindung nilai terhadap kebutuhan arus kas yang akan datang dalam mata uang asing. </div><div>Perubahan nilai wajar dari instrumen keuangan derivatif ini telah diakui pada laba rugi karena tidak memenuhi kualifikasi untuk akuntansi lindung nilai</div><div>b.      Dari pihak berelasi:</div><div>Dalam mata uang Rupiah senilai <strong>3,727</strong></div><div>Dalam mata uang asing senilai <strong>24,036</strong></div><div>Manajemen tidak membuat provisi atas penurunan nilai untuk akun ini karena berkeyakinan bahwa saldo piutang tersebut akan tertagih seluruhnya.</div><div>4.      Inventories</div><div>-          Inventories pada PT Unilever Indonesia Tbk diukur pada nilai yang terendah antara biaya perolehan dan net realisable value (harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan).</div><div>-          Metode yang dipakai untuk menentukan biaya adalah Moving Average Method.</div><div>-          Provisi untuk inventories yang usang dan tidak terpakai/tidak laris ditentukan berdasarkan estimasi penggunaan atau penjualan masing-masing jenis inventories pada masa mendatang.</div><div>Inventories milik PT Unilever Indonesia Tbk senilai <strong>2,658,073</strong> terdiri atas:</div><div>a.       Finished Goods (Barang jadi) senilai <strong>1,802,630</strong></div><div>b.      Raw materials (Bahan baku) senilai <strong>821,822</strong></div><div>c.       Work in process (Barang dalam proses) senilai <strong>95,820</strong></div><div>d.      Spareparts (Suku cadang) senilai <strong>84,656</strong></div><div>e.       Dikurangi oleh: Provisi atas inventories yang usang dan tidak terpakai senilai <strong>146,855</strong></div><div>Manajemen berkeyakinan bahwa provisi atas inventories yang usang dan tidak terpakai/tidak laris telah memadai untuk menutupi kerugian yang mungkin timbul.</div><div>5.      Prepaid taxes</div><div>Prepaid taxes PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 digunakan untuk membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) senilai <strong>47,063</strong></div><div>6.      Prepaid expenses</div><div>-          Prepaid expenses pada PT Unilever Indonesia Tbk dibebankan ke laba rugi sesuai dengan masa manfaatnya dengan menggunakan straight-line method.</div><div>Prepaid expenses PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 digunakan untuk:</div><div>a.       Rent (sewa) senilai <strong>79,721</strong></div><div>b.      Insurance (asuransi) senilai <strong>14,570</strong></div><div>c.       Others (lain-lain) senilai <strong>70,529</strong></div><div>7.      Assets held for sale</div><div>-          Dalam Statement of Financial Position PT Unilever Indonesia Tbk, terdapat akun Assets held for sale, dimana jika terdapat aset yang dimiliki untuk dijual ketika besar kemungkinan bahwa aset tersebut akan dipulihkan terutama melalui transaksi penjualan daripada melalui pemakaian berlanjut.</div><div>-          Pada 2017, terdapat aset yang telah direncanakan untuk dijual dengan nilai <strong>175,201</strong> (Inventories sebesar <strong>42,834</strong> dan Fixed asset sebesar <strong>132,367</strong>). </div><div>Namun, pada 2 Juli 2018, aset tersebut telah dijual kepada PT Upfield Manufacturing Indonesia sebesar <strong>195,479</strong> (<strong>42,835 </strong>untuk inventories dan <strong>152,644</strong> untuk fixed assets). Sehingga pada 31 Desember 2018, Assets held for sale tersebut sudah tidak ada (sudah terjual).<br><br></div><div>NON-CURRENT ASSETS (Total senilai <strong>11,197,941</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.      Fixed assets </div><div>Pada 31 Desember 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Fixed Asset senilai <strong>10,627,387</strong> dengan komponen sebagai berikut.</div><div>a.       Land (Tanah) senilai <strong>277,326</strong></div><div>b.      Buildings (Bangunan) senilai <strong>2,811,544</strong></div><div>c.       Machinery and equipment (Mesin dan peralatan) senilai <strong>10,626,795</strong></div><div>d.      Motor vehicles (Kendaraan bermotor) senilai <strong>15,205</strong></div><div>e.       Construction in progress senilai <strong>841,033</strong></div><div>f.       Dikurangi accumulated depreciation (dengan straight-line method berdasarkan estimasi masa manfaat dari asset) sebagai berikut:</div><div>Buildings (40 tahun) sebesar <strong>373,046</strong></div><div>Machinery and equipment (3-20 tahun) sebesar <strong>3,566,289</strong></div><div>Motor vehicles (8 tahun) sebesar <strong>5,181</strong></div><div>2.      Goodwill</div><div>Goodwill merupakan selisih lebih antara acquisition cost dan fair value dari net identifiable assets of acquired business pada tanggal akuisisi.</div><div>Pada 31 Desember 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki net book value Goodwill sebesar <strong>61,925</strong> yang merupakan selisih lebih dari jumlah yang dibayar atas nilai tercatat dari kepentingan nonpengendali PT Anugrah Lever yang diakuisisi oleh Perseroan pada bulan Agustus 2007, dan berkaitan dengan produk Bango.</div><div>3.      Intangible assets</div><div>-          Intangible assets yang dimiliki PT Unilever Indonesia Tbk berupa Trademarks dan Software and Software License.</div><div>-          Trademarks diakui sebesar fair value pada tanggal perolehannya. Masa manfaat dari Trademarks ditelaah di setiap periode pelaporan untuk menentukan apakah kondisi terkini dapat terus mendukung penilaian bahwa masa manfaat tetap tidak terbatas.</div><div>-          Software and Software License memiliki masa manfaat yang terbatas dan diukur sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi yang dihitung dengan straight-line method.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki total intangible assets sebesar <strong>434,205</strong> dengan detail sebagai berikut:</div><div>a.       Saldo awal Trademarks sebesar <strong>333,010</strong> dengan penambahan sebesar <strong>2,200</strong> tanpa adanya amortisasi sehingga saldo akhirnya menjadi <strong>335,210.</strong></div><div>b.      Saldo awal Software and Software License sebesar <strong>495,703</strong> dengan penambahan sebesar <strong>63,828</strong> dan dikurangi amortisasi sebesar <strong>460,536</strong> sehingga saldo akhirnya menjadi <strong>98,995.</strong></div><div>4.      Other non-current asset</div><div>Pada 31 Desember 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Other Non-Current Asset sebesar <strong>74,424</strong>. Namun, perusahaan tidak memberikan penjabaran asset apa yang termasuk Other Non-Current Asset ini.</div><div> </div><div> </div><div><strong>LIABILITIES AND EQUITY</strong></div><div><strong><em>Total 19,522,970</em></strong></div><div> </div><div>LIABILITIES<strong> (</strong>Total <strong>11,944,837</strong>)<br><br></div><div>CURRENT LIABILITIES (Total senilai <strong>11,134,786</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.      Bank Borrowings</div><div>-          Bank borrowings pada saat pengakuan awal diakui sebesar fair value dikurangi biaya transaksi. Namun selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi.</div><div>-          Bank borrowings diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka pendek kecuali Perseroan memiliki hak tanpa syarat untuk menunda pembayaran liabilitas selama lebih dari 12 bulan setelah tanggal pelaporan.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk melakukan pinjaman kepada Deutsche Bank AG, Jakarta sebesar <strong>460,000</strong> dengan interest rate sebesar 6,65% dengan repayment schedules 31 December 2018 sampai 7 January 2019</div><div>2.      Trade creditors/receivables</div><div>-          Trade receivables pada awalnya diukur sebesar fair value dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan effective interest method</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Trade Receivables kepada:</div><div><strong>a.</strong>      Pihak ketiga sebesar <strong>4,288,383</strong></div><div>Dengan mata uang Rupiah sebesar <strong>3,935,881</strong></div><div>Dengan mata uang asing sebesar <strong>352,502</strong></div><div>b.      Pihak berelasi, sebesar <strong>284,217</strong></div><div>Dengan mata uang Rupiah sebesar <strong>57,659</strong></div><div>Dengan mata uang asing sebesar <strong>226,558</strong></div><div>3.      Taxes Payable</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Taxes Payable sebesar <strong>1,011,466</strong> dengan Corporate Income Tax (Pasal 25/29) sebesar <strong>948,467</strong> dan Other Taxes seperti Pasal 23/26 sebesar <strong>51,623</strong> dan Pasal 21 sebesar <strong>11,376</strong></div><div>-          Income tax kini dihitung dengan menggunakan tarif pajak yang telah diberlakukan pada tanggal posisi keuangan.</div><div>4.      Accrual</div><div>-          PT Unilever Indonesia Tbk mengakui expenses pada saat terjadinya dengan menggunakan metode akrual, dimana expenses tersebut sudah diakui namun belum terbayar, sehingga diklasifikasikan ke dalam current liabilities.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki accrual sebesar <strong>2,681,273</strong> untuk beban/expense sebagai berikut.</div><div>a.       Advertising and promotion sebesar <strong>1,162,974</strong></div><div>b.      Remuneration sebesar <strong>462,294</strong></div><div>c.       Other Production costs sebesar <strong>138,774</strong></div><div>d.      Distribution of products sebesar <strong>110,939</strong></div><div>e.       Rent sebesar <strong>76,772</strong></div><div><strong>f.</strong>       Customs duty (Bea masuk) sebesar <strong>42,607</strong></div><div>g.      Utilities sebesar <strong>31,810</strong></div><div>h.      Software sebesar <strong>5,434</strong></div><div>i.        Others sebesar <strong>649,669</strong></div><div>5.      Other Payables</div><div>Other Payables yang dimiliki PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 terdiri atas Payables terhadap pihak ketiga dan terhadap pihak berelasi.</div><div>-          Pihak ketiga sebesar <strong>1,338,860</strong> atas pembayaran:</div><div>a.       Consultant fees and other services sebesar <strong>631,820</strong></div><div>b.      Fixed assets and technical parts sebesar <strong>342,917</strong></div><div>c.       Dividends payable kepada pemegang saham publik sebesar <strong>118,387</strong></div><div>d.      Others sebesar <strong>245,736</strong></div><div>-          Pihak berelasi sebesar <strong>772,680</strong></div><div>Dengan mata uang Rupiah sebesar <strong>658,606</strong></div><div>Dengan mata uang asing sebesar <strong>114,074</strong></div><div>6.      Long-term employee benefits obligations – current portion</div><div>-          Long term employee benefit obligations PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 sebesar <strong>709,911</strong> dengan komponen sebagai berikut:</div><div>a.       Pension benefits </div><div>Merupakan program pensiun yang menetapkan jumlah yang akan diterima oleh karyawan pada saat pensiun, yang biasanya tergantung pada satu faktor atau lebih, seperti umur, masa kerja dan jumlah kompensasi dimana seluruh karyawan tetap yang dipekerjakan mulai 1 Januari 2008 dst diikutsertakan pada program ini.</div><div>Pada 2018, Pension Benefits perusahaan sebesar <strong>201,264</strong></div><div>b.      Post-employment medical benefits</div><div>Ini diberikan untuk karyawan yang telah pensiun dan anggota keluarga tertentu, dimana umumnya diberikan apabila karyawan bekerja hingga mencapai usia pensiun dan memenuhi masa kerja tertentu.</div><div>Pada 2018, Post-employment medical benefits perusahaan sebesar <strong>308,102</strong></div><div>c.       Other Post-employment benefits</div><div>Perusahaan memberikan Post-employment benefits seperti jubilee (jubilium) dan long leave benefits (imbalan cuti panjang)</div><div>Pada 2018, Other Post-employment benefits perusahaan sebesar <strong>55,215</strong></div><div>d.      Other long-term employee benefits</div><div>Pada 2018, Other long-term employee benefits (selain yang disebutkan di atas, namun perusahaan tidak menjabarkan bentuk benefits apa yang ditawarkan) perusahaan sebesar <strong>145,330</strong></div><div>-          Dari seluruh total Long-term employee benefits tersebut, yang merupakan current portion hanya sebesar <strong>297,907<br></strong><br></div><div>NON-CURRENT LIABILITIES (Total senilai <strong>810,051</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.      Deffered Tax Liabilities</div><div>-          Deffered tax liabilities merupakan selisih jumlah yang terjadi ketika pencatatan akun dalam metode perpajakan lebih kecil daripada komersial, sebaliknya jika pencatatat akun dalam metode perpajakan lebih besar daripada komersial, akan menimbulkan Deffered Tax Assets, dimana keduanya dapat saling hapus.</div><div>-          Pada 31 Desember 2018, terdapat Deffered Tax sebagai berikut</div><div>a.       Deffered Tax Asset dari Provision and Accrual sebesar <strong>226,959</strong></div><div>b.      Deffered Tax Liabilities dari Fixed asset and intangible assets sebesar <strong>802,483</strong></div><div>c.       Deffered Tax Asset dari Employee benefit obligations sebesar <strong>177,477</strong></div><div>-          Karena Deffered Tax Liabilities lebih besar dari Deffered Tax Asset, maka terbentuk Deffered Tax Liabilities sebesar <strong>398,047</strong></div><div>2.      Long-term employee benefits obligations – non current portions</div><div>-          Long term employee benefit obligations PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 sebesar <strong>709,911</strong> dengan komponen sebagai berikut:</div><div>e.       Pension benefits </div><div>Merupakan program pensiun yang menetapkan jumlah yang akan diterima oleh karyawan pada saat pensiun, yang biasanya tergantung pada satu faktor atau lebih, seperti umur, masa kerja dan jumlah kompensasi dimana seluruh karyawan tetap yang dipekerjakan mulai 1 Januari 2008 dst diikutsertakan pada program ini.</div><div>Pada 2018, Pension Benefits perusahaan sebesar <strong>201,264</strong></div><div>f.       Post-employment medical benefits</div><div>Ini diberikan untuk karyawan yang telah pensiun dan anggota keluarga tertentu, dimana umumnya diberikan apabila karyawan bekerja hingga mencapai usia pensiun dan memenuhi masa kerja tertentu.</div><div>Pada 2018, Post-employment medical benefits perusahaan sebesar <strong>308,102</strong></div><div>g.      Other Post-employment benefits</div><div>Perusahaan memberikan Post-employment benefits seperti jubilee (jubilium) dan long leave benefits (imbalan cuti panjang)</div><div>Pada 2018, Other Post-employment benefits perusahaan sebesar <strong>55,215</strong></div><div>h.      Other long-term employee benefits</div><div>Pada 2018, Other long-term employee benefits (selain yang disebutkan di atas, namun perusahaan tidak menjabarkan bentuk benefits apa yang ditawarkan) perusahaan sebesar <strong>145,330</strong></div><div>-          Dari seluruh total Long-term employee benefits tersebut, yang merupakan non-current portions sebesar <strong>412,004<br></strong><br></div><div>EQUITY (Total <strong>7,578,573</strong>)<br><br></div><div>1.      Share Capital</div><div>-          Meliputi authorised share, issued share, and fully paid-up share</div><div>-          Terdapat 7,63 miliar lembar saham dengan par value <strong>Rp10</strong> per share</div><div>-          7,63 miliar lembar saham itu meliputi 85% merupakan kepemilikan Unilever Indonesia Holding B.V (UIH) dan 15% merupakan kepemilikan publik.</div><div>-          Maka, total share capital PT Unilever Indonesia Tbk pada 31 Desember 2018 sebesar 7,630,000,000 x 10 = 76,3 trilliun (<strong>76,300</strong>)</div><div>2.      Additional paid-in capital</div><div>-          Additional paid-in capital merupakan selisih antara kontribusi modal dengan nilai nominal saham</div><div>-          Additional paid-in capital PT Unilever Indonesia Tbk pada 2018 sebesar <strong>96,000</strong> dimana terdiri atas Capital paid-in excess of par value (Agio Saham) senilai <strong>15,227</strong> dan Balance arising from restructuring transactions between entities under common control senilai <strong>80,773</strong></div><div>-          Capital paid-in excess of par value (Agio saham) merupakan selisih nilai antara harga jual saham dengan harga nominal saham</div><div>Pada PT Unilever Indonesia Tbk ini nilainya didapat dari selisih antara harga jual senilai <strong>3,175</strong> (full amount per saham) dengan par value sebelum stock splits senilai <strong>1,000</strong> (nilai full amount per saham) untuk 9.200.000 saham yang dijual melalui Bursa Efek di Indonesia pada Desember 1981, setelah dikurangi kapitalisasi ke share capital melalui pembagian 4.783.333 saham bonus senilai <strong>4,783,333,000</strong> (full amount) pada tahun 1993.</div><div>Agio saham           = (<strong>3,175</strong> x 9.200.000) – (<strong>1,000</strong> x 9.200.000) – <strong>4.783.333.000</strong></div><div>                  = 29,210,000,000 – 9,200,000,000 – 4,783,333,000</div><div>                  = 15,226,667,000</div><div>                  = <strong>15,227</strong></div><div>-          Balance arising from restructuring transactions between entities under common control senilai <strong>80,773</strong> diperoleh dari book value of equity dari PT Knorr Indonesia dan harga pembelian saham PT KI pada saat Perseroan ini mengakuisisi saham PT KI yang dimiliki Unilever Overseas Holdings Ltd (pihak berelasi) pada tanggal 21 Januari 2004 yang kemudian dilakukan penggabungan usaha dengan PT KI tersebut pada 30 Juli 2004, dimana Perseroan ini adalah pihak yang menerima penggabungan.</div><div>3.      Appropriated Retained Earnings</div><div>-          Appropriated Retained Earnings merupakan bagian dari retained earnings yang sudah ditentukan penggunaannya untuk tujuan tertentu dimana penentuan ini dapat diatur oleh aturan hukum, kontrak, maupun kebijakan direksi</div><div>-          Appropriated Retained Earnings yang ditentukan oleh PT Unilever Indonesia Tbk sebesar <strong>15,260</strong> dimana jumlah ini diperoleh saat RUPS tanggal 22 Mei 2008 menyetujui penyisihan saldo laba sebesar 20,00% dari jumlah modal yang ditempatkan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas</div><div>4.      Unappropriate Retained Earnings</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings merupakan bagian dari retained earnings yang tidak menjadi bagian Appropriate Retained Earnings sehingga tidak ditentukan penggunaannya untuk aktivitas bisnis tertentu</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings berasal dari laba perusahaan tersebut, sehingga semakin besar jumlahnya, maka performa perusahaan dianggap bagus karena berhasil menghasilkan laba yang besar</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings dapat menentukan berapa dividend yang akan dibagikan ke pemegang saham karena sifatnya ini yang available (tidak diperuntukan khusus untuk aktivitas bisnis perusahaan)</div><div>-          Semakin besar jumlah Unappropriate Retained Earnings maka semakin besar kemungkinan jumlah dividend yang akan dibagikan ke pemegang saham<br><br></div><div>Unappropriate Retained Earnings yang dimiliki PT Unilever Indonesia Tbk pada 2018 sebesar <strong>7,578,133</strong> dimana mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar <strong>4,985,828</strong> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/591338885/3ec743de2f6fd50a138c02ae0dedc9d8/287872.jpg" />
         <pubDate>2020-05-29 15:42:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601433678</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Income statement and Other Comprehensive Income Statement</title>
         <author>stefanianggraeni22</author>
         <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601441733</link>
         <description><![CDATA[<div>                     <strong>Income Statement dan Comprehensive Income Statement<br>                                                    Unilever Tbk 2018<br></strong><br></div><div><strong> </strong>Analisis fisik income statement adalah sebagai berikut:<br><br></div><div>1.      Format comprehensive income statement yang Unilever Tbk gunakan adalah bentuk tunggal. Pada comprehensive income statement bentuk tunggal, maka penyajian other comprehensive income selama periode berjalan disajikan dalam satu laporan comprehensive income statement. Berbeda dengan bentuk ganda, dimana pada bentuk ganda terdiri dari dua laporan yaitu income statement selama periode berjalan dan other comprehensive income.</div><div>2.      Penyajian Comprehensive Income Statement ini terbagi menjadi 5 kolom yaitu:</div><div>·      Kolom pertama berisi nama  akun dalam bahasa Indonesia</div><div>·      Kolom kedua berisi nominal akun selama perode berjalan</div><div>·      Kolom ketiga berisi catatan sebagai referensi atau penjelasan lebih lanjut mengenai nominal    tersebut</div><div>·      Kolom keempat berisi nominal dari akun periode sebelumnya</div><div>·      Kolom kelima berisi nama akun dalam bahasa inggris</div><div>3.      Nominal yang ada dalam Comprehensive Income Statement merupakan angka dalam jutaan Rupiah<br><br></div><div>Komponen yang terdapat dalam Income statement Unilever Tbk tahun 2018 adalah sebagai berikut:<br><br></div><div>1.    Net sales</div><div>Yaitu nilai penjualan barang atau jasa selama satu periode akuntansi. Berdasarkan Income Statement, net sales Unilever Tbk senilai Rp 41,802,073. Nilai penjualan tersebut berasal dari pendapat dalam negeri senilai Rp 39,493,896 dan ekspor senilai 2,308,177. Penjualan ekspor Perseroan hanya terdiri dari penjualan kepada pihak berelasi yaitu 5,52% dari jumlah penjualan bersih untuk tahun berakhir 2018. Unilever Tbk mengakui pendapatan ketika pelanggan memperoleh kendali atas barang yang diperoleh dan penjualan ekspor diakui ketika kendali diserahkan pada saat penyerahan barang di atas kapal di pelabuhan pengirim (f.o.b. shipping point).</div><div> </div><div>2.    Cost of goods sold</div><div>Yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang atau jasa. Berdasarkan Income Statement, cost of goods sold Unilever Tbk senilai Rp 20,709,800. Jumlah tersebut didapat berdasarkan perhitungan sebagai berikut:</div><div> </div><div>Raw materials</div><div>-          At the beginning of the year                          806,753</div><div>-          Purchases                                                       16,107,831</div><div>-          At the end of the year                                                (821,822     </div><div>Raw materials used                                              16,092,762</div><div> </div><div>Direct labor costs                                                 737,552</div><div>Depreciation of fixed assets                                539,458</div><div>Manufacturing overheads                                                1,679,162</div><div>Total production costs                                         19,048,934</div><div> </div><div>Work in process</div><div>-          At the beginning of the year                          114,121</div><div>-          At the end of the year                                                (95,820)</div><div>Cost of goods manufactured                               19,067,235<br><br></div><div>Finished goods</div><div>-          At the beginning of the year                          1,502,534</div><div>-          Purchases                                                       1,942,661</div><div>-          At the end of the year                                                (1,802,630)</div><div>Total                                                                     20,709,800</div><div> </div><div>Sebagai catatan, Unilever tidak melakukan pembelian dari pemasok yang secara indvidu melebihi 10% dari total pembelian bahan baku dan barang jadi perusahaan.</div><div> </div><div>3.    Gross profit</div><div>Yaitu selisih antara Net Sales dengan Cost of Goods Sold. Berdasarkan Income Statement, gross profit Unilever adalah senilai Rp 21,092,273 yang didapatkan dari Net Sales – Cost of Goods Sold. </div><div> </div><div>4.    Marketing and selling expenses</div><div>Yaitu beban biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membiaya operasi penjualannya. Berdasarkan Income Statement, marketing and selling expenses Unilever Tbk senilai Rp 7,719,088. Jumlah tersebut didapat berdasarkan perhitungan sebagai berikut:</div><div> </div><div>Advertising and market research                         2,288,304</div><div>Distribution                                                          1,942m881</div><div>Promotion                                                            1,658,263</div><div>Remuneration and employee benefits                  742,208</div><div>Selling expenses                                                   534,068</div><div>Depreciation of fixed assets                                157,888</div><div>Long-term employee benefits                              72,650</div><div>Consultant fees and other services                                  55,406</div><div>Rent                                                                     54,220</div><div>Information and telecommunications                  49,792</div><div>Travelling and representation                               32,481</div><div>Others                                                                  130,927</div><div>Total                                                                     7,719,088</div><div> </div><div>Unilever Tbk mengakui bahwa beban diakui pada saat terjadinya dengan menggunakan metode akrual, dimana pengertian akrual adalah suatu metode akuntansi di mana penerimaan dan pengeluaran diakui atau dicatat ketika transaksi terjadi, bukan ketika uang kas untuk transaksi-transaksi tersebut diterima atau dibayarkan.</div><div> </div><div>5.    General and administration expenses</div><div>Yaitu biaya yang digunakan dalam kantor administrasi perusahaan guna kepentingan kelancaran jalannya perusahaan. Berdasarkan Income Statement, general and administration expenses Unilever Tbk senilai Rp 3,917,171. Jumlah tersebut berdasarkan perhitungan sebagai berikut:</div><div> </div><div>Trademark, technology and service fees              2,864,258</div><div>Remuneration and employee benefits                  311,654</div><div>Information and telecommunications                  157,869</div><div>Consultant fees and other services                                  110,938</div><div>Depreciation of fixed assets                                57,244</div><div>Long-term employee benefits                              24,275</div><div>Amortization of intangible assets                        22,661</div><div>Rent                                                                     16,835</div><div>Travelling and representation                               15,882</div><div>Education and training                                        10,998</div><div>Others                                                                  324,557</div><div>Total                                                                     3,917,171</div><div> </div><div>Unilever Tbk mengakui bahwa beban diakui pada saat terjadinya dengan menggunakan metode akrual, dimana pengertian akrual adalah suatu metode akuntansi di mana penerimaan dan pengeluaran diakui atau dicatat ketika transaksi terjadi, bukan ketika uang kas untuk transaksi-transaksi tersebut diterima atau dibayarkan.</div><div> </div><div>6.    Other income/(expenses)</div><div>Yaitu pendapatan atau beban lainnya yang tidak termasuk dalam kategori marketing and selling expenses dan general and administration expenses. Pada tahun 2018, berdasarkan Income Statement Unilever Tbk memiliki pendapat lainnya senilai Rp 2,822,616. Jumlah tersebut berdasarkan perhitungan sebagai berikut:</div><div> </div><div>Gain/(loss) on foreign exchange, net                   2,029</div><div>Loss on sale of fixed assets                                             (1,731)</div><div>Write-off of dividend payable                             2,886</div><div>Others                                                                  2,819,432</div><div>Total                                                                     2,822,616</div><div> </div><div>Berdasarkan catatan, penghasilan lain-lain terutama merupakan keuntungan dari penjualan hak untuk mendistribusikan produk Spreads yang menggunakan merek dagang global, merek dagang lokal, dan daftar pelanggan di Indonesia, serta aset takberwujud lainnya kepada PT Upfield Consulting Indonesia sebesar Rp 2.662.540.</div><div> </div><div>7.    Operating profit</div><div>Yaitu selisih atau pengurangan antara gross profit dengan marketing and selling, general and administrative expenses, dan pertambahan other income. Berdasarkan Income Statement, operating profit Unilever Tbk senilai Rp 12,278,630.</div><div> </div><div>8.    Finance income</div><div>Yaitu pendapatan yang terdiri dari bunga yang diterima dari peredaran uang, laba derivatif, laba bersih selisih kurs, dan pendapatan bunga atas piutang sewa. Berdasarkan income statement, finance income Unilever Tbk pada tahun 2018 adalah Rp 15,776. Namun disini tidak dijelaskan finance income Unilever berasal dari mana saja.</div><div> </div><div>9.    Finance costs/interest expenses</div><div>Yaitu biaya bunga yang harus dibayar oleh perusahaan karena meminjam modal. Berdasarkan Income Statement, finance costs Unilever Tbkpada tahun 2018 adalah seniai Rp 108,642. Namun disini tidak dijelaskan finance income Unilever berasal dari mana saja.</div><div> </div><div>10.          Profit before income tax</div><div>Yaitu pendapatan perusahaan sebelum dikurangi pajak. Profit before income tax diperoleh dengan cara mengurangkan operating income dengan finance costs. Didapat bahwa berdasarkan data Income Statement, pretax Unilever Tbk 2018 adalah Rp 12,185,764.</div><div> </div><div>11.          Income tax expense</div><div>Yaitu pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan kepada otoritas pajak atau negara. Berdasarkan Income Statement tersebut, pajak penghasilan Unilever Tbk sebesar Rp 3,076,319. Beban pajak penghasilan terdiri dari pajak kini dan pajak tangguhan. Pajak tersebut diakui dalam laba rugi, kecuali jika pajak tersebut terkait dengan transaksi atau kejadian yang langsung diakui dalam ekuitas atau dalam penghasilan komprehensif lain. Dalam hal ini, pajak tersebut masing-masing diakui dalam ekuitas atau penghasilan komprehensif lain. Dalam laporan keuangan ini, jumlah penghasilan kena pajak untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2018 didasarkan atas perhitungan sementara.</div><div> </div><div>12.          Profit</div><div>Yaitu selisih atau pengurangan antara profit before income tax dengan income tax. Profit juga berarti jumlah uang yang Unilever hasilkan dari penjualan dalam periode 2018 yang sudah dikurangi dengan COGS dan biaya-biaya lainnya. Berdasarkan Income Statement, profit Unilever Tbk sejumlah Rp 9,109,445 yang didapat dari Rp 12,185,764 dikurangi dengan Rp 3,076,319.</div><div> </div><div>Comprehensive income adalah perubahan dalam ekuitas (net asset) dikurangi dengan entitas selama periode transaksi dan kejadian atau keadaan yang bukan berasal dari sumber pemilik (menurut FASB-SFAC No. 6). Komponen oter comprehensive income meliputi items of income and expenses (including reclassification adjusments) yang tidak diakui dalam komponen profit and loss. </div><div> </div><div>13.          Remeasurements of long-term employee benefits obligations</div><div>     Yaitu imbalan kerja (selain imbalan pascakerja dan pesangon PKK) yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan jasanya. Berdasarkan Income Statement, long-term employee benefits obligations Unilever sebesar Rp 369,000. Unilever Tbk memberikan imbalan jangka panjang lainnya seperti jubilium (jubilee) dan imbalan cuti panjang. Imbalan ini dhitung dengan menggunakan metodologi yang sama dengan metodologi yang digunakan dalam perhitungan program pensiun imbalan pasti, kecuali keuntungan dan kerugian aktuarial dan biaya jasa masa lalu diakui segera pada laba rugi.</div><div> </div><div>14.          Relaxed tax on other comprehensive income</div><div>     Berdasarkan Incme Statement, pajak terkait atas penghasilan komprehensif lain senilai Rp 92,250. Kemudian, pajak tersebut dijadikan pengurang remeasurements of long-term employee benefits obligations.</div><div> </div><div>15.          Total other comprehensive income</div><div>Setelah mengurangkan remeasurements of long-term employee benefits obligations dengan relaxed tax on other comprehensive income jadilah total other comprehensive income net of tax. Jumlah penghasilan komprehensif Unilever Tbk adalah Rp 276,750 yang merupakan perhitungan dari long-term employee benefits obligations dikurangi dengan tax.</div><div> </div><div>16.          Total comprehensive income</div><div>Total penghasilan komprehensif milik Unilever Tbk adalah Rp 9,386,195 yang merupakan perhitungan dari profit ditambah dengan other comprehensive income. Jadi hasil tersebut merupakan profit milik Unilever yang sudah ditambah dengan profit (komprehensif) yang tidak diakui dalam komponen profit and loss.</div><div> </div><div>17.          Earnings before interest, tax, depreciation and amortization (EBITDA)</div><div>Yaitu pendapatan perusahaan yang belum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dana mortisasi. Dimana, catatan pendapatan ini dapat digunakan untuk melihat profit perusahaan, meski belum benar-benar tuntas. Berdasarkan Income Statement, EBITDA milik Unilever Tbk senilai Rp 13,055,881. Angka tersebut didapat dari perhitungan:</div><div>Profit                                                                    9,109,445</div><div>Income tax expense                                             3,076,319</div><div>Profit before income tax                                      12,185,764</div><div> </div><div>Adjustments for:</div><div>-          Net finance costs                                           92,866</div><div>-          Depreciation                                                   754,590</div><div>-          Amortization                                                  22,661</div><div>EBITDA                                                              13,055,881</div><div> </div><div>18.          Basic earnings per share</div><div>Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik Perseroan pada tahun yang bersangkutan dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar. Laba per saham yang dimiliki Unilever Tbk tahun 2018 senilai Rp 1,194. Jumlah ini dinyatakan dalam nilai penuh Rupiah per saham. </div><div> </div><div>Profit for the year                                                9,109,445</div><div>Weighted average number of ordinary shares</div><div>     outstanding                                                     7,630</div><div>Basic earnings per share (full amount)q               1,194</div><div> </div><div>Tidak ada efek yang dapat menimbulkan dilusi. Sehingga, laba per saham dasar sama dengan laba bersih per saham dilusian. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/591338885/bfa223f37b19514956fcbf7505299482/287873.jpg" />
         <pubDate>2020-05-29 15:46:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601441733</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Statement of cash flow</title>
         <author>stefanianggraeni22</author>
         <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601448695</link>
         <description><![CDATA[<div>                                Analisis Laporan Arus Kas Unilever Tbk 2018<br><br></div><div>                                                                                                (dalam jutaan rupiah)<br><br></div><div>a.       Analisis fisik cashflow (arus kas) Unilever Tbk 2018</div><div>Metode pencatatan laporan arus kas yang digunakan oleh Unilever Tbk adalah metode langsung atau <em>direct method</em>. Laporan arus kas Unilever Tbk dikatakan menerapkan merode langsung karena tidak memuat laporan laba rugi berjalan, neraca periode berjalan, dan periode sebelumnya. Metode langsung pada pelaporan arus kas menggunakan cara melaporkan kelompok-kelompok penerimaan dan pengelaran kas yang berasal dari kegiatan operasi secara lengkap dan selanjutnya diikuti aktivitas investasi dan pendanaan. Metode langsung hanya mencantumkan total penerimaan kas dan pembayaran yang dilakukan selama periode operasional berjalan. Penyusunan arus kas pada metode langsung berdasarkan pada buku kas atau bank dan melaporkan kelompok-kelompok penerimaan dan pengeluaran kas dari kegiatan operasional perusahaan kemudian ditambah dengan kegiatan investasi dan pendanaan atau pembiayaan. </div><div> </div><div>b.       Komponen yang terdapat dalam cashflow Unilever Tbk 2018 : </div><div> </div><div>1.      Arus kas dari aktivitas operasi </div><div>Arus kas bersih dari aktivitas operasi Unilever Tbk pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp 7.914.537, penerimaan kas dari aktivitas operasi adalah arus kas yang berasal dari kegiatan itu sendiri berupa pemasukan dan pengeluaran. Aktivitas operasi adalah kegiatan yang dijalankan oleh perusahaan dari semua fungsi yang ada di suatu perusahaan supaya bisa terlaksana secara strategis untuk mencapai tujuan perusahaan. </div><div>Arus kas dari aktivitas operasi diperoleh dari komponen berikut :</div><div> </div><div>Penerimaan dari pelanggan                                         45.483.545</div><div>Pembayaran kepada pemasok                                     (30.674.878)</div><div>Pembayaran remunerasi direksi dan karyawan           (1.614.213)</div><div>Pembayaran imbalan kerja jangka                               </div><div>panjang non-pensiun                                       (42.262)</div><div>Pemberian pinjaman karyawan                                   7.201</div><div>Pembayaran untuk beban jasa dan royalty                  (2.804.332)<br><br></div><div>penerimaan dari penghasilan keuangan                       8.704<br><br></div><div>Pembayaran biaya keuangan                                       (108.642)</div><div><br></div><div>Pembayaran pajak penghasilan badan             (2.340.568)</div><div>Arus kas bersih dari aktivitas operasi                          7.914.537</div><div> </div><div> </div><div>2.      Arus kas dari aktivitas investasi</div><div>Arus kas dari aktivitas investasi Unilever Tbk pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp 1.942.485. Arus kas dari aktivitas investasi adalah arus kas dalam bentuk pemasukan atau pengeluaran yang mempengaruhi investasi dalam aset tidak lancar. Kegiatan investasi ini biasanya berhubungan dengan aktivitas penjualan atau pembelian dari aktiva perusahaan. Aktivitas investasi adalah semua aktivitas perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang da investasi lain yang tidak termasuk ke dalam kelompok setara kas.</div><div>Arus kas dari aktivitas investasi diperoleh dari komponen berikut :</div><div> </div><div>Hasil penjualan hak distribusi produk             </div><div>            Spreads dan merek dagang lokal                    2.799.154</div><div>Hasil penjualan aset yang dimiliki untuk dijual          195.479</div><div>Hasil penjualan aset tetap                                           12.209</div><div>Perolehan aset tidak berwujud                                    (66.028)</div><div><br></div><div>Pembelian aset tetap                                                   (998.329)</div><div>Arus kas bersih dari aktivitas investasi                       1.942.485</div><div> </div><div>3.      Arus kas dari aktivitas pendanaan</div><div>Arus kas dari aktivitas pendanaan Unilever Tbk pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp 9.916.201. Arus kas dari kegiatan pendanaan adalah arus kas yang berasal dari transaksi yang mempengaruhi utang dan ekuitas perusahaan. Aktivitas pendanaan adalah suatu cara yang dilakukan oleh suatu perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan dana untuk memenuhi berbagai kebutuhan perusahaan. </div><div>Arus kas dari aktivitas pendanaan diperoleh dari komponen berikut :</div><div> </div><div>Pinjaman bank (bersih)                                                (2.990.000)</div><div><br></div><div>Pembayaran dividen kepada pemegang saham           (6.926.201)</div><div>Arus kas bersih yang digunakan untuk                       (9.916.201)</div><div>            Aktivitas pendanaan</div><div> </div><div>4.      Kas dan setara kas pada akhir tahun</div><div>Setara kas adalah investasi yang sifatnya liquid, berjangka waktu pendek, dan dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Suatu investasi baru dapat memenuhi syarat sebagai setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehan</div><div>(Penurunan) kenaikan bersih kas dan setara kas diperoleh dari hasil penjumlahan arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktivitas pendanaan. Maka, Rp 7.914.537 + Rp 1.942.485 – Rp 9.916.201 = (Rp 59.179)</div><div> </div><div>(Penurunan) kenaikan bersih kas</div><div>            Dan setara kas                                                 (59.179)</div><div> </div><div>Dampak perubahan kurs terhadap</div><div>            Kas dan setara kas                                          6.062</div><div><br></div><div>Kas dan setara kas pada awal tahun                           404.784</div><div>Kas dan setara kas pada akhir tahun                           351.667<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/591338885/4d5ee9114fbf9a45d2f07e333fc6636d/287874__2_.jpg" />
         <pubDate>2020-05-29 15:50:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601448695</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Notes of disclosure</title>
         <author>stefanianggraeni22</author>
         <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601457739</link>
         <description><![CDATA[<div>Sumber  : <a href="https://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/Corporate_Actions/New_Info_JSX/Jenis_Informasi/01_Laporan_Keuangan/02_Soft_Copy_Laporan_Keuangan/Laporan%20Keuangan%20Tahun%202018/Audit/UNVR/UNVR%20Financial%20Statement%20FY2018%20(audited).pdf">https://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/Corporate_Actions/New_Info_JSX/Jenis_Informasi/01_Laporan_Keuangan/02_Soft_Copy_Laporan_Keuangan//Laporan%20Keuangan%20Tahun%202018/Audit/UNVR/UNVR%20Financial%20Statement%20FY2018%20(audited).pdf</a> <br><br>    NOTES OF DISCLOSURE PT UNILEVER INDONESIA TBK (UNVR) TAHUN 2018<br><br></div><div>Salah satu elemen penting dari standar akuntansi yang tinggi adalah dengan adanya <em>common disclosures</em> atau <em>notes of disclosures. Notes of disclosures</em> bisa disebut juga dengan <em>notes to financial statements</em> merupakan informasi tambahan berupa pengungkapan informasi yang lebih signifikan dan mendetail mengenai hal-hal yang telah tercantum baik di dalam <em>income statement, statement of financial position, </em>maupun <em>statement of cash flow</em> secara kualitatif dan kuantitatif. <br><br></div><div> Menurut IFRS 7, ada 2 kategori utama dalam <em>disclosures, </em>yaitu informasi yang signifikan mengenai <em>financial instrument</em> dan informasi mengenai sifat dan risiko yang timbul dari <em>financial instrument </em>tersebut. Tujuan dari penyusunan <em>disclosures </em>adalah untuk memudahkan pembaca agar dapat lebih mudah memahami isi laporan keuangan sehingga memenuhi <em>conceptual framework of accounting</em> yaitu <em>completeness, verifiability, </em>dan <em>understandability.</em> Selain itu, menurut IAS 1.114, sebuah <em>notes disclosures </em>diharapkan dapat ditampilkan dengan urutan 1)pernyataan kepatuhan dengan IFRS, 2)ringkasan kebijakan akuntasi yang diterapkan, yaitu meliputi dasar pengukuran yang digunakan dalam laporan keuangan serta kebijakan akuntansi lainnya yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan, 3)informasi pendukung mengenai items pada laporan keuangan, baik dari <em>income statement, statement pf financial position, statement of cash flow, </em>atau <em>statement of change in equity, </em>dan 4)pengungkapan lainnya, yaitu terdiri dari kontijensi liabilitas dan komitmen kontraktual, misalnya seperti manajemen risiko dan aturan yang terkait dengan hal tersebut.<em> <br></em><br></div><div>Di dalam <em>notes of disclosures</em> dari laporan keuangan perusahaan Unilever, terdapat 36 poin utama sebagai penjelasan yang mendetail mengenai komponen perusahaan serta komponen dari laporan keuangan. Elemen dari <em>notes of disclosures</em> perusahaan Unilever adalah sebagai berikut:<br><br></div><div>1.                  Informasi umum</div><div>Pada poin ini dijelaskan mengenai sejarah pendirian perusahaan Unilever hingga siapa saja pemegang saham dari Unilever. Unilever Indonesia pertama kali didirikan pada 5 Desember 1933 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun tersebut. Di dalam poin ini pun dijelaskan bahwa Unilever sempat melakukan pemecahan saham dari Ro1.000 per saham menjadi Rp100 pada tahun 2000, kemudian kembali melakukan pemecahan saham menjadi Rp10 per saham pada tahun 2003. Untuk informasi mengenai pemegang saham, pemegang saham terbesar dari Unilever Indonesia TBK adalah Unilever Indonesia Holding B.V dengan entitas induk utama Unilever N.V. Belanda. Di dalam poin informasi umum juga dijabarkan mengenai dewan komisaris, susunan direksi, serta komite audit dari UNVR pada tahun 2018.</div><div><br>2.                  <em>Summary of significant accounting policies / </em>ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan</div><div>Poin ini secara umum menjelaskan tentang metode serta beragam kebijakan akuntansi apa yang diterapkan oleh perusahaan Unilever Indonesia untuk <em>financial instruments </em>dalam rangka penyusunan laporan keuangan perusahaan. Bagian ini dibagi kembali menjadi beberapa poin, yaitu:</div><div>a.       Dasar penyusunan laporan keuangan</div><div>Dalam poin ini dijelaskan bahwa metode akuntansi yang digunakan oleh UNVR pada penyusunan laporan keuangan adalah dengan <em>acrrual basis</em> dan menggunakan konsep <em>historical cost</em>, kecuali bagi <em>financial instruments</em> tertentu yang diwajibkan untuk menggunakan konsep <em>fair value</em>. Dengan demikian, proses pencatatan dilakukan saat terjadinya transaksi dengan berdasar kepada transaksi di masa lalu sehingga bersifat <em>reliability</em> serta juga berdasar kepada nilai transaksi saat ini untuk <em>financial instrument </em>tertentu sehingga laporan keuangan dapat bersifat <em>relevance</em>. UNVR juga mencantumkan prubahan standar akuntansi keuangan terhitung sejak 1 Januari 2018 dengan berdasar kepada PSAK 71 yang menggantikan PSAK 55 dengan pengklasifikasian aset keuangan berdasarkan <em>cash flow characteristics </em>serta model bisnis dari aset tersebut. <em>Expected loss impairment model</em> atau ekspektasi kerugian kredit dihitung sejak saat pengakuan awal instrumen keuangan dan pengakuan tersebut bersifat <em>full lifetime</em> secara <em>timely basis.</em> Kemudian perusahaan pun telah menerapkan PSAK 72, ISAK 33, ISAK 34, PSAK 73, dimana perusahaan harus mengakui aset dan liabilitas untuk sewa dengan jangka waktu lebih dari 12 tahun, kecuali bernilai rendah serta terjadi perubahan sifat beban sewa akibat adanya pergantian pengakuan beban sewa operasi dari yang sebelumnya secara <em>straight-line </em>menjadi dengan beban penyusutan untuk aset hak-guna dan beban bunga atas liabilitas sewa.</div><div>b.      Transaksi dengan pihak berelasi atau <em>related parties</em></div><div>Perusahaan Unilever telah mencantumkan seluruh transaksi dengan <em>related parties</em> ke dalam laporan keuangan sesuai dengan PSAK 7.</div><div>c.       Kas dan setara kas (<em>cash and cash equivalents)</em></div><div>Poin ini menjabarkan <em>cash and cash equivalents</em> dari Unilever Indonesia yang terdiri atas kas di tangan, kas pada bank, dan deposito jangka pendek dengan jangka waktu jatuh tempo dalam 3 bulan atau kurang.</div><div>d.      Transaksi mata uang asing</div><div>Poin ini menjelaskan bahwa transaksi dengan mata uang asing dicatat pada laporan keuangan Unilever Indonesia dengan mata uang Rupiah yang disesuaikan dengan kurs yang berlaku pada tanggal pelaporan tersebut. Keuntungan dan kerugian akibat selisih kurs kemudian akan diakui pada laba rugi pada tahun yang bersangkutan.</div><div>e.       Instrumen keuangan derivatif</div><div>Instrumen keuangan derivatif Unilever Indonesia pada awalnya diakui pada <em>fair value</em> pada saat kontrak tersebut dilakukan, dan selanjutnya akan diukur pada nilai wajarnya. Pengakuan keuntungan atau kerugian akibat perubahan <em>fair value</em> tergantung pada jenis derivatif tersebut, apakah instrumen keuangan tersebut termasuk ke dalam <em>hedging instrument</em> untuk tujuan akuntansi atau tidak.</div><div>f.       Instrumen keuangan</div><div>Poin ini menjelaskan bahwa seluruh aset dan liabilitas dari Unilever Indonesia diakui pada pengakuan awal pada saat perseroan menjadi pihak dari ketentuan kontrak instrumen keuangan tersebut. Kemudian, Unilever Indonesia pun telah menerapkan PSAK 71, dimana aset perusahaan yang terdiri dari kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, serta liabilitas yang terdiri dari pinjaman bank, utang saha, akrual, dan utang lain-lain diukur pada biaya perolehan diamortisasi (<em>at amortized costs</em>). Terkait dengan hal tersebut, perusahaan mengakui <em>impairment loss provision </em> atas aset keuangan dengan pengukuran <em>amortized cost, </em>sedangkan untuk <em>trade receivables</em> diukur dengan jumlah yang sama dengan <em>lifetime ECLs (expected credit losses)</em> yang dapat diakibatkan oleh semua kemungkinan gagal bayar dari aset keuangan perusahaan. Kemudian, apabila terjadi peningkatan <em>credit risk </em>dari aset perusahaan secara signifikan, Unilever Indonesia akan mempertimbangkannya dengan melakukan analisis informasi secara kuantitatif dan kualitatif berdasarkan <em>historical experience</em> dan penilaian kredit.</div><div><em>Credit losses </em>atau kerugian kredit diukut sebagai <em>present value </em>dari semua <em>cash shortfalls</em> perusahaan dan ECLs didiskontokan pada <em>effective interest rate</em> dari aset keuangan tersebut.</div><div>Perusahaan menganggap aset gagal bayar atau mengalami nilai penurunan ketika pelanggan tidak mampu membayar kewajiban kreditnya secara penuh karena adanya kondisi kesulitan keuangan dari  pelanggan, pelanggaran kontrak, atau ada kemungkinan kebangkrutan. Selain itu, nilai aset dan liabilitas Unilever Indonesia bersifat <em>offset </em>atau dapat saling hapus dan dicantumkan ke dalam <em>statement of financial position</em> perusahaan.</div><div>g.      Piutang usaha</div><div>Piutang perusahaan Unilever Indonesia pada awalnya diakui pada <em>fair value</em> dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan amortisasi dengan menggunakan metode <em>effective interest rate</em>, dikurangi dengan <em>provision for impairment</em> dari piutang tersebut. Piutang perusahaan dihapuskan ketika hak kontrak piutang telah kadaluarsa atau ketika telah ditransfer ke pihak lain.</div><div>h.      Persediaan</div><div><em>Inventory </em>perusahaan diukur pada nilai terendah antara <em>cost </em>atau <em>net realisable value.</em> Metode yang dipakai untuk menghitung <em>cost </em>dari <em>inventory </em>di Unilever Indonesia adalah dengan <em>moving average method.</em> <em>Cost of finished goods </em>dan<em> work in process </em>terdiri dari<em> cost of materials, cost of direct labour, </em>serta alokasi biaya <em>overhead </em> yang terkait dengan produksi.</div><div><em>Net realisable value</em> merupakan estimasi harga jual dikurangi dengan estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan. Kemudian, provisi untuk <em>obsolete inventory</em> ditetapkan berdasarkan <em>future usage </em>atau <em>future sales </em>persediaan tersebut.<em> </em></div><div>i.        Aset tetap dan penyusutan</div><div>Dalam hal ini, aset Unilever Indonesia yang berupa tanah tidak mengalami penyusutan, sedangkan aset tetap perusahaan lainnya tetap dicatat dengan biaya perolehan, yaitu segala biaya yang terkait dengan perolehan aset tersebut, dikurangi dengan akumulasi penyusutan. <em>Subsequent cost</em> dari aset tetap diakui sebagai <em>assest’s carrying amount</em> atau diakui secara terpisah hanya jika aset tersebut membawa manfaat bagi perusahaan. Biaya perbaikan dan pemeliharaan aset akan dibebankan ke dalam laba rugi perusahaan saat biaya tersebut terjadi.</div><div>Metode penyusutan aset tetap yang digunakan oleh Unilever Indonesia adalah metode garis lurus. Kemudian, keuntungan dan kerugian dari <em>disposal fixed assets</em> akan dicatat dan diakui dalam akun “<em>other expenses/income,net” </em>dalam laba rugi. Biaya konstruksi aset akan direklasifikasikan ke akun tetap perusahaan pada saat proses konstruksi telah selesai serta biaya penyusutan mulai dibebankan pada tanggal aset tersebut dapat digunakan.</div><div>j.        Sewa</div><div>Poin ini menjelaskan bahwa segala pembayaran yang terkait dengan sewa operasi akan dibebankan ke laba rugi dengan <em>straight-line basis</em> selama masa sewa.</div><div>k.      Penurunan nilai dari aset nonkeuangan</div><div>Aset dengan umur manfaat yang tidak terbatas (contohnya <em>goodwill</em>) tidak mengalami amortisasi dan akan diuji penurunan nilainya secara tahunan. Penurunan nilai diakui jika <em>carrying amount </em> melebihi <em>recoverable amount</em>. Aset keuangan selain <em>goodwill</em> yang mengalami penurunan nilai akan diuji setiap tanggal pelaporan untuk menilai apkah ada kemungkinan pemulihan penurunan nilai atau tidak.</div><div>l.        Goodwill</div><div><em>Goodwill </em>merupakan selisih lebih antara biaya perolehan dengan <em>fairvalue</em> pada tanggal akuisisi. Pengujian penurunan nilai dicatat sebesar biaya perolehan dikurang dengan akumulasi kerugian penurunan nilai, yang mana tidak dapat dipulihkan. </div><div>m.    Aset tak berwujud</div><div><em>Intangible assets </em>dari Unilever Indonesia berupa perangkat lunak dan lisensi perangkat lunak yang memiliki masa manfaat terbatas selama 5-11 tahun dan diukur dengan biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi secara <em>straight-line method.</em> Kemudian, merek dagang diakui pada <em>fair value</em> pada tanggal perolehannya serta manfaat merek dagang ditelaah setiap periode pelaporan untuk menentukan apakah merek dagang tetap memiliki masa manfaat yang tidak terbatas atau tidak.</div><div>n.      Beban dibayar dimuka (<em>prepaid expenses)</em></div><div><em>Prepaid expenses</em> perusahaan Unilever Indonesia dibebankan ke dalam laba rugi sesuai dengan masa manfaatnya dengan metode garis lurus.</div><div>o.      Pendapatan dan beban (<em>revenue and expenses)</em></div><div>Pendapatan perusahaan terdiri dari <em>fair value</em> dari penjualan barang yang telah dikurangi dengan PPN, retur barang, dan potongan barang atau diskon. Unilever Indonesia mengakui pendapatan ketika pelanggan telah memperoleh kendali atas barang tersebut.</div><div>Penjualan ekspor diakui ketika kendali diserahkan pada saat penyerahan barang di atas kapal di pelabuhan pengirim, sedangkan penjualan lokal diakui pada saat penyerahan barang kepada pelanggan.</div><div>Beban perusahaan diakui dengan <em>accrual basis</em>, yaitu diakui pada saat terjadinya beban tersebut.</div><div>p.      Pinjaman (<em>borrowings</em>)</div><div>Pinjaman pada awalnya diakui sebesar <em>fair value</em>, dikurangi dengan biaya transaksi yang terjadi. Selanjutnya, pinjaman akan diukur dengan <em>amortised cost.</em></div><div>Pada poin ini pun dijelaskan pengklasifikasian pinjaman perusahaan, yaitu sebagai liabilitas jangka pendek kecuali perusahaan memiliki hak tanpa syarat untuk menunda pembayaran selama lebih dari 12 bulan setelah tanggal pelaporan.</div><div>q.      Utang usaha</div><div>Utang perusahaan pada awalnya diukur sebesar <em>fair value</em> dan selanjutnya diukut pada biaya perolehan diamortisasi dengan <em>effective interest method</em>. </div><div>r.        <em>Current and deferred income tax</em></div><div>Beban pajak penghasilan terdiri dari <em>current tax </em>dan <em>deferred tax. </em>Pajak diakui ke dalam laba rugi, kecuali jika terkait dengan transaksi yang diakui dalam ekuitas atau diakui ke dalam <em>other comprehensive income. </em></div><div><em>Current income tax</em> dihitung dengan tarif pajak pada tanggal posisi keuangan, sedangkan <em>deferred tax </em>diakui untuk semua perbedaan kontemporer antara DPP dengan <em>carrying amount</em> yang kemudian diukur dengan tarif pajak pada tanggal pelaporan.</div><div>s.       Imbalan kerja (<em>employee benefits</em>)</div><div>Perusahaan Unilever memiliki beberapa imbalan kerja untuk karyawannya, yaitu sebagai berikut :</div><div>-imbalan kerja jangka pendek (<em>short-term employee benefits)</em> yang diakui pada saat terutang kepada karyawan</div><div>-imbalan pensiun (<em>pension benefits), </em>dimana terbagi menjadi program pensium imbalan pasti dan iuran pasti. </div><div>Program pensiun imbalan pasti merupakan program pensiun yang menetapkan jumlah imbalan yang diberikan kepada karyawan kepada pensiun tergantung dari faktor umur, masa kerja, dan jumlah kompensasi serta berlaku bagi seluruh karyawan tetap perusahaan Unilever Indonesia yang dipekerjakan sebelum 1 Januari 2018. Program ini dijalankan UNVR sesuai dengan UU Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 dan dihitung setiap tahun dengan menggunakan metode <em>projected unit credit</em>. <em>Present value </em>dari kewajiban imbalan pasti ditentukan dengan mendiskontokan <em>estimated future cash flow</em> menggunakan <em>interest rates of zero coupon government bonds. </em>Keuntungan  dan kerugian aktuarial akibat penyesuaian unu diakui ke dalam <em>other comprehensive income, </em>sedangkan biaya jasa pada masa lalu diakui secara langsung ke dalam laba rugi dan biaya jasa saat ini diakui ebagai beban periode berjalan (<em>expenses in the prevailing period</em>).</div><div>Program iuran pasti adalah program pensiun dimana perusahaan membayar iuran tetap kepada sebuah entitas secara terpisah dan program ini berlaku bagi karyawan tetap perusahaan yang dipekerjakan mulai 1 Januari 2018 dan seterusnya. Kontribusi kepada program peniun iuran pasti diakui sebagai beban dalam laba rugi pada saat terjadi dan terutang.</div><div>-imbalan kesehatan pasca-kerja (<em>post-employment medical benefits),</em> diberikan kepada karyawan UNVR yang telah pensiun dan dihitung dengan metode <em>projected unit credit</em></div><div>-imbalan kerja jangka panjang lainnya (<em>other long-term employee benefits), </em>seperti jubilium (<em>jubilee)</em> dan imbalan cuti panjang yang dihitung dengan metode <em>projected unit credit</em>, kemudian perihal keuntungan dan kerugian aktuarial dan biaya jasa masa lalu diakui segera pada bagian laba rugi.</div><div>t.        Modal saham (<em>share capital) </em>dan tambahan modal disetor (<em>additional paid in capital)</em></div><div>Saham biasa perusahaan diklasifikasikan sebagai ekuitas, sedangkan tambahan modal disetoe merupakan selisih antara kontribusi modal dan nilai nominal saham. Segala biaya yang terkait dngan penerbitan saham akan dijadikan sebagai pengurang bagi tambahan modal disetor.</div><div>u.      Dividen</div><div>Pembagian dividen final akan diakui sebagai liabilitas ketika dividen disetujui oleh para pemegang saham perusahaan, sedangkan pembagian saham interim akan diakui sebagai liabilitas ketika dividen disetujui berdasarkan keputusan rapat direksi dan sudah diumumkan kepada publik.</div><div>v.      Laba bersih per saham dasar (<em>basic EPS)</em></div><div>Poin ini menjelaskan aturan bahwa EPS dari UNVR dihitung dengan membagi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemiliki perusahaan pada tahun tersebut dengan jumlah rata-rata saham biasa yang beredar (<em>outstanding shares)</em></div><div>w.    Informasi segmen</div><div>Segmen operasi dilaporkan secara konsisten melalui laporan internal kepada direksi.</div><div>x.      Provisi</div><div>Provisi diakui oleh perusahaan jika memiliki <em>present obligation</em> sebagai hasil dari <em>past events.</em></div><div>y.      Aset yang dimiliki untuk dijual (<em>assets held for sale)</em></div><div>Suatu aset dikategorikan sebagai <em>assets held for sale</em> ketika aset tersebut memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk dijual daripada digunakan oleh perusahaan, kemudian diukur dengan nilai terendah dari <em>carrying value</em> dan <em>fair value</em> dikurangi dengan biaya penjualan. Ketika suatu aset telah digolongkan ke dalam <em>assets held for sale,</em> maka aset tersebut tidak akan mengalami penyusutan.<br><br></div><div><em>( informasi tambahan dan mendetail mengenai instrumen keuangan dalam laporan keuangan)<br></em><br></div><div>3.                  Kas dan setara kas (<em>cash and cash equivalent)</em></div><div>Pada bagian kebijakan akuntansi telah dijabarkan bawa kas dan setara kas pada perusahaan Unilever Indonesia terdiri atas kas di tangan, kas pada bank, serta deposit on call. Pada bagian ini, rincian tersebut dijabarkan secara lebih mendetail disertai dengan nominal angka, yaitu total <em>cash and cash equivalent </em>perusahaan yang sebesar Rp351.667 berasal dari <em>cash on hand </em>sebesar Rp81, <em>cash in bank </em>sebesar Rp226.586, serta <em>deposit on call </em>sebesar Rp125.000. Selain itu pula pada bagian ini disebutkan bahwa bunga per tahun atas <em>deposit on call</em> perusahaan pada tahun 2018 sebesar 4,14%.</div><div><br>4.                  Piutang usaha (<em>trade debtors)</em></div><div>Pada bagian ini dijabarkan bahwa piutang pihak ketiga dari perusahaan Unilever Indonesia merupakan piutang dari seluruh pelanggan di Indonesia sedangkan piutang <em>related parties</em> merupakan piutang dari berbagai perseroan Unilever di beberapa negara beserta pihak lainnya. Pada <em>notes</em> ini pun dijabarkan pula mengenai analisis umur piutang usaha yang dikategorikan sebagai piutang lancar, lewat jatuh tempo 1-10 hari, dan lewat jatuh tempo lebih dari 30 hari, serta analisis mengenai <em>impairment</em> dari piutang, dimana dari total piutang usaha sebesar Rp5.138.569, sebesar Rp155.098 merupakan piutang yang mengalami penurunan nilai dan tak tertagih sehingga <em>balance</em> dari piutang usaha pada tahun 2018 adalah Rp4.485.405</div><div><br>5.                  Persediaan (<em>inventories)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan secara lebih rinci mengenai nilai inventory yang tercantum pada <em>balance sheet </em>perusahaan, yaitu inventory tersebut diukur dengan jumlah barang jadi, bahan baku, barang dalam proses, suku cadang, dikurangi dengan provisi atas persediaan usang atau tidak terpakai / tidak laris terjual. Kemudian, provisi tersebut dijelaskan kembali lebih rinci dimana didapat bahwa provisi persediaan usang dan tidak terpakai/tidak laris pada barang jadi sebesar Rp94.868 dan pada bahan baku sebesar Rp51.987. Lalu, dijelaskan pula bahwa terdapat inventory perusahaan yang dilindungi oleh asuransi terhadap kerugian karena bencana alam, kebakaran, dan risiko lainnya dengan jumlah sebesar Rp2.400.715</div><div><br>6.                  Instrumen keuangan derivatif (<em>derivative instruments)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan pihak mana saja yang memiliki kontrak berjangka valuta asing dengan perusahaan Unilever serta dijabarkan pula mengenai perhitungan atas (utang) piutang derivatif. Perubahan <em>fair value</em> dari instrumen keuangan derivatif ini diakui pada laba rugi sebab tidak memenuhi kualifikasi untuk akuntansi lindung nilai serta (utang) piutang derivatif digolongkan ke dalam <em>other (creditors) debtors from third parties.</em></div><div><br>7.                  Transaksi dengan pihak berelasi (<em>related parties transaction)</em></div><div>Pada bagian ini dijabarkan mengenai siapa saja dan transaksi apa saja yang terkait dengan <em>related parties </em>dari perusahaan Unilever Indonesia. <em>Related parties</em> dari Unilever Indonesia digolongkan menjadi perseroan yang menjual barang jadi dan membeli bahan baku, serta dijelaskan pula mengenai sifat dan keterkaitan antara <em>related parties </em>dengan transaksi yang dilakukan. Kemudian, dijabarkan pula mengenai berbagai perjanjian penting dengan pihak berelasi, seperti perjanjian lisensi merek, perjanjian lisensi teknologi, perjanjian layanan jasa terpusat, perjanjian UAPL, perjanjian fasilitas pinjaman tanpa jamiman dengan Unilever Finance International AG, serta dijabarkan pula biaya-biaya yang terkait di dalamnya.</div><div>Lalu, dijabarkan pula secara rinci transaksi apa saja yang tergolong ke dalam <em>other receivables from related parties </em>dan <em>other payable from related parties, </em>rincian kompensasi manajemen kunci perusahaan, yaitu kompensasi bagi dewan komisaris dan direksi berupan gaji, tunjangan, bonus, dan imbalan pasca-kerja (kompensasi dicatat sebagai biaya dari biaya produksi, beban pemasaran dan penjualan, dan beban umum dan administrasi), serta rincian mengenai jumlah yang harus dibayarkan oleh perseroan melalui program imbalan pasca-kerja.</div><div><br>8.                  Beban dibayar dimuka (<em>prepaid expense)</em></div><div>Pada bagian ini dijabarkan rincian mengenai <em>prepaid expenses </em>pada <em>balance sheet </em>yang terdiri dari biaya sewa dimuka, biaya asuransi dimuka, dan lain-lain</div><div><br>9.                  Aset tetap (<em>fixed assets)</em></div><div>Pada bagian ini dicantumkan bagaimana perhitungan perubahan nilai aset tetap berdasarkan depresiasi, perhitungan kerugian penjualan aset tetap, perhitungan aset dalam penyelesaian, dan pengalokasian biaya penyusutan perusahaan yang terdiri atas biaya produksi, beban pemasaran dan penjualan, serta beban umum dan administrasi. </div><div><br>10.              Goodwill</div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa nilai buku bersih <em>goodwill</em> pada tahun 2018 adalah Rp61.925 yang merupakan selisih lebih dari jumlah yang dibayar atas nilai tercatat PT Anugrah Lever yang diakuisisi perusahaan pada Agustus 2017 berkaitan dengan produk Bango. </div><div><br>11.              Aset takberwujud (<em>intangible assets)</em></div><div>Pada bagian ini dijabarkan mengenai perhitungan amortisasi aset takberwujud atas perangkat lunak dan lisensi perangkat lunak, serta dijelaskan pula bahwa aset takberwujud perusahaan berasal dari perolehan merek beberapa produk yang digunakan pada 1996, 2001, 2008, 2017, dan 2018, serta perangkat lunak dan lisensi dari 2004 hingga 2018.</div><div><br>12.              Pinjaman bank (<em>bank borrowings)</em></div><div>Pinjaman bank disini merupakan pinjaman tanpa jaminan oleh Unilever Indonesia. Pada bagian ini dijabarkan mengenai pihak ketiga mana saja yang terlibat serta bagaimana rincian perhitungan dari pinjaman tersebut. Kemudian, diinformasikan pula bahwa pinjaman-pinjaman tersebut telah diperpanjang/dilunasi ketika tanggal penyelesaian laporan keuangan.</div><div><br>13.              Utang usaha (<em>trade creditors)</em></div><div>Pada bagian ini dijabarkan mengenai pihak ketiga dan <em>related parties </em>mana saja yang terlibat serta rincian nominal utang usaha dari Unilever Indonesia. Selain itu dijabarkan pula mengenai analisis umur utang usaha, dimana salo-saldo tersebut berasal dari pembelian bahan baku, bahan tambahan, dan barang jadi.</div><div><br>14.              Pajak (<em>taxation)</em></div><div>Pada bagian ini dijabarkan mengenai rincian perhitungan <em>income tax expense, </em>liabilitas pajak tangguhan (<em>deferred tax liabilities), </em>pajak dibayar dimuka (yaitu terdiri dari pajak pertambahan nilai, bersih), utang pajak, dan rincian administrasi</div><div><br>15.              Akrual (<em>accruals)</em></div><div>Pada bagian ini memberi rincian mengenai nilai akrual yang tercantum pada akun “akrual” pada bagian liabilitas di <em>balance sheet,</em> dimana biaya ini terdiri dari iklan dan promosi, remunerasi karyawan, beban produksi lainnya, distribusi barang, sewa, bea masuk, utilitas, perangkat lunak, dan lain-lain dengan total sebesar Rp2.681.273</div><div><br>16.              Utang lain-lain (<em>other payables)</em></div><div><em>Other payables</em> pada <em>balance sheet</em> merupakan akumulasi dari utang terhadap pihak ketiga, yaiti dari jasa konsultan dan jasa lainnya, aset tetap dan barang-barang teknik, urang dividen, dan utang lain-lain dengan total sebesar Rp1.338.860</div><div><br>17.              Kewajiban imbalan kerja jangka panjang (<em>long-term employee benefits obligations)</em></div><div>Nilai kewajiban imbalan kerja jangka panjang pada <em>statement of financial position</em> merupakan akumulasi dari imbalan pensiun, imbalan kesehatan pasca-kerja, umbalan pasca-kerja lainnya, serta imbalan kerja jangka panjang lainnya yang kemudian dikurangi dengan bagian lancar sehingga didapat jumlah kewajiban imbalan kerja jangka panjang sebesar Rp412.004. Selain itu, dijelaskan kembali lebih rinci mengenai akumulasi dan perhitungan dari tiap komponen kewajiban imbalan kerja jangka panjang tersebut agar dapat lebih bersifat <em>verifiable </em>dan <em>understandable.</em></div><div><br>18.              Modal saham (<em>share capital)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa nilai nominal saham UNVR bernilai Rp10 per saham dengan total saham ditempatkan dan disetor penuh (<em>numbers of shares issued and fully paid) </em>sebesar 7.630.000.000</div><div><br>19.              Tambahan modal disetor (<em>additional paid-in capital)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa <em>additional paid in capital</em> terdiri dari nilai agio saham (<em>capital paid-in excess of par value) </em>dan selisih nilai transaki retrukturisasi entitas sepengendali. Agio saham merupakan selsisih antara harga jual nilai penuh per saham sebesar Rp3.175 dengan nilai nominal sebelum pemecahan saham, yaitu Rp1.000 untuk 9.200.000 saham yang dijual melalui BEI pada Desember 1981, setelah dikurangi dengan kapitalisasi ke modal saham melalui pembagian 4.783.333 saham bonus senilai Rp4.783.333.000 pada tahun 1993.</div><div><br>20.              Selisih nilai transaksi restrukturasi entitas sepengendali (<em>balance arising from restructuring transaction between entities under common control)</em></div><div>Bagian ini menjelaskan bahwa akun tersebut diperoleh dari selisih nilai buku ekuitas PT Knorr Indonesia dan harga pembelian saham PT KI pada saat perseroan mengakuisisi saham PT KI pada 21 Januari 2004.</div><div><br>21.              Dividen (<em>dividend)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa menurut Anggaran Dasar Perseroan, pembayaran dividen dapat disetujui dalam rapat direksi dan dewan komisaris, kemudian akan diumumkan dan disahkan dalam RPUS Tahunan bersama-sama dengan pembayaran dividen final. Kemudian, dirinci pula mengenai nominal dividen interim dan final pada tahun 2016-2018, serta dijelaskan bahwa terdapat jumlah dividen yang belum terbayar sebesar Rp118.387 yang kemudian akan digolongkan ke dalam <em>other payables</em> dan terdapat penghapusan dividen sebesar Rp2.886 yang kemudian akan digolongkan ke dalam <em>other income.</em></div><div><br>22.              Saldo laba dicadangkan (<em>appropriated retained earnings)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa sesuai dengan UU nomor 40 tahun 2007 mengenai perseroan terbatas serta melalui persetujuan dari RUPS Luar Biasa pada 22 Mei 2008, maka ditentukan penyisihan saldo laba sebesar 20% dari <em>issued share capital</em> atau sebear Rp15.260.</div><div><br>23.              Penjualan bersih (<em>net sales)</em></div><div>Nominal pada akun penjualan dan pendapatan usaha (<em>sales and revenue) </em>pada <em>income statement </em>perusahaan UNVR merupakan akumulasi dari penjualan dalam negeri sebesar Rp39.493.896 serta penjualan ekspor sebesar Rp2.308.177. Selain itu, pada bagian ini pun diberikan rincian mengenai besar penjualan ekspor serta <em>related parties</em> apa saja yang terlibat dalam transaksi ini. Tercatat sebanyak 21 perseroan dan lain-lain yang terlibat sebagai <em>related parties </em>dalam penjualan ekspor Unilever Indonesia.</div><div><br>24.              Harga pokok penjualan</div><div>Nilai COGS yang tercantum pada <em>income statement </em> merupakan akumulasi dari <em>net war materials (</em>pada awal tahun, pembelian, dan akhir tahun),<em> </em>biaya tenaga kerja langsung, penyusutan aset tetap, beban pabrikasi lainnya, barang dalam proses (awal dikurangi akhir), serta barang jadi (awal ditambah dengan pembelian serta dikurang dengan jumlah di akhir tahun). Selain itu, diberikan rincian pula mengenai pembelian bahan baku dan barang jadi dari <em>related parties </em>dari 11 perseroan Unilever dari berbagai negara.</div><div><br>25.              <em>Selling, and general and administravie expense</em></div><div>Beban-beban tersebut yang tercantum pada <em>income statement </em>secara garis besar terdiri dari 2 jenis, yaitu beban pemasaran dan penjualan atau <em>marketing and selling expenses, </em>beban umum dan administrasi atau <em>general and administration expenses. </em>Pada bagian ini diberikan rincian masing-masing beban biaya, yaitu dimana beban pemasaran dan penjualan merupakan akumulasi dari biaya iklan dan riset pasar, distribusi, promosi, remunerasi dan imbalan kerja, beban penjualan, penyusutan aset tetap, imbalan kerja jangka panjang, jasa konsultan dan jasa lainnya, sewa, informasi dan telekomunikasi, perjalanan dinas dan jamuan, dan biaya lain-lain sejumlah Rp7.719.088. Kemudian, beban umum dan administrasi perusahaan Unilever Indonesia terdiri dari biaya <em>trademark</em>, teknologi, dan biaya jasa, remunerasi dan imbalan kerja, informasi dan telekomunikasi, jasa konsultan dan jasa lainnya, penyusutan aset tetap, imbalan kerja jangka panjang, amortisasi aset takberwujud, sewa, perjalanan dinas dan jamuan, pendudukan dan pelatihan, dan biaya lain-lain perusahaan dengan total keseluruhan sebesar Rp3.917.171</div><div><br>26.              Penghasilan (beban) lain-lain, bersih (<em>other income or expenses)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa nominal <em>other income/expense </em>pada <em>income statements</em> perusahaan UNVR didapat dari nominal keuntungan/kerugian selisih kurs, dikurangi dengan kerugian penjualan aset tetap, serta dijumlah dengan penghapusan utang dividen dan penghasilan atau biaya lain-lain.</div><div><br>27.              Beban karyawan (<em>employee costs)</em></div><div>Pada bagian ini diberikan rincian bahwa beban karyawan perusahaan pada tahun 2018 yang sebesar Rp1.888.339 dialokasikan sebagai biaya produksi (<em>production costs) </em>sebesar Rp737.552, beban pemasaran dan penjualan (<em>marketing and selling expense) s</em>ebesar Rp814.858, serta beban umum dan administrasi (<em>general and administration expense) </em>sebesar Rp335.929 </div><div><br>28.              Laba bersih per saham dasar (<em>basic earnings per share)</em></div><div>Pada bagian ini diberikan rincian mengenai perhitungan dari EPS perusahaan, yaitu nilai tersebut diperoleh dengan membagi nilai laba tahun berjalan (<em>profit for the year) </em>sebesar Rp9.109.445 juta dengan jumlah saham biasa yang beredar (<em>numbers of ordinary shares outstanding) </em>sebanyak 7.630 juta, sehingga dengan demikian diperoleh nilai EPS sebesar Rp1.194</div><div><br>29.              Aset dan liabilitas dalam mata uang asing (<em>assets and liabilities denominated in foreign currency)</em></div><div>Kemudian, pada <em>notes to financial statement </em>ini pun diberikan rincian mengenai aset dan liabilitas dalam mata uang asing dengan total aset dari kas dan setara kas serta piutang usaha dan piutang usaha lain-lain pada tahun 2018 sebear Rp626.097 juta, serta total liabilitas perusahaan yang diperoleh dari akumulasi utang usaha dan utang lain-lain dari <em>third parties </em>atau <em>related parties</em> sebesar Rp706.621. Dengan demikian, terdapat selisih sebesar Rp80.524. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat dan Euro itu sendiri telah mengalami pergerakan dari Rp14.481 menjadi Rp14.072 untuk Dollar AS dan Rp16.566 menjadi Rp16.176 untuk Euro dari 31 Desember 2018 hingga 31 Desember 2019.</div><div><br>30.              Informasi segmen (<em>segment information)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa pihak manajemen perusahaan telah menentukan segmen operasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan strategis. Kemudian dijelaskan bahwa bisnis perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 2 bidang produk utama, yaitu kebutuhan tumah tangga dan perawatan tubuh, serta produk yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Dalam bagian ini pun diberikan rincian mengenai tiap segmen atas laba yang diperoleh serta rincian mengenai aset dan liabilitas yang dimiliki masing-masing segmen</div><div><br>31.              Komitmen dan liabilitas kontinjensi yang signifikan (<em>significant commitments and contingent liabilities)</em></div><div><em>Notes to financial statement </em>juga menjelaskan beberapa komitmen yang diambil perusahaan terikait dengan operasi perusahaan tahun 2018, yaitu seperti perusahaan memiliki komitmen kepada pemasok untuk pembelian aset tetap sebesar Rp315.519 dan inventory sebesar Rp5.293.464 pada tanggal 31 Desember 2018, menandatangani perjanjian dengan PT Mega Manunggal Property untuk sewa gudang selama 10 tahun terhitung sejak 1 April 2012, perusahaan memiliki fasilitas kredit untuk modal kerja yang belum terpakai sebesar Rp10.140.000 pada akhir tahun 2018, tidak memiliki liabilitas kontingensi yang signifikan sejak tahun 2017, serta mengadakan perjanjian dengan PT Bank BNP Paribas Indonesia dalam rangka penjualan piutang usaha. Dengan ditransfernya sejumlah piutang usaha kepada BNP, maka perusahaan akan pengakuan piutang tersebut.</div><div><br>32.              Estimasi dan perhitungan akuntansi yang penting (<em>critical accounting estimates and judgement)</em></div><div>Pada bagian ini dijelaskan bahwa estimasi dan pertimbangan dievaluasi dan disusun berdasarkan <em>historical data </em>dan ekspektasi di masa depan. Fakta aktual dapat berbeda dengan ekspektasi yang telah dibuat. Estimasi dan asumsi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah aset dan liabilitas adalah estimasi terkait imbalan pensiun, beban penjualan dan promosi, penurunan nilai <em>goodwill</em> dan aset takberwujud dengan umur manfaat takterbatas, penentuan umur manfaat aset tak berwujud, serta estimasi umur manfaat aset tetap.</div><div><br>33.              Manajemen resiko keuangan (<em>financial risk management)</em></div><div>Sesuai dengan IFRS 7, n<em>otes disclosures</em> turut menjelaskan dan menjabarkan informasi yang terkait dengan faktor dan manajemen risiko keuangan yang timbul dalam perusahaan. Pada poin ini dijelaskan bahwa faktor risiko keuangan perusahaan Unilever Indonesia terdiri dari risiko nilai tukar mata uang asing, risiko kredit, risiko suku bunga, dan risiko likuiditas.</div><div>-Risiko nilai tukar mata uang asing</div><div>Menurut penjelasan, risiko ini dapat muncul akibat adanya transaksi yang melibatkan mata uang USD atau Euro dalam hal realisasi aset dan liabilitas perusahaan. Untuk mengelola fluktuasi nilai tukar mata uang asing maka perusahaan perlu menjaga agar eksposur tetap berada pada tingkat yang dapat diterima, yaitu dengan membeli mata uang asing yang akan dibutuhkan dengan tujuan untuk mengatasi fluktuasi jangka pendek. Kemudian, perusahaan pun dapat melakukan <em>hedging</em> untuk <em>future foreign currency cash flow requirements</em> untuk mencegah dan mengantisipasi dampak perubahan nilai tukar mata uang asing dalam hal pelaporan laporan keuangan.</div><div>-Risiko kredit</div><div>Perusahaan memiliki risiko kredit utama yang berasal dari simpanan bank dan kontrak derivatif yang diberikan kepada pelanggan. Hal ini dapat diatasi oleh perusahaan dengan melakukan monitoring reputasi, <em>credit ratings,</em> serta membatasi risiko agregat dari masing-masing pihak yang terlibat di dalam kontrak. Kemudian, untuk mengatasi risiko kredit, perusahaan dapat menyimpan kas pada bank serta kas dan setara kas pada institusi keuangan yang berbeda, dimana institusi keuangan tersebut harusnya merupakan institusi yang terpercaya dan memiliki kinerja yang baik.</div><div>Lalu, untuk mencegah risiko adanya piutang tidak tertagih, perusahaan menerapkan kebijakan dimana sebagian pelanggan harus memberikan jaminan berupa bank garansi, dimana jaminan tersebut dapat dicairkan oleh perusahaan apabila pelanggan tersebut mengalami gagal bayar. Selain itu, perusahaan perlu untuk melakukan penilaian kredit terjadap pelanggan secara lebih detail dan mendalam, apakah pelanggan tersebut memiliki sejarah kredit yang baik atau tidak, bagaimana kemampuan membayarnya, dan lain sebagainya. Dan risk management selanjutnya yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan menerapkan pendekatan praktis dalam perhitungan <em>expected credit losses (ECLs)</em> berdasarkan umur piutang dan dihitung dengan metode “<em>roll rate”.</em></div><div>-Risiko suku bunga</div><div>Jenis risiko ini muncul dari pinjaman bank. Akantetapi, menurut <em>notes </em>ini, pada tahun 2018, risiko suku bunga terhadapp <em>cash and cash equivalent</em> tidak membawa dampak yang signifikan sehingga perusahaan tidak memperhitungkan tiap pinjaman dengan suku bunga tetap pada <em>fair value </em>melalui laba rugi.</div><div>-Risiko likuiditas</div><div>Likuiditas suatu perusahaan diukur dari seberapa besar <em>current asset </em>perusahaan dapat men-<em>cover </em>segala <em>current liabilities-</em>nya. Untuk itu, untuk memastikan ketersediaan kas, perusahaan dapat meminta <em>treasury-</em>nya untuk menyiapkan perkiraan kebutuhan arus kas serta memelihara fleksibilitas pendanaan dengan adanya pengelolaan kredit yang memadai dari perusahaan.</div><div>-Nilai wajar instrumen keuangan</div><div>Ditentukan menggunakan hirarki sebagai berikut:</div><div>1)                  Harga kuotasian tidak disesuaikan dalam pasar akrif untuk aset atau liabilitas yang identik (level 1)</div><div>2)                  Input selain harga kuotasian dari level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsyng ataupun tidak langsung (level 2)</div><div>3)                  Input untuk aset atau liabilitas yang bukan berdasarkan data pasar yang dapat diobservasi (level 3)<br>Jika ditinjau dari hirarki di atas, maka pengukuran <em>fair value</em> untuk piutang dan utang derivatif termasuk ke dalam level 2 sebab tidak diperdagangkan di pasar aktif. Aset dan liabilitas perusahaan diharapkan dapat terealisasi dan terselesaikan dalam waktu dekat sehingga pencatatannya dapat mendekati nilai <em>fair value-</em>nya.<br><br></div><div>-Manajemen risiko permodalan<br>Hal ini dapat dilakukan oleh perusahaan dengan menyesuaikan jumlah dividen yang kan dibayarkan kepada para pemegang saham yang bertujuan agar perusahaan dapat tetap beroperasi dengan baik sehingga dapat tetap memberikan <em>return</em> kepada para pemegang sahamnya serta menjaga struktur modal yang optimal untuk mengurangi biaya modal itu sendiri.<br><br></div><div>34.              Transaksi non-kas (<em>non cash transaction)</em></div><div>Poin ini menjelaskan bahwa transaksi non-kas melibatkan perolehan aset tetap melalui utang sebesar Rp311.631 yang kemudian akan digolongkan ke dalam <em>other payables</em> pada pelaporan <em>statements of financial position.</em></div><div><br>35.              Aset yang dimiliki untuk dijual (<em>assets held for sale)</em></div><div>Pada poin ini dijelaskan bahwa <em>assets held for sale </em>milik perusahaan Unilever Indonesia berasal dari aset yang dihasilkan dan dimiliki oleh segmen makanan dan minuman perusahaan. Tercatat bahwa pada 2 Juli 2018, perusahaan telah menjual <em>assets held for sale</em> kepada PT Upfield Manufacturing sebesar Rp195.479 yang diambil sebesar Rp42.835 dari persediaan serta Rp152.644 dari aset tetap perusahaan segmen.</div><div><br>36.              Laba sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi atau <em>Earnings before interest, tax, depreciation, and amortization (EBITDA)</em></div><div>EBITDA merupakan pengukuran yang dihitung dengan mengecualikan pajak penghasilan, <em>net finance costs,</em> penyusutan, dan amortisasi. Akantetapi, EBITDA tidak dapat digunakan sebagai indikator penentu kinerja perusahaan menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Pada poin ini dijabarkan mengenai jumlah EBITDA yang muncul pada tahun 2018, yaitu sebesar Rp13.055.881, dimana jumlah tersebut dapat diperoleh dari laba (<em>profit) </em>sebesar Rp9.109.445 ditambah dengan beban pajak penghasilan (<em>income tax expense) </em>sebesar Rp3.076.319, serta ditambah dengan nilai penyesuaian lainnya seperti <em>net finance costs </em>sebesar Rp92.866, penyusutan sebesar Rp754.590, serta amortisasi sebesar Rp22.661.<br><br></div><div> </div><div>            Apabila dilakukan analisis secara menyeluruh, maka penyajian <em>notes of disclosures </em>yang diambil dari laporan tahunan perusahaan Unilever Indonesia TBK telah memenuhi standar sesuai dengan yang diatur dalam IFRS 7 serta IAS 1, khususnya pada IAS 1.114 terkait dengan konten dan urutan penyusunan <em>notes of disclosure</em>, dimana <em>notes of disclosure</em> dari perusahaan Unilever telah mencakup 1)pernyataan kepatuhan dengan IFRS, 2)ringkasan kebijakan akuntasi yang diterapkan, yaitu meliputi dasar pengukuran yang digunakan dalam laporan keuangan serta kebijakan akuntansi lainnya yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan, 3)informasi pendukung yang lebih rinci dan mendetail mengenai items pada laporan keuangan, baik dari <em>income statement, statement of financial position, </em>dan <em>statement of cash flow, </em>dan 4)pengungkapan lainnya, yaitu terdiri dari kontijensi liabilitas dan komitmen kontraktual, misalnya seperti manajemen risiko dan aturan yang terkait dengan hal tersebut. Selain itu, <em>notes of disclosure </em>ini pun mencakup beberapa informasi yang tidak ditampilkan di financial statement manapun, yaitu seperti informasi segmen, estimasi kebijakan akuntansi penting yang dapat mempengaruhi perubahan aset dan liabilitas perusahaan, berbagai macam risiko keuangan dan cara menanganinya, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka <em>notes of diclosure </em>ini dapat memenuhi beberapa kriteria <em>conceptual framework of accounting, </em>seperti <em>understandable, verifiable, </em>dan juga <em>relevance.<br></em><br></div><div>Dengan keterlengkapan dan telah terpenuhinya semua standar yang dibutuhkan dalam penyusunan <em>notes of disclosure, </em>maka <em>notes of disclosure </em>dari perusahaan Unilever Indonesia TBK pada tahun 2018 ini dapat memenuhi persyaratan <em>notes</em> yang telah diatur dalam IAS 1.112, yaitu dimana <em>notes of disclosure </em>ini telah menyajikan informasi mengenai dasar penyusunan laporan keuangan Unilever Indonesia pada tahun 2018 serta kebijakan akuntansi apa yang diterapkan oleh Unilever Indonesia, kemudian mengungkapkan mengenai informasi IFRS yang tidak ditampilakn dalam laporan keuangan manapun, serta menyajikan informasi tambahan yang tidak dapat ditemukan dalam laporan keuangan manapun, tetapi bersifat <em>relevant </em>untuk dimengerti oleh para pembaca.  </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/591338885/2cd7917f51306a4417231a0f60b8ef2b/287905.jpg" />
         <pubDate>2020-05-29 15:54:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601457739</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Statement of Financial Position</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601552405</link>
         <description><![CDATA[<div>                                   ANALISIS STATEMENT OF FINANCIAL POSITION <br>                                                 PT UNILEVER INDONESIA TBK</div><div><br></div><div>Analisis fisik secara keseluruhan:</div><ul><li>Statement of Financial Position PT Unilever Indonesia Tbk disajikan sejajar ke bawah (bukan yang berbentuk T)</li><li>Tiap halaman pada SFP ini terbagi menjadi 4 kolom:<ul><li>Kolom paling kiri menyajikan nama akun yang ditulis dalam bahasa Indonesia</li><li>Kolom kedua dari kiri menyajikan nominal dari akun yang terjadi di tahun yang bersangkutan</li><li>Kolom kedua dari kanan menyajikan nominal dari akun yang terjadi di tahun sebelumnya</li><li>Kolom paling kanan menyajikan nama akun yang ditulis dalam bahasa Inggris</li></ul></li><li>Secara umum, SFP terbagi menjadi 3 komponen utama yaitu ASSETS, LIABILITIES, dan EQUITY</li><li>Total ASSETS sama dengan total LIABILITIES ditambah dengan EQUITY</li><li>Akun-akun pada assets dan liabilities disusun berdasarkan tingkat likuiditasnya, dari yang paling likuid hingga yang paling tidak likuid</li><li>ASSETS terdiri atas Current Assets dan Non-Current Assets</li><li>LIABILITIES terdiri atas Current Liabilities dan Non-Current Liabilities</li></ul><div><br></div><div>Analisis tiap komponen:</div><div>                                           STATEMENT OF FINANCIAL POSITION<br><br></div><div>                                                                   <strong>ASSETS<br>                                                            </strong><strong><em>Total 19,522,970</em></strong></div><div>CURRENT ASSETS (Total senilai <strong>8,325,029</strong>) terdiri atas:</div><ol><li>Cash and Cash Equivalent  </li></ol><div>PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Cash and Cash Equivalent pada tahun 2018 senilai <strong>351,667</strong> mencakup:</div><ul><li>Cash on hand (kas yang dapat langsung digunakan untuk aktivitas bisnis) senilai <strong>81</strong></li><li>Cash in banks (kas yang disimpan di bank) senilai <strong>226,586</strong> <ul><li>Disimpan dalam mata uang Rupiah sebesar <strong>118,283</strong></li><li>Disimpan dalam mata uang USD sebesar <strong>86,714</strong></li><li>Disimpan dalam mata uang EUR sebesar <strong>21,589</strong></li></ul></li><li>Deposit on call (deposito berjangka yang hanya dapat ditarik dengan pemberitahuan sebelumnya) senilai <strong>125,000</strong></li></ul><div>2.       Trade debtors/receivables </div><div>Merupakan klaim atau tagihan atas penyerahan barang/jasa kepada pihak lain.</div><div>Trade debtors/receivables PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 ada yang berasal dari Pihak Ketiga (pelanggan di wilayah Indonesia) dan dari Pihak Berelasi.</div><ul><li>Dari pihak ketiga senilai <strong>4,485,405</strong> (setelah dikurangi Provision for Impairment senilai <strong>155,098</strong> karena diperkirakan oleh manajemen tidak dapat dipulihkan)</li><li>Dari pihak berelasi:<ul><li>Dalam mata uang Rupiah senilai <strong>4,308</strong></li><li>Dalam mata uang USD senilai <strong>493,758</strong></li></ul></li></ul><div>3.       Advances and other debtors/receivables </div><div>Advances atau dapat juga disebut dengan Down Payment (uang muka) merupakan pembayaran kepada pihak lain lebih dahulu sebelum pihak lain tersebut memenuhi kewajibannya atas pembayaran tersebut.</div><div>Other receivables merupakan receivables lain selain Trade Receivables yang telah dijelaskans sebelumnya</div><div>Dalam Statement of Financial Position PT Unilever Indonesia Tbk terdapat Advances and other debtors/receivables, dimana ada yang berasal dari Pihak Ketiga dan dari Pihak Berelasi.</div><div>Dari pihak ketiga berasal dari transaksi Derivative instruments dengan 3 perusahaan dalam mata uang USD dan EUR senilai <strong>4,485,405</strong></div><div>Perseroan melakukan transaksi derivatif dengan tujuan untuk lindung nilai terhadap kebutuhan arus kas yang akan datang dalam mata uang asing. </div><div>Perubahan nilai wajar dari instrumen keuangan derivatif ini telah diakui pada laba rugi karena tidak memenuhi kualifikasi untuk akuntansi lindung nilai</div><div>b.       Dari pihak berelasi:</div><div>Dalam mata uang Rupiah senilai <strong>3,727</strong></div><div>Dalam mata uang asing senilai <strong>24,036</strong></div><div>Manajemen tidak membuat provisi atas penurunan nilai untuk akun ini karena berkeyakinan bahwa saldo piutang tersebut akan tertagih seluruhnya.</div><div>4.       Inventories</div><div>-          Inventories merupakan persediaan perusahaan untuk melakukan kegiatan usaha (diperjualbelikan)</div><div>-          Inventories pada PT Unilever Indonesia Tbk diukur pada nilai yang terendah antara biaya perolehan dan net realisable value (harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan).</div><div>-          Metode yang dipakai untuk menentukan biaya adalah Moving Average Method.</div><div>-          Provisi untuk inventories yang usang dan tidak terpakai/tidak laris ditentukan berdasarkan estimasi penggunaan atau penjualan masing-masing jenis inventories pada masa mendatang.</div><div>Inventories milik PT Unilever Indonesia Tbk senilai <strong>2,658,073</strong> terdiri atas:</div><div>a.       Finished Goods (Barang jadi) senilai <strong>1,802,630</strong></div><div>b.       Raw materials (Bahan baku) senilai <strong>821,822</strong></div><div>c.       Work in process (Barang dalam proses) senilai <strong>95,820</strong></div><div>d.       Spareparts (Suku cadang) senilai <strong>84,656</strong></div><div>e.       Dikurangi oleh: Provisi atas inventories yang usang dan tidak terpakai senilai <strong>146,855</strong></div><div>Manajemen berkeyakinan bahwa provisi atas inventories yang usang dan tidak terpakai/tidak laris telah memadai untuk menutupi kerugian yang mungkin timbul.</div><div>5.       Prepaid taxes</div><div>-          Prepaid taxes merupakan pembayaran pajak terlebih dahulu di awal atau disebut juga dengan angsuran pajak</div><div>-          Prepaid taxes PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 digunakan untuk membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) senilai <strong>47,063</strong></div><div>6.       Prepaid expenses</div><div>-          Prepaid expenses adalah expense (beban) yang telah dibayarkan oleh perusahaan terlebih dahulu di awal kepada pihak lain yang bersangkutan sebelum waktunya perusahaan berkewajiban untuk membayar karena pihak lain tersebut belum memberikan apa yang seharusnya perusahaan terima.</div><div>-          Prepaid expenses pada PT Unilever Indonesia Tbk dibebankan ke laba rugi sesuai dengan masa manfaatnya dengan menggunakan straight-line method.</div><div>Prepaid expenses PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 digunakan untuk:</div><div>a.       Rent (sewa) senilai <strong>79,721</strong></div><div>b.       Insurance (asuransi) senilai <strong>14,570</strong></div><div>c.       Others (lain-lain) senilai <strong>70,529</strong></div><div>7.       Assets held for sale</div><div>-          Dalam Statement of Financial Position PT Unilever Indonesia Tbk, terdapat akun Assets held for sale, dimana jika terdapat aset yang dimiliki untuk dijual ketika besar kemungkinan bahwa aset tersebut akan dipulihkan terutama melalui transaksi penjualan daripada melalui pemakaian berlanjut.</div><div>-          Pada 2017, terdapat aset yang telah direncanakan untuk dijual dengan nilai <strong>175,201</strong> (Inventories sebesar <strong>42,834</strong> dan Fixed asset sebesar <strong>132,367</strong>). </div><div>Namun, pada 2 Juli 2018, aset tersebut telah dijual kepada PT Upfield Manufacturing Indonesia sebesar <strong>195,479</strong> (<strong>42,835 </strong>untuk inventories dan <strong>152,644</strong> untuk fixed assets). Sehingga pada 31 Desember 2018, Assets held for sale tersebut sudah tidak ada (sudah terjual).<br><br></div><div>NON-CURRENT ASSETS (Total senilai <strong>11,197,941</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.       Fixed assets </div><div>-          Fixed assets merupakan asset berwujud yang digunakan dalam operasional perusahaan namun tidak untuk diperjualbelikan.</div><div>-          Pada 31 Desember 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Fixed Asset senilai <strong>10,627,387</strong> dengan komponen sebagai berikut.</div><div>a.       Land (Tanah) senilai <strong>277,326</strong></div><div>b.       Buildings (Bangunan) senilai <strong>2,811,544</strong></div><div>c.       Machinery and equipment (Mesin dan peralatan) senilai <strong>10,626,795</strong></div><div>d.       Motor vehicles (Kendaraan bermotor) senilai <strong>15,205</strong></div><div>e.       Construction in progress senilai <strong>841,033</strong></div><div>f.        Dikurangi accumulated depreciation (dengan straight-line method berdasarkan estimasi masa manfaat dari asset) sebagai berikut:</div><div>Buildings (40 tahun) sebesar <strong>373,046</strong></div><div>Machinery and equipment (3-20 tahun) sebesar <strong>3,566,289</strong></div><div>Motor vehicles (8 tahun) sebesar <strong>5,181</strong></div><div>2.       Goodwill</div><div>-          Goodwill merupakan kelebihan harga beli (acquisition cost) di atas fair market value dari sebuah perusahaan yang akan diakuisisi.</div><div>-          Goodwill merupakan selisih lebih antara acquisition cost dan fair value dari net identifiable assets of acquired business pada tanggal akuisisi.</div><div>-          Pada 31 Desember 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki net book value Goodwill sebesar <strong>61,925</strong> yang merupakan selisih lebih dari jumlah yang dibayar atas nilai tercatat dari kepentingan nonpengendali PT Anugrah Lever yang diakuisisi oleh Perseroan pada bulan Agustus 2007, dan berkaitan dengan produk Bango.</div><div>3.       Intangible assets</div><div>-          Intangible assets merupakan aset perusahaan yang tidak berbentuk fisik, bersifat jangka panjang, dah tidak untuk diperjualbelikan melainkan dikelola untuk menghasilkan keuntungan bagi operasional perusahaan</div><div>-          Intangible assets yang dimiliki PT Unilever Indonesia Tbk berupa Trademarks dan Software and Software License.</div><div>-          Trademarks diakui sebesar fair value pada tanggal perolehannya. Masa manfaat dari Trademarks ditelaah di setiap periode pelaporan untuk menentukan apakah kondisi terkini dapat terus mendukung penilaian bahwa masa manfaat tetap tidak terbatas.</div><div>-          Software and Software License memiliki masa manfaat yang terbatas dan diukur sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi yang dihitung dengan straight-line method.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki total intangible assets sebesar <strong>434,205</strong> dengan detail sebagai berikut:</div><div>a.       Saldo awal Trademarks sebesar <strong>333,010</strong> dengan penambahan sebesar <strong>2,200</strong> tanpa adanya amortisasi sehingga saldo akhirnya menjadi <strong>335,210.</strong></div><div>b.       Saldo awal Software and Software License sebesar <strong>495,703</strong> dengan penambahan sebesar <strong>63,828</strong> dan dikurangi amortisasi sebesar <strong>460,536</strong> sehingga saldo akhirnya menjadi <strong>98,995.</strong></div><div>4.       Other non-current asset</div><div>-          Other non-current asset merupakan non-current asset perusahaan yang lainnya, yang tidak termasuk yang disebutkan di atas.</div><div>-          Pada 31 Desember 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Other Non-Current Asset sebesar <strong>74,424</strong>. Namun, perusahaan tidak memberikan penjabaran asset apa yang termasuk Other Non-Current Asset ini.</div><div> </div><div> </div><div><strong>LIABILITIES AND EQUITY</strong></div><div><strong><em>Total 19,522,970</em></strong></div><div> </div><div>LIABILITIES<strong> (</strong>Total <strong>11,944,837</strong>)<br><br></div><div>CURRENT LIABILITIES (Total senilai <strong>11,134,786</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.       Bank Borrowings</div><div>-          Bank borrowings merupakan pinjaman kepada sejumlah bank</div><div>-          Bank borrowings pada saat pengakuan awal diakui sebesar fair value dikurangi biaya transaksi. Namun selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi.</div><div>-          Bank borrowings diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka pendek kecuali Perseroan memiliki hak tanpa syarat untuk menunda pembayaran liabilitas selama lebih dari 12 bulan setelah tanggal pelaporan.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk melakukan pinjaman kepada Deutsche Bank AG, Jakarta sebesar <strong>460,000</strong> dengan interest rate sebesar 6,65% dengan repayment schedules 31 December 2018 sampai 7 January 2019</div><div>2.       Trade creditors/payables</div><div>-          Trade payables merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain atas kegiatan jual-beli.</div><div>-          Trade payables pada awalnya diukur sebesar fair value dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan effective interest method</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Trade Payables kepada:</div><div><strong>a.</strong>       Pihak ketiga sebesar <strong>4,288,383</strong></div><div>Dengan mata uang Rupiah sebesar <strong>3,935,881</strong></div><div>Dengan mata uang asing sebesar <strong>352,502</strong></div><div>b.       Pihak berelasi, sebesar <strong>284,217</strong></div><div>Dengan mata uang Rupiah sebesar <strong>57,659</strong></div><div>Dengan mata uang asing sebesar <strong>226,558</strong></div><div>3.       Taxes Payable</div><div>-          Taxes Payables merupakan pajak terutang, dimana perusahaan belum membayarkan pajak yang seharusnya dibayarkan.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki Taxes Payable sebesar <strong>1,011,466</strong> dengan Corporate Income Tax (Pasal 25/29) sebesar <strong>948,467</strong> dan Other Taxes seperti Pasal 23/26 sebesar <strong>51,623</strong> dan Pasal 21 sebesar <strong>11,376</strong></div><div>-          Income tax kini dihitung dengan menggunakan tarif pajak yang telah diberlakukan pada tanggal posisi keuangan.</div><div>4.       Accrual</div><div>-          PT Unilever Indonesia Tbk mengakui expenses pada saat terjadinya dengan menggunakan metode akrual, dimana expenses tersebut sudah diakui namun belum terbayar, sehingga diklasifikasikan ke dalam current liabilities.</div><div>-          Pada 2018, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki accrual sebesar <strong>2,681,273</strong> untuk beban/expense sebagai berikut.</div><div>a.       Advertising and promotion sebesar <strong>1,162,974</strong></div><div>b.       Remuneration sebesar <strong>462,294</strong></div><div>c.       Other Production costs sebesar <strong>138,774</strong></div><div>d.       Distribution of products sebesar <strong>110,939</strong></div><div>e.       Rent sebesar <strong>76,772</strong></div><div><strong>f.</strong>        Customs duty (Bea masuk) sebesar <strong>42,607</strong></div><div>g.       Utilities sebesar <strong>31,810</strong></div><div>h.       Software sebesar <strong>5,434</strong></div><div>i.         Others sebesar <strong>649,669</strong></div><div>5.       Other Payables</div><div>Other payables merupakan payables lainnya selain yang telah disebutkan di atas, yang harus dipenuhi perusahaan</div><div>Other Payables yang dimiliki PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 terdiri atas Payables terhadap pihak ketiga dan terhadap pihak berelasi.</div><div>-          Pihak ketiga sebesar <strong>1,338,860</strong> atas pembayaran:</div><div>a.       Consultant fees and other services sebesar <strong>631,820</strong></div><div>b.       Fixed assets and technical parts sebesar <strong>342,917</strong></div><div>c.       Dividends payable kepada pemegang saham publik sebesar <strong>118,387</strong></div><div>d.       Others sebesar <strong>245,736</strong></div><div>-          Pihak berelasi sebesar <strong>772,680</strong></div><div>Dengan mata uang Rupiah sebesar <strong>658,606</strong></div><div>Dengan mata uang asing sebesar <strong>114,074</strong></div><div>6.       Long-term employee benefits obligations – current portion</div><div>-          Long term employee benefit obligations PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 sebesar <strong>709,911</strong> dengan komponen sebagai berikut:</div><div>a.       Pension benefits </div><div>Merupakan program pensiun yang menetapkan jumlah yang akan diterima oleh karyawan pada saat pensiun, yang biasanya tergantung pada satu faktor atau lebih, seperti umur, masa kerja dan jumlah kompensasi dimana seluruh karyawan tetap yang dipekerjakan mulai 1 Januari 2008 dst diikutsertakan pada program ini.</div><div>Pada 2018, Pension Benefits perusahaan sebesar <strong>201,264</strong></div><div>b.       Post-employment medical benefits</div><div>Ini diberikan untuk karyawan yang telah pensiun dan anggota keluarga tertentu, dimana umumnya diberikan apabila karyawan bekerja hingga mencapai usia pensiun dan memenuhi masa kerja tertentu.</div><div>Pada 2018, Post-employment medical benefits perusahaan sebesar <strong>308,102</strong></div><div>c.       Other Post-employment benefits</div><div>Perusahaan memberikan Post-employment benefits seperti jubilee (jubilium) dan long leave benefits (imbalan cuti panjang)</div><div>Pada 2018, Other Post-employment benefits perusahaan sebesar <strong>55,215</strong></div><div>d.       Other long-term employee benefits</div><div>Pada 2018, Other long-term employee benefits (selain yang disebutkan di atas, namun perusahaan tidak menjabarkan bentuk benefits apa yang ditawarkan) perusahaan sebesar <strong>145,330</strong></div><div>-          Dari seluruh total Long-term employee benefits tersebut, yang merupakan current portion hanya sebesar <strong>297,907<br></strong><br></div><div>NON-CURRENT LIABILITIES (Total senilai <strong>810,051</strong>) terdiri atas:<br><br></div><div>1.       Deffered Tax Liabilities</div><div>-          Deffered tax liabilities merupakan selisih jumlah yang terjadi ketika pencatatan akun dalam metode perpajakan lebih kecil daripada komersial, sebaliknya jika pencatatat akun dalam metode perpajakan lebih besar daripada komersial, akan menimbulkan Deffered Tax Assets, dimana keduanya dapat saling hapus.</div><div>-          Pada 31 Desember 2018, terdapat Deffered Tax sebagai berikut</div><div>a.       Deffered Tax Asset dari Provision and Accrual sebesar <strong>226,959</strong></div><div>b.       Deffered Tax Liabilities dari Fixed asset and intangible assets sebesar <strong>802,483</strong></div><div>c.       Deffered Tax Asset dari Employee benefit obligations sebesar <strong>177,477</strong></div><div>-          Karena Deffered Tax Liabilities lebih besar dari Deffered Tax Asset, maka terbentuk Deffered Tax Liabilities sebesar <strong>398,047</strong></div><div>2.       Long-term employee benefits obligations – non current portions</div><div>-          Long term employee benefit obligations PT Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2018 sebesar <strong>709,911</strong> dengan komponen sebagai berikut:</div><div>e.       Pension benefits </div><div>Merupakan program pensiun yang menetapkan jumlah yang akan diterima oleh karyawan pada saat pensiun, yang biasanya tergantung pada satu faktor atau lebih, seperti umur, masa kerja dan jumlah kompensasi dimana seluruh karyawan tetap yang dipekerjakan mulai 1 Januari 2008 dst diikutsertakan pada program ini.</div><div>Pada 2018, Pension Benefits perusahaan sebesar <strong>201,264</strong></div><div>f.        Post-employment medical benefits</div><div>Ini diberikan untuk karyawan yang telah pensiun dan anggota keluarga tertentu, dimana umumnya diberikan apabila karyawan bekerja hingga mencapai usia pensiun dan memenuhi masa kerja tertentu.</div><div>Pada 2018, Post-employment medical benefits perusahaan sebesar <strong>308,102</strong></div><div>g.       Other Post-employment benefits</div><div>Perusahaan memberikan Post-employment benefits seperti jubilee (jubilium) dan long leave benefits (imbalan cuti panjang)</div><div>Pada 2018, Other Post-employment benefits perusahaan sebesar <strong>55,215</strong></div><div>h.       Other long-term employee benefits</div><div>Pada 2018, Other long-term employee benefits (selain yang disebutkan di atas, namun perusahaan tidak menjabarkan bentuk benefits apa yang ditawarkan) perusahaan sebesar <strong>145,330</strong></div><div>-          Dari seluruh total Long-term employee benefits tersebut, yang merupakan non-current portions sebesar <strong>412,004<br></strong><br></div><div>EQUITY (Total <strong>7,578,573</strong>)<br><br></div><div>1.       Share Capital</div><div>-          Meliputi authorised share, issued share, and fully paid-up share</div><div>-          Terdapat 7,63 miliar lembar saham dengan par value <strong>Rp10</strong> per share</div><div>-          7,63 miliar lembar saham itu meliputi 85% merupakan kepemilikan Unilever Indonesia Holding B.V (UIH) dan 15% merupakan kepemilikan publik.</div><div>-          Maka, total share capital PT Unilever Indonesia Tbk pada 31 Desember 2018 sebesar 7,630,000,000 x 10 = 76,3 trilliun (<strong>76,300</strong>)</div><div>2.       Additional paid-in capital</div><div>-          Additional paid-in capital merupakan selisih antara kontribusi modal dengan nilai nominal saham</div><div>-          Additional paid-in capital PT Unilever Indonesia Tbk pada 2018 sebesar <strong>96,000</strong> dimana terdiri atas Capital paid-in excess of par value (Agio Saham) senilai <strong>15,227</strong> dan Balance arising from restructuring transactions between entities under common control senilai <strong>80,773</strong></div><div>-          Capital paid-in excess of par value (Agio saham) merupakan selisih nilai antara harga jual saham dengan harga nominal saham</div><div>Pada PT Unilever Indonesia Tbk ini nilainya didapat dari selisih antara harga jual senilai <strong>3,175</strong> (full amount per saham) dengan par value sebelum stock splits senilai <strong>1,000</strong> (nilai full amount per saham) untuk 9.200.000 saham yang dijual melalui Bursa Efek di Indonesia pada Desember 1981, setelah dikurangi kapitalisasi ke share capital melalui pembagian 4.783.333 saham bonus senilai <strong>4,783,333,000</strong> (full amount) pada tahun 1993.</div><div>Agio saham = (<strong>3,175</strong> x 9.200.000) – (<strong>1,000</strong> x 9.200.000) – <strong>4.783.333.000</strong></div><div>                        = 29,210,000,000 – 9,200,000,000 – 4,783,333,000</div><div>                        = 15,226,667,000</div><div>                        = <strong>15,227</strong></div><div>-          Balance arising from restructuring transactions between entities under common control senilai <strong>80,773</strong> diperoleh dari book value of equity dari PT Knorr Indonesia dan harga pembelian saham PT KI pada saat Perseroan ini mengakuisisi saham PT KI yang dimiliki Unilever Overseas Holdings Ltd (pihak berelasi) pada tanggal 21 Januari 2004 yang kemudian dilakukan penggabungan usaha dengan PT KI tersebut pada 30 Juli 2004, dimana Perseroan ini adalah pihak yang menerima penggabungan.</div><div>3.       Appropriated Retained Earnings</div><div>-          Appropriated Retained Earnings merupakan bagian dari retained earnings yang sudah ditentukan penggunaannya untuk tujuan tertentu dimana penentuan ini dapat diatur oleh aturan hukum, kontrak, maupun kebijakan direksi</div><div>-          Appropriated Retained Earnings yang ditentukan oleh PT Unilever Indonesia Tbk sebesar <strong>15,260</strong> dimana jumlah ini diperoleh saat RUPS tanggal 22 Mei 2008 menyetujui penyisihan saldo laba sebesar 20,00% dari jumlah modal yang ditempatkan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas</div><div>4.       Unappropriate Retained Earnings</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings merupakan bagian dari retained earnings yang tidak menjadi bagian Appropriate Retained Earnings sehingga tidak ditentukan penggunaannya untuk aktivitas bisnis tertentu</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings berasal dari laba perusahaan tersebut, sehingga semakin besar jumlahnya, maka performa perusahaan dianggap bagus karena berhasil menghasilkan laba yang besar</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings dapat menentukan berapa dividend yang akan dibagikan ke pemegang saham karena sifatnya ini yang available (tidak diperuntukan khusus untuk aktivitas bisnis perusahaan)</div><div>-          Semakin besar jumlah Unappropriate Retained Earnings maka semakin besar kemungkinan jumlah dividend yang akan dibagikan ke pemegang saham</div><div>-          Unappropriate Retained Earnings yang dimiliki PT Unilever Indonesia Tbk pada 2018 sebesar <strong>7,578,133</strong> dimana mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar <strong>4,985,828<br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/481247464/76b6d96043e7b79819822cbb16a1e4f5/287872.jpg" />
         <pubDate>2020-05-29 16:44:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/stefanianggraeni22/b39boceb77cdxs82/wish/601552405</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
