<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>SUMMARY WEBINAR KF DAY-1 AND DAY-2 by Sheren Savira</title>
      <link>https://padlet.com/shersavira/awz36asad67uvufv</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-10-23 16:22:52 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2020-10-26 15:53:13 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>KF DAY-1</title>
         <author>shersavira</author>
         <link>https://padlet.com/shersavira/awz36asad67uvufv/wish/858095985</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada webinar KF hari pertama materi yang dibawakan Dr. rer. pol. Ied Veda Sitepu, SS, MA (Staf Ahli Rektor UKI) dan Kevin Jasutyn, B.Sc. (Mahasiswa Universitas Stuttgart) yang bertemakan <em>Perencanaan Karir dalam New Normal. </em>Webinar 1 ditujukan kepada teman-teman yang saat ini sedang berkuliah dan akan terjun ke dunia kerja karena webinar 1 membahas tentang bagaimana merencanakan karir di masa depan serta mematangkannya, baik yang ingin berkarir sesuai jurusan ataupun tidak. Kemudian, kita diberi tips dan trik untuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan saat melamar pekerjaan. Tidak hanya itu, webinar 1 ini juga mendiskusikan bagaimana cara agar dapat sukses meniti karir di masa pandemi ini. Berikut penjelasannya.<br><br></div><div>Materi pertama disampaikan oleh Tante Ied. Beliau menjelaskan mengenai dampak pandemi terhadap dunia kerja yang sangat mempengaruhi <em>employee</em>, <em>job seeker </em>dan juga pandemi telah mengubah tatanan hidup manusia yang dulunya bekerja pagi hingga malam di kantor, sekarang harus bisa menahan diri di rumah saja. Hal-hal baru yang diterapkan selama pandemi seperti <em>work from home</em> diprediksikan akan terus berlanjut. Perubahan kebiasaan ini berhubungan dengan perubahan masif karena revolusi industri 4.0. Peluang kerja pasca pandemi <em>COVID-19</em>, diantaranya keterampilan digital, seperti <em>data scientists</em>, <em>engineer</em>, <em>web developer</em>, <em>delivery courier</em> dan sebagainya yang berbasis digital. Lalu, Tante Ied juga memaparkan masa depan lulusan prodi humaniora. Beliau menjelaskan bahwa lulusan humaniora seharusnya tidak perlu khawatir pekerjaan apa yang nanti akan kita dapat. Sebagai lulusan Perguruan Tinggi seharusnya jangan terlalu memilih-milih pekerjaan karena yang terpenting adalah pengalaman awal. Menurut BBC (materi yang dipaparkan kemarin), humaniora merupakan prodi dengan kategori <em>non-professional study program</em>, yang artinya tidak dikungkung oleh ilmu dan keterampilan yang ‘spesifik’ (bidang ilmu). Artinya, memiliki fleksibilitas tinggi dalam memilih pekerjaan.<br><br></div><div>Sesuai dengan program Belajar Bekerja Sambil Kuliah (Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka) seperti pertukaran pelajar, magang, asistensi, penelitian, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, proyek independen, serta membangun desa, sudah sepatutnya kegiatan perkuliahan tidak hanya dilaksanakan di kelas dan terpaku pada buku. Untuk mempersiapkan karir, seharusnya mahasiswa bersamaan mulai melihat peluang-peluang karir agar begitu lulus sudah paham dengan dunia kerja dan siap menghadapi dunia kerja dengan segala perbedaan.<br><br></div><div>Materi kedua disampaikan oleh Kak Kevin. Pertama-tama, beliau memberikan tips perencanaan karir dengan cara kita harus mencari tahu dalam diri kita apa yang kita sukai <em>(passion)</em>, kemudian <em>passion</em> tersebut kita aplikasikan satu-satu agar dapat mengetahui apa bakat kita. Beliau mengutip dari perkataan alm. B. J. Habibie “Kita fokus ke mata kuiah yang kita suka untuk dibawa ke dunia kerja”,  pada akhirnya kita harus pastikan bahwa <em>passion </em>dan bakat kita itu menghasilkan <em>reward.</em> Kita juga harus pintar memilih karir, pastikan karir yang kita pilih bisa berkontribusi terhadap lingkungan sekitar.<br><br></div><div>Kedua, tips-tips menyesuaikan diri terhadap karir di masa pandemi. Kita harus mengembangkan keahlian kita secara teori dan praktis. Secara teori melalui <em>online courses</em> sangat membantu kita untuk mengembangkan <em>hard skills</em> yang sudah kita miliki. Kita bisa mencari tau secara <em>online</em> tentang bidang-bidang lain yang mana sekiranya kita sukai. Sekarang dunia pekerjaan tidak bergantung pada gelar, tetapi tergantung pada pengalaman yang kita punya. Secara praktis kita bisa melakukan <em>internship programme</em>. Magang sangat penting karena dengan magang bisa mengasah <em>skill</em> kita baik itu <em>soft skill</em> dan <em>hard skill. </em>Di masa pandemi seperti ini, lebih baik kita berstatus mahasiswa terlebih dahulu dengan tujuan untuk memperbanyak pengalaman di kampus baik<em> soft</em> maupun <em>hard skills</em>.<br><br></div><div>Selanjutnya, Kak Kevin memberikan informasi tentang syarat-syarat bekerja di Jerman. Pertama, kita harus mempunyai visa dan izin kerja, <em>motivation letter</em>, CV, dan ijazah. Setelah semua berkas sudah kita siapkan, selanjutnya yang harus lakukan adalah mendaftar kerja di Jerman dengan langkah awal mencari info di <em>job fairs</em>. Akan tetapi, saat pandemi seperti ini lebih baik kita mencari info  di <em>virtual job fairs</em> saja. Setelah kita menemukan pekerjaan apa yang kita mau,  kita bisa langsung menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, dan kemampuan berbahasa Jerman.<br><br></div><div><em>Motivation letter</em> berisikan alasan mengapa kita mau mengambil pekerjaan tersebut dan bagaimana caranya kita menjual profil-profil kita agar perusahaan mau merekrut kita. Secara tulisan, menurut pengalaman beliau maksimal hanya satu halaman saja karena pihak dari perusahaan juga kurang berminat untuk membacanya. Struktur dari <em>motivation letter</em> ini ada <em>introduction, main part </em>dan<em> conclusion</em>. Isi dari <strong><em>introduction</em></strong> ini perkenalan singkat dan perkanalan diri kita, <strong><em>main part</em></strong> terdiri dari kompetensi kita, pengalaman kerja kita, dan kita juga bisa menceritakan kenapa kita cocok untuk perusahaan tersebut sehingga mereka mau merekrut kita, dan untuk <strong><em>conclusion</em></strong> kita bisa memberi keterangan kapan kita bisa mulai bekerja di perusahaan tersebut. Untuk CV, struktur yang lumrah di Jerman terdiri dari dua halaman yang terdapat <em>working experience</em>, pendidikan formal, kualifikasi, hobi, dan<em> personal contact data</em> kita. Di dalamnya terdapat pas foto, maksimal dua halaman untuk <em>fresh graduate, </em>dan terdapat biodata. Untuk pengalaman bekerja kita mengisikan waktu, nama perusahaan, dan posisi kita bekerja saat magang. Serta tips yang terakhir yaitu hindari melebih-lebihkan informasi di CV, cukup berikan informasi yang relevan dengan pekerjaan yang akan dilamar.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-24 14:56:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/shersavira/awz36asad67uvufv/wish/858095985</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KF DAY-2</title>
         <author>shersavira</author>
         <link>https://padlet.com/shersavira/awz36asad67uvufv/wish/858134245</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada webinar KF hari kedua materi dibawakan oleh Fareza Aditya Hasan (Ketua PPI Berlin-Brandenburg) dan Dendi Gumiwang Wirahadikusuma (Pengurus PPI Frankfurt dan Sekitarnya) yang bertemakan <em>Menjadi Lebih Produktif Sebagai Dewasa Muda di Era Pandemi.</em> Pada Webinar ke-2, para narasumber berbagi pengalaman mengenai cara mereka tetap produktif sebagai mahasiswa dan dewasa muda dengan ruang gerak yang terbatas di masa pandemi. </div><div> </div><div>Materi pertama disampaikan oleh Kak Fareza mengenai pengalamannya berdasarkan perspektif sudut pandangnya tentang krisis korona (pandemi) di Berlin. Kasus pertama di Berlin berawal dari sebuah bar yang salah satu pengunjungnya terinfeksi, setelah dicek ternyata sudah ada 16 orang yang terinfeksi dari bar tersebut<strong><em>. </em></strong>Berawal dari situ lalu menyebar dan mengakibatkan kasus korona di Berlin meningkat. Meningkatnya kasus korona di Berlin membuat pemerintah mengeluarkan aturan yang harus diterapkan dan dari aturan tersebut pemerintah berhasil untuk menekan angka kasus korona. Beberapa peraturannya yaitu wajib memakai masker di fasilitas umum,<em> lockdown</em> untuk semua institusi bisnis besar/kecil yang buka hanya supermarket dan apotek, banyak imbauan tentang kebersihan, <em>self quarantine</em>, dan aturan untuk penerbangan yang ingin masuk ke Jerman dari negara yang beresiko harus dicek ulang. Setelah peraturan ini berhasil, aturan tersebut mulai dilonggarkan, tetapi pada tanggal 3 Oktober 2020 angka kasus korona meningkat lagi yang mengakibatkan aturan diperketat kembali oleh pemerintah. Dilihat dari grafik, menurut Kak Fareza sebetulnya virus ini telah hilang secara “sosial” maksudnya orang-orang sudah bisa menyesuaikan diri dengan adanya pandemi.</div><div> </div><div><em>New normal</em> adalah cara kita menyesuaikan diri dalam keaadan yang ada. Dalam perspektif perusahaan, <em>new normal</em> yaitu menetapkan work from home untuk karyawannya, jadi semua kegiatan kantor dilakukan dirumah yang tidak mewajibkan karyawan ke kantor. Dalam perspektif pelajar yang bisa dilakukan yaitu harus membiasakan membawa masker kemanapun, biasakan membersihkan diri saat sudah sampai dirumah, bila masuk ke toko pakai hand sanitizer yang sudah disediakan di depan toko, <em>social distancing</em> seperti menjaga jarak antrian di toko, <em>online learning</em> semua kegiatan kuliah dilakukan dirumah, tetapi bila keadan mengharuskan kita ke kampus, kita harus mematuhi peraturan yang ada,<em> online payment</em> karena transfer virus bisa dari uang, dan terakhir ada <em>online socializing</em> seperti rapat yang seharusnya diadakan di suatu tempat, tetapi saat pandemi harus dilakukan secara online.<br><br>Kita sebagai mahasiswa mempunyai peran untuk menghadapi pandemi. Pertama kita harus tau cara menghadapi virus ini dan tau apa yang harus kita lakukan. Kita bisa memberi tau atau mengedukasi orang lain yang menyepelakan virus ini, tetapi kita juga harus ada inisiatif diri sendiri lebih dahulu,<em> self quarantine</em>, dan ikuti aturan yang ada.</div><div> </div><div>Dengan adanya pandemi ini kita mendapatkan dorongan untuk berpikir lebih karena semua kegiatan dilakukan secara online. Kegiatan produktif yang bisa kita lakukan yaitu menemukan hobi baru atau melakukan hobi lama yang sudah lama tidak dikerjakan untuk mengisi waktu luang dan kita bisa merencanakan suatu kegiatan untuk dikerjakan. Terakhir, <em>self reflecting</em> yaitu mulai mencari tau apa<em> goals</em> kita.<br><br>Materi kedua  disampaikan oleh Kak Dendi Gumiwang Wirahadikusuma. Beliau menjelaskan mengenai Menjadi Produktif dari Perspektif Seorang Mahasiswa. </div><div>Dampak pandemi terhadap kegiatan perkuliahan menurut pengalaman pribadi beliau ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya bisa belajar dan mendengar dosen kapanpun jika saat kelas direkam, sedangkan dampak negatifnya yaitu terlalu lama dirumah membuat malas, motivasi yang dibutuhkan untuk ikut kelas daring lebih besar, dan rindu dengan teman di kampus. Namun dampak terbesar dari pandemi yaitu menurunnya produktivitas. </div><div> </div><div>Menurut beliau, produktif adalah pelaksanaan kegiatan yang hasilnya dapat berguna dan bermanfaat bagi manusia dan alam. Kegiatan produktif dalam konteks ini bisa dibagi menjadi dua, kegiatan pertama yaitu kegiatan yang membantu kita untuk mencapai tujuan besar di awal, contohnya membaca literatur atau menonton <em>youtube</em> belajar dari mata kuliah kita di kampus. Kegiatan kedua yaitu kegiatan yang menunjang kegiatan pertama, contohnya istirahat dan <em>refreshing</em> yang membuat suasana hati kita jadi bagus.   </div><div> </div><div>Tips menjadi produktif menurut beliau yaitu pertama kita tentukan tujuan terlebih dahulu, kalau tujuan kurang jelas, motivasi kurang kuat, sehingga menjadi kurang konsisten untuk menjadi produktif sehari hari. Lalu yang kedua membuat target-target kecil setiap hari dan tentukan prioritas. Ketiga, mencari cara yang efektif untuk bangun dari tempat tidur secara cepat agar hari menjadi tidak sia-sia. Keempat, buat situasi di kamar menjadi senyaman mungkin. </div><div> </div><div>Untuk jadi produktif sebagai mahasiswa, kita membutuhkan perencanaan masa depan yang matang. Hal itu dikarenakan banyak tantangan yang berat sebagai status “mahasiswa”, situasi dan kondisi dunia yang selalu berubah akibat globalisasi, tingkat persistensi yang naik turun.  </div><div><em>Quarter Life Crisis</em> (QLC)  yaitu periode ketika pada diri seseorang terjadi krisis emosional yang melibatkan perasaan kesedihan, terisolasi, ketidakcukupan, keraguan terhadap diri, kecemasan, tak termotivasi, kebingungan, serta ketakutan akan kegagalan. Tips beliau dalam menghadapi QLC yang pertama yaitu berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kedua, peka terhadap sekitar adalah keharusan, tetapi jangan membiarkan diri kita tertekan. Ketiga, gagal itu wajar yang tidak wajar adalah tidak bangkit setelah gagal. </div><div> </div><div>Tips dan trik dari Kak Dendi untuk tetap sehat dan produktif di era pandemi yaitu, jaga kesehatan diri sendiri dengan stay at home, tetap termotivasi, bersyukur dan tetap berpikir positif, pakai masker, kenakan masker, dan gunakan masker. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-24 15:38:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/shersavira/awz36asad67uvufv/wish/858134245</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
